PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA – INGGRIS PERIODE : JANUARI - DESEMBER 2014
A. Perkembangan Perdagangan Inggris dengan Dunia
1. Total nilai Perdagangan Inggris dengan Dunia pada periode Januari-Desember 2014 mencapai US$ 1.160,47 milyar, turun sebesar 3,71% dibandingkan dengan periode Januari-Desember 2013, yang tercatat sebesar US$ 1.205,19 milyar. Total perdagangan tersebut terdiri dari Impor sebesar US$ 662,24 milyar, turun sebesar 3,68% dibandingkan dengan periode Januari-Desember 2013, yang tercatat sebesar US$ 687,53 milyar, dan ekspor sebesar US$ 498,23 milyar, turun sebesar 3,75% dibandingkan dengan periode Januari - Desember 2013, yang tercatat sebesar US$ 517,66 milyar.
2. Berdasarkan 50 jenis produk impor non migas yang masuk ke Inggris yang menunjukkan kenaikan pada periode Januari-Desember 2014, dibanding periode Januari-Desember 2013, adalah:
Cars (incl Station Wagon) (HS 8703) sebesar US$ 43,99 milyar, meningkat sebesar 11,22% dibanding periode yang sama tahun 2013;
Gold unwrought or semi-manuf. (HS 7108) sebesar US$ 19,27 milyar (764,98%); Trucks, Motor Vehicles for The Transport of Goods (HS 8704) sebesar US$ 19,27
milyar (13,45%) ;
Human and Animal Blood; Antisera, Vaccines, Toxins, (HS 3002) sebesar US$ 8,59 milyar (10,14%) .
Sedangkan produk yang mengalami penurunan nilai impor, adalah:
Electrical Apparatus for Line Telephony, incl Curr Line System (HS 8517) sebesar US$ 15,79 milyar, mengalami penurunan sebesar 11,38% dibanding periode yang sama tahun 2013;
Coal; Briquettes, Ovoids & Similar Solid Fuels Manufact From Coal (HS 2701) sebesar US$ 3,44 milyar (-25,32%) ;
Silver,Unwrght or In Semi-manufactured.form (HS 7106) sebesar US$ 2,67 milyar (-46,91%) .
3. Demikian pula dengan 50 jenis produk ekspor non-migas utama Inggris ke Dunia, yang menunjukkan kenaikan pada periode Januari-Desember 2014, dibandingkan dengan periode Januari-Desember 2013, terdapat pada produk-produk :
Gold unwrought or semi-manuf. (HS 7108) sebesar US$ 35,67 milyar, meningkat fantastis yaitu 908,69% dibanding periode yang sama tahun 2013;
Articles of Jewellery & Parts thereof (HS 7113) sebesar US$ 4,9 milyar (8,44%); Paintings, Drawings, Pastel, Collages and Sim Art Executed by Hand Thereof
(HS 9701) sebesar US$ 4,74 milyar (10,84%);
Platinum, Unwrought or In Semi-manufact Forms (HS 7110) sebesar US$ 4,31 milyar (15,07%) .
Sedangkan, produk yang mengalami penurunan nilai ekspor, adalah:
Diamonds, Not Mounted or Set (HS 7102) sebesar US$ 1,91 milyar, mengalami penurunan sebesar 72,33% dibanding periode yang sama tahun 2013;
Silver,unwrght or in semi-manufacture form (HS 7106) sebesar US$ 1,87 milyar (-38,83%) ;
Radioactive Chem Elements & Isotopes, Their Compounds, Mixtures & Residues (HS 2844) sebesar US$ 1,43 milyar (-39,91%).
B. Perkembangan perdagangan Indonesia dengan Inggris
1. Total perdagangan non migas Indonesia dengan Inggris pada periode Januari-Desember 2014 mencapai US$ 2.854,52 juta, turun sebesar 12,60% dibandingkan periode yang sama tahun 2013 yang tercatat US$ 3.265,90 juta. Total perdagangan tersebut terdiri dari Impor Inggris dari Indonesia, sebesar US$ 1.883,80 juta turun sebesar 11,66% dibandingkan periode Januari-Desember 2013, yang tercatat sebesar US$ 2.132,52 juta, dan ekspor Inggris ke Indonesia sebesar US$ 970,73 juta, turun sebesar 14,35% dibandingkan dengan periode Januari-Desember 2013, yang tercatat sebesar US$ 1.133,37 juta.
2. Dari 50 produk impor Inggris dari Indonesia pada periode Januari-Desember 2014, dibandingkan dengan periode Januari-Desember 2013, yang cukup meningkat adalah : Palm Oil & Its Fraction (HS 1511) sebesar US$ 59,67 juta, naik 135,07% dibanding
periode yang sama tahun 2013;
Plywood, Veneered Panels and Similar Laminated Wood (HS 4412) sebesar US$ 21,89 juta, naik 32,39%;
Uncoated paper for Writing, Printing etc. (HS 4802) sebesar US$ 18,51 juta, naik 68,49% .
Sementara itu, ekspor Inggris ke Indonesia periode Januari-Desember 2014, yang meningkat nilai ekspornya dibanding tahun 2013 adalah :
Electric Generating Sets and Rotary Converters (HS 8502) sebesar US$ 26,58 juta naik 46,74%;
Aluminium Waste and Scrap (HS 7602), sebesar US$ 17,98 juta, naik 83,89%; Tap, Cock, Valve for Pipe, Tank for The Like, incl Pressure Reducing Valve
(HS 8481) sebesar US$ 16,22 juta, naik 13,06% .
C. Informasi lainnya
1. Perkembangan Indikator Ekonomi Inggris Raya kuartal keempat tahun 2014. Kondisi ekonomi Inggris Raya tumbuh sebesar 0,49% pada kuartal keempat tahun 2014. Industri Wholesale and retail trade; repair of motor vehicles and motorcycles merupakan industri penyumbang GDP paling tinggi dengan 11,79% dari total GDP kuartal keempat tahun 2014, disusul Real Estate Activities yang menyumbang 10,98% dari total GDP.
Sementara itu, tingkat inflasi Inggris Raya menunjukkan trend penurunan. Bulan Desember 2014, inflasi Inggris Raya berada pada angka 0,5%.
Pada September 2008, suku bunga acuan Britania Raya berada pada level 5%. Namun, Oktober 2008, Bank of England menurunkan menjadi 4,5%, kembali turun jadi 3% pada November 2008, dan Desember 2008 turun di posisi 2%. Trend penurunan berlanjut sampai Maret 2009 hingga menyentuh level 0,5% dan bertahan hingga kini. Langkah tersebut diambil untuk mengendalikan dampak dari krisis global pada pasar keuangan Inggris Raya.
Dengan suku bunga rendah, memungkinkan sektor usaha mendapatkan pinjaman untuk mengembangkan dan meneruskan usahanya. Melalui GDP, hasilnya perekonomian Inggris Raya kembali tumbuh. Namun kebijakan bank sentral Inggris Raya ini membuat investor keluar dari Inggris Raya menuju negara yang menawarkan imbal hasil investasi lebih tinggi.
Hal ini tercermin dari kecenderungan nilai tukar mata uang Great Britain Poundsterling (GBP) yang melemah terhadap US Dollar (US$). Data dari ONS menyebutkan bahwa pada Desember 2014, GBP (£) 1 setara dengan US$ 1,564. Teori ekonomi menyebut dampak dari pelemahan nilai tukar mata uang suatu negara meningkatkan inflasi. Namun, Inggris Raya diuntungkan penurunan harga minyak dunia, sehingga tingkat inflasi tetap rendah dan cenderung turun. Pelemahan nilai tukar mata uang Inggris Raya ini mengakibatkan biaya ekspor Inggris Raya menjadi lebih mahal, namun biaya impor semakin murah. Dengan biaya lebih murah, maka komoditas Indonesia memiliki keunggulan harga dengan kualitas yang bersaing dengan negara-negara lainnya.
2. Berbagai hambatan perdagangan Indonesia dengan Uni Eropa termasuk Inggris Raya
Tobacco Plain Packaging
Pada Januari 2015 Pemerintah Inggris merencanakan pemungutan suara terkait peraturan mengenai standardisasi tampilan produk rokok (Standardized Plain Cigarette Packaging) sebelum dilaksanakannya Pemilu di Inggris pada 7 Mei 2015. Jika disetujui Parlemen, peraturan tersebut mulai berlaku tahun 2016 sejalan dengan rencana pemberlakuan EU Tobacco Product Directive bulan Mei 2016.
Inggris telah menyampaikan rencana pemberlakuan peraturan ini kepada Komisi Eropa dan WTO pada September 2014. Bulan Oktober 2014 Dubes RI untuk WTO dan Dubes Republik Dominika telah menyurati Menteri Keuangan Inggris yang mendesak Inggris mempertimbangkan plain packaging, setidaknya sampai terdapat ruling WTO terkait gugatan terhadap Australia.
Penetapan peraturan tobacco plain packaging tentunya mempengaruhi ekspor tembakau dari Indonesia.
Berdasarkan data UN Comtrade, ekspor tembakau Indonesia ke Inggris untuk kategori HS 24 (tobacco and manufactured tobacco substitutes), tahun 2009 tercatat US$ 943 ribu, dan tahun 2013 telah mencapai nilai US$ 2,5 juta.
Anthraquinone
Adanya keharusan pengujian sampel komoditi teh di setiap pengiriman – Pre Shipment Laboratory Test (PSLT) – di laboratorium Eurofins Hamburg, Jerman sebelum mengekspor teh ke wilayah Uni Eropa, khususnya untuk menguji kandungan Anthraquinone (Aq), yang konsekuensinya pada peningkatan biaya serta lamanya proses pengiriman barang.
Juga adanya penetapan ambang batas kadar Aq pada komoditi teh 0,01ppm pada tahun 2013 oleh Komisi Pestisida Eropa dan European Tea Committee yang berada di Inggris, menimbulkan permasalahan baru bagi eksportir teh Indonesia untuk masuk ke pasar Eropa.
Finalisasi IEU-CEPA
PT. DEWHIRST INDONESIA, kembali mengusulkan percepatan finalisasi IEU-CEPA terkait tarif yang tinggi untuk produk garment yang diekspor dari Indonesia ke Inggris mengakibatkan kalah bersaingnya produk tersebut di pasar Inggris, dengan produk sejenis dari negara lain yang telah memiliki kesepakatan EU-CEPA (Vietnam, Kamboja, Bangladesh). Minimnya profit margin yang diperoleh menyebabkan PT. DEWHIRST INDONESIA, dan perusahaan sejenis lainnya menerapkan kebijakan pengurangan karyawan.