PT BANK MAYAPADA INTERNASIONAL Tbk
LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 30 JUNI 2015 (TIDAK DIAUDIT) DAN
31 DESEMBER 2014 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG
BERAKHIR PADA TANGGAL 30 JUNI 2015 DAN 2014
DAFTAR ISI
Halaman
Surat Pernyataan Direksi
Laporan Keuangan
Laporan Posisi Keuangan ………
1 - 2
Laporan Laba Rugi ………..
3
Laporan Laba Rugi Komprehensif ………..
4
Laporan Perubahan Ekuitas ………
5
Laporan Arus Kas ...
6
Catatan atas Laporan Keuangan ...
7 – 65
\naxKIvIAYAPADA
Alamat Kantor
Alamat
Domisili
sesuai KTP Nomor Telepon Kantor Jabatan2.
NamaAlamat Kantor
Alamat
Domisili
sesuaiKTP
Nomor Telepon Kantor Jabatan
ffi
SI'RAT
PERI\IYATAAN
DIREKSI
TENTA]\IG TAIIGGT]NG
JAWAB
ATAS
LAPORAN KEUANGAN
PADA DAN
I]NTUK
PERIODE
6BULAN
YAI[G BERAKHIR
30 JT]NI 2015
DAN
2014 DA1\[I]NTUK
TAHUN YANG
BERAKHIR
31
DESEMBER
2014PT
BANK MAYAPADA INTERNASIONAL
TbK
Kami yang bertandatangan di bawah
ini
l.
Nama Hariyono'Ijahj arijadiMayapada Tower Ground
-
2nd Floor, Jl. Jend Sudirman Kav 28, Jakarta Selatan APT Kedoya Elok S 1006, Jakarta Barat (021) s212288Direktur Utama
Hariati Tupang
Mayapada Tower Ground
-
2nd Floor, Jl. Jend Sudirman Kav 28, Jakarta Selatan Jl. KartiniVIII
Dalam No.9, Jakarta Pusat (021) s212288Catatan 30-Jun-15 31-Des-14 ASET
Kas 3b, 3d, 3e, 4, 39, 40 159.328.513 133.083.227
Giro pada Bank Indonesia 3b, 3d, 3e, 3f, 3g, 5, 2.921.631.559 2.607.553.258 39, 40
Giro pada bank lain 3b, 3d, 3e, 3g, 6, 39,40
Pihak berelasi - Pihak ketiga 35.864.576 33.446.880 Cadangan Kerugian Penurunan Nilai -
-35.864.576
33.446.880
Penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain 3b, 3d, 3h, 7, 39, 40
Pihak berelasi - Pihak ketiga 3.322.621.000 4.161.568.945 Cadangan Kerugian Penurunan Nilai - 3.322.621.000 4.161.568.945 Efek-efek 3b, 3d, 3i, 3m, 8, 39, 40
Pihak berelasi - Pihak ketiga 2.165.637.197 1.888.738.402 Cadangan Kerugian Penurunan Nilai -
-2.165.637.197
1.888.738.402
Obligasi Pemerintah 3b, 3d, 3i, 3m, 9, 39, 40 43.356.800 44.228.900 Efek-efek yang dibeli dengan janji dijual kembali 3b, 3d, 3j, 10, 39, 40
Pihak berelasi - Pihak ketiga 185.363.220 Cadangan Kerugian Penurunan Nilai -
-185.363.220
-Tagihan derivatif 3b, 3d, 3k, 11, 39, 40 7.560
-Pinjaman yang diberikan,
Pihak berelasi 38.379.944 12.277.679 Pihak ketiga 30.337.256.264 25.992.056.519 Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (81.017.273) (61.519.178)
30.294.618.935
25.942.815.020 Tagihan akseptasi,
Pihak berelasi - Pihak ketiga - Cadangan Kerugian Penurunan Nilai -
-Biaya dibayar dimuka 3b, 3d, 3p, 15, 40 90.579.409 70.647.043
Aset tetap - bersih 3b, 3o, 14 595.716.858 577.497.527
Aset lain - lain - bersih 1.018.817.470 714.011.590
JUMLAH ASET 40.833.543.097 36.173.590.792
3b, 3d, 3m, 3q, 16, 40
PT BANK MAYAPADA INTERNASIONAL Tbk LAPORAN POSISI KEUANGAN per 30 Juni 2015 dan 31 Desember 2014
(Disajikan dalam ribuan rupiah, kecuali dinyatakan lain)
3b, 3d, 3k, 3l, 3m, 12, 39, 40
3b, 3d, 3m, 3r, 13, 39, 40
Catatan atas laporan keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan
Catatan 30-Jun-15 31-Des-14
LIABILITAS DAN EKUITAS
Liabilitas segera 3b, 3s, 17 207.043.761 164.405.261 Simpanan nasabah 3b, 3d, 3t, 18 Giro 39, 40 Pihak berelasi 193.050.521 142.718.348 Pihak ketiga 2.052.838.158 2.113.873.197 2.245.888.679 2.256.591.545 Tabungan 39, 40 Pihak berelasi 62.692.370 44.104.932 Pihak ketiga 2.755.529.410 3.055.678.186 2.818.221.780 3.099.783.118 Deposito 39, 40 Pihak berelasi 448.701.621 563.058.222 Pihak ketiga 30.305.699.612 26.018.921.359 30.754.401.233 26.581.979.581 Sertifikat Deposito 39, 40 Pihak berelasi - Pihak ketiga 5.915.481 68.768.055 5.915.481 68.768.055 Simpanan dari bank lain : 3b, 3d, 3t, 19, 39, 40
Giro 3.455.002 3.268.602 Interbank call money - 20.000.000 Deposito berjangka 500.000 8.000.000
3.955.002
31.268.602 Liabilitas Derivatif 3b, 3d, 3k, 11, 39, 40 3.468 10.230 Liabilitas Akseptasi 3b, 3d, 3r, 13, 39, 40 - -Utang pajak kini 3b, 3y, 20 54.934.615 85.472.752
Liabilitas imbalan kerja 3b, 3aa, 21, 40 48.525.208 36.529.447 Liabilitas pajak tangguhan 3b, 3y, 20 2.325.025 2.325.025 Biaya yang masih harus dibayar 3b, 3d, 22, 40 38.130.428 21.896.830
Liabilitas lain-lain 3b, 3d, 23, 40 50.874.522 37.105.687
Obligasi 3b, 3d, 3s, 24, 39, 40 936.515.797 935.220.864
Jumlah Liabilitas 37.166.734.999 33.321.356.997
Ekuitas Modal saham -
Modal dasar 388.256.500 lembar saham seri A dengan nilai nominal Rp 500 (angka penuh) dan 4.558.717.500 lembar saham seri B dengan nilai nominal Rp 100 (angka penuh)
Modal ditempatkan dan disetor penuh 388.256.500 saham seri A pada Juni 2015 dan Desember 2014, serta 3.524.851.475 dan 3.090.061.700
saham seri B pada Juni 2015 dan Desember 2014 25 546.613.398 503.134.420 Tambahan modal disetor 25 1.519.129.504 1.064.150.627
Keuntungan/(kerugian) yang belum direalisasi dari kenaikan/(penurunan)
nilai wajar efek-efek dan obligasi pemerintah yang tersedia untuk dijual (1.836.864) 23.562 Kerugian Aktuaria (9.212.357) Saldo laba
- Sudah ditentukan penggunaannya 26 50.100.000 37.100.000
- Belum ditentukan penggunaannya 1.562.014.417 1.247.825.186
Total Ekuitas 3.666.808.098 2.852.233.795
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 40.833.543.097 36.173.590.792
per 30 Juni 2015 dan 31 Desember 2014
(Disajikan dalam ribuan rupiah, kecuali dinyatakan lain) PT BANK MAYAPADA INTERNASIONAL Tbk
LAPORAN POSISI KEUANGAN
Catatan atas laporan keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan
Catatan 30-Jun-15 30-Jun-14 PENDAPATAN DAN BEBAN OPERASIONAL
Pendapatan Bunga 3v, 27 2.352.335.725 1.554.538.964
Beban Bunga 3v, 28 (1.575.320.590) (1.033.330.444)
Pendapatan Bunga - Bersih 777.015.135 521.208.520
PENDAPATAN OPERASIONAL LAINNYA
Pendapatan provisi dan komisi 3w, 29 4.117.011 5.402.662
Laba / (rugi) selisih kurs - bersih 29 (76.898) 1.385.543
Lain-lain 29 18.561.866 60.251.309
Jumlah Pendapatan Operasional Lainnya 22.601.979 67.039.514
Pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai atas aset 3m, 30 (19.104.014) (2.055.676)
BEBAN OPERASIONAL LAINNYA
Gaji dan tunjangan 31 (225.217.935) (160.168.985)
Umum dan Administrasi 32 (168.241.062) (136.416.915)
Lain-lain 33 (5.328.698) (3.881.566)
Jumlah Beban Operasional Lainnya (398.787.695) (300.467.466)
LABA OPERASIONAL 381.725.405 285.724.892
PENDAPATAN DAN BEBAN NON OPERASIONAL
Pendapatan Non Operasional 34 1.579.664 3.651.313
Beban Non Operasional 34 (116.960) (16.166)
PENDAPATAN NON OPERASIONAL - BERSIH 1.462.704 3.635.147
LABA SEBELUM PAJAK PENGHASILAN 383.188.109 289.360.039
PAJAK PENGHASILAN 3b, 3y, 20 (55.998.878) (38.346.324)
LABA BERSIH TAHUN BERJALAN 327.189.231 251.013.715
PT.BANK MAYAPADA INTERNASIONAL Tbk
LAPORAN LABA RUGI
untuk tahun yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2015 dan 2014
(Disajikan dalam ribuan rupiah, kecuali dinyatakan lain)
Catatan atas laporan keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan
Catatan 30-Jun-15 30-Jun-14
LABA BERSIH TAHUN BERJALAN 327.189.231 251.013.715
PENDAPATAN KOMPREHENSIF LAIN:
Pos-pos yang tidak direklasifikasi ke laba rugi :
- Keuntungan/(kerugian) aktuaria (9.212.357)
-Pos-pos yang tidak direklasifikasi ke laba rugi : Aset keuangan tersedia untuk dijual:
- Keuntungan/(kerugian) untuk tahun berjalan - bersih (1.860.426) 4.264.569
Pendapatan (beban) komprehensif lain tahun berjalan-bersih (11.072.783) 4.264.569
TOTAL LABA RUGI KOMPREHENSIF TAHUN BERJALAN - BERSIH 316.116.448 255.278.284
LABA TAHUN BERJALAN YANG DAPAT DIATRIBUSIKAN KEPADA:
Pemilik entitas induk 327.189.231 251.013.715
JUMLAH 327.189.231 251.013.715
LABA KOMPREHENSIF TAHUN BERJALAN YANG DAPAT DIATRIBUSIKAN KEPADA:
Pemilik entitas induk 316.116.448 255.278.284
JUMLAH 316.116.448 255.278.284
LABA BERSIH PER SAHAM DASAR (rupiah penuh) 3bb, 35 83,61 72,17
PT.BANK MAYAPADA INTERNASIONAL Tbk
LAPORAN LABA RUGI KOMPREHENSIF
untuk tahun yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2015 dan 2014
(Disajikan dalam ribuan rupiah, kecuali dinyatakan lain)
Catatan atas laporan keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan
Saldo awal 1 Januari 2015 503.134.420 1.064.150.627 23.562 - 37.100.000 1.247.825.186 2.852.233.795
Perubahan ekuitas tahun 2015 43.478.978 454.978.877 - - - - 498.457.855
Laba tahun berjalan - - - - - 327.189.231 327.189.231
3i, 3x, 8 - - (1.860.426) - - - (1.860.426)
Keuntungan / (kerugian) Aktuaria - - - (9.212.357) - - (9.212.357)
Penyisihan cadangan wajib 26 - - - - 13.000.000 (13.000.000)
-Saldo akhir 30 Juni 2015 546.613.398 1.519.129.504 (1.836.864) (9.212.357) 50.100.000 1.562.014.417 3.666.808.098
Saldo awal 1 Januari 2014 503.134.420 1.064.150.627 (4.324.170) - 25.600.000 823.763.244 2.412.324.121
Perubahan ekuitas tahun 2014 - - - - - -
-Laba tahun berjalan - - - - - 251.013.715 251.013.715
3i, 3x, 8 - - 4.264.569 - - - 4.264.569
Penyisihan cadangan wajib 26 - - - - 11.500.000 (11.500.000)
-Saldo akhir 30 Juni 2014 503.134.420 1.064.150.627 (59.601) - 37.100.000 1.063.276.959 2.667.602.405 Tambahan modal
disetor
Keuntungan / (kerugian) yang belum direalisasi atas
efek-efek tersedia untuk dijual Sudah ditentukan penggunaannya Belum ditentukan penggunaannya Modal saham Keuntungan / (kerugian) aktuaria Catatan
Modal saham Tambahan modal disetor
Keuntungan / (kerugian) yang belum direalisasi atas
efek-efek tersedia untuk dijual
Keuntungan / (kerugian)
aktuaria
PT.BANK MAYAPADA INTERNASIONAL Tbk LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS
per 30 Juni 2015 dan 2014
(Disajikan dalam ribuan rupiah, kecuali dinyatakan lain)
30-Jun-15
Saldo Laba
Sudah ditentukan penggunaannya
Belum ditentukan
penggunaannya Jumlah Ekuitas
Keuntungan / (kerugian) pengukuran kembali
Jumlah Ekuitas
Keuntungan / (kerugian) pengukuran kembali
30-Jun-14
Saldo Laba
Catatan
Catatan atas laporan keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan
30-Jun-15 30-Jun-14 Arus kas dari aktivitas operasi :
Penerimaan bunga 2.019.181.365 1.441.144.218 Pembayaran bunga (1.567.977.226) (1.015.531.847) Pendapatan operasional lainnya 23.673.348 20.309.478 Beban operasional lainnya (373.348.824) (277.793.979) Pendapatan bukan operasional 1.575.314 741.377 Beban bukan operasional (116.960) (16.165) Arus kas sebelum perubahan dalam aset dan liabilitas operasi 102.987.017 168.853.082
Perubahan dalam aset dan liabilitas operasi : Penurunan (kenaikan) aset operasi :
Efek-efek dan tagihan lainnya (463.250.341) (373.684.380) Pinjaman yang diberikan (4.371.979.298) (2.925.714.394) Tagihan Akseptasi - 12.315.355 Aset Lain-lain 8.408.554 1.644.190 Kenaikan (Penurunan) liabilitas operasi :
Simpanan nasabah :
- Giro (10.702.866) 881.447.510 - Tabungan (281.561.338) 291.101.453 - Deposito Berjangka 4.172.421.652 2.333.787.265 - Sertifikat Deposito (62.852.574) (1.523.136) Simpanan dari bank lain (27.313.600) (2.606.232) Utang Pajak (30.538.137) (51.360.070) Liabilitas lain-lain 68.074.211 21.077.748 Pajak penghasilan (55.998.878) (38.346.324) Arus Kas Bersih Diperoleh dari / (digunakan untuk) aktivitas operasi (952.305.598) 316.992.067 Arus kas dari aktivitas investasi :
Hasil penjualan aset tetap 4.350 9.344.400 Pembelian aset tetap (43.658.202) (62.707.537) Arus Kas Bersih diperoleh dari / (digunakan untuk) aktivitas investasi (43.653.852) (53.363.137) Arus kas dari aktivitas pendanaan :
Tambahan Modal Disetor 454.978.877 -Pembayaran Dividen - -Perubahan Modal 43.478.978 -Penerimaan (pelunasan) dari penerbitan Obligasi 1.294.933 -Arus Kas Bersih Diperoleh dari / (digunakan untuk) aktivitas pendanaan 499.752.788 -Kenaikan (Penurunan) bersih kas dan setara kas (496.206.662) 263.628.930
Kas dan setara kas pada awal periode 6.935.652.310 4.202.403.508
Kas dan setara kas pada akhir periode 6.439.445.648 4.466.032.438
Kas dan Setara Kas terdiri dari :
Kas 159.328.513 151.835.337
Giro pada Bank Indonesia 2.921.631.559 1.968.403.217 Giro pada Bank Lain 35.864.576 37.753.884 Penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain 3.322.621.000 2.308.040.000
JUMLAH KAS DAN SETARA KAS 6.439.445.648 4.466.032.438
PT.BANK MAYAPADA INTERNASIONAL Tbk LAPORAN ARUS KAS
Per 30 Juni 2015 dan 2014
(Disajikan dalam ribuan rupiah, kecuali dinyatakan lain)
Catatan atas laporan keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan
1. UMUM
a. Pendirian Bank dan Informasi Umum
PT. Bank Mayapada Internasional, Tbk (selanjutnya disebut "Bank"), berdomisili di Jakarta, didirikan pada tanggal 7 September 1989 berdasarkan akta notaris Edison Jingga, SH, pengganti dari Misahardi Wilamarta, SH. Akta Pendirian ini disahkan oleh Kementrian Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. C2.25.HT.01.01.TH.90 tanggal 10 Januari 1990 serta diumumkan dalam Tambahan Berita Negara Republik Indonesia No. 37 tanggal 10 Mei 1994.
Bank mulai beroperasi secara komersial pada tanggal 16 Maret 1990. Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar Bank, Bank beroperasi secara komersial. Bank memperoleh ijin usaha sebagai bank komersial yang diberikan oleh Kementerian Keuangan No. 342/KMK.013/1990 pada tanggal 16 Maret 1990. Bank juga memperoleh ijin kegiatan usaha sebagai bank devisa berdasarkan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 26/26/KEP/DIR pada tanggal 3 Juni 1993. Bank melakukan usaha di bidang perbankan dan jasa keuangan lainnya sesuai dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku di Indonesia.
Anggaran dasar Bank telah diubah beberapa kali, dengan perubahan terakhir, berdasarkan akta notaris No. 28 pada tanggal 4 Desember 2008 dari Buntario Tigris Darmawa Ng, SH, notaris di Jakarta, sehubungan penyesuaian dengan ketentuan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Akta tersebut telah disetujui oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan surat No.AHU-03938.AH.01.02. Tahun 2009 tanggal 19 Januari 2009. Kantor pusat Bank berlokasi di Mayapada Tower Jl. Jendral Sudirman Kav 28, Jakarta. Sampai dengan tanggal 30 Juni 2015, Bank memiliki kantor cabang dan perwakilan sebagai berikut:
Cabang = 36
Cabang Pembantu = 69
Kantor Kas = 10
Kantor Fungsional = 76
Anjungan Tunai Mandiri = 113
Jumlah karyawan Bank Mayapada pada tanggal 30 Juni 2015 adalah 3.010 orang.
b.Penawaran saham Bank kepada publik
Berdasarkan keputusan ketua Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) No. S-1793/PM/1997, pada 7 Agustus 1997 Bank melakukan Penawaran Saham Perdana sejumlah 65.000.000 saham dengan nilai nominal Rp 500 (Rupiah penuh) per saham dan harga penawaran Rp 800 (Rupiah penuh) per saham. Pada 7 Agustus 1997, saham Bank telah dicatatkan di Bursa Efek Jakarta (Sekarang bernama Bursa Efek Indonesia). Untuk meningkatkan permodalan bank yang berdampak terhadap peningkatan jumlah saham, Bank telah melakukan beberapa aksi kooperasi berupa Penawaran Umum Terbata (PUT) sebagaimana dijelaskan di bawah ini:
(i) Pada tanggal 2 November 1999 Bank menawarkan kepada masyarakat 325 juta saham melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (right issue) I dengan nilai nominal dan harga penawaran Rp500 (dalam Rupiah penuh) per saham setelah mendapat persetujuan dari Ketua Bapepam No.S-2152/PM/1999. Dari jumlah penawaran tersebut 63.256.500 saham telah diterbitkan.
(ii) Pada tanggal 12 Juni 2001, Bank melakukan Penawaran Umum Terbatas II dalam rangka penerbitan Hak Memesan Efek Terlebih dahulu Saham Biasa Seri B kepada para pemegang saham sejumlah 647.094.167 Saham Seri B dengan nilai nominal dan harga penawaran sebesar Rp 100 (dalam Rupiah penuh) setelah mendapat Surat Pemberitahuan Efektifnya Pernyataan Pendaftaran dari Ketua Bapepam No. S-1530/PM/2001. Dari jumlah penawaran tersebut 250.009.500 saham telah diterbitkan.
(iii) Pada tanggal 25 Juni 2002, Bank melakukan Penawaran Umum Terbatas III dalam rangka penerbitan Hak Memesan Terlebih Dahulu Saham Biasa Seri B kepada para pemegang saham sejumlah 765.919.200 Saham Biasa Seri B dengan nilai nominal sebesar Rp 100 (dalam Rupiah penuh) setelah mendapat Surat Pemberitahuan Efektifnya Pernyataan Pendaftaran dari Ketua Bapepam No.S.1382/PM/2002. Dari jumlah penawaran tersebut 650.000.000 saham telah diterbitkan.
(iv) Pada tanggal 12 Juni 2007, Bank melakukan Penawaran Umum Terbatas IV dalam rangka penerbitan Hak Memesan Terlebih Dahulu Saham Biasa Seri B kepada para pemegang saham sejumlah 1.288.266.000 Saham Biasa Seri B dengan nilai nominal sebesar Rp 100 (dalam Rupiah penuh) setelah mendapat Surat Pemberitahuan Efektifnya Pernyataan Pendaftaran dari Ketua Bapepam No.S-2509/BL/2007 Dari jumlah penawaran tersebut 1.288.266.000 saham telah diterbitkan.
(v) Pada tanggal 10 November 2010, Bank melakukan Penawaran Umum Terbatas V dalam rangka penerbitan Hak Memesan Terlebih Dahulu Saham Biasa Seri B kepada para pemegang saham sejumlah 515.306.400 Saham Biasa Seri B dengan nilai nominal sebesar Rp 100 (dalam Rupiah penuh) setelah mendapat Surat Pemberitahuan Efektifnya Pernyataan Pendaftaran dari Ketua Bapepam No.S-9767/BL/2010 seluruh jumlah penawaran tersebut sebesar 515.306.400 saham telah diterbitkan.
(vi) Pada tanggal 16 Oktober 2013, Bank melakukan Penawaran Umum Terbatas VI dalam rangka penerbitan Hak Memesan Terlebih Dahulu Saham Biasa Seri B kepada para pemegang saham sejumlah 386.479.800 Saham Biasa Seri B dengan nilai nominal sebesar Rp 100 (dalam Rupiah penuh) setelah mendapat Surat Pemberitahuan Efektifnya Pernyataan Pendaftaran dari Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No.S-291/D.04/2013 seluruh jumlah penawaran tersebut sebesar 386.479.400 saham telah diterbitkan.
(vii) Pada tanggal 13 Januari 2015, Bank melakukan Penawaran Umum Terbatas VII dalam rangka penerbitan Hak Memesan Terlebih Dahulu Saham Biasa Seri B kepada para pemegang saham sejumlah 434.789.775 Saham Biasa Seri B dengan nilai nominal sebesar Rp 100 (dalam Rupiah penuh) setelah mendapat Surat Pemberitahuan Efektifnya Pernyataan Pendaftaran dari Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No.S-564/D.04/2014 seluruh jumlah penawaran tersebut sebesar 434.789.775 saham telah diterbitkan.
Berikut adalah kronologis pencatatan saham Bank pada bursa efek di Indonesia sejak Penawaran Umum Perdana:
Jumlah Saham
Penawaran Umum Perdana saham di tahun 1997 325.000.000
Penawaran Umum Terbatas saham
Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (Right Issue) I 63.256.500
Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (Right Issue) II 250.009.500
Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (Right Issue) III 650.000.000
Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (Right Issue) IV 1.288.266.000
Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (Right Issue) V Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (Right Issue) VI Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (Right Issue) VII
515.306.400 386.479.800 434.789.775
c.Penawaran Umum Obligasi Bank Mayapada
(i) Pada tanggal 17 Februari 2005, Bank memperoleh pernyataan efektif dari Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) dengan suratnya No.S-347/PM/2005 untuk melakukan penawaran umum Obligasi Bank Mayapada I tahun 2005 dan Obligasi Subordinasi Bank Mayapada I tahun 2005. Pada tanggal 28 Februari 2005, Obligasi tersebut telah dicatat pada Bursa Efek Surabaya.
(ii) Pada tanggal 16 Mei 2007, Bank memperoleh pernyataan efektif dari Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) dengan suratnya No. S-2351/BL/2007 untuk melakukan penawaran umum Obligasi Bank Mayapada II tahun 2007 dan Obligasi Subordinasi Bank Mayapada II tahun 2007. Pada tanggal 30 Mei 2007, Obligasi tersebut telah dicatat pada Bursa Efek Surabaya.
(iii) Pada tanggal 28 Juni 2013, Bank memperoleh pernyataan efektif dari Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan suratnya No. S-202/D.04/2013 untuk melakukan penawaran umum Obligasi Subordinasi Bank Mayapada III tahun 2013. Pada tanggal 8 Juli 2013, Obligasi tersebut telah dicatat pada Bursa Efek Indonesia.
(iv) Pada tanggal 11 Desember 2014, Bank memperoleh pernyataan efektif dari Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan suratnya No. S-529/D.04/2014 untuk melakukan penawaran umum Obligasi Subordinasi Bank Mayapada IV tahun 2014. Pada tanggal 18 Desember 2014, Obligasi tersebut telah dicatat pada Bursa Efek Indonesia.
d. Pimpinan dan Pengurus Bank
Susunan Dewan Komisaris dan Direksi Bank Mayapada per 30 Juni 2015 ditetapkan berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dinyatakan dengan akta notarial No. 30 tanggal 30 Juni 2015 oleh notaris Recky Francky Limpele, S.H., adalah sebagai berikut :
Dewan Komisaris :
Komisaris Utama : Dato’ Sri. Prof. DR. Tahir, MBA Komisaris Independen : Ir. Kumhal Djamil, SE
Komisaris Independen : Insmerda Lebang Komisaris : Ir. Hendra
Komisaris : Lee Wei Cheng *)
Dewan Direksi :
Direktur Utama : Hariyono Tjahjarijadi, MBA Wakil Direktur Utama I : Jane Dewi Tahir
Wakil Direktur Utama II : Vinsensius Tjandra Tjen Direktur : Hariati Tupang Direktur : Suwandy Direktur : Rudy Mulyono Direktur : Hung Li Chen *) Direktur : Chang Fa Hsiang *)
Catatan : *) Berlaku efektif setelah mendapatkan persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
2. PENERAPAN PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN ("PSAK") DAN IINTERPRETASI STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN ("ISAK") BARU DAN REVISI
Standar yang Berlaku Efektif Dalam Tahun Berjalan (pada atau setelah 1 Januari 2014)
Dalam tahun berjalan, Bank telah menerapkan standar akuntansi keuangan ("SAK") dan intrepretasi standar akuntansi keuangan ("ISAK") baru dan revisi yang dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia yang dianggap relevan dengan kegiatan operasinya dan mempengaruhi laporan keuangan berlaku efektif untuk periode tahun buku yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2014. SAK dan ISAK baru dan revisi berlaku efektif dalam tahun berjalan (1 Januari 2014) adalah sebagai berikut:
- ISAK No. 27, “Pengalihan Aset dari Pelanggan”
ISAK No. 27 mengatur perjanjian untuk pengalihan aset dari pelanggan yang akan digunakan untuk menghubungkan pelanggan atau menyediakan pelanggan dengan pasokan yang berkelanjutan barang atau jasa. - ISAK No. 28, "Pengakhiran Liabilitas Keuangan dengan Instrumen Ekuitas".
ISAK No. 28 mengatur akuntansi oleh entitas yang bernegosiasi kembali tentang ketentuan dari instrumen liabilitas keuangan dan menerbitkan instrumen ekuitas kepada kreditur untuk mengakhiri seluruh atau sebagian dari liabilitas keuangan.
3. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI YANG SIGNIFIKAN
Berikut ini adalah kebijakan akuntansi signifikan yang diterapkan oleh Bank dalam penyusunan laporan keuangan, untuk tahun yang berakhir 30 Juni 2015 dan 31 Desember 2014 adalah sebagai berikut:
a. Pernyataan Kepatuhan
Laporan keuangan untuk tahun yang berakhir 30 Juni 2015 dan 31 Desember 2014 disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.
Laporan keuangan disajikan dengan menggunakan praktek yang lazim berlaku dalam industri perbankan dan standar akuntansi keuangan lainnya yang terkait dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dan peraturan Bapepam dan LK No. VIII.G.7 lampiran keputusan Ketua Bapepam-LK No. Kep-34/BL/2012 tanggal 25 Juni 2012 tentang ”Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik”.
b. Dasar penyusunan laporan keuangan
Laporan keuangan disusun berdasarkan konsep biaya historis, terkecuali untuk yang berikut ini : - Instrumen keuangan derivatif yang diukur pada nilai wajar;
- Instrumen keuangan pada nilai wajar melalui laporan laba rugi yang diukur pada nilai wajar; - Aset keuangan tersedia untuk dijual yang diukur pada nilai wajar;
- Aset keuangan dan liabilitas yang diakui ditunjuk sebagai lindung nilai dalam kualifikasi hubungan lindung nilai wajar disesuaikan untuk perubahan nilai wajar diatribusikan pada risiko lindung nilai; - Liabilitas untuk imbalan pasti obligasi diakui sebesar nilai kini imbalan pasti obligasi dikurang total dari
perencanaan, ditambah keuntungan aktuarial yang diakui, dikurangi biaya jasa di masa lalu yang belum diakui dan kerugian actuarial yang belum diakui.
Laporan keuangan ini disajikan dalam ribuan rupiah. Kecuali dinyatakan lain, informasi keuangan yang disajikan dalam ribuan rupiah telah dibulatkan ke ribuan terdekat.
Laporan arus kas disusun dengan menggunakan metode langsung dengan mengelompokan arus kas dalam aktivitas operasi, investasi, dan aktivitas keuangan. Untuk tujuan laporan arus kas, kas dan setara kas termasuk kas, giro pada Bank Indonesia, giro pada yang lain, penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain, aset keuangan yang dimiliki untuk diperdagangkan dan investasi surat -surat berharga yang jatuh tempo dalam tiga bulan tanggal akuisisi, selama mereka tidak dijaminkan sebagai jaminan atas pinjaman atau dibatasi.
Dalam penyusunan laporan keuangan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia, dibutuhkan pertimbangan, estimasi dan asumsi yang mempengaruhi:
- Penerapan kebijakan akuntansi;
- Jumlah aset dan liabilitas yang dilaporkan, dan pengungkapan atas aset dan liabilitas kontinjensi pada tanggal laporan keuangan;
- Jumlah pendapatan dan beban yang dilaporkan selama periode pelaporan.
Walaupun estimasi ini dibuat berdasarkan pengetahuan terbaik manajemen atas kejadian dan tindakan saat ini, hasil aktual mungkin berbeda dengan jumlah yang diestimasi semula.
Estimasi dan asumsi yang digunakan ditelaah secara berkesinambungan. Revisi atas taksiran akuntansi diakui pada periode dimana taksiran tersebut direvisi dan periode yang akan datang yang dipengaruhi oleh revisi taksiran tersebut.
c. Penjabaran mata uang asing
1. Mata uang pelaporan
Laporan keuangan dinyatakan dalam Rupiah, yang merupakan mata uang pelaporan dan fungsional Bank.
2. Transaksi dan saldo
Transaksi dalam mata uang asing dijabarkan ke Rupiah dengan menggunakan kurs yang berlaku pada tanggal transaksi. Pada tanggal pelaporan, aset dan liabilitas moneter dalam mata uang asing dijabarkan ke dalam Rupiah dengan kurs yang berlaku pada tanggal tersebut.
Keuntungan dan kerugian selisih kurs yang timbul dari transaksi dalam mata uang asing dan dari penjabaran aset dan liabilitas moneter dalam mata uang asing, diakui pada laporan laba rugi tahun berjalan.
Laba atau rugi kurs mata uang asing atas aset dan li abilitas moneter merupakan selisih antara biaya perolehan diamortisasi dalam Rupiah pada awal tahun, disesuaikan dengan suku bunga efektif dan pembayaran selama tahun berjalan, dan biaya perolehan diamortisasi dalam mata uang asing yang dijabarkan ke dalam Rupiah dengan menggunakan kurs pada akhir tahun.
Selisih yang timbul dari proses penjabaran laporan keuangan tersebut diakui secara langsung pada pendapatan komprehensif lain.
Berikut ini adalah kurs mata uang asing utama yang digunakan pada tanggal 30 Juni 2015 dan 31 Desember 2014 yang menggunakan kurs tengah Reuters pukul 16:00 Waktu Indonesia Barat (Rupiah penuh):
30-Jun-15 31-Des-14
1 Dolar Amerika Serikat 13.333,00 12.385,00
1 Dolar Singapura 9.905,65 9.376,19 1 Poundsterling Inggris 20.959,36 19.288,40 1 Dolar Hongkong 1.719,88 1.596,98 1 Euro Eropa 14.855,07 15.053,35 1 Dolar Australia 10.240,03 10.148,27 d. Instrumen Keuangan
Instrumen keuangan pada pengakuan awal diukur pada nilai wajarnya, yang merupakan nilai wajar kas yang diserahkan (dalam hal aset keuangan) atau yang diterima (dalam hal liabilitas keuangan). Nilai wajar kas yang diserahkan atau diterima ditentukan dengan mengacu pada harga transaksi atau harga pasar yang berlaku. Jika harga pasar tidak dapat ditentukan dengan andal, maka nilai wajar kas yang diserahkan atau diterima dihitung berdasarkan estimasi jumlah seluruh pembayaran atau penerimaan kas masa depan, yang didiskontokan menggunakan suku bunga pasar yang berlaku untuk instrumen sejenis dengan jatuh tempo yang sama atau hampir sama.
Pengukuran awal instrumen keuangan, kecuali untuk instrumen keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, termasuk biaya transaksi.
Biaya transaksi adalah biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung pada perolehan atau penerbitan aset keuangan atau liabilitas keuangan, dimana biaya tersebut adalah biaya yang tidak akan terjadi apabila entitas tidak memperoleh atau menerbitkan instrumen keuangan. Biaya transaksi tersebut diamortisasi
sepanjang umur instrumen menggunakan metode suku bunga efektif.
Metode suku bunga efektif ("EIR") adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau liabilitas keuangan dan metode untuk mengalokasikan pendapatan bunga atau beban bunga selama periode yang relevan, menggunakan suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi pembayaran atau penerimaan kas di masa depan selama perkiraan umur instrumen keuangan, atau jika lebih tepat, digunakan periode yang lebih singkat untuk memperoleh nilai tercatat bersih dari instrumen keuangan.
Pada saat menghitung suku bunga efektif, Bank mengestimasi arus kas dengan mempertimbangkan seluruh persyaratan kontraktual dalam instrumen keuangan tersebut, tanpa mempertimbangkan kerugian kredit di masa depan, namun termasuk seluruh komisi dan bentuk lain yang dibayarkan atau diterima, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari EIR.
A. Aset keuangan
1) Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi
Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi diklasifikasikan kedalam dua sub- kategori sebagai berikut:
- Aset keuangan dimiliki untuk diperdagangkan apabila aset keuangan tersebut diperoleh terutama untuk tujuan dijual kembali dalam waktu dekat.
- Aset keuangan yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi pada saat pengakuan awal jika telah memenuhi kriteria tertentu
Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi dicatat pada laporan posisi keuangan pada nilai wajarnya. Perubahan nilai wajar langsung diakui dalam laporan laba rugi komprehensif. Bunga yang diperoleh dicatat sebagai pendapatan bunga.
Pada tanggal 30 Juni 2015 dan 31 Desember 2014, Bank tidak memiliki aset keuangan dalam kategori ini.
2) Pinjaman yang diberikan dan piutang
Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non-derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. Aset keuangan tersebut tidak dimaksudkan untuk dijual dalam waktu dekat dan tidak diklasifikasikan sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, investasi dimiliki hingga jatuh tempo atau aset tersedia untuk dijual.
Setelah pengukuran awal, pinjaman yang diberikan dan piutang diukur pada biaya perolehan diamortisasi menggunakan metode suku bunga efektif, dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai.
Biaya perolehan diamortisasi tersebut memperhitungkan premi atau diskonto yang timbul pada saat perolehan serta imbalan dan biaya yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari suku bunga efektif. Amortisasi dicatat sebagai bagian dari pendapatan bunga dalam laporan laba rugi komprehensif. Kerugian yang timbul akibat penurunan nilai diakui dalam laporan laba rugi komprehensif.
Pada tanggal 30 Juni 2015 dan 31 Desember 2014 Bank mengklasifikasikan giro pada Bank Indonesia, giro pada bank lain, penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain, pinjaman yang diberikan, pendapatan bunga yang masih akan diterima dan tagihan kepada pihak ketiga di dalam aset Iain-lain sebagai pinjaman yang diberikan dan piutang.
3) Aset keuangan dimiliki hingga jatuh tempo
Aset keuangan dimiliki hingga jatuh tempo adalah aset keuangan non-derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan, dan manajemen Bank memiliki intens positif dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut hingga jatuh tempo. Apabila Bank menjual atau mereklasifikasi aset keuangan dimiliki hingga jatuh tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan sebelum jatuh tempo, maka seluruh aset keuangan dalam kategori tersebut harus direklasifikasi menjadi aset keuangan dalam kelompok tersedia untuk dijual (tainting rule).
Setelah pengukuran awal, aset keuangan ini diukur pada biaya perolehan diamortisasi menggunakan metode bunga efektif, setelah dikurangi cadangan penurunan nilai. Biaya perolehan diamortisasi tersebut memperhitungkan premi atau diskonto yang timbul pada saat perolehan serta imbalan dan biaya yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari suku bunga efektif. Amortisasi dicatat sebagai bagian dari pendapatan bunga dalam laporan laba rugi komprehensif Pada tanggal 30 Juni 2015 dan 31 Desember 2014, Bank tidak memiliki aset keuangan dalam kategori ini.
4) Aset keuangan tersedia untuk dijual
Aset keuangan tersedia untuk dijual merupakan aset keuangan non-derivatif yang ditetapkan sebagai tersedia untuk dijual atau yang tidak diklasifikasikan dalam kategori instrumen keuangan yang lain. Aset keuangan ini diperoleh dan dimiliki untuk jangka waktu yang tidak ditentukan dan dapat dijual sewaktu- waktu untuk memenuhi kebutuhan likuiditas atau karena perubahan kondisi pasar. Setelah pengukuran awal, aset keuangan tersedia untuk dijual diukur pada nilai wajar. Komponen hasil (yield) efektif dari surat berharga utang tersedia untuk dijual diakui dalam laporan laba rugi komprehensif. Laba atau rugi yang belum direalisasi yang timbul dari penilaian nilai wajar atas aset keuangan tersedia untuk dijual tidak diakui dalam laporan laba rugi, melainkan dilaporkan sebagai laba atau rugi komprehensif yang belum direalisasi pada bagian ekuitas dalam laporan posisi keuangan dan laporan perubahan ekuitas.
Apabila aset keuangan dilepaskan, atau dihentikan pengakuannya, maka laba atau rugi kumulatif yang sebelumnya diakui dalam ekuitas langsung diakui dalam laporan laba rugi komprehensif. Jika Bank memiliki lebih dari satu jenis surat berharga yang sama, maka diterapkan dasar metode identifikasi khusus.
Bunga yang diperoleh dari aset keuangan tersedia untuk dijual diakui sebagai pendapatan bunga yang dihitung berdasarkan suku bunga efektif. Kerugian yang timbul akibat penurunan nilai aset keuangan juga diakui dalam laporan laba rugi komprehensif.
Pada tanggal 30 Juni 2015 dan 31 Desember 2014, Bank mengklasifikasikan efek-efek dan obligasi pemerintah sebagai aset keuangan tersedia untuk dijual.
B. Liabilitas keuangan
1) Liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi
Liabilitas keuangan diklasifikasikan dalam kategori ini apabila liabilitas tersebut diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan, atau jika Bank memilih untuk menetapkan liabilitas keuangan tersebut dalam kategori ini. Perubahan dalam nilai wajar langsung diakui dalam laporan laba rugi komprehensif.
Pada tanggal 30 Juni 2015 dan 31 Desember 2014, Bank mengklasifikasikan liabilitas derivatif sebagai liabilitas keuangan yang diperdagangkan.
2) Liabilitas keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi
Kategori ini merupakan liabilitas keuangan yang tidak dimiliki untuk diperdagangkan atau pada saat pengakuan awal tidak ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.
Instrumen keuangan yang diterbitkan atau komponen dari instrumen keuangan tersebut, yang tidak diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi, jika substansi perjanjian kontraktual mengharuskan Bank untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lain kepada pemegang instrumen keuangan, atau jika liabilitas tersebut tidak diselesaikan me l a l ui p e nukara n ka s a ta u a s et keuangan lain melainkan dengan saham sendiri yang jumlahnya tetap atau telah ditetapkan.
Liabilitas keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi pada pengakuan awal diukur pada nilai wajar dan sesudah pengakuan awal diukur pada biaya perolehan diamortisasi, dengan memperhitungkan dampak amortisasi (atau akresi) berdasarkan suku bunga efektif atas premi, diskonto dan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung.
Pada tanggal 30 Juni 2015 dan 31 Desember 2014, Bank mengklasifikasikan simpanan dari nasabah, simpanan dari bank lain, liabilitas akseptasi, biaya yang masih harus dibayar , obligasi subordinasi dan liabilitas lainnya sebagai liabilitas keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi.
Penentuan Nilai Wajar
Nilai wajar instrumen keuangan yang diperdagangkan di pasar aktif pada tanggal laporan posisi keuangan adalah berdasarkan kuotasi harga pasar atau harga kuotasi penjual/dealer {bid price untuk posisi beli dan ask price untuk posisi jual), tanpa memperhitungkan biaya transaksi. Apabila bid price dan ask price yang terkini tidak tersedia, maka harga transaksi terakhir yang digunakan untuk mencerminkan bukti nilai wajar terkini, sepanjang tidak terdapat perubahan signifikan dalam perekonomian sejak terjadinya transaksi. Untuk seluruh instrumen keuangan yang tidak terdaftar pada suatu pasar aktif, kecuali investasi pada instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga, maka nilai wajar ditentukan menggunakan teknik penilaian. Teknik penilaian meliputi teknik nilai kini {net present value) dan perbandingan terhadap instrumen sejenis yang memiliki harga pasar yang dapat diobservasi.
Saling Hapus Aset dan Liabilitas Keuangan
Aset keuangan dan liabilitas keuangan saling hapus dan nilai bersihnya disajikan dalam laporan posisi keuangan jika, dan hanya jika, Bank memiliki hak yang berkekuatan hukum untuk melakukan saling hapus atas jumlah yang telah diakui tersebut dan berniat untuk menyelesaikan secara neto atau untuk merealisasikan aset dan menyelesaikan liabilitasnya secara simultan. Kesepakatan induk untuk menyelesaikan secara neto {master netting agreements) tidak dapat dijadikan dasar untuk menyajikan saling hapus antara aset dan liabilitas yang terkait dalam laporan posisi keuangan.
Penghentian Pengakuan Aset dan Liabilitas Keuangan
Aset keuangan (atau bagian dari kelompok aset keuangan serupa) dihentikan pengakuannya jika: a. Hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut berakhir;
b. Baank tetap memiliki hak kontraktual untuk menerima arus kas dari aset keuangan tersebut, namun juga menanggung kewajiban kontraktual untuk membayar kepada pihak ketiga atas arus kas yang diterima tersebut secara penuh tanpa adanya penundaan yang signifikan berdasarkan suatu kesepakatan; atau
c. Bank telah mentransfer hak kontraktualnya untuk menerima arus kas dari aset keuangan dan (i) telah mentransfer secara substansial seluruh risiko dan manfaat atas aset keuangan, atau (ii) secara substansial tidak mentransfer atau tidak memiliki seluruh risiko dan manfaat atas aset keuangan, namun telah mentransfer pengendalian atas aset keuangan tersebut.
Liabilitas keuangan dihentikan pengakuannya jika liabilitas keuangan tersebut berakhir, dibatalkan atau telah kadaluarsa.
Reklasifikasi Instrumen Keuangan
Bank tidak diperkenankan untuk mereklasifikasi instrumen keuangan dari atau ke klasifikasi yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi selama instrumen keuangan tersebut dimiliki atau diterbitkan.
Bank tidak diperkenankan untuk mereklasifikasikan aset keuangan dari kategori dimiliki hingga jatuh tempo. Jika terjadi penjualan atau reklasifikasi aset keuangan dari kelompok dimiliki hingga jatuh tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan sebelum jatuh tempo (selain dari kondisi spesifik tententu), maka seluruh aset keuangan yang dimiliki hingga jatuh tempo harus direklasifikasi menjadi aset keuangan yang tersedia untuk dijual.
Selanjutnya, Bank tidak diperkenankan mengklasifikasi aset keuangan sebagai aset keuangan yang dimiliki hingga jatuh tempo selama dua tahun.
Reklasifikasi aset keuangan dari kelompok yang dimiliki hingga jatuh tempo ke kelompok tersedia untuk dijual dicatat sebesar nilai wajar. Keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi diakui dalam ekuitas sampai aset keuangan tersebut dihentikan pengakuannya dan pada saat itu keuntungan atau kerugian kumulatif yang sebelumnya diakui dalam ekuitas diakui pada laporan laba rugi komprehensif.
Reklasifikasi aset keuangan dari kelompok tersedia untuk dijual ke kelompok yang dimiliki hingga jatuh tempo dicatat pada nilai tercatat. Keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi haras diamortisasi menggunakan metode suku bunga efektif sampai dengan jatuh tempo aset tersebut.
Klasifikasi Instrumen Keuangan
Bank mengklasifikasikan instramen keuangan dalam klasifikasi tertentu yang mencerminkan sifat dari informasi dan mempertimbangkan karakteristik dari instrumen keuangan tersebut. Klasifikasi instramen keuangan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Kategori yang didefinisikan oleh
PSAK No. 55 (Revisi 2011) Golongan (ditentukan oleh Bank) Sub Golongan
Aset keuangan
Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi
Aset keuangan dalam kelompok diperdagangkan
Tagihan derivatif – tidak terkait lindung nilai
Pinjaman yang diberikan dan piutang
Giro pada Bank Indonesia Giro pada bank lain
Penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain Efek-efek yang dibeli dengan janji dijual kembali Tagihan akseptasi
Biaya dibayar dimuka dan aset lain-lain Aset keuangan tersedia untuk dijual Kas Efek-efek Obligasi Pemerintah Liabilitas Keuangan Liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi
Liabilitas keuangan dalam kelompok diperdagangkan
Liabilitas derivatif – tidak terkait lindung nilai Liabilitas keuangan yang diukur dengan biaya perolehan diamortisasi
Simpanan dari nasabah Simpanan dari bank lain Utang akseptasi
Biaya yang masih harus dibayar dan liabilitas lain-lain Obligasi Subordinasi
Penurunan Nilai Aset Keuangan
Pada setiap tanggal pelaporan, Bank menelaah apakah suatu aset keuangan atau kelompok aset keuangan telah mengalami penurunan nilai. Aset keuangan yang dievaluasi penurunan nilainya dihitung secara individual dan kolektif serta cadangan kerugian penurunan nilai yang dibentuk masing-masing untuk kelompok individual dan kolektif tersebut.
Suatu aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai, aset keuangan yang dievaluasi penurunan nilainya dihitung secara individual dan kolektif serta cadangan kerugian penurunan nilai yang dibentuk untuk masing-masing kelompok individual dan kolektif tersebut, jika dan hanya jika, terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal dari suatu aset (suatu kejadian yang merugikan) dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa depan dari aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi dengan handal.
Bukti mengenai penurunan nilai meliputi indikasi bahwa peminjam atau kelompok peminjam mengalami kesulitan keuangan secara signifikan, gagal dalam melakukan pembayaran bunga atau pokok, kemungkinan akan mengalami kebangkrutan atau reorganisasi keuangan lainnya dan terdapat hasil observasi data yang mengindikasikan terdapat penurunan nilai pada estimasi arus kas masa depan, seperti perubahan kondisi ekonomi yang berhubungan dengan gagal bayar.
1) Aset Keuangan pada Biaya Perolehan Diamortisasi
Bank pertama-tama menentukan apakah terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai secara individual atas aset keuangan yang signifikan secara individual, atau secara kolektif untuk aset keuangan yang jumlahnya tidak signifikan secara individual. Jika Bank menentukan tidak terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai atas aset keuangan yang dinilai secara individual, baik aset keuangan tersebut signifikan atau tidak signifikan, maka aset tersebut dimasukkan ke dalam kelompok aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko kredit yang sejenis dan menilai penurunan nilai kelompok tersebut secara kolektif. Aset yang penurunan nilainya dinilai secara individual dan kerugian penurunan nilai tersebut tetap diakui, tidak termasuk dalam penilaian penurunan nilai secara kolektif.
Jika terdapat bukti obyektif bahwa penurunan nilai telah terjadi atas aset dalam kategori pinjaman yang diberikan dan piutang atau investasi dimiliki hingga jatuh tempo yang dilaporkan pada biaya amortisasi, maka jumlah kerugian tersebut diukur sebagai selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini estimasi arus kas masa depan (tidak termasuk kerugian kredit di masa depan yang belum terjadi) yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari aset tersebut (yang merupakan suku bunga efektif yang dihitung pada saat pengakuan awal). Penurunan nilai diakui secara terpisah dengan nilai bruto aset dan jumlah kerugian yang terjadi diakui di laporan laba rugi komprehensif
Untuk tujuan evaluasi penurunan nilai kolektif atas kredit, Bank memakai data kerugian historis untuk menentukan besarnya penurunan nilai atas kredit secara kolektif sesuai dengan PSAK. Data historis yang digunakan adalah data kerugian historis yang ada dalam Bank sesuai kelompok kredit yang mempunyai tingkat risiko kredit yang sama.
Dalam penentuan cadangan kerugian penurunan nilai dan penilaian kualitas aset secara kolektif sebelum 1 Januari 2012, Bank menerapkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 7/2/PBI/2005 tanggal 20 Januari 2005, sebagaimana telah diubah dengan PBI No. 8/2/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006, PBI No. 9/6/PBI/2007 tanggal 30 Maret 2007, PBI No. 11/2/PBI/2009 tanggal 29 Januari 2009, PBI No. 14/15/PBI/2012 tanggal 24 Oktober 2012 dan Surat Edaran Bank Indonesia No. 11/33/DPN tanggal 8 Desember 2009.
Berdasarkan peraturan tersebut, aset produktif terdiri dari giro pada bank lain, penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain, efek-efek, surat berharga yang dibeli dengan janji dijual kembali, kredit yang diberikan, tagihan akseptasi, serta komitmen dan kontinjensi dari transaksi laporan posisi keuangan
{Off-Statement of financial position) yang mempunyai risiko kredit.
Berdasarkan peraturan tersebut, aset produktif diklasifikasikan dalam 5 (lima) kategori masing-masing dengan tarif persentase cadangan kerugian penurunan nilai atas aset sebagai berikut:
Kategori Minimum persentase
____________________________________
Lancar 1%
Dalam perhatian khusus 5%
Kurang lancar 15%
Diragukan 50%
Macet 100%
Persentase cadangan kerugian penurunan nilai di atas diterapkan terhadap saldo aset produktif setelah dikurangi dengan nilai agunan sesuai dengan peraturan Bank Indonesia, kecuali atas aset produktif yang diklasifikasikan lancar dan tidak dijamin atau yang dijamin dengan agunan non-tunai, dimana persentase cadangan kerugian penurunan nilai diterapkan terhadap saldo aset produktif yang bersangkutan.
Cadangan kerugian penurunan nilai tidak dibentuk atas aset produktif berupa Sertifikat Bank Indonesia (SBI), penempatan pada Bank Indonesia, efek-efek dan instrumen hutang lainnya yang diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia dan aset produktif yang dijamin dengan agunan tunai berupa giro, deposito, tabungan, setoran jaminan, emas, Sertifikat Bank Indonesia atau Surat Utang Negara, Jaminan Pemerintah Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, standby Letters of
Credit dari prime bank yang diterbitkan sesuai dengan Uniform Customs and Practice for Documentary
Credit (UCP) atau International Standard Practice (ISP) yang berlaku. 2) Aset keuangan yang dikelompokkan dalam tersedia untuk dijual
Dalam hal instrumen ekuitas dikelompokkan dalam kelompok tersedia untuk dijual, penelaahan penurunan nilai ditandai dengan penurunan nilai wajar yang signifikan dan berkelanjutan dibawah biaya perolehannya.
Jika terdapat bukti obyektif penurunan nilai, maka kerugian penurunan nilai kumulatif yang dihitung dari selisih antara biaya perolehan dengan nilai wajar kini, dikurangi kerugian penurunan nilai yang sebelumnya telah diakui dalam laporan laba rugi komprehensif, dikeluarkan dari ekuitas dan diakui dalam laporan laba rugi komprehensif. Kerugian penurunan nilai instrumen ekuitas tidak boleh dipulihkan melalui laporan laba rugi komprehensif. Kenaikan nilai wajar setelah terjadinya penurunan nilai diakui pada ekuitas.
Dalam hal instrumen utang dalam kelompok tersedia untuk dijual, penurunan nilai ditelaah berdasarkan kriteria yang sama dengan aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi. Bunga tetap diakru berdasarkan suku bunga efektif asal yang diterapkan pada nilai tercatat aset yang telah diturunkan nilainya dan dicatat sebagai bagian dari pendapatan bunga dalam laporan laba rugi komprehensif. Jika pada periode berikutnya, nilai wajar instrumen utang meningkat dan peningkatan nilai wajar tersebut karena suatu peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai tersebut diakui, maka penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan melalui laporan laba rugi komprehensif.
e. Kas dan Setara Kas
Kas dan setara kas mencakup kas, giro pada Bank Indonesia, giro pada bank lain dan investasi jangka pendek likuid lainnya dengan jangka waktu jatuh tempo tiga bulan atau kurang.
f. Giro Wajib Minimum (GWM)
Sesuai dengan Peraturan BI No. 15/7/PBI/2013 tanggal 26 September 2013 mengenai Giro Wajib Minimum Bank Umum pada Bank Indonesia dalam Rupiah dan mata uang asing, Bank diwajibkan untuk menempatkan Giro Wajib Minimum Primer dalam Rupiah dan Valuta Asing sebesar 8% dari dana pihak ketiga dan Giro Wajib Minimum Sekunder sebesar 4% dari dana pihak ketiga.
g. Giro pada Bank Indonesia dan bank Lain
Giro pada Bank Indonesia dan bank lain dinyatakan sebesar biaya perolehan diamortisasi menggunakan metode suku bunga efektif dikurangi cadangan kerugian penurunan nlai. Giro pada Bank Indonesia dan bank lain diklasifikasikan sebagai kredit yang diberikan dan piutang.
h. Penempatan pada Bank Indonesia dan bank Lain
Penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain pada awalnya diukur pada nilai wajar ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dan merupakan biaya tambahan untuk memperoleh aset keuangan tersebut, dan setelah pengakuan awal diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai.
Penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain diklasifikasikan sebagai kredit yang diberikan dan piutang.
i. Efek-efek dan Obligasi Pemerintah
Efek-efek terdiri dari Sertifikat BI ("SBI"), obligasi (termasuk obligasi korporasi yang diperdagangkan di bursa efek), dan efek utang lainnya.
Termasuk didalam efek-efek adalah obligasi yang diterbitkan oleh Pemerintah yang tidak terkait dengan program rekapitalisasi seperti Surat Utang Negara (SUN), yang diperoleh melalui pasar perdana dan juga pasar sekunder.
Efek-efek dan Obligasi Pemerintah diklasifikasikan sebagai aset keuangan dalam kelompok tersedia untuk dijual dan dimiliki hingga jatuh tempo.
1. Diperdagangkan
Efek-efek dan Obligasi Pemerintah yang diklasifikasikan ke dalam kelompok diperdagangkan diakui dan diukur pada nilai wajar di laporan posisi keuangan pada saat pengakuan awal dan setelah pengakuan awal, dengan biaya transaksi yang terjadi diakui langsung di dalam laporan laba rugi tahun berjalan.
Keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi akibat perubahan nilai wajar efek -efek dan Obligasi Pemerintah yang diperdagangkan diakui sebagai bagian dari keuntungan atau kerugian dari perubahan nilai wajar instrumen keuangan dalam laporan laba rugi tahun berjalan. Efek-efek dan Obligasi Pemerintah yang diperdagangkan tidak direklasifikasi setelah pengakuan awal.
2. Tersedia untuk dijual dan dimiliki hingga jatuh tempo
Efek-efek dan Obligasi Pemerintah dalam kelompok tersedia untuk dijual dan dimiliki hingga jatuh tempo pada awalnya diukur pada nilai wajar ditambah biaya transaksi dan setelah pengakuan awal dicatat sesuai dengan klasifikasi masing masing sebagai tersedia untuk dijual atau dimiliki hingga jatuh tempo.
Setelah pengakuan awal, efek-efek dan Obligasi Pemerintah yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual dinyatakan pada nilai wajarnya.
Laba atau rugi selisih kurs atas efek-efek utang dan Obligasi Pemerintah yang tersedia untuk dijual diakui pada laporan laba rugi.
Perubahan nilai wajar lainnya diakui secara langsung sebagai pendapatan komprehensif lain sampai investasi tersebut dijual atau mengalami penurunan nilai, dimana keuntungan dan kerugian kumulatif yang sebelumnya diakui sebagai pendapatan komprehensif lain direklasifikasi ke laba rugi sebagai penyesuaian reklasifikasi.
Setelah pengakuan awal, efek-efek dan Obligasi Pemerintah yang diklasifikasikan dimiliki hingga jatuh tempo dicatat pada biaya perolehan diamortisasi menggunakan metode suku bunga efektif.
Bila terjadi penjualan atau reklasifikasi dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan dari efek-efek dan Obligasi Pemerintah dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo.
yang belum mendekati tanggal jatuh tempo, maka hal ini akan menyebabkan reklasifikasi atas semua efek-efek dan Obligasi Pemerintah yang dimiliki hingga jatuh tempo ke dalam kelompok tersedia untuk dijual, dan Bank tidak diperkenankan untuk mengklasifikasikan efek-efek dan Obligasi Pemerintah sebagai dimiliki hingga jatuh tempo untuk tahun berjalan dan untuk kurun waktu dua tahun mendatang.
Nilai wajar ditentukan berdasarkan harga kuotasi pasar yang berlaku. Manajemen akan menentukan nilai wajar efek-efek dan Obligasi Pemerintah berdasarkan model yang dikembangkan secara internal dan estimasi terbaik jika harga pasar yang dapat diandalkan tidak tersedia.
Efek-efek dan Obligasi Pemerintah yang diklasifikasikan ke dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo disajikan pada laporan posisi keuangan berdasarkan harga perolehan setelah amortisasi premi atau diskonto, dan khusus untuk efek-efek disajikan bersih setelah dikurangi penyisihan kerugian penurunan nilai.
Amortisasi premi/diskonto untuk efek-efek dan Obligasi Pemerintah yang tersedia untuk dijual dan dimiliki hingga jatuh tempo dilakukan sejak tanggal perolehan sampai dengan tanggal jatuh tempo berdasarkan metode suku bunga efektif.
Penurunan nilai wajar di bawah harga perolehan (termasuk amortisasi premi dan diskonto) yang tidak bersifat sementara dicatat sebagai penurunan permanen nilai investasi dan dibebankan dalam laporan laba rugi tahun berjalan.
Keuntungan dan kerugian yang direalisasi dari penjualan efek-efek dan Obligasi Pemerintah dihitung berdasarkan metode rata-rata tertimbang harga pembelian untuk efek-efek dan Obligasi Pemerintah dalam kelompok untuk diperdagangkan dan tersedia untuk dijual.
j. Efek-efek yang dibeli dengan janji dijual kembali
Efek-efek yang dibeli dengan janji dijual kembal i disajikan sebagai aset dalam laporan posisi keuangan sebesar harga beli ditambah dengan piutang bunga, dikurangi dengan cadangan kerugian penurunan nilai. Selisih antara harga beli dan harga jual kembali diperlakukan sebagai pendapatan bunga dan diakui sebagai pendapatan selama periode sejak efek-efek tersebut dibeli hingga dijual kembali menggunakan metode suku bunga efektif. Efek-efek yang dibeli dengan janji untuk dijual kembali diklasifikasikan sebagai pinjaman yang diberikan dan piutang.
k. Instrumen Keuangan Derivatif
Dalam melakukan usaha bisnisnya, Bank melakukan transaksi instrumen keuangan derivatif seperti kontrak tunai. Instrumen derivatif yang diadakan Bank adalah untuk diperdagangkan dan untuk tujuan lindung nilai terhadap risiko bank atas net open position, risiko interest rate gap, risiko maturity gap dan risiko lainnya dalam kegiatan operasional Bank. Instrumen derivatif diakui dalam laporan keuangan pada nilai wajar.
l. Pinjaman yang diberikan
Pinjaman yang diberikan pada awalnya diukur pada nilai wajar ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dan merupakan biaya tambahan untuk memperoleh aset keuangan tersebut, dan setelah pengakuan awal diukur pasca biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif.
Pinjaman dalam rangka pembiayaan bersama (kredit sindikasi) dinyatakan sebesar biaya perolehan diamortisasi sesuai dengan porsi risiko yang ditanggung oleh Bank.
Pinjaman yang diberikan dihapusbukukan ketika tidak terdapat prospek yang realistis mengenai pengembalian pinjaman. Pinjaman yang tidak dapat dilunasi dihapusbukukan dengan mendebit biaya penyisihan kerugian penurunan nilai. Pelunasan kemudian atas pinjaman yang telah dihapusbukukan sebelumnya, dikreditkan ke penyisihan kerugian penurunan nilai di laporan posisi keuangan.
m. Cadangan kerugian penurunan nilai aset keuangan dan non keuangan
Aset keuangan yang dicatat berdasarkan biaya perolehan diamortisasi
Pada setiap tanggal laporan posisi keuangan, Bank mengevaluasi apakah terdapat bukti yang obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai. Aset keuangan atau kelompok aset keuangan diturunkan nilainya dan kerugian penurunan nilai telah terjadi, jika dan hanya jika, terdapat bukti yang obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset tersebut (“peristiwa yang merugikan”), dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa depan atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal.
Kriteria yang digunakan oleh Bank untuk menentukan bukti obyektif dari penurunan nilai adalah sebagai berikut:
a) kesulitan keuangan signifikan yang dialami penerbit atau pihak peminjam;
b) pelanggaran kontrak, seperti terjadinya wanprestasi atau tunggakan pembayaran pokok atau bunga; c) pihak pemberi pinjaman, dengan alasan ekonomi atau hukum sehubungan dengan kesulitan keuangan
yang dialami pihak peminjam, memberikan keringanan (konsesi) pada pihak peminjam yang tidak mungkin diberikan jika pihak peminjam tidak mengalamikesulitan tersebut;
d) terdapat kemungkinan bahwa pihak peminjam akan dinyatakan pailit atau melakukan reorganisasi keuangan lainnya;
e) hilangnya pasar aktif dari aset keuangan akibat kesulitan keuangan; atau
f) data yang dapat diobservasi mengindikasikan adanya penurunan yang dapat diukur atas estimasi.
Khusus untuk pinjaman yang diberikan yang signifikan, Bank menggunakan kriteria tambahan untuk menentukan bukti obyektif penurunan nilai sebagai berikut:
a) Pinjaman yang diberikan dengan kolektibilitas Kurang Lancar, Diragukan dan Macet (kredit non performing) sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia;
b) Semua kredit yang direstrukturisasi dan mempunyai indikasi penurunan nilai.
Bank pertama kali menentukan apakah terdapat bukti obyektif penurunan nilai atas aset keuangan. Penilaian secara individual dilakukan atas aset keuangan yang secara individual signifikan dan mengalami penurunan nilai, dengan menggunakan metode discounted cash flows. Aset keuangan yang tidak signifikan namun mengalami penurunan nilai dimasukkan dalam kelompok aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko yang serupa dan dilakukan penilaian secara kolektif.
Jika Bank menentukan tidak terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai atas aset keuangan yang dinilai secara individual, maka akun atas aset keuangan tersebut akan masuk ke dalam kelompok aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko kredit yang serupa dan menilai penurunan nilai kelompok tersebut secara kolektif. Akun yang penurunan nilainya dinilai secara individual, dan untuk itu kerugian penurunan nilai diakui atau tetap diakui, tidak termasuk dalam penilaian penurunan nilai secara kolektif. i. Perhitungan penurunan nilai secara individu
Jumlah kerugian penurunan nilai diukur berdasarkan selisih antara nilai tercatat aset keuangan dengan nilai kini dari estimasi arus kas masa datang yang didiskontokan menggunakan tingkat suku bunga efektif awal dari aset keuangan tersebut.
Nilai tercatat aset tersebut dikurangi melalui akun cadangan kerugian penurunan nilai dan beban kerugian diakui pada laporan laba rugi.
Jika pinjaman yang diberikan atau investasi dimiliki hingga jatuh tempo memiliki suku bunga variabel, maka tingkat diskonto yang digunakan untuk mengukur setiap kerugian penurunan nilai adalah suku bunga efektif yang berlaku yang ditetapkan dalam kontrak.
Perhitungan nilai kini dari estimasi arus kas masa datang atas aset keuangan dengan agunan (collateralised financial asset) mencerminkan arus kas yang dapat dihasilkan dari pengambilalihan agunan dikurangi biaya-biaya untuk memperoleh dan menjual agunan, terlepas apakah pengambilalihan tersebut berpeluang terjadi atau tidak.
ii. Perhitungan penurunan nilai secara kolektif
Untuk tujuan evaluasi penurunan nilai secara kolektif, aset keuangan dikelompokkan berdasarkan kesamaan karakteristik risiko kredit seperti mempertimbangkan segmentasi kredit dan status tunggakan. Karakteristik yang dipilih adalah relevan dengan estimasi arus kas masa datang dari kelompok aset tersebut yang mengindikasikan kemampuan debitur atau rekanan untuk membayar seluruh liabilitas yang jatuh tempo sesuai persyaratan kontrak dari aset yang dievaluasi.
Arus kas masa datang dari kelompok aset keuangan yang penurunan nilainya dievaluasi secara kolektif, diestimasi berdasarkan kerugian historis yang pernah dialami atas aset-aset yang memiliki karakteristik risiko kredit yang serupa dengan karakteristik risiko kredit kelompok tersebut di dalam Bank.
Kerugian historis yang pernah dialami kemudian disesuaikan berdasarkan data terkini yang dapat diobservasi untuk mencerminkan kondisi saat ini yang tidak berpengaruh pada periode terjadinya kerugian historis tersebut, dan untuk menghilangkan pengaruh kondisi yang ada pada periode historis namun sudah tidak ada lagi saat ini.
Bank menggunakan statistical model analysis method, yaitu migration analysis method untuk penilaian penurunan nilai aset keuangan secara kolektif dengan menggunakan data historis minimal 3 (tiga) tahun. Pada migration analysis method, manajemen menentukan estimasi periode antara terjadinya peristiwa dan
teridentifikasinya kerugian untuk setiap portofolio yang diidentifikasi, yaitu 12 bulan.
Ketika pinjaman yang diberikan tidak tertagih, kredit tersebut dihapusbuku dengan menjurnal balik cadangan kerugian penurunan nilai. Pinjaman tersebut dapat dihapusbuku setelah semua prosedur yang diperlukan telah dilakukan dan jumlah kerugian telah ditentukan. Beban penurunan nilai yang terkait dengan aset keuangan dengan kategori dimiliki hingga jatuh tempo dan pinjaman yang diberikan dan piutang diklasifikasikan ke dalam “Pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai”.
Jika, pada tahun berikutnya, jumlah kerugian penurunan nilai berkurang dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui (seperti meningkatnya peringkat kredit debitur), maka kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan, dengan menyesuaikan akun cadangan. Jumlah pembalikan aset keuangan diakui pada laporan laba rugi komprehensif.
Penerimaan kemudian atas pinjaman yang diberikan yang telah dihapusbukukan dikreditkan dengan menyesuaikan akun cadangan.
Aset keuangan yang tersedia untuk dijual
Pada setiap tanggal laporan posisi keuangan, Bank mengevaluasi apakah terdapat bukti yang obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai.
Penurunan yang signifikan atau penurunan jangka panjang atas nilai wajar dari investasi dalam instrumen utang di bawah biaya perolehannya merupakan bukti obyektif terjadinya penurunan nilai dan menyebabkan