HOMOFILI PETANI DAN PENYULUH SERTA
PENGARUHNYA TERHADAP PENERAPAN INOVASI
(Kasus pada Program Sekolah Lapang Pengelolaan
Tanaman Terpadu Padi di Kecamatan Kumpeh Ulu,
Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi)
M. YUDA RAMDANI
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis “Homofili Petani dan Penyuluh serta Pengaruhnya terhadap Penerapan Inovasi : Kasus pada Program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi di Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi” adalah karya saya sendiri dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustka di bagian akhir tesis ini.
Bogor, Januari 2012
ABSTRACT
M. YUDA RAMDANI. Homophily of Farmers and Extension Workers and Its Influence on Adoption of Innovations (A Case in the Field School of Rice Integrated Crop Management in Kumpeh Ulu Districts, Muarojambi Counties, Jambi Province). Under the direction of DJUARA P. LUBIS and PANG S. ASNGARI.
Communication process has a very important role in extension activities in order to achieve behavior change. One of the most obvious and fundamental principles of human communication is that the exchange of messages most frequently occurs between a source and a receiver who are alike, similar and homophily. Homophily is conceptualized at two levels, on the basis of measurement: (1) subjective, the degree to which a source or receiver perceives the dyad as similar in attributes; and (2) objective, the degree of observable similarity between source and receiver. The purpose of this research was to assess the influence of homophily level between farmers and extension worker of adoption of innovation in rice integrated crop management program. This research was a descriptive analytical survey. The primary data in this study were obtained from interviews with 166 farmer beneficiaries and 7 extension workers. The data obtained were analyzed using Kendall Tau-b correlation test (τ). Correlation of test results conclude that: (1) the objective homophily level of farmers and extension worker in general have a real relationship with the subjective homophily level of farmer and extension worker; (2) the objective homophily level of farmers and extension workers in general do not have a real relationship with the adoption of innovation level of rice integrated crop management except experiences and attitudes; and (3) the subjective homophily level of farmer and extension workers in general have a strong relationship with the adoption of innovation level of rice integrated crop management.
RINGKASAN
M. YUDA RAMDANI. Homofili Petani dan Penyuluh serta Pengaruhnya terhadap Penerapan Inovasi (Kasus pada Program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi di Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi). Dibimbing oleh DJUARA P. LUBIS dan PANG S. ASNGARI.
Departemen Pertanian telah meluncurkan program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) padi dalam upaya mensukseskan program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2NB) yang bertujuan untuk mencapai dan mempertahankan swasembada beras. SL-PTT padi sebagai suatu bentuk kegiatan penyuluhan perlu memperhatikan proses komunikasi yang berlangsung dalam pelaksanaan kegiatannya. Komunikasi merupakan elemen utama dan terpenting dalam proses perubahan perilaku. Prinsip utama komunikasi antar manusia adalah bahwa transfer ide yang paling sering terjadi adalah berada di antara komunikator dan komunikan yang sama, mirip dan homophilous.
Homofili dan heterofili dikonseptualisasikan atas dasar pengukuran menjadi dua tingkatan, yaitu: (1) subjektif, yaitu tingkatan kesamaan sumber dan penerima dalam memandang suatu objek; dan (2) objektif, yaitu tingkat kesamaan diamati dari karteristik sumber dan penerima. Keberhasilan kegiatan SL-PTT ini dapat dipengaruhi oleh proses komunikasi antara penyuluh dengan petani. Tingkat homofili petani dan penyuluh diduga dapat mempengaruhi efektivitas komunikasi antara penyuluh dan petani sehingga mempengaruhi tingkat penerapan inovasi dari petani. Tujuan dari penelitian ini adalah: (a) mengkaji tingkat homofili petani dan penyuluh dalam kegiatan SL-PTT padi; (b) mengkaji tingkat penerapan inovasi PTT padi oleh petani; (c) menganalisis hubungan tingkat homofili objektif petani dan penyuluh dengan tingkat homofili subjektif petani dan penyuluh; dan (d) menganalisis hubungan tingkat homofili petani dan penyuluh dengan tingkat penerapan inovasi PTT padi.
kemudian dianalisis menggunakan Uji Korelasi Tau-b Kendall (τ) dengan bantuan perangkat lunak SPSS 18.
Penelitian menunjukkan bahwa tingkat homofili objektif petani dan penyuluh berada pada ketegori: (1) tinggi pada karakteristik umur, jenis kelamin, status sosial, dan status ekonomi; (2) sedang pada karakteristik pendidikan formal, kepercayaan, dan sikap; dan (3) rendah pada karakteristik pengalaman budidaya dan etnis. Tingkat homofili subjektif petani dan penyuluh berada pada kategori : (1) tinggi pada persepsi tentang inovasi varietas unggul, benih, bahan organik, sistem pengairan berselang, pengendalian gulma terpadu, dan pengendalian hama penyakit terpadu; (2) sedang pada persepsi tentang inovasi umur dan jumlah bibit, sistem tanam, dan penanganan panen dan pascapanen; dan (3) tidak ada yang termasuk dalam katagori rendah. Tingakt homofili subjektif petani dan penyuluh secara keseluruhan berada pada kategori tinggi.
Tingkat penerapan inovasi PTT padi oleh petani terbagi menjadi tiga kategori yaitu : (1) tinggi pada penerapan inovasi varietas unggul, benih bermutu, penggunaan umur dan jumlah bibit, sistem tanam, dan bahan organik; (2) sedang pada penerapan inovasi sistem pengairan berselang, pengendalian gulma terpadu, pengendalian hama penyakit terpadu, dan penanganan panen dan pascapanen; dan (3) tidak ada penerapan inovasi yang termasuk dalam kategori rendah. Tingkat penerapan inovasi secara keseluruhan berada pada kategori sedang.
Hubungan antara homofili objektif dengan homofili subjektif adalah nyata yaitu pada pada kesamaan karakteristik umur (0.27), jenis kelamin (0.14), pendidikan (0.18), pengalaman (0.31), etnis (0.23), kepercayaan (0.35), dan sikap (0.63) dengan kesamaan persepsi tentang PTT padi secara Keseluruhan. Hubungan antara homofili objektif dengan tingkat penerapan PTT padi adalah nyata pada hubungan kesamaan karakteristik pengalaman (0.25) dan sikap (0.22) dengan tingkat penerapan PTT padi, sedangkan kesamaan karakteristik lainnya tidak berhubungan secara nyata dengan tingkat penerapan PTT padi. Hubungan antara homofili subjektif dengan tingkat penerapan PTT padi adalah nyata pada hubungan kesamaan persepsi tentang varietas unggul (0.65), penggunaan benih bermutu (0.23), penggunaan umur dan jumlah bibit (0.58), sistem tanam (0.44), penggunaan bahan organik (0.16), pengendalian gulma terpadu (0.39), dan penangan panen dan pascapenen (0.19) dengan tingkat penerapan PTT padi.
Homofili petani dan penyuluh telah terbukti berpengaruh pada tingkat penerapan inovasi PTT padi. Berdasarkan pada kenyataan tersebut maka dalam hal menempatkan penyuluh di lapangan, ada baiknya pemerintah memperhatikan kesesuaian karakteristik umur, jenis kelamin, pengalaman, etnis, kepercayaan, dan sikap dari penyuluh dengan karakteristik umur, jenis kelamin, pengalaman, etnis, kepercayaan, dan sikap dari petani yang berada di lokasi penempatan penyuluh, karena kesamaan karakteristik di antara keduanya memiliki hubungan dengan tingkat kesamaan persepsi di antara keduanya. Penyuluh juga sebaiknya memperhatikan perbedaan-perbedaan karakteristik yang ada antara dirinya dengan petani dan berusaha menyesuaikan diri untuk mengurangi adanya perbedaan tersebut sehingga proses komunikasi yang dilakukan akan lebih efektif.
© Hak Cipta Milik IPB, tahun 2012
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyususnan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.
HOMOFILI PETANI DAN PENYULUH SERTA
PENGARUHNYA TERHADAP PENERAPAN INOVASI
(Kasus pada Program Sekolah Lapang Pengelolaan
Tanaman Terpadu Padi di Kecamatan Kumpeh Ulu,
Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi)
M. YUDA RAMDANI
Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada
Program Studi Ilmu Penyuluhan Pembangunan
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
JudulPenelitian : Homofili Petani dan Penyuluh serta Pengaruhnya terhadap Penerapan Inovasi (Kasus pada Program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi di Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi) NamaMahasiswa : M. Yuda Ramdani
NIM : I351090061
Disetujui
KomisiPembimbing
Dr. Ir. Djuara P. Lubis, MS Prof. Dr. Pang S. Asngari
Ketua Anggota
Diketahui
Ketua Program Studi/Mayor Ilmu Penyuluhan Pembangunan
Dekan Sekolah Pascasarjana
Dr. Ir. SitiAmanah, M.Sc Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc. Agr
Kita tidak bisa mengajari orang apapun
Kita hanya bisa membantu mereka menemukannya di dalam diri mereka (Galileo Galilei)
Pendidikan bukanlah sesuatu yang diperoleh seseorang, tapi pendidikan adalah sebuah proses seumur hidup
(Gloria Steinem)
Setiap peserta didik bisa belajar,
hanya saja tidak pada hari yang sama atau dengan cara yang sama (George Evans)
Seorang pendidik, menggandeng tangan, membuka pikiran menyentuh hati, membentuk masa depan
seorang pendidik berpengaruh selamanya ia tidak pernah tahu kapan pengaruhnya berakhir
(Henry Adam)
Pendidik biasa memberitahukan Pendidik baik menjelaskan Pendidik ulung memeragakan
Pendidik hebat mengilhami (William Arthur Ward)
Jika kau memberi tahu mereka
Mereka hanya akan melihat gerakan bibirmu Jika kau menunjukan kepada mereka Mereka akan tergoda untuk melakukannya sendiri
(Maria Montessori)
Jika kau harus berteriak, lakukanlah untuk membangkitkan semangat seseorang Rahasia pendidikan adalah menghormati sang murid
(Ralph Waldo Emerson)
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga tesis yang berjudul Homofili Petani dan Penyuluh serta Pengaruhnya terhadap Penerapan Inovasi (Kasus pada Program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi di Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi) dapat diselesaikan.
Penghargaan dan ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada:
(1) Bapak Dr. Ir. Djuara P. Lubis, MS dan bapak Prof. Dr. H. Pang S. Asngari selaku pembimbing atas segala bimbingan dan arahannya.
(2) Bapak Prof. Dr. Djoko Susanto, SKM selaku penguji luar komisi atas saran dan kritiknya
(3) Dr. Ir. Siti Amanah, M.Sc selaku Ketua Program Studi Ilmu Penyuluhan Pembangunan atas saran dan kritiknya.
(4) Rektor IPB, Dekan Fakultas Ekologi Manusia, Ketua Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, dan Ketua Program Studi Ilmu Penyuluhan Pembangunan yang telah memberikan kesempatan bagi penulis mengikuti pendidikan Strata 2 di IPB.
(5) Bupati Kabupaten Muarojambi, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Muarojambi, dan BP3K Kabupaten Muarojambi yang telah memberikan izin penelitian.
(6) Kepala BPP Kecamatan Kumpeh Ulu atas penerimaan dan dampingannya selama penulis dilapangan.
(7) Bapak dan Ibu Penyuluh di Kecamatan Kumpeh ulu atas dampingannya dan partisipasinya selama pengumpulan data/informasi di lapangan
(8) Kepala Desa Muaro Kumpeh, Pudak, Kota Karang, Solok, Sumber Jaya, Arang Arang, Sipin Teluk Duren, dan tarikan atas penerimaan dan dampingannya selama penulis di lapangan
(9) Ketua Kelompok Tani Dano Tamiang, Sakintang Jayo, Sri Rejeki, Makmur Sejahtera, Tunas Muda, Jaya Bersama, Suka Maju, Sido Makmur, Harapan, Makmur, Kasih Embun, Usaha Tani, Usaha Bersama, dan Harapan Makmur atas penerimaan, dampingan, dan partisipasinya dalam pengumpulan data/informasi di lapangan.
(10) Petani Peserta SL-PTT padi yang telah membantu dan berpartisipasi selama pengumpulan data/informasi di lapangan.
(11) Bapak/ibu staf pengajar dan teman-teman seperjuangan di Program Studi Ilmu Penyuluhan Pembangunan Institut Pertanian Bogor yang telah banyak memberikan saran selama penyusunan proposal penelitian
(12) Ibunda, Ayahanda, adinda Nurzalia Ramdani, dan yang terkasih Rizki Ayu Kartini atas segala dorongan semangat, do’a dan kasih sayangnya.
Semoga tesis ini bermanfaat.
Bogor, Januari 2012
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jambi pada tanggal 31 Januari 1987 dari ayah Dani Warman M dan ibu Ramlah Lubis. Penulis merupakan putra pertama dari dua bersaudara.
Tahun 2004 penulis lulus dari SMA Negeri 2 Jambi dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk Universitas Jambi melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) sekarang SNMPTN. Penulis memilih Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, Fakultas Pertanian.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan yaitu berbagai kedudukan di berbagai kepanitian kegiatan kemahasiswaan, Sekretaris Bidang Advokasi dan Humas Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Jambi periode 2006-2007, Kepala Biro Penelitian dan Pengembangan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Jambi periode 2007-2008, dan Sekretaris Umum Perhimpunan Organisasi Profesi Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian Indonesia (POPMASEPI) DPW I Sumatera periode 2006-2008. Penulis juga terlibat dalam beberapa kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) beberapa perusahaan perkebunan kelapa sawit yang dilakukan Pusat Studi Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Jambi tahun 2007-2008 dan Kegiatan Evaluasi Program Pemberdayaan Masyarakat di Sekitar Hutan yang dilakukan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Sumatera Sustainable Support (SSS) tahun 2009. Penulis juga menjadi asisten dosen mata kuliah Aplikasi Komputer dan Statistika Sosial Ekonomi tahun ajaran 2006-2007 serta mata kuliah Tata Niaga dan Koperasi tahun ajaran 2007-2008. Penulis dipilih menjadi mahasiswa lulusan terbaik Fakultas Pertanian Universitas Jambi pada wisuda periode ke II tahun 2008.
i
i
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ………... iii
DAFTAR GAMBAR ………... v
DAFTAR LAMPIRAN ………... iv
PENDAHULUAN ………... 1
Latar Belakang ……….. 1
Masalah Penelitian ……… 4
Tujuan Penelitian ……….. 5
Kegunaan Penelitian ………. 5
TINJAUAN PUSTAKA ……….. 6
Komunikasi Efektif dalam Menunjang Efektivitas Penyuluhan …….. 6
Homofili dan Heterofili dalam Komunikasi ………. 8
Homofili Objektif ………. 11
Umur ……….. 11
Jenis Kelamin ……… 12
Pendidikan ………. 12
Pengalaman ………... 13
Etnis/Suku ………. 13
Status Sosial dan Ekonomi ………..……….. 14
Kepercayaan ……….…. 15
Sikap …………..……… 15
Homofili Subjektif ……… 16
Persepsi ……….…………. 16
Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) ………. 19
InovasiPendekatan PTT Padi ………..….. 24
Pengertian Inovasi ………. 24
Karakteristik Inovasi ………. 25
Tahapan Adopsi Inovasi ……… 26
KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS ………. 28
Kerangka Berpikir………..………... 28
Hipotesis Penelitian ...…..………...……….. 28
METODE PENELITIAN ……….……... 30
Rancangan Penelitian ……….……….………. 30
Lokasi dan Waktu Penelitian ……… 30
Populasi dan Sampel ……….………… 32
Data dan Instrumentasi ……….………… 33
ii
ii
Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel ……… 35
Analisis Data ……...……….……….……… 39
HASIL DAN PEMBAHASAN ……….…….. 40
Keadaan Umum Wilayah Penelitian ……… 40
Keadaan Umum Sistem Perrtanian Padi di Wilayah Peneltian ……… 41
KeadaaanUmumPelaksanaan SL-PTT Padi di Wilayah Penelitian … 42 Karakteristik Petani Responden Peserta SL-PTT Padi ……….. 44
Karakteristik Responden Penyuluh SL-PTT Padi …….……….. 51
Persepsi Petani Responden terhadap PTT Padi ………... 54
Persepsi Responden Penyuluh rerhadap PTT Padi ………...………… 60
Homofili Objektif Petani dan Penyuluh ……….………… 63
Homofili Subjektif Petani dan Penyuluh ……… 67
Penerapan Inovasi PTT Padi ……… 73
Pengaruh Homofili Objektif terhadap Homofili Subjektif Petani dan Penyuluh Peserta SL-PTT Padi………….……… 79
Pengaruh Homofili Objektif Petani dan Penyuluh Peserta SL-PTT Padi dengan Penerapan Inovasi PTT Padi ...………. 82
Pengaruh Homofili Subjektif Petani dan Penyuluh Peserta SL-PTT Padi dengan Penerapan Inovasi PTT Padi ………..………. 84
KESIMPULAN DAN SARAN 87 Kesimpulan ……….….. 87
Saran ……….……… 88
DAFTAR PUSTAKA ……….…. 89
iii
iii
DAFTAR TABEL
Halaman 1. Populasi , sampel, dan jumlah sampel petani dan penyuluh berdasarkan
desa dan kelompok tani di Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten
Muarojambi Provinsi Jambi tahun 2011……… 33 2. Definisi operasional, indikator, dan pengukur peubah karakteristik
responden ………..….………...………… 36
3. Definisi operasional, indikator, dan pengukur peubah tingkat homofili
objektif petani dan penyuluh ……… 37 4. Definisi operasional, indikator, dan pengukur peubah persepsi
responden………... 38
5. Definisi operasional, indikator, dan pengukur peubah tingkat homofili subjektif petani dan penyuluh …...……… 6. Definisi operasional, indikator, dan pengukur peubah tingkat adopsi
inovasi PTT padi………...…………. 7. Kalender musim tanam padi di Kecamatan Kumpeh Ulu ……….……… 8. Jumlah peserta, jumlah unit SL-PTT padi dan pelaksanaan SL-PTT padi
berdasarkan desa dan kelompok tani di Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muarojambi Provinsi Jambi tahun 2009 –2011 ………. 9. Jumlah, dan persentase petani responden berdasarkan karakteristiknya
di Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muarojambi Provinsi Jambi tahun 2011 ………
10.Jumlah, dan persentase penyuluh responden berdasarkan karakteristiknya di Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muarojambi Provinsi Jambi tahun 2011 ……… 11.Jumlah petani responden dan skor persepsi petani responden tentang
PTT padi di Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muarojambi Provinsi Jambi tahun 2011 ……….. 12.Jumlah penyuluh dan skor persepsi penyuluh tentang PTT padi di
Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupateb Muarojambi Provinsi Jambi tahun 2011 ………... 13.Jumlah dan persentase tingkat homofili objektif petani dan penyuluh
berdasarkan karakteristiknya di Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muarojambi Provinsi Jambi tahun 2011 ……….. 14.Jumlah dan persentase persepsi petani dan penyuluh berdasarkan tingkat
homofili subjektif di Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muarojambi Provinsi Jambi tahun 2011 ……….. 15.Kategori, jumlah dan persentase tingkat penerapan PTT padi responden
di Mecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muarojambi Provinsi Jambi tahun 2011 ………. 16. Hasil uji korelasi Kendall’s tau_b antara homofili objektif dengan
iv
iv
17. Hasil uji korelasi Kendall’s tau_b antara homofili objektif petani dan penyuluh perseta SL-PTT padi dengan penerapan PTT Padi di Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muarojambi Provinsi Jambi tahun
2011 ……….. 83
18. Hasil uji korelasi Kendall’s tau_b antara homofili subjektif petani dan penyuluh peserta SL-PTT padi dengan penerapan PTT Padi di Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muarojambi Provinsi Jambi tahun
v
v
DAFTAR GAMBAR
vi
vi
DAFTAR LAMPIRAN
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sektor pertanian merupakan sumber penghidupan jutaan rakyat Indonesia sebagai mata pencaharian pokok, sumber pendapatan, penyedia bahan makanan, penyedia bahan baku industri, penyedia lapangan kerja, dan basis perekonomian nasional. Posisi sektor pertanian dalam perekonomian nasional secara umum
mempunyai tiga fungsi, yaitu: (1) fungsi ekonomi sebagai penyedia pangan, kesempatan kerja, dan pendapatan; (2) fungsi sosial berkaitan dengan
pemeliharaan masyarakat pedesaan sebagai penyangga budaya bangsa; dan (3) fungsi ekologi sebagai perlindungan lingkungan hidup, konservasi lahan dan cadangan sumber air (Hafsah, 2009). Era baru pertanian ke depan menghendaki orientasi kepada pencapaian nilai tambah, pendapatan serta kesejahteraan petani sebagai acuan utama dalam pembangunan pertanian.
Dalam menjalankan fungsinya sebagai penyedia pangan, pemerintah terus berupaya untuk mempercepat upaya peningkatan produksi padi nasional untuk memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dari tahun ke tahun. Upaya pemerintah telah diimplementasikan melalui program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) yang dilaksanakan semenjak awal tahun 2007. Program ini ditargetkan mampu meningkatkan produksi beras nasional sebanyak 5 persen setiap tahunnya (Deptan, 2008).
Peningkatan produktivitas padi dan kesejahteraan petani melalui penerapan inovasi merupakan salah satu strategi yang diterapkan pemerintah dalam program P2BN. Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Pertanian telah menghasilkan dan mengembangkan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi yang telah terbukti melalui uji coba di 23 kabupaten pada tahun 2003 dan mampu meningkatkan produktivitas padi dan efisiensi produksi. Berdasarkan hal tersebut, pemerintah melalui Departemen Pertanian meluncurkan program
Sekolah Lapang (SL) PTT padi (Deptan, 2008).
secara terpadu mengenai inovasi dan teknologi padi kepada petani melalui kegiatan penyuluhan agar petani mampu meningkatkan produktivitas padi dan pendapatan dari budidaya padi, atau dengan kata lain bahwa program SL-PTT padi bertujuan untuk mengubah perilaku petani agar petani lebih mandiri untuk mencapai tujuannya melalui penerapan PTT padi.
SL-PTT padi sebagai suatu bentuk kegiatan penyuluhan perlu memperhatikan proses komunikasi yang berlangsung dalam pelaksanaan kegiatan agar program tersebut dapat berjalan dengan baik. Beberapa kegiatan penyuluhan sebelumnya dapat dinyatakan belum berhasil dikarenakan proses komunikasi yang dilakukan tidak berjalan dengan baik. Roling dan Van de Fliert (1994) menguraikan bahwa program BIMAS yang dahulu pernah berjalan hanya menekankan pada peningkatkan produksi padi tidak disertai dengan peningkatan kapasitas analisis petani dan penggunaan pupuk dan pestisida. Dampak dari program mengakibatkan terjadinya penggunaan pupuk dan pestisida yang berlebihan, mengakibatkan pencemaran air, lingkungan, dan perusakan keseimbangan hara tanah. Benih padi unggul yang dianjurkan memiliki
kerentanan terhadap hama wereng coklat jika dibandingkan dengan beberapa varietas lokal yang sudah ditanam oleh petani secara turun-temurun. Gencarnya anjuran pelaksanaan BIMAS juga menyebabkan varietas-varietas lokal yang
seharusnya menjadi sumber plasma nutfah perlahan-lahan punah. Serangan wereng mengakibatkan sebagian besar petani peserta program BIMAS gagal panen dan petani menjadi tidak mampu membayar hutang kredit pupuk dan pestisida yang terlanjur dibeli sebagai syarat yang harus dipenuhi untuk menanam benih varietas unggul.
World Bank (2002) melalui berbagai evaluasi pada proyek-proyek penyuluhan mengindikasikan bahwa penyuluhan belum memenuhi orientasi dan kepentingan client, kapasitas sumberdaya manusia lemah, dan tingkat komitmen pemerintah masih lemah. Beberapa pelajaran dan pengalaman dari berbagai
World Bank Extension Projects selama 1977-1991 yang dirangkum oleh Antholt
(Eicher dan Staatz, 1999) menyimpulkan beberapa hal antara lain: (1) 70 persen dari berbagai proyek penyuluhan yang didukung World Bank memiliki tingkat
yang relevan, (3) keterkaitan dengan lembaga riset lemah; dan (4) banyak kelemahan pada pendekatan Training and Visit.
Rogers dan Shoemaker (1971) menyatakan bahwa komunikasi merupakan elemen utama dan terpenting dalam proses perubahan perilaku. Berdasarkan pengalaman-pengalaman masa lalu seperti yang telah dijelaskan sebelumnnya, maka proses komunikasi dapat berpengaruh dalam kegiatan penyuluhan. Oleh karena itu, agar kegiatan SL-PTT berjalan dengan efektif, proses komunikasi yang dilakukan dalam kegiatan ini menjadi aspek penting yang harus diperhatikan.
Rogers dan Shoemaker (1971) menjelaskan bahwa salah satu prinsip utama dari komunikasi antar manusia adalah bahwa transfer ide yang paling sering terjadi adalah berada di antara komunikator dan komunikan yang sama, mirip dan
homophilous. Kesamaan tersebut tidak hanya dilihat dari latar belakang dan
budaya yang sama akan tetapi yang paling terpenting adalah kesamaan maksud dan tujuan dalam berkomunikasi. Mulyana dan Rakhmat (1998) menambahkan bahwa persepsi merupakan inti dari komunikasi, karena jika persepsi seseorang tidak akurat, maka manusia tidak mungkin berkomunikasi dengan efektif. Persepsi
menentukan seseorang memilih suatu pesan dan mengabaikan pesan yang lain. Dalam proses komunikasi, baik sumber dan penerima berperilaku sesuai dengan persepsi mereka terhadap reaksi yang diharapkan dari satu sama lain dan pesan
sedang dikirim. Efek dari sebuah pesan pada penerima perilaku akan tergantung pada cara penerima merasakan situasi komunikasi, termasuk derajat dari homofili atau heterofili.
Masalah Penelitian
Dalam upaya mempertahankan swasembada beras, pemerintah melalui Dinas Pertanian terus berupaya menyusun program-program yang mampu mendorong peningkatan produktivitas padi dan kesejahteraan petani. SL-PTT padi merupakan salah satu program yang diluncurkan pemerintah saat ini. Progam SL-PTT padi ini dilaksanakan di setiap daerah yang memiliki potensi menghasilkan beras, baik yang sudah mampu berswasembada beras maupun yang belum berswasembada beras.
Inovasi padi yang masuk ke desa dalam bentuk penyuluhan melalui kegiatan SL-PTT padi sebenarnya bukan merupakan hal baru. Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa program-program penyuluhan sebelumnya pada kenyataannya hanya bertujuan meningkatkan produktivitas, parsial, tidak memberikan pelayanan terpadu, belum partisipatif atau cenderung top down,
hanya semata-mata sebagai bentuk alih pengetahuan dan bukan menghasilkan pengetahuan. Kelahiran dari program SL-PTT padi diharapkan mampu untuk menggugurkan masalah-masalah yang dihadapi oleh penyuluh sehingga
peningkatan kesejahteraan petani dan produktivitas padi dapat dicapai.
Proses komunikasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kegiatan penyuluhan. Prinsip utama dalam komunikasi antar manusia adalah
tingkat kesamaan antara manusia yang berkomunikasi. Rogers dan Shoemaker (1971) menjelaskan tingkat kesamaan tersebut sebagai tingkat kehomofilian dalam komunikasi. Rogers dan Bhowmik (1971) mengkonseptualisasikan homofili atas dasar pengukuran menjadi dua tingkatan, yaitu: (1) subyektif, yaitu tingkatan kesamaan antara sumber atau penerima dalam memandang suatu obyek; dan (2) obyektif, yaitu tingkat kesamaan diamati dari karteristik antara sumber dan penerima.
Keberhasilan kegiatan SL-PTT ini dapat ditentukan oleh proses komunikasi di antara penyuluh dan petani. Tingkat homofili petani dan penyuluh diduga dapat mempengaruhi terciptanya komunikasi yang efektif antara penyuluh dan petani sehingga akan mempengaruhi tingkat penerapan inovasi dari petani.
(a) Bagaimana tingkat homofili petani dan penyuluh dalam kegiatan SL-PTT padi?
(b) Bagaimana tingkat penerapan PTT padi petani dalam kegiatan SL-PTT padi? (c) Bagaimana pengaruh tingkat homofili obyektif petani dan penyuluh dengan
tingkat homofili subyektif petani dan penyuluh dalam kegiatan SL-PTT padi? (d) Bagaimana pengaruh antara tingkat homofili obyektif dan homofili subyektif
petani dan penyuluh dengan penerapan inovasi PTT padi?
Tujuan Penelitian
(a) Mengkaji tingkat homofili petani dan penyuluh dalam kegiatan SL-PTT padi (b) Mengkaji tingkat penerapan PTT padi oleh petani dalam kegiatan SL-PTT
padi
(c) Menganalisis pengaruh tingkat homofili obyektif petani dan penyuluh dengan tingkat homofili subyektif petani dan penyuluh dalam kegiatan SL-PTT padi (d) Menganalisis pengaruh tingkat homofili obyektif dan subyektif petani dan
penyuluh dengan penerapan inovasi PTT padi
Kegunaan Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
Komunikasi Efektif dalam Menunjang Efektivitas Penyuluhan
Ada beberapa pendapat dari para ahli mengenai pengertian dari komunikasi.
Hovland (1953) menjelaskan bahwa komunikasi sebagai suatu proses yang memungkinkan seseorang menyampaikan rangsangan untuk mengubah perilaku orang lain. Pakar komunikasi Rogers dan Shoemaker (1971) mengartikan komunikasi sebagai proses suatu ide dialihkan dari satu sumber kepada satu atau banyak penerima dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka. Verderber (1990) mendefinisikan komunikasi sebagai proses transaksional dalam membentuk arti atau makna. DeVito (1997) menjelaskan bahwa komunikasi itu mengacu kepada tindakan, oleh satu orang atau lebih, yang mengirim dan menerima pesan yang terdistorsi oleh gangguan (noise), yang terjadi dalam suatu konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu, dan ada kesempatan untuk melakukan umpan balik. Tubbs dan Moss (2001) mengartikan komunikasi sebagai proses pembentukan makna di antara dua orang atau lebih.
Komunikiasi merupakan sebuah proses. Lubis et al. (2010) menjelaskan bahwa komunikasi merupakan proses yang memiliki empat atribut, yaitu: (1) dinamis, artinya komunikasi selalu berubah, dan tidak dapat ditentukan kapan dimulai dan kapan berakhir; (2) sistemik, artinya sebagai sistem, komunikasi terdiri dari beberapa unsur yang berinteraksi dan saling mempengaruhi sistem yang lebih luas; (3) interaksi simbolik, di mana bahasa merupakan simbol yang
digunakan orang untuk berinteraksi dengan sesamanya cara seseorang memilih dan mengatur simbol akan mempengaruhi orang lain menginterpretasi-kan pesannya; dan (4) makna dibentuk secara pribadi, yakni setiap orang menafsirkan sesuatu dengan caranya sendiri, sesuai dengan persepsi dan latar belakangnya. Karena itu dikatakan makna ada pada manusia, bukan pada kata-kata.
menyelesaikan sebuah masalah; (6) mencapai sebuah tujuan; (7) menurunkan ketegangan dan menyelesaikan konflik; (8) menstimulasi minat pada diri sendiri atau orang lain.
Penyuluhan menggunakan komunikasi sebagai alat untuk mencapai tujuan. Proses yang dialami oleh mereka yang disuluh sejak mengetahui, memahami, mentaati, dan kemudian menerapkannya dalam kehidupan yang nyata, adalah suatu proses komunikasi. Penjelasan tersebut menunjukkan pentingnya memenuhi persyaratan komunikasi yang baik untuk tercapainya hasil penyuluhan yang efektif. Leeuwis (2004) mendefinisikan penyuluhan sebagai serangkaian intervensi komunikasi yang ditanamkan, yang diartikan antara lain untuk membangun dan/atau mendorong inovasi yang seharusnya membantu menyelesaikan situasi problematis. Komunikasi penyuluhan adalah suatu pernyataan antar manusia yang berkaitan dengan kegiatan semua bidang kehidupan baik secara perorangan maupun kelompok yang sifatnya umum dengan menggunakan lambang-lambang tertentu dalam usaha meningkatkan nilai tambah dan pendapatan, sehingga dapat dikatakan bahwa komunikasi dalam penyuluhan
bukan saja dimaksudkan untuk mempengaruhi sikap dan tingkah laku komunikan akan tetapi juga mampu mendorong petani untuk mandiri dan mampu menyelesaikan situasi problematis yang dialaminya.
keadaan psikologis yang tidak nyaman, dan pesan yang disampaikan mungkin tidak konsisten dengan kepercayaan dan sikap yang ada.
Rogers dan Bhowmik (1971) menguraikan bahwa homofili dan komunikasi yang efektif berkembang satu sama lain, dan keduanya memiliki pengaruh saling mempengaruhi. Sebuah sumber dan penerima yang homofili akan berinteraksi lebih dan komunikasinya relatif lebih efektif karena menciptakan konsensus yang lebih besar dan kesamaan di antara mereka akan mendorong keduanya berinteraksi ke tingkat yang lebih tinggi. Dari penjelasan tersebut, dapat diasumsikan bahwa, untuk mencapai tujuan dari kegiatan SL-PTT padi maka penyuluh harus memperhatikan perbedaan-perbedaan yang ada antara dirinya dengan petani dan berusaha menyesuaikan diri untuk mengurangi adanya perbedaan tersebut sehingga proses komunikasi yang dilakukan akan lebih efektif.
Homofili dan Heterofili dalam Komunikasi
Rogers dan Bhowmik (1971) menjelaskan bahwa pertukaran pesan dalam suatu proses komunikasi paling sering terjadi pada keadaan sumber dan penerima pesan memiliki kesamaaan satu sama lain yang disebut dengan keadaan homofili. Homofili mengacu pada tingkat pasangan individu yang berinteraksi memiliki kesamaan yang sepengaruh dengan atribut tertentu, seperti beliefs, nilai-nilai, pendidikan, status sosial, dan lain-lain. Heterofili adalah derajat pasangan individu yang berinteraksi berbeda sepengaruh dengan atribut tertentu.
dengan sempurna; (2) tingkat homofili subyektif dianggap lebih tinggi daripada derajat homofili obyektif; dan (3) homofili subyektif lebih erat terkait dari homofili obyektif dengan peubah lain seperti daya tarik interpersonal dan frekuensi interaksi.
Rogers dan Bhowmik (1971) menyatakan bahwa komunikasi antara individu akan lebih efektif ketika sumber dan penerimanya homophilous. Ketika sumber dan penerima memiliki kesamaan makna, sikap, dan keyakinan, dan kode bersama, komunikasi di antara keduanya adalah lebih efektif. Kebanyakan individu menikmati kenyamanan dari berinteraksi dengan orang lain yang serupa dalam status sosial, pendidikan, keyakinan, dan lainnya. Interaksi yang heterofili menyebabkan distorsi pesan, tertundanya transmisi, pembatasan saluran komunikasi, dapat menyebabkan disonansi kognitif, dan keadaan psikologis yang tidak nyaman. Homofili dan komunikasi yang efektif berkembang satu sama lain, dan keduanya memiliki pengaruh saling tergantung dalam peningkatan kecil di salah satu pihak akan mengarahkan peningkatan kecil di sisi lain, dan lain-lain. Sebuah pasangan sumber dan penerima yang homofili akan berinterkasi lebih
banyak. Ada berapa proporsi yang dapat terjadi dari pasangan sumber dan penerima yang homofili, yaitu: (1) komunikasi yang terjadi relatif lebih efektif, dan (2) akan menciptakan lebih besar konsensus dan kesamaan di antara
keduanya. Hal tersebut sangat bermanfaat sehingga akan menyebabkan keduanya berinteraksi ke tingkat yang lebih tinggi.
Selain kondisi homofili subyektif dan homofili obyektif, Rogers dan Bhowmik (1971) juga mengungkapkan bahwa rasa empati maupun simpati mempengaruhi efektivitas komunikasi. Jika sumber dapat melihat dengan baik perasaan dari penerima pesannya dan mereka berbagi perasaan, adalah mungkin makna pesan yang disampaikan oleh sumber akan sama dengan makna yang dipahami oleh penerima. Ketika sumber memiliki empati yang tinggi dengan penerima walaupun keadaan keduanya adalah heterofili secara karakteristik, maka mereka benar-benar homofili dalam arti sosial-psikologis.
komunikator dengan penerima pesan dikenal sebagai strategy of identification
atau establishing common grounds. Komunikator dapat mempersamakan dirinya dengan penerima pesan dengan menegaskan persamaan dalam kepercayaan sikap, maksud, dan nilai-nilai sepengaruh dengan suatu persoalan. Simons (Rakhmat, 2003) menerangkan bahwa ada empat hal yang menyebabkan komunikator yang dipersepsi memiliki kesamaan dengan penerima pesan cenderung lebih efektif dalam berkomunikasi, yaitu: (1) kesamaan mempermudah proses penyandibalik-an (decoding), yakni proses menterjemahkan lambang-lambang yang diterima menjadi gagasan-gagasan; (2) kesamaan membantu membangun premis yang sama, premis yang sama mempermudah proses deduktif, dan bila kesamaan relevan dengan topik persuasi, orang akan terpengaruh oleh komunikator; (3) kesamaan menyebabkan penerima pesan tertarik pada komunikator; dan (4) kesamaan menumbuhkan rasa hormat dan percaya pada komunikator.
Strong dan Israel (2009) pernah meneliti mengenai pengaruh kehomofilian penyuluh dengan kliennya terhadap persepsi orang dewasa. Strong dan Israel (2009) menguraikan bahwa penyuluhan harus memastikan kepuasan peserta
penyuluhan dengan pelayanan yang diberikan oleh media penyuluhan. Dalam akuntabilitas lingkungan yang meningkat, hal ini menjadi penting bahwa peserta penyuluhan merasa puas dengan pelayanan penyuluhan yang diberikan.
Homofili Obyektif
Rogers dan Bhowmik (1971) menjelaskan bahwa tingkat homofili obyektif adalah tingkat kesamaan dalam berkomunikasi diamati dari karteristik antara individu yang berkomunikasi. Rogers dan Shoemaker (1971) membedakan kondisi homofili dalam dua kondisi, yaitu: (1) sumber dan penerima merasakan kesamaan dalam karakteristik status sosial, status ekonomi, pendidikan, sikap, dan kepercayaan; (2) terdapat perbedaan dalam karakteristik status sosial, status ekonomi, pendidikan, sikap, dan kepercayaan. Komunikasi akan lebih efektif pada kondisi homofili daripada kondisi heterofili. Dodd (1982) membuat klasifikasi tentang dimensi-dimensi homofili ke dalam : (1) homofili dalam penampilan, (2) homofili dalam latar belakang, (3) homofili dalam sikap, (4) homofili dalam nilai, dan (5) homofili dalam kepribadian. Schirato dan Yell (2000) menyebutkan bahwa ada dua belas aspek kesamaan dan perbedaan antara sumber dan penerima yang mempengaruhi proses komunikasi yaitu: (1) gender, (2) preferensi seksual, (3) umur, (4) agama, (5) pekerjaan, (6) kekayaan, (7) afiliasi politik, (8) ketertarikan hiburan, (9) nilai sosial, (10) etnik atau suku, (11) kualifikasi
pendidikan, dan (12) pengalaman. Berdasarkan dari uraian-uraian tersebut, maka tingkat kesamaan karakteristik antara penyuluh dengan petani yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kesamaan karakteristik: (1) umur, (2) jenis kelamin,
(3) pendidikan, (4) pengalaman, (5) suku/etnik, (6) status sosial ekonomi, (7) kepercayaan, dan (8) sikap.
Umur. Perbedaan ataupun kesamaan umur antara sumber dan penerima dalam sebuah komunikasi dapat mempengaruhi efektivitas komunikasinya. Schirato dan Yell (2000) mencontohkan pengaruh perbedaan umur terhadap efektivitas komunikasi. Seorang bos yang berumur lima puluh tahun dan bawahannya yang berumur dua puluh tahun. Bos tersebut berpesan bahwa “kita butuh seseorang untuk membersihkan toilet. Pergi dan lakukan sekarang, dan selesaikan dalam waktu tiga puluh menit, dan jangan memutar musik yang berisik karena itu akan menyebabkan konsetrasi orang lain yang sedang bekerja akan terganggu.”Pesan yang disampaikan oleh bos kepada bawahan sangat jelas.
makna yang sama bagi bos dan bawahannya. Bos yang memberi perintah beranggapan bahwa perintah yang diberikan adil dan wajar. Bawahan yang menerima perintah menganggap perintah tersebut adalah penghinaan dan ia tidak menjalankan perintah tersebut. Bawahan yang masih muda dan belum bersikap dewasa beranggapan bahwa membersihkan toilet itu sama dengan merendahkan derajadnya, namun bos tidak mengerti bahwa pekerjaan membersihkan toilet tersebut merupakan pekerjaan yang merendahkan. Bos yang memiliki umur jauh lebih tua memiliki kedewasaan diri dan beranggapan bahwa membersihkan toilet merupakan sebuah tanda kefleksibilitasan seseorang, tanda bahwa seseorang memiliki kerendahan hati atau membumi, dan tanda bahwa bawahannya mematuhi instruksi dan hal tersebut merupakan sebuah penilaian bahwa bawahannya merupakan pekerja yang berharga. Secara teori, komunikasi yang dilakukan oleh bos kepada bawahannya tidak efektif dikarenakan perbedaan umur. Perbedaan umur yang jauh menyebabkan perbedaan pengalaman dan sikap untuk bertindak terhadap sesuatu.
Jenis Kelamin. Perbedaan jenis kelamin antara indivudu yang berkomunikasi dapat mempengaruhi efektivitas komunikasi. Devito (2007) menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki cara belajar yang berbeda dalam hal mendengarkan untuk menggunakan pesan verbal dan nonverbal.
Perbedaan cara ini dapat menimbulkan kesulitan yang cukup besar dalam berkomunikasi. Tannen (Devito, 2007) menyatakan bahwa perempuan berusaha untuk membangun pengaruh lebih dekat dan menggunakan mendengarkan untuk mencapai tujuan. Tujuan dari seorang pria dalam berkomunikasi adalah untuk dihormati sehingga ia berusaha untuk menunjukkan keahlian dan pengetahuannya. Seorang wanita dalam berkomunikasi berusaha untuk disukai sehingga ia akan berusaha untuk mengungkapkan kesepakatan dengan pendapat pria.
juga cara berpikir. Cara berpikir seseorang akan mempengarhi cara pandang seseorang terhadap sesuatu. Apabila perbedaan cara pandang terjadi dalam sebuah komunikasi antara individu atau kelompok, maka hal tersebut akan memungkinkan terjadinya komunikasi yang tidak efektif.
Pengalaman. Padmowiharjo (1994) medefinisikan pengalaman sebagai suatu kepemilikan pengetahuan yang dialami seseorang dalam kurun waktu yang tidak ditentukan. Pengaturan pengalaman yang dimiliki oleh seseorang sebagai hasil belajar selama hidupnya dapat digambarkan dalam otak manusia. Seseorang akan berusaha menghubungkan hal yang dipelajari dengan pengalaman yang dimiliki dalam proses belajar.
Pengalaman individu dapat mempengaruhi efektivitas komunikasi. Kesamaan dan perbedaan pengalaman akan menetukan efektif atau tidaknya sebuah proses komunikasi. Dale (Rakhmat 2003) telah membuktikan bahwa pengalaman mempengaruhi penafsiran seseorang terhadap sesuatu. Dale telah menguji pengaruh dari pengalaman terhadap penafsiran melalui Facial Meaning
Sensitivity Test (FMST). Melalui tes tersebut diketahui bahwa orang-orang yang
telah dilatih dengan FMST memiliki persepsi yang lebih cermat dibandingkan yang belum pernah melakukan FMST. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat diasumsikan bahwa jika dua orang yang memiliki pengalaman yang berbeda
berkomunikasi, maka pengalaman keduanya akan mempengaruhi efektivitas dari komunikasi tersebut.
kemungkinan bahwa perbedaan etnis dapat mempengaruhi efektivitas komunikasi karena adanya pandangan yang berbeda dari masing-masing etnis.
Status Sosial dan Ekonomi. Phillips (1979) mengartikan status sosial sebagai derajad kehormatan atau prestise yang diberikan oleh atau diterima dari masyarakat. Perbedaan status sosial antara dua dindividu yang berkomunikasi berpengaruh terhadap efektivitas komunikasi yang dilakukan keduanya. Mulyana dan Rakhmat (1998) menjelaskan bahwa perbedaan status dan kelas sosial menyebabkan orang-orang berstatus beda sulit menyatakan opini secara bebas dan terus terang dalam diskusi atau perdebatan. Pada masa lalu, orang yang berstatus lebih rendah harus menyatakan rasa hormat kepada atasannya.
Di beberapa negara, terkadang status tidak terlalu mempengaruhi seseorang dalam berkomunikasi. Mulyana dan Rakhmat (1998) menguraikan bahwa di Amerika Serikat, orang merasa adalah suatu hal yang baik dan juga wajar untuk mengemukakan sesuatu kepada atasan, mengatakan kepada atasan sesuatu yang sesungguhnya yang difikirkan, bahkan sekalipun orang yang berstatus lebih rendah tidak sependapat dengan atasannya. Tentu saja orang yang berstatus lebih
rendah tidak selalu melakukannya, tetapi ia berfikir bahwa ia harus melakukan-nya, dan ia merasa berdosa apabila tidak menyampaikan pikiran-pikirannya secara terus terang. Jelas bahwa budaya Amerika tidak mementingkan status dalam
berkomunikasi.
yang terdiri dari para pegawai pemerintahan, dan (3) golongan proletar yaitu golongan yang tidak mempunyai atau memiliki tanah dan alat produksi termasuk didalamnya adalah kaum buruh atau pekerja pabrik.
Kepercayaan. Hohler, et al. (Rakhmat, 2003) menguraikan kepercayaan sebagai suatu komponen kognitif dari faktor sosiolopsikologis. Kepercayaan tidak ada pengaruh dengan hal gaib, tetapi keyakinan bahwa sesuatu itu “benar” atau “salah” atas dasar bukti, sugesti otoritas, pengalaman, atau “intuisi”. Rakhmat (2003) menjelaskan bahwa kepercayaan memberikan perspektif pada manusia dalam mempersepsi kenyataan, memberikan dasar bagi pengambil keputusan dan menentukan sikap terhadap obyek sikap. Bila seseorang percaya bahwa anak mendatangkan rezeki, kampanye KB tidak menghasilkan apapun sebelum orang itu memperoleh kepercayaan baru. Asch (Rakhmat, 2003) menguraikan bahwa kepercayaan dibentuk oleh pengetahuan, kebutuhan, dan kepentingan. Pengetahuan berpengaruh dengan jumlah informasi yang dimiliki oleh seseorang. Kebutuhan dan kepentingan juga sering mewarnai kepercayaan seseorang. Setiap individu mempunyai pengetahuan, kebutuhan, dan kepentingan dalam
ber-komunikasi. Perbedaan dan persamaan dari pengetahuan, kebutuhan, dan kepentingan tersebut memungkinkan terjadinya perbedaaan dari kepercayaan dua individu atau lebih yang yang berkomunikasi. Perbedaan dalam kepercayaan
tersebut akan memungkinkan memberikan pengaruh terhadap efektivitas komunikasi.
anatara individu yang berkomunikasi memungkinkan memberikan pengaruh pada efektivitas komunikasi.
Sikap memang relatif tetap dan cenderung dipertahankan, tetapi bukan sepenuhnya tidak dapat berubah. Ma’rat dan Kartono (2006) menyatakan bahwa perubahan sikap seseorang bersisi dua, yaitu: (1) perubahan sikap dalam arah yang sudah ada yang disebut penguatan, dan (2) perubahan sikap dalam arah yang sebaliknya yang disebut diputar balik. Ma’rat dan Kartono (2006) menguraikan sejumlah penyebab yang perlu diperhatikan dalam perubahan sikap dari individu, yaitu: (1) individu sering mencari sumber informasi yang mendukung pendapatnya yang sudah ada; (2) banyak informasi melalui media massa tidak datang secara langsung kepada individu, tetapi disampaikan oleh pemimpin opini dalam kelompok dimana individu termasuk didalamnya dan pemimpin opini akan memberikan informasi yang menekankan sudut pandang kelompok; dan (3) informasi yang menyimpang kerap kali diubah bentuknya sedemikian rupa sehingga sesuai dengan padangannya sendiri.
Homofili Subyektif
Rogers dan Bhowmik (1971) menjelaskan bahwa homofili subyektif adalah tingkatan kesamaan antara sumber atau penerima dalam memandang suatu obyek. Berdasarkan pengertian yang telah dikemukakan, maka tingkat ke-homofilian subyektif dapat diukur dengan membandingkan persepsi penyuluh dan petani terhadap sesuatu obyek. Tingkat kehomofilian penyuluh dan petani dalam kegiatan SL-PTT padi dapat diukur melalui persepsi penyuluh dan petani terhadap PTT padi.
Persepsi. Banyak ahli-ahli psikologi telah mendifinisikan persepsi dalam berbagai pendapat. Gulo (1982) mendefinisikan persepsi sebagai proses seseorang
Persepsi merupakan sebuah proses. Menurut Litterer (Asngari, 1984), persepsi adalah pemahaman atau pengertian tentang segala sesuatu yang ada disekitarnya. Litterer (Asngari 1984) menunjukkan bahwa persepsi orang dipengaruhi oleh pandangan seseorang pada suatu keadaan, fakta, atau tindakan. Karena itu, individu perlu mengerti dengan jelas tugas dan tanggung jawab yang dipikulkan padanya. Walaupun seseorang hanya mendapat bagian-bagian dari informasi, dia dengan cepat menyusunnya menjadi suatu gambaran yang menyeluruh. Orang itu akan menggunakan informasi yang diperolehnya untuk menyususn gambaran menyeluruh. Litterer (Asngari 1984) menerangkan bahwa persepsi seseorang terbentuk melalui tiga mekanisme yaitu selective, closure, dan
interpretation (Gambar 1).
Gambar 1. Proses Pembentukan Persepsi menurut Litterer (Asngari, 1984) Informasi yang sampai pada seseorang menyebabkan individu yang bersangkutan membentuk persepsi, dimulai dengan pemilihan atau menyaringnya, kemudian informasi yang masuk tersebut disusun menjadi kesatuan yang bermakna, dan akhirnya terjadilah interpretasi mengenai fakta keseluruhan informasi itu. Pada fase interpretasi, pengalaman masa silam dan dahulu memegang peranan penting. Dengan demikian makna tersebut sangat penting bagi pengertiannya. Litterer (Asngari, 1984) menekankan bahwa persepsi seseorang terhadap sesuatu yang dianggap berarti atau bermakna, tidak akan mempengaruhi perilakunya. Sebaliknya, bila ia beranggapan bahwa hal tersebut dipandang nyata, walau kenyataannya tidak benar atau tidak ada, akan mempengaruhi tindakan perilakunya.
Mekanisme pembentukan persepsi
Informasi sampai ke individu
pembentukan
persepsi Pengamatan masa silam
Persepsi
Perilaku
Selectivity
Interpretation
Setiap manusia memiliki persepsinya masing-masing. Persepsi seseorang bisa serupa, sama atau seragam, bisa juga berbeda. Penyuluh dan petani sebagai mahkluk manusia sudah pasti memiliki persepsi. Petani padi yang telah menjalankan budidayanya pasti memiliki persepsi tersendiri mengenai budidayanya baik dalam hal cara mempertahankan, mengelola, dan meningkatkan budidayanya. Penyuluh yang dibekali oleh ilmu pengetahuan melalui pendidikan formal maupun nonformal seperti pelatihan juga memiliki persepsi mengenai cara mengembangkan budidaya agar berhasil. Berdasarkan penjelasan tentang persepsi, maka ketika petani padi dan penyuluh berinterkasi dalam bentuk komunikasi pada kegiatan penyuluhan budidaya berbagai kemungkinan dapat terjadi. Perilaku-perilaku yang timbul setelah adanya kegiatan penyuluhan akan dipengaruhi oleh persepsi para petani dan penyuluh terhadap obyek penyuluhan atau program maupun persepsi satu dengan yang lainnya atau persepsi petani terhadap penyuluh dan persepsi penyuluh terhadap petani.
Beberapa penelitian mengenai persepsi petani terhadap penyuluhan pertanian pernah dilakukan sebelumnya. Saker dan Itohara (2009) pernah meneliti
persepsi petani terhadap pelayanan penyuluhan dan penyuluh di Bangladesh. Penelitiannya mengungkapkan bahwa dari 90 orang petani organik kecil sebagai sampel dari kabupaten Madhupur yaitu petani dari anggota kelompok
penyuluhan dari PROSHIKA akan meningkat dan akhirnya membantu dalam perluasan pertanian organik di Bangladesh.
Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi
Paket teknologi di bidang pertanian merupakan suatu kesatuan dari beberapa teknologi yang mencakup cara, metode, sarana, dan alat yang digunakan atau tindakan dalam budidaya kearah yang lebih baik dan menguntungkan. Teknologi budidaya (panca budidaya) padi sawah yang diperkenalkan sejak tahun 1963, yang meliputi: (1) penggunaan benih varietas unggul, (2) bercocok tanam yang baik, (3) pemupukan, (4) pengaturan air, dan (5) pengendalian hama dan penyakit. Agar peningkatan produksi lebih baik maka pemerintah menambahkan dua paket teknologi lainnya, yaitu: panen dan pascapanen. Perpaduan teknologi panca budidaya dengan teknologi panen dan pascapanen dikenal dengan nama teknologi sapta budidaya.
Perkembangan teknologi budidaya padi mulai dari tahun 1969, dengan nama programnya BIMAS, yang kemudian disempurnakan lagi, samapai pada
tahun 1974. Dengan perkembangan kondisi dan kemajuan teknologi program tersebut mengalami penyempurnaan mulai dari PHT, INSUS, dan OPSUS, yaitu sampai tahun 1984. Pada dekade ini varietas unggul yang telah dilepas kurang
lebih 30 jenis varietas unggul. Dari tahun 1984 sampai dengan tahun 1994 program berubah menjadi SUPRA INSUS dengan penambahan jumlah varietas yang ditemukan sebanyak kurang lebih 40 jenis. Perkembangan zaman selalu diikuti perkembangan teknologi, pada tahun 1994 sampai dengan tahun 2000 berubah nama menjadi GEMA PALAGUNG, selang selama enam tahun Balai Penelitian Tanaman Padi Subang telah memproduksi varietas baru sebanyak 27 jenis.
PTT adalah pendekatan dalam pengelolaan lahan, air, Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), dan iklim secara terpadu dan berkelanjutan dalam upaya peningkatan produktivitas, pendapatan petani, dan kelestarian lingkungan. PTT padi dirancang berdasarkan pengalaman implementasi berbagai sistem intensifikasi padi yang pernah dikembangkan di Indonesia. Tujuan penerapan PTT padi adalah untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani padi serta memelihara lingkungan produksi melalui pengelolaan air, tanaman, OPT, dan Iklim terpadu (Departemen Pertanian, 2008).
PTT mencakup empat unsur, yaitu; (1) integrasi, yaitu pada pengimplementasiannya di lapangan, PTT mengintegrasikan sumberdaya lahan, air, tanaman, OPT, dan iklim untuk mampu meningkatkan produktivitas lahan dan tanaman sehingga dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi petani; (2) interaksi, yaitu PTT berlandaskan pada pengaruh sinergis atau interaksi antara dua atau lebih komponen; (3) dinamis, yaitu selalu mengikuti perkembangan teknologi dan penerapannya disesuaikan dengan keinginan dan pilihan petani, oleh karena itu PTT selalu bercirikan spesifik lokasi dimana teknologi yang
dikembangkan melalui pendekatan PTT senantiasa mempertimbangkan lingkungan fisik, biofisik, iklim, dan kondisi sosial ekonomi petani setempat; dan (4) partisipatif, yaitu membuka ruang bagi petani untuk memilih, mempraktekkan,
dan bahkan menyempurnakan PTT, serta menyampaikan pengetahuan yang dimiliki kepada petani lain (Departemen Pertanian, 2008).
Badan Litbang Pertanian (2007) menyusun alternatif komponen teknologi yang dapat diintroduksi dalam pengembangan model PTT yang terdiri atas:
(1) Varietas unggul merupakan salah satu teknologi utama yang mampu meningkatkan produktivitas padi dan pendapatan petani. Dengan tersedianya varietas padi yang telah dilepas pemerintah, kini petani dapat memilih varietas yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat. Varietas padi yang telah dilepas adalah IR 64, Ciherang, Ciliwung, Way Apo Buru, IR 42, Widas, Membrano, Cisadane, IR 66, Cisokan, Cirata, dan IR 36. (2) Benih bermutu: penggunaan benih bersertifikat dan benih dengan vigor
tinggi sangat disarankan, karena: (a) benih bermutu akan menghasilkan bibit yang sehat dengan akar yang banyak, (b) benih yang baik akan menghasilkan perkecambahan dan pertmbuhan yang seragam, (c) ketika ditanam pindah, bibit dari benih yang baik dapat tumbuh lebih cepat dan regar, (d) benih yang baik akan memperoleh hasil yang tinggi. Gabah padi dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu gabah yang memiliki Densitas Tinggi (DT) dan gabah yang memiliki Densitas Rendah (DR). Gabah DT
memiliki spesifik gravitasi sekurang-kurangnya 1.20, sedangkan gabah DR memiliki spesifik gravitasi hanya 1.05 bahkan kurang.
(3) Bibit muda akan menghasilkan anakan lebih tinggi dibandingkan dengan
bila menggunakan bibit lebih tua, Untuk mendapatkan bibit dan pertumbuhan tanaman yang baik, harus diperhatikan beberapa kegiatan, antara lain: (a) persiapan pembibitan yang baik, (b) gunakan bahan organik pada fase pembibitan, dan (c) lindungi bibit padi dari serangan hama.
20 centimeter di kali 10 centimeter. Cara tanam berselang-seling dua baris dan satu baris kosong. Sistem sejajar legowo mempunyai beberapa keuntungan, yaitu: (a) semua barisan rumpun tanaman berada pada bagian pinggir yang biasanya memberikan hasil lebih tinggi (efek tanaman pinggir); (b) pengendalian hama, penyakit, dan gulma lebih mudah; (c) menyediakan ruang kosong untuk pengaturan air, saluran pengumpulan keong mas, atau untuk mina padi, dan (d) penggunaan pupuk lebih berdaya guna.
(5) Pemupukan N berdasarkan Bagan Warna Daun (BWD): agar efektif dan efisien, penggunaan pupuk disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan ketersediaan hara dalam tanah. Kebutuhan N tanaman dapat diketahui dengan cara mengukur tingkat kehijauan warna daun padi menggunakan BWD. Pembacaan BWD hanya dilakukan menjelang pemupukan ke dua (tahapan anakan aktif, 23 sampai dengan28 hari setelah tanam) dan pemupukan ketiga (tahap primordial, 38 sampai dengan 42 hari setelah tanam).
(6) Bahan organik yang telah dikomposkan berperan penting dalam perbaikan sifat kimia, fisika dan biologi tanah serta sumber nutrisi tanah. Sumber bahan kompos antara lain berasal dari limbah organik seperti sisa-sisa
tanaman (jerami, batang, dahan), sampah rumah tangga, kotoran ternak, arang sekam, dan abu dapur.
(7) Pengairan berselang (intermittent irrigation) adalah pengaturan kondisi lahan dalam kondisi kering dan tergenang secara bergantian. Kondisi ini bertujuan: (a) menghemat irigasi, (b) memberi kesempatan pada akar tanaman untuk mendapatkan udara, (c) mencegah timbulnya keracunan besi, (d) mencegah penimbunan asam organik dan gas J2S yang menghambat perkembangan akar, (e) menyeragamkan pemasakan gabah dan mem-percepat waktu panen, (f) memudahkan pembenaman pupuk dalam tanah, (g) memudahkan pengendalian hama keong mas, dan (h) mengurangi kerusakan tanaman padi karena hama tikus.
padi bersertifikat, hanya menggunakan kompos sisa tanaman dan kompos pupuk kandang yang menggunakan herbisida apabila investasi gula sudah tinggi. Keuntungan penggunaan alat mekanis adalah: (a) ramah lingkungan, (b) lebih ekonomis, hemat tenaga kerja dibandingkan dengan penyianganbiasa dengan tangan, (3) meningkatkan sirkulasi udara di dalam tanah dan merangsang pertumbuhan akar padi akan lebih baik, dan (4) apabila dilakukan bersamaan atau segera setelah pemupukan akan membenamkan pupuk ke dalam tanah, sehingga pemberian pupuk menjadi lebih efisien.
(9) Pengendalian hama dan penyakit secara terpadu merupakan pendekatan pengendalian yang memperhitungkan faktor ekologi sehingga pengendalian dilakukan agar tidak terlalu menganggu keseimbangan alami dan tidak menimbulkan kerugian besar. Cara pengendalian diantaranya dilakukan monitoring populasi hama dan kerusakan tanaman sehingga penggunaan teknologi pengendalian dapat diterapkan. Langkah-langkah pengendalian akan berbeda dari setiap hama yang akan dikendalikannya.
(10) Penanganan panen dan pasca panen: penanganan ini harus tepat untuk itu, ada beberapa hal yaitu antara lain: (a) potong padi dengan sabit gerigi, (b) panen dilakukan oleh kelompok pemanen yang professional, (c) perontokan
segera dilakukan tidak boleh lebih dari 2 hari karena akan menyebabkan kerusakan beras, (d) menggunakan terpal sebagai alas yang cukup, (e) pengeringan, dan (f) penggilingan dan penyimpanan.
PTT telah diujicobakan semenjak tahun 2001 pada lahan petani dengan melibatkan petani setempat di Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan. Hasil uji coba tersebut menunjukkan bahwa inovasi teknologi baru ini meningka tkan hasil padi sekitar 7 sampai dengan 38 persen. Dengan demikian PTT mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan lebih lanjut (Badan Litbang Pertanian, 2003)
antar lokasi. Produksi padi melalui pendekatan PTT mulai dari 5,99 ton per hektar sampai dengan 6,51 ton per hektar, sedangkan populasi padi di daerah yang sama tanpa pendekatan PTT hanya 3,70 ton per hektar samapai dengan 7,70 ton per hektar (Badan Litbang Pertanian, 2003)
Inovasi Pendekatan PTT Padi
Pengertian Inovasi. Menurut Rogers dan Shoemaker (1971), inovasi merupakan ide-ide baru, praktek-praktek baru, atau obyek-obyek baru yang dapat dirasakan sebagai suatu yang baru oleh masyarakat atau individu yang menjadikan sasaran penyuluhan. Lionberger dan Gwin (1982), mengartikan inovasi bukan sekedar sesuatu yang baru, namun lebih luas dari itu, yakni sesuatu yang dinilai baru atau sesuatu yang dapat menolong terjadinya dalam masyarakat lokalitas atau komunitas tertentu. Lebih luas dijelaskan oleh Mardikanto (2009) bahwa inovasi adalah susuatu ide, prilaku, produk, informasi, dan praktek-praktek baru yang belum banyak diketahui, diterima, dan digunakan atau diterapkan oleh sebagian besar warga masyarakat dalam suatu lokalitas tertentu, yang dapat digunakan atau
mendorong terjadinya perubahan-perubahan di segala aspek kehidupan masyarakat demi terwujudnya perbaikan mutu hidup setiap individu dan seluruh masyarakat yang bersangkutan.
Van den Ban dan Hawkins (1999) menjelaskan bahwa inovasi merupakan suatu gagasan, metode, atau obyek yang dianggap sebagai sesuatu yang baru, tetapi tidak selalu merupakan hasil dari penelitian mutakhir. Sebagai materi penyuluhan inovasi teknologi tersebut yang akan disampaikan kepada pelaku utama dan pelaku usaha harus mendapatkan rekomendasi dari lembaga pemerintah kecuali inovasi yang berasal dari pengetahuan tradisional (Undang-undang No. 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan, Pertanian, Perikanan dan Kehutanan).
yang terdapat dalam upaya meraih hasil yang diinginkan. Inovasi teknologi baru selalu mempunyai dua komponen, yaitu perangkat keras dan perangkat lunak.
Arintadisastra et al. (2001) mengartikan inovasi sebagai teknologi yang merupakan tindakan atau langkah pembaharuan dalam pelaksanaan kegiatan yang terjadi karena adanya teknologi baru baik dalam aspek produksi maupun dalam pemasaran yang layak diterapkan oleh petani dan telah teruji adaptasinya dengan kondisi setempat pembangunan pertanian mensyaratkan adanya proses dan jaringan alih teknologi dari sumber teknologi kepada para petani secara berkelanjutan.
Karakteristik Inovasi. Untuk dapat memperkirakan sejauh mana inovasi teknologi dapat dipahami oleh penggunanya, perlu diperhatikan karakteristik inovasi tersebut. Rogers (1995) menyebutkan lima ciri inovasi yaitu sebagai berikut:
(1) Keuntungan relatif. Rogers dan Shoemaker (1971) mengartikan keuntungan relative sebagai tingkatan suatu ide baru dianggap lebih baik dari ide-ide atau cara-cara sebelumnya. Apabila memang benar inovasi baru tersebut
akan memberikan keuntungan yang relatif besar dari nilai yang dihasilkan oleh teknologi lama, maka kecepatan proses adopsi inovasi akan berjalan lebih cepat.
(2) Keselarasn Inovasi. Hal ini berkaitan dengan nilai-nilai sosial budaya dan kepercayaan, dengan inovasi yang diperkenalkan sebelumnya, atau dengan keperluan yang dirasakan penggunan (Sugarda et al. 2001). Inovasi yang tidak sesuai dengan ciri-ciri sistem sosial yang menonjol akan tidak diadopsi secepat dengan yang kompetibel. Kompatibilitas memberikan jaminan lebih besar dan resikol lebih kecil bagi penerima, membuat ide baru itu lebih berarti bagi penerima. Suatu inovasi mungkin lebih kompetibel dengan: (a) nilai-nilai dan kepercayaan sosiokultural, (b) ide-ide diperkenalkan terlebih dahulu, dan (c) sesuai dengan kebutuhan klien terhadap inovasi.
(3) Tingkat Kerumitan. Untuk mempelajari dan menggunakan inovasi adalah tingkat dimana suatu inovasi dianggap sulit untuk dimengerti dan digunakan. Suatu ide baru mungkin dapat digolongkan kedalam continuum
penerima tertentu, sedangkan bagi yang lainnya tidak. Kerumitan inovasi menurut pengamatan anggota sistem sosial, berpengaruh negatif dengan kecepatan adopsi. Artinya, makin mudah inovasi teknologi baru tersebut dapat dipraktekkan, maka maikn cepat pula proses adopsi inovasi dapat berjalan leboh cepat, jadi penyajian inovasi baru tersebut harus lebih sederhana (Soekartawi et al. 1986)
(4) Dapat dicoba. Dapat dicoba adalah suatu tingkat suatu inovasi baru dapat dicoba dalam skala kecil. Kemudahan inovasi untuk dapat dicoba oleh pengguna berkaitan dengan keterbatasan sumberdaya yang ada. Inovasi dapat dicoba sedikit demi sedikit akan lebih cepat dipakai oleh pengguna dari pada inovasi yang tidak dapat dicoba sedikit demi sedikit (Sugarda et al. 2001). Apabila inovasi semakin mudah dan dapat dicoba maka proses adopsi inovasi yang dilakukan petani relatif cepat (Soekartawi et al. 1988). (5) Dapat diamati. Dapat diamati yang dimaksud adalah tingkat dimana
hasil-hasil suatu inovasi dapat dilihat oleh orang lain. Hasil-hasil-hasil tersebut mudah dikomunikasi dan dilihat oleh orang lain. Jika inovasi tersebut mudah
dilihat, maka calon-calon pengadopsi lainnya tidak perlu lagi menjalani tahap percobaan, melainkan ketahap berikutnya.
Tahapan Adopsi Inovasi. Studi adopsi mengindikasikan bahwa adopsi inovasi bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja, tetapi merupakan langkah akhir dalam berbagi tindakan berurutan, yang terdiri atas ide-ide yang bervariasi tentang jumlah yang pasti, sifat dan urutan langkah yang dilaluinnya Rogers (1995) menyusun tahapan adospi inovasi kedalam lima tahap, yaitu:
(1) Sadar (awareness), dimana petani menyadari dan mulai mengetahui tentang adanya inovasi yang ditawarkan oleh penyuluh
(2) Minat (interest), tahap ini merupakan tahap dimana petani mulai mengumpulkan informasi-informasi untuk mengetahui lebih banyak tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan inovasi yang ditawarkan penyuluh (3) Evaluasi (evaluation), dimana petani melakukan penilaian terhadap
ekonomi, maupun aspek sosial budaya, bahkan seringkali juga ditinjau dari aspek politis atau kesesuaian dengan kebijakan pembangunan nasional dan regional.
(4) Mencoba (trial), dimana petani mulai mencoba inovasi yang ditawarkan dalam bentuk skala kecil sebelum menerapkan dalam skala yang lebih luas lagi.
KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN
Kerangka Berpikir
SL-PTT padi merupakan salah satu program penyuluhan yang dimaksudkan untuk meningkatkan kemandirian petani dalam melaksanakan budidaya padi. Kegiatan SL-PTT dapat dikatakan efektif apabila petani peserta SL-PTT mampu menerapkan inovasi yang ditawarkan sehingga mampu meningkatkan produktivitas padi dan meningkatkan pendapatan petani. Efektivitas dari kegiatan SL-PTT dapat dipengaruhi oleh efektivitas komunikasi yang berlangsung dalam kegiatan tersebut. Salah satu faktor yang mempengaruhi efektivitas dari komunikasi adalah tingkat homofili para peserta komunikasi. Dalam kegiatan SL-PTT, dapat diasumsikan bahwa efektivitas kegiatan SL-PTT akan dipengaruhi oleh tingkat homofili petani dan penyuluh.
Tingkat homofili petani dan penyuluh terbagi atas dua, yaitu homofili obyektif dan homofili subyektif. Homofili obyektif merupakan tingkat kesamaan karakteristik antara petani dengan penyuluh yang terdiri dari: karakteristik umur,
jenis kelamin, pendidikan, pengalaman, etnis/suku, status sosial dan ekonomi dalam masyarakat, kepercayaan, dan sikap. Homofili subyektif merupakan tingkat kesaamaan persepsi petani dan penyuluh terhadap: inovasi-inovasi PTT padi. Efektivitas kegiatan SL-PTT padi dapat diukur melalui tingkat adopsi inovasi petani yaitu: sadar, minat, evaluasi, mencoba, menerapkan. Pengaruh tingkat homofili petani dan penyuluh dengan tingkat adopsi inovasi PTT padi dapat dilihat pada kerangka berpikir penelitian (Gambar 2).
Hipotesis Penelitian
(1) Tingkat homofili obyektif petani dan penyuluh berpengaruh secara nyata dengan tingkat homofili subyektif petani dan penyuluh
(2) Tingkat homofili obyektif petani dan penyuluh berpengaruh secara nyata terhadap penerapan inovasi PTT padi.