• Tidak ada hasil yang ditemukan

Disparatis putusan sanksi denda pada persekongkolan tender (studi putusan MA perkara Nomor 118 K/Pdt.Sus-KPPU/2013)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Disparatis putusan sanksi denda pada persekongkolan tender (studi putusan MA perkara Nomor 118 K/Pdt.Sus-KPPU/2013)"

Copied!
171
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Hukum (S.H)

OLEH :

NANDA NARENDRA PUTRA

NIM : 1111048000045

K O N S E N T R A S I H U K U M B I S N I S P R O G R A M S T U D I I L M U H U K U M

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH J A K A R T A

(2)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Hukum (S.H)

Oleh :

Nanda Narendra Putra

Nim : 1111048000045

Pembimbing I Pembimbing II

Drs. Abu Tamrin, S.H., M.Hum Nur Habibi, S.HI., M.H.

NIP. 196509081995031001 NIP.197608172009121005

K O N S E N T R A S I H U K U M B I S N I S P R O G R A M S T U D I I L M U H U K U M

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH J A K A R T A

(3)
(4)

1. Skripsi ini merupakan hasil karya saya yang diajukan untuk memenuhi salah

satu syarat memperoleh gelar strata I (S1) di Universitas Islam Negeri (UIN)

Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan

dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti hasil karya ini bukan hasil karya asli saya atau

merupakan hasil jiplakan orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi

yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 19 Februari 2015

(5)

Konsentrasi Hukum Bisnis, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 1436H/ 2015M. xii + 87 halaman + 5 halaman Daftar Pustaka + Lampiran.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang disparitas sanksi denda administratif pada kasus persekongkolan tender di Indonesia, khususnya pada upaya hukum Keberatan pada Pengadilan Negeri hingga Kasasi pada Mahkamah Agung dalam Putusan Mahkamah Agung Perkara Nomor 118 K/Pdt.Sus-KPPU/2013. Dalam penelitian ini akan dibahas faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya disparitas dalam menjatuhkan sanksi denda administratif mulai dari penanganan perkara oleh Komisi Pengawas Perasaingan Usaha (KPPU), upaya Keberatan pada Pengadilan Negeri, dan upaya Kasasi pada Mahkamah Agung.

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah Yuridis Normatif, yaitu penelitian yang mengacu pada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan. Pendekatan yang digunakan dalam

penelitian ini, diantaranya Pendekatan Perundang-Undangan (Statute Approach),

Pendekatan Sejarah (Historycal Approach) dan Pendekatan Kasus (Case

Approach). Undang-undang yang digunakan, diantaranya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa selama ini disparitas besaran nilai sanksi denda administratif dalam kasus Persekongkolan Tender terjadi karena perbedaan pendapat Majelis Komisoner KPPU dan Majelis Hakim pada Mahkamah Agung dalam memberikan pertimbangan . Selain itu juga secara yuridis rumusan norma dalam Pasal 47 ayat (2) UU No. 5 Tahun 1999 tentang sanksi denda administratif membuat potensi penjatuhan sanksi denda yang bervariasi (disparitas).

Kata kunci : Disparitas, Sanksi Denda, Persekongkolan Tender, KPPU,

Putusan Mahkamah Agung.

Pembimbing : Drs. Abu Tamrin, SH., M.Hum. Nur Habibi, SH.I., MH.

(6)

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Segala puji bagi Allah Swt. Tuhan semesta alam yang hanya dengan

hidayah dan nikmat dari-Nya lah skripsi penulis yang berjudul ”DISPARITAS

PUTUSAN SANKSI DENDA PADA PERSEKONGKOLAN TENDER (Studi

Putusan MA Nomor 118 K/Pdt.Sus-KPPU/2013)” dapat terselesaikan dengan

baik. Ini merupakan salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan pada Nabi Muhammad Saw. beserta keluarga, sahabat serta para pengikutnya hingga akhir zaman.

Tidak mudah bagi penulis untuk membuat membuat karya seperti ini dikarenakan berbagai keterbatasan yang dimiliki, namun hal ini penulis jadikan motivasi rangkaian pengalaman hidup yang berharga. Selesainya penelitian ini tidak terlepas dari elaborasi keilmuan yang penulis dapatkan dari kontribusi banyak pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin sampaikan setulus hati ucapan terima kasih kepada yang terhormat:

1. Dr. Asep Saepudin Jahar, MA., Ph.D, Dekan Fakultas Syariah dan Hukum

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta periode tahun 2015-2018 dan Dr. J.M. Muslimin, MA., Ph.D., Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta periode tahun 2014-2015.

2. Dr. Djawahir Hejazziey, SH., MA., MH., Ketua Program Studi Ilmu Hukum

dan Arip Purkon, MA., Sekretaris Program Studi Ilmu Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang sudah memberikan waktu luang, saran, dan masukan dalam kelancaran proses penyusunan skripsi ini.

3. Drs. Abu Tamrin, SH., M.Hum., Dosen Pembimbing I dan Nur Habibi, SH.I.,

MH., Dosen Pembimbing II yang dengan sabar telah memberikan bimbingan, arahan, saran, kritik dan masukan serta persetujuan terhadap skripsi ini dan dalam proses penyusunan skripsi ini. Terima kasih banyak atas kesediaan meluangkan waktu, tenaga, dan perhatiannya kepada Penulis, semoga Allah Swt. membalas kebaikan beliau.

4. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang telah bersedia memberikan

data dan juga wawancara untuk kepentingan penulisan skripsi ini.

5. Pimpinan Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pimpinan

Perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah yang telah memudahkan Penulis dalam mencari informasi berupa buku-buku serta penelitian selama proses penulisan skripsi ini.

6. Ahmad Bahtiar, M.Hum., Dosen Pembimbing Akademik yang selalu ramah

(7)

8. Kedua orang tua Penulis, (Almarhum) Papa Raden Mas Sudarendro Nawanto, semoga tenang disana dan Mama Nining Martiningsih agar selalu diberi kesehatan dan selalu mendoakan dan memberikan dukungan sekaligus menjadi inspirasi penulis dalam menulis tulisan ini. Tanpa mereka Penulis tidak bisa menjadi seperti sekarang ini. Tidak lupa untuk kakak dan adik penulis, (Almarhumah) Nian Rhenanda Ayu, semoga tenang disana dan Nandini Anugerah Ramadani Putri, yang semoga juga bisa menjadi sarjana.

9. Muhammad Yasin, S.H., M.H selaku Redaktur Media Hukumonline.com yang

telah banyak berkontribusi dalam penulisan skripsi ini. Mulai dari pemberian atas saran isu yang akan diteliti hingga sampai pada proses teknis penulisan skripsi ini. Berkat bimibingan, saran, dan motivasi darinya, Penulis juga akhirnya dapat menyelesaikan skripsi ini.

10.Abdul Razak Asri, S.H selaku Pemimpin Redaksi Media Hukumonline.com

yang memberikan kesempatan kepada Penulis untuk belajar menjadi Reporter atau Jurnalis. Dimana atas kesempatan itu, Penulis bisa mendapatkan akses berupa kemudahan-kemudahan dalam bertemu narasumber yang terkait dengan skripsi ini. Selain itu, mendapat akses untuk memperoleh buku-buku atau daftar bacaan koleksi milik Hukumonline.com dan koleksi Daniel S Lev Law Library.

11.Mochamad Isnaeni dan Vini selaku Humas KPPU serta Pak Dendy R.

Sutrisno, selaku Kepala Bagian Kerjasama Dalam Negeri yang telah membantu Penulis dalam meminta data dan wawancara ditengah kesibukan yang penulis ketahui dan masih menyempatkan untuk bisa wawancara secara pribadi di luar KPPU, terima kasih atas perhatiannya selama ini.

12.Pimpinan Perpustakaan Daniel S. Lev Law Library, beserta staf dan

jajarannya yang telah memberikan kemudahan pada Penulis dalam mengakses buku, Jurnal, dan bacaan lainnya serta membolehkan meminjam buku-buku kepada Penulis dalam waktu yang relatif lama.

13.Erista Kurnia Putri, S.H selaku teman, sahabat, terkadang rival bagi Penulis

yang telah memberikan motivasi, semangat, dan dorongan agar cepat-cepat menyelesaian skripsi ini agar memperoleh gelar Sarjana Hukum (S.H). Penulis berjanji dengannya agar bisa menjadi Jaksa Penuntut Umum yang sukses dan

bisa menjadi calon kuat the next Jaksa Agung, Amin yaa rabbal allamin.

14.Dwi Puji Apriyantok selaku teman dan sahabat dalam melakukan

persekongkolan tender. Terima kasih sejak dafar ulang, OPAK/Ospek, hingga saat ini masih menjadi teman berdebat dan bermain. Sukses bareng-bareng pak!.

15.Teman-teman yang tergabung dalam Skripsweet (group whatsapp menjelang

skripsi), Azhar Nur, Dwi Puji, Ridwan Ardy, Rizky Firdaus, Ayu Eza, Ade Putra, Gari Ichsan, Mazda Hamdi, Ahmad Bustomi, dan Rizki Arisandi yang

(8)

Banun, Afwan, Andrio, Angga, Ian, Lisan, Rifki, Hambali, Nevo, Matsyah, Rudi, Syawal, dll yang tidak bisa disebutkan satu-persatu. Semoga kita semua menjadi lulusan yang sukses!

17.Teman-teman Redaksi di Hukumonline.com, kakak dan abang Ali, Jimi,

Abon, Hasyri, Fitri, Kartini, Riri, Rofiq, Fathan, Agus, Reza, Eni, Amrie.

18.Semua pihak yang membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini yang

tidak bisa Penulis sebutkan namanya satu persatu. Semoga Allah Swt.

memberikan berkah serta karunia dan membalas kebaikan mereka, amin yaa

raball allamin.

Akhirnya Penulis mengucapkan terima kasih dan maaf yang

sebesar-besarnya apabila terdapat kata-kata di dalam penulisan skripsi ini yang membuat

tidak berkenan bagi pihak tertentu. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua

pihak, khususnya bagi penulis dan umumnya bagi para pembaca. Sekian dan

terima kasih.

Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.

Jakarta, 19 Februari 2015

(9)

LEMBAR PERTANYAAN

ABSTRAK

KATA PENGANTAR...vi

DAFTAR ISI...ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 7

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8

D. Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu ... 8

F. Kerangka Konseptual ... 10

G. Metode Penelitian ... 12

H. Sistematika Penulisan ... 17

BAB II KAJIAN TEORI MENGENAI PERSEKONGKOLAN TENDER .. 21

A. Pemahaman Persekongkolan Tender dalam Hukum Persaingan Usaha20 1. Pengertian Tender Secara Umum dan Berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1999 ... 20

2. Ruang Lingkup Persekongkolan Tender Secara Umum dan Berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1999 ... 22

3. Dampak Persekongkolan Tender Pada Persaingan Usaha ... 27

B. Penanganan Persekongkolan Tender di KPPU ... 30

1. Alat Bukti Pemeriksaan di KPPU ... 30

2. Pembuktian Persekongkolan Tender di KPPU ... 33

(10)

B. Sanksi Denda Administratif ... 45

C. Sanksi Pidana Denda ... 48

D. Sanksi Pidana Tambahan ... 51

BAB IV ANALISIS PUTUSAN SANKSI DENDA PADA PERSEKONGKOLAN TENDER DI PROVINSI SUMATERA SELATAN ... 53

A. Putusan Mahkamah Agung Perkara Nomor 118 K/Pdt.Sus-KPPU/2013 Kasus Lelang Pekerjaan di Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Kabupaten Ogan Komering Ulu Provinsi Sumatera Selatan. .. 53

1. Kasus Posisi ... 53

2. Argumen Para Pihak ... 56

3. Pendapat Majelis Hakim ... 57

B. Analisis Disparitas Sanksi Denda dalam Putusan Mahkamah Agung Perkara Nomor 118 K/Pdt.Sus-KPPU/2013... 59

1. Eksekusi Putusan dan Sikap Para Pihak Terhadap Putusan ... 59

2. Analisis Disparitas Penerapan Sanksi Denda ... 61

BAB V PENUTUP ... 85

A. Kesimpulan ... 85

B. Saran ... 86

DAFTAR PUSTAKA ... 88

(11)

Persaingan Usaha (KPPU)

2. Surat Keterangan telah melakukan wawancara di KPPU

3. Hasil wawancara dengan pihak KPPU

(12)

Indonesia merupakan Negara yang berdasarkan atas hukum

sebagaimana termaktub dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-undang Dasar

Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya disebut UUD 1945)

yang berbunyi: ―Negara Indonesia adalah negara hukum‖. Oleh sebab itu,

segala aspek kehidupan baik pada sektor pelayanan publik, pendidikan,

ekonomi, sosial-budaya, dan sebagainya haruslah tetap berpegang teguh

terhadap hukum yang berlaku di Indonesia. Segala bentuk atau tindakan

yang melanggar atau menodai kemurnian hukum yang berlaku di

Indonesia, maka disanalah ditegakkan kedaulatan hukum.

Berdasarkan pertimbangan untuk memulai penegakan hukum pada

suatu sistem ekonomi yang demokratis tanpa adanya pihak yang

menguasai, pada tanggal 5 Maret 1999 telah diundangkan Undang-undang

Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan

Usaha Tidak Sehat (Lembaran Negara 1999-33) (selanjutnya disebut UU

No. 5 Tahun 1999).1 Sejarah pembentukan UU No. 5 Tahun 1999 kala itu

dibentuk berdasarkan hasil inisiatif DPR Indoneisa sejak NKRI terbentuk.2

1

Tim Dosen Pengajar FHUI, Pengantar Hukum Persaingan Usaha, tanpa cetakan, (Depok: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2008), h. 3.

2

(13)

Pemerintah Indonesia saat ini berusaha mewujudkan

penyelenggaraan negara yang bersih sebagai upaya mewujudkan sistem

pemerintahan yang bebas korupsi, kolusi dan nepotisme, sehingga

menimbulkan kewibawaan di sektor lainnya terutama dalam hal

penegakan hukum. Salah satu upaya mewujudkan keinginan tersebut,

pemerintah menetapkan Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003

tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

(selanjutnya disebut Keppres No. 80 Tahun 2003).

Pembentukan peraturan ini bertujuan agar pengadaan barang/jasa

instansi Pemerintah dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien, dengan

prinsip persaingan sehat, transparan, terbuka, dan perlakuan yang adil dan

layak bagi pihak, sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan baik

dari segi fisik, keuangan maupun manfaatnya bagi kelancaran tugas

Pemerintah dan pelayanan masyarakat.

Istilah manipulasi sering dipersamakan dengan persekongkolan

dalam ranah kegiatan tender di Indonesia. Hal tersebut (manipulasi atau

persekongkolan) oleh masyarakat hampir selalu berkonotasi negatif. Hal

ini terlihat dari berbagai kamus, salah satunya Kamus Besar Bahasa

Indonesia yang mengartikan kata ‘persekongkolan’ sebagai permufakatan

atau kesepakatan untuk melakukan kejahatan.3

Hal serupa juga disebutkan dalam Black’s Law Dictionary,

persekongkolan atau conspiracy didefinisikan sebagai penyatuan (maksud)

3

(14)

antara dua orang atau lebih yang bertujuan untuk menyepakati tindakan

melanggar hukum atau kriminal melalui upaya kerjasama.4 Manipulasi

atau persekongkolan penawaran tender (bid rigging) termasuk salah satu

perbuatan yang dianggap merugikan negara, karena terdapat unsur

manipulasi harga penawaran, dan cenderung menguntungkan pihak yang

terlibat dalam persekongkolan.

Persekongkolan tender sendiri di Indonesia akan mengakibatkan

kegiatan pembangunan yang berasal dari dana Anggaran Pendapatan dan

Belanja Negara (APBN) dikeluarkan secara tidak bertanggung jawab dan

pemenang tender yang bersekongkol mendapatkan keuntungan jauh di atas

harga normal, namun kerugian tersebut dibebankan kepada masyarakat

luas. Dalam cabang ilmu Sosiologi, tipe kejahatan ini merupakan ekses

dari perkembangan ekonomi yang terlalu cepat dan hanya menekankan

pada aspek material-finansial belaka.5

Penegakan hukum persaingan usaha salah satunya dapat dilakukan

oleh lembaga yang berwenang di bidang persaingan usaha, yaitu Komisi

Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). KPPU memiliki kewenangan yang

setara dengan penegak hukum lainnya (Kepolisian, Kejaksaan Agung, dan

Mahkamah Agung) akan tetapi KPPU hanya dapat menjatuhkan sanksi

administratif. Hal tersebut disebutkan pada Pasal 47 UU No. 5 Tahun

1999, bahwa KPPU memiliki kewenangan untuk menjatuhkan sanksi

4Black’s Law Dictionary, Fifth Edition

(St. Paul Minn.: West Publishing, 1979), p. 280.

5

(15)

administratif.

Walaupun KPPU hanya memiliki otoritas menjatuhkan sanksi

administratif terhadap para pihak akan tetapi UU No. 5 Tahun 1999

mengatur mengenai pemberian sanksi berupa denda administratif yang

dicantumkan dalam diktum atau amar putusan.6 Hal tersebut diatur dalam

Pasal 47 ayat (2) huruf g UU No. 5 Tahun 1999, yaitu:

―Pengenaan denda serendah-rendahnya Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan setinggi-tingginya Rp. 25.000.000.000,00 (dua

puluh miliar rupiah).‖

KPPU dapat menjatuhkan sanksi administratif berupa denda

administratif tersebut secara kumulatif ataupun alternatif. Namun

demikian terdapat ketidakjelasan mengenai sanksi tersebut sehingga pada

tanggal 31 Juli 2008, KPPU menerbitkan aturan teknis soal denda dan

ganti rugi yang diatur dalam Keputusan KPPU Nomor

252/KPPU/Kep/VII/2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Ketentuan Pasal

47 UU No. 5 Tahun 1999 (selanjutnya disebut Pedoman Pelaksanaan Pasal

47 UU No. 5 Tahun 1999).7

Namun mengenai besaran pembebanan sanksi denda tersebut

belum ada standar yang secara baku menjadi rujukan oleh Majelis

Komisioner di KPPU meskipun telah ada Pedoman Pelaksanaan Pasal 47

UU No. 5 Tahun 1999. Sehingga memerlukan pedoman pelaksanaan yang

lebih rinci karena tidak cukup jika hanya dibentuk pedoman untuk

6

Andi Fahmi Lubis, Hukum Persaingan Usaha Antara Teks dan Kontex, tanpa cetakan, (Jakarta: Deutsche Gesellschaft fur Lechnische Zusammenarbeit (GTZ) GMBH, 2009), h. 343.

7

(16)

menetapkan ukuran mengenai besaran nilai sanksi denda tersebut.

Kaitannya dengan hal tersebut, penjatuhan sanksi denda administratif

merupakan suatu upaya penegakan hukum persaingan usaha yang

dilakukan oleh KPPU selaku lembaga yang berwenang melakukan

pemeriksaan dan memberi putusan awal.

Berkaitan dengan hal itu, maka penulis memfokuskan pada aspek

sanksi denda administratif dalam pelanggaran terhadap persekongkolan

tender. Sebab menurut penulis terjadi suatu disparitas atas putusan sanksi

denda adminsitratif tersebut. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata

’disparitas’ berarti perbedaan atau jarak.8 Sedangkan menurut Black’s Law

Dictionary, kata ‘disparitas’ diartikan sebagai ketidaksetaraan atau

perbedaan kuantitas atau kualitas antara dua atau lebih dari sesuatu.9

Secara yuridis formal, kondisi ini (diparitas) tidak dapat dianggap

telah melanggar hukum, meskipun demikian seringkali orang melupakan

bahwa elemen ‘keadilan’ pada dasarnya harus melekat pada putusan yang

diberikan oleh hakim.10

Pada kasus yang coba penulis angkat adalah disparitas atas penjatuhan

sanksi denda administratif pada persekongkolan tender. Hal ini menjadi

sesuatu yang perlu dilakukan penelitian lebih lanjut sebab beberapa

8

Hasan Alwi, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), h. 270.

9Black’s L

aw Dictionary, Fifth Edition (St. Paul Minn.: West Publishing, 1979), P. 482.

10

(17)

putusan KPPU pada kasus persekongkolan tender diputus dan dijatuhkan

sanksi denda administratif yang bervariasi (disparitas). Sehingga

disparitas putusan sanksi denda yang dilakukan KPPU perlu dikaji agar

memperoleh suatu kepastian hukum bagi para pihak serta sejalan dengan

tujuan penjatuhan sanksi denda administratif.

Selain itu berdasarkan Laporan Tahunan KPPU Tahun 2013,

sebanyak 150 laporan (78,5%) yang masukdi KPPU merupakan kasus

persekongkolan tender. Sisanya sebesar 41 laporan (21,5%) dari total 191

laporan yang ditangani KPPU adalah laporan non-tender.11 Sehingga aspek

persekongkolan tender begitu menarik untuk dibahas dan dilakukan

penelitian lebih mendalam.

Berdasarkan uraian permasalahan di atas, penulis tertarik untuk

melakukan kajian mendalam terkait dengan disparitas penjatuhan sanksi

administratif berupa sanksi denda pada kasus persekongkolan tender di

Indonesia yang ditangani oleh KPPU dengan menerapkan dalam kasus

persekongkolan tender yang diputus oleh Mahkamah Agung, yakni

Putusan MA Nomor 118 K/Pdt.Sus-KPPU/2013. Penelitian ini diberi judul

sebagai berikut:

“DISPARITAS PUTUSAN SANKSI DENDA PADA

PERSEKONGKOLAN TENDER (Studi Putusan MA Nomor 118

K/Pdt.Sus-KPPU/2013)”

11

(18)

B. Pembatasan Dan Perumusan Masalah

1. Pembatasan Masalah

Penelitian ini tidak membahas aspek Hukum Persaingan Usaha

secara umum melainkan hanya membahas pada salah satu aspek,

yaitu Persekongkolan Tender. Kemudian pada aspek Persekongkolan

Tender ini yang digali oleh penulis juga menyempit kepada ranah

penegakan hukum pada penegakan Hukum Persaingan Usaha, yaitu

fokus terhadap penjatuhan sanksi berupa sanksi denda administratif.

Sebagai bahan penelitian juga penulis hanya berfokus melakukan

analisis pada Putusan Mahkamah Agung terkait dengan kegiatan

Persekongkolan Tender pada tahun 2010, yaitu Putusan MA Nomor

118 K/Pdt.Sus-KPPU/2013.

2. Perumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang masalah dan pembatasan masalah

sebagaimana diuraikan di atas, maka rumusan permasalahan yang

dibahas dalam proposal skripsi ini adalah sebagai berikut:

a. Bagaimana KPPU menerapkan dan merumuskan sanksi denda

serta melaksanakan eksekusi pada kasus persekongkolan tender?

b. Apakah disparitas sanksi denda administratif pada Putusan

Mahkamah Agung Nomor 118 K/Pdt.Sus-KPPU/2013 telah

sesuai dengan tujuan penjatuhan sanksi denda dan memenuhi

(19)

C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian:

a. Untuk mengetahui KPPU menerapkan sanksi denda dan

melaksankan eksekusi dalam Persekongkolan Tender.

b. Untuk mengetahui disparitas sanksi denda pada Putusan

Mahkamah Agung Nomor 118 K/Pdt.Sus-KPPU/2013.

2. Manfaat

a. Memberikan sumbangan pikiran bagi keilmuan khususnya ilmu

yang berkaitan dengan Hukum Persaingan Usaha.

b. Untuk memberikan masukan kepada lembaga-lembaga Negara

dalam hal ini Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU),

Kepolisian Republik Indonesia, Kejaksaan Republik Indonesia, dan

Mahkamah

Agung dalam menegakkan hukum berkaitan dengan persaingan

usaha.

c. Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan kontribusi positif

terhadap upaya-upaya penegakkan terhadap persaingan usaha yang

baik dan berkeadilan.

D. Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu

Penelitian yang terkait dengan skripsi ini berjudul ‖Analisis

Yuridis Putusan KPPU Nomor 16/KPPU-L/2009 Tentang Persekongkolan

(20)

yang disusun oleh Maulana Ichsan Setiadi, Mahasiswa Program Studi

Ilmu Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Skripsi

tersebut memberikan penjelasan mengenai prakek persekongkolan tender

dalam pengadaan jasa kebersihan di lingkungan Bandara Soekarno Hatta.

Skripsi tersebut lebih menitik beratkan pada aspek undang-undang, yaitu

dengan melihat rumusan pasal-pasal terhadap kasus yang terjadi di

lapangan.

Adapun skripsi lainnya yang berjudul ‖Analisis Perilaku Conscious

Parallelism dalam Pembuktian Persekongkolan Tender‖, yang disusun oleh Kristiono Utomo, Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Universitas

Indonesia. Skripsi tersebut menjelaskan tentang doktrin Conscious

Pararllelism yang membantu proses pembuktian pelanggaran dalam praktek persekongkolan tender yang ditangani oleh KPPU. Skripsi tersebut

lebih menitik beratkan pada aspek pelaksanaan doktrin hukum, yaitu

melakukan pembuktian dengan melihat fakta hukum yang dikaitkan juga

dengan doktrin hukum.

Adapun buku terkait yang berjudul ‖Larangan Persekongkolan

Tender (Perspektif Hukum Persaingan Usaha)‖, yang ditulis oleh L. Budi

Kagramanto yang dicetak oleh Penerbit Srikandi tahun 2008. Buku

tersebut membahas aspek persekongkolan tender yang dilihat dari

perspektif hukum persaingan usaha di Indonesia. Sehingga yang

membedakan skripsi dan buku tersebut dengan skripsi yang sedang penulis

(21)

sanksi denda yang akan dijatuhi apabila tindakan persekongkolan tender

terbukti, sehingga penulis merasa tidak ada kesamaan antara skripsi dan

buku tersebut dengan skripsi yang penulis sedang teliti.

E. Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual adalah pedoman yang lebih konkrit dari teori,

yang berisikan definisi operasional yang menjadi pegangan dalam proses

penelitian yaitu pengumpulan, pengelolaan, analisis dan kontruksi data

dalam skripsi ini. Adapun beberapa pengertian yang menjadi konseptual

skripsi ini akan dijabarkan dalam uraian dibawah ini:

a. Pelaku usaha adalah setiap orang perorangan atau badan hukum,

baik yang berbentuk badan hukum atau bukan badan hukum yang

didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam

wilayah hukum Negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun

bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan berbagai

kegiatan usaha ekonomi.

b. Persaingan usaha tidak sehat adalah persaingan antar pelaku usaha

dalam menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran barang,

dan atau jasa yang dilakukan dengan cara tidak jujur atau melawan

hukum atau menghambat persaingan usaha.

c. Persekongkolan atau konspirasi usaha adalah bentuk kerjasama

yang dilakukan oleh pelaku usaha dengan pelaku usaha lain dengan

(22)

kepentingan pelaku usaha yang bersekongkol. Konsep

persekongkolan selalu melibatkan dua pihak atau lebih untuk

melakukan kerjasama. Pembentuk UU memberi tujuan

persekongkolan secara limitatif, yaitu untuk menguasai pasar bagi

kepentingan pihak-pihak yang bersekongkol.

d. Pasar bersangkutan adalah pasar yang terkait dengan jangkauan

atau daerah pemasaran tertentu oleh pelaku usaha atas barang dan

atau jasa yang sama atau sejenis atau substitusi dari barang, dan

atau jasa tersebut. Penguasaan pasar merupakan perbuatan yang

diantisipasi dalam persekongkolan, termasuk dalam kegiatan

tender.12

e. Persekongkolan dalam kegiatan tender menurut pengertian di

beberapa Negara merupakan perjanjian beberapa pihak untuk

memenangkan pesaing dalam suatu kegiatan tender.

f. Tender adalah tawaran untuk mengajukan harga untuk memborong

suatu pekerjaan, untuk mengadakan barang-barang atau untuk

menyediakan jasa. Pengertian tender mencakup tawaran untuk

mengajukan harga untuk memborong atau melaksanakan suatu

pekerjaan, mengadakan barang dan atau jasa, membeli suatu

barang dan atau jasa, menjual suatu barang dan atau jasa.13

12Yakub Adi Krisanto, ―Analisis Pasal 22 UU Nomor 5 Tahun 1999 dan Karakteristik

Putusan tentang Persekongkolan Tender‖, Jurnal Hukum Bisnis, vol. 24 No. 2, 2005, h. 42.

13

(23)

g. Barang adalah setiap benda, baik berujud maupun tidak berujud,

baik bergerak maupun tidak bergerak yang dapat diperdagangkan,

dipakai, dipergunakan, atau dimanfaatkan oleh konsumen atau

pelaku usaha. Sedangkan barang tidak berujud diartikan sebagai

jasa.

h. Jasa adalah setiap layanan yang berbentuk pekerjaan atau prestasi

yang diperdagangkan dalam masyarakat untuk dimanfaatkan oleh

konsumen atau pelaku usaha.

F. Metode Penelitian

Penulis memperhatikan metode penulisan penelitian dengan

berpedoman pada Buku Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syariah dan

Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang dirancang oleh Pusat

Pengembangan dan Penjaminan Mutu (PPJM) pada tahun 2012.

1. Tipe Penelitian

Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan

analisis dan konstruksi yang dilakukan secara metodologis, sistematis,

dan konsisten. Metodologis berarti sesuai dengan metode atau cara

tertentu; sistematis adalah berdasarkan suatu sistem, sedangkan

konsisten berarti tidak adanya hal-hal yang bertentangan dalam suatu

karangan tertentu.14

Adapun penelitian hukum merupakan kegiatan ilmiah yang

14

(24)

didasarkan pada metode, sistematika, dan pemikiran tertentu yang

bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu

dengan jalan menganalisisnya.

Tipe penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah

penelitian yang bersifat yuridis-normatif, yaitu penelitian yang

dilakukan dengan mengacu pada norma hukum dalam ketentuan

perundang-undangan dan keputusan pengadilan serta norma-norma

yang berlaku dalam masyarakat.15

2. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini merupakan tipe penelitian yang bersifat

yuridis-normatif.

Pendekatan yuridis digunakan untuk menganalisis berbagai peraturan

perundang-undangan terkait dengan persekongkolan tender pada

hukum persaingan usaha. Sedangkan pendekatan normatif digunakan

untuk permasalahan berdasarkan konsep-konsep hukum.

Untuk lebih tajam dalam megupas teori-teori terkait dengan judul

yang diangkat, maka penulis memakai beberapa bentuk pendeketan,

diantaranya:

a. Pendekatan Perundang-Undangan (Statute Approach)

Dengan pendekatan perundang-undangan ini, penulis dapat

mengupas permasalahan dengan menggunakan peraturan

15

(25)

perundang-undangan yang berlaku.16 Diantaranya UU

Nomor 5 Tahun 1999, Keppres Nomor 80 Tahun 2003, dsb.

b. Pendekatan Sejarah (Historycal Approach)

Dengan pendekatan sejarah, penulis dapat membandingkan

penanganan kasus serupa yang telah lampau.17 Diharapkan

dengan mengetahui sejarah penanganan kasus pada masa

lalu, dapat ditemukannya suatu gagasan baru yang dapat

dilakukan untuk menyelesaikan kasus-kasus serupa dengan

judul yang diangkat.

c. Pendekatan Kasus (Case Approach)

Dengan pendekatan kasus, penulis dapat mengetahui

putusan-putusan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap

untuk dianalisis. Dan kemudian dikembangkan serta

dikolaborasikan dengan permasalahan kekinian yang

mungkin dapat dilakukan dengan berpedoman kepada

putusan-putusan.18 Dalam hal ini putusan yang dimaksud

tidak hanya berupa putusan pengadilan melainkan berupa

putusan dari lembaga KPPU, yakni Putusan KPPU Perkara

Nomor 26/LKPPU-L/2010 dan Putusan MA Nomor 118

K/Pdt.Sus-KPPU/2013.

16

Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana, 2009 Ed. 1. Cet.5), h. 96.

17

Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, h. 126

18

(26)

3. Sumber dan Kriteria Data Penelitian

Mengenai sumber data yang dipergunakan dalam penulisan skripsi

ini adalah:

a. Data Primer

Data primer yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini

adalah data hasil wawancara dengan pejabat pemerintah yang

terkait dengan masalah persaingan usaha, yaitu Humas KPPU.

b. Data Sekunder

Menurut kekuatan mengikatnya, data sekunder dapat

digolongkan

menjadi tiga golongan, yaitu:

a. Sumber Bahan Hukum Primer

Sumber bahan hukum primer yang dipergunakan dalam

penulisan skripsi ini yaitu bahan-bahan hukum yang

mengikat19 seperti Undang-undang Nomor 5 Tahun

1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan

Persaingan Usaha Tidak Sehat, Keppres No. 80 Tahun

2003, Putusan Perkara Nomor 26/LKPPU-L/2010 dan

Putusan MA Nomor 118 K/Pdt.Sus-KPPU/2013 dan

ketentuan-ketentuan lain yang berkaitan mengenai

Persaingan usaha.

b. Sumber Bahan Hukum Sekunder

19

(27)

Sumber bahan hukum sekunder yang dipergunakan

dalam penulisan skripsi ini yaitu bahan-bahan yang

membahas atau menjelaskan sumber bahan hukum

primer yang berupa buku teks, jurnal hukum, majalah

hukum, pendapat para pakar serta berbagai macam

referensi yang berkaitan mengenai Persaingan usaha.

c. Sumber Bahan Hukum Tersier

Sumber bahan hukum tersier yang dipergunakan dalam

penulisan skripsi ini yaitu bahan-bahan penunjang yang

menjelaskan dan memberikan informasi bahan hukum

primer dan bahan hukum sekunder, berupa

kamus-kamus hukum, media internet, buku petunjuk atau buku

pegangan, ensiklopedia serta buku mengenai

istilah-istilah yang sering dipergunakan mengenai hukum

persaingan usaha.

4. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan 2 (dua) jenis alat pengumpulan data,

yaitu studi dokumen atau bahan pustaka dan wawancara atau

interview.20 Penulis mencoba menggabungkan kedua alat pengumpulan data tersebut dalam menganalisis suatu kasus yang

hendak dilakukan penelitian. Studi dokumen merupakan suatu alat

pengumpulan data yang dilakukan melalui data tertulis dengan

20

(28)

mempergunakan ‖content analysis‖. Sedangkan wawancara digunakan

oleh penulis sebagai deskripsi tambahan dengan mengeksplorasi dari

hasil wawancara dengan pihak-pihak terkait, yaitu Humas KPPU.

5. Pengolahan dan Analisis Data

Adapun bahan hukum, baik bahan hukum primer, bahan hukum

sekunder, bahan hukum tersier diuraikan dan dihubungkan sedemikian

rupa sehingga ditampilkan dalam penulisan yang lebih sistematis

untuk menjawab permasalahan yang telah dirumuskan. Adapun

setelah bahan hukum terkumpul, bahan hukum tersebut dianalisis

untuk mendapatkan kesimpulan dengan mempergunakan ‖content

analysis‖.

Content Analysis adalah teknik untuk menganalisa tulisan atau dokumen dengan cara mengidentifikasi secara sistematis ciri atau

karakter dan pesan atau maksud yang terkandung dalam tulisan dalam

suatu dokumen. Selain itu menganalisis dengan content analysis

membantu penulis dalam membaca serta memahami gagasan dalam

suatu tulisan. Selain itu cara mengolah data dilakukan dengan cara

deduktif, yaitu menarik kesimpulan dari suatu permasalahan yang

bersifat umum terhadap permasalhan konkret yang dihadapi.21

7. Sistematika Penulisan

Adapun dalam penulisan proposal skripsi ini, Penulis membaginya ke

21

(29)

dalam lima bab sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN

Dalam Bab I ini terdiri dari uraian mengenai latar

belakang permasalahan, pokok permasalahan,

maksud dan tujuan penulisan, manfaat penulisan,

kerangka teori dan kerangka konseptual, metodologi

penulisan dan sistematika penulisan skripsi.

BAB II : KAJIAN TEORI MENGENAI HUKUM

PERSAINGAN USAHA

Dalam Bab II ini terdiri dari uraian yang

menjelaskan kajian konsepsi yang merupakan dasar

dari Persekongkolan tender.

BAB III : TINJAUAN UMUM MENGENAI SANKSI

DALAM HUKUM PERSAINGAN USAHA DI

INDONESIA

Dalam Bab III ini terdiri dari uraian mengenai

sanksi hukum denda dalam Hukum Persaingan

Usaha di Indonesia. Uraian tentang Sanksi-sanksi

denda yang diatur dalam UU No. 5 Tahun 1999.

BAB IV : ANALISIS PUTUSAN SANKSI DENDA PADA

PERSEKONGKOLAN TENDER DI PROVINSI

(30)

Dalam Bab IV ini terdiri dari uraian hasil analisis

yang dikembangkan serta berkaitan dengan teori

pada Bab II dan Bab III. Kemudian analisis atas

Putusan MA Nomor 118 K/Pdt.Sus-KPPU/2013

dikaitkan dengan sanksi denda dalam Hukum

Persaingan Usaha di Indonesia.

BAB V : PENUTUP

Dalam Bab V ini penulis akan menyimpulkan

materi karya ilmiah dari pokok permasalahan dan

memberikan saran-saran yang berguna bagi negara

Indonesia, lembaga atau instansi terkait serta

(31)

A. Pemahaman Persekongkolan Tender dalam Hukum Persaingan Usaha

1. Pengertian Tender Secara Umum dan Berdasarkan UU Nomor 5

Tahun 1999

Tender dalam hukum persaingan usaha Indonesia mempunyai

pengertian tawaran untuk mengajukan harga untuk memborong suatu

pekerjaan, untuk mengadakan barang-barang atau untuk menyediakan jasa.

Pengertian tender mencakup tawaran untuk mengajukan harga untuk

memborong atau melaksanakan suatu pekerjaan, mengadakan barang dan

atau jasa, membeli suatu barang dan atau jasa, menjual suatu barang dan

atau jasa.1 Tawaran dilakukan oleh pemilik kegiatan atau proyek, dimana

pemilik dengan alasan keefektifan dan keefisienan apabila proyek

dilaksanakan sendiri maka lebih baik diserahkan pihak lain yang

mempunyai kapabilitas untuk melaksanakan proyek atau kegiatan.

Permasalahan Tender merupakan salah satu hal yang menjadi

objek dalam Hukum Persaingan Usaha. Tender atau lelang itu sendiri

menurut peraturan perundang-undangan, yaitu:

1) Perpres No. 95 Tahun 2007 Tentang Perubahan Ketujuh Atas Keppres

No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/

Jasa Pemerintah

1

(32)

Tender atau Pengadaan Barang / Jasa adalah kegiatan pengadaan

barang / jasa yang dibiayai dengan APBN atau APBD, baik yang

diselenggarakan secara swakelola

maupun oleh penyedia barang / jasa.

2) Penjelasan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999

Tender adalah mengajukan harga untuk memborong suatu

pekerjaan, untuk mengadakan barang-barang atau menyediakan jasa.

Jika pengertian tender atau lelang tersebut disimpulkan, maka

tender sendiri memiliki cakupan yang lebih luas karena tender merupakan

serangkaian kegiatan berupa penawaran mengajukan harga untuk:

1) Memborong atau melaksanakan suatu pekerjaan;

2) Mengadakan atau menyediakan barang dan atau jasa;

3) Membeli barang dan atau jasa;

4) Menjual barang dan/atau jasa, menyediakan kebutuhan barang

dan/atau jasa secara seimbang dengan berbagai dengan syarat yang harus dipenuhi, berdasarkan peraturan tertentu yang ditetapkan pihak terkait.

Berdasarkan definisi tersebut, maka cakupan dasar penerapan Pasal

22 UU Nomor 5 Tahun 1999 adalah tender atau tawaran mengajukan

harga yang dapat dilakukan melalui:

1) tender terbuka;

2) tender terbatas;

3) pelelangan umum;

4) pelelangan terbatas.

Mekanisme yang diberikan oleh UU Nomor 5 Tahun 1999

terhadap Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 80 Tahun 2003 merupakan

(33)

pihak lain guna mengatur dan atau menentukan pemenang tender yang

dapat mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat. Larangan tersebut

mencakup proses pelaksanaan tender secara keseluruhan yang diawali dari

prosedur perencanaan, pembukaan penawaran, sampai dengan penetapan

pemenang tender. Mekanisme tersebut merupakan payung hukum UU

Nomor 5 Tahun 1999 terhadap Keppres Nomor 80 Tahun 2003, meskipun

Keppres tersebut tidak menempatkan UU Nomor 5 Tahun 1999 sebagai

salah satu landasan hukumnya.

2. Ruang Lingkup Persekongkolan Tender Secara Umum dan

Berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1999

Persekongkolan (conspiracy) dalam Black’s Law Dictionary

diartikan sebagai berikut:

“A combination or confederacy between two or persons formed for

the purpose of commiting by their joint efforts, some unlawful or criminal act or some act, which is innocent itself, but becomes unlawful when done concerted action of the conspirators or for the purpose of using criminal or unlawful means to be commision of

an act not in itself unlawful”.2

Definisi tersebut menegaskan bahwa persekongkolan harus

dilakukan oleh dua pihak atau lebih yang bertujuan untuk melakukan

suatu tindakan atau kegiatan kriminal atau melawan hukum secara

bersama-sama. Termasuk dalam hal ini adalah persekongkolan dalam

penawaran tender, baik untuk pengadaan barang dan atau jasa di sektor

2Henry Campbell Black, Black’s Law Dictionary, 5th

(34)

publik maupun di perusahaan swasta, karena dianggap dapat menghambat

upaya pembangunan suatu negara.

Istilah persekongkolan selalu berkonotasi negatif. Hal ini terlihat

dari berbagai kamus yang selalu mengartikan sebagai permufakatan atau

kesepakatan untuk melakukan kejahatan.3Demikian pula menurut Black’s

Law Dictionary, kata ’persekongkolan’ atau conspiracy didefinisikan

sebagai penyatuan (maksud) antara dua orang atau lebih yang bertujuan

untuk menyepakati tindakan melanggar hukum atau kriminal melalui

upaya kerjasama.4

Hal tersebut terbukti melalui perumusan-perumusan dalam

berbagai kamus yang selalu mengartikan sebagai permufakatan atau

kesepakatan melakukan kejahatan. Berikut merupakan pengertian tentang

persekongkolan, yaitu:

Dalam kamus Dictionary of Law – L.B. Curzon, persekongkolan diartikan

sebagai conspiracy, yakni:

conspiracy is if person agrees with any other person that a course of conduct shall be pursued which if the agreement is carried out in accordance with their intentions, either can will necessarily amount to or involve the commision af any offences by one or more of the parties to the agreement or be would do so but for the existence of the facts which render any of the offences impossible, he is guilty of conspiracy to commit the offence or offence question.‖5

3Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), h. 893.

4Black’s Law Dictionary, Fifth Edition, (St. Paul Minn.: West Publishing, 1979), p. 280.

5

(35)

Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa

persekongkolan harus dilakukan oleh dua pihak atau lebih dengan tujuan

melakukan tindakan atau kegiatan bersama (joint efforts) suatu perilaku

yang melawan hukum. Sehingga terdapat dua unsur persekongkolan, yaitu:

Pertama, adanya dua pihak atau lebih yang secara bersama-sama (in

concert) melakukan perbuatan tertentu, kedua, perbuatan yang dilakukan

tersebut merupakan perbuatan melanggar hukum.6

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Persekongkolan berasal

dari kata ‘sekongkol’. Kata ‘sekongkol’ diartikan sebagai orang-orang

yang bersama-sama melakukan kejahatan.7 Dari pengertian tersebut, unsur

‘sekongkol’, yang pertama adalah ada dua pihak atau lebih; kedua,

bersama-sama melakukan kejahatan. Hal ini terdapat dalam Al-quran Surat

An-Nisaa ayat 29, Allah Swt. berfirman:

ً ﺮ ﺠﺘ ﻜﺘ ﱠﻻ ﻞﻄ ﻠ ﻢﻜ ﻴ ﻢﻜﻠ ﻤ ﻠﻜ ﺘﻻ ﻤٰ ﻴﺬﻠ ﻴ ٰﻴ

ﻤﻴﺤﺮ ﻢﻜ ﻜ ﷲ ﺇ ۚﻢﻜﺴﻔ ﻠﺘﻘﺘﻻ ۚ ﻢﻜ ﻤ ﺾ ﺮﺘ ﻋ

۝

“ Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta kamu di antara kamu dengan jalan yang bathil kecuali dengan jalan perniagaan yang berdasarkan kerelaan di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh diri kamu, sesungguhnya

Allah Maha Penyayang Kepadamu.”(Q.S. An Nisa [4]:29).

6 Yakub Adi Krisanto, ―Analisis Pasal 22 UU Nomor 5 Tahun 1999 dan Karakteristik

Putusan tentang Persekongkolan Tender‖, Jurnal Hukum Bisnis, vol. 24 No. 2, 2005, h. 41.

7

(36)

Persekongkolan kerap kali dipersamakan dengan Kolusi

(collusion), yaitu sebagai ―A secret agreement between two or more people for deceitful or produlent purpose‖, diartikan bahwa dalam hal Kolusi ini

ada suatu perjanjian rahasia yang dibuat oleh 2 (dua) pihak atau lebih

dengan tujuan penipuan atau penggelapan yang serupa dengan istilah

konspirasi yang cenderung memiliki konotasi negatif.8

Pasal 1 angka 8 UU No. 5 Tahun 1999 memberikan definisi

persekongkolan atau konspirasi usaha adalah bentuk kerja sama yang

dilakukan oleh pelaku usaha dengan pelaku usaha lain dengan maksud

untuk menguasai pasar bersangkutan bagi kepentingan pelaku usaha yang

bersekongkol. Dalam persekongkolan selalu melibatkan dua pihak atau

lebih untuk melakukan kerjasama. Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 1

The Sherman Act 1890 menyatakan bahwa, ―Every contract, combination in the form of trust or otherwise, or conspiracy in restraint of trade commerce among the several states or with foreign nations, is declared to be illegal…‖.9

UU No. 5 Tahun 1999 membagi 3 bentuk persekongkolan yaitu:

1) Persekongkolan untuk mengatur dan atau menentukan pemenang

tender;

2) Persekongkolan untuk memperoleh informasi yang dapat

diklasifikasikan sebagai rahasia perusahaan;

8

Asril Sitompul, Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1999), h. 31.

9Lihat Pasal 1 The Sherman Act: ―Every contract, combination in the form of trust or

(37)

3) Persekongkolan untuk menghambat produksi atau pemasaran barang/jasa.

Persekongkolan tender diatur pada Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999,

yang selengkapnya berbunyi:

‖Pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan pihak lain untuk

mengatur dan atau menentukan pemenang tender sehingga dapat

mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat.‖

KPPU memberikan definisi persekongkolan tender ketika memeriksa

perkara Tender PT. Indomobil Sukses Internasional, Tbk – Putusan No.

03/KPPU-I/2003 – yaitu kerjasama antara dua pihak atau lebih, secara

terang-terangan maupun diam-diam melalui tindakan penyesuaian

(concerted action) dan atau membandingkan dokumen tender sebelum

penyerahan (comparing Bid prior to submission) dan atau menciptakan

persaingan semu (sham competition) dan atau menyetujui dan atau

memfasilitasi dan atau tidak menolak melakukan suatu tindakan meskipun

mengetahui atau sepatutnya mengetahui bahwa tindakan tersebut

dilakukan untuk mengatur dalam rangka memenangkan peserta tender

tertentu.10

Dalam Pedoman Tentang Larangan Persekongolan Dalam Tender

Berdasarkan UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli

Dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dikemukakan bentuk-bentuk

persengkongkolan antara lain:

10

(38)

1) Melakukan pendekatan dan kesepakatan-kesepakatan dengan penyelenggara sebelum pelaksanaan tender;

2) Tindakan saling memperlihatkan harga penawaran yang akan

diajukan dalam pembukaan tender di antara peserta;

3) Saling melakukan pertukaran informasi;

4) Pemberian kesempatan secara eksklusif oleh panitia atau pihak

terkait;

5) secara langsung maupun tidak langsung kepada peserta tertentu;

6) Menciptakan persaingan semu antarpeserta;

7) Tindakan saling menyesuaikan antarpeserta;

8) Menciptakan pergiliran waktu pemenang;

9) Melakukan manipulasi persyaratan teknis dan administratif.

3. Dampak Persekongkolan Tender Pada Persaingan Usaha

Pada hakikatnya keberadaan hukum persaingan usaha adalah

mengupayaka secara optimal persaingan usaha yang sehat dan efektif pada

suatu pasar tertentu yang mendorong agar pelaku usaha melakukan

efisiensi agar mampu bersaing dengan pesaingnya. UU No. 5 Tahun 1999

dibentuk dengan tujuan memelihara pasar agar kompetitif dan terhindar

dari kesepakatan dan konspirasi yang cenderung mengurangi dan atau

menghilangkan persaingan.

Secara teori, dengan berjalannya prinsip-prinsip persaingan usaha

yang sehat pada suatu pasar akan membawa dampak yang positif kepada

baik bagi produsen atau pelaku usaha maupun konsumen pada pasar yang

bersangkutan. Secara langsung dengan adanya persaingan usaha yang

sehat antar pelaku usaha akan memaksa pelaku usaha untuk dapat menjual

produk barang atau jasanya dengan harga serendah mungkin dengan tetap

mempertahankan mutu atau bahkan meningkatkan mutu dari produk

(39)

Hal ini tentunya akan menguntungkan bagi konsumen disamping

itu konsumen juga akan memperoleh keuntungan berupa kemampuan

untuk memilih barang atau jasa yang dipasarkan karena banyaknya pelaku

usaha yang menawarkan produk sejenis yang dipasarkan. Sehingga secara

tidak langsung dalam kondisi pasar persaingan murni, pelaku usaha agar

tetap bertahan harus mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitasnya

agar mampu bersaing dengan pelaku usaha lainnya. Pelaku usaha pada

konteks ini dituntut untuk dapat berinovasi dalam menciptakan poduk

yang memiliki kualitas pembeda atau nilai lebih dengan produk

sejenisnya.

Eksistensi dan orientasi dari undang-undang antimonopoli adalah

jelas menciptakan persaingan usaha yang sehat dengan cara mencegah

monopoli dan persaingan usaha yang tidak sehat serta menciptakan

ekonomi pasar yang efektif dan efisien demi peningkatan kesejahteraan

rakyat. Selain itu, undang-undang antimonopoli juga memastikan bahwa

sistem ekonomi yang berdasarkan persaingan usaha dapat memotivasi para

pelaku usaha untuk menghasilkan produk barang dan/ atau jasa yang

berkualitas dan harga yang terjangkau oleh konsumen dengan

memanfaatkan sumber-sumber produksi seminimal mungkin.

Persekongkolan tender adalah suatu hambatan bagi terciptanya

persaingan usaha yang sehat, sehingga dapat menimbulkan kerugian yang

signifikan dalam kegiatan usaha terutama bagi para pihak yang berkaitan

(40)

usaha, persekongkolan tender menciptakan hambatan masuk (barrier to entry) ke pasar bagi peserta tender lainnya. Persoalan ini merupakan persoalan serius yang dihadapi dalam rangka melakukan kegiatan

usahanya secara lancar.

Barrier to entry merupakan suatu keadaan dimana pelaku usaha pesaing tidak dapat memasuki bidang usaha tertentu pada pasar

bersangkutan karena adanya penguasaan dan kekuatan pasar yang lebih

besar yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang memiliki

kedudukan lebih kuat. Sehingga bagi para pelaku usaha, hal tersebut

merupakan masalah serius yang akan dihadapi dalam menjalankan

kegiatan usahanya.

Pada hakikatnya setiap pelaku usaha memiliki kesempatan yang

sama untuk melakukan kegiatan usahanya tanpa adanya persaingan usaha

yang tidak sehat, berupa praktek monopoli, tindakan diskrimintaif dan

halangan dari siapapun untuk menjalankan kegiatan usaha. Padahal dengan

adanya persaingan usaha yang sehat, membuat barang dan/ atau jasa yang

tersedia di pasar semakin beraneka ragam dan membuat konsumen

memiliki alternatif pilihan barang dan/atau jasa.

Tanpa adanya barrier to entry yang diciptakan oleh pemerintah,

maka perusahaan besar pada pasar yang terkonsentrasi terpaksa harus

(41)

kehadiran pelaku usaha baru yang mampu menembus pasar tersebut.11

Dalam proses tender, para peserta tender mempunyai kesempatan

yang sama untuk menjadi pemenang tender. Persekongkolan tender yang

dilakukan oleh para pihak yang terlibat dalam proses tender akan

mengakibatkan peserta tender lainnya menjadi terhalang untuk menjadi

pemenang tender karena pemenangnya sudah diatur oleh pihak tertentu

yang melakukan persekongkolan.

B. Penanganan Persekongkolan Tender di KPPU

1. Alat Bukti Pemeriksaan di KPPU

Prosedur penegakan hukum persaingan usaha dalam UU No. 5

Tahun 1999 yang

dilakukan oleh komisi memiliki beberapa tahap.12 Tahapan prosedur

penanganan perkara dalam persaingan usaha terutama kegiatan

persekongkolan tender tercakup dalam UU No. 5 Tahun 1999, Bab VII

pada Pasal 38 sampai Pasal 46 mengatur tentang tata cara penanganan

perkara termasuk alat bukti dalam pembuktian dugaan pelanggaran.

Komisi dalam rangka membuktikan dapat menggunakan alat bukti

yang secara limitatif ditentukan dalam Pasal 42 UU No. 5 Tahun 1999.

Pada Pasal tersebut, alat-alat bukti yang digunakan oleh KPPU dalam

11

L Budi Kagramanto, Larangan Persekongkolan Tender (Perspektif Hukum Persaingan Usaha, Cet-ke-1, (Jakarta: Srikandi, 2007), h. 203.

12

(42)

melakukan permeriksaan, adalah:13

1) Keterangan saksi

Yang dimaksud saksi adalah setiap orang atau pihak yang

mengetahui terjadinya pelanggaran dan memberikan keterangan

guna kepentingan pemeriksaan.

2) Keterangan ahli

Yang dimaksud saksi ahli adalah orang yang memiliki keahlian

dibidang terkait dengan dugaan pelanggaran dan memberikan

keterangan guna kepentingan pemeriksaan.

3) Surat atau dokumen

Sebagai pembanding dalam hukum acara pidana, surat menurut

Pasal 187 KUHAP dinyatakan bahwa surat sebagaimana dalam

Pasal 187 ayat (1) huruf c, dibuat diatas sumpah jabatan atau

dikuatkan dengan sumpah, yaitu:

a. Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh

pejabat umum

yang berwenang atau dibuat dihadapannya, yang dimuat

keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar,

dilihat atau dialami sendiri, disertai dengan alasan yang jelas

dan tegas tentang keterangannya itu;

b. Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-

13

(43)

undangan atau surat yang dibuat oleh pejabat umum mengenai

hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggung

jawabnya dan diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal/

sesuatu keadaan;

c. Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat

berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu keadaan yang

diminta secara resmi daripadanya;

d. Surat lain yang hanya dapat diperlakukan jika ada

hubungannya dengan isi dari alat pembuktian yang lain.

4) Petunjuk

Bandingan dengan hukum acara pidana, petunjuk menurut Pasal

188 ayat (1) KUHAP menyatakan bahwa petunjuk adalah

perbuatan, kejadian atau keadaan yang karena persesuaiannya, baik

antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana

itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi tindak pidana dan

siapa pelakunya.14 Pasal 188 ayat (2) KUHAP menyatakan bahwa

petunjuk hanya dapat diperoleh dari: (a) keterangan saksi; (b) surat;

(c) keterangan terdakwa. Keterangan terdakwa dalam UU Nomor

5Tahun 1999 digantikan menjadi keterangan terlapor.

5) Keterangan pelaku usaha

Yang dimaksud dengan pelaku usaha adalah setiap orang

14

(44)

perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum

atau bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau

melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik

Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian

menyelenggarakan berbagai kegiatan dalam bidang ekonomi.

Pembuktian termasuk juga pada suatu dugaan yang belum tentu

dilakukan dan dapat cara melakukan monitoring pasar, harga, ataupun

perjanjian dengan pihak ketiga. Ada suatu pendekatan yang

komprehensif untuk memutuskan apakah suatu perusahaan melakukan

tindakan yang rasional dalam menghadapi pasar atau dalam rangka

menghadapi persaingan atau sebagai konsekuensi keikutsertaan dalam

konspirasi yang bersifat anti-persaingan.15

Komisi memusatkan perhatian ketika melakukan penyelidikan

pada dokumen usaha yang bersifat objektif dan memiliki kekuatan

pembuktian yang khusus. Dalam melihat kebenaran dan menentukan

sah atau tidaknya suatu alat bukti dengan memperhatikan perseuaian

antara alat butki yang satu dengan alat bukti lainnya yang ditentukan

oleh Majelis Komisi.

2. Pembuktian Persekongkolan Tender di KPPU

Dalam memutuskan perkara persekongkolan tender, KPPU

menggunakan dasar hukum Pasal 22 UU Nomor 5/1999. Berdasarkan

15

(45)

Pasal 22 tersebut, ketentuan tentang persekongkolan tender terdiri atas

beberapa unsur, yakni unsur pelaku usaha, bersekongkol, adanya pihak

lain, mengatur dan menentukan pemenang tender, serta persaingan

usaha tidak sehat.

Istilah ―pelaku usaha‖ diatur dalam Pasal 1 angka 5 UU No. 5

Tahun1999. Adapun istilah ―bersekongkol‖ diartikan sebagai

kerjasama yang dilakukan oleh pelaku usaha dengan pihak lain atas

inisiatif siapapun dan dengan cara apapun dalam upaya memenangkan

peserta tender tertentu.16Di samping itu, unsur ―bersekongkol‖

dapat pula berupa:

1) kerjasama antara dua pihak atau lebih;

2) secara terang-terangan maupun diam-diam melakukan tindakan

penyesuaian dokumen dengan peserta lainnya;

3) membandingkan dokumen tender sebelum penyerahan;

4) menciptakan persaingan semu;

5) menyetujui dan atau memfasilitasi terjadinya persekongkolan;

6) tidak menolak melakukan suatu tindakan meskipun mengetahui

atau sepatutnya mengetahui bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk mengatur dalam rangka memenangkan peserta tender tertentu;

7) pemberian kesempatan eksklusif oleh penyelenggara tender atau

pihak terkait secara langsung maupun tidak langsung kepada pelaku usaha yang mengikuti tender, dengan cara melawan hukum.

Kerjasama antara dua pihak atau lebih dengan diam-diam biasanya

dilakukan secara lisan, sehingga membutuhkan pengalaman dari

lembaga pengawas persaingan guna membuktikan adanya kesepakatan

yang dilakukan secara diam-diam. Adanya unsur ―pihak lain‖

(46)

menunjukkan bahwa persekongkolan selalu melibatkan lebih dari satu

pelaku usaha. Pengertian pihak lain dalam hal ini meliputi para pihak

yang terlibat, baik secara horisontal maupun vertikal dalam proses

penawaran tender.

Pola pertama adalah persekongkolan horisontal, yakni tindakan

kerjasama yang dilakukan oleh para penawar tender, misalnya

mengupayakan agar salah satu pihak ditentukan sebagai pemenang

dengan cara bertukar informasi harga serta menaikkan atau

menurunkan harga penawaran. Dalam kerjasama semacam ini, pihak

yang kalah diperjanjikan akan mendapatkan sub kontraktor dari pihak

yang menang. Namun demikian, KPPU kadangkala menemukan unsur

―pihak lain‖ yang bukan merupakan pihak yang terkait langsung dalam

proses penawaran tender, seperti pemasok atau distributor barang dan

atau jasa bersangkutan.

Unsur Pasal 22 selanjutnya adalah ―mengatur dan atau menentukan

pemenang tender‖. Unsur ini diartikan sebagai suatu perbuatan para

pihak yang terlibat dalam proses tender secara bersekongkol, yang

bertujuan untuk menyingkirkan pelaku usaha lain sebagai pesaingnya

dan/atau untuk memenangkan peserta tender tertentu dengan berbagai

cara. Pengaturan dan/atau penentuan pemenang tender tersebut

meliputi, antara lain menetapkan kriteria pemenang, persyaratan

teknik, keuangan, spesifikasi, proses tender, dan sebagainya.

(47)

horisontal maupun vertikal, artinya baik dilakukan oleh para pelaku

usaha atau panitia pelaksana.

Unsur yang terakhir dari ketentuan tentang persekongkolan adalah

terjadinya ―persaingan usaha tidak sehat‖. Unsur ini menunjukkan,

bahwa persekongkolan menggunakan pendekatan rule of reason,

karena dapat dilihat dari kalimat ―…sehingga dapat mengakibatkan

terjadinya persaingan usaha tidak sehat‖. Pendekatan rule of reason

merupakan suatu pendekatan hukum yang digunakan lembaga

pengawas persaingan untuk mempertimbangkan faktor-faktor

kompetitif dan menetapkan layak atau tidaknya suatu hambatan

perdagangan. Artinya untuk mengetahui apakah hambatan tersebut

bersifat mencampuri, mempengaruhi, atau bahkan mengganggu proses

persaingan.17

3. Upaya Hukum Keberatan, Kasasi, dan Eksekusi Putusan

a. Pengajuan Keberatan Sebagai Upaya Hukum

Terhadap Putusan KPPU yang telah dibacakan dalam suatu sidang

yang dinyatakan terbuka untuk umum sebagaimana ditentukan pada

Pasal 43 ayat (4) UU No. 5 Tahun 1999, pelaku usaha dapat

menentukan sikapnya, yaitu tidak menerima isi putusan tersebut

dengan cara mengajukan keberatan atau menerima isi putusan tersebut,

dalam arti pelaku usaha tidak mengajukan keberatan kepada

Pengadilan Negeri.

(48)

Pengajuan keberatan kepada Pengadilan Negeri dapat diajukan

oleh pelaku usaha paling lambat 14 (empat belas) hari setelah

menerima pemberitahuan putusan tersebut. Keberatan sendiri

merupakan upaya hukum bagi pelaku usaha yang tidak menerima

putusan KPPU sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (1) Perma No.

01 Tahun 2003. Selanjutnya Pasal 2 ayat (1) Perma No. 01 Tahun 2003

menentukan bahwa keberatan terhadap Putusan KPPU hanya dapat

diajukan kepada Pengadilan Negeri.

Terhadap upaya keberatan tersebut, berlaku hukum acara perdata

yang dalam pemeriksaan keberatan berlaku terhadap Pengadilan

Negeri sebagaimana diatur dalam Pasal 8 Perma No. 01 Tahun 2003.

Penggunaan hukum acara perdata dalam pemeriksaan keberatan sangat

tepat karena mengingat sifat keberatan yang diajukan pelaku usaha

terhadap Putusan KPPU termasuk dalam kategori peradilan kontentius

(contentieuse jurisdictie) dan merupakan perkara perdata sesuai

dengan Pasal 393 ayat (1) HIR/RBg.18

b. Alasan-alasan Kasasi

Setelah Pengadilan Negeri menjatuhkan putusannya terhadap

keberatan pelaku usaha, pihak yang tidak setuju atas putusan

Pengadilan Negeri berhak mengajukan langsung upaya Kasasi kepada

Mahkamah Agung Republik Indonesia. Sebagaimana ditentukan dalam

Pasal 45 ayat (3) UU No. 5 Tahun 1999 yang menentukan dalam

18

(49)

waktu 14 (empat belas) haru, pihak yang keberatan terhadap Putusan

Pengadilan Negeri dapat mengajukan Kasasi ke Mahkamah Agung.

Dalam tingkat Kasasi, tidak diperiksa lagi tentang duduk perkara

atau fakta-fakta sehingga tentang terbukti atau tidaknya peristiwa tidak

akan diperiksa. Pemeriksaan pada tingkat Kasasi hanya berkenaan

dengan tidak dilaksanakan atau ada kesalahan dalam pelaksanaan

hukum.19 Tidak semua putusan judex facti dapat dimohonkan Kasasi,

menurut ketentuan Pasal 30 UU Nomor 14 Tahun 1985 Tentang

Mahkamah Agung (selanjutnya disebut UU No. 14 Tahun 1985),

permohonan Kasasi dibatasi terhadap alasan-alasan, yaitu dalam hal:

i. Judex facti tidak berwenang atau melampaui batas wewenang; dan/atau;

ii. Judex facti salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku; dan/atau;

iii. Judex facti lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan.

Alasan-alasan atau keberatan tersebut dituangkan dalam Memori

Kasasi. Berdasarkan Pasal 47 ayat (1) UU No. 14 Tahun 1985,

pemohon Kasasi wajib menyerahkan Memori Kasasi dalam tenggang

waktu 14 (empat belas) hari setelah permohonan Kasasi diajukan.

Dikatakan ―wajib‖ karena pemohon Kasasi yang tidak menyerahkan

Memori Kasasi akan mengakibatkan permohonan Kasasi tersebut tidak

memenuhi persyaratan formil sehingga permohonan Kasasi tersebut

19

(50)

tidak diperiksa dan ditolak.20

c. Eksekusi Putusan

1) Sifat-sifat Putusan yang Dapat Dieksekusi

Eksekusi adalah upaya paksa untuk melaksanakan suatu

putusan yang telah berkekuatan hukum tetap (in kracht van

gewijsde). Tidak semua putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap mempunyai kekuatan untuk di eksekusi. Dalam

kerangka UU No. 5 Tahun 1999, Putusan KPPU yang menyatakan

pelaku usaha melanggar ketentuan undang-undang tersebut,

mempunyai kekuatan eksekusi. Dalam konteks ini termasuk juga

Putusan KPPU yang dimintakan keberatan kepada Pengadilan

Negeri atau Kasasi kepada Mahkamah Agung, tetapi terhadap

Keberatan dan Kasasi tersebut ditolak, maka

juga memiliki kekuatan eksekusi.21

Karena putusan Pengadilan Negeri atau Mahkamah Agung

yang mengabulkan keberatan pelaku usaha tidak mempunyai

kekuatan eksekusi. Sehingga KPPU serta merta tidak dapat

meminta pelaksanaan eksekusi kepada Pengadilan Negeri (fiat

eksekusi). Pada prinsipnya, ada tiga faktor yang mengakibatkan

suatu Putusan KPPU mempunyai kekuatan hukum tetap, yaitu:22

20

Harjon Sinaga, Hukum Acara Persaingan Usaha, h. 104.

21

Harjon Sinaga, Hukum Acara Persaingan Usaha, h. 106.

22

(51)

a) Apabila pelaku usaha tidak mengajukan keberatan terhadap Putusan KPPU dalam tenggang waktu yang diberikan undang-undang (Pasal 46 ayat (1) UU No. 5 Tahun 1999); atau

b) Apabila Pengadilan Negeri menolak alasan-alasan

keberatan yang diajukan oleh pelaku usaha dan tidak ada permohonan Kasasi dalam tenggang waktu yang ditentukan undang-undang (Pasal 45 ayat (3) UU No. 5 Tahun 1999); atau

c) Apabila Mahkamah Agung dalam tingkat Kasasi menolak

alasan-alasan Keberatan yang diajukan oleh pelaku usaha.

Putusan KPPU yang berisi sanksi administratif disebut

dengan condemnatoir atau putusan yang bersifat menghukum.

Sedangkan putusan yang isinya menyatakan bahwa pelaku usaha

tertentu secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 22 UU Nomor

5 Tahun 1999 disebut putusan declaratoir atau bersifat

menerangkan.23 Setiap putusan condemnatoir mengandung

kekuatan eksekusi.24 Putusan yang telah mempunyai kekuatan

hukum tetap dan bersifat condemnatoir wajib dilaksanakan oleh

pelaku usaha. Ada dua cara melaksanakan putusan, yaitu:

a) Secara sukarela; atau

b) Dengan cara upaya paksa.

Pelaksaan putusan secara sukarela berarti pelaku usaha memenuhi

sendiri dengan sempurnya segala kewajibannya sesuai dengan

amar putusan KPPU. Dalam tenggang waktu 30

Referensi

Dokumen terkait

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PELAKU USAHA YANG DIRUGIKAN AKIBAT PERSEKONGKOLAN TENDER PENGADAAN BARANG MENURUT. UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRATEK MONOPOLI

Yakub Adi Krisanto, 2006, Analisis Pasal 22 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 dan Karekristik Putusan KPPU Tentang Persekongkolan Tender, Jurnal Hukum Bisnis, Volume-No.2.

Maka secara hukum surat dakwaan dan surat tuntutan tersebut adalah cacat menurut hukum karena tidak mengacu pada Pasal 143 ayat (2) sub a KUHAP. Pemohon juga keberatan

Seharusnya upaya hukum terhadap kekuatan putusan hakim dalam mepertimbangkan saksi yang tidak memberikan keterangan pada putusan perkara perdata (analisis putusan