EVALUASI PROGRAM
BAITULMAAL WA TAMWIL AR-RIDHO
DALAM PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT
DI KELURAHAN PISANGAN KECAMATAN CIPUTAT TIMUR
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Sosial Islam
Oleh
Fanny Nur Oktaviana
105054002042
JURUSAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
EVALUASI PROGRAM
BAITULMAAL WA TAMWIL AR-RIDHO
DALAM PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT
DI KELURAHAN PISANGAN KECAMATAN CIPUTAT TIMUR
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Sosial Islam
Oleh
Fanny Nur Oktaviana
NIM 105054002042
Di Bawah Bimbingan
Nurul Hidayati M. Pd
NIP 19622199603 2 001
JURUSAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
PENGESAHAN PANITIA UJIAN
Skripsi ini berjudul Evaluasi Program Baitul Maal Wa Tamwil Ar-Ridho Dalam
Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Di Kelurahan Pisangan Kecamatan Ciputat Timur
telah di ujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta pada 15 Maret 2010.
Skripsi ini telah diterima sebagai syarat memperoleh gelar Sarjana Sosial Islam
(S.Sos.I) pada Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam.
Jakarta, 15 Maret 2010
SIDANG MUNAQASAH
Ketua Sidang,
Dr. Arief Subhan, MA
NIP. 196601101993031 004
Sekretaris Sidang,
Wati Nilamsari, M. Si
NIP.197105201999032 002
Anggota,
Penguji I,
Drs. Helmi Rustandi, MA
NIP. 196012081988031 005
Penguji II,
Dra. Mahmudah F. M. Pd
NIP. 196402121997032 001
Pembimbing,
Nurul Hidayati, M. Pd
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu
persyaratan memperoleh Strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penelitian ini telah saya cantumkan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau
merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi
yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ciputat, Maret 2010
Fanny Nur Oktaviana
ABSTRAK
Evaluasi Program Baitulmaal Wa Tamwil Ar-Ridho Dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Di Kelurahan Pisangan Kecamatan Ciputat Timur
Kemiskinan selalu menjadi masalah paling aktual dan sangat serius yang menuntut segera dicarikan jalan keluarnya. Berawal pada krisis ekonomi pada tahun 1997, seakan menghasilkan deretan kesengsaraan yang belum berakhir hingga saat ini. Kemiskinan melahirkan banyak masalah lainnya seperti meningkatnya kesenjangan sosial dan berbagai masalah mengenai kesejahteraan masyarakat. Perubahan paradigma pemerintah Goverment menjadi Governance ternyata itu saja tidak cukup, karena pada realitanya, hal itu selalu berbenturan dengan prosedur-prosedur pemerintah yang kenyataannya menjadi penghambat program yang akan dilakukan kepada masyarakat sasaran. Maka demikian, banyak para cendekiawan, aktifis dan stake holder yang mulai resah akan perubahan yang terjadi pada realita masyarakat tersebut, maka munculah satu formulasi baru dari para pemikir-pemikir tersebut, yaitu dengan pengembangan masyarakat, atau biasa disebut lembaga non pemerintah atau LSM. Hingga kini LSM semakin marak di masyarakat. Baitul Maal Wa Tamwil (BMT) adalah salah satu lembaga Islam yang fokus kepada pengembangan masyarakat.
BMT Ar-Ridho pada Program Simpan Pinjam Mudharabah menjadi salah satu alat dalam melakukan da’wah bil hal, sekaligus melakukan kegiatan pengembangan masyarakat khususnya dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dalam menjalankan kegiatannya, BMT Ar-Ridho sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat melakukan pendampingan terhadap masyarakat sasaran tersebut, agar program berjalan sesuai rencana, terstruktur dan menghasilkan pencapaian yang sesuai dengan rencana. Apakah program itu berhasil mencapai tujuannya, apakah program itu membawa pengaruh kepada para nasabahnya, dan hasil jangka panjang apa yang akan dihasilkan dari program BMT Ar-Ridho tersebut. Ini menjadi menarik, karena BMT yang notabenenya adalah lembaga dakwah, yang berlokasi ditengah-tengah antar komplek perumahan kelas menengah keatas dengan yang berekonomi rendah, tetapi bisa menjadi lembaga non pemerintah yang membantu masyarakat dalam bidang ekonomi khususnya permodalan usaha dengan menegakan sistim syariah Islam yaitu tanpa bunga yang sebelumnya marak di Kelurahan Pisangan Kecamatan Ciputat ini.
Atas dasar pemaparan diatas, peneliti bermaksud meneliti evaluasi program pada Program Simpan Pinjam Mudharabah yang dilakukan BMT Ar-Ridho Kelurahan Pisangan Kecamatan Ciputat. Adapun teori yang dipilh oleh metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Untuk mendapatkan keabsahan pada data, peneliti melakukan wawancara kepada tiga pengurus BMT Ar-Ridho dan lima nasabah dari Program Simpan Pinjam Mudharabah BMT Ar-Ridho. Selain itu untuk memperkuat data yang diperoleh dari hasil wawancara para subjek peneliti, peneliti pun melakukan wawancara dengan informan. Guna dari informan ini adalah untuk mengkroscek kebenaran dari jawaban para subjek peneliti.
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Bagi Indonesia, masalah kemiskinan selalu merupakan masalah paling aktual dan
sangat serius yang menuntut segera dicarikan jalan keluarnya. Berawal pada krisis ekonomi
pada tahun 1997, seakan menghasilkan deretan kesengsaraan yang belum berakhir hingga
saat ini. Ternyata krisis ekonomi pun melanda negara-negara bagian lainnya, tak terkecuali
negara-negara berkembang. Di banyak Negara dunia ketiga, struktur sosial masing-masing
lapisan masyarakat berkembang kearah yang berlawanan. Hal ini mengakibatkan semakin
lebarnya jurang kaya-miskin. Fenomena ini disebut “Enttwicklung der Unterentwicklung”
(perkembangan negatif)1.
Selain kemiskinan, Negara kita pun dihadapkan dengan beberapa masalah yang
lainnya, seperti kesenjangan sosial dan berbagai masalah mengenai kesejahteraan
masyarakat. Tidak dapat dipungkiri, hal ini pun terlahir berawal dari kemiskinan. Manusia
hidup sarat dengan persoalan yang tidak henti-hentinya dihadapi, yaitu persoalan ekonomi.
Waktu sebahagian dari persoalan-persoalan ekonomi dapat diatasi, timbul lagi persoalan yang
lainnya. Pada awal peradaban manusia, kebutuhan ini terbatas dan bersifat sederhana. Tapi
dengan semakin majunya tingkat peradaban, makin banyak dan makin bervariasi pula
kebutuhan manusia2. Dengan meningkatnya kemiskinan dan kesenjangan masyarakat yang semakin signifikan, pemerintah mulai melakukan pergeseran paradigma pada tata
pengelolaan pemerintah, yaitu perubahan Government menjadi governance. Dimana dalam
menentukan sebuah kebijakan, pemerintah lebih menekankan dan meluaskan partisipatif, ini
biasanya disebut organisasi pemerintah . Tapi itu saja tidak cukup, karena pada realitanya, hal
1 Rudolf H. Strahm, Kemiskinan Dunia Ketiga (Menalaah Kegagalan Pembangunan di Negara
Berkembang), PT. Pustaka CIDESINDO, h. 1
2
itu selalu berbenturan dengan prosedur-prosedur pemerintah yang kenyataannya menjadi
penghambat program yang akan dilakukan kepada masyarakat sasaran. Maka dari hal
tersebut, banyak para cendekiawan, aktifis dan stake holder yang mulai resah akan perubahan
yang terjadi pada realita masyarakat tersebut, maka munculah satu formulasi baru dari para
pemikir-pemikir tersebut, yaitu dengan pengembangan masyarakat. Mereka biasa disebut
organisasi non pemerintah, atau biasa disebut Non Goverment Organization (NGO) atau
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Pengembanagan masyarakat (community
development) mempunyai arti diantara dua istilah, yaitu diantara istilah social welfare
(kesejahteraan sosial), dan social work (pekerjaan sosial). Kesejahteraan sosial merujuk
kepada upaya untuk meningkatkan kehidupan yang layak, sementara pekerjaan sosial lebih
merujuk pada profesi dalam upaya membantu masyarakat melakukan perubahan,
memperbaiki kehidupannya atau memecahkan persoalan hidup dan hubungan manusia untuk
meningkatkan kehidupan mereka. Keberadaan hidup yang lebih baik ini pulalah yang
menjadi perhatian pengembangan masyarakat3. Dalam selang waktu beberapa tahun saja, jumlah NGO meningkat secara signifikan. Banyak lembaga Islam pun akhirnya mendirikan
NGO yang berbasiskan Islam. Salah satunya adalah Baitul Mall Watamwil (BMT). BMT
adalah balai usaha mandiri terpadu yang isinya berintikan bayt al-mal wa al-tamwil dengan
kegiatan mengembangkan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas
kegiatan ekonomi pengusaha kecil bawah dan kecil antara lain mendorong kegiatan
menabung dan menunjang pembiayaan kegiatan ekonominya4. Sama seperti da’wah Islam, dalam idiom da’wah, dikenal da’wah bil kalam dan da’wah bil hal. Apabila da’wah bil lisan
itu muncul dalam bentuk ceramah, diskusi, dll. Maka Da’wah bil hal muncul dalam bentuk
3
Kusmana, Bunga Rampai Islam dan Kesekahteraan Sosial, IAIN Indonesian Social Equity Project 2006, h. 88
4 Prof. H. A. Djazuli dan Drs. Yadi Janwari, M. Ag, Lembaga-Lembaga Perekonomian Umat Sebuah
aksi seperti kegiatan masyarakat5. BMT menjadi salah satu alat dalam melakukan da’wah bil hal, sekaligus melakukan kegiatan pengembangan masyarakat khususnya dalam
pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Dalam tahapan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat, ada yang disebut
pendampingan masyarakat. Pendampingan masyarakat itu dilakukan oleh para pendamping
masyarakat. Pendamping masyarakat adalah para fasilitator dari LSM yang berperan dalam
menumbuhkan kesadaran, pembimbing, pengajar, dan pembaharu dalam membimbing segala
program yang ditawarkan oleh LSM. Dan yang menjadi tolak ukur keberhasilan dari program
pemberdayaan tersebut adalah apakah dalam menjalankan program tersebut, pendampingan
terhadap masyarakat itu mengahasilkan hubungan yang sinergis antara keberhasilan
pendampingan dan hasil akhir dari usaha program lembaga tersebut. Tentunya dalam
menjalankan itu semua, perlu dilakukan sebuah evaluasi program sebagai tahapan
pengembangan masyarakat. Evaluasi program dalam pengembangan masyarakat biasa di bagi
menjadi tiga, yaitu evaluasi input, proses, dan output. Evaluasi program ini sangat dibutuhkan
dalam pelaksanaan pengembangan masyarakat. Mengapa demikian, hal ini dikarenakan
dalam upaya agar penggerakan dan pemberdayaan masyarakat ini dapat berhasil daya dan
berhasil guna sehingga dapat mewujudkan tujuan yang telah direncanakan pada setiap
tahapannya.
Berdasarkan pemaparan diatas, penulis bermaksud mengadakan suatu penelitian
ilmiah guna mengetahui bagaimana aplikasi dari salah satu tahapan pelaksanaan dalam
manajemen pengembangan masyarakat yang diterapkan pada BMT yang dapat kita
kategorikan sebagai lembaga dakwah yang bergerak di ekonomi umat yang juga sebagai
salah satu lembaga yang konsen dalam bidang pengembangan masyarakat warga sekitar
kelurahan pisangan ciputat, sekaligus membantu mereka dalam memberdayakan ekonomi
5
Drs. Yusra Kilun M.Pd, Pengantar Editor dalam buku Pengembangan Komunitas Muslim:
mereka sendiri. maka penulis meninjau perlunya penelitian yang lebih mendalam mengenai
bagaimana pelaksanaan evaluasi program pada lembaga BMT dalam mencapai tujuannya
yaitu memberdayakan masyarakat sekitar secara efektif dan efisien, untuk mencapai tujuan
tersebut penulis menuangkannya dalam skripsi dengan judul “EVALUASI PROGRAM BAITULMAAL WA TAMWIL AR-RIDHO DALAM PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT DI KELURAHAN PISANGAN KECAMATAN CIPUTAT TIMUR”.
B. PEMBATASAN DAN PERUMUSAN MASALAH
1. Pembatasan Masalah
Dengan melihat latar belakang di atas, penelitian ini dibatasi pada Evaluasi pada
Program Baitulmaal Wa Tamwil Ar-Ridho Dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat di
Kelurahan Pisangan Kecamatan Ciputat Timur. Evaluasi program tersebut fokus kepada
masalah evaluasi hasil (out put) Program Simpanan Mudharabah pada BMT Ar-Ridho.
2. Perumusan Masalah
Dalam penelitian ini rumusan masalah yang penulis buat adalah sebagai berikut:
a. Tujuan-tujuan manakah yang sudah di capai oleh BMT Ar-Ridho dan masyarakat
di wilayah Ciputat dari adanya Program Simpan Pinjam Mudharabah?
b. Apakah Program Simpan Pinjam Mudharabah BMT Ar-Ridho dan masyarakat di
wilayah Ciputat berpengaruh kepada peningkatan ekonomi masyarakat peminjam?
c. Kebutuhan individu manakah yang telah terpenuhi sebagai akibat dari Program
Simpan Pinjam Mudharabah BMT Ar-Ridho dan masyarakat di wilayah Ciputat?
d. Hasil jangka panjang apakah yang nampak sebagai akibat dari kegiatan Program
C. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
1. Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hasil atau output Program
Simpan Pinjam Mudharabah BMT Ar-Ridho dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat
Kelurahan Pisangan Kecamatan Ciputat.
Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan :
a. Untuk mengetahui tujuan-tujuan apa saja yang sudah di capai oleh BMT Ar-Ridho
dan masyarakat di wilayah Ciputat dengan adanya Program Simpan Pinjam
Mudharabah tersebut
b. Untuk mengetahui apakah Program Simpan Pinjam Mudharabah BMT Ar-Ridho
dan masyarakat di wilayah Ciputat berpengaruh terhadap peningkatan ekonomi
masyarakat peminjam
c. Untuk mengetahui kebutuhan individu manakah yang telah terpenuhi sebagai
akibat dari kegiatan Program Simpan Pinjam Mudharabah BMT Ar-Ridho dan
manstarakat sekitar wilayah Ciputat
d. Hasil jangka panjang apakah yang nampak sebagai akibat dari kegiatan Program
Simpan Pinjam Mudharabah BMT Ar-Ridho dan masyarakat di wilayah Ciputat
2. Manfaaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitan ini adalah sebagai berikut:
1) Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk mendapatkan temuan tentang
tingkat keberhasilan BMT Ar-Ridho dalam mengentaskan kemiskinan
2) Dapat dijadikan evaluasi tingkat keberhasilan dan tingkat kegagalan bagi
BMT Ar-Ridho dan masyarakat wilayah Ciputat terhadap Program Simpan
Pinjam Mudharabah yang telah dijalankan selama ini
b. Manfaat Akademis
1) Dapat memperkaya pengalaman sekaligus menerapkan ilmu yang di dapat
selama berada di bangku kuliah
2) Menambah khazanah penelitian, model dan objek penelitian mahasiswa
jurusan khususnya dalam bidang Pengembangan Masyarakat.
D. METODOLOGI PENELITIAN
1. Pendekatan
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yaitu
pendekatan yang digunakan karena beberapa pertimbangan yaitu bersifat luwes, tidak terlalu
rinci, tidak lazim mengidentifikasikan suatu konsep, serta memberi kemungkinan bagi
perubahan-perubahan manakala ditemukan fakta yang lebih mendasar, menarik, dan unik
bermakna di lapangan.6
Pertimbangan penulis menggunakan pendekatan kualitatif, karena penulis bermaksud
meneliti secara mendalam, menyajikan data secara akurat, dan menggambarkan kondisi
sebenarnya secara jelas.
2. Waktu dan Tempat Penelitian
6
Penelitian ini dilakukan terhitung mulai bulan November sampai dengan Februari
2009. Adapun penelitian ini dilakukan di wilayah ciputat, khususnya di Kelurahan Pisangan.
3. Subjek dan Objek Penelitian
Dalam penelitian ini, yang menjadi subjek penelitian adalah pengurus BMT Ar-Ridho
dan nasabah Program Simpan Pinjam Mudharabah BMT Ar-Ridho. Dan objeknya adalah
evaluasi program Baitulmaal Wa Tamwil Ar-Ridho dalam pemberdayaan ekonomi
masyarakat di Kelurahan Pisangan Kecamatan Ciputat Timur. Dalam memilih subjek dalam
penelitian ini, penulis menggunakan pengambilan sample berdasarkan tujuan (purposive
sampling). Dalam tekhnik ini, siapa yang akan diambil sebagai anggota sample diserahkan
pada pertimbangan pengumpul data yang menurutnya sesuai dengan maksud dan tujuan
penelitaian.7.
4. Model Evaluasi
Dalam penelitian ini penulis menggunakan model evaluasi hasil. Dengan model
evaluasi hasil ini penulis berasumsi bahwa penulis akan mengetahui tujuan-tujuan manakah
yang telah di capai BMT Ar-Ridho dan masyarakat wilayah Ciputat dengan adanya Program
Simpan Pinjam Mudharabah.
5. Sumber data
Dalam melakukan penelitian ini, ada beberapa sumber data yang didapat oleh penulis
dalam menunjang data sebelumnya di dapat, sehingga penelitian ini mendapatkan data yang
valid, diantaranya:
a. Data Primer
7 DR. Soehartono Irawan, Metode Penelitian Sosial, Suatu Teknik Penelitian Bidang Kesos dan Ilsos
Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari subjek peneliti dan informan dalam hal ini adalah pengurus BMT Ar-Ridho, nasabah BMT Ar-Ridho, ketua RT dari nasabah BMT Ar-Ridho yang menjadi subjek peneliti, dan tetangga dari subjek peneliti.
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari buku-buku dan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan penelitian ini. Dalam hal ini data sekunder diperoleh dari jurnal BMT Ar- Ridho, data monografi kelurahan Pisangan-Ciputat.
6. Instrumen Penelitian
Dalam penulisan skripsi ini, yang menjadi instrumen adalah penulis sendiri. Penulis menjadi media yang membantu dalam pengolahan data dan penganalisisan data melalui wawancara, karena dalam penelitian kualitatif sifatnya adalah penelitan yang mendalam.
7. Teknik Pencatatan Data
a. Pengamatan (observation)
Untuk memperoleh data, penulis melakukan pengamatan dengan berperan serta
(Participant Observer) terhadap objek penelitian lapangan. Pengamatan berperan
serta adalah proses peneliti yang mempersyaratkan interaksi sosial antara peneliti
dengan tineliti dalam lingkungan tineliti sendiri.8 b. Wawancara
8 MT. Felix Sitorus, Penelitian Kualitatif Suatu Perkenalan, (Bogor: Kelompok Dokumentasi Ilsos
Wawancara adalah metode pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab
secara langsung antara dua orang atau lebih, antara penulis dengan responden
terpilih.
c. Dokumentasi
Dokumentasi adalah data pendukung yang memperkuat data primer yang di dapat
dari sumber data yang berupa dokumentasi dan laporan
8. Teknik Analisis Data
Informasi dan keterangan yang ditemukan dalam penelitian ini adalah dengan
menggunakan teknik analisis Taksonomik. Teknik Analisis Taksonomik adalah teknik
analisis yang terfokus pada domain-domain tertentu, kemudian memilih domain tersebut
menjadi sub-sub domain serta bagian-bagian yang lebih khusus dan terperinci yang umumnya
merupakan rumpun yang memiliki kesamaan.9 Teknik Taksonomik ini akan menghasilkan hasil analisis yang terbatas pada satu domain, dalam hal ini adalah evaluasi hasil. Teknik ini
memiliki kelebihan karena memberikan gambaran tentang suatu fenomena lebih rinci
kemudian di analisis sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian untuk selanjutnya
disajikan dalam bentuk Bab III dan Bab IV.
Selanjutnya penyusunan skripsi ini dilaksanakan dengan mengacu pada buku
Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis dan Disertasi yang diterbitkan oleh UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta tahun 2007.
9. Tekhnis keabsahan data
h.68
Burhan Bungin dalam bukunya penelitian kualitatif mengatakan bahwa dalam
melakukan penelitian kualitatif seringkali menghadapi persoalan dalam pengujian keabsahan
hasil penelitian, hal ini dikarenakan banyak hal, yaitu karena; (1) subjektifitas peneliti
merupakan hal yang dominan dalam penelitian kualitatif, (2) alat penelitian yang diandalkan
adalah wawancara dan observasi (apapun bentuknya) mengandung banyak kelemahan ketika
dilakukan secara terbuka dan apalagi tanpa kontrol (dalam observasi partisipatif), (3) sumber
data kualitatif yang kurang credibel akan mempengaruhi hasil akurasi penelitian.10 Oleh sebab itu, hendaknya seperti yang telah dijelaskan oleh Lexy J. Moleong dalam bukunya
Metodologi Kualitatif, dalam menentukan keabsahan data adalah dengan melakukan
triangulasi. Triangulasi adalah tekhnik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan
sesuatu yang lain. Di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding
terhadap data itu.11
Pendapat serupa lebih dikembangkan oleh Burhan Bungin yang menyatakan bahwa
yang menjadi pembanding dalam melakukan triangulasi data yang sedang di teliti adalah
sebagai berikut :
a. Triangulasi Kejujuran Peneliti
Perlu diketahui, sebagai manusia peneliti seringkali merusak kejujurannya ketika
pengumpulan data (wawancara), yang dilakukannya secara sadar maupun tidak
sadar. Terlalu melepas pendapat subjektifitasnnya tanpa kontrol bahkan
melakukan rekaman yang salah dalam lapangan. Ini jelas merusak atau
mengurangi keabsahan data. Oleh sebab itu perlu dilakukan triangulasi terhadap
peneliti, yaitu dengan wawancara ulang, merekam data yang sama di lapangan,
bahkan peneliti dapat meminta tolong kepada peneliti lain untuk melakukan
pengecekan langsung.
10
Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya, (Jakarta: Kencana, 2009) h.
11
b. Triangulasi dengan Sumber Data
Menurut Burhan Bungin dalam bukunya yang sama mengutip kepada Moleong
menyatakan bahwa triangulasi dengan sumber data adalah: (1) membandingkan
data hasil pengamatan dengan hasil wawancara, (2) membandingkan apa yang
dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi, (3)
membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan
apa yang dikatakan sepanjang waktu, (4) membandingkan keadaan dan perspektif
seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang lain seperti rakyat
biasa, orang yang berpendidikan menengah atau tinggi, orang yang berada dan
orang pemerintahan, (5) membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu 12.
E. TINJAUAN PUSTAKA
Sepengetahuan penulis, belum ada penelitian mengenai evaluasi program pada BMT,
tetapi ada dua penelitian mengenai BAITUL MAAL WATAMWIL, dan dua penelitian
mengenai EVALUASI PROGRAM dengan spesifikasi evaluasi out put atau evaluasi hasil
yang dilakukan oleh mahasiswa terdahulu, untuk mengetahui materi penelitiannya, dibawah
ini di uraikan sebagai berikut:
a. Judul skripsi, “Peranan BMT Al-Fath dalam Pengembangan Ekonomi Masyarakat
Melalui Penyaluran Dana Mudharabah di Kedaung-Ciputat”, penulis Dede
Masfufah, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Jurusan Pengembangan Masyarakat
Islam 2002. Berbeda dengan penelitian tersebut, objek penelitian penulis
membahas mengenai evaluasi program sedangkan subjeknya adalah BMT Ar
Ridho di Kelurahan Pisangan Ciputat.
12
b. Judul Skripsi, “Evaluasi Program Deteksi Dini Kanker Payudara Melalui
Pemeriksaan Klinis Dengan Melibatkan Bidan, Kolaborasi Yayasan YAPPIKA
(Yayasan Penguatan Partisipasi, Inisiatif, dan Kemitraan Masyarakat Indonesia) di
Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Skripsi ini ditulis oleh Fahminudin, mahasiswa
Fakultas Dakwah dan Komunikasi jurusan Pengembangan Masyarakat Islam.
Yang membedakan penelitian yang dilakukan oleh penulis dengan penelitian
tersebut adalah batasan masalanya, penulis sebelumnya membatasi masalahnya
hanya pada evaluasi input dan proses, sedangkan penulis membatasi masalah
hanya kepada evaluasi output atau hasil.
c. Judul Skripsi “Evaluasi Hasil Program Simpan Pinjam Koperasi Pengusaha dan
Pedagang Pasar Parung (K.P4) dalam Pengembangan Ekonomi Masyarakat”, yang
ditulis oleh Calim Saputra, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Jurusan
Pengembangan Masyarakat Islam. Penelitian ini sama dalam objeknya, namun
berbeda dengan subjek yang penulis teliti.
d. Judul Skripsi “Evaluasi ProgramYayasan Lima Belas Juli (YALIJU) Dalam
Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Kelurahan Sawangan Lama-Depok,
penulis Anita Zahra, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Jurusan Pengembangan
Masyarakat Islam. Penelitian ini sama dalam objeknya, namun berbeda dengan
subjek yang penulis teliti.
F. SITEMATIKA PENULISAN
Dalam menyusun skripsi ini, penyusun akan menuliskannya ke dalam bab-bab yang
BAB I merupakan bab pendahuluan yang diawali dari latar belakang masalah,
pembatasan dan perumusan masalah; tujuan dan manfaat penelitian; metodologi penelitian;
tinjauan pustaka; dan sistematika penulisan.
BAB II menjelaskan kerangka teoritis mengenai evaluasi program, pengertian
evaluasi, model evaluasi, dan tujuan dan kegunaan evaluasi; Baitul Maal Watamwil,
pengertian baitul maal watamwil, ruang lingkup atau bentuk-bentuk program baitul maal;
pemberdayaan ekonomi, pengertian pemberdayaan, pengertian pemberdayaan ekonomi
masyarakat.
BAB III gambaran umum tentang BMT AR-RIDHO yang meliputi sejarah
berdirinya; visi, misi dan tujuan; struktur organisasi; dan program kerja.
BAB IV merupakan temuan dan analisis yang mengandung secara garis besar
mengenai evaluasi program simpan mudharabah pada BMT Ar-Ridho Pisangan Ciputat, yang
meliputi Evaluasi pelaksanaan program, evaluasi pada tahap penentuan nasabah (input),
evaluasi pada tahap akad dan perjanjian (proses), evaluasi terhadap Program Simpan Pinjam
Mudharabah (hasil); tolak ukur keberhasilan program.
BAB V merupakan penutup dari penelitian ini, yang di dalamnya di uraikan mengenai
kesimpulan dan serta saran-saran.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. EVALUASI PROGRAM
1. Pengertian Evaluasi
Secara Etimologi, evaluasi artinya penilaian, sehingga mengevaluasi artinya
memberikan penilaian atau menilai.13 Sedangkan menurut Ralph Tyler yang di kutip oleh Farida Yusuf Tayibnafis dalam bukunya Evaluasi Program mengemukakan bahwa evaluasi
ialah proses yang menentukan sejauh mana tujuan dalam setiap program dapat tercapai14. Sedangkan menurut Nurul Hidayati dalam bukunya yang berjudul Metodologi Penelitian
Dakwah, evaluasi memiliki pengertian mengkritisi suatu program dengan melihat
kekurangan, kelebihan, panda kontek, input, proses, dan produk pada sebuah program.15 Pendapat lain mengenai evaluasi program juga dikemukakan oleh Suharsini Arikunto
dalam bukunya yang berjudul Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan bahwasanya evaluasi
program adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sengaja untuk melihat
tingkat keberhasilan program.16
Dari pemaparan diatas, sudah jelas tergambar bahwasanya evaluasi adalah suatu tahap
atau langkah penilaian suatu kegiatan atas kegiatan yang telah dilakukan. Pada pendapat
Suharsini Arikunto bahkan lebih ditekankan kembali evaluasi adalah suatu penilaian pada
suatu program untuk mengukur tingkat keberhasilan program tersebut.
2. Model Evaluasi
13 Tim penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi kedua, (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), cet. Ke-
1
14
Farida Yusuf Tayibnafis, Evaluasi Program, (Jakarta: Rineke Cipta, 2000), h.2
15
Nurul Hidayati, Metodologi Penelitian Dakwah, UIN Jakarta Press, h. 124
Dalam melakukan evaluasi program, tentunya ada beberapa model evaluasi yang akan
digunakan. Dalam kaitan dengan kegiatan evaluasi, seperti telah disinggung terdahulu,
Pietrzak, Ramles, Ford dan Gilbert (1990: h.12-14; 45-47) mengemukakan tiga tipe evaluasi
guna mengawasi suatu program secara lebih seksama, yaitu evaluasi input (masukan),
evaluasi proses, dan evaluasi hasil.17
Walaupun memiliki cara pemaparan yang berbeda, pendapat ini pun (Pietrzak,
Ramles, Ford dan Gilbert) dikemukakan pula oleh pakar ilmu pengembangan masyarakat,
Isbandi Rukminto Adi dalam bukunya yang berjudul Pemberdayaan, Pengembangan
Masyarakat dan Intervensi Komunitas, beliau megemukakan bahwa istilah evaluasi memiliki
dua makna yang berbeda. Bila evaluasi muncul bersama pemantauan (monitoring) maka
evaluasi yang dimaksud adalah evaluasi hasil. Pengertian kedua dari kata evaluasi adalah jika
ia berdiri sendiri tanpa diikuti kata pemantauan, maka evaluasi di sini dapat berarti evaluasi
masukan (Input Evaluation), proses (Process Evaluation), dan evaluasi hasil (Outcome
Evaluation).18
Dari pemaparan diatas, maka dalam konteks ini, penulis akan menggunakan model
evaluasi program yang dikemukakan oleh Pietrzak, Ramles, Ford dan Gilbert seperti yang
sudah dipaparkan diatas. Oleh sebab itu, akan lebih baik jika penulis memaparkan secara
jelas mengenai evaluasi input, proses, dan hasil, sebagai berikut :
a. Evaluasi Input
Evaluasi input memfokuskan pada berbagai unsur yang masuk dalam suatu
pelaksana suatu progtam. Tiga unsur (variabel) utama yang terkait dengan evaluasi
input adalah klien, staf dan program. Pietrzak dan kawan-kawan (1990: h. 46; h.49)
menjelaskan bahwa variabel klien meliputi karakteristik demografi klien, seperti
susunan (konstelasi) keluarga dan beberapa anggota keluarga klien, seperti susunan
17 Isbandi Rukminti Adi, Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan Intervensi Komunitas,
(Jakarta, FEUI, 2003), edisi revisi, h. 189
(konstelasi) keluarga dan beberapa anggota keluarga yang ditanggung. Variabel staf
meliputi aspek demografi dari staf, seperti latar belakang pendidikan staf, dan
pengalaman staf. Sedangkan variabel program meliputi aspek tertentu, seperti lama
waktu layanan diberikan, dan sumber-sumber rujukan yang tersedia.
Dalam kaitan dengan evaluasi Input program, Pietrzak, et.al (1990:h.54)
mengemukakan empat kriteria yang dapat dikaji, baik sendiri-sendiri maupun secara
keseluruhan. Kriteria tersebut adalah: (1) tujuan dan objektif; (2) penilaian terhadap
komunitas; (3) standar dari suatu praktek yang terbaik’; dan (4) biaya per-unit
layanan.19
b. Evaluasi Proses
Evaluasi proses menurut Peitrzak et.al (1990: h.111-116) memfokuskan diri pada
aktivitas program yang melibatkan interaksi langsung antara klien dengan staf
‘terdepan’ (line staff) yang merupakan dari pusat pencapaian tujuan (objektif)
program. Tipe evaluasi ini diawali dengan analisis dari sistem pemberian layanan dari
suatu program. Dalam upaya mengkaji nilai komponen pemberian layanan, hasil
analisis harus dikaji berdasarkan kriteria yang relevan seperti “ ‘standar praktek
terbaik’ (Best Practice Standards), kebijakan lembaga, tujuan proses (Process Goals)
dan kepuasan klien.20
Pendapat lain mengenai evaluasi proses dikemukakan oleh Elly Irawan.dkk
bahwasanya evaluasi ini dilakukan untuk menilai bagaimana proses kegiatan yang
telah dilaksanakan telah sesuai dengan rencana yang telah dirumuskan.21 c. Evaluasi Hasil
19
Ibid, h. 189
20
Ibid, h. 189-190
Menurut Isbandi Rukminto Adi dalam buku Pemberdayaan, Pengembangan
Masyarakat, evaluasi hasil ini diarahkan pada keseluruhan dampak dari suatu
program terhadap penerima (masyarakat peserta program) sehingga pertanyaan utama
pada evaluasi ini adalah :
1. Kapan suatu program bisa dikatakan telah berhasil mencapai tujuannya.
2. Bagaimana masyarakat akan menjadi berbeda setelah menerima bantuan program tersebut. Kriteria keberhasilan ini bisa mencakup :
a) Berorientasi pada program. Kriteria keberhasilan, pada umunya dikembangkan berdasarkan cakupan ataupun hasil dari suatu program. Misalnya presentase cakupan program terhadap populasi sasaran.
b) Berorientasi kepada masyarakat. Kriteria keberhasilan, pada umumnya dikembangkan berdasarkan pada perubahan prilaku masyarakat. Misaln ya munculn ya sikap kemandirian dan sebagainya.22
Sedangkan menurut pendapat Pietrzak et.al (1990: h. 14) evaluasi hasil diarahkan
pada evaluasi keseluruhan dampak (Overall Impact) dari suatu program terhadap penerima
layanan (Recipients). Pertanyaan utama yang muncul dalam evaluasi ini adalah bila suatu
program telah berhasil mencapai tujuannya, bagaimana penerima layanan akan menjadi
berbeda setelah ia menerima layanan tersebut? Berdasarkan pertanyaan ini seorang evaluator
akan mengkonstruksikan kriteria keberhasilan ini akan dapat dikembangkan sesuai dengan
kemajuan suatu program (berorientasi pada program) ataupun pada terjadinya perubahan
perilaku dari klien.23
3. Desain Evaluasi
22
Isbandi Rukiminto Adi, Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat, h.160
23
Desain penelitian ialah rencana dan struktur penyelidikan yang disusun sedemikian
rupa sehingga dapat memperoleh jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di dalam penelitian.
Rencana ini merupakan suatu skema menyeluruh yang mencakup program-progran
penelitian, memaparkan mengenai hal-hal yang dilakukan, dan menetapkan kerangka bingkai
bagi pengkajian relasi variabel-variabel yang diteliti.24
Jadi, desain penelitian ini memiliki fungsi untuk mengontrol dan mengendalikan
varian dalam membantu mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan peneliti agar tidak
terlalu melebar dan tetap terfokus kepada judul yang diangkat pada penelitian ini.
Tidak berbeda jauh dengan pendapat Pietrzak et.al mengenai model evaluasi, Nurul
Hidayati dalam bukunya Metodologi Penelitian Dakwah, menyatakan bahwa evaluasi CIPP
dikembangkan oleh Stufflebeam dan Shinkfield. CIPP merupakan singkatan dari Contect,
Input, Process, Product (kontek, input, proses, dan produk atau hasil). Stufflebeam
merumuskan evaluasi sebagai suatu proses menggambarkan, memperoleh, dan menyediakan
informasi untuk menilai alternatif keputusan.25
Desain yang dipakai oleh penulis adalah desain evaluasi CIPP (Contect, Input,
Process, Product), tetapi penulis hanya memfokuskan kepada indikator Product atau hasil.
Hal ini dilakukan agar penelitian tetap fokus sesuai dengan batasan masalah yang dikaji.
Evaluasi produk atau hasil digunakan untuk menolong keputusan selanjutnya, seperti apa
hasil yang telah dicapai, dan apa yang dilakukan setelah program berjalan.
4. Tujuan dan Kegunaan Evaluasi
Adapun tujuan evaluasi program menurut Edi Soeharto dalam bukunya yang berjudul
membangun masyarakat memberdayakan rakyat adalah sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi tingkat pencapaian tujuan.
24
Landung R. Simatupang, Asas-Asas Penelitian Behavioral, (Bandung: Gajah Mada University Press (UGM), 1990), h. 483
25
b. Mengukur dampak langsung yang terjadi pada kelompok sasaran.
c. Mengetahui dan menganalisis konsekuensi-konsekuensi lain yang mungkin
terjadi di luar rencana (externalities).26
Sedangkan menurut Isbandi Rukminto, dengan mengutip pendapat Feurstein (1990:
h.2-4) dalam bukunya yang berjudul pemberdayaan, pengembangan masyarakat,
bahwasanya sekalipun tidak secara langsung menyebut sebagai tujuan dari pelaksanaan
evaluasi, namun dia menyatakan ada 10 (sepuluh) alasan, mengapa suatu evaluasi perlu
dilakukan, yaitu:
a. Untuk melihat apa yang sudah dicapai
b. Melihat kemajuan, dikaitkan dengan objek (tujuan) program
c. Agar tercapai manajemen yang baik
d. Mengedintifikasikan kekurangan dan kelebihan, untuk memperkuat program
e. Melihat perbedaan yang sudah terjadi setelah diterapkan suatu program
f. Melihat apakah biaya yang telah dikeluarkan cukup rasionable
g. Untuk merencanakan dan mengelola kegiatan program secara lebih baik
h. Melindungi pihak lain agar tidak terjebak dalam kesalaham yang sama atau
mengajak pihak lain untuk melaksanakan metode yang serupa bila metode
tersebut telah terbukti berhasil dengan baik
i. Agar dapat memberikan dampak yang lebij luas, dan
j. Memberi kesempatan untuk mendapatkan masukan dari masyarakat.27
B. Baitul Maal Wa Tamwil
1. Pengertian Baitul Maal Wa Tamwil
26 Edi Suharto, membangun masyarakat memberdayakan rakyat, (Bandung, PT. Refika Aditama,
2005), cet. Ke-1, h.119
27
Isbandi Rukmonto, pemberdayaan, pengembangan masyarakat dan Intervensi Komunitas(Pengantar Pada
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia baitul mal berarti tempat penyimpan harta
benda atau rumah harta benda.28 Sedangkan dalam buku Ensiklopedia Hukum Islam, secara etimologis baitul mal ialah rumah harta dan baitul tamwil ialah rumah pembiayaan.29 Pendapat lain juga dikemukakan oleh Muhammad Ridwan dalam bukunya Manajemen Baitul
Maal Watanwil, pengertian Baitul Maal berarti rumah dana. Dan Baitul Tanwil berarti rumah
usaha. Baitul Maal dikembangkan berdasarkan sejarah perkembangannya, yakni dari masa
nabi sampai abad pertengahan perkembangan Islam, dimana Baitul Maal berfungsi untuk
mengumpulkan sekaligus mentasyarufkan dana sosial. Sedangkan Baitul Tamwil merupakan
lembaga bisnis yang bermotif laba.30
Dari beberapa definisi di atas, menurut penulis Baitul Maal Watamwil dapat diartikan
sebagai tempat, atau organisasi yang mewadahi sejumlah dana yang dialokasikan untuk hal
yang bersifat sosial. Seperti yang telah dikemukakan oleh Muhammad Ridwan dalam buku
yang sama (Manajemen Baitul Maal Watamwil) menyatakan bahwa Jika melihat BMT
sebagai organisasi yang berperan sosial, maka kita bisa melihat adanya kesamaan peran BMT
dengan Lembaga Amil Zakat (LAZ). LAZ adalah lembaga yang mewadahi dan
mengumpulkan dana zakat, infaq, sedekah, wakaf, dan sumber dana-dana sosial lain, dan
upaya pentasyarufan zakat kepada golongan yang paling berhak sesuai dengan ketentuan
asnabiah (UU No.38 Thn 1999).31
2. Peranan Baitul Maal Wa Tamwil Dalam Perekonomian Masyarakat
Heru wahyudi. SE dalam presentasinya yang memaparkan mengenai Ekonomi
Syariah menemukakan bahwa peranan BMT di bagi menjadi empat, yaitu :
28
Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), cet.ke 10 h.79
29
Tim Penyusun, Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta: PT Ichtiar Bari Van Hoeve, 1997, jilid 1, h.186
30
Muhammad Ridwan, Manajemen Baitul Maal Watamwil, ULI Press Yogyakarta, h.126
a. Penghimpun dan penyalur dana, dengan menyimpan uang di BMT, uang tersebut dapat ditingkatkan kualitasnya, sehingga timbul unit surplus (pihak yang memiliki dana berlebih) dan unit defisit (pihak yang kekurangan dana).
b. Pencipta dan pemberi likuiditas, dapat menciptakan alat pemba yaran yang sah yang mampu memberikan kemampuan untuk memenuhi kewajiban suatu lembaga/perorangan. c. Sumber pendapatan, BMT dapat menciptakan lapangan kerja dan memberi pendapatan
kepada para pegawainya.
d. Pemberi informasi, memberi informasi kepada masyarakat mengenai risiko keuntungan dan peluang yang ada pada lembaga tersebut.32
Pendapat lain yang dikemukakan oleh Hertanto Widodo, Ak., M. Asmeldi Firman,
Ak., dkk di dalam buku Panduan Praktis Operasional Baitul Maal Watamwil, bahwa BMT
memiliki peran yang kuat dalam sektor sosial diantara sektor lainnya (jasa keuangan dan
sektor riil). Mengapa demikian, karena dalam sektor sosial BMT, merupakan salah satu
kekuatan BMT karena berperan juga dalam pembinaan agama bagi para nasabah sektor jasa
BMT. Dengan demikian, pemberdayaan yang dilakukan BMT tidak terbatas pada sisi
ekonomi, tetapi juga dalam hal agama.33
Sedangkan menurut Muhammad Ridwan dalam bukunya yang berjudul Manajemen
Baitul Maal Watamwil, mengemukakan bahwa dalam rangka mencapai tujuannya, BMT
memiliki peran sebagai berikut :
a. Mengidentifikasi, memobilisasi, mengorganisasi, mendorong, dan mengembangkan potensi serta kemampuan potensi ekonomi anggota, kelompok anggota muamalat (pokusna) dan daerah kerjanya.
32
Slide show Heru wahyudi. SE, Ekonomi Syariah
33 Hertanto Widodo, Ak., M. Asmeldi Firman, Ak., Panduan Praktis Operasional Baitul Maal Watamwi, Mizan,
b. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia anggota dan pokusna menjadi lebih profesional dan islami sehingga semakin utuh dan tangguh dalam menghadapi persaingan global.
c. Menanggung dan memobilisasi potensi masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan anggota.
d. Menjadi perantara keuangan (Financial Intermediary), antara pemilik dana (Shohibul Maal), baik pemodal maupun penyimpan dengan penguna dana (Mudhorib) untuk pengembangan usaha produktif.34
Dari beberapa pendapat diatas, penulis melihat pemaparan yang berbeda, tetapi
diantaranya memiliki persamaan arti dan keterkaitan diantara ketiganya. Dan dari ketiga
pendapat para pakar tersebut dapat penulis artikan bahwa peran BMT adalah menjadi
lembaga atau organisasi yang memfasilitasi pihak yang memerlukan dana (nasabah) dalam
memberdayakan potensi yang dimiliki oleh nasabah tersebut dalam meningkatkan
kesejahteraannya. BMT pun bisa menjadi seperti bank, dimana BMT bisa menjadi perantara
antara pemberi modal dengan peminjam. BMT pun bisa menjadi lembaga dakwah, karena di
dalamnya, nasabah bukan hanya diberikan pemberian pinjaman saja, tetapi BMT sebagai
lembaga Islam pun dapat menciptakan pemberdayaan agama bagi nasabah maupun
pemodalnya seperti yang dipaparkan oleh Hertanto Widodo, Ak., M. Asmeldi Firman, Ak.,
dkk.
3. Ruang Lingkup BMT
Islam sangat menghindari terjadinya peningkatan dalam kehidupan perubahan demi
perubahan harus diupayakan secara maksimal sehingga hasilnyapun bisa maksimal. Itulah
sebabnya Islam menganjurkan umatnya untuk bekerja keras, demi perbaikan kehidupannya.
34
Anjuran ini bersifat individual dan sekaligus kolektif. Individual karena sikap individu
dituntut untuk hidup sejahtera bahkan menjadi kaya. Kerja keras secara individu dilakukan
dalam rangka mencapai kebahagiaan hidup diri dan keluarga.
Sedangkan secara kolektif atau bersama, umat Islam diharuskan bekerja dan berusaha
untuk membantu saudara muslim yang masih miskin supaya hidup lebih layak dan berdaya.
Kerja kolektif ini dilakukan dalam rangka tanggung jawab sosial. Setiap orang bersama-sama
memiliki tanggung jawab yang sangat mulia, untuk mengetaskan kemiskinan umat.
Kerjasama ini dilakukan melalui mekanisme zakat, infak dan sedekah. BMT melalui bidang
sosialnya menempatkan dirinya sebagai mediator supaya kerja kolektif ini dapat berjalan
lebih baik.35
Dari pemaparan diatas, sangat tergambar akan ruang lingkup dari BMT. Dimana
dalam kegiatannya, bidang kerja atau ruang lingkup sebuah BMT adalah kegiatan yang
bergerak dalam kegiatan sosial yang sekaligus dapat menstimulus orang yang tidak mampu
(bisa dikatakan nasabah pada BMT) agar menjadi mandiri. Artinya, BMT bukan hanya
menjadi mediator para muzakki saja, tapi BMT memiliki tugas dalam memberdayakan
masyarakat, karena bentuk yang diberikan bukan charity (amal atau derma), melainkan
empowerment (pemberdayaan).
C. Pemberdayaan Ekonomi
1. Pengertian Pemberdayaan
Pemberdayaan adalah terjemaahan dari bahasa Inggris, empowerment secara leksikal
(bahasa/dialek) pemberdayaan berarti penguatan sedangkan secara teknis istilah
pemberdayaan dapat disamakan pengembangan. Pengembangan terdiri dari dua konsep yaitu
“pengembangan” dan “masyarakat”, secara singkat pengembangan merupakan usaha bersama
dan terencana untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Baik dalam bidang ekonomi,
pendidikan, kesehatan, maupun sosial budaya.36
Ada beberapa definisi dari pendapat para ahli yang mengemukakan pengertian
pemberdayaan. Meskipun antara pendapat satu dengan yang lainnya berbeda, tetapi memiliki
tujuan yang sama, yaitu meningkatkan potensi sumber daya yang ada pada diri manusia.
Imang Mansur Burhan yang di kutip oleh Agus Ahmad Safei dalam bukunya yang berjudul
Sosial Masyarakat Islam, mendefinisikan bahwa pemberdayaan masyarakat adalah sebagai
upaya membangkitkan potensi umat islam kearah yang lebih baik, baik dalam kehidupan
sosial politik, maupun ekonomi.37
Menurut Gunawan Sumadi dalam bukunya yang berjudul Pengembangan Daerah dan
Pemberdayaan Masyarakat, mengemukakan bahwa pemberdayaan adalah upaya untuk
membangun daya yang dimiliki dengan mendorong, memberikan motivasi dengan
meningkatkan kesadaran akan potensi yang dimiliki serta berupaya mengembangkannya.38 Menurut Parsons yang dikutip oleh Edi Suharto dalam bukunya yang berjudul
Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat, bahwasanya pemberdayaan adalah
sebuah proses dengan mana orang menjadi cukup kuat untuk berpartisipasi dalam, berbagi
pengontrolan atas, dan mempengaruhi terhadap, kejadian-kejadian serta lembaga-lembaga
yang mempengaruhi kehidupnya. Pemberdayaan menekankan bahwa orang memperoleh
keterampilan, pengetahuan, dan kekuasaan yang cukup untuk mempengaruhi kehidupannya
dan kehidupan orang lain yang menjadi perhatiannya.39
36
Jurnal Comdev, BEMJ PMI, FDK. 2005. h. 25
37
Agus Ahmad Safei, Sosial Masyarakat Islam, Gerbang Masyarakat Baru Press, Bandung, h. 42
38 Gunawan Sumadi, Pengembangan Daerah dan Pemberdayaan Masyarakat, (Jakarta: Wena Rena
Pariwara, 1997 Cet ke-1, edisi II, h.165
39
Sedangkan menurut Rappaport yang juga dikutip oleh Edi Suharto dalam buku yang
sama, pemberdayaan adalah suatu cara dengan mana rakyat, organisasi dan komunitas
diarahkan agar mampu menguasai (atau berkuasa atas) kehidupannya.40
Pendapat lain mengenai pengembangan masyarakat juga dikemukakan oleh Brokesha
dan Hodge yang di kutip oleh Isbandi Rukminto Adi dalam buku yang berjudul
Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan Interfensi Komunitas, bahwasanya
pengembangan masyarakat adalah suatu gerakan yang dirancang guna meningkatkan taraf
hidup keseluruhan masyarakat melalui partisipasi aktif dan inisiatif dari masyarakat.41
Melihat dari pemaparan diatas, jelas tergambarkan bahwasanya pemberdayaan adalah
suatu upaya atau cara yang dilakukan untuk masyarakat oleh masyarakat dengan melihat taraf
hidup suatu masyarakat tesebut dengan partisipatif aktif dari masyarakat tersebut agar tercipta
suatu upaya untuk membuat mandiri masyarakat tersebut.
2. Pengertian Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat
Menurut Ismet Firdaus dan Ahmad Zaky dalam buku Pengalaman Al-Quran Tentang
Pemberdayaan Dhuafa, pengertian pemberdayaan ekonomi masyarakat adalah suatu proses
meningkatkan keterampilan hidup sekumpulan orang yang masuk katagori fakir miskin atau
dhuafa agar dapat memiliki mata pencaharian yang membuat kondisi hidupnya masuk
katagori muzzaki.42
Dari pemaparan pengertian pemberdayaan dengan pemberdayaan ekonomi sangatlah
tipis. Dalam pengertian pemberdayaan ekonomi lebih menspesifik kedalam cakupan ekonomi
dari masyarakat yang menjadi sasaran. Artinya masyarakat dapat menjadi mandiri dalam
mengelola perekonomiannya.
40
Ibid, h. 59
41 Isbandi Rukminto Adi, Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan Intervensi Komunitas,
(Lembaga Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2003), h.200
42 Ismet Firdaus, Ahmad Zaky, Asep Usman Ismail, dkk., Pengalaman Al-Quran Tentang
a. Cakupan pemberdayaan ekonomi masyarakat
Menurut Michael Sheraden yang dikutip oleh Ismet Firdaus dan Ahmad Zaky
dalam buku Pengalaman Al-Quran Tentang Pemberdayaan Dhuafa, pengembangan
ekonomi masyarakat setidaknya mencakup tiga bidang pengembangan. Yaitu :
1) Aset manusia. Aset manusia menjadi sangat penting karena ini berkaitan erat dengan pengembangan kualitas sumber da ya manusianya.
2) Pengembangan aset modal keuangan. Cakupan ini menjadi penting, karena tidak bisa dipungkiri, keuangan menjadi hal yang sangat vital, uang bisa diibaratkan menjadi mobilisasi suatu kegiatan. Karena dengan adanya pengembangan aset modal keuangan, ini dapat mempermudah bidang produksi, distribusi, perdagangan, maupun jasa pada program pemberdayaan ekonomi yang sedang dilakukan.
3) Pengembangan aset sosial. Aset sosial menurut Michael Sheraden meliputi keluarga, teman, koneksi, atau jaringan sosial dalam bentuk dukungan emosional, informasi, dan akses yang lebih mudah pada pekerjaan, kredit, dan tipe asetlainnya. Sosial aset ini dapat dirubah menjadi social capital untuk meningkatkan kesejahteraannya.43 b. Karakteristik Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat
Pemberdayaan ekonomi masyarakat merupakan bagian dari pemberdayaan
masyarakat, karena itu konsep pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan konsep
pembengembangan masyarakat secara umum tidak jauh berbeda serta tidak terlepas
dari konsep besar dari pemberdayaan masyarakat itu sendiri. Menurut Ismet Firdaus
dan Ahmad Zaky dalam buku Pengalaman Al-Quran Tentang Pemberdayaan Dhuafa,
pengembangan ekonomi masyarakat itu memiliki tiga karekteristik yang bersifat
adaptif terhadap masyarakat, yaitu :
1) Berbasis masyarakat. Maksudnya adalah masyarakat bertindak menjadi pelaku dalam perencanaan dan pelaksanaan suatu program pemberdayaan ekonomi tersebut.
Keputusan diambil oleh masyarakat dengan menggunakan keputusan bersama (selective decision).
2) Sumber Da ya Setempat. Maksudnya adalah dalam memberdayakan ekonomi masyarakat yang menjadi sasaran, hendaknya berbasis pada sumber da ya setempat, artinya program pemberdayaan ekonomi masyarakat yang dilakukan didasarkan pada sumber-sumber yang tersedia pada daerah tersebut.
3) Berbasis Berkelanjutan.
Program pemberdayaan ekonomi hendakn ya berbasis ber kelanjutan agar hal tersebut dapat tercapai dalam jangka waktu panjang. Dalam merealisasikannya, diperlukan strategi, perencanaan dan pelaksanaan yang tepat guna. Artinya, sumber daya setempat ini menjadi motor penggerak awal dan tidak berhenti pada akhir program.
3. Pemberdayaan Ekonomi Menurut islam
Qardhawi (1995: 50-170) dalam bukunya Norma-Norma dan Etika Ekonomi
mengatakan bahwa dalam proses pemberdayaan ekonomi islam dalam mengatasi kemiskinan
yang beliau sebut ada enam kiat yang harus dilakukan kaum muslimin untuk mengatasi
kemiskinan, yaitu terdiri dari atas :
a. Bekerja
Secara logika memang benar, dengan bekerja orang akan mempunyai
penghasilan, dengan penghasilan itu dia akan memenuhi kebutuhannya. Semua
itu akan menghilangkan kemiskinan sedikit demi sedikit.
b. Mencukupi keluarga yang lemah
Perbuatan tersebut merupakan ibadah dan Allah SWT memerintahkan agar selalu
membantu dan memperhatikan terhadap keluarga yang lemah.
Jika zakat ini dapat terkoordinir dengan baik maka dengan ridho Allah SWT
maka kemiskinan dapat ditanggulangi.
d. Dana bantuan pembendaharaan islami
Dana yang di dapat misalnya dari baitul maal dapat dimanfaatkan salah satunya
untuk usaha sehingga menjadi salah satu cara yang dapat menanggulangi
kemiskinan tersebut.
e. Keharusan memenuhi zakat
Setiap muslim jika melihat saudaranya ataupun tetangganya sedang dalam
kesusahan, maka ia masih menolongnya. Adanya Qurban ataupun pembayaran
fidyah, semuanya itu jika dilaksanakan dengan baik maka akan membantu
mengurangi angka kemiskinan.
f. Shadaqah sukarela dan kebijakan individu
Shadaqah juga jika tepat kepada sasarannya akan dapat mengurangi jumlah angka
kemiskinan, sehingga pada dasarnya seorang muslim harus dapat melaksanakan
semua ajaran islam dengan niat ikhlas dan tulus. Dan Allah akan ridha kepada
kita.44
BAB III
GAMBARAN UMUM BMT AR-RIDHO KELURAHAN PISANGAN CIPUTAT
A. Gambaran umum tentang BMT Ar-Ridho 1. Sejarah berdirinya BMT Ar-Ridho
“Hairun Naas Anfa’u Linnaas”, sebaik-baiknya manusia adalah yang
bermanfaat bagi manusia lainnya. Beranjak dari suatu keinginan untuk berbuat
sesuatu kepada sesama maka tercetuslah sebuah ide untuk membentuk sebuah
lembaga Baitul Maal Wa Tamwil (BMT), dimana melalui BMT ini dapat
dilakukan suatu upaya pembinaan dan penyediaan modal bagi Usaha Mikro Kecil
(UMK) yang selama ini kurang mendapat perhatian. Ironisnya lagi, hal ini justru
dijadikan kesempatan bagi pihak yang tak bertanggung jawab yaitu para rentenir
yang di satu sisi seakan-akan membantu, namun di sisi lain amat sangat mencekik
melalui sistem bunga atau Riba.
Setelah beberapa kali melakukan diskusi dan persiapan-persiapan, maka pada
tanggal 9 Februari 2007 didirikanlah BMT Ar-Ridho oleh tiga orang pendiri yaitu
: Bapak H. Indra Gunawan, SE, Bapak Ramli HM. Nur, S.Ag, dan Bapak Abdul
Muis, SE. Dan pada bulan Mei 2008, resmi berbadan hukum Koperasi S yariah
Ar-Ridho dengan No. 518/18/BH/Koperasi.
“Koperasi S yariah Ar-Ridho” hadir sebagai solusi yang sangat diharapkan
oleh para UMKM. Ibarat setitik air di tengah gurun yang panas dan gersang
a. Permodalan yang selama ini sebagai solusi akses ke perbankan amat
sulit karena keterbatasan kemampuan memenuhi persyaratan berupa
jaminan, manajemen, administrasi dan lainnya.
b. Membatasi ruang gerak rentenir. Para rentenir yang memanfaatkan
situasi ini, menyediakan modal dengan syarat yang mudah, namu n
menerapkan sistem Riba atau bunga yang mencekik, tidak adil dan
hanya menguntungkan pemilik modal saja. Akibatnya para pelaku
ekonomi mikro semakin terpuruk.
Dan setelah memasuki tahun kedua, BMT Ar-Ridho telah melayani sejumlah
316 kali pembiayaan dengan jumlah nominal Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta
rupiah).
2. Latar belakang keberadaan BMT Ar-Ridho
Baitul Maal Wa Tamwiil (BMT) Ar-Ridho adalah Lembaga Keuangan Mikro
Syariah berbadan hukum Koperasi Syariah Ar-Ridho, berfungsi seperti halnya Bank
Syariah pada umumnya, yaitu :
a. Menghimpun dana berupa tabungan masyarakat, dana-dana untuk UKM
dari perbankan, pemerintah, BUMN, dan donasi yang dapat dimanfaatkan
bagi pemberdayaan UMKM.
b. Mengelola dan menyalurkan kepada anggota UMKM sebagai nasabah
BMT Ar-Ridho berupa penyediaan Modal Usaha.
BMT tidak hanya menyediakan permodalan yang mereka butuhkan dengan
sistem win-win solution juga melakukan pembinaan dan dorongan bagi
pengembangan usaha disertai pengamalan nilai-nila spiritual. Dan yang
menguntungkan kedua belah pihak. Bahkan bila terjadi kerugian, maka pihak
BMT pun ikut memikul beban bersama.45
3. Visi dan misi
BMT Ar-Ridho memiliki visi ingin mewujudkan suati peningkatan
kesejakteraan bagi anggota, UKM binaan dan masyarakat pada umumnya melalui
penerapan ekonomi syariah bebas Riba, halal, dan menguntungkn dan dilakukan
semata-mata mengharap ridho Allah SWT.
Dan misi dalam mencapai visi tersebut, BMT memiliki Filosofi, yaitu “Ridho
Allah SWT kunci Kesejahteraan dan Keselamata dunia dan akhirat”. Oleh karena
itu, segala apa yang dilakukan oleh BMT, wajib berada dalam garis yang telah
ditetapkan Allah melalui Rasulnya guna meraih Ridha Allah SWT.
4. Tujuan berdirinya
Dalam menjalankan kegiatannya, BMT memiliki tujuan sebagai berikut :
a. Meningkatkan kesejahteraan anggota khususnya UMKM serta masyarakat
pada umumnya.
b. Menghapus riba dan menyediakan alternatif sumber keuangan berdasar
syariah.
c. Memperluas lapangan kerja dan pengembangan usaha dhuafa dan
UMKM.
5. Struktur organisasi
Dalam kegiatan keorganisasian dan kelembagaan yang baik dan sudah
menjadi lembaga berbadan hukum, maka hendaknya memiliki struktur organisasi
yang baik dan terorganisir. Adapun dalam BMT Ar-Ridho memiliki struktur
organisasi sebagai berikut:
Nama : Koperasi Syariah BMT Ar-Ridho
Badan Hukum : No. 518/18/BH/Koperasi
Alamat : Jl. H. Rean No. 29 Benda Baru Pamulang Tangerang
Selatan. Telepon : 021-74702781.
Kantor Operasional : Jl. Sedap Malam V No.18 RT.08/08 Pisangan Ciputat.
Telefon: 021-7498989
6. Bagan Struktur Organisasi BMT Ar-Ridho
Penasehat : Drs. H. M. Elman Sadri
Ir. H. RP. Hadi T. Sasraningrat, MM, MBA
Pengawas : Drs. H. Abdul hamid, MSQ
(sebagai pengawas Syariah)
Hailani (sebagai anggota pengawas)
Pengurus : Indra Gunawan, SE (sebagai ketua)
Ramli HM Nur, S.Ag (sebagai sekertaris)
Abdul Muis, SE (sebagai bendahara)
Unit Usaha : 1. Baitul Maal Watamwil Ar-Ridho sebagai Unit
Simpan Pinjam Syariah.
2. LKT (Layanan Klinik Terjangkau) melalui “klinik
herbal bekam”.
3. Baitul Maal. Meliputi peningkatan, perluasan usaha,
dan kemandirian.
7. Sasaran nasabah BMT Ar-Ridho
Yang menjadi sasaran dari BMT Ar-Ridho adalah nasabah yang menerima
pembiayaan dan pembinaan dari BMT Ar-Ridho terdiri dari para pelaku usaha
mikro kecil dengan skala usaha mulai dari Rp. 500.000, (lima ratus ribu rupiah)
hingga puluhan juta rupiah. Besarnya pembiayaannya di bagi menjadi tiga, yaitu
pertama, pembiayaan awal, yaitu besar pinjamannya berkisar dari lima ratus ribu
rupiah sampai dengan satu juta rupiah. Kedua adalah pembiayaan lanjutan,
pembiayaan lanjutan ini berkisar antara peminjaman uang sebesar satu juta rupiah
sampai dengan dua juta rupiah. Dan yang terakhir adalah pembiayaan khusus,
yaitu peminjaman diatas dua juta rupiah.
Di lihat dari jenis usaha nasabah yang memperoleh pembiayaan dari BMT
dapat ditetapkan sebagai berikut :
a. Pedagang Sayuran
c. Pengerajin
d. Petani Jamur
e. Jasa Percetakan
f. Pekerja atau Karyawan
g. Warung Sembako dan Warung Nasi
Umumnya usaha mereka ini untuk menghidupi dan membiayai keluarganya
serta untuk biaya sekolah anak-anaknya. Jadi usaha mereka ini merupakan
sumber utama pada ekonomi keluarga.46
8. Program dan bentuk kegiatan
Dalam mewujudkan tujuan dari BMT tersebut, maka BMT seharusnya
memiliki banyak program dengan aspek yang berbeda-beda, karena permasalahan
ekonomi pada masyarakat akan menjadi sangat kompleks dan menyangkut ke
banyak aspek. Oleh sebab itu BMT Ar-Ridho membuat beberapa program dalam
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sebagai berikut :
a. Baitul Maal Wa Tamwiil (BMT) Ar-Ridho sebagai unit pemberdayaan
Ekonomi Mikro, sudah berjalan 2,5 tahun dengan 460 pembiayaan
direncanakan tahun depan mencapai 1000 sebagai lembaga keuangan
mikro syariah BMT menerima dana masyarakat dan ZIS sebagai dana
bergulir yang akan disalurkan kepada usaha dhuafa UKM secara syariah
tanpa bunga (non riba) halal dan insya Allah mensejahterakan. Pembinaan
dan pendampingan sampai tahap mandiri. Semula Duafa UKM ini sebagai
mustahik tetapi sekarng berubah menjadi Muzakki. Adapun Jenis-jenis
Simpanan yang dikelola oleh BMT Ar-Ridho adalah sebagai berikut:
1) Si Waktu’s (simpanan sewaktu-waktu syariah dapat diambil). Simpanan sewaktu-waktu ini adalah men yimpan tabungan masyarakat dan dapat diambil kapanpun mereka mau. Simpanan ini di maksudkan agar masyarakat mempun yai buda ya menabung. Jadi ketika mereka memerlukan uang, mereka bisa mengambil tabungann ya kapanpun.
2) Simpanan investasi berjangka.
Simpanan investasi berjangka yaitu simpanan yang bersifat Mudhrabah al Muthlaqah dimana tabungan nasabah yang akan dimanfaatkan secara produktif untuk pembiyaan pada nasabah lain dengan manfaat sebagai berikut:
a) Aman dan menentramkan
b) Bagi hasil yang kompetitif, diberikan setiap bulan dan akan
dkreditkan kerekening mitra
c) Membantu program investasi mitra
d) Membantu pengembangan usaha mitra (Ta’awun)
e) Dapat dijadikan sebagai jaminan pembiayaan
3) Si fitri (Simpanan Idul Fitri)
Simpanan Idul Fitri yaitu simpanan yang direncanakan untuk persiapan Idul Fitri. Simpanan yang bersifat mudharabah muthlaqah sehingga simpanan mitra akan diperlakukan sebagai investasi. Penarikan satu kali dalam satu tahun menjelang hari Raya Idul Fitri.
4) Si Pidi (Simpanan Pendidikan)
kadang orang tua selalu kekurangan dana dalam memba yar bia ya pendidikan. Mungkin dengan hadirnya Si Pidi (Simpanan Pendidikan) ditengah-tengah mitra itu semua, dapat membantu dalam rangka perencanaan pendidikan guna untuk kepentingan pendidikan yang ingin putra-putrinya meneruskan ke tingkat berikutnya, penarikan bisa dilakukan 1 bulan sekali.
5) Si Quba (Simpanan Idul Qurban)
Simpanan yang direncanakan guna untuk melaksanakan Qurban karena Qurba merupakan ibadah yang disyariatkan kepada setiap muslim yang mampu, dan merupakan ibadah yang penuh dengan kepedulian sesama, simpanan dengan Prinsip mudharabah muthlaqah sehingga simpanan mitra akan diperlakukan sebagai investasi penarikan ini dilakukan 1 tahun sekali
6) Si Haju (Simpanan Haji dan Umrah)
Simpanan yang direncanakan guna untuk melaksanakan ibadah haji dan Umrah karena Ibadah haji merupakan rukun Islam yang kelima bagi setiap muslim yang mampu menjalankannya. Untuk itu BMT Ar-Ridho memberikan fasilitas ini sebagai simpanan bagi para mitranya yang ingin menginvestasikan dananya untuk berhaji.
b. Ar-Ridho Health Center yaitu sebagai unit layanan kesehatan dan
pengobatan gratis, Bantuan pengobatan langsung dan sunatan misal bagi
para duafa, para ustad guru ngaji, marbot mesjid dan muallaf,
pengembangan pengobatan cara nabi dengan cara BEKAM dan HERBA
Alami.
c. Yatim dhuafa Care (YDC) yaitu sebagai unit pelayanan anak Yatim dan
selama dua semester, English dan Arabic for Yatim duafa dimulai
September 2009, penyediaan Lahan dan gedung YDC dimulai Ramadhan
1430 H
d. Lembaga Pelatihan: Pelatihan life skill yang ditujukan bagi duafa calon
angkatan kerja yang siap bekerja dan berusaha
e. Majlis Ta’lim Ar-Ridho: sebagai wadah pembinaan iman, aqidah dan
ahlaq sekaligus wadah silaturahmi.antara Ar-Ridho center, dhuafa,
donatur dan pihak yang terkait pemberdayaan masyarakat
9. Pembinaan Nasabah UMKM oleh BMT Ar-Ridho (Anggota Dilayani)
Umumnya para pelaku UMKM ini berlatar pendidikan dan keterampilan
seadanya, oleh karena itu, BMT berkewajiban untuk memberikan binaan agar
kemampuan serta usahanya dapat lebih maju dan berkembang, Pembinaan yang
dilakukan meliputi:
a. Manajemen Usaha
Pembinaan yang dilakukan oleh BMT Ar-Ridho ini selain pembentukan akhlak dan pelatihan peningkatan usaha BMT juga melakukan pembinaan yang meliputi aspek perencanaan, cara mengelola yang baik, seluruh kegiatannya terawasi dan terkendali dengan baik, selain itu pembinaan ini juga melatih cara menghitung berapa modal, berapa omset, berapa biaya, berapa untungnya, hutang, piutang, mengatur pembelanjaan barang dan lain-lain secara efisien dan efektif guna mencapai tujuan usaha.
b. Pengelolaan Keuangan