PENGARUH KITOSAN TERHADAP JUMLAH SEL SPERMATOGENIK DAN SPERMATOZOA MENCIT (Mus Musculus L) YANG DIINDUKSI PLUMBUM ASETAT

Teks penuh

(1)

ABSTRACT

EFFECT OF CHITOSAN ON TOTAL SPERMATOGENIC CELLS AND SPERMATOZOA CELL ON MICE (Mus MusculusL) THAT INDUCED

PLUMBUM ACETATE

BY

LEON L. GAYA

Chitosan contain natural antioxidants that boost androgenic activity in testis. The purpose of this study was to determine the effect of chitosan on the number of spermatogenic cells and sperm cells of strain Balb/c mice’s testes which is induced by plumbum acetate.

In this study, 25 male mice were randomly divided into 5 groups and treated for 4 days. K1 (normal controls which were given distilled water), K2 (negative controls which were only given 80 mg / KgBW of plumbum acetate), P3 (mice given 0.5% chitosan and 80 mg / kgBW of plumbum acetate), P2 (mice given 0.75% chitosan and 80 mg / kgBW of plumbum acetate), and P3 (mice given 1% chitosan and 80 mg / kgBW of plumbum acetate).

The results showed the average number of spermatogenic cells in K1: 235.28 ± 32.97; K2: 34.04 ± 9.81; P1: 79.60 ± 17,39,87; P2: 107.08 ± 19.45; and P3: 118.32 ± 9.17. The average number of sperm cells in K1: 78.04 ± 12.04; K2: 17.28 ± 2.41; P1: 29.76 ± 2.24; P2: 37.32 ± 1.65; and P3: 46.44 ± 2.32. The conclusion from this study is that the chitosan dose of 0.5%, 0.75% and 1% can be a protective agent for mice’s testes which is induced byplumbum acetate, marked by the increasing in number of spermatogenic and spermatozoa cells compared to positive control.

(2)

ABSTRAK

PENGARUH KITOSAN TERHADAP JUMLAH SEL SPERMATOGENIK DAN SPERMATOZOA MENCIT (Mus MusculusL) YANG DIINDUKSI

PLUMBUM ASETAT

Oleh LEON L. GAYA

Kitosan mengandung antioksidan alami yang dapat memacu aktivitas androgenik pada testis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian kitosan terhadap jumlah sel spermatogenik dan sel spermatozoa testis mencit jantan galur balb/c yang diinduksi plumbum asetat.

Pada penelitian ini, 25 mencit jantan dibagi dalam 5 kelompok secara acak dan diberi perlakuan selama 4 hari. K1 (kontrol normal yang hanya diberi aquadest), K2 (kontrol negatif yang hanya diberi plumbum asetat 80 mg/KgBB), P3 (diberi kitosan 0,5% dan plumbum asetat 80 mg/KgBB), P2 (diberi kitosan 0,75% dan plumbum asetat 80 mg/KgBB), dan P3 (diberi kitosan 1% dan plumbum asetat 80 mg/KgBB).

Hasil penelitian menunjukkan rata-rata jumlah sel spermatogenik pada K1: 235,28±32,97; K2: 34,04±9,81; P1: 79,60±17,39,87; P2: 107,08±19,45; dan P3: 118,32±9,17. Sementara untuk rata-rata jumlah sel spermatozoa pada K1: 78,04±12,04; K2: 17,28±2,41; P1: 29,76±2,24; P2: 37,32±1,65; dan P3: 46,44±2,32. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa kitosan dosis 0,5% ,0,75%, dan 1% dapat menjadi zat protektif terhadap organ testis mencit jantan yang diinduksi plumbum asetat dengan ditandai bertambahnya jumlah sel spermatogenik dan spermatozoa dari kontrol positif.

(3)

PENGARUH KITOSAN TERHADAP JUMLAH SEL SPERMATOGENIK DAN SPERMATOZOA MENCIT (Mus MusculusL) YANG DIINDUKSI

PLUMBUM ASETAT

Oleh

LEON L. GAYA

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA KEDOKTERAN

Pada

Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(4)

PENGARUH KITOSAN TERHADAP JUMLAH SEL SPERMATOGENIK DAN SPERMATOZOA MENCIT (Mus MusculusL) YANG DIINDUKSI

PLUMBUM ASETAT

(Skripsi)

Oleh: Leon L. Gaya

1218011095

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)

v

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Histologi TestisMencit……..……...……….. 6 Gambar 2. SpermatogenesisMencit.….………..…….…….……… 8

Gambar 3. Struktur Kitin dan Kitosan……….…….………..………….. 13

Gambar 4. Kerangka Teori Pengaruh Kitosan Terhadap Jumlah Sel Spermatogenik dan Spermatozoa Mencit (Mus

musculusL) Yang Diinduksi Plumbum Asetat…………..… 16 Gambar 5. Kerangka Konsep…..….……….……… 17 Gambar 6. Design Penelitian………..………...……… 19 Gambar 7. Diagram Alur Penelitian..…….……….……….…...……..… 25 Gambar 8. Gambaran tubulus seminiferus testis mencit dengan

pewarnaan H.E.……..….……….….….……… 28 Gambar 9. Grafik Rata-Rata Jumlah Sel Spermatogenik Dan

(6)

v

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI.………..….…. v

DAFTAR TABEL...……….. viii

DAFTAR GAMBAR……...………. ix

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah... 1

1.2 Perumusan Masalah…... 3

1.3 Tujuan Penelitian... 4

1.4 Manfaat Penelitian... 4

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Testis... 5

2.1.1 Anatomi Testis……... 5

2.1.2 Histologi Testis…... 6

2.1.3 Fisiologi Testis…... 7

2.2 Plumbum…... 9

(7)

v i

2.2.2Efek Plumbum terhadap Infertilitas………... 10

2.3 Kitosan…... 12

2.3.1 Struktur Kitosan…... 12

2.3.2 Sumber Kitosan.……... 13

2.3.3 Manfaat Kitosa.n…... 14

2.4 Kerangka Teori…... 15

2.5 Kerangka Konsep…... 17

2.6 Hipotesis…... 18

3. METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian…... 19

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian... 20

3.3 Populasi dan Sampel…... 20

3.4Sampel………. 20

3.5 Alat dan Bahan,,,,,... 22

3.6 Identifikasi Variabel Penelitian…... 23

3.7 Definisi Operasional……… 23

3.8Alur Penelitian…... 25

3.9Analisis Data…... 26

(8)

vii

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian...………... 27

4.1.1 Gambaran Histologi Sel Spermatogenik dan Sel Spermatozoa Testis Mencit……...……….… 27

4.1.2 Analisis Jumlah Sel Spermatogenik dan Sel Spermatozoa...……….… 29

4.2 Pembahasan...……….. 35

4.2.1 Jumlah Sel Spermatogenik…..……….. 35

4.2.2 Jumlah Sel Spermatozoa..………. 41

5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1Kesimpulan………..……… 46

5.2Saran………..……….. 46

(9)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Definisi Operasional Variabel………...……….. 24 Tabel 2. Perhitungan Sel Spermatogenik Tiap Kelompok………….….. 30 Tabel 3. Perhitungan Sel Spermatozoa Tiap Kelom.….………... 31 Tabel 4. Hasil Uji Statistik Jumlah Sel Spermatogenik Perbandingan

Antar Kelompok (Mann-Whittney)….……….……… 33 Tabel 5. Hasil Uji Statistik Jumlah Sel Spermatogenik Perbandingan

(10)
(11)
(12)

Persembahan untuk Papa, Mama,

uni Mia, Uni Mesha, dan Bang

(13)

SANWACANA

Puji syukur Penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan hidayah-Nya skripsi ini dapat diselesaikan. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad S.A.W.

Skripsi dengan judul “Pengaruh Kitosan Terhadap Jumlah Sel Spermatogenik Dan Spermatozoa Mencit (Mus Musculus L) Yang Diinduksi Plumbum Asetat

adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Kedokteran di Universitas Lampung.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu dr. Susianti, M.Sc., selaku Pembimbing Satu atas kesediaannya untuk memberikan bimbingan, saran, dan masukan dalam proses penyelesaian skripsi ini;

(14)

3. Bapak Dr. dr. Muhartono, M. Kes, Sp.Pa., selaku Penguji Utama pada ujian skripsi sekaligus Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung atas masukan, ilmu, dan saran-saran yang telah diberikan;

4. Bapak Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P., selaku Rektor Universitas Lampung;

5. Papa dan Mama yang selalu mendukung saya, memberikan masukan, semangat, dan selalu mendoakan saya;

6. Kakak saya (Uni Mia dan Uni Mesha) yang selalu memberikan saya semangat dan menjadi tempat saya bercerita tentang keluh kesah dalam pembuatan skripsi;

7. Seluruh Staf Dosen FK Unila atas ilmu yang telah diberikan kepada penulis untuk menambah wawasan yang menjadi landasan untuk pembuatan skripsi ini;

8. Seluruh Staf TU, Administrasi, dan Akademik FK Unila, serta pegawai yang turut membantu dalam proses penelitian dan penyusunan skripsi ini. 9. Mas Bayu yang sudah membantu dalam proses pembuatan preparat

histopatologi dan selalu sabar menerima saya;

10. Mbak romi yang sudah membantu saya dalam proses pemotretan preparat dengan meminjamkan mikroskop;

11. Kak Ricky Pebriansyah yang telah banyak membantu saya dan memberikan masukan kepada saya untuk menyelesaikan skripsi ini;

(15)

ringan dan lebih mudah, dan juga Hanna yang telah menjadi teman penelitian yang mendoakan dan sangat membantu dalam proses perawatan mencit;

13. Sahabat-sahabat saya, kelompok idak galau (Ridho, Amri, Martin, Singgih, Desti, Ade, Debby, Elly, Zyga, Ajeng, Silvi) dan PMPATD Pakis atas bantuannnya dalam seminar skripsi dan keceriaan, kekompakan, semangat, serta canda tawa yang selalu diberikan kepada saya baik dalam perkuliahan maupun diluar perkuliahan selama saya berada di Fakultas Kedokteran;

14. Teman-teman asdos Anatomi 2012, Debby, Rois, Dicky, Beo, Eki, Farrash, Ghea, Hambali, Ika, Inaz, Karina, Mbak Ninu, Mbung, Vika. 15. Teman-teman stupor (Abet, Amri, Asoly, Duta, Eki, Galih, Hari, Ine,

Kautsar, Mayang, Nana, Rana, Rio, Sefira, Sela, Talita) atas kebersamaannya yang selalu memberikan semangat selama saya berada di Fakultas Kedokteran.

Akhir kata, Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Akan tetapi, sedikit harapan semoga skripsi yang sederhana ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Amiin.

Bandar Lampung, Desember 2015 Penulis

(16)
(17)

1

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Saat ini peningkatan jumlah populasi manusia di dunia sangat pesat. Populasi manusia di dunia saat ini mencapai 7,2 miliar orang. Di Indonesia jumlah penduduk mencapai 250 juta orang (Badan Pusat Statistik, 2010). Dalam kehidupannya manusia akan terus melakukan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Banyak hal yang diperlukan manusia untuk membantu melakukan pekerjaan tersebut, seperti alat elektronik, kendaraan, alat-alat industri, dan lain-lain. Dengan jumlah pendudukan yang mencapai 250 juta, tentunya kebutuhan akan hal-hal tersebut akan semakin meningkat dan akan membuat polusi udara.

(18)

2

bermotor juga semakin banyak. Semakin banyak kendaraan yang digunakan, maka akan semakin banyak Pb yang tertinggal di udara (Sudarmajiet al.,2006).

Pria biasanya cenderung lebih konsumtif terhadap sepeda motor dibandingkan wanita karena alasan kebutuhan maupun hanya sekedar gaya hidup (Wuryantari, 2011). Oleh sebab itu pria yang mengendarai sepeda motor lebih sering terpapar polusi udara dibandingkan wanita. Kandungan PB pada logam berat yang terdapat pada polusi udara tersebut dapat mempengaruhi kualitas semen pria (Wijesekara et al., 2015). Paparan logam tersebut dapat melalui air yang terkontaminasi, makanan, dan udara. Saat terabsorbsi di dalam darah, Pb disimpan di dalam tulang, ginjal, dan organ reproduksi. Secara tak langsung Pb dapat mempengaruhi fertilitas seorang pria (Wijesekaraet al.,2015).

Saat ini infertilitas merupakan masalah dunia, mengenai sekitar 10% sampai 15% pasangan di dunia. Di antara pasien infertilitas, sekitar 30% hingga 50% adalah pria (Chen dan Jiang, 2015). Plumbum dan cadmium diketahui dapat mengganggu proses spermatogenesis, spermiogenesis, dan steroidogenesis pada testis sebagai bahan kimia yang mempengaruhi glandula pituitari hipotalamus atau merusak secara langsung pada jaringan testis (Wijesekaraet al.,2015).

(19)

3

kitosan sebagai adsorben yang mampu mengikat logam berat. Hal ini terkait dengan adanya gugus amina terbuka sepanjang rantai kitosan (Kumar, 2005).

Kitin tersebar luas di alam dan merupakan polisakarida yang paling melimpah kedua setelah selulosa. Kitin merupakan komponen struktural utama pada eksoskeleton kepiting dan udang serta dinding sel pada jamur. Kitosan merupakan turunan kitin. Kitin dan kitosan memiliki sifat non toksik, antimikroba dan agen hidrasi. Kitin dan kitosan juga digunakan dalam berbagai aplikasi biomedis seperti obat, penyembuh luka, perbaikan jaringan dan stem sel (Azuma et al.,

2015).

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk mengamati masalah ini dan mencoba untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Kitosan Terhadap Jumlah Sel Spermatogenik dan Spermatozoa Mencit (Mus musculusL) Yang Diinduksi Plumbum Asetat”.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah ada pengaruh pemberian kitosan terhadap jumlah sel spermatogenik mencit putih jantan galur balb/c yang diinduksi plumbum asetat?

(20)

4

1.3 Tujuan Penelitian

1. Mengetahui pengaruh pemberian kitosan terhadap jumlah sel spermatogenik mencit putih jantan galur balb/c yang diinduksi plumbum asetat.

2. Mengetahui pengaruh pemberian kitosan terhadap jumlah sel spermatozoa mencit putih jantan galur balb/c yang diinduksi plumbum asetat.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

Untuk menambah pengetahuan mengenai tata cara penulisan karya ilmiah yang baik dan mengetahui pengaruh pemberian kitosan terhadap gambaran histopatologi testis mencit putih jantan galur balb/c diinduksi plumbum asetat.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat dipublikasikan sehingga memberikan sumbangan informasi bagi ilmu pengetahuan di bidang kedokteran.

3. Bagi Masyarakat

(21)

5

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Testis

2.1.1 Anatomi Testis

(22)

6

2.1.2 Histologi Testis

Testis terdiri atas 900 lilitan tubulus seminiferus, yang masing-masing mempunyai panjang rata-rata lebih dari setengah meter, dan merupakan tempat pembentukan sperma (Guyton, 2007). Setiap lobus testis juga terdapat sel interstisial (sel Leydig) yang berfungsi mensekresikan testosteron. Setiap tubulus seminiferus merupakan suatu gelung berkelok yang dihubungkan oleh suatu segmen pendek dan sempit, yaitu tubulus rektus, dengan rete testis, yakni suatu labirin saluran berlapis epitel yang tertanam di mediastinum testis seperti yang dapat terlihat pada gambar 1. Sepuluh hingga dua puluh duktus efferen menghubungkan testis dengan kaput epididimidis (Mescher, 2011).

(23)

7

2.1.3 Fisiologi Testis

Fungsi reproduksi pada pria dapat dibagi menjadi tiga subdivisi utama yaitu spermatogenesis, kinerja kegiatan seksual pria, dan pengaturan fungsi reproduksi pria dengan berbagai hormon. Testis terdiri atas tubulus seminiferus dan merupakan tempat pembentukan sperma. Sperma kemudian dialirkan kedalam epididimis, suatu tubulus lain yang juga berbentuk lilitasn dengan panjang sekitar 6 meter. Epididimis bermuara ke dalam vas deferens, yang membesaar kedalam ampula vas deferens tepat sebelum vas deferens memasuki korpus kelenjar prostat (Guyton, 2007).

(24)

8

Pembelahan mitosis spermatogonium menghasilkan spermatosit primer. Pembelahan meiosis pertama berasal dari spermatosit primer diploid. Sel haploid yang dihasilkan dari pembelahan meiosis pertama disebut spermatosit sekunder. Pembelahan spermatosit kedua berasal dari spermatosit sekunder dan menghasilkan spermatid. Proses spermiogenesis bermula dengan spermatid dan menghasilkan perubahan-perubahan morfologis yang diperlukan untuk membentuk sperma motil (Mescher, 2011). Proses proses ini dapat dilihat pada gambar 2.

(25)

9

2.2 Plumbum

2.2.1 Sumber dan Efek Plumbum

Beberapa makhluk hidup memerlukan logam seperti Fe, Mn, Cu, dan Zn dalam jumlah sedikit untuk kelangsungan proses pertumbuhan. Namun, seluruh logam tersebut dapat memberikan efek berbahaya bila melebihi batas normal. Logam non-esensial seperti Cd, Pb, Ni, dan Cr merupakan logam toksik bahkan dalam konsentrasi yang kecil dan tidak bermanfaat dalam aktifitas metabolik (Hossenet al., 2015).

Logam berat utama yang dikaitkan dengan gangguan kesehatan dalah Cd, Pb, dan Hg. Logam tersebut terdistribusi luas di lingkungan dan pada saat yang sama merupakan logam dengan toksisitas tingkat tinggi bagi makhluk hidup (Rzymski et al., 2015). Paparan logam tersebut dapat melalui air yang terkontaminasi, makanan, dan udara. Saat terabsorbsi didalam darah, plumbum dan cadmium disimpan didalam tulang, ginjal, dan organ reproduksi (Wijesekara et al., 2015). Efek toksik logam berat tersebut bagi manusia meliputi neurotoksisitas, imunodefisiensi, osteoporosis, ginjal, dan berbagai kegagalan organ lainnya, termasuk berimplikasi pada fertilitas (Rzymskiet al., 2015).

(26)

10

al., 2015). Plumbum merupakan salah satu penyebab kontaminasi lingkungan. Plumbum dapat menyebabkan defisit neurologis seperti retardasi mental pada anak (Hossen et al., 2015). Kadar plumbum yang tinggi di dalam darah juga dapat berdampak pada gangguan atensi, hiperaktifitas, dan perilaku impulsif (Rzymskiet al., 2015).

Plumbum masuk kedalam tubuh dapat melalui sistem pencernaan maupun sistem pernafasan. Setelah masuk kedalam tubuh, plumbum diabsorbsi dan diangkut oleh darah ke organ-organ tubuh. Sebanyak 95% plumbum yang diangkut tersebut diikat oleh eritrosit. Sebagian Plumbum akan terakumulasi dalam jaringan lunak yaitu hati, ginjal, otak, aorta, dan kulit. Eksresi Plumbum melalui urin sebanyak 75% sampai 80%, melalui feses 15%, dan lainnya melalui empedu, keringat, rambut, dan kuku (Ardyanto, 2005). Paparan jangka panjang dapat memicu proses degeneratif progresif dari fisik, otot, dan neurologis yang dapat menimbulkan berbagai pernyakit sklerosis mulitpel, penyakit Parkinson, penyakit Alzeimer dan distropi otot (Jaishankaret al.,2014).

2.2.2 Efek Plumbum terhadap Infertilitas

(27)

11

(Chen dan Jiang, 2015). Infertilitas telah menjadi tantangan medis yang serius. Sekitar 15% hingga 30% pasangan didiagnosis oleh intfertilitas yang belum dapat dijelaskan. Tidak dapat dipungkiri bahwa gaya hidup dan kualitas lingkungan memegang peran penting dalam reproduksi manusia (Rzymskiet al., 2015).

Secara umum, kesuburan reproduksi manusia dapat menurun dengan penurunan kualitas semen dan infertilitas pria. Faktor polutan lingkungan paparan okupasi dan gaya hidup merupakan beberapa kemungkinan penyebab dari penurunan kesuburan. Toksikan yang berpengaruh terhadap sistem reproduksi secara umum dikategorikan dalam produk perminyakan, agrokimia, bahan industri, dan logam berat. Efek dari paparan toksikan terhadap infertilitas pria telah banyak dilaporkan (Wijesekaraet al., 2015).

(28)

12

yang memicu produksi Reactive Oxygen Spesies (ROS) yang dapat menyebabkan kerusakan testis (Wijesekaraet al., 2015).

2.3 Kitosan

2.3.1 Struktur Kitosan

Kitin tersebar luas di alam dan merupakan polisakarida yang paling melimpah kedua setelah selulosa. Kitin merupakan komponen struktural utama pada eksoskeleton kepiting dan udang serta dinding sel pada jamur. Kitosan merupakan turunan kitin. Kitin dan kitosan memiliki sifat non toksik, antimikroba dan agen hidrasi. Kitin dan kitosan juga digunakan dalam berbagai apliaksi biomedis seperti obat, penyembuh luka, perbaikan jaringan dan stem sel (Azumaet al., 2015).

(29)

13

Gambar 3.Struktur kitin dan kitosan (Younes dan Rinoudo, 2015)

Kitin merupakan golongan homopolisakarida yang mempunyai berat molekul tinggi dan merupakan polimer linier dari N-asetil-D-glukosamin yang dirangkai oleh ikatan β dengan komposisi molekul [(C8H13NO5)n]. Sedangkan kitosan adalah N-deasetilasi turunan kitin dengan komposisi molekul [(C6H11NO4)n] (Chandumpaiet al., 2004).

2.3.2 Sumber Kitosan

Sumber utama pembuatan serbuk kitosan adalah kitin, kitin diisolasi dari eksoskleton berbagai krustasea, terutama kepiting dan udang. Kitin merupakan komponen utama dari struktur tubuh hewan golongan

(30)

14

2.3.3 Manfaat Kitosan

Kitosan bersifat polielektrolit kation yang dapat mengikat logam berat, sehingga dapat berfungsi sebagai adsorben terhadap logam. Prinsip dasar dalam mekanisme pengikatan antara kitosan dan logam berat adalah prinsip penukar ion. Gugus amino khususnya nitrogen dalam kitosan akan beraksi dan mengikat logam. Kitosan sebagai polimer kationik yang dapat mengikat logam dimana gugus amino yang terdapat pada kitosan berikatan dengan logam dapat membentuk ikatan kovalen. Gaya yang bekerja yaitu gaya Van der Walls, gaya elektrostatik, ikatan hidrogen dan ikatan kovalen. Standarisasi penyerapan limbah logam dengan kitosan sebesar ≥ 70% (Margnarof, 2003).

(31)

15

2.4 Kerangka Teori

(32)

16

Keterangan:

: Menghalangi proses kerusakan

: Yang diteliti

Gambar 4. Kerangka Teori Pengaruh Kitosan Terhadap Jumlah Sel Spermatogenik dan Spermatozoa Mencit (Mus musculus L) Yang Diinduksi Plumbum Asetat

Plumbum

Air Tanah

Udara

Masuk kedalam tubuh

Merusak Testis bagian tubulus seminiferus

Penurunan jumlah sel spermatogenik dan sel spermatozoa

Diberikan

Kitosansebagai absorben plumbum

Polusi

Kitosan akan bekerja sebagai

zat protektif pada testis

(33)

17

2.5 Kerangka Konsep

Pada gambar 5 dapat kita lihat kerangka konsep yang digunakan pada penelitian ini. Penelitian ini menggunakan lima kelompok percobaan, dibagi menjadi kelompok normal,

Keterangan :

K (-) = Mencit yang tidak diberikan perlakuan

K (+) = Mencit yang hanya diinduksi plumbum tanpa diberikan kitosan P1 = Mencit yang diinduksi kitosan 0,5% dan plumbum

P2 = Mencit yang diinduksi kitosan 0,75% dan plumbum P3 = Mencit yang diinduksi kitosan 1% dan plumbum

Gambar 5. Kerangka Konsep K (-) : tidak diInduksi

Plumbum dan kitosan

K (+) : Induksi Plumbum

P1 : Plumbum + Kitosan 0,5%

P2 : Plumbum + Kitosan 0,75%

P3 : Plumbum + Kitosan 1%

Jumlah sel spermatozoa

dan sel spermatogenik

(34)

18

2.6 Hipotesis

1. Terdapat pengaruh pemberian kitosan terhadap jumlah sel spermatogenik mencit (Mus musculusL) yang diinduksi plumbum asetat.

(35)

Diambil sampel sebanyak 25 mencit Dipilih mencit dengan kriteria:

- Berat badan 20-30 gram - Jantan 80mg/kgBB setelah satu hari diberikan kitosan sebanyak 0,75% 80mg/kgBB setelah satu hari diberikan kitosan sebanyak 1%

(36)

✂ ✄

Penelitian ini merupakan eksperimental murni, dengan rancangan post-test control group design. Pada jenis penelitian ini, pre-test tidak dilakukan karena kasus-kasus telah dirandomisasi baik pada kelompok perlakuan maupun pada kasus-kasus kelompok kontrol. Kelompok-kelompok tersebut dianggap homogen sebelum diberikan penelitian. Dengan rancangan ini, peneliti dapat membandingkan hasil perlakuan antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Proses dalam pelaksanaan atau desain penelitian ini dapat dilihat pada gambar 5.

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan pada September hingga November 2015. Penelitian akan dilaksanakan di laboratorium patologi anatomi dan pet house yang ada di Fakultas Kedoktersan Universitas Lampung.

3.3 Populasi

Populasi yang digunakan pada penelitian ini adalah kelompok mencit jantan galur balb/c yang diternakkan di Balai Penelitian dan Pengujian Veteriner, Bogor.

3.4 Sampel

(37)

☎ ✆

~

percobaan, yaitu sekitar 40-80%. Mencit memiliki banyak keunggulan sebagai hewan percobaan, yaitu siklus hidup yang relatif pendek, jumlah anak per kelahiran banyak, variasi sifat-sifatnya tinggi dan mudah dalam penanganannya (Moriwaki, 1994).

Mencit (Mus muculus) dan tikus (Ratus norvegicus) merupakan omnivora alami, sehat, dan kuat, profilik, kecil, dan jinak. Selain itu, hewan ini juga mudah didapat dengan harga yang relatif murah dan biaya ransum yang rendah (Peter, 1976). Adapun besar sampel keseluruhan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 25 ekor. Dimana 25 ekor tikus putih tersebut dibagi dalam 5 kelompok uji, yang masing-masing kelompok uji terdiri dari 5 ekor tikus putih. Perhitungan besar sampel dihitung dengan rumus Federer sebagai berikut:

(t-1)(n-1)≥ 15

(5-1)(n-1)≥ 15

4n-4≥ 15

4n≥ 19

n≥ 4,75 ~ 5

Kriteria inklusi sampel pada penelitian adalah: 1. Sehat

2. Memliki berat badan 20-30 gram 3. Jenis kelamin jantan

(38)

✝✝

Kriteria eksklusi sampel pada penelitian adalah:

1. Sakit (Penampakan rambut botak atau rontok, kusam, dan aktifitas tidak aktif)

2. Terdapat penurunan berat badan lebih dari 10% setelah masa aklimatisasi

Jadi mencit tiap kelompok berjumlah 5 ekor dan terdapat lima kelompok sehingga jumlah mencit yang digunakan 25 ekor.

3.5 Bahan dan Alat Penelitian

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut

- Mencit (Mus musculus) jantan berusia 2-3 bulan dengan berat 200-300 gram dan sehat

- Kitosan - Pb Asetat - Aquades

Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut - Spuit 1 cc/ml

- Neraca

- Box Ukuran Besar - Minor Set

(39)

✞ ✟

3.6 Identifikasi Variabel Penelitian

Variabel penelitian yang kami gunakan adalah sebagai berikut :

1) Variabel Independen 1. Kitosan Cair 2. Plumbum Asetat

2) Variabel Dependen

Variabel dependen adalah jumlah sel spermatozoa dan sel spermatogenik mencit putih(Mus musculus L.)jantan strain balb/c.

3.7 Definisi Operasional

(40)

✠ ✡

Tabel 1. Definisi Operasional

Variabel Definisi Operasional

Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala

(41)

☛ ☞

3.8 Alur Penelitian

Gambar 7. Diagram Alur Penelitian Mencit ditimbang sesuai kriteria

inklusi

Mencit diaklimatisasi selama 7 hari

K(-)

Diinduksi plumbum asetat 0,08 mg/gBB secara intraperitoneal setelah satu hari pemberian kitosan

Setelah Dua Hari

Mencit Putih dinarkosis dengan ketamine+silazine

Selama 4 hari diberi perlakuan

Sampel testis difiksasi formalin 10%

Sampel testis dikirim ke Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung untuk pembuatan preparat histopatologi

Pengamatan sediaan histopatologi dengan mikroskop

(42)

✌6

3.9 Analisis Data

Kelompok penelitian ini terdiri atas lima kelompok yaitu satu kelompok kontrol positif, satu kelompok kontrol negatif, dan tiga kelompok perlakuan. Hasil penelitian diuji secara statistik dengan uji normalitas (Shapiro-Wilk) dan homogenitas (Levene). Distribusi data normal dan varian data tidak homogen, sehingga persyaratan untuk dilakukan uji One-Way Anova tidak terpenuhi. Dilanjutkan dengan metode uji Kruskal Wallis. Pada uji Kruskal Wallis

didapatkan hasil p<0,05 (hipotesis dianggap bermakna), dilanjutkan dengan melakukan analisis Mann-Whitney untuk mengetahui perbedaan antar kelompok yang lebih rinci.

3.10 Etik Penelitian

(43)

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Pemberian Kitosan berpengaruh terhadap jumlah sel spermatogenik mencit putih jantan (Mus MusculusL) galur balb/c yang diinduksi plumbum asetat. 2. Pemberian Kitosan berpengaruh terhadap jumlah sel spermatozoa mencit

putih jantan (Mus MusculusL) galur balb/c yang diinduksi plumbum asetat.

5.2 Saran

1. Peneliti lain disarankan untuk menguji lebih lanjut toksisitas Plumbum dan efektivitas kitosan.

2. Peneliti lain disarankan untuk menguji jumlah sel spermatogenik dan spermatozoa secara lebih rinci mulai dari sel spertogonium, spermatosit primer, spermatosit sekunder, spermatid, dan spermatozoa .

(44)

DAFTAR PUSTAKA

Adnan S. 2001. Pengaruh pajanan timbal terhadap kesehatan dan kualitas semen pekerja laki-laki. Majalah Kedokteran Indonesia. 51(5): 168-74.

Ardyanto D. 2005. Deteksi pencemaran timah hitam (Pb) dalam darah masyarakat yang terpajan timbal (plumbum).JKL. 2(1): 67–76.

Azuma K, Izumi R, Osaki T, Ifuku S, Morimoto M. 2015. Functional biomaterials chitin, chitosan, and its derivatives for wound healing: old and new materials.J Funct Biomater. 6(1): 104–42.

Badan Pusat Statistik (BPS).Jumlah Penduduk Indonesia. Tersedia pada: http://www.bps.go.id/, diakses pada tanggal 5 Juli 2015.

Chandumpai A, Singhpibulporn N, Faroongsarng D, Sornprasit P. 2004. Preparation and physico-chemical characterization of chitin and chitosan from the pens of the squid species, loligo lessoniana and loligo formosana.

Carbohydr Polym. 58(4): 467–74.

Chen S, Jiang W. 2015. Effect of hydrogen injected subcutaneously on testicular tissues of rats exposed to cigarette smoke. Int J Clin Exp Med. 8(4): 5565– 70.

Dicky MR, Valentina SH. 2008. Pengaruh pemberian ekstrak etanol herba sambiloto (andrographis paniculata) terhadap tubulus seminiferus mencit jantan.Traditional Medicine Journal.13(44): 3-5.

El-fattah HMA, Hassnin EA, El-rahman MKA, Hassan LE. 2013. Chitosan as a hepato-protective agent against single oral dose of dioxin. IOSR-JESTFT.

(45)

Fernandez-Kim SO. 2004. Phsycochemical and functional properties of crawfish chitosan as effected by different processing protocols. Thesis The Departement of Food Science. Seoul National University.

Guyton AC 2007.Buku ajar fisiologi kedokteran.Jakarta: EGC.

Hariono B. 2005. Efek pemberian plumbum (timah hitam) organic pada tikus putih (Rattus norvegicus).Jurnal Sain Veteriner.23(2): 125-34.

Hossen F, Hamdan S, Rahman R. 2015. Review on the risk assessment of heavy metals in malaysian clams.The Scientific World Journal.2015: 1-7

Jaishankar M, Tseten T, Anbalagan N, Mathew BB, Beeregowda KN. 2014. Toxicity , mechanism and health effects of some heavy metals.Open Access Journal. 7(2): 60–72.

Junqueira LC & Carneiro J. 2007.Basic Histology text & atlas 11thEd.Sao Paulo: McGraw-Hills.

Kumar ABV, Varadaraj MC, Gowda LR, Tharanathan R. 2005. Characterization of chitooligosaccharides prepared by chitosanolysis with the aid of papain and pronase, and their bactericidal action against bacillus cereus and escherichia coli.Biochem Journal.391: 167–75.

Madiha MMM, Heba MSEldien, Dorreia AMZ, Eman EAD, Nesreen GAH. 2008. The effect of lead acetate on testicular structure and protective effect of vitamin e in adult albino rat.Egypt Journal of Hist.31(2): 406-18.

Margnarof. 2003. Potensi limbah udang sebagai penyerap logam berat (timbal, kadmium, dan tembaga) di perairan. Jurnal Program Pasca sarjana (S3).

12(2): 172-84

Mescher AL. 2011. Histologi dasar junqueira teks & atlas. Jakarta: EGC.

(46)

Neely M. 1969. Chitin and its derivates in industrial. California: Gums Kelco Company.

Peter WL. 1976.The laboratory mouse.New York: Edinburg.

Rajalakshmi A, Krithiga N, Jayachitra A. 2013. Antioxidant activity of the chitosan extracted from shrimp exoskeleton.Middle East J Sci Res. 16(10): 1446–51.

Rismana E. 2003. Serat kitosan mengikat lemak. Jakarta: Pusat P2 Teknologi Farmasi.

Rzymski P, Tomczyk K, Rzymski P, Poniedziałek B, Opala T. 2015. Impact of heavy metals on the female reproductive system. Ann Agric Environ Med. 22(2): 259–64.

Sudarmaji, Mukono J, Corie IP. 2006. Toksikologi logam berat b3 dan dampaknya terhadap kesehatan.JKL. 2(2): 129-42.

Sujatha K, Srilatha CH, Anjanejului Y, Amaravathi P. 2011. Lead acetate induced nephrotoxicity in wistar albino rats apathological, imunohistochemical and ultrastruktural studies.Int J Pharm Biol Sci. 2: 459-69.

Susianti, Pebriansyah R, Kurniawati E. 2012. Pengaruh pemberian ekstrak etanol jahe putih (Zingiber officinale roscoe) terhadap gambaran histopatologi testis mencit (Mus musculus L.) jantan galur DDY yang diinduksi etanol.

Jurnal Kedokteran Universitas Lampung.2(2): 5-11

Thomson PN, 2015, Role of chitosan on the spermatogenesis disruptionof rat (rattussp.) after plumbum-acetate administration.Int J PharmTech Res.8(2): 213-20.

(47)

Wijesekara GUS, Fernando DMS, Wijerathna S, Bandara N. 2015. Environmental and occupational exposures as a cause of male infertility.Ceylon Med J.60: 52–6.

Wuryantari O. 2011. Korelasi pengendara sepeda motor berstatus smp terhadap lalu lintas. Tersedia pada: http://publikasi.umy.ac.id/index.php/sipil/article/view/2222/2564, diakses tanggal 5 Juli 2015.

Figur

Gambar 1. Histologi Testis Mencit (Junqueira & Carneiro 2007)

Gambar 1.

Histologi Testis Mencit (Junqueira & Carneiro 2007) p.22
Gambar 2. Spermatogenesis Mencit (Junqueira dan Carneiro, 2007)

Gambar 2.

Spermatogenesis Mencit (Junqueira dan Carneiro, 2007) p.24
Gambar 3.Struktur kitin dan kitosan (Younes dan Rinoudo, 2015)

Gambar 3.Struktur

kitin dan kitosan (Younes dan Rinoudo, 2015) p.29
Gambar 4.Kerangka TeoriPengaruh Kitosan Terhadap Jumlah SelSpermatogenik dan Spermatozoa Mencit (Mus musculus L) YangDiinduksi Plumbum Asetat

Gambar 4.Kerangka

TeoriPengaruh Kitosan Terhadap Jumlah SelSpermatogenik dan Spermatozoa Mencit (Mus musculus L) YangDiinduksi Plumbum Asetat p.32
Gambar 5. Kerangka Konsep

Gambar 5.

Kerangka Konsep p.33
Gambar 6. Desain Penelitian

Gambar 6.

Desain Penelitian p.35
GambaranOrdinal
GambaranOrdinal p.40
Gambar 7. Diagram Alur Penelitian

Gambar 7.

Diagram Alur Penelitian p.41

Referensi

Memperbarui...