BAB II LANDASAN TEORI

24 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

II.1. Pemahaman Perpajakan

II.1.1. Pengertian Pajak

Berdasarkan UU KUP pasal 1 ayat 1, pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang- undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar- besarnya kemakmuran rakyat. Definisi atau pengertian pajak menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro,SH sebagaimana dikutip oleh Waluyo dan Wirawan B.Iiyas (2002:2) dalam Perpajakan Indonesia sebagai berikut: “Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang- undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum”.

Andriani seperti dikutip oleh Zain, M. (2007) mendefinisikan:

Pajak sebagai iuran masyarakat kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan umum (undang-undang), dengan tidak mendapat prestasi kemabali yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.

(2)

Dari pengertian- pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa ciri- ciri pajak adalah:

1. Pajak dipungut berdasarkan undang- undang serta aturan pelaksanaannya yang sifatnya dapat dipaksakan.

2. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukan adanya kontraprestasi individual oleh pemerinntah.

3. Pajak dipungut oleh negara baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

4. Pajak diperuntukan bagi pengeluaran- pengeluaran pemerintah, yang bila dari pemasukannya masih terdapat surplus, dipergunakan untuk membiayai public investment.

5. Pajak dapat pula mempunyai tujuan selain selain budgeter, yaitu mengatur.

II.1.2. Teori yang Mendukung Pemungutan Pajak

Teori yang mendukung pemungutan pajak, menurut Brotodiharjo, R. A (2005) adalah sebagai berikut:

1. Teori Asuransi

Menurut teori asuransi, negara mempunyai tugas untuk melindungi warganya dari segala kepentingannya baik keselamatan jiwanya maupun keselamatan harta bendanya. Untuk perlindungan tersebut diperlukan biaya seperti layaknya dalam perjanjian asuransi diperlukan adanya pembayaran premi. Pembayaran pajak ini dianggap sebagai pembayaran premi kepada

(3)

negara. Teori ini banyak ditentang karena negara tidak boleh disamakan dengan perusahaan asuransi.

2. Teori Kepentingan

Menurut teori kepentingan, dasar pemungutan pajak adalah adanya kepentingan dari masing-masing warga negara. Termasuk kepentingan dalam perlindungan jiwa dan harta. Semakin tinggi tingkat kepentingan perlindungan, maka semakin tinggi pula pajak yang harus dibayarkan.

II.1.3. Pengelompokkan Pajak

Pengelompokan pajak menurut Mardiasmo (2009:5) adalah sebagai berikut:

1. Menurut Golongannya

a. Pajak langsung, yaitu pajak yang harus dipikul sendiri oleh Wajib Pajak dan tidak dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain.

Contoh: Pajak Penghasilan

b. Pajak tidak langsung, yaitu pajak yang pada akhirnya dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain.

Contoh: Pajak Pertambahan Nilai 2. Menurut sifatnya

a. Pajak subjekif, yaitu pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada subjeknya, dalam arti memperhatikan keadaan diri Wajib Pajak.

(4)

b. Pajak Objektif, yaitu pajak yang berpangkal pada objeknya, tanpa memperhatikan keadaan diri wajib pajak.

Contoh: Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah. 3. Menurut Lembaga pemungutnya

a. Pajak Pusat, yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga negara.

Contoh: Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.

b. Pajak Daerah, yaitu pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah. Pajak daerah dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Pajak Daerah Tingkat I (Propinsi)

Contoh : Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. 2. Pajak Daerah Tingkat II (Kotamadya / Kabupaten)

(5)

II.1.4. Metode Pemungutan Pajak

Metode pemungutan pajak menurut IKPI (2009:3) adalah sebagai berikut:

1. Official Assessment System

Adalah suatu sistem pemungutan yang memberi wewenang kepada pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak.

Ciri- cirinya:

a. Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada fiskus; b. Wajib Pajak bersifat pasif;

c. Utang pajak timbul setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak oleh fiskus.

2. Self Assesssment System

Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada Wajib Pajak untuk menetukan sendiri besarnya pajak yang terutang.

Ciri- cirinya:

a. Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada Wajib Pajak sendiri;

b. Wajib Pajak aktif, mulai dari menghitung, menyetor dan melaporkan sendiri pajak yang terutang;

c. Fiskus tidak ikut campur dan hanya mengawasi. 3. With Holding System

(6)

Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga (bukan fiskus dan bukan wajib pajak yang bersangkutan) untuk menentukan besarnya pajak terutang oleh Wajib Pajak.

Ciri- cirinya adalah wewenang menentukan besarnya pajak yang terutang ada pada pihak ketiga, pihak selain fiskus dan Wajib Pajak.

II.2. Pemahaman Pajak Penghasilan

II.2.1. Pengertian dan Dasar Hukum Pajak Penghasilan

UU Pajak Penghasilan mengatur pengenaan Pajak Penghasilan terhadap subjek pajak berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak. Subjek pajak tersebut dikenai pajak apabila menerima atau memperoleh penghasilan. Subjek pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan disebut Wajib Pajak. Wajib Pajak dikenai pajak atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya selama satu tahun pajak atau dapat pula dikenai pajak untuk penghasilan dalam bagian tahun pajak apabila kewajiban pajak subjektifnya dimulai atau berakhir dalam tahun pajak. UU Pajak Penghasilan menganut asas materiil, artinya penentuan mengenai pajak yang terutang tidak tergantung kepada surat ketetapan pajak.

(7)

II.2.1. Subjek Pajak dan Wajib Pajak

Subjek dan wajib pajak menurut Mardiasmo (2009:130) adalah sebagai berikut:

1. Subjek Pajak Penghasilan

Subjek Pajak Penghasilan meliputi orang pribadi, warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang berhak, badan, dan bentuk usaha tetap (BUT). Berdasarkan lokasi geografisnya, Subjek Pajak terdiri dari: a. Subjek Pajak Dalam Negeri

Subjek Pajak orang pribadi dalam negeri manjadi Wajib Pajak apabila telah menerima atau memperoleh penghasilan yang besarnya melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak. Subjek Pajak Badan dalam negeri menjadi Wajib Pajak saat didirikan, atau bertempat kedudukan di Indonesia. Subjek Pajak Luar Negeri baik Orang Pribadi maupun Badan sekaligus menjadi Wajib Pajak karena menerima dan atau memperoleh penghasilan yang bersumber dari Indonesia atau menerima dan atau memperoleh penghasilan yang bersumber dari Indonesia melalui bentuk usaha tetap di Indonesia.

b. Subjek Pajak Luar Negeri

Subjek Pajak Luar Negeri adalah orang pribadi atau badan yang bertempat tinggal atau bertempat kedudukan di luar Indonesia yang dapat

(8)

menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia, baik melalui maupun tanpa melalui bentuk usaha tetap. Orang Pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, tetapi berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan maka orang tersebut adalah subjek pajak luar negeri.

2. Objek Pajak Penghasilan

Yang menjadi Objek Pajak Penghasilan adalah penghasilan. UU no. 36 Tahun 2008 yang tercantum dalam pasal 4 ayat (1) menyebutkan:

“Penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari Luar Indonesia, yang dapat di pakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan, dengan nama dan atau bentuk apapun”.

II.3. PPh Pasal 17

Tarif PPh berdasarkan Pasal 17 Undang-Undang no. 36 tahun 2008 yang berlaku mulai tahun pajak 2009 (per 1 Januari 2009).

Tarif Progresif PPh Orang Pribadi adalah sebagai berikut:

No Jumlah Penghasilan Tarif

1. s.d. Rp. 50.000.000,00 5%

2. Di atas Rp. 50.000.000,00 s.d Rp. 250.000.000,00

(9)

3. Di atas Rp. 250.000.000,00 s.d. Rp. 500.000.000,00

25%

4. Di atas Rp. 500.000.000,00 30%

Tarif Tunggal PPh WP Badan dan BUT adalah:

1. Tarif tunggal 28 % untuk tahun pajak 2009;

2. Tarif tunggal 25% untuk tahun pajak 2010 dan seterusnya.

II.4. Kredit Pajak

Kredit Pajak adalah pajak yang telah dilunasi setiap bulan atau masa lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dalam tahun berjalan, baik yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak maupun yang dipotong serta dipungut oleh pihak lain, yang merupakan angsuran pajak yang boleh dikurangkan dari pajak yang terutang pada akhir tahun pajak yang bersangkutan, kecuali yang bersifat pembayaran PPh yang bersifat final.

Kredit pajak dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Diperoleh penghasilan oleh Wajib Pajak Dalam Negeri dari pekerjaan atau kegiatan diatur dalam PPh Pasal 21. (Pengertian Kegiatan adalah ikut serta dalam suatu rangkaian tindakan termasuk rapat, sidang, workshop, pendidikan, peertunjukan, olahraga).

b. Pemungutan pajak oleh pihak lain atau penghasilan dari luar usaha diatur dalam pasal 22.

(10)

c. Diperoleh penghasilan dari modal, jasa dan kegiatan tertentu diatur dalam PPh Pasal 23.

d. Diperoleh penghasilan oleh Wajib pajak Luar Negeri dari Pekerjaan, jasa, kegiatan, dan modal diatur dalam pasal 26.

e. Pajak yang dipotong atau dipungut, dibayar terutang diluar negeri. f. Pembayaran pajak oleh Wajib Pajak sendiri diatur dalam Pasal 25.

II.5. PPh Pasal 23

PPh Pasal 23 merupakan salah satu jenis uang muka PPh yang dibayar selama tahun berjalan oleh Wajib Pajak dalam negeri dan BUT melalui sistem pemotongan oleh pihak lain.

II.5.1. Pemotong PPh Pasal 23

Pemotong PPh Pasal 23 adalah pihak- pihak yang membayarkan penghasilan, yang terdiri atas:

1. Badan Pemerintah

2. Subyek Pajak Badan dalam negeri 3. Penyelenggara kegiatan

4. Bentuk Usaha Tetap (BUT) atau perwakilan perusahaan luar negeri

5. Orang pribadi sebagai wajib pajak dalam negeri yang ditunjuk oleh Dirjen Pajak, yaitu :

a. Akuntan, arsitek, dokter, notaris, PPAT (kecuali Camat), pengacara, konsultan, yang melakukan pekerjaan bebas.

(11)

b. Orang pribadi yang menjalankan usaha yang menyelenggarakan pembukuan atas pembayaran berupa sewa.

II.5.2. Objek dan Non Objek Pemungutan PPh 23

Objek Pemotongan PPh Pasal 23 adalah sebagai berikut:

1. Dividen, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk dividen dari perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi;

2. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian utang;

3. Royalti;

4. Hadiah, penghargaan, bonus, dan sejenisnya selain yang telah dipotong Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21

5. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta, kecuali sewa tanah dan/ atau bangunan;

6. Imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain selain jasa yang telah dipotong PPh sebagaiman dimaksud dalam Pasal 21.

Non- Objek Pemotongan PPh 23 adalah sebagai berikut: 1. Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank;

(12)

2. Sewa yang dibayarkan atau terutang sehubungan dengan sewa guna usaha dengan hak opsi;

3. Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, badan usaha milik negara, atau badan usaha milik daerah, dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat:

a. Dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan;

b. Bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara milik negara dan badan usaha milik daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah modal yang disetor;

c. Dividen yang diterima oleh orang pribadi;

d. Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham- saham, persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi, termasuk pemegang pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif;

e. Sisa hasil usaha koperasi yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggotanya;

f. Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada badan usaha atas jasa keuangan yang berfungsi sebagai penyalur pinjaman dan/atau pembiayaan yang diatur dengan PMK.

II.5.3. Tarif Pemotongan PPh Pasal 23

(13)

1. Sebesar 15% dari jumlah bruto atas: a. Dividen;

b. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian utang;

c. Royalti;

d. Hadiah, penghargaan, bonus, dan sejenisnya selain yang telah dipotong PPh pasal 21;

2. Sebesar 2% dari jumlah bruto tidak termasuk PPN, atas:

a. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta, kecuali sewa tanah dan/atau bangunan;

b. Imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain selain jasa yang telah dipotong PPh pasal 21.

II.6. Perencanaan Pajak

Perencanaan pajak adalah langkah awal dalam manajemen pajak. Pada tahap ini dilakukan pengumpulan dan penelitian terhadap peraturan perpajakan agar dapat diseleksi jenis tindakan penghematan pajak yang akan dilakukan. Pada umumnya penekanan perencanaan pajak (tax planning) adalah untuk meminimumkan kewajiban pajak.

Untuk meminimumkan kewajiban pajak dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik yang masih memenuhi ketentuan perpajakan (lawful) maupun yang

(14)

melanggar peraturan perpajakan (unlawful). Istilah yang sering digunakan adalah tax avoidance dan tax evasion.

Penghindaran pajak (tax avoidance) adalah rekayasa penghitungan pajak yang masih tetap berada dalam bingkai ketentuan perpajakan (lawful). Komite urusan fiskal dari Organizational for Economic Cooperation and Development (OECD) menyebutkan ada tiga karakter penghindaran pajak sebagai berikut: a. adanya unsur artifisial di mana berbagai pengaturan seolah- olah terdapat di

dalamnya padahal tidak, dan ini dilakukan karena ketiadaan faktor pajak. b. Skema semacam ini sering memanfaatkan loopholes dari undang- undang atau

menerapkan ketentuan- ketentuan legal untuk berbagai tujuan, padahal bukan itu yang sebetulnya dimaksudkan oleh pembuat undang- undang.

c. Kerahasiaan juga sebagai bentuk dari skema ini di mana umumnya para konsultan menunjukkan alat atau cara untuk melakukan penghindaran pajak dengan syarat Wajib Pajak menjaga serahasia mungkin.

Perencana perpajakan umumnya selalu dimulai dengan meyakinkan apakah suatu transaksi atau fenomena terkena pajak. Kalau fenomena tersebut terkena pajak, apakah dapat diupayakan untuk dikecualikan atau dikurangi jumlah pajaknya, selanjutnya apakah pembayaran pajak dimaksud dapat ditunda pembayarannya.

II.7. Penghindaran Sanksi Pajak

Pembayaran sanksi yang tidak seharusnya terjadi merupakan pemborosan sumber daya perusahaan. Penghindaran pemborosan tersebut merupakan

(15)

optimalisasi alokasi sumber daya perusahaan ke arah yang lebih produktif dan efisien sehingga dapat memaksimalkan kinerja dengan benar dan mengerjakan yang seharusnya, selain harus bekerja keras dan bekerja secara cerdas. Sanksi administrasi dapat berupa denda, bunga, maupun kenaikan. Sanksi tersebut merupakan denda keuangan (financial penalty) yang merupakan pemborosan dana. Sedangkan sanksi pidana dapat berupa pidana penjara dan/ atau denda keuangan.

Menurut Suandy (2003), terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam suatu perencanaan pajak yaitu:

1. Perencanaan pajak yang dilakukan tidak melanggar ketentuan perpajakan. Bila suatu perencanaan pajak dipaksakan dengan melanggar ketentuan perpajakan, bagi Wajib Pajak merupakan risiko pajak yang sangat berbahaya dan justru mengancam keberhasilan perencanaan pajak tersebut.

2. Perencanaan pajak yang dilakukan dinilai masuk akal secara bisnis, karena perencanaan pajak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perencanaan menyeluruh (global strategy) perusahaan, baik jangka panjang maupun jangka pendek. Oleh karena itu, perencanaan pajak yang tidak masuk akal akan memperlemah perencanaan itu sendiri.

3. Perencanaan pajak yang dilakukan disertai buku- buku pendukung yang memadai, misalnya dukungan perjanjian (agreement), faktur (invoice), dan juga perlakuan akuntansinya (accounting treatment).

(16)

Apabila pada tahap perencanaan pajak telah diketahui faktor- faktor yang akan dimanfaatkan untuk melakukan penghematan pajak, maka langkah selanjutnya adalah mengimplementasikannya baik secara formal maupun material. Untuk mencapai tujuan manajemen pajak ada dua hal yang perelu dikuasai dan dilaksanakan, antara lain sebagai berikut:

1. Memahami ketentuan peraturan perpajakan seperti undang- undang, Keputusan Presiden, Keputusan Menteri Keuangan, Keputusan Dirjen Pajak, dan Surat Edaran Dirjen Pajak dapat diketahui peluang- peluang yang dapat dimanfaatan unuk menghemat beban pajak.

2. Menyelenggarakan pembukuan yang memenuhi syarat dalam menyajikan informasi keuangan perusahaan yang disajikan dalam bentuk laporan keuangan dan menjadi dasar dalam menghitung besarnya jumlah pajak terhutang.

II.9. Pengendalian Pajak

Pengendalian pajak bertujuan untuk memastikan bahwa kewajiban pajak telah dilaksanakan sesuai dengan yang telah direncanakan dan telah memenuhi persyaratan formal maupun material. Setelah dilakukannya pengendalian pajak, ada hal yang juga penting yaitu pemeriksaan pembayaran pajak. Oleh sebab itu, pengendalian dan pengaturan arus kas sangat penting dalam strategi penghematan pajak, misalnya melakukan pembayaran pajak pada saat terakhir tentu lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan membayar lebih awal II.10. Motivasi Pelaksanaan Perencanaan Pajak

(17)

1. Kebijakan Perpajakan (tax policy)

Faktor- faktor yang mendorong dilakukannya suatu perencanaan pajak antara lain:

a. Jenis pajak yang akan dipungut

Agar tidak menggangu atau tidak memberatkan arus kas perusahaan, perencanaan pajak yang baik harus dapat menganalisis transaksi apa yang akan terkena pajak dan berapa dana yang diperlukan, sehingga dapat diketahui berapa penghasilan bersih setelah pajak.

b. Subjek pajak

Indonesia merupakan negara yang menganut sistem kesatuan usaha yaitu pemisahan antara badan usaha dengan pribadi miliknya sehingga akan menimbulkan pajak ganda. Hal ini dapat menimbulkan perbedaan perlakuan perpajakan atas pembayaran dividen badan usaha kepada pemegang saham perorangan dan kepada pemegang saham berbentuk badan usaha menyebabkan timbulnya usaha untuk merencanakan pajak dengan baik agar beban pajak rendah sehingga sumber daya perusahaan bisa dimanfaatkan untuk tujuan yang lain.

c. Objek pajak

Objek Pajak merupakan basis perhitungan (tax bases) besarnya pajak, maka untuk optimalisasi alokasi sumber dana, manajemen akan merencanakan pajak yang tidak lebih dan tidak kurang.

(18)

Adanya penerapan tarif berlapis di Indonesia mengakibatkan seorang perencana pajak berusahan sedapat mungkin agar dikenakan tarif yang paling rendah.

e. Prosedur pembayaran pajak.

Adanya self assessment dan payment system mengharuskan perencana pajak untuk melakukan perencanaan pajak dengan baik. Peningkatan witholding tax di Indonesia dapat mengganggu arus kas perusahaan karena bisa menyebabkan kelebihan pembayaran atas pemungutan pendahuluan. Sementara untuk memperoleh restitusi atas kelebihan tersebutdiperlukan waktu dan biaya.

2. Undang –undang perpajakan (Tax Law)

Tidak ada undang- undang yang mengatur setiap permasalahnn secara sempurna. Oleh sebab itu, dalam pelaksanaan nya diikuti oleh ketentuan- ketentuan lain seperti Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, Keputusan Menteri Keuangan, dan Keputusan Dirjen Pajak. Tidak jarang ketentuan pelaksanaan tersebut bertentangan dengan undang- undang itu sendiri karena disesuaikan dengan kepentingan pembuat kebijakan dalam mencapai tujuan lain yang ingin dicapainnya. Akibatnya terbuka celah (loopholes) bagi Wajib Pajak untuk menganalisis kesempatan tersebut dengan cermat untuk perencanaan pajak yang baik.

(19)

Indonesia masih mengalami kesulitan dalam melaksanakan administrasi perpajakannya secara memadai, hal ini mendorong perusahaan untuk melaksanakan perencanaan pajak dengan baik untuk terhindar dari sanksi administrasi maupun pidana karena adanya perbedaan penafsiran antara fiskus dengan Wajib Pajak akibat luasnya peraturan perpajakan yang berlaku dan sistem informasi yang masih belum efektif.

II.11. Tahapan Dalam Membuat Perencanaan Pajak

Agar perencanaan pajak dapat berhasil sesuai dengan yang diharapkan, maka rencana itu sehausnya dilakukan melalui berbagai urutan tahap- tahap berikut ini.

1. Menganalisis informasi yang ada

Tahap awal perencanaan pajak adalah menganalisis komponen yang berbeda atas pajak yang terlibat dalam suatu proyek dan menghitung seakurat mungkin beban pajak yang harus ditanggung. Hal ini bisa dilakukan dengan mempertimbangkan masing- masing elemen dari pajak, baik secara sendiri- sendiri maupun secara total pajak yang harus dapat dirumuskan sebagai perencanaan pajak yang paling efisien. Oleh sebab itu, kita perlu memperjatikan faktor- faktor baik secara internal maupun eksternal, antara lain:

a. Fakta yang relevan

Dalam melakukan suatu perencanaan pajak, kita harus menguasai situasi yang dihadapi baik dari segi internal maupun dari segi eksternal agar perencanaan pajak dapat dilakukan secara tepat dan menyeluruh terhadap

(20)

situasi maupun transaksi- transaksi yang mempunyai dampak dalam perpajakan.

b. Faktor- faktor pajak

Dalam menganalisis setiap permasalahan yang dihadapi dalam penyusunan perencanaan pajak tidak terlepas dari sistem perpajakan nasional yang dianut oleh suatu degara dan sikap fiskus dalam menafsirkan peraturan perpajakan baik undang- undang domestik maupun kebijakan perpajakan.

c. Faktor nonpajak

Dalam perencanaan perpajakan terdapat faktor nonpajak yang relevan untuk diperhatikan seperti, masalah badan hukum, mata uang dan nilai tukar, pengawasan devisa, dan masalah program insentif investasi.

2. Membuat satu model atau lebih rencana besarnya pajak. 3. Evaluasi perencanaan pajak

Perencanaan pajak merupakan bagian kecil dari seluruh perencanaan yang merupakan bagian kecil dari seluruh perencanaan strategis perusahaan, oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi untuk melihat sejauh mana hasil pelaksanaan suatu perencanaan pajak terhadap beban pajak, perbedaan laba kotor, dan pengeluaran selain pajak atas berbagai alternatif perencanaan. 4. Mencari kelemahan dan memperbaiki kembali rencana pajak

Perbandingan berbagai rencana harus harus dibuat sebanyak mungkin sesuai bentuk perencanaan pajak yang diinginkan. Dengan adanya perubahan peraturan atau perundang- undangan, tindakan perubahan harus tetap

(21)

keberhasilannya sangat kecil. Sepanjang penghematan pajak masih besar, rencana tersebut harus tetap dijalankan, karena bagaimanapun uga kerugian yang ditanggung merupakan kerugian minimal.

5. Memutakhirkan rencana pajak

Pemutakhiran dari suatu rencana adalah konsekuensi yang perlu dilakukan sebagaimana dilakukan oleh masyarakat yang dinamis, dengan memberikan perhatian terhadap perkembangan yang akan datang maupun situasi yang terjadi saat ini.

6. Perencanaan pajak domestik

Dalam melakukan perencanaan domestik diperlukan pemahaman yang mendalam mengenai maksud dan tujuan dari undang- undang dan peraturan perpajakan yang berlaku, teori dan praktik akuntansi yang berlaku, serta praktik admministrasi perpajakan.

7. Perencanaan pajak internasional

Perencanaan pajak yang umumnya dilakukan berkonsentrasi pada dua hal yaitu witholding taxes dan tax heaven, namun sekarang ini semakin berkembang dan perencanaan pajak internasional nya lebih ditujukan pada penggunaan negara- negara yang mempunyai tarif pajak yang tinggi . Hal ini disebabkan karena dalam menyusun strategi perencanaan pajaknya melihat bahwa beban pajak rendah bukan lagi faktor yang menguntungkan dan tidak cocok dengan jaringan kerja perjanjian pajak.

8. Withholding taxes dalam perencanaan Pajak internasional

Dalam perencanaan pajak sekarang ini, withholding taxes tidak lagi menjadi perhatian, hal ini dikarenakan hal- hal berikut:

(22)

a. Tarif Withholding selalu lebih rendah dari tarif pajak normal.

b. Banyak negara yang memperlakukan kredit pajak untuk penghasilan luar negeri yang teah dikenakan pajak.

c. Banyak negara yang semakin menguatkan atau mempertahankan withholding taxes agar memperoleh posisi yang baik dalam negosiasi perjanjian pajak.

9. Menggunakan negara tax haven untuk meminimalkan beban pajak. II.12. Strategi Umum Perencanaan Pajak

Menurut Suandy (2003), strategi umum perencanaan pajak dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu:

1. Tax Saving

Merupakan upaya efisiensi beban pajak melalui pemilihan alternative pengenaan pajak dengan tarif yang lebih rendah. Misalnya, bagi perusahaan yang dikenakan pajak secara final, sebaiknya memberikan kesejahteraan karyawan dalam bentuk natura dan kenikmatankarena pemberian natura dan kenikmatan kepada karyawan tidak termasuk objek PPh Pasal 21, sedangkan pengeluaran untuk pemberian natura dan kenikmatan tersebut tidak mempengaruhi besarnya PPh Badan .

2. Tax Avoidance

Merupakan upaya efisiensi beban pajak dengan menghindari pengenaan pajak melalui transaksi- transaksi yang akan menjadi objek pajak. Misalnya, bagi perusahaan yang masih rugi, pemberian natura dan kenikmatan akan menurunkan PPh Pasal 21.

(23)

Dalam hal menghindari pelanggaran atas peraturan perpajakan, dapat dilakukan dengan memahami setiap peraturan perpajakan yang berlaku sehingga perusahaan dapat menghindari timbulnya sanksi perpajakan yang dapat berupa:

a. Sanksi Administrasi berupa denda, bunga, atau kenaikan. b. Sanksi pidanaberupa pidana atau kurungan.

4. Menunda Pembayaran Kewajiban Pajak

Penundaan pembayaran kewajiban pajak tanpa melanggar peraturan adalah melalui penundaan PPN. Penundaan ini dilakukan dengan menunda penerbitan faktur pajak keluaran hingga batas waktu yang diperkenankan khususnya untuk penjualan kredit dimana penjual menerbitkan faktur pajak pada akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan barang.

5. Mengoptimalkan Kredit Pajak yang Diperkenankan

Kredit pajak adalah pajak yang dibayar pada tahun berjalan yang dapat mengurangi total pajak terutang di akhir tahun pajak. Kredit pajak dalam PPh meliputi :

a. Kredit Pajak Dalam Negeri: PPh pasal 21, PPh Pasal 22, PPh Pasal 23 b. Kredit Pajak Luar Negeri: PPh Pasal 24

II.13. Kebijakan Perencanaan Pajak Badan

Perencanaan pajak dalam rangka mengefisiensikan PPh Badan dapat diupayakan melalui:

1. Pemilihan alternatif dasar pembukuan, basis kas atau basis akrual

Perbedaan antara basis akrual dan basis kas yang dimodifikasi menurut versi perpajakan terletak pada biaya administrasi dan umum. Pada basis

(24)

akrual, biaya administrasi dan umum dibebankan pada saat timbulnya kewajiban, sedangkan pada basis kas, biaya tersebut baru dibebankan pada saat terjadinya pembayaran.

2. Menunda Penghasilan

Misalnya pembukuan perusahaan yang ditutup pada tanggal 31 Desember dan pada masa itu terjadi peningkatan atas permintaan dan pajak atas penghasilan harus sudah dibayar pada akhir bulan berikutnya sebelum dilaporkan. Angsuran PPh pasal 25 tersebut juga otomatis akan meningkat, maka untuk menghindarinya perusahaan dapat melakukan pendekatan kepada konsumen dan menjual barangnya pada bulan Januari tahun berikutnya sehingga pembayaran pajaknya dapat ditunda 1 tahun.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :