• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBEDAAN KADAR HDL DAN LDL SEBELUM DAN SESUDAH SENAM JANTUNG SEHAT PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA BHAKTI YUSWA’ NATAR LAMPUNG SELATAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERBEDAAN KADAR HDL DAN LDL SEBELUM DAN SESUDAH SENAM JANTUNG SEHAT PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA BHAKTI YUSWA’ NATAR LAMPUNG SELATAN"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

PERBEDAAN KADAR HDL DAN LDL SEBELUM DAN SESUDAH SENAM JANTUNG SEHAT PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA

WERDHA BHAKTI YUSWA’ NATAR LAMPUNG SELATAN

(Skripsi)

Oleh :

EVI FEBRIANI LUBIS

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRACT

DIFFERENCES IN THE LEVELS OF HDL AND LDL BEFORE AND AFTER HEALTHY HEART AEROBIC IN THE ELDERLY IN TRESNA WERDHA BHAKTI

YUSWA’ SOCIAL SHELTER IN NATAR SOUTH LAMPUNG.

By

EVI FEBRIANI LUBIS

Cardiovascular disease is the leading cause of death in the elderly in Indonesia. Dyslipidemia is a risk factor for cardiovascular disease. Prevalence of dyslipidemia in Indonesia is quite high, it can be seen from the results of studies in the elderly in Jakarta on 307 sample, obtained by 44.6% incidence of dyslipidemia. Cardiovascular disease is the leading cause of death in the elderly.

This study aims to differences in the levels of HDL and LDLbefore and after healthy heart aerobic in the elderly in Tresna Werdha Bhakti Yuswa’ Social Shelter in Natar South Lampung. Exercise held for 2 months.

The research method uses an experimental approach (pre test - post test design) and data from the study were statistically tested by paired t test. The study was conducted by 16 elderly. Exercise done twice a week. Before and after exercise for 2 months, the elderly examined blood levels of HDL and LDL.

From the results of this research, the levels of HDL seniors before doing exercise was 48.81 mg / dl and after exercise 50.31 mg / dl with a p-value = 0.013 and with an average increase of 3 % HDL levels. Then the levels of LDL respondents before doing exercise was 106.06 mg / dl and after exercise 103.56 mg / dl with a p-value = 0.009 and with average decrease in LDL cholesterol of 2.4 %. The results showed a significant difference to the levels of HDL and LDL before and after healthy heart aerobic.

The conclusion of this study is the significant difference to the levels of HDL and LDL before and after healthy heart aerobic in the elderly. Researchers suggest to people, especially to the elderly in order to make healthy heart aerobic regularly to reduce the risk of cardiovascular disease.

(3)

ABSTRAK

PERBEDAAN KADAR HDL DAN LDL SEBELUM DAN SESUDAH SENAM JANTUNG SEHAT PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA BHAKTI

YUSWA’ NATAR LAMPUNG SELATAN

Oleh

EVI FEBRIANI LUBIS

Penyakit kardiovaskuler adalah penyebab utama kematian pada kelompok lanjut usia di Indonesia. Dislipidemia merupakan salah satu faktor risiko terjadinya penyakit kardiovaskuler. Prevalensi dislipidemia di Indonesia cukup tinggi, hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian pada usia lanjut di Jakarta terhadap 307 sampel penelitian, didapatkan kejadian dislipidemia sebesar 44,6%.

Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kadar HDL dan LDL sebelum dan sesudah senam jantung sehat pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Bhakti Yuswa’ Natar Lampung Selatan. Senam dilaksanakan selama 2 bulan.

Metode penelitian menggunakan pendekatan eksperimental (pre test - post test design) dan data dari hasil penelitian diuji secara statistik dengan uji t berpasangan. Penelitian dilakukan oleh 16 orang lansia. Senam dilakukan dua kali dalam seminggu. Sebelum dan sesudah dilakukan senam selama 2 bulan, para lansia diperiksa kadar HDL dan LDL

darahnya.

Setelah penelitian ini didapatkan hasil kadar HDL lansia sebelum melakukan senam adalah 48.81 mg/dl dan setelah senam 50.31 mg/dl dengan p-value = 0,013 dan dengan peningkatan rata-rata kadar HDL 3 %. Kemudian kadar LDL responden sebelum melakukan senam adalah 106.06 mg/dl dan setelah senam 103.56 mg/dl dengan p-value = 0,009 dan dengan penurunan rata-rata kadar LDL 2,4%.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan yang signifikan terhadap kadar HDL dan LDL sebelum dan sesudah senam jantung sehat pada lansia. Peneliti menyarankan kepada masyarakat, khususnya kepada para lansia agar dapat melakukan senam jantung sehat secara rutin untuk mengurangi risiko terjadinya penyakit kardiovaskuler.

Kata kunci : HDL (High Density Lipoprotein), lansia dan LDL (Low Density Lipoprotein),

(4)

PERBEDAAN KADAR HDL DAN LDL SEBELUM DAN SESUDAH SENAM JANTUNG SEHAT PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA

WERDHA BHAKTI YUSWA’ NATAR LAMPUNG SELATAN

Oleh

EVI FEBRIANI LUBIS

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA KEDOKTERAN

Pada

Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)

H. Analisis Data ... 49

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Responden ... 51

B. Hasil Penelitian ... 54

C. Pembahasan ... 60

V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 66

B. Saran ... 67

DAFTAR PUSTAKA ... 68

(7)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Karakteristik beberapa apolipoprotein ... 12

2. Karakteristik lipoprotein plasma ... 13

3. Efek dari aktifitas fisik dan aerobik terhadap kardiovaskular... 27

4. Beberapa perubahan yang terjadi pada berbagai sistem tubuh pada proses menua... 39

5. Definisi operasional... ... 47

6. Tabel data ... 48

7. Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur ... 51

8. Distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin ... 53

9. Distribusi frekuensi kadar HDL sebelum senam jantung sehat... 54

10.Distribusi frekuensi kadar LDL sebelum senam jantung sehat... 55

11.Distribusi frekuensi kadar HDL sesudah senam jantung sehat ... 56

12.Distribusi frekuensi kadar LDL sesudah senam jantung sehat.... 57

13.Perbedaan kadar HDL sebelum dan sesudah senam jantung sehat... 59

(8)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Kerangka teori ... 9

2. Kerangka konsep ... 10

3. Metabolisme lipoprotein ... 17

4. Alur prosedur penelitian ... 46

5. Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur ... 52

6. Distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin ... 53

7. Distribusi frekuensi kadar HDL sebelum senam jantung sehat... 55

8. Distribusi frekuensi kadar LDL sebelum senam jantung sehat... 56

9. Distribusi frekuensi kadar HDL sesudah senam jantung sehat ... 57

(9)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1. Lembar persetujuan penelitian 2. Kuesioner

3. Pemeriksaan laboratorium 4. Absensi senam jantung sehat 5. Kadar HDL

6. Kadar LDL

7. Uji statistik

(10)

DAFTAR PUSTAKA

Adam, J. M. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Edisi V. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.

Anwar, T. B. 2004. Dislipidemia Sebagai Faktor Resiko Penyakit Jantung Koroner. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Dahlan, S. 2009. Besar Sampel dan Cara Pengambilan Sampel dalam Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Edisi 3. Jakarta: Salemba Medika.

Dimitriou, R., Duvillard, SP., Paulweber, B., et al. 2007. Nine months aerobic fitness induced changes on blood lipids and lipoproteins in untrained subjects versus controls. Eur J Appl Physiol99: 291-299.

Djanggan, S. 2002. Small and Dense Low Density Lipoprotein (LDL) sebagai faktor resiko Penyakit Jantung Aterosklerosis. Medika.

Ellya, LN. Penyakit Jantung Koroner pada anak dan pencegahannya. Medika

Online. Tanggal download; 25 September 2012

http://www.tempointeraktif.com/medika/arsip.

Friedewald, W. T. 1972. Clin. Chem. 18, 499

George AK, DA, FACSM, Kristi S. K, Barry F. 2006. Aerobic Exercise and Lipids and Lipoprotein in Patients With Cardiovascular Disease:A Meta-Analysis of Randomized Controlled Trial. Department of Community Medicine, School of Medicine, West Virginia University, Morgantown, Cardiac Rehabilitation and Exercise Laboratories, William Beaumont Hospital, Royal Oak, Mich; 26(3): 131–144.

George AK, DA, Kristi S. K, Zung VU Tran. 2004. Aerobic Exercise and Lipids and Lipoproteins in Women: A- Meta-Analysis of Randomized Controlled Trials. Department of Community Medicine, School of Medicine, West Virginia University, Morgantown, West Virginia, National Jewish Medical and Research Center, Denver, Colorado; 13(10): 1148–1164.

(11)

Guyton & Hall. 2007. Fisiologi Kedokteran. EGC, Jakarta, hal. 1112-1114

Hastono. 2006. Metodologi Penelitian. Arcan, Jakarta.

Hayes, D. 1999. Distress sudden exercise raise heart attack risk. American Heart Association, July 27, 1-4.

Jacobs, N. J., VanDenmark, P. J., Arch. 1960. Biochem. Biophys. 88, 250-255.

Kamso, S., Purwantyastuti, Juwita, R. 2002. Dislipidemia pada lanjut usia di kota Padang. Makara Kesehatan, 6, 2, 55-58.

Khairani, R., dan Sumiera, M. 2005. Profil lipid pada penduduk lanjut usia di Jakarta. Universa Medicina, 24, 4, 175-183.

Koba, S., Tanaka, H., Maruyama, C., Tada, N. 2011. Physical Activity in the Japan Population: Association with Blood Lipid Levels and Effects in Reducing Cardiovascular and All-Cause Mortality. Journal of atherosclerosis and thrombosis 18:833-845vol.18 no.10.

Krishna, M. M., Gopinath. 2011. Effect of Aerobic Exercise on Lipoprofiles of Middle Aged Men. Department of Physical Education Sports and Science, Annamalai University, Annamalai Nagar - 608 002, Chidambaram,

Tamilnadu, India. World Journal of Science and Technology, 1(2): 39-42 ISSN: 2231 – 2587.

Koditschek, L. K., Umbreit, W. W., J. 1969. Bacteriol. 68, 1063-1068.

Lisyani, BS. 2006. C-Reactive Protein, petanda inflamasi untuk menilai risiko penyakit kardiovaskuler. Dalam : Tjahjati MI, Banundari RH, Vincencia L, Lestarini IA eds. Seminar Petanda Penyakit Kardiovaskuler Sebagai Point of Care Test (POCT). Semarang:Balai Penerbit Universitas Diponegoro;16-30.

Mukarromah, B. S., Junaidi, S., Sugiarto. 2010. Pencegahan Dislipidemia dan Peningkatan Kebugaran Tubuh pada Remaja Puteri dan Ibu Rumah Tangga Melalui Senam Aerobik di Kota Semarang

. Universitas Negeri

Semarang.

Murbawani, A. E. 2005. Perbedaan Profil Lipid Pada Peserta Senam Jantung Sehat. Universitas Diponegoro. Semarang.

(12)

Oetoro, S. 2007. Seminar RS Jantung Harapan Kita: Makan Enak Jantung Sehat, http://medicastore.com/index.php?mod=seminar&id=23

Diunduh 15 September 2012.

Okura, T., Nakata, Y., Tanaka, K. 2003. Effect of Exercise Intensity on Physical Fitness and Risk Factor For Cardiovascular Disease. Obesity Research;11; pp 1131-39.

Peter, O., Kwiterovich, Jr. 2003. Disorders of Lipid and Lipoprotein Metabolism. Rudolph's Pediatrics, 21st Edition.

Richmond, W. 1973. Clin. Chem. 19, 1350.

Robbins, Vinay, K., Ramzi, S., Stanley, L. 2007. Buku Ajar Patologi. Edisi 7. EGC: Jakarta.

Roeschlau, P. et al. 1974. J. Clin. Chem. Clin. Biochem. 12, 403.

Sadoso, S. 2009. Aktif Bergerak Kurangi Risiko Jantung Koroner!

http://www.depkes.go.id/popups/articleswindow.php?id=152&prin.kompas.c orn/data/photo/2008/06/11/170216p.jpg Diunduh 15 September 2012.

Sari, N. 2008. Pengaruh Senam Terhadap Penurunan Hipertensi pada Lansia di

Panti Sosial Tresna Werdha Bhakti Yuswa’ Natar Lampung Selatan. Universitas Mitra Lampung.

Sastroasmoro, S., Ismael, S. 2008. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Edisi ketiga. Sagung Seto, Jakarta.

Setiati, S., Harimurti, K., Govinda, A. R. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Edisi V. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.

Sudibjo, P., Prakosa, D., Soebijanto. 2004. Pengaruh Senam Aerobik Intensitas Sedang dan Intensitas Tinggi Terhadap Persentase Lemak Badan dan Lean Body Weight.Universitas Negeri Yogyakarta.

Supriyadi. 2006. Motivasi Peserta Olahraga Senam Jantung Sehat di Klub Tri Lomba Juang Semarang Tahun 2006. Universitas Negeri Semarang.

Soutar, A. K. 2010. Rare Genetic Causes of Autosomal Dominant of Recessive Hypercholesterolemia.http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20073037?itool =EntrezSystem2.PEntrezPubmed.Pubmed_ResultPanel.Pubmed_RVDocSum &ordinalpos=

(13)

1098.

Trinder, P. 1969. Clin. Biochem. 6, 24.

(14)

MENGESAHKAN

1. Tim Penguji

Ketua : dr. Khairun Nisa, M. Kes, AIFO.

Sekretaris : dr. Syazili Mustofa

Penguji

Bukan Pembimbing : dr. Agustyas Tjiptaningrum, Sp. PK.

2. Dekan Fakultas Kedokteran

Tanggal Lulus Ujian Skripsi: 23 Januari 2013 Dr. Sutyarso, M.Biomed.

(15)

Subhanallah Walhamdulillaahirabbil aalamin

Sujud dan syukur ku tiada hentinya selalu kupanjatkan

padaMu ya Rabb

karna dengan izinMu, skripsi ini yang merupakan awal dari

cita-cita besar ku dapat terselesaikan tepat waktu

Dengan segala kerendahan hati

Kupersembahkan sebuah karya kecil ku yang ku raih dari

jutaan tetesan keringat, sujud yang basah karna air mata dan

do’a tulus yang tiada henti dari kedua orang tua ku yang begitu

mencintai dan menyayangiku

Terimakasih untuk semuanya

Tak ada bahasa yang dapat mengungkapkan

keindahan kasih sayang Mama dan Papa

Serta tak ada harga yang dapat menilai

besarnya pengorbanan Mama dan Papa

Satu tujuan hidupku sampai akhir nanti adalah membuat

Mama dan Papa bangga akan aku anak mu serta tersenyum

(16)

Judul Skripsi : PERBEDAAN KADAR HDL DAN LDL SEBELUM DAN SESUDAH SENAM JANTUNG SEHAT PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA BHAKTI YUSWA’ NATAR LAMPUNG SELATAN

Nama Mahasiswa : Evi Febriani Lubis

Nomor Pokok Mahasiswa : 0918011042

Program Studi : Pendidikan Dokter

Fakultas : Kedokteran

MENYETUJUI

1. Komisi Pembimbing

2. Dekan Fakultas Kedokteran dr. Khairun Nisa, M.Kes,

AIFO.

NIP 197402262001122002

dr. Syazili Mustofa NIP 198307132008121003

(17)

I.PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di Indonesia diperkirakan jumlah penduduk kelompok lanjut usia (lansia)

adalah 14.9 juta pada tahun 2000. Penyakit utama pada kelompok lanjut

usia di Indonesia adalah kardiovaskuler. Data di rumah sakit maupun di

masyarakat menunjukkan penyakit kardiovaskuler yang terdiri dari

penyakit jantung koroner, penyakit jantung hipertensi dan stroke adalah

penyebab utama kematian pada kelompok lanjut usia (Kamso, 2002).

Semakin tua usia seseorang kemampuan tubuh untuk mengatur absorpsi,

sintesis dan ekskresi lemak mulai berkurang (Murbawani, 2005).

Penelitian-penelitian juga menunjukkan bahwa salah satu faktor yang

dapat menyebabkan timbulnya penyakit kardiovaskuler adalah gangguan

kadar lemak dalam darah (dislipidemia). Gangguan itu dapat berupa

penurunan kadar High Density Lipoprotein (HDL) dan peningkatan kadar

Low Density Lipoprotein (LDL) (Kamso, 2002).

Prevalensi dislipidemia di Indonesia cukup tinggi, hal ini dapat dilihat dari

(18)

didapatkan kejadian dislipidemia sebesar 44,6%. Penelitian yang

dilakukan di kota Padang juga didapatkan kejadian dislipidemia yang

cukup tinggi, yaitu lebih dari 50% sampel penelitian memiliki nilai total

kolesterol ≥ 240 mg/dl dan (Low Density Lipoprotein) LDL ≥ 160 mg/dl (Kamso, 2002, Khairani, 2005).

Salah satu cara untuk mengatasinya yaitu dengan latihan fisik atau

olahraga. Latihan fisik dapat meningkatkan kadar HDL (High Density

Lipoprotein) dan Apo AI, menurunkan trigliserida dan LDL (Low Density

Lipoprotein), dan menurunkan berat badan (Anwar, 2004). Olahraga

biasanya juga dapat menurunkan konsentrasi trigliserid plasma. Sebagai

konsekuensinya, terjadi penurunan kadar VLDL (Very Low Density

Lipoprotein) dan kadar kolesterol HDL (High Density Lipoprotein)

cenderung meningkat (Dimitriou et al, 2007). Mulai tahun 2005, sudah

banyak dikembangkan olahraga yang dikhususkan untuk memperbaiki dan

meningkatkan kerja jantung, salah satunya adalah adanya senam jantung

sehat (Murbawani, 2005). Senam jantung sehat merupakan salah satu

bagian dari latihan fisik aerobik dengan intensitas sedang (Sadoso, 2009).

Berdasarkan hasil penelitian Ziemer yang dikutip oleh George AK et al ,

menemukan bahwa latihan aerobik pada wanita dapat menurunkan

kolesterol total sebesar 19 %, LDL sebesar 11 %, trigliserida 8 % serta

(19)

penelitian lainnya dari penelitian LeMura et al yang dikutip oleh George

AK et al, menemukan bahwa latihan aerobik pada wanita dapat

menurunkan kolesterol total sebesar 2 %. LDL turun sebesar 3 %,

trigliseridaa turun 5 % serta meningkatkan kadar HDL sebesar 3 %

(George AK et al, 2004). Penelitian lainnya juga yang dilakukan oleh

Fletcher et al dan dikutip oleh George AK et al, menemukan bahwa

pengaruh olahraga aerobik yang dilakukan selama 4 minggu pada laki-laki

berusia 18 tahun dapat meningkatkan kadar HDL sebesar 9 %,

menurunkan trigliserida 11%, tanpa adanya penurunan LDL signifikan

(George AK et al, 2006).

Dari berbagai penelitian diperoleh kesimpulan bahwa berolahraga dengan

frekuensi, intensitas, dan durasi terprogram dapat menurunkan kadar

kolesterol dan LDL darah. Hal ini disebabkan lemak sebagai cadangan

energi dalam bentuk trigliserida, pada saat berolahraga dalam jangka

waktu lama akan dipecah untuk memperoleh energi. Semakin sering

berolahraga semakin banyak lemak yang dibakar, sehingga kadar

kolesterol dan LDL darah akan semakin berkurang (Ellya, 2004). Tidak

hanya kadar LDL yang menurun tetapi kadar HDL darah akan semakin

meningkat dikarenakan latihan fisik akan meningkatkan aktifitas enzim

LPLA (Lipoprotein Lipase) pada jaringan otot dan jaringan lemak, yang

mengakibatkan katabolisme VLDL (Very Low Density Lipoprotein) dan

trigliserida meningkat, sehingga akhirnya akan meningkatkan kadar HDL

(20)

katabolisme VLDL (Very Low Density Lipoprotein) merupakan salah satu

pembentuk HDL. Pada proses ini juga terjadi peningkatan enzim LCAT

(Lecithin Cholesterol Acyltransferase). Latihan fisik juga akan

menurunkan aktifitas enzim lipase dalam hati, sehingga menghambat

katabolisme HDL (Mukarromah, 2010).

Berdasarkan beberapa uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian mengenai perbedaan kadar HDL dan LDL sebelum dan sesudah

senam jantung sehat pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Bhakti

Yuswa’ Natar Lampung Selatan.

B. Perumusan Masalah

Penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab kematian utama pada lansia.

Semakin tua usia seseorang kemampuan tubuh untuk mengatur absorpsi,

sintesis dan ekskresi lemak mulai berkurang. Hiperkolesterolemia

merupakan salah satu faktor risiko terjadinya penyakit kardiovaskuler.

Salah satu cara untuk mengatasinya yaitu dengan latihan fisik atau

olahraga.

Berdasarkan hasil penelitian Ziemer yang dikutip oleh George AK et al ,

menemukan bahwa latihan aerobik pada wanita dapat menurunkan

kolesterol total sebesar 19 %, LDL sebesar 11 %, trigliserida 8 % serta

(21)

penelitian lainnya dari penelitian LeMura et al yang dikutip oleh George

AK et al, menemukan bahwa latihan aerobik pada wanita dapat

menurunkan kolesterol total sebesar 2 %. LDL turun sebesar 3 %,

trigliseridaa turun 5 % serta meningkatkan kadar HDL sebesar 3 %

(George AK et al, 2004). Penelitian lainnya juga yang dilakukan oleh

Fletcher et al dan dikutip oleh George AK et al, menemukan bahwa

pengaruh olahraga aerobik yang dilakukan selama 4 minggu pada laki-laki

berusia 18 tahun dapat meningkatkan kadar HDL sebesar 9 %,

menurunkan trigliserida 11%, tanpa adanya penurunan LDL signifikan

(George AK et al, 2006). Senam jantung sehat merupakan salah latihan

fisik aerobik dengan intensitas sedang. Untuk membuktikan hal tersebut,

perlu di uji coba agar diperoleh fakta yang jelas. Sehingga didapatkan

rumusan masalah sebagai berikut:

Apakah ada perbedaan yang signifikan terhadap kadar HDL dan LDL

sebelum dan sesudah senam jantung sehat pada lansia di Panti Sosial

Tresna Werdha Bhakti Yuswa’ Natar Lampung Selatan ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini terbagi menjadi dua tujuan yaitu tujuan umum

(22)

a) Tujuan Umum

Mengetahui perbedaan kadar HDL dan LDL sebelum dan sesudah

senam jantung sehat pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Bhakti

Yuswa’ Natar Lampung Selatan.

b) Tujuan Khusus

1. Mengetahui gambaran kadar HDL dan LDL pada lansia di Panti

Sosial Werdha Bhakti Yuswa’ Natar Lampung Selatan.

2. Mengetahui angka keteraturan dalam mengikuti aktifitas senam

jantung sehat.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa manfaat bagi peneliti dan dunia

pendidikan, bagi klinisi dan pelayanan kesehatan serta bagi institusi tempat

penelitian ini dilakukan. Adapun beberapa manfaat dari penelitian ini yaitu

sebagai berikut:

1. Bagi peneliti dan dunia pendidikan

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi

peneliti lain untuk mengetahui perbedaan kadar HDL dan LDL

sebelum dan sesudah senam jantung sehat pada lansia.

2. Bagi klinisi dan pelayanan kesehatan

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan untuk

(23)

sehat yang sebaiknya diberikan pada lansia untuk meningkatkan

perbaikan gambaran kadar HDL dan LDL.

3. Bagi institusi tempat penelitian

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi mengenai

pengaruh senam jantung sehat yang dilakukan secara rutin terhadap

kadar lipid HDL dan LDL pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha

Bhakti Yuswa’ Natar Lampung Selatan serta dijadikan pertimbangan bagi pihak Panti Sosial Tresna Werdha Bhakti Yuswa’ dalam membuat kebijakan manajemen pelayanan yang lebih baik, khususnya

dalam pengaturan aktiftas olahraga intensitas sedang seperti senam.

jantung sehat pada lansia untuk meningkatkan kualitas hidup dari para

lansia.

E. Kerangka Teori

Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu penyakit jantung

yang disebabkan oleh proses aterosklerosis. Penelitian-penelitian terbaru

menunjukkan bahwa inflamasi memegang peran penting dalam

perkembangan dan progresivitas PJK serta manifestasi lain aterosklerosis

(WHO, 2008, Lisyani, 2006). Aterosklerosis yang terjadi karena timbunan

kolesterol dan jaringan ikat pada dinding pembuluh darah secara

perlahan-lahan (Hayes, 1999).

PJK memiliki faktor resiko yang tidak dapat diubah seperti usia, yang

(24)

besar (Oetoro S, 2007, Soutar AK, 2010). Semakin tua usia seseorang,

kemungkinan terjadinya penyakit jantung koroner akan semakin besar. Hal

ini disebabkan karena kemampuan tubuh untuk mengatur absorpsi,

sintesis dan ekskresi lemak mulai berkurang (Murbawani, 2005).

Terjadinya insidensi aterosklerosis koroner dan peningkatan konsentrasi

LDL menunjukkan hubungan yang positif. Dislipidemia adalah faktor

risiko utama untuk aterosklerosis. Sebagian besar bukti secara spesifik

menunjukkan hiperkolesterolemia. Komponen kolesterol serum total

menyebabkan peningkatan risiko adalah kolesterol LDL (Low Density

Lipoprotein). Sebaliknya, peningkatan kadar High Density Lipoprotein

(HDL) menurunkan risiko. HDL diperkirakan berperan memobilisasi

kolesterol dari ateroma yang sudah ada dan memindahkannya ke hati

untuk dieksresikan ke empedu, sehingga molekul ini disebut “kolesterol baik”. Oleh karena itu, perhatian banyak dicurahkan pada metode

farmakologik, dietetik, dan perilaku yang dapat menurunkan LDL dan

meningkatkan HDL serum (Robbins, 2007).

Berdasarkan hasil penelitian Ziemer yang dikutip oleh George AK et al ,

menemukan bahwa latihan aerobik pada wanita dapat menurunkan

kolesterol total sebesar 19 %, LDL sebesar 11 %, trigliserida 8 % serta

meningkatkan kadar HDL (High Density Lipoprotein) sebesar 18 %. Hasil

penelitian lainnya dari penelitian LeMura et al yang dikutip oleh George

(25)

menurunkan kolesterol total sebesar 2 %. LDL turun sebesar 3 %,

trigliseridaa turun 5 % serta meningkatkan kadar HDL sebesar 3 %

(George AK et al, 2004). Penelitian lainnya juga yang dilakukan oleh

Fletcher et al dan dikutip oleh George AK et al, menemukan bahwa

pengaruh olahraga aerobik yang dilakukan selama 4 minggu pada laki-laki

berusia 18 tahun dapat meningkatkan kadar HDL sebesar 9 %,

menurunkan trigliserida 11%, tanpa adanya penurunan LDL signifikan

(George AK et al, 2006).

Gambar 1.1 Kerangka teori pengaruh senam jantung sehat terhadap kadar

HDL dan LDL pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Bhakti Yuswa’ Natar

Lampung Selatan (WHO, 2008, Lisyani, 2006, Hayes, 1999, Robbins, 2007,

George AK et al, 2004, George AK et al, 2006, Murbawani , 2005, Oetoro S,

2007, Soutar AK, 2010).

LANSIA

Dislipidemia

Aterosklerosis

Penyakit Jantung Koroner Senam Jantung Sehat

Kadar LDL

(26)

F. Kerangka Konsep

Kerangka konsep pada penelitian ini terdiri dari beberapa variabel yang

akan diamati. Beberapa variabel tersebut terdiri dari variabel independen

dan dependen. Senam jantung sehat merupakan variabel independen

sedangkan kadar HDL dan LDL merupakan variabel dependen pada

penelitian ini.

Berdasarkan kerangka konsep diatas, maka terdapat perbedaan kadar HDL

dan LDL sebelum dan sesudah senam jantung sehat.

G. Hipotesis

Terdapat perbedaan kadar HDL dan LDL sebelum dan sesudah senam

jantung sehat pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Bhakti Yuswa’

Natar Lampung Selatan.

Senam Jantung Sehat 1. Kadar LDL

2. Kadar HDL

(27)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Profil Lipid Darah

1. Lipid dan Lipoprotein

Di dalam darah kita ditemukan tiga jenis lipid yaitu kolesterol, trigliserid,

dan fosfolipid. Oleh karena sifat lipid yang susah larut dalam lemak, maka

perlu dibuat bentuk yang terlarut. Untuk itu dibutuhkan suatu zat pelarut

yaitu suatu protein yang dikenal dengan nama apolipoprotein atau

apoprotein. Pada saat ini dikenal sembilan jenis apoprotein yang diberi

nama secara alfabetis yaitu Apo A, Apo B, Apo C, dan Apo E. Senyawa

lipid dengan apoprotein ini dikenal dengan nama lipoprotein. Setiap jenis

lipoprotein mempunyai Apo tersendiri. Sebagai contoh untuk very low

density lipoprotein (VLDL), Intermediate Density Lipoprotein (IDL), dan

Low Density Lipoprotein (LDL) mengandung Apo B100, sedang Apo B48

ditemukan pada kilomikron. Apo A1, Apo A2, dan Apo A3 ditemukan

(28)

Tabel 2.1 Karakteristik Beberapa Apolipoprotein.

Apolipoprotein Massa Molekul Lipoprotein

Apo AI 28.016 HDL, Kilomikron

Apo AII 17.414 HDL, Kilomikron

Apo AIV 46.465 HDL, Kilomikron

Apo B48 264.000 Kilomikron, VLDL, IDL, LDL

Apo B100 540.000 Kilomikron, VLDL, IDL, LDL

Apo CI 6630 Kilomikron, VLDL, IDL, LDL

Apo CII 8900 Kilomikron, VLDL, IDL,

HDL

Apo CIII 8800 Kilomikron, LDL

Apo E 34.145 Kilomikron, VLDL, IDL,

HDL

Sumber : (Adam, 2009)

Setiap lipoprotein akan terdiri atas kolesterol (bebas atau ester), trigliserid,

fosfolipid, dan apoprotein. Lipoprotein berbentuk sferik dan mempunyai

inti trigliserid dan kolesterol ester dan dikelilingi oleh fosfolipid dan

sedikit kolesterol bebas. Setiap lipoprotein berbeda dalam ukuran,

densitas, komposisi lemak, dan komposisi apoprotein. Dengan

menggunakan ultrasentrifusi, pada manusia dapat dibedakan enam jenis

lipoprotein yaitu high density lipoprotein (HDL), low density lipoprotein

(LDL), very low density lipoprotein (VLDL), kilomikron, dan lipoprotein a

(29)

Tabel 2.2 Karakteristik Lipoprotein Plasma.

Lipoprotein Densitas Lipid utama Diameter Apolipoprotein

menurut urutan

Metabolisme lipoprotein dapat dibagi atas tiga jalur yaitu jalur

metabolisme eksogen, jalur metabolisme endogen, dan jalur reverse

cholesterol transport. Kedua jalur pertama berhubungan dengan

metabolisme kolesterol LDL dan trigliserid, sedang jalur reverse

cholesterol transport khusus mengenai metabolisme kolesterol HDL

(Adam, 2009).

1. Jalur Metabolisme Eksogen

Makanan berlemak yang kita makan terdiri atas trigliserid dan

kolesterol. Selain kolesterol yang berasal dari makanan, dalam usus

juga terdapat kolesterol dari hati yang diekskresi bersama empedu ke

usus halus. Baik lemak di usus halus yang berasal dari makanan

(30)

kolesterol dalam usus halus akan diserap ke dalam enterosit mukosa

usus halus. Trigliserid akan diserap sebagai asam lemak bebas sedang

kolesterol sebagai kolesterol. Di dalam usus halus asam lemak bebas

akan diubah lagi menjadi trigliserid, sedang kolesterol akan mengalami

esterifikasi menjadi kolesterol ester dan keduanya bersama dengan

fosfolipid dan apolipoprotein akan membentuk lipoprotein yang

dikenal dengan kilomikron (Adam, 2009).

Kilomikron ini akan masuk ke saluran limfe dan akhirnya melalui

duktus torasikus akan masuk ke dalam aliran darah. Trigliserid dalam

kilomikron akan mengalami hidrolisis oleh enzim lipoprotein lipase

yang berasal dari endotel menjadi asam lemak bebas (free fatty acid

(FFA)=non-esterified fatty acid (NEFA)). Asam lemak bebas dapat

disimpan sebagai trigliserid kembali di jaringan lemak (adiposa), tetapi

bila terdapat dalam jumlah yang banyak sebagian akan diambil oleh

hati menjadi bahan untuk pembentukkan trigliserid hati. Kilomikron

yang sudah kehilangan sebagian besar trigliserid akan menjadi

kilomikron remnant yang mengandung kolesterol ester dan akan di

bawa ke hati (Adam, 2009).

2. Jalur Metabolisme Endogen

Trigliserid dan kolesterol yang disintesis di hati dan disekresi ke dalam

sirkulasi sebagai lipoprotein VLDL. Apolipoprotein yang terkandung

(31)

di VLDL akan mengalami hidrolisis oleh enzim lipoprotein lipase

(LPL), dan VLDL berubah menjadi IDL yang juga akan mengalami

hidrolisis dan berubah menjadi LDL. Sebagian dari VLDL, IDL, dan

LDL akan mengangkut kolesterol ester kembali ke hati (Adam, 2009).

LDL adalah lipoprotein yang paling banyak mengandung kolesterol.

Sebagian dari kolesterol di LDL akan di bawa ke hati dan jaringan

steroidogenik lainnya seperti kelenjar adrenal, testis, dan ovarium yang

mempunyai reseptor untuk kolesterol LDL. Sebagian lagi dari

kolesterol LDL akan mengalami oksidasi dan ditangkap oleh reseptor

scavenger-A (SR-A) di makrofag dan akan menjadi sel busa (foam

cell). Makin banyak kadar kolestero-LDL dalam plasma makin banyak

yang akan mengalami oksidasi dan ditangkap oleh sel makrofag.

Jumlah kolesterol yang akan teroksidasi tergantung dari kadar

kolesterol yang terkandung di LDL. Beberapa keadaan mempengaruhi

tingkat oksidasi seperti:

1. Meningkatnya jumlah LDL kecil padat (small dense LDL)

2. Kadar kolesterol-HDL, makin tinggi kadar kolesterol-HDL akan

bersifat protektif terhadap oksidasi LDL (Adam, 2009)

3. Jalur Reverse Cholesterol Transport

HDL dilepaskan sebagai partikel kecil miskin kolesterol yang

mengandung apolipoprotein (apo) A, C dan E, dan disebut HDL

nascent. HDL nascent berasal dari usus halus dan hati, mempunyai

(32)

mendekati makrofag untuk mengambil kolesterol yang tersimpan di

makrofag. Setelah mengambil kolesterol dari makrofag, HDL nascent

berubah menjadi HDL dewasa yang berbentuk bulat. Agar dapat

diambil oleh HDL nascent kolesterol (kolesterol bebas) di bagian

dalam dari makrofag harus dibawa ke permukaan membran sel

makrofag oleh suatu transporter yang disebut adenosine

triphosphate-binding cassette transporter-1 atau disingkat ABC-1(Adam, 2009).

Setelah mengambil kolesterol bebas dari sel makrofag, kolesterol

bebas akan diesterifikasi menjadi kolesterol ester oleh enzim lecithin

cholesterol acyltransferase (LCAT). Selanjutnya sebagian kolestererol

ester yang dibawa oleh HDL akan mengambil dua jalur. Jalur pertama

ialah ke hati dan ditangkap oleh scavenger receptor class B type 1

dikenal dengan SR-B1. Jalur kedua adalah kolesterol ester dalam HDL

akan dipertukarkan dengan trigliserid dari VLDL dan IDL dengan

bantuan cholesterol ester transfer protein (CETP). Dengan demikian

fungsi HDL sebagai “penyerap” kolesterol dari makrofag mempunyai

dua jalur yaitu langsung ke hati dan jalur tidak langsung melalui VLDL

(33)

Gambar 2.1. Jalur metabolisme lipoprotein (Peter, 2003)

3. High Density Lipoprotein (HDL)

High Density Lipoprotein (HDL) sering disebut sebagai kolesterol

baik/sehat , karena ia bertanggung jawab sebagai pengangkut kolesterol

dari darah dan dinding arteri ke hepar, yang kemudian akan diubah

menjadi empedu untuk dicerna atau digunakan oleh tubuh. Proses

pengangkutan kolesterol kembali (reverse cholesterol transport process)

dipercaya mampu mencegah atau menghambat terjadi penyakit jantung

koroner. Molekul HDL memiliki 2 subkelas, yaitu HDL2 dan HDL3.

Molekul HDL3 disintesis di hepar dan masuk ke pembuluh darah untuk

mengambil kolesterol. Saat molekul HDL3 kandungan kolesterolnya

meningkat, densitasnya menurun dan menjadi HDL2. Kemudian HDL2

masuk lagi ke hepar untuk dibongkar kembali dan HDL3 kembali dialirkan

ke sirkulasi darah. HDL disintesis dan disekresikan baik dari hepar

(34)

kecil, tetapi mempunyai densitas yang paling tinggi. Kandungan protein

dan fosfolipidnya juga besar (Murbawani, 2005).

HDL dari usus hanya mengandung apoprotein A, sedangkan HDL dari

hepar mengandung apo A, C dan E. Namun demikian HDLnascent (yang

baru diekskresikan) dari usus tidak mengandung apolipoprotein C dan E,

tapi hanya mengandung apoprotein A. Fungsi utama HDL adalah sebagai

tempat penyimpanan untuk apolipoprotein C dan E yang dibutuhkan

dalam metabolisme kilomikron dan VLDL (Murray, 2006).

4. Low Density Lipoprotein (LDL)

Low Density Lipoprotein (LDL) berfungsi sebagai pengangkut utama

kolesterol dari hepar ke sel perifer. LDL sering disebut sebagai kolesterol

jahat/buruk karena fungsi utamanya yang menyalurkan kolesterol ke

seluruh jaringan termasuk dinding arteri dimana terjadi pelepasan LDL

dan penyimpanan kolesterol. Saat kadar LDL mulai meningkat kolesterol

mulai bertumpuk di dinding pembuluh darah dan menghambat aliran

darah. Hepar mengandung reseptor khusus yang mengikat LDL. Saat kadar

LDL meningkat, semua reseptor LDL berkerja dengan aktif, memperlancar

LDL lainnya untuk masuk ke aliram darah, menyimpan kolesterol.

Penghantaran kolesterol ke seluruh sel tubuh diperantarai oleh reseptor

LDL yang terdapat dihampir seluruh permukaan sel. Begitu LDL bertemu

dengan reseptor LDL, kolesterol akan dilepaskan dan digunakan untuk

(35)

besar berasal dari peluruhan VLDL oleh enzim lipoprotein lipase, namun

terdapat bukti pula bahwa LDL di produksi langsung di dalam hepar

(Murray, 2006).

Komposisi LDL adalah protein 21% (apoprotein B), lemak 9% (trigliserid

13%, fosfolipid 28%, kolesterol ester 48%, kolesterol bebas 10%, asam

lemak bebas 1%). Apoprotein yang didalamnya hanyalah apoprotein

B-100. Partikel LDL mengadakan ikatan dengan reseptor dipermukaan sel

yang disebut reseptor LDL. Reseptor ini hanya mengenal apoprotein-E

atau B-100. Apoprotein B-100 inilah yang mengadakan ikatan antara LDL

dan reseptor LDL. Setelah berikatan, kedua partikel ini kemudian masuk

ke dalam sel dan mengalami hidrolisis di lisosom. Reseptor LDL kembali

ke permukaan dan dipakai dalam transport LDL, Kemudian partikel LDL

dipecah dalam sel dan mengeluarkan asam amino dan kolesterol

(Grandjean et al, 2000, Thompson et al, 2001).

B. Senam Jantung Sehat

Olahraga senam jantung sehat adalah salah satu upaya kegiatan promotif,

preventif dan rehabilitatif klub senam jantung sehat yayasan jantung sehat

Indonesia untuk anggota klub jantung sehat ataupun masyarakat umum

lainnya. Pada dasarnya olahraga ini berintikan olahraga aerobik yakni

olahraga yang banyak menghirup oksigen. Disamping olahraga wajib maka

olahraga itu harus mempunyai prinsip: Murah, Mudah, Meriah, Massal,

(36)

dapat dilakukan setiap orang tanpa harus mempunyai keterampilan khusus

yaitu jalan kaki, joging, lari. Olahraga tersebut dapat dilakukan bersama-sama

secara massal dan tentu saja meriah. Disebut mudah, karena untuk berjalan,

joging atau lari tidak diperlukan keterampilan khusus dan dapat dilakukan

oleh siapa saja. Disebut manfaat karena olahraga sangat bermanfaat untuk

melancarkan peredaran darah dan memperbesar pembuluh darah (Supriyadi,

2006).

Memberikan kelenturan otot dan sendi, kekakuan otot dan sendi tersebut dapat

dihilangkan dengan memberikan senam jantung sehat dan senam-senam

lainnya yang sesuai. Dengan demikian maka senam jantung sehat adalah

olahraga yang berintikan aerobik ditambah dengan olahraga yang dapat

memberikan kelenturan, kekuatan dan peningkatan otot-otot secara mudah,

murah meriah, massal dan manfaat serta aman (Supriyadi, 2006).

Pengamanan berbentuk sederhana hanya menghitung denyut nadi tetapi

kegunaannya sangat bermanfaat. Dosis yang diberikan disesuaikan dengan

umur. Rumus yang mudah yakni rumus 200 yaitu 200 dikurangi umur. Itulah

nadi maksimal yang boleh dilakukan oleh siapa saja, dimana saja dan kapan

saja (Supriyadi, 2006).

Latihan aerobik dapat memberikan hasil yang diinginkan apabila dilakukan

dengan frekuensi, intensitas serta durasi yang cukup. Frekuensi adalah jumlah

(37)

dilakukan, dan durasi adalah lama setiap kali latihan (Sudibjo, 2004). Menurut

American College of Sport Medicine (ACSM) intensitas latihan aerobik harus

mencapai target zone sebesar 60-90% dari frekuensi denyut jantung maksimal

atau Maximal Heart Rate (MHR). Berdasarkan MHR yang dicapai, intensitas

latihan aerobik dapat dibagi menjadi: ringan (35-59% MHR), sedang (60-79%

MHR), dan tinggi (80-89% MHR). Peningkatan intensitas latihan dapat

dilakukan melalui penambahan beban latihan, yaitu dengan gerakan

meloncat-loncat, atau dengan mempercepat frekuensi gerak (Sudibjo, 2004).

Latihan aerobik sebaiknya dilakukan dengan frekuensi 3-5 kali perminggu,

dengan durasi latihan 20-30 menit setiap kali latihan (Sudibjo, 2004). Durasi

latihan 15-30 menit sudah dinilai cukup, dengan syarat didahului 3-5 menit

pemanasan dan diakhiri dengan 3-5 menit pendinginan, serta dilakukan secara

kontinu (Sudibjo, 2004).

Penyusunan gerakan senam jantung sehat didasarkan pada prinsip dasar

olahraga yang berguna untuk pembinaan kesehatan jantung dan kesegaran

jasmani yang mencakup beberapa komponen, yaitu sebagai berikut (Supriyadi,

2006) :

a. Peningkatan ketahanan jantung dan alat peredaran darah serta

pernafasan/paru (cardiorespiratory endurance)

b. Kekuatan otot (strength)

c. Ketahanan otot (muscle endurance)

(38)

e. Koordinasi gerak (coordination)

f. Kelincahan (agility)

g. Keseimbangan (balance)

Kekuatan sebuah otot ditentukan terutama oleh ukurannya, dengan suatu daya

kontraktilitas maksimum antara 3 dan 4 kg/cm2 pada satu daerah potongan

melintang otot. Kekuatan yang mempertahankan otot kira-kira 40% lebih

besar dari kekuatan kontraksi. Peregangan yang kuat dari satu otot yang

sudah berkontraksi maksimal adalah satu cara paling pasti untuk

mendapatkan derajat nyeri otot yang paling tinggi (Guyton et al, 2007).

Daya kontraksi otot berbeda dari kekuatan otot, karena daya merupakan suatu

pengukuran dari jumlah total kerja yang dilakukan oleh otot dalam satu

satuan waktu. Oleh karena itu, daya ditentukan tidak hanya oleh kekuatan

kontraksi otot tetapi juga oleh jarak kontraksi otot dan jumlah otot yang

berkontraksi setiap menit. Daya otot biasanya diukur dalam kilogram meter

(kg-m) per menit (Guyton et al, 2007).

Pengukuran lain dari penampilan otot adalah ketahanan. Ketahanan ini,

sebagian besar, bergantung kepada dukungan nutrisi terhadap otot terlebih

lagi kandungan glikogen yang tersimpan dalam otot sebelum periode latihan.

Seseorang yang menjalankan diet tinggi karbohidrat menyimpan lebih banyak

(39)

maupun diet tinggi lemak. Oleh karena itu, ketahanan akan sangat

ditingkatkan oleh diet tinggi karbohidrat (Guyton et al, 2007).

Di dalam otot terdapat sistem metabolik dasar yang sama seperti di dalam

semua bagian tubuh yang lain. Akan tetapi, terdapat tiga sistem metabolik

yang sangat penting dalam memahami batasan aktivitas fisik. Sistem ini

adalah 1) Sistem fosfokreatin-kreatin, 2) Sistem glikogen-asam laktat, dan 3)

Sistem aerobik.

1. Sistem Fosfokreatin-Kreatin

Adenosin trifosfat (ATP) merupakan sumber energi yang digunakan

untuk kontraksi otot. Setiap ikatan fosfat berenergi tinggi menyimpan

7300 kalori energi per mol ATP di bawah kondisi standar (dan bahkan

sedikit lebih banyak di bawah kondisi fisik tubuh). Oleh karena itu, bila

satu fosfat radikal dipindahkan, lebih dari 7300 kalori energi dilepaskan

untuk menggerakkan proses kontraksi otot. Kemudian, bila fosfat

radikal kedua dipindahkan, masih terdapat 7300 kalori lagi. Pemindahan

fosfat yang pertama mengubah ATP menjadi adenosin difosfat (ADP),

dan pemindahan fosfat yang kedua mengubah ADP ini menjadi adenosin

monofosfat (AMP) (Guyton et al, 2007).

Fosfokreatin (juga disebut kreatin fosfat) adalah senyawa kimia lain

yang mempunyai ikatan fosfat berenergi tinggi. Senyawa ini dipecah

menjadi kreatinin dan fosfat. Ikatan fosfat berenergi tinggi dari

(40)

Sel otot mempunyai fosfokreatin dua atau empat kali lebih banyak

dibandingkan ATP. Suatu karakteristik khusus dari energi yang

dihantarkan oleh fosfokreatin ke ATP adalah bahwa penghantaran

tersebut terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Oleh karena itu,

semua energi yang disimpan di dalam fosfokreatin otot dengan segera

tersedia untuk kontraksi otot, seperti energi yang disimpan dalam ATP.

Jumlah gabungan dari sel ATP dan sel fosfokreatin disebut sistem energi

fosfagen. Energi dari sistem energi fosfagen digunakan untuk ledakan

singkat tenaga otot maksimum (Guyton et al, 2007).

2. Sistem Glikogen-Asam Laktat

Glikogen yang disimpan di dalam otot dapat dipecah menjadi glukosa

dan glukosa tersebut kemudian digunakan untuk energi. Tahap awal dari

proses ini, yang disebut glikolisis, terjadi tanpa penggunaan oksigen

dan, oleh karena itu, disebut sebagai metabolisme anaerobik. Selama

glikolisis, setiap molekul glukosa dipecah menjadi dua molekul asam

piruvat, dan energi dilepaskan untuk membentuk empat molekul ATP

untuk setiap molekul glukosa asal. Biasanya, asam piruvat kemudian

akan masuk ke mitokondria sel otot dan bereaksi dengan oksigen untuk

membentuk lebih banyak molekul ATP. Akan tetapi, bila tidak terdapat

oksigen yanng cukup untuk melangsungkan metabolisme tahap kedua

(tahap oksidatif), sebagian asam piruvat diubah meenjadi asam laktat,

yang berdifusi keluar dari sel otot masuk ke dalam cairan interstisial dan

(41)

perjalanannya, sejumlah ATP yang sangat banyak dibentuk seluruhnya

tanpa memakai oksigen.

Karakteristik lain sistem glikogen-asam laktat adalah bahwa sistem ini

dapat membentuk molekul ATP kira-kira 2,5 kali lebih cepat daripada

yang dilakukan oleh mekanisme oksidatif mitokondria. Akan tetapi

sistem ini, hanya kira-kira setengah kali lebih cepat dari sistem fosfagen.

3. Sistem Aerobik

Sistem aerobik adalah oksidasi bahan makanan di dalam mitokondria

untuk menghasilkan energi. Bahan makanan tersebut yaitu glukosa,

asam lemak dan asam amino dari makanan yang nantinya setelah

melalui beberapa proses perantara akan bergabung dengan oksigen

untuk melepaskan sejumlah energi yang sangat besar yang digunakan

untuk mengubah AMP dan ADP menjadi ATP. Sistem aerobik

diperlukan unttuk aktivitas atletik yang lama.

Dengan cara yang sama bahwa energi dari fosfokreatin dapat digunakan

untuk membentuk kembali ATP, energi dari sistem glikogen-asam laktat

dapat digunakan kembali untuk membentuk baik fosfokreatin maupun

ATP. Dan kemudian energi dari metabolisme oksidatif sistem aerobik

dapat digunakan untuk membentuk kembali semua sistem yang lain

yaitu ATP, fosfokreatin dan sistem glikogen-asam laktat (Guyton et al,

(42)

Pembentukan kembali sistem asam laktat terutama berarti pemindahan

kelebihan asam laktat yang telah berkumpul di dalam semua cairan

tubuh. Hal ini sangat penting karena asam laktat menyebabkan kelelahan

yang sangat hebat. Bila tersedia jumlah energi yang adekuat dari

metabolisme oksidatif, pemindahan asam laktat dicapai dalam dua cara :

1) Satu bagian kecil dari asam laktat diubah kembali menjadi asam

piruvat dan kemudian di metabolisme secara oksidatif oleh seluruh

jaringan tubuh. 2) Sisa asam laktat diubah kembali menjadi glukosa

terutama di dalam hati, dan glukosa selanjutnya digunakan untuk

melengkapi penyimpanan glukosa di dalam otot (Guyton et al, 2007).

Beraktivitas fisik dan aerobik berhubungan dengan risiko cardiovascular

disease (CVD), seseorang yang jarang melakukan aktivitas fisik atau aerobik

memiliki risiko tinggi terhadap penyakit kardiovaskular (Krishna, 2011).Efek

menguntungkan dari aktivitas fisik dan aerobik dalam mencegah penyakit

kardiovaskular dan faktor risiko penyakit kardiovaskular terdiri dari beberapa

(43)

Tabel 2.3 Efek dari aktivitas fisik dan aerobik terhadap kardiovaskular

Efek Anti Aterosklerosis Meningkatkan kadar HDL

Menurunkan kadar trigliserid Anti inflamasi

Mengurangi jumlah sel lemak

Mengurangi risiko aterosklerosis pada dislipidemia

Efek Anti Trombosis Mengurangi adesi platelet

Meningkatkan aktivitas fibrinolisis Mengurangi fibrinogen

Mengurangi viskositas darah

Anti Iskemik Memperbaiki fungsi endotel

Meningkatkan aliran darah koroner Mengurangi kebutuhan oksigen jantung Sumber: (Koba et al, 2011)

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa berolahraga dapat menurunkan kadar

trigliserida, Very Low Density Lipoprotein (VLDL), dan Low Density

Lipoprotein (LDL) serta meningkatkan High Density Lipoprotein (HDL)

(Djanggan, 2002).

Berdasarkan hasil penelitian Ziemer yang dikutip oleh George AK et al ,

menemukan bahwa latihan aerobik pada wanita dapat menurunkan kolesterol

total sebesar 19 %, LDL sebesar 11 %, trigliserida 8 % serta meningkatkan

kadar HDL (High Density Lipoprotein) sebesar 18 %. Hasil penelitian lainnya

dari penelitian LeMura et al yang dikutip oleh George AK et al, menemukan

bahwa latihan aerobik pada wanita dapat menurunkan kolesterol total sebesar

2 %. LDL turun sebesar 3 %, trigliseridaa turun 5 % serta meningkatkan kadar

(44)

dilakukan oleh Fletcher et al dan dikutip oleh George AK et al, menemukan

bahwa pengaruh olahraga aerobik yang dilakukan selama 4 minggu pada

laki-laki berusia 18 tahun dapat meningkatkan kadar HDL sebesar 9 %,

menurunkan trigliserida 11%, tanpa adanya penurunan LDL signifikan

(George AK et al, 2006).

Mekanisme yang menerangkan proses meningkatkan kadar High Density

Lipoprotein (HDL) dikarenakan latihan fisik akan meningkatkan aktifitas

enzim LPLA (Lipoprotein lipase) pada jaringan otot dan jaringan lemak, yang

mengakibatkan katabolisme VLDL (Very Low Density Lipoprotein) dan

trigliserida meningkat, sehingga akhirnya akan meningkatkan kadar HDL

(High Density Lipoprotein) dalam plasma, karena komponen hasil

katabolisme VLDL (Very Low Density Lipoprotein) merupakan salah satu

pembentuk HDL. . Pada proses ini juga terjadi peningkatan enzim lecithin

cholesterol acyltransferase (LCAT). Latihan fisik juga akan menurunkan

aktifitas enzim lipase dalam hati, sehingga menghambat katabolisme HDL

(Mukarromah, 2010).

Intensitas olahraga juga berpengaruh dalam perubahan profil lipid darah.

Semakin besar intensitas olahraga yang dilakukan, kemungkinan untuk

menurunnya kadar LDL semakin besar, sehingga risiko terjadinya penyakit

jantung koroner akan berkurang (Okura et al, 2003). Latihan intensitas

sedang yang dilakukan dalam waktu yang relatif lama menyebabkan asam

(45)

sterol, sehingga kolesterol tidak terbentuk secara berlebihan. Pada proses ini

degradasi lemak pengaruh aktif terjadi pada latihan intensitas sedang dengan

durasi latihan lebih dari satu jam secara kontinyu. Keadaan ini sebagian besar

disebabkan oleh terjadinya pelepasan epinefrin dan norepinefrin oleh medula

adrenal selama aktivitas. Kedua hormon ini secara langsung mengaktifkan

enzim lipase yang menyebabkan pemecahan trigiserida yang sangat cepat dan

mobilisasi asam lemak keluar dari asam lemak. Pada saat melakukan aktivitas

fisik yang relatif lama terjadi peningkatan asam lemak di dalam darah yang

merupakan bahan baku untuk pembentukan energi di dalam otot pada waktu

melakukan aktivitas fisik. Konsentrasi asam lemak bebas dalam darah

seseorang yang sedang beraktivitas dapat meningkat sampai delapan kali lipat.

Kemudian asam lemak ini akan ditransfer ke dalam otot sebagai sumber

energi. Melalui mekanisme inilah yang dapat menerangkan terjadinya

penurunan LDL (Low Density Lipoprotein), oleh karena bahan baku utama

pembentukan LDL berasal dari TG (Trigliserida) (Guyton et al, 2007, George

AK et al, 2004).

C. Lansia(Lanjut Usia)

1. Pengertian Lanjut Usia

Menua didefinisikan sebagai proses yang mengubah seorang dewasa sehat

menjadi seorang yang „frail’ (lemah, rentan) dengan berkurangnya

sebagian besar cadangan sistem fisiologis dan meningkatnya kerentanan

terhadap berbagai penyakit dan kematian secara eksponensial. Menua

(46)

sebagian besar makhluk hidup, yang berupa kelemahan, meningkatnya

kerentanan terhadap penyakit dan perubahan lingkungan, hilangnya

mobilitas dan ketangkasan, serta perubahan fisiologis yang terkait-usia

(Setiati dkk, 2009).

Terdapat beberapa istilah yang digunakan oleh gerontologis ketika

membicarakan proses menua (Setiati dkk, 2009):

1. Aging (bertambahnya umur) : menunjukkan efek waktu, suatu proses

perubahan biasanya bertahap dan spontan

2. Senescence (menjadi tua) : hilangnya kemampuan sel untuk

membelah dan berkembang (dan seiring waktu akan menyebabkan

kematian)

3. Homeostenosis : penyempitan/berkurangnya cadangan homeostatis

yang terjadi selama penuaan pada setiap sistem organ.

2. Batasan-batasan Usia Lanjut

Batasan umur pada usia lanjut dari waktu ke waktu berbeda. Menurut

World Health Organitation (WHO) lansia meliputi:

a. usia pertengahan (middle age) = antara usia 45 sampai 59 tahun

b. lanjut usia (elderly) = antara usia 60 sampai 74 tahun

c. lanjut usia tua (old) = antara usis 75 sampai 90 tahun

(47)

3. Teori Penuaan

Berbagai teori mengenai proses penuaan telah diajukan, namun hingga 20

tahun yang lalu teori-teori penuaan yang pernah diajukan 200 tahun

bahkan 2000 tahun yang lalu. Beberapa teori mengenai proses menua

yang telah ditinggalkan dan ditolak antara lain adalah : 1) Model error

catastrophe yanng diperkenalkan oleh Orgel 2) Teori laju kehidupan f

atau “rate of living” yang diajukan oleh Pearl dan 3) Hipotesis

glukokortikoid (Setiati dkk, 2009).

Suatu teori yang mengenai penuaan dapat dikatakan valid bila ia dapat

memenuhi tiga kriteria umum berikut : 1. Teori yang dikemukakan

tersebut harus terjadi secara umum di seluruh anggota spesies yang

dimaksud 2. Proses yang dimaksud pada teori ini harus terjadi secara

progresif seiring dengan waktu dan 3. Proses yang terjadi harus

menghasilkan perubahan yang menyebabkan disfungsi organ dan

menyebabkan kegagalan suatu organ atau sistem tubuh tertentu (Setiati

dkk, 2009).

Berbagai penelitian eksperimental di bidang gerontologi dasar selama 20

tahun terakhir ini berhasil memunculkan teori-teori baru mengenai proses

menua yang mencoba memenuhi ketiga kriteria di atas. Dari berbagai

penelitian tersebut, terdapat tiga hal mendasar (fundamental) yang

didapatkan dan kemudian dipergunakan sebagai dasar untuk menyusun

(48)

penuaan pada hampir semua spesies mamalia diketahui sama, 2. Laju

penuaan ditentukan oleh gen yang sangat bervariasi pada setiap spesies,

dan 3. Laju penuaan dapat diperlambat dengan pembatasan kalori (coloric

restriction), setidaknya pada hewan tikus (Setiati dkk, 2009).

Beberapa teori tenntang menua yang dapat diterima saat ini antara lain:

a. Teori “Radikal Bebas”

Yang menyebutkan bahwa produk hasil metabolisme oksidatif yang

sangat reaktif (radikal bebas) dapat bereaksi dengan berbagai

komponen penting selular, termasuk protein, DNA dan lipid dan

menjadi molekul-molekul yang tidak berfungsi namun bertahan lama

dan mengganggu fungsi sel lainnya (Setiati dkk, 2009).

Teori radikal bebas diperkenalkan pertama kali oleh Denham Harman

pada tahun 1956, yang menyatakan bahwa proses menua normal

merupakan kerusakan jaringan akibat radikal bebas. Harman

menyatakan bahwa mitokondria sebagai generator radikal bebas, juga

merupakan target kerusakan dari radikal bebas tersebut (Setiati dkk,

2009).

Radikal bebas adalah senyawa kimia yang berisi elektron tidak

berpasangan yang terbentuk sebagai hasil sampingan berbagai proses

selular atau metabolisme normal yang melibatkan oksigen. Sebagai

(49)

species (RNS) yang dihasilkan selama metabolisme normal. Karena

elektronnya tidak berpasangan, secara kimiawi radikal bebas akan

mencari pasangan elektron lain dengan bereaksi dengan substansi lain

terutama dengan protein dan lemak tidak jenuh. Melalui proses

oksidasi, radikal bebas yang dihasilkan selama fosforilasi oksidatif

dapat menghasilkan berbagai modifikasi makromolekul. Sebagai

contoh, karena membran sel mengandung sejumlah lemak, ia dapat

bereaksi dengan radikal bebas sehingga membran sel mengalami

perubahan. Akibat perubahan pada struktur membran tersebut

membran sel menjadi lebih permeabel terhadap beberapa substansi

dan memungkinkan substansi tersebut melewati membran secara

bebas. Struktur di dalam sel seperti mitokondria dan lisosom juga

diselimuti oleh membran yang mengandung lemak sehingga mudah

diganggu oleh radikal bebas. Radikal bebas juga dapat bereaksi

dengan DNA, menyebabkan mutasi kromosom dan karenanya

merusak mesin genetik normal dari sel. Radikal bebas dapat merusak

fungsi sel dengan merusak membran sel atau kromosom sel. Lebih

jauh, teori radikal bebas menyatakan bahwa terdapat akumulasi

radikal bebas secara bertahap di dalam sel sejalan dengan waktu dan

bila kadarnya melebihi konsentrasi ambang maka mereka mungkin

berkontribusi pada perubahan-perubahan yang seringkali dikaitkan

(50)

Sebenarnya tubuh diberi kekuatan untuk melawan radikal bebas

berupa antioksidan yang diproduksi oleh tubuh sendiri, namun pada

tingkat tertentu anntioksidan tersebut tidak dapat melindungi tubuh

dari kerusakan akibat radikal bebas yang berlebihan (Setiati dkk,

2009).

b. Teori “glikosilasi”

Yang menyatakan bahwa proses glikosilasi nonenzimatik yang

menghasilkan pertautan glukosa-protein yang disebut sebagai

advanced glycation end products (AGEs) dapat menyebabkan

penumpukan protein dan makromolekul lain yang termodifikasi

sehingga menyebabkan disfungsi pada hewan atau manusia yang

menua. Protein glikasi menunjukkan perubahan fungsional, meliputi

menurunnya aktivitas enzim dan menurunnya degradasi protein

abnormal. Manakala manusia menua, AGEs berakumulasi di berbagai

jaringan, termasuk kolagen, hemoglobin dan lensa mata.Karena

muatan kolagennya tinggi, jaringan ikat menjadi kurang elastis dan

lebih kaku. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi elastisitas dinding

pembuluh darah. AGEs diduga juga berinteraksi dengan DNA dan

karenanya mungkin mengganggu kemampuan sel untuk memperbaiki

perubahan pada DNA (Setiati dkk, 2009).

Bukti-bukti terbaru yang menunjukkan tikus-tikus yang dibatasi

(51)

perlambatan penumpukan produk glikosilasi (AGEs), merupakan hal

yang mendukung hipotesis glikosilasi ini (Setiati dkk, 2009).

c. Teori “DNA repair”

Yang dikemukakan oleh Hart dan Setlow. Mereka menunjukkan

bahwa adanya perbedaan pola laju „repair’ kerusakan DNA yang diinduksi sinar ultraviolet (UV) pada berbagai fibroblas yang

dikultur. Fibroblas pada spesies yang mempunyai umur maksimum

terpanjang menunjukkan laju „DNA repair’ terbesar, dan korelasi ini

dapat ditunjukkan pada berbagai mamalia dan primata (Setiati dkk,

2009).

Teori „DNA repair’, atau tepatnya „mitochondrial DNA repair’ ini

terkait erat dengan teori radikal bebas yang sudah diuraikan di atas,

karena sebagian besar radikal bebas (terutama ROS) dihasilkan

melalui fosforilasi oksidatif yang terjadi di mitokondria. Mutasi DNA

mitokondria (mtDNA) dan pembentukan ROS di mitokondria saling

mempengaruhi satu sama lain, membentuk “vicious cycle” yang

secara eksponensial memperbanyak kerusakan oksidatif dan disfungsi

selular, yang pada akhirnya menyebabkan kematian sel. Mutasi

mtDNA dimanusia terutama terjadi setelah umur pertengahan

tigapuluhan, terakumulasi seiring pertambahan umur, dan jarang

melebihi 1%. Rendahnya jumlah mutasi mtDNA yang terakumulasi

ini diakibatkan proses repair yang terjadi ditingkat mitokondria.

(52)

ini menyebabkan percepatan proses penuaan (accelerated aging).

Selain itu, mutasi mtDNA akibat gangguan repair ini juga terkait

dengan munculnya keganasan, diabetes melitus dan penyaki-penyakit

neurodegeneratif (Setiati dkk, 2009).

Selain teori-teori diatas, beberapa teori lain juga telah dikemukakan untuk

menjelaskan proses yang terjadi selama penuaan, antara lain aging by

program, teori gen dan mutasi gen, cross-linkage theory, cellular garbage

theory, wear-and-tear theory, dan teori autoimun. Yang pasti, tidak ada

satu teori tunggal pun yang dapat menjelaskan seluruh proses menua.

Semua teori-teori tersebut saling mengisi dan mencoba menjelaskan

berbagai sebab dan perubahan akibat proses menua, walaupun belum

dapat menjelaskan seluruh proses yang terjadi (Setiati dkk, 2009).

4. Fisiologi Proses Menua

Membicarakan fisiologi proses penuaan tidak dapat dilepaskan dengan

pengenalan konsep homeostenosis. Konsep ini diperkenalkan oleh Walter

Cannon pada tahun 1940 yang telah disinggung di atas, terjadi pada

seluruh sistem organ pada individu menua. Pengenalan terhadap konsep

ini penting untuk memahami berbagai perubahan yang terjadi pada proses

penuaan. Homeostenosis yang merupakan karakteristik fisiologi penuaan

adalah keadaan penyempitan (berkurangnya) cadangan homeostenosis

yang terjadi seiring meningkatnya usia pada setiap sistem organ (Setiati

(53)

Seiring bertambahnya usia jumlah cadangan fisiologis untuk menghadapi

berbagai perubahan (challenge) berkurang. Setiap challenge terhadap

homeostasis merupakan pergerakan menjauhi keadaan dasar (baseline),

dan semakin besar challange yang terjadi maka semakin besar cadangan

fisiologis yang diperlukan untuk kembali ke homeostasis. Di sisi lain

dengan makin berkurangnya cadangan fisiologis, maka seseorang usia

lanjut lebih mudah untuk mencapai suatu ambang (yang disebut sebagai

precipice), yang dapat berupa keadaan sakit atau kematian akibat

challenge tersebut (Setiati dkk, 2009).

Penerapan konsep homeostenosis ini tergambar pada sistem skoring Acute

Physiology and Chronic Health Evaluation (APACHE), suatu skala

penilaian beratnya penyakit. Penilaian perubahan fisiologis yang akut

terjadi dinyatakan dengan besarnya devisi dari nilai homeostasis pada 12

variabel, antara lain tanda vital, oksigenasi, pH, elektrolit hematokrit,

hitung leukosit dan kreatinin. Seorang normal pada saat homeostasis

mempunyai nilai nol. Semakin besar penyimpangan dari homeostasis

skornya semakin besar. Pada awal penerapannya, skoring APACHE ini

tidak memasukkan variabel usia sebagai salah satu faktor penilaian.

Namun ketika diterapkan pada pasien-pasien yang dirawat karena kondisi

akut, terdapat perbedaan nilai yang bermakna antara kelompok usia muda

(54)

Mengingat bahwa mempertahankan keadaan homeostasis merupakan

proses yang aktif dan akademis, seorang usia lanjut tidak hanya memiliki

cadangan fisiologis hanya untuk mempertahankan homeostasis.

Akibatnya akan semakin sedikit cadangan yang tersedia untuk

menghadapi “challenge” (Setiati dkk, 2009).

Konsep homeostenosis ini dapat menjelaskan berbagai perubahan

fisiologis yang terjadi selama proses menua dan efek yang

ditimbulkannya. Walaupun merupakan suatu proses fisiologis, perubahan

dan efek penuaan terjadi sangat bervariasi dan variabilitas ini semakin

meningkat seiring usia. Variasi terjadi antara satu individu dengan

individu lain, bahkan dari satu sel terhadap sel lain pada individu yang

sama (Setiati dkk, 2009).

5. Perubahan-perubahan yang Terjadi Pada Lanjut Usia

Pada tabel dibawah ini menjelaskan beberapa perubahan yang terjadi pada

berbagai sistem tubuh pada proses penuaan yaitu sebagai berikut:

Gambar

Gambar 1.1 Kerangka teori pengaruh senam jantung sehat terhadap kadar
Tabel 2.1 Karakteristik Beberapa Apolipoprotein.
Tabel 2.2 Karakteristik Lipoprotein Plasma.
Gambar 2.1. Jalur metabolisme lipoprotein (Peter, 2003)
+6

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh senam jantung sehat yang dilakukan secara teratur terhadap kadar glukosa darah puasa pada

Untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan pada lansia sebelum dan sesudah diberikan teknik relaksasi napas dalam di Panti Werdha Dharma Bhakti Surakarta... Untuk

Pelaksanaan program pendampingan lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Karitas digunakan untuk menampung lansia yang miskin dan terlantar supaya. diberikan fasilitas

Berdasarkan hasil penelitian tentang Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Lansia dalam Melakukan Senam Lansia di UPT Pelayanan Sosial Tresna Werdha Khusnul

dan tabel 4.5, dapat dijelaskan bahwa terdapat peningkatan skor fungsi kognitif yang signifikan pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Mulia Dharma Kubu Raya

Pada Panti Sosial Tresna Werdha Khusnul Khotimah Pekanbaru hingga September 2013 terdapat 80 orang lansia binaan panti tersebut, yang mana lansia binaan panti tersebut

Senam Pada Usia Lanjut di Panti Sosial Tresna Werdha Unit Budi Luhur Bantul Yogyakarta terdiri atas responden dengan frekuensi teratur sebanyak 5 lansia (16,7%)

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 4 Juli sampai 5 Juli 2014 di panti sosial Tresna Werdha A Yogyakarta dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh senam