Oleh :
Dhina Etman NIM 4112111005
Program Studi Pendidikan Matematika
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan
karunia yang telah dihadiahi-Nya kepada penulis sehingga skripsi ini dapat
terselesaikan dengan baik sesuai dalam kurun waktu yang diharapkan.
Skripsi yang berjudul “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar pada Sub Pokok Bahasan Prisma dan Limas Melalui Teori Belajar Van Hiele di Kelas VIII SMP Kartika I-2 Medan T.A 2014/2015”, disusun untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Medan.
Pada kesempatan ini dengan segala ketulusan dan kerendahan hati penulis
menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak Dr. M. Manullang, M.Pd sebagai
dosen pembimbing skripsi yang telah banyak memberikan dorongan, bimbingan serta
saran kepada penulis sejak awal pembuatan proposal penelitian hingga
terselesaikannya penulisan skripsi ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada
Bapak Prof. Dr. Pargaulan Siagian, M.Pd, Ibunda Dra. Ida Karnasih, M.Sc., Ed.,
Ph.D, Bapak Pardomuan N.J.M Sinambela. S.Pd., M.Pd selaku dosen–dosen penguji
yang telah memberikan masukan dan saran-saran mulai dari rencana penelitian hingga
terselesaikannya skripsi ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Bapak
Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd, selaku Rektor UNIMED, Bapak Prof. Drs. Motlan,
M.Sc., Ph.D selaku Dekan FMIPA UNIMED, Bapak Dr. Edy Surya, M.Si, selaku
Ketua Jurusan Matematika, Bapak Drs. Yasifati Hia, M.Si. selaku Sekretaris Jurusan
Matematika FMIPA UNIMED, Bapak Drs. Zul Amry, M.Si., Ph.D, selaku Ketua
Program Studi Pendidikan Matematika, Bapak Drs. Syafari, M.Pd Selaku dosen
Pembimbing Akademik dan seluruh Bapak, Ibu Dosen beserta Staf Pegawai Jurusan
Matematika FMIPA UNIMED yang telah memberikan bantuan demi kelancaran
penyusunan skripsi ini.
Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Ibu Dra. Maharami
selaku kepala sekolah SMP Kartika I-2 Medan yang mana telah memberikan izin
kepada penulis untuk mengadakan penelitian di sekolah tersebut. Penulis juga
menyampaikan terima kasih kepada Bapak Ritawan, S.Pd.I selaku guru bidang studi
matematika serta seluruh Bapak dan Ibu guru SMP Kartika I-2 Medan yang telah
yang telah membesarkan, merawat, membimbing serta memberikan nasehat,
dukungan moril mapun materil, do’a yang tiada putusnya, cinta dan kasih sayang
sepenuhnya yang begitu berarti hingga penulis dapat menyelesaikan studi sampai
penyelesaian skripsi ini. Terima kasih atas segala hal yang telah mama dan papa
berikan. Semua itu takkan pernah terganti dan anak papa dan mama ini balas sampai
kapanpun jua.
Secara Khusus, penulis juga menyampaikan terima kasih yang
sedalam-dalamya kepada sahabat-sahabat tersayang, Ratna Julia dan Nenni Triana yang telah
mendukung, membantu, dan menemani penulis saat suka maupun duka. Karenanya
semangat penulis senantiasa berkobar selama penyelesaian skripsi ini.
Terima kasih juga penulis sampaikan kepada yang terkasih, Muhammad
Ikhwan atas semangat dan do’anya hingga terselesaikannya skripsi ini. Ucapan
Terima kasih juga penulis sampaikan kepada kakanda Rahmi Erwita Dalimunthe,
Poppy Amalia, Karunia Utami, Bella Octaviana, Rifa Sri Agustina, Nur Hayati,
Kakanda Iryani Rawi, Kakanda Rahayu, Kakanda Siti Nurbaya, Maharami Tri
Dahayu, Abangda Hagie Fariz Gusman, dan Dwi Prabudi atas dorongan, semangat,
dan do’anya hingga skripsi ini dapat selesai sebagaimana yang diharapkan.
Tak lupa pula rasa terima kasih penulis sampaikan kepada teman-teman
sejawat program studi pendidikan matematika kelas reguler A dan teman-teman PPL
SMA Swasta Persiapan Stabat atas semangatnya dan dorongannya.
Penulis telah berupaya semaksimal mungkin dalam penyelesaian skripsi ini,
namun penulis menyadari masih banyak kelemahan baik dari segi isi maupun tata
bahasa, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
dari pembaca demi kesempurnaan skripsi ini. Kiranya isi skripsi ini bermanfaat dalam
memperkaya khasanah ilmu pendidikan dan juga dapat dijadikan sebagai salah satu
sumber referensi bagi peneliti selanjutnya yang berniat meneliti hal yang serupa.
Medan, Juni 2015 Penulis,
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PADA SUB POKOK BAHASAN PRISMA DAN LIMAS MELALUI TEORI BELAJAR VAN
HIELE DI KELAS VIII SMP KARTIKA I-2 MEDAN T.A 2014/2015
Dhina Etman (4112111005)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesulitan yang dialami siswa dalam mempelajari sub pokok bahasan prisma dan limas,mengetahui apakah teori belajar Van Hiele dapat mengatasi kesulitan tersebut, dan mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan teori belajar Van Hiele pada sub pokok bahasan prisma dan limas di kelas VIII SMP Kartika I-2 Medan T.A 2014/2015. Subjek dalam penelitian ini adalah 28 siswa kelas VIII-3 SMP Kartika I-2 Medan dan objek penelitian ini adalah upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada sub pokok bahasan prisma dan limas di kelas VIII SMP Kartika I-2 Medan Tahun Ajaran 2014/2015 melalui teori belajar Van Hiele
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Tindakan kelas (PTK) yang dibagi dalam dua siklus, setiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Sebelum memberikan tindakan, siswa diberikan tes diagnostik dan setiap akhir siklus diberikan tes hasil belajar.
Dari hasil analisis data, diperoleh bahwa Kesulitan-kesulitan yang dialami siswa dalam mempelajari sub pokok bahasan prisma dan limas di kelas VIII SMP Kartika I-2 Medan adalah: (1) Siswa tidak mampu membedakan bangun prisma dan limas, (2) Siswa kesulitan dalam menjawab soal yang berkaitan dengan sisi, diagonal sisi, diagonal ruang, dan bidang diagonal suatu prisma, (3) Siswa kesulitan untuk menggambarkan jaring-jaring prisma segitiga, dan (4) Siswa kesulitan dalam menjawab soal terkait volume prisma. Berdasarkan data-data yang diperoleh terbukti bahwa teori belajar Van Hiele dapat mengatasi kesulitan pada sub pokok bahasan prisma dan limas di kelas VIII SMP Kartika I-2 Medan T.A 2014/2015. Peningkatan hasil belajar setelah diterapkannya teori belajar Van Hiele pada sub pokok bahasan prisma dan limas adalah: (1) Nilai rata-rata tes hasil belajar mengalami peningkatan, yaitu perolehan nilai 70,53 di siklus I meningkat menjadi 85,20 pada siklus II yang mana terjadi peningkatan nilai sebesar 14,67, (2) Persentase tingkat ketuntasan belajar secara klaksikal pun mengalami peningkatan yaitu pada siklus I ketuntasan klasikal sebesar 61% sementara pada siklus II ketuntasan klasikal meningkat menjadi 89 %. Dengan demikian, jelas terlihat bahwa terjadi peningkatan ketuntasan klasikal sebesar 28%
DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PENGESAHAN i
RIWAYAT HIDUP ii
ABSTRAK iii
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI vi
DAFTAR TABEL viii
DAFTAR GAMBAR ix
DAFTAR LAMPIRAN x
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah 1
1.2. Identifikasi Masalah 6
1.3. Batasan Masalah 7
1.4. Rumusan Masalah 7
1.5. Tujuan Penelitian 7
1.6. Manfaat Penelitian 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kerangka Teoritis 9
2.1.1. Pengertian Belajar 9
2.1.2. Pengertian Pembelajaran Matematika 10
2.1.3. Hasil Belajar Matematika 12
2.1.4. Teori Belajar Van Hiele 13
2.1.4.1. Sejarah Teori Belajar Van Hiele 13 2.1.4.2. Tahap Berpikir Menurut Teori Van Hiele 13 2.1.4.3. Deskriptor Tingkatan Berpikir Van Hiele 15 2.1.4.4. Fase-fase Pembelajaran Teori Van Hiele 16 2.1.4.5. Karakteristik Teori Belajar Van Hiele 18 2.1.4.6. Manfaat Teori Van Hiele dalam Pembelajaran Geometri 19 2.1.4.7. Teori Van Hiele dan Penelitian yang Relevan 20
2.1.5. Materi Prisma dan Limas 21
2.1.5.1. Prisma 21
2.1.5.2. Limas 27
2.2. Kerangka Konseptual 32
2.3. Hipotesis Penelitian 34
BAB III METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian 35
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian 35
3.3. Subjek dan Objek Penelitian 35
3.3.1. Subjek Penelitian 35
3.3.2. Objek Penelitian 35
3.4.1. Siklus I 37
3.4.1.1. Permasalahan I 37
3.4.1.1. Perencanaan Tindakan Siklus I 37
3.4.1.2. Pelaksanaan Tindakan I 39
3.4.1.3. Observasi I 39
3.4.1.4. Analisis Data I 40
3.4.1.5. Refleksi I 40
3.4.2. Siklus II 41
3.5. Instrumen Pengumpulan Data 41
3.5.1. Tes 41
3.5.2. Observasi 42
3.5.3. Wawancara 42
3.5.4 Dokumentasi 42
3.6. Teknik Analisis Data 42
3.6.1. Reduksi Data 43
3.6.2. Paparan Data 43
3.6.3. Simpulan Data 43
3.7. Indikator Keberhasilan 46
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian 47
4.1.1. Pelaksanaan dan Hasil Penelitian pada Siklus I 47
4.1.1.1. Permasalahan I 47
4.1.1.2. Perencanaan Tindakan I 52
4.1.1.3. Pelaksanaan Tindakan I 54
4.1.1.4. Observasi I 58
4.1.1.5. Analisis Data I 59
4.1.1.6. Wawancara I 71
4.1.1.7. Refleksi I 72
4.1.2. Pelaksanaan dan Hasil Penelitian pada Siklus II 73
4.1.2.1. Permasalahan II 73
4.1.2.2. Perencanaan Tindakan II 73
4.1.2.3. Pelaksanaan Tindakan II 75
4.1.2.4. Observasi II 80
4.1.2.5. Analisis Data II 82
4.1.2.6. Wawancara II 92
4.1.2.7. Refleksi II 92
4.2. Temuan Penelitian 93
4.3. Pembahasan Hasil Penelitian 94
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan 97
5.2. Saran 98
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 3.1. Kriteria rata – rata penilaian observasi 44
Tabel 3.2. Tingkat Penguasaan Siswa 44
Tabel 4.1. Nilai Tes Diagnostik Siswa Kelas VIII-3 SMP Kartika I-2
Medan T.A 2014/2015 47
Tabel 4.2. Deskripsi Tingkat Kemampuan Siswa pada Tes Diagnostik 48 Tabel 4.3. Gambaran Persentase Ketuntasan Belajar Siswa Pada Tes
Diagnostik 48
Tabel 4.4. Letak Kesulitan Siswa Kelas VIII-3 dalam Menyelesaikan
Tes Diagnostik 49
Tabel 4.5. Hasil Observasi Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I 60
Tabel 4.6. Nilai Tes Hasil Belajar I Siswa Kelas VIII-3 SMP Kartika
I-2 Medan T.A 2014/2015 62
Tabel 4.7. Deskripsi Tingkat Kemampuan Siswa Siklus I 64 Tabel 4.8. Gambaran Persentase Ketuntasan Belajar Siswa Pada Tes
Hasil Belajar I 64
Tabel 4.9. Letak Kesulitan Siswa Kelas VIII-3 dalam Menyelesaikan
Tes Hasil Belajar I 65
Tabel 4.10. Hasil Observasi Pelaksanaan Pembelajaran Siklus II 83 Tabel 4.11. Nilai Tes Hasil Belajar II Siswa Kelas VIII-3 SMP
Kartika I-2 Medan T.A 2014/2015 86
Tabel 4.12. Deskripsi Tingkat Kemampuan Siswa Siklus II 87 Tabel 4.13. Gambaran Persentase Ketuntasan Belajar Siswa Pada Tes
Hasil Belajar II 87
Tabel 4.14. Letak Kesulitan Siswa Kelas VIII-3 dalam Menyelesaikan
Tes Hasil Belajar II 88
Tabel 4.15. Deskripsi Peningkatan Hasil Belajar Siswa pada Tes
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1.1. Contoh Soal Tes Diagnostik 3
Gambar 1.2. Contoh Jawaban Siswa 3
Gambar 2.1. Contoh Prisma 21
Gambar 2.2. Prisma dan Unsur-unsurnya 22
Gambar 2.3. Prisma Segi Tiga 22
Gambar 2.4. Prisma Segi Empat 22
Gambar 2.5. Prisma Segi Lima 23
Gambar 2.6. Prisma Segi Enam 23
Gambar 2.7. Jaring-jaring Prisma Segi Tiga 24 Gambar 2.8. Jaring-jaring Prisma Segi Empat 24 Gambar 2.9. Jaring-jaring Prisma Segi Lima 24 Gambar 2.10. Jaring-jaring Prisma Segi Enam 25
Gambar 2.11. Prisma Segi Tiga ABC.EFG 25
Gambar 2.12. Jaring-jaring Prisma Segi Tiga ABC.EFG 25 Gambar 2.13. Potongan Kubus Menjadi Prisma Segitiga 26
Gambar 2.14. Contoh Limas 27
Gambar 2.15. Limas dan Unsur-unsurnya 27
Gambar 2.16. Limas Segi Tiga 28
Gambar 2.17. Limas Segi Empat 28
Gambar 2.18. Limas Segi Lima 29
Gambar 2.19. Limas Segi Enam 29
Gambar 2.20. Jaring-jaring Limas Segi Tiga 30 Gambar 2.21. Jaring-jaring Limas Segi Empat 30 Gambar 2.22. Jaring-jaring Limas Segi Lima 30
Gambar 2.23. Limas Segitiga T. ABC 31
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1 Silabus 101
Lampiran 2 RPP Siklus I Pertemuan 1 115
Lampiran 3 RPP Siklus I Pertemuan 2 122
Lampiran 4 RPP Siklus II Pertemuan 1 127
Lampiran 5 RPP Siklus II Pertemuan 2 134
Lampiran 6 LAS 1 Siklus I 139
Lampiran 7 LAS 2 Siklus I 146
Lampiran 8 LAS 1 Siklus II 149
Lampiran 9 LAS 2 Siklus II 154
Lampiran 10 Alternatif Penyelesaian LAS 1 Siklus I 157 Lampiran 11 Alternatif Penyelesaian LAS 2 Siklus I 162 Lampiran 12 Alternatif Penyelesaian LAS 1 Siklus II 166 Lampiran 13 Alternatif Penyelesaian LAS 2 Siklus II 169
Lampiran 14 Kisi-kisi Tes Diagnostik 173
Lampiran 15 Kisi-kisi Tes Hasil Belajar 1 174 Lampiran 16 Kisi-kisi Tes Hasil Belajar 2 175
Lampiran 17 Tes Diagnostik 176
Lampiran 18 Tes Hasil Belajar 1 178
Lampiran 19 Tes Hasil Belajar 2 180
Lampiran 20 Alternatif Penyelesaian Tes Diagnostik 182 Lampiran 21 Alternatif Tes Hasil Belajar 1 185 Lampiran 22 Alternatif Tes Hasil Belajar 2 190 Lampiran 23 Pedoman Penskoran Tes Diagnostik 193 Lampiran 24 Pedoman Penskoran Tes Hasil Belajar 1 195 Lampiran 25 Pedoman Penskoran Tes Hasil Belajar 2 199
Lampiran 26 Lembar Validator 202
Lampiran 27 Lembar Validitas Tes Diagnostik 203 Lampiran 28 Lembar Validitas Tes Hasil Belajar 1 206 Lampiran 29 Lembar Validitas Tes Hasil Belajar 2 212 Lampiran 30 Lembar Observasi Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I 215 Lampiran 31 Lembar Observasi Pelaksanaan Pembelajaran Siklus II 221 Lampiran 32 Daftar Nama Siswa Kelas VIII-3 SMP Kartika I-2 Medan 227
Lampiran 33 Hasil Wawancara I 228
Lampiran 34 Hasil Wawancara II 230
Lampiran 35 Dokumentasi Penelitian 231
Jadwal Kegiatan Penelitian Surat Izin Penelitian dari FMIPA
1
Pendidikan adalah usaha sadar, terencana dan diupayakan untuk
memungkinkan peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri baik fisik
maupun nirfisik; yakni mengembangkan potensi pikir (mental-intelektual), sosial,
emosional, nilai moral, spiritual, ekonomikal (kecakapan hidup), fisikal, maupun
kultural, sehingga ia dapat menjalankan hidup dan kehidupannya sesuai dengan
harapan dirinya, keluarganya, masyarakat, bangsa, dan negara; serta dapat
menjawab tantangan peradaban yang semakin maju (Supriadie dan Deni, 2012: 1).
Sehubungan dengan hal tersebut, matematika memiliki peranan yang luar
biasa didalam dunia pendidikan. Hal ini terlihat dari mata pelajaran matematika
yang wajib dijalani di setiap jenjang pendidikan, Mulai dari pendidikan dasar
hingga perguruan tinggi. Disamping hal tersebut, matematika merupakan salah
satu ilmu dasar yang tak dapat dipisahkan dari perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi.
Sejalan dengan pernyataan diatas, maka matematika sangat perlu
diajarkan. Sebagaimana pendapat Crockroft (dalam Situmeang, 2010: 1) yang
mengemukakan bahwa:
Matematika perlu diajarkan kepada siswa karena: (1) Selalu digunakan dalam segala segi kehidupan, (2) semua bidang studi memerlukan keterampilan matematika yang sesuai, (3) merupakan sarana komunikasi yang kuat, singkat, dan jelas, (4) dapat digunakan untuk menyajikan informasi dalam berbagai cara, (5) meningkatkan kemampuan berpikir logis, ketelitian, dan kesadaran keruangan, dan (6) memberi kepuasan terhadap usaha memecahkan masalah.
Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Suherman.et.al (dalam Khotimah,
2013: 1) bahwa matematika sekolah adalah matematika yang diajarkan di sekolah,
yaitu matematika yang diajarkan di pendidikan dasar (SD dan SLTP) dan
ciri-ciri yang dimiliki matematika yaitu memiliki objek kajian yang abstrak
serta berpola pikir deduktif konsisten.
Geometri merupakan salah satu cabang ilmu matematika yang diajarkan di
sekolah dan merupakan cabang ilmu yang menghubungkan matematika dengan
dunia nyata. Oleh karena itu, geometri merupakan salah satu pelajaran yang
sangat penting untuk dipelajari oleh siswa, termasuk siswa SMP.
Usiskin (dalam Abdussakir, 2010: 1) mengemukakan bahwa geometri
adalah: (1) Cabang matematika yang mempelajari pola-pola visual, (2) cabang
matematika yang menghubungkan matematika dengan dunia fisik atau dunia
nyata, (3) suatu cara penyajian fenomena yang tidak tampak atau tidak bersifat
fisik, dan (4) suatu contoh sistem matematika.
Geometri memiliki peluang yang lebih besar untuk dipahami peserta didik
dibandingkan dengan cabang matematika yang lain. Hal ini karena ide-ide
geometri paling banyak menyentuh hampir di seluruh aspek kehidupan peserta
didik. Meskipun demikian, Purnomo (dalam Abdussakir, 2010: 2) menyatakan
bahwa bukti-bukti di lapangan menunjukkan bahwa hasil belajar geometri masih
rendah. Menurut konsensus yang dilakukan oleh Programme for International Student Assesment (PISA) dalam konten ruang dan bentuk yaitu konten matematika yang berhubungan dengan geometri, Indonesia berada dalam
golongan kelompok bawah dengan skor 361, dan skor tertinggi diperoleh
Hongkong, yaitu 558 (Hayat dan Suhendra, 2010: 225) Bahkan, Sudarman (dalam
Abdussakir, 2010: 2) menambahkan bahwa diantara cabang matematika, geometri
menempati posisi yang paling memprihatinkan. Berbagai penelitian menunjukkan
bahwa prestasi geometri peseta didik SD masih rendah, sedangkan di SMP
ditemukan bahwa masih banyak peserta didik yang masih belum memahami
konsep-konsep geometri.
Menurut Purnomo, kesulitan peserta didik dalam memahami
konsep-konsep geometri terutama pada konsep-konsep bangun ruang (Abdussakir, 2010: 3).
Peserta didik masih kesulitan dalam melihat gambar bangun ruang. Mereka
kesulitan dalam melihat bangun ruang jika tidak menggunakan benda yang
Pada observasi yang telah dilakukan di SMP Kartika I-2 Medan, peneliti
memberikan tes diagnostik di kelas VIII-3 yang berjumlah 28 orang siswa,
diperoleh hasil yang tidak memuaskan. Tes yang diberikan berhubungan dengan
materi dasar prisma dan limas yang sebelumnya telah diajarkan di bangku sekolah
dasar serta materi yang berhubungan dengan phytagoras. Alasan dipilih materi ini
karena materi tersebut merupakan materi prasyarat dari materi bangun ruang sisi
datar dengan sub pokok bahasan prisma dan limas. Berikut merupakan salah satu
soal dari lima soal yang diberikan oleh peneliti:
Gambar 1.1. Contoh Soal Tes Diagnostik
Untuk soal di atas, berikut diperoleh jawaban salah satu siswa:
Gambar 1.2. Contoh Jawaban Siswa
Jawaban siswa tersebut menunjukkan bahwa siswa tidak memahami
materi dasar prisma dan limas. Hal ini terlihat dari jawaban yang diberikan siswa
pada opsi A dan D, dapat diambil kesimpulan bahwa siswa tidak mengetahui
mampu membedakan bangun prisma dan limas dan tidak mengetahui unsur-unsur
dari bangun prisma.
Berdasarkan hasil tes diagnostik yang diperoleh dari 28 orang siswa, hanya
10 orang siswa atau 36% yang memperoleh nilai di atas KKM yang telah
belajar siswa di kelas VIII-3 SMP Kartika I-2 Medan terkait materi prisma limas
tergolong sangat rendah.
Hasil tes diagnostik tersebut senada dengan hasil wawancara yang
dilakukan dengan Bapak Ritawan, S.Pd.I selaku guru mata pelajaran matematika
SMP Kartika I-2 Medan oleh peneliti pada kamis, 15 Januari 2015 bahwa:
Pada materi prisma dan limas secara umum kekurangpahaman siswa terletak pada karakteristik, luas permukaan, dan volume. Ditambah lagi dengan kebiasaan siswa yang lebih suka menggunakan metode menghafal dalam menguasai materi. Sehingga, ketika diberikan soal modifikasi yang berbeda dengan contoh soal, siswa mengalami kesulitan untuk menyelesaikannya.
Pemaparan tersebut semakin diperkuat dengan keterangan yang diperoleh
dari guru bahwa rata-rata nilai harian matematika siswa pada sub pokok bahasan
prisma limas hanya menyentuh nilai 66,33. Dari 28 Orang siswa, 65% diantaranya
memperoleh nilai dibawah KKM yang telah ditetapkan serta menurut observasi
yang dilakukan oleh peneliti bahwa metode belajar yang diterapkan oleh guru
sangat monoton.
Sejalan dengan hal diatas, peneliti juga melakukan wawancara dengan
Nabila dan Fajar, yakni siswa kelas VIII-3 yang sebelumnya telah mempelajari
sub pokok bahasan prisma dan limas, ia mengatakan bahwa kesulitan utama yang
ia hadapi karena dirinya sendiri tidak suka dengan matematika karena matematika
ia anggap sebagai mata pelajaran yang sulit, kemudian ditambah lagi dengan
metode belajar yang guru terapkan kurang variatif sehingga membuat ia mudah
bosan menjalani proses pembelajaran matematika.
Penuturan dari kedua siswa tersebut dapat diterima karena pernyataan
tersebut sejalan dengan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti. Selama
observasi berlangsung terlihat bahwa cara mengajar guru masih sarat dengan
metode ajar yang bersifat teacher oriented tanpa mengikutsertakan siswa secara aktif selama proses pembelajaran berlangsung. Hal ini tentu saja dapat memicu
kebosanan siswa sehingga dapat memberikan dampak buruk pada rendahnya hasil
belajar siswa.
Banyak faktor penyebab rendahnya hasil belajar siswa. Faktor tersebut
guru. Interaksi maupun aktivitas masih didominasi oleh guru, sedangkan siswa
lebih banyak mendengar, mencatat, dan mengerjakan soal latihan. Proses
belajarnya terkesan guru lebih banyak mentransfer pengetahuan dan pikiran guru
kedalam pikiran siswa, sehingga pada akhirnya terjadi verbalisme pada diri siswa. Siswa cenderung hafal gambar suatu bentuk geometri, tanpa dipahami sifat dari
bentuk bangun-bangun tersebut (Nurhayana, 2013: 2).
Selain itu, kurang berhasilnya para siswa dalam belajar geometri, dapat
disebabkan oleh faktor internal siswa yang sering menghafal suatu konsep tanpa
didasari dengan pemahaman, kebermaknaan, serta kemampuan spasial yang
belum maksimal (Nurhayana, 2013: 2).
Menilik dari berbagai permasalahan yang ada, maka dapat dilakukan
tindakan-tindakan perbaikan pengajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa
terhadap mata pelajaran matematika khususnya pada unit geometri melalui teori
Van Hiele. Hasil penelitian Van Hiele dapat digunakan untuk membantu siswa
dalam mempelajari geometri dengan baik. Menurut Van Hiele (dalam Suherman,
2001: 51), tiga unsur utama dalam pengajaran geometri yaitu waktu, materi
pengajaran, dan metode pengajaran yang diterapkan, jika ditata secara terpadu
akan dapat meningkatkan kemampuan berpikir anak kepada tingkatan berpikir
yang lebih tinggi.
Fitur yang paling menonjol dari hasil penelitian Van Hiele adalah hierarki
5 tingkat dari cara pemahaman ide-ide ruang. Hierarki 5 tingkat tersebut (dalam
Abdussakir, 2010: 4) adalah:
Tingkat berpikir siswa SMP/MTs dalam pembelajaran geometri menurut
teori Van Hiele telah sampai pada tahap berpikir deduksi informal. Hal ini sesuai
dengan pendapat Van De Walle (dalam Rosanti, dkk, 2014: 2) yang menyatakan
bahwa sebagian besar siswa SMP/MTs berada pada antara tahap 0 (visualisasi)
sampai tahap 2 (deduksi informal). Selanjutnya berdasarkan beberapa hasil
penelitian, Sunardi, Burger & Shaughnessy (dalam Rosanti, dkk, 2014: 2)
menyatakan bahwa tahap berpikir siswa SMP dalam belajar geometri dicapai
tertinggi pada tahap 2 (deduksi informal) sedangkan sebagian besar mereka
berada pada tahap visualisasi dan tahap analitik, sehingga dapat dikatakan bahwa
apabila siswa telah berada pada level 2 (deduksi informal) maka siswa tersebut
memiliki pengetahuan geometri yang baik pada tingkat SMP/MTs, yaitu mampu
menghubungkan sifat-sifat pada suatu bangun geometri dan sifat-sifat antara
beberapa bangun.
Berdasarkan paparan tersebut, dapat diketahui bahwa penerapan teori
belajar Van Hiele dapat membantu siswa menyelesaikan permasalahan geometri
dan melalui hasil wawancara dengan guru mata pelajaran matematika SMP
Kartika I-2 Medan bahwa teori belajar Van Hiele belum pernah diterapkan di
sekolah tersebut, maka diharapkan teori belajar Van Hiele dapat meningkatkan
hasil belajar prisma dan limas siswa.
Bertitik tolak dari latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk
melalukan penelitian dengan judul: “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar pada Sub Pokok Bahasan Prisma dan Limas Melalui Teori Belajar Van Hiele di Kelas VIII SMP Kartika I-2 Medan T.A 2014/2015”
1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, dapat diidentifikasi beberapa
masalah sebagai berikut:
1. Hasil belajar geometri masih rendah
2. Hasil belajar siswa pada sub pokok bahasan prisma limas masih rendah
3. Siswa menganggap matematika sebagai mata pelajaran yang sulit
5. Siswa kesulitan menyelesaikan soal modifikasi yang berbeda dengan contoh
soal
6. Metode belajar yang guru terapkan kurang variatif
7. Belum diterapkannya teori belajar Van Hiele dalam pembelajaran geometri di
SMP Kartika I-2 Medan
1.3. Batasan Masalah
Melihat luasnya cakupan masalah pada identifikasi masalah yang telah
dipaparkan sebelumnya, maka penelitian ini dibatasi pada penggunaan teori
belajar Van Hiele dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada sub pokok
bahasan prisma dan limas di kelas VIII SMP Kartika I-2 Medan T.A 2014/2015.
1.4. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka
yang menjadi fokus permasalahan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Kesulitan apa yang dialami siswa dalam mempelajari sub pokok bahasan
prisma dan limas di kelas VIII SMP Kartika I-2 Medan T.A 2014/2015?
2. Apakah teori belajar Van Hiele dapat mengatasi kesulitan pada sub pokok
bahasan prisma dan limas di kelas VIII SMP Kartika I-2 Medan T.A
2014/2015?
3. Bagaimana peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan teori belajar
Van Hiele pada sub pokok bahasan prisma dan limas di kelas VIII SMP
Kartika I-2 Medan T.A 2014/2015?
1.5. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui kesulitan yang dialami siswa dalam mempelajari sub pokok
bahasan prisma dan limas di kelas VIII SMP Kartika I-2 Medan T.A
2. Untuk mengetahui apakah teori belajar Van Hiele dapat mengatasi kesulitan
pada sub pokok bahasan prisma dan limas di kelas VIII SMP Kartika I-2
Medan T.A 2014/2015
3. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan teori
belajar Van Hiele pada sub pokok bahasan prisma dan limas di kelas VIII
SMP Kartika I-2 Medan T.A 2014/2015.
1.6. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1. Bagi siswa, untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada sub pokok
bahasan prisma dan limas
2. Bagi guru, dapat digunakan sebagai bahan masukan tentang suatu alternatif
pembelajaran matematika yang sesuai untuk meningkatkan hasil belajar
geometri melalui penerapan teori belajar Van Hiele
3. Bagi pihak sekolah, sebagai bahan masukan dan sumbangan pemikiran dalam
rangka perbaikan kualitas pembelajaran dan membantu pihak sekolah
menjalin komunikasi yang positif dengan siswa
4. Bagi peneliti, Sebagai informasi sekaligus sebagai bahan pegangan bagi
peneliti dalam menjalankan tugas pengajaran sebagai calon pengajar dimasa
DAFTAR PUSTAKA
Abdussakir. 2010. Pembelajaran Geometri sesuai Teori Van Hiele. El-Hikmah: Jurnal Kependidikan dan Keagamaan, Vol VII Nomor 2, Januari 2010, ISSN 1693-1499. Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang: Malang.
Arikunto, dkk. 2012. Penelitian Tindakan Kelas. Bumi Aksara: Jakarta.
Arikunto, S. 2008. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Bumi Aksara: Jakarta.
Avridiana, Nurita, dkk. 2013 Penyeleaian Soal Secara Matematis pada Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel dengan Menggunakan Metode Ekspositori. Jurnal Pendidikan Matematika STKIP PGRI Sidoarjo, Vol 1 No. 2, September 2013, ISSN 2337-8116. STKIP PGRI Sidoarjo: Sidoarjo.
Dalfiana. 2013. (http://makalahdanrppvanhielefia.blogspot.com/2013/06/van-hiele.html) (diakses februari 2015)
Fitrianawati, Meita. 2012. Pengembangan Media Pembelajaran Logika Berbasis Multimedia Interaktif untuk Siswa SMA Kelas X sebagai Sumber Belajar Mandiri. FMIPA UNY: Yogyakarta.
Hayat, Bahrul dan Suhendra Yusuf. 2010. Benchmark Internasional Mutu Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Khotimah, Husnul. 2013. Meningkatkan Hasil Belajar Geometri dengan Teori Van Hiele. Pendidikan Matematika FMIPA UNY: Yogjakarta.
Nurhayana, Erry Trisna, Nyoman Dantes dan Made Candiasa. 2013. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Model Van Hiele terhadap Pemahaman Konsep Geometri Ditinjau dari Kemampuan Visualisasi Spasial pada Siswa Kelas V di Gugus II Kecamatan Buleleng. E-Journal Volume 3 Tahun 2013, Program Pendidikan Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan pendidikan Dasar: Singaraja.
Purwoko. 2014. (http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/PengembanganPembelajar anMatematika_UNIT_4_0.pdf/) (diakses februari 2015)
Shahidayanti, Tutik. 2012. Pengembangan Modul pada Materi Segi Empat untuk Siswa Kelas VII SMP Berdasarkan Pendekatan Kontekstual untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa. FMIPA UNY: Yogyakarta.
Siagian, Teddy Alfra. 2013. Penerapan Metode Penemuan Terbimbing Dengan Menggunakan Multimedia Interaktif Untuk Meningkatkan Minat Dan Hasil Belajar Siswa Di Kelas Xi Ipa Sma Swasta Indonesia Membangun Medan Tahun Ajaran 2013/ 2014. FMIPA Unimed: Medan.
Situmeang, Rolando. 2010. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Instruction untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa SMP. FMIPA Unimed: Medan.
Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya, Penerbit Rineka Cipta: Jakarta.
Suherman, E, et al. 2013. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pendidikan Indonesia.
Supriadie, Didi dan Deni Darmawan. 2012. Komunikasi Pembelajaran. PT Remaja Rosdakarya: Bandung.
Trianto. 2011. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Prestasi Pustaka: Jakarta.