4 GAMBARAN UMUM STUDI KASUS PENELITIAN
4.1 Komunitas Peduli Kampung Halaman (KALAM)
KALAM adalah organisasi kepemudaan yang beranggotakan dan berkegiatan di tingkat kelurahan tepatnya di Kelurahan Tegal Gundil Kecamatan Bogor Utara Kota Bogor. Sekretariat KALAM beralamat di Jl. H. Ahmad Sobana Gang KALAM RT 03 RW 10. Saat ini KALAM diawaki oleh tujuh orang pengurus yang baru terpilih beberapa bulan yang lalu sebagai bagian dari rotasi kepemimpinan.
KALAM berdiri pada tanggal 10 Agustus 2002. Inisiatif pendiriannya berasal dari pemuda setempat, demikian pula halnya dengan aturan main yang dibangun oleh para anggotanya. Hal inilah yang menjadikan KALAM juga dapat digolongkan sebagai kelembagaan informal.
Aturan main tersebut dibangun baik secara tertulis dalam bentuk Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga maupun secara tidak tertulis dalam bentuk nilai dan norma. Menggunakan definisi dari Koentjaraningrat (2002), nilai adalah sumber dari norma, karena nilai merupakan konsep mengenai apa yang berharga dan penting dalam hidup sehingga dapat berfungsi sebagai pedoman. Sebagai konsep, maka nilai bersifat sangat umum dan memiliki ruang lingkup sangat luas. Nilai berada di daerah emosional dari alam jiwa para individu warga kebudayaan. Norma bersifat lebih khusus dibanding nilai dan telah memuat aturan-aturan untuk bertindak.
Latar belakang pendirian KALAM, sebagaimana tertulis pada company profile, berangkat dari situasi bahwa Kelurahan Tegal Gundil beranggotakan warga pendatang selain juga warga pribumi. Banyaknya pendatang dikarenakan letak geografis Kelurahan Tegal Gundil yang dekat dengan pusat kota Bogor. Implikasi dari situasi ini sebagaimana dilihat oleh para pendiri KALAM adalah terjadinya pergeseran budaya setempat. Komunikasi dan silaturahmi yang terjalin antara warga pendatang dan warga pribumi pun dirasakan kurang.
Hal ini diperburuk lagi dengan kondisi rendahnya peluang kerja dan dampak negatif yang dibawa oleh budaya urban dan global terhadap pemuda. Pilihan kegiatan positif yang dimiliki oleh para pemuda juga sangat sedikit. Akhirnya, banyak pemuda yang terjebak pada kegiatan-kegiatan negatif.
Latar belakang tersebut menjadi mandat bagi berdirinya KALAM dan sesuai dengan mandat tersebut maka dirumuskanlah visi KALAM sebagai berikut “Terbangunnya tatanan sosial yang baik dan kemandirian di warga Tegal Gundil melalui kebersamaan anak muda”. Untuk dapat menggapai visi tersebut, maka misi yang ditetapkan adalah “Mendorong peningkatan kapasitas pemuda sesuai potensi yang ada di wilayahnya”. Bagan organisasi KALAM dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3 Bagan organisasi Komunitas Peduli Kampung Halaman (KALAM).
Selama masa perjalanannya hingga saat ini ada beberapa karya yang telah dihasilkan. Karya pertama yang penting disebutkan adalah membangun media informasi bagi warga melalui koran dan radio komunitas. Koran bernama Berita Tegal Gundil dan radio BeTe Radio 88,8 FM tersebut bahkan tetap bertahan hingga kini. Berita Tegal Gundil ini adalah koran komunitas yang menjadi bahan penelitian untuk tesis mengenai wujudnya sebagai investasi modal sosial dan perannya dalam mendorong pemberdayaan masyarakat (Iskandar 2004). Investasi dalam modal sosial ini menjadi penting karena modal sosial adalah prakondisi bagi berlangsungnya pembangunan ekonomi. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa koran komunitas yang dibuat oleh KALAM ini berperan sebagai pendorong pemberdayaan masyarakat karena media lain seperti forum komunikasi RW dan lainnya dianggap belum berfungsi optimal (Iskandar 2004).
Karya lainnya adalah mengorganisasikan para pedagang kaki lima dalam satu wadah disebut dengan STG (Saung Tegal Gundil). Para PKL tersebut sebelumnya berdagang dengan menempati trotoar di sepenggal Jl. H. Ahmad Sobana. Akhir dari pengorganisasian tersebut adalah terbangunnya saung bambu yang apik bagi tempat para PKL berdagang tanpa mengganggu satupun pohon-pohon peneduh jalan hingga trotoar pun kembali pada fungsinya semula. Melalui pengorganisasian ini pula maka para PKL yang sebelumnya berdagang tanpa kepastian perizinan menjadi mendapatkan kepastian usaha dengan diberikannya izin usaha oleh Walikota Bogor.
Gambar 4 Kondisi awal PKL (gambar kiri) yang berdagang di trotoar dan tanpa kepastian usaha dan kondisi setelah terorganisasi dalam Saung Tegal Gundil (STG) (gambar kanan)
Pemanfaatan ruang terbuka hijau di sempadan jalan melalui pembangunan STG dipandang sebagai karya yang baik sehingga turut menjadi pemenang pada Lomba Karya Inovasi Penataan Ruang yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum pada tahun 2008. Lomba yang diadakan dalam rangka memperingati World Town Planning Day 2008 itu berskala nasional. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan KALAM memberikan pengaruh terhadap pengelolaan wilayah, khususnya dalam hal penataan ruang dan peningkatan aktivitas ekonomi. Adanya STG menunjukkan bahwa organisasi pemuda seperti KALAM memiliki potensi daya ungkit (leveraging) bagi pembangunan wilayahnya.
Hingga saat ini, divisi-divisi di KALAM yang mencerminkan kegiatan yang dijalani selain Berita Tegal Gundil dan BeTe Radio adalah (i) Socakalam, adalah divisi yang bergerak di bidang penyediaan jasa desain grafis, (ii) Panon Seukeut, sebuah divisi yang bergerak di bidang jasa pembuatan media audio visual, (iii) Etalase TG, adalah sebuah distributor outlet (distro) dengan produknya adalah
pembuatan merchandise dan kaos, (iv) KALAM Outdoor Learning Centre (KOLC), divisi yang bergerak pada bidang penyediaan jasa pelatihan outbond, dan (v) Atekers, adalah divisi dengan usahanya adalah penyediaan alat tulis kantor (ATK).
Berbagai karya tersebut mendapatkan pengakuan dan apresiasi dari berbagai pihak di luar KALAM. Presiden pertama KALAM (presiden adalah penamaan struktural di KALAM untuk menyebut jabatan ketua organisasi) terpilih sebagai pemuda pelopor tingkat kota Bogor. KALAM pun seringkali menjadi rujukan dan model bagi pemerintah daerah lain, seperti DKI Jakarta, dan berbagai organisasi kepemudaan dalam hal pengorganisasian pemuda dan pemberdayaannya.
4.2 Karang Taruna Berbakti
Karang Taruna digolongkan sebagai salah satu lembaga kemasyarakatan disamping Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa atau Kelurahan (LPMD/K)/Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa atau Kelurahan (LKMD/K), lembaga adat, tim penggerak PKK Desa/Kelurahan, RT/RW, dan lembaga kemasyarakatan lainnya. Lembaga kemasyarakatan adalah lembaga yang dibentuk oleh masyarakat dan merupakan mitra pemerintah desa dan kelurahan dalam memberdayakan masyarakat (Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 2007 tentang Pedoman Penataan Lembaga Kemasyarakatan).
Karang Taruna sendiri berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) tersebut didefinisikan sebagai lembaga kemasyarakatan yang merupakan wadah pengembangan generasi muda yang tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan rasa tanggung jawab sosial dari, oleh dan untuk masyarakat terutama generasi muda di wilayah desa/kelurahan atau komunitas adat sederajat dan terutama bergerak di bidang usaha kesejahteraan sosial, yang secara fungsional dibina dan dikembangkan oleh Departemen Sosial. Tugas Karang Taruna sendiri adalah menanggulangi berbagai masalah kesejahteraan sosial terutama yang dihadapi generasi muda, baik yang bersifat preventif, rehabilitatif, maupun pengembangan potensi generasi muda di lingkungannya.
Karang Taruna menjadi bagian dari sistem yang lebih besar yaitu negara (state). Sebagaimana disebutkan di dalam Permendagri bahwa Karang Taruna
secara fungsional dibina dan dikembangkan oleh Departemen Sosial. Di tingkat kota Bogor, Karang Taruna dibina dan dikembangkan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Sosial (Disnakersos).
Karang Taruna Berbakti adalah Karang Taruna yang berlokasi di Kelurahan Kebon Pedes Kecamatan Tanah Sareal Kota Bogor. Didirikan pada tanggal 3 Oktober 1982, “Berbakti” adalah nama yang dipilih melalui proses sayembara. Pendirian Karang Taruna tersebut menyusul dengan diterbitkannya Keputusan Menteri Sosial Nomor 13/HUK/KEP/1981 tentang Pedoman Dasar Karang Taruna. Aturan main, dalam bentuk Keputusan Menteri Sosial, lantas diubah lagi melalui Peraturan Menteri Sosial (Permensos) Nomor 83/HUK/2005 tentang Pedoman Dasar Karang Taruna. Aturan main tersebut mengatur antara lain mengenai mekanisme organisasi. Aturan main dalam bentuk Permensos mengikat Karang Taruna di seluruh Indonesia. Meskipun aturan mainnya sama, tetapi perbedaan sumber daya yang dikelola berikut karakteristik wilayah masing-masing menyebabkan Karang Taruna antar wilayah menjadi berbeda. Bagan organisasi Karang Taruna Berbakti dapat dilihat pada Gambar 5.
Visi yang ditetapkan oleh Karang Taruna Berbakti adalah “Mewujudkan generasi muda yang mandiri, kreatif, dan inovatif melalui peningkatan dan pemberdayaan sumber daya manusia dan potensi lingkungan”. Berdasarkan visi tersebut, Karang Taruna Berbakti melaksanakan beragam kegiatan mulai dari olah raga hingga aktivitas ekonomi.
Kegiatan yang menjadi andalan adalah usaha ekonomi produktif. Karang Taruna ini menjalin kemitraan dengan pengusaha kue “Brownies El-Sari” dengan cara menanamkan investasi pada usaha tersebut dan sebagai imbalannya selain dividen adalah diutamakannya pemuda setempat untuk dijadikan karyawan. Saat ini telah terdapat beberapa pemuda setempat yang diperkerjakan di perusahaan kue tersebut sebagai hasil dari investasi.
Selain itu Karang Taruna ini juga pernah berkecimpung dalam usaha pembuatan es yoghurt. Hal ini terkait dengan sumber daya lokal yang ada yaitu peternakan sapi perah sejumlah lima peternakan. Kegiatan-kegiatan berbasis sumber daya lokal ini tentunya menjadi kegiatan-kegiatan strategis karena berangkat dari keunggulan wilayah.
Kegiatan-kegiatan tersebut dimungkinkan dilaksanakan oleh Karang Taruna karena dua faktor utama (i) Karang Taruna memiliki kekuatan legitimasi (legitimation power), kebijakan-kebijakan pemerintah memang menguatkan keberadaan, posisi sekaligus memberikan ruang bagi Karang Taruna untuk berkegiatan, dan (ii) dengan kekuatan legitimasi tersebut maka Karang Taruna dapat mengakses sumber daya-sumber daya yang bersifat khusus, sebagai misal adalah sumber daya dalam bentuk dana yang berasal dari Program Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (PPMK). Karang Taruna dapat mengakses dana program ini secara rutin setiap tahun.
Kekuatan legitimasi dan aksesibilitas terhadap sumber daya pendukung menjadikan Karang Taruna sebagai organisasi kemasyarakatan yang strategis. Relung Karang Taruna utamanya adalah pada pembangunan sosial sebagaimana ditegaskan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 2007:
”Karang Taruna...mempunyai tugas menanggulangi berbagai masalah kesejahteraan sosial terutama yang dihadapi generasi muda, baik yang bersifat preventif, rehabilitatif, maupun pengembangan potensi generasi muda di lingkungannya.”
Relung ini menjadikan Karang Taruna sebagai salah satu agen pembangunan wilayah khususnya pada bidang pembangunan sosial sebagai bagian dari pilar pembangunan berkelanjutan.
Karya-karya yang telah diciptakan oleh Karang Taruna Berbakti diapresiasi dalam bentuk penghargaan-penghargaan oleh pemerintah baik di tingkat kota Bogor hingga nasional. Semenjak 30 Juli 2006, Karang Taruna Berbakti diklasifikasikan oleh Disnakersos sebagai Karang Taruna Percontohan. Setahun setelahnya, Karang Taruna Berbakti terpilih sebagai Karang Taruna Berprestasi I tingkat Kota Bogor tahun 2007. Berbagai prestasi ini menjadi bagian dari pertimbangan dan akhirnya turut mengantarkan Kelurahan Kebon Pedes sebagai Kelurahan Terbaik Tingkat Nasional Tahun 2008.
Kepengurusan periode 2006-2009 dijalankan oleh 38 pengurus terpilih dan disahkan oleh Kepala Kelurahan Kebon Pedes. Sebagai catatan, organisasi Karang Taruna menerapkan sistem keanggotaan stelsel aktif dan pasif. Stelsel aktif adalah anggota yang masuk dalam kepengurusan sedangkan stelsel pasif adalah pihak yang secara otomatis menjadi anggota jika menjadi warga Kelurahan Kebon Pedes dan dengan rentang usia 11-45 tahun.