Pengaruh Terapi Bekam Terhadap Perubahan Skala Nyeri Pada Pasien dengan Nyeri Kepala di Klinik Afiat. 2011

46 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PENGARUH TERAPI BEKAM TERHADAP

PERUBAHAN SKALA NYERI PADA PASIEN

DENGAN NYERI KEPALA DI KLINIK AFIAT

TAHUN 2011

Laporan Penelitian ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA KEDOKTERAN

OLEH :

Rahmatul Fithri Yanti

NIM : 109103000019

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

ii

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Laporan penelitian ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan karya asli saya atau

merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ciputat, 14 Agustus 2012

(3)

iii

PENGARUH TERAPI BEKAM TERHADAP PERUBAHAN SKALA NYERI PADA PASIEN DENGAN NYERI KEPALA DI KLINIK AFIAT

TAHUN 2011

Laporan Penelitian

Diajukan kepada Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana

Kedokteran (S.Ked)

Oleh

Rahmatul Fithri Yanti NIM: 109103000019

Pembimbing 1 Pembimbing 2

dr. Fika Ekayanti, M.Med.Ed Dr. dr. Syarif Hasan Lutfie, Sp.KFR

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(4)

iv

PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Laporan Penelitian berjudul PENGARUH TERAPI BEKAM TERHADAP PERUBAHAN SKALA NYERI PADA PASIEN DENGAN NYERI KEPALA DI KLINIK AFIAT TAHUN 2011 yang diajukan oleh Rahmatul Fithri Yanti (NIM: 109103000019), telah diujikan dalam sidang di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan pada Agustus 2012. Laporan penelitian ini telah diterima

Dr. dr. Syarif Hasan Lutfie, Sp.KFR

Penguji 1

dr. Marina Indriani, Sp.KFR

Penguji 2

Prof. Dr. H. M. Ridwan Lubis

PIMPINAN FAKULTAS

Dekan FKIK UIN SH Jakarta

Prof. Dr (hc). dr. M.K. Tadjudin Sp. And

Kaprodi PSPD FKIK UIN SH Jakarta

(5)

v

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena hanya atas rahmat dan karunia-Nya akhirnya penelitian ini dapat terwujud walaupun begitu banyak cobaan dan hambatan yang penulis hadapi. Shalawat serta salam tidak lupa penulis panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa manusia menuju jalan lurus dan diridhoi Allah SWT.

Alhamdulillah penulis akhirnya dapat menyelesaikan Laporan Penelitian

ini yang berjudul “pengaruh terapi bekam terhadap perubahan skala nyeri pada

pasien dengan nyeri kepala di klinik afiat tahun 2011”, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penulis menyadari bahwa selama proses penulisan laporan penelitian ini banyak menemui hambatan baik yang datang dari faktor luar penulis maupun dari dalam diri penulis. Mengatasi hambatan-hambatan tersebut, penulis banyak mendapat dukungan, pengarahan, petunjuk dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada :

1. Prof. Dr (hc). dr. M.K. Tadjudin Sp. And selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang juga telah memberikan masukan untuk penelitian saya.

2. DR. dr. Syarief Hasan Lutfie, Sp.KFR selaku Kepala Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan yang juga merupakan dosen pembimbing penelitian saya atas segala masukan dan motivasinya dalam proses penelitian dan penyusunan laporan penelitian saya.

(6)

vi

bimbingan, arahan, dan nasihat kepada penulis selama penelitian dan penyusunan laporan penelitian ini.

4. drg. Laifa Annisa Hendarmin, Ph.D selaku penanggung jawab riset Program Studi Pendidikan Dokter 2009, Ibu Silvia Fitrina Nasution atas motivasinya terhadap penyelesaian penelitian saya serta dr. Hendro Birowo Soekarno Sp.S dan dr. Poppy Chandra Dewi, Sp.S, M.Sc atas masukannya terhadap penelitian saya. 5. dr. Mohammad Ali Toha Assegaf (Ahli herbal, Penemu metode smart healing, pengkaji kedokteran nabi, direktur keuangan RSCM) selaku pemilik rumah sehat afiat beserta seluruh staf dan terapis rumah sehat afiat

6. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada keluarga besar penulis, terutama orang tua penulis Anang Kasrani, SH dan Dayani, SH yang telah memberikan motivasi serta pengertian selama penulis melakukan penelitian ini. Serta sahabat dan teman-teman beserta seluruh staf pengajar dari Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hiayatullah Jakarta.

Semoga dengan selesainya Laporan Penelitian ini dapat menambah pengetahuan kita semua terutama mengenai terapi bekam yang merupakan salah satu anjuran dari Nabi Muhammad SAW

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Ciputat, 14 Agustus 2012

(7)

vii ABSTRAK

Rahmatul Fithri Yanti. Program Studi Pendidikan Dokter. Pengaruh Terapi Bekam Terhadap Perubahan Skala Nyeri Pada Pasien dengan Nyeri Kepala di Klinik Afiat. 2011

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh terapi bekam terhadap skala nyeri pasien. Penelitian ini dilakukan dengan cara membandingkan skala nyeri pasien nyeri kepala sebelum dan sesudah dibekam. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif analitik bivariat dan desain penelitian eksperimental, serta teknik pengambilan sampel yakni consecutive sampling. Pasien berjumlah 16 orang, laki-laki 5 orang (31.20%) dan perempun 11 orang (68.80%) yang berusia 28-57 tahun. Penelitian ini menggunakan uji Paired Samples T-test. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan rerata skala nyeri pasien sebelum dibekam 4,5 + 1,265 dan turun menjadi 2,69 + 1,401 setelah dibekam (p = 0,000). Penurunan skala nyeri ini signifikan secara statistik. Kesimpulannya adalah terapi bekam berpengaruh terhadap perubahan skala nyeri pasien.

Kata Kunci: Terapi Bekam, Skala Nyeri

ABSTRACT

Rahmatul Fithri Yanti. Medicine Study Programe. The Effect of Cupping Therapy Against Pain Scale Changes in Patients with Cephalgia in Afiat Clinic. 2011. The objective of this study were to know whether there is any effect of cupping therapy on patient‟s pain scale. This study was held by comparing

patient-with-cephalgias‟s pain scale before and after cupping therapy. It used bivariate analytic descriptive study with experimental research designs. The methode of sampling is consecutive sampling. 16 patients were participated in this study, which are 5 men (31.20%) and 11 Women (68.80%), aged 28-57 years. This study used Paired Samples T-test. The result showed that the rate of patient‟s pain scale before cupping therapy given was 4,5 + 1,265 and decrease to 2,69 + 1,401 after cupping therapy given (p = 0.000). There was statistically significant decreased of

patient‟s pain scale after the cupping therapy given. The conclusion is cupping therapy has effect on patient‟s pain scale.

(8)

viii

1.4 Tujuan Penelitian…... 2

1.5 Manfaat Penelitian... 3

(9)

ix

BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 11

3.1 Desain Penelitian...11

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 11

3.3 Populasi dan Sampel ... 12

3.3.1 Jumlah Sampel... 12

3.3.2 Kriteria Sampel ... 12

3.3.2.1 Kriteria Inklusi ... 12

3.3.2.2 Kriteria Eksklusi ... 13

3.4 Cara Kerja Penelitian ... 13

3.5 Managemen Data ... 14

3.5.1 Pengolahan Data ... 14

3.5.2 Analisa Data ... 14

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 16

4.1 Distribusi Sampel ... 16

4.2 Perbandingan Rerata Level Nyeri berdasarkan jenis kelamin...18

4.3 Perbandingan Rerata Level Nyeri berdasarkan pengalaman bekam....19

4.4 Hasil Uji Normalitas pada Kelompok Sebelum Bekam ... 20

4.5 Hasil Uji Normalitas pada Kelompok Sesudah Bekam ... 20

4.6 Hasil Uji 2 kelompok berpasangan (T-Berpasangan) ... 20

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 23

5.1 Simpulan ... 23

5.2 Saran ... 23

DAFTAR PUSTAKA ... 24

(10)

x

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1. Rincian Waktu Penelitian...11

Tabel 3.2. Skor Skala Visual Analog...14

Tabel 4.1. Distribusi Sampel...16

Tabel 4.2. Rerata Level Nyeri Berdasarkan Jenis Kelamin...18

Tabel 4.3. Rerata level Nyeri Berdasarkan Pengalaman Bekam...19

Tabel 4.4. Hasil Uji Normalitas Kelompok Sebelum Bekam...20

Tabel 4.5. Hasil Uji Normalitas Kelompok Sesudah Bekam...20

(11)

xi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Titik Ummu Mughits...7

Gambar 2.2. Jaras Nyeri...8

Gambar 4.1. Pengeluaran ACTH...21

(12)

xii

DAFTAR SINGKATAN

OAINS = obat anti inflamasi non steroid ACTH = Adrenocorticotropic Hormone LDL = Low-density lipoprotein

POMC = proopiomelanokortin

(13)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

(14)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Bekam merupakan salah satu jenis pengobatan yang dilakukan dengan cara penghisapan kulit, penyayatan dan mengeluarkan darah dari permukaan kulit, yang kemudian ditampung di dalam gelas1. Bekam merupakan pengobatan yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW sebagaimana dalam hadits

“Dari Abi Raja’, dari Samurah r.a. berkata : bahwa Sesungguhnya Rasulullah bersabda: Sebaik-baik pengobatan yang manusia lakukan adalah dengan Hijamah. (Mu’jam Kabir –At Thabrani)”

Namun bekam tetap menjadi kontroversial terutama didalam ilmu kedokteran modern karena dianggap tidak memiliki patofisiologi yang jelas dalam cara kerjanya. Hal ini terjadi karena penelitian ilmiah terhadap bekam belum banyak dilakukan.

Bekam dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, sebagai contoh adalah penyakit pada organ dalam seperti maag dan asma, penyakit organ reproduksi wanita seperti amenore dan dismenore, gangguan sistem penginderaan seperti sinusitis, serta nyeri pada otot, tulang dan sendi yang salah satunya adalah nyeri kepala2.

(15)

2

dengan pemberian obat anti inflamasi non steroid (OAINS) atau obat analgesik antipiretik seperti parasetamol3. Namun obat-obat tersebut memiliki efek samping yakni iritasi gastrointestinal pada penggunanaan OAINS dan kerusakan hati akibat penggunaan parasetamol5,6,7.

Untuk itu peneliti tertarik untuk meneliti potensi terapi bekam dalam mengatasi nyeri kepala. Bekam diharapkan dapat menjadi pengobatan alternatif tanpa efek samping seperti obat-obat tersebut untuk menghilangkan atau menurunkan nyeri kepala. Selain itu diharapkan hasil penelitian ini juga dapat menunjang anjuran Nabi Muhammad SAW kepada umatnya untuk berbekam seperti hadits yang sudah dijabarkan sebelumnya.

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan

barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu

untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (Q.S. An-Nisa : 80)

1.2. Rumusan Masalah

Bagaimana pengaruh terapi bekam terhadap perubahan skala nyeri pada pasien dengan nyeri kepala yang dilakukan di klinik afiat pada tahun 2011?

1.3. Hipotesis

Terdapat penurunan bermakna dari skala nyeri yang dirasakan oleh pasien nyeri kepala sesudah mendapatkan terapi bekam di klinik afiat pada tahun 2011.

1.4. Tujuan

1.4.1 Tujuan Umum

(16)

3

1.4.2 Tujuan Khusus

 Mengetahui penurunan intensitas nyeri kepala pada terapi bekam  Perubahan skala nyeri sebelum dan sesudah bekam

 Mengetahui proses penanganan nyeri kepala dalam terapi bekam

1.5. Manfaat Penelitian Untuk Pasien

Menambah pengetahuan dan wawasan mengenai metode pengobatan bekam yang dapat diintegrasikan dengan ilmu kedokteran

Untuk Institusi Akademis

Menambah literatur tentang metode pengobatan khususnya bekam Untuk Penentu Kebijakan Kesehatan

Sebagai masukan untuk pengembangan terapi bekam Untuk Peneliti

(17)

4 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori 2.1.1. Bekam

Bekam memiliki beragam sebutan, diantranya : canduk, canthuk, kop, atau mambakan. Di Eropa, bekam disebut cupping dan fire bottle. Dalam bahasa mandarin, bekam disebut Pa Hou Kuan. Dalam bahasa arab disebut sebagai hijamah, dari asal kata al-hijmu yang berarti pekerjaan yakni menghisap atu menyedot. Al-Hajjam berarti ahli bekam. Sedangkan Al-Mihjam atau Al-Mihjamah merupakan alat untuk membekam, yang berupa gelas untuk menampung darah yang dikeluarkan dari kulit, atau gelas untuk mengumpulkan darah hijamah. Secara istilah, bekam didefinisikan sebagai peristiwa penghisapan kulit, penyayatan dan pengeluaran darah dari permukaan kulit yang kemudian ditampung di dalam gelas1,8,9,10. Bekam diyakini dapat menyembuhkan beberapa jenis penyakit diantaranya: penyakit darah seperti hemofili dan hipertensi, penyakit reumatik mulai dari artritis, sciatica/nyeri panggul, sakit punggung, migren, gelisah/anxietas dan masalah mental maupun fisik lainnya seperti nyeri2.

Sejarah Bekam

Bekam sebenarnya sudah dikenal sejak 4.000 tahun sebelum Masehi, yakni ketika berdirinya kerajaan sumeria. Kemudian bekam berkembang ke

Babilonia, Mesir, Saba‟ dan Persia. Saat itu para tabib menggunakan bekam untuk pengobatan raja. Sedangkan di Cina, bekam berkembang sekitar 2.500 tahun sebelum Masehi yakni sebelum berkuasanya Kaisar Yao. Di Mesir, bekam sudah

(18)

5

kebiasaan mereka. Nabi Muhammad pun memerintahkan umatnya untuk berobat dengan bekam seperti sudah dijabarkan sebelumnya

Peralatan Bekam

Pada dasarnya, alat bekam terdiri dari tiga macam, yakni :

1. Alat untuk menghisap kulit, jaringan kulit dan darah, yang secara tradisional dapat berupa bola maupun tabung dengan tempat keluar masuk udara untuk membuat keadaan di dalam tabung bertekanan negatif ketika tabung diberi udara panas sehingga kulit tertarik ke dalam tabung.

2. Alat untuk mengeluarkan darah, seperti skapel, jarum, pisau bedah maupun lancet.

3. Peralatan dan obat penunjang, seperti sarung tangan, meja, kursi, kapan betadin, alkohol.

Langkah Melakukan Bekam

1. Mengisi identitas pasien

2. Melakukan diagnosa terhadap penyakit pasien

3. Identitas dan data penyakit pasien ditulis dalam rekam medik 4. Menentukan titik pembekaman untuk pasien (sesuai keluhan)

5. Menyiapkan peralatan yang telah disebutkan sebelumnya dan sudah disterilkan 6. Melakukan pembekaman terhadap pasien

(19)

6

Patofisiologi bekam

Pada tubuh terdapat titik-titik sensitif terhadap rangsangan bekam. Jika bekam dilakukan dengan tepat, maka akan terjadi proses pada kapiler dan arteriola, peningkatan jumlah leukosit, limfosit dan sistem retikulo-endotelial, pelepasan ACTH, kortison, endorphin, enkefalin, dan faktor humoral lainnya1. Efek anti peradangan, penurunan serum lemak trigliserida, fosfolipida dan kolesterol LDL, rangsangan terhadap proses lipolisis jaringan lemak dan pengaturan kadar glukosa agar normal pun terjadi.

Proses penghisapan kulit pada bekam yang diikuti pengumpulan jaringan di bawah kulit serta darah dengan komponen komponennya juga memiliki potensi untuk menyembuhkan penyakit. Penghisapan ini akan merangsang saraf-saraf pada permukaan kulit. Rangsangan ini akan dilanjutkan pada cornu posterior medulla spinalis melalui saraf A delta dan C, serta traktus spinothalamikus ke arah hipotalamus yang akan menghasilkan endorphin sehingga menimbulkan inhibisi nyeri. Efek lain yang ditimbulkan adalah dilatasi pembuluh darah kulit, peningkatan kerja jantung serta membukanya pori pori kulit.

Proses penyembuhan dapat terjadi karena bekam bekerja langsung pada sistem endokrin. Nyeri akan hilang disertai dengan peningkatan oksigen dan aliran darah dari titik yang di bekam. Hal ini menyebabkan relaksasi otot dan sirkulasi darah menjadi lancar akibat efek dari vasodilatasi

Kontraindikasi bekam

- Wanita hamil

- Wanita yang sedang menstruasi

(20)

7

Titik Bekam untuk Nyeri Kepala

Diriwayatkan oleh Bukhori dalam kitab Ath-Thibb (5699) bb XIV

:Al-Hijamah „alar Ro‟si, dari hadits Ibnu Abbas bahwasannya Rasulullah SAW

pernah dibekam dikepalanya karena pusing saat ihrom

Titik pembekaman untuk nyeri kepala terletak di puncak kepala, yakni di 2/3 bagian depan os. Parietale

Gambar 2.1. Titik Ummu Mughits Titik inilah yang pernah digunakan Nabi Muhammad SAW.

“Dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW pernah dibekam pada kepala bagian depan, yang disebut dengan ummu mughits”

2.1.2. Nyeri Kepala

Nyeri dihantarkan melalui serabut serabut tipe A dan C ke arah medula spinalis. Dari sekian banyak jenis nyeri, nyeri kepala merupakan jenis yang paling sering ditemukan dengan prevalensi 90%4. Nyeri kepala mengabiskan biaya yang cukup besar di Amerika Serikat. Selain itu, Nuprin Pain Report selama tahun penellitian 1985 menyatakan bahwa nyeri kepala adalah tipe nyeri yang paling sering dialami oleh pasien, yakni sebesar 73% di Amerika Serikat3.

(21)

8

intrakranium atau ekstrakranium, traksi pembuluh darah, kontraksi otot kepala dan leher (kerja berlebihan otot), peregangan periosteum (nyeri lokal), degenerasi spina servikalis atas disertai kompresi pada akar nervus servikalis (misalnya, artritis vertebra servikalis), defisiensi enkefalin (peptida otak mirip-opiat, bahan aktif pada endorfin).3,11

(22)

9

2.1.3. Teori Endorfin-Enkefalin

Enkefalin dan endorfin merupakan opioid endogen yang berfungsi untuk menghambat nyeri. Terdapat tiga golongan utama peptida opioid endogen yang masing masing berasal dari prekursor yang berlainan dan memiliki distribusi anatomik yang sedikit berbeda, yakni golongan enkefalin, beta-endorfin, dan dinorfin. Semua opioid endogen ini bekerja dengan mengikat reseptor opiat sehingga menyebabkan efek analgesik.

Pengaruh Terapi Bekam Terhadap Nyeri

Bekam dapat meningkatkan sekresi enkefalin dan endorfin2. Hal ini dikarenakan proses bekam mampu menyebabkan stress fisik (trauma) yang akan meningkatkan kortisol. Beberapa jenis stress yang mampu meningkatkan pelepasan kortisol antara lain11 :

1. Hampir semua jenis trauma 2. Infeksi

3. Kepanasan atau kedinginan yang hebat

4. Penyuntikan norepinefrin dan obat-obat simpatomimetik lainnya 5. Pembedahan

6. Penyuntikan bahan yang bersifat nekrolisis di bawah kulit 7. Mengekang seekor binatang sehingga tidak dapat bergerak 8. Hampir setiap penyakit yang menyebabkan kelemahan

(23)

10

(proopiomelanokortin). Salah satu hormon yang ikut dikeluarkan saat peningkatan pengeluaran ACTH adalah beta-endorfin yang merupakan salah satu opioid endogen11,12.

2.2. Kerangka Konsep

2.3. Definisi Operasional

(24)

11 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan studi eksperimental kuasi. Menguji 2 kelompok berpasangan, dengan metode t-paired untuk mengetahui pengaruh terapi bekam terhadap penanganan nyeri kepala yang dilakukan di klinik Afiat pada tahun 2011

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan selama 20 bulan, yakni mulai bulan Januari 2011 hingga Agustus 2012 dan bertempat Klinik Afiat, jalan Ir. H. Juanda Kecamatan Ciputat Kota Tangerang Selatan dan Ruko Griya Cinere II, Jl. Limo Raya No.3.

Klinik Afiat merupakan Pusat Pelayanan Kesehatan terpadu yang memberikan pelayanan pengobatan dan konsultasi dengan standarisasi prosedur pelayanan. Klinik Afiat/Rumah Sehat Afiat menerapkan prinsip kedokteran nabi, termasuk salah satunya bekam. Klinik ini berada di bawah pengawasan dr. Mohammad Ali Toha Assegaf (Ahli herbal, Penemu metode smart healing, pengkaji kedokteran nabi, direktur keuangan RSCM)

Tabel 3.1. Rincian Waktu Penelitian

No Bulan Kegiatan Hasil

1 Januari-Maret 2011

Pembuatan Proposal Proposal

2 Maret 2011 Pengurusan izin

- Surat Izin Fakultas

- Izin kepada pihak klinik afiat

(25)

12

3.3. Populasi dan Sampel

Populasi terjangkau penelitian ini adalah seluruh pasien yang melakukan terapi bekam di klinik afiat. Sedangkan sampel penelitian ini adalah para pasien dengan nyeri kepala yang berobat di klinik afiat saat pengambilan data dilakukan. Metode sampling penelitian ini adalah consecutive sampling, yakni metode sampling yang tergantung pada jumlah sampel yang memenuhi kriteria inklusi selama jangka waktu pengambilan data. Sampel diambil sesuai dengan kriteria inklusi yang sudah ditetapkan selama bulan April hingga Desember 2011

3.3.1. Jumlah Sampel

Besar sampel (n) dapat ditentukan dengan menggunakan rumus Ferderer:

( n – 1 ) x ( t –1 ) ≥ 15

n = besar sampel tiap kelompok t = jumlah kelompok perlakuan.

Jumlah kelompok perlakuan adalah 2 (t = 2) sehingga berdasar rumus kelompok, pada penelitian ini penulis menggunakan 2 kelompok yang berpasangan yaitu sebelum bekam dan sesudah bekam.

3.3.2. Kriteria Sampel

3.3.2.1. Kriteria inklusi

(26)

13

 Pasien berusia 21 tahun atau lebih

 Pasien yang blm diberikan pengobatan apapun

3.3.2.2. Kriteria Eksklusi  Pasien yang tidak kooperatif

 Pasien yang diberikan terapi lain selain bekam (baik farmako maupun non farmako) oleh terapis sesaat sebelum proses pembekaman

3.4. Cara Kerja Penelitian

Pasien

Pasien diberi lembaran informed consent dan kuisioner

Pasien mengisi lembaran informed consent

Pasien mengisi kuisioner (terutama mengisi level nyeri sebelum dibekam dan tidak mengisi level nyeri setelah dibekam)

Proses pembekaman

Sampel mengisi sisa pertanyaan kuisioner

Pengumpulan kuisioner

Data

Analisa data

(27)

14

3.5. Managemen Data 3.5.1. Pengolahan Data

Pengolahan data akan dilakukan dengan memasukkan data ke dalam program komputer Statistical Package for Social Science (SPSS) untuk diolah lebih lanjut dengan melakukan editing dan coding sebelumnya. Editing dilakukan untuk memeriksa kuesioner yang telah dikumpulkan dengan tujuan untuk memperoleh data yang telah sesuai dengan masalah yang ingin diteliti. Bila terdapat data yang tidak lengkap maka dilakukan pengumpulan data kembali. Sedangkan coding dilakukan untuk mempermudah pengolahan data.

3.5.2. Analisa Data

Tingkatan nyeri yang dirasakan pasien dihitung dengan menggunakan Skala Visual Analog untuk nyeri. Pengukuran tingkatan ini dilakukan sebelum dan sesudah dlakukan terapi bekam pada pasien. Skor nya tergantung jawaban dari pasien mengenai nyeri nya yakni 0-10

Tabel 3.2. Skor Skala Visual Analog

Skala Keterangan

0 tidak terasa nyeri

1 - 3 nyeri ringan; (masih bisa berkomunikasi dengan baik)

4-6 nyeri sedang; (bisa berkomunikasi namun menyeringai, mendesis, bisa menunjukan lokasi nyeri dan mendeskripsikannya)

7-8 nyeri berat yang masih bisa di kontrol; (tidak dapat mengikuti perintah tapi bisa merespon tindakan, bisa menunjukan lokasi nyeri, tidak bisa mendskripsikannya, tidak bisa diatasi dengan berganti posisi, menarik nafas yang dalam)

10 nyeri berat yang tidak bisa di kontrol; (sudah tidak mampu berkomunikasi dan memukul mukul)

(28)

15

(29)

16 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan dengan melihat perbandingan hasil Visual Analog Scale sebelum dan sesudah dibekam pada pasien bekam dengan sakit kepala (cephalgia) di klinik rumah sehat afiat antara bulan April-Desember 2011. Total sampel yang dapat dikumpulkan adalah 16 sampel

4.1 Distribusi Sampel

Tabel 4.1. Distribusi Sampel

Jumlah Persentase Min. Maks. Mean Std.Deviasi

Jenis Kelamin

Jumlah pembekaman untuk sakit kepala saat ini

1x 16 100%

Jumlah pengalaman bekam ditambah saat ini 1x 10x 2,75 3,337

(30)

17 (68,8%). Usia pasien tertua 57 tahun dan termuda adalah 28 tahun. Rata rata usia pasien adalah 43,44. Usia pasien terdiri dari 4 kategori (untuk mempermudah pengolahan data), yakni 2 orang berusia antara 21-30 tahun (12,5%), 4 orang berusia 31-40 th (25%), 5 orang berusia 41-50 tahun (31,2%), 5 orang berusia 51-60 tahun (31,2%). Seluruh pasien hanya pernah berbekam sekali selama menderita sakit kepala saat ini. Pengalaman bekam pasien terbanyak 10 kali dan tersedikit adalah 1 kali. Sebanyak 11 orang hanya 1 kali yakni terapi bekam saat ini (68,8%), 1 orang pasien memiliki pengalaman bekam 2 kali (6,2%), 1 orang pasien memiliki pengalaman bekam 3 kali (6,2%), 1 orang pasien memiliki pengalaman bekam 8 kali (6,2%), 2 orang pasien memiliki pengalaman bekam 10x (12,5%). Rata rata pengalam bekam pasien adalah 2,75.

Level nyeri pasien sebelum dibekam tertinggi adalah pada level 6 dan terendah adalah pada level 2. Level nyeri pasien sebelum dibekam terbanyak adalah pada level 5 yakni sebanyak 5 orang (31,2%), 1 orang pada level 2 (6,2%), 3 orang pada level 3 (18,8%), 3 orang pada level 4 (18,8%), 4 orang pada level 6 (25%). Level nyeri pasien sesudah dibekam tertinggi adalah pada level 5 dan terendah pada level 1. Level nyeri pasien sesudah dibekam terbanyak adalah pada level 1 dan level 2 yakni sebanyak masing masing 4 orang (25%), 3 orang pada level 3 dan level 4 (masing masing 18,8%), dan 2 orang pada level 5 (12,5%). Penurunan level nyeri pasien tertinggi adalah sebanyak 3 level dan terendah sebanyak 1 level. Penurunan level nyeri pada pasien terbanyak adalah 1 level dibawahnya yakni sebanyak 7 orang (43,8%), 5 orang turun sebanyak 2 level (31,2%), dan 4 orang sebanyak 3 level (25%).

(31)

18

4.2 Perbandingan Rerata Level Nyeri berdasarkan jenis kelamin

Tabel 4.2. Rerata level nyeri berdasarkan jenis kelamin

Perempuan Laki-laki Rata rata usia pasien perempuan yang dibekam adalah 45,18 sementara usia laki laki yang dibekam rata rata adalah 39,6. Level nyeri pasien perempuan sebelum dibekam maksimal adalah 6 dan maksimal level nyeri pasien laki laki sebelum dibekam adalah 6. Minimal level nyeri pasien perempuan sebelum dibekam adalah 2 dan minimal level nyeri pasien laki laki sebelum dibekam adalah 3. Rata rata level nyeri pasien perempuan sebelum dibekam adalah 4,36 dan rata rata level nyeri pasien laki laki sebelum dibekam adalah 4,8.

Level nyeri pasien perempuan sesudah dibekam maksimal adalah 5 dan maksimal level nyeri pasien laki laki sebelum dibekam adalah 4. Minimal level nyeri pasien perempuan sesudah dibekam adalah 1 dan minimal level nyeri pasien laki laki sesudah dibekam adalah 1. Rata rata level nyeri pasien perempuan sesudah dibekam adalah 2,55 dan rata rata level nyeri pasien laki laki sesudah dibekam adalah 3.

(32)

19

sesudah dibekam adalah 1,82 dan rata rata penurunan level nyeri pasien laki laki sesudah dibekam adalah 1,8.

4.3 Perbandingan Rerata Level Nyeri berdasarkan Pengalaman Bekam

Tabel 4.3. Rerata level nyeri berdasarkan pengalaman bekam

Jumlah

Pengalaman berbekam ini didefinisikan sebagai pengalaman bekam pasien diluar sakit kepala saat ini ditambah dengan bekam saat ini. Pada tabel 4.3 didapatkan bahwa 11 pasien dengan pengalaman bekam sebanyak 1 kali (baru berbekam saat ini ) mengalami penurunan level nyeri maksimal 3 level dan minimal 1 level dengan rata rata penurunan level nyeri adalah sebanyak 2 level. 1 pasien dengan pengalaman bekam sebanyak 2 kali mengalami penurunan level nyeri sebanyak 1 level. 1 pasien dengan pengalaman bekam sebanyak 3 kali mengalami penurunan level nyeri sebanyak 1 level. 1 pasien dengan pengalaman bekam sebanyak 8 kali mengalami penurunan level nyeri sebanyak 2 level. 2 pasien dengan pengalaman bekam sebanyak 10 kali mengalami penurunan level nyeri maksimal sebanyak 2 level dan minimal 1 level dengan rata rata penurunan level nyeri adalah 1,5.

(33)

20

4.4 Hasil Uji Normalitas pada Kelompok Sebelum Bekam

Tabel 4.4. Hasil uji normalitas kelompok Sebelum Bekam

Shapiro-Wilk

n Sig.

Level Nyeri Sebelum Bekam 16 0.085

Pada tabel 4.4, dapat dilihat dari hasil test normalitas Shapiro-Wilk (sampel < 50) yang sudah dilakukan diperoleh hasil nilai untuk kelompok sebelum bekam adalah > 0.05, yaitu 0.085. Dari hasil data tersebut menunjukan bahwa hasil uji normalitas pada kelompok sebelum bekam adalah normal.

4.5 Hasil Uji Normalitas pada Kelompok Sesudah Bekam

Tabel 4.5. Hasil uji normalitas kelompok sesudah bekam

Shapiro-Wilk

n Sig.

Level Nyeri Sebelum Bekam 16 0.079

Hasil tes yang tercantum pada tabel 4.5 di dapatkan bahwa, hasil uji menggunakan Test Normalitas Shapiro-Wilk (sampel < 50) yang dilakukan oleh peneliti pada kelompok sesudah bekam adalah normal, dimana hasilnya adalah > 0.05, yaitu 0.079.

4.6 Hasil Uji 2 kelompok berpasangan (T-Berpasangan)

(34)

21

Hasil uji 2 kelompok berpasangan, yaitu sebelum bekam dan sesudah bekam (tabel 4.6), di peroleh nilai pada kolom Sig (2-tailed) adalah 0.000 (p < 0.05). Hal ini menandakan adanya perbedaan hasil yang signifikan dari level nyeri sebelum bekam dan sesudah bekam dimana hasilnya adalah terjadi penurunan level nyeri sesudah dibekam.

Hasil yang signifikan ini disebabkan karena bekam dapat memicu pengeluaran opiat endogen. Bekam dilakukan dengan cara membuat luka ditubuh yang merupakan salah satu stress fisik. Stress fisik ini memicu pengeluaran CRF dari hipotalamus dan memicu pengeluaran ACTH dari hipofisis anterior.

Gambar 4.1. Pengeluaran ACTH

(35)

22

Gambar 4.2. Pembentukan proopiomelanokortin, prekursor endorfin

Serabut aferen nyeri masuk ke medulla spinalis di radix posterior nervus spinalis dan berakhir di lapisan superfisial kornu dorsalis medula spinalis. Substansi P adalah neuropeptida yang dilepaskan oleh serabut C pada serabut aferen nyeri tersebut. Substansi P tersebut dilepaskan secara lambat dan menyebar luas di kornu dorsalis serta dapat mempengaruhi banyak neuron. Beta endorfin (yang dihasilkan dari efek bekam) bertindak sebagai zat neurotransmiter pada sistem analgesik dan dapat menghambat substansi P dengan cara berikatan dengan reseptor opiat di kornu dorsalis medula spinalis.

(36)

23 BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh bekam terhadap perubahan level nyeri seseorang, dimana terjadi penurunan bermakna level nyeri pasien dengan sakit kepala sesudah bekam.

2. Penurunan level nyeri ini kemungkinan disebabkan oleh pengeluaran beta endorfin yang dipicu oleh proses pembekaman

5.2 Saran

(37)

24

DAFTAR PUSTAKA

1. Umar WA. Sembuh dengan satu titik. Solo : Al-Qowam; 2008

2. Ullah K, Younis A, Wali M. An investigation into the effect of Cupping Therapy as a treatment for Anterior Knee Pain and its potential role in Health Promotion. The Internet Journal of Alternative Medicine [Serial Online] 2009 Feb 13 [Cited 2011 Feb 1]; 4(1). Available from:URL: http://www.ispub.com/ostia/index.php?xmlFilePath=journals/ijam/vol4n1/ cupping.xml

3. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi : konsep klinis proses proses penyakit. Ed 6. Jakarta: EGC; 2005. analgesik alternatif. M.I. Kedokteran gigi Maret 2008; 23(1): 1-6

6. Katzung BG. Farmakologi dasar dan klinik. Ed 9. Lange; 2006

7. Brunton LL, Lazo JS, Parker KL. Goodman and Gilman‟s : the pharmacological basic of therapeutics. Ed 11. McGraw-Hill‟s; 2005

8. Ahmadi A, Schwebel DC, Rezaei M. The efficacy of wet-cupping in the treatment of tension and migraine headache. The American Journal of Chinese Medicine 2008;36(1):37-44.

9. Kim IN, Lee MS, Lee DH, Boddy K, Ernst E. Cupping for Treating Pain: A Systematic Review. Evidence Based Complementary Alternative Medicine 2011 June 23; 2011

(38)

25

11. Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fsiologi kedokteran. Ed 11. Jakarta: EGC; 2007

12. Snell RS. Neuroanatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. Ed 5. Jakarta: EGC; 2006

13. WHO. Neurological disorders : public health challenges [Online] 2006 [cited 2011 Aug 15];[232 screens]. Available from: URL:

http://www.who.int/en/

14. Burg EHVD, Metz JR, Arends RJ, Devreese B, Vandenberghe I, Beeumen JV et all. Identification of endorphins in the pituitary gland and blood plasma of the common carp (Cyprinus carpio). Journal of Endocrinology 2001; 169:271–280

15. Gironi M, Furlan R,Rovaris M, Comi G, Filippi M, Panerai AE et all. β endorphin concentrations in PBMC of patients with different clinical phenotypes of multiple sclerosis. J Neurol Neurosurg Psychiatry 2003; 74:495-497

16. Kustanti E, Widodo A. Pengaruh teknik relaksasi terhadap perubahan status mental klien skizofrenia di rumah sakit jiwa daerah surakarta. Berita Ilmu Keperawatan September 2008; 3(1): 131-136

17. Despopoulus A, Siebernagl S. Color atlas of physiology. Ed 5. Thieme; 2003

18. Kim IJ, Kim TH, Lee SM, Kang JW, Kim KH, Cho HY et all. Evaluation of wet-cupping therapy for persistent non-specific low back pain: a randomised, waiting-list controlled, open-label, parallel-group pilot trial. National Library of Medicine 2011 June; 12:146

(39)

26

” PENGARUH TERAPI BEKAM TERHADAP PERUBAHAN SKALA NYERI

PADA PASIEN DENGAN NYERI KEPALA DI KLINIK AFIAT TAHUN 2011”

LEMBARAN PERSETUJUAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama :

Umur :

Jenis Kelamin : L / P

Alamat :

No Hp :

Pengalaman menggunakan bekam : pertama / lebih

Menyatakan bahwa saya bersedia turut serta (untuk bekam dan mengisi kuisioner sesuai ketentuan) dalam penelitian mengenai :

Pengaruh terapi bekam terhadap perubahan skala nyeri pada pasien dengan nyeri kepala di klinik afiat tahun 2011.

Keikutsertaan saya dalam penelitian ini adalah bersifat sukarela tanpa ada paksaan dari pihak manapun.

Demikianlah pernyataan ini saya sampaikan

Tempat :

Hari/tanggal :

Pasien yang diteliti Mahasiswa yang meneliti

(40)

27 1. Apakah anda sedang mengalami nyeri kepala/sakit kepala?

A. Ya B. Tidak

2. Jika ya, berapa level nyeri yang anda rasakan sebelum dibekam ? (DI ISI SEBELUM DIBEKAM, tuliskan dalam bentuk angka. level nyeri bisa dilihat pada gambar di halaman terakhir)

Level nyeri saya = ...

3. Sudah berapa lama anda mengalami nyeri kepala tersebut?

A. 1 jam yang lalu

kali anda mendapatkan terapi bekam?

(41)

28

6. Jika ya, seberapa sering anda mendapatkan terapi bekam tersebut secara

rutin?

A. 1 x sehari

B. 1 x seminggu

C. 1 x sebulan

D. 1 x setahun

E. Lainnya (...)

7. Mengapa anda rutin dibekam?

A. Untuk menjaga kesehatan

B. Mengobati penyakit lain (sebutkan penyakitnya : ...)

C. Lainnya (...)

8. Setelah dibekam, berapa level nyeri yang anda rasakan? (DI ISI SETELAH DIBEKAM, tuliskan dalam bentuk angka. level nyeri bisa dilihat pada gambar di halaman terakhir)

(42)

29

Ketentuan :

0 = tidak terasa nyeri

1 sampai 3 = nyeri ringan; (masih bisa berkomunikasi dengan baik)

4 sampai 6 = nyeri sedang; (bisa berkomunikasi namun menyeringai, mendesis,

bisa menunjukan lokasi nyeri dan mendeskripsikannya)

7 sampai 8 = nyeri berat yang masih bisa di kontrol; (tidak dapat mengikuti

perintah tapi bisa merespon tindakan, bisa menunjukan lokasi nyeri, tidak bisa

mendskripsikannya, tidak bisa diatasi dengan berganti posisi, menarik nafas

yang dalam)

10 = nyeri berat yang tidak bisa di kontrol; (sudah tidak mampu berkomunikasi dan berusaha untuk memukul mukul)

Terima kasih atas partisipasi Anda untuk mengisi kuisioner yang saya berikan.

Karena dengan mengisi kuisioner ini berarti Anda telah membantu saya untuk

menyelesaikan tugas prasyarat penelitian ini. Saya menghargai Anda dengan

menjamin kerahasiaan dari data dan informasi yang anda telah berikan dengan

(43)

30

Lampiran 2 Data Hasil Uji Statistik

A. Uji Normalitas Kelompok Sebelum & Sesudah dibekam

B. Uji T-Berpasangan

C. Frekuensi level nyeri sebelum dan sesudah bekam untuk semua pasien.

(44)
(45)

32

D. Level nyeri sebelum dan sesudah bekam berdasarkan jenis kelamin

Report

jenis kelamin responden

level nyeri

sebelum

dibekam

level nyeri

sesudah

dibekam

perempuan Mean 4.36 2.55

N 11 11

Std. Deviation 1.362 1.508

laki-laki Mean 4.80 3.00

N 5 5

Std. Deviation 1.095 1.225

Total Mean 4.50 2.69

N 16 16

(46)

33

Lampiran 3 Riwayat Penulis

Identitas :

Nama : Rahmatul Fithri Yanti Jenis Kelamin : Perempuan

Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 10 Desember 1992

Agama : Islam

Alamat : Komplek Kejaksaan Agung RT 002/ RW 09 No. 25 Kec. Ciputat Kel. Cipayung Tangerang Selatan E-mail : Rahmatulfithri@yahoo.com

Riwayat Pendidikan :

Figur

Tabel 3.1.
Tabel 3 1 . View in document p.10
Gambar 2.1. Titik Ummu Mughits........................................................................7
Gambar 2 1 Titik Ummu Mughits 7 . View in document p.11
Gambar 2.1. Titik Ummu Mughits
Gambar 2 1 Titik Ummu Mughits . View in document p.20
Gambar 2.2. jaras nyeri
Gambar 2 2 jaras nyeri . View in document p.21
Tabel 3.1. Rincian Waktu Penelitian
Tabel 3 1 Rincian Waktu Penelitian . View in document p.24
Tabel 3.2. Skor Skala Visual Analog
Tabel 3 2 Skor Skala Visual Analog . View in document p.27
Tabel 4.1. Distribusi Sampel
Tabel 4 1 Distribusi Sampel . View in document p.29
Tabel 4.2. Rerata level nyeri berdasarkan jenis kelamin
Tabel 4 2 Rerata level nyeri berdasarkan jenis kelamin . View in document p.31
Tabel 4.3. Rerata level nyeri berdasarkan pengalaman bekam
Tabel 4 3 Rerata level nyeri berdasarkan pengalaman bekam . View in document p.32
Tabel 4.4. Hasil uji normalitas kelompok Sebelum Bekam
Tabel 4 4 Hasil uji normalitas kelompok Sebelum Bekam . View in document p.33
Tabel 4.6 Hasil Uji T Berpasangan Hubungan antara Bekam dengan Perubahan
Tabel 4 6 Hasil Uji T Berpasangan Hubungan antara Bekam dengan Perubahan . View in document p.33
Gambar 4.1. Pengeluaran ACTH
Gambar 4 1 Pengeluaran ACTH . View in document p.34
gambar di halaman terakhir)
gambar di halaman terakhir) . View in document p.41

Referensi

Memperbarui...