Aplikasi Kewajiban Suami Terhadap Istri Dikalangan Jama'ah Tabligh (Tinjauan atas penerapan Hak dan Kewajiban Suami Istri)

106  11 

Teks penuh

(1)

APLIKASI KEWAJIBAN SUAMI TERHADAP ISTRI DIKALANGAN JAMA'AH TABLIGH

(Tinjauan atas penerapan Hak dan Kewajiban Suami Istri)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum untuk Memenuhi Salah Satu

Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Syariah (S.Sy)

Oleh:

MUHAMMAD FATHINNUDDIN

NIM : 1111044100073

K O N S E N T R A S I P E R A D I L A N A G A M A PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(2)
(3)
(4)

1. Skripsi ini merupakan hasil karya saya yang diajukan untuk memenuhi

salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata satu (S1) di Universitas

Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya

cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam

Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya saya atau

merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia

menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 8 April 2015

(5)

ABSTRAK

Muhammad Fathinnuddin. NIM 1111044100073. KEWAJIBAN SUAMI TERHADAP ISTRI DIKALANGAN JAMA'AH TABLIGH (Tinjauan atas Penerapan Hak dan Kewajiban Suami Istri). Konsentrasi Peradilan Agama, Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1436 H/2015 M. xi + 85 halaman + 19 lampiran.

Pada penelitian ini penulis melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan hal-hal yang diperlukan, yang berkaitan dengan Jama'ah Tabligh serta pendapat mereka mengenai kehidupan berumah tangga. Penulis melakukan penelitian dengan terjun langsung ke lapangan seperti ke masjid kebon jeruk, dan halaqoh-halaqoh yang berada dibeberapa daerah seperti diwilayah Mampang, Condet dan Pondok Labu. Selain mendapatkan keterangan langsung yang didapat oleh penulis dengan cara berdialog, penulis juga memiliki buku-buku referensi yang ditulis oleh rekan-rekan dari Jama'ah Tabligh itu sendiri mengenai pandangan dan pendapat mereka mengenai kehidupan berumah tangga berdasarkan hak dan kewajiban. Fokus penulis pada pembahasan skripsi ini sebatas kewajiban suami sebagai kepala keluarga dalam pandangan Jama'ah Tabligh, dengan metode dakwah yang dilakukan olehnya yaitu khuruj fii sabilillah.

Metode yang dipergunakan adalah metode deskriptif eksploratif, adapun jenis penelitiannya yaitu penelitian lapangan (Field Research) yang di padukan dengan penelitian kepustakaan (Library Research). Penelitian dilakukan dengan cara penulis melakukan dialog dengan beberapa anggota Jama'ah Tabligh dalam cara yang berbeda-beda, ada yang bersifat resmi seperti wawancara terstruktur dan bahkan lebih banyak penulis mendapatkan data dari hasil diskusi bersama mereka dalam beberapa kesempatan ketika penulis melakukan penelitian. Kriteria dan sumber data yang digunakan yaitu pertama, data primer seperti wawancara, dan dokumentasi. Kedua, data sekunder yang diperoleh dari buku-buku dan tulisan-tulisan yang berhubungan dengan tema. Adapun teknik pengumpulan data diantaranya yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang terkumpul selanjutnya di analisa dengan analisis deskriptif.

(6)

dengan meninggalkan isteri dan anak selama beberapa lama tidak dapat dikatakan mereka bertentangan bahkan melalaikan kewajibannya sebagai seorang suami karena sebelum mereka melakukan khuruj fii sabilillah ada beberapa proses yang harus diperhatikan dan menjadi syarat sebagai diperbolehkannya khuruj fii sabilillah.

Kata Kunci : Khuruj Fii sabilillah, Halaqoh, Tafaqud, Masjid, Hak dan kewajiban, Amir Halaqoh, mahar, nafkah.

(7)

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT atas segala limpahan rahmat, nikmat, hidayah

dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan

salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga,

sahabat, dan seluruh umat Islam yang setia hingga akhir zaman.

Skripsi ini penulis persembahkan kepada Ibunda tercinta Hj. Neneng

Mulyanah, S.Pd dan Ayahanda tercinta Alm. H. Tahmid yang selalu memberikan

kasih sayang, bimbingan, dan doa tanpa kenal lelah. Semoga Allah SWT

senantiasa melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada mereka.

Dalam persiapan dan pelaksanaan penelitian sampai dengan penulisan

skripsi ini, tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, sehingga penulis dapat

menyelesaikan penulisan karya ilmiah ini sebagai salah satu syarat untuk

mencapai gelar Sarjana Syariah. Karena itu penulis menghaturkan ucapan terima

kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:

1. Dr. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Syariah dan

Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Kamarusdiana, S.Ag., MH. dan Sri Hidayati, M.Ag. selaku Ketua dan

sekretaris Program Studi Ahwal al-Syakhsiyyah.

3. Dr. Hj. Azizah, M.A. selaku pembimbing skripsi yang tak pernah lelah

membimbing, mengarahkan, dan memberikan kritikan kepada penulis

(8)

5. Seluruh dosen di Fakultas Syariah dan Hukum yang telah mendidik dan

memberikan arahan kepada kami selama kuliah di UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta.

6. H. Muhammad Thamrin Hasan dan Hj. Nur Habibah, S.Pd. yang selalu

membantu penulis dalam segala hal tanpa rasa lelah semenjak penulis

ditinggal oleh seorang ayah yang sangat penulis cintai.

7. Kepala Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas beserta staf yang

telah memberikan fasilitas kepada kami dalam menelusuri literatur yang

berkaitan dengan skripsi ini.

8. Seluruh anggota Jama'ah Tabligh, baik yang berada di pusat yaitu di

Masjid Kebon Jeruk, maupun dihalaqoh-halaqoh daerah terlebih halaqoh

Pancoran, Depok dan Condet. Khususnya kepada Ust. H. Dedi, Ust. Ayat

Muhayyat Syah, Ust. Hartono, Ust. Fachrurrozi, Ust. H. Dzul, Ust. H.

Indro, Ust. H. Abbas, Ust. Syubki yang banyak memberikan pengetahuan

mengenai aktifitas dakwah yang dilakukan oleh Jama'ah Tabligh.

9. Mamah, serta kedua kakakku tercinta Syarifathunnisa dan Tiya Izzati serta

adikku tersayang Khoirunnajah dan Muhammad Akmal Raudhi yang

selalu mencintai, memberi semangat, harapan, arahan serta memberi

dukungan baik secara materil maupun spiritual sampai terselesaikan

(9)

10.Kepada seluruh pengurus Majlis Ashsholatu'alannabiy SAW khususnya

kepada pimpinan majlis Habib Hamid bin Zaid Alaththos serta seluruh

keluarga besar Majlis Syababunnabawiyyah, terutama bang Ali, kak Nur

dan seluruh pengurus remaja Masjid Jami' Ikhwanul Muslimin

(PARAMASIKH) atas do'a dan dukungannya.

11.Keluarga besar Peradilan Agama Angkatan 2011 kelas A dan B terutama

Syamsul Bahri, Muhammad Abrar Zulsabrian, Faris Jamal Trianto,

Ahmad Firdaus, Robi'atul Adawiyah, Daniel Alfaruq, Nabilla Alhalabi,

Muhammad Nazir, lalu ade kelas penulis serta kawan seperjuangan mulai

waktu pada saat pondok pesantren, terutama Adam Haekal Radintya

Hutabarat, Arief Hidayat, Muhammad Fahmi Fahrurrozi, Fauzi Yusuf

AlAmin, serta seluruh rekan-rekan lainnya yang telah mendoakan penulis.

Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat dalam proses

membuka wawasan pengetahuan dan dapat menjadi salah satu cahaya

penerang diantara ribuan cahaya pengetahuan lainnya.

Jakarta, 8 April 2015

(10)

JAMA'AH TABLIGH

(Tinjauan atas Penerapan Hak dan Kewajiban Suami Istri)

BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah………...1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah………...8

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian………...…...9

D. Metode Penelitian………...10

E. Review Studi Terdahulu………...12

F. Sistematika Penulisan………...13

BAB II : LANDASAN TEORI TENTANG HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI ISTERI DALAM RUMAH TANGGA A. Prinsip-prinsip dalam Perkawinan………...15

(11)

C. Hak dan Kewajiban Suami Isteri dalam Hukum

Islam………...19

D. Hak dan Kewajiban suami istri dalam Undang-Undang

No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Kompilasi

Hukum Islam………23

BAB III : PROFIL JAMA'AH TABLIGH

A. Sejarah Singkat Pendiri Jama'ah Tabligh……….29

B. Tujuan Berdirinya Jama'ah Tabligh……….37

C. Aktivitas Dakwah Jama'ah Tabligh………..40

BAB IV : KEWAJIBAN SUAMI TERHADAP ISTRI DIKALANGAN JAMA'AH TABLIGH DAN APLIKASINYA

A. Hak dan Kewajiban suami istri menurut Jama'ah

Tabligh……...50

B. Kewajiban suami terhadap istri dikalangan Jama'ah

Tabligh pada saat berdakwah (khuruj fii sabilillah)…53

C. Analisis Penulis………60

BAB V : PENUTUP

(12)
(13)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan adalah makhluk Allah yang

diciptakan-Nya berpasang-pasangan. Hubungan antara pasang-pasangan itu

membuahkan keturunan, agar hidup di alam semesta ini berkesinambungan.

Dengan demikian penghuni dunia ini tidak pernah sunyi dan kosong, tetapi terus

berkembang dari generasi ke generasi. Perkawinan adalah merupakan sunnatullah

yang dengan sengaja diciptakan oleh Allah yang antara lain tujuannya untuk

melanjutkan keturunan dan tujuan-tujuan lainnya. Dalam al-Qur'an Allah

berfirman :

Artinya : "Dan segala sesuatu. Kami ciptakan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah." (Adz-Dzaariyat:49)

Allah menciptakan makhluk-Nya bukan tanpa tujuan, tetapi didalamnya

terkandung rahasia yang amat dalam, supaya hidup hamba-hamba-Nya menjadi

tenteram. Allah sengaja menumbuhkan rasa kasih sayang ke dalam hati

masing-masing pasangan, agar terjadi keharmonisan dan ketenteraman dalam membina

suatu rumah tangga.1

Adanya ikatan perkawinan diharapkan akan tercipta rasa tanggung jawab

membina kehidupan rumah tangga, khususnya antara suami-istri, disamping

1

(14)

terjalinnya hubungan kekeluargaan antara kedua belah pihak. Namun, tidak

selamanya kehidupan dan pergaulan antara suami-istri berjalan dengan mulus.

Gelombang serta badai rumah tangga adakalanya menimpa mereka.2

Diantara tujuan dan hikmah perkawinan adalah agar terciptanya suatu

keluarga atau rumah tangga yang harmonis, penuh kedamaian, serta terjalin rasa

kasih sayang antara suami-istri. Untuk membangun rumah tangga ideal tersebut,

harus melalui ikatan perkawinan yang sah sesuai dengan ketentuan-ketentuan

ajaran Islam. Hanya dengan cara demikian, konsekuensi adanya hak dan

kewajiban serta rasa tanggung jawab antara pasangan suami-istri dapat muncul

dalam membina dan membangun keluarga yang sejahtera dan bahagia.3

Nikah mempunyai kontribusi didalam membentuk pribadi untuk

berperilaku disiplin seperti disiplin dalam membagi waktu dan pekerjaan. Karena,

dengan unsur kedisiplinan ini, seseorang dapat mengatur urusan-urusan rumah

tangganya sebagaimana ia disiplin dalam mengatur urusan di luar rumah tangga.

Tentu saja masing-masing pihak berdisiplin dan bertanggung jawab berdasarkan

hak dan kewajiban masing-masing. Terwujudnya kehidupan yang tenang dan

tenteram, dengan adanya cinta dan kasih sayang di antara sesama. Di samping itu,

secara sosial juga akan dapat mewujudkan ketenangan dan ketenteraman sosial

karena masyarakat dapat terhindar dari perbuatan-perbuatan maksiat.4

2

Hasanuddin AF, Perkawinan dalam perspektif Alquran (Jakarta : Nusantara Damai Pres, 2011) h. 3

3

Hasanuddin AF, Perkawinan dalam perspektif AlQuran, h. 13

4

(15)

3

Pernikahan dalam pandangan Islam adalah sesuatu yang luhur dan sakral,

bermakna ibadah kepada Allah, mengikuti sunnah Rasulullah dan dilaksanakan atas dasar ke ikhlasan, tanggung jawab dan mengikuti ketentuan-ketentuan hukum

yang harus diindahkan. Ketentuan umum mengenai syarat sah pernikahan

menurut ajaran Islam adalah : adanya calon mempelai wanita dan pria, adanya dua

orang saksi, wali, ijab Kabul, serta mahar atau mas kawin.5

Hidup berumah tangga merupakan tuntutan fitrah manusia sebagai

makhluk sosial. Keluarga atau rumah tangga muslim adalah lembaga terpenting

dalam kehidupan kaum muslimin umumnya dan amal islam khususnya. Ini semua

disebabkan karena peran besar yang dimainkan oleh keluarga, yaitu mencetak dan

menumbuhkan generasi masa depan, pilar penyangga bangunan umat dan perisai

penyelamat bagi negara.6

Jika hukum keluarga memiliki kedudukan atau fungsi mengatur hubungan

timbal-balik (internal) antara sesama anggota keluarga dalam sebuah keluarga

tertentu, maka fungsi hukum keluarga Islam dalam keluarga muslim adalah

sebagai pengatur mekanisme (hubungan) timbal balik antara sesama anggota

keluarga. Adapun tujuan dari pensyariatan hukum keluarga Islam bagi keluarga

muslim secara ringkas ialah untuk mewujudkan kehidupan keluarga muslim yang

sakinah, yakni keluarga muslim yang bahagia dan sejahtera. Tentu sejahtera

dalam konteksnya yang sangat luas mengingat ruang-lingkup hukum keluarga itu

sendiri tidak hanya identik dengan hukum perkawinan dan hal-hal lain yang

5

Asrorun Ni'am, Fatwa-Fatwa Masalah Pernikahan dan Keluarga, h. 47

6

(16)

bertalian dengannya, akan tetapi juga mencakup perihal kewarisan dan wasiat di

samping perwalian dan pengampuan / pengawasan.7

Tanpa mengetahui hukum keluarga Islam secara benar dan baik, hampir

mustahil sebuah keluarga terutama keluarga muslim akan mampu mewujudkan

impian atau tepatnya idaman yang didambakannya, yakni keluarga sakinah

(sejahtera) yang dibangun atas dasar hubungan mawaddah dan rahmah. Satu hal yang mutlak penting diingatkan di sini ialah bila keluarga muslim dengan para

anggotanya benar-benar mengetahui dan sekaligus mengamalkan hukum keluarga

Islam secara benar dan baik, niscaya keluarga yang bersangkutan akan menjadi

keluarga yang benar-benar sakinah. Hanya keluarga-keluarga sakinah inilah sesungguhnya yang akan dapat membangun sebuah bangunan masyarakat,

bangsa, dan negara yang tangguh dan kuat. Keluarga sakinah itu tentu akan dapat dibangun dengan baik manakala setiap anggota keluarga benar-benar mengetahui

dengan baik keberadaan hukum keluarga dalam hal ini hukum keluarga Islam bagi

keluarga Muslim.8

Islam telah memberikan proporsi tugas dan fungsi masing-masing anggota

keluarga yang harmonis, diliputi suasana iman, takwa, dan bahagia. Suami

sebagai kepala keluarga, pemimpin keluarga dan wajib memberikan nafkah pada

istri dan anaknya. Sementara itu sebagai se orang istri memiliki tugas utama

sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Sebagai anak bertugas untuk berbuat

7

Muhammad Amin Summa, Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam (Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada, 2004, Cet.pertama), h.31-32

8

(17)

5

baik, patuh, dan taat kepada orang tua selagi orang tua memberikan perintah dan

nasihat yang baik.

Pranata sosial seperti pembagian peran, hak, dan kewajiban antara

laki-laki dan perempuan sebagaimana diisyaratkan dalam al-Qur'an, merupakan salah

satu sarana yang dapat dilakukan guna mencapai tujuan itu. Namun, tidak berarti

sarana lain yang hidup di dalam masyarakat tidak dapat dimanfaatkan. Sepanjang

tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syari'ah dibenarkan untuk dipertahankan.9

Ajaran Islam menentukan kedudukan suami sebagai pemimpin keluarga

yang akan memimpin dan mengendalikan bahtera rumah tangganya. Opini dunia

sampai sekarang cenderung menetapkan sang suami sebagai kepala keluarga

adalah bersumber pada ajaran agama. Disamping kedudukan suami, Islam

mengatur pula kedudukan isteri dan anak-anak serta anggota keluarga lainnya,

hak dan kewajiban sampai kepada hadhanah, hak waris dan nasab termasuk

kedudukan anak angkat dan sebagainya. Berbagai ayat dan hadits menunjukkan

bagaimana suami dan istri harus menjaga keutuhan rumah tangga serta selalu

mengontrol jalannya kehidupan keluarga dengan penuh kasih sayang, sabar dan

penuh tanggung jawab.10

Keberhasilan pernikahan tidak tercapai kecuali jika kedua belah pihak

memerhatikan hak pihak lain. Tentu saja hal tersebut banyak, antara lain adalah

9

Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Qur'an (Jakarta : PARAMADINA, 2001, cet. Kedua), h. 21.

10

(18)

bahwa suami bagaikan pemerintah/penggembala dan dalam kedudukannya seperti

itu dia berkewajiban untuk memerhatikan hak dan kepentingan rakyatnya

(istrinya). Istri pun berkewajiban untuk mendengar dan mengikutinya, tetapi disisi

lain perempuan mempunyai hak terhadap suaminya untuk mencari yang terbaik11.

Fungsi dan kewajiban masing-masing jenis kelamin, serta latar belakang

perbedaan, disinggung oleh Q.S. An-Nisa ayat 34 yang berbunyi :

݄۵جܕ݆ا

Artinya:"Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Maka perempuan-perempuan yang salehah, adalah mereka yang taat kepada Allah dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi, jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar".

Dikalangan masyarakat Islam banyak metode dakwah yang dilakukan oleh

para Da'i, salah satunya adalah dakwah yang dilakukan oleh kalangan yang

bernama Jama'ah Tabligh (JT). Hal yang sangat menarik dari metode dakwah

yang dilakukan oleh para anggota Jama'ah Tabligh (JT) yang mayoritas para

anggotanya adalah suami (kepala rumah tangga) ialah apabila sedang melakukan

dakwah atau yang biasa disebut dengan tabligh mereka mempunyai metode yang biasa mereka sebut dengan khuruj fii sabilillah. Khuruj adalah meluangkan waktu

11

(19)

7

untuk secara total berdakwah, yang biasanya dari masjid ke masjid dan dipimpin

oleh seorang Amir12.Dalam melakukan hal tersebut para anggota Jama'ah Tabligh

(JT) keluar meninggalkan keluarganya untuk melakukan tabligh dengan mengandalkan biaya sendiri dan meluangkan waktunya ke berbagai penjuru desa,

kota bahkan mancanegara dalam jangka waktu tertentu antara 3-40 hari, 4-7 bulan

bahkan satu tahun. Ketika dalam masa berdakwah meninggalkan istri dan anak

kewajiban sebagai seorang suami terhadap istri dan anak harus tetap dipenuhi

karena setiap anggota keluarga telah memiliki hak dan kewajibannya

masing-masing.

Sesuatu hal sangat penting dan menarik yang harus diketahui bagi

masing-masing pasangan suami maupun istri, baik itu tanggung jawab, hak-hak mereka

sebagai kepala keluarga maupun sebagai ibu rumah tangga, agar antara suami istri

serta anak dan anggota keluarga lainnya saling menghargai dan mengerti hak dan

kewajiban masing-masing, sehingga terciptanya Sakinah di dalam kehidupan

berumah tangga, khususnya di kalangan keluarga Jama'ah Tabligh. untuk itu

penulis mengambil judul "APLIKASI KEWAJIBAN SUAMI TERHADAP ISTRI DIKALANGAN JAMA'AH TABLIGH (Tinjauan atas Penerapan Hak dan Kewajiban Suami Istri)".

12

(20)

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah

Agar penelitian ini lebih akurat dan terarah sehingga tidak menimbulkan

masalah baru serta pelebaran secara meluas, maka penulis membatasi pembahasan

ini pada masalah kewajiban suami sebagai kepala keluarga terhadap istri

dikalangan Jama'ah Tabligh (JT) ketika suami pergi berdakwah meninggalkan

istri, sehingga dalam penelitian ini penulis melakukan penelitian hanya kepada

suami yang sedang melakukan program dakwahnya yaitu khuruj fii sabililah, dan penulis meneliti Jama'ah Tabligh yang berada di Masjid Kebon Jeruk (Jl. Hayam

Wuruk No. 85, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat) dan halaqoh masjid Jami'

Baiturrohim, Mampang.

2. Perumusan Masalah

Metode dakwah yang dilakukan oleh anggota Jama'ah Tabligh (JT) adalah

metode dakwah yang disebut dengan Khuruj fii sabilillah dalam melaksanakan dakwahnya tersebut Jama'ah Tabligh (JT) keluar dari rumah meninggalkan istri,

anak dan anggota keluarga lainnya selama beberapa hari. Mulai dari 3-40 hari, 4-7

bulan bahkan satu tahun mereka meninggalkan istri, anak dan anggota keluarga

lainnya untuk pergi ber dakwah yang mereka sebut dengan khuruj fii sabilillah. Padahal menurut Hukum Islam dan UU. No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan

serta di dalam Kompilasi Hukum Islam, seorang istri memiliki hak dari suami dan

(21)

9

Dari rumusan masalah di atas maka pertanyaan penelitiannya adalah :

1. Bagaimana seorang suami memenuhi kewajibannya sebagai kepala

keluarga ketika sedang khuruj fii sabilillah di kalangan Jama'ah Tabligh ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Adapun hasil yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah

terjawabnya semua permasalahan yang dirumuskan, yaitu :

1. Untuk mengetahui hak dan kewajiban suami istri dalam Hukum

Islam, Hukum positif (UU. No. 1 Tahun 1974 Tentang

Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam) serta menurut

pandangan Jama'ah Tabligh

2. Untuk mengetahui kewajiban seorang suami sebagai kepala

keluarga dalam memenuhi nafkah terhadap hak isteri dan anak

ketika sedang meninggalkan mereka untuk melakukan tabligh,

yaitu khuruj fii sabilillahi

3. Untuk mengetahui peran suami dikalangan Jama'ah Tabligh dalam

menjalankan peranannya sebagai kepala keluarga

2. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Mengetahui hak dan kewajiban suami istri dalam Hukum

(22)

Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam) serta menurut

pandangan Jama'ah Tabligh.

2. Mengenal lebih dalam mengenai dakwah dan pembinaan

keluarga hingga terciptanya keluarga yang harmonis

dikalangan Jama'ah Tabligh (JT)

3. Mengetahui kewajiban seorang suami untuk memenuhi

hak-hak anggota keluarganya, ketika di tinggal khuruj fii sabilillah

dikalangan Jama'ah Tabligh

D. Metode Penelitian

Dalam penelitian skripsi ini penulis melakukan dua jenis

penelitian, yaitu penelitian pustaka (Library Research) dan penelitian lapangan (Field Research).

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Karakter khusus

penelitian kualitatif berupaya mengungkap keunikan individu, kelompok,

masyarakat atau organisasi tertentu dalam kehidupannya sehari-hari13. Dari segi

tujuan dalam penelitian ini termasuk dalam metode penelitian yang bersifat

deskriptif.14

13

Basrowi dan Suwandi, Memahami penelitian kualitatif, h.23

14

(23)

11

2. Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menggunakan dua jenis sumber

data, yaitu :

a. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari

responden. Adapun untuk memperoleh data dalam penulisan ini adalah

dengan cara melakukan wawancara.15 Penulis melakukan wawancara

secara mendalam kepada, Ust. H. Dzul (Pimp. Halaqoh masjid

Baiturrahim), Bpk. H. Indro (anggota), Bpk. Fachrulrozi, Bpk. H. Dedi,

Ust. Ayat Muhayyat Syah.

b. Data Sekunder

Merupakan data yang diperoleh melalui studi pustaka yang

bertujuan untuk memperoleh landasan teori yang bersumber dari,

buku-buku, hasil penelitian, jurnal-jurnal, tulisan-tulisan dari internet, dan

lainnya yang berkenaan dengan Jama'ah Tabligh (JT) serta Peraturan

Perkawinan di Indonesia mengenai hak dan kewajiban suami istri.

3. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini teknik menganalisa data, penulis

menggunakan metode analisis deskriptif, yaitu suatu teknik analisis data

15

(24)

dimana penulis menjabarkan data-data yang diperoleh dari hasil

wawancara/interview.

4. Teknik penulisan

Dalam hal teknis penulisan, penulis mengacu pada buku pedoman

penulisan skripsi Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta Tahun 2007.

E. Review Studi Terdahulu

Dari beberapa skripsi yang terdapat di Fakultas Syariah dan

Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, penulis

menemukan data yang berhubungan dengan penelitian yang sedang ditulis,

antara lain :

Penulis yang bernama Ariandy Setiady dengan judul "Hak-hak

wanita sebagai istri,ibu dan anak dalam keluarga di Indonesia Perspektif

hukum Islam dan HAM" Tahun 2010 dibawah bimbingan Bapak Dr. H.

Afifi Abbas, MA. Hanya membahas mengenai hak-hak seorang wanita

sebagai istri, ibu serta anak dan tidak membahas kewajiban seorang suami

serta tidak secara khusus membicarakan hak dan kewajiban suami istri

dalam berumah tangga.

Penulis yang bernama Umar Hasan Harahap dengan judul skripsi "

Konsep Keluarga Sakinah Menurut Jama'ah Tabligh Kecamatan Sawah

(25)

13

di bawah bimbingan Bapak Dr. Muhammad Ali Wafa, MA. Penulis meng

analisis konsep keluarga sakinah dikalangan Jama'ah Tabligh (JT) dalam

perspektif Hukum Islam, belum membahas mengenai kewajiban seorang

suami di keluarga anggota Jama'ah Tabligh terhadap hak-hak istri dan

anggota keluarga lainnya ketika sedang berdakwah.

F. Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan dalam penulisan ini, penulis membagi

pembahasan dalam lima bab, yaitu :

Bab Pertama, Merupakan bab pendahuluan yang memuat latar

belakang masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan

penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian, review studi terdahulu

dan sistematika penulisan.

Bab kedua, Merupakan landasan teori yang mencakup

prinsip-prinsip dalam perkawinan, pengertian hak dan kewajiban suami istri, hak

dan kewajiban suami istri dalam Hukum Islam, serta hak dan kewajiban

suami istri dalam UU. No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan

Kompilasi Hukum Islam (KHI).

Bab ketiga, Merupakan Eksistensi Jama'ah Tabligh (JT) yang

terdiri dari sejarah singkat pendiri jama'ah tabligh, tujuan berdirinya,

aktivitas dakwah jama'ah tabligh, dan pandangan jama'ah tabligh

(26)

Bab keempat, merupakan pembahasan mengenai kewajiban suami

terhadap istridikalangan jama'ah tabligh serta peran suami sebagai kepala

keluarga ketika sedang khuruj fii sabilillah dan analisis penulis.

Bab kelima, merupakan bab terakhir dari penulisan skripsi ini,

(27)

15 BAB II

LANDASAN TEORI TENTANG HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI ISTERI DALAM RUMAH TANGGA

A. Prinsip-Prinsip dalam Perkawinan

Pernikahan dapat menjaga kehormatan diri sendiri dan pasangan agar

tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang diharamkan. Juga berfungsi untuk

menjaga komunitas manusia dari kepunahan, dengan terus melahirkan dan

mempunyai keturunan. Demikian juga, pernikahan berguna untuk menjaga

kesinambungan garis keturunan, menciptakan keluarga yang merupakan bagian

dari masyarakat, dan menciptakan sikap bahu-membahu diantara sesama.

Sebagaimana telah diketahui bahwasanya pernikahan merupakan bentuk

bahu-membahu antara suami-istri untuk mengemban beban kehidupan. Juga

merupakan sebuah akad kasih sayang dan tolong-menolong diantara golongan,

dan penguat hubungan antar keluarga. Dengan pernikahan itulah berbagai

kemaslahatan masyarakat dapat diraih dengan sempurna16.

Keluarga adalah unit sosial dasar, dan perkawinan adalah lembaga Islam

yang fundamental. Perkawinan dan pembentukkan keluarga adalah tanggung

jawab serius dan tunduk kepada peraturan yang spesifik. Oleh karena itu maka

perencanaannya adalah layak17.

16

Wahbah Az-Zuhaili, Fiqih Islam wa Adillatuhu Terj. Abdul Hayyie al-Kattani, (Jakarta: Gema Insani, 2011), h. 40.

17

(28)

Prinsip-prinsip hukum perkawinan yang bersumber dari Qur'an dan

al-Hadits, yang kemudian dituangkan dalam garis-garis hukum melalui

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam

Tahun 1991 mengandung 7 asas atau kaidah hukum, yaitu sebagai berikut18 :

1. Asas membentuk keluarga yang bahagia dan kekal.

Suami dan istri perlu saling membantu dan melengkapi agar

masing-masing dapat mengembangkan kepribadiannya untuk mencapai

kesejahteraan spiritual dan material.

2. Asas keabsahan perkawinan didasarkan pada hukum agama dan

kepercayaan bagi pihak yang melaksanakan perkawinan, dan harus

dicatat oleh petugas yang berwenang.

3. Asas monogami terbuka.

Artinya, jika suami tidak mampu berlaku adil terhadap hak-hak istri

bila lebih dari seorang maka cukup seorang istri saja.

4. Asas calon suami dan calon istri telah matang jiwaraganya dapat

melangsungkan perkawinan, agar mewujudkan tujuan perkawinan

secara baik dan mendapat keturunan yang baik dan sehat, sehingga

tidak berpikir kepada perceraian.

5. Asas mempersulit terjadinya perceraian.

6. Asas keseimbangan hak dan kewajiban antara suami dan istri, baik

dalam kehidupan rumah tangga maupun dalam pergaulan masyarakat.

18

(29)

17

Oleh karena itu, segala sesuatu dalam keluarga dapat

dimusyawarahkan dan diputuskan bersama oleh suami istri.

7. Asas pencatatan perkawinan. Pencatatan perkawinan mempermudah

mengetahui manusia yang sudah menikah atau melakukan ikatan

perkawinan.

Beberapa prinsip perkawinan menurut agama Islam yang perlu diperhatikan

agar perkawinan itu benar-benar berarti dalam hidup manusia melaksanakan

tugasnya mengabdi kepada Tuhan. Diantara prinsip-prinsip perkawinan adalah

memenuhi dan melaksanakan perintah agama, kerelaan dan persetujuan dan suami

sebagai penanggung jawab umum dalam rumah tangga.19

B. Pengertian Hak dan Kewajiban Suami Istri

Hak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai

kekuasaan yang benar atas sesuatu atau untuk menuntut sesuatu20. Sedangkan,

kewajiban diartikan dengan sesuatu yang harus dilaksanakan; keharusan21.

Hak-hak suami terhadap istrinya yang diwajibkan oleh Islam memungkinkan

perempuan melaksanakan tanggung jawabnya yang pokok dalam rumah dan

masyarakat. Memberi kemampuan bagi laki-laki untuk membangun rumahnya

dan keluarganya22.

19

Abdurrahman Ghozali, Fiqh Munakahat, h. 32.

20

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 474.

21

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 1553.

22

(30)

Hak adalah kekuasaan yang benar atas sesuatu atau untuk menuntut sesuatu.

Misalnya, ia hendak mempertahankan haknya, maka berdasarkan ini dapat juga

dikatakan hak itu adalah sesuatu yang harus diterima. Pada pokoknya hak itu

dapat pula dibedakan antara hak mutlak atau hak absolut dan hak nisbi atau hak

relatif. Hak mutlak adalah hak memberikan wewenang kepada seseorang untuk

melakukan sesuatu perbuatan. Sedangkan hak nisbi (hak relatif) adalah hak yang

memberikan wewenang kepada seseorang tertentu atau beberapa orang tertentu

untuk menuntut agar supaya seseorang atau beberapa orang lain tertentu

memberikan sesuatu, melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu23.

Kewajiban berasal dari kata wajib ditambah awalan ke dan akhiran an yang

berarti sesuatu yang wajib diamalkan atau dilakukan. Misalnya, jangan melalikan

kewajibanmu. Bicara tentang kewajiban, semua manusia yang hidup didunia ini

tidak terlepas dari padanya, dan setiap kewajiban itu menimbulkan tanggung

jawab, yang dimaksud disini adalah hal-hal yang wajib dilaksanakan dan yang

merupakan tanggung jawab suami isteri24. Dapat disimpulkan dari pengertian hak

dan kewajiban diatas, bahwa hak adalah sesuatu yang harus diterima sedangkan

kewajiban adalah sesuatu yang harus dilaksanakan dengan baik. Begitulah

kehidupan antara suami isteri dalam setiap rumah tangga, apabila dua hal itu tidak

seimbang niscaya akan timbullah percekcokkan dan perselisihan dalam rumah

tangga. Sebaliknya, jika antara hak dan kewajiban itu seimbang atau sejalan,

terwujudlah keserasian dan keharmonisan dalam rumah tangga, rasa kebahagiaan

23

Firdaweri, Hukum Islam Tentang Fasakh Perkawinan, (Jakarta: CV. Pedoman Ilmu Jaya, 1989), h. 7.

24

(31)

19

semakin terasa dan kasih sayang akan terjalin dengan baik. Anak menghormati

orang tuanya, orang tua sayang kepada anaknya, suami menghargai isterinya dan

isteri pun menghormati suami dan seterusnya25.

Perkawinan adalah perbuatan hukum yang mengikat antara seorang pria

dengan seorang wanita (suami dan istri) yang mengandung nilai ibadah kepada

Allah disatu pihak dan dipihak lainnya mengandung aspek keperdataan yang

menimbulkan hak dan kewajiban antara suami istri. Oleh karena itu, antara hak

dan kewajiban merupakan hubungan timbal balik antara suami dengan isrinya26.

Akad nikah yang telah berlangsung dan sah memenuhi syarat rukunnya, maka

akan menimbulkan akibat hukum. Dengan demikian, akan menimbulkan pula hak

dan kewajiban selaku suami isteri dalam keluarga. Jika suami isteri sama-sama

menjalankan tanggung jawabnya masing-masing, maka akan terwujudlah

ketenteraman dan ketenangan hati, sehingga sempurnalah kebahagiaan hidup

berumah tangga. Dengan demikian, tujuan hidup berkeluarga akan terwujud

sesuai dengan tuntutan agama, yaitu sakinah, mawaddah wa rahmah27.

C. Hak dan Kewajiban Suami Isteri dalam Hukum Islam28

a. Hak isteri

1. Hak mengenai harta, yaitu mahar atau maskawin dan nafkah.

2. Hak mendapatkan perlakuan yang baik dari suami.

25

Sidi Nazar Bakry, Kunci Keutuhan Rumah Tangga, (Jakarta: CV. Pedoman Ilmu Jaya, 1993), h. 37.

26

Zainuddin Ali, Hukum Perdata Islam di Indonesia, h. 51.

27

Abdurrahman Ghozali, Fiqh Munakahat, h. 155.

28

(32)

Firman Allah SWT :

۵م ضع۹۸ اݕ۹ݒܓۿ݆ ݍݒݕّ݇ع۾ اݔ ۵ݒܕك ء۵سݏ݆ا اݕثܕ۾ ݌أ م݆݃ ݅حݚ ا اݕݏمآ ݍݚܓ݆ا ۵ݓݚأ ۵ݚ

)

٤:ءٓ۵سݏ݆ا( اܕݛثك اܕݛخ اۮ ݍݒݕ݋ۿݛ۾آ

Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kalian mempusakai wanita dengan jalan paksa. Janganlah kalian menghalangi mereka kawin dan menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kalian berikan kepada mereka, kecuali jika mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Bergaullah kalian dengan mereka secara patut. Kemudian jika kalian tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak". (QS an-Nisa’ [4]: 19).

3. Agar suami menjaga dan memelihara isterinya. Maksudnya ialah

menjaga kehormatan isteri, tidak menyia-nyiakannya, agar selalu

melaksanakan perintah Allah dan menghentikan segala

larangan-Nya. batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan". (QS. At-Tahrim [66] : 6)

b. Hak Suami

Ketaatan isteri kepada suami dalam melaksanakan urusan rumah

(33)

21

suami menjalankan ketentuan ketentuan Allah yang berhubungan

dengan kehidupan suami-isteri.

c. Hak bersama suami-isteri

Hak-hak bersama di antara kedua suami-isteri adalah :

1. Halalnya pergaulan sebagai suami-isteri dan kesempatan saling

menikmati atas dasar kerjasama dan saling memerlukan.

2. Sucinya hubungan perbesanan.

Dalam hal ini isteri haram bagi laki-laki dalam pihak kelurga

suami, sebagaimana suami haram bagi perempuan pihak keluarga

isteri.

3. Berlaku hak pusaka-mempusakai.

Apabila salah seorang di antara suami-isteri meninggal maka salah

satu berhak mewarisi, walaupun keduanya belum bercampur.

4. Perlakuan dan pergaulan yang terbaik.

Menjadi kewajiban suami-isteri untuk saling berlaku dan bergaul

dengan baik, sehingga suasananya menjadi tentram, rukun dan

penuh dengan kedamaian.

d. Kewajiban isteri

1. Hormat dan patuh kepada suami dalam batas-batas yang ditentukan

oleh norma agama dan susila.

2. Mengatur dan mengurus rumah tangga, menjaga keselamatan dan

mewujudkan kesejahteraan keluarga.

(34)

4. Memelihara dan menjaga kehormatan serta melindungi harta benda

keluarga.

5. Menerima dan menghormati pemberian suami serta mencukupkan

nafkah yang diberikannya dengan baik, hemat dan bijaksana.

e. Kewajiban suami

1. Memelihara, memimpin dan membimbing keluarga lahir batin,

serta menjaga dan bertanggung jawab atas keselamatan dan

kesejahteraannya.

2. Memberi nafkah sesuai dengan kemampuan serta mengusahakan

keperluan keluarga terutama sandang, pangan dan papan.

3. Membantu tugas-tugas isteri terutama dalam hal memelihara dan

mendidik anak dengan penuh rasa tanggung jawab.

4. Memberi kebebasan berpikir dan bertindak kepada isteri sesuai

dengan ajaran agama, dan tidak mempersulit apalagi membuat

isteri menderita lahir batin yang dapat mendorong isteri berbuat

salah.

5. Dapat mengatasi keadaan, mencari penyelesaian dengan bijaksana

dan tidak berbuat sewenang-wenang.

f. Kewajiban Bersama suami-isteri

1. Saling menghormati orang tua dan keluarga kedua belah pihak.

(35)

23

Masing-masing harus dapat menyesuaikan diri, seia sekata,

percaya-mempercayai serta selalu bermusyawarah untuk

kepentingan bersama.

3. Hormat-menghormati, sopan-santun, penuh pengertian serta

bergaul dengan baik.

4. Matang dalam berbuat dan berpikir serta tidak bersikap emosional

dalam persoalan yang dihadapi.

5. Memelihara kepercayaan dan tidak saling membuka rahasia

pribadi.

6. Sabar dan rela atas kekurangan-kekurangan dan

kelemahan-kelemahan masing-masing.

D. Hak dan Kewajiban Suami Istri dalam UU. NO. 1 TAHUN 1974 Tentang

Perkawinan dan dalam KHI (Kompilasi Hukum Islam)

1. Kewajiban-kewajiban suami

a. UU. No. 1 Tahun 1974

Pasal 34 ayat (1).

Suami wajib melindungi istrinya dan memberi segala sesuatu

keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya.

b. Kompilasi Hukum Islam

Pasal 80.

(1.)Suami adalah pembimbing terhadap istri dan rumah tangganya,

akan tetapi mengenai hal-hal urusan rumah tangga yang

(36)

(2.)Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala

sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan

kemampuannya.

(3.)Suami wajib memberikan pendidikkan agama kepada istrinya

dan memberi kesempatan belajar pengetahuan yang berguna

dan bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa.

(4.)Sesuai dengan penghasilannya, suami menanggung :

a. Nafkah, kiswah dan tempat kediaman bagi istri;

b. Biaya rumah tangga, biaya perawatan dan biaya pengobatan

bagi istri dan anak;

c. Biaya pendidikkan bagi anak.

(5.)Kewajiban suami terhadap istrinya tersebut pada ayat (4) huruf

a dan b diatas mulai berlaku sesudah ada tamkin sempurna dari

istrinya.

(6.)Istri dapat membebaskan suaminya dari kewajiban terhadap

dirinya sebagaimana tersebut pada ayat (4) huruf a dan b.

(7.)Kewajiban suami sebagaimana yang dimaksud ayat (5) gugur

apabila istri nusyuz.

Pasal 82.

(1.)Suami yang mempunyai istri lebih dari seorang berkewajiban

memberi tempat tinggal dan biaya hidup kepada

(37)

25

keluarga yang ditanggung masing-masing istri, kecuali jika ada

perjanjian perkawinan.

(2.)Dalam hal para istri rela dan ikhlas, suami dapat menempatkan

istrinya dalam satu tempat kediaman.

2. Kewajiban-Kewajiban istri

a. UU. No. 1 Tahun 1974.

Pasal 34 ayat (2).

Istri wajib mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknya.

b. Kompilasi Hukum Islam.

Pasal 83.

(1.)Kewajiban utama seorang istri ialah berbakti lahir dan batin

kepada suami didalam batas-batas yang dibenarkan oleh hukum

Islam.

(2.)Istri menyelenggarakan dan mengatur keperluan rumah tangga

sehari-hari dengan sebaik-baiknya.

Pasal 84.

(1.) Istri dapat dianggap nusyuz jika ia tidak mau melaksanakan

kewajiban-kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83

ayat (1) kecuali dengan alasan yang sah.

(2.)Selama istri dalam nusyuz, kewajiban suami terhadap istrinya

tersebut pada pasal 80 ayat (4) huruf a dan b tidak berlaku

(38)

(3.)Kewajiban suami tersebut pada ayat (2) diatas berlaku kembali

sesudah istri tidak nusyuz.

(4.)Ketentuan ada atau tidak adanya nusyuz dari istri harus

didasarkan atas bukti yang sah.

3. Kewajiban dan hak suami istri

a. UU. No. 1 Tahun 1974.

Pasal 30.

Suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan

rumah tangga yang menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat.

Pasal 31.

(1.)Hak dan kedudukkan istri adalah seimbang dengan hak dan

kedudukkan suami dalam kehidupan rumah tangga dan

pergaulan hidup bersama dalam masyarakat.

(2.)Masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan

hukum.

(3.)Suami adalah kepala keluarga dan istri adalah ibu rumah

tangga.

Pasal 32.

(1.)Suami istri mempunyai tempat kediaman yang tetap.

(2.)Rumah tempat kediaman yang dimaksud dalam ayat (1) pasal

ini ditentukan oleh suami istri bersama.

(39)

27

Suami istri wajib saling cinta mencintai hormat menghormati, setia

dan memberi bantuan lahir batin yang satu kepada yang lainnya.

b. Kompilasi Hukum Islam

Pasal 77.

(1.)Suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan

rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah yang

menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat.

(2.)Suami istri wajib saling cinta mencintai, hormat menghormati,

setia dan memberi bantuan lahir batin yang satu kepada yang

lain.

(3.)Suami istri memikul kewajiban untuk mengasuh dan

memelihara anak-anak mereka, baik mengenai pertumbuhan

jasmani, rohani maupun kecerdasannya dan pendidikkan

agamanya.

(4.)Suami istri wajib memelihara kehormatannya.

(5.)Jika suami atau istri melalaikan kewajibannya, masing-masing

dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama.

Pasal 78.

(1.)Suami istri harus mempunyai tempat tinggal yang tetap.

(2.)Rumah kediaman yang dimaksud ayat (1), ditentukan oleh

suami istri bersama.

(40)

(1.)Suami adalah kepala keluarga dan istri adalah ibu rumah

tangga.

(2.)Hak dan kedudukkan istri adalah seimbang dengan hak dan

kedudukkan suami dalam kehidupan rumah tangga dan

pergaulan hidup bersama dalam masyarakat.

(3.)Masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan

hukum.

(41)

29 BAB III

PROFIL JAMA'AH TABLIGH

A. Sejarah Singkat Pendiri Jama'ah Tabligh

Pendiri Jama'ah Tabligh (JT) adalah Muhammad Ilyas al-Kandahlawy

lahir pada tahun 1303 H (1886) di desa Kandahlah dikawasan Muzhafar

Nagar, Utar Pradesh, India. Ayahnya bernama Syaikh Ismail dan ibunya

bernama Shafiyah al-Hafidzah. Keluarga Maulana Muhammad Ilyas

terkenal sebagai gudang ilmu agama dan memiliki sifat wara'. Saudaranya

antara lain Maulana Muhammad yang tertua, dan Maulana Muhammad

Yahya. Sementara Maulana Muhammad Ilyas adalah anak ketiga dari tiga

bersaudara29.

Maulana Muhammad Ilyas pertama kali belajar agama pada kakeknya

Syeikh Muhammad Yahya, beliau adalah seorang guru agama pada

madrasah di kota kelahirannya. Kakeknya ini adalah seorang penganut

madzhab Hanafi dan teman dari seorang 'ulama, sekaligus penulis Islam

terkenal, Syeikh Abul Hasan Al-Hasani An-Nadwi yang menjabat sebagai

seorang direktur pada lembaga Dar Al-'Ulum di Lucknow, India.

Sedangkan ayahnya, yaitu Syeikh Muhammad Isma'il adalah seorang

ruhaniawan besar yang suka menjalani hidup dengan ber 'uzlah,

berkhalwat dan beribadah, membaca al-Qur'an dan melayani para musafir

29

(42)

yang datang dan pergi serta mengajarkan al-Qur'an dan ilmu-ilmu

agama30.

Syaikh Muhammad Isma'il selalu mengamalkan doa ma'tsur dari Hadits untuk waktu dan keadaan yang berlainan. Perangainya menyukai

kedamaian dan keselamatan serta bergaul dengan manusia dengan penuh

kasih sayang dan kelembutan, tidak seorang pun meragukan dirinya.

Bahkan beliau menjadi tumpuan kepercayaan para ulama sehingga mampu

membimbing berbagai tingkat kaum Muslimin yang terhalang oleh

perselisihan diantara mereka.

Ibunda Muhammad Ilyas, yaitu Shafiyah al-Hafidzah adalah seorang

hafidzah al-Qur'an. Istri kedua dari syaikh Muhammad Isma'il ini selalu

mengkhatamkan al-Qur'an, bahkan sambil bekerja pun mulutnya

senantiasa bergerak membaca ayat-ayat al-Qur'an yang sedang ia hafal.

Maulana Muhammad Ilyas sendiri mulai mengenal pendidikan pada

sekolah Ibtidaiyah (dasar). Sejak saat itulah ia mulai menghafal al-Qur'an,

hal ini disebabkan pula oleh tradisi yang ada dalam keluarga Syaikh

Muhammad Isma'il yang kebanyakkan dari mereka adalah hafidz

al-Qur'an. Sehingga diriwayatkan bahwa dalam shalat berjama'ah separuh

shaf bagian depan semuanya adalah hafidz terkecuali muazzin saja. Sejak

kecil telah tampak ruh dan semangat agama dalam dirinya, dia memiliki

kerisauan terhadap umat, agama dan dakwah. Sehingga 'Allamah

30

(43)

31

Syaikh Mahmud Hasan yang dikenal sebagai Syaikhul Hind (guru besar

ilmu hadits pada madrasah Darul Ulum) mengatakan, " Sesungguhnya

apabila aku melihat Maulana Ilyas aku teringat akan kisah perjuangan para

sahabat"31.

Pada suatu ketika saudara tengahnya, yakni Maulana Muhammad

Yahya pergi belajar kepada seorang alim besar dan pembaharu yang

ternama yakni Syaikh Rasyid Ahmad al-Gangohi, di desa Gangoh,

kawasan Saranpur, Utar Pradesh, India. Maulana Muhammad Yahya

belajar membersihkan diri dan menyerap ilmu dengan bimbingan Syaikh

Rasyid. Hal ini pula yang membuat Maulana Muhammad Ilyas tertarik

untuk belajar pada syaikh Rasyid sebagaimana kakaknya.

Maulana Muhammad Ilyas memutuskan untuk belajar agama

menyertai kakaknya di Gangoh. Akan tetapi selama tinggal dan belajar

disana, Maulana Ilyas selalu menderita sakit. Sakit ini ditanggungnya

selama bertahun-tahun lamanya, tabib Ustadz Mahmud Ahmad putra dari

Syaikh Gangohi sendiri telah memberikan pengobatan dan perawatan

kepadanya32.

Sakit yang dideritanya menyebabkan kegiatan belajarnya menurun,

akan tetapi dia tidak berputus asa. Banyak yang menyarankan agar ia

berhenti belajar untuk sementara waktu, ia menjawab,"Apa gunanya aku

31

Khusniati Rofi'ah, Dakwah Jama'ah Tabligh dan eksistensinya dimata masyarakat, h. 45

32

Khusniati Rofi'ah, Dakwah Jama'ah Tabligh dan eksistensinya dimata masyarakat, h. 46

(44)

hidup jika dalam kebodohan". Dengan izin Allah SWT., Maulana pun

menyelesaikan pelajaran Hadits Syarif, Jami'at Tirmidzi dan Shahih

Bukhari. Kemudian dalam tempo waktu empat bulan dia sudah

menyelesaikan Kutubussittah. Tubuhnya yang kurus dan sering terjangkit

penyakit semakin membuatnya bersemangat dalam menuntut ilmu, begitu

pula kerisauannya yang bertambah besar terhadap keadaan umat yang jauh

dari syariat Islam.

Ketika Syaikh Gangohi wafat pada tahun 1323H, Muhammad Ilyas

baru berumur dua puluh lima tahun dan merasa sangat kehilangan guru

yang sangat dihormati. Hal ini membuatnya semakin taat beribadah pada

Allah. Dia menjadi pendiam dan hanya mengerjakan ibadah, dzikir, dan

banyak mengerjakan amal-amal infiradi. Maulana Muhammad Zakaria

menuliskan : " Pada waktu aku mengaji sebuah kitab kepada Muhammad

Ilyas, aku datang padanya dengan kitab pelajaranku dan aku menunjukkan

tempat pelajaran dengan jari kepadanya. Tetapi apabila aku salah dalam

membaca, maka dia akan memberi isyarat kepadaku dengan jarinya agar

menutup kitab dan menghentikan pelajaran. Hal ini ia maksudkan agar aku

mempelajari kembali kitab tersebut, kemudian datang lagi pada hari

berikutnya"33.

Maulana Muhammad Ilyas akhirnya berkenalan dengan Syaikh Khalid

Ahmad ash-Sharanpuri penulis kitab Bajhul Majhud fi Hilli Alfazhi Abi

33

Khusniati Rofi'ah, Dakwah Jama'ah Tabligh dan eksistensinya dimata masyarakat, h. 47

(45)

33

Dawud dan akhirnya Muhammad Ilyas berguru kepadanya. Semakin

bertambah ilmu yang dimiliki, membuat Muhammad Ilyas semakin

Tawadhu'. Ketawadhu'annya pada usia muda menyebabkan Muhammad

Ilyas dihormati dikalangan para 'ulama dan masyaikh. Syaikh Yahya,

kakak kandung Muhammad Ilyas sendiri tidak pernah memperlakukannya

sebagai anak kecil, bahkan Syaikh Yahya sangat menaruh hormat

kepadanya.

Pada suatu ketika di Kandahla ada sebuah pertemuan yang dihadiri

oleh ulama-ulama besar, di antaranya terdapat nama Syaikh Abdurrahman

ar-Raipuri, Syaikh Khalil Ahmad ash-Sharanpuri dan Syaikh Asyraf Ali

at-Tanwi. Waktu itu tiba waktu Ashar, mereka meminta Maulana Ilyas

untuk mengimami shalat tersebut. Ustadz Badrul Hasan salah seorang

diantara keluarga besar tersebut berkata, "alangkah panjang dan beratnya

kereta api ini, namun alangkah ringan lokomotifnya", kemudian salah

seorang diantara hadirin menjawab, "tetapi lokomotif yang kuat itu justru

karena ringannya".

Wafatnya Maulana Muhammad Yahya, pada 9 Agustus 1925, yaitu

kakak Muhammad Ilyas, beliau mengalami goncangan yang luar biasa.

Dua tahun setelah itu, menyusul kakaknya yang tertua, Maulana

Muhammad. Maulana Muhammad meninggal di masjid Nawab Wali,

Qassab Pura dan dimakamkan di Nizamuddin. Kematian Maulana

Muhammad ini mendapat perhatian dari masyarakat sekitarnya. Seribu

(46)

Maulana Ilyas untuk menggantikan kakaknya di Nizamuddin padahal pada

waktu itu dia sedang menjadi salah seorang pengajar di Madrasah

Mazhohirul 'Ulum. Masyarakat bahkan menjanjikan dana bulanan kepada

madrasah dengan syarat agar dapat diamalkan seumur hidupnya34.

Pada akhirnya, setelah mendapat ijin dari Maulana Khalil Ahmad

dengan pertimbangan jika tinggalnya di Nizamuddin membawa manfaat

maka Maulana Ilyas akan diberi kesempatan untuk berhenti mengajar. Ia

pun akhirnya pergi ke Nizamuddin, ke madrasah warisan ayahnya yang

kosong akibat lama tidak dihuni. Dengan semangat mengajar yang tinggi

dia pun akhirnya membuka kembali madrasah tersebut.

Semangat yang tinggi untuk memajukan agama, Maulana Ilyas

kemudian mendirikan maktab di Mewat, tetapi kondisi geografis yang

agraris menyebabkan masyarakatnya lebih menyukai anak-anak mereka

pergi ke kebun atau ke sawah dari pada kemadrasah atau maktab untuk

belajar agama, membaca atau menulis. Dengan demikian Maulana Ilyas

dengan terpaksa meminta orang Mewat untuk menyiapkan anak-anak

mereka belajar dengan pembiayaan yang ditanggung oleh Maulana sendiri.

Besarnya pengorbanan Maulana untuk memajukan pendidikan agama bagi

masyaraka. Mewat tidak mendapatkan perhatian. Bahkan mereka enggan

menuntut ilmu, mereka lebih senang hidup dalam kondisi yang sudah

mereka jalani selama bertahun-tahun turun temurun.

34

(47)

35

Pada hari terakhir dalam sejarah hidupnya, Maulana mengirim utusan

kepada Syaikhul Hadits Maulana Zakariya, Maulana Abdul Qodir Raipuri,

dan Maulana Zafar Ahmad, bahwa ia akan mengamanahkan kepercayaan

sebagai Amir Jama'ah kepada sahabat-sahabatnya seperti Hafidz Maqhul

Hasan, Qozi Dawud, Mulvi Ihtisamul Hasan, Mulvi Muhammad Yusuf,

Mulvi In'amul Hasan dan Mulvi Sayyid Raza Hasan. Pada saat itu

terpilihlah Mulvi Muhammad Yusuf sebagai pengganti Maulana

Muhammad Ilyas dalam mempin usaha dakwah dan tabligh35.

Pada sekitar bulan Juli 1944 Maulana menderita penyakit yang cukup

akut. Dia hanya bisa berbaring ditempat tidur dengan ditemani para

pembantu dan muridnya. Akhirnya, pada tanggal 13 Juli 1944, Maulana

telah siap untuk menempuh perjalanannya yang terakhir. Ia bertanya

kepada salah seorang yang hadir, "Apakah besok hari Kamis?", yang

disekelilingnya menjawab, "Benar!". Kemudian ia berkata lagi,

"Periksalah pakaianku, apakah ada najisnya atau tidak?". Orang-orang

yang berada di sekelilingnya berkata bahwa pakaian yang dikenakannya

masih dalam keadaan suci. Lantas Muhammad Ilyas turun dari dipan

untuk berwudlu dan mengerjakan shalat Isya' dengan berjama'ah. Maulana

berpesan kepada orang-orang agar memperbanyak dzikir dan doa pada

malam itu: Dia berkata, "Yang ada disekelilingku ini pada hari ini

35

(48)

hendaklah menjadi orang-orang yang dapat membedakan antara perbuatan

setan dan perbuatan malaikat Allah"36.

Pada pukul 24.00 Maulana pingsan dan sangat gelisah, dokter segera

dipanggil dan obat pun segera diberikan, kata-kata Allahu Akbar terus

terdengar dari mulutnya. Ketika malam telah menjelang pagi, dia mencari

putranya yang bernama Maulana Muhammad Yusuf dan Maulana Ikromul

Hasan. Ketika dipertemukan dia berkata, "Kemarilah kalian, aku ingin

memeluk, tidak ada lagi waktu setelah ini, sesungguhnya aku akan pergi".

Akhirnya Maulana menghembuskan nafas terakhirnya, dia pulang ke

rahmatullah sebelum adzan Subuh.

Dia tidak banyak meninggalkan karya-karya tulisan tentang

kerisauannya akan keadaan umat. Buah pikirannya dituangkan dalam

lembar-lembar kertas surat yang dihimpun oleh Maulana Manzoor

Nu'mani dengan judul Aur Un Ki Deeni Dawat yang ditujukan kepada

para ulama dan seluruh umat Islam yang mengambil usaha dakwah dalam

Jama'ah Tabligh. Karyanya yang paling nyata adalah bahwa ia telah

meninggalkan ide-ide bagi umat Islam hari ini dan metode kerja dakwah

yang telah menyebar ke seluruh pelosok dunia. Jama'ah Tabligh adalah

sebuah nama yang diberikan oleh masyarakat, bukan nama yang diberikan

oleh pendirinya Syekh Maulana Muhammad Ilyas. Karena setiap hari

berjama'ah dan bertabligh maka muncullah istilah ini. Sebagaimana setiap

36

(49)

37

hari menjual ikan maka si penjualnya dipanggil 'tukang ikan' dan

sebagainya37. Akan tetapi, yang dikatakan jama'ah tabligh adalah orang

yang terlibat dalam kerja secara tertib, yang istiqomah keluar dijalan Allah

SWT minimal 40 hari setiap tahun38.

B. Tujuan Berdirinya Jama'ah Tabligh

Syekh Maulana Muhammad Ilyas melihat bahwa kebodohan,

kegelapan dan sekularisme yang melanda negerinya sangat berpengaruh

terhadap madrasah-madrasah. Para murid tidak mampu menjunjung

nilai-nilai agama sebagaimana mestinya, sehingga gelombang kebodohan

semakin melanda bagaikan gelombang lautan yang melaju deras sampai

ratusan mil membawa mereka hanyut. Namun tetap saja masyarakat masih

belum memiliki spirit keagamaan. Interest mereka tidak terlalu besar untuk

mengirimkan anak-anak mereka belajar ilmu di madrasah. Faktor utama

dari semua ini adalah ketidaktahuan mereka terhadap pentingnya ilmu

agama, mereka pun kurang menghargai para alumnus madrasah yang telah

memberikan penerangan dan dakwah. Orang Mewat tidak bersedia

mendengarkan apalagi mengikutinya. Kesimpulannya bahwa madrasah –

madrasah yang ada itu tidak mampu mengubah warna dan gaya hidup

masyarakat. Kondisi Mewat yang sangat miskin pengetahuan itu semakin

menambah kerisauan Maulana Ilyas akan keadaan umat Islam terutama

masyarakat Mewat. Kunjungan-kunjungan diadakan bahkan

37

Husen Usman Kambayang, Usaha da'wah & tabligh Terapi rohani paling menakjubkan, (Bandung: Pustaka Ramadhan, 2009), h. 4

38

(50)

madrasah banyak didirikan, tetapi hal itu belum bisa menjadi solusi terbaik

untuk mengatasi problem yang dihadapi masyarakat Mewat. Kondisi

buruk yang terus berlarut ini akhirnya menjadi inspirasi bagi Muhammad

Ilyas untuk mengirimkan delegasi Jama'ah Dakwah ke Mewat. Pada tahun

1351 H/1931 M. Maulana menunaikan haji yang ketiga ke tanah suci

Makkah. Kesempatan tersebut ia pergunakan untuk menemui tokoh-tokoh

India yang ada di Arab guna mempromosikan usaha dakwah, dengan

harapan agar usaha ini dapat terus dijalankan di tanah Arab39.

Keinginannya yang besar menyebabkan ia berkesempatan menemui

Sultan Ibnu Sa'ud yang menjadi raja tanah Arab untuk mempromosikan

usaha dakwah yang dibawanya. Selama berada di Makkah, Jama'ah ini

melakukan banyak aktifitas pergerakan secara intensif, setiap hari sejak

pagi sampai petang, usaha dakwah terus dilakukan untuk mengajak

masyarakat mentaati perintah Allah dan menegakkan dakwah.

Setelah pulang dari haji tersebut, Maulana mengadakan dua kunjungan

ke Mewat, masing-masing disertai jama'ah dengan jumlah yang cukup

besar, minimal berjumlah seratus orang. Bahkan di beberapa tempat,

jumlah itu justru semakin membengkak. Kunjungan pertama dilakukan

selama satu bulan dan kunjungan kedua dilakukan hanya beberapa hari

saja. Dalam kunjungan tersebut dia selalu membentuk jama'ah-jama'ah

yang dikirim ke kampung-kampung untuk berjaulah (berkeliling dari

rumah ke rumah) guna menyampaikan pentingnya agama.

39

(51)

39

Dalam hati Muhammad memiliki konfidensi penuh bahwa kebodohan,

kelalaian serta hilangnya semangat agama dan jiwa keislaman itulah yang

menjadi sumber kerusakan. Adapun satu-satunya jalan untuk memberantas

virus tersebut adalah dengan membujuk masyarakat Mewat agar keluar

dari kampung halamannya guna memperbaiki diri dan memperdalam

agama, serta melatih disiplin dalam hal positif sehingga tumbuh kesadaran

untuk mencintai agama lebih daripada dunia dan mementingkan amal dari

mal (harta).

Dari Mewat inilah secara berangsur-angsur usaha tabligh meluas ke

Delhi, United Province, Punjab, Khurja, Aligarh, Agra, Bulandshar,

Meerut, Panipat, Sonepat, Karnal, Rohtak dan daerah lainnya. Begitu juga

di Bandar-bandar pelabuhan banyak jama'ah yang tinggal dan terus

bergerak menuju tempat-tempat yang ditargetkan seperti halnya daerah

Asia Barat. Setelah Jama'ah ini terbentuk, mereka tak lelah memperluas

sayap dakwah dengan membentuk beberapa jaringan disejumlah negara.

Jama'ah ini memiliki misi ganda yaitu ishlah diri (peningkatan kualitas individu) dan mendakwahkan kebesaran Allah SWT. Kepada seluruh umat

manusia.

Perkembangan Jama'ah cukup fantastis. Setiap hari banyak jama'ah

yang dikirim ke daerah-daerah yang menjadi target operasi dakwah. Selain

itu, masing-masing anggota jama'ah ada yang kemudian membentuk

rombongan baru. Dengan usaha tersebut, Jama'ah Tabligh ingin

(52)

lainnya. Gerakkan Jama'ah tidak hanya tersebar di India tetapi sedikit demi

sedikit telah menyebar ke berbagai negara.

Muhammad Ilyas tanpa henti terus memberi motivasi dan arahan untuk

menggerakkan mesin dakwah ini agar sampai ke seluruh alam. Ketika

usianya sudah menjelang senja, Maulana terus bersemangat hingga

tubuhnya yang kurus tidak mampu lagi untuk digerakkan ketika ia

menderita sakit.

Syekh Maulana Muhammad Ilyas pernah mengatakan bahwa " Asas

Tabligh kita adalah kasih sayang. Oleh sebab itu, kerja ini harus dilakukan

dengan lembut dan kasih sayang. Jika para da'i bertabligh diiringi dengan

kerisauan atas kemunduran kaum muslimin dalam agama, sungguh kita

akan berhasil dalam menunaikan kewajiban ini40.

C. Aktivitas Dakwah Jama'ah Tabligh

Markas internasional pusat tabligh adalah Nizamuddin, India.

Kemudian setiap negara juga mempunyai markas pusat nasional, dari

markas pusat dibagi markas-markas regional/daerah yang dipimpin oleh

seorang Shura. Kemudian dibagi lagi menjadi ratusan markas kecil yang

disebut Halaqah, Halaqah adalah kumpulan Mahalla (Masjid-masjid yang

tidak jauh dari Halaqah, dan masjid tersebut aktif di setiap

kegiatan-kegiatan yang berada di halaqah)41. Kegiatan di Halaqah adalah

40

Abdurrahman Ahmad Assirbuny, Malfuzhat tiga hadratji, (Depok: Pustaka Nabawi, 2012), h. 23.

41

(53)

41

musyawarah mingguan, dan sebulan sekali mereka khuruj selama tiga hari.

Khuruj adalah meluangkan waktu untuk secara total berdakwah, yang biasanya dari masjid ke masjid dan dipimpin oleh seorang Amir. Orang

yang khuruj tidak boleh meninggalkan masjid tanpa seizin Amir khuruj.

Tapi para karyawan diperbolehkan tetap bekerja, dan langsung mengikuti

kegiatan sepulang kerja. Orang yang telah khuruj kemudian disebut

Karkun, Karkun adalah pekerja, dalam konteks ini yang dimaksud dengan

pekerja adalah mereka yang bekerja mendakwahkan agama dan tanpa

adanya suatu baiat42.

Metode dakwah yang dilakukan oleh Jama'ah Tabligh ini dengan cara

khuruj fii sabilillah berlandaskan ketika mimpi pendiri Jama'ah Tabligh itu sendiri, yaitu Syekh Maulana Ilyas, beliau bermimpi mengenai tafsir Q.S.

Ali Imron ayat 110 yang berbunyi:

مۿݏك

Artinya: "Kamu adalah umat yang terbaik yang ditampilkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh berbuat yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik."

42

(54)

Dalam ayat diatas terdapat kalimat ukhrijat, yang kemudian ditafsirkan dengan makna keluar untuk mengadakan perjalanan, dan keluar itulah

yang dimaksud dengan dakwah43.

Sewaktu khuruj, kegiatan diisi dengan ta'lim (membaca hadits atau

kisah sahabat, biasanya dari kitab Fadhail Amal karya Maulana Zakaria),

jaulah (mengunjungi rumah-rumah disekitar masjid tempat khuruj dengan

tujuan mengajak kembali pada Islam yang kaffah), bayan, mudzakarah

(menghafal) 6 sifat sahabat, karkuzari (memberi laporan harian pada

amir), dan musyawarah. Selama khuruj, mereka tidur di masjid44.

Sebelum melakukan khuruj, dilakukan pembinaan keluarga, terutama

ibu-ibu dan wanita diadakan ta'lim ibu-ibu yang namanya masturat,

artinya: tertutup atau terhijab. Dalam pembinaan itu, wanita atau ibu-ibu

dilatih mandiri. Sehingga ketika ditinggal khuruj, mereka sudah bisa

berperan sebagai kepala rumah tangga di rumah.

Aktivitas Markas Regional adalah sama, khuruj, namun biasanya

hanya menangani khuruj dalam jangka waktu 40 hari atau 4 bulan saja.

Selain itu mereka juga mengadakan malam Ijtima' (berkumpul), dimana

dalam Ijtima' akan diisi dengan Bayan (ceramah agama) oleh para ulama

atau tamu dari luar negri yang sedang khuruj disana, dan juga ta'lim wa

ta'alum.

43

Khusniati Rofiah, Dakwah Jama'ah Tabligh dan eksistensinya dimata masyarakat, h. 82

44

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...