• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bahan Seminar Hasil

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Bahan Seminar Hasil"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Asam jawa, Tamarindus indica L

2.1.1. Morfologi

Asam jawa, Tamarindus indica L., adalah suatu tanaman tropis yang

serbaguna terutama buahnya, yang dapat diolah untuk makanan, digunakan untuk

bumbu atau rempah-rempah, dan diproses untuk penggunaan lain. Asam jawa

merupakan tanaman dicotyledonous family Leguminosae.

(Lewis et al., 2005).

Tanaman ini merupakan tanaman daerah tropis dan termasuk tumbuhan

berbuah polong. Tumbuh baik di daerah semi kering dan iklim muson basah, dapat

tumbuh di kisaran tipe tanah yang luas. Dapat hidup di tempat bersuhu sampai 47°C,

tapi sangat sensitif terhadap es. Umumnya tumbuh di daerah bercurah hujan 500 –

1.500 mm/tahun, bahkan tetap hidup pada curah hujan 350 mm jika diberi irigasi saat

penanaman. Di daerah tropika basah bercurah hujan lebih dari 4.000 mm,

pembungaan dan pembuahan menurun dengan jelas.

Batang pohonnya yang cukup keras berperawakan pohon besar yang selalu

hijau, tingginya mencapai 30 m, pangkal batangnya mencapai 1-2 m panjangnya dan 2

m diameternya, tajuknya berdaun lebat, memencar melebar, berbentuk bulat; kulit

kayunya kasar, retak retak, berwarna coklat keabu-abuan. Daunnya majemuk bersirip

ganda, letaknya berselang-seling, berpenumpu, bertangkai; tangkai daunnya mencapai

1,5 cm panjangnya, meninggalkan bekas yang jelas setelah rontok; helaian daunnya

berbentuk agak lonjong, ukurannya mencapai 13 cm x 5 cm; anak daunnya berjumlah

8-16 pasang, berbentuk lonjong menyempit, berukuran (1-3,5) cm x (0,5-1) cm, bertepi

rata, pangkalnya miring dan membundar, ujungnya membundar sampai sedikit cabik.

Perbungaannya bertipe tandan renggang, terletak lateral dan di ujung ranting,

panjangnya mencapai 13 cm; bunganya kira-kira 3 cm panjangnya, berbau harum;

daun kelopaknya berjumlah 4 helai, berbeda bentuknya, panjangnya mencapai 1,5 cm;

daun mahkotanya berjumlah 5 helai, yang belakang dan yang samping berukuran besar

(2)

yang berada di depan berukuran lebih kecil, berbentuk linier, berwarna putih; benang

sarinya 3 utas; putiknya 1 buah berbakal biji sampai 18 butir. Buahnya bertipe polong

yang agak silindris, lurus atau bengkok, tidak merekah, berujung membulat, ukurannya

mencapai 14 cm x 4 cm, berbiji sampai 10 butir, polongnya itu seringkali menyempit

tak beraturan di antara dua biji; eksokarpnya mengeras, berwarna keabu-abuan atau

lebih sering coklat bersisik, dengan beberapa benang yang kuat di dalamnya;

mesokarpnya tebal dan menyerupai sirop, berwarna coklat-kehitaman; endokarpnya

tipis, menjangat. Bijinya tak beraturan bentuknya, membelah ketupat memipih,

panjangnya mencapai 18 mm, sangat keras dan berwarna coklat.

http://iptek.net.id/ind/teknologi_pangan/index.php%3Fmnu%3D2%26id%3D285+manfaat+asa

m+jawa&hl=id&ct=clnk&cd=2&gl=id

2.1.2. Manfaat

Buah dan bunga yang berwama hijau dapat digunakan untuk memberi rasa

asam yang pekat pada hidangan yang terbuat dari ikan dan daging. Buahnya yang

matang dari jenis yang manis biasanya dimakan ketika masih segar sedangkan buahnya

dari jenis yang asam dibuat menjadi sari buah, selai, sirup, dan permen., tetapi selain

itu juga banyak digunakan dalam campuran berbagai makanan sebagai contoh di dalam

makanan asinan, manisan, sari buah dan minuman lainnya.

Ekstraknya bila diberikan kepada mikroorganisme dapat mempengaruhi pertumbuhan

dan perkembangannya.

Selain itu asam jawa juga dapat digunakan sebagai obat kumur untuk

kerongkongan, dan pembalut luka luka. Chaturvedi, (1985) menyebutkan bahwa buah

ini juga mampu untuk membantu pemugaran sensasi jika kelumpuhan. juga dikatakan

dapat diberikan untuk perawatan demam malaria.

(Bleach et al., 1991).

2.1.3. Kandungan

Kandungan Buah asam yang matang terdiri atas 40-50% bagian yang dapat

dimakan, dan per 100 g berisi: air 17,8-35,8 g; protein 2-3 g; lemak 0,6 g; karbohidrat

41,1-61,4 g; serat 2,9 g, abu 2,6-3,9 g; kalsium 34-94 mg; fosfor 34-78 mg; besi

(3)

segarnya mengandung 13% air, 20% protein, 5,5% lemak, 59% karbohidrat, dan 2,4%

abu.

Yauquelin, memperlihatkan bahwa di dalam daging buah asam jawa selain gula,

terdapat kandungan asam sitrat dan asam tartrat dalam jumlah yang banyak.

http://iptek.net.id/ind/teknologi_pangan/index.php%3Fmnu%3D2%26id%3D285+manfaat+asa

m+jawa&hl=id&ct=clnk&cd=2&gl=id

2.2. Asam Sitrat

2.2.1. Senyawa Asam Sitrat

Sitrat merupakan salah satu nutrisi yang dibutuhkan dalam tubuh untuk

kesehatan, seperti yang ditunjukkan dalam siklus krebs. Dalam siklus krebs sitrat

mengalami transformasi menjadi isositrat yang telah dipelajari pengaruhnya dalam

tubuh, bahwa ini menghambat pembentukkan asam lemak hasil metabolisme

karbohidrat. Asam sitrat dapat memecahkan lemak dengan melepaskan energi serta

diproduksi CO2 dan air. (Harper, 1994)

Asam sitrat (asam 2 hidroksi 1, 2, 3-Propanatrikarboksilat) merupakan asam

dengan molekul yang bergugus fungsi ganda yaitu satu gugus hidroksil dan tiga gugus

karboksil. Asam sitrat dan garam-garamnya sangat luas penggunaanya kerena sifatnya

yang tidak beracun, aman untuk ditangani dan gampang mengalami biodegradasi.

(Anonimous, I., 1987)

Asam sitrat adalah asam hidroksi trikarboksilat yang tersebar di alam dan

merupakan bahan dasar yang penting dalam siklus metabolisme, siklus asam

trikarboksilat. Asam sitrat seperti nama trivialnya banyak terdapat dalam buah sitrus

atau jeruk.

Struktur asam sitrat :

CH2 COOH

C COOH

OH

[image:3.595.255.374.591.682.2]

CH2 COOH

Gambar; Struktur Asam Sitrat

Pemakaian asam sitrat banyak digunakan dalam industri makanan (75%),

(4)

disamping memiliki cita rasa dan struktur kimiannya mempunyai gugus alfa hidroksi

yang dapat mencegah penuaan pada kulit, dimana kelarutannya yang tinggi, rasa asam

yang segar sehingga memberikan nilai yang istimewa (Othmer,K.,1976)

asam sitrat terdapat dalam buah-buahan, dalam jeruk kadarnya 6-8%. Zat ini

dibuat dari air jeruk mentah. Dari jeruk ini dibuang gulanya dengan jalan fermentasi

dan kemudian asam sitrat dipisahkan sebagai garam kalsium yang mudah larut dalam

air dingin. Cara pembuatan asam sitrat juga bisa dengan memakai perubahan glukosa

oleh suatu jamur tertentu seperti citromyces. Dengan cara ini dapat dihasilkan asam

sitrat sampai 50% (Respati, 1986)

Asam sitrat mempunyai banyak kegunaan. Kebanyakan asam sitrat digunakan

sebagai pengawet pada minuman ringan. Sifat dari asam sitrat sebagai buffer bisa

digunakan untuk pengontrol pH dalam pembersih rumah tangga dan dalam industri

farmasi.

Sukses penggunaan asam sitrat yang cukup besar karena fleksibel dan

aplikasinya yang cukup banyak. Penggunaannya tergantung atas tiga sifat yaitu,

keasaman, rasa (flavor) dan pembentuk garam. Asam sitrat banyak digunakan pada

industri makanan (75%) untuk menambah keasaman tampa mempengaruhi rasa yang

lain. Asam sitrat dalam darah sebagai anti koagulant, antioksidan dalam lemak dan

minyak.

2.2.2. Sifat-sifat Fisika dan Kimia Asam Sitrat

Scheele telah mengisolasi dan mengkristalkan asam sitrat dari buah jeruk pada

tahun 1974. Gugus fungsinya, yaitu gugus hidroksi dan tiga gugus karboksil,

ditemukan oleh Liebig pada tahun 1838.

Asam sitrat sangat larut dalam air dan alkohol, tetapi hanya sedikit larut dalam

eter, Asam sitrat mengkristal dari larutan berair yang dingin dalam bentuk

monohidrat. Kristalnya transparan (tidak berwarna), dan strukturnya ortorombis. Pada

kondisi udara dengan kelembapan yang normal, kristal asam sitrat monohidrat stabil,

tetapi kehilangan air dalam udara kering atau vakum yang di dalamnya dimasukkan

asam sulfat pekat. Dengan sedikit pemanasan, kristal monohidrat melunak pada suhu

70 – 75 0C dan melepaskan molekul air, kemudian kristalnya meleleh sempurna pada

(5)

mengeras kembali pada saat menjadi anhidrat, dan kemudian meleleh secara tajam

pada suhu 153 0C. Asam sitrat memiliki densitas 1,542.

Sebagai tambahan, asam sitrat membentuk berbagai jenis ester, amida dan asil

klorida. Senyawa campuran seperti garam ester juga dapat terbentuk. Tetapi

anhidratnya tidak dapat terbentuk, tetapi derivate asil dari asam dapat didehidrasi

untuk membentuk derivate asil, eter dan sebagainya (Othmer, 1967)

Asam sitrat berfungsi sebagai bahan pengawet pada keju dan sirup, digunakan

untuk mencegah proses kristalisasi dalam madu, gula-gula (termasuk fondant) dan

juga untuk mencegah pemucatan berbagai produk makanan. Asam sitrat dapat

digunakan sebagai bahan tambahan dalam minuman berbuih dan obat-obatan. Namun

dalam jumlah berlebih dapat menimbulkan toksin. Asam sitrat dapat memperbaiki

kelarutan seperti propilen glikol dan dapat digunakan sebagai penstabil dalam lemak.

Asam sitrat dapat diperoleh dari :

1. Dari beberapa pruduk alam seperti asam bebas di dalam sari jeruk sering kali

digabung dengan malic atau asam tartrat

2. dengan fermentasi dari glukosa

Asam sitrat dapat digunakan sebagai antioksidan efektif karena asam ini tidak

mudah larut dalam lemak maka ditambahkan formulasi yang memperbaiki daya

larut.(Ketaren, S., 1986)

Struktur asam sitrat kelihatan dari sintesa berikut yang dikemukakan oleh

Grimaux dimana 1,3-kloro, 2-propanol dioksidasi menjadi 1,3-dikloropropanon.

Selanjutnya hasil oksidasi melalui adisi HCN dan diikuti hidrolisis nitrilnya, terjadi

sebuah asam hidroksi dari zat ini jika direaksikan dengan KCN, diperoleh sebuah

sianida, yang pada hidrolisa berubah menjadi asam sitrat ( asam 2-hidroksi

1,2,3-propanatrikarboksilat) (Respati, 1986)

ClCH2CHCH2Cl

OH

ClCH2 C CH

2Cl

O

ClCH2 C CH

2Cl

OH

CN

HCN [O]

KOH/H+

1,3-dikloro,2-propanol 1,3-dikloropropanon

(6)
[image:6.595.108.516.141.229.2]

Gambar 2.2, Reaksi oksidasi untuk mendapatkan asam sitrat

Asam sitrat juga dapat disintesa dengan jalan reaksi Reformatsky dengan bahan dasar

etil bromo asetat dan ester oksaloasetat.

Larutan antioksidan yang mengandung 20 persen propil gallat dan 10 % asam

sitrat banyak digunakan menstabilkan minyak goreng nabati. Pada penambahan

antioksidan digunakan larutan yang mengandung 10 persen BHA, 10 persen BHT, 6

persen propil gallat, 6 persen asam sitrat, dan digunakan pada konsentrasi maksimal

yang diizinkan.

Sejumlah senyawa termasuk di dalamnya sinergis, asam amino, dan amonia

telah diteliti dan terbukti dapat berfungsi sebagai deaktivator tembaga, besi, nikel, dan

timah putih dalam lemak babi. Askorbil palmitat, kalium askorbil palmitat, dan asam

askorbat, tartarat, sitrat dan fosforat merupakan sinergis yang paling efektif. Asam

sitrat lebih efektif, senyawa askorbat sangat efektif terhadap tembaga, namun tidak

efektif terhadap stabilitas minyak yang mengandung logam. Pengujian asam sitrat dan

sorbitol dalam lemak babi dan minyak keledai lebih meyakinkan pengaruh antioksidan

asam sitrat disebabkan kapasitasnya dalam mengaktifkan logam (Cahyadi. W,2006)

2.3. Instrumentasi 2.3.1. Spektrofotometer

Spektrofotometer sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari

spektrometer dan fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan

panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukuran intenditas cahaya

yang ditransmisikan atau yang diabsorbsi. Jadi, spektrofotometer digunakan untuk

mengukur energi secara relative jika energi tersebut ditransmisikan, direflesikan atau

diemisikan sebagai fungsi dari panjang gelombang. Suatu spektrofotometer tersususn

HO C COOH

CH2Cl

CH2Cl

KCN

-KCl HO CH COOH

H2C CN

H2C CN

KOH/H+

HO C

H2C COOH

H2C COOH

COOH

(7)

dari sumber spektrum tampak yang kontinyu, monokromator, sel pengabsorpsi untuk

larutan sample atau blanko dan suatu alat untuk mengukur perbedaan absorpsi antara

sampel dan blanko ataupun pembanding. (Sudarmaji, Slamer, “Teknik Analisa

Biokimia”)

Spektrum yang diabsorpsi atau tepatnya jumlah absolut spektrum sinar yang

terserap oleh suatu senyawa adalah sejumlah sinar yang diserap atau hilang oleh suatu

senyawa pada panjang gelombang tertentu. Untuk senyawa berwarna akan memiliki

satu atau lebih penyerapan spektrum yang tertinggi (exitinction maximum) di daerah

spektrum tampak (400 – 700 nm ). Untuk mendapatkan spektrum serapan, angka

serapan ( extinction ) suatu bahan harus diukur pada panjang gelombang tertentu yang

diketahui. Serapan pada daerah tampak dapat dikenali dengan mata telanjang, tetapi

teknik yang dipakai pada alat spektrofotometer menggunakan prinsip tegangan listrik

yang terbentuk pada sel fotoelektron setara dengan jumlah radiasi yang mengenainya

(Brink, O.G., Flink,R.J., Aobandi, 1984 )

Pengukuran memakai spektrofotometer bertujuan untuk menentukan absorpsi

atau transmisikan suatu zat tertentu. Zat ini biasanya adalah dalam larutan dan waktu

dilakukan pengukuran, absorpsi oleh zat pelarutpun ikut terukur. Oleh karena itu, kita

harus melakukan percobaan blanko guna membandingkan absorpsi oleh pelarut murni

dan absorpsi oleh pelarut murni dan absorpsi oleh larutan. Spektrofotometer harus

distel begitu rupa sehingga transmisi blanko menjadi 100 % dengan mengatur celah

keluar monokromator dan kepekaan dari amplifator. Penurunan intensitas cahaya yang

diakibatkan oleh penempatan larutan dalam jalur cahaya sudah tentu hanya

diakibatkan oleh penempatan larutan dalam jalur cahaya sudah tentu hanya

diakibatkan oleh zat yang ada dalam larutan. Kalau dari zat contoh sudah diketahui

beberapa ekstingsinya, maka konsentrasi dapat pula di cari dengan menggunakan

grafik (Miessler, Gary L, Tarr, Donald A,. 1991 )

2.3.2. Hukum Lambert – Beer

Jika intensitas cahaya Io pada panjang gelombang tertentu dilewatkan melalui

(8)

detektor. Hukum Lambert – Beer digunakan untuk menggambarkan absorpsi cahaya

pada panjang gelombang tertentu yang diberikan oleh absorpsi spesi dalam larutan :

1c A log= = ∈

I Io

Dengan A adalah absorbansi; ∈ adalah absorptivitas molar (L mol-1 cm-1); 1 adalah

panjang laluan sinar melalui larutan (cm); c adalah konsentrasi spesi (molal)

(Basset, J., Penny,R.C., Jeffrey.G.H., 1994)

2.3.3. Penyimpangan Hukum Lambert – Beer

Umumnya hukum Lambert – Beer berlaku dalam jangka konsentrasi yang

lebar jika struktur ion berwarna ataupun nonelektrolit berwarna dalam keadaan terlarut

tidak berubah dengan berubahnya konsentrasi. Elektrolit dalam jumlah kecil, yang

tidak bereaksi kimia dengan komponen berwarna, biasanya tidak mempengaruhi

penyerapan cahaya; elektrolit dalam jumlah besar dapat mengakibatkan bergesernya

absorpsi maksimum, dan dapat juga mengubah nilai absorptivitas molar.

Penyimpangan biasanya terjadi bila zat terlarut berwarna mengion, berdisosiasi, atau

berasosiasi dalam larutan, karena sifat dasar spesies dalam larutan akan berubah-ubah

dengan berubahnya konsentrasi. Juga penyimpangan dapat terjadi bila tidak digunakan

cahaya monokromatik. Perilaku suatu zat dapat selalu diuji dengan mengalurkan log

Io/It ataupun log terhadap konsentrasi : Suatu garis lurus yang melewati titik (0,0)

menyatakan kesesuaian dengan hukum itu. Untuk larutan yang tidak mematuhi hukum

Lambert – Beer, paling baik adalah dengan membuat suatu kurva kalibrasi dengan

menggunakan sederetan standar yang konsentrasinya diketahui dengan tepat (Mulja,

M., Suharman, 1995)

2.3.4 Rentang pembacaan absorbansi dan transmitansi

Untuk pembacaan absorbansi (A) atau transmitansi (T) pada daerah uang terbatas,

kesalahan penentuan kadar hasil analisa dinyatakan sebagai :

T T T log 0,4343 ∆

• =

C C

∆T adalah harga rentang skala transmitan terkecil dari alat yang masih dapat terbaca pada analisis dengan metode spektrofotometri. Harga ∆T untuk setiap

(9)

spesifikasi instrumen. Dari rumus tersebut di atas dapat diperhitungkan kesalahan

pembacaan A atau T pada analisis dengan metode spektrofotometri. Pembacaan A (

0,2 – 0,8 ) atau %T ( 15% - 65% ) akan memberikan persentase kesalahan analisis

yang dapat diterima (0,5 – 1% ), untuk ∆T = 1% ( Denney,R.C., Sinclair.R., 1991 )

2.3.5. Perangkat Instrumentasi

Peralatan spektrofotometer terdiri dari :

1. sumber radiasi

Dua sumber radiasi yang digunakan dalam spktrofotometer yang mana

diantaranya dapat menyediakan selang panjang gelombang dari 200 nm sampai

800 nm.

a. untuk pengukuran di atas 320 nm, sumber radiasi dari bahan tungsten –

halogen

b. Untuk pengukuran di bawah 320 nm, sumber radiasi dari bahan deuterium.

2. Monokromator

Fungsi dari monokromator adalah untuk menseleksi panjang gelombang sempit

yang lewat melalui sel sample (kuvet), dan dalam instrument modern

menggunakan kisi difraksi.

3. Sel sampel atau kuvet

Sel dibuat dari silika untuk sinar ultraviolet atau tampak, dan dari plastik untuk

sinar tampak. Umumnya digunakan sel dengan jarak tempuh berukuran 10 mm

dan kapasitas 3 sampai 4 cm3 dari larutan yang ditampung.

4. Detektor

Fungsi dari pada detektor adalah untuk menerima radiasi yang jatuh pada

permukaan peka dan memberikan signal yang proporsional terhadap intensitas

radiasi. Ada dua jenis detektor yang digunakan dalam spektrofotometer uv/visibel.

Silikon fotodioda dalam peralatan yang lebih tua. Untuk kepekaan maksimum

pada energi rendah dengan tabung fotomultiplier yang digunakan dalam instrumen

yang lebih mahal.

(10)

Dalam instrumen manual diperoleh hasil keluaran secara tetap dari beberapa

bentuk yang mana menunjukan transmitansi secara langsung atau dugunakan

sebagai penunjuk nol dalam sirkuit potensiometri. Potensiometri biasanya

dikalibrasi dalam satuan transmitansi dan dalam satuan absorbansi. Instrumen

modern lebih digunakan karena mempunyai hubungan keluaran digital pada

mikroprosesor yang memberikan nilai absorbansi secara langsung atau dapat

dikalibrasi dalam satuan konsentrasi setelah larutan standar diukur (Ewing,G.M.,

1975)

2.3.6. Spektrofotometer Sinar Ganda

sumber kesalahan yang mungkin dalam tipe absorpsiometer yang berbeda

adalah tepatnya dilihat dalam intensitas sumber radiasi. Jangka variasi yang pendek

biasanya akibat dari perubahan dalam intensitas selama perbandingan antara larutan

standar dengan larutan yang tidak diketahui tentunya akan menghasilkan kesalahan.

Kesalahan dapat dikurangi dengan menggunakan pemudah pengaturan

tegangan atau dengan menggunakan spektronik 20, suatu pengendali elektronik untuk

lampunya sendiri, dengan menggunakan fotosel untuk memantau intensitasnya. Cara

yang sangat efektif untuk mengurangi efek variasi sumber cahaya adalah memakai

sinar ganda (Fritz, James S., Schenk, George H, 1987 )

2.4. Ekstraksi pelarut

2.4.1. Hukum distribusi atau partisi

Cukup diketahui bahwa zat-zat tertentu lebih mudah larut dalam

pelarut-pelarut tertentu dibandingkan dengan pelarut-pelarut-pelarut-pelarut yang lain. Jadi iod lebih dapat

larut dalam karbon disulfida, klorofom atau karbon tetraklorida dari pada dalam air.

Lagi pula, bila cairan-cairan tertentu seperti karbon disulfida dan air dan juga eter dan

air, dikocok bersama-sama dalam suatu bejana dan campuran kemudian dibiarkan,

maka kedua cairan akan memisahkan menjadi dua lapisan. Cairan-cairan semacam itu

dinamakan sebagai tak dapat campur (karbon disulfida dan air) atau setengah

campuran (eter dan air), bergantung pada apakah satu ke dalam yang lain hampir tak

dapat larut atau setengan dapat larut. Jika iod dikocok bersama suatu campuran karbon

disulfida dan air serta kemudian didiamkan, iod akan dijumpai terbagi ke dalam kedua

(11)

disulfida dan larutan iod dalam air. Ternyata bila banyaknya iod diubah-ubah, angka

banding konsentrasi-konsentrasi itu selalu konstan asam temperatur konstan, yakni :

d 1 2

K c c air

dalam iod

disulfida karbon

dalam iod

= =

i konsentras

i konsentras

Tetapan Kd dikenal sebagai kofisien distribusi atau partisi. Penting untuk

dicatat bahwa anka banding c2/c1 hanya konstan bila zat yang terlarut mempunyai

massa molekul relatif yang sama untuk ke dua pelarut itu. Hukum distribusi atau

partisi dapat dirumuskan : bila suatu zat terlarut terdistribusi antara dua pelarut yang

dapat campur, maka pada suatu temperature yang konstan untuk tiap spesi molekul

terdapat angkabanding distribusi yang konstan antara kedia pelarut itu, dan

ankabanding distribusi ini tak bergantung pada spesi molekul lain apapun yang

mingkin ada. Harga angkabanding berubah dengan sifat dasar kedua pelarut, sifat

Gambar

Gambar; Struktur Asam Sitrat
Gambar 2.2, Reaksi oksidasi untuk mendapatkan asam sitrat

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Alat analisis data yang digunakan untuk tujuan tersebut adalah dengan menggunakan rentang skala dan analisis regresi linier sederhana agar dapat mengetahui pengaruh iklim organisasi

Penentuan kadar bahan baku parasetamol ini dilakukan dengan menggunakan metode spektrofotometri ultraviolet sesuai dengan prosedur dan alat spektrofotometer merk

Metode yang ditawarkan untuk mengatasi permasalahan dapat diuraikan sebagai berikut : Pengelolaan Produksi, pada awalnya alat proses produksi bawang goreng masih dikelola

Prinsip penentuan Si dengan metode spektrofotometri adalah larutan mengandung Si dalam suasana asam direaksikan dengan amonium heptamolibdat terbentuk senyawa

EPIC Rate yang diperoleh yaitu 3,66 yang masih dapat ditingkatkan menjadi 4,285 yang berada pada rentang skala sangat efektif dengan meningkatkan nilai skor

Hasil penelitian uji prestasi alat destilasi sistem uap skala laboratorium dari stainles dan tabung freon menunjukkan bahwa lama waktu penyulingan berbeda terhadap hasil

Dengan menggunakan metode penyebaran kuesioner dengan metode skala likert dan kemudian diolah dengan metode analisis faktor yaitu principal component analyses,

Analisis kadar ibuprofen menggunakan metode volumetri dan spektrofotometri UV untuk memastikan kualitas bahan dasar obat di Universitas