• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keadaan Umum Wilayah Penelitian

Kumpeh Ulu merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Muaro Jambi dengan luas Wilayah 820 kilometer persegi. Kecamatan ini secara geografis terletak pada 10 hingga 150 sampai 20 hingga 200 derajat lintang selatan dan 1020 hingga 250 sampai 1040 hingga 300 derajat bujur timur. Batas wilayah Kecamatan Kumpeh Ulu sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Maro Sebo, sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Sungai Gelam, sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Kumpeh, dan sebelah Barat berbatasan dengan Kota Jambi. Posisi Kecamatan Kumpeh Ulu terletak di jalur sebelah Timur yang berdekatan dengan jantung Ibukota Provinsi Jambi. Sarana transportasi yang baik antara kecamatan ini dengan Kota Jambi sangat memadai untuk menunjang perekonomian masyarakat. Kecamatan ini secara administrasi terbagi menjadi 17 desa yaitu Desa Sungai Terap, Kasang Pudak, Kasang Lopak Alai, Solok, Sumber Jaya, Arang Arang, Sipin Teluk Duren, Pemunduran, Teluk Raya, Ramin, Tarikan, Lopak Alai, Sakean, Kota Karang, Pudak, Muaro Kumpeh, dan Kasang Kumpeh. Kecamatan Kumpeh Ulu sebagian besar merupakan dataran rendah dengan ketinggian 10 sampai dengan 300meter di atas permukaan laut.

Jumlah penduduk Kecamatan Kumpeh Ulu pada tahun 2010 adalah 45.824 jiwa yang terdiri dari 23.678 jiwa laki-laki dan 22.146 jiwa perempuan yang berada dalam 10.788 rumah tangga. Sebagian besar penduduk di kecamatan ini merupakan penduduk lokal dengan suku bangsa Melayu. Selain penduduk asli terdapat juga penduduk pendatang dengan suku bangsa Jawa, Batak, Minang, Bugis, Madura dan sebagian kecil Tionghoa. Mata pencaharian penduduk Kecamatan Kumpeh Ulu adalah sebagai petani, peternak, buruh perusahan perkebunan kelapa sawit, dan sisanya bekerja sebagai pegawai pemerintahan, pedagang, nelayan, serta jasa (Kecamatan Kumpeh Ulu dalam Angka, 2011).

Kecamatan Kumpeh Ulu terletak di daerah dataran rendah dengan lahan rawa gambut. Pengusahaan lahan pertanian di kecamatan ini pada umumnya lebih didominasi oleh tanaman Padi. Kecamatan Kumpeh Ulu juga dikenal sebagian sebagai daerah penghasil sayur dan buah-buahan utama khususya tanaman palawija dan holtikultura. Kondisi lahan yang terdiri dari dataran rendah dengan

lahan rawa gambut sangat memungkinkan masyarakat untuk membudidayakan tanaman sayuran dan buah-buahan. Buah duku merupakan salah satu komoditi buah-buahan yang sangat terkenal di kecamatan ini yang menjadi maskot flora Kabupaten Muaro Jambi dan menjadi salah satu sumber perekonomian masyarakat karena mempunyai harga yang cukup baik di pasar. Sentra tanaman duku hampir merata diseluruh wilayah Kumpeh Ulu terutama yang berada disepanjang Daerah Aliran Sungai Batang Hari tempat habitat duku berkembang.

Secara rinci, komoditas pertanian yang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat adalah: (1) padi; (2) palawija, yang teridiri dari jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ketela pohon, dan ketela rambat; (3) sayuran, yang terdiri dari kacang panjang, kacang buncis, cabe, tomat, mentimun, terong, kisik, bayam, kangkung, dan melinjo, dan (4) buah-buahan, yang terdiri dari rambutan, pisang, durian, duku, jeruk, nanas, alpukat, jambu, papaya, sawo, mangga, dan manggis.

Keadaan Umum Sistem Pertanian Padi di Wilayah Penelitian

Topografi Kecamatan Kumpeh Ulu pada umumnya merupakan daerah dataran rendah dengan lahan rawa gambut. Keadaan tersebut memungkinkan masyarakat untuk membudidayakan tanaman padi. Luas tanam komoditi padi di kecamatan ini pada tahun 2010 mencapai 640 hektar dan mampu memproduksi padi sebanyak 2733 ton dengan rata-rata produksi tertinggi dibandingkan kecamatan lainnya yaitu 6.77 ton per hektar. Total luas lahan sawah di kecamatan ini pada tahun 2010 adalah 999.4 hektar yakni 247 hektar merupakan sawah tadah hujan, 145 hektar sawah lebak, 110 hektar sawah irigasi setengah teknis, dan 359.4 hektar belum diusahakan (Kecamatan Kumpeh Ulu dalam Angka, 2011).

Budidaya padi merupakan sumber mata pencaharian yang baru bagi beberapa warga kecamatan Kumpeh Ulu, karena sebelumnya hanya ada beberapa desa yang melakukan budidaya padi, yaitu desa Muaro Kumpeh dan Desa Tarikan. Warga Kecamata Kumpeh Ulu pada umumnya baru melakukan kegiatan budidaya padi sekitar tiga tahun terakhir seiring dengan dilaksanakannya program SL-PTT padi di kecamatan ini. Sebelum program ini dilaksanakan, warga di kecamatan ini pada umumnya menggantungkan hidupnya dari hasil alam berupa

ikan sungai, udang sungai, palawija, sayur-sayuran, buah-buahan, dan perkebunan serta bidang jasa. Lahan sawah di kecamatan Kumpeh Ulu pada umumnya ditanami padi satu hingga dua kali per tahun. Lahan sawah di kecamatan ini sangat bergantung pada cuaca dan iklim karena pada umumnya merupakan sawah tadah hujan lebak yang tidak memiliki irigasi. Kalender musim tanam padi di Kecamatan Kumpeh Ulu dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7 Kalender musim tanam padi di Kecamatan Kumpeh Ulu Pola

Tanam Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des 1 kali

2 kali

Ket : Musim tanam I

Musim tanam II

Keadaan Umum Pelaksanaan SL-PTT Padi di Wilayah Penelitian

Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Muaro Jambi tahun 2009, Kecamatan Kumpeh Ulu menjadi salah satu kecamatan dari lima kecamatan yang masuk kedalam program Peningkatan Produksi Beras melalui kegiatan SL-PTT Padi. Kecamatan kumpeh Ulu dijadikan sebagai salah satu lokasi kegiatan SL-PTT padi karena diaggap oleh pemerintah memiliki potensi yang baik untuk pengembangan lahan padi sawah. Tujuan utama SL-PTT Padi di kecamatan ini adalah mempercepat alih teknologi melalui pelatihan dari penyuluh, peneliti, dan nara sumber lainnya. Melalui SL- PTT padi petani akan mampu mengambil keputusan untuk menerapkan teknologi yang sesuai dengan kondisi sumberdaya setempat secara sinergis dan berwawasan lingkungan sehingga kegiatan budidayanya akan menjadi lebih efisien, berproduktivitas tinggi, dan berkelanjutan. Pendekatan SL-PTT berfungsi sebagai pusat belajar pengambilan keputusan para petani/kelompok tani, sekaligus tempat tukar menukar informasi dan pengalaman lapangan, pembinaan manajemen kelompok, serta sebagai percontohan bagi kawasan lainnya. Kegiatan SL-PTT padi di Kecamatan Kumpeh Ulu telah dilaksanakan di lima desa pada tahun 2009, 10 desa pada tahun 2010 dan 11 desa direncanakan pada tahun 2011 (Tabel 8).

Tabel 8 Jumlah peserta, unit SL-PTT padi, dan pelaksanaan SL-PTT padi berdasarkan desa dan kelompok tani di Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muarojambi Provinsi Jambi tahun 2009 - 2011

Tahun Desa KelompokTani

Jumlah Peserta (Orang) Jumlah Unit SL-PTT Pelaksanaan 2009 Sipin Teluk Duren Usaha Bersama 80 1 Juli s.d Oktober Tarikan Harapan Makmur 54 1 Juli s.d Oktober Muaro Kumpeh Sakintang Dayo

Dano Tamiang

30 90

1 Juli s.d Oktober Pudak Jaya Bersama

Sri Rejeki

29 48

1 Juli s.d Oktober

Solok Sido Makmur 49 1 Juli s.d Oktober

2010 Tarikan Sejahtera 25 - Tidak Terlaksana

Sipin Teluk Duren Usaha Bersama 80 1 Juli s.d Oktober Arang Arang Kasih Embun 70 2 Juni s.d September

Usaha Tani 43

Sumber Jaya Harapan 56 1 Juli s.d Oktober

Makmur 33

Sungai Terap Sumber Rejeki 38 - Tidak Terlaksana Sakean Suka Maju Bersama 22 - Tidak Terlaksana Kota Karang Suka Maju 28 1 Juli s.d Oktober

Tunas Baru 12

Kasang Pudak Lantera 29 - Tidak Terlaksana

Madu Sari 30

Pudak Sri Rejeki 32 1 Juli s.d Oktober

Makmur Sejahtera 27 Tunas Muda 28

Muaro Kumpeh Dano Tamiang 45 1 Juli s.d Oktober Sekintang Dayo 45

2011 Sungai Terap Sumber Rejeki 38 1 Belum terlaksana Sipin Teluk Duren Usaha Bersama 45 1 Belum terlaksana Arang-Arang Kasih Embun 75 1 Belum terlaksana Sumber Jaya Harapan 36 1 Belum terlaksana

Tarikan Sejahtera 25 1 Belum terlaksana

Sakean Suka Maju Bersama 22 1 Belum terlaksana Kota Karang Suka Maju 28 1 Belum terlaksana Pudak Sri Rejeki

Tunas Muda

32 27

1 Belum terlaksana Muaro Kumpeh Sikintang Dayo

Dano Tamiang

35 30

1 Belum terlaksana Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jambi 2011

Tabel 8 menunjukkan bahwa kegiatan SL-PTT padi telah dilaksanakan di delapan desa. Beberapa desa tempat pelaksanaan kegiatan SL-PTT padi merupakan desa yang baru melakukan kegiatan budidaya padi dikarenakan adanya kegiatan SL-PTT padi. Desa-desa yang baru melaksanakan kegiatan budidaya padi adalah Desa Sipin Teluk Duren, Arang Arang, Solok, Kota Karang, dan Tarikan, sedangkan Desa Pudak dan Desa Muaro Kumpeh sudah pernah melakukan kegiatan budidaya padi sebelum kegiatan SL-PTT dilaksanakan.

Pelaksanaan kegiatan SL-PTT padi pada umumnya berjalan selama tiga hingga empat bulan dengan jumlah pertemuan sebanyak sepuluh sampai dengan tiga belas kali pertemuan. Pelaksanaan kegiatan ini dilaksanakan secara bersamaan dengan kegiatan penanaman padi yang dilakukan oleh petani dengan tujuan agar petani peserta SL-PTT dapat mengamati perbedaan yang terdapat pada lahan percobaan SL-PTT dan lahan petani sendiri.

Kegiatan SL-PTT padi di Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muaro Jambi saat ini sudah memasuki tahun ke tiga dan secara umum telah terlaksana dan berhasil meningkatkan produktivitas padi petani. Produktivitas padi petani yang mengikuti SL-PTT padi di Kecamatan ini pada tahun 2009 meningkat rata-rata 4.66 kuintal per hektar dengan total produksi keseluruhan sebesar 1297.55 ton dan total produksi tahun 2010 sebesar 1569.34 ton dengan tambahan tiga desa lokasi SL-PTT.

Karakteristik Petani Responden Peserta SL-PTT Padi

Karakteristik petani responden peserta SL-PTT yang diamati dalam penelitian ini adalah umur, jenis kelamin, pendidikan, pengalaman, suku/etnik, status sosial ekonomi, kepercayaan, dan sikap. Gambaran karakteristik petani responden secara keseluruhan disajikan dalam Tabel 9.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur rata-rata petani responden peserta SL-PTT padi di Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muaro Jambi adalah 45 tahun dengan rentang umur antara 24 tahun sampai dengan 64 tahun. Angka tersebut menunjukkan bahwa pada umumnya petani responden tergolong dalam usia sedang yaitu 38 tahun sampai dengan 51 tahun.. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa program ini cenderung memilih penduduk yang usianya masih muda untuk dibina menjadi petani padi karena 68.07 persen petani responden masih tergolong dalam kategori usia muda dan sedang. Soekartawi (1988) berpendapat bahwa petani yang lebih muda biasanya mempunyai semangat tinggi, karena keingintahuannya, sehingga mereka lebih cepat melakukan adopsi inovasi, walaupun mereka belum berpengalaman.

Berdasarkan karakteristik jenis kelaminnya, seluruh petani responden peserta kegiatan SL-PTT padi adalah laki-laki. Hal ini terjadi karena adanya

Tabel 9 Jumlah, dan persentase petani responden berdasarkan karakteristiknya di Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muarojambi Provinsi Jambi tahun 2011 Karakteristik Petani Responden Kategori Jumlah (orang) Persentase (%)

Umur Muda (24 – 37 tahun) 22 13.25

Sedang (38 – 51 tahun) 108 65.06

Tua (52 – 64 tahun) 36 21.69

Jenis Kelamin Laki-laki 166 100

Perempuan 0 0

Pendidikan Formal Tidak sekolah/tidak lulus SD 31 18.67

Lulus SD sederajad 73 43.98

Lulus SMP sederajad 39 23.49

Lulus SMA sederajad 23 13.86

Pengalaman :

(a) Lama budidaya Rendah (0 – 7 tahun) 143 86.15 Sedang (8 – 14 tahun) 18 10.84

Tinggi (15 – 21 tahun) 5 3.01

(b) Padi yang pernah dibudidaya

Ciherang 80 48.19

Cisokan 1 0.60

Impari 1 2 1.20

Ciherang dan Cisokan 22 13.25

Lokal dan Ciherang 47 28.31

Cisokan, Ciherang, dan IR 1 0.60 Cisokan, Ciherang dan Indogiri 3 1.81 Lokal, Ciherang, dan Cisokan 10 6.02 (c) Teknik budidaya Tinggi (pernah melakukan 2 teknik) 57 34.33 Rendah (pernah melakukan 1teknik) 109 65.67

Etnis Batak 1 0.60 Bugis 2 1.20 Jawa 49 29.51 Melayu 102 61.45 Madura 1 0.60 Minang 5 3.01 Sunda 6 3.61

Status Sosial Ekonomi: (a) Kedudukan dalam

masyarakat Ketua RT 8 4.82 BPD 9 5.42 Tokoh Agama 2 1.20 Tokoh masyarakat 9 5.42 Ketua Pemuda 2 1.20 Warga Biasa 136 81.93

(b) Status ekonomi Rendah (Rp 500.000 – Rp 1.166.666) 79 47.59 Sedang (Rp 1.166.667 – Rp 1.833.333) 86 51.81 Tinggi (Rp 1.833.334 – Rp 2.500.000) 1 0.60 Kepercayaan :

(a) Kepercayaan tetap melakukan budidaya padi Faktok pendidikan 4 2.41 Faktor ekonomi 158 95.18 Faktor sosial 4 2.41 (b) Kepercayaan dalam menerapkan teknik budidaya Kesesuaian Iklim 51 30.72

Ketersediaan faktor produksi 13 7.83 Keunggulan Teknik budidaya 91 54.82

Citarasa hasil produksi 11 6.63

Sikap Rendah (1 – 2) 32 19.28

Sedang (2,1 – 3) 88 53.01

pembagian peran dalam rumah tangga petani antara laki-laki dan perempuan. Tugas khusus petani laki-laki adalah membuka lahan, mengolah lahan, menyemai, memupuk dan menghadiri kegiatan penyuluhan. Tugas khusus petani perempuan adalah menanam padi. Tugas-tugas lainnya seperti menyiangi gulma, pengendalian hama dan penyakit serta penanganan panen dan pascapanen biasanya dilakukan secara bersama.

Karakteristik selanjutnya adalah tingkat pendidikan petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan formal 62.65 persen petani responden peserta SL-PTT padi masih rendah, yaitu hanya sampai tingkat SD. Dari 166 orang petani responden hanya 13.86 persen petani yang tingkat pendidikannya SMA dan 22.3 persen petani yang tingkat pendidikannya SMP, sedangkan 43.98 persen petani tingkat pendidikannya hanya sampai SD dan 18.67 persen sisanya tidak pernah mengecap pendidikan formal.

Pengalaman membudidayakan padi merupakan sesuatu yang penting untuk petani dalam melaksanakan kegiatan budidayanya. Karakteristik pengalaman tersebut dilihat berdasarkan jumlah tahun yang pernah dilalui petani dalam menjalankan kegiatan budidaya padi, jenis padi yang pernah dibudidaya dan teknik budidaya yang pernah dilakukan. Tabel 9 menunjukkan bahwa 86.15 persen petani responden memiliki pengalaman yang rendah berdasarkan jumlah tahun mereka melakukan budidaya padi. Rata-rata lama budidaya responden secara keseluruhan adalah 4.43 tahun. Lama budidaya responden yang rendah terkait dengan sebagian besar petani responden merupakan petani yang baru melakukan aktivitas budidaya padi karena adanya program SL-PTT padi. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa budidaya padi dahulunya bukan merupakan pola nafkah utama sebagian besar masyarakat Kecamtan Kumpeh Ulu. Masyarakat Kecamatan Kumpeh Ulu dahulunya lebih menggantungkan hidup dari budidaya hortikultura, nelayan sungai dan sumber mata pencaharian lainnya.

Hasil penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan pengalaman memperlihatkan bahwa pengalaman petani responden berdasarkan jenis padi yang pernah dibudidayakan menunjukkan bahwa petani responden pada umumnya baru pernah melakukan budidaya dengan benih Ciherang. Benih Ciherang merupakan benih yang diajurkan oleh pemerintah dan diberikan kepada petani dengan

harapan petani mampu menghasilkan produksi padi yang tinggi sehingga mampu membantu meningkatkan produksi padi Kabupaten Muarojambi. Petani responden yang pada umumnya menggunakan benih ciherang merupakan petani yang baru mulai menjalankan budidaya padi, namun ada juga petani yang baru menjalankan budidaya padi tidak menggunakan benih ciherang karena faktor-faktor tertentu yang akan dijelaskan pada pembahasan karakteristik kepercayaan petani.

Pengalaman petani yang dilihat dalam penelitian ini adalah pengalaman menggunakan teknik budidaya. Terdapat dua teknik budidaya yang diterapkan oleh petani yaitu teknik budidaya untuk padi enam bulan atau padi lokal dan teknik budidaya padi empat bulan. Tabel 9 menunjukkan bahwa 65.67 persen petani responden baru menerapkan satu teknik budidaya karena penyebab yang sama yaitu 86.15 persen dari total petani responden merupakan petani padi baru dan baru mengenal teknik budidaya yang diajarkan melalui kegiatan SL-PTT.

Karakteristik petani yang diamati adalah etnis atau suku. Senilai 61.45 persen petani responden bersuku bangsa Melayu dan 70 orang dari 102 orang responden yang bersuku bangsa Melayu merupakan penduduk asli yaitu Melayu Jambi. Penduduk Melayu Jambi tersebar di Desa Tarikan, Muaro Kumpeh, Kota Karang, Arang-Arang dan Sipin Teluk Duren. Responden etnis Jawa pada umumnya bermukim di desa Pudak dan Solok, dan responden etnis lainnya tersebar di desa-desa tempat dilaksanakannya kegiatan SL-PTT padi.

Status sosial ekonomi responden juga menjadi karakteristik yang diamati dalam penelitian ini. Status sosial responden dilihat berdasarkan kedudukannya dalam masyarakat dan status ekonomi responden dilihat dari pendapatannya setiap bulan. Tabel 9 menunjukkan bahwa kedudukan responden di masyarakat dominan adalah sebagai warga dan beberapa responden lainnya memiliki kedudukan tersendiri yaitu dalam sistem pemerintahan negara atau kedudukan tersendiri dalam sistem adat. Status ekonomi petani responden pada penelitian ini pada umumnya berada pada pada kategori sedang dengan persentase 51.81 persen, dan sudah berada di atas Upah Minimum Provinsi (UMP) Jambi yaitu 1.082.000 rupiah yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jambi Nomor 417/Kepgub/DISSOSNAKERTRANS/2010 tanggal 26 November 2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 52.41 persen petani responden dapat digolongkan

sebagai penduduk dengan pendapatan yang sudah cukup layak, namun pendapatan petani responden lainnya masih berada di bawah UMP Jambi.

Karakteristik petani responden yang lainnya adalah kepercayaan. Asch (Rakhmat, 2003) menguraikan bahwa kepercayaan dibentuk oleh pengetahuan, kebutuhan, dan kepentingan. Pengetahuan berpengaruh dengan jumlah informasi yang dimiliki oleh seseorang. Dalam mengambil keputusan untuk berbudidaya padi, petani memiliki kepercayaan yang dipegang sehingga mereka memutuskan terus melaksanakan budidaya padi seperti yang mereka terapkan. Karakteristik kepercayaan yang diamati dalam penelitian ini adalah alasan petani untuk tetap melaksanakan budidaya padi dan alasannya untuk menerapkan teknik budidaya padi.

Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa diketahui 9518 persen petani responden terus melaksanakan kegiatan budidaya padi dilatarbelakangi faktor ekonomi dan hanya masing-masing 2.41 persen yang dilatarbelakangi faktor pendidikan dan sosial. Alasan utama petani responden yang termasuk dalam kategori faktor ekonomi adalah karena harga beras dirasakan cukup mahal sehingga petani merasa lebih baik menanam padi sendiri sehingga dapat mengurangi pengeluaran untuk membeli beras. Alasan petani yang termasuk dalam kategori pendidikan adalah karena mereka tidak memiliki ijazah dan tidak punya keahlian khusus sehingga ketika diajarkan untuk melakukan budidaya padi, mereka merasa bahwa budidaya padi dapat menjadi salah satu sumber pola nafkahnya. Alasan petani yang termasuk kategori sosial adalah karena mengikuti anjuran dari peyuluh dan karena melihat manfaat yang dirasakan oleh warga lainnya yang terlebih dahulu melakukan budidaya padi.

Gambaran hasil penelitian juga menunjukkan bahwa 74.10 persen petani responden memanfaatkan produksi yang dihasilkan dari budidaya beras hanya digunakan untuk keperluan makan sehari-hari dan hanya 25.90 persen petani responden yang menggunakan hasil produksi untuk konsumsi pribadi dan di jual. Selain itu, kegiatan budidaya padi merupakan hal yang baru bagi 86.15 persen petani responden sehingga tidak ada tradisi-tardisi yang kuat untuk mendukung kegiatan baru tersebut karena tidak ada tradisi budaya yang mengatur tentang bertani padi, bebeda dengan kegiatan bertani di daerah yang sudah dari dahulu

secara turun-temurun bergantung dengan hasil produksi padi yang menggolongkan budidaya padi sebagai budaya yang mengakar pada masyarakat.

Karakteristik kepercayaan lainnya adalah kepercayaan dalam menerapkan teknik budidaya padi. Teknik budidaya yang diterapkan oleh petani responden di Kecamatan Kumpeh Ulu adalah teknik budidaya padi empat bulan dan teknik budidaya padi enam bulan. Terdapat empat alasan petani dalam menerapkan teknik budidaya. Alasan pertama adalah karena kesesuaian iklim dengan teknik budidaya yang mereka terapkan. Petani yang menerapkan teknik budidaya padi empat bulan menganggap bahwa benih padi terutama Ciherang mampu beradaptasi dengan baik dengan iklim setempat dan menghasilkan produksi yang lebih baik, sedangkan petani yang menerapkan teknik budidaya padi enam bulan menganggap bahwa benih padi lokal yang waktu budidayanya adalah selama enam bulan lebih baik dari pada padi unggul karena secara fisik lebih tinggi dan lebih kokoh sehingga tahan dalam kondisi air yang tinggi apabila curah hujan tinggi.

Perbedaan pendapat ini terjadi dikarenakan petani yang menerapkan teknik budidaya empat bulan telah memiliki irigasi setengah teknis yang dapat difungsikan dengan baik, sedangkan petani lainnya tidak memiliki irigasi yang dapat mendukung kegiatan budidaya padi mereka, sehingga mereka lebih cenderung untuk memilih menanam padi lokal yang secara fisik lebih tinggi dan kokoh sehingga ketika curah hujan tinggi dan sawah mereka tergenang air yang cukup dalam maka padi yang mereka tanam dapat bertahan.

Alasan kedua adalah karena ketersediaan faktor produksi. Alasan tersebut adalah alasan yang diutarakan oleh petani responden yang menerapkan teknik budidaya enam bulan. 6.63 persen petani responden beranggapan bahwa tidak ada waktu yang cukup untuk menerapkan pola tanam dua tahun sekali dengan teknik budidaya padi empat bulan karena mereka lebih memilih untuk melakukan pekerjaan lain seperti menjadi buruh panen di perusahaan kelapa sawit atau pekerjaan lainnya dan menganggap hasil panen sekali budidaya cukup untuk kebutuhan sehari-harinya. 1.20 persen petani responden lainnya menganggap bahwa mereka tidak punya cukup modal untuk membeli pupuk karena varietas

unggul memerlukan pupuk yang cukup banyak. Mereka menganggap bahwa varietas lokal lebih mudah untuk ditanam karena tidak terlalu memerlukan pupuk.

Karakteristik petani responden yang terakhir adalah sikap petani terhadap Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi. Rakhmat (2003) menjelaskan sikap dalam beberapa hal, yaitu: (1) sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir, dan merasa dalam menghadapi obyek, ide, situasi, atau nilai; (2) sikap mempunyai daya pendorong atau motivasi; (3) sikap relatif lebih tetap dan cenderung dipertahankan; (4) sikap mengandung aspek evaluatif yaitu mengandung nilai menyenangkan atau tidak menyenangkan; dan (5) sikap timbul dari pengalaman dan merupakan hasil dari proses belajar.

Sikap petani responden terhadap PTT padi di Kecamatan Kumpeh Ulu terbagi dalam tiga kategori yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Kategori sikap petani terhadap PTT padi rendah apabila skor sikap petani berada pada rentang skor 1.0 sampai dengan 2.0, sedang apabila skor sikap petani berada pada rentang skor 2.1 sampai dengan 3.0, dan tinggi apabila skor sikap petani berada pada rentang skor 3.1 sampai dengan 4.0. Tabel 9 menunjukkan bahwa 53.01 petani responden memiliki sikap yang dapat digolongkan dalam kategori sedang. Petani responden yang tergolong dalam kategori sedang tersebar di setiap desa lokasi SL-PTT. Petani responden yang tergolong dalam kategori rendah tersebar di Desa Sumber Jaya, Sipin Teluk Duren, Solok, Kota Karang, Tarikan, dan Muaro Kumpeh. Petani responden yang tergolong dalam kategori sikap rendah terhadap PTT padi seluruhnya memiliki sikap yang tidak setuju dan sangat tidak setuju terhadap penggunaan benih unggul karena mereka menganggap padi lokal lebih baik dan lebih baik dari pada benih unggul. Anggapan tersebut mengemuka karena di lokasi mereka tidak tersedia irigasi yang sangat penting dalam penerapan PTT

Dokumen terkait