• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah - Nur Sufi Ramadhan BAB I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah - Nur Sufi Ramadhan BAB I"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

(2)

Dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan sebagaimana telah dengan Undang-Undang No. 10 tahun 1998 tertulis pula bahwa bank umum melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan berdasarkan prinsip syariah (Bank syariah). Perbedaan mendasar antara Bank konvensional dan Bank Syariah adalah adanya larangan bunga dalam Bank syariah sebagaimana sistem bunga yang dianut oleh Bank konvensional (Pratiwi dan Mahfud, 2012).

Eksistensi perbankan syariah di Indonesia saat ini semakin meningkat sejak adanya Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 tentang perbankan syariah yang memberikan landasan operasi yang lebih jelas bagi Bank Syariah. Bahkan berdasarkan hasil survei dari Islamic Financing Country Index dari Global Islamic Financing Report. Industri keuangan

syariah di Indonesia telah menorehkan prestasi dengan menempati peringkat keempat industri keuangan syariah dunia yang dinilai dari ukuran-ukuran tertentu dan bobot yang bervariasi, seperti jumlah lembaga keuangan syariah, izin pengaturan syariah, besarnya volume industri, edukasi dan budaya, serta kelengkapan infrastruktur (Pratiwi dan Mahfud, 2012).

(3)

tersebutmeningkat 1,15% dibandingkan pada tahun 2015sebesar 15,02%. Perbaikan nilai CAR didorong oleh aksikorporasi beberapa bank syariah yang menambahkanmodal disetor dan penerbitan sukuk korporasi padatahun 2016. Sementara kualitas pembiayaan yang disalurkan BUS (Bank Umum Syariah) dan UUS (Unit Usaha Syariah)yang membaik ditunjukkanoleh rasio Non-Performing Financing (NPF) gross padatahun 2016 yang mengalami penurunan sebesar 0,19%menjadi 4,15% dari 4,34% di tahun 2015, begitu jugauntuk rasio NPF net yang mengalami penurunan dari2,77% menjadi 2,06%. Perbaikan NPF utamanyadikontribusikan oleh penurunan NPF BUS dari 4,84%menjadi 4,41%, karena meningkatnya pembiayaanyang disalurkan bank syariah dan restrukturisasipembiayaan. Efisiensi operasional perbankan syariahjuga memperlihatkan perbaikan yang tercermin darinilai rasio BOPO yang turun 0,75% dari 94,38% menjadi93,63%. Rasio likuiditas perbankan syariah ditunjukkanoleh nilai FDR yang terjaga pada level 88,78%.Nilai FDR tersebut mengindikasikan bank syariahmempunyai likuiditas yang baik untuk melakukanekspansi pembiayaan karena didukung oleh sumberdana (funding) yang cukup(www.ojk.go.id).

(4)

maupun perkembangan perbankan dan keuangan syariah nasional secara umum tetap masih memiliki pertumbuhan yang cukup positif. Hal ini terlihat dari kinerja perbankan syariah, pasar modal domestik dan industri keuangan non Bank Syariah yang secara umum mash mencatat pertumbuhan usaha dan kinerja keuangan yang cukup positif, antara lain terlihat dari pertumbuhan aset perbankan syariah mencapai 20,28% dan lebih tinggi dari pertumbuhan perbankan secara nasional. Selain itu, kinerja perbankan syariah menunjukan peningkatan yang signifikan tercermin dari permodalan dan profitabilitas yang semakin meningkatkan, maka menunjukkan bahwa fungsi intermediasi perbankan syariah untuk menggerakan perkonomian sangatlah besar (www.ojk.go.id).

(5)

lebih dapat dibandingkan dengan bank-bank yang lain atau dengan periode sebelumnya.

Rasio keuangan perbankan adalah sebagai suatu ukuran tertentu dalam mengadakan interpretasi dari analisis laporan suatu bank. Rasio keuangan perbankan akan memperlihatkan segala aspek dalam keuangan antara lain likuiditas, solvabilitas dan profitabilitas (Widyanto, 2012). Profitabilitas merupakan rasio yang dapat mengukur kinerja keuangan suatu bank. Ukuran profitabilitas yang sering digunakan adalah Return On Assets(ROA) dan Return On Equity (ROE), perbedaan antar keduanya

adalah Return On Assets memfokuskan kemampuan perusahaan untuk memperoleh earningdalam operasi perusahaan, sedangkan Return On Equityhanya mengukur return yang diperoleh dari investasi pemilik

perusahaan dalam bisnis tersebut (Faisal, 2012). Sehingga dalam penelitian yang akan dilakukanReturn On Assets (ROA) digunakan sebagai ukuran profitabilitas bank. Alasan dipilihnya ROA sebagai ukuran profitabiltas adalah Return On Assets (ROA) digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntugan secara keseluruhan.

(6)

penilaian tingkat kesehatan dapat dipergunakan sebagai salah satu alat bagi manajemen dalam menentukan kebijakan pengelolaan bank ke depan dan dapat digunakan oleh pengawas dalam menerapkan strategi pengawasan yang tepat di masa yang akan datang (www.ojk.go.id).

Bank yang tidak memiliki kecukupan modal maka bank tersebut bisa dikatakan tidak sehat rasionya, sehingga bank tersebut masuk dalam kriteria bank dalam pengawasan khusus karena rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio atau CAR)-nya di bawah standar yang ditetapkan Otoritas

Jasa Keuangan (8%-14%). Penelitian Defri (2012) menytakan bahwa CapitalAdequacy Ratio (CAR) memiliki pengaruh positif dan tidak

signifikan terhadap Return onAsset (ROA). Sedangkan Karunia (2013) menyatakan bahwa Capital Adequacy Ratio (CAR) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Return On Asset (ROA). Namun Penelitian Edhie Satrio Wibowo (2013) menunjukkan Capital Adequacy Ratio (CAR) berpengaruh signifikan terhadap Return On Asset (ROA), Sehingga kemampuan bank untuk bertahan pada saat mengalami kerugian dan juga mengakibatkan turunnya kepercayaan nasabah yang pada akhirnya dapat menurunkan profitabilitas bank. Maka semakin menurunnya CAR mencerminkan permodalan bank yang semakin melemah, sebaliknya CAR mencerminkan permodalan bank yang semakin tinggi.

(7)

perbandingan tingkat resiko pembiayaan yang macet dengan tingkat pembiayaan yang disalurkan oleh pihak perbankan. NPF mencerminkan tingkat resiko pembiayaan, semakin kecil tingkat NPF maka semakin kecil tingkat resiko pembiayaan yang akan ditanggung oleh pihak perbankan, sebaliknya semakin besar tingkat NPF maka semakin besar pula tingkat resiko pembiayaan yang akan ditanggung oleh pihak perbankan (Muzakki, 2014). Menurut penelitian Pratiwi dan Mahfud (2012) Non Performing Financing (NPF) berpengaruh negatif dan signfikan terhadap Return On

Asset (ROA). Dalam penelitian Sabir (2012) Non Perfoming Financing (NPF) tidak berpengaruh terhadap ROA karena pembiayaan yang diberikan pada Bank Umum Syariah masih belum optimal yang terkendala dalam menyalurkan pembiayaan dalam nasabah, jadi resiko pembiayaan macet sangat rendah dan tidak berpengaruh terhadap ROA.

Rasio likuiditas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya (Harahap, 2009). Pada penelitian ini, likuiditas diproksikan oleh Financing to Deposit Ratio (FDR). Financing to Deposit Ratio (FDR) pada perbankan syariah merupakan analog dari Loan to Deposit Ratio (LDR) pada bank konvensional. FDR merupakan rasio antara total pembiayaan dengan dana pihak ketiga yang diterima oleh bank (Muhamad, 2014).

(8)

tinggi aset perbankan semakin tinggi pula kemampuan dalam memberikan pinjaman sehingga semakin tinggi pula FDR-nya, yang mengakibatkan semakin tinggi pula pendapatan perbankan. Pada penelitian Nugroho (2011) mendapatkan hasil bahwa Financing to Deposit Ratio (FDR) berpengaruh positif signifkan terhadap Returm On Asset (ROA). Namun hasil dari penelitian Srihastuti (2012) dan Bachri (2013) menemukan hasil bahwa Financing to Deposit Ratio (FDR) tidak berpengaruh signifikan terhadap

Return On Asset (ROA). Namun Penelitian Suryani (2011) menunjukkan

bahwa Financing to Deposit Ratio (FDR) berpengaruh signifikan positif terhadap profitabilitas (ROA) dan pengaruh ini bersifat musiman. Semakin tinggi FDR maka semakin tinggi pula profitabilitas bank tersebut.

Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya yang ada diatas peneliti menambahkan variabel independen yaitu Kualitas manajemen yang diproksikan oleh NetOperating margin (NOM), rasio ini menunjukan kemampuan bank dalam mengelola penyaluran pembiayaan nasabah da biaya operasionalnya sehinngga kualitas aktiva produktif terjaga dan mampu membuat peningkatan pendapatan. Semakin besar tingkat NOM semakin besar kemampuan aktiva produktif menghasilkan laba (Sabir, 2012).

(9)

khususnya Bank syariah, maka perlu dilakukan penelitian lanjutan utuk mendukung penelitian tersebut.

Berdasarkan latar belakang peneliti tertarik untuk meakukan penelitian dengan judul “ Pengaruh Resiko Kredit, Capital Adequacy Ratio, Kualitas Manajemen, dan Likuiditas Terhadap Profitabilitas

Bank Umum Syariah pada Tahun 2012-2017”.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Apakah Resiko kredit berpengaruh negatif terhadap Profitabilitas pada Bank umum syariah?

2. Apakah Capital Adequacy Ratio berpengaruh negatif terhadap Profitabilitas pada Bank Umum Syariah?

3. Apakah Kualitas Manajemen berpengaruh positif terhadap Profitabilitas pada Bank Umum Syariah?

4. Apakah Likuiditas berpengaruh positif terhadap Proftabilitas pada Bank Umum Syariah?

1.3 Batasan Masalah Penelitian

(10)

1. Penelitian dilakukan pada bank syariah yang merupakan Bank Umum Syariah (BUS) di Indonesia.

2. Penelitian ini dibatasi untuk menganalisis Pengaruh Resiko Kredit, Capital Adequacy Ratio, Kualitas Manajemen dan Likuiditas terhadap

Profitabilitas Bank Umum Syariah.

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

a. Untuk menguji pengaruh negatif Resiko Kredit terhadap Profitbiltas Bank Umum Syariah di Indonesia.

b. Untuk menguji pengaruh negativeCapital Adequancy Ratio terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia.

c. Untuk menguji pengaruh positif Kualitas Manajemen terhadap Profitabiitas Bank Umum Syariah di Indonesia.

d. Untuk menguji pengaruh positif Likuiditas terhadap Profitabilitas

Bank Umum Syariah di Indonesia. 2. Manfaat Penelitian

Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi beberapa pihak meliputi :

a. Bagi Peneliti

(11)

2) Dengan penelitian ini di harapkan dapat memberikan menambah wawasan dan pengetahuan lebih mendalam tentang perbankan syariah.

b. Bagi kalangan akademisi

Hasil penelitian diharapkan dapat menambah pengetahuan dan menjadi referensi untuk pengembangan keilmuan yang berkaitan dengan rasio profitabilitas pada Bank Umum Syariah.

c. Bagi Pihak Bank

Referensi

Dokumen terkait

20 Tahun 2001 Tentang Pemilikan Saham Dalam Perusahaan yang Didirikan Dalam Rangka Penanaman Modal Asing yakni dalam rangka lebih mempercepat peningkatan dan perluasan kegiatan

Penyerapan tenaga kerja merupakan jumlah tertentu dari tenaga kerja yang digunakan dalam suatu unit usaha tertentu atau dengan kata lain penyerapan tenaga kerja

Seperti halnya penerapan ICT berdasarkan sarana dan prasarana (infrastruktur) yang ada di Museum Angkut, dimana penerapan ICT ini bertujuan untuk mempermudah

Perubahan Sosial, 2003), hal.. Upacara kematian adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh sejumlah keluarga untuk memberikan peringatan terakhir kepada orang yang dikasihinya

Seringkali apabila tunggakan sewa berlaku ianya dikaitkan dengan masalah kemampuan yang dihadapi penyewa dan juga disebabkan faktor pengurusan yang lemah. Ada pula

Atropin adalah bloker spesifik untuk reseptor muskarinik, tetapi tidak selektif karena reseptor ini terdapat di berbagai organ.salbutamol ialah agonis bheta-adrenergik yang

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dengan menggunakan program SPSS 13.0 for Windows diperoleh nilai korelasi sebesar 0,891 antara variabel Pendidikan dan Pelatihan

Penyusunan tugas akhir ini merupakan salah satu syarat yang harus ditempuh oleh setiap mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Diponegoro dalam