PERILAKU JAJAN PADA MURID SD DI BEBERAPA SD DI KOTA MEDAN TAHUN 2010
Oleh: GEBY ANTHONY
070100037
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PERILAKU JAJAN PADA MURID SD DI BEBERAPA SD DI KOTA MEDAN TAHUN 2010
Karya Tulis Ilmiah Ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh
Kelulusan Sarjana Kedokteran
Oleh: GEBY ANTHONY
070100037
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
LEMBAR PENGESAHAN
Judul:
Perilaku Jajan pada Murid SD di Beberapa SD di Kota Medan Tahun 2010
Nama : Geby Anthony
NIM : 070100037
Pembimbing Penguji I
dr. Sri Sofyani Sp.A (K) Prof.Dr.dr.Rozaimah Zain-Hamid,M.S.,Sp.FK
NIP: 19530417 198003 2 001 NIP : 19530417 198003 2 001
Penguji II
dr. Arlinda Sari Wahyuni, M.Kes.
NIP : 19690609 199903 2 001
Medan, 17 Desember 2010
Dekan,
Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara
Prof.dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD-KGEH
ABSTRAK
Sekitar 70% murid SD jajan setiap hari di sekolah. Namun, tidak semua jenis makanan jajanan aman untuk kesehatan tubuh, dan konsumsi makanan jajanan yang berlebihan dapat mengganggu kesehatan. Karena banyaknya makanan jajanan yang tidak memenuhi syarat kesehatan, penulis ingin mengetahui sejauh mana perilaku jajan murid-murid SD di beberapa SD di kota Medan terhadap makanan jajanan.
Penelitian ini salah satu survei yang bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini adalah murid-murid kelas IV, V, dan VI SD Dharma Wanita, SD Harapan 2, SD Budisatrya, SDN 067248, dan SDN 067954. Sampel yang dipilih berdasarkan simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner, dan memakai data sekunder yang berasal dari sekolah. Analisis data dilakukan dengan progam
SPSS (Statistic Package for Social Science). Tujuan peneltian ini adalah untuk
mengetahui perilaku jajan murid di beberapa Sekolah Dasar di kota Medan tahun 2010.
Hasil dari penelitian ini diperoleh perilaku jajan pada murid SD di beberapa SD di kota Medan tahun 2010 sebagian besar adalah cukup yaitu 329 orang (85,9%), diikuti perilaku kurang sejumlah 48 orang (12,5%), dan yang berpeilaku baik sejumlah 6 orang (1,6%). Tidak ada hubungan antara sarapan pagi dengan perilaku jajan murid SD (p=0,345). Ada hubungan antara pengaruh teman sebaya dengan perilaku jajan murid SD (p=0,001). Tidak ada hubungan antara jumlah uang jajan dengan perilaku jajan murid SD (p=0,975). Tidak didapatkan hubungan antara lamanya menonton televisi dengan perilaku jajan (p=0,994).
Kesimpulan penelitian ini adalah murid-murid SD di kota Medan tahun 2010 paling banyak memiliki perilaku jajan cukup. Tidak ada hubungan antara sarapan pagi dengan perilaku jajan murid SD. Ada hubungan antara pengaruh teman sebaya dengan perilaku jajan murid SD. Tidak ada hubungan antara jumlah uang jajan dengan perilaku jajan murid SD. Tidak didapatkan hubungan antara lamanya menonton televisi dengan perilaku jajan.
ABSTRACT
About 78% elementary students consume street foods. But, not all kinds of street food are safe for our health, and excessive consumption of street food can damage our health. Since the number of snacks that do not meet health requirements, the authors wanted to know how far the behavior of elementary students on a few elementary school in Medan on street food consumption in 2010
This research is a analytic descriptive study with cross sectional approach. Samples are gained from grade IV, V, and VI of the students of SD Dharma Wanita, SD Harapan 2, SD Budisatrya, SDN 067248, and SDN 067954. Samples are selected based on simple random sampling. The data were collected using a questionnaire that had to be filled by the respondents, and secondary data were be took from each school. Data analysis was performed by using the SPSS (Statistics Package for Social Science) program.
The results of this study were that elementary students in Medan in 2010 who had adequate behaviour on street food consumption were as many as 329 people (85,9%), followed by poor behaviour as many as 48 people (12,5%), and good behavior people as many as 6 people (1,6%). There was no significant relationship between breakfast and behavior on street food consumption of elementary students (p=0.0345). There was a relationship between peer influence and behavior on street food consumption of elementary students (p=0.001). There was no relationship between the amount of pocket money and behavior on street food consumption of elementary students ( p= 0.975).
This conclusion of this study were elementary students in Medan in 2010 had adequate behaviour on street food consumption. There was no significant relationship between breakfast and behavior on street food consumption of elementary students. There was a relationship between peer influence and behavior on street food consumption of elementary students. There was no relationship between the amount of pocket money and behavior on street food consumption of elementary students.
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal
penelitian ini, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan
sarjana kedokteran Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara.
Karya tulis ilmiah ini berjudul ”Perilaku Jajan pada Murid SD di
Beberapa SD di Kota Medan Tahun 2010”. Dalam penyelesaian penulisan karya tulis ilmiah ini, penulis banyak menerima bantuan dari
berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima
kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada:
1. Kedua orangtua penulis, Caesaria dan Muhammad Huriyonto yang
telah mengikhlaskan tenaga, waktu, pikirannya demi keberhasilan
anak-anaknya.
2. Ibu dr. Sri Sofyani Sp. A. (K), sebagai dosen pembimbing yang telah
memberikan petunjuk dan saran, serta ketenangan sehingga laporan
hasil penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik.
3. Bapak Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD-KGEH, selaku
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Prof.dr.Abdurrahman S. Sp.THT (K) selaku Dosen Penasehat
Akademis yang telah membimbing penulis selama menjalani
perkuliahan di Fakultas Kedokteran USU.
5. Ibu Prof.Dr.dr.Rozaimah Zain Hamid,M.S.,Sp.FK, dan Ibu dr.
Arlinda Sari Wahyuni, M.Kes., selaku Dosen Penguji I dan Dosen
Penguji II yang telah memberikan petunjuk dan nasehat dalam
penyempurnaan penulisan karya tulis ilmiah ini.
6. Seluruh murid dan guru SD Harapan 2, SDN 067945, SDN 067248,
7. Para sahabat yang telah membantu penulis dalam penyelesaian karya
tulis ilmiah ini: Rayhan Aghani Amiseno, Devi Pratami, Krisnarta
Sembiring, Ira Nola Lingga, Rahila, Fuji Khairunnisa, Rahmi,
Musdayani Nst., Fairuz Syarifuddin, Okmaronab Febriza, Setia Yuda
Nugraha, Disti Hardiyanti, Cindy Putri, Rizki Eka Putra, Ayu
Sasmita Daulay, dan Yan Indra Fajar Sitepu.
Penulis menyadari ketidaksempurnaan dirinya, karena penulis
hanyalah manusia biasa yang tidak sempurna. Untuk itu penulis mohon
maaf atas segala kesalahan yang ada, baik terdapat di dalam karya tulis ini
maupun kesalahan terhadap beberapa pihak selama penelitian ini
dilakukan. Demi karya yang lebih baik di kemudian hari, penulis
menerima kritik dan saran. Semoga karya tulis ini bermanfaat untuk kita
semua.
Medan, 10 Desember 2010
Penulis
Geby Anthony
070100037
LEMBAR PENGESAHAN ... i
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA...4
2.1. Perilaku ... ...4
2.1.1. Pengertian Perilaku...4
2.1.2. Pembagian Perilaku...4
2.1.3. Domain Perilaku...5
2.2. Makanan Jajanan...10
2.2.1. Pengertian Makanan Jajanan...10
2.2.2. Jenis Makanan Jajanan...10
2.2.3. Manfaat dan Bahaya Makanan Jajanan...10
2.2.4. Bahan Aditif pada Makanan dan Kesehatan...11
2.2.5.Konsumsi Makanan dan Kebiasaan Jajan Anak Sekolah...14
BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL …...15
3.1. Kerangka Konsep Penelitian...15
3.2. Variabel dan Defenisi Operasional...15
3.2.1. Variabel Bebas...15
3.2.2. Variabel Terikat...17
3.3. Hipotesis ...19
BAB 4 METODE PENELITIAN ………...20
4.1. Jenis Penelitian ………...…...20
4.2. Waktu dan Tempat Penelitian ……….………...20
4.3. Populasi dan Sampel Penelitian ……….……….20
4.3.1. Populasi...20
4.4. Teknik Pengumpulan Data...22
4.5. Pengolahan dan Analisa Data...22
BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN...23
5.1. Hasil Penelitian... 23
5.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian...23
5.1.2 Deskripsi Karakteristik Dasar Responden...25
5.1.3 Gambaran Perilaku Jajan pada Murid SD di Kota Medan Tahun 2010... 26
5.2 Pembahasan... 29
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN... 35
6.1. Kesimpulan ... 35
6.2. Saran... 36
DAFTAR PUSTAKA ... 37 LAMPIRAN
Tabel Halaman
Tabel 2.1. Pewarna Buatan yang Direkomendasikan oleh Depkes RI... 11
Tabel 2.2. Pemanis Buatan yang Direkomendasikan oleh Depkes RI... 12
Tabel 2.3. Citarasa Buatan yang Direkomendasikan oleh Depkes RI... 12
Tabel 2.4. Pengawet Buatan yang Direkomendasikan oleh Depkes RI... 13
Tabel 5.1. Karakteristik Responden... ...25
Tabel 5.2. Gambaran Perilaku Jajan pada Murid SD di Beberapa SD di Kota Medan Tahun 2010 ...26
Tabel 5.3. Hubungan Perilaku Jajan dengan Jenis Kelamin... ...27
Tabel 5.4 Hubungan Perilaku Jajan dengan Jumlah Uang Jajan Setiap Hari...27
Tabel 5.5 Hubungan Perilaku Jajan dengan Lama Menonton Televisi ...27
Tabel 5.6 Distribusi Gambaran Perilaku Jajan Berdasarkan Umur...28
Tabel 5.7 Hubungan Perilaku Jajan dengan Sarapan Pagi...28
Tabel 5.8 Distribusi Gambaran Perilaku Jajan Berdasarkan Alasan Jajan ...29
Tabel 5.9 Hubungan Perilaku Jajan dengan Teman...29
Gambar 3.1. Kerangka Konsep Penelitian...15
Lampiran 1 Daftar Riwayat Hidup Peneliti
Lampiran 2 Kuesioner Penelitian
Lampiran 3 Lembar Penjelasan Kuesioner Penelitian
Lampiran 4 Lembar Pernyatan Persetujuan setelah Penjelasan (Informed Consent)
Kesediaan Mengikuti Penelitian
Lampiran 5 Out Put SPSS Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Penelitian
Lampiran 6 Ethical Clearance
Lampiran 7 Surat Izin Penelitian di SD Harapan 2
Lampiran 8 Surat Izin Penelitian di SD Budisatrya
Lampiran 9 Surat Izin Penelitian di SDN 067954
Lampiran 10 Surat Izin Penelitian di SDN 067248
Lampiran 11 Surat Izin Penelitian di SD Dharma Wanita
Lampiran 12 Data Induk Penelitian
Lampiran 13 Out Put SPSS Deskripsi Karakteristik Responden dan Distribusi
Perilaku Responden
ABSTRAK
Sekitar 70% murid SD jajan setiap hari di sekolah. Namun, tidak semua jenis makanan jajanan aman untuk kesehatan tubuh, dan konsumsi makanan jajanan yang berlebihan dapat mengganggu kesehatan. Karena banyaknya makanan jajanan yang tidak memenuhi syarat kesehatan, penulis ingin mengetahui sejauh mana perilaku jajan murid-murid SD di beberapa SD di kota Medan terhadap makanan jajanan.
Penelitian ini salah satu survei yang bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini adalah murid-murid kelas IV, V, dan VI SD Dharma Wanita, SD Harapan 2, SD Budisatrya, SDN 067248, dan SDN 067954. Sampel yang dipilih berdasarkan simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner, dan memakai data sekunder yang berasal dari sekolah. Analisis data dilakukan dengan progam
SPSS (Statistic Package for Social Science). Tujuan peneltian ini adalah untuk
mengetahui perilaku jajan murid di beberapa Sekolah Dasar di kota Medan tahun 2010.
Hasil dari penelitian ini diperoleh perilaku jajan pada murid SD di beberapa SD di kota Medan tahun 2010 sebagian besar adalah cukup yaitu 329 orang (85,9%), diikuti perilaku kurang sejumlah 48 orang (12,5%), dan yang berpeilaku baik sejumlah 6 orang (1,6%). Tidak ada hubungan antara sarapan pagi dengan perilaku jajan murid SD (p=0,345). Ada hubungan antara pengaruh teman sebaya dengan perilaku jajan murid SD (p=0,001). Tidak ada hubungan antara jumlah uang jajan dengan perilaku jajan murid SD (p=0,975). Tidak didapatkan hubungan antara lamanya menonton televisi dengan perilaku jajan (p=0,994).
Kesimpulan penelitian ini adalah murid-murid SD di kota Medan tahun 2010 paling banyak memiliki perilaku jajan cukup. Tidak ada hubungan antara sarapan pagi dengan perilaku jajan murid SD. Ada hubungan antara pengaruh teman sebaya dengan perilaku jajan murid SD. Tidak ada hubungan antara jumlah uang jajan dengan perilaku jajan murid SD. Tidak didapatkan hubungan antara lamanya menonton televisi dengan perilaku jajan.
ABSTRACT
About 78% elementary students consume street foods. But, not all kinds of street food are safe for our health, and excessive consumption of street food can damage our health. Since the number of snacks that do not meet health requirements, the authors wanted to know how far the behavior of elementary students on a few elementary school in Medan on street food consumption in 2010
This research is a analytic descriptive study with cross sectional approach. Samples are gained from grade IV, V, and VI of the students of SD Dharma Wanita, SD Harapan 2, SD Budisatrya, SDN 067248, and SDN 067954. Samples are selected based on simple random sampling. The data were collected using a questionnaire that had to be filled by the respondents, and secondary data were be took from each school. Data analysis was performed by using the SPSS (Statistics Package for Social Science) program.
The results of this study were that elementary students in Medan in 2010 who had adequate behaviour on street food consumption were as many as 329 people (85,9%), followed by poor behaviour as many as 48 people (12,5%), and good behavior people as many as 6 people (1,6%). There was no significant relationship between breakfast and behavior on street food consumption of elementary students (p=0.0345). There was a relationship between peer influence and behavior on street food consumption of elementary students (p=0.001). There was no relationship between the amount of pocket money and behavior on street food consumption of elementary students ( p= 0.975).
This conclusion of this study were elementary students in Medan in 2010 had adequate behaviour on street food consumption. There was no significant relationship between breakfast and behavior on street food consumption of elementary students. There was a relationship between peer influence and behavior on street food consumption of elementary students. There was no relationship between the amount of pocket money and behavior on street food consumption of elementary students.
1.1 Latar Belakang
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Tanjung (2008) sebanyak
78,6% murid SD jajan setiap hari di sekolah. Padahal kualitas jajanan di
sekolah-sekolah rendah. Hal ini dibuktikan oleh Balai Pengawas Obat dan
Makanan (POM) Republik Indonesia (2007) yang mana melaporkan hasil
monitoring Jajanan Anak Sekolah (JAS) yang meliputi jenis pangan jajanan
yang sering tidak memenuhi syarat (TMS), karena penggunaan bahan
tambahan pangan (BTP) yang melebihi batas, penyalahgunaan bahan
berbahaya yang seharusnya tidak boleh digunakan dalam pangan, serta
cemaran mikrobiologi yang mencerminkan kualitas mikrobiologi pangan
jajanan anak sekolah. Monitoring ini dilakukan oleh Badan POM RI pada
tahun 2006 dengan hasil yaitu:
1. Proporsi sampel JAS yang memenuhi persyaratan adalah sebesar 50,57%
2. Warna merah minuman, sirup ataupun es masing-masing sebanyak 20%,
7%, dan 13% disebabkan oleh penambahan rhodamin B.
3. Penggunaan siklamat yang melebihi batas maksimum pada es lebih
tinggi dibandingkan yang terdapat pada minuman merah, sirup, jeli,
ataupun agar, yaitu lebih dari 50%.
4. Sampel minuman merah dan es memliki persentase TMS di atas 59%.
5. Kurang dari 6% sampel mie dan bakso mengandung formalin.
Hasil survei Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terhadap
jajanan anak sekolah di 4.500 SD di Indonesia menyatakan bahwa antara
3-20% jajanan anak sekolah masih mengandung bahan kimia berbahaya
(Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, 2010). Laporan kegiatan
pengawasan obat dan makanan tahun 2006 Balai Besar Pengawasan Obat
dan Makanan (POM) Semarang menyebutkan sekitar 66,7% makanan dan
jajanan anak sekolah di Jateng tidak memebuhi syarat kesehatan
(Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, 2010).
Penjaja makanan tidak menutup makanan jajanan secara sempurna,
tempat pembuangan sampah yang kurang memadai, sehingga penyajian
makanan jajanannya belum memenuhi syarat kesehatan. Tanjung (2008)
melaporkan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan
jajanan yaitu mie dan sirup terbukti tercemar E. coli. Sejauh ini sudah ada
tindakan intervensi kepada jajaran sekolah dan pemberdayaan kantin sekolah
menjadi “Kantin Sehat Sekolah”. Kementerian Pendidikan Nasional melalui
Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani sejak 2009 melaksanakan Program
Pembinaan Keamanan Pangan Jajanan Anak Sekolah, melalui Penataan
Kantin Sehat di Sekolah dengan pemberian Block Grant serta
penyuluhan/bimbingan teknis kepada kepala sekolah, guru, dan pengelola
kantin yang ada di sekolah. Kegiatan ini dilaksanakan di seluruh provinsi di
Indonesia, dan pada tahap pertama/tahun 2009 dipilih satu kabupaten/kota di
setiap provinsi untuk percontohan dan direncanakan akan dilanjutkan pada
tahun-tahun yang akan datang (Kementrian Koordinator Bidang
Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia, 2010). Di Sumatera Utara ada
empat sekolah yang menjadi sekolah percontohan, keempatnya berada di
kabupaten Deli Serdang.
Karena banyaknya makanan jajanan yang tidak memenuhi syarat
kesehatan, penulis ingin mengetahui sejauh mana perilaku jajan murid-murid
SD di beberapa SD di kota Medan terhadap makanan jajanan.
1.2. Rumusan Masalah
Dari penjelasan di atas maka dapat dirumuskan beberapa
permasalahan sebagai berikut :
Bagaimana perilaku jajan pada murid Sekolah Dasar di Beberapa SD di Kota
Medan tahun 2010?
Untuk mengetahui perilaku jajan murid di beberapa Sekolah
Dasar di kota Medan tahun 2010.
1.3.2. Tujuan Khusus
1.Untuk mengetahui jumlah uang jajan sehari murid SD.
2.Untuk mengetahui alasan jajan murid SD.
3.Untuk mengetahui berapa persen murid SD yang sarapan pagi
sebelum berangkat ke sekolah.
4.Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara teman sebaya dengan
perilaku jajan
5.Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara sarapan pagi, jumlah
uang jajan, dan lamanya menonton televisi dengan perilaku jajan
murid SD.
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat untuk:
1. Untuk murid SD di masing-masing sekolah:
Untuk meningkatkan kesadaran mereka dalam memilih jajanan yang
bergizi dan sehat.
2. Untuk peneliti:
Untuk menambah pengetahuan mengenai perilaku jajan pada murid SD,
dan dengan melakukan penelitian, diharapkan peneliti dapat
mengimplementasikan pelajaran yang diperoleh di bangku kuliah ke
dalam penelitian sebenarnya dalam masyarakat.
3. Untuk pihak sekolah:
Bahan masukan untuk melakukan perbaikan dalam mengelola
lingkungan sekolahnya, terutama kantin dan penjaja makanan di
lingkungan sekolahnya.
BAB 2
2.1. Perilaku
2.1.1. Pengertian Perilaku
Menurut Notoatmodjo (2005) dan Skiner (1938) dalam Notoatmodjo
(2005) perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme atau makhluk
hidup yang bersangkutan yang merupakan respons atau reaksi seseorang
terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Dengan demikian, perilaku
manusia terjadi melalui proses: Stimulus → Organisme → Respons,
sehingga disebut teori “S-O-R”. Ada dua jenis respons, yaitu:
a. Respondent respons atau refleksif, yakni respons yang ditimbulkan oleh
rangsangan-rangsangan (stimulus) tertentu yang disebut eliciting stimuli,
karena menimbulkan respons-respons yang relatif tetap. Misalnya
makanan lezat akan menimbulkan nafsu untuk makan atau mendengar
berita musibah akan menimbulkan rasa sedih.
b. Operant respons atau instrumental respons, yakni respons yang timbul
dan berkembang kemudian diikuti oleh stimuli atau rangsangan yang
lain. Perangsang yang terakhir ini disebut reinforcing stimuli atau
reinforcer, karena berfungsi untuk memperkuat respons. Misalnya,
apabila seorang petugas kesehatan melakukan tugasnya dengan baik
adalah sebagai respons terhadap gaji yang cukup (stimulus). Kemudian
karena kerja baik tersebut, menjadi stimulus untuk memperoleh promosi
pekerjaan. Jadi, kerja baik tersebut sebagai reinforcer untuk memperoleh
promosi pekerjaan.
2.1.2. Pembagian Perilaku
Berdasarkan teori “S-O-R” di atas perilaku manusia dapat
dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
Perilaku tertutup terjadi bila respons terhadap stimulus tersebut masih
belum dapat diamati orang lain (dari luar) secara jelas. Respons seseorang
masih terbatas dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan,
dan sikap terhadap stimulus yang bersangkutan. Bentuk “unobservable
behavior” atau “covert behavior” yang dapat diukur adalah pengetahuan
dan sikap. Contoh: Ibu hamil tahu pentingnya periksa hamil untuk
kesehatan bayi dan dirinya sendiri (pengetahuan), kemudian ibu tersebut
bertanya kepada tetangganya di mana tempat periksa hamil yang dekat
(sikap).
b.Perilaku terbuka ( Overt Behavior)
Perilaku terbuka ini terjadi bila respons terhadap stimulus tersebut sudah
berupa tindakan, atau praktik ini dapat diamati orang lain dari luar atau
“observable behavior”. Contoh, seorang ibu hamil memeriksakan
kehamilannya ke puskesmas, seorang anak menggosok gigi setelah makan,
dan sebagainya. Contoh-contoh tersebut adalah bentuk tindakan nyata,
dalam bentuk kegiatan atau dalam bentuk praktik (practise).
2.1.3. Domain Perilaku
Domain perilaku berdasarkan Benyamin Bloom (1908) dalam
Notoatmodjo (2005) yang telah dikembangkan untuk kepentingan
pendidikan praktis, dibagi dalam tiga tingkat ranah perilaku sebagai
berikut:
1.Pengetahuan (knowledge)
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu
seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata,
hidung, telinga, dan sebagainya). Secara garis besar ada enam tingkat
pengetahuan, yaitu:
Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang
telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu. Misalnya: tahu bahwa
jamban adalah tempat membuang air besar.
b. Memahami (comprehension)
Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut,
tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat
menginterpretasikannya secara benar tentang objek yang diketahui
tersebut. Misalnya, orang yang memahami cara pemberantasan
penyakit demam berdarah, bukan hanya sekedar menyebutkan 3M
(mengubur, menutup, dan menguras), tetapi harus dapat menjelaskan
mengapa harus menutup, menguras, dan sebagainya tempat-tempat
penampungan air tersebut.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang
dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang
diketahui tersebut pada situasi yang lain. Misalnya, seseorang yang telah
paham tentang proses pencernaan, ia harus dapat membuat pencernaan
program kesehatan di tempat ia bekerja atau di mana saja. Orang yang
telah paham metodologi penelitian, ia akan mudah membuat proposal
peelitian di mana saja, dan seterusnya.
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan
memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen
yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Indikasi
bahwa pengetahuan seseorang itu sudah sampai pada tingkat analisis
adalah apabila orang tersebut telah dapat membedakan, atau
memisahkan, mengelompokkan, membuat diagram (bagan) terhadap
nyamuk Aedes agepty dengan nyamuk biasa, dapat membuat diagram
(flow chart) siklus hidup cacing kremi, dan sebagainya.
e. Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk
merangkum atau meletakkan dalam suatu hubungan yang logis dari
komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain,
sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari
formulasi-formulasi yang telah ada. Misalnya, dapat membuat atau
meringkas dengan kata-kata atau kalimat sendiri tentang hal-hal yang
telah dibaca atau didengar, dapat membuat kesimpulan tentang artikel
yang telah dibaca.
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi bekaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan
jastifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini
dengan sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri
atau norma-norma yang berlaku di masyarakat. Misalnya, seorang ibu
dapat menilai manfaat ikut keluarga berencana.
2.Sikap ( attitude )
Campbell (1950) dalam Notoatmodjoe (2005) mendefinisikan sikap
sebagai “ An individual’s attitude is sundrome of response consistency with
regard to object.” Jadi, sikap itu melibatkan pikiran, perasaan, perhatian,
dan gejala kejiwaan yang lain.
Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai
tingkatan dimana saling berunut, yaitu: (Notoatmodjo, 2005)
a. Menerima (Receiving)
Menerima, diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan
stimulus yang diberikan (objek).
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan
tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
c. Menghargai (Valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan
orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat
tiga.
d.Bertanggung jawab (Responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan
segala resiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi.
Sikap yang sudah positif terhadap suatu objek, tidak selalu terwujud
dalam tindakan nyata, hal ini disebabkan oleh:
a. Sikap, untuk terwujud di dalam suatu tindakan bergantung pada situasi
pada saat itu.
b.Sikap akan diikuti atau tidak pada suatu tindakan mengacu pula pada
banyak atau sedikitnya pengalaman seseorang.
Pengukuran terhadap sikap ini dapat dilakukan secara langsung atau
tidak langsung. Secara langsung dapat dinyatakan bagaimana pendapat atau
pernyataan responden terhadap suatu objek dan secara tidak langsung dapat
dilakukan dengan pernyataan-pernyataan yang bersifat hipotesis, kemudian
dikenakan pendapat responden ( Notoatmodjo, 2005).
3. Tindakan atau praktik (Practice)
Dalam terbentuknya tindakan diperlukan faktor lain, yaitu adanya fasilitas
atau sarana dan prasarana. Seorang ibu hamil sudah tahu bahwa periksa hamil
itu penting untuk kesehatannya dan janinnya, dan sudah ada niat (sikap) untuk
periksa hamil. Agar sikap itu meningkat menjadi tindakan, maka diperlukan
bidan, posyandu, atau puskesmas yang dekat dari rumahnya, atau fasilitas
akan memeriksa kehamilannya. Tingkatan praktik atau tindakan menurut
kualitasnya dibedakan menjadi tiga tingkatan, yaitu:
a. Praktik terpimpin (guided response)
Apabila subjek atau seseorang telah melakukan sesuatu tetapi masih
tergantung pada tuntunan atau menggunakan panduan. Misalnya, seorang
ibu memeriksa kehamilannya tetapi masih menunggu diingatkan oleh bidan
atau tetangganya. Seorang anak kecil menggosok gigi namun masih selalu
diingatkan oleh ibunya, adalah masih disebut praktik atau tindakan
terpimpin.
b. Praktik secara mekanisme (mechanism)
Apabia subjek atau seseorang telah melakukan atau mempraktikkan
sesuatu hal secara otomatis maka disebut praktik atau tindakan mekanis.
Misalnya, seorang ibu selalu membawa anaknya ke Posyandu untuk
ditimbang, tanpa harus menunggu perintah dari kader atau petugas
kesehatan. Seorang anak secara otomatis menggosok gigi setelah makan,
tanpa disuruh oleh ibunya.
c. Adopsi (adoption)
Adopsi adalah suatu tindakan atau praktik yang sudah berkembang.
Artinya, apa yang dilakukan tidak sekedar rutinitas atau mekanisme saja,
tetapi sudah dilakukan modifikasi, atau tindakan atau perilaku yang
berkualitas. Misalnya, menggosok gigi, bukan sekedar gosok gigi,
melainkan dengan teknik-teknik yang benar. Seorang ibu memasak memilih
bahan masakan bergizi tinggi meskipun bahan makanan tersebut murah
harganya (Notoatmodjo, 2005).
2.2.1. Pengertian Makanan Jajanan
Menurut Widodo dalam Tanjung (2008) makanan jajanan yang dijual
oleh pedangan kaki lima atau dalam istilah lain disebut “street food”,
menurut FAO didefinisikan sebagai makanan dan minuman yang
dipersiapkan dan dijual oleh pedagang kaki lima di jalanan dan di
tempat-tempat keramaian umum lain yang langsung dimakan atau dikonsumsi
tanpa pengolahan atau persiapan lebih lanjut. Jajanan kaki lima dapat
menjawab tantangan mayarakat terhadap makanan yang murah, mudah,
menarik, dan bervariasi.
2.2.2. Jenis Makanan Jajanan
Menurut Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (1998) dalam Lubis
(2007) jenis-jenis makanan jajanan adalah sebagai berikut:
a. Makanan jajanan yang berbentuk panganan, misalnya kue-kue kecil,
pisang goreng, kue putu, kue bugis, atau sebagainya.
b.Makanan jajanan yang diporsikan (menu utama) seperti pecal, mie
bakso, nasi goreng, mie rebus dan sebagainya.
c. Makanan jajanan yang berbentuk minuman seperti es krem, es campur,
jus buah, dan sebagainya.
2.2.3. Manfaat dan Bahaya Makanan Jajanan
Menurut Wardiatmo dan Ridwan (1987) dalam Lubis (2007) manfaat
makanan jajanan untuk anak sekolah adalah sebagai sarapan pagi dan
makanan selingan di antara makanan yang utama. Menurut Hermina (2004)
dalam Ginting (2007) makanan juga dapat memberikan tambahan gizi jika
memiliki mutu, gizi, dan kebersihan yang baik. Menurut Sihaldi (2004)
dalam Ginting (2007) makanan jajanan yang bervariasi akan
menumbuhkan kebiasaan penganekaragaman makanan sejak kecil.
Baliwati (2004) dalam Kesumawati (2009) mengemukakan bahwa
makanan jajanan mengandung bahan pengawet buatan dan zat warna
pendek dapat menimbulkan gejala-gejala sangat umum seperti pusing,
mual, muntah, diare, atau bahkan kesulitan buang air besar.
2.2.4.Bahan Aditif pada Makanan dan Kesehatan 1. Bahan Tambahan Makanan (Food Additive)
a. Pewarna Buatan
Beberapa pewarna buatan yang direkomendasikan oleh Depkes
RI tertera dalam tabel berikut ini:
Tabel 2.1. Beberapa Pewarna Buatan yang Direkomendasikan oleh Depkes RI
No Nama Batas Maksimum Penggunaan
1 Merah (45430) 0,1 g/kg (Es krim), 0,2-0,3 g/kg (Jem, Jeli, saus, Buah Kalengan) 2 Hijau (42053) 0,1 g/kg (es krim) 0,2 kg (Jeli, Buah
Kalengan), 0,3 g/kg (acar) 3 Kuning 15985 0,1 g/kg (Es krim), 0,2 g/kg (Jeli, Buah
Kalengan), 0,3 g/kg (acar) 4 Cokelat (20285) 0,07g/kg (minuman ringan), 0,3 g/kg
(makanan lainnya)
5 Biru (42090) 0,1 g/kg (es krim), 0,2 g/kg (deli, buah kalengan), 0,3 g/kg (acar) Sumber: Budianto, 2009
Penggunaan bahan pewarna buatan yang tidak
direkomendasikan oleh Depkes RI atau oleh FDA dapat
menimbulkan gangguan kesehatan, seperti timbulnya kanker usus
dan pankreas. Hal ini disebabkan oleh kandungan arsen melebihi
0,00014% dan timbal melebihi 0,001%. Batas konsumsi bahan
pearna buatan yang direkomendasikan oleh Depkes berkisar
1,25-1,5 mg/Kg berat badan (untuk warna merah), 2,5 mg/Kg
berat badan (untuk warna biru), 12,5 mg /Kg berat badan (untuk
warna hijau), dan 5-7,5 mg/Kg berat badan (untuk warna
kuning).
Beberapa pemanis buatan yang direkomendasikan oleh Depkes
RI tertera dalam tabel berikut ini:
Tabel 2. 2. Beberapa Pemanis Buatan yang Direkomendasikan oleh Depkes RI
No Nama Batas Maksimum Penggunaan
1 Sakarin (300-700 x
manis gula)
100 mg/kg (permen), 200 mg/kg (es krim, jet jeli), 300 mg/kg (Saus, es lilin, minuman ringan, minuman Yogurt) 2 Siklamat
(30-80 x manis gula)
1 g/kg (permen, 2 g/kg (Es krim, Es Min, Minuman ringan, minuman Yogurt)
Sumber: Budianto, 2009
c. Citarasa Buatan (Penyedap Rasa dan Aroma)
Beberapa citarasa buatan yang direkomendasikan oleh Depkes RI
tertera dalam tabel berikut ini.
Tabel 2. 3. Beberapa Citarasa Buatan yang Direkomendasikan oleh Depkes RI
No Nama Batas Maksimum Penggunaan
1 Monosodium Glutamat Secukupnya
2 Vanilin.amh 0,7 g/kg produk siap konsumsi 3 Benzaldehida Cherry Secukupnya
4 Aldehida Sinamat Secukupnya
5 Mentol mint Secukupnya
6 Eugenol
rempah-8 Asmil Asetat Secukupnya
Sumber: Budianto, 2009
Mengkonsumsi MSG secara berlebihan dapat
menimbulkan Chinese Restaurant Syndrome (kesemutan pada
punggung, leher, rahang bawah, sesak nafas, dan pusing kepala).
Anak tikus yang diberi MSG dosis tinggi (0,5 g/Kg berat badan)
akan menderita gangguan saraf, kerusakan retina,dan
d. Pengawet Buatan
Beberapa pengawet buatan yang direkomendasikan oleh Depkes
RI tertera dalam tabel berikut ini:
Tabel 2. 4. Beberapa Pengawet Buatan yang Direkomendasikan oleh Depkes RI
No Nama Batas Maksimum Penggunaan
1 Asam Benzoat 600 mg/Kg (kecap, minuman ringan ), 1 g/ Kg (acar, margarin, sari nenas, saus, makanan lainnya)
2 Kalium Nitrat 50 mg/Kg (keju), 500 mg/Kg (daging) 3 Kalium Bisulfat 50 mg/Kg (kentang goreng), 100
mg/Kg (udang beku), 500 mg/Kg (sari nenas)
Sumber: Budianto, 2009
2. Penyalahgunaan Borak sebagai Pengawet Makanan
Borak sebenarnya bukan untuk bahan pengawet makanan, tetapi
digunakan sebagai bahan antiseptik dalam bentuk bedak, cairan, dan
salep (dalam bentuk asam borak). Borak juga digunakan sebagai
pembasmi semut. Penggunaan borak sebagai bahan pengawet makanan
merupakan bentuk penyalahgunaan. Penelitian di Palembang
menunjukkan bahwa 70% bakso di Palembang mengandung borak
sebanyak 0,20-0,90 ppm kg bakso sedang, pada mie mengandung borak
sebanyak 0,17-0,59 ppm/100 g mie. Penggunaan borak pada makan
tersebut dimaksudkan sebagai pengawet dan meningkatkan sifat
kekenyalan bakso dan mie. Konsumsi borak dapat menimbulkan
kelainan pada susunan saraf pusat, saluran pencernaan, ginjal, hati, dan
kulit. Pada susunan saraf borak dapat menimbulkan depresi, kekacauan
mental, dan mungkin retardasi mental (Budianto, 2009).
Namun, pada kenyataannya para penjaja makanan tidak menggunakan
2.2.5.Konsumsi Makanan dan Kebiasaan Jajan Anak Sekolah
Menurut Khumaidi (1994) dalam Ginting (2007) kebiasaan yaitu
pola perilaku yang diperoleh dari pola praktek yang terjadi berulang-ulang.
Jajan adalah perilaku mengudap, membeli pangan, di kedai arung atau yang
dijajakan orang.
Moehdji S (1992) dalam Tanjung (2008) mengatakan saat permulaan
usia sekolah, anak mulai berinteraksi dengan suasana, lingkungan, dan
orang baru. Hal ini akan mempengaruhi kebiasaan anak. Pengalaman baru,
kegembiraan di sekolah, rasa takut karena terlambat tiba di sekolah
mengakibatkan anak sering menyimpang dari kebiasaan waktu makan yang
sudah teratur sebelum masuk sekolah.
Menurut Hui Y. H. (1985) dalam Tanjung (2008) kebiasaan jajan
mempengaruhi konsumsi makanan di rumah. Makanan jajan dapat
membuat anak merasa kenyang sebelum makan di rumah karena lambung
anak yang kecil.
Menurut Agresta (2005) dalam Ginting (2007) kebiasaan jajan pada
anak sekolah dipengaruhi jumlah uang dari orangtua, rasa lapar, bujukan
teman, rayuan pedagang makanan, dan lainnya. Menurut Suci (2009)
jumlah uang jajan yang wajar untuk anak sekolah dasar adalah dalam
jumlah kisaran Rp. 1000,00-Rp.5.000,00.
Selain itu, televisi juga mempengaruhi kebiasaan jajan anak. Anak
yang belum dapat berpikir kritis mudah terbujuk dan hampir seketika
menyukai makanan misalkan keripik kentang, permen, atau makanan lain
yang “tak bergizi” yang iklannya dibintangi oleh sebaya mereka. Iklan
makan anak bergizi jarang sekali ditayangkan (Arisman, 2008).
Berdasarkan hasil penelitian Raharjo (2008) iklan makanan ringan
mempengaruhi sikap konsumtif murid-murid SD sebesar 36,7%.
BAB 3
3.1. Kerangka Konsep Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian di atas maka kerangka konsep dalam penelitian
ini adalah:
Variabel bebas Variabel terikat
Gambar 3.1. Kerangka Konsep Penelitian
3.2. Variabel dan Definisi Operasional
Variabel-variabel yang akan diteliti mencakup variabel bebas dan variabel
terikat, yaitu:
3.2.1. Variabel Bebas 3.2.1.1. Sarapan Pagi
Sarapan pagi adalah kebiasaan makan murid SD sebelum berangkat ke sekolah.
Cara menilai sarapan pagi adalah dengan cara menanyakan
apakah responden selalu sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah
melalui kuesioner.
Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner yang dilampirkan
pada bagian akhir laporan hasil penelitian ini.
Hasil dari pengukuran terhadap sarapan pagi adalah jawaban
yang dipilih oleh responden. Dikatakan sarapan pagi jika responden
menjawab selalu sarapan pagi. Dikatakan kadang-kadang sarapan pagi
jika responden menjawab kadang-kadang sarapan pagi. Dikatakan tidak PERILAKU JAJAN
-Pengetahuan tentang jajanan -Sikap terhadap jajan
-Tindakan untuk mengkonsumsi jajanan Sarapan pagi
Jumlah uang jajan
Lamanya menonton televisi setiap hari
pernah sarapan pagi jika respoden menjawab tidak pernah sarapan pagi
sebelum berangkat sekolah.
Skala pengukuran yang digunakan untuk sarapan pagi adalah
skala pengukuran nominal.
3.2.1.2. Jumlah Uang Jajan
Jumlah uang jajan adalah uang yang diberikan oleh orang tua
sebelum berangkat ke sekolah dalam sehari.
Cara menilai jumlah uang jajan adalah dengan metode
wawancara, menanyakan kepada responden berapa jumlah uang jajan
yang diberikan oleh orangtua masing-masing dalam sehari melalui
kuesioner.
Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner yang dilampirkan
pada bagian akhir dari laporan hasil penelitian ini.
Hasil dari pengukuran jumlah uang jajan adalah jawaban yang
dipilih oleh responden.
Skala pengukuran yang digunakan untuk jumlah uang jajan
adalah skala interval.
3.2.1.3. Lamanya Menonton Televisi Setiap Hari
Lamanya menonton televisi setiap hari adalah jumlah jam yang
dihabiskan untuk menonton televisi dalam sehari.
Cara menilai lamanya menonton televisi setiap hari adalah
dengan metode wawancara, menanyakan kepada responden berapa lama
waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi dalam satuan jam dalam
sehari, melalui kusioner.
Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner yang dilampirkan
pada bagian akhir dari laporan hasil penelitian ini
Hasil dari pengukuran lamanya menonton televisi setiap hari
Skala pengukuran yang digunakan untuk lamanya menonton
televisi setiap hari adalah skala interval.
3.2.1.4. Pengaruh Teman Sebaya
Pengaruh teman sebaya adalah pengaruh yang diberikan
teman-teman responden sehingga responden terpengaruh untuk membeli
jajanan yang sama yang dibeli oleh teman-temannya.
Cara menilai pengaruh teman sebaya adalah dengan metode
wawancara, menanyakan kepada responden apa yang akan dilakukan
jika melihat teman jajan. Dikatakan berpengaruh jika responden
mengikuti teman membeli jajanan yang sama. Dikatakan tidak
mempunyai pengaruh jika responden jajan seperti biasa atau tidak jajan
karena membawa bekal.
Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner yang dilampirkan
pada bagian akhir laporan hasil penelitian ini.
Skala pengukuran pengaruh teman sebaya adalah skala
nominal.
3.2.2. Variabel Terikat
Perilaku terdiri atas pengetahuan, sikap, dan tindakan responden
terhadap mengkonsumsi makanan jajanan. Pengetahuan adalah segala sesuatu
yang diketahui responden mengenai makanan jajanan. Sikap adalah pendapat
dan tanggapan responden tentang mengkonsumsi makanan jajanan. Tindakan
adalah tindakan membeli atau mengkonsumsi makanan jajanan.
Alat ukur yang digunakan untuk mengukur perilaku yang terdiri atas
pengetahuan, sikap, dan tindakan adalah kuesioner.
Hasil ukur dari perilaku yang terdiri atas pengetahuan, sikap, dan
tindakan akan dinyatakan dalam kategori baik, cukup, dan kurang.
Skala ukur perilaku yang terdiri atas pengetahuan, sikap, dan tindakan
Pengetahuan responden diukur melalui 10 pertanyaan. Jika pertanyaan
dijawab benar oleh responden maka diberi nilai 1, jika responden menjawab
salah maka diberi nilai 0. Sehingga skor total yang diperoleh adalah 10.
Selanjutnya dikategorikan atas baik, cukup, dan kurang menurut kriteria
Pratomo (1986), yaitu:
• Baik, apabila skor jawaban responden > 75% dari nilai tertinggi, yaitu 8-10. • Cukup, apabila skor jawaban responden 40%-75% dari nilai tertinggi, yaitu
4-7.
• Kurang, apabila skor jawaban responden <40% dari nilai tertinggi, yaitu 1-3. Sikap diukur melalui 10 pertanyaan dengan menggunakan skala
Guttman. Responden yang menjawab benar akan diberi skor 1 sedangkan jika
menjawab salah akan diberi skor 0. Sehingga total skor yang diperoleh adalah
10. Selanjutnya dikategorikan atas baik, cukup, dan kurang menurut kriteria
Pratomo (1986), seperti di atas.
Tindakan diuukur melalui 10 pertanyaan, responden yang menjawab
benar diberikan skor 1 sedangkan jika menjawab salah diberi skor 0. Sehingga
total skor tertinggi yang diperoleh adalah 10. Selanjutnya, dikategorikan atas
baik, cukup, kurang menurut kriteria Pratomo (1986), seperti di atas.
Perilaku diukur melalui total skor dari 10 pertanyaan pengetahuan, 10
pertanyaan sikap, dan 10 pertanyaan tindakan. Sehingga total skor tertinggi
adalah 30. Selanjutnya dikategorikan atas baik, cukup, dan kurang menurut kriteria Pratomo (1986), yaitu:
• Baik, apabila skor jawaban responden > 75% dari nilai tertinggi, yaitu 23-30.
• Cukup, apabila skor jawaban responden 40%-75% dari nilai tertinggi, yaitu 12-22.
• Kurang, apabila skor jawaban responden <40% dari nilai tertinggi, yaitu 0-11
3.3 Hipotesis
1. H0= Tidak ada hubungan antara pengaruh teman sebaya dengan perilaku
2. H0= Tidak ada hubungan antara sarapan pagi dengan perilaku jajan.
3. H0= Tidak ada hubungan antara jumlah uang jajan setiap hari dengan
perilaku jajan.
4. H0= Tidak ada hubungan lamanya menonton televisi setiap hari dengan
perilaku jajan.
BAB 4
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini merupakan jenis penelitian survei yang bersifat
deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional, yaitu penelitian yang
diarahkan untuk menggambarkan atau menguraikan suatu keadaan
fenomena dalam suatu komunitas atau masyarakat; data variabel bebas dan
terikat diambil dalam waktu yang sama.
4.2. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli-November 2010. Tempat
penelitian dimulai dengan memilih lima kecamatan dari 21 kecamatan di
kota Medan dengan cara diundi. Kemudian, dari tiap-tiap kecamatan dipilih
satu sekolah dasar dengan cara diundi juga. Maka, terpilihlah SD Harapan
2, SD Dharma Wanita, SDN 067248, SDN 067954, dan SD Budisatrya.
4.3. Populasi dan Sampel Penelitian 4.3.1. Populasi
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh murid SD di lima
SD yang berada pada lima kecamatan kota Medan, yaitu: SD
Harapan 2, SD Budi Satria, SDN 067954, SDN 067248, SD Dharma
Wanita.
Populasi terjangkau adalah jumlah murid kelas IV, V, dan VI
SD Budi Satria, SDN 067954, SDN 067248, dan SD Dharma Wanita
yang memenuhi kriteria inklusi akan menjadi responden dalam
penelitian. Populasi pada SD Harapan 2 adalah 251 orang, populasi
pada SD Budisatrya adalah 329 orang, populasi pada SDN 067954
adalah 79 orang, populasi pada SDN 067248 adalah 198 orang, dan
populasi pada SD Dharma Wanita adalah 180 orang, sehingga
diperoleh populasi total adalah 1073.
Kriteria Inklusi:
- Murid yang terdaftar sebagai murid kelas IV, V, dan VI SD
Kriteria Eksklusi:
- Murid yang tidak bersedia mengisi kuesioner
- Murid yang tidak mengisi kuesioner dengan lengkap
4.3.2. Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi. Sampel yang dipilih
berdasarkan simple random sampling. Jumlah sampel dihitung
berdasarkan rumus: (Notoatmodjo, 2005)
Rumus:
n =
Keterangan:
n = Besar sampel minimum
Z1- α/2 = Nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada α tertentu, α=0,05
P = Harga proporsi di populasi, jika tidak diketahui maka p=0.5 d = Kesalahan (absolute) yang dapat ditolerir, pada penelitian ini dipakai d=0.1
N = Jumlah populasi (Wahyuni)
Dengan metode perhitungan sampel tersebut, diperoleh jumlah sampel minimal 118.
4.4. Teknik Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan
sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari responden
melalui pengisian kuesioner, sedangkan data sekunder adalah data yang
diperoleh dari sekolah mengenai jumlah murid sekolah masing-masing dan
kuesioner telah terlebih dahulu diuji validitas dan realibilitasnya melalui
program SPSS versi 17.0 for Windows.
4.5. Pengolahan Data Analisis Data
Pengolahan data melalui beberapa tahap, yaitu:
1. Editing
Pengecekan kelengkapan identitas responden dan memastikan
semua jawaban telah diisi sesuai dengan petunjuk.
2. Coding
Seluruh kuesioner yang diisi dengan lengkap, diberi kode untuk
memudahkan penulis saat menganalisis data.
3. Entry
Setelah diberikan kode, data dari dimasukkan ke dalam komputer
dengan menggunakan program SPSS versi 17.0 for Windows.
4. Cleaning
Pemeriksaan kembali data yang telah dimasukkan ke dalam
komputer, untuk menghindari kesalahan saat memasukkan data.
5. Saving
Penyimpanan data untuk siap dianalisis.
6. Analysis
Data dianalisis secara deskriptif analitik dengan menggunakan
Program SPSS (Statistical Package for Social Science) 17.0 for
windo ws. Analisis statistik yang digunakan untuk menilai
hubungan antara kedua varibael adalah uji Chi Square. Data yang
telah dianalisis akan disajikan dalam bentuk tabel.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Penelitian
Proses pengambilan data untuk penelitian ini telah dilakukan pada bulan
2010 di SD Dharma Wanita, tanggal 24 Oktober 2010 di SD Harapan 2, tanggal
3 November 2010 di SDN 067248, tanggal 5 November 2010 di SD Budisatrya,
dan tanggal 15 November 2010 di SDN 067954 dengan total sampel sebanyak
383 murid SD. Berdasarkan hasil pengisian kuesioner oleh responden, maka
hasil penelitian adalah berikut ini.
5.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di lima sekolah di lima kecamatan berbeda di
kota Medan. Adapun kelima sekolah tersebut adalah SD Dharma Wanita terletak
di Jl. Melati II no. 30 Medan, Kecamatan Medan Selayang. SD Harapan 2
terletak di Jl. Imam Bonjol no. 30, Kecamatan Medan Maimun. SDN 067248
terletak di Jl. Marelan Raya, Kelurahan Tanah Enam Ratus, Kecamatan Medan
Marelan. SD Swasta Budisatrya terletak di Jl. Letda Sujono no. 166, Kecamatan
Medan Tembung. SDN 067954 terletak di Jl. Kejaksaan, Kelurahan Petisah
Tengah, Kecamatan Medan Petisah. Kelima SD terletak di kota Medan, Provinsi
Sumatera Utara.
SD Dharma Wanita terletak di tengah perumahan penduduk, memiliki
satu kantin, dua ruangan untuk kelas IV, V, dan VI. Di luar perkarangan sekolah
terdapat para penjaja makanan, seperti penjual sirup, goreng-gorengan, dan es
cendol. Pada saat istirahat, murid-murid boleh jajan di luar perkarangan sekolah
tetapi tetap diawasi oleh penjaga sekolah. Istirahat diberikan satu kali.
SD Harapan 2 terletak di tengah kota, pada bagian barat dibatasi taman
Ahmad Yani, batas timur dibatasi perumahan penduduk, batas utara dibatasi
sebuah gereja, dan batas selatan dibatasi rumah penduduk. SD Harapan 2
memiliki dua kantin dan satu koperasi untuk menjual makanan. Makanan di
kantin terdiri atas bakso, spaghety, mie ayam, nasi goreng, nasi soto, nasi sop,
pizza, ice cream, pop ice, chiki, keripik, permen, minuman bersoda, jus, sate
padang, dan lain-lain. Di luar perkarangan sekolah terdapat penjaja makanan
yang menjual roti bakar, sate padang, sirup, burger, dan lain-lain. Pada saat
perkarangan. Istirahat diberikan dua kali yaitu pukul 09.20 sampai 09.50 dan
pukul 11.20-12.50.
SDN 067248 terletak di tengah-tengah perumahan penduduk, tidak
memiliki kantin. Para penjaja makanan diperbolehkan menjual makanan di
perkarangan sekolah. Murid-murid SD diizinkan untuk membeli makanan
tersebut. Makanan yang dijual antara lain bakso goreng, tahu goreng, sirup, dan
lain-lain.
SD Budisatrya terletak di pinggir jalan, batas barat dibatasi jalan raya,
batas timur, selatan, utara dibatasi perumahan penduduk. SD Budisatrya
memiliki satu kantin yang menjual mie ayam, nasi goreng, dan lain-lain. Di luar
perkarangan sekolah terdapat penjaja makanan menjual pecal, minuman dingin,
dan lain-lain. Saat istirahat muid-murid dilarang jajan di luar perkarangan
sekolah.
SDN 067954 dibatasi oleh jalan raya pada batas timur, kantor KPU pada
batas selatan, rumah penduduk pada batas barat utara. SDN 067954 tidak
memiliki kantin. Para penjaja makanan berjualan di perkarangan sekolah.
Makanan yang dijual antara lain keripik, sirup, pop mie, dan lain-lain. Pada saat
istirahat murid-murid diizinkan untuk membeli makanan yang dijual penjaja
makanan tersebut.
5.1.2 Deskripsi Karakteristik Responden
Sampel terdiri atas 219 laki-laki dan 211 perempuan. . Total sampel pada
penelitian ini adalah 430 orang, dengan jumlah responden dari :
1. SD Dharma Wanita adalah 63 murid (16,4%)
3. SDN 067248 adalah 82 murid (21,4%)
4. SDN 067954 adalah 56 murid (14,6%)
5. SD Swasta Budisatrya adalah 96 murid (25,1%)
Tabel 5.1 Karakteristik Responden
Karakteristik n(%)
Perempuan 188 (49.1)
Makan sebelum berangkat sekolah
Selalu 267 (69.7)
Kadang-kadang 91 (23.8)
Tidak pernah 25 (6.5)
Tidak sarapan pagi 222 (58.0)
Lama menonton televisi/hari
< 2 jam 136(35.5)
2-3 jam 180(47.0)
>3 jam 67(17.5)
Cuci tangan sebelum makan
Selalu 229 (59.8)
Kadang-kadang 114 (29.8)
Tidak pernah 40 (10.4)
Tindakan jika teman jajan
Tidak jajan karena membawa bekal 118 (30.8)
Ikut jajan seperti teman 99 (25.9)
Jajan sesuai keinginan pribadi 166 (43.3)
Berdasarkan tabel di atas, umur responden terbanyak berkisar 8-12
tahun yaitu sejumlah 365 orang (95.3%) . Berdasarkan makan sebelum
berangkat sekolah, responden paling banyak selalu makan sebelum berangkat ke
5.000,00 sebanyak 225 orang (58,7%). Berdasarkan alasan jajan, responden
paling banyak jajan karena tidak sarapan pagi sebanyak 222 orang (58,0%).
Rata-rata lama menonton televisi responden dalam sehari adalah 2,41 jam.
Mayoritas responden adalah responden yang selalu mencuci tangan sebelum
makan yaitu sebanyak 229 orang (59,8%). Berdasarkan tindakan yang dilakukan
jika teman jajan, mayoritas responden akan jajan sesuai dengan keinginan
pribadi yaitu sebanyak 166 orang (43,3%).
5.1.3 Gambaran Perilaku Jajan pada Murid SD di Beberapa SD di Kota Medan Tahun 2010
Berdasarkan hasil kategori mengenai pengetahuan, sikap, tindakan, dan
tindakan oleh Pratomo (1986), gambaran perilaku jajan pada murid SD di kota
Medan tahun 2010 adalah sebagai berikut:
Tabel 5.2 Gambaran Perilaku Jajan pada Murid SD di Beberapa SD di Kota Medan Tahun 2010
Gambaran Perilaku Jumlah (orang) Persentase (%)
Baik 6 1.6
Cukup 329 85.9
Kurang 48 12.5
Total 383 100.0
Tabel di atas menunjukkan responden paling banyak memiliki perilaku cukup
yaitu 329 orang (85,9%), diikuti perilaku kurang sejumlah 48 orang (12,5%),
dan perilaku baik sejumlah enam orang (1,6%).
Tabel 5.3 Hubungan Perilaku Jajan dengan Jenis Kelamin
Berdasarkan tabel di atas, mayoritas yang memiliki perilaku baik adalah
perempuan yaitu lima orang (1,3%) sedangkan laki-laki sebanyak satu orang
(0,3%). Berdasarkan analisis Chi Square terdapat hubungan antara jenis kelamin
dan tingkat perilaku.
Tabel 5.4 Hubungan Perilaku Jajan dengan Jumlah Uang Jajan Setiap Hari
Berdasarkan tabel di atas, gambaran perilaku baik didominasi oleh
responden dengan jumlah uang jajan kurang dari Rp 5.000,00 sebanyak empat
orang (1,0%). Hasil dari analisis Chi Square, didapatkan nilai p= 0,975,
sehingga menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara gambaran perilaku
jajan dengan jumlah uang jajan.
Tabel 5.5 Hubungan Perilaku Jajan dengan Lama Menonton Televisi
Lama Menonton
Berdasarkan tabel di atas, responden terbanyak yang memiliki perilaku
baik adalah responden yang menonton televisi selama kurang dari 2 jam setiap
hari yaitu sejumlah tiga orang (0,8%). Berdasarkan analisis Chi Square,
Tabel 5.6 Distribusi Gambaran Perilaku Jajan Berdasarkan Umur
Berdasarkan tabel di atas, mayoritas responden yang memiliki perilaku
yang baik adalah yang berumur 8-12 tahun yaitu sejumlah 6 orang (1,6%).
Berdasarkan hasil analisis Chi Square didapatkan nilai p=0,660. Jadi, tidak ada
hubungan antara umur dengan perilaku jajan pada murid SD.
Tabel 5.7 Hubungan Perilaku Jajan dengan Sarapan Pagi
Sarapan Pagi
Berdasarkan tabel di atas, perilaku jajan yang baik didominasi oleh
responden yang selalu sarapan pagi yaitu sejumlah lima orang (1,3%).
Berdasarkan analisis Chi Square, didapatkan hasil p= 0,345. Hal ini
menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara sarapan pagi dengan perilaku
jajan pada murid SD.
Tabel 5.8 Distribusi Gambaran Perilaku Jajan Berdasarkan Alasan Jajan
Berdasarkan tabel di atas, mayoritas responden yang memiliki perilaku
jajan baik adalah yang tidak sarapan pagi yaitu enam orang (1,6%). Berdasarkan
analisis Chi Square diperoleh p=0,000. Hal ini menunjukkan adanya hubungan
antara alasan jajan dengan perilaku jajan.
Tabel 5.9 Hubungan Perilaku Jajan dengan Teman Jajan
Berdasarkan tabel di atas mayoritas responden yang memiliki perilaku
baik adalah responden yang jajan bukan karena ajakan teman yaitu enam orang
(1,6%). Berdasarkan analisis Chi Square diperoleh nilai p = 0,001. Hal ini
menunjukkan adanya hubungan antara pengaruh teman sebaya dengan perilaku
jajan pada murid SD.
5.2 Pembahasan
Menurut Widodo dalam Tanjung (2008) makanan jajanan yang dijual
oleh pedangang kaki lima atau dalam istilah lain disebut “street food”, menurut
FAO didefinisikan sebagai makanan dan minuman yang dipersiapkan dan dijual
oleh pedagang kaki lima di jalanan dan di tempat-tempat keramaian umum lain
yang langsung dimakan atau dikonsumsi tanpa pengolahan atau persiapan lebih
lanjut. Dalam penelitian ini dilakukan penilaian kuesioner berdasarkan Pratomo
(1986).
Berdasarkan hasil penelitian ini, sebanyak 267 orang (69,7%) selalu
makan sebelum berangkat ke sekolah, 91 orang (23,8%) kadang-kadang makan
sebelum berangkat ke sekolah, dan 25 orang (6,5%) tidak pernah makan
sebelum berangkat ke sekolah. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan
responden telah makan sebelum berangkat ke sekolah. Jadi, sebanyak kurang
lebih 30,3% responden belum tentu makan sebelum berangkat ke sekolah.
Padahal, sarapan pagi penting untuk kesehatan, manfaat sarapan pagi di
antaranya adalah memberi energi untuk otak, memperbaiki memori,
memperkuat ikatan dalam keluarga karena sarapn pagi bersama-sama, dan
meningkatkan daya tahan terhadap stress (Depkes R.I Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan).
Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas responden memiliki jumlah uang
jajan kurang dari Rp 5.000,00 sebanyak 225 orang (58,7%), diikuti 139 orang
(36,3%) memiliki jumlah uang jajan Rp 5.000,00-Rp 10.000,00 dan 19 orang
(5,0%) memiliki jumlah uang jajan lebih dari Rp 10.000,00. Hal ini tidak sesuai
dengan penelitian Suci (2009), yaitu jumlah murid dengan uang jajan kurang
dari Rp 5.000,00 adalah sejumlah 81,5%, sedangkan jumlah murid dengan uang
jajan Rp 5.000- Rp 10.000 adalah 13,3%, dan murid dengan jumlah uang jajan
di lebih dari Rp 10.000,00 adalah 3,8%. Menurut Suci (2009) jumlah uang jajan
yang wajar yang dimiliki murid SD adalah sebesar Rp 1.000,00-Rp 5.000,00.
Namun,menurut penulis jumlah uang jajan seharusnya disesuaikan dengan
kebutuhan masing-masing murid, misalnya uang jajan untuk murid yang sudah
makan sebelum berangkat sekolah seharusnya lebih sedikit daripada murid yang
tidak makan sebelum berangkat ke sekolah. Murid dengan jumlah uang jajan
yang lebih banyak akan mempunyai kesempatan membeli jajanan yang lebih
besar daripada murid dengan jumlah uang jajan yang sedikit.
Berdasarkan alasan jajan, mayoritas responden jajan dikarenakan tidak
sarapan pagi sejumlah 222 orang (58,0%), diikuti karena ajakan teman sejumlah
86 orang (22,5%), dan karena iklan di televisi sebanyak 75 orang (19,6%),
sesuai dengan penelitian Ginting (2007), yaitu alasan jajan murid SD 74,36%
adalah karena lapar. Hal ini memperkuat mengapa alasan jajan anak adalah tidak
sarapan pagi sehingga merasa lapar.
Berdasarkan lama menonton televisi, mayoritas responden menonton
136 orang (35,5%) yang menonton televisi selama kurang dari 2 jam setiap hari,
dan 67 orang (17,5%) menonton televisi selama lebih dari 3 jam dalam sehari.
Berdasarkan kebiasaan mencuci tangan sebelum makan, mayoritas
responden adalah yang selalu mencuci tangan sebelum makan yaitu 229 orang
(59,8%), diikuti 114 orang (29,8%) yang kadang-kadang mencuci tangan
sebelum makan, dan 40 orang (10,4%) yang tidak pernah mencuci tangan
sebelum makan. Jika tidak mencuci tangan akan semakin besar kesempatan
masuknya kuman penyakit ke dalam tubuh pada anak-anak yang tidak selalu
mencuci tangan sebelum makan.
Berdasarkan tindakan yang diambil saat melihat teman jajan adalah
mayoritas responden akan jajan seperti biasa sebanyak 166 orang (43,4%),
diikuti tidak ikut jajan karena membawa bekal sebanyak 118 orang (30,8%), dan
akan ikut jajan sebanyak 99 orang (25,8%).
Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas gambaran perilaku jajan pada
murid SD di beberapa SD di kota Medan tahun 2010 adalah cukup sejumlah 329
orang (85,9%), diikuti perilaku kurang sejumlah 48 orang (12,5%), dan baik
sejumlah enam orang (1,6%).
Responden yang memiliki perilaku cukup sebanyak 329 orang, terdiri atas:
berdasarkan jenis kelamin, yaitu 170 orang perempuan (51,7%) dan 159 orang
laki-laki (48,3%); berdasarkan jumlah uang jajan dalam sehari yaitu 193 orang
(58,6%) yang memiliki uang jajan kurang dari Rp 5.000,00, 119 orang (36,2%)
yang memiliki uang jajan Rp 5.000,00 – Rp 10.000,00, 17 orang (5,2%) yang
memiliki uang jajan lebih dari Rp 10.000,00. Berdasarkan lama menonton
televisi mayoritas responden berperilaku cukup terdiri atas 158 orang (48,0%)
yang menonton televisi selama 2-3 jam dalam sehari, diikuti 115 orang (35,0%)
yang menonton televisi selama kurang dari dua jam setiap hari, 56 orang
(17,0%) menonton televisi lebih dari dari 3 jam dalam sehari. Berdasarkan
alasan jajan, responden yang berperilaku cukup terdiri atas 202 orang (61,4%)
jajan karena tidak sarapan pagi, 71 orang (21,6%) jajan karena ajakan teman
sebaya, dan 56 orang (17,0%) jajan karena iklan di televisi. Berdasarkan
(70,8%) yang selalu sarapan pagi, 77 orang (23,4%) yang kadang-kadang
sarapan pagi, dan 19 orang (5,8%) yang tidak pernah sarapan pagi sebelum
berangkat ke sekolah.
Responden yang memiliki perilaku kurang adalah sebanyak 48 orang,
terdiri atas: berdasarkan jenis kelamin, yaitu 35 orang (72,9%) laki-laki dan 13
orang (27,1%) perempuan; berdasarkan jumlah uang jajan setiap hari, yaitu 28
orang (58,3%) memiliki jumlah uang jajan kurang dari Rp 5.000,00, 18 orang
(37,5%) memiliki uang jajan Rp 5.000,00-Rp 10.000,00, dan dua orang (4,2%)
memiliki uang jajan lebih dari Rp 10.000,00 setiap hari. Berdasarkan lama
menonton televisi, mayoritas responden yang berperilaku kurang, terdiri atas 20
orang (41,7%) menonton televisi selama 2-3 jam, 18 orang (37,5%) menonton
televisi selama kurang dari 2 jam, dan 10 orang (20,8%) menonton televisi
selama 3 jam setiap hari. Berdasarkan alasan jajan, responden yang berperilaku
kurang terdiri atas 19 orang (39,6%) jajan karena iklan di televisi, 15 orang
(31,2%) jajan karena ajakan teman, dan 14 orang (29,2%) jajan karena tidak
sarapan pagi. Berdasarkan kebiasaan sarapan pagi, responden yang berperilaku
kurang terdiri atas 29 orang (60,4%) yang selalu sarapan pagi, 13 orang (27,1%)
yang kadang-kadang sarapan pagi, 6 orang (12,5%) yang tidak pernah sarapan
pagi sebelum berangkat ke sekolah.
Responden yang memiliki perilaku baik adalah sebanyak enam orang,
terdiri atas: berdasarkan jenis kelamin yaitu 5 orang (83,3%) perempuan dan 1
orang (16,7%) laki-laki; berdasarkan jumlah uang jajan yaitu 4 orang (66,7%)
yang memiliki jumlah uang jajan kurang dari Rp 5.000,00 dan 2 orang (33,3%)
yang memiliki jumlah uang jajan Rp 5.000,00-Rp 10.000,00; berdasarkan
lamanya menonton televisi terdiri atas 3 orang (50,0%) yang menonton televisi
selama kurang dari 2 jam, 2 orang (33,3%) yang menonton televisi selama 2-3
jam, dan 1 orang (16,7%) menonton televisi lebih dari 3 jam setiap hari;
berdasarkan alasan jajan terdiri atas 6 orang (100%) yang jajan karena tidak
sarapan pagi; berdasarkan kebiasaan sarapan pagi terdiri atas 5 orang (83,3%)
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan tidak ada hubungan antara sarapan
pagi dengan perilaku jajan murid SD. Hal ini disebabkan sebagian responden
membawa bekal jika tidak sempat sarapan pagi di rumah.
Berdasarkan hasil penelitian terdapat hubungan antara pengaruh teman
sebaya dengan perilaku jajan murid SD. Pada fase Middle Childhood, hubungan
anak dengan temannya akan diisi oleh pengalaman dan cara pandang yang sama.
Karena dengan memiliki pengalaman dan cara pandang yang sama akan
membuat hubungan hubungan pertemanan semakin erat, yang pada akhirnya
akan membentuk identitas kelompok mereka (Bradbury,1998).
Berdasarkan hasil penelitian, terdapat hubungan antara alasan jajan dengan
perilaku jajan, ditemukan anak yang jajan karena alasan tidak sarapan pagi
memiliki perilaku yang lebih baik dibandingkan dengan alasan jajan karena
teman dan iklan di televisi.
Berdasarkan hasil penelitian, tidak ada hubungan antara jumlah uang jajan
dengan perilaku jajan murid SD. Hal ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan dan
prioritas masing-masing murid.
Berdasarkan hasil penelitian, tidak didapatkan hubungan antara lamanya
menonton televisi dengan perilaku jajan. Karena walaupun semakin lama
menonton televisi, tetapi jika tidak pada jam yang mengiklankan makanan
jajanan, tentu tidak akan mempengaruhi perilaku jajan pada murid SD. Karena
iklan di televisi setiap jam-nya akan berubah sesuai dengan target konsumennya.
Berdasarkan jenis kelamin, hasil penelitian ini menunjukkan terdapat
hubungan antara jenis kelamin dengan perilaku jajan. Pada dasarnya, laki-laki
lebih sering bermain permainan yang membutuhkan aktivitas fisik, sedangkan
perempuan lebih menyukai permainan yang menggunakan kata-kata atau
menghitung dengan kuat. Dibandingkan dengan perempuan, laki-laki lebih
banyak menghabiskan waktu untuk berolahraga, sedangkan perempuan lebih
suka menghabiskan waktu untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, belajar,
dan perawatan diri (Juster et al, 2004 dalam Papalia et al, 2007). Jadi, laki-laki
lebih banyak menghabiskan tenaga, sehingga membuat mereka lebih lapar
mengganti tenaga yang telah habis saat bermain. Selain itu, perempuan lebih
suka belajar dibandingkan laki-laki sehingga membuat pengetahuan perempuan
lebih baik tentang makanan jajanan daripada laki-laki. Hal ini menyebabkan
perilaku jajan pada laki-laki lebih buruk dibandingkan perilaku jajan pada
perempuan.
Berdasarkan umur, tidak terdapat hubungan antara umur dan perilaku
jajan. Berdasarkan teori Life Span, perkembangan manusia terbagi atas:
1. Childhood, terbagi atas:
• Neonatal periode : the newborn
• Infancy : umur 2 minggu sampai 2 tahun • Early Childhood : 2 – 7 tahun
• Middle Childhood: 7 – 12 tahun
2. Adolescent : 12 – 17 tahun
3. Adulthood
• Early Adulthood : 17-45 tahun • Middle Adulthood : 40-65 tahun • Later Adulthood : 65 tahun ke atas (Lahey, 2004)
Umur responden terbanyak berkisar 8-12 tahun, di mana mereka masih dalam
tahap perkembangan yang sama yaitu Middle Childhood, sehingga
perkembangan perilaku mereka pun tidak jauh berbeda satu sama lain. Sehingga
perilaku jajan mereka pun tidak menunjukkan suatu perbedaan yang signifikan.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Dari uraian-uraian yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dalam