• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH STRES KERJA TERHADAP KELELAHAN KERJA SERTA IMPLIKASINYA PADA KINERJA KARYAWAN (STUDI PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH UNIT II)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH STRES KERJA TERHADAP KELELAHAN KERJA SERTA IMPLIKASINYA PADA KINERJA KARYAWAN (STUDI PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH UNIT II)"

Copied!
140
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH STRES KERJA TERHADAP KELELAHAN KERJA SERTA IMPLIKASINYA PADA KINERJA KARYAWAN

(Studi Pada Perawat di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Unit II)

THE INFLUENCE OF JOB STRESS ON BURNOUT AND THE IMPLICATION ON EMPLOYEE PERFOMANCE

(Study On Nurse in PKU Muhammadiyah Hospital Unit II)

Oleh

RAHMAD HIDAYATULLAH 20120410302

FAKULTAS EKONOMI

(2)

PENGARUH STRES KERJA TERHADAP KELELAHAN KERJA SERTA IMPLIKASINYA PADA KINERJA KARYAWAN

(Studi Pada Perawat di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Unit II)

THE INFLUENCE OF JOB STRESS ON BURNOUT AND THE IMPLICATION ON EMPLOYEE PERFOMANCE

(Study On Nurse in PKU Muhammadiyah Hospital Unit II)

Oleh

RAHMAD HIDAYATULLAH 20120410302

FAKULTAS EKONOMI

(3)

PERNYATAAN

Dengan ini saya,

Nama :Rahmad Hidayatullah Nomor Mahasiswa : 20120410302

Menyatakan bahwa skripsi ini dengan Judul: “PENGARUH STRES KERJA TERHADAP KELELAHAN KERJA SERTA IMPLIKASINYA PADA KINERJA

KARYAWAN (Studi Pada Perawat di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Unit II)”tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan

Tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah

ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan

dalam Daftar Pustaka. Apabila ternyata dalam skripsi ini diketahui terdapat karya atau pendapat

yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain maka saya bersedia karya tersebut

dibatalkan.

Yogyakarta, 26 Agustus 2016

(4)

Motto

”If you fall a thousand times, stand up millions of times because you don’t know how close you are to success”

(5)

Persembahan

Puji Syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala karuniaNya sehingga saya diberikan nikmat kesehatan, semangat dan diberikan kemudahan untuk menyelesaikan skripsi. Sholawat serta salam tak lupa saya haturkan kepada Rasulullah SAW sebagai manusia terbaik yang selalu menjadi panutan dan sumber inspirasi saya untuk selalu lebih baik disegala aspek kehidupan.

Skripsi ini saya persembahkan untuk...

1. Keluarga saya yaitu kedua orang tua saya, Kakak saya Dhini Maria Ulfa, Rahmat Ismail

Karim Amarullah, Uni Ritha, Uni Mel, Uni Nova adik-adik saya Lailatul Fajri Helmi,

Fadillah Maulana, Latiful Qobir, Atry Via Ovani, Aprilia Anisa Putri, Fauzi, Robi

Karebok, Rian Kabayan, Reyhan, serta etek Nina, etek Ineng, amak, enek, Pak Odang,

Atuak Siri, Mak Oyong, yang selalu memberikan semangat kepada saya selama ini.

2. Spesial Kepada Almarhum Ayah saya Helmi Munir yang selalu menjadi isprirasi dan

menjadi panutan saya dalam bersikap dan Almarhumah etek Tanti yang juga telah

mengajarkan banyak hal.

3. Kepada Ibu Sri Handari Wahyuningsih selaku dosen pembimbing saya yang membantu

dalam menyelesaikan tugas akhir ini dengan penuh kesabaran.

4. Untuk teman manajemen H 2012 yang senasib, seperjuangan dan sepenanggungan.

Terimakasih atas gelak tawa dan solidaritas yang sangat luar biasa sehingga membuat

hari hari semasa kuliah yang sangat membosankan menjadi menyenangkan.

5. Untuk semua sahabat Amanah Regency, Badrus, Eko, Hardiat, Ipung, Deddy, Toto,

Ardhin, Lukman, dan Sandra yang selalu menemani dan menghibur saya baik senang

maupun sedih selama di Yogyakarta. Semoga tidak ada lagi duka dan nestapa di dada

tapi hanya ada suka dan bahagia juga gelak dan tawa.

6. Untuk sahabat saya Muhammad Ardhani Fajri, Riski Fernandes, Wahyu Zonia

(6)

Eka Putri, Anasthasya Anisa, Didi Pranatha, Romi Rezki Putra, Landra Rahmat Azdia,

Toni Andhika, Riko Haryanto, Coni delvitha, Irsyad Fikri, Dhani Rahman Zainal, Jefri

Fernando, M. Farras Alharis yang telah menjadi teman sekaligus sahabat dan tempat

bertukar pikiran penulis dalam pengerjaan skripsi ini.

7. Untuk semua rekan fun futsal manajeman 2012

8. Kepada semua dosen prodi manajemen yang selalu memberikan semangat. dan ilmu

kepada saya selama berada di bangku perkuliahan.

(7)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERNYATAAN ... iv

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... v

INTISARI ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI... ix

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Penelitian ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7

A. Landasan Teori ... 7

1. Stres Kerja ... 7

2. Kelelahan Kerja (Burnout) ... 12

3. Kinerja ... 17

B. Penelitian Terdahulu ... 21

C. Hipotesis ... 22

D. Model Penelitian ... 23

BAB III METODE PENELITIAN ... 25

A. Obyek dan Subyek Penelitian ... 25

B. Teknik Pengambilan Sampel ... 25

C. Jenis Data ... 24

(8)

E. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 27

F. Uji Kualitas Instrumen ... 28

G. Uji Hipotesis dan Analisis Data ... 29

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 34

A. Gambaran Umum Obyek Penelitian ... 34

B. Hasil Pengumpulan Data ... 37

C. Karakteristik Responden ... 38

D. Uji Kualitas Instrumen ... 39

E. Hasil Penelitian ( Uji Hipotesis ) ... 48

F. Pembahasan ( Interpretasi ) ... 52

BAB V SIMPULAN, SARAN DAN KETERBATASAN PENELITIAN ... 54

A. Simpulan ... 54

B. Saran ... 54

C. Keterbatasan Penelitian ... 54 DAFTAR PUSTAKA

(9)

DAFTAR TABEL

3.1 Definisi Operasional Variabel ... 27

4.1 Rincian Penyebaran Kuesioner ... 38

4.2 Outer Loadings... 39

4.4 Outer Loadings 2... 41

4.3 Composite Ability and AVE ... 42

4.5 Statistik Deskriptif Stres Kerja ... 44

4.6 Statistik Deskriptif Kelelahan Kerja ... 45

4.7 Statistik Deskriptif Kinerja ... 46

4.9 Nilai R- Square ... 47

(10)

DAFTAR GAMBAR

(11)
(12)

PENGARUH STRES KERJA TERHADAP KELELAHAN KERJA SERTA IMPLIKASINYA PADA KINERJA KARYAWAN

(Studi Pada Perawat di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Unit II)

THE INFLUENCE OF JOB STRESS ON BURNOUT AND THE IMPLICATION ON EMPLOYEE PERFOMANCE

(Study On Nurse in PKU Muhammadiyah Hospital Unit II)

Diajukan oleh

RAHMAD HIDAYATULLAH 20120410302

Skripsi ini telah Dipertahankan dan Disahkan di depan Dewan Penguji Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Tanggal 23 Agustus 2016

Yang terdiri dari

Gita Danupranata, Drs., MM. Ketua Tim Penguji

Rr. Sri Handari Wahyuningsih Tri Maryati, SE., MM.

Anggota Tim Penguji Anggota Tim Penguji

Mengetahui Dekan Fakultas Ekonomi

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

(13)

ABSTRACT

This research aimed to determine the effect of work stress and job burnout implications on employee performance in icu, ugd, and operating room of pku muhammadiyah hospital unit ii. Independent variables used in this study were work stress and job burnout while the dependent variable used is performance.

Sample used in this study were nurses at the ICU , UGD , and operating room at pku Muhammadiyah hospital unit II by purposive sampling method . In order to get the number of samples used in this study were 43 respondents and data were analyzed using partial least square with processing aid SmartPLS and data using SPSS 15 software .

Thus, results of this study concludes that : 1) Job stress effects positively and significantly toward job burnout. 2 ) Job burnout takes effect negatively and significantly on performance. 3 ) Work stress is a significant negative effect on performance. 4) Job Stress take effect negatively and significantly on performance through Job burnout.

(14)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Rumah sakit merupakan salah satu bentuk instansi atau organisasi yang

bergerak di bidang jasa. Rumah sakit mempunyai tujuan untuk memberikan

pelayanan kesehatan, tindakan medis, dan diagnostik serta upaya rehabilitas

medis untuk memenuhi kebutuhan pasien. Sebagai penyedia pelayanan

kesehatan, rumah sakit memiliki karakteristik yang berbeda dengan instansi

lainnya.

Keberhasilan sebuah instansi atau organisasi seperti halnya rumah sakit

dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya adalah efektivitas pengelolaan

sumberdaya yang dimiliki baik itu berupa sumberdaya finansial, sumberdaya

manusia serta system teknologinya. Rumah sakit dan sumberdaya yang ada

memiliki keterkaitan peran yang saling berhubungan antar satu dengan yang

lainnya. Sumberdaya manusia memiliki peran sentral dalam pengelolaan

sebuah instansi dalam mencapai tujuannya. Oleh karena itu dibutuhkan

sumberdaya manusia yang mampuni dalam mengelola sumberdaya finansial

dan sistem teknologi yang digunakan pada rumah sakit.

Pada instansi jasa berupa rumah sakit, perawat merupakan sumber daya

manusia yang paling banyak jumlahnya. Perawat memegang peranan penting

dalam pemberian layanan, karena terlibat langsung dengan pasien dan

(15)

selalu profesional sesuai dengan standar kinerja yang berlaku di instansi

pelayanan jasa di rumah sakit. Tuntutan profesionalitas yang tinggi dengan

karakteristik tugas yang kompleks akan menimbulkan dampak pada psikologis

perawat, seperti rentan terkena stres akan pekerjaan, kelelahan kerja atau

burnout serta dampak psikologis lainnya.

Stres kerja merupakan kondisi yang timbul dari interaksi individu dan

pekerjaan mereka yang ditandai oleh perubahan dalam diri yang memaksa

mereka untuk menyimpang dari fungsi normal mereka (Beehr dan Newman

Dalam Luthan 2011). Menurut Hidayati, dkk (2008) Masalah stres kerja

didalam organisasi atau instansi menjadi gejala penting untuk diamati sejak

adanya tuntutan untuk efisien dalam pekerjaan. Jika seorang individu tidak

dapat mengatasi stres akan pekerjaan tersebut maka akan berdampak dan

berlanjut pada tahap kelelahan kerja (burnout). Kreitner dan Kinicki dalam

Satriyo dan Survival (2014) melalui Model Stres mereka menunjukkan bahwa

salah satu hasil dari stres secara psikologis adalah kelelahan kerja (burnout).

Menurut Maslach, dkk dalam Asi (2013) kelelahan kerja didefinisikan

sebagai konstruksi dari tiga dimensi yang terdiri dari kelelahan, cynicismor

depersonalisasi, dan inefficacy atau kurangnya prestasi diri. Menurut Walburg

(2014) Kelelahan atau kejenuhan lebih melibatkan perasaan ketegangan dan

kelelahan yang sudah kronis, seperti sinisme. Kreitner dan Kinicki (2005)

mendefenisikan kepenatan atau burnout merupakan sebuah persoalan yang

(16)

yang “membantu” seperti mengajar, kerja sosial, sumber daya manusia,

perawatan, dan penegakan hukum.

Menurut Burke dalam Satriyo dan Survival (2014) Kelelahan kerja atau

burnout merupakan proses psikologis yang dihasilkan oleh stres akan pekerjaan

yang tidak terlepaskan dan menghasilkan kelelahan akan emosi, perubahan

kepribadian, dan penurunan dari pencapaian kinerja atau kinerja.

Kinerja karyawan merupakan sebuah tindakan yang dilakukan oleh

seseorang dalam jangka waktu telah ditentukan dan berupa hasil atau sesuatu

yang dapat diukur. Kinerja akan menjadi faktor penting dalam kemajuan sebuah

instansi atau organisasi, karena semakin baik kinerja karyawan maka akan

berdampak pada kemajuan instansi. Tuntutan akan kinerja karyawan yang

tinggi memang sudah menjadi hal penting untuk semua organisasi. Namun fakta

yang ada sekarang memperlihatkan bahwa belum semua karyawan memiliki

kinerja yang tinggi sesuai dengan harapan perusahaan. Masih banyak terdapat

karyawan yang memiliki kinerja yang rendah (Hidayati dkk 2008). Salah satu

dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan adalah stres

kerja dan kelelahan kerja.

Fenomena yang banyak terjadi adalah banyaknya rumah sakit yang beromba

lomba dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat dan dengan

tujuan untuk menarik kepercayaan dari masyarakat, baik itu berupa fasilitas

yang disediakan dan kualitas tenaga kerjanya. Dalam hal ini peneliti lebih

(17)

mayoritas dari karyawan di rumah sakit, selain itu perawat juga berinteraksi

langsung selama 24 jam penuh dengan pasien.

Penelitian ini mengacu kepada penelitian yang telah dilakukan oleh Satriyo

dan Survival (2014) dengan judul “Stres Kerja Terhadap Burnout Serta

Implikasinya Pada Kinerja” studi kasus terhadap dosen pada Universitas

Widyagama Malang. Hasil dari penelitian yang dilakukan ini menunjukkan

bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara stres kerja terhadap burnout,

terdapat pengaruh yang signifikan antara burnout terhadap kinerja, terdapat

pengaruh yang signifikan antara stres kerja terhadap kinerja dosen.

Dengan mempelajari dan mengidentifikasi stres dan kelelahan kerja

(burnout) pada karyawan di rumah sakit, dapat memiliki implikasi untuk

meningkatkan pemahaman tentang stres dan kelelahan kerja serta untuk

meningkatkan kinerja. Sebagaimana hasil penelitian Colangelo (2004)

menunjukkan bahwa stres kerja berpengaruh positif terhadap burnout dan

implikasinya menurunkan kinerja.

Oleh karena itu, wawasan yang diperoleh dari kajian tentang pengaruh stres

kerja terhadap kelelahan kerja (burnout) dan implikasinya pada kinerja di

kalangan perawat di rumah sakit memiliki potensi terhadap pemberdayaan

perawat dan strategi pengembangan rumah sakit.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik melakukan

penelitian dengan mengambil judul “Analisis Pengaruh Stres Kerja Terhadap

Kelelahan Kerja Serta Implikasinya Pada Kinerja Karyawan”. Alasan memilih

(18)

untuk diteliti karena dapat mengukur tingkat stres kerja dan kelelahan kerja

pada karyawan serta pengaruhnya pada kinerja karyawan di rumah sakit.

B. Permasalahan penelitian

Berdasarkan uraian dari latar belakang permasalahan di atas maka rumusan

masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut

1. Apakah stres kerja berpengaruh terhadap kelelahan kerja karyawan?

2. Apakah kelelahan kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan?

3. Apakah stres kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan?

4. Apakah stres kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan melalui

kelelahan kerja?

C. Tujuan penelitian

1. Untuk menguji pengaruh stres kerja terhadap kelelahan kerja karyawan.

2. Untuk menguji pengaruh kelelahan kerja terhadap kinerja karyawan.

3. Untuk menguji pengaruh stres kerja terhadap kinerja karyawan.

4. Untuk menguji pengaruh stres kerja terhadap kinerja karyawan melalui

kelelahan kerja.

D. Manfaat Penelitian

Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat teoritik

Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai wacana bagi

pembaca dalam pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dibidang

(19)

2. Manfaat praktik

a. Bagi Perusahaan

Dapat dijadikan sebagai pengambilan keputusan bagi perusahaan terkait

untuk mengetahui tingkat stress kerja, kelelahan kerja (burnout) dan

pengaruhnya terhadap kinerja karyawan.

b. Bagi Peneliti

Dapat dijadikan sebagai bahan referensi dan data perbandingan terkait

dengan penelitian yang sejenis yang tengah dilakukan.

c. Bagi Penulis

Untuk meningkatkan pengetahuan yang sudah ada dan membantu

memperjelas teori yang di ajarkan di perkuliahan dengan fenomena yang

(20)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori 1. Stres Kerja

a. Defenisi Stres Kerja

Menurut Kreitner dan Kinicki (2005) stres merupakan suatu respons

yang adaktif, dihubungkan oleh karakteristik dan proses psikologi individu

yang merupakan suatu konsekuensi dari setiap tindakan eksternal, situasi

atau peristiwa yang menempatkan tuntutan psikologis dan fisik pada

seseorang. Menurut Robbins (2007) mendefinisikan bahwa stres sebagai

kondisi yang dinamis di mana seseorang dikonfrontasikan dengan

kesempatan, hambatan, atau tuntutan yang berhubungan dengan apa yang

diinginkannya dan untuk itu keberhasilannya ternyata tidak pasti.

Menurut Gibson et al. (2005) mengemukakan bahwa stres kerja pada

dasarnya dikonseptualisasi dari beberapa titik pandang, yaitu stres sebagai

stimulus, stres sebagai respon dan stres sebagai stimulus-respon. Stres

sebagai stimulus merupakan pendekatan yang menitikberatkan pada

lingkungan. Hasibuan (2009) mengemukakan bahwa stres merupakan

sebuah kondisi yang mempengaruhi emosi, proses berfikir dan kondisi

seseorang, orang yang stres menjadi nervous dan merasakan kekuatiran

(21)

Mangkunegara (2008) mendefenisikan stres kerja sebagai perasaan

tertekan yang dialami karyawan dalam menghadapi pekerjaan. Stres kerja

ini tampak dari sindrom antara lain emosi tidak stabil, perasaan tidak tenang,

suka menyendiri, sulit tidur, merokok yang berlebihan, tidak bisa rileks,

cemas, tegang, gugup, tekanan darah meningkat dan mengalami gangguan

penceranaan”.

Berdasarkan beberapa defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa stres

kerja merupakan sebuah kondisi dimana seseorang mengalami gangguan

pada fisik maupun mental dalam menyelesaikan tugas tugas yang diberikan

dan akan berdampak pada penurunan kinerja pada individu tersebut.

b. Gejala Stres Kerja

Robbins (2007) membagi tiga jenis gejala yang akan ditimbulkan oleh

stres kerja:

1) Gejala fisiologis

Stres menciptakan penyakit-penyakit dalam tubuh yang ditandai

dengan peningkatan tekanan darah, sakit kepala, jantung berdebar,

bahkan hingga sakit jantung.

2) Gejala psikologis

Gejala yang ditunjukkan adalah ketegangan, kecemasan, mudah

marah, kebosanan, suka menunda dan lain sebagainya. Keadaan stres

(22)

3) Gejala perilaku

Stres yang dikaitkan dengan perilaku dapat mencakup dalam

perubahan dalam produktivitas, absensi, dan tingkat keluarnya

karyawan. Dampak lain yang ditimbulkan adalah perubahan dalam

kebiasaan sehari-hari seperti makan, konsumsi alkohol, gangguan

tidur dan lainnya.

c. Sumber-sumber Stres kerja

Sumber stres kerja menurut Gibson dalam Yusianto (2008):

1) Stres Lingkungan Fisik

Tekanan tersebut biasanya berhubungan dengan keadaan lingkungan

fisik yang dapat menimbulkan tekanan pada individu, misalnya lampu

penerangan yang suram, kegaduhan, temperatur yang panas, polusi

udara.

2) Tekanan Individu

Terdiri dari konflik peran, ketidakpastian peran, beban kerja yang

berat, beban tanggung jawab, tidak adanya kemajuan karir, tidak

adanya desain pekerjaan.

3) Tekanan Kelompok

Adanya hubungan kurang baik antara seorang individu dengan rekan

(23)

4) Tekanan Keorganisasian

Partisipasi menyangkut sampai seberapakah pengetahuan orang,

pendapat dan gagasannya dimasukkan dalam proses pengambilan

keputusan.

Menurut Davis, dkk dalam Fauji (2013) yaitu:

1) Beban kerja yang berlebihan. Banyaknya tugas dapat menjadi sumber

stres bila banyaknya tugas tidak sebanding dengan kemampuan fisik

maupun keahlianya.

2) Tekanan atau desakan waktu. Atasan sering kali memberikan tugas

sesuai dengan target waktu yang terbatas.

3) Iklim organisasi. Iklim organisasi yang tidak aman akan

mempengaruhi semangat kerja.

4) Wewenang untuk malaksanakan tanggung jawab. Atasan sering

memberikan tugas kepada bawahanya tanpa diikuti kewenangan yang

memadai. Sehingga, jika harus mengambil keputusan harus

berkonsultasi, kadang menyerahkan sepenuhnya pada atasan.

5) Konflik dan ketaksaan peran. Pada situasi seperti ini orang memiliki

harapan yang berbeda akan kegiatan seseorang karyawan pada suatu

pekerjaan akibat adanya konflik dan ketidakjelasan peran dalam

organisasi, sehingga karyawan tidak tahu apa yang harus dia lakukan

dan tidak dapat memenuhi semua harapan.

6) Perbedaan antara nilai perusahaan dan karyawan, artinya perbedaan

(24)

suatu upaya dilakukan untuk memenuhi nilai kebutuhan perusahaan

dan karyawan.

7) Frustasi. Merupakan suatu akibat dari motivasi yang terhambat dan

mencegah seseorang mencapai tujuan yang diinginkan sehingga

berpengaruh terhadap pola kerja.

Mangkunegara (2008) berpendapat bahwa penyebab stres kerja antara

lain beban kerja yang dirasakan terlalu berat, waktu kerja yang mendesak,

kualitas pengawasan yang rendah, iklim kerja yang tidak sehat, otoritas

kerja yang tidak memadai yang berhubungan dengan tanggung jawab,

konflik kerja, perbedaan nilai antar karyawan dengan pimpinan yang

frustasi dalam kerja.

d. Dampek Stres Kerja

Menurut Gibsons dalam Fauji (2013) dampak stress kerja banyak dan

bervariasi. Dampak positif dari stres kerja diantaranya motifasi pribadi,

rangsangan untuk bekerja lebih keras, dan meningkatnya inspirasi hidup

yang lebih baik.

Cox dalam Fauji (2013) membagi menjadi 5 efek dari stres kerja yaitu:

1) Subyektif, berupa kekawatiran atau ketakutan, agresi, apatis, rasa

bosan, depresi, keletihan, frustasi, kehilangan kendali dan emosi,

penghargaan diri yang rendah dan gugup, kesepian.

2) Perilaku, berupa mudah mendapat kecelakaan, kecanduan alkohol,

penyalahgunaan obat, luapan emosional, makan atau merokok

(25)

3) Kognitif, berupa ketidak mampuan untuk membuat keputusan yang

masuk akal, daya konsentrasi rendah, kurang perhatian, sangat

sensitive terhadap kritik, hambatan mental.

4) Fisiologis, berupa kandungan glukosa darah meningkat, denyut

jantung dan tekanan darah meningkat, mulut kering, berkeringat, bala

mata melebar, panas dan dingin.

5) Organisasi, berupa angka absensi, omset, produktivitas rendah,

terasing dari mitra kerja, serta komitmen organisasi dan loyalitas

berkurang.

2. Kelelahan Kerja (Burnout)

a. Defenisi Burnout

Seseorang yang menderita burnout ditandai dengan seorang individu

tidak mampu mengatasi stres yang dideritanya (Luthan 2011). Menurut

Burke dalam Satriyo dan Survival (2014) burnout merupakan proses

psikologis yang dihasilkan oleh stress akan pekerjaan yang tidak terlepaskan

dan menghasilkan kelelahan emosi, perubahan kepribadian, dan penurunan

dari pencapaian prestasi kerja.

Pines et al. dalam Diaz (2007) mendefinisikan burnout sebagai suatu

keadaan kelelahan secara fisik, emosi dan mental yang disebabkan

keterlibatan dalam jangka waktu yang panjang pada situasi yang secara

(26)

Kreitner et al. (2005) berpendapat bahwa burnout atau kelelahan

merupakan suatu kondisi yang muncul dari waktu ke waktu dan ditandai

dengan kelelahan emosional dan juga kombinasi dari sikap-sikap negatif.

Muslihudin dalam Maharani (2012) Berpendapat bahwa Kejenuhan

kerja (Burnout) adalah suatu kondisi fisik, emosi dan mental yang sangat

drop yang diakibatkan oleh situasi kerja yang sangat menuntut dalam jangka

panjang. Sedangkan menurut Davis dan Newstroom (Dalam Prestiana dan

Purbandini 2012) burnout merupakan suatu situasi dimana individu

menderita kelelahan kronis, kebosanan dan menarik diri dari pekerjaan.

Dari beberapa defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa burnout

merupakan sebuah kondisi dimana seseorang merasa kelelahan baik itu

mental, fisik, dan emosi.

b. Dimensi Burnout

Menurut Maslachdalam Diaz (2007) Burnout mempunyai lima dimensi

utama, yaitu:

1) Kelelahan fisik, ditandai dengan serangan sakit kepala, mual, susah

tidur, kurangnya nafsu makan, dan individu merasakan adanya

anggota badan yang sakit.

2) Kelelahan emosional, ditandai dengan depresi, merasa terperangkap

di dalam pekerjaannya, mudah marah, dan cepat tersinggung.

3) Kelelahan mental, ditandai dengan bersikap sinis terhadap orang lain,

bersikap negatif, cenderung merugikan diri sendiri, pekerjaan,

(27)

4) Rendahnya penghargaan terhadap diri, ditandai dengan individu tidak

pernah merasa puas dengan hasil kerja sendiri, dan merasa tidak

pernah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya maupun

orang lain.

5) Depersonalisasi, ditandai dengan menjauhnya individu dari

lingkungan sosial, apatis, dan tidak peduli dengan lingkungan dan

orang-orang di sekitarnya.

c. Faktor-Faktor Penyebab Burnout

Leiter & Maslach (1997) membagi beberapa faktor yang mempengaruhi

munculnya burnout, yaitu:

1) Work Overloaded

Work overload kemungkinan terjadi akibat ketidaksesuaian antara

pekerja dengan pekerjaannya. Pekerja terlalu banyak melakukan

pekerjaan dengan waktu yang sedikit. Overload terjadi karena

pekerjaan yang dikerjaan melebihi kapasitas kemampuan manusia

yang memiliki keterbatasan. Hal ini dapat menyebabkan menurunnya

kualitas pekerja, hubungan yang tidak sehat di lingkungan pekerjaan,

menurunkan kreativitas pekerja, dan menyebabkan burnout.

2) Lack of Work Control

Semua orang memiliki keinginan untuk memiliki kesempatan dalam

(28)

berfikir dan menyelesaikan masalah, dan meraih prestasi. Adanya

aturan terkadang membuat pekerja memiliki batasan dalam

berinovasi, merasa kurang memiliki tanggung jawab dengan hasil

yang mereka dapat karena adanya kontrol yang terlalu ketat dari

atasan.

3) Rewarded for Work

Kurangnya apresiasi dari lingkungan kerja membuat pekerja merasa

tidak bernilai. Apresiasi bukan hanya dilihat dari pemberian bonus

(uang), tetapi hubungan yang terjalin baik antar pekerja, pekerja

dengan atasan turut memberikan dampak pada pekerja. Adanya

apresiasi yang diberikan akan meningkatkan afeksi positif dari pekerja

yang juga merupakan nilai penting dalam menunjukkan bahwa

seseorang sudah bekerja dengan baik.

4) Breakdown in Community

Pekerja yang kurang memiliki rasa belongingness terhadap

lingkungan kerjanya (komunitas) akan menyebabkan kurangnya rasa

keterikatan positif di tempat kerja. Seseorang akan bekerja dengan

maksimal ketika memiliki kenyamanan, kebahagiaan yang terjalin

dengan rasa saling menghargai, tetapi terkadang lingkungan kerja

melakukan sebaliknya. Ada kesenjangan baik antar pekerja maupun

dengan atasan, sibuk dengan diri sendiri, tidak memiliki quality time

dengan rekan kerja. Terkadang teknologi seperti handphone, computer

(29)

orang disekitar. Hubungan yang baik seperti sharing, bercanda

bersama perlu untuk dilakukan dalam menjalin ikatan yang kuat

dengan rekan kerja. Hubungan yang tidak baik membuat suasana di

lingkungan kerja tidak nyaman, full of anger, frustasi, cemas, merasa

tidak dihargai. Hal ini membuat dukungan sosial menjadi tidak baik,

kurang rasa saling membantu antar rekan kerja.

5) Treated Fairly

Perasaan tidak diperlakukan tidak adil juga merupakan faktor

terjadinya burnout. Adil berarti saling menghargai dan menerima

perbedaan. Adanya rasa saling menghargai akan menimbulkan rasa

keterikatan dengan komunitas (lingkungan kerja). Pekerja merasa

tidak percaya dengan lingkungan kerjanya ketika tidak ada keadilan.

Rasa ketidakadilan biasa dirasakan pada saat masa promosi kerja, atau

ketika pekerja disalahkan ketika mereka tidak melakukan kesalahan.

6) Dealing with Conflict Values

Pekerjaan dapat membuat pekerja melakukan sesuatu yang tidak

sesuai dengan nilai mereka. Misalnya seorang sales terkadang harus

berbohong agar produk yang ditawarkan bisa terjual. Namun hal ini

dapat menyebabkan seseorang menurunkan performa, kualitas

kerjanya karena tidak sesuai dengan nilai yang dimiliki. Seseorang

akan melakukan yang terbaik ketika melakukan apa yang sesuai

dengan nilai, belief, menjaga integritas dan self respect.

(30)

Adapun dampak dari burnout menurut Leiter & Maslach (2005) adalah:

1) Burnout is Lost Energy

Pekerja yang mengalami burnout akan merasa stress dan

overwhelmed atau kewalahan. Pekerja juga akan sulit untuk tidur,

menjaga jarak dengan lingkungan. Hal ini akan mempengaruhi kinerja

dari pekerja. Produktivitas dalam bekerja juga semakin menurun.

2) Burnout is Lost Enthusiasm

Keinginan dalam bekerja semakin menurun, semua hal yang

berhubungan dengan pekerjaan menjadi tidak menyenangkan.

Kreatifitas, ketertarikan terhadap pekerjaan semakin berkurang

sehingga hasil yang diberikan sangat minim.

3) Burnout is Lost Confidence

Tanpa adanya energi dan keterlibatan aktif pada pekerjaan akan

membuat pekerja tidak maksimal dalam bekerja. Pekerja semakin

tidak efektif dalam bekerja yang semakin lama membuat pekerja itu

sendiri merasa ragu dengan kemampuannya. Hal ini akan memberikan

dampak bagi pekerjaan itu sendiri.

3. Kinerja

a. Defenisi Kinerja

Pekerjaan sangat erat kaitannya dengan kinerja. Memahami kinerja maka

(31)

Rosidah (dalam Putra dan Mulyadi, 2010) kinerja adalah terjemahan dari

kata performance yang berasal dari akar kata to perform. kinerja merupakan

catatan out come yang dihasilkan dari fungsi karyawan tertentu atau

kegiatan yangdilakukan selama periode waktu tertentu (Sulistiyani dan

Rosidah, 2003).

Menurut Mangkunegara (2005) kinerja merupakan hasil kerja secara

kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang karyawan dalam

melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan

kepadanya. Dimensi dari kinerja berupa kualitas dari pekerjaan, kuantitas

kerja, dan kontribusi pada organisasi.

Dari beberapa defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja

merupakan suatu hasil pencapaian dari seorang individu yang diukur dari

target yang telah ditentukan.

Indikator untuk mengukur kinerja karyawan secara individu ada 5

indikator, yaitu (Robbins, 2006):

1) Kualitas

Kualitas kerja diukur dari persepsi karyawan terhadap kualitas

pekerjaan yang dihasilkan serta kesempurnaan tugas terhadap

keterampilan dan kemampuan karyawan.

(32)

Merupakan jumlah yang dihasilkan dinyatakan dalam istilah seperti

jumlah unit, jumlah siklus aktivitas yang diselesaikan.

3) Ketepatan waktu

Merupakan tingkat aktivitas diselesaikan pada awal waktu yang

dinyatakan, dilihat dari sudut koordinasi dengan hasil output serta

memaksimalkan waktu yang tersedia untuk aktivitas lain.

4) Efektivitas

Merupakan tingkat penggunaan sumber daya organisasi (tenaga, uang,

teknologi, bahan baku) dimaksimalkan dengan maksud menaikkan hasil

dari setiap unit dalam penggunaan sumber daya.

5) Kemandirian

Merupakan tingkat seorang karyawan yang nantinya akan dapat

menjalankan fungsi kerjanya. Komitmen kerja Merupakan suatu tingkat

dimana karyawan mempunyai komitmen kerja dengan instansi dan

tanggung jawab karyawan terhadap pekerjaan.

b. Faktor – faktor yang mempengaruhi kinerja

Faktor-faktor penentu pencapaian prestasi kerja atau kinerja individu dalam

organisasi menurut Mangkunegara (2005) adalah sebagai berikut:

1) Faktor Individu

Secara psikologis, individu yang normal adalah individu yang memiliki

integritas yang tinggi antara fungsi psikis (rohani) dan fisiknya

(jasmaniah). Dengan adanya integritas yang tinggi antara fungsi psikis

(33)

Konsentrasi yang baik ini merupakan modal utama individu manusia

untu mampu mengelola dan mendayagunakan potensi dirinya secara

optimal dalam melaksanakan kegiatan atau aktivitas kerja sehari-hari

dalam mencapai tujuan organisasi.

2) Faktor Lingkungan Organisasi

Faktor lingkungan kerja organisasi sangat menunjang bagi individu

dalam mencapai prestasi kerja. Faktor lingkungan organisasi yang

dimaksud antara lain uraian jabatan yang jelas, autoritas yang memadai,

target kerja yang menantang, pola komunikasi kerja efektif, hubungan

kerja harmonis, iklim kerja respek dan dinamis, peluang berkarier dan

fasilitas kerja yang relatif memadai.

c. Dampak Kinerja

Dampak dari kinerja karyawan adalah sebagai berikut:

1) Organisasi akan berkembang dengan pesat.

2) Organisasi akan memperoleh target yang telah direncanakan dengan

tepat sasaran.

3) Bisa mengurangi resiko-resiko yang akan terjadi dalam organisasi.

4) Karyawan dalam organisasi tersebut akan semakin solit dan kompak

karena bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mencapai target yang

telah ditetapkan oleh organisasi.

5) Perusahaan di mata publik menjadi baik dan disegani oleh

(34)

B. KERANGKA KONSEPTUAL DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 1. Pengaruh Stres Kerja Terhadap Burnout

Dalam menjalankan aktivitasnya di lingkungan rumah sakit,

tentunya memungkinkan terjadinya stres yang berasal dari faktor internal

dan eksternal. Jika stres kerja yang diderita karyawan meningkat tentunya

akan berdampak pada meningkatnya burnout atau kelelahan yang dialami.

Prestiana dan Purbandini (Dalam Satriyo dan Survival, 2014) dalam

penelitiannya yang menyebutkan bahwa adanya korelasi antara stres kerja

dengan burnout atau kejenuhan yang berarti bahwa adanya hubungan yang

signifikan antara stres kerja dengan burnout.

Hariyono, dkk (2009) dalam penelitiannya yang berjudul “Hubungan

Antara Beban Kerja, Stres Kerja, Dan Tingkat Konflik Dengan Kelelahan

Kerja” menyimpulkan bahwa stres berhubungan secara positif dan

signifikan terhadap kelelahan kerja.

Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis yang dapat disusun sebagai

berikut:

H1: Ada pengaruh yang signifikan Stres kerja terhadap Burnout

Karyawan

2. Pengaruh Burnout Terhadap Kinerja

Asi (2013) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Iklim

Organisasi dan Burnout Terhadap Kinerja Perawat RSUD dr. Doris

Sylvanus Palangkaraya” yang menyimpulkan bahwa burnout memiliki

(35)

lainnya yang dilakukan oleh Gorji (2011) yang berjudul “The Effect of Job

Burnout Dimension on Employees Performance” dengan hasil yang

menunjukkan bahwa selain tingginya kelelahan kerja pada karyawan, faktor

lain seperti kelelahan emosional dan depersonalisasi memiliki beberapa

efek pada kinerja karyawan. Artinya bahwa penurunan kinerja karyawan

karena meningkatnya tingkat kelelahan emosional dan depersonalisasi.

Menurut Pines dan Aroson (1996) mendefinisikan burnoutsebagai

suatu keadaan kelelahan secara fisik, emosi dan mental yang disebabkan

keterlibatan dalam jangka waktu yang panjang pada situasi yang secara

emosional penuh dengan tuntutan. Semakin rendah kelelahan atau burnout

yang diderita maka akan semakin tinggi kinerja dari karyawan. Demikian

sebaliknya, semakin tinggi kelelahan yang diderita maka akan semakin

rendah kinerja karyawan.

Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis yang dapat disusun

sebagai berikut:

H2: Ada pengaruh yang signifikan Burnout terhadap Kinerja

Karyawan

3. Pengaruh Stres Kerja Terhadap Kinerja

Hasil penelitian dari Hidayati, dkk (2008) yang berjudul

“Kecerdasan Emosi, Stres Kerja dan Kinerja Karyawan” dengan hasil yang

menunjukkan bahwa adanya korelasi negatif yang signifikan antara stres

(36)

Satriyo dan survival (2014) dalam penelitiannya yang berjudul

“Stres Kerja Terhadap Burnout Serta Implikasinya Pada Kinerja” dengan

hasil yang menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang signifikan dan

negatif antara stres kerja terhadap kinerja dosen. Semakin tinggi stres yang

diderita seorang individu maka akan berdampak pada penurunan kinerjanya

dan begitupun sebaliknya.

Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis yang dapat disusun

sebagai berikut:

H3: Ada pengaruh yang signifikan Stres Kerja terhadap Kinerja

Karyawan

4. Pengaruh Stres Kerja Terhadap Kinerja Melalui Kelelahan Kerja

Seorang karyawan yang menderita stres yang tinggi akan rentan mengalami

kelelahan kerja (burnout). Karyawan yang telah mengalami kelelahan kerja

(burnout) dengan tingkat yang tinggi maka akan berdampak pada

menurunnya kinerja karyawan.

H4: Ada pengaruh yang signifikan Stres Kerja terhadap Kinerja

Karyawan melalui Kelalahan Kerja

C. Model Penelitian

1. Variabel Penelitian

Penelitian ini menggunakan dua variable yaitu variable independent dan

variable dependent.

(37)

Variabel dependent merupakan variable yang akan menjadi pusat

perhatian peneliti. Dalam penelitian ini yang menjadi variable

dependent adalah: Kinerja Karyawan (Y).

b. Variabel Independent (bebas)

Variabel independent yang dilambangkan dengan (X) merupakan

variabel yang mempengaruhi variabel dependent, baik itu

pengaruhnya secara positif maupun negative. Variabel independent

dalam penelitian ini adalah:

1) Stres Kerja (X1)

2) Kelelahan Kerja atau burnout (X2)

H3

H1 H2

(38)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Obyek dan Subyek Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Unit II

Gamping yang merupakan salah satu instansi rumah sakit yang berada di Jl.

Wates km 5,5 Ambarketawang Gamping Sleman Yogyakarta. Subyek yang

digunakan dalam penelitian ini adalah perawat di PKU Muhammadiyah Unit

II Gamping.

B. Teknik Pengambilan Sampel

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek atau subyek

yang menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti

untuk di pelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sugiyono (1997). Pada

penelitian ini yang menjadi populasinya adalah semua karyawan di Rumah

Sakit PKU Muhammadiyah Unit II.

Sampel penelitian adalah sebagian populasi yang diambil sebagai sumber

data dan dapat mewakili seluruh populasi. Sugiyono (1997) memberikan

pengertian bahwa sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang

di miliki oleh populasi. Sampel adalah sebagian dari atau wakil populasi yang

diteliti (Arikunto, 2010). Pada penelitian ini yang menjadi sampel adalah

perawat yang bekerja di PKU Muhammadiyah Unit II. Untuk menentukan

(39)

sehingga penelitianya penelitian populasi. Jika subyek lebih besar dapat

diambil antara 20-25% (Arikunto, 2002).

Teknik pengambilan sampelnya yaitu purposive sampling. Penarikan

sampel ini dilakukan secara sengaja sesuai dengan persyaratan sampel yang

diperlukan. Dengan kata lain teknik ini merupakan suatu proses pengambilan

sampel dengan menentukan terlebih dahulu jumlah sampel yang hendak

diambil, kemudian pemilihan sampel dilakukan dengan berdasarkan

tujuan-tujuan tertentu, asalkan tidak menyimpang dari ciri-ciri sampel yang

ditetapkan.

Kriteria sampel yang disyaratkan oleh peneliti adalah perawat yang bekerja

di Ruang ICU, IGD, dan Kamar Operasi dengan rincian 14 orang di bangsal

ICU, 19 orang di bangsal IGD, dan 10 orang di bangsal Kamar Operasi. Kriteria

tersebut diambil dengan pertimbangan bahwa perawat yang bekerja di bangsal

tersebut rentan terkena dampak psikologis seperti stres kerja dan kelelahan

kerja (burnout) karena mereka dituntut untuk selalu profesional sesuai dengan

standar kerja yang tinggi.

C. Jenis Data dan Teknik Pengumpulan Data 1. Jenis Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, data

primer tersebut berupa jawaban-jawaban atas pernyataan mengenai stres

(40)

2. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan

metode kuisioner serta dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap

objek penelitian. Data penelitian berupa hasil tabulasi kuisioner tentang

persepsi karyawan terhadap stres kerja, kelelahan kerja (burnout), dan

kinerja. Data diperoleh dengan cara menyebarkan kuesioner pada perawat

di lingkungan PKU Muhammadiyah Unit II. Untuk penyebarannya,

kuesioner diantar ke setiap unit kerja yang menjadi kriteria dan

menyerahkan kuesioner kepada supervisor yang bertanggung jawab di

ruang ICU, IGD, dan Kamar Operasi.

D. Defenisi Operasional Variabel

Berikut merupakan definisi operasional variabel dan indikator yang

digunakan dari variabel- variabel yang tertera pada Tabel 1, yaitu:

Tabel 5.1

Defenisi Operasional dan Indikator

No. Variabel Definisi

(41)
(42)

E. Uji Kualitas Instrumen 1. Uji Validitas

Uji validitas dilakukan untuk mengetahui bahwa data yang

terkumpul sudah valid atau dapat digunakan untuk mengukur apa yang

seharusnya diukur. Sehingga peneliti dapat mengetahui seberapa jauh

responden menjawab sesuai yang diinginkan peneliti. Data penelitian tidak

akan berguna apabila instrument yang digunakan untuk mengumpulkan data

penelitian itu tidak memiliki validitas yang tinggi.

Dalam penentuan layak atau tidaknya suatu item yang akan

digunakan, ada dua kriteria untuk menilai apakah outer model memenuhi

syarat validitas yaitu dengan loading diatas 0,6 (Chin dalam Ghozali 2006)

2. Uji Reliabilitas (Keandalan)

Uji reliabilitas adalah untuk mengetahui sejauh mana instruments

dalam hal ini yaitu kuisioner dapat digunakan lebih dari satu kali dan

menghasilkan data yang konsisten. Dalam setiap penelitian, sering terjadi

adanya kesalahan pengukuran yang cukup besar. Suatu penelitian dapat

dipercaya apabila dalam beberapa kali pengukuran terhadap suatu

kelompok dengan subyek yang sama akan menghasil kan hasil yang sama.

Dalam pengujian ini, uji reliabilitas dilakukan dengan melihat nilai

composite reliability dan average variance extracted. Menurut Chin dalam

Ghozali (2013) konstruk dikatakan memiliki reabilitas yang tinggi jika nilai

(43)

F. Uji Hipotesis dan Analisis Data

Dalam penelitian ini analisis data menggunakan pendekatan Partial Least

Square (PLS). PLS adalah model persamaan Structural Equation Modeling

(SEM) yang berbasis komponen atau varian. Menurut Ghozali (2006), PLS

merupakan pendekatan alternatif yang bergeser dari pendekatan SEM berbasis

kovarian menjadi berbasis varian. SEM yang berbasis kovarian umumnya

menguji kausalitas atau teori, sedangkan PLS lebih bersifat predictive model.

PLS merupakan metode analisis yang powerfull (Ghozali, 2006), karena tidak

didasarkan pada banyak asumsi. Misalnya, data harus terdistribusi normal,

sampel tidak harus besar. Selain dapat digunakan untuk mengkonfirmasi teori,

PLS juga dapat digunakan untuk menjelaskan ada tidaknya hubungan antar

variabel laten. PLS dapat sekaligus menganalisis konstruk yang dibentuk

dengan indikator reflektif dan formatif.

Menurut Ghozali (2006) tujuan PLS adalah membantu peneliti untuk tujuan

prediksi. Model formalnya mendefinisikan variabel laten adalah linear agregat

dari indikator-indikatornya. Weight estimate untuk menciptakan komponen

skor variabel laten didapat berdasarkan bagaimana inner model (model

struktural yang menghubungkan antar variabel laten) dan outer model (model

pengukuran yaitu hubungan antara indikator dengan konstruknya)

dispesifikasi. Hasilnya adalah residual variance dari variabel dependen.

Estimasi parameter yang didapat dengan PLS dapat dikategorikan menjadi

tiga. Pertama, adalah weight estimate yang digunakan untuk menciptakan skor

(44)

menghubungkan variabel laten dan antar variabel laten dan indikatornya

(loading). Ketiga, berkaitan dengan means dan lokasi parameter (nilai

konstanta regresi) untuk indikator dan variabel laten. Untuk memperoleh ketiga

estimasi ini, PLS menggunakan prosesiterasi 3 tahap dan setiap tahap iterasi

menghasilkan estimasi. Tahap pertama, menghasilkan weight estimate, tahap

kedua menghasilkan estimasi untuk inner model dan outer model, dan tahap

ketiga menghasilkan estimasi means dan lokasi (Ghozali, 2006).

1. Model Struktural atau Inner Model

Inner model (inner relation, structural model dan substantive theory)

menggambarkan hubungan antara variabel laten berdasarkan pada teori

substantif. Model struktural dievaluasi dengan menggunakan R-square

untuk konstruk dependen.

Dalam menilai model dengan PLS dimulai dengan melihat R-square

untuk setiap variabel laten dependen. Interpretasinya sama dengan

interpretasi pada regresi. Perubahan nilai R-square dapat digunakan untuk

menilai pengaruh variabel laten independen tertentu terhadap variabel laten

dependen apakah mempunyai pengaruh yang substantif (Ghozali, 2006).

2. Model Pengukuran atau Outer Model

Convergent validity dari model pengukuran dengan model reflektif

indikator dinilai berdasarkan korelasi antara item score/component score

dengan construct score yang dihitung dengan PLS. Ukuran reflektif

dikatakan tinggi jika berkorelasi lebih dari 0,70 dengan konstruk yang ingin

(45)

skala pengukuran nilai loading 0,60 dianggap cukup (Chin, dalam Ghozali,

2006). Discriminant validity dari model pengukuran dengan reflektif

indikator dinilai berdasarkan cross loading pengukuran dengan konstruk.

Jika korelasi konstruk dengan item pengukuran lebih besar. daripada ukuran

konstruk lainnya, maka akan menunjukkan bahwa konstruk laten

memprediksi ukuran pada blok yang lebih baik daripada ukuran blok

lainnya.

Metode lain untuk menilai discriminant validity adalah

membandingkan nilai square root of Average Variance Extracted (AVE)

setiap konstruk dengan korelasi antara konstruk lainnya dalam model. Jika

nilai akar AVE setiap konstruk lebih besar daripada nilai korelasi antar

konstruk dengan konstruk lainnya dalam model, maka dikatakan memiliki

nilai discriminant validity yang baik. Pengukuran ini dapat digunakan untuk

mengukur reabilitas component score variabel laten dan hasilnya lebih

konservatif dibandingkan dengan composite reability. Direkomendasikan

nilai AVE harus lebih besar 0,50 (Fornnel dan Larcker dalam Ghozali,

2006). Composite reability yang mengukur suatu konstruk dapat dievaluasi

dengan dua macam ukuran yaitu internal consistency dan Cronbach’s Alpha

(Ghozali,2006).

(46)

Di dalam penelitian ini terdapat variabel intervening yaitu kelelahan

kerja atau burnout. Menurut Baron dan Kenny dalam Ghozali (2009) suatu

variabel disebut variabel intervening jika variabel tersebut ikut

mempengaruhi hubungan antara variabel prediktor (independen) dan

variabel kriterion (dependen). Pengujian hipotesis mediasi dapat dilakukan

dengan prosedur yang dikembangkan oleh Sobel (1982) dan dikenal dengan

uji Sobel (Sobel test). Uji sobel dilakukan dengan cara menguji kekuatan

pengaruh tidak langsung variable independen (X) ke variabel dependen (Y)

melalui variabel intervening (M). Pengaruh tidak langsung X ke Y melalui

M dihitung dengan cara mengalikan jalur X→M (a) dengan jalur M→Y (b)

atau ab. Jadi koefisien ab = (c –c’), dimana c adalah pengaruh X terhadap

Y tanpa mengontrol M, sedangkan c’ adalah koefisien pengaruh X terhadap

Y setelah mengontrol M. Standard error koefisien a dan b ditulis dengan Sa

dan Sb, besarnya standard error pengaruh tidak langsung (indirect effect)

Sab dihitung dengan rumus dibawah ini:

Sab = √(b² Sa² + a² Sb² + Sa² Sb²)

Untuk menguji signifikansi pengaruh tidak langsung, maka kita

perlu menghitung nilai t dari koefisien ab dengan rumus sebagai berikut:

ab

t = _____

(47)

Nilai t hitung ini dibandingkan dengan nilai t tabel yaitu >= 1,96.

Jika nilai t hitung lebih besar dari nilai t tabel maka dapat disimpulkan

(48)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Obyek Penelitian 1. Sejarah Umum

Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta milik Pimpinan

Pusat Muhammadiyah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan sebagai Ketua

Persyarikatan Muhammadiyah atas inisiatif muridnya, K.H. Sudjak, yang

pada awalnya berupa klinik dan poliklinik pada tanggal 15 Februari 1923

dengan lokasi pertama di kampung Jagang Notoprajan No.72 Yogyakarta.

Awalnya bernama PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) dengan

maksud menyediakan pelayanan kesehatan bagi kaum dhuafa’. Pendirian pertama atas inisiatif H.M. Sudjak yang didukung sepenuhnya oleh K.H.

Ahmad Dahlan. Seiring dengan waktu, nama PKO berubah menjadi PKU

(Pembina Kesejahteraan Umat).

Pada tahun 1928 klinik dan poliklinik PKO Muhammadiyah pindah

lokasi ke Jalan Ngabean No.12 B Yogyakarta (sekarang Jalan K.H. Ahmad

Dahlan). Pada tahun 1936 klinik dan poliklinik PKO Muhammadiyah

pindah lokasi lagi ke Jalan K.H. Dahlan No. 20 Yogyakarta hingga saat ini.

Pada tahun 1970-an status klinik dan poliklinik berubah menjadi RS PKU

Muhammadiyah Yogyakarta.

Bersamaan dengan berkembangnya berbagai amal usaha di bidang

kesehatan, termasuk di dalamnya adalah RS PKU Muhammadiyah

(49)

usaha Muhammadiyah bidang kesehatan melalui Surat Keputusan

Pimpinan Pusat Muhammadiyah No 86/SK-PP/IV-B/1.c/1998 tentang

Qaidah Amal Usaha Muhammadiyah Bidang Kesehatan. Dalam Surat

Keputusan tersebut diatur tentang misi utamanya untuk meningkatkan

kemampuan masyarakatagar dapat mencapai derajat kesehatan yang lebih

baik, sebagai bagian dari upaya menuju terwujudnya kehidupan yang

sejahtera dan sakinah sebagaimana dicita-citakan Muhammadiyah. Qaidah

inilah yang menjadi dasar utama dalam menjalankan organisasi RS PKU

Muhammadiyah Yogyakarta.

Berbagai perubahan yang berkembang di luar lingkungan maupun

yang terjadi secara internal di dalam organisasi RS PKU Muhammadiyah.

tentang keselamatan pasien, keterbatasan akses pelayanan kesehatan pada

sebagian masyarakat tertentu, perkembangan ilmu dan teknologi, huge

burden disease, hingga semakin terbukanya batas-batas informasi yang

berimbas terhadap makin kritisnya pelanggan terhadap pelayanan

kesehatan serta perubahan regulasi pemerintah, diantisipasi dengan

berbagai langkah dari perbaikan saran prasarana dan Sumber Daya Insani,

sehingga menjadikan RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta selain mampu

bersaing dengan sarana pelayanan kesehatan yang lain juga patuh terhadap

(50)

2. Visi dan Misi a. Visi

Falsafah RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

1. Misi dakwah islam amar ma’ruf nahi munkar

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru

kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah

dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung

(QS Ali Imran 104)

2. Keyakinan dasar dalam pelayanan kesehatan

Dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkan aku (QS.

Asy-Syuara:80)

3. Peningkatan mutu pelayanan yang berkelanjutan dengan

mengutamakan keselamatan pasien

Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan

(azab) Tuhan mereka, Maka berlomba-lombalah (dalam membuat)

kebaikan..

4. Perwujudan Iman dan amal shaleh

Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan,

kelak (Allah) yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa kasih

sayang (dalam hati mereka) (QS Maryam : 96)

5. Sebagai tugas sosial

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan

(51)

pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya

Allah Amat berat siksa-Nya (QS Al Maaidah : 2)

Falsafah tersebut tentu saja harus sejalan dengan visi RS PKU

Muhamadiyah Yogyakarta sebagai berikut :

Menjadi rumah sakit Muhammadiyah rujukan terpercaya dengan

kualitas pelayanan yang Islami, bermutu dan terjangkau

b. Misi

Dalam rangka mewujudkan visi tersebut maka RS PKU

Muhammadiyah menerapkan misi sebagai berikut:

1. Memberikan pelayanan kesehatan paripurna bagi semua lapisan

masyarakat sesuai dengan peraturan/ketentuan

perundang-undangan.

2. Menyelenggarakan upaya peningkatan mutu Sumber Daya Insani

melalui pendidikan dan pelatihan secara profesional yang sesuai

ajaran Islam.

3. Melaksanakan da’wah Islam, amar ma’ruf nahi munkar melalui

pelayanan kesehatan, yang peduli pada kaum dhuafa’.

B. Hasil Penyebaran Kuesioner

Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Unit II

Gamping dengan mengambil subyek perawat yang bekerja di bangsal IGD,

ICU, dan Kamar Operasi di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Unit II

Gamping. Jumlah kuesioner yang dibagikan sebanyak 43 kuesioner yang

(52)

responden di ICU, dan 10 orang responden di kamar operasi. Pengisian

kuesioner dilakukan saat itu juga dan dilakukan pengecekan kelengkapannya

sehingga terkumpul seluruhnya dan layak untuk dianalisis karena telah diisi

secara lengkap.

C. Profil Responden

Gambaran profil responden berdasarkan jenis kelamin, usia, masa kerja,

dan pendidikan disajikan pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1. Profil Responden

Dasar Klasifikasi Sub Klasifikasi Jumlah Prosentase (%) Jenis kelamin Pria

Wanita Sumber: Data primer diolah.

Tabel 4.1 menunjukkan jumlah responden wanita lebih banyak dibanding

responden pria yaitu sebesar 62,8%. Usia responden terbanyak pada rentang

usia 31-40 tahun sebesar 44,2%. Sebagian besar responden telah bekerja

selama 4-10 tahun sebesar 58,1%. Presentase terbesar tingkat pendidikan

(53)

D. Analisis Data

Teknik pengolahan data dengan menggunakan Partial Least Square

(PLS) memerlukan 2 tahap untuk menilai Fit Model dari sebuah model

penelitian (Ghozali, 2006). Tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut:

1. Menilai Outer Model atau Measurement Model

Terdapat dua kriteria di dalam penggunaan teknik analisa data dengan

SmartPLS untuk menilai outer model yaitu Convergent Validity dan

Composite Reliability. Convergent validity dari model pengukuran dengan

refleksif indikator dinilai berdasarkan korelasi antara item score/component

score yang diestimasi dengan Soflware PLS. Ukuran refleksif individual

dikatakan tinggi jika berkorelasi lebih dari 0,70 dengan konstruk yang

diukur. Namun menurut Chin dalam Ghozali (2006) untuk penelitian tahap

awal dari pengembangan skala pengukuran nilai loading 0,6.

Tabel 4.2

Outer Loadings (Measurement Model) Item Loading factor Keterangan Stress1 0.647860 Valid

(54)

Burnout9 0.622588 Valid Burnout10 0.622085 Valid Burnout11 0.761528 Valid Burnout12 0.678831 Valid Burnout13 0.687078 Valid Burnout14 0.663383 Valid Burnout15 0.654433 Valid Burnout16 0.422884 Tidak valid

Kinerja1 0.761444 Valid Kinerja2 0.712712 Valid Kinerja3 0.754094 Valid Kinerja4 0.602846 Valid Kinerja5 0.766229 Valid Kinerja6 0.647194 Valid Kinerja7 0.686428 Valid Kinerja8 0.772463 Valid Kinerja9 0.605750 Valid Kinerja10 0.647665 Valid Kinerja11 0.762789 Valid Kinerja12 0.515566 Tidak valid Kinerja13 0.861729 Valid Kinerja14 0.749564 Valid Sumber: Pengolahan data dengan PLS

Hasil pengolahan dengan menggunakan SmartPLS dapat dilihat pada

Tabel 4.2. Variabel stres kerja, dari dua belas indikator sebelas indicator

valid karena memiliki loading factor di atas 0,6 sedangkan satu indikator

(Stres) tidak valid karena memiliki nilai loading factor di bawah 0,60.

Variabel kelelahan kerja (burnout), dari 16 indikator terdapat dua

indikator yang tidak valid yaitu Burnout1 (loading factor 0,558126) dan

Burnout16(loading factor 0,422884). Sedangkan empat belas indikator lainnya valid karena memiliki loading factor > 0,6.

Variabel kinerja, dari 14 indikator sebanyak 1 indikator tidak valid

yaitu Kinerja12 (loading factor 0,515566). Sedangkan 13 indikator lainnya

valid karena memiliki loading factor > 0,6.

Selanjutnya dilakukan modifikasi model dengan mengeluarkan

indikator-indikator yang tidak valid.

(55)

Outer Loadings (Measurement Model)

Setelah Penghapusan Indikator Tidak Valid (Putaran 2) Item Loading factor Keterangan Stress1 0.650682 Valid

(56)

Pada model modifikasi sebagaimana pada tabel 4.3 tersebut

menunjukkan bahwa tidak ada indicator yang memiliki loading factor di

bawah 0,60, sehingga konstruk untuk semua variabel sudah tidak ada yang

dieliminasi dari model.

2. Mengevaluasi Reliability dan Average Variance Extracted (AVE)

Kriteria validity dan reliabilitas juga dapat dilihat dari nilai reliabilitas

suatu konstruk dan nilai Average Variance Extracted (AVE) dari

masing-masing konstruk. Menurut Ghozali (2006) Konstruk dikatakan memiliki

reliabilitas yang tinggi jika nilainya 0,70 dan AVE berada diatas 0,50. Pada

tabel 4.4 akan disajikan nilai Composite Reliability dan AVE untuk seluruh

variabel.

Tabel 4.4.

Composite Reliability dan Average Variance Extracted

Composite Reliability

Average Variance Extracted (AVE)

Stress 0.940512 0.532136

Burnout 0.934394 0.525343

Kinerja 0.941641 0.596095

Berdasarkan tabel 4.4 dapat disimpulkan bahwa semua konstruk

memenuhi kriteria reliabel. Hal ini ditunjukkan dengan nilai composite

reliability di atas 0,70 dan AVE diatas 0,50 sebagaimana kriteria yang

(57)

3. Statistik Deskriptif

Hasil pengukuran variabel penelitian dihitung dari skor dari setiap

responen kemudian dijumlahkan dan dianalisis dengan kategori sebagai

berikut:

a. Menentukan jarak interval kelas

Skor maksimal: 5

Skor minimal: 1

Banyak kelas: 5

Skor maksimal - skor minimal 5 - 1

Interval = = = 0,8 Banyak kelas 5

b. Penggolongan kategori skor mean:

1 - < 1,8 : Sangat rendah

1,8 - < 2,6 : Rendah

2,6 - < 3,4 : Sedang

3,4 – < 4,2 : Tinggi

4,2 – 5,0 : Sangat Tinggi

Statistik deskriptif hasil penyebaran kuesioner yang meliputi mean,

standar deviasi, nilai minimal dan maksimal masing-masing variabel

(58)

Tabel 4.5.

Statistik Deskriptif Stres Kerja

Item Pertanyaan N Min Max Mean Standar

Deviasi Terlalu banyak pekerjaan non keperawatan 43 2 4 2.81 0.588 Tetap melakukan pekerjaan dengan kurang persiapan 43 2 4 2.79 0.559 Tidak cukup waktu menyelesaikan pekerjaan 43 2 4 2.88 0.625 Kurangnya kesempatan berbagi pengalaman dan perasaan 43 2 4 2.74 0.581 Kurangnya kesempatan mengekpresikan perasaan negative 43 2 4 2.88 0.586

Kritik dari supervisor 43 2 4 2.88 0.498

Kritik dari dokter 43 2 4 2.91 0.479

Kesulitan bekerja dengan perawat tertentu pada unit yang sama

43 2 4 2.65 0.573

Takut membuat kesalahan dalam penanganan pasien 43 2 4 2.95 0.532

Kesulitan bekerja dengan perawat tertentu di luar unit 43 2 4 2.88 0.586 Mendapat cukup kesempatan untuk mengekpresikan

frustasi

43 2 4 2.91 0.526

total stres kerja 43 2.00 4.00 2.8460 0.42772

Sumber: Hasil analisis data.

Tabel 4.5 menunjukkan rata-rata terendah pada jawaban pertanyaan

stres8 (2,65) dan rata-tata tertinggi pada jawaban pertanyaan stres9 (2,95).

Rata-rata variabel stres kerja secara keseluruhan sebesar 2,85. Nilai tersebut

berada pada interval 2,6 - < 3,4. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum

perawat di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Unit II Gamping memiliki

(59)

Tabel 4.6.

Statistik Deskriptif Kelelahan Kerja

Item Pertanyaan N Min Max Mean Standar

Deviasi Sebelum melakukan pekerjaan saya sudah

merasa kelelahan

43 2 4 2.56 0.629

Merasa sukar berfikir 43 2 4 2.60 0.583

Merasa lelah berbicara 43 2 4 2.60 0.583

Penurunan daya pikir dalam mengerjakan pekerjaan Tidak mempunyai perhatian terhadap pekerjaan 43 2 4 2.60 0.583

Enggan menatap mata orang 43 2 4 2.58 0.587

total burnout 43 2.00 3.93 2.6474 0.47675

Sumber: Hasil analisis data.

Tabel 4.6 menunjukkan rata-rata terendah pada jawaban pertanyaan

Burnout2 (2,65) dan rata-tata tertinggi pada jawaban pertanyaan Burnout13

(2,84). Rata-rata variabel kelelahan kerja secara keseluruhan sebesar 2,65.

Nilai tersebut berada pada interval 2,6 - < 3,4. Hal ini menunjukkan bahwa

secara umum perawat di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Unit II

(60)

Tabel 4.7.

Statistik Deskriptif Kinerja

Item Pertanyaan N Min Max Mean Standar

Deviasi

Menyelesaikan tugas dengan rasa tanggung jawab 43 3 5 4.21 0.600

Pengetahuan akan pekerjaan dapat membantu mengatasi masalah yang muncul saat bekerja

43 3 5 3.93 0.457

Kreatifitas yang tinggi 43 3 5 4.00 0.436

Inisiatif dalam menyelesaikan pekerjaan 43 3 5 3.84 0.574

Mengutamakan kepentingan kelompok dari pada pribadi 43 3 5 3.95 0.434 Selalu berusaha mencapai target dari perusahaan 43 3 5 3.93 0.593 Bekerja sesuai dengan standar mutu dari instansi 43 3 5 3.86 0.413

Terbuka terhadap kritik atau saran 43 3 5 4.00 0.535

Menyelesaikan pekerjaan sesuai target waktu 43 3 5 3.84 0.433

Hadir tepat waktu sesuai jadwal 43 3 5 3.91 0.479

Mengerjaan pekerjaan dengan efektif dan efisien 43 3 5 3.93 0.507 Bersedia bekerja sama dengan anggota perusahaan 43 3 5 4.02 0.462 Fokus dalam bekerja walaupun tidak adanya atasan 43 2 5 3.98 0.556

total kinerja 43 2.79 4.29 3.6705 0.33304

Sumber: Hasil analisis data.

Tabel 4.7 menunjukkan rata-rata terendah pada jawaban pertanyaan

Kinerja4 dan Kinerja9 (3,84) dan rata-tata tertinggi pada jawaban

pertanyaan Kinerja1 (4,21). Rata-rata variabel kinerja secara keseluruhan

sebesar 3,67. Nilai tersebut berada pada interval 3,4 - < 4,2. Hal ini

menunjukkan bahwa secara umum perawat di Rumah Sakit PKU

Muhammadiyah Unit II Gamping memiliki kinerja kategori baik.

4. Pengujian Model Struktural (Inner Model)

Pengujian inner model atau model struktural dilakukan untuk melihat

hubungan antara konstruk, nilai signifikansi dan R-square dari model

penelitian. Model struktural dievaluasi dengan menggunakan R-square

untuk konstruk dependen uji t serta signifikansi dari koefisien parameter

(61)

Gambar 4.1 Model Struktural

Dalam menilai model dengan PLS dimulai dengan melihat R-square

untuk setiap variabel laten dependen. Tabel 4.8 merupakan hasil estimasi

R-square dengan menggunakan SmartPLS

Tabel 4.8 Nilai R-Square

Var R-Square

Burnout 0.289762

Kinerja 0.513607

Sumber: Hasil analisis data.

Pada prinsipnya penelitian ini menggunakan 2 buah variabel yang

dipengaruhi oleh variabel lainnya yaitu variabel Kelelahan kerja (Burnout)

yang dipengaruhi oleh Stres kerja (Stres) dan variabel Kinerja (Kinerja)

Gambar

Tabel 5.1 Defenisi Operasional dan Indikator
Tabel 4.1.
Tabel 4.2 Outer Loadings (Measurement Model)
Tabel 4.2. Variabel stres kerja, dari dua belas indikator sebelas indicator
+6

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kelelahan kerja dengan stress kerja kerja pada perawat bagian rawat inap Rumah Sakit Islam

Tujuan umum yang ingin diketahui dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan beban kerja dengan kelelahan kerja pada perawat di unit rawat inap Rumah

Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa motivasi dan komitmen berpengaruh terhadap Prestasi Kerja perawat Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta Dari hasil ini

Tujuan umum yang ingin diketahui dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan beban kerja dengan kelelahan kerja pada perawat di unit rawat inap Rumah

Hasil dari analisis multivariat regresi linier menunjukkan bahwa stres kerja menghasilkan korelasi dan variabel determinan perasaan kelelahan pada perawat di rumah

Hasil penelitian menemukan bahwa sebagian besar atau sebesar 83,8% responden perawat di Ruang Rawat Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit PKU Muhammadiyah

Sedangkan hasil analisis bivariat mengenai hubungan sikap kerja dengan keluhan low back pain pada perawat rawat inap di rumah sakit PKU Muhammadiyah Surakarta

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adahubungan beban kerja dan stres kerja dengan kelelahan kerja pada perawat di instalasi bedah sentral Rumah Sakit Umum