Pengaruh Return On Equity (ROE) Dan Earning Per Share (EPS) Terhadap Return Saham (Studi Kasus Perusahaan Manufakture Sektor Food And Beverage Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2012-2013)

105 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Hani Fitriani

Universitas Komputer Indonesia

ABSTRACT

The purpose of this study was to determine how much influence the Return On Equity to Stock Return in manufacturing companies food and beverage sectors listed on the Indonesia Stock Exchange and how much influence Earning Per Share to Stock Return in manufacturing companies food and beverage sectors listed on the Indonesia Stock Exchange.

The method used in this study is descriptive and verification analysis. The unit of analyis in this study was 30 the finacial statements of companies manufacturing food and beverage sector period 2012-2013. The test statistic used in multiple regression analysis through testing phases of the classical assumption test, regression analysis, partial correlation analysis, the coefficient of determination and hypothesis testing using SPSS 13.0 for Windows.

The results of hypothesis testing in this study indicate that (1) changes in Return On Equity has significant influence and is positive on Stock Returns in manufacturing companies food and beverage sectors listed on the Indonesia Stock Exchange, (2) changes have the Earning Per Share is positive influence and not significant on Stock Returns in the manufacturing sector, food and beverage listed on the Indonesia Stock Exchange.

Keywords: Return On Equity, Earning Per Share and Stock Return

I. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Penelitian

Menurut Kamaruddin (2004 : 17) pasar modal memiliki peran penting dalam kegiatan ekonomi terutama di negara yang menganut sistem ekonomi pasar. Selanjutnya Kamaruddin (2004 : 17) menyatakan pasar modal menjadi salah satu sumber kemajuan ekonomi karena dapat menjadi sumber dan alternatif bagi perusahaan. Pasar modal merupakan sarana pembentukan modal dan akumulasi dana yang diarahkan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengarahan dana guna menunjang pembiayaan pembangunan nasional (Kamaruddin 2004 : 17).

Menurut Eduardus (2001:6) alasan utama orang berinvestasi adalah untuk memperoleh keuntungan. Selanjutnya Eduardus (2001:6) dalam konteks manajemen investasi tingkat keuntungan investasi disebut sebagai return. Suatu hal yang sangat wajar ketika investor menuntut tingkat return tertentu atas dana yang telah diinvestasikannya (Eduardus, 2001:6).

Menurut Yeye dan Tri (2011) bagi para pemodal yang akan melakukan transaksi pembelian saham suatu perusahaan, penilaian terhadap kemampuan emiten dalam menghasilkan laba merupakan suatu hal yang sangat penting. ROE yang semakin bertambah menggambarkan kinerja perusahaan yang semakin baik dan para pemegang saham akan mendapatkan keuntungan dari dividen yang diterima semakin meningkat, atau semakin meningkatnya harga maupun return saham (Yeye dan Tri, 2011).

Adapun fenomena lain yang terkait dengan return on equity (ROE) terhadap return

(2)

laporan keuangan perusahaan, maka dapat diperoleh informasi kinerja perusahaan dalam memperoleh laba atau profitbilitasnya. Pengukuran atas ekuitas saham biasa menunjukkan profitabilitas total investasi kepemilikan, ukuran yang lain adalah laba per saham (EPS), mengukur partisipasi proporsional dari setiap unit investasi dalam perusahaan pada satu periode (Erich, 1997: 87).

Adapun fenomena lain yang terkait dengan earning per share (EPS) terhadap return

saham adalah pada laporan keuangan periode 2013 PT Ultrajaya Milk Industy & Trading Co Tbk (ULTJ). Pada laporan keuangan tersebut terlihat, laba bersih emiten produk susu ini mengalami penurunan menjadi Rp 325,24 miliar dari sebelumnya, Rp 353,96 miliar. Tentunya, penurunan laba bersih ini membuat earning per share (EPS) PT Ultrajaya Milk Industy & Trading Co Tbk (ULTJ) ikut mengalami penurunan. Pada tahun 2013, EPS PT Ultrajaya Milk Industy & Trading Co Tbk (ULTJ) sebesar Rp 96 per saham, turun dibanding periode sebelumnya, Rp 122 per saham. Sedangkan return saham PT Ultrajaya Milk Industy & Trading Co Tbk (ULTJ) mengalami peningkatan menjadi 238,34% (Auditor KAP Tanubrata Sutanto Fahmi & Rekan, Bambang Tresno, 2013).

Berdasarkan uraian diatas, saya selaku peneliti merasa perlu untuk melihat bagaimana pengaruh return on equity (ROE) dan earning per shares (EPS) terhadap return saham pada perusahaan. Sehingga saya memilih judul: Pengaruh Return On Equity (ROE) dan Earning Per Shares (EPS) Terhadap Return Saham studi kasus Pada Perusahaan Manufaktur Sektor Makanan dan Minuman Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2013. 1.2 Rumusan Masalah

1. Seberapa besar return on equity (ROE) terhadap return saham pada perusahaan manufaktur sektor food and beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011-2013.

2. Seberapa besar pengaruh earning per shares (EPS) terhadap return saham pada perusahaan manufaktur sektor food and beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011-2013.

1.3 Maksud Dan Tujuan Penelitian 1.3.1 Maksud Penelitian

Manfaat penelitian adalah subbab dimana penelitian mengemukakan manfaat atau kegunaan yang bisa diperoleh apabila tujuan penelitian tercapai (Azuar, Irfan dan Saprinal, 2014: 105). Maksud peneliti melaksanakan penelitian ini adalah untuk memperoleh dan mengumpulkan data dan informasi guna mengetahui Pengaruh Return On Equity (ROE) dan Earning Per Share

(EPS) Terhadap Return Saham. 1.3.2 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh return on equity (ROE) terhadap return

saham pada perusahaan manufaktur sektor food and beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011-2013.

2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh earning per shares (EPS) terhadap return

saham pada perusahaan manufaktur sektor food and beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011-2013.

II. Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Return On Equity (ROE)

(3)

Ekuitas 2.1.2 Earning Per Share (EPS)

Menurut Irham dan Yovi (2011: 77) rasio earning per share (EPS) adalah sebagai berikut:

“Earning per share atau pendapatan per lembar saham adalah bentuk pemberian keuntungan yang diberikan kepada para pemegang saham dari setiap lembar saham yang dimiliki.”

Menurut Irham dan Yovi (2011: 77) adapun rumus untuk menghitung earning per share

(EPS) adalah sebagai berikut:

EPS = ������ � ���� Jumlah saham beredar 2.1.3 Return Saham

Menurut Jogiyanto (2008: 47) return adalah sebagai berikut:

Return suatu saham adalah hasil yang diperoleh dari investasi dengan cara menghitung selisih harga saham periode berjalan dengan periode sebelumnya.“

Menurut Jogiyanto (2008: 110) adapun rumus untuk menghitung return saham adalah sebagai berikut:

� �� Saham =Pt−Pt−1 Pt−1 Keterangan:

Pt : Harga saham penutupan pada periode sekarang Pt-1 : Harga saham penutupan pada periode sebelumnya 2.2 Kerangka Pemikiran

2.2.1 Hubungan antara Return On Equity (ROE) Terhadap Return Saham

Irham Fahmi (2012:57) menyatakan bahwa Return on equity (ROE) banyak digunakan oleh investor maupun calon investor pasar modal yang ingin melakukan investasi pada suatu perusahaan. Karena return on equity (ROE) dilihat dari cara pandang pemegang saham. Perusahaan yang memiliki prospek yang baik akan memiliki return on equity (ROE) lebih tinggi. Semakin tinggi return on equity (ROE) menggambarkan semakin tinggi kemampuan modal sendiri menghasilkan laba untuk pemegang saham. Jika dihubungkan dengan nilai pengembalian, kecenderungan yang terjadi adalah jika return on equity (ROE) meningkat maka nilai pengembalian akan meningkat, karena investor menganggap bahwa perusahaan mempunyai prospek yang baik dalam menciptakan nilai pengembalian (return) melalui laba yang didapat perusahaan.

Putu dan I Ketut (2014) dalam penelitiannya menyatakan bahwa profitabilitas (ROE) berpengaruh negatif, dan nilai perusahaan berpengaruh positif pada retrun saham indeks LQ45 di BEI. Hal ini sejalan dengan teori pasar efisien di mana informasi tersebut akan diterima sebagai sinyal oleh investor dan calon investor, kemudian akan membuat fluktuasi dari harga saham akibat dari kekuatan pasar atas penerimaan informasi sebagai sinyal, fluktuasi tersebut akan memengaruhi capital gain sebagai salah satu unsur return saham. Pihak investor maupun calon investor disarankan untuk melihat beberapa rasio keuangan perusahaan seperti profitabilitas (ROE) sebagai rasio untuk mempertimbangkan pengambilan keputusan pemilihan saham, karena variabel tersebut terbukti berpengaruh terhadap return saham.

2.2.2 Hubungan antara Earning Per Share (EPS) Terhadap Return Saham

(4)

EPS maka akan berdampak pada keuntungan (return) yang semakin tinggi bagi pemegang saham.

2.3 Hipotesis

Menurut Sugiyono (2010:64), hipotesis penelitian adalah:

“Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan.” Hipotesis penelitian dapat diartikan sebagai jawaban yang bersifat sementara terhadap masalah penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul dan harus diuji secara empiris. Berdasarkan uraian kerangka pemikiran di atas, maka hipotesis penelitian sebagai berikut:

H1: Return on equity berpengaruh terhadap return saham. H2: Earning per shares berpengaruh terhadap return saham.

Dari keseluruhan pemaparan di atas maka peneliti merumuskan hipotesis untuk kemudian diuji kebenarannya oleh peneliti dengan hipotesis yang dirumuskan tersebut adalah “Return On Equity dan Earning Per Share berpengaruh terhadap Return Saham”.

III. Metodologi Penelitian 3.1 Metodologi Penelitian

Menurut Sugiyono (2010:2) metode penelitian adalah:

“Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu”.

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian Deskriptif dan metode Verifikatif dengan pendekatan kuantitatif.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif dan verifikatif dengan pendekatan kuantitatif.

Sugiyono (2010:147) mengemukakan metode deskriptif sebagai berikut:

“Metode Deskriptif adalah metode yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku umum atau generalisasi”.

Mashuri (2009:45) mengemukakan metode verifikatif sebagai berikut :

“Penelitian verifikatif yaitu memeriksa benar tidaknya apabila dijelaskan untuk menguji suatu cara dengan atau tanpa perbaikan yang telah dilaksanakan ditempat lain dengan mengatasi masalah yang serupa dengan kehidupannya”.

Adapun pengertian metode kuantitatif menurut Sugiyono (2010:130) menyatakan bahwa:

”Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan”.

Penelitian ini dimaksudkan untuk menguji hipotesis dengan menggunakan perhitungan statistik. Penelitian ini digunakan untuk menguji pengaruh variabel X1 (Return On Equity) X2

(Earning Per Share) terhadap Y (Return Saham). Verifikatif berarti menguji teori dengan pengujian suatu hipotesis apakah diterima atau ditolak.

3.2 Operasionalisasi Variabel

(5)

1. Variabel Bebas (Independent)

Dalam hal ini variabel bebas yang akan berkaitan dengan masalah yang akan diteliti adalah variabel X1 adalah Return On Equity (ROE) dan X2 adalah Earning Per Share

(EPS). Dalam operasionalisasinya semua variabel ini di ukur oleh instrument pengukur dalam bentuk rasio.

2. Variabel Tidak Bebas (Dependent)

Dalam hal ini variabel tidak bebas yang akan berkaitan dengan masalah yang akan diteliti adalah variabel Y adalah Return Saham. Dalam operasionalisasinya variabel ini di ukur oleh instrument pengukur dalam bentuk rasio.

3.3 Sumber Data

Menurut Sugiyono (2010:137), mengungkapkan bahwa:

“Sumber sekunder adalah sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau dokumen.”

Data sekunder dapat diperoleh dengan cara membaca, mempelajari dan memahami melalui media lain yang bersumber pada literatur dan buku-buku perpustakaan atau data-data dari perusahaan yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka sumber data yang diambil dalam penelitian ini adalah sumber data sekunder, di mana data yang diperoleh penulis merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung, artinya data-data tersebut berupa data kedua yang telah diolah lebih lanjut dan data yang disajikan oleh pihak lain yaitu diperoleh dari Indonesia Stock Exchange (www.idx.co.id). Data-data yang digunakan diperoleh dari laporan-laporan yang berhubungan dengan materi terkait mengenai return on equity, earning per share terhadap return

saham pada perusahaan manufaktur sektor barang konsumsi sub sektor makanan dan minuman.

3.4 Populasi, Sampel dan Tempat Serta Waktu Penelitian 3.4.1 Populasi

Menurut Sugiyono (2010:72),pengertian populasi adalah sebagai berikut :

“Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”.

Populasi yang di ambil oleh penulis adalah 15 perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman dengan laporan keuangan tahunan yang telah dipublikasikan selama 2 periode yaitu dari tahun 2012-2013, sehingga terdapat 30 (tiga puluh dua) laporan keuangan yang menjadi populasi.

3.4.2 Sampel

Menurut Sugiyono (2011:68), Sampling Jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi sebagai sampel”.

Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah laporan keuangan 15 Perusahaan Manufaktur Sektor Makanan dan Minuman dari tahun 2012-2013 jadi jumlah sampelnya 30. 3.4.3 Tempat Serta Waktu Penelitian

(6)

4214349 Fax: (022) 4214359 Email: pipm.bandung@idx-pipm.net. Dan data didapat juga melalui website Indonesian Stock Exchange yaitu www.idx.co.id

3.4.3.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dimulai pada bulan Maret 2015 sampai dengan Juni 2015. Dalam melakukan penelitian ini, peneliti membuat rencana jadwal penelitian yang dimulai dengan tahap persiapan sampai ke tahap akhir yaitu pelaporan hasil penelitian.

3.5 Metode Pengumpulan Data

Menurut Sugiyono (2013: 224) metode pengumpulan adalah sebagai berikut:

“Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar yang ditetapkan.”

3.6 Metode Pengujian Data 3.6.1 Rancangan Analisis

Menurut Umi Narimawati (2010:41) mendefinisikan rancangan analisis adalah sebagai berikut:

“Rancangan analisis adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang telah diperoleh dari hasil observasi lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang lebih penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.”

3.6.1.1 Uji Asumsi Klasik

Sebelum dilakukan pembentukan model regresi, sebelumnya dilakukan pengujian asumsi terlebih dahulu supaya model yang terbentuk memberikan estimasi yang BLUE. Pengujian asumsi ini terdiri atas empat pengujian, yakni Uji Normalitas, Uji Autokorelasi, Uji Heteroskedastistias dan Uji Multikolinieritas.

3.6.1.2 Analisis Korelasi

Analisis korelasi bertujuan untuk mengukur kekuatan asosiasi (hubungan) linier antara dua variabel. Korelasi juga tidak menunjukkan hubungan fungsional. Dengan kata lain, analisis korelasi tidak membedakan antara variabel dependen dengan variabel independen. Dalam analisis regresi, analisis korelasi yang digunakan juga menunjukkan arah hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen selain mengukur kekuatan asosiasi (hubungan). 3.6.1.3 Analisis Koefisiensi Determinasi

Analisis Koefisiensi Determinasi (KD) digunakan untuk melihat seberapa besar variabel independen (X) berpengaruh terhadap variabel dependen (Y) yang dinyatakan dalam persentase.

Besarnya koefisien determinasi dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Kd = r2 x 100%

Sumber: Ridwan dan Sunarto (2007: 81) Dimana :

(7)

H1 : β≠ 0 : Return On Equity (ROE) berpengaruh signifikan terhadap Profitabilitas.

4.1.1 Hasil Analisis Deskriptif

4.1.1.1 Return On Equity Pada Perusahaan Manufaktur Sektor Makanan dan Minuman

Return on equity (ROE) yaitu menunjukan tingkat pengembalian (return) yang dihasilkan manajemen atas modal yang ditanamkan oleh pemegang saham, sesudah dipotong kewajiban kepada kreditor (Rusdin, 2006: 145).

Adapun data return on equity diperoleh dari laporan keuangan tahunan perusahaan manufakrtur sektor makanan dan minuman periode 2012-2013 (data dapat dilihat dalam lampiran). Untuk laba bersih setelah bunga dan pajak diambil dari laporan laba rugi perusahaan dan untuk jumlah modal sendiri diambil dari ekuitas pada laporan posisi keuangan.

Gambar 4.1

Return On Equity (ROE) Perusahaan Manufaktur Sektor Food and Beverage Yang Terdaftar di BEI Periode 2012-2013

Berdasarkan gambar diatas dapat dilihat bahwa perkembangan Return On Equity pada perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman mengalami fluktuasi dari tahun 2012-2013. Pada tahun 2013 dari enam belas perusahaan, sembilan diantaranya mengalami

penurunan Return On Equity yaitu PT. Akasha Wira International Tbk, PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, PT. Indofood Sukses Makmur Tbk, PT. Multi Bintang Indonesia Tbk, PT. Nippon Indosari Corpindo Tbk, PT. Prasidha Aneka Niaga Tbk, PT. Tri Banyan Tirta Tbk, PT. Ultrajaya Milk Industry & Trading Co. Tbk dan PT. Wilmar Cahaya Indonesia Tbk. Dan enam diantaranya mengalami peningkatan Return On Equity yaitu PT. Delta Djakarta Tbk, PT. Mayora Indah Tbk, PT. Sekar Bumi Tbk, PT. Sekar Laut Tbk, PT. Siantar Top Tbk dan PT. Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk.

4.1.1.2 Earning Per Share Pada Perusahaan Manufaktur Sektor Makanan dan Minuman

(8)

saham beredar diambil dari laporan posisi keuangan pada bagian ekuitas.

Berikut ini adalah tabel perkembangan Earning Per Shares (EPS) perusahaan manufaktur sektor food and beverage yang terdaftar di BEI 2012-2013. Berdasarkan data yang diperoleh dari perusahaan manufaktur sektor food and beverage yang terdaftar di BEI 2012-2013 dengan data sebagai berikut:

Gambar 4.2

Earning Per Shares (EPS) Perusahaan Manufaktur Sektor Food and Beverage Yang Terdaftar di BEI Periode 2012-2013

Berdasarkan gambar diatas dapat dilihat bahwa perkembangan Earning Per Shares

pada perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman mengalami fluktuasi dari tahun 2012-2013. Pada tahun 2013 dari lima belas perusahaan, lima diantaranya mengalami penurunan Earning Per Shares yaitu PT. Akasha Wira International Tbk, PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, PT. Prasidha Aneka Niaga Tbk, PT. Tri Banyan Tirta Tbk dan PT. Ultrajaya Milk Industry & Trading Co. Tbk. Dan sepuluh diantaranya mengalami peningkatan Earning Per Shares yaitu PT. Delta Djakarta Tbk, PT. Indofood Sukses Makmur Tbk, PT. Mayora Indah Tbk, PT. Multi Bintang Indonesia, PT. Nippon Indosari Corpindo Tbk, PT. Sekar Bumi Tbk, PT. Sekar Laut Tbk, PT. Siantar Top Tbk, PT. Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk dan PT. Wilmar Cahaya Indonesia Tbk.

4.1.1.3 Return Saham Pada Perusahaan Manufaktur Sektor Makanan dan Minuman

Return suatu saham adalah hasil yang diperoleh dari investasi dengan cara menghitung selisih harga saham periode berjalan dengan periode sebelumnya (Jogiyanto, 2008: 47).

Adapun data return saham diperoleh dari Company Report perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman periode 2012-2013, dengan mengunakan harga saham penutupan per 31 desember pada setiap periodenya (data dapat dilihat dalam lampiran).

Berikut ini adalah tabel perkembangan Return Saham perusahaan manufaktur sektor

(9)

Gambar 4.3

Return Saham Perusahaan Manufaktur Sektor Food and Beverage Yang Terdaftar di BEI Periode 2012-2013

Berdasarkan gambar diatas dapat dilihat bahwa perkembangan Return Saham pada perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman mengalami fluktuasi dari tahun 2012-2013. Pada tahun 2013 dari enam belas perusahaan, sebelas diantaranya mengalami penurunan Return Saham yaitu PT. Akasha Wira International Tbk, PT. Delta Djakarta Tbk, PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, PT. Indofood Sukses Makmur Tbk, PT. Mayora Indah Tbk, PT. Multi Bintang Indonesia Tbk, PT. Nippon Indosari Corpindo Tbk, PT. Sekar Laut Tbk, PT. Siantar Top Tbk, PT. Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk dan PT. Wilmar Cahaya Indonesia Tbk. Dan empat diantaranya mengalami peningkatan Return Saham yaitu PT. Prasidha Aneka Niaga Tbk, PT. Sekar Bumi Tbk, PT. Tri Banyan Tirta Tbk dan PT. Ultrajaya Milk Industry & Trading Co. Tbk.

4.1.2 Analisis Verifikatif 4.1.2.1 Uji Asumsi Klasik

Pengujian asumsi ini terdiri atas tiga pengujian, yakni Uji Normalitas, Uji Autokorelasi, Uji Heteroskedastistias dan Uji Multikolinieritas.

1) Uji Normalitas

Berdasarkan pada normal p-plot residual terlihat bahwa residual berdistribusi secara normal. Hal ini terlihat dari data yang menyebar dekat dari diagonal atau mengikuti arah garis diagonal. Jadi dapat disimpulkan model regresi memenuhi asumsi normalitas residual.

2) Uji Autokorelasi

Secara harfiah autokorelasi berarti adanya korelasi antara anggota observasi satu dengan observasi lain yang berlainan waktu.

Dengan menggunakan program SPSS 16.00 for windows, diperoleh nilai statistik d = 1,996. Nilai ini kemudian dibandingkan dengan nilai dL dan dU pada tabel Durbin-Watson. Untuk α = 0.05, k = 2 dan n = 32, diperoleh dL=1,31 dan dU = 1,57. Karena d terletak antara dL(1,31)

dan 4-dU (2,43), maka disimpulkan bahwa model tidak terdapat autokorelasi.

3) Uji Heteroskedastisitas

Berikut disajikan hasil uji heteroskedastisitas metode uji Scatter plot dengan menggunakan bantuan aplikasi program SPSS:

(10)

4) Uji Multikolinieritas

Dengan menggunakan program SPSS 16.0 for Windows, didapat output nilai VIF untuk masing-masing variabel bebas sebagai berikut.

Tabel 4.6 Uji Multikolinieritas

Hasil diatas menunjukkan bahwa nilai VIF masing-masing variabel bebas jauh di bawah 10, yakni X1 = 1,670 dan X2 = 1,670. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat

multikolinieritas antar variabel bebas dalam model regresi. 4.1.2.2 Persamaan Regresi Linier Berganda

Dengan menggunakan program SPSS 16.0 for Windows, diperoleh hasil koefisien regresi sebagai berikut:

Y = -2,191 + 1,346 X1 + 0,183 X2

Persamaan di atas dapat diartikan sebagai berikut:

a0 = -2,191 artinya jika variabel X1 X2 bernilai nol (0), maka variabel Y akan bernilai

-2,191 satuan.

b1= 1,346 artinya jika Return On Equity (ROE) (X1) meningkat sebesar satu satuan

dan variabel lainnya konstan, maka variabel Y akan meningkat sebesar 1,346 satuan.

Coeffi cientsa

,599 1,670 ,599 1,670 ROE

EP S Model 1

Tolerance VIF Collinearity Statistic s

(11)

dua variabel. Korelasi juga tidak menunjukkan hubungan fungsional. Dengan kata lain, analisis korelasi tidak membedakan antara variabel dependen dengan variabel independen.

a. Analisis korelasi parsial antara Return On Equity (ROE) dengan Y (Return Saham) apabila Earning Per Shares (EPS) dianggap Konstant.

Untuk menghitung korelasi secara parsial antara X1 Return On Equity (ROE) dengan Y

Return Saham apabila X2 Earning Per Shares (EPS) dianggap konstan, ada cara yang digunakan untuk mendapatkan hasil korelasi pearson tersebut.

Nilai korelasi yang diperoleh antara Return On Equity (ROE) dengan Return Saham pada saat Earning Per Shares (EPS) konstan sebesar 0,725 dan masuk dalam kategori kuat. Artinya antara Return On Equity (ROE) dengan Return Saham terjadi hubungan berbanding lurus (positif) yang kuat pada saat Earning Per Shares (EPS) konstan. Jika

Return On Equity (ROE) semakin tinggi akan diikuti dengan Return Saham yang menjadi semakin tinggi.

b. Analisis korelasi parsial antara Earning Per Shares (EPS) dengan Y (Return Saham) apabila Return On Equity (ROE) dianggap Konstant.

Untuk menghitung korelasi secara parsial antara X2 Earning Per Shares (EPS) dengan Y

Return Saham apabila X1 Return On Equity (ROE) dianggap konstan, ada cara yang digunakan untuk mendapatkan hasil korelasi pearson tersebut.

Nilai korelasi yang diperoleh antara Earning Per Shares (EPS) dengan Return Saham pada saat Return On Equity (ROE) konstan sebesar 0,621 dan masuk dalam kategori kuat. Artinya antara Earning Per Shares (EPS) dengan Return Saham terjadi hubungan berbanding lurus (positif) yang kuat pada saat Return On Equity (ROE) konstan. Jika

Earning Per Shares (EPS) semakin tinggi akan diikuti dengan Return Saham yang menjadi semakin tinggi.

4.1.2.4 Analisis Koefisien Determinasi

Setelah diketahui nilai R sebesar 0,755, maka koefisien determinasi dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:

KD = R2 X 100% = (0,755)2 X 100% = 57%

Dengan demikian, maka diperoleh nilai KD sebesar 57% yang menunjukkan arti bahwa

Return On Equity (ROE) dan Earning Per Shares (EPS) memberikan pengaruh simultan (bersama-sama) sebesar 57% terhadap Return Saham. Sedangkan sisanya sebesar 43% dipengaruhi oleh faktor lain.

Koefisien Beta x Zero-order:

1. Variabel X1 = 0,555 x 0,725 = 0,402 = 40,238%

2. Variabel X2 = 0,270 x 0,621 = 0,168 = 16,767%

Dari hasil uji individu diatas diketahui bahwa variabel X1 (Return On Equity (ROE)

terhadap variabel Y (Return Saham) memiliki pengaruh positif sebesar 0,402 atau 40,238%. Dari hasil uji individu diatas diketahui bahwa variabel X2 (Earning Per Shares (EPS)

terhadap variabel Y (Return Saham) memiliki pengaruh positif sebesar 0,168 atau 16,767%. 4.1.2.5 Pengujian Hipotesis Parsial (Uji t)

(12)

• Pengujian hipotesis variabel X1 (Return On Equity (ROE)

H0 : Return On Equity (ROE) berpengaruh dan tidak signifikan terhadap Return

Saham.

H1 : Return On Equity (ROE) berpengaruh signifikan terhadap Return Saham. Tingkat signifikan (α) sebesar 5%, dan derajat kebebasan (v) = 32 (n – 2) didapat nilai ttabel 2,032

Gambar 4.7 Kurva Uji Hipotesis Parsial (Uji t) X1 terhadap Y

Dari output SPSS diatas diperoleh nilai thitung untuk X1 sebesar 3,523 dan ttabel

2,037. Dikarenakan nilai thitung > ttabel, maka H0 ditolak, artinya Return On Equity (ROE)

berpengaruh signifikan terhadap Return Saham.

• Pengujian hipotesis variabel X2 (Earning Per Shares (EPS))

H0 : Earning Per Shares (EPS) berpengaruh dan tidak signifikan terhadap Return

Saham.

H1 : Earning Per Shares (EPS) berpengaruh signifikan terhadap Return Saham. Tingkat signifikan (α) sebesar 5%, dan derajat kebebasan (v) = 32 (n – 2) didapat nilai ttabel 2,037

Coefficientsa

-2,191 ,969 -2,262 ,031

1,346 ,382 ,555 3,523 ,001 ,725 ,548 ,429 ,183 ,107 ,270 1,712 ,098 ,621 ,303 ,209 (Constant)

(13)

Gambar 4.8 Kurva Uji Hipotesis Parsial (Uji t) X2 terhadap Y

Dari output SPSS diatas diperoleh nilai thitung untuk X2 sebesar 1,712 dan ttabel

2,037. Dikarenakan nilai thitung < ttabel, maka H0 diterima, artinya Earning Per Shares

(EPS) berpengaruh dan tidak signifikan terhadap Return Saham. 4.2 Pembahasan

4.2.1 Pengaruh Return On Equity Terhadap Return Saham

Hasil penelitian menunjukan bahwa korelasi antara Return On Equity dengan Return

Saham adalah sebesar 0,725 dengan arah positif. korelasi antara Return On Equity dengan

Return Saham dalam kategori yang kuat. Nilai positif berarti bahwa apabila Return On Equity

naik maka Return Saham pun akan naik dan sebaliknya apabila Return On Equity turun maka

Return Saham pun akan turun.

Hal tersebut menunjukan bahwa Return On Equity berpengaruh terhadap Return Saham pada perusahaan manufaktur sektor food and beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Adanya pengaruh antara Return On Equity terhadap Return Saham tersebut mengindikasikan bahwa informasi yang diberikan perusahaan mengenai perkembangan dan pertumbuhan perusahaan dimasa yang akan datang dapat digunakan investor sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk melakukan investasi. Investor mempertimbangkan menggunakan rasio ini mengkaji sejauh mana suatu perusahaan mempergunakan sumber daya yang dimiliki untuk mampu memberikan laba atas ekuitas yang nantinya memberikan keuntungan yang besar dimasa yang akan datang sehingga mencerminkan kinerja perusahaan yang baik.

Besar pengaruh Return On Equity sebesar 40,238% terhadap Return Saham perusahaan manufaktur sektor food and beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Hal ini menjawab salah satu fenomena Return On Equity terhadap Return Saham yang terjadi pada PT Ultrajaya Milk Industy & Trading Co Tbk (ULTJ) tahun 2013 yaitu Return On Equity turun tetapi

Return Saham naik. Berarti dalam hal ini masih ada permasalahan lain yang mempengaruhi

Return On Equity terhadap Return Saham.

Penelitian ini sesuai dengan teori dari Brigham & Houston (2010: 133), Eduardus Tandelilin (2010:372) dan Irham Fahmi (2012:57). Pada intinya teori menyatakan bahwa apabila

Return On Equity naik maka Return Saham pun akan naik dan sebaliknya apabila Return On Equity turun maka Return Saham pun akan turun.

Penetian ini selaras dengan peneltian sebelumnya yang dilakukan oleh Bambang dan Toto (2011), David (2008), Joni Devitra (2013), Luvy dan Lintang (2013) dan Putu dan I Ketut (2014). Pada penelitian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa Return On Equity memiliki pengaruh terhadap Return Saham.

- t tabel= -2,037 0 t tabel = 2,037

(14)

Hal tersebut menunjukan bahwa Earning Per Share berpengaruh dan tidak signifikan terhadap Return Saham pada perusahaan manufaktur sektor food and beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Adanya pengaruh dan tidak signifikan antara Earning Per Share

terhadap Return Saham tersebut mengindikasikan bahwa informasi yang diberikan perusahaan mengenai perkembangan dan pertumbuhan perusahaan dimasa yang akan datang kurang menarik investor untuk digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk melakukan investasi. Investor mempertimbangkan menggunakan rasio ini mengkaji sejauh mana suatu perusahaan mempergunakan sumber daya yang dimiliki untuk mampu memberikan laba yang nantinya memberikan keuntungan yang besar dimasa yang akan datang kepada para pemegang saham dari setiap lembar saham yang dimiliki sehingga mencerminkan kinerja perusahaan yang baik.

Besar pengaruh Earning Per Share sebesar 16,767% terhadap Return Saham perusahaan manufaktur sektor food and beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Hal ini menjawab salah satu fenomena Earning Per Share terhadap Return Saham yang terjadi pada PT Ultrajaya Milk Industy & Trading Co Tbk (ULTJ) tahun 2013 yaitu Earning Per Share turun tetapi

Return Saham naik. Berarti dalam hal ini masih ada permasalahan lain yang mempengaruhi

Earning Per Share terhadap Return Saham.

Penelitian ini sesuai dengan teori dari Iskandar Alwi Z (2003: 77), Lukman Syamsudin (2007: 66-67) dan Zaki Baridwan (2009:87). Pada intinya teori menyatakan bahwa apabila

Earning Per Share naik maka Return Saham pun akan naik dan sebaliknya apabila Earning Per Share turun maka Return Saham pun akan turun.

Penetian ini selaras dengan peneltian sebelumnya yang dilakukan oleh Akmal Hidayat (2011), Damayanti dan Marisa Giantari (2009), Riyanti (2012) dan Yani, Muhammad dan Jalaluddin (2012). Pada penelitian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa Earning Per Share

memiliki pengaruh terhadap Return Saham. V. Kesimpulan dan Saran

5.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian mengenai Pengaruh Return On Equity (ROE) dan Earning Per Shares (EPS) Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Manufaktur Sektor Food and Beverage Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2012-2013, maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Return on equity berpengaruh secara signifikan terhadap return saham pada perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman. Dan memiliki keterkaitan positif, ini berarti terdapat hubungan antara return on equity dengan return saham. Dimana ketika return on equity meningkat maka return saham perusahaan akan meningkat dan sebaliknya ketika return on equity menurun maka return saham perusahaan akan menurun. Dari hasil pengujian parsial dapat disimpulkan bahwa variabel return on equity terhadap

return saham memiliki kontribusi pengaruh positif dan signifikan.

2. Earning per share berpengaruh namun tidak signifikan terhadap return saham, ini berarti pengaruh earning per share terhadap return saham tidak terlalu berdampak besar. Selain itu earning per share berpengaruh positif terhadap return saham, ini berarti terdapat hubungan antara earning per share dengan return saham. Dimana ketika return on equity meningkat maka return saham perusahaan akan meningkat dan sebaliknya ketika return on equity menurun maka return saham perusahaan akan menurun. Dari hasil pengujian parsial dapat disimpulkan bahwa variabel earning per share terhadap

(15)

sebaiknya perusahaan tersebut perlu memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi return on equity seperti profit margin, perputaran total aktiva dan proporsi hutang.

b. Untuk menghasilkan earning per share yang optimal di perusahaan manufaktur sektor food & beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, sebaiknya perusahaan tersebut perlu meningkatkan laba dengan cara meningkatkan volume penjualan, menaikan harga produk dan efisiensi beban. Dimana laba tersebut akan tercermin pada laba per lembar sahamnya (earning per sahare) investor akan lebih tertarik pada perusahaan dengan laba yang besar.

2. Saran akademis

a. Bagi peneliti selanjutnya, variabel yang digunakan tidak hanya return on equity dan

earning per share saja, karena masih banyak faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi return saham seperti price earning ratio, return on asset, kebijakan dividen dan lain-lain.

b. Sebaiknya menggunakan sampel yang lebih banyak, periode-periode yang lebih panjang dan menambah atau mempergunakan indikator lain untuk diteliti agar dapat membandingkan hasil penelitian selanjutya. Penelitian selanjutnya dapat menggunakan sektor lain tidak hanya pada perusahaan manufaktur sektor food & beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sehingga bisa membandingkan hasil penelitian tersebut.

VI. Daftar Pustaka

Akmal Hidayat. 2011. Pengaruh Economic Value Added, Market Share dan Earning Per Share Terhadap Return Saham (Studi Pada Perusahaan Manufaktur Jenis Consumer Goods di Bursa Efek Indonesia 2004-2007). Jurnal Wira Ekonomi Mikroskil (Volume 1, Nomor 01, April 2011, ISSN: 2088-9607)

Ali Arifin. 2004. Membaca Saham.Yogyakarta: Andi.

Ang, Robert. 1997.Buku Pintar Pasar Modal Indonesia.Jakarta: Mediasoft.

Azuar Juliandi, Irfan dan Saprinal Manurung. 2014. Metodologi Penelitian Bisnis: Konsep dan Aplikasi. Medan: UMSU PRESS

Bambang Sudiyatno dan Toto Suharmanto. 2011. Kinerja Keuangan Konvensional, Economic Value Added, dan Return Saham. Jurnal Dinamika Manajemen (Vol. 2, No. 2, 2011, pp:153-16. ISSN: 2086-0668 (cetak) 2337-5434 (online))

Bambang, Riyanto. 1995. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahan. Edisi Keempat. Yogyakarta: BPFE UGM.

Belkaouli, Ahmed. 1997. Teori Akuntansi. Jilid 1. Edisi 2. Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama Brigham, J Fred and Eugene, Weston. 2009. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Jakarta :

Erlangga.

Damayanti dan Marisa Giantari. 2009. Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Manufaktur Yang Tergabung Dalam Indeks LQ 45 di Buersa Efek Indonesia.

POTENSIO (Volume 11 No. 1 Juli 2009: 51-70. ISSN: 1829-7978)

Darmadji, Tjiptono, Fakhruddin. 2011. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Bandung: Gramedia Pustaka.

David Wijaya. 2008. Pengaruh Rasio Modal Saham Terhadap Return Saham Perusahaan-Perusahaan Telekomunikasi Go Publik di Indonesia Periode 2007. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan (Vol. 10, No. 2, September 2008: 136-152)

Dr. Nor Hadi, S.E., M.Si., Akt. Pasar Modal: Acuan Teoritis dan Praktis Investasi di Instrumen Keuangan Pasar Modal. Edisi Pertama. Yogyakarta: Graha Ilmu.

(16)

F, Brigham ; Joel F, Houston. 2010. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Jakarta: Salemba Empat

Gujarati. 2003. Ekonometrika Dasar. Edisi keenam. Jakarta: Erlangga

Hair, Joseph F et al. 2006. MultiVariate Data Analysis. Fifth Edition. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta

Hatta, Atika Jauharia, dan Bambang Sugeng Dwiyanto. 2012. The Company Fundamental Factors and Systematic Risk In Increasing Stock Price. Journal of Economics, Business, and Accountancy Ventura Accreditation, (15(2), pp: 245–256)

Hendriksen, Eldon S. 1994. Teori Akuntansi. Edisi 4. Jakarta: Erlangga

Ikatan Akuntansi Indonesia. 2007. Standar Akuntansi Keuangan : PSAK 56, PSAK 2. Jakarta: Salemba Empat.

Ikatan Akuntansi Indonesia. 2009. SAK-ETAP. Jakarta: Salemba Empat.

Iskandar Alwi Z. 2003. Pasar Modal : Teori Dan Aplikasi. Jakarta: Nasindo Internusa

Irham Fahmi, S.E., M.Si. 2012. Analisis Laporan Keuangan. Cetakan Kedua. Bandung: Alfabeta. Irham Fahmi, SE., M.Si dan Yovi Lavianti Hadi, SS., MM. 2011. Teori Portofolio dan Analisis

Investasi: Teori dan Soal Jawab. Cetakan Kedua. Bandung: Alfabeta. Jogiyanto. 1998. Analisis Sekuritas Dan Analisis Portofolio. Yogyakarta: BPFE

Jogiyanto. 2000. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi Kedua. Cetakan Pertama. Yogyakarta: BPFE.

Jogiyanto Hartono. 2008. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Yogyakarta: BPFT.

Joni Devitra. 2013. Kinerja Keuangan dan Efisiensi Terhadap Return Sahan Perbankan Di Bursa Efek Indonesia Periode 2007-2011. Finance and Banking Journal. (Vol. 15 No. 1 Juni 2013: 38-53 ISSN 1410-8623)

Kamaruddin Ahmad. 2004. Dasar-dasar Manajemen Investasi dan Portofolio. Edisi Kedua. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.

Kasmir. 2013. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Leny Sulistiyowati. 2010. Panduan Praktis Memahami Laporan Keuangan. Jakarta: PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia

Lukman Syamsudin. (2007). Manajemen keuangan perusahaan. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Luvy Nurfinda Sari dan Lintang Venusita. 2013. Pengaruh Kinerja keuangan Terhadap Return Saham Perusahaan Property dan Real Estate. Jurnal Ilmu Manajemen (Volume 1 nomor 3 Mei 2013: 774-785)

M. Paulus Situmorang. 2008. Pengantar Pasar Modal, Mitra Wacana Media.

Mahmud, M.H, dan Abdul Halim. 2005. Analisis Laporan Keuangan. Cetakan Pertama. Yogyakarta: UUP AMP YKPN

Mashuri dan M. Zainudin. 2009. Metodologi Penelitian: Pendekatan Praktis dari Aplikasi.

Bandung: Reflika Aditama

Moh. Nazir. 2003. Metode Penelitian. Cetakan Kelima. Jakarta: Ghalia Indonesia. Nor Hadi. 2013. Pasar Modal. Bandung: Graha Ilmu.

Pradhono dan Yulius Jogi Christiawan. 2004. Pengaruh EVA, Residual Income, Earnings dan Arus Kas Operasi Terhadap Return yang Diterima oleh Pemegang Saham. Jurnal Akuntansi dan Keuangan (Vol.6, Hlm. 140-163)

Putu Rendi Suryagung Ryadi dan I Ketut Sujana. 2014. Pengaruh Price Earning Ratio, Profitabilitas, dan Nilai Perusahaan Pada Return Saham Indeks LQ45. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana (8.2 2014: 202-216. ISSN: 2302-8556)

(17)

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung: Alfabeta Sugiyono. 2011. Statistika untuk Penelitian. Jilid ke-19. Bandung: Alfabeta

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian ( Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta.

Sumantoro. 1990. Pengantar tentang Pasar Modal di Indonesia. Edisi Pertama. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Sunarto. 2001. Pengaruh Rasio Profitabilitas dan Leverage Terhadap Return Saham Perusahaan Manufaktur di BEJ.Jurnal Bisnis dan Ekonomi.

Supriyono. 2009. Sistem Pengendalian Manajemen. Edisi 1. Buku satu. Yogyakarta: BPFE. Tri Marlina. 2013. Pengaruh Earning Per Share, Return On Equity, Debt To Equity Ratio dan Size

Terhadap Price To Book Value. Jurnal Ilmiah Akuntansi Kesatuan (Vol. 1 No. 1, 2013 pg. 59-72 STIE Kesatuan ISSN 2337 – 7852)

Uma Sekaran. 2006. Metodologi Penelitian untuk Bisnis Buku Edisi 4. Jakarta: Salemba Empat. Umi Narimawati. 2008. Teknik-Teknik Analisis untuk Riset Ekonomi. Yogyakarta: Graha Ilmu Umi Narimawati. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif, Teori dan Aplikasi.

Bandung: Agung Media.

Werner R Murhadi. 2012. Analisis Laporan Keuangan: Proyeksi dan Valuasi Saham. Jakarta: Salemba Empat.

Weston J.Fred dan Eugene F. Bringham. 2001. Dasar-dasar manajemen keuangan, Erlangga : Jakarta. www.idx.co.id

Yani Prihatina Eka Furda, Muhammad Arfan dan Jalaluddin. 2012. Pengaruh Earning Per Share, Price Earning Ratio, Economic Value Added dan Risiko Sistematik Terhadap Return Saham (Studi Pada Perusahaan Real Estate dan Property Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2007-2009). Jurnal Akuntansi Pascasarjana Universitas Syiah Kuala (Volume 2 No. 1 November 2012: 116-126. ISSN: 2301-0164)

Yeye Susilowati dan Tri Turyanto. 2011. Reaksi Signal Rasio Profitabilitas dan Rasio Solvabilitas Terhadap Return Saham Perusahaan. Dinamika Keungan dan Perbankan (Mei 2011, Vol. 3, No. 1, Hal: 17-37. ISSn: 1979-4878)

(18)
(19)

1

1.1 Latar Belakang Penelitian

Menurut Kamaruddin (2004 : 17) pasar modal memiliki peran penting

dalam kegiatan ekonomi terutama di negara yang menganut sistem ekonomi

pasar. Selanjutnya Kamaruddin (2004 : 17) menyatakan pasar modal menjadi

salah satu sumber kemajuan ekonomi karena dapat menjadi sumber dan alternatif

bagi perusahaan. Pasar modal merupakan sarana pembentukan modal dan

akumulasi dana yang diarahkan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam

pengarahan dana guna menunjang pembiayaan pembangunan nasional

(Kamaruddin 2004 : 17).

Menurut Irham dan Yovi (2011: 40) dihampir seluruh negara di dunia ini

memiliki pasar modal (capital market) kecuali bagi negara-negara yang masih

berbenah dan belum mampu melepaskan diri dari persoalan ekonomi dan politik

yang begitu parah. Keberadaan pasar modal di suatu negara bisa menjadi acuan

untuk melihat bisnis tentang bagaimana kegairahan atau dinamisnya bisnis negara

yang bersangkutan dalam menggerakan berbagai kebijakan fiskal dan moneter

(Irham dan Yovi, 2011: 40).

Menurut Eduardus (2001:6) alasan utama orang berinvestasi adalah untuk

memperoleh keuntungan. Selanjutnya Eduardus (2001:6) dalam konteks

(20)

hal yang sangat wajar ketika investor menuntut tingkat return tertentu atas dana

yang telah diinvestasikannya (Eduardus, 2001:6).

Menurut Jogiyanto (2000: 107) return merupakan hasil yang diperoleh

dari investasi, return dapat berupa realisasi yang sudah terjadi atau return

ekpektasi yang belum terjadi tetapi yang diharapkan akan terjadi dimasa datang.

Return realisasi (realized return) merupakan return yang telah terjadi dan dihitung

berdasarkan data histories. Return realisasi itu dapat digunakan sebagai salah satu

untuk mengukur kinerja di perusahaan (Jogiyanto, 2000: 107).

Menurut Pradhono dan Yulius (2004) return saham bervariasi, tergantung

dari lama dan jenis investasi. Selanjutnya Pradhono dan Yulius (2004) jika suatu

perusahaan menerima pendapatan, dana pemilik dalam bentuk saham juga

mengalami peningkatan. Sebaliknya, jika suatu perusahaan mengalami kerugian

atau bahkan kebangkrutan, hak untuk para kreditor menjadi prioritas sementara

nilai saham akan mengalami penurunan (Pradhono dan Yulius, 2004).

Ang (1997) menyatakan bahwa komponen return terdiri dari dua jenis

yaitu current return dan capital gain (keuntungan selisih harga), hal yang sama

diungkapkan Nor Hadi (2013: 19) current income merupakan keuntungan yang

diperoleh melalui pembayaran yang bersifat periodik seperti bunga deposito,

bungan obligasi, dividen, dan sebagainya. Selanjutnya Nor Hadi (2013: 19)

menyatakan komponen kedua dari return adalah capital gain, yaitu keuntungan

yang diterima karena adanya selisih harga antara harga beli dengan harga jual

saham yang diperdagangkan di pasar modal. Selanjutnya Nor Hadi (2013: 19)

(21)

capital gain. Besarnya capital gain dihitung dengan menggunakan analisis return

historis yang terjadi pada periode sebelumnya, sehingga dapat dihitung besarnya

tingkat kembalian yang diinginkan (expected retun) (Nor Hadi, 2013: 19).

Menurut Mahmud dan Abdul Halim (2005: 314) return diperoleh dari

selisih kenaikan harga saham (capital gain) atau selisih penurunan harga saham

(capital loss) selama periode tertentu. Return biasanya didefinisikan sebagai

perubahan nilai antara periode t+1 dengan periode t ditambah

pendapatan-pendapatan lain yang terjadi selama periode t tersebut (Mahmud dan Abdul

Halim, 2005: 314).

Adapun fenomena yang terkait dengan return saham adalah berdasarkan

data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham unggulan penggerus indeks (laggard

stock) di tahun ini didominasi saham sektor pertambangan, semen dan

telekomunikasi. Harga sejumlah saham unggulan yang rontok di tahun ini turut

andil menurunkan IHS (Narita Indrastiti, 2013).

Beberapa saham emiten tambang lain yang punya performa negatif di

tahun ini adalah saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (IMTG), PT Adaro

Energy Tbk (ADRO), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) (Narita Indrastiti, 2013).

Dari sisi kapitalisasi pasar, penurunan harga saham PT Astra International

Tbk (ASII) memberi dampak terbesar bagi IHSG. Kontribusinya sebesar 47,4

poin terhadap penurunan IHSG. Sebagai catatan, sejak awal tahun hingga

kemarin, harga saham ASII minus 13,8%. Setelah ASII, saham PT Gudang Garam

Tbk (GGRM) memangkas 41,6 poin pada bobot penurunan IHSG (Narita

(22)

Return saham emiten semen juga negatif. Misal, return saham PT Semen

Indonesia Tbk (SMGR) minus 17%. Pun, saham PT Indocement Tunggal Prakarsa

Tbk (INTP) sudah terkoreksi 12,5%. Sementara dari emiten telekomunikasi, harga

saham PT Indosat Tbk (ISAT) minus 37,2% (Narita Indrastiti, 2013).

Thendra Chrisnanda, analis BNI Securities mengatakan, saham-saham

penggerus IHSG tersebut, umumnya terserempet sentimen negatif kenaikan suku

bunga acuan (BI rate) dan pelemahan rupiah. "Laporan keuangannya

mengecewakan, jadi wajar saja kalau turunnya paling mencolok," tukas Thendra

(Thendra Chrisnanda, 2013).

Menurut Yeye dan Tri (2011) bagi para pemodal yang akan melakukan

transaksi pembelian saham suatu perusahaan, penilaian terhadap kemampuan

emiten dalam menghasilkan laba merupakan suatu hal yang sangat penting. ROE

yang semakin bertambah menggambarkan kinerja perusahaan yang semakin baik

dan para pemegang saham akan mendapatkan keuntungan dari dividen yang

diterima semakin meningkat, atau semakin meningkatnya harga maupun return

saham (Yeye dan Tri, 2011).

Sektor Industri makanan dan minuman (mamin), sebagai salah satu

penyokong pertumbuhan ekonomi nasional. Industri mamin dan tembakau tercatat

tumbuh 7,24 persen tahun lalu, tertinggi setelah subsektor barang kayu dan hasil

hutan lainnya sebesar 7,33 persen, dan di atas subsektor industri kertas dan barang

cetak sebesar 6,15 persen, serta mesin dan peralatan yang tumbuh sebesar 6,05

(23)

Adapun fenomena yang terkait dengan return on equity (ROE) adalah PT

Akasha Wira International Tbk (ADES) merilis laporan keuangan periode

semester I 2013, Kamis (1/8). Pada laporan tersebut terlihat, manajemen

membukukan pendapatan Rp 250,49 miliar, naik 13% dibamdingkan periode yang

sama tahun sebelumnya, Rp 220,95 miliar (Dityasa H Forddanta, 2013).

Tapi, beban pokok penjualan ADES tercatat Rp 111,09 miliar. Angka ini

13% lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, Rp 98,02 miliar.

Akibatnya, laba bersih emiten air mineral ini mengalami penurunan 5% menjadi

Rp 31,99 miliar dari sebelumnya, Rp 33,66 miliar (Dityasa H Forddanta, 2013).

Tentunya, dengan posisi laba bersih Rp 31,99 miliar dan ekuitas ADES

pada semester I tahun ini sebesar Rp 241,11 miliar, maka return on equity (ROE)

ADES saat ini sebesar 13%. Sedangkan ROE pada tahun lalu sebesar 21%

(Dityasa H Forddanta, 2013).

Adapun fenomena lain yang terkait dengan return on equity (ROE)

terhadap return saham adalah pada laporan keuangan periode 2013 PT Ultrajaya

Milk Industy & Trading Co Tbk (ULTJ). Pada laporan tersebut terlihat, laba

bersih emiten produk susu ini mengalami penurunan menjadi Rp 325,24 miliar

dari sebelumnya, Rp 353,96 miliar. Tentunya, dengan posisi laba bersih Rp

325,24 miliar dan ekuitas PT Ultrajaya Milk Industri & Trading Co Tbk pada

tahun ini sebesar Rp 2,015 triliun, maka return on equity (ROE) PT Ultrajaya

Milk Industri & Trading Co Tbk saat ini sebesar 16,14%. Sedangkan ROE pada

(24)

Co Tbk (ULTJ) pada tahun yang sama mengalami peningkatan menjadi 238,34%

(Bambang Budi Tresno Auditor KAP Tanubrata Sutanto Fahmi & Rekan, 2013).

Fenomena tersebut tidak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa

ketika return on equity meningkat maka return saham juga meningkat. Return On

Equity (ROE) yang menggambarkan sejauh mana perusahaan menghasilkan laba

yang bisa diperoleh pemegang saham. Akibat penurunan laba, masyarakat akan

menilai bahwa perusahaan tersebut mempunyai kinerja yang kurang bagus

sehingga dapat menurunkan jumlah laba bersih yang diperolehnya, ini akan

mempengaruhi return saham.

Fenomena selanjutnya, terjadi pada tahun 2012 PT. Sekar Bumi Tbk

memiliki return on equity sebesar 9,95% dan PT. Sekar Laut Tbk memiliki return

on equity sebesar 6,15%. Pada tahun 2013 PT. Sekar Laut Tbk memiliki return on

equity sebesar 8,19%, mengalami peningkatan sebesar 2,04% dari tahun

sebelumnya dan PT. Tunas Baru Lampung Tbk memiliki return on equity sebesar

4,77%, mengalami penurunan sebesar 9,11% dari tahun sebelumnya. Pada

umumnya tingkat return on equity pada perusahaan yang sehat di Indonesia

memiliki nilai return on equity sebesar 12% dengan penilaian investasi yang

wajar. Untuk perusahaan di indonesia sebagaian besar memiliki nilai return on

equity (ROE) rata-rata sebesar 12%-15 % (Irham Fahmi, 2012:56) sehingga dapat

disimpulkan bahwa nilai return on equity pada beberapa perusahaan tersebut

dalam keadaan kurang baik. Namun perusahaan lainnya pada sektor yang sama

memiliki nilai return on equity diatas 12% sehingga dapat disimpulkan bahwa

(25)

Menurut Eduardus (2010: 365) Earning Per Share (EPS) merupakan hasil

bagi antara laba yang tersedia bagi pemegang saham dengan jumlah rata-rata

saham yang beredar. Laba per lembar saham menunjukkan kemampuan

perusahaan untuk menciptakan laba untuk setiap lembar sahamnya (Eduardus,

2010: 365).

Menurut Dwi dan Rifky (2005: 93) seorang investor membeli dan

mempertahankan saham perusahaan dengan harapan akan memperoleh dividen

atau capital gain. Selanjutnya Dwi dan Rifky (2005: 93) laba biasanya menjadi

dasar penentuan pembayaran dividen dan kenaikan nilai saham di masa datang.

Oleh karena itu para pemegang saham biasanya tertarik dengan angka earning per

share (EPS) yang dilaporkan perusahaan (Dwi dan Rifky, 2005: 93).

Menurut Zaki Baridwan (2009:87) Earning per share (EPS) merupakan

komponen utama dalam analisis fundamental yang dilakukan investor dalam

menganalisis sebelum memutuskan untuk membeli atau menjual saham.

Selanjutnya Zaki Baridwan (2009:87) ada alasan yang mendasari penggunaan

komponen tersebut, yaitu pertama karena earning per share (EPS) dapat

digunakan untuk mengestimasi nilai intristik suatu saham. Selanjutnya Zaki

Baridwan (2009:87) kedua deviden yang dibayarkan perusahaan pada dasarnya

berasal dari laba perusahaan. Selanjutnya Zaki Baridwan (2009:87) ketiga ada

hubungan perubahan earning dengan perubahan return saham. Variabel earning

per share (EPS) dapat dijadikan sebagai gambaran yang diberikan kepada investor

oleh sebuah perusahaan mengenai keuntungan yang diperoleh perusahaan dalam

(26)

Menurut Eduardus (2001:232-234) bagi para investor yang melakukan

analisis fundamental atau analisis perusahaan, informasi laporan keuangan yang

diterbitkan perusahaan merupakan salah satu jenis informasi yang paling mudah

dan paling murah didapatkan dibanding alternatif informasi lainnya. Selanjutnya

Eduardus (2001:232-234) dengan menggunakan laporan keuangan, investor juga

akan bisa menghitung berapa besarnya pertumbuhan earning yang telah dicapai

perusahaan terhadap jumlah saham perusahaan. Selanjutnya Eduardus

(2001:232-234) perbandingan antara jumlah earning (dalam hal ini laba bersih yang siap

dibagikan bagi pemegang saham) dengan jumlah lembar saham perusahaan, akan

diperoleh komponen earning per share (EPS). Bagi para investor, informasi EPS

merupakan informasi yang dianggap paling mendasar dan berguna, karena bisa

menggambarkan prospek earning perusahaan di masa depan (Eduardus,

2001:232-234).

Menurut Erich (1997: 87) Earning Per Share (EPS) merupakan sebuah

kombinasi dari berbagai faktor yang mempengaruhinya. Selanjutnya Erich (1997:

87) analisis faktor tersebut dapat dilakukan dengan analisis rasio keuangan.

Selanjutnya Erich (1997: 87) berdasarkan laporan keuangan perusahaan, maka

dapat diperoleh informasi kinerja perusahaan dalam memperoleh laba atau

profitbilitasnya. Pengukuran atas ekuitas saham biasa menunjukkan profitabilitas

total investasi kepemilikan, ukuran yang lain adalah laba per saham (EPS),

mengukur partisipasi proporsional dari setiap unit investasi dalam perusahaan

(27)

Adapun fenomena yang terkait dengan earning per share (EPS) adalah

perkiraan rata-rata earning per share (EPS) emiten yang berada di angka 19,5

persen atau Rp 380 per saham. Dikatakannya angka EPS tersebut memang jauh

lebih rendah dibanding EPS tahun 2014 yang mencapai 47 persen. Tingginya EPS

tahun 2014 menurut Danny disebabkan pada tahun 2013 posisi EPS emiten sangat

rendah sehingga terakumulasi pada tahun 2014. “Nah kalau kita forward di tahun

2015 memang saya agak pesimistis rata-rata EPS tumbuh hanya 19,5 persen,”

ujarnya (Kepala Riset PT Mega Capital Indonesia, Danny D Eugene, 2014).

Rendahnya asumsi EPS tersebut lantaran tiga saham terbesar sebagai

kontributor perhitungan IHSG yaitu PT Astra International Tbk (ASII), PT

Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT HM Sampoerna (HMSP) diperkirakan

akan mengalami pelemahan earning. Sebaliknya sektor kontruksi yang digawangi

oleh sejumlah saham-saham BUMN diyakini akan mengalami

pertumbuhan earning yang cukup signifikan, sayangnya saham-saham itu tidak

cukup besar pengaruhnya bagi perhitungan IHSG. “Jadi sebenarnya angka 6.535

menggambarkan nilai wajar dari IHSG dengan asumsi rasional,

artinya market tidak bullish dan tidak bearish. Selain kinerja emiten, ancaman

pasar juga datang dari faktor politik terutama saat pemerintah mengajukan revisi

terhadap APBNP 2015 (Kepala Riset PT Mega Capital Indonesia, Danny D

Eugene, 2014).

Adapun fenomena lain yang terkait dengan earning per share (EPS)

terhadap return saham adalah pada laporan keuangan periode 2013 PT Ultrajaya

(28)

laba bersih emiten produk susu ini mengalami penurunan menjadi Rp 325,24

miliar dari sebelumnya, Rp 353,96 miliar. Tentunya, penurunan laba bersih ini

membuat earning per share (EPS) PT Ultrajaya Milk Industy & Trading Co Tbk

(ULTJ) ikut mengalami penurunan. Pada tahun 2013, EPS PT Ultrajaya Milk

Industy & Trading Co Tbk (ULTJ) sebesar Rp 96 per saham, turun dibanding

periode sebelumnya, Rp 122 per saham. Sedangkan return saham PT Ultrajaya

Milk Industy & Trading Co Tbk (ULTJ) mengalami peningkatan menjadi

238,34% (Auditor KAP Tanubrata Sutanto Fahmi & Rekan, Bambang Tresno,

2013).

Berdasarkan uraian diatas, saya selaku peneliti merasa perlu untuk melihat

bagaimana pengaruh return on equity (ROE) dan earning per shares (EPS)

terhadap return saham pada perusahaan. Sehingga saya memilih judul: Pengaruh

Return On Equity (ROE) dan Earning Per Shares (EPS) Terhadap Return

Saham Pada Perusahaan Manufaktur Sektor Food and Beverage Yang

Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2013.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka penulis mengidentifikasi

masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. PT. Semen Indonesia Tbk (SMGR) mengalami return saham negatif, PT.

Astra International Tbk (ASII) mengalami harga saham yang negatif dan

PT. PT. Indosat Tbk (ISAT) juga mengalami harga saham yang negatif

(29)

2. PT Akasha Wira International Tbk (ADES) mengalami penurunan return

on equity pada tahun tersebut. PT Astra International Tbk (ASII), PT

Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP)

mengalami penurunan earning per shares pada tahun tersebut.

3. PT Ultrajaya Milk Industri & Trading Co Tbk (ULTJ) mengalami

penurunan return on equity, tetapi return saham mengalami peningkatan

pada tahun tersebut. PT Ultrajaya Milk Industri & Trading Co Tbk

(ULTJ) mengalami penurunan earning per share, tetapi return saham

mengalami peningkatan pada tahun tersebut.

1.3 Rumusan Masalah

1. Seberapa besar return on equity (ROE) terhadap return saham pada

perusahaan manufaktur sektor food and beverage yang terdaftar di Bursa

Efek Indonesia periode 2011-2013.

2. Seberapa besar pengaruh earning per shares (EPS) terhadap return saham

pada perusahaan manufaktur sektor food and beverage yang terdaftar di

Bursa Efek Indonesia periode 2011-2013.

1.4 Maksud dan Tujuan Penelitian

1.4.1 Maksud Penelitian

Manfaat penelitian adalah subbab dimana penelitian mengemukakan

manfaat atau kegunaan yang bisa diperoleh apabila tujuan penelitian tercapai

(30)

ini adalah untuk memperoleh dan mengumpulkan data dan informasi guna

mengetahui Pengaruh Return On Equity (ROE) dan Earning Per Share (EPS)

Terhadap Return Saham.

1.4.2 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah hal-hal objektif apa sebenarnya yang ingin

dicapai oleh peneliti, berkaitan dengan hal-hal yang dipertanyakan pada rumusan

masalah (Azuar, Irfan dan Saprinal, 2014: 104). Adapun tujuan peneliti dalam

melaksanakan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh return on equity (ROE)

terhadap return saham pada perusahaan manufaktur sektor food and

beverageyang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011-2013.

2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh earning per shares (EPS)

terhadap return saham pada perusahaan manufaktur sektor food and

beverageyang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011-2013.

1.5 Kegunaan Penelitian

1.5.1 Kegunaan Praktis

Menurut Uma Sekaran (2006:10), untuk kepentingan praktis atau basic

research maka penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai berikut:

“Meningkatkan pemahaman terhadap masalah pada judul yang diangkat yang

(31)

Sedangkan menurut Sugiyono (2013:283), kegunaan praktis berkaitan

dengan kontribusi praktis yang diberikan dari penyelenggaraan peneritian

terhadap objek penelitian,baik individu,kelompok maupun organisasi.

Kegunaan praktis penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi penulis:

Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi, menambah ilmu

pengetahuan , pengalaman yang lebih luas dan kontribusi yang berguna

untuk pengembangan penelitian perusahaan terutama dalam Return On

Equity (ROE), Earning Per Shares (EPS) dan Return Saham.

2. Bagi perusahaan:

Hasil penelitian ini sebagai pemecahan masalah mengenai Return On

Equity (ROE), Earning Per Shares (EPS) dan Return Saham pada

perusahaan manufaktur di masa yang akan datang.

3. Bagi Pihak Lain / Mahasiswa

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan dan bahan

perbandingan bagi penelitian berikutnya mengenai pengaruh pengaruh

Return On Equity (ROE), Earning Per Shares (EPS) dan Return Saham.

1.5.2 Kegunaan Akademis

Menurut Uma Sekaran (2006:10), untuk kepentingan pengembangan

keilmuan, penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai berikut:

“Menerapkan kembali hasil terdahulu untuk memecahkan masalah spesifik yang

(32)

Sedangkan menurut Sugiyono (2013:283), kegunaan teoritis/akademis

terkait dengan kontribusi tertentu dari penyelenggaraan penelitian terhadap

perkembangan teori dan ilmu pengetahuan serta dunia akademis,kegunaan

akademis memberikan kontribusi bagi pihak akademis dan untuk peneliti lain.

Kegunaan akademis penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi penulis:

Menambah wawasan ilmu pengetahuan dan pemahaman dalam hal

akuntansi mengenai Return On Equity (ROE), Earning Per Shares (EPS)

dan Return Saham.

2. Bagi akademika:

Sebagai bagian pemenuhan dan referensi atau bahan rujukan untuk

menambah ilmu pengetahuan maupun untuk mengadakan penelitian lanjut

mengenai Return On Equity (ROE), Earning Per Shares (EPS) dan Return

(33)

34

3.1 Metodologi Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

penelitian Deskriptif dan metode Verifikatif dengan pendekatan kuantitatif, yaitu

hasil penelitian yang kemudian diolah dan dianalisis untuk diambil

kesimpulannya, artinya penelitian yang dilakukan adalah penelitian yang

menekankan analisisnya pada data-data numerik (angka) dengan menggunakan

metode penelitian ini akan diketahui hubungan yang signifikan antara variabel

yang diteliti, sehingga menghasilkan kesimpulan yang akan memperjelas

gambaran mengenai objek yang diteliti.

Menurut Sugiyono (2010:2)metode penelitian adalah:

“Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk

mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu”.

Metode penelitian menurut Umi Narimawati (2008:127)adalah:

“Cara penelitian yang digunakan untuk mendapatkan data untuk mencapai

tujuan tertentu”.

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat dikatakan bahwa terdapat empat

kunci yang perlu diperhatikan yaitu cara ilmiah, data, tujuan dan kegunaan. Cara

ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada kegiatan ciri-ciri keilmuan,

(34)

Metode yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan

menggunakan metode deskriptif dan verifikatif dengan pendekatan kuantitatif.

Sugiyono (2010:147) mengemukakan metode deskriptif sebagai berikut:

“Metode Deskriptif adalah metode yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku umum atau generalisasi”.

Mashuri (2009:45) mengemukakan metode verifikatif sebagai berikut :

“Penelitian verifikatif yaitu memeriksa benar tidaknya apabila dijelaskan untuk menguji suatu cara dengan atau tanpa perbaikan yang telah dilaksanakan ditempat lain dengan mengatasi masalah yang serupa dengan kehidupannya”.

Adapun pengertian metode kuantitatif menurut Sugiyono (2010:130)

menyatakan bahwa:

”Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan”.

Penelitian ini dimaksudkan untuk menguji hipotesis dengan menggunakan

perhitungan statistik. Penelitian ini digunakan untuk menguji pengaruh variabel

X1 (Return On Equity) X2 (Earning Per Share) terhadap Y (Return Saham).

Verifikatif berarti menguji teori dengan pengujian suatu hipotesis apakah diterima

(35)

3.2 Operasionalisasi Variabel

Operasionalisasi variabel diperlukan untuk menentukan jenis, indikator,

serta skala dari variabel-variabel yang terkait dalam penelitian, sehingga

pengujian hipotesis dengan alat bantu statistik dapat dilakukan secara benar sesuai

dengan judul penelitian. Variabel itu sendiri dalam konteks penelitian menurut

Sugiyono (2010:38) sebagai berikut:

“Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk

apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh

informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya.”

Adapun menurut Umi Narimawati, dkk. (2010:31), operasionalisasi

variable didefinisikan sebagai berikut:

“Operasionalisasi variabel adalah proses penguraian variabel penelitian keadaan sub variabel, dimensi, indikator sub variabel dan pengukuran. Adapun syarat penguraian operasionalisasi dilakukan bila dasar konsep dan indikator masing-masing variabel sudah jelas, apabila belum jelas secara konseptual maka perlu dilakukan analisis faktor”.

Berdasarkan judul skripsi yang telah dikemukakan diatas yaitu “Pengaruh

Return On Equity (ROE) dan Earning Per Share (EPS) terhadap Return Saham

Pada Perusahaan Manufaktur Sektor Food and Beverage Yang Terdaftar di Bursa

Efek Indonesia Periode 2011-2013“. Maka variabel-variabel yang diteliti dapat

dibedakan menjadi dua :

1. Variabel Bebas (Independent)

Menurut Sugiyono (2009:39) pengertian variabel bebas yaitu :

“Variabel bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang

(36)

Dalam hal ini variabel bebas yang akan berkaitan dengan masalah yang

akan diteliti adalah variabel X1 adalah Return On Equity (ROE) dan X2

adalah Earning Per Share (EPS). Dalam operasionalisasinya semua

variabel ini di ukur oleh instrument pengukur dalam bentuk rasio.

2. Variabel Tidak Bebas (Dependent)

Menurut Sugiyono (2009:39) pengertian variabel terikat yaitu :

“Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi

akibat, karena adanya variabel bebas”.

Dalam hal ini variabel yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti

adalah Return Saham.

Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rasio, berikut ini

penjelasan mengenai rasio.

Menurut Moh. Nazir (2003:132)menjelaskan bahwa:

“Ukuran rasio adalah ukuran yang mencakup semua ukuran yang memberikan

keterangan tentang nilai absolut dari objek yang di ukur”.

Dalam skala rasio angka nol mempunyai makna, sehingga angka nol

dalam skala ini diperlukan sebagai dasar dalam perhitungan dan pengukuran

terhadap objek yang diteliti.

Figur

Gambar 4.6 Hasil Uji Heteroskedastisitas
Gambar 4 6 Hasil Uji Heteroskedastisitas . View in document p.10
Tabel 4.6 Uji Multikolinieritas
Tabel 4 6 Uji Multikolinieritas . View in document p.10
Tabel 4.13 Uji Hipotesis Parsial (Uji t)
Tabel 4 13 Uji Hipotesis Parsial Uji t . View in document p.12
Gambar 4.7 Kurva Uji Hipotesis Parsial (Uji t) X1 berpengaruh signifikan terhadap 2,037
Gambar 4 7 Kurva Uji Hipotesis Parsial Uji t X1 berpengaruh signifikan terhadap 2 037. View in document p.12
Gambar 4.8 Kurva Uji Hipotesis Parsial (Uji t) X 2,037.  Dikarenakan nilai t(EPS) berpengaruh dan tidak signifikan terhadap Dari 2 terhadap Y output SPSS diatas diperoleh nilai thitung untuk X2 sebesar 1,712 dan ttabel hitung < ttabel, maka H0 diterima, ar
Gambar 4 8 Kurva Uji Hipotesis Parsial Uji t X 2 037 Dikarenakan nilai t EPS berpengaruh dan tidak signifikan terhadap Dari 2 terhadap Y output SPSS diatas diperoleh nilai thitung untuk X2 sebesar 1 712 dan ttabel hitung ttabel maka H0 diterima ar. View in document p.13
Tabel 3.1 Operasionalisasi Variabel
Tabel 3 1 Operasionalisasi Variabel . View in document p.37
Daftar Sampel Perusahaan Sub Sektor Tabel 3.3 Food and Beverage
Daftar Sampel Perusahaan Sub Sektor Tabel 3 3 Food and Beverage . View in document p.41
Tabel 3.4 Waktu Penelitian
Tabel 3 4 Waktu Penelitian . View in document p.42
Gambar 3.1 Daerah Penerimaan dan Penolakan Hipotesis
Gambar 3 1 Daerah Penerimaan dan Penolakan Hipotesis . View in document p.58
Tabel 4.1
Tabel 4 1 . View in document p.60
Gambar 4.1 Return On Equity (ROE) Perusahaan Manufaktur Sektor Food and Beverage
Gambar 4 1 Return On Equity ROE Perusahaan Manufaktur Sektor Food and Beverage . View in document p.63
Perkembangan Tabel 4.2 Earning Per Shares (EPS) Perusahaan Manufaktur Sektor Food
Perkembangan Tabel 4 2 Earning Per Shares EPS Perusahaan Manufaktur Sektor Food . View in document p.65
Gambar 4.2 Earning Per Shares (EPS) Perusahaan Manufaktur Sektor Food and Beverage
Gambar 4 2 Earning Per Shares EPS Perusahaan Manufaktur Sektor Food and Beverage . View in document p.68
Tabel 4.3
Tabel 4 3 . View in document p.70
Gambar 4.3 Return Saham Perusahaan Manufaktur Sektor Food and Beverage Yang
Gambar 4 3 Return Saham Perusahaan Manufaktur Sektor Food and Beverage Yang . View in document p.72
Gambar 4.4 Hasil Uji Normalitas
Gambar 4 4 Hasil Uji Normalitas . View in document p.74
Tabel 4.4 Pengujian hipotesis:
Tabel 4 4 Pengujian hipotesis . View in document p.75
Tabel 4.5 Uji Autokorelasi
Tabel 4 5 Uji Autokorelasi . View in document p.75
Gambar 4.5 Uji Autokorelasi
Gambar 4 5 Uji Autokorelasi . View in document p.76
Gambar 4.6 Hasil Uji Heteroskedastisitas
Gambar 4 6 Hasil Uji Heteroskedastisitas . View in document p.77
Tabel 4.6 Uji Multikolinieritas
Tabel 4 6 Uji Multikolinieritas . View in document p.78
Tabel 4.7 Koefisien Regresi
Tabel 4 7 Koefisien Regresi . View in document p.79
Tabel 4.8
Tabel 4 8 . View in document p.80
Tabel 4.9 Hasil Korelasi Parsial Earning Per Shares (EPS) Dengan Return Saham Pada
Tabel 4 9 Hasil Korelasi Parsial Earning Per Shares EPS Dengan Return Saham Pada . View in document p.81
Tabel 4.10 Koefisien Determinasi
Tabel 4 10 Koefisien Determinasi . View in document p.82
Tabel 4.11 Koefisien Determinasi Parsial
Tabel 4 11 Koefisien Determinasi Parsial . View in document p.83
Tabel 4.12 Uji Hipotesis Simultan (Uji F)
Tabel 4 12 Uji Hipotesis Simultan Uji F . View in document p.84
Tabel 4.13 Uji Hipotesis Parsial (Uji t)
Tabel 4 13 Uji Hipotesis Parsial Uji t . View in document p.84
Gambar 4.7 Kurva Uji Hipotesis Parsial (Uji t) X1 terhadap Y
Gambar 4 7 Kurva Uji Hipotesis Parsial Uji t X1 terhadap Y . View in document p.85
Gambar 4.8 Kurva Uji Hipotesis Parsial (Uji t) X2 terhadap Y
Gambar 4 8 Kurva Uji Hipotesis Parsial Uji t X2 terhadap Y . View in document p.86

Referensi

Memperbarui...

Lainnya : Pengaruh Return On Equity (ROE) Dan Earning Per Share (EPS) Terhadap Return Saham (Studi Kasus Perusahaan Manufakture Sektor Food And Beverage Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2012-2013) Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Penelitian Operasionalisasi Variabel Sumber Data Menurut Sugiyono 2010:137, mengungkapkan bahwa: Waktu Penelitian Analisis Korelasi Pengaruh Earning Per Share Terhadap Return Saham Saran Kesimpulan dan Saran 5.1 Kesimpulan Latar Belakang Penelitian Kesimpulan dan Saran 5.1 Kesimpulan Identifikasi Masalah Kesimpulan dan Saran 5.1 Kesimpulan Maksud Penelitian Maksud dan Tujuan Penelitian Kegunaan Praktis Menurut Uma Sekaran 2006:10, untuk kepentingan praktis atau basic Kegunaan Akademis Rumusan Masalah Metodologi Penelitian Operasionalisasi Variabel Kesimpulan dan Saran 5.1 Kesimpulan Sumber Data Kesimpulan dan Saran 5.1 Kesimpulan Sampel Populasi, Sampel dan Tempat serta Waktu Penelitian .1 Populasi Waktu Penelitian Tempat dan Waktu Penelitian .1 Tempat Penelitian Metode Pengumpulan Data Kesimpulan dan Saran 5.1 Kesimpulan Pengujian Hipotesis Metode Pengujian Data .1 Rancangan Analisis Perkembangan Return On Equity ROE Pada Perusahaan Manufaktur Perkembangan Earning Per Shares EPS Pada Perusahaan Manufaktur Perkembangan Return Saham Pada Perusahaan Manufaktur Sektor Persamaan Regresi Linier Berganda Analisis Korelasi Analisis Koefisien Determinasi Analisis Regresi Return On Equity ROE dan Earning Per Shares EPS Pengujian Hipotesis Simultan Uji F Pengujian Hipotesis Parsial Uji t Pengaruh Return On Equity Terhadap Return Saham