• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEPENTINGAN INDONESIA DALAM KERJASAMA PEMANFAATAN RUANG ANGKASA DENGAN TIONGKOK TAHUN 2015 - 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "KEPENTINGAN INDONESIA DALAM KERJASAMA PEMANFAATAN RUANG ANGKASA DENGAN TIONGKOK TAHUN 2015 - 2020"

Copied!
109
0
0

Teks penuh

(1)

KEPENTINGAN INDONESIA DALAM KERJASAMA PEMANFAATAN RUANG ANGKASA DENGAN TIONGKOK TAHUN 2015 - 2020

(THE INTEREST OF INDONESIA ON SPACE UTILIZATION COOPERATION WITH TIONGKOK 2015 2020)

SKRIPSI

Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Program Studi Ilmu Hubungan Internasional

Pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Oleh: SUKMA RAGA

20100510031

PROGRAM STUDI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

(2)

KEPENTINGAN INDONESIA DALAM KERJASAMA PEMANFAATAN RUANG ANGKASA DENGAN TIONGKOK TAHUN 2015 - 2020

(THE INTEREST OF INDONESIA ON SPACE UTILIZATION COOPERATION WITH TIONGKOK 2015 2020)

SKRIPSI

Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Program Studi Ilmu Hubungan Internasional

Pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Oleh: SUKMA RAGA

20100510031

PROGRAM STUDI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

(3)

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Saya yang bertandatangan di bawah ini:

Nama : Sukma Raga

NIM : 20100510031

Judul Skripsi : Kerjasama Indonesia Dalam Pemanfaatan Ruang Angkasa

Dengan Tiongkok 2015 - 2020

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa penulisan skripsi ini berdasarkan hasil

penelitian dari saya sendiri dan sepanjang sepengetahuan saya pembahasan skripsi ini

belum pernah dipublikasikan untuk memperoleh gelar kesarjanaan Strata 1 (S1) baik

di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta maupun universitas lainnya. Jika terdapat

karya orang lain, saya telah mencantumkan sumber yang jelas. Demikian pernyataan

ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari terdapat

penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka saya bersedia

menerima sanksi akademik sesuai peraturan yang berlaku dan ditetapkan oleh

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Demikian pernyataan ini saya buat dalam keadaan sadar tanpa paksaan dari

pihak manapun.

Yogyakarta,

Yang membuat peryataan

(4)

HALAMAN PERSEMBAHAN

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah

mengkaruniakan berkah dan kasih sayang-Nya sehingga atas izin-Nya penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Kepentingan Indonesia Dalam Kerjasama

Pemanfaatan Ruang Angkasa Dengan Tiongkok Tahun 2015 - 2020” dengan penuh

ketercapaian lainnya.

Penulis menyusun skripsi ini dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan

untuk mencapai gelar sarjana (S1) pada Program Studi Ilmu Hubungan Internasional,

FISIPOL Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Penulis menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini tidak lepas dari peranan,

dukungan, dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menghaturkan

terima kasih kepada:

1. Bapak Takdir Ali Mukti, S.SOS., M.Si. sebagai pembimbing yang selalu

membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyusunan skripsi ini.

2. Bapak Winner Agung Pribadi, S.IP., M.A. sebagai Dosen Pembimbing

Akademik, yang telah mengarahkan penulis selama mengampu pendidikan di

Ilmu Hubungan Internasional UMY.

3. Ibu Dr. Nur Azizah, M.Si. sebagai Ketua Departemen Program Studi Ilmu

Hubungan Internasional, yang mendukung serta mendoakan segala yang

(5)

4. Kedua orang tua penulis, abah tercinta H. Suwardi HAA dan mama tercinta

Hj. Nur Rahmah yang senantiasa selalu memberikan dukungan yang tak

henti-henti baik doa, moril maupun materil demi kelancaran penyusunan

skripsi ini.

5. Kepada kakak dan adik penulis, Noorliana dan Bey Arifin Noor yang juga

senantiasa memberikan semangat, dukungan, doa, dan tidak henti menghibur

penulis dalam penyusunan skripsi ini.

6. Kepada Keluarga Haji Anang Atjil, Hajjah Nooriyah, Kromo Atmadja yang

senantiasa memberikan semangat, dukungan, serta doa kepada penulis.

7. Seluruh staf dan dosen program Ilmu Hubungan Internasional yang telah

membantu, memberi ilmu, mendukung serta mendoakan segala yang terbaik

untuk penulis.

8. Kepada sahabat penulis, Raditya yudha Purwaka yang selalu memberikan

dukungan, motivasi, spirit yang sangat luar biasa sehingga bisa membantu

penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

9. Kepada Arviana Putri Bintari yang selalu memberikan penulis motivasi,

semangat, canda dan tawa sepanjang hari dari penulisan skripsi ini dimulai

sampai penulis ujian pendadaran.

10.Kepada teman-temannya Bintari, Afif, Nunik, Indra, Tiara yang sudah

memanjatkan doa dan memberikan semangatnya selama penulis

(6)

11.Teman-Teman Keluarga Besar Ilmu Hubungan Internasional Angkatan 2010,

The A-Team yang selalu menjadi teman kelas semester 1 penulis. Yang tidak

bisa penulis sebutkan satu per satu yang selalu membagikan keseruan, canda

dan tawa selama semester 1.

12.Teman-teman dari kalimantan Sukma, Yaya, Falah, Dhita, Anti yang telah

memberi masukan, semangat sampai selesai penulisan skripsi ini.

13.Teman-teman Hubungan Internasional 2010 Hendi, Tegar, Alan, Monis,

Azmi, Iksan, Cak Kholis, Eko, Abrar, Aldi, Dhira, Fahmi, Fitrah yang selalu

memberikan semangatnya untuk menyelesaikan skripsi ini.

14.Teman Diskusi dan sahabat selama menempuh pendidikan S1 yang memberi

banyak hal untuk dikenang selama di Yogyakarta.

15.Teman-teman Asrama PAKUNINGRATAN 61 Kalimantan Tengah yang

selama satu tahun ini memberikan penulis support dalam semua hal.

16.Tim KKN Mancasan, Rusdi, Abrar, Dharu, Yayi, Eidel, Azmi, Bagus, Vivid

an yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang mendukung serta

memberi semangat serta canda tawa selama KKN di Dusun Mancasan,

Bantul.

17.Bapak Agus Hidayat dan Staff Tenaga Ahli LAPAN (Lembaga Antariksa

Penerbangan Nasional) yang telah memberikan penulis kesempatan untuk bisa

berkunjung dan memberikan penulis data selama kunjungan penulis ke

(7)

18.Teman satu dosen pembimbing dan satu perjuangan bimbingan, Annisa

Karimah, Muhammad Fahdio Rachman Farid, Fitri Navisah Fauziah, Rezky

Ramadhan Antuli terimakasih atas dukungan serta doa sehingga dalam

menyelesaikan skripsi ini penulis bisa menyelesaikannya dengan sabar dan

tawakal.

19.Seluruh rekan-rekan kakak dan adik angkatan Ilmu Hubungan Internasional

angkatan 2010-2016 yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, terima

(8)

DAFTAR ISI

JUDUL SKRIPSI ... i

HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI ... ii

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

BAB II PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KEANTARIKSAAN INDONESIA DAN CHINA ... 11

A. Keantariksaan Indonesia ... 11

1. Sejarah dan Proses Pengembangan Teknologi Antariksa Indonesia Oleh LAPAN ... 11

2. Satelit LAPAN 1 ... 15

3. Satelit LAPAN 2 ... 16

4. Satelit LAPAN 3 ... 18

B. Keantariksaan Republik Rakyat China ... 20

1. Sejarah Keantariksaan China ... 20

(9)

BAB III HUBUNGAN INDONESIA DENGAN EMPAT

NEGARA KEKUATAN ANTARIKSA DUNIA ... 27

A. Kekuatan Antariksa ... 28

B. Hubungan Indonesia dengan Rusia Dalam Hal Antariksa ... 30

1. Dampak Positif ... 35

2. Dampak Negatif ... 36

3. Dampak Hukum ... 37

C. Hubungan Indonesia dengan Amerika Dalam Hal Antariksa ... 38

D. Hubungan Indonesia dengan Eropa Dalam Hal Antariksa ... 40

1. Peranan De Gaulle ... 40

2. E S A (European Space Agency) ... 44

E. Hubungan Indonesia dengan Jepang Dalam Hal Antariksa ... 50

1. Pi-SAR-L2 ... 52

2. SATREPS ... 55

3. STS ... 56

BAB IV KERJASAMA TEKNOLOGI KEANTARIKSAAN ANTARA INDONESIA DAN CHINA ... 59

A. Kondisi Teknologi Antariksa Indonesia ... 61

B. Teknologi Antariksa Tiongkok ... 62

C. Kerjasama Indonesia Dengan Tiongkok Dibidang Antaiksa ... 63

D. Analisa Teori ... 68

1. Model Aktor Rasional ... 68

1.1Tiongkok Sebagai Negara Besar Dapat Mengembangkan Teknologi Antariksa Dalam Waktu Singkat ... 69

1.2Tiongkok Peningkatan Posisi Tawar Indonesia Dalam Politik internasional ... 71

1.3Perkiraan Kerugian dan Antisipasi ... 73

2. Konsep Kerjasama ... 74

1. Indonesia Akan Lebih Cepat Ikut Andil Dalam Organisasi Internasional ... 76

BAB V KESIMPULAN ... 80

DAFTAR PUSTAKA ... 82

(10)
(11)

ABSTRAK

Indonesia merupakan negara dengan kepulauan terbesar didunia. Indonesia akan sangat membutuhkan suatu satelit yang dimana salah satu fungsinya untuk pengamanan wilayah. Teknologi antariksa merupakan bentuk tanggung jawab sebuah negara untuk membantu keamanan wilayah negara itu sendiri. Teknologi antariksa bisa berupa satelit yang akan memantau suatu objek dari ruang angkasa agar negara bisa mengetahui keadaan suatu objek tersebut. Tujuan penulisan apa kepentingan negara Indonesia bekerjasama dengan China, serta mengetahui faktor-faktor yang mendorong Indonesia melalakukan kerjasama dengan China. Berdasarkan hasil analisa, dapat disimpulkan bahwa Indonesia menjalin kerjasama dengan China sebagai negara dengan teknologi canggih yang ada didunia adalah agar Indonesia bisa memiliki teknologi antariksa yang bisa menjaga dan mengamankan keamanan negara dan bisa bersaing dengan negara-negara maju lainnya dikancah internasional dalam bidang antariksa.

(12)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Hubungan Internasional saat ini tidak hanya membahas tentang isu ekonomi

ataupun penyelamatan lingkungan, tetapi diantara itu semua, beberapa negara sedang

fokus dalam bidang antariksa, bahkan negara-negara maju telah berhasil mendaratkan

putra-putri bangsanya ke antariksa. Teknologi antariksa tidak hanya berfungsi sebagai

alat untuk penelitian dan eksplorasi tetapi juga penciptaan teknologi yang terkait

dengan penginderaan bumi seperti halnya satelit yang mempunyai berbagai kelebihan

dalam hal mengusahakan perdamaian dunia bahkan satelit bisa jadi menjadi alat untuk

memecah belah dunia. Satelit dengan segala kecanggihan yang dimiliki sangat

dibutuhkan sebuah negara untuk pengembangan pendidikan dan penelitian,

pengawasan dan pengamanan wilayah negara, media, komunikasi dan lain-lain.1

Satelit mempunyai fungsi yang ditujukan untuk membantu manusia agar lebih

mudah dalam melakukan berbagai hal seperti dalam penginderaan jarak jauh,

telekomunikasi, penyiaran media, perkiraan cuaca dan lain-lain, termasuk didalamnya

untuk tujuan perdamaian dunia. Negara-negara maju sudah melakukan penelitian

maupun peluncuran satelit sejak lama. Peluncuran pertama satelit dilakukan oleh Uni

Soviet pada 1957. Peluncuran tersebut menandakan awal dari pengembangan teknologi

1http://www.pojokpedia.com/beberapa-jenis-satelit-buatan-dan-fungsinya.html (Diakses pada 05 Mei

(13)

antariksa dunia dan peluncuran selanjutnya disusul Amerika pada tahun 1958. Negara

berkembang sebagian besar melihat kegiatan peluncuran ini sebagai persaingan kedua

belah pihak untuk penguasaan dan perebutan pengaruh ideologinya. Masyarakat

Internasional melihat sensitifitas dari sejarah peluncuran yang bertepatan setelah

selesainya perang dingin dan didominasi oleh dua kutub pusat kekuatan dunia

tersebut.2

Persaingan kekuatan diantariksa oleh U.S dan Rusia memicu negara lain untuk

ikut mengembangkan teknologi antariksa. Uni Eropa bahkan mampu mengembangkan

teknologi antariksanya dengan pesat mengikuti kemampuan yang dimilki oleh

Amerika dan Rusia. Kemampuan yang dimiliki satelit ataupun teknologi lain yang

beredar diantariksa sedikit banyak mempengaruhi hubungan antar negara. Setiap

negara yang meluncurkan teknologinya ke antariksa cenderung dipandang oleh

negara-negara lain. Sebagian negara-negara akan memandang positif dan sebagian lain akan

memandanng negatif.

Dunia saat ini sedang dihadapkan dengan percaturan politik dunia yang sangat

dinamis. Kekuatan nasional setiap negara tidak hanya dipandang dari kekuatan militer

ataupun ekonominya tetapi menjadi hal penting bahwa kemampuan teknologi antariksa

yang dimiliki menjadi kekuatan tersendiri untuk menunjukan eksistensinya dalam

politik internasional.

(14)

Manusia sangat membutuhkan teknologi antariksa dalam hal ini satelit untuk

membuat segala hal menjadi efektif dan efesien. Fungsi komunikasi yang dimiliki oleh

satelit sangat membantu manusia dalam menyambungkan pesan dibenua satu dengan

benua lain lebih cepat dan tepat. Komunikasi tidak hanya dalam bentuk suara tetapi

kini dengan akses internet melalui satelit manusia dapat saling berkomunikasi dalam

bentuk video. Satelit komunikasi saat ini rentan terhadap peretasan oleh pihak yang

tidak bertanggungjawab maka setiap negara seharusnya memiliki satelit komunikasi

sendiri untuk menjaga kerahasiaan negara. Indonesia dengan penduduk hinggan dua

ratus juta dan memiliki sistem pemerintahan dengan banyak hal yang harus dijaga dari

negara lain seharusnya memiliki satelit komunikasi yang dibuat dan diluncurkan

sendiri.

Ilmu pengetahuan menjadi sarana yang tepat untuk menciptakan suasana

kondusif antar bangsa di dunia ini. Banyak hal yang dapat diraih apabila antarnegara

saling bekerja sama untuk penemuan-penemuan yang dapat mempersatukan berbagai

bangsa. Kondisi politik dunia saat ini yang penuh kecurigaan dan kekhawatiran

membuat tujuan perdamaian yang diusung berbagai pihak menjadi terlihat mustahil.

Negara-negara maju saling berkompetisi untuk menciptakan teknologi yang dapat

mengobservasi berbagai benda asing tetapi penemuan mereka lebih sering

dirahasiakan. Kerjasama yang baik dan saling percaya sangat dibutuhkan untuk saling

memajukan diantara negara-negara di dunia ini, hal ini juga bisa menjadi sarana

(15)

Indonesia memiliki keadaan politik yang sangat dinamis, serta banyak sekali

hal-hal yang harus dirahasiakan dari pihak-pihak di luar Indonesia. Keadaan seperti ini

membutuhkan sistem komunikasi dan keamanan yang tinggi.3 Saat ini Indonesia

menggunakan sandi-sandi dalam komunikasi keamanannya tetapi ini tidak cukup

karena masih banyak celah yang bisa deitembus oleh pihak-pihak yang ingin

membobol rahasia yang dimiliki Indonesia. Indonesia memiliki keadaan geografi yang

membutuhkan pencitraan dari antariksa. Indonesia memiliki banyak wilayah yang

belum terjamah oleh manusia dan negara harus memetakan keadaan seperti ini untuk

mengamankan wilayah kedaulatannya. Indonesia juga memiliki wilayah maritime

yang sangat luas dengan lalu lintas kapal dagang yang cukup padat, pengamanan

maksimal dapat dicapai dengan teknologi antariksa yang efektif dan efisien.

Tiongkok sebagai negara besar dan kemampuan antariksa yang maju dengan

pesat menawarkan kerjasama penelitian dengan Indonesia. Penawaran yang terbuka

lebar ini menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk memulai edisi baru dalam

pengembangan teknologi antariksanya melalui LAPAN. Kerjasama yang dijalin

diharapkan saling memberi manfaat yang positif dan saling memenuhi kepentingan

masing-masing negara.4

3

http://komunikasi.us/index.php/course/perkembangan-teknologi-komunikasi/87-alexander-aji-wicaksono-b-2 (Diakses pada 05 Mei 2015)

4http://jakartagreater.com/tiongkok-siap-bantu-jokowi-usd-40-miliar-untuk-wujudkan-poros-maritim/

(16)

B. Rumusan Masalah

Apa kepentingan pemerintah Indonesia bekerjasama dengan pemerintah

Tiongkok mengenai eksplorasi dan pemanfaatan ruang angkasa dalam maksud damai?

C. Kerangka Pemikiran

Sesuai dengan pokok permasalahan tentang persetujuan antara Pemerintah

Indonesia dan Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok menganai kerjasama eksplorasi

dan pemanfaatan ruang angkasa dengan maksud damai di tahun 2014, maka penulis

mengkaji permasalahan tersebut dengan menggunakan pendekatan pada

landasan-landasan Konsep Kerjasama dan Model Aktor Rasional

1. Konsep kerjasama

Sebagian besar transaksi dan interaksi di antara negara-negara dalam sistem

internasional dewasa ini adalah bersifat rutin dan hampir bebas konflik. Timbul

berbagai masalah nasional, regional, atau global yang memerlukan perhatian dari

banyak negara. Dalam kebanyakan kasus, sejumlah pemerintah negara saling

mendekati dengan penyelesaian yang diusulkan, merundingkan atau membahas

masalah, mengemukakan bukti teknis untuk menyetujui satu penyelesaian atau

lainnya, dan mengakhiri perundingan dengan perjanjian atau pengertian tertentu

yang memuaskan kedua belah pihak. Proses ini disebut kolaborasi atau kerjasama.

Istilah kerjasama (collaboration), dapat memunculkan satu citra akan suatu

(17)

atau ahli-ahli teknis dalam lapangan yang membantu pihak lain meningkatkan

produktivitas. Bila kita menggunakan istilah konflik, mungkin akan diartikan segi

kekerasan atau ketidaksepakatan mengenai isu tertentu. Apapun pengertian

bersama kita mengenai masalah ini, kita sering menganggap bahwa kerjasama dan

konflik adalah berlawanan dan bahwa politik internasional (sering didefinisikan

sebagai pencarian kekuasaan dengan pengorbanan pihak lain) pada dasarnya adalah

suatu proses yang penuh konflik.5

Kerjasama dapat terjadi dalam konteks yang berbeda. Kebanyakan transaksi

dan interaksi kerjasama terjadi secara langsung diantara dua negara yang

menghadapi masalah atau hal tertentu yang mengandung kepentingan bersama. 6

Tiongkok menawarkan sebuah kerjasama dalam pemanfaatan ruang angkasa

dengan tujuan positif terhadap Indonesia. Tiongkok menawarkan pengenalan

teknologi-teknologi luar angkasanya terhadap peneliti LAPAN (Lembaga

Penerbangan dan Antariksa Nasional) Indonesia. Tiongkok meyakinkan Indonesia

merupakan negara dengan potensi besar untuk menjadi mitra Tiongkok dalam

bidang pengembangan teknologi antariksa. Tiongkok saat ini termasuk dalam lima

besar negara dengan penguasaan teknologi antariksa terbaik dibawah Amerika

Serikat, Russia, Eropa dan Jerman. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi

5K. J. Holsti, “Poltik Internasional: Kerangka Untuk Analisa”, Edisi Keempat, Jilid Kedua, alih bahasa

: M. Tahir Azhary, Erlangga, Jakarta 1988, hal.209

(18)

Indonesia yang saat ini membutuhkan “guru” untuk memajukan teknologi

antariksanya.7

Tiongkok menawarkan kerjasama dengan sistem “win-win solution”. Tiongkok

memastikan Indonesia akan mendapat ilmu dan manfaat dalam kerjasama tersebut.

Kepentingan nasional masing-masing negara hanya diketahui oleh masing-masing

pihak dengan penawaran manfaat yang dapat dinegosiasikan semaksimal mungkin

oleh pemegang kepentingan terhadap mitranya. Kemitraan yang dilakukan

Tiongkok dan Indonesia menjanjikan pemenuhan kepentingan nasonal

masing-masing negara dan hal ini menjadi pertimbangan nantinya bagi masing-masing-masing-masing

pemerintah negara untuk mengkaji ulang terhadap kelanjutan kerjasama tersebut.

Pengkajian ini biasanya dilakukan sebelum masa kerjasama tersebut akan

berakhir.8

2. Model Aktor Rasional

Model aktor rasional adalah salah satu model proses pembuatan keputusan

politik luar negeri suatu negara. Dalam model ini politik luar negeri dipandang

sebagai akibat dari tindakan-tindakan aktor rasional, terutama suatu pemerintahan

yang monolit, yang dilakukan dengan sengaja untuk mencapai suatu tujuan.9

Pemerintahan yang monolit ditafsirkan oleh penulis sebagai pemerintahan suatu

7

http://us.m.news.viva.co.id/news/read/433560-Tiongkok-siap-wujudkan-impian-indonesia-kirim-astronot (Diakses pada 05 Mei 2015)

8

http://www.tempo.co/read/news/2013/09/19/078515014/Indonesia-Cina-Kerjasama-Pertahanan-dan-Antariksa (Diakses pada 05 Mei 2015)

9 Mohtar Mas’oed, Ilmu Hubungan Internasional “Disiplin dan Metodologi” (Jakarta: PT Pustaka

(19)

negara yang mempunyai dasar negara kuat, pemerintahan yang solit dan

mempunyai kepentingan nasional yang mendapat persetujuan rakyatnya.

Pembuatan keputusan politik luar negeri digambarkan sebagai suatu proses

intelektual. Analis politik luar negeri harus memusatkan perhatian pada penelaahan

kepentingan nasional dan tujuan dari bangsa, alternatif-alternatif haluan

kebijaksanaan yang bisa diambil oleh pemerintahnya, dan perhitungan untung rugi

atas masing-masing alternatif itu.

Indonesia dengan segala keragaman suku dan budayanya mempunyai sistem

politik dengan sistem perwakilan. Setiap daerah mempunyai wakilnya di DPR

pusat, sehingga dalam penentuan-penentuan kebijakan luar negeri terfokus untuk

kepentingan kemajuan bangsa. Keputusan-keputusan yang diambil tidak serta

merta hanya hasil dari diskusi dalam ruang sidang DPR saja tetapi sudah melalui

berbagai proses penelitian dan diskusi dengan para ahli. Kebijakan Pemerintah

Indonesia atas persetujuan untuk melakukan kerjasama pengembangan teknologi

antariksa dengan Tiongkok dan Tiongkok yang membuka lebar sayapnya untuk

melakukan kerjasama dalam bidang pengembangan teknologi antariksa terhadap

beberapa negara berkembang termasuk Indonesia didalamnya pasti masing-masing

pihak mempunyai pemikiran yang rasional yaitu saling mengusahakan kepentingan

(20)

D. Hipotesa

Berdasarkan kerangka teoritis di atas, jawaban sementara untuk pertanyaan

rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut;

1. Pemerintah Indonesia mendapakan manfaat dari kerjasama antariksa dengan

pemerintah Tiongkok, antara lain Indonesia mendapatkan alih teknologi

antariksa dari Tiongkok.

2. Indonesia berkepentingan menjalin aliansi strategis diprogram pengembangan

teknologi antariksa dengan Tiongkok.

E. Jangkauan Penelitian

Untuk memudahkan penulis didalam memperoleh data bahan analisa maka

penulis memerlukan batasan bahasan. Penelitian ini akan fokus terhadap apa saja

tujuan Indonesia dalam kerjasama yang dilakukan dengan pemerintah Tiongkok

mengenai eksplorasi dan pemanfaatan ruang angkasa dalam maksud damai.

Penulis kemungkinan akan sedikit menyinggung masalah diluar fokus

pembahasan masalah tersebut dengan tidak keluar dari topik pembicaraan, jika

(21)

F. Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan metode deduktif, artinya dengan berdasarkan

kerangka teori maupun pendekatan kemudian ditarik suatu hipotesa yang akan

dibuktikan melalui data empiris.

Pengumpulan data penelitian ini akan dilaksanakan dengan studi pustaka dan

wawancara dengan pihak LAPAN sesuai dengan badan negara yang terjun langsung

dalam pelaksanaan kerjasama ini. Penilitian ini didukung dari berbagai sumber seperti

literatur, makalah ilmiah, jurnal dan surat kabar. Sedangkan data lain diperoleh dari

media elektronik yaitu internet yang relevan dengan analisa diatas.

G. Sistematika Penulisan

Bab I Pendahuluan

Bab II Perkembangan Teknologi keantariksaan Indonesia dengan

Tiongkok.

Bab III Hubungan Indonesia Dengan Empat Negara Kekuatan

Antariksa Dunia

Bab IV Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Indonesia Menjalin

Kerjasama Keantariksaan Dengan Tiongkok

(22)

BAB II

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KEANTARIKSAAN INDONESIA DENGAN TIONGKOK

A. KEANTARIKSAAN INDONESIA

1. Sejarah Dan Proses Pengembangan Teknologi Antariksa Indonesia Oleh LAPAN

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar yang ada di dunia

dengan jumlah pulau 13.466 pulau. Negara dengan luas hampir 2 juta km2 ini

dilintasi dengan garis katulistiwa yang cukup panjang. Posisi Indonesia yang

strategis berada di antara benua Asia dan Australia, diantara Samudra Pasifik

dan Samudra Hindia. Posisi Indonesia yang sangat strategis tersebut menjadi

kekuatan nasional yang dapat dimaksimalkan dengan peningkatan kapasitas

teknologi antariksa Indonesia.1

Proses untuk memajukan teknologi antariksa membutuhkan banyak

faktor untuk mencapainya. Faktor kekuatan nasional yang didukung dengan

posisi negara Indonesia yang strategis akan menjadi modal yang sangat baik

jika didukung dengan kemauan politik dari pemerintah. Pemerintah saat ini

(23)

dipandang oleh beberapa pihak mulai memperhatikan program pemajuan

teknologi antariksa Indonesia yang dilakukan LAPAN.

Kemajuan teknologi antariksa suatu negara sangat berpengaruh

terhadap posisi suatu negara dalam kancah Internasional. Kemajuan yang

signifikan dapat menjadi suatu kekuatan nasional dan menjadi daya tarik bagi

negara lain untuk melakukan kerjasama serta memandang lebih terhadap

negara yang mandiri dalam bidang antariksa. Indonesia sebagai negara

berkembang dengan sumber kekuatan nasional yang melimpah sudah

sepatutnya menjadi negara yang mandiri akan teknologi antariksa untuk

kepentingan nasionalnya.2

Indonesia mulai membentuk LAPAN (Lembaga Penerbangan dan

Antariksa Nasional) pada tahun 1963 dan hal ini menjadi tonggak awal dari

penelitian dan pengembangan teknologi keantariksaan Indonesia. Prestasi awal

yang pernah dicapai oleh Indonesia dalam dunia keantariksaan adalah

berhasilnya pembuatan roket kartika-1 yang dibuat oleh PRIMA

(Pengembangan Roket Ilmiah dan Militer Awal) pada tahun 1964. Roket ini

memiliki booster berdiameter 235 mm yang dikerjakan oleh mesin extrusi milik

Pindad (Perindustrian Angkatan Darat).

(24)

Kartika-1 berhasil menangkap dan merekam siaran satelit cuaca Tiros

milik Amerika Serikat. Menurut majalah “Electronics” terbitan Amerika,

Indonesia merupakan negara kedua yang berhasil merekam siaran Tiros dengan

teknologi buatannya sendiri. Pada tahun 1964, Indonesia juga berhasil

mengimport roket dari Jepang dengan nama Kappa-8. Roket ini berhasil

meluncur pada Agustus 1965 dengan mencapai ketinggian lebih dari 300 km di

atas permukaan laut. Kappa-8 menjadi roket pertama yang berhasil diluncurkan

dari Indonesia ke antariksa dan berhasil mengorbit.

Lapan terus melakukan penelitian dan percobaan dalam menciptakan

teknologi antariksa tetapi dukungan dari pemerintah mulai menurun dengan

kondisi politik yang berubah-ubah. Pada tahun 1972 Lapan mulai diperhatikan

lebih oleh Presiden Soeharto yang menginstruksikan untuk mulai melakukan

penelitian pada bidang penginderaan jarak jauh. Proyek tersebut berhasil

menghasilkan satelit “Cupumanik Astagina” yang bertujuan untuk memetakan

wilayah Indonesia dan menjadi salah satu cara untuk mempersatukan bangsa.

Sayangnya, proyek ini harus berhenti ditengah jalan karena pada era tersebut

pemerintah mulai beralih untuk pengembangan teknologi pesawat terbang.3

Pemerintah Indonesia mulai mengalihkan anggaran dananya yang

semula untuk pengembangan teknologi penginderaan jarak jauh dialihkan

untuk pengembangan pembuatan teknologi penerbangan. Lapan mulai redup

(25)

dalam prestasi-prestasi penelitian dan penemuan teknologi antariksa karena

politik will dari pemerintah Indonesia mulai berkurang untuk pengembangan

teknologi luar angkasa.

Hambatan yang dialami Lapan sangat berpengaruh dengan

perkembangan teknologi keantariksaan Indonesia. Lapan terus melakukan

penelitian dan percobaan tetapi halangan dana dan dukungan pemerintah yang

kurang membuat proyek-proyek penelitian dan peluncuran tidak bisa

dilakukan. Hal ini menjadi salah satu hal yang menghambat kemajuan

teknologi keantariksaan Indonesia secara nasional. Dalam waktu yang

bersamaan muncul peneliti-peneliti dari luar Lapan yang melakukan penelitian

tentang teknologi antariksa, tetapi para peneliti masih terganjal dengan masalah

ijin dan kurangnya support dari pemerintah.

Proyek penelitian dan percobaan antariksa mulai digiatkan lagi pada

tahun 1982, dengan program pembuatan dan uji terbang muatan roket

sub-orbital dengan misi telemetri dan digital repeater. Program ini berhasil

mengorbitkan roket dengan ketinggian 600 km. Program tersebut menjadi cikal

bakal program lanjutan pada tahun 2000 dengan tujuan pengembangan satelit

mikro untuk surveillance dengan orbit polar ataupun ekuator.

Keadaan politik pada tahun 1997-1998 sangat berpengaruh terhadap

perkembangan teknologi antariksa nasional. Pasca reformasi, Lapan mulai

(26)

dukungan dari pemerintah dan dengan lebih terbukanya akses untuk mendapat

informasi dari luar menjadikan Lapan lebih dinamis untuk

penelitian-penelitiannya. Kerjasama dengan luar negeri menjadi salah satu agenda Lapan

untuk mendorong kemajuan teknologi antariksa nasional.4

2. Satelit LAPAN 1

Tahun 2005, LAPAN berinisiasi untuk membeli satelit tele-edukasi

menjadi proyek kementerian pendidikan dan Lapan dengan nama satelit Ki

Hajar Dewantara yang digadang-gadang mampu menyebarkan informasi

pendidikan hampir ke seluruh plosok Nusantara dengan kapasitas 200 kelas

interaktif, 40.000 kelas non-interaktif dan 25 titik interaktif tele medicine.

Program ini sangat didukung oleh pemerintah pada awalnya, tetapi pada

pertengahan proses pembuatan rancangan RAPBN proyek ini dibatalkan.

Tahun 2007 menjadi tahun yang menggembirakan bagi dunia

keantariksaan nasional, hal ini dikarenakan Lapan telah berhasil mengorbitkan

satelitnya yang bernama Lapan Tubsat atau Lapan A1. Lapan A1 merupakan

satelit mikro hasil kerjasama antara Lapan dan Universitas Berlin. Satelit kotak

ini dilengkapi dengan kamera dengan resolusi tinggi dan tahan akan panas dan

air. Satelit A1 mempunyai fungsi untuk memantau langsung keadaan daratan

di Nusantara. Satelit ini bisa memantau langsung seperti kebakaran hutan,

(27)

gunung berapi dan banjir. Selain untuk pengamatan alam, satelit A1 juga

dimanfaatkan untuk komunikasi.5

Pemanfaatan dibidang komunikasi sering dipakai untuk pemantau

keadaan alam di wilayah rural. Wilayah ini adalah daerah yang sama sekali

tidak mendapat signal dari operator komersial, seperti Indonesia wilayah timur

yang belum maksimal mendapat layanan jaringan dari operator komersial.

Kekurangan dari satelit ini adalah kurang mampu untuk memantau keadaan

banjir yang diiringi dengan awan hitam tebal. Sistem yang ini telah berhasil

menjadi jembatan oleh pemerintah pusat dan daerah, khususnya daerah rural.

Proses pemantauan dan laporan dari rural ke pusat atau sebaliknya menjadi

lebih lancar dan efektif.

3. Satelit LAPAN 2

Pada tahun 2015 ini dibawah pemerintahan Bapak Jokowi, LAPAN

sangat didorong untuk terus melakukan pengembangan dan percobaan dalam

pemajuan teknologi antariksa Indonesia. Pemerintah dan Lapan terus saling

bersinergi untuk menciptakan teknologi antariksa. Hasil cemerlang yang diraih

adalah terciptanya satelit mikro Lapan A2 yang digadang dapat menjadi satelit

observasi yang dapat memantau wilayah teritorial Indonesia.

Satelit Lapan A2 atau Satelit Orari ini berbekal kamera digital yang super

canggih yang ditanam dibagian bawah dan menjadi modal penting satelit ini

5http://www.lapan.go.id/index.php/subblog/read/2013/117/Satelit-Lapan-A1-Lapan-Tubsat (diakses

(28)

untuk melakukan tugasnya mengobservasi wilayah Indonesia. Peluncuran

Lapan A2 pada bulan September 2015 menjadi hal yang cukup membahagiakan

untuk Bapak Jokowi, karena pada waktu pemerintahannya yang berjalan baru

1 bulan Lapan berhasil didorong untuk menciptakan dan meluncurkan satelit

imagerynya yang pertama.6

Proses peluncuran Orari memerlukan proses yang cukup panjang dan

rumit, karena proses pluncuran Orari membutuhkan bantuan dari roket peluncur

dari India. Komunikasi politik pemerintah Indonesia dan India menjadi salah

satu faktor penting dalam peluncuran satelit Orari. Hasil yang memuaskan

didapatkan setelah Indonesia dan India mencapai kesepakatan untuk saling

mendukung program pengembangan antariksa kedua negara. Pencapaian

kesepakatan ini menjadikan peluncuran satelit Orari semakin lancar.

Satelit Orari diluncurkan menggunakan rocket peluncur (piggy back)

India Polar Satellite Launch Vehicle (PSLV) C30 melalui Pusat Antariksa

Satish Dhawan, Sriharikota, India, sukses mengorbit di ketinggian 650,16

kilometer. Satelit Lapan A2 sudah pada orbitnya setelah dilepas bersama

astrosat berbobot 1,5 ton milik India dan enam satelit nano lain milik Kanada

dan Amerika Serikat (AS). Fungsi Orari adalah 80 persen eksperimen dan 20

persen operasional, dan akan melintasi wilayah Indonesia 14 kali setiap hari

dengan periode orbit 100 menit.

6

(29)

Lapan bekerja sama dengan Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari)

untuk menguji komunikasi melalui satelit tersebut selama 1 bulan ke depan.

Satelit Orari memiliki misi untuk penggunaan radio amatir saat bencana dan

identifikasi pulau terluar di Indonesia. Alat ini diharapkan dapat membantu

menjaga kedaulatan Indonesia dengan memantau lalu lintas kapal, operasi

keamanan laut, perikanan, dan eksplorasi sumber daya kelautan Indonesia.

Dengan dilengkapi Automatic Identification System (AIS), satelit mikro ini

diharapkan mampu mendeteksi hingga ribuan kapal dengan cakupan area

pengamatan mencapai ribuan kilometer. Hal ini menjadi kebanggaan bagi

pemerintah Indonesia karena Orari 100 persen buatan Indonesia dan peluncuran

satelit merupakan hal bergengsi bagi setiap negara, satelit merupakan teknologi

yang dapat mempengaruhi posisi politik sebuah negara. Proses peluncuran

dijadikan sebagai proses pameran untuk Internasional. 7

4. Satelit LAPAN 3

Setelah berhasil meluncurkan Lapan A2 sebagai satelit yang 100 persen

buatan Indonesia, Lapan terus bersemangat untuk melanjutkan misinya dengan

memulai pengujian satelit terbarunya yaitu Lapan A3. Satelit A3 mempunyai

misi untuk pengamatan daerah pertanian. Fungsi dan tujuannya satelit ini yaitu

untuk mengintegrasikan atau mengolah data iklim dan musim dengan wilayah

(30)

pertanian, sehingga proses bercocok tanam oleh petani dapat menghasilkan

produk pertanian yang maksimal.

Program pengembangan satelit ini menggandeng IPB (Institut Pertanian

Bogor) sebagai rekan untuk penelitian dari objek satelit A3. IPB menjadi rekan

yang bisa memberi masukan data tentang pertanian di Indonesia, termasuk

perkebunan yang saat ini sedang marak dibuka di wilayah Sumatra dan

Kalimantan. Pembukaan wilayah ini menjadi dilema bagi pemerintah Indonesia

dan masyarakat khususnya. Satu sisi perkebunan memberikan dampak baik

bagi sebagaian orang yang mempunyai kepentingan dibidang perkebunan,

tetapi dengan pengelolaan yang kurang maksimal berdampak buruk untuk

berbagai pihak.8

Pengelolaan yang kurang baik menimbulkan banyak efek buruk, seperti

kebakaran hutan, konflik lahan, konflik dengan satwa hutan dan berbagai

bencana alam. Pengelolaan yang baik dapat dimulai dengan pemetaan wilayah

yang baik, saat ini Indonesia masih membeli peta wilayah negaranya sendiri

dari Luar Negeri dengan harga yang tinggi dan hasil yang kurang maksimal.

Lapan dan IPB mendorong pemerintah agar mendukung programnya untuk

memproduksi Satelit A3 yang digadang dapat menjadi solusi permasalahan

pertanian Indonesia saat ini.

8http://lapan.go.id/index.php/subblog/read/2015/2137/Satelit-LAPAN-A3-Disiapkan-Meluncur-2016

(31)

Permasalahan lain adalah pertanian di wilayah-wilayah kurang air. Satelit

A3 berkemampuan untuk memprediksi musim dan dapat memperkirakan hujan

dan angin yang akan melintasi Indonesia. Petani dapat mengakses data tersebut

untuk kebutuhan jadwal bercocok tanamnya, sehingga saat musim kemarau

datang petani dapat mempersiapkan ketersediaan air dan memperkirakan

tanaman apa yang akan ditanam.

Swasembada pangan yang menjadi program pemerintah dapat dibantu

dengan satelit ini. Proses distribusi dari wilayah pertanian ke masyarakat dapat

dipantau melalui satelit A3. Manajemen distribusi juga dapat dipetakan dengan

baik, agar produk pertanian yang mempunyai masa segar pendek dapat segera

terserap masyarakat. Dorongan pemerintah untuk satelit ini akan sangat

berguna untuk kemajuan teknologi pangan selanjutnya.9

B. KEANTARIKSAAN REPUBLIK RAKYAT TIONGKOK

1. Sejarah Keantariksaan Tiongkok

Cina merupakan tempat asal-muasal roket yang ada di dunia, karena di

sinilah bubuk hitam / mesiu yang merupakan cikal bakal terciptanya roket

ditemukan. Riwayat perkembangan peroketan Cina secara nyata baru dimulai

dengan kembalinya Prof. Qian Xuesen pada 1955 yang menimba ilmu di

Amerika.10

9Ibid

10 Kellerman ken, Sapce Very Long Baseline Interferometry, dalam TAIKONG-International Space

(32)

Program pesawat antariksa berawak Cina yang disebut Project 921,

secara resmi diluncurkan pada 1992, tetapi penelitian untuk program ini sudah

dimulai pada tahun 1968 oleh Prof. Qian Xuesen (sekarang Ketua Komite

Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi). Menyusul peluncuran satelit

buatan Cina pertama, DFH-1, para ilmuwan Cina mulai mempelajari konsep

desain prototipe pesawat luar angkasa yang mampu memuat dua astronot ke

luar angkasa. Tetapi, program ini ditunda pada tahun 1975 berhubung alasan

politik selain mengalami kesulitan dalam hal teknis dan pendanaan. Para

pemimpin Cina saat itu menentukan bahwa perkembangan ekonomi nasional

harus menjadi prioritas utama.11

Sementara program perkembangan luar angkasa ditunda, penelitian akan

bidang ini tidak pernah berhenti. Selama periode 1970-1980 Cina telah

membuat kemajuan yang signifikan dalam kendaraan peluncur pesawat ruang

angkasa, satelit, dan teknologi luar angkasa lainnya. Pada saat yang sama,

aktivitas penelitian dilakukan di Pusat Penelitian Pesawat Luar Angkasa Cina

untuk membantu para ilmuwan Cina dalam memahami reaksi manusia terhadap

lingkungan pesawat luar angkasa. Setelah satu dekade pengembangan dalam

ekonomi nasional dan teknologi pesawat luar angkasa, program pesawat

antariksa berawak sudah menjadi agenda utama para pemimpin Cina di akhir

tahun 1980.

(33)

Pada awal tahun 1990 para pemimpin Cina menggalakkan program

pesawat antariksa berawaknya untuk menaikkan semangat/kebanggaan

nasional, di samping peningkatan kemampuan teknologi itu sendiri. Pada tahun

1992 Project 921 secara resmi disetujui pemerintah Cina. Rusia saat itu

bertindak sebagai partner sebagai hasil dari hubungan baik Cina dengannya

sejak 1990. Pesawat luar angkasa berawak yang dikerjakan sudah mencapai

tahap perancangan pada 1996, dan pada saat yang sama dua astronot Cina mulai

dilatih di Pusat Pelatihan Kosmonot Yuri Gagarin di Rusia. Pada tahun 1998

pengembangan kendaraan peluncur pesawat luar angkasa model baru CZ-2F

yang didesain secara khusus untuk pesawat luar angkasa ShenZhou dan

pembangunan Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan sudah diselesaikan.12

2. Uji Coba Pesawat Berawak ShenZhou

Tepat setelah perayaan kemerdekaan negara yang kelima puluh, pada

November 1999 Cina berhasil meluncurkan pesawat ujicoba luar angkasa tidak

berawaknya, ShenZhou, menandakan suatu pencapaian baru dalam

perkembangan teknologi ruang angkasa Cina dan signifikansi dalam

pencapaian teknologi pesawat ruang angkasa berawak. Pesawat luar angkasa

tidak berawak kedua ShenZhou II berhasil diluncurkan pada Januari 2001, yang

kemudian diikuti oleh peluncuran pesawat-pesawat tidak berawak berikutnya

(34)

ShenZhou III dan ShenZhou IV, berturut-turut pada Maret dan Desember

2002.13

Pada 15 Oktober 2003 pesawat luar angkasa berawak pertama

ShenZhou-5 yang memuat astronot pertama Cina Letkol. Yang Liwei, berhasil diluncurkan

dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan. Setelah berkeliling selama 21 jam 23

menit di orbit bumi ShenZhou V mendarat di wilayah Mongolia Dalam dengan

aman; menjadikan Cina sebagai negara ketiga di dunia yang mampu mengirim

manusia ke luar angkasa. Tidak lama berselang setelah itu, Cina meluncurkan

lagi pesawat antariksa berawaknya ShenZhou VI pada 12 Oktober 2005

kemarin. Wahana tersebut telah mengorbit selama lima hari di ruang angkasa

dan kembali mendarat dengan selamat ke Bumi pada 17 Oktober 2005, yang

sudah memuat dua orang astronot, yakni Fei Junlong dan Nie Haisheng.

Keberhasilan ini semakin mempertinggi semangat kebanggaan nasional dan

memantapkan ambisi Cina dalam pengembangan program antariksanya.14

Untuk ke depannya, pemerintah Cina berharap bisa membangun stasiun

ruang angkasa sendiri dan akan mengirimkan astronotnya ke Bulan. Saat ini

Cina tengah mengembangkan pesawat antariksa tanpa awaknya untuk

mengorbit di bulan. Tahap ini merupakan tahap pertama dari tiga tahap program

eksplorasi bulan, yang disebut Chang’e. Tahap pertama direncanakan akan

13http://www.space.com/1616-making-history-Tiongkok-human-spaceflight.html (diakses pada 23

April 2016)

(35)

berakhir tahun 2010 dan dilanjutkan dengan tahap kedua, yang mengirimkan

kendaraan penjelajah ke bulan, dan misi ketiga yang merupakan misi

pengiriman pesawat luar angkasa untuk mengambil contoh-contoh material

demi keperluan penelitian di bumi. Tetapi, misi dan pendanaan tahap pertama

(serta seluruh proyek) itu hingga kini masih belum disetujui oleh pemerintah.

Hu Shixiang, wakil komandan tertinggi untuk program pesawat antariksa

berawak Cina, mengkonfirmasi kebenaran tersebut saat dilakukan sesi tanya

jawab pada 18 Oktober 2005 lalu mengenai kesuksesan operasi Shenzhou VI.

Pada kesempatan yang sama terkuak pula ambisi Cina untuk dapat menguasai

teknologi docking dan spacewalk sebelum tahun 2012. 15

Program pesawat antariksa berawak Cina terdiri atas tiga tahap

pengembangan, yang antara lain adalah :

1. Tahap Pertama

Termasuk di dalamnya peluncuran sejumlah pesawat tanpa awak antara

kisaran tahun 1999 – 2002, yang diikuti peluncuran dua pesawat antariksa

berawak pada 2005.

2. Tahap Kedua

15http://www.space.com/1667-shenzhou-6-Tiongkok-launches-astronauts-manned-spaceflight.html

(36)

Space docking dan space walking merupakan tujuan dari fase ini yang

direncanakan sudah akan tercapai pada 2010. Pembangunan laboratorium

angkasa sementara kelas 8 ton juga termasuk dalam rencana di fase ini.

3. Tahap Ketiga

Pada 2020 Cina merencanakan sudah akan mendirikan stasiun ruang

angkasa permanen kelas 20 ton.

Berikut beberapa aset dan catatan penting (track record) yang dimiliki Cina

dalam pengembangan program pesawat ruang angkasanya :

1. Cina mempunyai tiga tempat fasilitas peluncuran terpisah, yang antara lain

adalah Jiquan, Taiyuan, dan Xichang.

2. Pada tahun 1960-an RRC mendidik dan melatih para insinyur wahana

antariksanya, setelah sebelumnya dididik oleh Uni Soviet. Baru setelah 1980

RRC mengirim ribuan pelajarnya ke Amerika dan negara Barat lainnya untuk

meneliti lebih dalam tentang teknologi antariksa, dan mengadakan program

pertukaran pelajar.

3. Mitra kerja Cina dalam program antariksanya antara lain adalah Brazil,

Perancis, dan Swedia. Kerjasama yang dilangsungkan dalam bentuk alih

teknologi, pembagian tracking station (stasiun pencari jejak pesawat luar

angkasa) bersama, dan lain lain. Terhadap Rusia, Cina bermitra dengan

pertimbangan kesamaan kepentingan strategis kedua negara vis-à-vis Amerika.

(37)

semacam ini sendiri baru banyak meningkat semenjak berakhirnya Perang

Dingin.

4. Cina menghabiskan 900 juta yuan atau 111 juta US$ untuk misi Shenzhou

VI; Bandingkan dengan alokasi dana pemerintah Cina untuk program

pengurangan polusinya tahun 2004 yang sebesar 190 milyar yuan atau 23,5

milyar US$.16

5. Para elite program antariksa Cina saat ini masih menunggu persetujuan

pemerintah pusat untuk membuat roket seberat 25 ton, yang tiga kali lebih besar

dari kapasitas roket terdahulu. Roket ini rencananya akan digunakan untuk

pesawat antariksa Cina menuju bulan, yang dikatakan untuk tujuan

eksplorasi-observasi dan keperluan misi damai.

6. Dalam bidang peroketan, Cina kini telah menguasai teknik pengambilan

kembali satelit (satellite recovery), peluncuran banyak satelit dengan satu roket

tunggal, propulsi kriogenik, roket pendorong yang ditempelkan (strap-on

booster), satelit geostasioner, pengendalian dan penjejakan satelit (satellite

tracking). Di bidang satelit penginderaan jauh dan telekomunikasi, Cina

mencapai kemajuan yang berarti dalam eksperimen mikro-gravitasi dan

pengembangan wahana antariksa berawak.17

(38)

BAB III

HUBUNGAN INDONESIA DENGAN EMPAT NEGARA KEKUATAN ANTARIKSA DUNIA

Penguasaan teknologi antariksa dari tahun 1960-an dipegang oleh dwi kekuatan

besar, yaitu Uni-Soviet dan Amerika Serikat. Hingga berita mengejutkan terjadi pada

6 Februari 1984, Kompas mengabarkan bahwa satelit Wester VI telah hilang dari

pantauan radar, berita mengenai kegagalan tersebut membuat kedudukan ESA

(European Space Agency) semakin menanjak menghadapi persaingan sistem

transportasi antariksa (STS) yang pada waktu itu selalu dipimpin oleh AS.

Pada tanggal 7 Februari 1984, diberitakan pula kegagalan misi Challenger,

yang merupakan misi STS ke-11, dalam mengorbitkan secara tepat satelit komunikasi

RI, Palapa B-2. Nasib kedua payload, milik perusahaan Western Union dan pemerintah

Indonesia itu kini sama menjadi benda tidak berguna diruang angkasa.1

Dua berita tersebut menggambarkan tiga fenomena. Pertama, Eropa kini telah

berdiri sebagai kekuatan antariksa di luar AS dan Soviet. Kedua, RI telah berada pada

apa yang disebut sebagai tahapan penerapan secara komersial teknologi ruang angkasa.

Dan ketiga, sejalan dengan tibanya tahapan komersial tersebut, Eropa telah mampu

(39)

membangun industri keruang angkasaannya untuk memasuki pasar persaingan usaha

transportasi antariksa.

Lebih dari dua dasawarsa, sejak diorbitkannya seputnik pertama, orde ruang

angkasa ditandai oleh dominasi dua pusat kekuatan antariksa, AS dan Soviet.

Tampilnya Eropa yang tampaknya diikuti Jepang dan juga RRC.

A. Kekuatan Antariksa

Bila kekuatan udara digambarkan sebagai kemampuan suatu bangsa untuk

menguasai medan udara, maka kekuatan antariksa adalah kemampuan total suatu

negara untuk menjelajahi antariksa. Seperti halnya doktrin kekuatan udara, doktrin

kekuatan antariksa tidak mengenal batas pemisah antara fungsi militer dan sipil,

keduanya terjalin dalam suatu paduan upaya bangsa yang utuh.2

Banyak elemen dasar bangsa yang terlibat guna mencapai tingkat kemampuan

itu. Namun pada akhirnya yang menentukan adalah kemampuan bangsa tersebut

menciptakan alat utama jelajah, yang di medan udara adalah pesawat udara dan di

medan antariksa adalah pesawat ruang angkasa.

Di dunia penerbangan antariksa, pengertian pesawat ruang angkasa baik

berawak atau tidak, dan objek lain yang ditempatkan di antariksa seperti space

(40)

platform. Kapal ruang angkasa berawak misalnya Skylab dan lunar modul dalam misi

Apollo milik Amerika atau Soyus dan Salyut milik Soviet.

Beberapa ahli mengatakan bahwa dua tahap paling menentukan dalam setiap

kemampuan penjelajahan antariksa adalah teknik meluncurkan objek ke ruang angkasa

dan kemampuan menurunkan kembali objek angkasa ke bumi. Yang pertama menjadi

dasar kemampuan menempatkan satelit dan objek angkasa lainnya di antariksa. Yang

kedua menjadi dasar penerbangan manusia ke ruang angkasa. Ciri menonjol dari sistem

ulang alik adalah bahwa kendaraan antariksa itu bisa dipergunakan ulang. Sistem ini

tengah dikembangkan juga oleh Soviet dengan pesawat Raket oplan.

Tahap perkembangan menentukan dalam penerapan teknologi ruang angkasa

yang menunjang kebutuhan hidup manusia adalah pemanfaatan satelit, dan dikemudian

hari space platform, sebagai tempat instalasi peralatan komunikasi, pemotretan dan

pengamatan bumi lainnya. Berawal dari penentuan ini berkembanglah penggunaan

satelit bagi komunikasi pengamatan dan penginderaan bumi. Manfaat yang langsung

berkaitan dengan kehidupan di bumi itulah yang segera membuka zaman usaha secara

komersial ruang angkasa.

Namun, yang perlu dicatat di sini adalah faktor dasar yang paling menentukan

tetaplah kemampuan meluncurkan teknologi antariksa suatu negara. Tanpa

kemampuan ini, setiap usaha memanfaatkan teknologi ruang angkasa suatu negara di

(41)

B. Hubungan Indonesia dengan Rusia dalam Hal Antariksa.

Negara Indonesia memiliki potensi yang tidak dimiliki oleh negara lain dalam

pegembangan teknologi ruang angkasa. Potensi tersebut berupa garis katulistiwa yang

membentang di atas wilayah negara Indonesia kurang lebih sebesar 13 persen, sehingga

Indonesia tercatat sebagai negara yang garis katulistiwanya terpanjang di dunia,

menjadikan Indonesia sebagai tempat yang ideal untuk peluncuran roket yang

mengangkut satelit.

Pada tanggal 20-24 April 2003, Presiden RI SBY dan Presiden Rusia,

menandatangani Deklarasi Kerangka Kerja Hubungan Persahabatan dan Kemitraan

antara Republik Indonesia dan Federasi Rusia dalam Abad ke-21 (Declaration on the

Framework of Friendly and Partnership Relations in the 21 st Century) serta sejumlah

kesepakatan lain, diantaranya kerjasama teknologi ruang angkasa.3

Dalam rangka pembentukan kerjasama ruang angkasa untuk maksud-maksud

damai, Indonesia dan Rusia mengadakan beberapa kali perundingan yang dimulai pada

tahun 2000. Perundingan berhasil mencapai kesepakatan ad-referendum terhadap teks

Agreement Between the Government of the Republic of Indonesia and the Government

(42)

of the Russian Federation on Cooperation in Field of Exploration and Use of Outer

Space for Peaceful Purposes. Salah satu implementasi Agreement tersebut adalah

bahwa proyek peluncuran satelit komersial di Biak akan melibatkan penggunaan

barang-barang teknologi tinggi, termasuk roket berkelas besar.

Beberapa alasan mengapa Biak dipilih sebagai tempat peluncuran satelit oleh

pemerintah Rusia selain berada di bawah garis katulistiwa adalah bahwa pulau Biak

jauh dari pusat pemukiman, ruang udara diatasnya tergolong jauh dari jalur lintasan

penerbangan komersial yang ramai. Biak adalah pulau yang seluruhnya karang

sehingga landasan pacu bandara Frans Kaisiepo Biak sangat kuat, merupakan salah

satu landasan pacu terkuat di Indonesia yang mampu manahan beban hingga 400 ton.

Peluncuran satelit dengan menggunakan air launch system, merupakan sistem

peluncuran satelit melalui udara yang dilakukan dengan pesawat terbang sehingga

memerlukan landasan pacu yang kuat, seperti yang dimiliki bandara Kaisiepo Biak.

Berhubungan dengan kegiatan peluncuran satelit, pada sidang ke-43 Sub

Komite Hukum, Komite PBB tentang Penggunaan Antariksa untuk Maksud Damai

telah berhasil menyepakati beberapa hal yang dapat menjadi dorongan bagi

perkembangan hukum ruang angkasa internasional, seperti draft resolusi Sidang

(43)

(launching states) yang terdapat dalam Registration Convention dan Liability

Convention.4

Konvensi ini mengatur mengenai masalah pertanggungjawaban atas kerugian

dari kegiatan ruang angkasa. Pihak yang dapat mengajukan ganti rugi adalah: negara

bukan peluncur yang wilayahnya maupun warganegaranya menderita kerugian

termasuk badan hukum maupun perorangan.

Dalam kerjasama Indonesia-Rusia, Negara Indonesia dikategorikan sebagai

negara peluncur, maka dampak hukum dari kerjasama Indonesia Rusia adalah sesuai

dengan ketentuan Liability Convention Pasal VII bagian (a), bahwa

ketentuan-ketentuan konvensi tidak berlaku terhadap kerugian yang ditimbulkan oleh suatu obyek

ruang angkasa dari negara peluncur terhadap warga negara dari negara peluncur. Hal

ini dapat menimbulkan masalah, yakni bagaimana perlindungan hukum terhadap warga

negara Indonesia sendiri apabila mengalami kerugian akibat dari adanya kegiatan

peluncuran satelit Rusia tersebut. Karena sampai saat ini, Indonesia belum memiliki

aturan-aturan hukum menyangkut pelaksanaan kegiatan-kegiatan ruang angkasa,

khususnya aturan-aturan hukum menyangkut peluncuran satelit. Keadaan ini dapat

mengakibatkan kekosongan hukum apabila kegiatan peluncuran satelit dilakukan di

wilayah Indonesia.

4

(44)

Untuk mengantisipasi kemungkinan kerugian yang dapat dialami oleh warga

negara Indonesia dari kegiatan peluncuran satelit Rusia di Biak, dan juga untuk

mengantisipasi masalah-masalah hukum yang mungkin akan ada akibat dari kegiatan

peluncuran satelit tersebut, negara Indonesia dalam hal ini pemerintah perlu melakukan

upaya hukum dalam rangka melindungi warga negaranya sendiri dari akibat kerugian

yang mungkin dialami warga negaranya.Pemerintah harus pula melihat tingkat

keuntungan dan kerugian dijadikannya Indonesia sebagai tempat peluncuran setelit

negara lain sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan, mengingat masih

banyak wilayah Indonesia selain Biak yang strategis untuk dijadikan tempat

peluncuran satelit.

Kerjasama Indonesia-Rusia berupa Agreement Between the Government of the

Republic of Indonesia and the Government of the Russian Federation on Cooperation

in the Field of Exploration and Use of Outer Space for Peaceful Purposes5, yang terdiri

dari 16 pasal dan annex menyangkut kekayaan intelektual dan informasi bisnis terbatas.

Tujuan dari perjanjian kerjasama antara pemerintah Indonesia dan Pemerintah

Rusia sesuai ketentuan pasal 1 dalam perjanjian ini, yaitu untuk membentuk dasar

hukum pengorganisasian kerjasama yang saling menguntungkan dalam bidang tertentu

dari kegiatan bersama terkait dangan eksplorasi dan penggunaan ruang angkasa serta

(45)

penggunaan peralatan dan teknologi ruang angkasa untuk maksud-maksud damai,

utamanya melalui:

a) Penelitian ilmiah dan kegiatan bersama dalam perancangan, pengembangan,

produksi, pengujian dan pengoperasian paralatan ruang angkasa.

b) Saling bertukar teknologi, pengetahuan khusus, peralatan, dan

sumber-sumber material yang relevan.

c) Kegiatan komersial dan kegiatan lain yang berhubungan dengan peluncuran

pesawat ruang angkasa.

d) Membuat persetujuan-persetujuan turunan menyangkut kegiatan sebagai

pelaksanaan terhadap persetujuan.

Indonesia-Rusia menyatakan bahwa, para pihak berdasarkan asas timbal balik,

wajib melepaskan setiap tanggung jawab dan klaim-klaim kompensasi terhadap satu

sama lain dan karenanya masing-masing pihak tidak akan mengajukan setiap klaim

terhadap pihak lainnya, badan berwenang dan organisasi pelaksananya dari pihak lain

tersebut untuk kerusakan yang berakibat pada orang-orang di antara personilnya atau

barang-barang miliknya sehubungan dengan partisipasi orang-orang tersebut dan

penggunaan harta benda tersebut dalam kegiatan bersama berdasarkan persetujuan

(46)

1. Dampak Positif

Kerjasama Indonesia-Rusia dengan menggunakan air launch system

merupakan agenda nasional serta menjadi program bersama rakyat Indonesia,

yang diharapkan dapat menjadi sumber penerimaan bagi pemerintah Indonesia

sekaligus dapat menghasilkan nilai tambah secara ekonomis melalui

pembangunan dan pengoperasian air launch system di Biak.6

Kerjasama Indonesia-Rusia dengan menggunakan air launch system

merupakan suatu usaha jasa kegiatan bisnis yang dapat dikategorikan sebagai

proyek perintisan yang berteknologi tinggi, memiliki faktor resiko yang cukup

tinggi dan memerlukan modal yang besar. Dengan adanya kegiatan kerjasama

Indonesia-Rusia pada gilirannya akan membawa lepasnya Indonesia dari

ketergantungan terhadap negara lain dalam penggunaan jasa peluncuran satelit.

Indonesia mendapatkan patner di bidang teknologi ruang angkasa yang

kompeten, yang mana teknologi tersebut diawasi ketat penyebarannya.

Indonesia dengan kegiatan ini mendapat akses ke ruang angkasa. Dan secara

tidak langsung dapat mempengaruhi peningkatan posisi tawar Indonesia di

antara negara-negara di dunia yang masuk dalam kategori space country.

(47)

Bagi pemerintah daerah Biak akan memperoleh keuntungan yang besar

karena nilai investasi yang tinggi dari pembangunan saran dan prasarana

peluncuran pesawat ruang angkasa Biak melalui penerimaan anggaran dari

sektor pajak berupa pajak tenaga ahli, dan retribusi. Peningkatan pendapatan

pajak menunjang peningkatan pendapatan daerah guna palaksanaan

kegiatan-kegiatan pembangunan di daerah khususnya Biak.

2. Dampak Negatif

Perlu dikhawatirkan adalah bahwa kegiatan peluncuran pesawat ruang

angkasa Rusia menggunakan air launch system, yang beraktifitas pada saat

peluncuran yaitu pesawat, bisa terdapat kemungkinan bahwa pesawat akan

mengalami kebocoran pada tanki bahan bakar saat terbang dan meledak di udara.

Bila kepingan pesawat yang berisi muatan roket dan satelit menimpa

warganegara Indonesia baik secara fisik maupun materi.7 Ketentuan Pasal VII

bagian (a) Liability Convention 1972, menjelaskan bahwa ketentuan Liability

Convention 1972 tersebut tidak berlaku terhadap warganegara dari negara

peluncur. Dengan demikian tanggungjawab internasional terhadap kerugian

yang terjadi akibat adanya kegiatan ruang angkasa. Liability Convention 1972,

tidak dapat diberlakukan bagi warganegara Indonesia sebagai negara peluncur.8

7Ibid.

(48)

Convention Chicago 1944, sebagai perjanjian internasional yang

mengatur mengenai kegiatan pesawat di ruang udara tidak dapat diberlakukan

pula walaupun kegiatan peluncuran satelit Rusia tersebut menggunakan

pesawat udara, hal ini berkaitan erat dengan ketentuan di dalam Pasal 3 bagian

(a) Convention Chicago 1944, yang menjelaskan bahwa Chicago Convention ini

berlaku hanya bagi pesawat udara sipil, dan tidak berlaku bagi pesawat udara

negara. Sementara pesawat udara Antonov yang di gunakan dalam peluncuran

satelit Rusia adalah pesawat dari negara Rusia, Pesawat Antonov mempunyai

registrasi di Federasi Rusia, oleh karena itu flag carrier dari pesawat adalah

Federasi Rusia.9

1. Dampak Hukum

Dampak hukum lain dari kegiatan kerjasama Indonesia-Rusia adalah

terjadi kekosongan hukum karena Indonesia sebagai negara peluncur, sesuai

dengan ketentuan Pasal VII bahwa ketentuan Liability covention 1972 tidak

dapat di berlakukan terhadap kerugian yang di timbulkan oleh suatu objek ruang

angkasa dari negara peluncur terhadap warga negara dari negara peluncur

tersebut.10 Dengan tidak adanya pengaturan hukum nasional terhadap kegiatan

ruang angkasa di Indonesia, terutama ketiadaan pengaturan hukum mengenai

9https://treaties.un.org/doc/Publication/UNTS/Volume%2015/volume-15-II-102-English.pdf (diakses

pada 17 Mei 2016)

(49)

kegiatan peluncuran di wilayah Indonesia berdampak pada tidak adanya

perlindungan hukum terhadap kerugiaan-kerugian yang menimpa warganegara

Indonesia.

A. Hubungan Indonesia dengan Amerika dalam Hal Antariksa

Amerika Serikat merupakan negara super power yang hingga saat ini disegani

oleh negara-negara lain karena beberapa faktor, yang salah satunya adalah

keberhasilannya dalam menciptakan dan mengembangkan teknologi luar angkasa.

Amerika Serikat telah berhasil mengajak 16 negara AS, Rusia, Jepang, Kanada, Brasil

dan 11 negara dari Uni Eropa untuk bekerja sama dalam pembuatan ISS (International

Space Station). ISS merupakan stasiun luar angkasa pertama yang digunakan sebagai

tempat transit para astronot dan satelit yang akan mengorbit bumi dan hal ini menjadi

salah satu keberhasilan Amerika sebagai negara yang mencetuskan dan

mengkoordinasikan kerjasama ini.11

Sejarah panjang Amerika Serikat dalam pengembangan teknologi

keantariksaannya tidak lepas dari kerjasama unik yang dijalinnya dengan Uni-Soviet

dalam periode kepemimpinan John Kennedy. Persaingan dibidang antariksa antara

Amerika dengan Uni-Soviet yang telah berlangsung dari berakhirnya perang dingin

berubah menjadi hubungan kerjasama yang saling menguntungkan pada tahun 1967.

Keadaan kedua negara yang tidak menunjukan kemajuan dalam pengembangan

(50)

teknologi antariksa dipandang Kennedy menjadi waktu yang baik untuk berkomunikasi

dengan Uni-Soviet.

Presiden Kennedy mengupayakan untuk memulai kerjasama dengan

Uni-Soviet dibandingkan harus berkompetisi dalam hal pengembangan ilmu

keantariksaan.12 Pemikiran Kennedy didasari oleh beberapa alasan yaitu;

1. Adanya keyakinan bahwa AS tidak mampu melampaui Uni-Soviet dalam

banyak aspek mengenai keantariksaan.

2. AS sangat prihatin dengan kesulitan dan keterbatasan aspek pendanaan

yang akan dibutuhkan untuk membawa manusia ke Bulan dan

mempertahankan kehadiran AS di antariksa.

Proses penjajakan berhasil dilakukan dengan keluarnya Space Treaty 1967

dengan tujuan untuk mendapatkan kesepakatan bahwa antariksa akan digunakan untuk

tujuan damai, tetapi terbuka untuk kehadiran militer sejauh tidak melanggar prinsip

keamanan dan perdamaian. Berawal dari kerjasama tersebut Amerika percaya bahwa

dalam waktu dekat AS dapat mengirim manusia ke Bulan sebagai komitmennya dalam

pengembangan dan pemanfaatan antariksa dengan maksud damai.

Salah satu hasil dari kerjasama yang dilakukan oleh AS dan Uni-Soviet adalah

terciptanya ISS (International Space Station) yang merupakan gagasan dari pihak AS

(51)

dan mendapat dukungan dari berbagai negara yang salah satunya adalah Uni-Soviet.

Pembentukan kerjasama ini mengubah perspektif berbagai negara mengenai

persaingan untuk menguasai antariksa. ISS menjadi simbol bahwa ruang angkasa

seharusnya dimanfaatkan untuk hajat manusia secara damai.

AS sebagai negara super power yang cukup mengendalikan percaturan politik

dunia, bahkan dalam menentukan anggota dalam penggunaan ISS. Tiongkok yang saat

ini sudah mampu menciptakan dan meluncurkan satelit dan roketnya sendiri tidak bisa

menjadi anggota dalam organisasi tersbut karena kebijakan AS yang menolak tanpa

disertai alasan yang jelas.

Hubungan kerja sama Indonesia dengan Amerika Serikat dalam hal

pengembangan teknologi Antariksa masih dalam kerjasama secara bisnis, salah

satunya adalah pengembangan teknologi pengendalian dan pengaturan cuaca.

Indonesia masih menyewa peralatan dari AS untuk proses rekayasa cuaca untuk

kepentingan penanggulangan kekeringan di Indonesia Timur pada tahun 2002.13

B. Hubungan Indonesia Dengan Eropa Dalam Hal Antariksa 1. Peranan De Gaulle

Terdapat kesejajaran peristiwa sejarah, bahwa lahirnya Abad Ruang

Angkasa bersamaan dengan tampilnya De Gaulle sebagai presiden Republik

(52)

kelima Perancis. Ia segera dicatat dalam sejarah sebagai pemimpin Prancis

yang menghidupkan nasionalisme bangsanya, dan juga pemimpin Eropa yang

mendorong penyatuan Eropa. Lepas dari cara hubungannya dengan Inggris

yang kontroversial, De Gaulle adalah pemberi inspirasi yang baik bagi

masyarakat Eropa.

De Gaulle memandang saat itu ada Era Ruang Angkasa. Prancis dan eropa

harus menjadi kekuatan alternativ. Dalam ambisi Gaulle, Eropa harus mampu

menjadi kekuatan antariksa ketiga, setelah AS dan Soviet, dalam jangka satu

atau dua wasawarsa sejak tibanya Era Ruang Angkasa.

Menghadapi ajakan AS untuk bersama-sama dengan negara lain duduk

dalam Intelsat, De Gaulle menanggapinya hanya sebatas solidaritas sebagai

“negara barat”. Prancis mengambil bagian saham yang paling kecil,

dibandingkan negara industri barat lain dalam pembentukan organisasi

komersial di bidang komunikasi lewat satelit itu, yang disponsori AS.

Dalam pertimbangan De Gaulle, Intelsat adalah wadah kerjasama

sementara dimana Eropa bisa turut serta, sebelum Prancis mampu

melaksanakan hal serupa secara mandiri. Soviet mula-mula ikut dalam

Referensi

Dokumen terkait

Salah satu tindakan yang di lakukan oleh Rusia paling fenomenal yaitu melakukan kerjasama pertahanan militer dengan Iran, selain kedua negara tersebut4. memiliki pandangan

Mengingat Indonesia sudah pernah melakukan penandatangan MoU terkait kerjasama pada bidang pertahanan dengan negara maju lainnya, seperti Amerika Serikat, Rusia,

Kerjasama antar kedua negara ini telah terjalin pertama kali pada hubungan kerjasama bilateral pada tahun 1958 hingga saat ini, tentu saja dengan perjalanan waktu

Kerjasama Cina - Indonesia dalam memenuhi kebutuhan energi minyaknya melalui investasi yang diimplementasikan melalui CNPC (China National Petroleum Corporation)

Salah satu langkah yang Rusia lakukan yaitu dengan melanjutkan kembali kerjasama dengan Tiongkok dan mengumumkan strategi energi terbarunya untuk memperluas pasar gas alam

sebagai negara aliansi barat mampu menjalin kerjasama kontra.. terorisme dengan Indonesia yang merupakan negara yang. secara mayoritas penduduknya menganut agama Islam.

Salah satu langkah yang Rusia lakukan yaitu dengan melanjutkan kembali kerjasama dengan Tiongkok dan mengumumkan strategi energi terbarunya untuk memperluas pasar gas alam menuju

Dari hasil penelitian didapatkan analisis yang menunjukkan bahwa Tiongkok menerapkan 2 (dua) strategi utama dalam mendominasi kerjasama ekonomi dengan Zimbabwe, yaitu (1)