• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembinaan pengamalan ajaran agama islam melalui kegiatan rohis di SMP Negeri Ciputat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pembinaan pengamalan ajaran agama islam melalui kegiatan rohis di SMP Negeri Ciputat"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBINAAN PENGAMALAN AJARAN AGAMA ISLAM

MELALUI KEGIATAN ROHIS

DI SMP NEGERI I CIPUTAT

Oleh :

ADE MAHMUD NIM : 202011000921

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UIN SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

PEMBINAAN PENGAMALAN AJARAN AGAMA ISLAM

MELALUI KEGIATAN ROHIS

DI SMP NEGERI I CIPUTAT

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar

Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh :

ADE MAHMUD

NIM : 202011000921

Di Bawah Bimbingan

Drs. H. MU’ARIF SAM, M.Pd.

NIP : 150268 586

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UIN SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(3)

PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skripsi yang berjudul “PEMBINAAN PENGAMALAN AJARAN

AGAMA ISLAM MELALUI KEGIATAN ROHIS DI SMP NEGERI I

CIPUTAT” telah diujikan dalam sidang munaqasah Jurusan Pendidikan Agama

Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada

tanggal 10 Nopember 2006. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk

memperoleh gelar Sarjana Program Strata 1 (S1) pada Jurusan Pendidikan Agama

Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.

Jakarta, 15 Nopember 2006

Sidang Munaqasah

Dekan/ Pembantu Dekan I/

Ketua Merangkap Anggota Sekretaris Merangkap Anggota

Prof. Dr. Dede Rosyada, M.A Prof. Dr. Aziz Fahrurrazi, M.A

NIP. 150 231 356 NIP. 150 202 343

Anggota :

Penguji I Penguji II

Akhmad Sodiq, M.Ag Drs. Sapiudin Shidiq, M.Ag

(4)

KATA PENGANTAR

Dengan penuh rasa syukur seraya memulangkan puja dan puji kepada Allah

semata, berkat rahmat dan karunia-Nya penulisan skripsi ini dapat diselesaikan.

Sholawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan keharibaan baginda Nabi

Muhammad SAW manusia pilihan yang membawa manusia kepada peradaban yang

Islami, kepada para keluarga, sahabat dan para pengikiutnya yang senantiasa

mengikuti ajaran agamanya hingga akhir zaman. Semoga Allah Yang Rahman dan

Rahim tetap memberikan inayah dan hidayah-Nya untuk kita para hambanya ini agar

dapat terus konsisten berada dalam garis dan arah jalan yang benar, yang di

tunjuki-Nya.

Skripsi yang berjudul pembinaan pengamalan ajaran agama Islam melalui

kegiatan Rohis di SMP Negeri 1 Ciputat, merupakan salah satu syarat untuk

memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) Jurusan Pendidikan Agama

Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sangat disadari bahwa dalam proses dan hasil penelitian ini masih terdapat

berbagai kekurangan. Namun demikian paling tidak hasil penelitian yang tertuang

dalam skripsi ini bermanfaat bagi penulis sendiri, bagi lembaga pendidikan yang

menjadi objek penelitian sebagai masukan dalam menentukan kebijakan tentang

(5)

Banyak pihak yang yang membimbing dan membantu dalam proses penulisan

skripsi ini. tanpa dukungan mereka rasanya mustahil penulisan skripsi ini dapat

terselesaikan. Oleh karena itu ucapan terima kasih yang sedalam dalamnya dan

penghargaan yang setinggi-tingginya penulis sampaikan kepada pihak-pihak tersebut,

terutama kepada :

1. Prof. Dede Rosyada, MA, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan serta

Prof. Dr. Aziz Fahrurrazi, MA, Pembantu Dekan I Fakultas Ilmu Tarbiyah

dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Drs. H. Abd Fatah Wibisono, MA, dan Bapak Safiudin Shidiq M.Ag, Ketua

dan sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam FITK UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta.

3. Drs. H Mu’arif SAM, M.Pd. Dosen pembimbing yang banyak membimbing

dan mengarahkan penulis.

4. Kepala SMP Negeri I Ciputat, Drs. H Nurhadi, MM, yang telah mengijinkan

penulis untuk mengadakan penelitian di sekolah tersebut, Bpk Isa S.Pd dan

Bpk Mustopa BA, Pembina Rohis SMP Negeri I Ciputat yang telah

membantu penulis dalam penyediaan data dan wawancara, hingga penulis

dapat menyelesaikan jenjang S1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

5. Pimpinan Perpustakaan Utama dan Perpus Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang dalam penulisan skripsi ini

memberikan andil besar dalam hal penyediaan bahan pustaka dan

(6)

6. Ayahanda dan Ibunda tercinta, H. Asmawi dan Hjh. Aisyah yang berkat

didikan serta upaya keras keduanya, penulis dapat menempuh jenjang

pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi dengan baik.

7. Kakak tercinta H. Pepen dan Wida Asiah serta adik tercinta Neng lia Muliani

yang tak pernah henti memberikan semangat dan motivasi sehingga skripsi ini

dapat terselesaikan.

8. Temen temen mahasiswa Juruasan PAI kelas A angkatan 2002 (Hermin,

Alien, Dwi Nurul dll) juga teman-teman Jurusan PBI, Toe, Tie, Tiek Vidi

yang telah membantu penulis untuk berbagi pendapat dan tenaganya berkaitan

dengan penulisan skripsi ini.

Akhirnya, hanya kepada Allah jualah semuanya dikembalikan. Semoga

segala amal yang telah mereka sumbangkan mendapat balasan yang lebih baik dan

menjadi tabungan kebaikan di akhirat kelak, amin.

Jakarta, September 2006

(7)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………. ii

DAFTAR ISI ……… vi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... ………... 1

B. Identifikasi Masalah ……. ………... 7

C. Pembatasan Masalah dan Perumusan Masalah … ………... 8

D. Sistematika Penulisan ….. ………... 9

BAB II KERANGKA TEORI A. Ajaran Agama Islam …... ……… 11

1. Pengertian ajaran agama Islam ……… 11

2. Ruang lingkup ajaran agama Islam …. ……… 13

B. Pembinaan Pengamalan Ajaran Agama Islam … ……… 19

1. Lingkungan Pendidikan …….. ……… 19

2. Tanggung Jawab Pembinaan Ajaran Agama Islam di Sekolah …... 25

3. Rohis Sebagai Wadah Pembinaan Ajaran Agama Islam di Sekolah.. 29

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN A. Tujuan Penelitian...……… 33

B. Tempat dan Waktu Penelitian ….. ……… 33

(8)

D. Instrumen Pengumpulan Data ….. ……… 35

E. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ….. ……… 38

BAB IV. HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian ……. ……… 39

B. Gambaran Umum Rohis ... ……… 49

C. Deskripsi dan Analisis Data ……. ……… 51

D. Pembahasan Hasil Penelitian …... ……… 66

BAB V. PENUTUP A. Kesimpulan ……. ……… 71

B. Saran ……. ……… 72

(9)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Data keadaan guru SMP Negeri 1 Ciputat … ………. 41

Tabel 2 Keadaan karyawan SMP Neger 1 Ciputat … ………. 45

Tabel 3 Keadaan siswa SMP Negeri 1 Ciputat ... 47

Tabel 4 Keadaan sarana dan prasarana SMP Negeri 1 Ciputat ... 48

Tabel 5 Melaksanakan sholat 5 waktu Berjamaah ... 52

Tabel 6 Pemahaman bacaan shalat ... 53

Tabel 7 Pelaksanaan shalat dzuhur berjamaah di sekolah ... 54

Tabel 8 Pelaksanaan shalat ashar berjamaah di sekolah ... 55

Tabel 9 Pelaksanaan puasa bulan Ramadhan ... 55

Tabel 10 Pelaksanaan shalat dhuha ... 56

Tabel 11 Pelaksanaan shalat sunnah qobliyah ... 57

Tabel 12 Pelaksanaan shalat sunnah ba’diyah ... 57

Tabel 13 Mendengarkan ceramah agama sebelum shalat djuhur/jum’at... 58

Tabel 14 Rasa bosan saat mendengarkan ceramah agama ... 59

Tabel 15 Pengamalan nilai-nilai ajaran Islam dari isi ceramah ... 60

Tabel 16 Kegiatan membaca Al-qur’an di rumah ... 60

Tabel 17 Pelatihan bacaan Al-qur’an di sekolah ... 61

Tabel 18 Pemahaman isi kandungan Al-qur’an ... 62

(10)
[image:10.612.113.530.103.547.2]

Tabel 20 Shodaqoh pada kotak amal setiap hari jum’at ... 63

Tabel 21 Perayaan hari besar Islam di sekolah ... 64

Tabel 22 Keikutsertaan dalam perayaan hari besar Islam di sekolah ... 64

Tabel 23 Partisipasi dalam kegiatan seni budaya Islam di sekolah ... 65

Tabel 24 Respon terhadap kegiatan marawis dan rebana ... 66

Tabel 25 Deskripsi data pengamalan ajaran agama Islam, siswa SMP Ne- geri 1 Ciputat ... 68

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat bimbingan skripsi dari Fakultas……….. 77

Lampiran 2 Surat mengadakan Riset/Wawancara dari Fakultas………. 78

Lampiran 3 Surat keterangan Wawancara/riset dari sekolah ……….. 79

Lampiran 4 Surat Permohonan ijin penelitian dari Fakultas……… 80

Lampiran 5 Angket Responden ………... 81

Lampiran 6 Berita Wawancara ……… 84

Lampiran 7 Program Kerja Rohis SMP Negeri 1 Ciputat ………... 87

(12)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia hidup di dunia pasti mempunyai tujuan. Tujuan hidup bagi umat

muslim yaitu bahagia di dunia dan akhirat. Tujuan ini akan tercapai apabila manusia

telah mempunyai ilmu yang dapat membuatnya bahagia. Ilmu itu dapat diperoleh

melalui upaya pendidikan baik dalam keluarga, sekolah maupun masyarakat. Oleh

karena itu pendidikan sangat berperan penting dalam mencapai tujuan hidup yang

dicita-citakan. Tanpa pendidikan mustahil manusia dapat mencapai kebahagiaan

dunia dan akhirat.

Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan, “pendidikan

adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses

pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk

memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasasn,

akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan

Negara.”1

Pengertian tersebut mengandung makna bahwa pendidikan merupakan upaya

yang disengaja, terencana, dan berkesinambungan untuk mengembangkan segala

potensi baik yang ada pada diri pendidik maupun yang dididik. Dengan demikian

pendidikan dapat diartikan sebagai suatu usaha dalam menciptakan manusia beriman,

1

(13)

bertaqwa, beramal shaleh, dan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Semua ini

dapat terwujud dengan pendidikan yang diberikan kepada manusia itu sendiri baik

melalui lembaga formal maupun non formal.

Sebagaimana diketahui bahwa manusia lahir ke dunia ini mempunyai fitrah

keberagamaan. Fitrah keberagamaan yang ada pada manusia inilah yang melatar

belakangi perlunya manusia pada agama. Oleh karena itu ketika datang wahyu Tuhan

yang menyeru pada manusia agar beragama, maka seruan itu memang amat sejalan

dengan fitrahnya itu.2

Kenyataan tersebut mengharuskan manusia berusaha mengembangkan

potensi-potensi yang ada pada dirinya, sehingga ia mampu mengaktualisasikan

potensi tersebut dalam bentuk nyata. Aktualisasi pada manusia dapat dilakukan

melalui proses pendidikan.

Salah satu lingkungan yang menjadi tempat anak dididik adalah keluarga.

Keluarga mempunyai peranan penting dalam melaksanakan proses dan mencapai

keberhasilan pendidikan seorang anak manusia. Dari keluarga pendidikan dimulai,

dan dalam keluarga pula seorang anak lebih banyak menghabiskan waktunya. Oleh

karena itu sangat tepat jika dikatakan keluarga sebagai lingkungan pendidikan

pertama dan utama. Namun demikian, mengingat keterbatasan orang tua sebagai

pendidik kodrat dalam perkembangan selanjutnya dibutuhkan lingkungan dan

lembaga pendidikan sekolah.

2

(14)

Setiap orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah manapun pasti

mempunyai tujuan dan harapan agar anaknya menjadi anak yang sholeh berakhlak

mulia, berprestasi berguna bagi agama, keluarga, masyarakat bangsa dan negara.

Untuk mencapai tujuan dan harapan itu semua orang tua harus berani berkorban

tenaga, pikiran waktu dan harta, agar yang menjadi harapannya tercapai, dan memilih

sekolah sebagai lembaga formal yang dapat membantu dalam mencapai tujuan yang

diharapakan.

Sekolah yang didalamnya terdapat pendidikan Agama Islam, dapat

mengarahkan siswa untuk lebih mengatahui tentang tujuan hidupnya. Tujuan

pendidikan agama di sekolah sangat penting untuk membina dan menyempurnakan

pertumbuhan kepribadian anak didik yang dapat merealisasikan kehambaannya

kepada Allah.

Pendidikan agama mempunyai dua aspek penting. Aspek pertama dari

pendidikian agama diarahkan kepada jiwa dan kepribadian. Anak didik diberi

kesadaran kepada adanya Allah lalu membiasakan melaksanakan perintah-perintah

Allah dan meninggalkan larangan-larangannya. Dalam hal ini anak didik dibimbing

kepada peraturan yang baik yang sesuai dengan ajaran agama, seperti yang diberikan

keluarga yang berjiwa agama. Pendidikan agama di sekolah harus juga melatih anak

didik untuk melakukan ibadah yang diajarkan dalam agama, yaitu praktek-praktek

agama yang menghubungkan manusia dengan Allah, karena praktek-praktek agama

(15)

dilakukannya ibadah semakin tertanam kepercayaan kepada Allah, yang semakin

dekat pula jiwanya kepada Allah.

Aspek yang kedua dari pendidikan agama diarahkan pada pikiran yaitu

pelajaran agama itu sendiri, kepercayaan kepada Tuhan tidak akan sempurna bila isi

dari ajaran Tuhan itu tidak diketahui betul-betul. Anak didik harus ditujukan apa yang

disuruh dan apa yang dilarang, apa yang boleh, apa yang dianjurkan

meninggalakannya menurut ajaran agama.3

Tetapi dalam kenyataan yang sebenarnya, sekarang ini banyak sikap peserta

didik yang meleset bahkan bertolak belakang dengan konsep pendidikan agama Islam

yang tidak sesuai dengan harapan dan tujuan pendidikan itu sendiri dan harapan

orang tua, seperti menjalankan apa yang dilarang oleh ajaran agama dan tidak

melaksanakan apa yang diperintahkan ajaran agama Islam, diantaranya : melakukan

tawuran diantara siswa, membantah, melawan kepada orang tua dan guru, memalak

(meminta uang kepada temannya dengan cara paksa), bahkan mereka berani

melakukan pencurian, perkosaan, dan pembunuhan. Hal itu terjadi karena selain

derasnya budaya barat yang negatif masuk ke negara Indonesia yang semakin sulit

untuk di bendung dan mereka sangat merespon positif, juga karena mereka sudah

menjauh dari nilai-nilai ajaran agama Islam yang sebenarnya.

Berkaitan dengan persoalan tersebut Zakiah Darajat menyatakan bahwa :

Bagi mereka yang telah duduk di sekolah lanjutan, pendidikan agama dan pendidikan

3

(16)

akhlak amat diperlukan untuk menghadapi keadaan yang sedang mereka hadapi

akibat perkembangan kejiwaan yang sedang dilalui dan pengaruh luar yang

menggiurkan dan mendorong ke arah yang tidak baik. Ketentuan hukum agama,

terutama yang berkenaan dengan kehidupan pribadi dan sosial perlu diketahui dan

dipahami secara tepat, dan mengetahui makna dan hikmah dari ketentuan hukum

tersebut, dengan ringkas dapat dikatakan bahwa pendidikan agama pada tingkat

lanjutan, hendaknya diberikan pengetahuian agama secara lebih luas dan mendalam,

serta mencari hikmah dan manfaat pemahaman, pengamalan penghayatan agama

Islam dalam kehidupan.4

Siswa siswi yang terlibat dalam perbuatan tidak bermoral dan tidak

mengamalkan ajaran agama Islam akan menimbulkan akibat yang tidak baik dan

meresahkan orang tua, masyarakat, dan bangsa. Perbuatan tersebut akan

menimbulkan efek negatif lainnya yang dapat merugikan dirinya sendiri. Dengan

demikian pengamalan ajaran agama Islam sangatlah penting dalam kehidupan

sehari-hari untuk menjadi sandaran agar tidak terperosok kedalam kesesatan, karena dengan

mengamalkan ajaran agama Islam ia akan memperoleh kebaikan dan kesejahteraan

serta kebahagiaan dunia dan akhirat.

Dewasa ini banyak siswa yang berperilaku menyimpang yang mengarahkan

pada tingkat kemerosotan moral siswa sendiri, seperti malakukan tauran diantara

siswa, membantah pada orang tua dan guru, memalak, mencuri, memperkosa bahkan

4

(17)

membunuh, serta masih banyak lagi hal-hal lain. Hal itu pada intinya karena mereka

tidak mengamalkan ajaran agama Islam yang sebenarnya. Seperti yang terjadi kasus

di SMP Negeri I Ciputat pada hari Senin, tanggal 13 februari 2006, ada siswa kelas 2

yang tertangkap basah melakukan pencurian uang pada waktu upacara pagi sedang

berlangsung, ternyata setelah diselidiki siswa tersebut sudah berkali-kali melakukan

pencurian terhadap teman-temannya berupa uang dan HP (hand phone).5

Itulah salah satu bukti nyata ketika seseorang kurang pemahaman terhadap

ajaran agama dan tidak memahami larangan yang harus dijauhi sehingga dia

terjerumus kepada perbuatan-perbuatan yang tercela. Oleh karena itu diperlukan

pembinaan dan pengamalan ajaran agama Islam dengan efektif dan efisien bagi siswa

Pengamalan ajaran agama merupakan hal yang sangat penting untuk

membentengi diri dari segala perilaku menyimpang, juga sebagai bekal dan pedoman

hidup untuk memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan dunia dan akahirat.

Salah satu upaya untuk menanggulangi hal itu adalah kegiatan keagamaan

ekstra kurikuler yang dilaksanakan di sekolah yang dikordinir oleh Rohani Islam

(Rohis) di bawah naungan Organisasi Siswa Intra Sekolah. Kegiatan tersebut

bertujuan agar siswa mampu mengamalkan ajaran Islam sesuai dengan Al-Quran dan

Al-Hadits dengan sebaik-baiknya. Dalam kegiatannya siswa-siswi di bina dan didik

dengan ilmu-ilmu agama yang mengarahkan pada tingkat keilmuan yang lebih luas

dan mendidik, diantaranya diskusi, sholat berjamaah, sholat sunnah, hapalan surat,

pelaksanaan hari-hari besar Islam, ceramah keagamaan, pembiasaan berinfaq dan

5

(18)

bershodaqoh, pengembangan seni budaya Islam juga masih banyak lagi kegiatan

kegiatan yang terjadwal yang mengarahkan pada peningkatan khazanah keilmuan

siswa-siwi. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang

kegiatan tersebut yang akan dituangkan dalam bentuk skripsi yang penulis ambil

judul “ Pembinaan Pengamalan Ajaran Agama Islam Melalui Kegiatan Rohis di

SMP Negeri I Ciputat”.

B. Identifikasi Masalah

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas keilmuan

seseorang diantaranya dengan belajar sendiri di rumah, belajar dengan teman atau

belajar kepada Ustadz di lingkungan rumah, atau belajar bersama dalam sebuah

wadah yang terorganisir secara baik, merupakan pilihan-pilihan yang dapat diambil

oleh setiap siswa. Di sekolah sendiri ada kegiatan yang bergerak dalam pembinaan

pengamalan ajaran Islam, yaitu Rohani Islam (Rohis) yang merupakan salah satu dari

beberapa divisi yang berada dalam naungan OSIS. Namun demikian dalam

pembahasaannya, kegiatan Rohis di sekolah-sekolah menghadapi berbagai macam

problem sehingga tujuan kegiatan rohis belum sepenuhnya dapat dicapai secara baik.

Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan Rohis di sekolah boleh jadi berasal

dari internal sekolah maupun dari luar. Dari internal sekolah seperti animo siswa itu

sendiri, dukungan guru-guru dan kebijakan kepala sekolah serta komitmen para

pembina Rohis itu sendiri. Sedangkan faktor eksternal seperti dukungan orang tua

(19)

pengamalan ajaran agama Islam melalui kegiatan Rohis, maka masalah-masalah yang

terkait dengan hal tersebut dapat diidentifikasi sebagai berikut :

1. Rendahnya pengamalan siswa terhadap ajaran agama Islam.

2. Minimnya keteladanan guru dan orang tua dalam pengamalan ajaran Agama

Islam bagi siswa.

3. Rendahnya Respon siswa terhadap program Rohis.

4. Kurang pedulinya guru bidang studi lain terhadap program Rohis.

5. Kurangnya dukungan dari pimpinan sekolah terhadap program Rohis.

6. Belum efektifnya pembinaan Rohis.

7. Rendahnya partisipasi orang tua terhadap program Rohis.

8. Minimnya sarana pendukung yang dibutuhkan dalam melaksanakan program

Rohis.

C. Pembatasan dan Perumusan Masalah

1. Pembatasan masalah

Berdasarkan identifikasi diketahui banyak yang terkait dengan permasalahan

dalam penelitian ini, namun mengingat keterbatasan peneliti dalam hal waktu, tenaga,

biaya dan kemampuan akademik maka masalah penelitian ini hanya dibatasi pada

pembinaan pengamalan ajaran agama Islam melalui kegiatan Rohis SMP Negeri 1

Ciputat. Adapun yang dimaksud dengan pembinaan pengamalan ajaran agama Islam

adalah bimbingan yang dilakukan oleh pihak sekolah melalui kegiatan Rohani Islam

(20)

keagamaan, pengenalan baca tulis al-quran , pembiasaan berinfaq dan bershodaqoh,

dan pengembangan seni budaya Islam. Sedangkan yang dimaksud dengan Rohani

Islam adalah salah satu divisi yang berada dalam naungan OSIS yang bergerak dalam

bidang pembinaan kerohanian Islam.

2. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas maka masalah yang akan diteliti

dapat dirumuskan sebagai berikut :

a. Bagaimanakah pembinaan ajaran agama Islam melalui kegiatan Rohis ?

b. Bagaimana pengamalan siswa SMP Negeri I Ciputat terhadap ajaran agama

Islam yang dibina oleh Rohis ?

D. Sistematika Penulisan

Skripsi ini ditulis dan disusun berdasarkan pedoman penulisan skripsi

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulisannya dilakukan per-

bab dan terdiri atas lima bab dengan masing-masing bab mempunyai sub-sub bab

tersendiri. Adapun penulisannya dapat dikemukakan sebagai berikut :

1. Bab I adalah bab pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang masalah,,

identifikasi masalah, pembatasan dan perumusan masalah, serta sistematika

penulisan.

2. Bab II adalah kajian teori, yang menjelaskan tentang ajaran agama Islam yaitu

menjelaskan pengertian ajaran agama Islam dan ruang lingkup ajaran Islam,

(21)

pengamalan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat, serta pembinaan dan

pengamalan ajaran agama Islam di sekolah yang meliputi tentang Rohis dan

Ruang lingkup Rohis.

3. Bab III tentang metodologi penelitian, yang dirinci dalam sub-sub bab, terdiri

atas; tujuan penelitian, tempat dan waktu penelitian, populasi dan sample,

instrumen pengumpulan data, dan teknik pengolahan dan analisis data.

4. Bab IV berisi tentang hasil penelitian, yang dirinci ke dalam gambaran umum

objek penelitian, gambaran umum Rohis, dskripsi dan analisis data, dan

pembahasan hasil penelitian.

(22)

BAB II

KERANGKA TEORI

A. Ajaran Agama Islam

1. Pengertian Ajaran Agama Islam

Kata ajaran dalam Kamus Bahasa Indonesia dikatakan bahwa ajaran adalah

segala sesuatu yang diajarkan, nasihat, petuah, atau petunjuk,6 diantara arti-arti kata tadi dapat digunakan sesuai dengan kontek kalimat.

Secara sederhana, pengertian agama dapat dilihat dari sudut kebahasaan

(etimologis) dan sudut istilah (terminologis). Namun banyak para ahli yang tidak

tertarik mendefinisikan agama, karenanya sampai sekarang perdebatan tentang

definisi agama masih belum selesai, hingga W.H. Clark, seorang ahli ilmu jiwa

agama, sebagaimana dikutip oleh Zakiyah Darajat mengatakan, bahwa “tidak ada

yang lebih sukar daripada mencari kata-kata yang dapat digunakan untuk membuat

definisi agama karena pengalaman agama adalah subyektif, intern dan individual,

dimana setiap orang akan merasakan pengalaman agama yang berbeda dari orang

lain.”7

Kata agama dalam masyarakat Indonesia dikenal istilah “din” (

ﻦﻳﺪ ا

)

dari bahasa arab dan religi dari bahasa Eropa. Ada yang mengatakan bahwa kata

6

Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1988), Cet ke, h. 13 7

(23)

agama diambil dari bahasa Sanskrit. Satu pendapat mengtakan bahwa kata itu

tersusun dari dua kata, yaitu dari kata “a” yang artinya tidak dan “gam” yang artinya

pergi, tetap di tempat, diwarisi turun temurun.8

Selanjutnya Taib Thahir Abdul Mu’in mengemukakan definisi agama sebagai

suatu peraturan Tuhan yang mendorong jiwa seseorang yang mempunyai akal untuk

dengan kehendak dan pilihannya sendiri mengikuti peraturan tersebut, guna mencapai

kebahagiaan hidupnya di dunia dan akhirat.9

Kemudian ada lagi yang mengatakan bahwa agama berarti “teks” atau “kitab

suci”. Dilihat dari segi ini, agama berarti tuntutan karena agama mengandung

ajaran-ajaran yang menjadi tuntutan bagi penganutnya.10 Dengan demikian agama mengandung pengertian sebagai jalan hidup yang harus ditempuh oleh setiap manusia

dalam kehidupan dunia ini sehingga mendapatkan jalan yang mendatangkan

keteraturan, keamanan, ketentraman dan kesejahteran

Pengertian dasar din : Kata din berasal dari bahasa Arab, dari kata dasar (

ناد

) yang arti dasarnya adalah “hutang” sesuatu yang harus dipenuhi atau ditunaikan

“Din” dalam bahasa semit, induk bahasa Arab, kata (

ﻦﻳد

) berarti undang-undang atau

8

Harun Nasution, Islam di tinjau dari berbagai aspeknya, (Jakarta : UI Press, 1985), Cet ke-5, h. 9

9

K.H.M Taib Thahir Abd. Mu’in, Ilmu Kalam, (Jakarta : Widjaya, 1986), cet ke-7, h.121 10

(24)

hukum.”11 Dengan demikian dapat dipahami bahwa kata (

ناد

) dan (

ﻦﻳد

) dalam bahasa Arab tersebut ialah undang-undang atau hukum-hukum yang harus ditunaikan

oleh manusia dan mengembalikannya akan berarti hutang yang akan tetap dituntut

untuk ditunaikan, serta akan mendapatkan hukuman atau balasan jika tidak

ditunaikan.

Adapun istilah Islam menurut bahasa berasal dari kata (

ﻢ ﺳ

) yang berarti

selamat sentosa, asal kata tersebut dibentuk (

ﻢ ﺳا

) yang artinya memeliharakan dalam

keadaan sentosa dan berarti juga “berserah diri, tunduk, patuh dan taat kepada

tuhan.”12 Ada lagi yang mengatakan Islam menurut pengertian bahasa adalah suci dari cacat, lahir dan batin, damai dan aman, pasrah tunduk dan patuh.13

Secara terminologis Islam berarti ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan

kepada manusia melalui seorang Rasul, menurut Harun Nasution Islam adalah, “…..

agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui Nabi

Muhammad SAW sebagai Rasul”.14

2. Ruang Lingkup Ajaran Agama Islam

Ruang lingkup ajaran agama Islam pada hakikatnya dari Allah melalui

wahyu-Nya, yaitu yang mengatur tata hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan

11

Tadjab, Dimensi-dimensi Studi Islam, (Surabaya : Karya Aditama, 1994), Cet ke-1, h.38 12

Abdurrahman An-Nawawi, pendidikan Islam dirumah, sekolah dan masyarakat, (Jakarta : Gema Insani, 1996), Cet ke 2, h. 24

13

Nasikun, Pokok-pokok Agama Islam, (Yogyakarta : CV. Bina Usaha, 1984), Cet ke I, h. 29 14

(25)

manusia dengan manusia dan masyarakat, termasuk dirinya sendiri dan alam

lingkungan hidupnya. Ajaran ini diturunkan Allah untuk kesejahteraan umat manusia

di dunia dan di akhirat nanti.15

Sebagaimana diketahui bahwa dalam mengatur hubungan manusia dengan

Tuhan, hubungan manusia dengan manusia dan masyarakat, ada beberapa asfek yang

harus tertanam dalam diri manusia itu sendiri sehingga dapat mengamalkan ajaran

agama Islam yang sebenarnya, diantaranya asfek aqidah, ibadah.dan akhlak

a. Aspek Aqidah

Aqidah dalam bahasa Arab adalah ikatan, sangkutan. Disebut demikian karena

ia mengikat dan menjadi sangkutan atau gantungan segala sesuatu. Sedangkan dalam

pengertian teknis adalah iman atau keyakinan.16

Iman yaitu keyakinan bulat yang dibenarkan oleh hati diikrarkan oleh lisan

dan diwujudkan dalam perbuatan dan tingkah laku dalam asfek.17 Iman menurut hukum Islam ialah menyatu padukan ucapan lidah dengan pengakuan usaha anggota,

dengan kata lain mengikrarkan dengan lidah akan kebenaran Islam, membenarkan

yang diikrarkan lidah itu dengan hati dan melaksanakan kedua-duanya dengan

15

Mohamad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1998). Cet. Ke-1, h. 36

16

Mohammad Daud Ali Pendidikan Agama Islam (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada,2004), Cet ke-5, h. 199

17

(26)

anggota.18 Sedangkan menurut Abu Ahmadi iman adalah keyakinan kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-Nya, Hari kiamat, Qodhha dan Qadar.19

1. Iman kepada Allah

Iman adalah tuntutan fitrah manusia dan kemanusiaan yang paling asasi, azali

serta mendasar, tanpa keimanan yang benar manusia sulit diatur dan takan mampu

mengatur kecuali dengan tangan besi, dan itu hanya sementara. Sebagaimana

dijelaskan dalam Qur’an Surat Al-Ashr (103) yang berarti :

“Demi masa,

Sesungguhnya manusia itu (secara keseluruhan) akan tetap dalam keadaan

rugi (krisis, kacau, tidak aman). Kecuali bila mereka beriman (menurut tuntutan

Allah) dan beramal shaleh serta hidup ingat-mengingatkan dengan dasar kebenaran

(haq) dan ingat-mengingatkan dengan sabar,”

Jadi Iman adalah tuntutan setiap insan yang sadar akan kedudukan dan

tanggung jawabnya sebagai hamba Allah dan sekaligus bertugas sebagai

kholifahnya-Nya yang bertanggung jawab untuk menata kehidupan yang rahmah, bahagia dan adil

untuk semua dimuka bumi ini, di bawah lindungan pimpinan dan pengaturan Allah

Yang Maha Esa.20

18

T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Al Islam, Kepercayaan. Kesusilaan, Amal Kebajikan, (Jakarta : Bulan Bintang, 1977), jilid I, cet ke-5, h.34

19

Abu Ahmadi dan Noor Salimi, Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi, (Jakarta : Bumi Aksara, 2004), Cet ke-4, h. 4

20

(27)

Iman kepada Allah ialah membenarkan adanya Allah dengan cara meyakini

dan mengetahui bahwa Allah SWT wajib ada-Nya karena Zat-Nya sendiri Tunggal,

Esa, Raja Yang Maha Kuasa, Yang Hidup dan Berdiri Sendiri, yang Qodim dan Azali

untuk selamanya.21

2. Iman kepada Malaikat Allah

Pengertian iman kepada malaikat harus dipahami dengan keyakinan dan

dirasakan selalu bahwa Malaikat Allah adalah yang tugasnya melaksanakan segala

yang diperintah Allah yang dalam hubungan dengan makhluknya yang lain dan

khusus dengan manusia.22

Jadi iman kepada malaikat dapatlah diambil pengertian bahwa pengamalan

iman kepada malikat yaitu cukup dengan selalu ingat dan sadar bahwa seluruh

kegiatan kita selalu di catat oleh malikat-malaikat dengan teliti dan adilnya, dan kita

menyadari bahwa tanggung jawab kita terhadap Allah akan selalu diperhitungkan di

akhirat kelak.

3. Iman kepada Rasul Allah

Beriman kepada Rasul ialah mempercayai bahwa Allah telah memilih diantara

manusia, beberapa orang wakil-Nya, atau utusan-Nya, yang berlaku sebagai orang

perantaraan antara Allah dengan hamba-hambanya. Mereka bertugas menyampaikan

kepada hamba Allah, segala yang diterima dari Allah dengan jalan wahyu dan

21

Ali Yapie, Mengenal Mudah rukun Islam, Rukun Iman, rukun Ihsan, (Bandung : Al Bayan,1998), Cet ke I, h.113

22

(28)

menunjukkan manusia kepada jalan yang lurus, menuntun, memimpin, membimbing

manusia dalam menempuh jalan kesejahtraan dan keselamatan dunia akhirat.23

Pengertian iman kepada Rosul-rosul Allah tidak sekedar percaya

bahwasannya ada nabi dan rosul saja dan pengamalannya pula tidak hanya sekedar

batas memperbanayak sholawat dan permohonan syafaat kepadanya saja, tetapi harus

diiringi dengan pengamalan nyata yaitu mentaati dan menjadikan mereka

(rosul-rosul) itu sebagai panutan, ikatan dan teladan dalam hidup sehari-hari, sesuai dengan

petunjuk ayat-Nya yang tercantum berkali-kali dalam Al-Qur’an :

Dan kami tidak mengutus seorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan

seizing Allah,” (Q.S. An-Nisaa; 64).24

4. Iman kepada Kitab-kitab Allah

Beriman kepada kitab-kitab Allah berarti beri’tikad bahwa Allah ada

menurunkan kitab kepada Rasul-Nya, untuk menjadi pedoman hidup para manusia

menjadi tempat mengambil pengajaran, aturan dan undang undang bermasyarakat.25

23

Prof. Dr. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Op. Cit, h.169 24

H. Mawardi Noor, S.H, Op. Cit, h. 32 25

(29)

Jadi beriman kepada kitab-kitab Allah meyakini adanya Kitab-kitab Allah

yang di turunkan kepada Rasul yang di jadikan sebagai sandaran dan pedoman hidup

bagi umat manusia sesuai dengan zamannya.

5. Iman kepada hari akhir

Iman kepada hari kiamat adalah iman kepada hari berbangkit, dimana saat itu

seluruh kehidupan makluk di alam semesta yang fana ini berakhir, kemudian Allah

ini membangkitkan tulang belulang yang telah hancur, mengembalikan jasad yang

telah menjadi tanah sebagaimana asalnya, dan mengembalikan ruh pada jasad seperti

sedia kala.26

6. Iman kepada Qadla dan Qadar

Qadla dalam pengertian Ilmu tauhid atau ushuluddin ialah ketetapan atau

hukum yang ditetapkan. Karenanya iman kepada qadla adalah mengimankan bahwa

hukum-hukum yang diterima alam, hukum hukum yang dijalani alam adalah

hokum-hukum yang ditetapkan Tuhan sendiri.

Sedangkan iman kepada qadar ialah kita percaya bahwa Allah telah

menakdirkan segala kebajikan dan kejahatan, baik yang berupa taat, maksiat disukai,

digemari, maupun yang dibenci, sebelum Allah menjadikan makhluk. Dan

bahwasannya Allah lah yang menjadikan segala perbuatan hamba semuanya.27

26

M. Ismail Yusanto dan M. Sigit Purnawan jati, Membangun Kepribadiaan Islam, (Jakarta : Khairul Bayan, 2002), cet ke-1, h. 169

27

(30)

b. Aspek Syari’at

Secara bahasa syariat berarti jalan yang lebar, jalan yang ditempuh (sunnah),

dan penumpasan. Secara istilah diartikan sebagai tata cara pengaturan tentang

perilaku hidup manusia untuk mencapai keridhaan Allah Swt.28

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa syari’at adalah

ketentuan-ketentuan agama yang merupakan pegangan dibidang ‘ubudiyah dan muamalah bagi

manusia di dalam hidupnya untuk meningkatkan kualitas hidupnya dalam rangka

mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

c. Aspek Akhlak

Akhlak adalah bentuk jama’ dari kata-kata: Khuluq (

ﻖ ﺧ

) yang berarti

perangai, tabi’at dan dapat. Atau khalq (

ﻖ ﺧ

) yang berati kejadian, buatan dan

ciptaan. Secara bahasa akhlak adalah perangai, adat istiadat, tabiat atau sistem

perilaku yang dibuat atau sifat-sifat manusia yang terdidik.

Secara istilah Imam Al-Ghazali mendefinisikan akhlak sebagai sifat yang

tertanam di dalam jiwa yang menimbulkan bermacam-macam perbuatan dengan

gampang/mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. 29

Sedangkan yang dimaksud akhlak disini adalah bagaimana seseorang mampu

menanamkan sikap dan prilaku yang mencerminkan sosok seorang muslim yang tidak

bertolak belakang dengan ajaran agama Islam. Yang didalamnya menyangkut Akhlak

28

Drs Supriadi M,. Ag dan Dra. Hasanah, M.Ag & drs, Pabali H. Musa, M.Ag Buku Ajar Pendidikan Agama Islam. (Jakarta CV Grafika Karya Utama. 2001) h. 91

29

(31)

terhadap Allah SWT, akhlak terhadap sesama manusia dan juga akhlaq terhadap

alam sekitar.

.

B. Pembinaan Pengamalan Ajaran Agama Islam di sekolah

1. Lingkungan pendidikan

Pada dasarnya dalam proses pembinaan dan pengamalan ajaran agama Islam,

ada lingkungan yang sangat berperan aktif dan mempengaruhi pendidikan seseorang,

dimana tempat tersebut dapat membawa dampak positip ketika pembinaan tersebut

dilaksanakan sesuai dengan ajaran agama Islam, tempat-tempat tersebut adalah

keluarga, sekolah dan masyarakat. Tiap-tiap lingkungan tersebut dapat memberikan

pengaruh pada proses pembentukan individu melalui pendidikan yang diterimanya.

Keluarga merupakan unit pertama dan institusi pertama dalam masyarakat

dimana hubungan-hubungan yang terdapat didalamnya sebagian besar sifatnya

hubungan-hubungan langsung. Keluarga adalah pokok pertama yang mempengaruhi

pendidikan seseorang. Dalam keluarga ajaran akhlak merupakan aspek pertama yang

diterapkan terhadap anak-anak. Orang tua sebagai penanggung jawab keluaga harus

memahami dan mengamalkan ajaran agamanya. 30

Keluarga yang hidup jauh dari agama tidaklah mungkin memberikan

pembinaan jiwa agama bagi anak-anaknya. Dalam pembinaan agama, sebenarnya

paktor orang tua sangat menentukan, karena rasa agama akan masuk terjalin ke dalam

30

Ramayulis, Pendidikan Islam Dalam Rumah Tangga, (Jakarta : Kalamulia, 1987), Cet ke-1, h. 11-17

(32)

pribadi anak bersamaan dengan semua unsur-unsur pribadi yang didapatkan sejak

kecinya.31

Dengan kata lain orang tua harus memberikan contoh yang baik terhadap

anaknya sehingga anak tersebut dapat meniru sikap orang tua yang baik sehingga

diterapkan dalam kehidupan peribadi anak itu sendiri. Pembinaan akhlak dirumah

tangga meliputi tiga aspek yaitu, 1) Akhlak dengan Allah SWT. 2) Akhlak dengan

manusia, 3) Akhlak dengan makhluk lain.

Akhlak dengan Allah dapat ditingkatkan dengan melaksanakan ibadah yang

dapat melatih rohani manusia menjadi suci, dengan rohani yang suci maka akan dapat

mendekatkan diri kepada Allah, karena Allah adalah zat yang suci. Begitupun akhlak

dengan manusia dapat ditingkatkan dengan ibadah pula yaitu dengan mengedepankan

dua sisi yang harus dipandang melalui pembinaan akhlak terhadap Allah SWT dan

pembinaan akhlak terhadap manusia.

Dengan demikian pembinaan dalam keluarga sangat mempengaruhi anak

dalam melaksanakan ajaran ajaran agama Islam, karena dari keluargalah yang

pertama mempengaruhi kepribadian anak sehingga anak mampu melaksanakan apa

yang diperintahkan Allah SWT dan apa yang dilarangnya.

Adapun metode yang digunakan dalam pembinaan akhlaq dalam keluarga

diantaranya melalui pembiasaan, dimana anak dibiasakan untuk membaca

mengucapkan hal-hal yang menyangkut pada peningkatan kemampuan anak, seperti

pengucapan “Bassmalah” sebelum memulai suatu perbuatan. Ada juga dengan

31

(33)

metode latihan (dramatisasi) artinya sianak mempraktekan hal-hal yang menyangkut

perintah Allah seperti sholat, puasa, zakat, dan segala sesuatu yang memerlukan

pekerjaan langsung.32

Selain lingkungan lembaga pendidikan yang melaksanakan pembinaan

pendidikan dan pengajaran dengan sengaja, teratur dan terencana adalah sekolah.33 Sekolah merupakan lanjutan dari pendidikan dalam keluarga, dalam perkembangan

masyarakat modern, orang tua menyerahkan tanggung jawabnya kepada sekolah,

sekolah diminta untuk memikul tanggung jawab akan pendidikan anak, karena tidak

semua tugas pendidikan dapat dilakukan oleh orang tua, oleh karena itu anak dikirim

kesekolah. Dengan demikian pendidikan disekolah adalah bagian dari pendidikan

keluarga yang sekaligus juga lanjuran dari pendidikan keluarga. Disamping itu

kehidupan sekolah harus dipandang sebagai jembatan bagi anak untuk

menghubungkan kehidupan keluarga dengan kehidupan kelak di masyarakat.34

Di sekolah anak dididik oleh guru yang menjadi titik sentral penentu untuk

merubah siswa kepada yang lebih baik. Guru yang masuk kedalam kelas

melaksanakan tugas pembinaan pendidikan pengajaran adalah orang-orang yang telah

dibekali dengan pengetahuan tentang anak didik dan memiliki tugas kepandidikan.

Guru yang masuk kelas membawa seluruh unsur kepribadiannya, agamanya,

akhlaknya, pemikirannya, sikapnya, dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

32

Ramayulis, Op. Cit, h. 13 33

Zakiah Daradjat, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, Op. Cit, h.77

34

(34)

Penampilan seorang guru semuanya diserap oleh seluruh anak didik sehingga tingkat

keberhasilan suatu pendidikan di sekolah itu tergantung pada guru itu sendiri.

Kendatipun demikian seorang guru mempunyai peranan penting dalam proses

pendidikan di sekolah tetapi dalam proses pembinaan dan pengamalan ajaran agama

Islam di sekolah, guru tidak sepenuhnya mempu menjalankan pembinaan ajaran

agama Islam di kelas. Karenanya tugas seorang guru khusunya guru pendidikan

agama Islam yang berada di sekolah-sekolah lanjutan, selain tugas mengajar

menyampaikan materi pendidikan agama Islam tetapi ada tugas lain yang tidak bisa

disampaikan dalam kelas pada waktu proses belajar mengajar. Yaitu dengan

mengadakan kegitan-kegitan tambahan dalam proses pembinaan pengamalan ajaran

agama Islam, baik itu melalui kegiatan ekstra kurikuler maupun belajar tambahan.

Diantara kegiatan-kegiatan tambahan yang ada di sekolah yaitu adanya

organisasi yang menampung semua bakat-bakat siswa dan menyalurkannya, sehingga

siswa termotivasi untuk lebih meningkatkan pengetahuannya dengan mengikuti

organisasi yang ada di sekolah tersebut. Disekolah-sekolah lanjutan dan umum itu

ada oranisasi di bawah naungan OSIS yang lebih mengedepankan proses pembinaan

pengamalan ajaran agama Islam. Organisasi tersebut disebut ROHIS (Rohani Islam).

Dengan memanfaatkan mesjid yang ada disekolah-sekolah yang tidak hanya

dijadikan tempat ibadah akan tetapi dijadikan sebagai tempat-tempat belajar,

berdiskusi, pengajian, dan lain-lain yang mengarahkan pada pembinaan ajaran agama.

Lingkungan masyarakat juga mempunyai pengaruh yang sangat besar

(35)

mempunyai hubungan timbal balik, sekolah menerima pengaruh masyarakat, dan

masyarakat dipengaruhi oleh hasil pendidikan sekolah.35

Dengan demikian lingkungan masyarakat adalah tempat yang sangat

mempengaruhi tiap tiap individu untuk lebih meningkatkan pendidikan dalam

pembinaan ajaran agama selain dari keluarga dan sekolah.

Tanggung jawab masyarakat terhadap pendidikan anak-anak menjelma dalam

beberapa perkara dan cara yang dipandang merupakan metode pendidikan masyarakat

yang utama, cara yang penting yaitu Allah menjadikan masyarakat sebagai penyuruh

kebaikan dan pelarang kemunkaran sebagaimana diisyaratkan Allah dalam

firmann-Nya :

Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru pada

kebajikan, menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar;merekalah

orang-orangberuntung,” (Ali Imran :104)

35

(36)

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh

kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah

…” (Ali Imron : 110)

Berdasarkan ayat diatas kewajiban para pembimbing anak adalah menjaga

fitrah anak tetap dalam kesucian dan terhindar dari berbagai penyelewengan atau

kehinaan.36

Sekolah merupakan jembatan penerus bagi pembinaan pendidikan dalam

keluarga menuju masyarakat, sehingga pembinaan dalam sekolah lebih menekankan

kepada peningkatan kualitas baik dalam ilmu pengetahuan, bersikap dan berprilaku

yang tidak melanggar pada norma-norma yang berlaku sesuai dengan aturan agama

Islam.

Mengenai metode pembinaan pengamalan ajaran agama Islam yang dilakukan

disekolah-sekolah, sesungguhnya merupakan hal yang tidak mudah menyempurnakan

dan memperbaikinya. Dalam perbaikan dan penyempurnaan sistem pendidikan

hendaknya ditegaskan tentang tujuan pendidikan Islam disekolah-sekolah, yaitu

mampu membina anak didik menjadi seorang warga negara yang baik dan sekaligus

36

(37)

menjadi penganut agama yang baik.37 Maka dalam hal ini yang berpengaruh dan bertanggung jawab dalam pembinaan ajaran agama Islam di sekolah yaitu semua

yang berada dalam lingkungan sekolah tersebut diantaranya kepala sekolah, guru dan

karyawan sekolah.

2. Tanggung jawab pembinaan ajaran agama Islam di sekolah

a. Peranan kepala sekolah

Menurut H.M Daryanto “Kepala Sekolah merupakan personal sekolah yang

bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan sekolah, ia mempunyai tanggung jawab

dan wewenang penuh untuk menyelenggarakan seluruh kegiatan pendidikan dalam

lingkungan sekolah yang dipimpin dengan dasar Pancasila”.38

Selain itu kepala sekolah tidak hanya bertanggung jawab atas kelancaran

jalannnya sekolah secara teknis akademis saja, akan tetapi banyaknya masalah baru

yang timbul harus menjadi tangung jawab kepala sekolah untuk dipecahkan dan

dilaksanakannya.

Dalam masalah pembinaan siswa terhadap pengamalan ajaran agama Islam

yang di bina melalui kegiatan Rohis, kepala sekolah memantau semua kegiatan yang

dilaksanakannya dan menciptakan komunikasi dengan pembina Rohis dan guru

Pendidikan Agama Islam sehingga kegiatan yang dijalankan oleh Rohis tidak

bertolak belakang dengan kebijakan kepala sekolah.

37

H. Alamsjah ratu Perwiranegara, Pembinaan Pendidikan Agama, (Jakarta : Depag RI,182), h. 60

38

(38)

Kepala sekolah juga memberikan petunjuk, pengarahan, mendorong semangat

kerja, menegakkan disiplin, memberikan usaha lainnya agar mereka dalam

melakukan pekerjaan mengikuti arah yang ditetapkan dalam petunjuk, peraturan atau

pedoman yang telah ditetapkan. Karena arahan dan bimbingan merupakan bentuk

bantuan fsikolagi yang sangat dibutuhkan oleh setiap bawahan, staf dan anggota

organisasi dalam rangka manifestasi keterlibatan mereka pada tiap bentuk kegiatan

yang di butuhkan.

b. Peranan guru dalam pembentukan pribadi siswa

Guru adalah sosok arsitektur yang dapat membentuk jiwa dan watak siswa

/anak didik. Guru mempunyai kekuasaan untuk membentuk dan membangun sikap

pribadi anak didik menjadi seorang yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Guru

bertugas mempersiapkan manusia susila yang cakap yang dapat diharapkan

membangun didikannya dan membangun bangsanya.

Guru mempunyai tugas yang sangat penting, ia mengembangkan ilmu

pengetahuan dan memperbaiki masyarakat. Sekolah adalah sumber untuk tiap-tiap

perbaikan dan guru yang ikhlas dapat mengangkat derajat umat, sehingga setarap

dengan bangsa-bangsa yang telah maju. Gurulah yang menanamkan adat istiadat yang

baik dalam jiwa para siswa, gurulah yang memasukkan pendidikan akhlak dan

keamanan dalam hati sanubari mereka, bahkan gurulah yang memberikan pendidikan

kemasyarakatan dan cinta tanah air.

Pendapat tersebut diatas senada dengan pendapat S. Nasution mengatakan

(39)

saja kepada murid melainkan senantiasa membentuk pribadi anak”.39 Oleh karena itu guru mempunyai kesempatan yang besar sekali untuk memperbaiki

keburukan-keburukan yang ada dalam diri anak didik. Pengaruh guru terhadap siswa-siswanya

sama juga dengan pengaruh seorang bapak terhadap anak-anaknya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam proses belajar-mengajar, setiap guru

mempunyai peranan penting terhadap pendidikan dan pengajaran terhadap peserta

didik. Namun sudah barang tentu ada yang sifatnya berpengaruh secara positif dalam

arti mendorong dan menggiatkan peserta didik untuk belajar dan sebaliknya ada pula

yang negative, seperti sikap suka marah-marah, pilih kasih, pengancam dan

sebagainya, yang mungkin dilakukan oleh seorang guru secara sadar atau tidak sadar.

Perilaku demikian tentunya dapat merusak dan mengorbankan pendidikan dan

pengajaran secara keseluruhan.

Islam memandang seseorang untuk menjadi guru bukan hanya karena ia telah

memiliki kualifikasi keilmuan dan akademis saja, tetapi lebih penting lagi ia harus

terpuji akhlaknya, karena guru bukan hanya mengajarkan ilmu pengetahuan saja

tetapi lebih penting membentuk pribadi anak didiknya dengan akhlak dan ajaran

agama Islam.

Dengan demikian penilaian tentang guru sebagai figur tauladan dapat dilihat

dari dua segi, yaitu kepribadian atau akhlaknya dan kualitas keilmuan (hal-hal yang

berhubungan dengan profesionalisme sebagai tenaga kerja).

39

(40)

Guru sebagai tauladan dari sudut kepribadian guru, sebagaimana yang

diungkapkan oleh Dr. Hossein Nass dan kawan-kawan dalam Konferensi Pendidikan

Islam Pertama di Makkah tahun 1977 antara lain menyimpulkan “ Guru sebagai figur

sentral dalam dunia pendidikan haruslah dapat diteladani akhlaknya disamping

kemampuan keilmuan dan akademisnya. Selain itu guru harus mempunyai tanggung

jawab moral untuk membentuk anak didiknya menjadi orang yang berilmu dan

berakhlak”.40

Patut disadari bahwa peranan guru, baik guru agama maupun guru umum di

kelas sangat berpengaruh diharapkan sadar akan tanggung jawab sebagai guru, dapat

mendorong dan menanamkan sikap tauladan (akhlakul karimah) dalam membentuk

siswa yang berakhlakul karimah pula.

Zakiah Darajat mengemukakan bahwa “Kepribadian itulah yang akan

menentukan ibadah. Ia menjadi pendidik dan pembina baik bagi anak didiknya

ataukah menjadi perusak atau penghancur bagi hari depan anak”.41

Sehubungan dengan fungsi sebagai pengajar, pendidik dan pembimbing,

maka diperlukan adanya berbagai peranan pada diri seorang guru, tak terkecuali guru

agama. “Peranan guru ini kan senantiasa menggambarkan pola tingkah laku yang

40

Azumardi Azra, Esei-esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, (Jakarta : Wacana Ilmu , 1998), Cet ke-1, h. 167

41

(41)

diharapkan dalam berbagai interaksi, baik dengan siswa (yang terutama), sesama

guru, maupun dengan staff yang lain”.42

Peranan guru menurut Pocy Katz digambarkan “Sebagai komunikator, sahabat

yang dapat memberikan nasihat-nasihat, motivator sebagai pemberi inspirasi dan

dorongan, pembimbing dalam pengembangan sikap dan tingkah laku serta nilai-nilai

yang menguasai bahan yang diajarkannya”.43

Dalam kaitannya, dengan peranan guru agama Islam dalam pembentukan

kepribadian siswa, maka guru agama Islam “ Sedapat mungkin harus memahami

hakikat anak didiknya sebagai objek pendidikan. Kesalahan dalam pemahaman

hakikat anak didik menjadikan kegagalan total”.44

Hubungan guru Agama Islam dengan anak didik didalam proses belajar

mengajar merupakan faktor yang sangat menentukan. Bagaimanapun baiknya bahan

pelajaran yang diberikan, bagaimanapun sempurnanya metode yang dipergunakan,

Namur jika hubungan guru-siswa tidak harmonis,maka hasil yang akan diperoleh

tidak akan baik.

Demikianlah seorang guru Agama Islam di tuntut untuk mempunyai peran

lebih sebagai pendidik, penyalur informasi, pengganti kedudukan orang tua dan

berbagai hal lain yang patut menjadi tauladan. Diantaranya mampu mengadakan

42

Sardiman A.M, Interaksi dan Motivasi Mengaja, Pedoman Bagi Guru dan Calon Guru,

(Jakarta : PT Grapindo Persada, 1994), Cet ke-4, h. 111

43

Ibid, h. 142 44

(42)

kegiatan di luar jam pelajaran yaitu kegiatan ekstra kurikuler di bawah naungan

OSIS yang dinamakan kegiatan Rohis yang mengarahkan pada pembinaan dan

pengamalan siswa terhadap ajaran agama Islam.

3. Rohis sebagai wadah pembinaan ajaran agama Islam di sekolah

Rohis berasal dari kata Rohani dan Islam. Kata Rohani dalam bahasa arab

berarti “Ruh”, sedangkan dalam kamus bahasa Indonesia arti rohani adalah ruh yang

bertalian dengan yang tidak berbadan jasmani.45

Sedangkan menurut Abdul Halim Mahmud Ruh adalah bagian manusia yang

paling mulia karena ia adalah tiupan dari Allah SWT, ia harus dididik dengan tujuan

untuk mempermudah jalan dihadapannya untuk bermakrifat kepada Allah SWT dan

membiasakannya serta melatihnya untuk melaksanakan benar-benar ibadah kepada

Allah.46

Pengertian Islam dalam buku ensiklopedi Islam disebutkan bahwasannya,

Islam diartikan dengan tunduk, patuh kepada ajaran yang dibawa nabi Muhammad

SAW.47

Jadi Rohis adalah sebuah lembaga di bawah naungan OSIS di bidang

keagamaan yang mendidik siswa dan siswi yang tujuannya untuk lebih mempercayai

45

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Op.Cit., h. 752 46

Ali Abdul Halim, Pendidikan Ruhani (Jakarta : Gema Insani Press, 2000), Cet ke 1, h. 65

47

(43)

adanya Allah serta patuh dan tunduk kepada ajaran Allah yang telah dibawa oleh

Nabi Muhammad Saw.

Dasar pemikiran diselenggarakannya Rohis adalah remaja yang merupakan

generasi penerus yang menjadi harapan orang tua bangsa dan Negara yang sangat

dibutuhkan dalam meneruskan pembangunan yang lebih maju dan punya kwalitas

keagamaan yang matang. Remaja adalah masa transisi yang penuh gejolak sehingga

dibutuhkan suatu wadah yang dapat membina dan mengarahkannya sehingga tidak

mudah terpengaruh dan terjerumus kepada hal yang tidak baik. Kemajuan teknologi

yang terus berkembang yang menjadi tantangan buat remaja agar mampu

menyeimbangkan sejalan dengan kemajuan zaman tersebut. Di harapkan juga siswa

dapat meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan YME dengan melaksanakan ibadah

yang wajib maupun yang sunnah, juga mempunyai wawasan keislaman dan

kreatipitas yang tinggi dalam bidang keilmuan serta mampu menghindari diri dari

perbuatan munkar.

Adapun pembinaan dan pengamalan ajaran agama Islam bagi siswa melalui

kegiatan Rohis dapat diuraikan sebagai berikut :

Pembinaan adalah suatu upaya, usaha kegiatan yang terus menerus untuk

memperbaiki, meningkatkan, menyempurnakan dan mengembangkan kemampuan

(44)

mengamalkan ajaran agama Islam sebagai pola kehidupan sehari-hari, baik dalam

kehidupan pribadi, keluarga maupun kehidupan sosial kemasyarakatan.48

Sedangkan pengamalan adalah suatu proses (pembuatan) melaksanakan

pelaksanaan, penerapan.49 Dengan demikian pembinaan pengamalan ajaran agama Islam adalah suatu upaya atau usaha kegiatan yang terus menerus untuk memperbaik,

meningkatkan, menyempurnakan, mengarahkan, mengembangkan perbuatan dalam

melaksanakan ajaran agama Islam seperti pelaksanaan sholat berjamaah, sholat

sunnah, mendengarkan ceramah, berpuasa di bulan Ramadhan, membaca al-qur’an,

beramal dan keratifitas dalam seni budaya Islam.

48

Depag, Proyek Penerangan Bimbingan Khutbah ; Bimbingan Rohani pada Darma Wnita, (Jakarta : DEPAG, 1984), h.8

49

(45)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan, maka penelitian ini

bertujuan :

1. Untuk mengetahui pelaksanaan kegiatan Rohis dalam membina ajaran agama

Islam di SMP Negeri 1 Ciputat.

2. Untuk mengetahui hasil pembinaan ajaran agama Islam yang dilakukan Rohis di

SMP Negeri 1 Ciputat.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Ciputat. Adapun waktu yang di

perlukan dalam kegiatan penelitian diperkirakan 15 hari dari tanggal 1 sampai dengan

15 Agustus 2006.

Adapun “Schedule” penelitiannya adalah :

No. Tanggal/bulan/ tahun Kegiatan

01. 2 Mei – 9 Juni 2006 Penyusunan proposal skripsi dan pengesahan judul skripsi

02. 10 Juni - 29 Juli 2006 Penyusunan teori

03. 1 Agustus - 15 Agustus Pengumpulan data

04. 16 Agustus – 10

September

(46)

C. Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian sebagai sasaran untuk

mendapatkan dan mengumpulkan data.50 Dengan kata lain, populasi sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan

karakteristik tertentu baik berupa orang, benda atau wilayah yang ingin diketahui oleh

peneliti dan dapat ditarik kesimpiulannya. Sedangkan Sampel adalah bagian dari

suatu populasi yang mewakilinya secara representatif.51

Dalam penelitian ini yang menjadi populasi target adalah seluruh siswa SMP

Negeri 1 Ciputat. Dari populasi target tersebut, yang menjadi populasi terjangkau

adalah siswa kelas I yang berjumlah 418 orang. Dipilihnya siswa kelas I sebagai

populasi terjangkau, karena siswa kalas I merupakan titik awal dalam proses

pembinaan ajaran agama Islam, selain itu juga siswa kelas I lebih mudah untuk

diarahkan dan dibina untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang bersifat

ekstra-kurikuler, dan Rohis merupakan salah satu kegiatan ekstra-kurikuler yang melibatkan

seluruh siswa terutama siswa kelas I. Sedangkan siswa kelas II dan kelas III lebih

difokuskan terhadap kegiatan belajar mengajar sehingga keterlibatan dalam berbagai

kegiatan ekstra-kurikuler biasanya dikurangi bahkan ditiadakan.

Dari jumlah populasi target tersebut diambil sample sebanyak 10 % atau sama

dengan 40 orang. Penarikan sampel ini didasarkan pada pendapat Suharsimi Arikunto

50

P. Joko Subagyo, Metode Penelitian dalam Teori dan Praktek, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 1999) Cet ke-3, h.23

51

(47)

yang mengatakan bahwa populasi melebihi 100 0rang maka sampel dapat diambil 10

– 15 % atau 20 – 25 %.52

Adapun teknik pengambilan sampel adalah dengan menggunakan teknik acak

sederhana (Simple Random Sampling), karena semua anggota populasi mempunyai

hak yang sama untuk terpilih menjadi sampel.

D. Instrumen Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data tentang variable pembinaan pengamalan ajaran Islam

melalui kegiatan Rohis,. Penulis menggunakan instrument penelitian yang meliputi:

angket, observasi dan wawancara. Ketiga instrument tersebut digunakan untuk

memperoleh data penelitian yang akurat sesuai dengan tema di atas. Di bawah ini

penulis jelaskan tentang instrument yang digunakan dalam pengumpulan data:

1. Angket

Angket adalah suatu cara atau metode penelitian yang menggunakan daftar

pertanyaan yang harus di jawab responden. Angket disebarkan kepada responden

untuk memperoleh data tentang pelaksanaan sholat jamaah, pelaksanaan shalat

sunnah, ceramah keagamaan, pengenalan bacatulis al-qur’an, pembiasaan berinfaq

dan bershodaqoh, perayaan hari - hari besar Islam, dan pengembangan seni budaya

Islam dengan jumlah sampel yang sudah ditetapkan yaitu 40 orang.

52

(48)

Bentuk yang digunakan dalam penyusunan angket ini adalah angket tertutup,

dengan alternatif jawabannya: Selalu = 4, sering = 3, kadang-kadang = 2, tidak

pernah =1. Responden dapat memilih salah satu dari alternatif jawaban yang ada.

Penyusunan angket berdasarkan pada aspek yang ada pada teori (Pembinaan

pengamalan ajaran agama Islam melalui kegiatan Rohis). Urutan penyusunan angket

adalah daftar pertanyaan yang digunakan untuk memperoleh data pembinaan

pengamalan ajaran agama Islam melalui kegiatan Rohis.

Rincian data yang dikumpulkan melalui angket adalah sebagai berikut:

a) Data tentang pelaksanaan shalat jamaah, terdiri dari 5 item.

b) Data tentang pelaksanaan shalat sunnah, terdiri dari 3 item.

c) Data tentang ceramah keagamaan, terdiri dari 3 item.

d) Data tentang pengenalan membaca Al-qur’an terdiri dari 3 item

e) Data tentang pembiasaan berinfaq dan shadaqah terdiri dari 2 item

f) Data tentang peringatan hari-hari besar Islam terdiri dari 2 item

g) Data tentang pengembangan seni budaya Islam terdiri dari 2 item

Secara lebih jelas kuesioner (angket) tentang pembinaan pengamalan ajaran

Islam melalui kegiatan Rohis dapat ditampilkan dalam bentuk tabel kisi-kisi angket

(49)
[image:49.612.115.525.160.486.2]

Tabel I

Kisi-kisi Instrumen Pembinaan Pengamalan Ajaran Islam Melalui Kegiatan

Rohis

Variabel Indikator Jumlah

item

Butir

Item

Pelaksanaan Shalat Jamaah 5 1,2,3,4,5

Pelaksanaan Shalat Sunnah 3 6,7,8

Ceramah Keagamaan 3 9,10,11

Pengenalan Membaca Qur’an 3 12,13,14

Pembiasaan berinfak dan

bershadaqoh

2 15,16,

Peringatan Hari-hari Besar Islam 2 17,18

Pengembangan Seni Budaya Islam 2 19,20

Pembinaan Pengamalan Ajaran Islam Melalui Kegiatan Rohis

Jumlah 20 20

2. Observasi

Observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan jalan mengadakan

pengamatan langsung secara sistematis terhadap objek penelitian. Observasi ini

diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang

muncul, dan mempertimbangkan antara aspek dalam fenomena tersebut. Dalam

observasi ini, penulis mengamati dan sekaligus berpartisipasi dalam pembinaan serta

pelaksanaan kegiatan Rohis di SMP Negeri I Ciputat.

3. Wawancara

Wawancara adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan

(50)

respon siswa, guru serta pegawai sekolah dalam pembinaan ajaran agama islam

melalui kegiatan Rohis. Dengan mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan dalam

bentuk lisan secara terstruktur dan sistematis.53 Dalam hal ini penulis melakukan wawancara dengan Pembina Rohis yang merupakan guru Pendidikan Agama Islam

di SMP Negeri I Ciputat. Adapun data pedoman wawancara terlampir.

E. Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Untuk mengolah angket yang telah penulis peroleh dari responden dilakukan

penganalisaan data dengan statistik distribusi frekuensi, yaitu memeriksa

jawaban-jawaban dari responden (siswa), lalu dijumlahkan, diklasifikasikan dan ditabulasikan

(dibuat tabel) data yang di dapat dari item pertanyaan akan dibuat satu tabel yang

didalamnya langsung dibuat satu frekuensi dan prosentase menggunakan rumus :

N

f

p

=

X

100

%

Keterangan

=

p Presentase yang dicari persentasenya

=

f Frekuensi dari hasil jawaban

=

N Jumlah seluruh sampel54

53

P. Joko Subagyo, op cit, h.39 54

(51)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

Pada bab ini disajikan hasil penelitian yang telah dilakukan secara rinci dan

penyajiannya dibagi kedalam empat bagian, yaitu : gambaran umum objek

penelitian, gambaran umum Rohis, deskripsi dan analisis data serta pembahasan

hasil penelitian.

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

1. Sejarah berdirinya SMP Negeri 1 Ciputat

Pendidikan merupakan kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan kualitas

anak bangsa. Dengan pendidikan masyarakat akan berubah menuju arah kehidupan

yang lebih baik. Bangsa yang maju adalah bangsa yang sangat mengutamakan dan

menghargai pendidikan. Oleh karena itu jika sebuah bangsa ingin meningkatkan

kualitas hidupnya, maka pilihannya hanya satu, yaitu dengan mengutamakan

pendidikan.

Masyarakat Ciputat sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang ingin maju,

juga sangat mendambakan tersedianya lembaga pendidikan yang memadai. Untuk

mewujudkan dambaan tersebut pada tanggal 2 Januari 1974 didirikan Sekolah

Menengah Pertama Negeri 1 Ciputat. Sebelum tahun 1974 wilayah kecamatan

Ciputat belum ada SMP Negeri, yang ada hanyalah sekolah swasta yaitu SGB

(Sekolah guru bantu, sedrajat dengan SMP) dan Pendidikan Guru Agama

Muhamadiyah yang terletak di Jl. Dewi Sartika Ciputat. Dengan demikian anak-anak

(52)

lulusan SD atau Madrasah di wilayah Ciputat yang akan melanjutkan SMP harus

pergi ke Jakarta.

Kondisi tersebut mendorong tokoh-tokoh masyarakat Ciputat untuk

mendirikan SMP di wilayah Ciputat. Berdasarkan musyawarah masyarakat Ciputat di

bangun Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Ciputat di atas tanah seluas 4.000 M,

dengan biaya pembangunan sepenuhnya menggunakan dana swadaya masyarakat

desa Cireundeu. Bangunan ini baru dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar

pada tanggal 2 Januari 1975. Namun sebelum gedung SMP Negeri 1 Ciputat selesai

dibangun proses belajar mengajar sudah dimulai sejak tahun 1975 dengan

menumpang di Madrasah Nurul Falah sebanyak 2 lokal.

SMP 1 Ciputat telah menjadi sekolah mandiri sejak tahun 1975, yang

berlokasi di Jl. Cireundeu Raya No, 2 Ciputat Tanggerang. Dari tahun 1975 – 1979

berubah nama menjadi SMPN 48 Filial Jakarta, namun tahun 1979 diambil alih oleh

Propinsi Jawa Barat berubah nama menjadi SMP Negeri Filial Ciledug. Kemudian

pada akhir 1979 ditetapkan menjadi SMP Negeri Cirendeu, dan akhirnya pada tahun

1999 sesuai dengan urutan nomenklatur wilayah kecamatan Ciputat menjadi SMP

Negeri 1 Ciputat sampai saat ini.

2. Keadaan Guru, Karyawan, dan Siswa

a. Keadaan Guru

Untuk menunjang kelancaran proses belajar mengajar, perlu di dukung tenaga

pengajar yang memadai yang sesuai dengan kebutuhan sekolah. Adapun tenaga

(53)

guru laki-laki dan guru perempuan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel

[image:53.612.98.555.145.672.2]

berikut :

Tabel 1

Keadaan Guru SMP Negeri 1 Ciputat

Tahun 2005/200655

No Nama Guru Lulusan/Jurusan/Tahun Bidang Studi

1 Drs.H. Nurhadi, MM. MBA S2/Manajemen/1995 Kepala Sekolah

2 Sutardi, BA SM/Filsafat Pendidikan/1976 Seni Rupa

3 Tiho Sari Pohan SM/Sejarah/1976 Sejarah

4 Supardi, S.Pd S1/B. Indonesia/1976 Penjas

5 Drs. Maman Hilman S2/B.Indonesia/1985 B. Indonesia

6 Purwati, S.Pd S1/B.Indonesia/1979 Seni Musik

7 Drs. Alimudin S2/Teori Sejarah Pendidikan/1988 Geografi

8 Dasril Djama’an, S.Pd S1/IPA/1979 Biologi

9 Syarifah, S.Pd S1/B.Inggris/1983 B. Inggris

10 Andos Kostaman, S.Pd S1/B. Inggris/1981 B. Inggris

11 Sri Hastutu, S.Pd S1/Sejarah/1986 Ekop

12 Dra. Iswianti S1/Tata Boga/1991 T. Boga

13 Ikbal S.Pd S1/Matematika/1982 Matematika

14 Dra. Siti Alawiyah S1/Bid. Pendidikan/1988 B. Indonesia

15 Drs. Suryadi Permana S1/PPKAN/1992 Sejarah&PPKN

16 Suhono D3/IPA/1980 Biologi&Fisika

17 Hamidah, S.Pd S1/Geografi/1981 Geografi

18 Ahmad, SE S1/Ekonomi/1986 Penjas

19 Nurya Aini D3/B.Indonesia/1982 B. Indonesia

55

(54)

20 Tugiman, SE S1/Ekonomi/1984 Matematika

21 Hery Warsito D3/IPA/1981 Fisika

22 Sugiarti, S.Pd S1/IPA/1986 Biologi&Fisika

23 Ansor Gozali D2/B.Indonesia/1986 B. Indonesia

24 Lily Nurlinah, SE S1/Ekonomi/1985 Jasa

25 Hj. Tutik Munawati, S.Pd S1/B.Indonesia/1987 B. Indonesia

26 Mustofa, BA Sm/Agama Islam/1988 Agama Islam

27 Edison Limbong D3/IPA/1984 Fisika

28 Hj. Yeni Krisna D3/Kesenian/1991 Kesenian

29 Isdarman D2/IPS/1985 Ekop&Geografi

30 Kartini Eling S, S.Pd S1/Matematika/1991 Matematika

31 Tutik Widayati, S.Pd S1/B. Inggris/1997 B.Inggris

32 Suharni, S.Pd S1/IPA/1989 Fisika

33 Rasmawati, BA SM/Pendidikan Agama/1990 Agama Islam

34 Enok Yanti S, S.Pd S1/Tata Boga/1998 T. Boga

35 Winarti D3/Matematika/1990 Matematika

36 Marfu’ah D3/B. Inggris/1993 B.Inggris

37 Winarni, S.Pd S1/PPKN/1998 PPKN

38 Saspi, N. S.Pd S1/B.I ndonesia/1998 B. Indonesia

39 Drs. Tafrial S1/Matematika/1998 Matematika

40 Dra. Cici Rukaesih S1/Sejarah/1999 Sejarah

41 Syarif Hidayat S1/B.Indonesia/1983 B.Indonesia

42 Drs. Junaedi Abyan S1/B.Indonesia/1984 B. Indonesia

43 Yoeliani, S.Pd S1/B. Inggris/1999 B.Inggris

44 Euis Kurniawati, S.Pd S1/Matematika/1990 Matematika

45 Munawair, SM, S.Pd S1/Pend Agama Islam/1989 Agama Islam

(55)

47 Sumiaty D3/Biologi/1996 Biologi

48 Muhamad. Isa S.Pd S1/Pend. MIPA/1995 Matematika

49 Tri Endang L, S.Pd S1/B. Inggris/1997 B. Inggris

50 Yanti Kartini, S.Pd S1/Ekonomi/2002 Ekop&Geografi

51 Sayuti Wijaya, D2/PPKAN/1974 PPKN

52 Husen, S.Pd S1/IPS/1992 Penjas

53 Nani Saidah, S.Pd S1/Sejarah/1997 Sejarah&Geografi

54 Mahdalena, S.Pd S1/PPKN/1999 PPKN&Sejarah

55 Kusnaedi, S.Ag S1/Agama Islam/2000 Geografi

56 Rina T, S.Pd S1/Matematika/2003 Matematika

57 Suma Hardinata S1/Tekhnik Informatika/1997 Komputer

58 Arif M. Nafrizal D3/Informatika&Komp/1999 Komputer

59 Tedy Suryanto SLTA/Elektro/2003 Komputer

60 Mulyati Syahni, S.Pd S1/Psikologi/1993 BK

61 Hari Supratikno, S.Psi S1/Psikologi/2005 BK

62 Rasyid Ridho, S.Psi S1/Psikologi/2003 BK

Dengan melihat tabel di atas, dapat di teliti tentang guru yang dibutuhkan di

SMP Negeri 1 Ciputat. Apakah sudah memadai atau belum? Menurut Petunjuk

Administrasi Sekolah Menengah Umum yang dikeluarkan oleh DEPDIKBUD tahun

1996-1997, bahwa untuk menghitung kebutuhan guru pada suatu sekolah dapat

dihitung dengan Rumus :

KGR

JW

XxY

=

(56)

Y = Alokasi waktu semua mata pelajaran per/minggu

KGR = Kebutuhan guru pada mata pelajaran suatu sekolah

JW = Jam wajib mengajar / 18 jam.56

Di SMP Negeri 1 Ciputa

Gambar

Tabel 20 Shodaqoh pada kotak amal setiap hari jum’at ................................ 63
Tabel I
Tabel 1 Keadaan Guru SMP Negeri 1 Ciputat
Tabel 2 Keadaan Karyawan SMP Negeri 1 Ciputat
+7

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mendeskripsikan solusi untuk mengatasi kendala yang timbul dalam implementasi pendidikan karakter religius melalui kegiatan ekstrakurikuler Rohis di SMA Negeri

Dalam hasil penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 8 Bandar Lampung dapat disimpulkan bahwa melalui kegiatan ekstrakurikuler Rohis sudah berjalan dengan

Peran Rohis dalam sekolah negeri ketika dapat memberikan kontribusi untuk memotivasi siswa belajar agama Islam dapat menjadikan pelajar-pelajar yang bisa mengunakan masa

Dalam penelitian ini ketika data yang berhubungan dengan Rohis dan motivasi belajar sudah diperoleh maka disajikan dalam bentuk tulisan, tabel, dan gambar untuk menjawab peran Rohis

menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “ Upaya Meningkatkan Spiritualitas Peserta Didik Melalui Kegiatan Rohani Islam (ROHIS) di SMK Negeri 2 Purwokerto ” adalah

Peningkatan Kompetensi Guru Agama Islam Melalui Pembelajaran Pengamalan (Penelitian tentang Komptensi Pedagogis, Komptensi Profesional, Komptensi Kepribadian dan

Proses peningkatan kecerdasan spiritual melalui kegiatan ekstrakurikuler keagamaan (rohis) sudah terlaksana dengan baik dengan adanya kegiatan- kegiatan mingguan

Kesimpulan Sesuai dengan permasalahan dan tujuan yang telah penulis rumuskan maka dapat penulis simpulkan penelitian ini sebagai berikut;Pembinaan Pendidikan Agama Islam melalui