VOLATILITAS HARGA PANGAN UTAMA INDONESIA DAN
FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA
SRI RETNO WAHYU NUGRAHENI
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Volatilitas Harga Pangan Utama Indonesia dan Faktor yang Mempengaruhinya adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Agustus 2014
RINGKASAN
SRI RETNO WAHYU NUGRAHENI. Volatilitas Harga Pangan Utama Indonesia dan Faktor yang Mempengaruhinya. Dibimbing oleh SRI HARTOYO dan SAHARA.
Komoditas pangan utama seperti beras, jagung, kedelai, dan gula pasir merupakan kebutuhan pokok yang pemenuhannya harus selalu dijaga oleh pemerintah. Penyediaan pangan yang cukup dengan harga yang murah dan stabil merupakan kewajiban pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia, dimana hal ini tercantum dalam Undang-Undang Pangan Nomor 8 Tahun 2012. Namun, terjadinya peningkatan dan berfluktuasinya harga pangan pokok yang terjadi di Indonesia selama tiga tahun terakhir menunjukkan ketersediaan pangan domestik masih sangat jauh dari harapan dan kebutuhan domestiknya. Penelitian ini akan membahas mengenai empat komoditas pangan utama Indonesia, yaitu beras, jagung, kedelai, dan gula pasir, yang akan dilihat volatilitasnya, serta akan dicari faktor yang mempengaruhi perubahan harga komoditas pangan utama tersebut.
Perhitungan share impor menunjukkan lebih dari 50 persen impor tanaman pangan di Indonesia adalah untuk keempat komoditas pangan utama Indonesia ini selama periode amatan. Perhitungan coefficient of variance dari keempat komoditas menggambarkan bahwa harga gula pasir merupakan yang paling tinggi nilai CV-nya, yaitu sebesar 11.45 persen. Dengan menggunakan metode ARCH-GARCH, hasil analisis menunjukkan bahwa komoditas pangan pokok Indonesia harganya masih volatil selama periode amatan tahun 2002-2011. Hal ini menunjukkan bahwa harga yang murah dan stabil belum tercapai.
Metode VECM digunakan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi perubahan harga pangan Indonesia yang dapat dilihat dari sisi permintaan maupun penawarannya. Dari sisi permintaan, harga dunia, pendapatan per kapita, dan nilai tukar menjadi faktor yang signifikan mempengaruhi perubahan harga pada komoditas beras dan kedelai. Sedangkan untuk komoditas jagung, faktor yang mempengaruhi yaitu harga dunia dan nilai tukarnya. Pendapatan per kapita merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi perubahan harga gula pasir domestik. Dari sisi penawarannya, faktor yang mempengaruhi perubahan harga beras domestik yaitu harga dunia dan iklim, sama seperti pada komoditas gula pasir. Pada komoditas jagung, dan kedelai hanya satu faktor saja yang mempengaruhi dari sisi penawarannya, yaitu iklim yang digambarkan dengan fenomena el nino. Dampak guncangan variabel faktor terhadap perubahan harga berlangsung cukup lama dan baru mulai stabil pada bulan ke 40.
Hal ini tentu harus mendapatkan perhatian pemerintah untuk dapat melakukan stabilisasi harga pangan utama Indonesia untuk mencapai swasembada. Mengontrol variabel faktor yang sebagian besar merupakan variabel uncontrol menjadi salah satu tantangan bagi pemerintah dalam melakukan kebijakan stabilisasi harga. Namun, terdapat satu variabel yang mampu dikontrol pemerintah yaitu nilai tukar rupiah. Dimana, pemerintah harus mampu untuk menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil untuk dapat menjaga stabilitas harga komoditas pangan utama Indonesia.
SUMMARY
SRI RETNO WAHYU NUGRAHENI. The Staple Food Prices Volatility in Indonesia and Its Influencing Factors. Supervised by SRI HARTOYO and SAHARA.
Major food commodities such as rice, corn, soybeans, and sugar are the basic needs which fulfillment must be maintained by the government. The government must provide sufficient food at steady and affordable prices in order to improve the welfare of the whole societies in Indonesia, as stated under the 2012 Act of Food No. 8. However, the increase and the fluctuation of staple food prices in Indonesia over the last three years have shown that the domestic food supply is still very far below its expected level and domestic’s demand. This research analyzed four Indonesian primary food commodities-rice, corn, soybean, and sugar-in terms of volatility and the factors that influence the changes in the prices of these major food commodities.
During the observed periods, the import share calculation showed that more than 50 percent of Indonesian imported food crop came from these four major food commodities. The calculation of the coefficient of variance on these four commodities illustrated that the price of sugar had the highest CV value, amounting to 11.45 percent. The analysis using the ARCH-GARCH method showed that Indonesian staple food commodity prices were still volatile during the period of observation (years 2002-2011). The result indicated that the affordable and stable prices had not yet been reached.
VECM method was used to determine the factors that affect food prices changes in Indonesia which can be seen from both sides demand and supply. On the demand side, the world price, per capita income, and the exchange rate were the significant factors influencing the changes in rice and soybean prices. As for corn price, it was influenced by the world price and the exchange rate. Per capita income was the only factor influencing the changes in domestic sugar prices. On the supply side, the factors that influenced the domestic rice and sugar prices changes were the world price and the climate. As for corn and soybeans, the only factor that influenced their prices changed was the climate which was depicted by the El Niño phenomenon. The shock impact of these factor variables to the prices changes lasted for quite a long time and began to stabilize in the 40th month.
This shock impact should certainly get the government attention to implement staple food prices stabilization in order to achieve domestic self-sufficiency. Controlling those factor variables which largely comprised of uncontrolled variables is one of the challenges for the government to implement the price stabilization policy. However, there is one variable that can be controlled government which is the exchange rate. By maintaining the exchange rate stabilized, the government should be able to maintain the stability of the staple food prices in Indonesia.
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2014
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
pada
Program Studi Ilmu Ekonomi
VOLATILITAS HARGA PANGAN UTAMA INDONESIA DAN
FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 2014
Judul Tesis : Volatilitas Harga Pangan Utama Indonesia dan Faktor yang Mempengaruhinya
Nama : Sri Retno Wahyu Nugraheni NIM : H151110141
Disetujui oleh Komisi Pembimbing
Dr. Ir. Sri Hartoyo, MS Ketua
Sahara, SP, M.Si, Ph.D Anggota
Diketahui oleh
Ketua Program Studi Ilmu Ekonomi
Dr. Ir. Nunung Nuryartono, M.Si
Dekan Sekolah Pascasarjana
Dr Ir Dahrul Syah, MSc. Agr
Tanggal Ujian: 23 Juni 2014
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia dan nikmat yang telah diberikan sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak tahun 2013 dan akhirnya dapat diselesaikan penulis dengan penuh perjuangan. Tema yang diambil berdasarkan adanya wacana pemerintah dalam rangka swasembada pangan Indonesia tahun 2014 untuk komoditas beras, jagung, kedelai, dan gula pasir, namun harga dari komoditas tersebut yang tidak stabil. Volatilitas Harga Pangan Indonesia dan Faktor yang Mempengaruhinya diambil sebagai judul oleh penulis.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr. Sri Hartoyo dan Sahara, Ph.D selaku pembimbing, serta Dr. Yeti Lis Purnamadewi dan Dr. Wiwiek Rindayati selaku penguji sidang. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada dosen, teman asisten dosen, dan pegawai di Departemen Ilmu Ekonomi, FEM IPB untuk dukungan, semangat, dan doa yang tidak pernah berhenti mengalir ditujukan kepada penulis sampai akhirnya tesis ini terselesaikan. Terima kasih yang sangat besar juga ditujukan untuk Dian V. Panjaitan, M.Si untuk bimbingan dan masukan yang sangat bermanfaat dari awal pembuatan hingga penyelesaian tesis ini. Terimakasih ditujukan untuk Dr. Tanti Novianti, Ibu Hartini, Kak Heni Hasanah, Mba Diyaniati, dan Muhammad Fazri atas dukungan serta semangat yang telah diberikan. Tidak lupa juga ucapan terimakasih penulis ucapkan kepada teman-teman seperjuangan Ilmu Ekonomi Reguler V. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh keluarga, Bapak Soderin Setyahadi, Mba Sri Aliyatu Syahifah, Mba Sri Aliyatu Syahidah, Mas Agus Triyono, Amalia Erlinandita P.H., dan keluarga lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu atas segala doa dan kasih sayangnya. Tesis ini penulis persembahkan sepenuhnya untuk almarhumah ibu dan almarhum bapak tersayang.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Agustus 2014
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL viii
DAFTAR GAMBAR viiix
DAFTAR LAMPIRAN x
1 PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 3
Tujuan Penelitian 6
Manfaat Penelitian 7
Ruang Lingkup Penelitian 7
2 TINJAUAN PUSTAKA 7
Pengertian Volatilitas dan Pentingnya Menjaga Stabilitas Harga 7 Keterkaitan antara Variabel Faktor dengan Volatilitas Harga Komoditas
Pangan di Indonesia 8
Penelitian Terdahulu 10
Kerangka Pemikiran 14
3 METODE 15
Jenis dan Sumber Data 15
Metode Analisis 17
4 HASIL DAN PEMBAHASAN 24
Perkembangan Produksi Domestik dan Impor Komoditas Pangan Utama
Indonesia 24
Share Impor Komoditas Pangan Utama Indonesia terhadap Total Impor
Pangan Indonesia 27
Coefficient of Variance Komoditas Pangan Utama Indonesia 27 Analisis Volatilitas Empat Komoditas Pangan Utama 28 Analisis Faktor yang Mempengaruhi Harga Pangan Utama Indonesia dan Pengaruh Guncangan Faktor tersebut pada Periode Mendatang 35
5 SIMPULAN DAN SARAN 51
Simpulan 51
Saran 52
DAFTAR PUSTAKA 53
LAMPIRAN 55
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Penelitian Terdahulu 10
Tabel 2 Penjelasan Variabel dalam Penelitian 16
Tabel 3 Perkembangan Produksi, Ekspor, Impor, dan Ketersediaan Beras di Indonesia Tahun 2001-2011 (Ton) 24 Tabel 4 Perkembangan Produksi, Ekspor, Impor, dan Ketersediaan
Jagung di Indonesia Tahun 2001-2011 (Ton) 25 Tabel 5 Perkembangan Produksi, Ekspor, Impor, dan Ketersediaan
Kedelai di Indonesia Tahun 2001-2011 (Ton) 25 Tabel 6 Perkembangan Produksi, Ekspor, Impor, dan Ketersediaan
Gula Pasir di Indonesia Tahun 2001-2011 (Ton) 26 Tabel 7 Share Impor Komoditas Pangan Utama Indonesia terhadap
Total Impor Tanaman Pangan Indonesia Tahun 2002-2011 27
Tabel 8 Hasil Uji Augmented Dickey Fuller 29
Tabel 9 Model ARIMA Terbaik 30
Tabel 10 Hasil Uji Efek ARCH terhadap Model Rataan Terbaik 31
Tabel 11 Pemilihan Model ARCH/GARCH Terbaik 31
Tabel 12 Hasil Uji Normalitas 32
Tabel 13 Rangkuman Uji Stasioneritas pada Level 36 Tabel 14 Rangkuman Uji Stasioneritas pada First Difference 36 Tabel 15 Hasil Kointegrasi untuk Model Komoditas Beras 37 Tabel 16 Hasil Kointegrasi untuk Model Komoditas Jagung 38 Tabel 17 Hasil Kointegrasi untuk Model Komoditas Kedelai 39 Tabel 18 Hasil Kointegrasi untuk Model Komoditas Gula Pasir 39 Tabel 19 Faktor yang Mempengaruhi Harga Beras Indonesia dari Sisi
Permintaan 40
Tabel 20 Faktor yang Mempengaruhi Harga Beras Indonesia dari Sisi
Penawaran 42
Tabel 21 Faktor yang Mempengaruhi Harga Jagung Indonesia dari Sisi
Permintaan 44
Tabel 22 Faktor yang Mempengaruhi Harga Jagung Indonesia dari Sisi
Penawaran 45
Tabel 23 Faktor yang Mempengaruhi Harga Kedelai Indonesia dari Sisi
Permintaan 46
Tabel 24 Faktor yang Mempengaruhi Harga Kedelai Indonesia dari Sisi
Penawaran 48
Tabel 25 Faktor yang Mempengaruhi Harga Gula Pasir Indonesia dari
Sisi Permintaan 49
Tabel 26 Faktor yang Mempengaruhi Harga Gula Pasir Indonesia dari
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Perkembangan Harga Komoditas Pangan di Indonesia
Tahun 2001-2011 4
Gambar 2 Perkembangan Harga Pangan Dunia Tahun 1980 - 2011 5 Gambar 3 Perkembangan Inflasi Indonesia Menurut Kelompok
Pengeluaran Tahun 2006-2013 6
Gambar 4 Kerangka Pemikiran 15
Gambar 5 Proses analisis VAR dan VECM 20
Gambar 6 Coefficient of Variance Komoditas Pangan Utama Indonesia
Tahun 2002-2011 28
Gambar 7 Volatilitas Harga Beras Indonesia Tahun 2002-2011 32 Gambar 8 Volatilitas Harga Jagung Indonesia Tahun 2002-2011 33 Gambar 9 Volatilitas Harga Kedelai Indonesia Tahun 2002-2011 33 Gambar 10 Volatilitas Harga Gula Pasir Indonesia Tahun 2002-2011 34 Gambar 11 Impulse Response Harga Beras terhadap Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi dari Sisi Permintaan 41
Gambar 12 Impulse Response Harga Beras terhadap Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi dari Sisi Penawaran 43
Gambar 13 Impulse Response Harga Jagung terhadap Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dari Sisi Permintaan 44 Gambar 14 Impulse Response Harga Jagung terhadap Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi dari Sisi Penawaran 45
Gambar 15 Impulse Response Harga Kedelai terhadap Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dari Sisi Permintaan 47 Gambar 16 Impulse Response Harga Kedelai terhadap Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi dari Sisi Penawaran 49
Gambar 17 Impulse Response Harga Gula Pasir terhadap Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dari Sisi Permintaan 50 Gambar 18 Impulse Response Harga Gula Pasir terhadap Faktor-Faktor
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Uji Stasioner untuk Model ARCH-GARCH 55 Lampiran 2 Uji Correlogram untuk Harga Komoditas Pangan Indonesia 57
Lampiran 3 Model ARIMA Terbaik 61
Lampiran 4 Uji Efek ARCH 63
Lampiran 5 Uji Normalitas Model ARIMA terbaik 64
Lampiran 6 Model ARCH-GARCH Terbaik 65
Lampiran 7 Uji Stasioneritas untuk Model VAR-VECM 70 Lampiran 8 Uji Lag Optimum dan Stabilitas Model VAR 76
Lampiran 9 Hasil Uji Kointegrasi 84
Lampiran 10 Model VECM Komoditas Pangan Indonesia 94
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan menyatakan bahwa pembangunan nasional merupakan pencerminan kehendak seluruh rakyat untuk terus menerus meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan secara adil merata dalam segala aspek kehidupan yang dilakukan secara terpadu, terarah, dan berkelanjutan dalam rangka mewujudkan suatu masyarakat yang adil dan makmur, baik material maupun spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama dan pemenuhannya merupakan bagian dari hak asasi setiap rakyat Indonesia. Pangan harus senantiasa tersedia secara cukup, aman, bermutu, bergizi, dan beragam dengan harga terjangkau oleh daya beli masyarakat. Selain itu, pemenuhannya tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat. Untuk mencapai semua itu, maka perlu diselenggarakan suatu sistem pangan yang memberikan perlindungan yang tepat bagi seluruh lapisan masyarakat, baik dari sisi konsumen maupun sisi produsen.
Peningkatan jumlah penduduk Indonesia yang tidak diimbangi dengan penyediaan pangan yang memadai menyebabkan ketahanan pangan terganggu. Sehingga, dalam beberapa tahun terakhir, terdapat tren peningkatan pemenuhan kebutuhan pangan Indonesia (LIPI 2011). Kejadian ini membuat harga pangan menjadi melonjak sangat tinggi dan volatil. Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan tujuan pembuatan UU Pangan Nomor 18 Tahun 2012 tersebut tentang pemenuhan kebutuhan pangan dalam kuantitas dan harga yang terjangkau. Dalam beberapa tahun terakhir saja, harga komoditas pangan terus mengalami peningkatan sehingga masyarakat semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, yaitu kebutuhan pangan. Misalnya saja, pada Juli 2012 lalu harga kedelai meningkat relatif tinggi jika dibandingkan saat kondisi krisis pangan tahun 2007-20081. Kejadian ini, tidak hanya merugikan konsumen, tetapi pengusaha produk olahan kedelai pun juga merasakan hal yang sama. Produsen produk olahan kedelai lebih memilih untuk tidak melakukan produksi daripada merugi karena konsumen yang tidak mau membeli produk olahan kedelai dengan harga yang tinggi.
Harga komoditas pangan yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dan cenderung volatil dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Faktor pertama yang dianggap mempengaruhi perubahannya yaitu harga pangan dunia. Misalnya pada saat terjadi peningkatan harga kedelai di Indonesia pada tahun 2012 lalu, pemerintah Indonesia melakukan inisiatif untuk melakukan impor karena supply domestik dianggap tidak mampu mencukupi kebutuhan domestiknya yang membuat harga melonjak sangat tinggi. Kebijakan yang telah dilakukan tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 133/PMK.011/2013 mengenai penurunan bea masuk impor dari 5 persen menjadi 0 persen ini dimaksudkan pemerintah agar dapat menurunkan harga kedelai domestik. Penurunan bea masuk impor ini tidak dilakukan selamanya, tetapi
1
2
dilakukan hingga pemenuhan kedelai domestik dirasa sudah mencukupi dan harga kembali normal. Merujuk pada kebijakan ini saja, pemerintah tidak menginginkan harga kedelai terlalu tinggi dengan memastikan supply domestik terjaga. Seperti yang kita ketahui, pemenuhan kebutuhan kedelai domestik masih sangat tergantung dari impor, maka harga dunia akan sangat menentukan besaran harga domestik yang akan dijual pada konsumen. Apabila ternyata harga kedelai dunia mengalami peningkatan, maka harga kedelai domestik juga akan mengalami peningkatan. Kejadian ini, tidak hanya pada komoditas kedelai saja, tetapi hal serupa juga terjadi pada komoditas pangan yang lain seperti beras, jagung, dan gula pasir.
Kedua, kondisi perekonomian suatu negara juga dianggap sebagai faktor yang menentukan harga pangan suatu negara. Ketika kondisi ekonomi tidak mendukung peningkatan produksi pangan nasional, misalnya saja terjadi ketidakstabilan harga pangan, persaingan yang tidak adil antar komoditas pangan, dan kebijakan yang berdampak negatif pada upaya peningkatan produksi pangan dalam negeri, maka pemenuhan pangan domestik akan terganggu yang berdampak pada peningkatan harga pangan domestik. Harga domestik yang stabil dan rendah merupakan harapan bagi masyarakat Indonesia, sehingga pemenuhan kebutuhan pangan sebagai kebutuhan mendasar tidak akan menghabiskan sebagian besar pendapatan, yang kemudian kelebihan bagian pendapatan ini dapat digunakan untuk pemenuhan kebutuhan yang lain dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia. Apabila hal ini terjadi, pada akhirnya kemiskinan akan menurun dan harapan pemerintah Indonesia untuk melakukan perbaikan penyediaan pangan domestik dapat tercapai dengan baik.
Suatu negara yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi, maka negara tersebut akan mampu untuk meminimalkan volatilitas harga pangan nasionalnya (Huh et al. 2012). Oleh karena itu, perlu untuk diketahui secara pasti, faktor apa sajakah yang mampu untuk menjaga harga pangan tetap stabil. Beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan harga pangan domestik berdasarkan penelitian terdahulu yang menjadi landasan penelitian ini diantaranya yaitu pendapatan per kapita, tingkat suku bunga, nilai tukar rupiah, perubahan iklim, dan tentunya harga pangan dunia.
Mengakomodasi fluktuasi harga pangan domestik menjadi sangat relevan untuk dilakukan, karena bagi masyarakat miskin dan menengah ke bawah, fluktuasi harga pangan di level domestik lebih relevan daripada pergerakan harga pangan global. Hal ini dikarenakan, harga yang sebenarnya mereka harus bayar adalah harga lokal. Pada kenyataannya, harga domestik sangat berfluktuasi sehingga penelitian ini penting untuk dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi fluktuasi harga dan diharapkan nantinya dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk menciptakan stabilitas harga pangan.
3 atau untuk menggambarkan faktor yang mempengaruhi secara langsung perubahan dari series harga tersebut, tetapi untuk menggambarkan faktor yang secara absolut mempengaruhi perubahan harga suatu komoditas (Balcombe et al. 2008).
Pada penelitian ini, dibahas mengenai empat komoditas pangan utama Indonesia2 yaitu komoditas beras, jagung, kedelai, dan gula pasir yang diharapkan pada tahun 2014 akan mencapai swasembada pangan, serta dianalisis apakah harganya masih volatil serta melihat faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkan perubahan harga komoditas pangan utama tersebut. Perkembangan harga pangan dunia yang semakin meningkat, sehingga pemerintah Indonesia perlu untuk semakin berhati-hati dalam menghadapi peningkatan harga yang mungkin mengarah pada volatilitas harga yang ditakutkan akan semakin sulit untuk dikontrol pada masa mendatang. Selain itu, akan dilihat juga dampak guncangan faktor terhadap volatilitas harga komoditas pangan tersebut dalam beberapa periode mendatang. Hal ini dapat dijadikan suatu landasan kuat bagi pemerintah Indonesia untuk mengakomodasi faktor-faktor tersebut agar tercipta stabilitas harga pangan domestik. Ketika hal ini terjadi, maka kedaulatan pangan, kemandirian pangan, dan ketahanan pangan dapat tercapai demi kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat Indonesia, baik dari sisi konsumen maupun produsen.
Perumusan Masalah
Suatu negara terbuka kecil seperti Indonesia, secara langsung terkoneksi dengan pasar internasional dalam kondisi tanpa adanya distorsi perdagangan, sehingga harga komoditas domestik Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga komoditas internasional. Apabila harga relatif domestik lebih tinggi dibandingkan dengan harga internasional, maka akan terjadi impor sampai dengan terjadi keseimbangan diantara harga domestik dan harga impor. Begitu pula dengan fenomena ekspor. Oleh karena itu, perbedaan harga domestik dan internasional direpresentasikan oleh biaya transportasi dengan asumsi market clearing conditions.
Namun dalam kenyataannya, transmisi yang terjadi dari harga internasional ke level domestik menunjukkan berbagai perubahan yang bervariasi. Harga komoditas internasional merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi harga komoditas di level domestik. Untuk negara-negara yang memiliki tingkat dependensi yang tinggi terhadap impor komoditas, maka volatilitas harga akan dipengaruhi oleh nilai tukar, kebijakan perdagangan, dan langkah-langkah kebijakan lainnya (ADB, 2008). Sementara itu, untuk negara-negara yang tidak bergantung pada impor, maka harga komoditas akan ditentukan oleh supply, demand, serta kebijakan subsidi dan insentif fiskal (World Bank, 2011). Namun, bagi Indonesia yang merupakan negara terbuka kecil, Indonesia masih sangat tergantung pada impor dalam pemenuhan kebutuhan pangan domestiknya, sehingga harga dunia akan mampu mempengaruhi perubahan harga di tingkat domestik.
2
Komoditas pangan utama Indonesia dalam penelitian ini merujuk pada komoditas beras, jagung, kedelai dan gula pasir. Selanjutnya apabila dalam penelitian ini akan digunakan kalimat
4
Selanjutnya, untuk melihat perkembangan harga komoditas pangan utama di Indonesia pada periode waktu tahun 2001–2011 dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah ini. Dalam gambar tersebut, dapat dilihat bahwa harga komoditas pangan di Indonesia memiliki tren yang terus meningkat dan bervariasi harganya untuk tiga komoditas, yaitu beras, kedelai, dan gula pasir. Untuk komoditas jagung, harganya tidak terlalu berfluktuasi, walaupun memiliki tren harga yang terus mengalami peningkatan juga. Selain itu, pergerakan keempat komoditas yang diteliti bergerak searah, hal ini tentu saja perlu untuk terus diperhatikan pemerintah karena keempat komoditas ini merupakan komoditas pangan utama yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia, apalagi produksi domestik sangat kurang sehingga masih sangat tergantung pada impor dalam pemenuhannya.
a
Sumber : Bulog, 2013
Gambar 1 Perkembangan Harga Komoditas Pangan di Indonesia Tahun 2001-2011
Setelah melihat perkembangan harga pangan domestik yang terjadi, seharusnya pemerintah lebih memperhatikan perkembangan harga pangan yang berfluktuasi dan cenderung meningkat belakangan ini. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang terbesar dalam kawasan ASEAN menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam pemenuhan kebutuhan pangan penduduknya. Oleh karena itu, kebijakan pemantapan ketahanan pangan selalu menjadi isu utama dalam pembangunan dan menjadi fokus dalam pembangunan pertanian, terutama untuk komoditas pangan. Hal ini merupakan isu yang telah lama dikemukakan oleh pemerintah Indonesia. Berbagai macam cara untuk mewujudkan ketahanan pangan domestik telah dilakukan, misalnya saja dengan melakukan impor komoditas yang dianggap memiliki supply domestik yang kurang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, melakukan kebijakan tariff maupun non tariff, dan lain sebagainya.
Trasmisi perubahan harga pangan dunia dirasa mampu mempengaruhi perubahan harga pangan domestik. Apabila harga pangan internasional
5 berfluktuasi maka akan berdampak pada fluktuasi harga pangan domestik. Gambar 2 menunjukkan perkembangan harga pangan dunia yang berfluktuasi dari tahun 2001-2011. Perkembangan harga pangan dunia juga berfluktuasi walaupun tidak memiliki tren yang meningkat seperti pada harga pangan Indonesia. Namun, pada saat terjadi krisis pangan 2007-2008, harga pangan dunia untuk beras, jagung, kedelai dan gula pasir sama-sama mengalami peningkatan harga. Peningkatan harga pangan dunia yang terjadi dengan transmisi yang ada akan mampu membuat harga pangan domestik juga meningkat.
a
Sumber : World Bank, 2012
Gambar 2 Perkembangan Harga Pangan Dunia Tahun 1980 - 2011
Stabilitas harga pangan yang menjadi harapan banyak negara termasuk Indonesia dapat dilihat juga dari stabilitas dan besaran tingkat inflasi sektoralnya. Pada Gambar 3 dijelaskan bahwa tingkat inflasi menurut kelompok pengeluaran untuk komoditas bahan makanan adalah yang paling berfluktuasi nilainya. Bahkan, ketika inflasi untuk kelompok pengeluaran lain memiliki tren yang menurun, dalam tiga tahun terakhir kelompok bahan makanan inflasinya terus mengalami peningkatan. Hal ini tentu saja membuat masyarakat harus mengeluarkan pendapatan yang lebih besar untuk pangan yang seharusnya dapat digunakan untuk pemenuhan kebutuhan yang lain.
Kebijakan pemerintah dalam rangka stabilisasi komoditas pangan dianggap sudah cukup komprehensif. Untuk melindungi produsen, kebijakan yang ditempuh adalah dengan penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP), tarif impor dan kebijakan buka tutup impor. Sedangkan untuk melindungi konsumen, kebijakan yang ditempuh antara lain adalah penetapan harga eceran tertinggi, operasi pasar beras, bantuan beras (subsidi) kepada penduduk miskin (raskin) dan lain sebagainya. Eksekusi program tersebut telah dilakukan oleh pemerintah melalui lembaga non departemen yakni Badan Urusan Logistik (BULOG)3.
3
Dikutip dari http://asidosimarmata.blogspot.com/ : Fenomena Faktor Penentu Harga Eceran Beras di Indonesia.
6
a
Sumber : BPS, 2013
Gambar 3 Perkembangan Inflasi Indonesia Menurut Kelompok Pengeluaran Tahun 2006-2013
Berdasarkan uraian tersebut, maka permasalahan yang akah dibahas dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Komoditas apa sajakah yang harganya volatil di Indonesia?
2. Diantara empat komoditas pangan utama Indonesia, faktor apa sajakah yang mempengaruhi perubahan harga pangan di Indonesia?
3. Bagaimanakah pengaruh adanya guncangan faktor yang mempengaruhi perubahan harga pangan pada periode mendatang?
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian yang dilakukan secara umum adalah untuk menganalisis mengenai volatilitas harga komoditas pangan di Indonesia. Secara khusus, tujuan penelitian yang dilakukan adalah :
1. Mengkaji mengenai volatilitas harga yang terjadi pada komoditas pangan utama Indonesia.
2. Menganalisis faktor apa yang mempengaruhi perubahan harga pangan utama Indonesia.
3. Menganalisis dampak guncangan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan harga pangan utama Indonesia pada periode mendatang.
-5.00 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
P
er
sen
Bahan Makanan
Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar Sandang
Kesehatan
7
Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui fluktuasi harga pangan domestik dalam rangka peningkatan ketahanan dan swasembada pangan di Indonesia agar tercipta stabilitas harga pangan.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi harga komoditas pangan domestik yang masih bergantung dari impor pada pemenuhan domestiknya (beras, jagung, kedelai, dan gula pasir) di Indonesia.
3. Untuk mengetahui seberapa lama pengaruh guncangan faktor – faktor yang mempengaruhi harga pangan, sehingga dapat dirumuskan kebijakan pangan yang tepat oleh pemerintah supaya tercipta stabilitas harga pangan dengan segera.
Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini menganalisis empat komoditas pangan utama Indonesia yang sebagian besar pemenuhan domestik masih sangat bergantung dari impor, yaitu beras, jagung, kedelai, dan gula pasir. Dari keempat komoditas pangan utama tersebut dicari komoditas manakah yang berfluktuasi harganya dengan menggunakan model ARCH/GARCH. Dengan menggunakan beberapa variabel seperti harga pangan dunia, pendapatan per kapita, perubahan iklim, suku bunga, dan nilai tukar, dilakukan analisis mengenai faktor apa sajakah yang mempengaruhi perubahan harga pangan utama di Indonesia. Dan yang terakhir, dilihat apabila terjadi shock dari faktor penyebab perubahan harga pangan Indonesia, maka seberapa lamakah pengaruh dari guncangan tersebut terjadi. Dua tujuan terakhir akan dianalisis dengan menggunakan metode VAR/ VECM.
2
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Volatilitas dan Pentingnya Menjaga Stabilitas Harga
Volatilitas menunjukkan seberapa banyak dan seberapa cepat nilai berubah dari waktu ke waktu, misalnya harga komoditas (FAO 2010). Konsep tersebut mungkin tampak jelas, namun definisi yang tepat dari volatilitas sulit dipahami dan pengukuran volatilitas sangat rentan terhadap subjektivitas. Dalam teori ekonomi, volatilitas memiliki dua konsep yaitu variability dan uncertainty. Variability menggambarkan pergerakan secara keseluruhan, sedangkan uncertainty menggambarkan perubahan yang tidak dapat diprediksi (FAO 2010).
8
terjadi (G20 Report 2011). Perubahan dari harga akan menjadi masalah apabila harga melonjak sangat tinggi dan tidak dapat diprediksi yang nantinya akan menciptakan suatu ketidakpastian yang mampu meningkatkan risiko bagi produsen, pedagang, konsumen, dan tentu juga pemerintah. Perubahan dari harga yang tidak merefleksikan kinerja pasar akan menciptakan permasalahan baru, yaitu dapat menciptakan kesalahan kebijakan yang akan diambil pemerintah. Inti adanya sistem harga yaitu ketika suatu komoditas langka, maka harganya akan naik yang akan menyebabkan penurunan konsumsi, serta investasi akan mengalir lebih banyak pada produksi komoditas tersebut. Apabila efisiensi sistem harga tidak terjadi, yaitu ketika pergerakan harga menjadi semakin tidak menentu dan terus berfluktuasi dengan sangat ekstrim selama periode waktu tertentu, maka pada saat inilah, kinerja pasar tidak terjadi.
Berdasarkan sejarah yang ada, volatilitas harga yang ekstrim di pasar komoditas pertanian maupun pangan telah jarang terjadi. Untuk menggambarkan hubungan antara supply komoditas dengan bencana alam maupun iklim buruk yang dikaitkan dengan fluktuasi harga komoditas pertanian atau pangan juga memiliki probabilitas yang rendah untuk terjadi. Namun, ketika hal ini terjadi akan membawa risiko yang besar dan memberikan potensi bagi masyarakat untuk mengeluarkan biaya untuk konsumsi pangan menjadi lebih banyak dari biasanya.
Stabilitas harga penting untuk terus menerus dipantau dan dijaga. Harga yang stabil mendorong kondisi perekonomian yang stabil juga. Terutama untuk beberapa komoditas pangan utama, seperti beras yang merupakan komoditas tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, peran pemerintah menjadi sangat krusial dalam penyediaan ketersedian komoditas pangan utama Indonesia untuk menjaga harganya tetap stabil.
Pengertian stabil bukan berarti harga bersifat statis, tetapi dapat juga bersifat dinamis, namun variabilitas harga antar waktu tetap berada pada kisaran yang masih memungkinkan bagi stakeholder, baik konsumen maupun produsen untuk melakukan penyesuaian jangka pendek. Bagi konsumen, determinan dari kemampuan untuk melakukan penyesuaian adalah daya beli, sedangkan bagi produsen determinannya adalah tingkat penerimaan yang cukup untuk menutup semua biaya variabel. Selama kondisi ini terpenuhi, maka harga dapat dikatakan stabil. Sedangkan, kriteria instabilitas atau volatilnya harga tidak dapat sepenuhnya mengacu pada ukuran kuantitatif tertentu, karena terdapat faktor lain seperti ekspektasi masyarakat yang mampu untuk meningkatkan risiko terjadinya volatilitas harga dan peran pemerintah menjadi sangatlah penting dalam meminimalisir kejadian tersebut.
Keterkaitan antara Variabel Faktor dengan Volatilitas Harga Komoditas Pangan di Indonesia
9 Mengakomodasi dan meminimalisir fluktuasi harga yang terjadi merupakan tugas pemerintah Indonesia. Oleh karena itu, dalam rangka mengakomodasi volatilitas yang terjadi, perlu untuk diketahui faktor yang mempengaruhi perubahan harga komoditas pangan utama Indonesia. Dalam penelitian ini, akan dibagi menjadi dua kelompok faktor yang mempengaruhi fluktuasi harga pangan utama Indonesia, yaitu dilihat dari sisi permintaan dan penawaran. Permintaan dan penawaran komoditas pangan merupakan dua sisi yang sangat berkaitan dengan perubahan harga yang terjadi, dimana terjadi interaksi antara penjual dan pembeli. Interaksi tersebut adalah suatu mekanisme pasar yang terjadi untuk mencapai suatu kondisi keseimbangan dalam memaksimalkan tingkat kepuasan bagi kedua belah pihak stakeholder yang dapat menentukan tingkat harga yang berlaku dan jumlah komoditi yang diperjualbelikan.
Teori permintaan merupakan suatu teori yang menjelaskan mengenai hubungan yang terjadi antara jumlah yang diminta, harga, dan bagaimana pembentukan kurva permintaan. Teori permintaan menjelaskan apabila harga komoditi mengalami peningkatan, maka permintaan akan komoditi tersebut akan mengalami penurunan (Lipsey 1995). Komoditi dihasilkan oleh produsen karena ada konsumen yang membutuhkannya. Sedangkan, konsumen mau untuk membeli komoditi tersebut apabila harga dan produk tersebut sesuai dengan keinginannya. Teori penawaran merupakan suatu teori yang menjelaskan mengenai hubungan antara komoditas yang ingin ditawarkan oleh penjual dengan berbagai tingkatan harga. Semakin tinggi tingkat harga, maka jumlah barang yang ditawarkan akan semakin banyak (Lipsey 1995). Sehingga, berdasarkan penelitian terdahulu dapat disimpulkan bahwa faktor yang dapat mempengaruhi perubahan harga pangan utama Indonesia diantaranya :
a. Harga Pangan Dunia
Harga pangan dunia merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi harga pangan domestik seperti yang telah didiskusikan dalam ADB (2008). Hal ini menunjukkan keterkaitan antara pasar domestik dan pasar internasional. Walaupun domestik tidak melakukan impor untuk komoditas pangan, lalu harga pangan dunia mengalami peningkatan, maka kenaikan harga pangan dunia akan mampu mempengaruhi harga pangan domestik. Dengan adanya hukum satu harga yang dikenal dengan Purchasing Power Parity (PPP), dimana hukum ini menyebutkan bahwa barang yang sama akan dijual dengan harga yang sama pada waktu yang sama dengan tempat yang berbeda (Krugman et al 2009). Hukum ini mengasumsikan bahwa tidak ada hambatan dalam perdagangan yang menyebabkan harga domestik dan harga dunia menjadi berbeda. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara harga pangan dunia dengan harga pangan domestik.
b. Pendapatan Per Kapita
10
pendapatan per kapita memiliki hubungan yang positif dengan perubahan harga pangan.
c. Exchange Rate
Ketersedian pangan domestik tidak hanya berasal dari produksi dalam negeri saja, tetapi juga berasal dari luar negeri. Ketika nilai tukar Indonesia terapresiasi, maka harga pangan dunia relatif lebih murah bila dibandingkan dengan harga domestiknya (Balcombe 2010), sehingga akan menimbulkan gelombang impor yang akan menyebabkan peningkatan ketersediaan pangan domestik. Apabila ketersediaan domestik berlebih, maka harga pangan domestik juga akan mengalami penurunan.
d. Iklim
Dalam beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, fenomena iklim seperti El Nino dan La Nino memiliki dampak yang signifikan terhadap harga komoditas (Brunner, 2000). Dalam penelitian ini akan digunakan suatu indeks yang mengukur terjadinya fenomena El Nino, yaitu suatu fenomena meningkatnya suhu permukaan di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur4. Ketika terjadi fenomena El Nino ini, awal musim hujan akan menjadi lebih lambat dan terjadi kekeringan yang mampu menurunkan produksi komoditas pangan yang sangat tergantung dari baiknya sistem pengairan. Hal ini akan mempengaruhi supply domestik komoditas pangan utama Indonesia dan mampu mempengaruhi perubahan harganya.
e. Interest Rate
Suku bunga merupakan salah satu faktor dari variabel makroekonomi yang memiliki dampak langsung terhadap harga komoditas, dimana suku bunga merupakan ukuran yang mampu menggambarkan return dari saham. Selain itu, suku bunga juga merupakan indikator penting yang menggambarkan keadaan ekonomi. Fluktuasi suku bunga yang terjadi, mengindikasikan ketidakpastian kondisi ekonomi dan hal ini mampu memengaruhi harga komoditas, termasuk komoditas pangan (Balcombe 2009, Roache 2010).
Penelitian Terdahulu
Penelitian-penelitian mengenai volatilitas harga komoditas pangan beserta faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan harga suatu komoditas, terutama komoditas pangan telah banyak dilakukan. Berbagai metode digunakan dalam menjawab pertanyaan mengenai faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi fluktuasi harga pangan serta bagaimana transmisi ketika terjadi guncangan dari faktor tersebut terhadap harga suatu komoditas. Berikut adalah beberapa penelitian terdahulu yang terkait dengan volatilitas harga (Tabel 1):
Tabel 1 Penelitian Terdahulu
No Nama
Peneliti Tahun Judul Metodologi Hasil Penelitian
1 Jordaan et al 2007 Measuring the memiliki tingkat volatilitas yang konstan yaitu gandum
4
11
No Nama
Peneliti Tahun Judul Metodologi Hasil Penelitian Certain Field volatilitas harga white maize, yellow maize dan sunflower seed bervariasi antar waktu (time varying). Lebih lanjut hasil studi mengungkapkan bahwa white maize merupakan komoditi dengan tingkat volatiltas tertinggi.
harga kedelai, adanya time varying volatility dalam pertumbuhan harga kedelai, adanya leverage effect pada pertumbuhan harga kedelai dengan frekuensi rendah merupakan hal yang sangat sulit dilakukan untuk komoditas pangan. Volatilitas frekuensi rendah ini berpengaruh secara positif antar komoditas yang berbeda. Selain itu, terdapat dua faktor yang memengaruhi volatilitas frekuensi rendah yaitu Inflasi US dan Nilai Tukar US. Kedua faktor ini yang memberikan pengaruh besar terhadap volatilitas harga pangan di US. memiliki tren stokastik yang signifikan.
- Sebagian besar komoditas memiliki komponen siklis dengan pengecualian
minyak sawit.
12
No Nama
Peneliti Tahun Judul Metodologi Hasil Penelitian di seluruh komoditas pertanian
untuk hampir semua komoditas (kecuali pigmeat).
- Volatilitas harga minyak merupakan prediktor yang berpengaruh terhadap minyak mungkin menjadi lebih terhubung, sehingga ada alasan untuk percaya bahwa peran harga minyak di dalam menentukan volatilitas bahkan mungkin lebih kuat di masa depan. - tingkat saham memiliki dampak (menurun) yang signifikan pada volatilitas - Sejumlah harga komoditas memiliki tren yang signifikan. Namun,
tren ini
positif untuk beberapa seri dan negatif bagi seri yang
13
No Nama
Peneliti Tahun Judul Metodologi Hasil Penelitian
panjang namun
pengaruhnya sangat kecil. Dan faktor paling signifikan pada jangka
panjang terhadap
perubahan harga pangan di Pakistan adalah harga pangan dunia. yang cenderung bervariasi antar waktu (time varying). Dampak volatilitas memberikan pengaruh yang bervariasi antar industry. Volatiltias harga minyak dunia dan suku bunga riil cenderung memberikan pengaruh negatif terhadap kinerja sektor industri dan makroekonomi Indonesia. Sementara itu, volatilitas harga ekspor industri memberikan pengaruh yang
signifikan dengan inflasi harga pangan global. Hal menarik bahwa volatilitas harga yang sangat tinggi yang berasal dari volatilitas pada global berjalan
bersamaan dengan
volatilitas harga pada domestik. Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa untuk negara yang masuk dalam penelitian tidak
terpengaruh akan
14
No Nama
Peneliti Tahun Judul Metodologi Hasil Penelitian Lingkage and pertanian seperti jagung digunakan sebagai biofuel. Dengan menggunakan perubahan harga etanol memiliki pengaruh besar terhadap perubahan harga jagung, begitu juga sebaliknya.
Kerangka Pemikiran
Bermula dari adanya UU Republik Indonesia tentang Pangan Nomor 18 Tahun 2012 Pasal 11 poin h menyebutkan bahwa rencana pangan nasional sekurang-kurangnya harus menjamin stabilisasi pasokan dan harga pangan pokok. Stabilisasi harga sangat penting dalam menjalankan rencana pangan selanjutnya yaitu terciptanya kedaulatan pangan, kemandirian pangan, dan ketahanan pangan. Dalam penelitian ini dilihat besaran volatilitas harga komoditas pangan utama Indonesia yang menjadi tujuan swasembada pangan Indonesia tahun 2014, dimana sebagian besar pemenuhan domestik masih berasal dari impor. Setelah mengetahui komoditas apa saja yang harganya berfluktuasi, kemudian dilanjutkan untuk mengetahui faktor apa sajakah yang menyebabkan perubahan harga komoditas pangan baik dari sisi permintaan maupun sisi penawaran. Dalam penelitian ini dilihat juga seberapa lama dampak dari guncangan faktor yang mempengaruhi terhadap perubahan harga pangan utama Indonesia. Pentingnya mengetahui faktor dan dampak guncangan faktor ini lebih kepada prioritas dalam mengakomodasi faktor yang lebih dominan dalam mempengaruhi perubahan harga pangan utama Indonesia.
15
Gambar 4. Kerangka Pemikiran
3
METODE
Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder bulanan selama periode waktu 2002-2011. Data yang digunakan yaitu data harga komoditas pangan utama Indonesia yang masih bergantung dari impor, yaitu beras, jagung, kedelai, dan gula pasir. Selain itu, data mengenai Harga Pangan Dunia, Pendapatan per kapita, Interest Rate, Iklim, dan Exchange Rate diperlukan untuk mengetahui faktor apa sajakah yang mempengaruhi fluktuasi harga komoditas pangan yang diteliti.
Variabel yang diperoleh, ada yang sudah siap digunakan dan ada yang harus diolah kembali untuk mendapatkan variabel yang diinginkan. Oleh karena terdapat beberapa variabel memerlukan penjelasan, maka diperlukan definisi operasional untuk menjelaskan masing-masing variabel yang digunakan. Berikut adalah definisi operasional untuk variabel yang digunakan :
Faktor dari Sisi Permintaan : - Harga Pangan Dunia - Pendapatan per Kapita - Exchange Rate
Faktor dari Sisi Penawaran : - Harga Pangan Dunia - Iklim
- Interest Rate
Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Harga Pangan Utama
Indonesia
Dampak Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Harga Pangan Utama Indonesia
Guncangan Faktor yang Mempengaruhi Perubahan
Harga Pangan Utama Indonesia Volatilitas Harga Pangan Utama
16
- PDOM : Harga komoditas pangan domestik yang diperoleh dari Bulog diolah untuk me-riil-kan data dengan cara membagi dengan nilai tukar rupiah selama periode pengamatan, sehingga satuan akhirnya berupa US dollar per kg.
- PWORLD : Harga komoditas pangan dunia yang diperoleh dari Pink Sheet, World Bank.
- GDPCAP : Pendapatan per kapita yang diperoleh dengan cara membagi GDP riil Indonesia dengan Populasi selama periode amatan.
- ER : Nilai tukar rupiah terhadap dollar US yang nilainya diambil pada akhir tiap periode (bulan).
- IR : Suku bunga yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia pada tiap bulannya dalam bentuk persen.
- CLIM : Merupakan nilai dari adanya perubahan cuaca el-nino yang terjadi selama periode penelitian.
Tabel 2 Penjelasan Variabel dalam Penelitian
Variabel Keterangan Satuan Sumber
PRICEDOM Harga Beras
Domestik Rp/kg Bulog dan diolah
PRICEWORLD Harga Beras Dunia $/mt Pink Sheet World Bank
PMAIZEDOM Harga Jagung
Domestik Rp/kg Bulog dan diolah
PMAIZEWORLD Harga Jagung Dunia $/mt Pink Sheet World Bank
SOYDOM Harga Kedelai
Domestik Rp/kg Bulog dan diolah
SOYWORLD Harga Kedelai Dunia $/mt Pink Sheet World Bank
SUGARDOM Harga Gula Pasir
Domestik Rp/kg Bulog dan diolah
SUGARWORLD Harga Gula Pasir
Dunia Cent $/kg
Pink Sheet World Bank
GDPCAP GDP per Kapita Rupiah IFS dan diolah
ER Nilai Tukar Rupiah/
Dollar US IFS
IR Suku Bunga Persen IFS
CLIM Iklim - CPC (Climate
17
Metode Analisis Analisis Volatilitas: Aplikasi Model ARCH-GARCH
Aplikasi model ARCH-GARCH dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menghitung besaran volatilitas dari variabel harga pangan utama. Volatilitas tercermin dalam varians residual yang tidak memenuhi asumsi homoskedastisitas (Firdaus, 2006). Sehingga, volatilitas dapat dinyatakan berdasarkan model ARCH(m) yang mengasumsikan bahwa fluktuasi dari varian data dipengaruhi oleh sejumlah m data fluktuasi sebelumnya. Model ARCH kemudian digeneralisasi menjadi model GARCH oleh Bollerslev (1986). Model GARCH(r,m) mengasumsikan bahwa varian data fluktuasi dipengaruhi sejumlah m data fluktuasi sebelumnya dan sejumlah r data volatilitas sebelumnya. Bentuk umum model GARCH(r,m) :
ht= K + 1ht-1+ 2ht-2+ ... + rht-r+ α1 2t-1+ α2 2t-2+ ... + αm 2t-m (1)
dimana :
ht = Variabel harga pangan pada waktu t/ varians pada waktu ke-t (US $)
K = Varian yang konstan
2
t-m = Suku ARCH/ volatilitas pada periode sebelumnya α1, α2, … , αm = Koefisien orde m yang diestimasikan
1, 2, .... , r = Koefisien orde r yang diestimasikan
ht-r = Suku GARCH/ varian pada periode sebelumnya
Untuk melihat kecenderungan datavariabel ekonomi yang dianalisis maka diperlukan analisis grafik terlebih dahulu dengan plot time series sebelum melakukan estimasi. Adapun tahapan yang dilakukan untuk menghitung volatilitas dalam model ARCH-GARCH adalah:
1) Tahap Identifikasi
Pada tahap ini dilakukan identifikasi apakah data mengandung heteroskedastisitas atau tidak. Pengujian keberadaan heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat kurtosis data. Pengujian heteroskedastisitas dapat juga dilakukan dengan menggunakan uji ARCH-LM. Uji ARCH-LM didasarkan pada hipotesis nol tidak terdapat ARCH error. Apabila hasil pengujian menunjukan penerimaan terhadap hipotesis nol, maka data tidak mengandung ARCH error atau data bersifat homoskedastisitas dan tidak perlu dimodelkan berdasarkan ARCH.
2) Tahap Pendugaan Parameter
18
3) Tahap Pemilihan Model Terbaik
Pemilihan model terbaik dilakukan berdasarkan ukuran kebaikan model yang besar dan koefisien yang nyata. Dua bentuk pendekatan yang digunakan sebagai ukuran kebaikan model yaitu :
1. Akaike Information Criterion (AIC) AIC = ln (MSE) + 2*K/N
2. Schwartz Criterion (SC) SC = ln (MSE) + [K*log(N)/N] dimana :
MSE = Mean Square Error
K = banyaknya parameter, yaitu (p+q+1) N = banyaknya data pengamatan
Akaike Information Criterion (AIC) dan Schwartz Criterion (SC) merupakan dua standar informasi yang menyediakan ukuran informasi yang dapat menyeimbangkan antara ukuran kebaikan model dan spesifikasi model. Model terbaik dipilih berdasarkan nilai AIC dan SC terkecil dengan melihat juga signifikansi koefisien model.
4) Tahap Pemeriksaan Kecukupan Model
Pemeriksaan kecukupan model dilakukan untuk menguji asumsi, sehingga model yang diperoleh cukup memenuhi syarat model yang baik. Jika model dianggap masih kurang memenuhi syarat, maka diperlukan kembali ke tahap identifikasi awal untuk mendapatkan model yang lebih baik. Pendugaan model dilakukan dengan menganalisis residual yang telah distandarisasi. Pendugaan model meliputi: sebaran residual, kebebasan residual yang dilihat dari fungsi autokorelasi dan kuadrat residual, dan pengujian efek ARCH-GARCH dari residual.
Uji Jarque Bera (JB) dilakukan untuk memeriksa kenormalan residual baku model juga diperlukan untuk memastikan apakah model yang digunakan adalah model yang baik. Model yang baik adalah model yang residualnya menyebar normal. Uji JB mengukur perbedaan antara Skewness (kemenjuluran) dan kurtosis (keruncingan) data dari sebaran normal, serta memasukkan ukuran keragaman. Hipotesis yang diuji adalah:
H0 : Residual baku menyebar normal H1 : Residual baku tidak menyebar normal
Hasilnya adalah tolak H0, jika JB > χ22 (α) atau jika P (χ22 > JB) kurang
dari α = 0,05. Statistik uji JB dihitung dengan persamaan berikut:
⁄ (2)
dimana :
S = kemenjuluran K = keruncingan
k = banyaknya koefisien penduga N = banyaknya data pengamatan
19 yang tidak mengandung autokorelasi. Langkah selanjutnya adalah memeriksa koefisien autokorelasi residual baku, dengan uji statistik Ljung-Box.
Uji Ljung-Box (Q*) pada dasarnya adalah pengujian kebebasan residual baku. Untuk data time series dengan n pengamatan, statistik uji Ljung-Box diformulasikan sebagai :
∑
(3)
dimana r12( t) adalah autokorelasi contoh pada lag 1 dan k adalah maksimum lag yang diinginkan. Jika nilai Q* lebih besar dari nilai χ22(α) dengan derajat bebas k
-p-q atau jika P (χ2(k-p-q) > Q*) lebih kecil dari taraf nyata 0.05 maka model tersebut
dinyatakan tidak layak.
5) Tahap Perhitungan Nilai Volatilitas Variabel Ekonomi
Setelah memperoleh model yang memadai, model tersebut digunakan untuk memperkirakan nilai volatilitas masa datang (ζt+1) dari suatu variabel ekonomi, dimana ζt = √ht. Peramalan ragam untuk periode mendatang diformulasikan sebagai berikut :
ht = ζ2 + α1 2t-1 + α2 2t-2 + ... + αm 2t-m (4)
untuk ARCH (m), atau
ht = к + 1ht-1 + 2ht-2 + ... + rht-r + α1 2t-1 + α2 2t-2 + ... + αm 2t-m (5)
untuk GARCH (r, m), dengan к > 0, r ≥ 0 dan αm ≥ 0 dimana :
ht = Nilai ragam ke-t = Nilai sisaan к = Konstanta
r dan αm = Paramater-parameter
Analisis Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Harga Pangan Utama Indonesia serta Pengaruh Guncangan Faktor : Metode VAR/ VECM
20
Gambar 5 Proses analisis VAR dan VECM
Vector Autoregressive (VAR)
Penggunaan pendekatan struktural atas pemodelan persamaan simultan biasanya menerapkan teori ekonomi di dalam usahanya untuk mendeskripsikan hubungan antar variabel yang ingin diuji. Akan tetapi sering ditemukan bahwa teori ekonomi saja ternyata tidak cukup baik di dalam menyediakan spesifikasi yang tepat atas hubungan dinamis antar variabel. Terkadang proses estimasi dan inferensi bahkan menjadi lebih rumit karena keberadaan variabel endogen di kedua sisi persamaan yaitu endogenitas variabel di sisi dependen dan independennya. Metode VAR yang merupakan ciptaan Sims pada tahun 1980 kemudian muncul sebagai jalan keluar atas permasalahan ini melalui pendekatan nonstrukturalnya.
Secara garis besar terdapat empat hal yang ingin diperoleh dari pembentukan sebuah sistem persamaan, yaitu deskripsi data, peramalan, inferensi struktural, dan analisis kebijakan. VAR menyediakan alat analisa bagi keempat hal tersebut melalui empat macam penggunaannya, seperti Forecasting untuk ekstrapolasi nilai saat ini dan masa depan seluruh variabel dengan memanfaatkan seluruh informasi masa lalu variabel, Impulse Response Functions (IRF) untuk melacak respon saat ini dan masa depan setiap variabel akibat perubahan atau shock suatu variabel tertentu, Forecast Error Decomposition of Variance (FEDVs) untuk memprediksi kontribusi persentase varian setiap variabel terhadap perubahan suatu variabel tertentu, dan Granger Causality Test yang digunakan untuk mengetahui hubungan sebab akibat antar variabel.
Model VAR yang dikembangkan oleh Chistoper A. Sims (1980), model dasarnya hampir sama dengan model untuk menguji Granger’s (1969) Bivariate
Pengujian Akar Unit
Data Time Series pada Level
Stasioner Tidak Stasioner
Impulse Response dan Forecast Error Decomposition of Variance
VAR FD
21 Causality. VAR adalah model apriori terhadap teori ekonomi. Namun demikian model ini sangat berguna dalam menentukan tingkat eksogenitas suatu variabel ekonomi dalam sebuah sistem ekonomi di mana terjadi saling ketergantungan antar variabel dalam ekonomi. Model ini juga menjadi dasar munculnya metode co-integrasi Johansen (1988, 1989) yang sangat baik dalam menjelaskan perilaku variabel dalam perekonomian. Model VAR secara matematis dapat diwakili oleh.
∑ (6)
dimana Zt adalah vektor dari variabel-variabel endogen sebanyak m, Xt
adalah vektor dari variabel-variabel eksogen sebanyak d termasuk di dalamnya konstanta (intercept). A1,...,Ap, dan B adalah matriks-matriks koefisien yang akan
diestimasi, dan t adalah vektor dari residual-residual yang secara kontemporer berkorelasi tetapi tidak berkorelasi dengan nilai-nilai lag mereka sendiri dan juga tidak berkorelasi dengan seluruh variabel yang ada dalam sisi kanan persamaan di atas.
Model VAR tidak banyak tergantung pada teori dalam penyusunan model. Hal-hal yang perlu ditentukan dalam model VAR yaitu variabel yang saling berinteraksi atau saling mempengaruhi yang perlu dimasukkan dalam model. Kedua, banyaknya variabel jeda (lag) yang perlu diikutsertakan dalam model yang diharapkan dapat menangkap keterkaitan antar variabel dalam sistem. Oleh karena itu, sebelum memilih variabel yang dianalisis dalam model perlu diuji terlebih dahulu sifat kausalitas dari variabel-variabel tersebut dengan menggunakan uji causalitas granger.
Model VAR memiliki kelebihan daripada analisis dengan model lainnya. Kelebihan dari model ini yaitu :
1. Model VAR adalah model yang sederhana dan tidak perlu membedakan mana variabel endogen dan eksogen. Semua variabel pada model VAR dapat dianggap variabel endogen.
2. Cara estimasi model VAR sangat mudah yaitu dengan menggunakan OLS pada tiap-tiap persamaan secara terpisah.
3. Peramalan menggunakan model VAR pada beberapa hal lebih baik dari peramalan yang menggunakan model dengan persamaan simultan yang lebih kompleks.
4. Semua variabel pada model VAR harus sudah stasioner. Jika data variabel belum stasioner maka harus ditransformasi terlebih dahulu agar stasioner. 5. Interpretasi parameter yang telah diestimasi pada model VAR tidak mudah.
Oleh karenanya, para praktisi kadang-kadang malah mengestimasi IRF (Impulse Response Function). IRF melacak respons dari variabel terikat pada model VAR bila terjadi perubahan shock melalui u1 dan u2 (untuk model
dengan 2 variabel).
Vector Error Correction Model (VECM)
22
mencegah kesalahan jangka panjang menjadi lebih besar lagi. Johansen telah membuktikan bahwa variabel yang terkointegrasi seperti ini mempunyai koreksi kesalahan.
Hubungan kointegrasi tidak boleh diabaikan begitu saja. Oleh karena itu, diperlukan suatu model yang mampu merestriksi kesalahan – kesalahan tersebut. Model VAR yang sebelumnya, kemudian direstriksi untuk memperoleh model yang lebih baik untuk mengestimasi hasil amatan yang dinamakan VECM. Spesifikasi VECM merestriksi hubungan jangka panjang variabel – variabel endogen agar konvergen ke dalam hubungan kointegrasinya, namun tetap membiarkan keberadaan dinamisasi jangka pendek.
Pengujian Sebelum Estimasi
Sebelum melakukan estimasi VAR atau VECM terlebih dahulu harus dilakukan beberapa pengujian. Berikut ini adalah beberapa pengujian yang harus dilakukan:
1. Uji Stasioneritas Data
Uji stasioneritas dapat dilakukan dengan metode ADF sesuai dengan bentuk tren deterministik yang dikandung oleh setiap variabel. Hasil series stasioner akan berujung pada penggunaan VAR dengan metode standar. Sementara series non stasioner akan berimplikasi pada dua pilihan VAR, yaitu VAR dalam bentuk first difference atau VECM.
Keberadaan variabel non stasioner meningkatkan kemungkinan keberadaan hubungan kointegrasi antar variabel. Maka pengujian kointegrasi diperlukan untuk mengetahui keberadaan hubungan tersebut. Pengujian kointegrasi sebaiknya tetap dilakukan pada data stasioner, mengingat terdapatnya kemungkinan kesalahan pengambilan kesimpulan pengujian unit root terkait dengan the power of test.
2. Penentuan Lag Optimal
Untuk memperoleh panjang selang yang tepat, maka perlu dilakukan tiga bentuk pengujian secara bertahap. Pada tahap pertama akan dilihat panjang selang maksimum sistem VAR yang stabil. Stabilitas sistem VAR dilihat dari nilai inverse roots karakteristik AR polinomialnya. Suatu sistem VAR dikatakan stabil atau stasioner jika seluruh akar unitnya memiliki modulus lebih kecil dari satu dan semuanya terletak di dalam unit circle (Lutkepohl, 1991).
Pada tahap kedua, panjang selang optimal akan dicari dengan menggunakan kriteria informasi yang tersedia. Kandidat selang yang terpilih adalah panjang selang menurut kriteria Akaike Information Criterion (AIC) dan Schwarz Information Criterion (SC). Jika kriteria informasi hanya merujuk pada sebuah kandidat selang, maka kandidat selang tersebut optimal. Jika diperoleh lebih dari satu kandidat, maka pemilihan dilanjutkan pada tahap ketiga. Pengujian dengan menggunakan AIC akan mengikuti persamaan sebagai berikut :
⌊ ⌋ (7)
23 Selain melalui kriteria AIC, pemillihan lag optimum juga dapat dilakukan berdasarkan Schwarz Information Criterion (SC). Kriteria SIC dapat ditulis dalam persamaan berikut :
⁄ (8)
dimana:
q = jumlah variabel T = jumlah observasi
SIC = Schwarz Information Criterion
Pada tahap terakhir, nilai Adjusted R2 variabel VAR dari setiap kandidat selang dibandingkan dengan penekanan pada variabel-variabel penting dalam model VAR tersebut. Selang optimal akan dipilih dari sistem VAR dengan selang tertentu yang menghasilkan nilai Adjusted R2 terbesar pada variabel-variabel penting dalam sistem.
3. Pengujian Hubungan Kointegrasi
Kointegrasi adalah suatu hubungan jangka panjang antara variabel-variabel yang meskipun secara individual tidak stasioner, tetapi kombinasi linier antara variabel tersebut dapat menjadi stasioner (Thomas, 1997). Salah satu syarat agar tercapai keseimbangan jangka panjang adalah galat keseimbangan harus berfluktuasi di sekitar nol. Dengan kata lain, error term harus menjadi sebuah data time series yang stasioner. Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk melakukan uji kointegrasi, seperti Eagle-Granger Cointegratiopn Test, Johansen Cointegration Test, dan Cointegration Regression Durbin-Watson Test. Suatu data time series dikatakan terintegrasi pada tingkat ke-d atau sering disebut I(d) jika data tersebut bersifat stasioner setelah melakukan diferensiasi sebanyak d kali. 4. Uji Stabilitas Model VAR
Dalam prakteknya, stabilitas sistem VAR dapat dilihat dari nilai inverse roots karakteristik AR polinomialnya. Hal ini dapat dilihat dari nilai modulus di tabel AR roots-nya, jika seluruh nilai AR roots-nya di bawah satu, maka sistem tersebut dikatakan stabil.
Model VAR yang akan digunakan dalam penelitian ini dalam bentuk matriks adalah sebagai berikut :
∑ (9)
Dimana merupakan vektor dari variabel endogen dengan dimensi (n x 1), merupakan vektor dari variabel endogen, termasuk konstanta (intersep) dan trend, adalah koefisien matriks dengan dimensi (n x n), dan adalah vektor dari residual. Dalam sistem bivariat sederhana, dipengaruhi oleh nilai periode sebelumnya dan periode ini, sementara dipengaruhi nilai periode sebelumnya dan periode saat ini.
Model VECM yang akan digunakan dalam penelitian ini dalam bentuk matriks sebagai berikut :
∑ (10)
dimana dan merupakan fungsi dari pada persamaan (10). Matriks dapat dipecah menjadi dua matriks, yaitu dan dengan dimensi (n x n).
, dimana merupakan matriks penyesuaian, merupakan vektor
24
pendek ke jangka panjang. Dimana Xt untuk model VAR atau VECM adalah
harga komoditas pangan utama Indonesia, harga komoditas pangan utama di tingkat dunia, GDP per kapita, tingkat suku bunga, nilai tukar, dan iklim.
4
HASIL DAN PEMBAHASAN
Perkembangan Produksi Domestik dan Impor Komoditas Pangan Utama Indonesia
Ketergantungan impor Indonesia pada komoditas pangan utama seperti pada komoditas beras, jagung, kedelai, dan gula pasir masih sangat tinggi. Padahal, keempat komoditas pangan ini diharapkan akan swasembada pada tahun 2014. Dengan demikian, apabila fluktuasi harga pangan utama Indonesia masih terus terjadi karena ketersediaan domestik yang belum mampu dipenuhi pemerintah, maka mengontrol harga pangan akan menjadi sangat sulit.
Tabel 3 Perkembangan Produksi, Ekspor, Impor, dan Ketersediaan Beras di Indonesia Tahun 2001-2011 (Ton)
Tahun Produksi Ekspor Impor Ketersediaan
2001 50 460 800 3 790 639 537 51 096 547
2002 51 489 696 3 891 1 790 323 53 276 128
2003 52 137 600 668 1 613 421 53 750 353
2004 54 088 468 888 388 429 54 476 009
2005 54 151 097 42 285 188 944 54 297 756
2006 54 454 937 940 455 850 54 909 847
2007 57 157 436 1 186 1 403 331 58 559 581
2008 60 251 072 1 840 288 359 60 537 591
2009 64 398 890 2 395 248 454 64 644 949
2010 66 469 394 345 685 768 67 154 817
2011 65 740 946 803 2 745 281 68 485 424
Laju (%) 2.71 - 77.49 3.00
a
Sumber : FAO, 2013 (diolah)
25 Tabel 4 Perkembangan Produksi, Ekspor, Impor, dan Ketersediaan Jagung di
Indonesia Tahun 2001-2011 (Ton)
Tahun Produksi Ekspor Impor Ketersediaan
2001 9 347 200 90 474 1 035 797 10 292 523
2002 9 585 277 16 306 1 154 063 10 723 034
2003 10 886 442 33 691 1 345 452 12 198 203
2004 11 225 243 32 679 1 088 928 12 281 492
2005 12 523 894 54 009 185 597 12 655 482
2006 11 609 463 28 074 1 775 321 13 356 710
2007 13 287 527 101 740 701 953 13 887 740
2008 16 323 922 107 001 286 541 16 503 462
2009 17 629 740 62 575 338 798 17 905 963
2010 18 327 636 41 954 1 527 516 19 813 198
2011 17 629 033 12 717 3 207 657 20 823 973
Laju (%) 6.90 - 114.20 7.43
a
Sumber : FAO, 2013 (diolah)
Tabel 4 menunjukkan laju pertumbuhan produksi jagung domestik berkisar 6.90 persen. Dimana, pesatnya perkembangan usaha peternakan ayam ras di Indonesia menjadi faktor utama yang mendorong peningkatan permintaan jagung domestik, sehingga volume impor terus mengalami peningkatan. Selama tahun 2001-2011 pertumbuhan produksi jagung domestik sekitar 6.90 persen. Kemudian, untuk pertumbuhan impor sebesar 114.20 persen. Pertumbuhan ketersediaan selama kurun waktu tersebut sebesar 7.43 persen sedikit di atas laju pertumbuhan produksi domestiknya. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan produksi masih cukup rendah bila dibandingkan dengan ketersediaan jagung domestik. Dalam upaya peningkatan ketersediaan jagung domestik, pemerintah telah melakukan berbagai macam cara, karena produksi yang menunjukkan pertumbuhan yang berjalan lamban, sehingga terjadi kenaikan impor jagung yang cukup signifikan, terutama pada tahun 2011, meningkat dua kali dari tahun sebelumnya.