ANALISIS KETIMPANGAN DAN FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN EKONOMI
PROVINSI BANTEN
OLEH ANDRI PRIYANTO
H14094023
DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
RINGKASAN
Andri Priyanto. Analisis Ketimpangan dan Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Banten. Di bawah bimbingan Dr. Ir. Wiwiek Rindayati, M.Si.
Pertumbuhan ekonomi merupakan realisasi hasil pembangunan ekonomi yang dilaksanakan pada suatu daerah dalam suatu periode. Pertumbuhan ekonomi di Provinsi Banten tidak terlepas dari perkembangan masing masing kabupaten/kota, dimana masih terjadi perbedaan kegiatan ekonomi yang berakibat kecilnya nilai tambah yang dihasilkan masing masing daerah, sehingga terjadi ketimpangan. Fenomena ketimpangan antar kabupaten/kota di Provinsi Banten itu sendiri, salah satunya disebabkan oleh perbedaan tenaga kerja, modal dan teknologi, yang merupakan roda penggerak pertumbuhan ekonomi. Keberadaan tenaga kerja, modal dan teknologi akan mendorong terjadinya peningkatan produktivitas bagi faktor-faktor produksi, dan sebaliknya apabila mengabaikannya akan menurunkan produktivitas.
Beberapa studi menunjukkan bahwa ketersediaan tenaga kerja, modal dan teknologi dengan PDRB ternyata mempunyai hubungan yang erat. Adapun tujuan penelitian ini adalah memberikan gambaran pembangunan ekonomi di Provinsi Banten, mengidentifikasi tingkat ketimpangan antar kabupaten/kota serta menganalisa besarnya pengaruh belanja modal, angkatan kerja dan angka melek huruf terhadap pertumbuhan ekonomi.
Penelitian ini menggunakan data panel, dengan jumlah individu yang digunakan yaitu 6 kabupaten/kota dalam kurun waktu 8 tahun (2001 - 2008), sehingga jumlah observasi 48, bersumber dari BPS Provinsi Banten. Gambaran pembangunan, ketimpangan, dan faktor faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Provinsi Banten dianalisis dengan beberapa metodologi yaitu analisis deskriptif, indeks williamson untuk menggambarkan ketimpangan kabupaten/kota di Provinsi Banten, klassen typologi untuk melihat kesenjangan klasifikasi tiap kabupaten/kota. Dengan analisis regresi metode fixed effect akan diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.
ANALISIS KETIMPANGAN DAN FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN EKONOMI
PROVINSI BANTEN
OLEH ANDRI PRIYANTO
H14094023
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
Judul Skripsi
Nama
NRP
:
:
:
Analisis Ketimpangan dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Banten Andri Priyanto
H14094023
dapat diterima sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian
Bogor.
Menyetujui,
Dosen Pembimbing
Dr. Ir. Wiwiek Rindayati, M.Si. NIP. 19620816 198701 2 001
Mengetahui,
Ketua Departemen Ilmu Ekonomi
Dedi Budiman Hakim, Ph.D. NIP. 19641022 198903 1 003
PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH
BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH
DIGUNAKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA
PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.
Bogor, Oktober 2009
Andri Priyanto NIM. H14094023
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama Andri Priyanto lahir pada tanggal 26 April 1979, di
Magelang (Jawa Tengah). Penulis merupakan anak keempat dari enam
bersaudara, dari pasangan Bapak Sukamto dan Ibu Trimurti. Penulis menamatkan
sekolah dasar pada SD Negeri Cacaban Satu Magelang, pada tahun 1991,
selanjutnya menamatkan jenjang SLTP pada SMP Negeri Empat Magelang pada
tahun 1994. Pada tahun yang sama penulis diterima di SMUN Lima Magelang,
Jawa Tengah dan lulus pada tahun 1997.
Setelah tamat SMA, pada tahun 1997 penulis melanjutkan pendidikan ke
Akademi Ilmu Statistik (AIS) Jakarta, lulus pada tahun 2000, dan langsung
melanjutkan ke Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) Jakarta, tamat pada tahun
2001 dengan gelar Sarjana Sains Terapan (S.St). Setelah itu bekerja pada Badan
Pusat Statistik Provinsi Maluku Utara selama lebih kurang 5 tahun 7 bulan. Pada
tahun 2003 penulis menikah dengan Aning Widiarti dan sampai dengan sekarang
sudah mempunyai satu putra dengan nama Muhammad Rizqi Al Fajri Wicaksono
dan seorang putri bernama Aisyah Rizqia Putri Salsabila. Pada tahun 2007 penulis
dipindah tugaskan ke Badan Pusat Statistik Provinsi Banten.
Pada tahun 2009, penulis melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi pada
Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor Penyelenggaraan Khusus
Departemen Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor
hasil kerja sama BPS dan IPB. Sesuai dengan aturan yang ada, penulis harus
mengikuti proses matrikulasi dan menyusun skripsi pada akhir kegiatan
matrikulasi tersebut sebagai syarat memasuki jenjang strata dua (S-2) pada
Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor. Untuk itulah, penulis
menyusun skripsi ini.
KATA PENGANTAR
Puja dan puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala
rahmat, karunia dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penyusunan skripsi yang berjudul “ ANALISIS KETIMPANGAN DAN FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI BANTEN” ini dengan baik. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen
Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor.
Penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak
yang telah membantu penyelesaian penyusunan skripsi ini. Akhirnya, penulis
berharap semoga skripsi ini bermanfaat.
Bogor, Oktober 2009
Andri Priyanto H14094023
UCAPAN TERIMA KASIH
Puja dan puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala
rahmat, karunia dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penyusunan dan penulisan skripsi ini. Pada kesempatan ini penulis ingin
menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan
dukungan moral-spritual dan material kepada penulis dalam menyelesaikan
skripsi ini, khususnya kepada:
1. Dr. Rusman Heriawan, Kepala Badan Pusat Statistik yang telah membuka kesempatan bagi pegawai BPS untuk meningkatkan kemampuan dan
pengetahuan melalui program tugas belajar pasca sarjana.
2. Ir. Nanan Sunandi, M.Sc., Kepala BPS Provinsi Banten yang telah mengijinkan saya mengikuti seleksi tugas belajar di Institut Pertanian Bogor.
3. Drs. Nyoto Widodo, ME., Kepala Pusdiklat BPS. Terima kasih untuk waktu dan pelayanan dari semua pihak di Pusdiklat.
4. Dr. Ir. Wiwiek Rindayati, M.Si., selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu dan mencurahkan perhatian dalam penyelesaian skripsi ini.
5. D. S. Priyarsono, Ph.D., selaku dosen penguji yang telah bersedia untuk menguji penulis dan memberikan saran dan masukan demi perbaikan dalam
penyusunan skripsi ini.
6. Ibu Trimurti yang tercinta, atas segala doa dan dukungan yang telah diberikan,
restumu adalah kunci surga bagiku. Penuh kesabaran, ketabahan dan kesetiaan
selalu memberi motivasi dan menyemangatiku, Aning Widiarti istriku
tersayang, semoga Allah SWT senantiasa melindungimu.
7. Segenap dosen pengajar di Departemen Ilmu Ekonomi IPB yang telah
mentransfer ilmunya kepada penulis dengan penuh tanggung jawab.
8. Rekan-rekan mahasiswa kelas khusus BPS-IPB angkatan 2009, semoga
semakin kompak dan sukses selalu.
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ………...……….
DAFTAR TABEL………..….…………..
DAFTAR GAMBAR………..….………….
DAFTAR LAMPIRAN………...………..
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang ……….…….………..
1.2 Permasalahan …….……….…….………..
1.3 Tujuan penelitian ……….….…………..
1.4 Manfaat Penelitian ………..……….………..
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
2.1 Tinjauan Pustaka ……….………...
2.1.1 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)………
2.1.2 Pertumbuhan ekonomi ...
2.1.3 Perubahan Struktur Ekonomi ...
2.1.4 Ketimpangan Pembangunan Ekonomi Regional ...
2.1.5 Ketenagakerjaan ...
2.1.5.1Usia kerja ...
2.1.5.2Angkatan Kerja ...
2.1.5.3Bukan Angkatan Kerja ...
2.1.5.4Bekerja ...
2.1.5.5Kriteria Satu Jam (the one hour criterian) …………..
2.1.5.6Pengangguran ………..
2.1.6 Angka Melek Huruf ...
2.1.7 Belanja Modal ...
2.1.8 Tinjauan Beberapa Studi Terdahulu ...
2.2 Kerangka Teori ... ... ………..
2.2.1 Teori Pertumbuhan ...……… i
iv
vi
vii
1
4
5
6
7
7
8
9
10
11
11
11
11
12
12
12
13
14
15
19
ii
2.2.2 Teori Ketimpangan... ...
III. METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Sumber Data………
3.2 Metode Analisis Data ……….
3.2.1 Analisis Deskriptif ………
3.2.2 Analisis Ketimpangan (Indeks Williamson)………
3.2.3 Klassen Typologi ………...
3.2.4 Analisis Data Panel………....
3.2.4.1Metode Pooled OLS...
3.2.4.2Metode Fixed Effect...
3.2.4.3Metode Random Effect ...
3.3 Metode Pemilihan Model………...………...
3.3.1 Chow Test ... ……… 3.3.2 Haussman Test ... 3.4 Model Penelitian ...
3.5 Software Analisis Data ...
3.6 Evaluasi Model ...
3.6.1 Autokorelasi ... ………
3.6.2 Uji Multikolinearitas ...
3.6.3 Uji Heteroskedasitas ...
3.7 Uji Statistik ...
3.7.1 Uji Statistik t ... ………
3.7.2 Uji Statistik f ...
3.7.3 Koefisien Determinasi (R2) ...
IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI BANTEN
4.1 Kondisi Geografis...
4.2 Penduduk Provinsi Banten ...
4.3 Kondisi Perekonomian...
4.4 Pembangunan Pendidikan ...
ANALISIS RISIKO DAN PERAMALAN
HARGA SAHAM DALAM KEPUTUSAN INVESTASI
PADA PERUSAHAAN PERKEBUNAN
DI PT BURSA EFEK INDONESIA
SKRIPSI
ABDUL ROZAK H34051515
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
RINGKASAN
Abdul Rozak. H34051515. 2009. Analisis Risiko dan Peramalan Harga
Saham dalam Keputusan Investasi pada Perusahaan Perkebunan di PT Bursa Efek Indonesia. Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan HARMINI).
Pembiayaan yang dibutuhkan perusahaan perkebunan, mendorong perusahaan perkebunan memasuki pasar modal untuk menarik investor dalam bentuk perusahaan yang go public. Hal ini dikarenakan para pemilik modal tidak lagi menyimpan dana dalam bentuk barang yang tidak produktif, tetapi mereka mencoba mendapatkan kesempatan memperoleh laba dari deviden jangka panjang atau capital gain pada jangka pendek. Oleh karena itu kedua kepentingan tersebut dipertemukan dalam transaksi di pasar modal (Bursa Efek).
Penelitian ini bertujuan untuk Mendeskripsikan profil perusahaan AALI, LSIP dan UNSP. Melakukan Proyeksi pergerakan saham emiten AALI, LSIP dan UNSP di tahun 2009. Menganalisis tingkat risiko (Value at Risk) yang dihadapi investor pada saham-saham emiten AALI, LSIP, UNSP dan merumuskan keputusan investor sebagai implikasi terhadap risiko yang akan dihadapi dan melihat pergerakan emiten saham AALI, LSIP dan UNSP pada PT Bursa Efek Indonesia di tahun 2009.
Penelitian dilakukan di PT Bursa Efek Indonesia yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53 Jakarta Selatan. Pemilihan lokasi dilakukan secara
purposive melihat kompetensi PT Bursa Efek Indonesia yang dapat memberikan
informasi dan data yang relevan dalam kaitannya dengan pasar modal di Indonesia. Waktu penelitian berlangsung pada bulan Februari–Mei 2009. Saham perusahaan terpilih adalah PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI), Bakrie Sumatera Plantation Tbk. (UNSP), dan PP London Sumatera Tbk. (LSIP). Data yang digunakan adalah data sekunder yang terdiri dari serial data harga penutupan saham harian perusahaan sektoral perkebunan terpilih di lantai bursa 1 Januari 2006 – 30 April 2009 dengan basis data 13 Oktober 2008 – 30 April 2009. Pengolahan data yang telah diperoleh dengan menggunakan program Microsoft Excel 2007, Minitab versi 14, QSB dan Eviews 4.1. Pengolahan data untuk
menduga harga saham emiten sektoral terpilih dengan metode peramalan time
series terbaik, sedangkan dalam menganalisis tingkat risiko yang mungkin
ditanggung investor (Value at Risk – VaR) dilakukan dengan metode
ARCH/GARCH untuk mendapatkan nilai VaR.
Pilihan ramalan untuk meramalkan pergerakan harga saham emiten AALI, LSIP dan UNSP secara beurutan adalah ARIMA (2,1,1), ARIMA (1,1,0), dan ARIMA (1,1,1). Peramalan untuk pergerakan harga saham harian penutupan untuk ketiga emiten dengan metode yang dipilih (metode ARIMA) memiliki kecenderungan (trend) yang meningkat. Dalam penilaian tingkat risiko digunakan model ARCH (1), ARCH (1), dan GARCH (1,2) untuk masing-masing emiten AALI, LSIP dan UNSP. Nilai risiko harian untuk AALI=7,98 persen, LSIP=8,21 persen dan UNSP=10,4 persen. Kombinasi hari ramalan harga dan lama berinvestasi, apabila dilakukan analisis dalam hal per emiten, maka keputusan investasi yang tepat dilakukan oleh investor dengan karakteristik perilaku risk
pada saham AALI, maka investor harus melakukan penjualan sehari setelah pembelian dikarenakan memiliki risiko serta rasio capital loss yang relatif lebih kecil. Sementara itu untuk emiten LSIP, pilihan sebaiknya diberikan pada ramalan harga dan lama investasi di lima, sepuluh dan dua puluh hari ke depan dikarenakan memiliki rasio capital loss relatif lebih kecil dibandingkan yang lainnya pada waktu tersebut. Lain halnya dengan UNSP, dimana emiten ini memiliki kecenderungan yang bertolak belakang dengan teori risiko. Risiko yang
lebih tinggi dibandingkan emiten AALI dan LSIP tidak menjamin return yang
tinggi pula. Hal ini tampak terlihat dari berbagai kombinasi yang dibuat, rasio
capital gain-loss untuk UNSP relatif lebih besar menghasilkan dampak kerugian
ANALISIS RISIKO DAN PERAMALAN
HARGA SAHAM DALAM KEPUTUSAN INVESTASI
PADA PERUSAHAAN PERKEBUNAN
DI PT BURSA EFEK INDONESIA
ABDUL ROZAK H34051515
Skrispi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Departemen Agribisnis
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul skripsi : Analisis Risiko dan Peramalan Harga Saham dalam Keputusan Investasi pada Perusahaan Perkebunan di PT Bursa Efek Indonesia
Nama : Abdul Rozak
NRP : H34051515
Disetujui, Pembimbing
Ir. Harmini, MSi
NIP. 131 688 732
Diketahui,
Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor
Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS
NIP. 131 415 082
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “ Analisis Risiko
dan Peramalan Harga Saham dalam Keputusan Investasi pada Perusahaan
Perkebunan di PT Bursa Efek Indonesia ” adalah karya sendiri dan belum
diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber
informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor, Juni 2009
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Condet, Jakarta pada tanggal 18 Agustus 1986.
penulis adalah anak kelima dari tujuh bersaudara dari pasangan H. Mat Rodji dan
Hj. Atiah.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri 09 Batu Ampar
pada tahun 1999 dan pendidikan menengah pertama diselesaikan pada tahun 2002
di SLTP Negeri 49 Jakarta. Pendidikan menengah atas di SMA Negeri 48 Jakarta
diselesaikan pada tahun 2005.
Penulis diterima Tingkat Persiapan Bersama (TPB), Institut Pertanian
Bogor melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) pada tahun
2005 dengan sistem Mayor-Minor. Pada tahun 2006 penulis diterima pada
Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian
Bogor.
Selama mengikuti pendidikan di Institut Pertanian Bogor, penulis tercatat
sebagai pengurus Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan
Manajemen pada komisi A periode tahun 2006-2007. Pada internal Departemen
Agribisnis penulis tercatat sebagai pengurus Rohis ”FRESH AGB” pada periode
tahun 2006-2009. Selain itu pada masa pendidikannya tercatat sebagai Asisten
Praktikum Ekonomi Umum Tingkat Persiapan Bersama selama tahun 2007 dan
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada ALLAH SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas segala
rahmat dan karunia-Nya serta shalawat dan salam penulis hanturkan kepada
junjungan kita Nabi Muhammad SAW sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi yang berjudul ”Analisis Risiko dan Peramalan Harga Saham dalam
Keputusan Investasti pada Perusahaan Perkebunan di PT Bursa Efek Indonesia”.
Penelitian ini bertujuan untuk meramalkan pergerakan harga saham emiten
perkebunan di Bursa Efek Indonesia dan menilai tingkat risiko yang disebabkan
oleh pergerakan harga saham itu sendiri untuk membantu para investor dalam
membuat keputusan investasi yang menguntungkan dan memiliki tingkat risiko
yang minimal. Semoga penelitian ini bermanfaat untuk semua pihak yang
membacanya tanpa terkecuali sehingga dengan adanya penelitian ini memberi
manfaat dan inspirasi untuk kita semua yang membacanya untuk terus berkarya,
berdo’a dan bertawakal terus kepada sang Khalik, ALLAH SWT.
Namun demikian, sangat disadari masih terdapat kekurangan dalam karya
penulis ini dikarenakan keterbatasan dan kendala yang dihadapi selama kegiatan
penelitian dan penulisannya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan
kritik yang membangun ke arah penyempurnaan pada karya penulis ini sehingga
dapat bermanfaat bagi kita semua.
Bogor, Juni 2009
Abdul Rozak
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Sebagai
bentuk rasa syukur penulis kepada ALLAH SWT, Tuhan Yang Maha Esa, penulis
ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada :
1) Ir. Harmini, MSi selaku dosen pembimbing atas bimbingan, arahan, waktu
dan kesabaran yang telah banyak diberikan kepada penulis selama
penyusunan skripsi ini, semoga ALLAH SWT memberikan yang terbaik buat
Ibu.
2) Ir. Popong Nurhayati, MM selaku dosen penguji utama, yang telah
memberikan banyak masukan dan saran kepada penulis.
3) Tintin Sarianti, SP, MM selaku dosen penguji wakil departemen, yang juga
telah memberikan banyak masukan dan saran kepada penulis.
4) Ir. Burhanuddin, MM selaku dosen pembimbing akademik yang telah
memberikan arahan selama penulis menjalankan kegiatan perkuliahan.
5) Seluruh dosen dan staf pengajar Departemen Agribisnis yang telah
memberikan ilmunya kepada penulis selama kegiatan perkuliahan.
6) Pihak PT Bursa Efek Indonesia dan RPPM yang telah banyak membantu
memberikan data dan informasi yang dibutuhkan penulis di dalam
menyelesaikan penelitian ini.
7) Orang tua dan keluarga tercinta atas semua dukungan moril dan materi yang
tidak akan pernah putus disematkan pada anaknya dan saudaranya ini.
Semoga semua amal kita diterima ALLAH SWT dan semoga ini menjadi
persembahan awal untuk mendatangkan persembahan terbaik lainnya.
8) Teman-teman seperjuangan agebers 42, terima kasih atas semangat dan
bantuan sharing selama penelitian ini. Temen petualang saya Pondok Iwan
crew (Bayu, Fey, Gito, Hary, Isnur, Nawi, Noel, Najmi, Teguh dan Sule), semua anak-anak Kosan Teguh yang sering direpotin, Ibu-Ibu PKK (Rina, Amel, Sari, Tiara, Hepy, Ayu, Cila) dan Kurawa Genk (agung, andri, herry,
nanang, very dan para alumni fahutan di kurawa) you’re the best friends.
Makasih buat semua yang sudah membantu penulis dalam penelitian ini
(Novy, Ratna, Wiyanto, Eca, Cie Ndut dan semua anak AGB yang sudah
9) Semua anak AGB 42 khususnya yang baik dan pintar dimana namanya tidak
dapat disebutkan satu per satu, terima kasih atas persahabatan, canda, tawa,
dan dukungan yang diberikan selama ini khususnya pada saat penyelesaian
skripsi dan semoga kita menjadi orang-orang yang sukses.
10) Teman-teman satu KKP di Desa Pagon, Kec. Purwadadi dan Subang, yang
telah memberikan semangat dan keceriaan yang tidak terlupakan.
11) Irfan Hadi, yang telah menjadi pembahas pada seminar saya dan memberikan
masukan-masukan terhadap penyelesaian skripsi.
12) Teman-teman satu bimbingan saya, Irfan Hadi, Dian Lestari, dan Grace
yang telah membantu dan memberikan semangat. Dani, Zulvan, dan Janri
(Al Azhar Crew) yang menjadi teman seperjuangan dan memberikan bantuan
terhadap penyelesaian skripsi.
13) Semua orang yang pernah direpotkan oleh penulis selama melakukan
penelitian ataupun pada masa kuliah, thanks a lot. Terima kasih untuk semua
orang yang tidak saya sebutkan satu persatu, intinya semua telah kita jalani
dan langkah berikutnya menunggu arahan dari diri kita sendiri.
Bogor, Juni 2009
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ... xvii
I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Perumusan Masalah ... 6
1.3. Tujuan ... 8
1.4. Manfaat ... 8
1.5. Ruang Lingkup ... 9
II TINJAUAN PUSTAKA ... 10
2.1. Proyeksi Pengembangan Kelapa Sawit di Indonesia Hingga Tahun 2010 ... 10
2.2. Pembiayaan Agribisnis ... 11
2.3. Pasar Modal ... 12
2.3.1. Alasan Dibentuknya Pasar Modal ... 13
2.3.2. Peranan Pasar Modal ... 14
2.3.3. Macam Pasar Modal ... 16
2.4. Saham ... 16
2.5. PT Bursa Efek Indonesia ... 19
2.5.1. Sejarah PT Bursa Efek Indonesia ... 19
2.5.2. Mekanisme Transaksi PT Bursa Efek Indonesia .... 21
2.6. Peran Pasar Modal dalam Pengembangan Agribisnis Perkebunan di Indonesia ... 26
2.7. Indeks LQ45 ... 28
2.8. Investasi ... 28
2.8.1. Pengertian Investasi ... 28
2.8.2. Instrumen Investasi ... 29
2.8.3. Manajemen Investasi ... 29
2.8.4. Risiko Investasi ... 30
2.8.5. Sikap Individu (Pemodal) Terhadap Risiko ... 31
2.9. Analisis Fundamental dan Teknikal ... 33
2.10. Metode Peramalan Time Series ... 34
2.11. Pemilihan Metode Peramalan ... 37
2.12. Metode ARCH-GARCH ... 38
2.13. Value at Risk ... 39
2.14. Strategi Keputusan Investasi Aktif ... 39
2.15. Penelitian Terdahulu ... 40
2.16. Perbedaan Penelitian dengan Penelitian Terdahulu ... 41
III KERANGKA PEMIKIRAN ... 42
IV METODE PENELITIAN ... 45
4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 45
4.3. Data dan Intrumentasi ... 46 4.4. Metode Pengumpulan Data ... 46 4.5. Metode Pengolahan Data ... 46 4.5.1. Metode Peramalan Harga Saham ... 47 4.5.2. Model ARCH/GARCH ... 51 4.6. Definisi Operasional ... 58
V GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ... . 59 5.1. Profil PT Astra Agro Lestari,Tbk ... 59
5.1.1. Sekilas PT Astra Agro Lestari, Tbk ... 59 5.1.2. Kinerja Saham PT Astra Agro Lestari, Tbk ... 60 5.1.3. Kinerja Umum PT Astra Agro Lestari, Tbk ... 61 5.2. Profil PT PP London Sumatra,Tbk ... 62 5.2.1. Sekilas PT PP London Sumatra, Tbk ... 62
5.2.2. Kinerja Saham PT PP London Sumatra .Tbk ... 63
5.2.3. Kinerja Umum PT PP London Sumatra .Tbk ... 64
5.3. Profil PT Bakrie Sumatra Plantations .Tbk dan Anak
Perusahaan ... 65 5.3.1. Sekilas PT Bakrie Sumatra Plantations .Tbk
dan Anak Perusahaan ... 65 5.3.2. Kinerja Saham PT Bakrie Sumatra Plantations .Tbk
dan Anak Perusahaan ... 66 5.3.3. Kinerja Umum PT Bakrie Sumatra Plantations .Tbk
dan Anak Perusahaan ... 68
VI PERAMALAN HARGA SAHAM ... 73 6.1. Peramalan Harga Saham Emiten AALI ... 73 6.1.1. Eksplorasi Pola Data Harga Saham AALI ... 73 6.1.2. Metode Peramalan Harga Saham AALI ... 75 6.1.3. Peramalan Harga Saham AALI ... 77 6.1. Peramalan Harga Saham Emiten LSIP ... 77 6.1.1. Eksplorasi Pola Data Harga Saham LSIP ... 77 6.1.2. Metode Peramalan Harga Saham LSIP ... 80 6.1.3. Peramalan Harga Saham LSIP ... 81 6.1. Peramalan Harga Saham Emiten UNSP ... 81 6.1.1. Eksplorasi Pola Data Harga Saham UNSP ... 81 6.1.2. Metode Peramalan Harga Saham UNSP ... 84 6.1.3. Peramalan Harga Saham UNSP ... 85
VII TINGKAT RISIKO HARGA SAHAM ... 86 7.1. Tingkat Risiko Emiten AALI ... 86
7.1.1. Identifikasi Efek ARCH Saham Emiten AALI ... 86
7.1.2. Estimasi Model Saham Emiten AALI ... 88
7.1.3. Pemilihan Model Terbaik Saham Emiten AALI ... 88
7.1.4. Evaluasi Model Saham Emiten AALI ... 89 7.1.5. Peramalan Ragam Saham Emiten AALI ... 89 7.2. Tingkat Risiko Emiten LSIP ... 90
7.2.1. Identifikasi Efek ARCH Saham Emiten LSIP ... 90
7.2.2. Estimasi Model Saham Emiten LSIP ... 92
7.2.4. Evaluasi Model Saham Emiten LSIP ... 93 7.2.5. Peramalan Ragam Saham Emiten LSIP ... 93 7.3. Tingkat Risiko Emiten UNSP ... 94
7.3.1. Identifikasi Efek ARCH Saham Emiten UNSP ... 94
7.3.2. Estimasi Model Saham Emiten UNSP ... 96
7.3.3. Pemilihan Model Terbaik Saham Emiten UNSP ... 96
7.3.4. Evaluasi Model Saham Emiten UNSP ... 97 7.3.5. Peramalan Ragam Saham Emiten UNSP ... 97 7.4. Implikasi Peramalan Harga Saham dan
Tingkat Risiko Terhadap Strategi Kombinasi
Keputusan Investasi Aktif ... 98
VIII KESIMPULAN DAN SARAN ... 103 8.1. Kesimpulan ... 103 8.2. Saran ... 104
DAFTARPUSTAKA ... 106
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Gross Domestic Product (GDP) Sektor Pertanian Indonesia
Tahun 2004-2007 ... 1
2. Proyeksi Luas Perkebunan Kelapa Sawit Milik Negara
dan Swasta di Indonesia pada Tingkat Pertumbuhan Konstan
2 % Per Tahun Hingga 2010 ... 11
3. Kebutuhan Pembiayaan Sektor Agribisnis ... 12
4. Ringkasan Perbandingan Akurasi Nilai MSE Hasil Penerapan Metode Peramalan Pergerakan Harga Saham Penutupan Harian
Emiten AALI ... 76
5. Ringkasan Perbandingan Akurasi Nilai MSE Hasil Penerapan Metode Peramalan Pergerakan Harga Saham Penutupan Harian
Emiten LSIP ... 80
6. Ringkasan Perbandingan Akurasi Nilai MSE Hasil Penerapan Metode Peramalan Pergerakan Harga Saham Penutupan Harian
Emiten UNSP ... 84
7. Fungsi AC dan PAC dari Return kuadrat Saham
Emiten AALI ... 87
8. Estimasi Model ARCH/GARCH Harga Saham
Emiten AALI ... 88
9. Tingkat Risiko dengan SK 95% pada Saham Emiten AALI ... 90
10. Fungsi AC dan PAC dari Return kuadrat Saham
Emiten LSIP ... 91
11. Estimasi Model ARCH/GARCH Harga Saham
Emiten LSIP ... 92
12. Tingkat Risiko dengan SK 95% pada Saham Emiten LSIP ... 94
13 Fungsi AC dan PAC dari Return kuadrat Saham
Emiten UNSP ... 95
14. Estimasi Model ARCH/GARCH Harga Saham
Emiten UNSP ... 96
15. Tingkat Risiko dengan SK 95% pada Saham Emiten UNSP ... 98
16. Penilaian Investasi Kombinasi Peramalan dan
17. Penilaian Investasi Kombinasi Peramalan dan
Penilain Risiko (5) ... 100
18. Penilaian Investasi Kombinasi Peramalan dan
Penilain Risiko (10) ... 100
19. Penilaian Investasi Kombinasi Peramalan dan
Penilain Risiko (20) ... 101
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Return Indeks Saham Sektoral BEI, Tahun 2007 ... 5 2. Bagan Pasar Keuangan ... 13
3. Mekanisme Transaksi Perdagangan di PT. BEI ... 22
4. Kurva Indiferen Sikap Investor Terhadap Risiko ... 32
5. Kerangka Pemikiran ... 44
6. Plot Data Harga Saham Penutupan PT Astra Agro Lestari, Tbk Periode Januari 2006-April 2009 dan
Plot Basis Data untuk Penelitian ... 74
7. Korrelogram ACF dan PACF Harga Saham Emiten AALI ... 75
8. Plot Data Harga Saham Penutupan PT PP London Sumatra, Tbk Periode Januari 2006-April 2009 dan
Plot Basis Data untuk Penelitian ... 78
9. Korrelogram ACF dan PACF Harga Saham Emiten LSIP ... 79
10. Plot Data Harga Saham Penutupan PT. Bakrie Sumatra Plantations dan Anak Perusahaan Periode Januari 2006-
April 2009 dan Plot Basis Data untuk Penelitian ... 82
11. Korrelogram ACF dan PACF Harga Saham Emiten UNSP ... 83
12. Return Saham Emiten AALI ... 86
13. Ringkasan Statistik Return AALI ... 87
14. Return Saham Emiten LSIP ... 90
15. Ringkasan Statistik Return LSIP ... 91
16. Return Saham Emiten UNSP ... 94
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Data Harga Penutupan Saham AALI, UNSP dan LSIP ... 110
2. Daftar LQ45 di PT Bursa Efek Indonesia
Periode 1 Agustus 2008 – Januari 2009 ... 112
3. Hasil ARIMA (2,1,0), ARIMA (1,1,0), dan ARIMA (1,1,1)
Untuk Emiten AALI, LSIP, dan UNSP ... 113
4. Hasil Peramalan Harga Saham untuk AALI, LSIP, dan
UNSP ... 115
5. Metode ARCH (1), ARCH (1), dan GARCH (1,2)
untuk AALI, LSIP dan UNSP ... 117
6. Hasil Peramalan Ragam ARCH (1) pada Saham
Emiten AALI ... 124
7. Hasil Peramalan Ragam ARCH (1) pada Saham
Emiten LSIP ... 125
8. Hasil Peramalan Ragam GARCH (1,2) pada Saham
Emiten UNSP ... 126
I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia adalah negara agraris yang memiliki kekayaan sumberdaya
hayati dan ekosistem yang beragam. Sebagai negara dengan keanekaragaman
hayati terbesar ketiga di dunia, Indonesia memiliki peluang untuk
mengembangkan komoditi pertanian. Keanekaragaman hayati yang dimiliki
Indonesia menjadikan sektor pertanian sebagai salah satu sektor penyumbang
pendapatan negara.
Salah satu subsektor pertanian yang memberikan kontribusi terhadap
Produk Domestik Bruto adalah perkebunan. Tahun 2006 sumbangan sektor
perkebunan sebesar 1,89 persen bagi GDP Indonesia, sedangkan pada sektor
pertanian sendiri menempati urutan ketiga setelah pangan dan perikanan dengan
persentase 14,63 persen dari pertanian secara keseluruhan sumbangan sektor
pertanian pada GDP Indonesia. Dari tahun 2004 sampai tahun 2006 sumbangan
sektor pekebunan terus mengalami peningkatan dengan persentase peningkatan
rata-rata 13,025 persen, dimana dari tahun 2004 ke tahun 2005 meningkat sebesar
13,7 persen tetapi mengalami peningkatan yang sedikit lebih kecil dari tahun
sebelumnya sebesar 12,35 persen dari tahun 2005 ke tahun 2006.
Tabel 1. Gross Domestic Product (GDP) Sektor Pertanian Indonesia Tahun 2004-2007
Industrial Origin 2004 2005 2006* 2007**
(1) (2) (3) (4) (5)
Agriculture, Livestock, Forestry and
Fishery 329.124,60 364.169,30 433.223,40 547.235,60 a. Food Crops 165.558,20 181.331,60 214.346,30 268.124,40 b. Estate Crops 49.630,90 56.433,70 63.401,40 84.459,20 c. Livestock and Its Product. 40.634,70 44.202,90 51.074,70 62.095,80 d. Forestry 20.290,00 22.561,80 30.065,70 35.734,10 e. Fishery 53.010,80 59.639,30 74.335,30 96.822,10
Ket : * = Data Sementara ** = Proyeksi
Isu pertama yang mewarnai subsektor perkebunan adalah adanya
kecenderungan defisit (konsumsi yang lebih tinggi dibandingkan produksi) di
pasar internasional. Seperti ciri pasar sektor pertanian pada umumnya, subsektor
perkebunan tidak dapat memanfaatkan kenaikan harga di pasar internasional yang
berimbas juga pada pasar domestik secara optimal. Hal ini terjadi karena
elastisitas harga yaitu respon produksi terhadap perubahan harga umumnya tidak
elastis, dengan elastisitas antara 0,2 - 0,8. Dengan demikian kenaikan harga 1
persen direspon dengan kenaikan produksi yang kurang dari 1 persen. Kenaikan
harga tersebut tidak secara optimal dapat dimanfaatkan melalui peningkatan
produksi.
CPO yang merupakan produk hasil olahan subsektor perkebunan, yaitu
kelapa sawit salah satu yang dapat merespon dengan cukup baik dampak kenaikan
harga dengan peningkatan produksi sebesar 17 persen, dari sekitar 14,2 juta ton
menjadi 14,6 juta ton pada tahun 2006. Kelapa sawit bukanlah tanaman asli
Indonesia. Pengembangan kebun kelapa sawit pertama kali dilakukan pada tahun
1911 di tanah Itam Ulu oleh Maskapai Oiliepalmen Cultuur dan di pulau raja oleh
maskapai Huilleries de Sumatra-RCMA. Perluasan perkebunan kelapa sawit di
Indonesia secara signifikan berawal pada tahun 1977 dengan dimulainya program
Nucleus Estate and Smallholder (NES) atau Perkebunan Inti Rakyat (PIR)1
Hasil analisis
.
Perkembangan kelapa sawit dan usahanya selalu beriringan dengan hasil
olahannya yaitu, crude palm oil (CPO) disamping PKO. Perkembangan CPO
tidak terlepas dari permintaan pasar CPO dunia yang prospektif. Peluang pasar
konsumsi diperkirakan tumbuh 3,5 persen - 4 persen per tahun; perdagangan
sekitar 3,8 persen per tahun. Sampai dengan tahun 2010, peluang pasar CPO
Indonesia dari sisi konsumsi diperkirakan tumbuh antara 4 persen - 6 persen per
tahun dan dari sisi ekspor 5 persen - 8 persen per tahun.
2
1Agro Observer Bundel No. 1-6 Tahun I Halaman 36
2Loc.cit
yang dilakukan FAO (2001), Mielka (2001), dan Susila
(2001) menunjukkan peluang peningkatan konsumsi CPO masih terbuka. Peluang
peningkatan konsumsi CPO untuk jangka panjang sampai dengan tahun 2025
diperkirakan akan mengalami tiga fase pertumbuhan. Pada fase pertumbuhan
diperkirakan masih cukup tinggi, walaupun lebih rendah dari dekade terakhir.
Fase kedua (tahun 2010-2017) dikenal dengan fase pertumbuhan yang lambat,
namun masih lebih tinggi dari pertumbuhan produk kompetitornya yaitu
pertumbuhan minyak kedele. Fase ketiga (tahun 2017-2025) dikenal sebagai
pertumbuhan yang alami (neutral) yaitu pada saat pasar mulai jenuh dan
pertumbuhan konsumsi hanya sekitar 1,5 persen per tahun.
Peluang ini menjadi tantangan yang tidak mudah karena menuntut
produktivitas kelapa sawit yang baik untuk dapat menjamin pemanfaatan peluang
tersebut. Tetapi bukan peluang itu tanpa masalah, pemanfaatan peluang pasar
CPO ini dihadapkan pada pertanaman kelapa sawit di Indonesia sebagian besar
berumur 20-25 tahun yang sudah mencapai akhir siklus umur tanaman. Hal yang
tentu mempengaruhi produktivitas kelapa sawit indonesia dan pada akhirnya
peluang pasar konsumsi CPO dalam negeri bahkan ekspor terancam dalam
pemenuhannya.
Sektor pertanian khususnya agribisnis merupakan penyumbang ekspor
bersih penting selama 30 tahun Indonesia membangun, pada masa krisis ini tetap
bertahan (Saragih, 2001). Menurut Saragih (2001) pengalaman ini seharusnya
menyadarkan kita semua (termasuk pemerintah), bahwa kita harus meninggalkan
strategi industrialisasi berspektrum luas (broad-based industries) yang
menekankan pada industri-industri yang tidak berbasis dalam negeri (footloose
industries) dan strategi industrialisasi yang berbasis teknologi berbasis impor
(high-tech industries) serta kembali ke strategi industrialisasi berbasis sumberdaya
domestik (domestic resources based).
Salah satu komponen yang mendukung sektor pertanian Indonesia adalah
perusahaan yang bergerak dalam bidang pertanian baik perusahaan industri hulu
(penyedia sarana-sarana pertanian), perusahaan on-farm, perusahaan industri hilir
(pengolahan produk-produk pertanian) maupun jasa pemasaran dan jasa
penunjang lainnya. Untuk dapat bertahan di masa ini perusahaan agribisnis
membutuhkan koordinasi dan kinerja yang efektif dan efisisien juga termasuk
peningkatan skala usaha untuk pengembangan perusahaan, salah satu faktor yang
Pembangunan agribisnis yang bersifat domestic resources based
diharapkan mampu mewujudkan perekonomian yang berkemandirian dan
berkeadilan di masa yang akan datang. Karena Indonesia merupakan negara
agraris maka sudah selayaknya sebagai negara kaya akan potensi pertanian maka
prioritas penanaman investasi adalah di bidang pertanian (Saragih, 2001).
Pada suatu perusahaan, modal yang menjadi faktor penentu perkembangan
suatu usaha memperoleh dana tidak cukup hanya dengan dana internal.
Perusahaan membutuhkan sejumlah modal yang besar secara eksternal (Keown
dkk, 1999). Dalam usaha meningkatkan modal perusahaan yang menarik dana
dari luar, perusahaan harus memperhatikan masalah jumlah dana yang
dibutuhkan, tingkat suku bunga jaminan dan jangka waktu untuk memperoleh dan
pengembaliannya. Disamping itu, jenis dana yang ditarik tidak kalah penting pula
untuk dipertimbangkan apakah dana yang ditarik itu berbentuk pinjaman atau
modal sendiri (Hartono, 2001).
Tahun 1987 sejalan dengan semakin besarnya kebutuhan dana investasi
dan pembangunan, serta perlunya menciptakan iklim usaha yang kondusif,
pemerintah mulai menyadari peran strategis pasar modal (Suta, 2000). Pasar
modal merupakan salah satu instrumen untuk memobilisasi dana masyarakat
untuk pembiayaan pembangunan dan sebagai wadah bagi kalangan dunia usaha
untuk membiayai pembelanjaan perusahaan.
Perkembangan pasar modal berkorelasi dengan baik pada semakin
banyaknya perusahaan yang memasuki pasar modal. Hal ini tercermin dari
banyaknya emiten yang telah mendaftar di Bursa Efek Indonesia. Selain itu
perkembangan saham sektoral menjadi titik fundamental kegiatan pasar modal.
Berdasarkan return indeks saham sektoral pada tahun 2007, merupakan ilustrasi
yang menggambarkan menariknya kinerja sektoral di bursa saham. Salah satu
sektoral yang patut dipertimbangkan dalam memajukan perekonomian dan pilihan
investasi adalah sektor agribisnis (115,39 persen) yang menempati urutan kedua
Gambar 1. Return Indeks Saham Sektoral Bursa Efek Indonesia, Tahun 2007
Sumber : Bloomberg, Tahun 20073
Langkah penting yang dilakukan oleh pemilik modal untuk memilih
alternatif investasi yang sesuai dengan tujuan investasi dapat memanfaatkan
informasi yang akurat dan relevan mengenai proyeksi emiten saham dan
menetapkan investasi pada emiten dengan risiko seminimum mungkin.
Berhubungan dengan hal tersebut studi ini bertujuan untuk menganalisis risiko
yang dihadapi emiten saham-saham perusahaan perkebunan terintegrasi pada
penyediaan bibit, budidaya dan penghasil/olahan CPO terpilih sekaligus
meramalkan pergerakan emiten harga penutupan saham tersebut selama tahun Perusahaan agribisnis dalam negeri sudah banyak yang memanfaatkan
pasar modal (Bursa Efek Indonesia) sebagai sumber pembiayaan perusahaan
dalam menjalankan kegiatannya. Hal ini tentu memperlihatkan bagaimana para
pelaku agribisnis menyadari pentingnya pembiayaan untuk menopang kinerja
perusahaan yang mereka jalankan terutama perusahaan go public. Hubungan
dengan para investor melalui pasar modal mutlak diperlukan dalam menunjang
aktivitas perusahaan.
Perkembangan perusahaan agribisnis yang masuk dalam emiten di Bursa
Efek Indonesia memberi dampak positif dalam alternatif pilihan bagi para investor
yang berminat dalam sektor agribisnis untuk menanamkam modalnya. Satu hal
yang perlu dipahami investor adalah memahami pasar. Pasar saham bergerak
terus dengan modal investasi sebagai penggeraknya. Salah satu pendorong
investor untuk masuk ke pasar (membeli atau menjual), adalah adanya antisipasi
kemungkinan kejadian di masa depan.
3
2009. Pada akhirnya studi ini akan membantu pemilik modal dalam memutuskan
investasi pada sektor perkebunan khususnya perusahaan perkebunan terintegrasi
pada penyediaan bibit, budidaya dan penghasil/olahan di dalam negeri.
1.2. Perumusan Masalah
Agribisnis sebagai suatu sistem yang merupakan konsep dari suatu sistem
yang integratif yang terdiri dari sub-sistem. Kinerja masing–masing sub-sistem
akan sangat ditentukan keterkaitan dengan sub-sistem lainnya. Sistem agribisnis
terdiri atas up strem, on farm, down stream dan didukung oleh lembaga
penunjang. Dalam sub-sistem up stream kegiatan ekonomi berkenaan dengan
penyediaan bahan baku (bibit), sub sistem on farm meliputi kegiatan budidaya,
sub-sistem down stream berkaitan dengan pengolah hasil dan distribusi ke
konsumen, dan lembaga penunjang adalah lembaga yang terkait yang mendukung
kegiatan bisnis.
Salah satu sub-sektor agribisnis adalah perkebunan, dimana perkembangan
sektor perkebunan cukup membanggakan karena menjadi sektor yang memiliki
peranan besar dalam perdagangan ekspor Indonesia, seperti karet, kakao ataupun
kelapa sawit (CPO). Tetapi seiring perkembangan permintaan ini terdapat
permasalahan penting yang mempengaruhi kapasitas perusahaan untuk memenuhi
permintaan yang terus meningkat. Permasalahan ini datang dari sub-sistem
on-farm, umur pohon di perkebunan telah memasuki umur akhir siklus tanaman
(20-25 tahun). Hal ini tentu akan mempengaruhi produktivitas produk perkebunan itu
sendiri, sehingga perlu dilakukan peremajaan yang memang mutlak diperlukan.
Masalah terus berlanjut pada pembiayaan untuk menunjang visi dan misi
perusahaan sektor perkebunan untuk merespon peluang konsumsi pasar pada
produk perkebunan (karet, kakao, CPO).
Pembiayaan yang dibutuhkan perusahaan perkebunan, mendorong
perusahaan perkebunan memasuki pasar modal untuk menarik investor dalam
bentuk perusahaan yang go public. Hal ini dikarenakan para pemilik modal tidak
lagi menyimpan dana dalam bentuk barang yang tidak produktif, tetapi mereka
mencoba mendapatkan kesempatan memperoleh laba dari deviden jangka panjang
atau capital gain pada jangka pendek. Oleh karena itu kedua kepentingan tersebut
Apabila pilihan dipersempit pada saham-saham agribisnis perkebunan
maka tiga pilihan emiten saham sektoral perkebunan yang sudah go public adalah
PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI), Bakrie Sumatera Plantation Tbk. (UNSP),
dan PP London Sumatera Tbk. (LSIP). Ketiga perusahaan tersebut perlu dikaji
untuk mendapat pilihan melihat kinerja dan eksistensi perusahaan di pasar bursa.
Selain itu kinerja harga saham mereka mampu membuat sentimen pada sektor
pertanian lain yang ada di pasar modal untuk berpengaruh positif atau negatif.
Pilihan ini tidak serta merta memberi alasan mendasar bagi calon investor untuk
melakukan keputusan investasi pada perusahaan perkebunan tersebut karena
terdapat unsur ketidakpastian terkait risiko dan bagaimana proyeksi pergerakan
harga saham pada masa-masa ke depan.
Keputusan investasi yang tepat pada perusahaan perkebunan terpilih, dapat
dianalisis dengan menggunakan analisis fundamental dan analisis teknikal.
Analisis teknikal menjadi perhatian utama penulis untuk menganalisis keputusan
investasi pada perusahaan perkebunan terpilih di PT Bursa Efek Indonesia.
Pemilihan PT Bursa Efek Indonesia sebagai tempat penelitian tidak lepas dari
kebutuhan data dalam analisis teknikal ini yang menjadi perhatian penting dalam
melakukan analisa adalah capital gain yang berimplikasi pada pergerakan harga
saham emiten di pasar modal Indonesia berpusat di PT Bursa Efek Indonesia.
Pemanfaatan data pergerakan harga saham emiten menggunakan dua alat
analisis dari metode kuantitatif untuk mengukur dua hal penting dalam
mempengaruhi keputusan investasi, yaitu pengukuran tingkat risiko (value at
risk) dan peramalan pergerakan harga saham emiten perkebunan terpilih.
Sehingga dengan analisis teknikal ini pemilik modal terutama mereka yang
menginginkan keuntungan jangka pendek dapat memutuskan kapan harus
membeli, menjual atau hanya menunggu dan melihat saja sebagai bagian dari
keputusan investasinya.
Berdasarkan uraian di atas, maka dalam penelitian ini dapat dirumuskan
masalah-masalah yang akan diteliti adalah :
1. Bagaimana gambaran umum perusahaan PT Astra Agro Lestari, Tbk (AALI),
PT PP London Sumatra, Tbk (LSIP), dan PT Bakrie Sumatra Plantations, Tbk
2. Bagaimana proyeksi pergerakan saham emiten AALI, LSIP dan UNSP di
tahun 2009 ?
3. Bagaimana tingkat risiko (Value at Risk) yang dihadapi investor pada
saham-saham emiten AALI, LSIP, UNSP dan merumuskan keputusan investasi
sebagai implikasi terhadap risiko yang akan dihadapi dan melihat pergerakan
harga saham di tahun 2009 ?
1.3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang
telah dirumuskan, yaitu :
1. Mendeskripsikan profil perusahaan AALI, LSIP dan UNSP.
2. Melakukan Proyeksi pergerakan saham emiten AALI, LSIP dan UNSP di
tahun 2009.
3. Menganalisis tingkat risiko (Value at Risk) yang dihadapi investor pada
saham-saham emiten AALI, LSIP, UNSP dan merumuskan keputusan investor
sebagai implikasi terhadap risiko yang akan dihadapi dan melihat pergerakan
emiten saham AALI, LSIP dan UNSP pada PT Bursa Efek Indonesia di tahun
2009.
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi :
1. Para praktisi bursa, khususnya para investor yang berinvestasi pada saham
agribisnis perkebunan mendapatkan informasi yang relevan sebagai proyeksi
pergerakan harga saham di masa mendatang dan antisipasi risiko sekaligus
menentukan sikap keputusan investasi yang tepat pada kondisi pasar modal
tertentu.
2. Kalangan akademisi, menambah wacana bagi para akademisi untuk menelaah
dan mengkaji secara mendalam tentang perdagangan saham di pasar modal
Indonesia.
3. Kalangan umum, yaitu masyarakat luas yang ingin menambah wawasan dan
pengetahuan yang luas dalam transaksi keputusan investasi pada perdagangan
4. Perusahaan, informasi yang disajikan penelitian ini dapat menjadi
pertimbangan informasi yang bersifat teknikal untuk mendukung strategi yang
akan diterapkan oleh ketiga emiten terpilih (AALI, LSIP dan UNSP).
1.5. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah saham-saham agribisnis perkebunan
yang telah terdaftar (listing) di Bursa Efek Indonesia dan memenuhi
kriteria-kriteria yang ditetapkan. Pemilihan tempat kajian penelitian di Bursa Efek
Indonesia dilatarbelakangi kompetensi dan tingkat relevansi data yang dibutuhkan
dalam penelitian untuk mendapatkan hasil penelitian yang diinginkan pada tempat
penelitian di Bursa Efek Indonesia. Diperoleh tiga emiten saham yang terpilih
untuk dianalisis yaitu : PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) sebagai perusahaan
yang sektor pengembangannya di kelapa sawit khususnya pengolahan (CPO),
Bakrie Sumatera Plantation Tbk. (UNSP) bergerak pada awalnya dengan karet
tetapi seiring perjalanan usaha, perusahaan menggerakkan dan memiliki anak
perusahaan yang menangani kelapa sawit (CPO), dan PP London Sumatera Tbk.
(LSIP) sebagai perusahaan yang sektor pengembangannya di kelapa sawit
(terutama pembibitan tanaman kelapa sawit). Pada penelitian ini aspek keputusan
investasi hanya dibatasi pada keputusan yang mendasar dari teknikal berupa
ramalan time series dan penilaian risiko, ceteris paribus dalam membuat implikasi
keputusan investasi pemilik modal. Pemanfaatan keputusan investasi bagi
investor yang berorientasi capital gain dan cenderung memanfaatkan analisis
teknikal dalam pengambilan keputusan investasi. Faktor dan variabel lain diluar
analisis teknikal (kajian fundamental perusahaan) tidak dikaji secara mendalam
dan sebatas penguatan argumen hasil analisis secara teknikal yang menjadi
II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Proyeksi Pengembangan Kelapa Sawit di Indonesia hingga Tahun 20104
1. Industri kelapa sawit sebagai usaha yang prospektif dan berkelanjutan
(sustainable).
Kebutuhan dunia terhadap minyak nabati semakin meningkat baik untuk
produk pangan maupun nonpangan seperti biofuel diperkirakan akan terus
mendorong industi kelapa sawit di Indonesia di masa depan. Kebijakan
pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia juga berpijak pada tiga pilar
utama, yaitu :
2. Pemanfaatan lahan yang didasarkan 3P (Planet, People, Profit) yaitu
melestarikan lingkungan, mendayagunakan dan memajukan kesejahteraan
masyarakat selain memperoleh keuntungan.
3. Karakteristik geografi, SDA, infrastruktur, dan sarana penunjang yang dimilki
untuk menjadikan sub-sektor perkebunan kelapa sawit sebagai salah satu
sektor unggulan perekonomian daerah dan mampu memberikan multiplyer
effect yang besar bagi perekonomian daerah secara keseluruhan.
Kebijakan tersebut diimplementasikan oleh pemerintah dalam bentuk
dukungan secara langsung terhadap pengembangan industri kelapa sawit yang
melibatkan perusahaan swasta, perusahaan milik negara, maupun rakyat. Sebagai
contoh, pada periode tahun 2006-2010, pemerintah memiliki program
pengembangan perkebunan kelapa sawit rakyat melalui program “percepatan
pembangunan perkebunan dalam mendukung revitalisasi pertanian” yang
diusung oleh Departemen Pertanian. Pengembangan kelapa sawit tersebut
memilki kegiatan peremajaan maupun pembukaan areal-areal baru yang mencapai
ratusan ribu hektar yang diharapkan dapat diwujudkan pada periode 2006-2010.
4LRPI :Potensi dan Peluang Industri Kelapa Sawit di Indonesia, Pusat Penelitian Kelapa Sawit,
Tabel 2. Proyeksi Luas Perkebunan Kelapa Sawit Milik Negara dan Swasta di Indonesia Pada Tingkat Pertumbuhan Konstan 2% Per Tahun Hingga 2010.
Jenis Perkebunan
2005 2006 2007 2008 2009 2010
Perkebuanan Negara
677.041 690.582 704.393 718.481 732.851 747.508
Perkebunan Swasta
3.003.080 3.063.142 3.124.404 3.186.893 3.250.630 3.315.643
Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan, Tahun 2007
2.2. Pembiayaan Agribisnis
Pembiayaan merupakan salah satu aspek paling menentukan dalam
pengembangan usaha. Pembiayaan agribisnis dapat diperoleh dari modal sendiri
atau meminjam dari beberapa sumber keuangan, seperti pemodal perorangan,
lembaga keuangan dan Bank. Modal selalu terbatas, sehingga penggunaanya
harus diatur sedemikian rupa agar menghasilkan keuntungan terbesar atau gross
margin tertinggi (Krisnamurthi, 2001). Modal terdiri beberapa jenis, yaitu :
1. Modal Tanaman
Modal ini merupakan biaya yang dikeluarkan untuk menumbuhkan tanaman
hingga berproduksi dan mati, artinya tanaman pun terdepresiasi seperti modal
lainnya.
2. Modal Ternak
Relatif sama dengan modal tanaman, hanya dalam bentuk ternak. Untuk
memperoleh gross margin yang besar ternak tersebut harus berproduksi
tertinggi (artinya tingkat pertumbuhannya harus tinggi, terutama untuk hewan
potong).
3. Modal Bangunan
Modal ini dapat berupa modal yang digunakan untuk membangun, membeli,
atau menyewa bangunan. Biaya ini meliputi biaya pemeliharaan, perbaikan,
Tabel 3. Kebutuhan Pembiayaan Sektor Agribisnis
Subsektor Tipe Kredit
Jangka Pendek Jangka Menengah Jangka Panjang Produksi Pembelian produksi
kebutuhan konsumsi
Pembelian mesin • Pembelian lahan • Investasi irigsi
dan drainase
• Perluasan lahan dan
pengembangannya Pemasok Tagihan dagang Pembelian mesin • Penelitian dan
pengembangan produk
• Investasi pabrik Pemasaran dan
Distribusi
Tagihan dagang Modal kerja
Pembelian mesin • Riset konsumen • Riset produk • Investasi pabrik Riset dan
Pengembangan
- - • Investasi Litbang
• Investasi untuk pendidikan
Sumber : Krisnamurthi (Agribisnis), 2001
4. Modal Mesin dan Peralatan
Modal ini meliputi biaya untuk pemilikan atau penyewaan serta biaya
perawatan dan perbaikan selain biaya untuk bahan bakar. Penggunaan mesin
bukan hanya dapat menghemat dari segi pengeluaran untuk upah tenaga kerja,
tapi juga dapat meningkatkan prosuksi atau mempercepat proses pengolahan
tanah, penanaman dan panen yang lebih efisien.
2.3. Pasar Modal
Pasar modal adalah tempat pertemuan antara penawaran dan permintaan
surat berharga. Para pelaku pasar yaitu individu-individu atau badan usaha yang
mempunyai kelebihan dana melakukan investasi ke dalam bentuk surat-surat yang
Pasar keuangan adalah salah satu alternatif yang dapat dimanfaatkan
perusahaan untuk memenuhi kebutuhan dananya. Pada umumnya pasar uang
meliputi dua segmen, yaitu pasar uang untuk pinjaman jangka pendek, dan pasar
modal pinjaman jangka panjang (lihat bagan Gambar 2). Pasar uang adalah pasar
yang menyediakan pembelanjaan dalam jangka pendek dibuat berdasarkan tujuan
pasar uang yang menyediakan dana pinjaman (bukan equity) untuk memenuhi
kebutuhan modal berjangka pendek (Darmadji dan Fakhruddin dalam
Khurniawan, 2004).
Gambar 2. Bagan Pasar Keuangan
Sumber : Darmadji dan Fakhruddin dalam Khurniawan, 2004
Berbeda dengan pasar uang, Sunariyah dalam Bakasenjaya (2004)
mendefinisikan pasar modal, sebagai suatu sistem keuangan yang terorganisasi,
termasuk didalamnya adalah Bank-Bank komersil dan semua lembaga perantara
di bidang keuangan, serta keseluruhan surat-surat berharga yang beredar. Dalam
pengertian sederhananya, pasar modal adalah suatu pasar yang disiapkan untuk
memperdagangkan saham-saham, obligasi-obligasi, dan jenis surat berharga
lainnya dengan memakai jasa para perantara pedagang efek.
Pemerintah juga memberikan pengertian tentang pasar modal sebagai
berikut, menurut Undang-Undang Pasar Modal (UU PM) No 8 tahun 1995, pasar
modal yaitu kegiatan yang berkaitan dengan penawaran umum dan perdagangan
efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta
lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek.
2.3.1. Alasan Dibentuknya Pasar Modal
Pasar modal di banyak negara menjalankan fungsi ekonomi dan keuangan.
Dalam melaksanakan fungsi ekonomi, pasar modal menyediakan fasilitas untuk Pasar Keuangan
memindahkan dana dari pihak yang mempunyai kelebihan dana ke pihak yang
membutuhkan dana. Sedangkan fungsi keuangan dilaksanakan dalam
menyediakan dana yang diperlukan oleh pihak yang memerlukan dana dan pihak
yang memiliki dana menyediakan dana tanpa harus terlibat langsung dalam
kepemilikan aktiva riil yang diperlukan untuk investasi (Husnan, 2003).
Ada beberapa daya tarik pasar modal menurut Husnan (2003), yaitu (i)
diharapkan pasar modal akan dapat menjadi alternatif penghimpunan dana selain
sistem perbankan. Pada umumnya perbankan menghimpun dana dari masyarakat
dan kemudian menyalurkan kembali ke pihak-pihak yang memerlukan dana.
Sedangkan pasar modal melalui perusahaan menerbitkan sekuritas yang berupa
surat tanda hutang atau obligasi ataupun surat tanda kepemilikan saham, (ii) pasar
modal memberikan pilihan bagi pemodal untuk menginvestasikan dana yang
sesuai dengan preferensi risiko mereka. Adanya pasar modal membuat investor
melakukan diversifikasi investasi, membentuk portofolio sesuai dengan risiko
yang bersedia ditanggung dan tingkat pengembalian (return) yang diharapkan.
Pada pasar modal yang efisien, terdapat hubungan yang positif antara
risiko dan return yang diharapkan. Dari sisi pemilik modal, pasar modal
memberikan kesempatan untuk berinvestasi yang menjanjikan keuntungan yang
tertinggi sesuai dengan risiko. Sedangkan bagi pihak yang memerlukan modal
dijadikan alternatif pendanaan eksternal dengan biaya lebih rendah daripada
sistem perbankan.
2.3.2. Peranan Pasar Modal
Pasar modal memiliki peranan penting dalam suatu negara, yang pada
dasarnya peranan tersebut mempunyai kesamaan antara satu negara dengan negara
lain. Sunariyah dalam Bakasenjaya (2004), peranan pasar modal pada suatu
negara dapat dilihat dari lima aspek berikut ini:
1. Sebagai fasilitas melakukan interaksi antara pembeli dengan penjual untuk
menentukan harga saham atau surat berharga yang diperjualbelikan.
2. Pasar modal memberikan kesempatan kepada investor untuk memperoleh
3. Pasar memberikan kesempatan kepada investor untuk menjual kembali saham
yang dimilikinya atau surat berharga lainnya.
4. Pasar modal menciptakan kesempatan kepada masyarakat untuk berpartisipasi
dalam perkembangan suatu perekonomian.
5. Pasar modal mengurangi biaya informasi dan transaksi surat berharga.
Tersedianya informasi secara lengkap bagi para investor untuk melakukan
investasi maka biaya informasi ditanggung oleh seluruh pelaku pasar bursa.
Peranan pasar modal di atas memperlihatkan aspek mikro yang ditinjau
dari sisi kepentingan para pelaku pasar modal. Namun demikian (Sunariyah
dalam Bakasenjaya, 2004) peranan pasar modal dalam perekonomian nasional
(secara makro ekonomi) lebih luas jangkauannya. Peranan pasar modal dalam
suatu perekonomian suatu negara adalah sebagai berikut:
1. Fungsi Tabungan
Investasi di pasar modal dengan membeli surat berharga tanpa risiko adanya
penurunan nilai mata uang untuk menginvestasikan dana. Dana tersebut dapat
digunakan untuk memperbanyak jasa dan produk-produk di suatu sektor
perekonomian. Dengan membeli surat berharga, masyarakat diharapkan dapat
mengantisipasi standar hidup yang lebih baik.
2. Fungsi Kekayaan
Pasar modal adalah suatu cara untuk menyimpan kekayaan dalam jangka
panjang dan jangka pendek sampai dengan kekayaan tersebut dapat
dipergunakan kembali.
3. Fungsi Likuiditas
Kekayaan yang disimpan dalam surat berharga, dapat dilikuidasi melalui pasar
modal dengan risiko yang lebih kecil dibandingkan dengan aktiva lain.
4. Fungsi Pinjaman
Pasar modal merupakan fungsi pinjaman untuk konsumsi atau investasi.
Pinjaman merupakan hutang kepada masyarakat sehingga pasar modal bagi
suatu perekonomian negara merupakan sumber pembiayaan pembangunan
2.3.3. Macam Pasar Modal
Penjualan saham kepada investor dapat dilakukan dengan beberapa cara.
Umumnya penjualan dilakukan sesuai dengan jenis atau bentuk pasar modal
dimana sekuritas itu diperjualbelikan. Menurut Sunariyah dalam Bakasenjaya
(2004), jenis-jenis pasar modal tersebut adalah:
1. Pasar Perdana (Primary Market)
Merupakan penawaran saham dari perusahaan yang menerbitkan saham
kepada investor selama waktu yang ditetapkan oleh pihak yang menerbitkan
sebelum saham tersebut diperdagangkan di pasar sekunder.
2. Pasar Sekunder (Secondary Market)
Sebagian perdagangan saham melewati masa penawaran pada pasar perdana.
Jadi, pasar sekunder merupakan pasar dimana saham dan sekuritas lain
diperjualbelikan secara luas, setelah melalui masa penjualan di pasar perdana.
3. Pasar Ketiga (Third Market)
Merupakan tempat perdagangan saham atau sekuritas diluar bursa (over the
counter market).
2.4. Saham5
Saham (stock) merupakan salah satu instrumen pasar keuangan yang
paling popular. Menerbitkan saham merupakan salah satu pilihan perusahaan
ketika memutuskan untuk pendanaan perusahaan. Pada sisi yang lain, saham
merupakan instrumen investasi yang banyak dipilih para investor karena saham
mampu memberikan tingkat keuntungan yang menarik. Saham dapat
didefinisikan sebagai tanda penyertaan modal seseorang atau pihak (badan usaha)
dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Dengan menyertakan modal
tersebut, maka pihak tersebut memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, klaim
atas asset perusahaan, dan berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham
(RUPS). Pada dasarnya, ada dua keuntungan yang diperoleh investor dengan
membeli atau memiliki saham, yaitu :
5
1. Dividen
Dividen merupakan pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan dan
berasal dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Dividen diberikan
setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS. Jika
seorang pemodal ingin mendapatkan dividen, maka pemodal tersebut harus
memegang saham tersebut dalam kurun waktu yang relatif lama yaitu hingga
kepemilikan saham tersebut berada dalam periode dimana diakui sebagai
pemegang saham yang berhak mendapatkan dividen. Dividen yang dibagikan
perusahaan dapat berupa dividen tunai, artinya kepada setiap pemegang saham
diberikan dividen berupa uang tunai dalam jumlah rupiah tertentu untuk setiap
saham atau dapat pula berupa dividen saham yang berarti kepada setiap
pemegang saham diberikan dividen sejumlah saham sehingga jumlah saham
yang dimiliki seorang pemodal akan bertambah dengan adanya pembagian
dividen saham tersebut.
2. Capital Gain
Capital Gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual. Capital gain
terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar sekunder.
Misalnya Investor membeli saham XYZ dengan harga per saham Rp 3.000
kemudian menjualnya dengan harga Rp 3.500 per saham yang berarti pemodal
tersebut mendapatkan capital gain sebesar Rp 500 untuk setiap saham yang
dijualnya.
Selain dua keuntungan yang akan didapatkan dari memegang saham ada
keuntungan lain, yaitu saham bonus. Saham bonus ini didapat jika perusahaan
mengeluarkannya. Saham bonus ini merupakan saham yang dibagikan kepada
para pemegang saham yang diambil dari agio saham. Dimana saham agio tersebut
adalah selisih antara harga jual terhadap harga nominal saham tersebut pada saat
perusahaan melakukan penawaran umum di pasar perdana. Selain itu sebagai
1. Capital Loss
Merupakan kebalikan dari Capital Gain, yaitu suatu kondisi dimana investor
menjual saham lebih rendah dari harga beli. Misalnya saham PT. XYZ yang
di beli dengan harga Rp 2.000,- per saham, kemudian harga saham tersebut
terus mengalami penurunan hingga mencapai Rp 1.400,- per saham.
Karena takut harga saham tersebut akan terus turun, investor menjual pada
harga Rp 1.400,- tersebut sehingga mengalami kerugian sebesar Rp 600,- per
saham.
2. Risiko Likuidasi
Perusahaan yang sahamnya dimiliki, dinyatakan bangkrut oleh pengadilan,
atau perusahaan tersebut dibubarkan. Dalam hal ini hak klaim dari pemegang
saham mendapat prioritas terakhir setelah seluruh kewajiban perusahaan dapat
dilunasi (dari hasil penjualan kekayaan perusahaan). Jika masih terdapat sisa
dari hasil penjualan kekayaan perusahaan tersebut, maka sisa tersebut dibagi
secara proporsional kepada seluruh pemegang saham. Namun jika tidak
terdapat sisa kekayaan perusahaan, maka pemegang saham tidak akan
memperoleh hasil dari likuidasi tersebut. Kondisi ini merupakan risiko yang
terberat dari pemegang saham. Untuk itu seorang pemegang saham dituntut
untuk secara terus menerus mengikuti perkembangan perusahaan.
Pasar sekunder atau dalam aktivitas perdagangan saham sehari-hari,
harga-harga saham mengalami fluktuasi baik berupa kenaikan maupun penurunan.
Pembentukan harga saham terjadi karena adanya permintaan dan penawaran atas
saham tersebut. Dengan kata lain harga saham terbentuk oleh supply dan demand
atas saham tersebut. Supply dan demand tersebut terjadi karena adanya banyak
faktor, baik yang sifatnya spesifik atas saham tersebut (kinerja perusahaan dan
industri dimana perusahaan tersebut bergerak) maupun faktor yang sifatnya makro
seperti tingkat suku bunga, inflasi, nilai tukar dan faktor-faktor non ekonomi
seperti kondisi sosial dan politik, dan faktor lainnya.
2.5. PT Bursa Efek Indonesia6
• 14 Desember 1912 : bursa efek pertama di Indonesia dibentuk di Batavia
oleh Pemerintah Hindia Belanda.
2.5.1. Sejarah PT Bursa Efek Indonesia
Secara historis, pasar modal telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka.
Pasar modal atau bursa efek telah hadir sejak jaman kolonial Belanda dan
tepatnya pada tahun 1912 di Batavia. Pasar modal ketika itu didirikan oleh
pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan pemerintah kolonial atau VOC.
Meskipun pasar modal telah ada sejak tahun 1912, perkembangan dan
pertumbuhan pasar modal tidak berjalan seperti yang diharapkan, bahkan pada
beberapa periode kegiatan pasar modal mengalami kevakuman. Hal tersebut
disebabkan oleh beberapa faktor seperti perang dunia ke I dan II, perpindahan
kekuasaan dari pemerintah kolonial kepada pemerintah Republik Indonesia, dan
berbagai kondisi yang menyebabkan operasi bursa efek tidak dapat berjalan
sebagaimana mestinya. Pemerintah Republik Indonesia mengaktifkan kembali
pasar modal pada tahun 1977, dan beberapa tahun kemudian pasar modal
mengalami pertumbuhan seiring dengan berbagai insentif dan regulasi yang
dikeluarkan pemerintah. Secara singkat, tonggak perkembangan pasar modal di
Indonesia dapat dilihat sebagai berikut:
• 1914 – 1918 : bursa efek di Batavia ditutup selama Perang Dunia I.
• 1925 – 1942 : bursa efek di Jakarta dibuka kembali bersama dengan bursa efek di Semarang dan Surabaya.
• Awal tahun 1939 : karena isu politik (Perang Dunia II) bursa efek di
Semarang dan Surabaya ditutup.
• 1942 – 1952 : bursa efek di Jakarta ditutup kembali selama Perang Dunia II.
• 1952 : bursa efek di Jakarta diaktifkan kembali dengan Undang-Undang
Darurat Pasar Modal 1952, yang dikeluarkan oleh Menteri Kehakiman
(Lukman Wiradinata) dan Menteri keuangan (Prof. DR. Sumitro
6
Djojohadikusumo). Instrumen yang diperdagangkan: Obligasi Pemerintah
RI (1950).
• 1956 : program nasionalisasi perusahaan Belanda. bursa efek semakin
tidak aktif.
• 1956 – 1977 : perdagangan di bursa efek vakum.
• 10 Agustus 1977 : bursa efek diresmikan kembali oleh Presiden Soeharto. Bursa Efek Jakarta dijalankan dibawah Badan Pelaksana Pasar Modal.
Tanggal 10 Agustus diperingati sebagai HUT Pasar Modal. Pengaktifan
kembali pasar modal ini juga ditandai dengan go public PT Semen
Cibinong sebagai emiten pertama.
• 1977 – 1987 : perdagangan di bursa efek sangat lesu. Jumlah emiten
hingga 1987 baru mencapai 24. Masyarakat lebih memilih instrumen
perbankan dibandingkan instrumen pasar modal.
• 1987 : ditandai dengan hadirnya Paket Desember 1987 (PAKDES 87)
yang memberikan kemudahan bagi perusahaan untuk melakukan
penawaran umum dan investor asing menanamkan modal di Indonesia.
• 1988 – 1990 : paket deregulasi dibidang perbankan dan pasar modal
diluncurkan. Pintu Bursa Efek Jakarta terbuka untuk asing. Aktivitas
bursa terlihat meningkat.
• 2 Juni 1988 : Bursa Paralel Indonesia (BPI) mulai beroperasi dan dikelola oleh Persatuan Perdagangan Uang dan Efek (PPUE), sedangkan
organisasinya terdiri dari broker dan dealer.
• Desember 1988 : pemerintah mengeluarkan Paket Desember 88 (PAKDES
88) yang memberikan kemudahan perusahaan untuk go public dan
beberapa kebijakan lain yang positif bagi pertumbuhan pasar modal.
• 16 Juni 1989 : Bursa Efek Surabaya (BES) mulai beroperasi dan dikelola
oleh Perseroan Terbatas milik swasta yaitu PT. Bursa Efek Surabaya.
• 13 Juli 1992 : Swastanisas