ANALISIS KRIMINOLOGIS PENYEBAB TINDAK PIDANA PENCURIAN KENDARAAN BERMOTOR YANG DILAKUKAN OLEH

48  14  Download (0)

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

ANALISIS KRIMINOLOGIS PENYEBAB TINDAK PIDANA PENCURIAN KENDARAAN BERMOTOR YANG DILAKUKAN OLEH

ANAK

Oleh Bryan Efendi

Kejahatan yang sering terjadi akhir-akhir ini dan sangat mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat adalah kejahatan pencurian kendaraan bermotor. Pencurian kendaraan bermotor merupakan salah satu jenis kejahatan terhadap harta benda yang banyak menimbulkan kerugian dan meresahkan masyarakat luas. Bahkan akhir-akhir ini banyak kasus pencurian kendaraan bermotor yang dilakukan oleh remaja, yang mana dalam hal ini usia mereka masih digolongkan dalam usia anak. Apakah yang menjadi faktor penyebab terjadinya tindak pidana pencurian kendaraan bermotor yang dilakukan oleh anak dan bagaimanakah upaya yang harus dilakukan untuk menanggulangi terjadinya tindak pidana pencurian sepeda motor yang dilakukan oleh anak.

Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan secara yuridis normatif dan pendekatan yuridis empiris. Sumber dan jenis data dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dari studi lapangan dengan melakukan wawancara terhadap Polisi, Hakim, Kepolisian Khusus Lapas, beberapa anak pelaku tindak pidana pencurian kendaraan bermotor, dan Dosen Fakultas Hukum. Data sekunder diperoleh dari studi kepustakaan. Data yang diperoleh kemudian diolah dengan cara memeriksa dan mengoreksi data, setelah data diolah yang kemudian dianalisis secara analisis kualitatif guna memperoleh suatu kesimpulan yang memaparkan kenyataan-kenyataan yang diperoleh dari penelitian.

(2)

Saran yang diberikan penulis adalah sebaiknya orang tua memberikan arahan dan contoh yang baik, serta memberikan perhatian untuk anak mereka dan juga mengawasi pergaulan si anak. Mengenai upaya penanggulangan anak yang terbukti melakukan tindak pidana pencurian kendaraan bermotor sebaiknya wajib mengutamakan pendekatan keadilan restoratif dengan tujuan mencari penyelesaian yang adil dengan menekankan kembali pada keadaan semula dan bukan pembalasan. Diversi atau proses di luar peradilan pidana seharusnya lebih di utamakan mengingat pelaku masih tergolong dalam usia anak.

(3)

ANALISIS KRIMINOLOGIS PENYEBAB TINDAK PIDANA PENCURIAN KENDARAAN BERMOTOR YANG DILAKUKAN OLEH

ANAK

Oleh BRYAN EFENDI

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar

SARJANA HUKUM

Pada

Bagian Hukum Pidana

Fakultas Hukum Universitas Lampung

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG

(4)

ANALISIS KRIMINOLOGIS PENYEBAB TINDAK PIDANA PENCURIAN KENDARAAN BERMOTOR YANG DILAKUKAN OLEH

ANAK

(Skripsi)

Oleh BRYAN EFENDI

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)

DAFTAR ISI

Halaman

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ………...………...1

B. Perumusan Masalah dan Ruang Lingkup ………....6

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ………....7

D. Kerangka Teoritis dan Konseptual ………8

E. Sistematika Penulisan ………13

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Kriminologi ………....16

B. Pengertian Tindak Pidana dan Pencurian ………18

C. Pengertian Anak dan Perlindungan Anak ………...20

D. Faktor Penyebab Kejahatan dan Kenakalan Anak ………....23

E. Teori Tentang Penanggulangan Kejahatan dan Penanggulangan Kenakalan Anak ………....27

III.METODE PENELITIAN A. Pendekatan Masalah ………....31

B. Sumber dan Jenis Data ………...….31

C. Penentuan Populasi dan Sampel ………33

D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data ………34

(8)

B. Faktor Penyebab Tindak Pidana Pencurian Kendaraan Bermotor yang

Dilakukan oleh Anak ……….39

C. Upaya Menanggulangi Tindak Pidana Pencurian Kendaraan Bermotor

yang Dilakukan Oleh Anak ………..……….47

V. PENUTUP

A. Simpulan ………...………56

B. Saran ……….57

(9)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Generasi muda merupakan penerus cita-cita dan perjuangan bangsa dimasa yang

akan datang. Oleh sebab itu anak sebagai generasi penerus bangsa memerlukan

perlindungan untuk menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisiknya, serta

mental sosialnya. Mengingat usia yang masih relatif muda, anak biasanya

memiliki keinginan yang sangat tinggi tanpa diimbangi dengan kontrol diri yang

sesuai, dan hal ini menyebabkan seorang anak melakukan perbuatan menyimpang

yang tidak sesuai dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat, sehingga

menimbulkan pelanggaran yang menjurus ke suatu tindak pidana.

Pasal 28 B Ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa setiap anak

berhak untuk kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas

perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, serta hak sipil dan kebebasan.

Dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia

(HAM) dicantumkan mengenai hak-hak anak dalam bagian kesepuluh tepatnya

dari Pasal 52 sampai dengan Pasal 66. Dengan demikian dapat diketahui bahwa

anak adalah termasuk subyek dan warga negara yang berhak atas perlindungan

hak konstitusionalnya sebagai warga negara. Dalam upaya perlindungan dan

(10)

tidak diskriminatif kepada anak, untuk mewujudkannya diperlukan dukungan

suatu lembaga dan peraturan perundang-undangan yang dapat menjamin

pelaksanaanya.

Negara Indonesia adalah negara yang didasarkan pada hukum, seperti yang telah

diketahui negara hukum bertujuan untuk menciptakan adanya ketertiban,

keamanan, keadilan dan kesejahteraan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Hukum tidak lagi dilihat sebagai refleksi kekuasaan semata-mata tetapi juga harus

memancarkan perlindungan terhadap hak-hak warga negara.1 Seperti halnya

negara hukum lainnya perlindungan terhadap hak asasi manusia (HAM) di

Indonesia dijamin dan diiringi dengan kewajiban untuk mewujudkan adanya

ketertiban, keamanan, keadilan dan kesejahteraan dalam kehidupan berbangsa dan

bernegara sehinggga perlu dilakukan upaya penanggulangan terhadap suatu tindak

pidana, termasuk tindak pidana yang dilakukan oleh anak.

Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dibentuk

berdasarkan pada pertimbangan bahwa anak merupakan bagian dari kegiatan

pembangunan nasional, khususnya dalam memajukan kehidupan berbangsa dan

bernegara. Negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orang tua berkewajiban

dan bertanggung jawab atas perlindungan anak. Negara dan pemerintah

bertanggungjawab menyediakan sarana dan prasarana dalam perlindungan anak.

Masyarakat, keluarga dan orang tua bertanggung jawab untuk menjaga dan

memelihara hak asasi anak tesebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan

ini.

1 Muladi,

(11)

Tujuan peradilan bukan semata-mata hanya menyatakan terbukti tidaknya suatu

peristiwa konkrit dan kemudian menjatuhkan putusan saja, melainkan

menyelesaikan perkara. Putusan itu harus menuntaskan perkara, jangan sampai

putusan itu tidak dapat dilaksanakan atau menimbulkan perkara atau masalah

baru. Mengingat bahwa anak harus mendapatkan perlindungan dan oleh karena itu

perlu mendapatkan perhatian dan perlakuan khusus pula maka dalam peradilan

anak ini, janganlah hendaknya menitikberatkan kepada terbukti tidaknya

perbuatan atau pelanggaran yang dilakukan si anak semata-mata, tetapi harus

diperhatikan dan dipertimbangkan latar belakang dan sebab-sebab serta motivasi

pelanggaran atau perbuatan yang dilakukan oleh si anak dan apa kemungkinan

akibat putusan itu bagi si anak demi masa depan si anak. Oleh karena itu, dalam

peradilan anak diperlukan kebebasan hakim dan perumusan undang-undang yang

umum. Kiranya kita semua sepakat bahwa anak harus mendapat perlakuan dan

perhatian yang khusus sehingga peradilan anak perlu dilakukan secara khusus

pula.2

Semakin berkembangnya peradapan manusia dan kemajuan teknologi dari masa

ke masa, kebutuhan kepentingan hidup manusia maka semakin bertambah pula.

Hal ini selain membawa dampak positif juga membawa dampak negatif, sebab

akan memungkinkan bertambahnya kemungkinan terjadinya suatu tindak pidana.

Tanpa disadari manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang beraneka

ragam sering menghalalkan berbagai cara tanpa mengindahkan norma-norma

hukum yang berlaku dimasyarakat. Sampai saat ini kejahatan masih sering terjadi

2

(12)

bahkan semakin berkembang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan

teknologi yang semakin canggih.

Kejahatan yang sering terjadi akhir-akhir ini dan sangat mengganggu ketertiban

dan keamanan masyarakat adalah kejahatan pencurian kendaraan bermotor

khususnya sepeda motor. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)

kejahatan mengenai pencurian diatur dalam buku ke-2 Bab XXII khususnya mulai

dari Pasal 362 sampai dengan Pasal 367.3 Pencurian kendaraan bermotor

merupakan salah satu jenis kejahatan terhadap harta benda yang banyak

menimbulkan kerugian dan meresahkan masyarakat luas, berdasarkan catatan

Polresta Bandar Lampung dari bulan Januari sampai Oktober tahun 2013 terdapat

118 kasus pencurian kendaraan bermotor dan berhasil menangkap 23 (dua puluh

tiga) Tersangka, 8 (delapan) diantaranya dilakukan oleh remaja, dalam hal ini usia

mereka masih digolongkan dalam usia anak.4

Contoh kasus terjadi pada tanggal 23 september 2013 Polresta Bandar Lampung

meringkus lima orang tersangka pencurian kendaraan bermotor dengan modus

melibatkan teman perempuannya untuk menduplikat kunci motor. Lima tersangka

yang diringkus adalah BN (16 tahun), BF (16 tahun), Somadiah (18 tahun), Didi

(21 tahun) dan Dede (21 tahun). Kompeloton ini sudah sering melakukan

pencurian sepeda motor. BF mengakui telah melakukan pencurian sepeda motor,

3

Tri Andrisman, Delik Tertentu Dalam KUHP, Bandar Lampung, Universitas Lampung, 2011, hlm. 157.

4

(13)

BF mengatakan BG dan TR yang sekarang buron juga merupakan teman mainnya

dalam melakukan pencurian sepeda motor.5

Kasus pencurian sepeda motor yang dilakukan oleh anak juga terjadi di Bandar

Lampung tepatnya di Kecamatan Tanjung Karang Barat. Atas laporan dari warga

yang merasa kehilangan kendaraan bermotor miliknya. Kemudian dari laporan itu

petugas melakukan lidik dan akhirnya berhasil diamankan pelaku yang berinisial

DK (16 tahun), setelah penangkapan tersangka yang berinisial DK itu, petugas

melakukan pengembangan dan berhasil mengamankan pelaku lainnya atas nama

R.M. Nangling (19 tahun) di kediamannya. Kronologis pencurian yang dilakukan

kedua pelaku tersebut mengambil motor milik korban atas nama Chairul Anwar

(15 tahun) warga Kaliawi, Tanjungkarang Pusat, yang diparkir di depan kos-kosan

miliknya.6

Pencurian sepeda motor yang dilakukan oleh anak ini memerlukan penanganan

khusus dan serius terutama dari faktor kriminologisnya. Kriminologi sendiri

biasanya dibagi tiga bagian: pertama criminal biology, yang menyelidiki dalam

diri orang itu sendiri akan sebab-sebab dari perbuatannya, baik dalam jasmani

maupun rohaninya. Kedua criminal sosiology, yang mencari sebab-sebab itu

dalam lingkungan masyarakat dimana penjahat itu berada. Ketiga criminal policy,

yaitu tindakan apa yang sekiranya harus dijalankan supaya orang lain tidak

berbuat demikian pula.7

5

Wakos Reza, Polisi Ringkus Jaringan Curanmor, Bandar Lampung, Tribun Lampung, 26 September 2013, hlm. 11.

6

Lihat http://lampost.co/berita/bandar-lampung-dua-pelaku-curanmor-ditangkap. diakses 1 September 2013 Pukul 13.45

7

(14)

Terhadap tindak pidana yang dilakukan oleh anak proses penanggulangan dan

penerapan sanksi pidananya berbeda dengan tindak pidana yang dilakukan oleh

orang dewasa. Hal ini sesuai dengan ketentuan hukum acara yang terdapat dalam

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak. Mengingat

penerapan sanksi pidana terhadap anak yang melakukan tindak pidana tidak hanya

sebagai pembalasan terhadap perbuatan yang dilakukan tetapi sebagai upaya

untuk membina anak supaya dapat berprilaku baik dan agar si anak tidak

melakukannya lagi dikemudian hari.

Berdasarkan uraian latar belakang diatas penulis tertarik untuk menulis skripsi

dengan judul: “Analisis Kriminologis Penyebab Tindak Pidana Pencurian

Kendaraan Bermotor yang Dilakukan Oleh Anak”.

B. Perumusan Masalah dan Ruang Lingkup

1. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang yang penulis uraikan di atas, maka yang menjadi

permasalahan adalah:

a. Apakah yang menjadi faktor penyebab terjadinya tindak pidana pencurian

kendaraan bermotor yang dilakukan oleh anak?

b. Bagaimanakah upaya yang harus dilakukan untuk menanggulangi terjadinya

(15)

2. Ruang Lingkup

Agar penelitian dapat lebih terfokus dan terarah sesuai dengan penulis maksud,

maka sangat penting dijelaskan terlebih dahulu batasan-batasan atau ruang

lingkup penelitian termasuk kedalam kajian Hukum Pidana. Ruang lingkup

tempat penelitian dibatasi pada wilayah hukum Polda Lampung, Pengadilan

Negeri Tanjungkarang, Lapas Anak Kelas III Bandar Lampung, dan Fakultas

Hukum Universitas Lampung, penelitian dilakukan pada tahun 2013, mengenai

Analisis Kriminologis Penyebab Tindak Pidana Pencurian Kendaraan Bermotor

yang Dilakukan Oleh Anak.

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang diajukan maka tujuan penelitian ini adalah

sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan tindak pidana pencurian

kendaraan bermotor yang dilakukan oleh anak.

b. Untuk mengetahui upaya-upaya penanggulangan penyebab tindak pidana

pencurian kendaraan bermotor yang dilakukan oleh anak.

2. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik secara teoritis maupun

(16)

a. Kegunaan Teoritis

Kegunaan teoritis penulisan ini adalah untuk memberikan sumbangan bagi

pengembangan ilmu pengetahuan hukum dan memperluas wawasan keilmuan

penulis agar dapat dipakai sebagai kajian dalam menentukan langkah

kebijaksanaan guna menanggulangi masalah pencurian kendaraan bermotor

yang dilakukan oleh anak.

b. Kegunaan Praktis

Diharapkan hasil penulisan ini dapat berguna bagi masyarakat dan bagi aparat

penegak hukum dalam memperluas dan memperdalam ilmu hukum khususnya

ilmu hukum pidana dan juga bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya dan

bagi aparatur penegak hukum pada khususnya untuk menambah wawasan

dalam berfikir dan dapat dijadikan sebagai masukan dalam rangka pembaruan

hukum pidana.

D. Kerangka Teoritis dan Konseptual

1. Kerangka Teoritis

Kerangka teoritis adalah konsep-konsep yang sebenar-benarnya merupakan

abstraksi dan hasil pemikiran dan atau kerangka acuan yang pada dasarnya

bertujuan untuk mengadakan kesimpulan terhadap dimensi-dimensi sosial yang

dianggap relevan untuk penelitian.8

Adapun teori-teori yang berkaitan dalam penelitian ini adalah mencakup teori

sebab terjadinya kenakalan anak dan juga cara penganggulangannya.

8

(17)

Menurut Kartini Kartono ada empat teori mengenai sebab terjadinya kenakalan

anak antara lain:9

a. Teori Biologis

Tingkah laku sosiopatik atau delikuen pada anak dan remaja dapat muncul karena

faktor-faktor fisiologis dan stuktur jasmanian sesorang, juga dapat oleh cacat

jasmanian yang dibawa sejak lahir. Kejadian ini berlangsung:

1. Melalui gen atau plasma pembawa sifat dalam keturunan, atau melalui

kombinasi gen, dapat juga disebabkan oleh tidak adanya gen tertentu, yang

semuanya bisa memunculkan penyimpangan tingkah laku.

2. Melalui pewarisan tipe-tipe kecenderungan yang luar biasa (abnormal).

3. Melalui pewarisan kelemahan konstitusional jasmaniah tertentu yang

menimbulkan tingkah laku delikuen atau sosiopatik.

b. Teori Psikogenis

Teori ini menekankan sebab-sebab tingkah laku delikuen anak-anak dari aspek

psikologis atau isi kejiwaannya. Antara lain faktor intelegensi, ciri kepribadian ,

motivasi sikap-sikap yang salah, fantasi, rasionalisasi, internalisasi diri yang

keliru, konflik batin, emosi yang kontroversal, kecenderungan psikopatologis, dan

lain-lain.

c. Teori Sosiogenis

Para sosiolog berpendapat penyebab tingkah laku delikuen pada anak-anak remaja

ini adalah murni sosiologis atau sosio-psikologis sifatnya. Misalnya disebabkan

9

(18)

oleh pengaruh struktur sosial yang deviaktif, tekanan kelompok, peranan sosial,

status sosial atau internalisasi simbolis yang keliru. Maka faktor-faktor kultural

dan sosial itu sangat mempengaruhi, bahkan mendominasi struktur

lembaga-lembaga sosial dan peranan sosial setiap induvidu ditengah masyarakat, status

induvidu ditengah kelompoknya, partisipasi sosial, dan pendefisian diri atau

konsep dirinya.

d. Teori sukulter Delikuensi

Sejak 1950 ke atas banyak terdapat perhatian pada aktivitas-aktivitas gang yang

terorganisir dengan subkultur-subkulturnya. Adapun sebabnya adalah:

1. Bertambahnya dengan cepat jumlah kejahatan, dan meningkatnya kualitas

kekerasan serta kekejaman yang dilakukan oleh anak-anak remaja yang

memiliki subkultur delikuen.

2. Meningkatnya jumlah kriminalitas mengakibatkan sangat besarnya kerugian

dan kerusakan secara universal, terutama terdapat di negara-negara industri

yang sudah maju, disebabkan oleh meluasnya kejahatan anak-anak remaja.

Menurut teori subkultur ini, sumber juvenile delikuency ialah sifat-sifat suatu

struktur sosial denag pola budaya (subkultur) yang khas dari lingkungan familial,

tetangga dan masyarakat yang dialami oleh para remaja delikuen tersebut.

Sifat-sifat masyarakat tersebut antara lain:

1. Punya populasi yang padat

2. Status sosial penghuninya rendah

3. Kondisi fisik perkampungan yang sangat buruk

(19)

Menurut Kartini Kartono penanggulangan kenakalan anak dapat dilakukan

melalui tiga tahapan yaitu:10

1. Tindakan preventif salah satunya berupa: mendirikan tempat latihan untuk

menyalurkan kreativitas para anak delinkuen dan nondelinkuen, misalnya

berupa latihan mandiri, latihan hidup bermasyarakat, latihan persiapan untuk

bertransmigrasi dan lain-lain.

2. Tindakan hukuman bagi anak delinkuen antara lain dapat berupa menghukum

mereka sesuai dengan perbuatannya, sehingga dianggap adil dan bisa

menggugah berfungsinya hati nurani sendiri untuk hidup susila dan mandiri.

3. Selanjutnya tindakan kuratif bagi usaha penyembuhan anak delinkuen salah

satunya berupa menghilangkan semua sebab-musabab timbulnya kejahatan

anak, baik yang berupa pribadi, familial, sosial, ekonomi dan kultural.

Berkaitan dengan penggunaan sarana penal dan non-penal, khusus untuk

kebijakan penganggulangan kenakalan anak, kondisinya tidak berbeda.

Penggunaan sarana nonpenal diberi porsi yang lebih besar daripada sarana penal,

berarti ada kebutuhan dalam konteks penanggulangan kenakalan anak,

pemahaman yang berorientasi untuk mencapai faktor-faktor yang menyebabkan

kenakalan anak. Kriminologi menepati posisi penting, disamping peranan

kriminologi yang melalui penelitian memahami hakikat dam latar belakang

kenakalan anak, juga menelusuri dan menemukan sarana nonpenal, pendekatan

kriminologi diperlukan dalam konteks penggunaan sarana penal.11

10

Ibid. hlm 96 11 Maidin Gultom,

(20)

2. Konseptual

Konseptual adalah kerangka yang menggambarkan hubungan antara

konsep-konsep khusus yang merupakan kumpulan dari arti-arti yang berkaitan dengan

istilah-istilah yang ingin atau yang diteliti.12

Berikut ini dibahas mengenai konsep atau arti dari beberapa istilah yang

digunakan dalam penulisan skripsi:

a. Analisis

Analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan, dan

sebagainya)untuk mengetahui keadaan sebenarnya (sebab musabab, duduk

perkaranya).13

b. Kriminologi

Kriminologi adalah ilmu pengetahuan ilmiah tentang:14 a) perumusan sosial

pelanggaran hukum, penyimpangan sosial, kenakalan, dan kejahatan; b) pola-pola

tingkah laku dan sebab musabab terjadinya pola tingkah laku yang termasuk

dalam kategori penyimpangan sosial, pelanggar hukum, kenakalan, dan kejahatan,

yang ditelusuri pada munculnya suatu peristiwa kejahatan, serta kedudukan dan

korban kejahatan dalam hukum dan masyarakat; c) pola reaksi sosial formal,

informal, dan non-formal terhadap penjahat, kejahatan, dan korban kejahatan.

Dalam pengertian tersebut termasuk melakukan penelitian ilmiah terhadap

12

Soerjono Soekanto, Op.Cit.,hlm.132. 13

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 2003, hlm.43.

14

(21)

pelanggaran hak asasi manusia, serta usaha Negara dalam mewujudkan

hak-hak asasi manusia dan kesejahteraan sosial.

c. Tindak Pidana

Tindak pidana adalah perbuatan melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang

oleh peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai perbuatan yang dilarang

dan diacam dengan pidana.15

d. Pencurian

Menurut Pasal 362 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Pencurian

adalah pengambilan barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan

orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum.

e. Kendaraan bermotor

Kendaraan bermotor adalah kendaraan yang digerakkan oleh peralatan teknis yang

berada pada kendaraan itu.16

f. Anak

Pasal 1 Butir 1 Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan

Anak menyebutkan Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas)

tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

E. Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan penulisan skripsi ini, maka penulis menguraikan secara garis

besar materi yang dibahas dalam skripsi ini dalam sistematika sebagai berikut:

15

(22)

I. PENDAHULUAN

Merupakan bab pendahuluan yang memuat tentang latar belakang, permasalahan

dan ruang lingkup, tujuan dan kegunaan penulisan, kerangka teoritis dan

konseptual, serta sistematika penulisan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Merupakan bab yang menjelaskan tentang pengantar pemahaman pada

pengertian-pengertian umum serta pokok bahasan. Adapun garis besar pada bab

ini adalah menjelaskan tentang pengertian kriminologi, pengertian tindak pidana,

pengertian anak dan perlindungan anak, faktor penyebab kenakalan anak,

penanggulangan kenakalan anak.

III. METODE PENELITIAN

Merupakan bab yang menjelaskan metode penelitian yang digunakan untuk

memperoleh dan mengolah data yang akurat. Adapun metode yang digunakan

terdiri dari pendekatan masalah, sumber dan jenis data, prosedur pengumpulan

dan pengolahan data serta analisis data.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini membahas tentang hasil penelitian dan pembahasan mengenai faktor

penyebab anak melakukan tindak pidana pencurian kendaraan bermotor, dan

mengetahui upaya penanggulangan tindak pidana pencurian kendaraan bermotor

(23)

V. PENUTUP

Bab ini merupakan bab penutup dan memuat kesimpulan secara rinci dari hal

penelitian dan pembahasan serta memuat saran penulis dengan permasalahan yang

(24)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Kriminologi

Kriminologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang kejahatan.

Nama kriminologi yang dikemukakan oleh P. Topinard (1830-1911) seorang ahli

antropologi Prancis, secara harfiah berasal dari kata “crimen” yang berarti

kejahatan atau penjahat dan “logos” yang berati ilmu pengetahuan, maka

kriminologi dapat berati ilmu tentang kejahatan atau penjahat.1

Bonger memberikan definisi kriminologi sebagai ilmu pengetahuan yang

bertujuan menyelidiki gejala kejahatan seluas-luasnya. Melalui definisi ini,

Bonger lalu membagi kriminologi ini membagi kriminologi murni yang

mencakup:2

1. Antropologi Kriminil adalah ilmu pengetahuan tentang manusia yang jahat (somatis). Ilmu pengetahuan ini memberikan jawaban atas pertanyaan tentang orang jahat dalam tubuhnya mempunyai tanda-tanda seperti apa? Apakah ada hubungan antara suku bangsa dengan kejahatan dan seterusnya.

2. Sosiologi Kriminil adalah ilmu pengetahuan tentang kejahatan sebagai suatu gejala masyarakat. Pokok persoalan yang dijawab oleh bidang ilmu ini adalah sampai dimana letak sebab-sebab kejahatan dalam masyarakat.

3. Psikologi Kriminil adalah ilmu pengetahuan tentang penjahat yang dilihat dari sudut jiwanya.

4. Psikopatologi dan Neuropatologi Kriminil ialah ilmu tentang penjahat yang sakit jiwa atau urat syaraf.

5. Penologi ialah ilmu tentang tumbuh dan berkembangnya hukuman

1 Topo Santoso, Kriminologi, Jakarta, PT RajaGrafindo Persada, 2001, hlm.7. 2

(25)

Disamping itu terdapat kriminologi terapan yang berupa:3

1. Higiene Kriminil adalah usaha yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kejahatan. Misalnya usaha-usaha yang dilakukan pemerintah untuk menerapkan undang-undang, sistem jaminan hidup, dan kesejahteraan yang dilakukan semata-mata untuk mencegah terjadinya kejahatan.

2. Politik Kriminil adalah usaha penanggulangan kejahatan dimana suatu kejahatan telah terjadi. Disini dilihat sebab-sebab seseorang melakukan kejahatan. Bila disebabkan oleh faktor ekonomi maka usaha yang dilakukan adalah meningkatkan ketermpilan atau membuka lapangan kerja. Jadi tidak semata-mata dengan penjatuhan sanksi.

3. Kriminalistik yang merupakan ilmu tentang pelaksanaan penyidikan tenik kejahatan dan pengusutan kejahatan.

Sutherland merumuskan kriminologi sebagai keseluruhan ilmu pengetahuan yang

bertalian dengan perbuatan jahat sebagai gejala sosial. Menurut Sutherland

kriminologi mencakup proses-proses pembuatan hukum, pelanggaran hukum, dan

reaksi atas pelanggaran hukum. Kriminologi olehnya dibagi menjadi tiga cabang

ilmu utama yaitu:4

1. Sosiologi Hukum

Kejahatan itu adalah perbuatan yang oleh hukum dilarang dan diancam dengan suatu sanksi. Jadi yang menentukan bahwa suatu perbuatan itu adalah kejahatan adalah hukum. Disini menyelidiki sebab-sebab kejahatan harus pula menyelidiki faktor-faktor apa yang menyebabkan perkembangan hukum (khususnya hukum pidana).

2. Etiologi Kejahatan

Merupakan cabang ilmu kriminologi yang mencari sebab-musabab kejahatan. Dalam kriminologi, etiologi kejahatan merupakan kajian yang paling utama. 3. Penology

Pada dasarnya merupakan ilmu tentang hukuman, akan tetapi Sutherland memasukan hak-hak yang berhubungan dengan usaha pengendalian kejahatan baik represif maupun preventif.

Paul Moedigdo Moeliono tidak sependapat dengan definisi yang diberikan oleh

Sutherland. Menurutnya definisi itu seakan akan tidak memberikan gambaran

3 Ibid. hlm. 8.

4

(26)

bahwa pelaku kejahatan itupun mempunyai andil atas terjadinya suatu kejahatan,

karena terjadinya kejahatan bukan semata-mata perbuatan yang ditentang oleh

masyarakat, akan tetapi adanya dorongan dari si pelaku untuk melakukan

perbuatan yang ditentang oleh masyarakat tersebut. Karenanya Paul Moedigdo

Moeliono memberikan definisi kriminologi sebagai ilmu pengetahuan yang

mempelajari kejahatan sebagai masalah manusia.5

B. Pengertian Tindak Pidana dan Pencurian

Pembentuk undang-undang kita telah menggunakan perkataan “strafbaar feit”

untuk menyebutkan apa yang kita kenal sebagai “tindak pidana” di dalam Kitab

Undang-Undang Hukum Pidana tanpa memberikan sesuatu penjelasan mengenai

apa yang sebenarnya yang dimaksud dengan perkataan “strafbaar feit” tersebut.6

Mengenai pengertian tidak pidana (strafbaar feit) beberapa sarjana memberikan

pengertian yang berbeda-beda sebagai berikut: 7

a. Pompe memberikan pengertian tindak pidana menjadi dua definisi, yaitu:

1. Definisi menurut teori adalah suatu pelanggaran terhadap norma, yang

dilakukan karena kesalahan si pelanggar dan diancam dengan pidan untuk

mempertahankan tata hukum dan menyelamatkan kesejahteraan umum.

2. Definisi menurut hukum positif adalah suatu kejadian/feit yang oleh

peraturan undang-undang dirumuskan sebagai perbuatan yang dapat

dihukum.

5

Ibid. hlm. 9. 6

R.A.F. Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Bandung, PT Cipta Aditya Bakti, 1996, hlm. 181.

7

(27)

b. Simons memberikan definisi tindak pidana yaitu kelakuan/hendeling yang

diancam dengan pidana, yang bersifat melawan hukum, yang berhubungan

dengan kesalahan dan yang dilakukan oleh orang yang mampu bertanggung

jawab.

c. Vos memberikan pengertian bahwa tindak pidana adalah suatu kelakuan

manusia diancam pidana oleh peraturan undang-undang, jadi suatu kelakuan

yang pada umumnya dilarang dengan ancaman pidana.

d. Van Hamel memberikan pengertian tindak pidana adalah kelakuan orang yang

dirumuskan dalam wet (undang-undang), yang bersifat melawan hukum, yang

patut dipidana dan dilakukan dengan kesalahan.

e. Moeljatno menyebut tindak pidana dengan sebutan perbuatan pidana yaitu

perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, larangan mana disertai

ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barangsiapa melanggar

larangan tersebut.

Pasal 362 KUHP menyatakan bahwa pencurian adalah barangsiapa mengambil

barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan

maksud untuk dimiliki secara melawan hukum. Berdasarkan ketentuan Pasal 362

KUHP diatas, maka unsur-unsur pencurian dapat diuraikan sebagai berikut:8

1. Ada perbuatan “Mengambil”

Kata mengambil (wegnemen) dalam arti sempit terbatas pada menggerakan

tangan dan jari-jari, memegang barangnya dan mengalihkannya ketempat lain.

8

(28)

Perbuatan “mengambil” tidak ada apabila barangnya oleh yang berhak

diserahkan kepada si pelaku.

2. Ada barang yang diambil, baik seluruh atau sebagian milik orang lain

Mengenai barang yang diambil itu harus berharga, baik secara keseluruhan

maupun sebagian, misalnya apabila merupakan suatu barang warisan yang

belum dibagi-bagi dan si pencuri itu salah seorang ahli waris yang turut

berhak atas barang itu. Tentang harga barang yang diambil itu tidak harus

selalu bersifat ekonomis, misalnya barang itu tidak mungkin terjual kepada

orang lain, akan tetapi bagi si korban barang tersebut berharga sebagai suatu

kenang-kenangan.

3. Dengan maksud memiliki barangnya dengan melawan hukum

Wirjono Prodjodikoro berpendapat bahwa titik beratnya harus diletakan pada

tidak ada izin dari pemilik barang yang diambil itu. Dengan tidak adanya izin

ini perbuatan si pengambil barang tersebut bernada memiliki barang, dengan

demikian dapat dianggap bersalah melakukan pencurian.

C. Pengertian Anak dan Perlindungan Anak

Pengertian anak yang umum tidak saja mendapat perhatian dalam bidang ilmu

pengatahuan, tetapi dapat juga ditelaah dari sudut pandang sosial kehidupan,

seperti agama, adat, sosiologi, dan hukum. Dalam berbagai peraturan

perundang-undangan Indonesia, tidak terdapat pengaturan yang tegas tentang pengertian atau

kriteria anak. Adapun pengertian anak menurut peraturan perundang-undangan

(29)

a. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPdt) menentukan bahwa batasan

usia 21 tahun atau kurang dari itu asalkan sudah lebih dahulu kawin barulah

dianggap dewasa, dibawah usia itu dianggap belum dewasa atau dianggap

anak. Hal ini sesuai dengan Pasal 330 Ayat 1 KUHPdt sebagai berikut “Belum

dewasa adalah mereka yang belum mencapai umur genap 21 (dua pulu satu)

tahun dan tidak lebih dahulu kawin.”

b. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) menentukan bahwa anak

adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun dan kurang dari

itu apabila belum pernah menikah.

c. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak

menentukan bahwa anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21

(dua puluh satu) tahun dan belum pernah menikah, karenanya berhak

mendapatkan kemudahan yang diperuntukan untuk anak.

d. Undang-Udang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak menentukan

bahwa anak adalah orang dalam perkara anak nakal telah mencapai umur 8

(delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan

belum pernah menikah.

e. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

menentukan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan

belas) tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Menurut Sugiri bahwa anak adalah selama ditubuhnya berjalan proses

pertumbuhan dan perkembangan, orang itu masih menjadi anak dan baru menjadi

dewasa bila proses perkembangan dan pertumbuhan itu selesai, jadi batas umur

(30)

(delapan belas) tahun untuk wanita dan 20 (dua puluh) tahun untuk laki-laki,

seperti halnya di Amerika, Yugoslavia dan negara-negara barat lainnya.9

Perlindungan anak adalah segala usaha yang dilakukan untuk menciptakan kondisi

agar setiap anak dapat melaksanakan hak dan kewajibannya demi perkembangan

dan pertumbuhan anak secara wajar baik fisik, mental, dan sosial. Perlindungan

anak merupakan perwujudan adanya keadilan dalam suatu masyarakat, dengan

demikian perlindungan anak diusahakan dalam berbagai bidang kehidupan

bernegara dan bermasyarakat. Kegiatan perlindungan anak membawa akibat

hukum, baik dalam kaitannya dengan hukum tertulis maupun hukum tidak

tertulis.10

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menentukan

bahwa perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi

anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi,

secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta

mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Perlindungan anak

dapat juga diartikan sebagai segala upaya yang ditunjukan untuk mencegah,

rehabilitasi, dan memperdayakan anak yang mengalami tindak perlakuan salah,

eksploitasi, dan penelataran, agar dapat menjamin kelangsungan hidup dan

tumbuh kembang anak secara wajar, baik fisik, mental, dan sosialnya.11

9

Maidin Gultom, Op.Cit. hlm. 32 10 Ibid

(31)

D. Faktor Penyebab Kejahatan dan Kenakalan Anak

Faktor yang menyebabkan kejahatan dan kenakalan anak dapat dibagi menjadi

dua faktor yaitu faktor motivasi yang bersumber dari dalam diri (intern) dan

faktor motivasi yang bersumber dari luar diri (ekstern), kedua faktor ini saling

mempengaruhi satu dengan yang lainnya.

Berkaitan dengan hal ini, Romli Atmasasmita mengemukakan pendapatnya

mengenai motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik dari kenakalan anak, antara

lain:12

1. Motivasi intrinsik kenakalan anak

a. Faktor intelegensia

Intelegentia adalah kecerdasan seseorang atau kesanggupan seseorang untuk

menimbang dan memberi keputusan. Anak-anak delinkuent pada umumnya

mempunyai intelegensia verbal yang lebih rendah dan ketinggalan dalam

pencapaian hasil-hasil skolastik (prestasi sekolah rendah). Dengan kecerdasan

yang rendah dan wawasan sosial yang kurang tajam, mereka mudah sekali terseret

oleh ajakan buruk menjadi delinkuent jahat.

b. Faktor usia

Bahwa pada umumnya anak yang berusia sampai 18 (delapan belas) tahun terlibat

dalam kejahatan terhadap benda diantaranya adalah tindak pidana pencurian.

Berdasarkan faktor usia tersebut dapat diketahui bahwa usia anak yang sering

12

(32)

melakukan kenakalan atau kejahatan adalah berusia sampai 18 (delapan belas)

tahun.

c. Faktor kelamin

Adanya perbedaan jenis kelamin, mengakibatkan pula timbulnya perbedaan tidak

hanya dalam segi kuantitas kenakalan semata-mataakan tetapi juga segi kualitas

kenakalannya.

d. Faktor kedudukan anak dalam keluarga

Pada umumnya delinquency dan kejahatan yang dilakukan oleh anak banyak

dilakukan oleh anak pertama dan anak tunggal atau oleh anak wanita atau

satu-satunya diantara saudara-saudaranya. Hal ini dapat dipahami karena pada

umumnya anak tunggal sangat dimanjakan oleh orang tuanya dengan pengawasan

yang luar biasa, pemenuhan kebutuhan yang berlebih-lebihan dan segala

permintaanya dipenuhi. Perlakuan orang tua terhadap anak akan menyulitkan anak

itu sendiri dalam bergaul dengan masyarakat dan sering timbul konflik didalam

jiwanya apabila suatu ketika keinginannya tidak dikabulkan oleh anggota

masyarakat yang lain, akhirnya mengakibatka frustasi dan cenderung mudah

berbuat jahat.

2. Motivasi ekstrinsik kenakalan anak

a. Faktor keluarga

Keluarga merupakan lingkungan terdekat untuk membesarkan, mendeasakan dan

didalamnya anak mendaoatkan pendidikan yang pertama kali. Keluarga

(33)

dalam membesarkan anak dan terutama bagi anak yang belum sekolah. Oleh

karena itu keluarga memiliki peranan yang penting dalam perkembangan anak

yang baik akan berpengaruh positif bagi perkembangan anak, sedangkan keluarga

yang jelek akan bepengaruh negatif. Oleh karena sejak kecil anak dibesarkan oleh

keluarga, sebagian besar waktunya adalah didalam keluarga maka sepantasnya

kemungkinan timbulnya delinquency itu sebagian besar berasal dari keluarga.

b. Faktor pendidikan dan sekolah sekolah

Sekolah adalah sebagai media atau perantara bagi pembinaan jiwa anak-anak atau

dengan kata lain sekolah itu bertanggungjawab atas pendidikan anak-anak, baik

pendidikan keilmuan, maupun pendidikan tingkah laku. Banyaknya kenakalan

anak-anak secara tidak langsung menunjukan kurang berhasilnya sistem

pendidikan di sekolah.

c. Faktor pergaulan anak

Anak menjadi dilinkuen karena banyak pengaruh oleh berbagai tekanan pergaulan

yang semuanya memberikan pengaruh yang menekankan atau memaksa pada

pembentuka prilaku buruk, sebagai hasilnya anak-anak tersebut cenderung

melanggar peraturan, norma sosial dan hukum formal.

d. Pengaruh media massa

Pengaruh media massa tidak kalah besarnya terhadap perkembangan anak.

Keinginan atau kehendak anak untuk berbuat jahat timbul karena pengaruh

bacaan, gambar, dan film. Bagi anak yang mengisi waktu senggangnya dengan

(34)

yang berupa gambar-gambar porno akan memberikan rangsangan seks tehadap

anak.

Menurut Marlina faktor-faktor yang menyebabkan anak melakukan tindak pidana

adalah sebagai berikut:13

1. Pengaruh lingkungan

Anak-anak yang bermain dengan anak yang kurang baik, contohnya berteman dengan anak yang tidak sekolah atau anak yang suka membolos dan menggangu temannya sehingga suka berkelahi, atau berteman dengan anak yang suka mengambil barang orang lain.

2. Kurang perhatian

Kurang perhatian dari orang tua yang selalu sibuk maupun tidak serumah membuat anak tersebut berbuat sesuai dengan pola pikir dan kemauanya sendiri, akibatnya mereka melakukan perbuatan yg tidak seharusnya, seperti mencuri, memukul menendang sera tindakan keras lainnya.

3. Keluarga broken home (keluarga Berantakan)

Anak yang berasal dari keluarga broken home kebanyakan menjadi anak nakal, karena kehidupannya sudah kacau dan orang tua susah memberikan pengarahan.

4. Ekonomi

Tingkat ekonomi yang rendah pada umumnya menyebabkan orang tua pada umumnya tidak memiliki waktu untuk memberikan pemenuhan kebutuhan untuk anaknya. Akibatnya anak akan mencari pemenuhan kebutuhan dan keinginan sesuai dengan pola pikir yang dimilikinya. Oleh karena itu terkadang anak melakukan perbuatan mengambil barang milik orang lain atau melakukan tindakan asusila.

5. Pendidikan (education)

Tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan anak tidak memiliki kesempatan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang berguna. Akibatnya kegiatan yang dilakukan adalah kegiatan-kegiatan yang melanggar hukum seperti mencoret-coret tembok, berkelahi, melempar orang, dan lain sebagainya.

Francis E. Merrill dan Mabel A. Elliott memberikan 12 (dua belas) sebab atau

alasan kemungkinan terjadinya kenakalan anak-anak, yaitu:14

1. Keadaan rumah tangga 2. Status ekonomi yang rendah

13 Marlina, Peradilan Pidana Anak di Indonesia, Bandung, Refika Aditama, 2009, hlm. 64. 14

(35)

3. Perumahan yang jelek

4. Lingkunagn keluarga yang kurang baik 5. Teman-teman yang kurang baik

6. Tidak adanya ajaran agama 7. Konflik mental

8. Perasaan yang terganggu

9. Lingkungan sekolah yang kurang baik 10.Waktu luang yang tidak teratur

11.Konflik kebudayaan

12.Kesehatan badan yang kurang baik.

Fakta juga menunjukkan, bertambahnya jumlah delinkuensi terjadi pada

masyarakat dengan kebudyaan konflik tinggi, dan terdapat di negara-negara yang

mengalami banyak perubahan sosial yang serba cepat. Karena itu negara-negara

yang sangat maju secara ekonomi dan teknologi juga mempunyai tingkat

delinkuensi remaja paling tinggi didunia.15

E. Teori Tentang Penanggulangan Kejahatan dan Penanggulangan Kenakalan Anak

Menurut G.P. Hoefnagels upaya penanggulangan kejahatan dapat ditempuh

dengan:16

1. Penerapan hukum pidana (criminal law application)

2. Pencegahan tanpa pidana (prevention without punishment)

3. Mempengaruhi pandangan masyarakat mengenai kejahatan dan pendekatan

melalui media massa. (influencing views of society on crime and punishment)

Upaya penanggulangan kejahatan secara garis besar dapat dibagi 2 (dua), yaitu

lewat jalur “penal” (hukum pidana), dan lewat jalur “non-penal” (di luar hukum

pidana). Upaya penanggulangan kejahatan lewat jalur penal lebih menitikberatkan

15

Kartini Kartono, Op.Cit. hlm. 32.

(36)

pada sifat repressive (penindasan/pemberantasan/penumpasan) sesudah kejahatan

terjadi, sedangkan jalur non-penal lebih menitikberatkan pada sifat preventive

(pencegahan/penangkalan/pengendalian) sebelum kejahatan terjadi.17

Penanggulangan kenakalan dan kejahatan yang dilakukan oleh anak tentunya

berbeda dengan penganggulangan kejahatan yang dilakukan oleh orang dewasa.

Karena dalam hal ini anak masih sangat rentan baik secara fisik maupun

psikisnya.

Menurut Kartini Kartono penanggulangan kenakalan anak dapat dilakukan

melalui tiga tahapan, yaitu:18

a. Tindakan preventif dapat dilakukan salah satunya dengan cara mendirikan tempat latihan untuk menyalurkan kreativitas para anak delinkuen dan yang nondelinkuen. Misalnya latihan mandiri, latihan hidup bermasyarakat, latihan persiapan untuk bertransmigrasi, dan lain-lain.

b. Tindakan hukuman bagi anak delinkuen antara lain berupa menghukum mereka sesuai dengan perbuatannya, sehingga dianggap adil, dan bisa menggugah berfungsinya hati nurani sendiri untuk hidup susila dan mandiri. c. Tindakan kuratif bagi usaha penyembuhan anak delinkuen salah satunya

berupa, menghilangkan sebab-musabab timbulnya kejahatan anak, baik berupa pribadi familial, sosial, ekonomi, dan kultural.

Adapun asas-asas yang mendasari kebijakan penanggulangan kenakalan anak

berbeda dengan orang dewasa. Modifikasi langkah-langkah penal maupun

nonpenal dalam politik kriminal bagi kenakalan anak adalah bahwa kebutuhan

akan keterpaduan (integritas) antara kebijaksanaan penanggulangan kejahatan

dengan politik sosial dan politik penegakan hukum. Dalam konteks kebijakan

penanggulangan kenakalan anak, perlu dimodifikasi politik kesejahteraan

masyarakat dan politik perlindungan masyarakat secara umum. Secara khusus

17 Ibid

18

(37)

diarahkan pada politik kesejahteraan anak dan politik perlindungan hak-hak anak,

baik anak pada umumnya maupun anak yang menjadi korban kejahatan orang

dewasa, maupun korban anak pelaku kenakalan anak. Berkaitan dengan

penggunaan sarana penal dan non penal, khusus untuk kebijakan penanggulangan

kenakalan anak, kondisinya tidak berbeda. Penggunaan sarana nonpenal diberi

porsi yang lebih besar daripada penggunaan sarana penal, berarti ada kebutuhan

dalam konteks penanggulangan kenakalan anak, pemahaman yang berorientasi

untuk mencapai faktor-faktor kondusif yang menyebabkan timbulnya kenakalan

anak. 19

Mengenai penanggulangan kejahatan anak dapat dilakukan melalui model

keadilan restoratif. Menurut model restoratif, perilaku delinkuensi anak adalah

perilaku yang merugikan korban dan masyarakat, tanggapan peradilan restoratif

terhadap delinkuensi terarah pada perbaikan kerugian itu dan penyembuhan luka

masyarakat. Peradilan restoratif tidak bersifat punitif dan juga tidak ringan

sifatnya. Tujuan utamanya adalah perbaikan luka yang diderita oleh korban,

pengakuan pelaku terhadap luka yang diakibatkan oleh perbuatannya dan

konsiliasi serta rekonsiliasi di kalangan korban, pelaku dan masyarakat. Peradilan

restoratif juga berkehendak untuk merestorasi kesejahteraan masyarakat melalui

cara-cara menghadapkan pelaku anak pada pertanggungjawaban atas perilakunya,

korban yang biasanya dihalangi untuk berperanserta dalam proses peradilan kini

diberi kesempatan berperanserta dalam proses peradilan. Cara seperti itu

19

(38)

melahirkan perasaan malu dan pertanggungjawaban personal dan keluarga atas

perbuatan salah mereka untuk diperbaiki secara memadai.20

(39)

III. METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Masalah

Pendekatan masalah yang digunakan dalam pembahasan penulisan penelitian ini

adalah pendekatan secara yuridis normatif dan pendekatan yuridis empiris.

Pendekatan secara yuridis normatif dilakukan dengan menelaah dan mengkaji

konsep-konsep, dan teori-teori, serta peraturan perundang-undangan yang

berhubungan dengan analisis kriminologis penyebab tindak pidana pencurian

kendaraan bermotor yang dilakukan oleh anak. Sedangkan pendekatan secara

yuridis empiris dilakukan dengan mempelajari hukum dalam kenyataan, baik

berupa penilaian, prilaku, pendapat, dan sikap yang berkaitan dengan analisis

kriminologis penyebab tindak pidana pencurian kendaraan bermotor yang

dilakukan oleh anak.

B. Sumber dan Jenis Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini besumber pada dua jenis, yaitu:

1. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari hasil penelitian di

lapanagan. Dalam hal ini data diperoleh dengan melakukan wawancara

(40)

terkait dengan analisis kriminologi penyebab tindak pidana pencurian

kendaraan bermotor yang dilakukan oleh anak.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari studi kepustakaan dengan cara

membaca, mengutip, dan menelaah peraturan perundang-undangan,

buku-buku, dokumen, kamus, artikel dan litratur hukum lainnya yang berkaitan

dengan analisis kriminologis penyebab tindak pidana pencurian kendaraan

bermotor yang dilakukan oleh anak. Adapun data sekunder ini terdiri dari:

a. Bahan hukum primer, yaitu bahan hukum yang mempunyai kekuatan

hukum mengikat. Dalam hal ini terdiri dari:

1. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)

2. Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang KUHAP

3. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak

4. Undang-Undang Nomor 3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak

5. Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tenang Perlindungan Anak

6. Undang-Undang Nomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan

Pidana Anak

b. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan-bahan yang erat hubungannya dengan

bahan hukum primer, seperti rancangan undang-undang, literatur,

hasil-hasil penelitian yang berhubungan dengan masalah yang dibahas dalam

(41)

c. Bahan hukum tersier, yaitu bahan-bahan yang berguna untuk memberikan

informasi, petunjuk atau penjelasan terhadap bahan hukum primer dan

bahan hukum sekunder seperti kamus besar bahasa Indonesia, media masa,

artikel, makalah, jurnal, internet yang berkaitan dengan masalah yang

dibahas dalam penelitian ini.

C. Penentuan Populasi dan Sampel

Kajian lebih lanjut penentuan populasi dan sampel sangat penting dalam

penelitian. Populasi adalah seluruh objek dan seluruh individu atau seluruh gejala

atau seluruh kejadian atau seluruh unit yang akan diteliti.1 Dalam penelitian ini

yang dijadikan populasi adalah pihak-pihak yang berkaitan dengan analisis

kriminologis penyebab tindak pidana pencurian kendaraan bermotor yang

dilakukan oleh anak. Penentuan populasi dalam penelitian ini adalah Polisi,

Hakim, Polisi Khusus Lapas , Anak yang delinkuensi, serta Akademisi.

Penentuan sampel digunakan metode Purposive Sampling yaitu penentuan

sekelompok subjek yang didasarkan atas pertimbangan maksud dan tujuan yang

telah ditetapkan serta sesuai ciri-ciri tertentu pada masing-masing responden yang

dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri populasi.

Berdasarkan metode sampling tersebut diatas, maka yang menjadi sampel atau

responden dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1 Ronny Hanitijo Soemitro,

(42)

1. Polisi Polresta Bandar Lampung = 2 orang

2. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Karang = 1 orang

3. Polisi Khusus Lapas = 1 orang

4. Pelaku tindak pidana pencurian kendaraan bermotor (anak) = 3 orang

5. Dosen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Lampung = 1 orang +

Jumlah = 8 orang

D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data

1. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan

dua cara sebagai berikut:

a. Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan penulis

dengan maksud untuk memperoleh data sekunder dengan cara membaca,

mencatat, mengutip dari berbagai literatur, buku-buku, perundang-undangan,

media masa dan bahan tertulis lainnya yang ada hubungannya dengan

penelitian yang dilakukan.

b. Studi Lapangan

Studi lapangan dilakukan untuk mendapatkan data primer. Adapun cara

mengumpulkan data primer digunakan dengan menggunakan metode

wawancara terpimpin, yaitu dengan mengajukan pertanyaan yang telah

disiapkan terlebih dahulu dan dilakukan wawancara serta langsung dengan

(43)

2. Pengolahan Data

Setelah data terkumpul, baik studi kepustakaan maupun studi lapangan, maka data

diproses melalui pengolahan data dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Editing, yaitu data yang diperoleh dari penelitian diperiksa dan diteliti kembali

mengenai kelengkapan, kejelasan, dan kebenarannya sehingga terhindar dari

kekurangan maupun kesalahan.

b. Interpretasi, yaitu menghubungkan, membandingkan, menguraikan, data serta

mendeskripsikan data dalam bentuk uraian untuk kemudian ditarik suatu

kesimpulan.

c. Sistematisasi, yaitu melakukan penyusunan dan penempatan pada setiap

pokok secara sistematis sehingga mempermudah interpretasi data dan tercipta

keteraturan dalam menjawab permasalahan.

E. Analisis Data

Setelah pengolahan data selesai maka dilakukan analisis data. Data yang diperoleh

dianalisis menggunakan analisis kualitatif yang artinya hasil penelitian ini

dideskripsikan dalam bentuk penjelasan dan uraian kalimat-kalimat yang mudah

dibaca dan dimengerti untuk diinterpretasikan dan ditarik kesimpulan mengenai

analisis kriminologis penyebab tindak pidana pencurian kendaraan bermotor yang

dilakukan oleh anak, sehingga dapat diperoleh gambaran yang jelas tentang

masalah yang diteliti. Selanjutnya berdasarkan analisis data tersebut kemudian

ditarik suatu kesimpulan dengan menggunakan metode induktif, yaitu cara

berfikir dalam mengambil kesimpulan dengan didasarkan atas fakta-fakta yang

(44)

permasalahan yang diajukan, dan selanjutnya dari berbagai kesimpulan tersebut

(45)

V. PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah di kemukakan, maka

penulis akan memberikan kesimpulan sebagai hasil pembahasan tentang analisis

kriminologis penyebab tindak pidana pencurian kendaraan bermotor yang

dilakukan oleh anak yaitu:

1. Faktor penyebab tindak pidana pencurian kendaraan bermotor yang dilakukan

oleh anak ada beberapa faktor yaitu pertama faktor psikogenis kenakalan anak,

seperti faktor pendidikan, keluarga, ekonomi. Kedua faktor sosiogenis, seperti

faktor lingkungan, pergaulan dan media massa. Berdasarkan penelitian dapat

disimpulkan bahwa faktor lingkungan pergaulan merupakan faktor yang

paling dominan dalam pencurian kendaraan bermotor yang dilakukan oleh

anak.

2. Upaya penanggulangan penyebab tindak pidana pencurian kendaraan

bermotor yang dilakukan oleh anak meliputi upaya penal dan non-penal.

Upaya penal berupa pemberian sanksi pidana seperti pidana penjara atau

kurungan. Sistem peradilan pidana yang digunakan adalah sistem peradilan

anak, untuk mencapai tujuan yang diharapkan yaitu memberikan yang paling

(46)

keadilan. Upaya non-penal dilakukan melalui tindakan preventif berupa

kegiatan mengadakan penyuluhan hukum, mengaktifkan kegiatan karang

taruna, olahraga, dan resosialisasi, selain itu dapat pula melalui tindakan

kuratif seperti pembinaan moral, pembinaan sosial, pembinaan keterampilan,

dan pembinaan pendidikan.

B. Saran

Saran yang akan diberikan penulis berkaitan dengan analisis kriminologis

penyebab tindak pidana pencurian kendaraan bermotor yang dilakukan oleh anak

sebagai berikut:

1. Sebaiknya orang tua memberikan arahan dan contoh yang baik bagi anak

mereka, serta memberikan perhatian untuk anak mereka dan juga mengawasi

pergaulan si anak, sehingga anak tidak salah bergaul dengan orang yang punya

riwayat kejahatan.

2. Mengenai upaya penanggulangan anak yang terbukti melakukan tindak pidana

pencurian kendaraan bermotor sebaiknya wajib mengutamakan pendekatan

keadilan restoratif dengan tujuan mencari penyelesaian yang adil dengan

menekankan kembali pada keadaan semula dan bukan pembalasan. Diversi

atau proses di luar peradilan pidana seharusnya lebih di utamakan mengingat

(47)

DARTAR PUSTAKA

A. Buku

Andrisman, Tri. 2011. Hukum Pidana Asas-Asas dan Dasar Aturan Umum

Hukum Pidana Indonesia. Universitas Lampung. Bandar Lampung.

____________. 2011. Delik Tertentu Dalam KUHP. Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Asyari, Imam. 1986. Patologi Sosial. Usaha Nasional. Surabaya.

Atmasasmita, Romli. 1997. Peradilan Anak di Indonesia. Maju Mandar. Bandung.

Gultom, Maidin. 2010. Perlindungan Hukum Terhadap Anak dalam Sistem

Peradilan Pidana Anak di Indonesia. PT Refika Aditama. Bandung.

Hadisuprapto, Paulus. 2006. Pidato Pengukuhan Peradilan Restoratif: Model

Peradilan Anak Indonesia Masa Datang. Badan Penerbit Universitas

Diponegoro. Semarang.

Kartono, Kartini. 1992. Patologi Sosial 2 Kenakalan Remaja. Rajawali Pers. Jakarta.

Lamintang, R.A.F. 1996. Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia. PT Cipta Aditya Bakti. Bandung.

Marlina. 2009. Peradilan Pidana Anak di Indonesia. Refika Aditama. Bandung.

Moeljatno. 2002. Asas-Asas Hukum Pidana. PT Rineka Cipta. Jakarta.

Muhammad, Abdulkadir. 1998. Hukum Pengangkutan Niaga. PT. Cipta Aditya Bakti. Bandung.

Muladi. 1995. Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang.

(48)

Santoso, Topo. 2001. Kriminologi. PT RajaGrafindo. Jakarta.

Soemitro, Ronny Hanitijo. 1990. Metode Penelitian Hukum dan Jurimetri. Ghalia Indonesia. Jakarta.

Soekanto, Soerjono.1986. Pengantar Penelitian Hukum. UI Press. Jakarta.

B. Undang-Undang

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPdt)

Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang KUHAP

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM)

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak

C. Sumber Lainnya

Catatan Polresta Bandar Lampung, Januari-Oktober 2013.

http://lampost.co/berita/bandar-lampung-dua-pelaku-curanmor-ditangkap. diakses 1 September 2013 Pukul 13.45

Reza, Wakos. 26 September 2013. Polisi Ringkus Jaringan Curanmor. Tribun Lampung. Bandar Lampung.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta.

Zakaria, Taufiq. 15 september 2013. Hukum Perlindungan Anak dan Perempuan

(factor Penyebab Kenakalan Anak). tzakaria.blogspot.com/2012/08/

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...