Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian survei yang bersifat deskriptif analitis, yang memusatkan perhatian pada suatu permasalahan dengan cara mengumpulkan data, menyusun dan menganalisisnya. Penelitian survei menurut Singarimbun dan Effendi (1995) adalah penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dengan menggunakan kuesioner (daftar pertanyaan) sebagai alat pengumpulan data. Data dikumpulkan melalui wawancara langsung dengan petani kemudian data ditabulasi, dianalisis secara kualitataif dan kuantitatif kemudian di interpretasi (Branner 1997). Hasil akhirnya merupakan suatu gambaran permasalahan yang ditampilkan melalui tabel data dan peubah yang kemudian dianalisis dengan analisis statistik sebagai alat ujinya.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Provinsi Jambi merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang melaksanakan kegiatan SL-PTT padi dalam upaya untuk meningkatakan produktivitas padi serta kesejahteraan petaninya. Kegiatan ini telah dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BPTP) jambi sejak awal tahun 2009. Luas penanaman SL-PTT padi yang ditargetkan di provinsi jambi terdiri dari padi non-hibrida 30.000 ha, padi hibrida 1.000 ha, dan padi lahan kering 10.000 ha. SL-PTT padi ini dilaksanakan di tujuh kabupaten penghasil beras di provinsi yaitu di Kabupaten Kerinci, Kabupaten Sarolangun, Kabupaten merangin, Kabupaten Bungo, Kabupaten Tebo, Kabupaten Batang Hari, dan Kabupaten Muarojambi (BPTP Provinsi Jambi, 2011).
Kabupaten Muarojambi merupakan salah satu kabupaten yang dinyatakan cukup sukses melaksanakan kegiatan SL-PTT padi. Bukti nyata keberhasilan itu salah satunya adalah peluncuran beras cap Candi Muaro Jambi pada tanggal 28 Oktober 2010 di Desa Pudak yang diresmikan langsung oleh Gubernur Provinsi Jambi dan dihadiri oleh pejabat pemerintahan pusat dan daerah.
Kabupaten Muarojambi terdiri dari delapan kecamatan dan lima di antaranya merupakan kecamatan penghasil beras yaitu Kecamatan Kumpeh Ulu, Kecamatan Kumpeh, Kecamatan Muaro Sebo, Kecamatan Jaluko dan
Kecamatan Sekernan. Kegiatan SL-PTT padi telah berjalan di lima kecamatan tersebut. Sasaran luasan pelaksanaan SL-PTT padi non-hibrida di kabupaten ini adalah lahan sawah seluas 2500 ha dengan 100 unit SL-PTT. Sasaran luas masing-masing kecamatan terdiri dari: (1) Kecamatan Sekernan dengan luas lokasi SL-PTT 400 ha, (2) Kecamatan Jambi Luar Kota dengan luas lokasi SL- PTT 450 ha, (3) Kecamatan Muaro Sebo dengan luas lokasi SL-PTT 450 ha, (4) Kecamatan Kumpeh dengan luas lokasi SL-PTT 650 ha, dan (5) Kecamatan Kumpeh Ulu dengan luas lokasi SL-PTT 550 ha (BPTP Provinsi Jambi, 2011).
Pelaksanaan kegiatan SL-PTT ini melibatkan Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) sebanyak 30 orang penyuluh yang tersebar di 35 desa dari lima kecamatan lokasi pelaksanaan SL-PTT padi. Pembagaian wilayah kerja penyuluh adalah sebagai berikut: (1) Kecamatan Sekernan, terdiri dari enam desa/kelurahan dan enam orang PPL; (2) Kecamatan Jambi Luar Kota, terdiri dari lima desa/kelurahan dan lima orang PPL; (3) Kecamatan Muaro Sebo, terdiri dari sebelas desa/kelurahan dan tujuh orang PPL; (4) Kecamatan Kumpeh, terdiri dari tiga desa/kelurahan dan tiga orang PPL; dan (5) Kecamatan Kumpeh Ulu, terdiri dari sepuluh desa/kelurahan dan sembilan orang PPL.
Berdasarkan data tersebut, maka penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muaro Jambi Provinsi Jambi dengan beberapa pertimbangan sebagai berikut: (1) Kecamatan Kumpeh Ulu memiliki jumlah penyuluh yang paling banyak. Jumlah penyuluh yang banyak diprioritaskan agar penelitian ini memiliki keragaman yang luas mengenai tingkat kehomofilian penyuluh dengan petani; (2) Kecamatan Kumpeh Ulu merupakan kecamatan yang telah diakui keberhasilannya dalam pencapaian produksi padi, salah satunya melalui kegiatan peluncuran beras oleh pemerintah provinsi di salah satu desa yang ada di kecamatan tersebut; (3) Kecamatan Kumpeh Ulu memiliki sasaran luasan pelaksanaan SL-PTT padi terluas ke dua setelah Kecamatan Kumpeh di Kabupaten Muarojambi; dan (4) Kecamatan Kumpeh Ulu memiliki sasaran desa pelaksanaan SL-PTT padi terbanyak ke dua setelah Kecamatan Muaro Sebo di Kabupaten Muarojambi. Banyaknya jumlah desa diprioritaskan karena diasumsikan bahwa banyaknya jumlah desa berbanding lurus dengan banyaknya
keragaman karakteristik yang ditemukan pada populasi yang menjadi obyek pada penelitian ini.
Penelitian lapangan dilaksanakan pada bulan Mei hingga bulan Juli tahun 2011.
Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah petani yang menjadi peserta SL-PTT padi dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang bertugas khusus untuk pendampingan kegiatan SL-PTT padi yang ada di Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi.
Penarikan sampel petani atau metode sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah proporsional cluster sampling. Bungin (2005) menjelaskan bahwa jika mengadakan penelitian yang mengisyaratkan populasi dalam bentuk unit khusus seperti agama, golongan, suku, bangsa, atau dikatakan populasi
cluster, maka teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik cluster
sampling. Bungin (2005) selanjutnya juga menjelaskan bahwa penarikan jumpah
sampel pada populasi berstrata dan populasi cluster dapat dilakukan dengan proporsional sampling. Proporsional sampling digunakan agar penggunaan sampel dalam kelas-kelas tersebut dapat berimbang. Berdasarkan penjelasan pada paragraf sebelumnya, maka pengambilan sampel petani dilakukan dengan cara mengelompokkan populasi petani sesuai kontaknya dengan penyuluh. Setiap kelompok populasi petani dengan penyuluh terbagi lagi dalam bentuk kelompok tani. Dari setiap kelompok tani tersebut akan ditarik sampel sebanyak 25 persen dari total populasi kelompok tani tersebut dan sampel akan diambil secara acak. 25 persen sampel di anggap mampu mewakili keragaman populasi yang ada di lokasi penelitian.
Selain petani sampel, seluruh penyuluh kegiatan SL-PTT padi di Kecamatan Kumpeh Ulu juga dijadikan responden. Populasi penyuluh di Kecamatan ini berjumlah sebanyak sembilan orang. Pengambilan data penyuluh dilakukan dengan menggunakan metode sensus, namun pada saat pengambilan data di lapangan diperoleh informasi bahwa dua dari sembilan orang penyuluh tidak dapat dilibatkan sebagai responden karena pelaksanaan kegiatan SL-PTT padi di kelompok binaannya belum terlaksana, sehingga jumlah responden
penyuluh menjadi tujuh orang. Secara keseluruhan, jumlah responden dalam penelitian ini adalah sebanyak 173 orang responden yang terdiri dari 7 orang PPL dan 166 orang petani peserta SL-PTT padi. Populasi dan jumlah sampel dalam penelitian ini secara rinci tercantum pada Tabel 1.
Tabel 1 Populasi, sampel, dan jumlah sampel petani dan penyuluh berdasarkan desa dan kelompok tani di Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muarojambi Provinsi Jambi tahun 2011
No
Responden
Penyuluh Petani
Desa Kelompok Tani Populasi Sampel Jumlah Sampel
(1) A Muaro Kumpeh Dano Tamiang 60 15 26
Muaro Kumpeh Sekintang Jayo 45 11
(2) B Pudak Sri Rejeki 48 12 33
Pudak Makmur Sejahtera 27 7
Pudak Tunas Muda 28 7
Pudak Jaya Bersama 29 7
(3) C Kota Karang Suka Maju 28 7 10
Kota Karang Tunas Muda 12 3
(4) D Solok Sido Makmur 49 12 12
(5) E Sumber Jaya Harapan 56 14 51
Sumber Jaya Makmur 33 8
Arang Arang Kasih Embun 70 18 Arang Arang Usaha Tani 43 11
(6) F Sipin Teluk Duren Usaha Bersama 80 20 20
(7) G Tarikan Harapan Makmur 54 14 14
Jumlah 7 662 166 166
Total Responden = Responden Penyuluh + Responden Petani = 7 + 166 = 173 Sumber : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Jambi (2011)
Ket: *) Nama PPL tidak disebutkan nama yang sebenarnya dan hanya diberi kode huruf saja
Data dan Instrumentasi
Data dalam penelitian ini terbagi atas dua yaitu data primer dan data sekunder. Data primer meliputi karakteristik petani dan penyuluh, persepsi petani dan penyuluh, tingkat kehomofilian petani dan penyuluh, dan tingkat penerapan inovasi PTT padi. Data sekunder diperoleh dari instansi terkait di wilayah penelitian, yang berfungsi sebagai pendukung dan pelengkap data primer.
Instrumenasi merupakan keragaman alat yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian. Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi di wilayah penelitian dan wawancara. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang berisikan tentang pertanyaan dan pernyataan untuk menggali data. Data persepsi petani dan penyuluh di ukur dengan menggunakan skala Likert (1 – 4) yakni: (1) skor 1
apabila responden sangat tidak setuju dengan pernyataan, (2) skor 2 apabila responden tidak setuju dengan pernyataan, (3) skor 3 apabila responden setuju dengan pernyataan, dan (4) skor 4 apabila responden sangat setuju dengan pernyataan. Data tingkat homofili petani dan penyuluh diperoleh dengan mengukur selisih skor yang dimiliki oleh penyuluh dengan petaninya. Kuesioner tersebut digunakan sebagai panduan wawancara sehingga dapat diketahui informasi atau data masing-masing peubah penelitian.
Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Sugiyono (2007) menyatakan bahwa instrumen yang valid dan reliabel merupakan syarat untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid dan reliabel, namun masih dipengaruhi kondisi obyek yang yang diteliti dan kemampuan orang yang menggunakan instrumen. Singarimbun dan Effendi (1995) menjelaskan bahwa alat ukur dikatakan sah (valid) apabila alat ukur tersebut dapat mengukur data yang sebenarnya ingin di ukur. Muhidin dan Abdurrahman (2007) menyatakan bahwa validitas dan reliabilitas adalah tempat kedudukan untuk menilai kualitas semua alat dan prosedur pengukuran. Sebelum melakukan pengambilan data primer, maka instrument penelitian dirancang atau disusun sedemikian rupa dan diujicobakan pada 30 responden petani dari 2 desa di kabupaten yang sama yang menjadi tempat pelaksanaan kegiatan SL-PTT padi dan memiliki karakteristik yang mendekati desa lokasi penelitian. Data yang dikumpulkan selanjutnya dianalisis untuk mengetahui validitas dan reabilitasnya. Pengujian validitas dan reliabilitas dilakukan dengan bantuan perangkat lunak Microsoft Excel 2007.
Validitas Instrumen. Instrumen alat ukur dikatakan valid jika instrumen dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Validitas instrumendalam penelitian diukur dengan menggunakan koefisensi korelasi Product Moment dari Karl Person yang dilambangkan r dengan rumus:
= � . −( )
� � 2−( )2 � 2−( )2 keterangan :
rxy = koefisien korelasi
N = jumlah responden uji coba
X = skor tiap item
Y = skor seluruh item responden uji coba
Setelah didapatkan nilai r maka akan diperoleh nilai t dengan rumus:
= (� −2)
(1− 2)
Nilai t selanjutnya dibandingkan dengan nilai t-tabel pada taraf kepercayaan 95 persen yaitu 1.701. Jika nilai t-hitung lebih besar (>) dari t-tabel, maka instrumen dinyatakan valid. Jika nilai t-hitung lebih kecil (<) dari t-tabel, maka instrumen dinyatakan tidak valid.
Uji validitas instrumen menunjukkan bahwa dari 120 instrumen penelitian yang terdiri dari peubah sikap, persepsi, dan adopsi inovasi, 108 instrumen dinyatakan valid dan 12 instrumen dinyatakan tidak valid. Instrumen penelitian yang tidak valid adalah instrumen tentang inovasi penggunaan Bagan Warna Daun (BWD), karena inovasi tersebut tidak diperkenalkan kepada petani di lokasi tempat di ujinya instrumen penelitian ini. Penelusuran informasi lebih mendalam mendapatkan bahwa di lokasi kecamatan tempat dilakukan penelitian juga tidak diperkenalkan inovasi ini kepada petani sehingga instrumen ini dieliminasi. Uji validitas instrumen penelitian keseluruhan dapat dilihat pada Lampiran 2.
Reliabilitas Instrumen. Pengujian reabilitas instrumen bertujuan untuk mengetahui konsistensi dari instrumen sebagai alat ukur sehingga diharapkan hasil pengukuran dapat dipercaya. Reliabilitas instrument dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan formula koefisien Cronbach Alpha (α) (Siharsimi 1993). Instrumen memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi jika nilai koefisien yang diperoleh lebih besar dari (>) 0.70 (Sugiyono 2010). Hasil uji reabilitas instrument menunjukkan bahwa nilai hitung α sikap terhadap PTT padi adalah 0.853 dan nilai hitung α persepsi terhadap PTT padi adalah 1.019. Nilai hitung α kedua instrument ini lebih besar dari 0.70. Kesimpulan yang diperoleh adalah instrumen yang disusun reliabel untuk digunakan dalam penelitian.
Definisi Operasional dan Pengukuran Peubah
Definisi operasional dan pengukutan peubah karakteristik petani dan penyuluh, persepsi petani dan penyuluh, tingkat homofili petani dan penyuluh, dan tingkat penerapan inovasi dalam kegiatan SL-PTT padi disajikan pada Tabel 2, Tabel 3, Tabel 4, dan Tabel 5.
Tabel 2 Definisi operasional, indikator, dan pengukur peubah karakteristik responden petani dan penyuluh
No Peubah Indikator Definisi Operasional Pengukur (1) Umur Jumlah tahun
lama hidup yang sudah dijalani sampai dengan saat pelaksanaan penelitian
lamanya hidup yang sudah dijalani responden sejak dilahirkan sampai dengan saat wawancara dilaksanakan
Usia dinyatakan dalam tahun, dan diklasifikasikan menjadi muda, sedang, dan tua
(2) Jenis kelamin Jenis kelamin Jenis kelamin responden
Jenis kelamin responden dinyatakan dalam laki-laki atau perempuan
(3) pendidikan Jumlah tahun lamanya
seseorang mengikuti pendidikan formal
Lamanya pendidikan yang diikuti responden
lamanya responden mengikuti pendidikan formal yang dinyatakan dalam tahun dan diklasifikasikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi (4) Pengalaman Jumlah tahun
lamanya seseorang menekuni suatu kegiatan Lamanya responden beruasahatani padi
Jumlah tahun pengalaman berbudidaya berdasarkan sebenarnya diklasifikasikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi. (5) Etnis Identitas kesukuanseseoran g Identitas suku responden
Etnis responden merupakan latarbelakang kesukuan responden (6) status sosial ekonomi Derajad kehormatan yang diberikan masyarakat kepada seseorang berdasarkan kedudukan dan kekayaan derajad kehormatan yang diberikan masyarakat kepada responden berdasarkan kedudukan dan kekayaan
Status sosial ekonomi responden di masyarakat diklasifikasikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi
(7) kepercayaan Komponen kognitif dari faktor sosiopsikologis seseorang terhadap hal-hal yang berkaitan dengan sesuatu Komponen kognitif dari faktor sosiopsikologis responden terhadap hal-hal yang berkaitan dengan budidaya padi
Kepercayaan responden diklasifikasikan berdasarkan identifikasi temuan di lapangan (8) Kehomofilian sikap Motif sosiogenesis dari seseorang terhadap hal-hal yang berkaitan dengan suatu obyek
motif sosiogenesis dari responden terhadap hal-hal yang berkaitan dengan PTT padi
Sikap responden diukur dengan menggunakan skala likert dengan skala 1 s.d. 4 yang dinyatakan dengan: 1 = sangat tidak setuju 2 = tidak setuju 3 = setuju 4 = sangat setuju
Dan diklasifikasikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi
Tabel 3 Definisi operasional, indikator, dan pengukuran peubah tingkat homofili obyektif petani dan penyuluh
No Indikator Definisi Operasional Pengukur (1) Homofili
Umur
Tingkat kesamaan lamanya hidup yang sudah dijalani responden petani dan penyuluh sejak dilahirkan sampai dengan saat wawancara dilaksanakan
Homofili umur diklasifikasikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi, dengan pengukuran::
Skor 3 = tidak ada perbedaan klasifikasi umur antara penyuluh dan petani
Skor 2 = selisih satu kelasifikasi umur antara penyuluh dan petani
Skor 1 = selisih dua klasifikasi umur antara penyuluh dan petani
(2) Homofili Jenis kelamin
Tingkat kesamaan jenis kelamin antara responden dengan penyuluh
Homofili jenis kelamin diklasifikasikan menjadi sama dan berbeda dengan pengukuran:
Skor 2= jenis kelamin sama Skor 1 = jenis kelamin berbeda (3) Homofil
pendidikan
Tingkat kesamaan lamanya pendidikan yang diikuti antara responden petani dengan penyuluh
Homofili pendidikan diklasifikasikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi, dengan pengukuran: Skor 3 = tidak ada perbedaan klasifikasi pendidikan antara penyuluh dan petani
Skor 2 = selisih satu kelasifikasi pendidikan antara penyuluh dan petani
Skor 1 = selisih dua klasifikasi pendidikan antara penyuluh dan petani
(4) HomofiliPe ngalaman Tingkat kesamaan lamanya melakukan budidaya antara responden petani dengan penyuluh
Homofili pengalaman diklasifikasikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi, dengan pengukuran: Skor 3 = tidak ada perbedaan klasifikasi pengalaman antara penyuluh dan petani
Skor 2 = selisih satu kelasifikasi pengalaman antara penyuluh dan petani
Skor 1 = selisih dua klasifikasi pengalaman antara penyuluh dan petani
(5) Homofili Etnis
Tingkat kesamaan identitas suku antara responden petani dengan penyuluh
Homofili etnis diklasifikasikan menjadi sama dan berbeda denngan pengukuran:
Skor 2= etnis sama Skor 1 = etnis berbeda (6) Homofili status sosial ekonomi Tingkat kesamaan derajad kehormatan yang diberikan masyarakat keada responden petani dan penyuluh berdasarkan kedudukan dan kekayaan
Homofili status sosial ekonomi diklasifikasikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi, dengan pengukuran:
Skor 3 = status sosial ekonomi antara penyuluh dan petani sama
Skor 2 = selisih satu kelasifikasi p status sosial ekonomi antara penyuluh dan petani
Skor 1 = selisih dua klasifikasi status sosial ekonomi antara penyuluh dan petani
(7) Homofili kepercayaan
Tingkat kesamaan komponen kognitif dari faktor sosiopsikologis antar petani dengan penyuluh terhadap hal- hal yang berkaitan dengan PTT padi
Homofili kepercayaan diklasifikasikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi, dengan Pengukuran: Skor 3 = kepercayaan sama
Skor 2 = kepercayaan sedikit berbeda Skor 1 = kepercayaan berbeda
(8) Homofili sikap
Tingkat motif sosiogenesis dari petani dan penyuluh terhadap hal-hal yang berkaitan dengan PTT padi
Homofili sikap diklasifikasikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi, dengan pengukuran:
Skor 3 = Klasifikasi sikap sama
Skor 2 = selisih satu kelasifikasi sikap antara penyuluh dan petani
Tabel 4 Definisi operasional, indikator, dan pengukur peubah persepsi responden Peubah Indikator Definisi Operasional Pengukur
perspsi petani dan penyuluh terhadap PTT padi Pengertian seseorang terhadap sesuatu
Pengertian responden terhadap: penggunaan varietas unggul, penggunaan benih bermutu, penggunaan umur dan jumlah bibit, sistem tanam, penggunaan bahan organik sebagai pupuk dasar, sistem pengairan berselang, teknologi pengendalian gulma secara terpadu, teknologi pengendalian hama penyakit, dan teknologi panen dan pasca panen
Persepsi responden diukur dengan skala likert (1 – 4) yang dinyatakan dengan: 1 = sangat tidak setuju 2 = tidak setuju 3 = setuju 4 = sangat setuju
Tabel 5 Definisi operasional, indikator, dan pengukur peubah tingkat homofili subyektif petani dan penyuluh
Indikator Definisi Operasional Pengukur Homofili
Persepsi terhadap PTT padi
Tingkat kesamaan pengertian antara petani dengan penyuluh tentang: varietas unggul, benih bermutu, penggunaan umur dan jumlah bibit, sistem tanam, bahan organik sebagai pupuk dasar, sistem pengairan berselang, pengendalian gulma terpadu, pengendalian hama penyakit terpadu, dan penanganan panen dan pasca panen
Homofili persepsi terhadap PTT padi diklasifikasikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi, dengan pengukuran::
Skor 4 = tidak ada perbedaan skor persepsi terhada PTT padi antara penyuluh dan petani Skor 3 = selisih satu skor persepsi terhadap PTT padi antara penyuluh dan petani
Skor 2 = selisih dua skor persepsi terhada PTT padi antara penyuluh dan petani
Skor 1 = selisih tiga skor persepsi terhadap PTT padi antara penyuluh dan petani
Tabel 6 Definisi operasional, indikator, dan pengukur peubah tingkat adopsi inovasi PTT padi
Peubah Indikator Definisi Operasional Pengukur Tingkat
Penerapan PTT padi
Sadar Petani menyadari dan mulai mengetahui tentang adanya inovasi PTT padi
Skor 2 = responden mengetahui inovasi PTT padi
Skor 1 = responden tidak mengetahui inovasi PTT padi Minat Petani mengumpulkan
informasi untuk mengetahui inoformasi tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan inovasi PTT padi
Skor 2 = responden mencari informasi tentang inovasi PTT padi
Skor 1 = responden belum mencari informasi tentang inovasi PTT padi
Evaluasi petani menilai baik/buruk atau bermanfaatnya PTT padi yang telah diketahui informasinya lebih lengkap
Skor 2 = responden mengevaluasi inovasi PTT padi Skor 1 = responden belum mengevaluasi inovasi PTT padi Mencoba petani mulai mencoba inovasi
PTT padi dalam bentuk skala kecil sebelum menerapkan dalam skala yang lebih luas lagi.
Skor 2 = responden mencoba inovasi PTT pada skala kecil Skor 1 = responden belum mencoba inovasi PTT padi pada skala kecil
Menerapkan petani menerima atau menerapkan inovasi PTT padi dengan penuh keyakinan berdasarkan penilaian dan uji coba yang telah dilakukan dan diamatinya sendiri
Skor 2 = responden menerapkan inovasi PTT padi sepenuhnya
Skor 1 = responden belum menerapkan inovasi PTT padi sepenuhnya
Analisis Data
Data dalam penelitian ini dianalisis dengan pendekatan analisis non parametrik. Data yang dikumpulkan di-coding, di-entry,di tabulasi, di jumlah, dikategorikan berdasarkan kategorinya masing-masing dan di analisis dengan menggunakan perangkat lunak SPSS 18 dan kemudian. Data dianalisis dengan analisis deskriptif untuk mendeskripsikan karakteristik peubah yang diamati dan juga dianalisis dengan menggunakan menggunakan uji Korelasi Kendall Tau-b (τ) dengan rumus sebagai berikut:
�= > �� − �� −