• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peraturan PerUU Bid kepeg

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peraturan PerUU Bid kepeg"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Menerapkan

strategic

human

resource

management dan sistem merit dalam manajemen

sumberdaya ASN

Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah

profesi

bagi

pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah

dengan perjanjian kerja yang

bekerja

pada

instansi pemerintah.

ASN sebagai Profesi

:

Memiliki standar pelayanan profesi

Memiliki dan menegakkan kode etik dan kode perilaku

profesi

Memiliki sistem pendidikan dan pelatihan profesiMemiliki standar sertifikasi profesi

Memiliki organisasi profesi yang independen

(3)

KEDUDUKAN

berkedudukan sebagai unsur aparatur negara

melaksanakan kebijakan yang ditetapkan oleh pimpinan

harus bebas dari pengaruh/intervensi golongan & partai politik

KEDUDUKAN

berkedudukan sebagai unsur aparatur negara

melaksanakan kebijakan yang ditetapkan oleh pimpinan

(4)

a. Memegang teguh idiologi Pancasila

b. Setia dan mempertahankan UUD Negara RI Tahun 1945 serta

pemerintah yang sah

c. Mengabdi kepada negara dan rakyat Indonesia

d. Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak e. Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian

f. Menciptakan lingkungan kerja yang non diskriminatif

g. Memelihara dan menjunjung tinggi standar etika yang luhur

h. Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada publik i. Memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan program

pemerintah

j. Memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap, cepat,

tepat, akurat, berdaya guna, berhasil guna, da santun

k. Mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi l. Menghargai komunikasi, konsultasi dan kerja sama

m. Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai n. Mendorong kesetaraan dalam pekerjaan

o. Meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis

(5)

 Tujuan Kode Etik dan Kode Perilaku  menjaga martabat dan kehormatan

ASN

 Berisi pengaturan perilaku agar pegawai ASN :

a. Melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggung jawab, dan berintegritas tinggi

b. Melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin

c. Melayani dengan sikap hormat, sopan dan tanpa tekanan d. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan

e. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan atau pejabat yang berwenang sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan

peraturan perundang-undangan dan etika pemerintahan f. Menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan negara

g. Menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung jawab, efektif dan efisien

h. Menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam melaksanakan tugasnya

i. Memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan kepada fihak lain yang memerlukan informasi terkait kepentingan kedinasan j. Tidak menyalahgunakan informasi interen negara, tugas, status

kekuasaan dan jabatannya untuk mendapat atau mencari keuntungan atau manfaat bagi diri sendiri atau untuk orang lain

k. Memegang teguh nilai dasar ASN dan selalu menjaga reputasi dan integritas ASN

(6)

Fungsi

Pelaksana kebijakan publik

Pelayan publik

Perekat dan pemersatu

bangsa

Tugas

– Melaksanakan kebijakan publik yang dibuat oleh PPK sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan

– Memberikan pelayan publik yang profesional dan berkualitas

– Mempererat persatuan dan kesatuan NKRI

Peran

– Sebagai perencana, pelaksana dan pengawas penyelenggaraan tugas umum pemerintahan dan

pembangunan nasional melalui

(7)

Jabatan Fungsional Keterampilan

• Penyelia • Mahir • Terampil • Pemula

Jabatan Jabatan Administrasi Administrasi Jabatan Fungsional Jabatan Pimpinan Tinggi

 Jabatan Administrator bertanggungjawab memimpin pelaksanaan seluruh kegiatan pelayanan publik serta adm pemerintahan dan pembangunan

Jabatan Pengawas bertanggungjawab mengendalikan pelak kegiatan yang dilakukan oleh pejabat pelaksana

Jabatan Pelaksana bertanggungjawab melaksanakan kegiatan pelayanan publik serta administrasi pemerintahan dan pembangunan

Jabatan Fungsional Keahlian

• Ahli Utama • Ahli Madya • Ahli Muda • Ahli Pertama

Jabatan Pimpinan Tinggi Utama

Jabatan Pimpinan Tinggi Madya

Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama

Syarat Jabatan Pimpinan Tinggi :

- Kompetensi

- Kualifikasi

- Kepangkatan

- Pendidikan dan Pelatiham

- Rekam jejak jabatan

- Integritas

(8)

HAK DAN KEWAJIBAN

 Setia & taat pada Pancasila, UUD ‘45, NKRI & pemerintahan yg sah

Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa

Melaksanakan kebijakan yang dirumuskan pejabat

pemerintah yang berwenang

 Mentaati ketentuan peraturan per-UU-an

 Menunjukkan integritas dan keteladanan

Menyimpan rahasia

Bersedia ditempatkan diseluruh NKRI

Setia & taat pada Pancasila, UUD ‘45, NKRI &

pemerintahan yg sah

 Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa

 Melaksanakan kebijakan yang dirumuskan pejabat pemerintah yang berwenang

Mentaati ketentuan peraturan per-UU-an Menunjukkan integritas dan keteladanan Menyimpan rahasia

 Bersedia ditempatkan diseluruh NKRI

PNS PPPK

1. Gaji, tunjangan dan

fasilitas Gaji dan tunjangan

2. Cut Cut

3. Jaminan pensiun dan

jaminan hari tua

-4. Perlindungan Perlindungan 5. Pengambangan

(9)

1.

Manajemen ASN adalah

pengelolaan ASN

untuk

menghasilkan Pegawai ASN yang

profesional

, memiliki

nilai dasar, etika profesi

, bebas dari intervensi politik,

bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

2.

Presiden

selaku pemegang kekuasaan pemerintahan

merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam

kebijakan, pembinaan profesi, dan Manajemen ASN.

3.

Untuk menyelenggarakan kekuasaan sebagaimana

dimaksud pada ayat (1), Presiden mendelegasikan

sebagian kekuasaannya kepada:

Menteri/Kementerian PANRB;

KASN;

LAN; dan

BKN.

(10)

PRESIDE

N

PRESIDE

N

KEMEN PANRB

KEMEN PANRB LANLAN BKNBKN KASN

Perumusan dan

penetapan kebijakan,

Koordinasi dan

sinkronisasi kebijakan,

Pengawasan atas

pelaksanaan kebijakan ASN;Penelitan, pengkajian kebijakan manajemen ASN,

Pembinaan dan

penyelenggaraan Diklat ASN

Penyelenggaraan

manajemen ASN

Pengawasan dan

pengendalian pelaksanaan NSPK manajemen ASNPenyelenggaraan manajemen ASN

Pengawasan dan

pengendalian pelaksanaan NSPK manajemen ASN

Memegang kekuasaan tertnggi pembinaan dan manajemen ASN

STRUKTUR KELEMBAGAAN

STRUKTUR KELEMBAGAAN

10

(11)

Kedudukan:

KASN merupakan lembaga nonstruktural yang mandiri dan bebas dari intervensi politik untuk menciptakan Pegawai ASN yang profesional dan berkinerja, memberikan pelayanan secara adil dan netral, serta menjadi perekat dan pemersatu bangsa

Tugas

a. menjaga netralitas Pegawai ASN;

b. melakukan pengawasan atas pembinaan profesi ASN; dan c. melaporkan pelaksanaan tugas kepada Presiden.

Fungsi

mengawasi pelaksanaan norma dasar, kode etik dan kode perilaku ASN, serta penerapan Sistem Merit dalam kebijakan dan Manajemen ASN pada Instansi Pemerintah

(12)

Tindak Lanjut Keputusan KASN

Tindak Lanjut Keputusan KASN

12

Hasil pengawasa

n KASN

PPK dan PyB wajib

menindaklanjuti Ditindaklanjuti

Tidak Ditindakla

njuti

KASN merekomendasikan kepada Presiden untuk menjatuhkan sanksi terhadap PPK dan PyB yang melanggar prinsip Sistem Merit dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Sanksi sebagaimana dimaksud berupa: a. peringatan;

b. teguran;

c. perbaikan, pencabutan, pembatalan, penerbitan keputusan, dan/atau pengembalian pembayaran; d. hukuman disiplin untuk PyB sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan

e. sanksi untuk PPK, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Sanksi sebagaimana dimaksud berupa: a. peringatan;

b. teguran;

c. perbaikan, pencabutan, pembatalan, penerbitan keputusan, dan/atau pengembalian pembayaran; d. hukuman disiplin untuk PyB sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan

e. sanksi untuk PPK, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(13)

Lembaga Administrasi

Lembaga Administrasi

Negara

Negara

Fungsi :

pengembangan standar kualitas pendidikan dan pelatihan

Pegawai ASN;

pembinaan

pendidikan

dan

pelatihan

kompetensi

manajerial Pegawai ASN;

penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan kompetensi

manajerial Pegawai ASN baik secara sendiri maupun

bersama-sama lembaga pendidikan dan pelatihan lainnya;

pengkajian terkait dengan kebijakan dan Manajemen ASN;

dan

melakukan akreditasi lembaga pendidikan dan pelatihan

Pegawai ASN, baik sendiri maupun bersama lembaga

pemerintah lainnya.

(14)

Tugas :

meneliti, mengkaji, dan melakukan inovasi Manajemen

ASN sesuai kebutuhan kebijakan;

membina dan menyelenggarakan pendidikan dan

pelatihan Pegawai ASN berbasis kompetensi;

merencanakan dan mengawasi kebutuhan pendidikan

dan pelatihan Pegawai ASN secara nasional;

menyusun standar dan pedoman penyelenggaraan dan

pelaksanaan diklat, serta pemberian akreditasi dan

sertifikasi di bidangnya dengan melibatkan K/L terkait;

memberikan sertifikasi kelulusan peserta pendidikan

dan pelatihan penjenjangan;

membina dan menyelenggarakan pendidikan dan

pelatihan analis kebijakan publik; dan

membina jabatan fungsional di bidang pendidikan dan

(15)

B

B

adan

adan

K

K

epegawaian

epegawaian

N

N

egara

egara

Fungsi :

pembinaan penyelenggaraan Manajemen

ASN;

Manajemen

ASN

dalam

bidang

pertimbangan teknis formasi, pengadaan,

perpindahan

antarinstansi,

persetujuan

kenaikan pangkat, pensiun; dan

penyimpan informasi Pegawai ASN yang

telah dimutakhirkan instansi pemerintah

serta pengelolaan dan pengembangan

Sistem Informasi ASN

.

(16)

tugas :

mengendalikan seleksi calon Pegawai ASN;

membina dan menyelenggarakan penilaian kompetensi serta

mengevaluasi pelaksanaan penilaian kinerja Pegawai ASN oleh Instansi Pemerintah;

membina jabatan fungsional di bidang kepegawaian;

mengelola dan mengembangkan sistem informasi kepegawaian

ASN;

menyusun NSPK kebijakan Manajemen ASN;

menyelenggarakan administrasi kepegawaian ASN; dan

mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan NSPK manajemen

kepegawaian ASN

Wewenang :

Mengawasi dan mengendalikan norma, standar,

(17)
(18)

Sistem Merit adalah kebijakan dan Manajemen ASN yang berdasarkan pada

(19)

19 MANAJEMEN

PNS

MANAJEMEN PNS

penyusunan dan

penetapan kebutuhan;

pengadaan;

pangkat dan jabatan;

pengembangan karier;

pola karier;

promosi;

mutasi;

Penilaian kinerja

penggajian dan tunjangan;

penghargaan;

disiplin;

pemberhentian;

pensiun dan tabungan hari

tua; dan

perlindungan.

penyusunan dan

penetapan kebutuhan;

pengadaan;

pangkat dan jabatan;

pengembangan karier;

pola karier;

promosi;

mutasi;

Penilaian kinerja

penggajian dan tunjangan;

penghargaan;

disiplin;

pemberhentian;

pensiun dan tabungan hari

tua; dan

(20)

a.

Setiap

instansi

pemerintah

wajib

menyusun

kebutuhan

jumlah

dan

jenis

jabatan

PNS

berdasarkan analisis jabatan dan analisis

beban kerja.

b.

Perencanaan kebutuhan SDM 5 tahun dengan

rincian per tahun berdasarkan prioritas kebutuhan

c.

Ditetapkan oleh Menteri secara nasional.

(21)

a.

pengisian kebutuhan jabatan administrasi dan/

atau jabatan fungsional pada instansi

pemerintah

b.

sesuai kebutuhan pegawai yang ditetapkan

Menteri

c.

Tahapan :

Perencanaan

Pengumuman lowongan

Pelamaran

Seleksi (administrasi, kompetensi dasar, dan

kompetensi bidang)

Pengumuman hasil seleksi

Masa percobaan

Pengangkatan menjadi PNS

(22)

 PNS diangkat dalam pangkat dan jabatan tertentu pada

instansi pemerintah.

 Setiap jabatan dikelompokkan dalam klasifikasi jabatan PNS

yang menunjukkan kesamaan karakteristik, mekanisme, dan pola kerja.

 PNS dapat berpindah antar dan antara JPT, Jabatan

Administrasi, dan Jabatan Fungsional di Instansi Pusat dan Daerah berdasarkan kualifikasi, kompetensi, dan penilaian kinerja.

 PNS dapat diangkat dalam jabatan tertentu pada lingkungan

instansi TNI dan Polri yang pangkat/jabatannya disesuaikan dengan pangkat dan jabatan di lingkungan instansi TNI dan Polri.

22

Pangkat : kedudukan pegawai ASN yang menunjukkan. Tingkatan jabatan

dalam dalam suatu organisasi pemerintah

Jabatan : kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung jawab,

(23)

1. Pengembangan karier PNS dilakukan berdasarkan kualifikasi,

kompetensi, penilaian kinerja, dan kebutuhan Instansi Pemerintah. 2. Kompetensi meliputi:

a. kompetensi teknis yang diukur dari tingkat dan spesialisasi diklat

teknis fungsional, dan pengalaman bekerja secara teknis;

b. kompetensi manajerial yang diukur dari tingkat diklat struktural

atau manajemen, dan pengalaman kepemimpinan;

c. kompetensi sosial kultural yang diukur dari pengalaman kerja

berkaitan dengan masyarakat majemuk dalam hal agama, suku, dan budaya sehingga memiliki wawasan kebangsaan.

3. Pengembangan karier PNS dilakukan dengan mempertimbangkan

integritas dan moralitas.

4. Integritas diukur dari kejujuran, kepatuhan terhadap ketentuan

peraturan perundang-undangan, kemampuan bekerja sama, dan

pengabdian kepada masyarakat, bangsa dan negara.

5. Moralitas diukur dari penerapan dan pengamalan nilai etika agama,

budaya, dan sosial kemasyarakatan.

(24)

Setiap Pegawai ASN memiliki hak dan kesempatan

untuk mengembangkan kompetensi antara lain

melalui: pendidikan dan pelatihan, seminar, kursus,

dan penataran.

Harus dievaluasi oleh PyB dan digunakan sebagai

salah satu dasar dalam pengangkatan jabatan dan

pengembangan karier.

Wajib disusun dalam rencana pengembangan

kompetensi tahunan dalam rencana kerja anggaran

tahunan instansi.

24

(25)

 Setiap PNS yang memenuhi syarat mempunyai hak yang sama

untuk dipromosikan ke jenjang jabatan yang lebih tinggi.

 Promosi PNS dilakukan berdasarkan perbandingan objektif

antara:

- kompetensi; - kualifikasi;

- persyaratan yang dibutuhkan oleh jabatan; - penilaian atas prestasi kerja;

- kepemimpinan, kerja sama, kreativitas; dan

- pertimbangan dari Tim Penilai Kinerja PNS pada Instansi Pemerintah

“tanpa membedakan jender, suku, agama, ras, dan golongan.”

 Promosi Pejabat Administrasi dan Pejabat Fungsional PNS

dilakukan oleh PPK setelah mendapat pertimbangan Tim Penilai Kinerja PNS pada Instansi yang dibentuk oleh PyB.

(26)

MUTASI PNS

MUTASI PNS

Setiap PNS dapat dimutasi tugas dan/atau lokasi dalam satu

Instansi Pusat, antar-Instansi Pusat, satu Instansi Daerah, antar-Instansi Daerah, antar-Instansi Pusat dan Instansi Daerah, dan ke perwakilan NKRI di luar negeri.

Dilakukan oleh PPK dalam wilayah kewenangannya.

Perpindahan PNS antarkabupaten/kota dalam satu provinsi

ditetapkan oleh Gubernur setelah memperoleh pertimbangan Kepala BKN.

Mutasi PNS antar Kab/Kota antar Prop, atau antar provinsi

ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri setelah memperoleh pertimbangan Kepala BKN.

Mutasi PNS daerah ke Instansi Pusat atau sebaliknya,

ditetapkan oleh Kepala BKN.

Mutasi PNS antar Instansi Pusat ditetapkan oleh Kepala BKN.

26

Mutasi PNS dilakukan dengan memperhatikan prinsip larangan “konflik

kepentingan”.

(27)

Penilaian kinerja PNS bertujuan untuk menjamin objektivitas pembinaan PNS yang didasarkan sistem prestasi dan sistem karir.

Penilaian kinerja PNS dilakukan berdasarkan perencanaan kinerja pada tingkat

individu dan tingkat unit atau organisasi, dengan memperhatikan target, capaian, hasil, dan manfaat yang dicapai, serta perilaku PNS.

Penilaian kinerja PNS dilakukan secara objektif, terukur, akuntabel, partisipatif,

dan transparan.

Penilaian kinerja PNS didelegasikan secara berjenjang kepada atasan langsung dari PNS.; dan dapat mempertimbangkan pendapat rekan kerja setingkat dan bawahannya.

Hasil penilaian kinerja PNS disampaikan kepada tim penilai kinerja PNS.

Hasil penilaian kinerja PNS digunakan untuk menjamin objektivitas dalam pengembangan PNS, dan dijadikan sebagai persyaratan dalam pengangkatan jabatan dan kenaikan pangkat, pemberian tunjangan dan sanksi, mutasi, dan promosi, serta untuk mengikuti diklat.

(28)

Pemerintah wajib membayar gaji yang adil dan layak kepada PNS

serta menjamin kesejahteraan PNS.

Dibayarkan sesuai dengan

beban kerja, tanggungjawab, & resiko

pekerjaan.

PNS di pusat dibebankan pada APBN, PNS di daerah dibebankan

APBD.

Selain gaji, PNS juga menerima tunjangan dan fasilitas yang

meliputi:

tunjangan kinerja dan (dibayar sesuai pencapaian kinerja)

tunjangan kemahalan (dibayar sesuai tingkat kemahalan: indeks

harga di daerah)

Tunjangan PNS dibebankan pada APBN dan APBD

(29)

PNS

yang

telah

menunjukkan

kesetiaan,

pengabdian, kecakapan, kejujuran, kedisiplinan,

dan prestasi kerja dalam melaksanakan tugasnya

dapat diberikan penghargaan;

berupa pemberian:

tanda kehormatan;

kenaikan pangkat istimewa;

kesempatan prioritas untuk pengembangan

kompetensi; dan/atau

kesempatan menghadiri acara resmi dan/atau

acara kenegaraan.

(30)

Untuk menjamin terpeliharanya tata tertib dalam

kelancaran pelaksanaan tugas, PNS wajib mematuhi

disiplin PNS.

Instansi Pemerintah wajib melaksanakan penegakan

disiplin terhadap PNS serta melaksanakan berbagai

upaya peningkatan disiplin.

PNS yang melakukan pelanggaran disiplin dijatuhi

hukuman disiplin.

(31)

PNS diberhentikan dengan hormat karena:

meninggal dunia;

atas permintaan sendiri;

mencapai batas usia pensiun;

perampingan organisasi atau kebijakan pemerintah yang mengakibatkan

pensiun dini; atau

tidak cakap jasmani dan/atau rohani sehingga tidak dapat menjalankan

tugas dan kewajiban.

PNS dapat diberhentikan dengan hormat

atau

tidak diberhentikan karena:

dihukum penjara/kurungan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana dengan hukuman pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan pidana yg dilakukan tidak berencana.

PNS diberhentikan dengan hormat tidak atas

permintaan sendiri karena:

melakukan pelanggaran disiplin PNS tingkat berat.

(32)

PNS diberhentikan tidak dengan hormat karena:

melakukan penyelewengan terhadap Pancasila dan UUDNRI 1945;

dihukum penjara/kurungan berdasarkan putusan pengadilan yang

telah memiliki kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana kejahatan jabatan atau tindak pidana kejahatan yang ada

hubungannya dengan jabatan dan/atau pidana umum;

menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik; atau

dihukum penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah

memiliki kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan pidana

yang dilakukan dengan berencana.

(33)

PNS diberhentikan sementara, apabila

:

diangkat menjadi pejabat negara;

diangkat menjadi komisioner atau anggota

lembaga non struktural; atau

ditahan karena menjadi tersangka tindak pidana.

Pengaktifan kembali PNS yang diberhentikan

sementara dilakukan oleh Pejabat Pembina

Kepegawaian.

(34)

Batas Usia Pensiun

Batas Usia Pensiun

Batas usia pensiun PNS yaitu:

58 tahun bagi Pejabat Administrasi;

60 tahun bagi Pejabat Pimpinan Tinggi; dan

sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan bagi Pejabat Fungsional.

(PP 21 Th. 2014)
(35)

Jaminan Pensiun & Jaminan

Jaminan Pensiun & Jaminan

Hari Tua

Hari Tua

 Hak bagi PNS yang berhenti bekerja.  PNS diberikan jaminan pensiun apabila:

◦ meninggal dunia;

◦ atas permintaan sendiri dengan usia dan masa kerja tertentu;

◦ mencapai batas usia pensiun;

◦ perampingan organisasi /kebijakan pemerintah yang mengakibatkan pensiun dini; atau

◦ tidak cakap jasmani dan/atau rohani sehingga tidak dapat menjalankan tugas dan kewajiban.

 Diberikan sebagai perlindungan kesinambungan penghasilan

hari tua, sebagai hak dan penghargaan atas pengabdian PNS.

 Jaminan pensiun dan jaminan hari tua mencakup jaminan

pensiun dan jaminan hari tua yang diberikan dalam program jaminan sosial nasional.

 Sumber pembiayaan berasal dari pemerintah selaku pemberi

kerja dan iuran PNS yang bersangkutan.

(36)

Perlindungan

Perlindungan

Pemerintah wajib memberikan perlindungan

berupa:

jaminan kesehatan;

jaminan kecelakaan kerja;

jaminan kematian; dan

bantuan hukum.

berupa pemberian

bantuan hukum dalam perkara yang dihadapi di

pengadilan terkait pelaksanaan tugasnya.

36 Mencakup jaminan sosial yg

(37)

Manajemen PPPK meliputi:

a.

penetapan kebutuhan;

b.

pengadaan;

c.

penilaian kinerja;

d.

gaji dan tunjangan;

e.

pengembangan kompetensi;

f.

pemberian penghargaan;

g.

disiplin;

h.

pemutusan hubungan perjanjian kerja; dan

i.

perlindungan.

(38)

PENETAPAN KEBUTUHAN

PENETAPAN KEBUTUHAN

Setiap Instansi Pemerintah wajib menyusun kebutuhan

jumlah dan jenis jabatan PPPK berdasarkan analisis

jabatan dan analisis beban kerja.

Jenis jabatan

yang dapat diisi oleh PPPK diatur dengan

Peraturan Presiden.

Penyusunan kebutuhan

jumlah PPPK dilakukan untuk

jangka waktu 5 (lima) tahun yang diperinci per 1 (satu)

tahun berdasarkan prioritas kebutuhan.

Kebutuhan jumlah dan jenis jabatan PPPK sebagaimana

dimaksud ditetapkan dengan Keputusan Menteri.

(39)

PENGADAAN PPPK

PENGADAAN PPPK

 Pengadaan PPPK merupakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan pd

Instansi.

 Pengadaan calon PPPK dilakukan melalui tahapan:

◦ perencanaan,

◦ pengumuman lowongan, ◦ pelamaran,

◦ seleksi,

◦ pengumuman hasil seleksi, dan ◦ pengangkatan menjadi PPPK.

 Penerimaan calon PPPK dilaksanakan oleh Instansi Pemerintah melalui

penilaian secara objektif berdasarkan kompetensi, kualifikasi, kebutuhan Instansi Pemerintah, dan persyaratan lain yang dibutuhkan dalam jabatan.

 Pengangkatan calon PPPK ditetapkan oleh PPK untuk masa perjanjian kerja

minimal 1 tahun & dapat diperpanjang sesuai kebutuhan & penilaian

kinerja.

 

39

(40)

PENILAIAN KINERJA PPPK

PENILAIAN KINERJA PPPK

Tujuan

menjamin objektivitas prestasi kerja yang sudah disepakati berdasarkan

perjanjian kerja. Metode

dilakukan berdasarkan perjanjian kerja di tingkat individu dan tingkat unit

atau organisasi dengan memperhatikan target, sasaran, hasil, manfaat yang dicapai, dan perilaku pegawai.

dilakukan secara objektif, terukur, akuntabel, partisipatif, dan transparan.berada di bawah kewenangan PyB Instansi Pemerintah masing-masing,

didelegasikan secara berjenjang kepada atasan langsung dari PPPK.

dapat mempertimbangkan pendapat rekan kerja setingkat dan bawahannya.Hasil penilaian kinerja PPPK disampaikan kepada Tim Penilai Kinerja PPPK. Hasilnya untuk:

dimanfaatkan untuk menjamin objektivitas perpanjangan perjanjian kerja,

pemberian tunjangan, dan pengembangan kompetensi.

PPPK yang dinilai oleh atasan dan Tim Penilai Kinerja PPPK tidak mencapai

target kinerja yang telah disepakati dalam perjanjian kerja diberhentikan dari PPPK.

(41)

Pengg

Pengg

aji

aji

an

an

dan Tunjangan PPPK

dan Tunjangan PPPK

Gaji diberikan berdasarkan beban kerja, tanggung

jawab jabatan, dan resiko pekerjaan.

Gaji dibebankan pada APBN untuk PPPK di Instansi

Pusat dan APBD untuk PPPK di Instansi Daerah.

Selain gaji, PPPK dapat menerima tunjangan sesuai

dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(42)

Pengembangan Kompetensi PPPK

Pengembangan Kompetensi PPPK

PPPK

diberikan

kesempatan

untuk

pengembangan kompetensi.

Kesempatan

untuk

pengembangan

kompetensi

sebagaimana

dimaksud

direncanakan setiap tahun oleh Instansi

Pemerintah.

Pengembangan kompetensi sebagaimana

dimaksud harus dievaluasi oleh PyB dan

dipergunakan sebagai salah satu dasar

untuk perjanjian kerja selanjutnya.

(43)

Penghargaan PPPK

Penghargaan PPPK

PPPK yang telah menunjukkan kesetiaan, pengabdian, kecakapan, kejujuran, kedisiplinan, dan prestasi kerja dalam melaksanakan tugasnya dapat diberikan penghargaan.

Penghargaan sebagaimana dimaksud dapat berupa pemberian:

tanda kehormatan;

kesempatan prioritas untuk pengembangan kompetensi; dan/atau

kesempatan menghadiri acara resmi dan/atau acara kenegaraan.

PPPK yang dijatuhi sanksi administratif tingkat berat berupa pemutusan hubungan perjanjian kerja tidak dengan hormat dicabut haknya untuk memakai tanda kehormatan berdasarkan Undang-Undang ini.

(44)

Untuk menjamin terpeliharanya tata tertib

dalam kelancaran pelaksanaan tugas,

PPPK wajib mematuhi disiplin PPPK.

Instansi Pemerintah wajib melaksanakan

penegakkan disiplin terhadap PPPK serta

melaksanakan

berbagai

upaya

peningkatan disiplin.

PPPK yang melakukan pelanggaran disiplin

dijatuhi hukuman disiplin.

(45)

Pemutusan hubungan perjanjian kerja dilakukan dengan hormat :

jangka waktu perjanjian kerja berakhir;

meninggal dunia;

atas permintaan sendiri;

perampingan organisasi atau kebijakan pemerintah yang

mengakibatkan pengurangan PPPK; atau

tidak cakap jasmani dan/atau rohani sehingga tidak dapat

menjalankan tugas dan kewajiban sesuai perjanjian kerja yang disepakati.

Pemutusan hubungan perjanjian kerja dilakukan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri :

dihukum penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah

memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tid.pidana dengan pidana penjara paling singkat 2 tahun dan tindak pidana tersebut dilakukan dengan tidak berencana;

melakukan pelanggaran disiplin PPPK tingkat berat; atau

tidak memenuhi target kinerja yang telah disepakati.

(46)

Pemutusan Hubungan Per

Pemutusan Hubungan Per

j

j

anjian Kerja Tidak

anjian Kerja Tidak

dengan Hormat

dengan Hormat

melakukan penyelewengan terhadap Pancasila dan UUDNRI

1945;

dihukum penjara atau kurungan berdasarkan putusan

pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap

karena melakukan tindak pidana kejahatan jabatan atau

tindak pidana kejahatan yang ada hubungannya dengan

jabatan dan/atau pidana umum;

menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik; atau

dihukum penjara berdasarkan putusan pengadilan yang

telah memiliki kekuatan hukum tetap karena melakukan

tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling

singkat 2 (dua) tahun atau lebih dan tindak pidana tersebut

dilakukan dengan berencana.

(47)

Perlindungan PPPK

Perlindungan PPPK

Pemerintah wajib memberikan perlindungan berupa:

jaminan hari tua;

jaminan kesehatan;

jaminan kecelakaan kerja;

jaminan kematian; dan

bantuan hukum.

Perlindungan berupa jaminan hari tua, jaminan kesehatan, jaminan

kecelakaan kerja, dan jaminan kematian sebagaimana dimaksud ,

dilaksanakan sesuai dengan sistem jaminan sosial nasional.

Bantuan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e,

berupa pemberian bantuan hukum dalam perkara yang dihadapi di

pengadilan terkait pelaksanaan tugasnya.

(48)

Pengisian jabatan pimpinan tinggi utama dan madya pada

kementerian, kesekretariatan lembaga negara, lembaga

nonstruktural, dan Instansi Daerah dilakukan secara terbuka

dan kompetitif di kalangan PNS dengan memperhatikan

syarat kompetensi, kualifikasi, kepangkatan, diklat, rekam

jejak jabatan, dan integritas serta persyaratan lain yang

dibutuhkan.

Pengisian jabatan pimpinan tinggi utama dan madya

dilakukan pada tingkat nasional.

Pengisian jabatan pimpinan tinggi pratama dilakukan secara

terbuka dan kompetitif di kalangan PNS dengan

memperhatikan syarat kompetensi, kualifikasi, kepangkatan,

diklat, rekam jejak jabatan, dan integritas serta persyaratan

jabatan lain.

Pengisian jabatan pimpinan tinggi pratama dilakukan secara

terbuka dan kompetitif pada tingkat nasional atau

antar-kabupaten/kota dalam 1 (satu) provinsi.

(49)

Jabatan pimpinan tinggi utama dan madya tertentu dapat

berasal dari kalangan non-PNS dengan persetujuan

Presiden yang pengisiannya dilakukan secara terbuka dan

kompetitif serta ditetapkan dalam Keputusan Presiden.

Jabatan Pimpinan Tinggi dapat diisi oleh prajurit TNI dan

anggota POLRI setelah mengundurkan diri dari dinas aktif

apabila dibutuhkan dan sesuai dengan kompetensi yang

ditetapkan melalui proses secara terbuka dan kompetitif.

Jabatan Pimpinan Tinggi di lingkungan Instansi Pemerintah

tertentu dapat diisi oleh prajurit TNI dan anggota POLRI

sesuai dengan kompetensi berdasarkan ketentuan peraturan

perundang-undangan.

Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi dilakukan oleh PPK

dengan terlebih dahulu membentuk panitia seleksi Instansi

Pemerintah.

(50)

Dalam membentuk panitia seleksi PPK berkoordinasi

dengan KASN.

Panitia seleksi Instansi Pemerintah terdiri dari unsur

internal maupun eksternal Instansi Pemerintah yang

bersangkutan.

Panitia seleksi dipilih dan diangkat oleh PPK

berdasarkan pengetahuan, pengalaman, kompetensi,

rekam jejak, integritas moral, dan netralitas melalui

proses yang terbuka.

Panitia

seleksi

melakukan

seleksi

dengan

memperhatikan

syarat

kompetensi,

kualifikasi,

kepangkatan, diklat, rekam jejak jabatan, integritas,

dan penilaian uji kompetensi melalui pusat penilaian

(assesment center) atau metode penilaian lainnya.

Panitia seleksi menjalankan tugasnya untuk semua

proses seleksi pengisian jabatan terbuka untuk masa

tugas yang ditetapkan oleh PPK.

(51)

PIMP K/L /PPK

MEMBENTUK

PANSEL

MENYELEKSI JPT SECARA TERBUKA

MENYAMPAIKAN 3 CALON JPT Laporan

PRESIDEN

KEPUTUSAN PRESIDEN JPT TERPILIH

PENGAWASAN PELAKSANAAN SELEKSI DAN KEPUTUSAN MENGIKAT

PENGAWASAN PEMBENTUKAN PANSEL DAN KEPUTUSAN MENGIKAT MEMASTIKAN SISTEM MERIT 11 55 66 77 33 22

PENGISIAN JPT UTAMA DAN MADYA K/L PUSAT

KASN

88

MENYAMPAIKAN 3 CALON

44

KOORDINASI

(52)

PPK

MEMBENTUK

PANSEL

MENYELEKSI JPT SECARA TERBUKA

MENYAMPAIKAN 3 CALON JPT Laporan

PRESIDEN

MEMASTIKAN SISTEM MERIT

11 55

MEKANISME SELEKSI JPT PRATAMA K/L PUSAT

KASN 66 77 Pembatalan, Peringatan dan Teguran PENGAWASAN PELAKSANAAN SELEKSI DAN KEPUTUSAN MENGIKAT

(53)

GUBERNUR/ PPK

MEMBENTUK

PANSEL

MENYELEKSI JPT SECARA TERBUKA

MENYAMPAIKAN 3 CALON JPT Laporan

PRESIDEN

KEPUTUSAN PRESIDEN JPT TERPILIH MEMASTIKAN SISTEM MERIT 11 55 66 88 33

MEKANISME SELEKSI JPT MADYA DI DAERAH

KASN 99 MENYAMPAIKAN 3 CALON MENDAGRI PENGAWASAN PELAKSANAAN SELEKSI DAN KEPUTUSAN MENGIKAT

PENGAWASAN PEMBENTUKAN PANSEL DAN KEPUTUSAN MENGIKAT

22

44

PENGAWASAN DAN KEPUTUSAN MENGIKAT

77

KOORDINASI

(54)

GUBERNUR/PPK

MEMBENTUK

PANSEL

MENYELEKSI JPT SECARA TERBUKA

MENYAMPAIKAN 3 CALON JPT LAPORAN

PRESIDEN

MEMASTIKAN SISTEM MERIT 11 55 88 33

MEKANISME SELEKSI JPT PRATAMA DI DAERAH

77 Pembatalan, Peringatan dan Teguran MENETAPKAN JPT 66

KASN

PENGAWASAN PELAKSANAAN SELEKSI DAN KEPUTUSAN MENGIKAT
(55)

PPK dilarang mengganti Pejabat Pimpinan Tinggi selama 2

(dua) tahun terhitung sejak pelantikan Pejabat Pimpinan

Tinggi, kecuali Pejabat Pimpinan Tinggi tersebut melanggar

ketentuan peraturan perundang-undangan dan tidak lagi

memenuhi syarat jabatan yang ditentukan.

Penggantian pejabat pimpinan tinggi utama dan madya

sebelum 2 (dua) tahun dapat dilakukan setelah mendapat

persetujuan Presiden.

Jabatan Pimpinan Tinggi hanya dapat diduduki paling lama 5

(lima) tahun.

Jabatan Pimpinan Tinggi dapat diperpanjang berdasarkan

pencapaian

kinerja,

kesesuaian

kompetensi,

dan

berdasarkan

kebutuhan

instansi

setelah

mendapat

persetujuan PPK dan berkoordinasi dengan KASN.

(56)

5.

Pejabat Pimpinan Tinggi harus memenuhi target

kinerja tertentu sesuai perjanjian kinerja yang sudah

disepakati dengan pejabat atasannya.

6.

Pejabat Pimpinan Tinggi yang tidak memenuhi kinerja

yang diperjanjikan dalam waktu 1 (satu) tahun pada

suatu jabatan, diberikan kesempatan selama 6

(enam) bulan untuk memperbaiki kinerjanya.

7.

Dalam

hal

Pejabat

Pimpinan

Tinggi

tidak

menunjukkan perbaikan kinerja maka pejabat yang

bersangkutan harus mengikuti seleksi ulang uji

kompetensi kembali.

8.

Berdasarkan hasil uji kompetensi Pejabat Pimpinan

Tinggi dimaksud dapat dipindahkan pada jabatan lain

sesuai dengan kompetensi yang dimiliki atau

ditempatkan pada jabatan yang lebih rendah.

(57)

Pejabat pimpinan tinggi madya dan pejabat

pimpinan

tinggi

pratama

yang

akan

mencalonkan diri menjadi gubernur dan wakil

gubernur,

bupati/walikota,

dan

wakil

bupati/wakil

walikota

wajib

menyatakan

pengunduran diri secara tertulis dari PNS sejak

mendaftar sebagai calon.

(58)

PEGAWAI ASN YANG MENJADI PEJABAT

PEGAWAI ASN YANG MENJADI PEJABAT

NEGARA

NEGARA

Pegawai ASN dapat menjadi pejabat Negara

Pegawai ASN dari PNS yang diangkat menjadi

Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota Mahkamah

Konstitusi; Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota Badan

Pemeriksa Keuangan; Ketua, Wakil Ketua, dan

Anggota Komisi Yudisial; Ketua dan Wakil Ketua

Komisi Pemberantasan Korupsi; Menteri dan

Jabatan setingkat Menteri; Kepala perwakilan

Republik

Indonesia

di

Luar

Negeri

yang

berkedudukan sebagai Duta Besar Luar Biasa dan

Berkuasa Penuh diberhentikan sementara dari

jabatannya dan tidak kehilangan status sebagai

PNS.

Pegawai ASN dari PNS yang tidak menjabat lagi

sebagai Pejabat Negara diaktifkan kembali

sebagai PNS.

(59)

Pegawai ASN dari PNS yang mencalonkan diri atau

dicalonkan menjadi Presiden dan Wakil Presiden;

ketua, wakil ketua, dan anggota DPR; ketua, wakil

ketua, dan anggota DPD; Gubernur dan Wakil

Gubernur; Bupati/Walikota dan Wakil Bupati/Wakil

Walikota wajib menyatakan

pengunduran diri

secara

tertulis sebagai PNS sejak mendaftar sebagai calon.

PNS yang tidak menjabat lagi sebagai pejabat negara

dapat menduduki Jabatan Pimpinan Tinggi, Jabatan

Administrasi atau Jabatan Fungsional, sepanjang

tersedia lowongan jabatan.

Dalam hal tidak tersedia lowongan jabatan dalam

waktu paling lama 2 (dua) tahun PNS yang

bersangkutan diberhentikan dengan hormat.

(60)

1. Kedudukan: Wadah Korps Profesi Pegawai ASN RI untuk

menyalurkan aspirasinya.

2. Tujuan :

a. Menjaga kode etik profesi dan standar pelayanan profesi ASN: dan

b. Mewujudkan jiwa korps ASN sebagai pemersatu bangsa.

3. Fungsi :

a.

Pembinaan dan pengembangan profesi ASN

b.

Memberikan perlindungan hukum dan advokasi

terhadap dugaan pelanggaran sistem merit dan

masalah hukum dalam melaksanakan tugas

c.

Memberikan rekomendasi kepada majelis kode etik

instansi terhadap pelanggaran kode etik profesi

dan kode perilaku profesi

d.

Menyelenggarakan usaha-usaha untuk peningkatan

kesejahteraan anggota korps profesi ASN RI sesuai

dengan peraturan perudang-undangan

(61)

Untuk menjamin efisiensi, efektivitas, dan akurasi

pengambilan keputusan dalam Manajemen ASN

diperlukan Sistem Informasi ASN.

Sistem Informasi ASN diselenggarakan secara

nasional dan terintegrasi antar-Instansi Pemerintah.

Untuk menjamin keterpaduan dan akurasi data dalam

Sistem Informasi ASN, setiap Instansi Pemerintah

wajib memutakhirkan data secara berkala dan

menyampaikannya kepada BKN.

Sistem Informasi berbasiskan teknologi informasi yang

mudah diaplikasikan, mudah diakses, dan memiliki

sistem keamanan yang dipercaya.

Sistem Informasi ASN memuat seluruh informasi dan

data Pegawai ASN

Sistem Informasi ASN paling lama tahun 2015

dilaksanakan secara nasional.

(62)

Data Pegawai ASN paling kurang memuat:

a.

data riwayat hidup;

b.

riwayat pendidikan formal dan non

formal;

c.

riwayat jabatan dan kepangkatan;

d.

riwayat penghargaan, tanda jasa, atau

tanda kehormatan;

e.

riwayat pengalaman berorganisasi;

f.

riwayat gaji;

g.

riwayat diklat;

h.

daftar penilaian prestasi kerja;

i.

surat keputusan; dan

j.

kompetensi.

(63)

1.

Sengketa Pegawai ASN diselesaikan melalui

upaya

administratif.

2.

Upaya administratif terdiri dari

keberatan

dan

banding

administratif.

3.

Keberatan diajukan secara tertulis kepada atasan

pejabat yang berwenang menghukum dengan memuat

alasan keberatan dan tembusannya disampaikan

kepada pejabat yang berwenang menghukum.

4.

Banding

administratif

diajukan

kepada

badan

pertimbangan ASN.

(64)

KETENTUAN TRANSISI

KETENTUAN TRANSISI

Peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini

harus sudah ditetapkan paling lambat 2

(dua) tahun sejak Undang-Undang ini

diundangkan.

ketentuan peraturan perundang-undangan

mengenai kode etik dan penyelesaian

pelanggaran terhadap kode etik bagi jabatan

fungsional tertentu dinyatakan tetap berlaku

sepanjang

tidak

bertentangan

dengan

Undang-Undang ini.

Pegawai Negeri Sipil Pusat dan Pegawai

Negeri Sipil Daerah disebut sebagai Pegawai

ASN.

(65)

TE

RI

MA

K

AS

IH

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan target yang diharapkan dalam kegiatan pelatihan penulisan proposal penelitian eksperimen adalah (1) peserta memiliki pengetahuan tentang Penelitian

Hasil dari pemeriksaan operasional atas bagian penjualan ini, diharapkan dapat memberikan masukan bagi pihak manajemen dalam mengevaluasi kinerja bagian penjualan

Berdasarkan perbandingan antara nilai AUDPC tanaman Granola yang terserang penyakit dan antara dengan galur transgenik yang menunjukkan kategori tahan dan sangat tahan

Tujuan dari Keputusan Presiden tersebut adalah untuk memperoleh barandjasa yang dibutuhkan Instansi Pemerintah dalam jumlah yang cukup, dengan kualitas dan harga yang

menemukan ide inovatif, peluang serta cara dalam menjalankan dan menciptakan usaha baru. Untuk menjawab pembangunan kewirausaahan adalah dengan menyiapkan sumber daya

Profitabilitas yang tinggi juga akan mempengaruhi nilai perusahaan karena dengan profitabilitas yang semakin tinggi maka akan berdampak pada harga saham perusahaan,

Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu : (1) Bagaimana penerapan konsep eko-efisiensi pada UKM Batik Tulis Tjokro ?; (2) Bagaimana penggunaan bahan baku untuk semua proses

Bapak Noor Aziz, SE, MM, selaku Ketua Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Muria Kudus yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk