PENGARUH RANTAI TATANIAGA TERHADAP EFISIENSI
PEMASARAN DAGING SAPI DI KABUPATEN KARO
SKRIPSI
RIDHO ANDHIKA 100306013
PROGRAM STUDI PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN
PENGARUH RANTAI TATANIAGA TERHADAP EFISIENSI
PEMASARAN DAGING SAPI DI KABUPATEN KARO
SKRIPSI Oleh:
RIDHO ANDHIKA 100306013
PROGRAM STUDI PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN
PENGARUH RANTAI TATANIAGA TERHADAP EFISIENSI
PEMASARAN DAGING SAPI DI KABUPATEN KARO
SKRIPSI Oleh:
RIDHO ANDHIKA 100306013/PETERNAKAN
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera utara
PROGRAM STUDI PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN
Judul Skripsi : PENGARUH RANTAI TATANIAGA TERHADAP EFISIENSI PEMASARAN DAGING SAPI DI KABUPATEN KARO
Nama : Ridho Andhika
NIM : 100306013
Program Studi : Peternakan
Disetujui Oleh,
Komisi Pembimbing
Prof. Dr. Ir. H. Hasnudi, Ms Dr. Ir. Nurzainah Ginting, M.Sc
Ketua Anggota
Mengetahui,
Dr. Ir. Ma’ruf Tafsin, M.Si
Ketua Program Studi Peternakan
ABSTRAK
RIDHO ANDHIKA: “ Pengaruh Rantai Tataniaga Terhadap Efisiensi Pemasaran Daging Sapi di Kabupaten Karo” ,dibimbing oleh HASNUDI dan NURZAINAH GINTING.
Pemasaran komoditi pertanian pada dasarnya adalah bagaimana menyalurkan produk-produk pertanian dari produsen kepada konsumen dengan harga yang wajar dan biaya pemasaran minimal, sehingga tercipta sistem pemasaran yang efisien. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Karo khususnya di 4 Kecamatan (Tiga Nderket, Tigapanah, Kabanjahe dan Berastagi) mulai bulan April sampai Mei 2014. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan unit responden peternak dan lembaga-lembaga pemasaran daging sapi. Sampel diperoleh dengan metode accidental sampling dan diperoleh 10 orang peternak, 12 pedagang pengumpul, 17 pedagang pasar dan 1 rumah potong hewan. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan secara statistik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel pola dan marjin pemasaran secara bersama-sama berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap efisiensi pemasaran. Nilai R2 sebesar 0,997; yang berarti efisiensi pemasaran dipengaruhi oleh variabel pola dan marjin pemasaran sebesar 99,70%, sedangkan sisanya sebanyak 0,30% dipengaruhi oleh variabel lain diluar model.
ABSTRACT
RIDHO ANDHIKA: " Effect of Chain Trade System to Marketing Efficiency in Beef Cattle at Karo District ", guided by HASNUDI and NURZAINAH GINTING.
Marketing of agricultural commodities is basically how to distribute agricultural products from producers to consumers at reasonable prices and marketing costs at a minimum, so as to create an efficient marketing system. This study was conducted in Karo district, especially in the subdistrict 4 (Tiga Nderket, Tigapanah, Kabanjahe and Berastagi) from April to May 2014 This study uses survey respondents breeder units and institutions of marketing beef. Samples were obtained with accidental sampling method and obtained 10 farmers, 12 traders, 17 market traders and 1 RPH. The data were analyzed descriptively and statistically.
The results showed that variable patterns and marketing margins are jointly highly significant (P <0.01) to the marketing efficiency. R2 value of 0.997; which means marketing efficiency is affected by variable patterns and marketing margin of 99.70%, while the remaining 0.30% is influenced by other variables outside the model.
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama Ridho Andhika, dilahirkan di kota Tanjung Morawa,
Sumatera Utara pada tanggal 25 Maret 1992. Penulis merupakan anak kedua dari
3 bersaudara dari pasangan Drs Sapari Aw dan Ponisem. Penulis menyelesaikan
pendidikan Sekolah Dasar di SD Negeri 097320 Pematang Siantar dan lulus pada
tahun 2001. Kemudian Penulis melanjutkan pendidikan di SLTP Mts Negeri
Pematang Siantar dan tamat pada tahun 2004. Penulis melanjutkan pendidikannya
di SMA MAN Negeri Pematang Siantar dan lulus pada tahun 2010.
Penulis diterima sebagai mahasiswa Fakultas Pertanian Program Studi
Peternakan, Universitas Sumatera Utara melalui jalur Undangan. Aktivitas Penulis
selama menjadi mahasiswa adalah sebagai mahasiswa aktif dan ikut bergabung di
berbagai kepanitian dan organisasi. Penulis tercatat merupakan bagian dari
kepengurusan Himpunan Mahasiswa Muslim Peternakan (HIMMIP) dan Anggota
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala berkat
dan karunia-Nya yang telah memberikan penulis kesehatan, sehingga penulis
dapat menyelesaikan skripsi ini. Judul dari skripsi ini adalah “Pengaruh Rantai
Tataniaga Peternakan Terhadap Efisiensi Pemasaran Daging Sapi di Kabupaten
Karo”.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada kedua orang tua penulis yang telah membesarkan dan mendidik
penulis selama ini. Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada bapak
Prof. Dr. Ir. H. Hasnudi, Ms selaku ketua komisi pembimbing dan ibu Dr. Ir.
Nurzainah Ginting, M.Sc selaku anggota komisi pembimbing yang telah
membimbing dan memberikan berbagai arahan dan masukan berharga kepada
penulis.
Disamping itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua
civitas akademik di program studi peternakan serta semua rekan mahasiswa yang
tidak dapat di sebutkan satu persatu disini telah membantu penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini.
DAFTAR ISI
Biaya Transportasi ... 14
Permintaan Konsumen ... 15
Efisiensi Pemasaran ... 15
BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian ... 17
Metode Penelitian ... 17
Pengumpulan Data ... 17
Jenis dan Sumber Data ... 18
Parameter Penelitian ... 19
Analisa Data ... 20
HASIL DAN PEMBAHASAN Identitas Respondent Peternak dan Lembaga Pemasaran ... 23
Saluran Pemasaran ... 25
Marjin Pemasaran ... 26
Keuntungan Lembaga Pemasaran... 28
Efisiensi Pemasaran Daging Sapi ... 29
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ... 32 Saran ... 32
DAFTAR TABEL
No hal.
1. Konsumsi Per Kapita Beberapa Jenis Daging Sapi di Indonesia
Dari Tahun 2008-2012 ... 4
2. Produksi dan Konsumsi Daging Sapi di Indonesia Tahun 2005-2010 ... 5
3. Identitas Responden Peternak dan Lembaga Pemasaran ... 24
4. Marjin Pemasaran Daging Sapi Pada masing-masing Saluran
Pemasaran di Kabupaten Karo... 27
5. Biaya Pemasaran dan Keuntungan Yang Diterima Oleh Lembaga
Pemasaran Pada Masing-masing Saluran ... 28
DAFTAR LAMPIRAN
No hal.
1. Karakteristik Sosial Responden Lembaga Pemasaran ... 35
2. Harga Jual dan Biaya Pemasaran di Masing-masing Lembaga Pemasaran ... 37
3. Hasil Olah Data Dengan SPSS ... 39
ABSTRAK
RIDHO ANDHIKA: “ Pengaruh Rantai Tataniaga Terhadap Efisiensi Pemasaran Daging Sapi di Kabupaten Karo” ,dibimbing oleh HASNUDI dan NURZAINAH GINTING.
Pemasaran komoditi pertanian pada dasarnya adalah bagaimana menyalurkan produk-produk pertanian dari produsen kepada konsumen dengan harga yang wajar dan biaya pemasaran minimal, sehingga tercipta sistem pemasaran yang efisien. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Karo khususnya di 4 Kecamatan (Tiga Nderket, Tigapanah, Kabanjahe dan Berastagi) mulai bulan April sampai Mei 2014. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan unit responden peternak dan lembaga-lembaga pemasaran daging sapi. Sampel diperoleh dengan metode accidental sampling dan diperoleh 10 orang peternak, 12 pedagang pengumpul, 17 pedagang pasar dan 1 rumah potong hewan. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan secara statistik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel pola dan marjin pemasaran secara bersama-sama berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap efisiensi pemasaran. Nilai R2 sebesar 0,997; yang berarti efisiensi pemasaran dipengaruhi oleh variabel pola dan marjin pemasaran sebesar 99,70%, sedangkan sisanya sebanyak 0,30% dipengaruhi oleh variabel lain diluar model.
ABSTRACT
RIDHO ANDHIKA: " Effect of Chain Trade System to Marketing Efficiency in Beef Cattle at Karo District ", guided by HASNUDI and NURZAINAH GINTING.
Marketing of agricultural commodities is basically how to distribute agricultural products from producers to consumers at reasonable prices and marketing costs at a minimum, so as to create an efficient marketing system. This study was conducted in Karo district, especially in the subdistrict 4 (Tiga Nderket, Tigapanah, Kabanjahe and Berastagi) from April to May 2014 This study uses survey respondents breeder units and institutions of marketing beef. Samples were obtained with accidental sampling method and obtained 10 farmers, 12 traders, 17 market traders and 1 RPH. The data were analyzed descriptively and statistically.
The results showed that variable patterns and marketing margins are jointly highly significant (P <0.01) to the marketing efficiency. R2 value of 0.997; which means marketing efficiency is affected by variable patterns and marketing margin of 99.70%, while the remaining 0.30% is influenced by other variables outside the model.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Masyarakat Luas membutuhkan makanan yang bermutu tinggi dalam
jumlah yang banyak. Dalam hal inilah peternakan dapat memberikan sumbangan
yang besar. Kebutuhan makan manusia yang semakin meningkat memerlukan
peternakan yang khusus menghasilkan produk-produk tertentu dengan pemberian
pakan yang baik. Produk peternakan meliputi daging susu dan telur. Seiring
bertambahnya waktu dan tingkat pendidikan maka kebutuhan akan protein hewani
meningkat.
Tingginya harga daging sapi dipasar-pasar tradisional disebabkan oleh
beberapa faktor, yaitu : 1. Harga sapi hidup dari para peternak atau pengusaha
yang masih sangat tinggi, 2. Berkurangnya jumlah pasokan daging sapi dan, 3.
Naiknya harga BBM belakangan ini sehingga menyebabkan harga daging sapi
pun meningkat. Belum diketahui pasti apa penyebabnya perbedaan harga daging
sapi dimasing-masing penjual tersebut. Untuk itu perlu dilakukan penelitian
mengenai analisis harga daging sapi di pasar-pasar tradisional Kabupaten Karo.
Pasar juga tempat terjadinya mekanisme pasar yang mencakup informasi
tentang kualitas dan harga dari barang yang diperdagangkan mekanisme tersebut
menuntut penyaluran atau pemasaran produk dari pedagang ke konsumen dan
segmen pasar yang dituju. Pemasaran atau tataniaga sebagai salah satu komponen
pasca produksi perlu mendapatkan perhatian yang serius dalam usaha peternakan.
Masalah yang muncul adalah bahwa jika tidak ada upaya-upaya
meningkatkan efisiensi sejak dari kegiatan produksi sampai ke pemasaran, maka
menurun. Jika hal ini terus terjadi akibatnya akan menekan harga ternak di pasar
lokal dan akan mengurangi aktivitas ekonomi usaha sapi potong yang selama ini
menjadi salah satu andalan dan banyak melibatkan masyarakat kabupaten karo.
Penetapan saluran pemasaran ternak sapi potong juga menjadi sangat
penting untuk peternak, sebab dapat mempengaruhi kelancaran penjualan, tingkat
keuntungan, model, dan resiko. Saluran pemasaran merupakan saluran atau jalur
yang digunakan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk memudahkan
suatu produk bergerak dari produsen sampai berada di tangan konsumen. Dalam
pemasaran ternak sapi potong penetapan harga jual menjadi hal yang perlu
diperhatikan karena akan memberi dampak terhadap konsumen akhir. Penetapan
jalur penjualan dan harga sapi potong merupakan faktor yang penting dalam
menentukan keefisienan kegiatan pemasaran.
Sehubungan dengan hal pemasaran diatas penulis mencoba menganalisis
faktor-faktor yang mempengaruhi harga daging sapi di pasar-pasar tradisional
kabupaten karo dan untuk mengetahui sistematis penyaluran daging sapi dari
rumah potong hewan hinggga sampai ke penjual pasar-pasar tradisional.
Identifikasi Masalah
Perbedaan harga merupakan penyebab terjadinya perdagangan antar
lokasi, yakni produk-produk cenderung mengalir dari daerah surplus kedaerah
defisit, sampai perbedaan harga mendekati biaya tataniaga yang dikeluarkan
(Simamora, 2007). Untuk mempertahankan perdagangan antar daerah, diupayakan
agar margin tataniaga seminimal mungkin sehingga mempunyai daya saing
tataniaga sejak dari produsen hingga ke konsumen perlu dikoordinasikan agar
tercapai tingkat efisiensi yang di harapkan (Tomek et al, 1997).
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan harga
daging sapi di pasar-pasar tradisional Kabupaten Karo, untuk mengetahui
sistematis penyaluran daging sapi dari rumah potong hewan sampai ke penjual di
pasar-pasar tradisional. Mengetahui sistem tataniaga dan untuk mengetahui
saluran pemasaran yang lebih efisien pada pemasaran sapi potong di Kabupaten
Karo.
Hipotesis Penelitian
Ada pengaruh positif marjin pemasaran dan pola pemasaran terhadap
efisiensi pemasaran di Kabupaten Karo.
Kegunaan Penelitian
Bagi instansi terkait hususnya dapat menjadi acuan dalam rangka
pembangunan usaha ternak sapi potong diwilayah yang bersangkutan atau di
daerah lain, untuk mengetahui harga daging sapi di pasar-pasar tradisional
TINJAUAN PUSTAKA
Gambaran Umum Ternak Sapi Potong
Ternak sapi, khususnya sapi potong merupakan salah satu sumber daya
penghasil daging yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan penting artinya di dalam
kehidupan sehari-hari oleh masyarakat. Seekor atau sekelompok ternak sapi dapat
menghasilkan berbagai macam kebutuhan, terutama sebagai bahan makanan
berupa daging, disamping hasil ikutan lainnya berupa pupuk kandang, kulit, dan
tulang (Sudarmono, 2008).
Rendahnya populasi ternak sapi merupakan salah satu faktor penyebab
volume produksi daging masih rendah. Pada umumnya, dinegara kita sebagian
besar ternak sapi potong dipelihara oleh peternak masih dalam skala kecil, dengan
lahan dan lahan yang sangat terbatas (Parakkasi, 1998).
Permintaan daging sapi dipasar domestik cukup tinggi dan selalu
meningkat dari tahun ketahun, seiring dengan pertambahan jumlah penduduk,
peningkatan income dan kesadaran masyarakat akan pentingnya protein hewani.
Konsumsi daging perkapita tahun 2007 meningkat 4,8% dibanding tahun
sebelumnya. Konsumsi daging tahun 2006 sebesar 6,3 kg per kapita dana pada
tahun 2007 meningkat menjadi 6,6 kg per kapita (Direktorat Jenderal Peternakan,
2007).
Tabel 1. Konsumsi perkapita beberapa jenis daging di Indonesia dari tahun 2008 – 2012
Sedangkan data untuk konsumsi dan produksi daging sapi diindonesia dapat
dilihat pada tabel 2 berikut ini.
Tabel 2. Produksi dan konsumsi daging sapi diindonesia tahun 2006 – 2010
Tahun Produksi Daging (ton) Konsumsi(ton)
Sumber : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (2005)
Jumlah populasi sapi merupakan salah satu faktor yang menentukan
jumlah penawaran daging sapi domestik. Populasi sapi di indonesia tahun 2005
mencapai 10,6 juta ekor. Sebagian besar usaha ternak di indonesia masih di
lakukan oleh peternakan rakyat dan dilakukan sebagai usaha sampingan.
Pemotongan sapi merupakan hal yang mempengaruhi populasi.
Geografi Kabupaten Karo a. Geografi
Secara geografi letak Karo berada diantara 97⁰55’- 98⁰38’ Bujur Timur dan 2⁰50’ - 3⁰19’ Lintang Utara dengan luas 2.127,25 Km2 atau sekitar 2,97% dari luas Provinsi Sumtera Utara. Kabupaten Karo berada pada ketinggian 280-
1.420 m di atas permukaan laut dan terletak pada jajaran bukit barian sehingga
sebagian besar wilayahnya merupakan dataran tinggi. Dua gunung berapi aktif
juga terletak di wilayah ini sehingga rawan gempa vulkanik (Badan Pusat Statistik
Kabupaten Karo, 2013).
Kabupaten Karo berbatasan langsung dengan lima kabupaten dan satu
Deli Serdang, sebelah selatan dengan Kabupaten Dairi dan Kabupaten Samosir,
sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten
Simalungun dan sebelah barat dengan Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (Badan
Pusat Statistik Kabupaten Karo, 2013).
b. Iklim
Kabupaten Karo beriklim tropis dan mempunyai dua musim yaitu musim
kemarau atau musim hujan. Musim hujan pertama mulai bulan Agustus sampai
dengan bulan Januari dan musim kedua pada bulan Maret sampai dengan bulan
Mei, sedangkan musim kemarau biasanya pada bulan Februari, Juni dan Juli
(Badan Pusat Statistik Kabupaten Karo, 2013).
Curah hujan di Kabupaten Karo tahun 2010 tertinggi pada bulan
November sebesar 268 mm dan terendah pada bulan Januari sebesar 64 mm,
sedangkan jumlah hati hujan tertinggi pada bulan November sebanyak 21 hari dan
terendah pada bulan Februari sebanyak 7 hari. Suhu udara rata-rata berkisar
18,8⁰C sampai dengan 19,8⁰C dengan kelembapan udara rata-rata setinggi 84,66% (Badan Pusat Statistik Kabupaten Karo, 2013).
Tataniaga Arti Tataniaga
Tataniaga adalah suatu istilah yang digunakan untuk menyatakan
perbedaan harga yang di bayar kepada penjual pertama (Hp) dan harga yang di
bayarkan oleh pembeli terakhir (He). Margin tataniaga adalah selisih antara harga
yang dibayarkan konsumen dengan harga yang diterima lembaga tataniaga yang
Makin panjang tataniaga (semakin panjang lembaga yang terlibat) maka makin
besar pula margin tataniaganya (Daniel, 2002). Untuk menyatakan perbedaan
harga yang di bayar kepada penjual pertama (Hp) dan harga yang di bayarkan
kepada pembeli terakhir (He) ditulis dalam rumus :
Margin tiap lembaga pemasaran
M = He – Hp Dimana :
M = Margin Pemasaran (tataniaga)
Hp = Harga yang dijual kepada penjual pertama (Rp/ekor)
He = Harga yang di bayar kepada pembelian terakhir (Rp/ekor)
Margin tiap saluran pemasaran (Swastha, 1991)
Mt = M1 + M2 + ... + Mn
Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya antara penjual dan
pembeli serta di tandai dengan transaksi penjual dan pembeli dan juga transaksi
antara penjual dan pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar
menawar, bangunan biasanya terdiri atas kios-kios atau gerai, los, dan dasaran
yang terbuka yang dibuka oleh penjual atau pengelola pasar. Kebanyakan menjual
telur, daging, pakaian, dan lain-lain. Pasar tradisional seluruh indonesia mencoba
bertahan menghadapi serangan dari pasar modern (Anonim, 2009).
Pasar dibagi dalam kelompok-kelompok responsip terhadap hal yang
berbeda seperti harga, kualitas barang, pengiklanan pengecer, dan sebagainya.
Bila penjual mengetahui sekelompok pembeli lebih responsip terhadap perubahan
dalam pengeluaran untuk pengiklanan dari pada perubahan faktor-faktor pasar
(Angipora, 2002).
Defenisi pasar sebagai produsen adalah sebagai tempat untuk menjual
barang dan jasa sehingga konsumen tersebut dapat memenuhi kebutuhan dan
keinginannya, sedangkan bagi lembaga pemasaran pasar merupakan tempat untuk
melakukan aktivitas usaha dengan melaksanakan fungsi-fungsi pemasaran tertentu
sehingga lembaga pemasaran dapat keuntungan (Sudiyono, 2002).
Pemasaran
a. Arti Pemasaran
Pemasaran adalah suatu proses kegiatan yang dipengaruhi oleh berbagai
faktor sosial, budaya, politik, ekonomi dan manajerial. Akibat dari berbagai faktor
tersebut adalah masing-masing individual maupun kelompok mendapatkan
kebutuhan dan keinginan dengan menciptakan, menawarkan dan menukarkan
produk yang memiliki nilai (Rangkuti, 2004).
Pemasaran merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dengan usaha
produksi, karena pemasaran adalah ujung tombak untuk menilai berhasil atau
tidaknya usaha yang dijalankan. Tujuan akhir dari suatu proses produksi adalah
menghasilkan produk atau jasa (atau kombinasi keduanya) untuk dipasarkan atau
Rangsangan (stimulasi) yang dapat mendorong produsen untuk berproduksi
adalah harga yang memadai dan tersedianya pasar (Nugraha, 2006).
Pemasaran terdiri dari kegiatan menyalurkan produk dari produsen kepada
konsumen. Output dari pemasaran adalah kepuasan konsumen atas barang dan
jasa tersebut. Input dari pemasaran adalah tenaga kerja, modal, dan manajemen.
Efisiensi pemasaran juga dapat berarti maksimisasi penggunaan rasio input
-output, yaitu mengurangi biaya input tanpa mengurangi kepuasan konsumen
dengan output barang dan jasa. Biaya pemasaran baik besar maupun kecil adalah
indikasi bahwa pemasaran telah dilakukan (Nugraha, 2006).
Para pemasar harus memahami tehnik-tehnik dasar untuk potensi pasar
dan prakiraan permintaan dimasa yang akan datang. Setiap tehnik memiliki
kelebihan dan keterbatasan tersendiri yang harus benar-benar dipahami agar
terhindar dari kekeliruan dalam penggunaannya (Kotler, 1992).
Pemasaran dapat didefinisikan sebagai kegiatan bisnis yang mengatur arus
barang dan jasa dari produsen ke konsumen sesuai dengan waktu, tempat dan
bentuk yang dikehendaki pada harga yang di bayar konsumen (Cahyono, 1994).
b. Saluran dan Lembaga Pemasaran
Kotler (2002) memberikan definisi saluran pemasaran sebagai ” rangkaian
organisasi yang saling tergantung yang terlibat dalam proses untuk menjadikan
suatu produk barang atau jasa siap untuk dikonsumsi”. Dalam proses penyaluran
produk dari pihak produsen hingga mencapai konsumen akhir, sering ditemui
adanya lembaga lembaga perantara, mulai dari produsen sendiri, lembaga
-lembaga perantara, hingga konsumen akhir. Karena adanya perbedaan jarak dari
diharapkan kehadirannya untuk membantu penyaluran barang dari produsen ke
konsumen. Semakin jauh jarak antara produsen dengan konsumen, maka saluran
pemsaran yang terbentuk pun akan semakin panjang.
Limbong dan Panggabean, (1985) menyatakan bahwa ” keputusan saluran
pemasaran merupakan salah satu keputusan paling rumit dan menantang yang
dihadapi produsen.”. Artinya, saluran pemasaran yang dipilih akan sangat
mempengaruhi semua keputusan pemasaran lainnya.
Penyaluran barang-barang dari pihak konsumen terlibat satu sampai
beberapa golongan pedagang perantara. Pedagang perantara ini dikenal sebagai
saluran tataniaga (Marketing Chanel). Tegasnya saluran tataniaga terdiri dari
pedagang perantara yang memiliki barang dagangan atau hanya bertindak sebagai
agen dari pemilik barang (Hanafiah dan Saefuddin, 1986).
Menurut Rahadi dan Hartono (2003), bahwa pola pemasaran berlangsung
secara alami. Biasanya pola ini banyak dilakukan oleh peternak yang ingin
berusaha sendiri memasarkan produknya. Peternak dapat menjual langsung ke
konsumen, pedagang besar atau pasar-pasar yang telah ada. Salah satu pola
tersebut yaitu :
Pola 1. Peternak/produsen – konsumen
Pola 2. Peternak/produsen – pedagang pengumpul – konsumen
Pola 3. Peternak/produsen – pedagang pengumpul – rumah potong hewan –
eksportir/konsumen
Panjang pendeknya saluran pemasaran yang dilalui tergantung dari
1. Jarak antara produsen ke konsumen. Makin jauh jarak antara produsen dan
konsumen biasanya makin panjang saluran yang ditempuh oleh produk.
2. Cepat tidaknya produk rusak. Produk yang cepat atau mudah rusak harus
segera diterima konsumen dan dengan demikian mengkehendaki saluran yang
pendek dan cepat.
3. Skala produksi. Bila produksi langsung dalam ukuran-ukuran kecil maka
jumlah produk yang dihasilkan berukuran kecil.
Seluruh lembaga-lembaga pemasaran dalam proses penyampaian produk
dari produsen ke konsumen berhubungan satu sama lain yang membentuk
jaringan pemasaran. Arus pemasaran (Saluran Pemasaran) yang terbentuk dalam
proses pemasaran ini beragam sekali, misalnya :
Produsen berhubungan langsung dengan konsumen (produsen-konsumen)
Bentuk saluran distribusi yang paling pendek dan yang paling sederhana adalah
saluran distribusi dari produsen ke konsumen tanpa menggunakan perantara.
Produsen dapat menjual barang yang dihasilkannya melalui pos atau langsung
mendatangi rumah konsumen (dari rumah ke rumah). Oleh karena itu saluran ini
disebut saluran distribusi langsung.
Produsen – pengecer – konsumen akhir
Seperti halnya dengan jenis saluran produsen – konsumen, saluran ini juga disebut
sebagai saluran distribusi langsung. Disini pengecer besar langsung melakukan
pembelian kepada produsen. Adapula beberapa produsen yang mendirikan toko
pengecer sehingga dapat secara langsung melayani konsumen.
Saluran distribusi semacam ini banyak digunakan oleh produsen, dan dinamakan
saluran distribusi tradisional. Disini produsen banyak melayani pedagang besar,
kepada pedagang besar saja tidak di jual kepada pedagang pengecer. Pembelian
oleh pengecer dilayani pedagang besar, dan pembelian oleh konsumen dilayani
oleh pengecer saja.
Produsen – agen – pengecer – konsumen akhir
Disini produsen memilih agen sebagai penyaluran dalam menjalankan kegiatan
perdagangan besar, dalam saluran distribusi yang ada. Sasaran penjualannya
terutama ditujukan kepada pengecer besar.
Produsen – agen – pedagang besar – pengecer – konsumen
Dalam saluran distribusi, sering menggunakan agen sebagai perantara untuk
menyalurkan barangnya ke pedagang besar yang kemudian menjualnya kepada
toko-toko kecil. Agen yang terlihat dalam saluran distribusi ini terutama agen
penjualan.
Hubungan antar lembaga tersebut akan membentuk pola-pola pemasaran
yang khusus. Pola pemasaran yang terbentuk selama pergerakan arus komoditi
pertanian dari petani ke konsumen akhir disebut pemasaran (Kamaludin, 2008).
Biaya pemasaran adalah biaya yang dikeluarkan selama proses pemasaran
berlangsung mulai dari peternak sampai konsumen akhir. Pedagang perantara
mengeluarkan biaya dalam rangka penyelenggaraan pemasaran ternak sapi hingga
konsumen. Besarnya biaya yang dikeluarkan bagi tiap saluran pemasaran selalu
berbeda-beda. Dengan demikian semakin panjang jalur pemasaran maka jumlah
Biaya terdiri atas biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya tetap adalah
biaya yang tidak berubah sesuai dengan perubahan yang terjadi dalam jumlah
kesatuan barang yang diproduksi atau dijual. Biaya tidak tetap adalah biaya
langsung yang dapat berubah sesuai dengan perubahan yang terjadi dalam jumlah
kesatuan barang yang diproduksi atau dijual (Winardi, 1993).
c. Margin Pemasaran
Margin pemasaran dapat di definisikan sebagai perbedaan antara harga
yang di bayarkan konsumen dengan harga yang diterima peternak. Margin
pemasaran juga dapat didefinisikan merupakan biaya dari jasa-jasa pemasaran
yang dibutuhkan sebagai akibat permintaan dan penawaran dari Jasa-jasa
penawaran. Margin pemasaran dikenal berbagai komponen yang terdiri dari :
1. Biaya-biaya yang diperlukan oleh lembaga-lembaga pemasaran untuk
melakukan fungsi pemasaran yang disebut biaya pemasaran atau biaya
fungsional
2. Keuntungan lembaga pemasaran. Pada umumnya produk yang berbeda
mempunyai jasa pemasaran yang berbeda (Abubakar, 2002).
Sudiyono (2002) memberikan pengertian margin tataniaga sebagai
perbedaan harga yang dibayar oleh konsumen akhir dengan harga yang diterima
oleh petani produsen. Sementara Limbong dan Panggabean (1985) memberikan
pengertian margin tataniaga sebagai nilai dari jasa- jasa pelaksanaan kegiatan
tataniaga sejak dari tingkatan produsen hingga tingkat konsumen akhir. Margin
tataniaga pada umumnya dianalisa pada komoditi yang sama, pada jumlah yang
Sudiyono (2002) menyatakan bahwa margin pemasaran memiliki
komponen yang terdiri dari: (a) biaya - biaya yang diperlukan lembaga - lembaga
pemasaran untuk melakukan fungsi - fungsi pemasaran. Biaya - biaya ini disebut
biaya pemasaran; (b) keuntungan ( profit ) lembaga pemasaran. Sementara itu
Limbong dan Panggabean (1985) menyatakan bahwa biaya tataniaga adalah
semua jenis biaya yang dikeluarkan oleh lembaga - lembaga yang terlibat dalam
sistem tataniaga suatu komoditi dalam proses penyampaian komoditi tersebut
mulai dari produsen sampai kepada konsumen.
Menurut Hanafiah dan Saefuddin (1986) menyatakan bahwa ada beberapa
faktor yang mempengaruhi besarnya margin pemasaran yaitu :
1. Perubahan margin pemasaran, keuntungan dari pedagang perantara, harga
yang dibayar oleh konsumen dan harga yang diterima produsen.
2. Sifat barang yang di perdagangkan
3. Tingkat pengolahan barang
Biaya Transportasi (Pengangkutan)
Tranportasi merupakan tulang punggung ekonomi yang digunakan untuk
mendistribusikan barang dan orang dari suatu tempat ke tempat lain, frekuensi
pendistribusian tersebut sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain
tingkat jumlah penduduk serta tingkat kebutuhan terhadap barang. Frekuensi
pendistribusian barang dan orang merupakan volume dan berdampak terhadap
Permintaan Konsumen
Pada dasarnya, permintaan menujukkan hubungan antara harga dan jumlah
harga yang diminta. Hukum permintaan mengatakan bahwa apabila harga suatu
barang tinggi maka jumlah barang yang diminta rendah (sedikit) dan sebaliknya
apabila harga suatu barang rendah maka jumlah barang yang diminta tinggi atau
banyak (Wijaya, 1991).
Sampai juli 2013, stok daging (sapi dan kerbau) di sumut mencapai 5.997
ton atau setara 62.472 ekor. Stok ini melebihi kebutuhan warga yang mencapai
4.800 ton atau 50.000 ekor. Angka konsumsi daging ini diperoleh berdasarkan
hasil survei sosial ekonomi nasional, yakni 0,36 kg per kapita. Dengan jumlah
penduduk sumut yang mencapai 13.215.401 jiwa, maka diperoleh kebutuhan
daging yakni perkalian 0,36 kg perkapita x 13.215.401 jiwa menghasilkan 4.800
ton atau setara 50.000 ekor sapi (asumsi berat sapi per ekor antara 100 – 150 kg
dengan berat daging tanpa tulang mencapai 90 – 96 kg) (Dinas peternakan
provinsi sumatera utara, 2013).
Efisiensi Pemasaran
Efisiensi pemasaran adalah perbandingan antara kegunaan pemasaran
dengan biaya pemasaran. Beberapa faktor yang dapat digunakan sebagai ukuran
efisiensi pemasaran yaitu : 1. Keuntungan pemasaran, 2. Harga yang diterima oleh
konsumen, 3. Kompetensi dasar (Daniel, 2002).
Suatu sistem pemasaran dianggap efisien apabila memenuhi dua syarat
yaitu : 1. Mampu menyampaikan hasil-hasil produsen sampai ke konsumen
dengan biaya serendah-rendahnya. 2. Mampu mengadakan pembagian dari
serta dalam kegiatan produksi dan pemasaran barang (Downey dan Erikson,
1992).
Dalam mengukur suatu efisiensi usaha perlu di ukur juga tingkat efisiensi
pemasaran hasil baik dilakukan oleh petani atau oleh pihak lain hal ini penting
untuk menunjukkan bahwa dalam memproduksi komoditas pertanian faktor
pemasaran merupakan faktor yang tidak boleh diabaikan. Jika selisih harga petani
(farm gate price) dengan konsumen dibawah 30% termasuk pemasaran yang
efisien (Gray et al, 1996).
Menurut Sudiyono (2002), bahwa strategi yang dapat dilakukan oleh
produsen dan lembaga pemasaran untuk meningkatkan efisiensi pemasaran adalah
dengan memperluas pasar dan memperkecil margin pemasaran. Strategi
memperluas pasar dapat ditempuh dengan memperbesar permintaan konsumen
BAHAN DAN METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan di beberapa pasar tradisional Kabupaten
Karo di 4 Kecamatan (Tiga Nderket, Tigapanah, Kabanjahe dan Berastagi) pada
April sampai Mei 2014.
Metode Penelitian
1. Penentuan Responden dan Analisis Harga Daging
Responden terdiri dari pada pedagang penjual daging sapi di pasar-pasar
tradisional Kabupaten Karo. Metode penelitian digunakan adalah metode survei
dengan unit responden pedagang yang menjual daging sapi. Responden yang
berasal dari 6 pasar tradisional yang dipilih secara acak dari 17 kecamatan yang
terdapat di Kabupaten Karo, tiap pasar terdiri dari 5 orang pedagang daging sapi.
Dari masing-masing pasar responden dipilih secara accidental sampling yaitu
responden pada saat didatangi ke pasar dan bersedia untuk di wawancarai serta
memiliki data yang di perlukan (Khoirunnisa, 2008).
Pengumpulan Data
Tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Observasi yaitu melakukan pengumpulan data yang dilakukan melalui
pengamatan dan penelusuran langsung ke pasar tradisional
2. Wawancara adalah pengumpulan data yang dilakukan melalui interview
langsung dengan responden yakni peternak sapi potong dan lembaga
Untuk memudahkan dalam proses interview digunakan kuisioner atau daftar
pertanyaan.
Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah:
1. Data kualitatif yaitu data yang dapat menggambarkan dan menjelaskan
mengenai bentuk saluran pemasaran di Kabupaten Karo.
2. Data kuantitatif yaitu data yang berupa angka-angka yang berupa biaya
pemasaran tiap lembaga, harga penjual tiap lembaga dan harga pembelian tiap
lembaga.
Sumber data yang digunakan pada penelitian ini adalah :
a. Data primer yaitu data yang bersumber dari hasil wawancara langsung
dengan responden yaitu peternak sapi potong di Kabupaten Karo. Mengenai
pemasaran ternak sapi potong yang hususnya mengenai penjualan dan lain
sebagainya yang berkaitan dengan penelitian.
b. Data sekunder adalah data yang bersumber dari buku-buku, laporan-laporan,
badan pusat statistik, dan instansi terkait lainnya.
Berdasarkan hasil yang telah diperoleh, maka untuk melihat faktor-faktor
yang mempengaruhi pendapatan dapat dilihat dengan menggunakan model
pendekatan tehnik ekonometri dengan menggunakan analisis regresi linier
berganda dengan alat bantu software statistical package for social sciencis (SPSS
16). Menurut Djalal dan Usman (2002) model pendukung yang digunakan :
Ý = a + b
1X
1+
b
2X
2+ µ
Keterangan :
a : adalah koefisien intercept (konstanta)
b1,b2,b3 : adalah koefisien regresi
X1 : adalah marjin pemasaran
X2 : adalah pola pemasaran
µ
: adalah variabel lain yang ditelitiParameter Penelitian
1. Petani ternak sapi potong adalah petani ternak yang mengusahakan
(berternak) sapi potong serta merupakan milik sendiri atau orang lain
sebanyak 2-4 ekor .
2. Pedagang Pengumpul adalah kelompok pedagang yang kegiatannya membeli
produksi dari produsen secara langsung atau melalui lembaga pemasaran lain
kemudian dikumpulkan dan dijual kepada pedagang lain.
3. RPH/jagal adalah orang/lembaga yang membeli sapi potong dalam keadaan
hidup untuk dikonsumsi maupun dijual lagi dalam kondisi yang telah berubah
bentuk.
4. Pedagang pasar adalah kelompok pedagang yang kegiatannya memasarkan
produk sapi potong kepada konsumen.
5. Harga jual sapi potong adalah harga yang diterima peternak dari lembaga
pemasaran dan yang di hitung dalam satuan rupiah per kilogram.
6. Harga beli sapi potong adalah harga yang dibayarkan oleh masing-masing
lembaga pemasaran dengan satuan Rp/kg.
7. Lembaga pemasaran adalah lembaga-lembaga atau badan-badan yang
8. dan dikelola oleh blantik, pedagang pengumpul, jagal dan pedagang pengecer
yang melaksanakan aktifitas pemasaran.
9. Saluran pemasaran sapi potong adalah rantai pemasaran sapi potong dari
produsen sampai ke konsumen.
10. Biaya pemasaran adalah biaya yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran
dalam memasarkan sapi potong dengan satuan Rp/Kg.
11. Keuntungan lembaga pemasaran adalah selisih antara nilai penjualan dengan
nilai pembelian dengan satuan Rp/Kg.
12. Marjin pemasaran adalah merupakan jumlah biaya yang dikeluarkan dan
banyaknya jumlah keuntungan yang diterima oleh tiap lembaga pemasaran
terhadap saluran pemasaran sapi potong dengan satuan Rp/Kg.
13. Share biaya/keuntungan lembaga pemasaran adalah bagian biaya/keuntungan
lembaga pemasaran.
Analisa Data
Analisa data yang digunakan pada penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui bentuk saluran pemasaran ternak sapi potong digunakan
analisa deskriptif
2. Untuk mengetahui margin tiap lembaga pemasaran dan saluran pemasaran di
gunakan rumus sebagai berikut :
a. Margin tiap lembaga pemasaran ternak sapi potong
M =Hp – Hb Dimana :
M = Margin lembaga Pemasaran
Hb = Harga Pembelian (Rp/kg)
b. Margin tiap saluran pemasaran
Mt =M1 +M2 +...+Mn Dimana :
Mt = Margin Saluran Pemasaran
M1 = Margin Pemasaran Lembaga Pemasaran ke-1
M2 = Margin Pemasaran Lembaga Pemasaran ke-2
Mn = Margin Pemasaran Lembaga Pemasaran ke-n
3. Untuk mengetahui besarnya keuntungan dari masing-masing lembaga
pemasaran digunakan rumus :
Π =ML-TC
Dimana:
Π = Keuntungan Lembaga Pemasaran (Rp/kg)
ML = Margin lembaga Pemasaran (Rp/kg)
TC = Biaya total pemasaran yang dikeluarkan tiap lembaga pemasaran
(Rp/kg)
4. Untuk mengetahui keuntungan pemasaran dari tiap saluran pemasaran
digunakan rumus:
Πt =Π1 +Π2 +....Πn
Dimana :
Πt = Keuntungan saluran pemasaran
Π1 = Keuntungan lembaga pemasaran ke-1
Π2 = Keuntungan lembaga pemasaran ke-2
5. Untuk mengetahui efisiensi saluran pemasaran digunakan rumus:
Ep = BP NP
x 100%
Dimana:
EP = Efisiensi Pemasaran (Rp/kg)
BP = Total harga di tingkat peternak (Rp/kg)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Identitas responden lembaga pemasaran
Indikator yang dijadikan identitas responden antara lain adalah umur,
tingkat pendidikan, pengalaman sebagai peternak dan pedagang/usaha pemasaran.
Indikator tersebut untuk menggambarkan keragaman sumberdaya manusia dalam
kegiatan bidang peternakan baik sebagai produsen maupun pedagang/lembaga
pemasaran yang berfungsi membantu dalam distribusi daging sapi mulai dari
produsen sampai ke tangan konsumen. Lembaga - lembaga yang terlibat dalam
penelitian ini sebanyak empat lembaga, yaitu: (a) produsen, (b) pengumpul, (c)
RPH/jagal dan (d) pedagang pasar. Produsen adalah pihak yang memproduksi
sapi potong untuk dijual ke pihak lain.
Produsen merupakan pihak pertama dari alur pemasaran sapi potong.
Produsen sapi potong dapat memiliki berbagai skala usaha yang pada akhirnya
memiliki kapasitas produksi yang berbeda- beda. Produsen sapi potong yang
dijadikan sampel dalam penelitian ini sebanyak 10 produsen, dengan lokasi, dan
kapasitas produksi sapi potong yang berbeda- beda.
Pengumpul merupakan pihak yang melakukan pembelian sapi potong hasil
produksi produsen. Pengumpul kemudian melakukan penjualan kepada pedagang
besar atau dapat juga dijual langsung kepada konsumen. Seorang pengumpul
umumnya juga mengangkut komoditas lain selain sapi potong untuk dijual
kembali.
RPH/jagal adalah orang/lembaga yang membeli sapi potong dalam
berubah bentuk. Pedagang pasar adalah kelompok pedagangan yang kegiatannya
memasarkan produk sapi potong kepada konsumen. Hasil penelitian tentang
identitas responden lembaga pemasaran selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Identitas Responden Lembaga Pemasaran Identitas Peternak
Sumber:hasil pengolahan data primer 2014
Berdasarkan Tabel 3 di atas dapat dilihat bahwa umur produsen maupun
lembaga pemasaran (pedagang pengumpul, pedagang pasar dan anggota RPH)
sebagian besar berumur 25–50 tahun, dan termasuk dalam kelompok umur
produktif. Kelompok umur ini sangat potensial untuk beraktivitas dalam rangka
mengembangkan usaha. Pendidikan responden peternak dan lembaga pemasaran
sebagian besar pada tingkat SLTP dan SLTA, terutama produsen dan pedagang
pasar. Mengacu pada tingkat pendidikan dapat dikategorikan tinggi, hal ini
diharapkan dapat mendukung dalam penyerapan berbagai informasi tentang
kegiatan yang terkait dengan bidang usaha peternakan maupun tentang
pemasaran.
Pengalaman beternak atau usaha pemasaran sapi potong cukup bervariasi.
orang (40%), sisanya masing–masing sebanyak 2 dan 4 orang yang mempunyai
pengalaman 5–10 tahun dan 1–5 tahun. Pengalaman responden pada lembaga
pemasaran sebagian besar berada pada kisaran 6–10 tahun. Pengalaman responden
di bidang usaha beternak maupun usaha pemasaran daging yang semakin lama
diharapkan responden tersebut dapat lebih mengetahui dan mendalami tentang
manajemen usaha yang dilakukan, sehingga mampu mengantisipasi persoalan
yang ada. Menurut Mosher (1965) semakin tinggi tingkat pengetahuan dan
keterampilan mengakibatkan petani peternak lebih dinamis, aktif dan terbuka
dalam mengadopsi suatu teknologi. Kondisi ini penting mengingat saat ini
diperlukan pengetahuan dan pemahaman secara baik tentang perkembangan usaha
yang semakin cepat baik teknologi maupun aspek pemasaran.
Saluran Pemasaran
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa saluran pemasaran yang
ada di Kabupaten Karo hususnya di 4 Kecamatan (Tiga Nderket, Tigapanah,
Kabanjahe dan Berastagi) terdiri dari tiga pola pemasaran yaitu:
a) Pola I : Peternak – Pedagang Pasar- Konsumen
b) Pola II : Peternak – Pedagang Pengumpul – Pedagang Pasar – Konsumen
c) Pola III: Peternak – Pedagang Pengumpul – RPH – Pedagang Pasar
Konsumen.
Petani ternak sapi potong adalah petani ternak yang mengusahakan
(berternak) sapi potong serta merupakan milik sendiri atau orang lain sebanyak
2-4 ekor . Pedagang Pengumpul adalah kelompok pedagang yang kegiatannya
membeli produksi dari produsen secara langsung atau melalui lembaga pemasaran
orang/lembaga yang membeli sapi potong dalam keadaan hidup untuk dikonsumsi
maupun dijual lagi dalam kondisi yang telah berubah bentuk. Pedagang pasar
adalah kelompok pedagang yang kegiatannya memasarkan produk sapi potong
kepada konsumen.
Marjin Pemasaran
Marjin pemasaran yaitu selisih harga jual dengan harga beli dan
merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi
suatu sistem pemasaran. Marjin pemasaran terdiri dari biaya pemasaran dan
keuntungan lembaga pemasaran. Dalam pembahasan ini akan diuraikan marjin
pemasaran melalui dari tingkat pedagang pengumpul desa sampai ke pedagang
besar pada masing-masing saluran pemasaran.
Analisis mengenai margin pemasaran dan Farmer’ Share dilakukan
dengan penghitungan margin pemasaran yang diperoleh oleh lembaga pemasaran,
berdasarkan pengurangan harga penjualan dengan harga pembelian dan biaya
yang dikeluarkan. Hasil perhitungan terhadap biaya, keuntungan, margin
pemasaran, dan sebaran margin pemasarannya dianalisis lebih lanjut untuk
mengetahui besarnya margin yang diperoleh masing- masing lembaga pemasaran
dan tingkat efisiensi saluran. Adapun marjin pemasaran pada masing-masing
Tabel 4. Marjin Pemasaran Daging Sapi Pada Masing-masing Saluran Pemasaran di Kabupaten Karo
Pola Saluran Pemasaran Harga Jual (Rp/Kg)
P.Pengumpul 41.214,29 38.700 2.514,29
P.Pasar 44.628,57 41.214,29 3.414,28
Total 5.938,57
III Peternak 38.933,33 - -
P. Pengumpul 41.420 38.933,33 2.486,67
RPH 42.500 41.420 1.080
P.Pasar 44.960 42.500 2.460
Total 6.026,67
Sumber:hasil pengolahan data primer 2014
Berdasarkan Tabel 4 hasil penelitian diperoleh bahwa total marjin
pemasaran tertinggi di peroleh pada pola III yaitu sebesar Rp. 6.026,67 dan
terendah terdapat pada pola I yaitu sebesar Rp. 5.926, 67. Besarnya marjin
tersebut mengindikasikan bahwa semakin panjang saluran distribusi maka marjin
pemasaran akan semakin besar, sebaliknya semakin pendek saluran distribusi
maka marjin pemasaran akan semakin kecil/berkurang.
Lebih lanjut Saliem (2004) menyatakan tujuan analisis margin pemasaran
bertujuan untuk melihat efisiensi pemasaran yang diindikasikan oleh besarnya
keuntungan yang diterima oleh masing-masing pelaku pemasaran. Semakin tinggi
proporsi harga yang diterima produsen, semakin efisien sistem pemasaran
tersebut. Besarnya keuntungan yang diterima oleh masing-masing pelaku
pemasaran relatif terhadap harga yang dibayar konsumen dan atau relatif terhadap
Keuntungan Lembaga Pemasaran
Keuntungan lembaga pemasaran adalah balas jasa yang diterima oleh
masing-masing lembaga pemasaran yang turut serta memasarkan sapi potong
mulai dari tingkat petani sampai tingkat konsumen. Dalam memasarkan sapi
potong, keuntungan yang diperoleh oleh masing- masing lembaga pemasaran
tidaklah sama dan tidak menyebar dengan merata. Adapun keuntungan lembaga
pemasaran yang memasarkan komoditi sapi potong masing-masing saluran dapat
dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Biaya Pemasaran dan Keuntungan yang Diterima Oleh Lembaga Pemasaran Pada Masing-masing Saluran
Pola Saluran Pemasaran Biaya Pemasaran (Rp) Keuntungan (Rp)
I Peternak - -
P.Pasar 440 (7,43%) 5.486,67 (92,57%)
II Peternak - -
P.Pengumpul 371,43 (14,78%) 2.142,86 (85,22%)
P.Pasar 458,57 (13,44%) 2.955,71 (86,56%)
III Peternak - -
P.Pengumpul 362 (14,56%) 2.124,67 (85,44%)
RPH 300 (27,78%) 780 (72,22%)
P.Pasar 372 (15,13%) 2.088 (84,87%)
Sumber:hasil pengolahan data primer 2014
Dari Tabel 5. diatas diketahui bahwa biaya pemasaran keuntungan yang
terkecil diterima oleh pedagang pasar pada saluran III yaitu hanya sebesar
Rp.2.088/Kg dari harga jual kepada konsumen, sedangkan keuntungan tertinggi
diperoleh pedagang pasar pada saluran I yaitu sebesar Rp.5.486,67/Kg dari
harga jual kepada konsumen. Hal ini dikarenakan saluran pemasaran yang di
lalui cukup pendek sehingga dapat menekan biaya pemasaran dan marjin
Efisiensi Pemasaran Daging Sapi
Masalah pemasaran komoditi pertanian pada dasarnya adalah bagaimana
menyalurkan produk-produk pertanian dari produsen kepada konsumen dengan
harga yang wajar dan biaya pemasaran minimal. Menurut Soekartawi (1997),
Efisiensi pemasaran yang efisien jika biaya pemasaran lebih rendah daripada nilai
produk yang dipasarkan, semakin rendah biaya pemasaran dari nilai produk yang
dipasarkan semakin efisien melaksanakan pemasaran. Perhitungan efisiensi
pemasaran dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Efisiensi pemasaran daging sapi di Kabupaten Karo Pola
Rata-rata 38.755,55 44.716,19 86,66
Sumber:hasil pengolahan data primer 2014
Berdasarkan Tabel 6 hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi
pemasaran pada Pola I sebesar 86,69%, Pola II 86,71% dan Pola III 86,59%.
Menurut Sudiyono (2002) strategi yang dapat dilakukan oleh produsen dan
lembaga pemasaran untuk meningkatkan efisiensi pemasaran adalah dengan
memperluas pasar dan memperkecil marjin pemasaran. Strategi memperluas pasar
dapat ditempuh dengan memperbesar permintaan konsumen dan pelaksanaan
pemasaran tertata.
Menurut Downey dan Erickson (1992) bahwa pemasaran hasil pertanian
ditinjau dari bagian harga yang diterima oleh petani produsen dikatakan efisien
apabila harga jual petani lebih dari 40% dari harga tingkat konsumen. Mengacu
sapi di Kabupaten Karo sudah efisien, dengan tingkat efisiensi sebesar 86,66%.
Atau dapat dikatakan bahwa bagian harga yang dinikmati oleh produsen sebesar
86,66% terhadap harga ditingkat konsumen. Hasil perhitungan ini menunjukkan
bahwa pemasaran daging sapi ditinjau dari bagian harga yang diterima oleh
peternak sudah melebihi batas 40%.
Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi pemasaran daging sapi di Kabupaten Karo
Efisiensi pemasaran sapi potong sangat diharapkan oleh pelaku pasar
mulai dari produsen sampai konsumen. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja
yang mempengaruhi efisiensi pemasaran dicoba dianalisis dengan menggunakan
model regresi linier berganda. Sebagai variabel dependen (Y) adalah efisiensi
pemasaran sedangkan variabel independen adalah X1 = margin pemasaran, dan
X2 = pola pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persamaan regresi
yang dihasilkan adalah sebagai berikut:
Y = 99,424 – 0,002X1 – 0,071X2 Nilai R2 = 0,997
Berdasarkan uji statistik dengan menggunakan dengan uji F menunjukkan
bahwa efisiensi pemasaran dipengaruhi sangat nyata (P<0,01) dipengaruhi oleh
variabel margin sedangkan pengaruh pola pemasaran tidak nyata terhadap
efisiensi pemasaran. Hasil ini sesuai pendapat Sudiyono (2002) bahwa efisiensi
pemasaran antara lain dipengaruhi oleh marjin pemasaran, harga, dan tingkat
persaingan pasar. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa nilai koefisien
determinasi (R2) sebesar 0,997, yang berarti sebanyak 99,70% variabel dependen
(efisiensi pemasaran) secara bersama-sama dipengaruhi oleh variabel independen
dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak termasuk dalam model. Secara parsial
dengan menggunakan uji t menunjukkan bahwa variabel X1 (margin pemasaran)
berpengaruh secara sangat nyata (P<0,01) terhadap efisiensi pemasaran sedangkan
pola pemasaran tidak berpengaruh nyata terhadap efisiensi pemasaran (P>0,01).
Nilai koefisien regresi X1 (margin pemasaran) diperoleh hasil sebesar
-0,002. Hasil ini dapat diartikan bahwa setiap kenaikan 1% marjin akan
menurunkan efisiensi pemasaran sebesar 0,002%. Selanjutnya pada variabel X2
(pola pemasaran) diperoleh nilai koefisien regresi sebesar -0,071 yang dapat
diartikan bahwa setiap kenaikan 1% pola akan menurunkan efisiensi pemasaran
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa variabel marjin
pemasaran dan pola pemasaran secara bersama-sama berpengaruh positif
terhadap efisiensi pemasaran.
2. Efisiensi pemasaran dipengaruhi oleh variabel pola pemasaran dan marjin
pemasaran sebesar 99,70%, dan sisanya sebanyak 0,30% dipengaruhi oleh
variabel lain diluar model.
Saran
Sebaiknya untuk meningkatkan efisiensi pemasaran di Kabupaten Karo
dapat dilakukan dengan cara memperluas pasar dan memperkecil marjin
DAFTAR PUSTAKA
Angipora. 2002. Dasar-dasar Pemasaran. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Anonim. 2009. Pasar Tradisional. Rajawali. Jakarta.
BPS.2013. Populasi Ternak Kabupaten Karo. Biro Pusat Statistik Sumatera Utara.
Cahyono, B. T. 1994. Manajemen Pemasaran, Analisis Agribisnis dan Industri. STIE IPWI. Program Magister Manajemen.
Daniel, M. 2002. Pengantar Ekonomi Pertanian Untuk Perencanaan. UI_Press. Jakarta.
Djalal, N. dan H. Usman. 2002. Penggunaan Teknik Ekonometri. Edisi I. Cetakan I. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Dinas Perikanan dan Peternakan Kaupaten Karo. 2013.
Downey dan Erickson. 1992. Manajemen Agribisnis. Erlangga. Jakarta.
Gray, C. L. K. Sabur. P. Simanjuntak dan P. F. L. Maspaitella. 1996. Pengantar Evaluasi Proyek. PT. Gramedia. Jakarta.
Hanafiah dan Saefuddin. 1986. Tataniaga Hasil Perikanan. Edisi kedua. UI_Press. Jakarta.
Kamaludin. 2008. Lembaga dan Saluran Pemasaran. www. Jurnalistik.co.id. Diakses pada tanggal 12 Oktober 2012.
Kotler, P. 1992. Manajemen Pemasaran. Erlangga. Jakarta.
Kotler, P. 2002. Manajemen Pemasaran Edisi Milenium. Jakarta: Prentince Hall Indonesia.
Limbong, W. H dan Panggabean, S. 1985. Pengantar Tataniaga Pertanian. Jurusan Ilmu - ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Mosher, A.T. 1965. Menggerakkan dan Membangun Pertanian. CV Yasaguna, Jakarta.
Nugraha, A. P, 2006. Analisis Efisiensi Pemasaran Jamur Tiram Segar di Bogor Provinsi Jawa Barat. IPB_press. Bogor.
Rahadi, F dan Hartono, R. 2003. Agribisnis Peternakan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Rangkuti, F. 2004. Analisis Swot. Tehnik Membedah Kasus Bisnis. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Saliem, H.P. 2004. Analisis Margin Pemasaran : Salah Satu Pendekatan dalam Sistem Distribusi Pangan. DalamProspek Usaha dan Pemasaran Beberapa Komoditas Pertanian. Monograph Series No. 24. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor.
Simamora. 2007. Analisis Sistem Tataniaga. IPB_Press. Bogor.
Soekartawi. 1997. Analisis Fungsi Produksi. Jakarta: Rajawali Pers. PT. Raja Grafindo Persada
Sudarmono. 2008. Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sudiyono, A. 2002. Pemasaran Pertanian. UMM_Press. Malang.
Swastha. 1991. Manajemen Pemasaran Modern. Liberty Offest. Yogyakarta.
Tomek, et al., 1997. Agriculture Product Price Cornell. Universitay-Press. London.
Winardi. 1993. Aspek-aspek Bauran Pemasaran (Marketing Mix) CV. Bandar Maju. Bandung.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Karteristik Sosial Responden Lembaga Pemasaran
12 R. Ginting 49 9 9 Kabanjahe
13 A. Tarigan 50 12 13 Kabanjahe
14 Baskita Gurusinga 45 9 11 Berastagi
15 Surya Sinuhaji 34 12 11 Berastagi
16 Soleh 46 9 12 Berastagi
17 P. Manik 45 9 12 Berastagi
RPH
Lampiran 2. Harga Jual dan Biaya Pemasaran di Masing-Masing Lembaga Pemasaran
No NAMA Harga Jual (Rp/kg) Biaya Pemsaran (Rp/kg)
13 B. Tarigan 44.000 380
14 Baskita Gurusinga 45.000 390
15 Surya Sinuhaji 44.800 370
16 Soleh 45.500 340
17 P. Manik 45.500 380
RPH
Lampiran 3. Hasil Olah Data Dengan SPSS
Descriptive Statistics
Mean
Std.
Deviation N
Efisiensi Pemasaran 89.3320 2.08795 10
Marjin Pemasaran 4648.5000 991.95835 10
Pola Pemasaran 2.0000 .81650 10
Efisiensi Pemasaran 1.000 -.998 .662
Marjin Pemasaran -.998 1.000 -.678
a. Predictors: (Constant), Pola Pemasaran, Marjin Pemasaran
ANOVAb
Model
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 39.112 2 19.556 1105.107 .000a
Residual .124 7 .018
Total 39.236 9
a. Predictors: (Constant), Pola Pemasaran, Marjin Pemasaran b. Dependent Variable: Efisiensi Pemasaran
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 99.424 .400 248.548 .000
Marjin
Pemasaran -.002 .000 -1.017 -35.212 .000
Pola Pemasaran -.071 .074 -.028 -.958 .370