BAB II PENGELOLAAN KASUS

29 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB II

PENGELOLAAN KASUS

2.1 Konsep Dasar Imobilisasi

2.1.1 Defenisi

Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas, mudah, dan teratur yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehat. Setiap orang butuh untuk bergerak. Kehilangan kemampuan untuk bergerak menyebabkan ketergantungan dan ini membutuhkan tindakan keperawatan. Mobilisasi dibutuhkan untuk meningkatkan kemandirian diri, meningkatkan kesehatan, memperlambat proses penyakit- khususnya penyakit degeneratif, dan untuk aktualisasi diri (harga diri dan citra tubuh). (Wahit, 2008).

Imobilisasi merupakan suatu kondisi yang relatif. Maksudnya, individu tidak saja kehilangan kemampuan geraknya secara total, tetapi juga mengalami penurunan aktivitas dari kebiasaan normalnya. Ada beberapa alasan dilakukan imobilisasi:

• Pembatasan gerak yang ditujukan untuk pengobatan atau terapi. Misalnya pada klien yang menjalani pembedahan atau yang mengalami cedera pada tungkai dan lengan.

• Keharusan (tidak terelakkan). Ini biasanya disebabkan oleh ketidakmampuan primer, seperti penderita paralisis.

• Pembatasan secara otomatis sampai dengan gaya hidup. 2.1.2 Jenis Imobilitas

Secara umum ada beberapa macam keadaan imobilitas antara lain: 1. Imobilitas fisik

Kondisi ketika seseorang mengalami keterbatasan fisik yang disebabkan oleh faktor lingkungan maupun kondisi orang tersebut.

(2)

2. Imobilitas Intelektual

Kondisi ini dapat disebabkan oleh kurangnya pengetahuan untuk dapat berfungsi sebagaimana mestinya, misalnya pada kasus kerusakan otak. 3. Imobilitas Emosional

Kondisi ini dapat terjadi akibat proses pembedahan atau kehilangan seseorang yang dicintai.

4. Imobilitas Sosial

Kondisi ini dapat menyebabkan perubahan interaksi sosial yang sering terjadi akibat penyakit.

2.1.3 Dampak Fisik dan Psikologi Imobilitas

Masalah imobilitas dapat menimbulkan berbagai dampak, baik dari segi fisik maupun psikologis. Secara psikologis, imobilitas dapat menyebabkan penurunan motivasi, kemunduran kemampuan dalalm memecahkan masalah, dan perubahan konsep diri. Sedangkan masalah fisik dapat terjadi adalah sebagai berikut:

a. Sistem musculoskeletal

Pada sistem ini, imobilitas dapat menimbulkan berbagai masalah , seperti osteoporosis, atrofi otot, kontraktur, dan kekakuan serta nyeri pada sendi.

b. Elliminasi urin

Masalah yang umum ditemui pada sistem perkemihan akibat imobilisasi adalah stasis urine, batu ginjal, retensi urine, infeksi perkemihan.

c. Gastrointestinal

Kondisi imobilisasi mempengaruhi tiga sistem pencernaan, yaitu fungsi ingesti, digesti dan eleminasi.

(3)

d. Respirasi

Masalah yang umum ditemui yaitu penurunan gerak pernafasan, penumpukan secret, atelektasis.

e. Sistem kardiovaskular

Masalah yang umum ditemui yaitu Hipotensi ortostatik, pembentukan thrombus, edema dependen.

f. Metabolisme dan nutrisi

Masalah yang umum ditemui yaitu penurunan laju metabolisme, balans nitrogen negative, anoreksia.

g. sistem integument

Masalah yang umum ditemui yaitu turgor kulit menurun, kerusakan kulit. h. Sistem neurosensorik

Ketidakmampuan mengubah posisi menyebabkan terhambatnya input sensorik, menimbulkan perasaan lelah, iritabel, persepsi tidak realistis, dan mudah bingung. (Wahid, 2008)

2.1.4 Tingkatan Imobilitas

Tingkatan imobilitas bervariasi, diantaranya adalah: 1. Imobilitas komplit.

Imobilitas ini dilakukan pada individu yang mengalami gangguan tingkat kesadaran,

2. Imobilitas parsial

Imobilitas ini dilakukan pada klien yang mengalami fraktur, misalnya fraktur ekstremitas bawah (kaki).

3. Imobilitas karena alasan pengobatan

Imobilitas ini dilakukan pada individu yang menderita gangguan pernafasan (misalkan sesak nafas) atau pada penderita penyakit jantung.

(4)

Pada kondisi tirah baring (bedrest) total, klien tidak boleh bergerak dari tempat tidur dan tidak boleh berjalan ke kamar mandi atau duduk dikursi. Akan tetapi, pada tirah baring bukan total, klien masih diperbolehkan untuk turun dari tempat tidur dan berjalan kekamar mandi atau duduk dikursi. Keuntungan dari tirah baring antara lain mengurangi kebutuhan oksigen sel-sel tubuh, menyalurkan sumber energi untuk proses penyembuhan, dan dapat mengurangi respon nyeri.

2.2 Proses Keperawatan

2.2.1 Pengkajian

Saat mengkaji data tentang masalah imobilitas, perawat menggunakan metode pengkajian inspeksi, palpasi dan auskultasi. Selain itu perawat juga memeriksa hasil tes laboratorium serta mengukur berat badan, asupan cairan, dan haluaran cairan klien. Karena tujuan intervensi keperawatan adalah untuk mencegah komplikasi imobilitas, maka perawat perlu mengidentifikasi klien yang berisiko mengalami komplikasi. Ini termasuk klien yang mengalami (a) gizi buruk; (b) penurunan sensitivitas terhadap nyeri, temperatur atau tekanan; (c) masalah kardiovaskuler, paru, dan neuromuscular; serta (d) perubahan tingkat kesadaran. (wahid, 2008).

Perawat mengkaji klien mobilisasi dengan melakukan pemeriksaan fisik dari ujung kepala sampai keujung kaki. Selain itu pengkajian keperawatan harus berfokus pada area fsikologis, sama seperti aspek psikososial dan perkembangan klien.

Sistem metabolic. Ketika mengkaji sistem metabolic, perawat menggunakan pengukuran antropometrik untuk mengevaluasi atrofi otot, menggunakan pencatat asupan dan haluaran saerta data laboratorium untuk mengevaluasi status cairan, elektrolit maupun kadar serum protein, mengkaji penyembuhan luka untuk mengevaluasi perubahan transport nutrein, mengkaji asupan makanan dan pola eliminasi klien untukmenentukan perubahan fungsi gastrointestinal.

(5)

Pengukuran asupan dan haluaran membantu perawat untuk menentukan apakah terjadi ketidakseimbangan cairan. Dehidrasi dan edema dapat meningkatkan laju kerusakan kulit pada klien imobilisasi. Pengukuran laboratoriumterhadap kadar elektrolit darah juga mengindikasikan ketidakseimbangan elektrolit.

Apabila klien imobilisasi mempunyai luka, maka kecepatan penyembuhan menunjukan indikasi nutrein yang di bawa kejaringan. Kemajuan penyembuhan yang normal mengindikasikan kebutuhan metabolic jaringan luka terpenuhi.

Sistem respiratori. Pengkajian sistem respiratori harus dilakukan minimal setiap 2 jam pada klien yang mengalami keterbatasan aktivitas. Perawat menginspeksi pergerakan dinding dada selama siklus inspirasi-ekspirasi penuh. Jika klien yang mengalami etelektasis, gerakan dadanya menjadi asimetris. Selain itu, perawat mengauskultasi seluruh area paru-paru untuk mengidentifikasi gangguan suara nafas, crackles, atau mengi. Auskultasi harus berfokus pada area paru-paru yang tergantung pada sekresi paru cenderung menumpuk di area bagian bawah. Pengkajian sistem respiratori lengkap mengidentifikasi adanya sekresi dan menentukan tindakan keperawtan yang dibutuhkan untuk mengoptimalkan fungsi respiratori.

Sistem kardiovaskuler. Pengkajian keperawatan kardiovaskuler pada

klien imobilisasi termasuk memantau tekanan darah, mengevaluasi nadi apeks maupun perifer, mengobservasi tanda-tanda adanay stasis vena (mis. edema dan penyembuuhan luka yang buruk). Tekanan darah klien harus di ukur, terutama jika berubah dari berbaring ke duduk atau berdiri akibat risiko terjadi hipotensi ortostatik. Dengan cara ini, kemampuan mentoleransi perubahan posisi dapat dikaji sebelum klien meninggalkan pengaman tempat tidur.

Sistem musculoskeletal. Kelainan musculoskeletal utama dapat

diidentifikasi selama pengkajian keperawatan meliputi penurunan tonus otot, kehilangan masa otot, dan kontraktur. Gambaran pengukura antropometrik sebelumnya mengidentifikasikan kehilangan tonus dan masa otot.

(6)

Pengkajian rentang gerak adalah penting sebagai data dasar yang mana hasil pengukuran nantinya dibandingkan untuk mengevaluasi terjadi kehilangan mobilisasi sendi. Rentang gerak di ukur dengan goniometri. Sistem integument. Perawat harus terus menerus mengkaji kulit klien terhadap tanda-tanda kerusakan. Kulit harus diobsevasi ketika klien bergerak, diperhatikan higienisnya, atau di penuhi kebutuhan eliminasinya. Pengkajian minimalharus dilakukan minimal 2 jam.

Sistem eliminasi. Status eliminnasi klien harus dievaluasi setiap 24 jam. Perawat harus menentukan bahwa klien menerima jumlah dan jenis cairan melalui oral atau parenteral dengan benar. Tidak adekuat asupan dan haluaran atau ketidakseimbangancairan dan elektrolit meningkatkan risiko yang gangguan sistem ginjal, bergeser dari infeksi berulang menjadi gagal ginjal. Dehidrasi juga meningkatkan risiko kerusakan kulit, pembentukan thrombus, infeksi pernafasan, konstipasi. Komplikasi fisik dapat menurunkan keseluruhan tingkat mobilisasi dan meningkatkan lama dan biaya perawatan.(potter & perry, 2006).

2.2.2 Analisa Data

Diagnosa keperawatan mengidentifikasi perubahan kesejajaran tubuh dan mobilisasi yang aktual dan potensial berdasarkan pengumpulan data yang selama pengkajian. Analisa menampilkan kelompok data yang mengidentifikasikan ada atau risiko terjadi masalah. (lihat kotak diagnosa di bawah)

- Contoh Diagnosa keperawatan NANDA untuk ketidaktepatan

Mekanika Tubuh dan Hambatan Mobilisasi Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan :

- Kesejajaran tubuh yang buruk - Penurunan mobilisasi

Risiko cedera yang berhubungan dengan : - Ketidaktepatan mekanika tubuh - Ketidaktepatan posisi

(7)

Hambatan mobilisasi fisik yang berhubungan dengan : - Penurunan rentang gerak

- Tirah baring

- Penurunan kekuatan

Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan : - Stasis sekresi paru

- Ketidaktetapan posisi tubuh

Ketidakefektiifan pola nafas yang berhubungan dengan : - Penurunan pengembangan paru

- Penumpukan sekresi paru - Ketidaktepatan posisi tubuh

Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan : - Pola nafas ridak simetris

- Penurunan pengembangan paru - Penumpukan sekresi paru

Gangguan intergritas kulit atau risiko gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan :

- Keterbatasan mobilisasi - Tekanan permukaan kulit - Gaya gesek

Gangguan eliminasi urine yang berhubungan dengan : - Risiko infeksi

- Keterbatasan mobilisasi - Retensi urine

Inkontinensia total yang berhubungan dengan : - Perubahan pola eliminasi

- Keterbatasan mobilisasi

Risiko kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan : - Penurunan asupan cairan

Ketidakefektifan koping individu yang berhubungan dengan : - Pengurangan tingkat aktivitas

(8)

Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan : - Keterbatasan mobilisasi

- Ketidaknyamanan

Perubahan kesejajaran tubuh diakibatkan perbuhan perkembangan, kelainan postur, kelainan pembentukan tulang, gangguan perkembangan otot, kerusakan sistem muskuluskeletal. Pengkajiann data harus berisi karakteristik yang bermakna dan tepat untuk mendukung penamaan diagnostik.

Kesejajaran tubuh dan mobilisasi saliang berhubungan. Seseorang yang menpuyai kesejajaran tubuh buruk mengurangi mobilisasi. Saat mengidentifikasidiagnosa keperawatan, perawat menyusun strategi keperawatan untuk mengurangi atau mencegah bahaya berhubungan dengan kesejajaran tubuh buruk atau gangguan mobilisasi.

Aspek fisiologis sering hanya berfokus pada asuhan keperawatan klien gangguan mobilisasi. Sedangkan aspek psikososial dan perkembangan diabaikan. Padahal aspek psikososial tersebut penting untuk kesehatan. Contoh, selama imobilisasi, interaksi sosial dan stimulus di kurangi. Sehingga klien terisolasi, menarik diri dan bosan. Klien seperti itu sering menggunakan bel pemanggil perawat untuk meminta sedikit perhatian, apabila kebutuhan sosialisasi mereka lebih besar. (potter & perry, 2006).

(9)

Bahan Kimia Termis Radiasi Listrik / Petir

Biologi Luka Bakar Psikologis Masalah Keperawatan Pada wajah Diruang tertutup Kerusakan kulit Masalah Keperawatan

Kerusakan Keracunan Penguapan

mukosa gas CO meningkat

Oedema laring Co mengikat HB Peningkatan pemb. darah kapiler Obstruksi jalan HB tidak mampu Ekstervasi cairan nafas mengikat O2 (H2O, elektrolit,

protein)

Gagal nafas Hipoxia otak Tekanan onotik menurun

Masalah kep. Cairan intra vaskuler

Jalan nafas tidak menurun

efektif • Resiko fungsi terhadap infeksi • Gangguan rasa nyaman • Gangguan aktivitas / mobilisasi • Kerusakan integritas kulit • Gangguan konsep duri • Kurang pengetahuan • Anxietas

(10)

2.2.3 Rumusan masalah

Selain bisa ditetapkan sebagai label diagnosis, masalah mobilisasi bisa pula dijadikan etiologi untuk diagnosis keperawatan yang lain. Menurut NANDA, label diagnosis untuk masalah mobilisasi meliputi Hambatan Mobilitas Fisik atau Risiko Dissuse Syndrome. Sedangkan label diagnosis dengan masalah mobilisasi sebagai etiologi bergantung pada area fungsi atau sistem yang dipengaruhi. (wahid, 2008).

2.2.4 Perencanaan

Secara umum, tujuan asuhan keperawatan untuk klien yang mengalami gangguan mobilisasi bervariasi, bergantung pada diagnosis dan batasan karakteristik masing-masing individu. Menurut Koizier (2004), beberapa tujuan umumm untuk klien yang mengalami, atau berpotensi mengalami, masalah mobilisasi adalah sebagai berikut:

• Meningkatkan toleransi klien untuk melakukan aktivitas fisik.

• Mengembalikan atau memulihkan kemampuannya untuk bergerak/atau berpartisipasi dalam kegiatan sehari-hari.

• Mencegah terjadinya cedera akibat jatuh atau akibat penggunaan mekanika tubuh yang salah.

• Meningkatkan kebugaran fisik.

• Mencegah terjadinya komplikasi akibat imobilitas.

• Meningkatkan kesejahteraan sosial, emosional, dan intelektual. (Wahid, 2008).

Perawat membuat perencanaan intervensi terapeutik terhadap klien yang bermasalah kesejajaran tubuh dan mobilisasiyang aktual maupun beresiko. Perawat merencanakan terapi sesuai dengan derajat risiko klien, dan perencanaan bersifat individu disesuaikan perkembangan klien, tingkat kesehatan, dan gaya hidup.

Lingkungan rumah klien merupakan hal yang penting di pertimbangkan dalam merencanakan terapi dalam mempertahankan atau meningkatkan kesejajaran tubuh dan mobilisasi. Perencanaan perawatan juga termasuk

(11)

pemahaman kebutuhan klien untuk mempertahankan fungssi motorik dan kemandirian. Perawat dank lien untuk mempertahankan keterlibatan klien dalam asuhan keperawatan dan mencapai kesejajaran tubuh dan mobilisasi yang optimal dimana klien berbeda di rumah sakit ataupun di rumah.

Klien berisiko bahaya dikaitkan ketidaktepatan kesejajaran tubuh dan gangguan mobilisasi, membutuhkan rencana keperawatan langsung melalui pemberian posisi secara aktual atau potensial serta kebutuhan mobilisasi. Ahli terapi fisik merupakan sumber paling tepat bagi perawat dalam memilih jenis latihan rentang gerak. Rencana keperawatan di dasari oleh satu atau lebih tujuan berikut ini :

1. Mempertahankan kesejajaran tubuh yang tepat.

2. Mencapai kembali kesejajaran tubuh yang tepat ataupun pada tingkat optimal.

3. Mengurangi cedera pada sistem kulit dan musculoskeletal dari ketidaktepatan mekanika atau kesejajaran.

4. Mencapai ROM penuh atau optimal. 5. Mmencegah kontraktur.

6. Mempertahankan kepatenan jalan nafas.

7. Mencapai ekspansi paru dan pertukaran gas optimal. 8. Memobilisasi sekresi jalan nafas.

9. Mempertahankan pola tidur normal. 10.Meningkatkan toleransi aktivitas. 11.Mencapai pola eliminasi normal. 12.Mempertahankan pola tidur normal. 13.Mencapai sosialisasi.

14.Mencapai kemandirian penuh dalam aktivitas perawatan diri. 15.Mencapai stimulasi fisik dan mental.

Mempertahankan kesejajaran tubuh merupakan hal penting khususnya pada klien yang mengalami keterbatasan mobilisasi actual maupun potensial. Misalnya pada klien koma, harus diposisikan dengan penggunaan bantaldan diubah posisinya sesering untukk mengurangi

(12)

risiko kesejajaran buruk dan cedera sistem kulit maupun musculoskeletal. Frekuensi perubahan berdasarkan pengkajian klien terhadap risiko perkembangan dekubitus (Potter & Perry, 2006).

Sasaran. Tujuan utama bagi pasien dapat mencakup pemulihan

keseimbangan cairan yang normal : tidak adanya ifeksi :tercapainya status anabolic dan berat badan yang normal : membaiknya integritas kulit ; pengurangan rasa nyeri serta ketidaknyamanan ; mobilitas fisik yang optimal ; kemampuan koping pasien serta keluarga yang adekuat ; pengetahuan pasien serta keluarga yang adekuat tentang penanganan luka bakar ; dan tidak adanya komplikasi. Pencapaian semua tujuan ini memerlukan pendekatan kolaboratif antardisiplin dalam penatalaksanaan pasien. ( Suzanne & Smeltzer, 2001).

(13)

2.3 Asuhan Keperawatan Kasus

PROGRAM DIII KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN USU

1. Pengkajian BIODATA

IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. I

Jenis Kelamin : Laki-laki

Umur : 21 tahun

Statur Perkawinan : Belum menikah

Agama : Islam

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Wiraswasta

Alamat : Desa Mancang Tenteng Kec. Seles Tanggal Masuk RS : 14 April 2013

No.Register : 55.53.53 Ruangan/Kamar : RB2B / III7 Golongan darah : -

Tanggal pengkajian : 18 Juni 2013 Tanggal operasi : 24 Mei 2013

(14)

I. KELUHAN UTAMA :

Tn. I mengeluh sulit melakukan aktifitas karena luka bakar yang terdapat pada tangan dan paha kanannya. Semua kegiatan tidak dapat dilakukannya secara mandiri.

II. RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG A. Provocative/palliative

1. Apa penyebabnya

Tn. I mengatakan penyebabnya di karenakan tersetrum saat memperbaiki saklar di rumahnya

2. Hal-hal yang memperbaiki keadaan

Tn. I mengatakan hal yang memperbaiki keadaan adalah saat di berikan obat dan istirahat.

B. Quantity/quality

1. Bagaimana dirasakan

Tn. I mengatakan nyeri pada daerah luka seperti rasa terbakar di sertai dengan gatal pada daerah luka tersebut dan oleh sebab itu pasien sulit untuk melakukan aktifitas.

2. Bagaimana dilihat

Tn. I terlihat cemas dengan keadaannya dilihat dari raut wajah dan konsentrasi menjawab pertanyaan dan terlihat lemah diatas tempat tidur.

C. Region

1. Dimana lokasinya

Luka berada di paha dan tangan sebelah kanan. 2. Apakah menyebar

Tidak adanya penyebaran luka bakar yang dialami. D. Severity

Tn. I mengatakan keadaan yang sekarang sangat mengganggu kebiasaannya sehari-hari. Karena sulit untuk melakukan aktifitas.

E. Time

(15)

III. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU

A. Penyakit yang pernah dialami

Demam, diare.

B. Pengobatan/tindakan yang dilakukan

Tn. I mengatakan jika sakit Tn.I pergi ke puskesmas di sekitar rumah.

C. Pernah dirawat/dioperasi

Tn. I mengatakan tidak pernah dirawat maupun dioperasi.

D. Lama dirawat

Tn. I mengatakan tidak pernah dirawat di rumah sakit.

E. Alergi

Tn. I tidak mengalami riwayat alergi.

F. Imunisasi

Menurt dari keterangan keluarga Tn. I (ibu) Tn. I mendapatkan imunisasi lengkap.

IV. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU

A. Orang Tua

Orang tua Tn. I tidak ada mengalami penyakit yg berarti

B. Saudara Kandung

Saudara kandung Tn. I tidak ada mengalami penyakit yg berarti

C. Penyakit keturunan yang ada

Tidak ada penyakit keturunan dari keluarga Tn. I

D. Anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa

Jika ada, hubungan keluarga : tidak ada Gejala : tidak ada

Riwayat pengobatan/perawatan : tidak ada

E. Anggota keluarga yang meninggal

Tidak ada anggota keluarga yang meninggal.

F. Penyebab meninggal

(16)

V. RIWAYAT KEADAAN PSIKOLOGI

A. Persepsi Pasien tentang penyakitnya

Tn. I mengatakan keadaan sekarang adalah akibat kelalaiannya.

B. Konsep Diri

- Gambaran Diri : pasien mengatakan sedih dengan keadaan tubuhnya yang sekarang

- Ideal Diri : pasien mengatakan tamat SMA langsung berkerja - Harga Diri : pasien merasa dirinya kurang diterima oleh orang

disekelilingnya karena luka bakar yang dialaminya

- Peran Diri : pasien merupakan anak kedua dari tiga bersaudara - Identitas : pasien ingin cepat sembuh dan segera pulang

C. Keadaan Emosi

Keadaan emosi masih dapat terkontrol.

D. Hubungan Sosial

- Orang yang berarti :

Tn. I mengatakan orang yang berarti adalah keluarganya - Hubungan dengan keluarga :

Tn. I menjalin hubungan baik dengan keluarga - Hubungan dengan orang lain :

Tn. I dapat berinteraksi dengan orang yang ada di sekitarnya - Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain :

Tidak ada hambatan dalam berhubungan. E. Spiritual

- Nilai dan keyakinan

Tn. I memeluk agama Islam dan percaya dengan Tuhannya. - Kegiatan ibadah

Tn. I beribadah sesuai ketentuan agamanya, dan sering melakukan sholat berjamaah di dekat rumahnya

(17)

VI. STATUS MENTAL

- Tingkat Kesadaran :Supor

- Penampilan :Rapi

- Pembicaraan :sesuai

- Alam kesadaran :Lesu

- Afek : Sesuai

- Interaksi selama wawancara : kooperatif dan Kontak mata ada

- Persepsi : Tidak ada

- Proses pikir : Sesuai pembicaraan

- Isi pikir : Pasien tidak menunjukan gejala-gejala diatas

- Waham : Tidak ada waham

- Memori : Masih dapat mengingat kejadian dulu dan sekarang

VII. PEMERIKSAAN FISIK

A. Keadaan umum

Baik, luka yang di alami masih tertutup perban

B. Tanda-tanda vital - Suhu tubuh : 37,5 C - Tekanan darah : 110/70 mmHg - Nadi : 84x/menit - Pernafasan : 20x/menit - Skala nyeri : 5 - TB : 168 cm - BB : 54 kg

C. Pemeriksaan Head to toe

Kepala dan rambut

- Bentuk : Simetris

- Ubun-ubun : Simetris

(18)

Rambut

- Penebaran dan keadaan rambut : rambut bersih dan rapi

- Bau : tidak ada bau

- Warna kulit : hitam

Wajah

- Warna kulit : sawo matang

- Struktur wajah : lengkap

Mata

- Kelengkapan dan kesimetrisan : lengkap dan simetris

- Palpebra : normal

- Konjungtiva dan sclera : konjungtiva tidak pucat dan skelra berwarna

- Pupil : ukuran pupil kiri/karan : +/- 3/3 mm - Kornea dan iris :transparan,halus, bersih dan jernih

- Visus :pasien masih dapat membaca dalam

jaram +/- 3 meter

- Tekanan bola mata : tidak dilakukan pemeriksaan Hidung

- Tulang hidung dan posisi septum nasi :simetris dan tidak ada kelainan

- Lubang hidung cuping hidung : ukuran normal

- Cuping hidung : tidak ada tanda kelainan Telinga

- Bentuk telinga : Normal, simetris

- Ukuran telinga : Normal

- Lubang tlinga : bersih, tidak ada kotoran - Ketajaman pendengaran : normal

(19)

Mulut dan faring

- Keadaan bibir : Kering

- Keadaan gusi dan gigi : Bersih

- Keadaan lidah : berwarna merah muda

Leher

- Posisi tracheathyroid : normal, teraba pada kedua sisi

- Suara : normal

- Kelenjar limfa :tidak ada pembesaran

kelelenjar getah bening - Vena jugularis :tampak ketika berbicara

- Denyut nadi karotis :teraba

Pemeriksaan integument

- Kebersihan : kulit bersh - Kehangatan : 37,50C - Warna : sawo matang

- Turgor : kembali cepat < 2 detik - Kelembaban : keadaan kulit lembab - Kelainan pada kulit: tidak ada kelainan Pemeriksaan thoraks/dada

- Inspeksi thoraks (normal, burrel chest, funnel chest, pigeon chest, flail chest, kifos koliasis) : normal

- Pernafasa (frekwensi, irama) :frekwensi 24x/menit, irama vesikuler

- Tanda kesulitan bernafas : tidak ada tanda kelainan Pemeriksaan abdomen

- Inspeksi (bentuk, benjolan) : bentuk normal dan tidak ada terlihat kelainan

(20)

- Auskultasi : peristaltic normal

- Palpasi (tanda nyeri tekan, benjolan, ascites, hepar, lien) : terdapat lubang anus dan tidak ada kelainan

- Perkusi (suara abdomen) : suara tympani Pemeriksaan kelamin dan daerah sekitarnya

- Genitalia (rambut pubis, lubang uretra) : terdapat rambut pubis dan lubang uretara dan tidak ada kelainan

- Anus dan perineum (lubang anus, kelainan pada anus, perineum): normal, terdapat lubang anus dan tidak ada kelainan

- Pada ibu nifas (kondisi lochea; jumlah, konsistensi, warna, bau. kondisi perineum; episiotomy ada/tidak, REEDA)

VIII. POLA KEBIASAAN SEHARI-HARI

I. Pola makan dan minum

- Frekuensi makan/hari : 3 kali / hari

- Nafsu/selera makan : pasien mengatakan selera makan seperti biasa

- Nyeri ulu hati : tidak ada nyeri uluu hati - Alergi : tidak ada alergi makanan - mual dan muntah : tiadak ada mual dan muntah - Nampak makan memisahkan diri (pasien gangguan jiwa)

- Waktu pemberian makanan : 08.00 wib, 14.00 wib, 19.00 wib - Jumlah dan jenis makanan : nasi, sayur, lauk, buah

- Waktu pemberian cairan/minuman : pasien terpasang cairan infuse RL 20 tetes / menit, minum apabila haus

- Masalah makan dan minum (kesulitan menelan, mengunyah) : Tidak ada kesulitan untuk mkan

II. Perawatan diri/personal hygiene

- Kebersihan tubuh : pasien selama mengalami luka bakar hanya di lap oleh orang tua

(21)

- Kebersihan kuku kaki dan tangan : bersih

III. Pola kegiatan/aktivitas

- Uraian aktivitas pasien untuk mandi, makan, eliminasi, ganti pakaian dilakukan secara mandiri, sebahagian atau total :

Saat ini pasien dalam melakukan kegiatan membutuhkan bantuan - Uraikan aktivitas ibadah pasien selama dirawat/sakit :

Untuk saat ini pasien tidak ada melakukan kegiatan ibadah

IV. Pola eliminasi

1. BAB

- Pola BAB : 1-2 kali / hari - Karakter feses : normal

- Riwayat perdarahan : tidak ada pendarahan - BAB terakhir : sore

- Diare : tidak ada diare

- Penggunaan laksatif : tidak ada penggunaan laksatif

2. BAK

- Pola BAK : 2-3 kali / hari - Karakter urine : normal

- nyeri/rasa terbakar/kesulitan BAK : tidak ada kesulitan BAK - Riwayat penyakit ginjal/kandung kemih : tidak ada

- Penggunaan diuretic : tidak ada penggunaan diuretik - Upaya mengatasi masalah : tidak ada

V. Mekanisme koping

- Adaptif

Bicara dengan orang lain Teknik relaksasi

- Maladaptif

(22)

2. ANALISA DATA

No. Data Etiologi Masalah

1 DS:

Klien mengatakan tidak mampu memenuhi

kebutuhan aktivitas secara mandiri

DO :

- klien bedrest di atas tempat tidur

- Klien terlihat lemah - Aktivitas di Bantu oleh

keluarga dan perawat

Luka bakar / sengatan listrik

Kerusakan jaringan kulit

Gangguan neuromuskuler Gangguan mobilisasi Gangguan mobilisasi 2. DS :

Klien mengatakan panas, kebas, dan bau di daerah luka bakar

DO:

- Luka di kaki dan tangan tampak merah, masih ber air dan kotor - Skala nyeri 4-6 - TD 110/80 mmHg - Team 37oc

- Luas luka 27 %

Luka bakar

Nyeri, ber air / kotor

Masuknya mikro organisme Pertahanan primer tidak

adekuat

Resiko terjadi infeksi

Risiko tinggi infeksi

3. DS:

Klien mengatakan nyeri di daerah luka bakar dan berdenyut.

DO :

- Klien terlihat gelisah - Klien meringis kesakitan, - TD 110/70 mmHg - Team 370c - Pols 85 x/i - RR 20 x/I - Skala nyeri 4-6 Luas luka 27 %. Luka bakar/sengatan listrik

Kerusakan jaringan kulit / saraf / kematian jaringan. Di amputasi ektremitas atas Nyeri Gangguan rasa nyaman nyeri

(23)

3. RUMUSAN MASALAH MASALAH KEPERAWATAN

1. Gangguan mobilisasi 2. Risiko tinggi infeksi

3. Gangguan rasa nyaman nyeri

DIAGNOSA KEPERAWATAN (PRIORITAS)

1. Gangguan mobilisasi berhubungan dengan luka bakar di tandai dengan pasien tampak cemas dan terdapat luka pada paha dan tangan kanan.

(24)

4. PERENCANAAN KEPERAWATAN DAN RASIONAL Hari/ Tanggal No. Dx Perencanaan Tindakan Selasa/ 18-06-2013 1. 2. 3.

Tujuan dan kriteria hasil:

1. mencapai mobilisasi di tempat tidur. 2. mendemonstrasikan mobilitas. 3. menunjukan tekhnik / perilaku yang memampukan melakukan aktivitas. 4. mempertahankan posisi fungsi di buktikan oleh tidak adanya kontraktur.

1. faktor risiko infeksi akan hilang. 2. pasien akan memperlihatkan pengendalian resiko.

3. mencapai penyembuhan luka tepat waktu. bebas eksudatpurulen dan tidak demam.

1. memperlihatkan pengendalian nyeri. 2. melaporkan nyeri berkurang / terkontrol.

3. menunjukan ekspresi wajah / postur tubuh rileks.

4. berpartisipasi dalamm aktivitas dan tidur / istirahat dengan tepat.

Rencana Tindakan Rasional

1 1. Pengaturan posisi. 1. mengatur

penempatan pasien atau bagian tubuh pasien secara hati-hati untuk

(25)

2. perawatan tirah baring.

3.dorong dukungan dan bantuan

keluarga / orang terdekat pada pelatihan rentang gerak.

4.lakukan latihan rentang gerak secara konsisten, diawali dengan pasif

kemudian aktif. meningkatkan kesejahteraan fisiologis dan psikologis. 2. meningkatkan kenyamanan dan keamanan serta pencegahan komplikasi untuk pasien yang tidak mampu bangun dari tempat tidur.

3. mengajak orang terdekat untuk aktif dalam perawatan pasien dan memberikaan terapi lebih konstan / konsisten 4.mencegah secara progresif mengencangkan jaringan parut dan kontraktur,

meningkatkan pemeliharaan fungsi otot / sendi dan menurunkan

(26)

2.

3.

5. dorong partisipasi pasien dalam semmua aktifitas sesuai kemampuan individual.

1.tekankan pentingnya cuci tangan yang baik untuk semua individu yang dating kontak dengan pasien.

2. gunakan tekhnik steril dalam perawatan luka.

3.observasi vital sign

4.observasi luka bakar, perhatikan perubahan luka.

1.tinngkatkan periode tidur tanpa gangguan.

2. melakukan tinndakan manajemen

dari tuulang.

5. meningkatkan kemandirian. Meningkatkan arga diri, dan membantu proses perbaikan. 1.mencegah kontaminasi silang : menurunkan risiko infeksi 2. mencegah agar luka tidak terinfeksi lebih.

3.indikator sepsis sering terjadi pada luka bakar. 4.mengetahui perkembangan penyembuhan luka. 1.kekurangan tidur dapat miningkatkan nyeri / kemampuan koping menurun 2. meringankan atau

(27)

nyeri.

3.lakukan penggantian balutan dan debridemen setelah pasien diberi obat.

4. dorong ekspresi perasaan tentang nyeri.

5.kolaborasikan dalam pemberian analgetik

mengurangi nyeri sampai pada tingkat kenyamanan yang dapat di terima oleh pasien.

3.menurunkan terjadinya distress fisik dan emosi sehubungan dengan penggantian baluutan dan debridemen 4. pernyataan memungkinkan pengungkapan emosidan dapat meningkatkan mekanisme koping. 5. untuk menghilangkan / mengurangi nyeri.

(28)

5. PELAKSANAAN KEPERAWATAN Hari/ Tanggal No. Dx Implementasi keperawatan Evaluasi (SOAP) Selasa/18 juni 2013 1. 2.

- Mempertahankan posisi tubuh tepat khususnya untuk luka bakar di atas sendi

- Melakukan latihan rentang gerak secara konsisten di awali dengan pasif kemudian aktif .

- Mendorong parstisipasi pada dalam semua aktivitas sesuai kemampuan

- Mendorong dukungan dan bantuan keluarga pada latihan rentang gerak

- Mengajarkan dan

mengingatkan pentingnya cuci tangan

- Melakukan tekhnik steril dalam perawatan luka

- Melakukan vital sign: TD : 120 / 70 mmHg HR : 86kali / menit

S: Klien mengatakan masih nyeri bila dilakukan pergerakan O : klien terlihat tidur

terlentang dan semua kebutuhan dibantu oleh keluarga dan perawat A : Masalah belum teratasi - Klien masih merasakan nyeri bila melakukan pergerakan P : intervensi dilanjutkan - Kaji kemampuan mobilitas fisik - Lakukan latihan gerak pasif S: klien mengatakan merasa nyeri dengan skala 4-6

O: luas luka bakar 27% dan luka masih tampak kemerahan

A: masalah belum teratasi P: rencana tindakan

(29)

3.

RR :24 kali / menit TEMP : 37,60C

- Mengkaji luka, apakah ada tanda-tanda infeksi

- Mengkaji skala nyeri 4-6 - Mengukur vital sign :

TD : 120 / 70 mmHg HR : 86 kali / menit RR : 24 kali / menit TEMP : 37.60C

- Merubah posisi semi fowler - Mengajarkan tekhnik nafas

dalam

- Melakukan kolaborasi dalam pemberian analgetik :

injeksi ketorolac 30mg/8 jam ranitidine 50mg/12 jam ceftriaxone 1gr/12 jam dilanjutkan - Observasi perkembangan luka S: klien mengatakan nyeri pada daerah luka dan jika dilakukan pergerakan

O: klien tampak meringis dengan skala nyeri 4-6, diberikan A: masalah belum teratasi sebagian P: rencana tindakan dilanjutkan

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :