• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sintesis tersier-butil eugenol dari eugenol dengan tersier-butil klorida menggunakan katalis aluminium klorida dengan variasi lama pemanasan - USD Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Sintesis tersier-butil eugenol dari eugenol dengan tersier-butil klorida menggunakan katalis aluminium klorida dengan variasi lama pemanasan - USD Repository"

Copied!
71
0
0

Teks penuh

(1)

SINTESIS TERSIER-BUTIL EUGENOL DARI EUGENOL DENGAN TERSIER-BUTIL KLORIDA MENGGUNAKAN KATALIS ALUMINIUM

KLORIDA DENGAN VARIASI LAMA PEMANASAN Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.)

Program Studi Farmasi

Oleh :

Vita Felicia NIM : 06 8114 145

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)

ii

SINTESIS TERSIER-BUTIL EUGENOL DARI EUGENOL DENGAN TERSIER-BUTIL KLORIDA MENGGUNAKAN KATALIS ALUMINIUM

KLORIDA DENGAN VARIASI LAMA PEMANASAN Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.)

Program Studi Farmasi

Oleh :

Vita Felicia NIM : 06 8114 145

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(3)

iii

2010SINTESIS TERSIER-BUTIL EUGENOL DARI EUGENOL DENGAN TERSIER-BUTIL KLORIDA MENGGUNAKAN KATALIS ALUMINIUM

KLORIDA DENGAN VARIASI LAMA PEMANASAN

Oleh :

Vita Felicia NIM : 06 8114 145

Skripsi ini telah disetujui oleh :

Pembimbing

(4)

iv

Halaman Pengesahan

PENGESAHAN SKRIPSI Berjudul

SINTESIS TERSIER-BUTIL EUGENOL DARI EUGENOL DENGAN TERSIER-BUTIL KLORIDA MENGGUNAKAN KATALIS ALUMINIUM

KLORIDA DENGAN VARIASI LAMA PEMANASAN Oleh :

Vita Felicia NIM : 06 8114 145

Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi

Universitas Sanata Dharma Pada Tanggal 25 Januari 2010

Mengetahui

2. Dra. Maria Margaretha Yetty Tjandrawati, M.Si. ...

(5)

v

Caje dhanam anggavarassa hetu,

Angam caje jivitam rakkhamano,

Angam dhanam jititancapi sabbam,

Caje naro dhammamanussaranto

Biarlah seseorang mengorbankan hartanya demi menyelamatkan anggota tubuhnya,

Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya demi menyelamatkan hidupnya, Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya, dan segalanya,

meskipun hidupnya, Demi kebenaran Dhamma

(Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

(6)

vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata

Dharma:

Nama : Vita Felicia

NIM : 068114145

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada

Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

SINTESIS TERSIER-BUTIL EUGENOL DARI EUGENOL DENGAN TERSIER-BUTIL KLORIDA MENGGUNAKAN KATALIS ALUMINIUM KLORIDA DENGAN VARIASI LAMA PEMANASAN

berserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian saya memberikan kepada

Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam

bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan

secara terbatas, dan mempublikasikan di internet atau media lain untuk kepentingan

akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya

selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal 25 Januari 2010

Yang menyatakan,

(7)

vii PRAKATA

Puji syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas berkat dan karuniaNya,

sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi yang

berjudul “Sintesis tersier-butil eugenol dari eugenol dengan tersier-butil klorida

menggunakan katalis aluminium klorida dengan variasi lama pemanasan” sebagai

salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) di Universitas

Sanata Dharma Yogyakarta.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dari

berbagai pihak, baik bimbingan, dorongan, maupun saran. Pada kesempatan ini,

penulis ingin menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada:

1. Rita Suhadi, M.Si., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata

Dharma.

2. Jeffry Julianus, M.Si. selaku dosen pembimbing utama atas bimbingan dan

pengarahannya dari awal penelitian hingga penyusunan skripsi ini.

3. Dra. Maria Margaretha Yetty Tjandrawati, M.Si. selaku dosen penguji atas

pengarahan, saran dan kritiknya selama penelitian maupun penyusunan

skripsi.

4. Lucia Wiwid Wijayanti, M.Si. selaku dosen penguji atas pengarahan, saran

dan kritiknya.

5. Mas Parlan, mas Bimo, dan mas Kunto, terima kasih atas bantuan selama

(8)

viii

6. Marissa, Handayani, Jati dan Linda, tim seperjuangan yang tangguh.

7. Andi Boedianto, S.Kom. atas dukungannya dalam penyusunan skripsi.

8. Teman-teman Farmasi 2006, terutama minat FST 2006 yang tidak dapat

disebut satu per satu. Terima kasih atas kebersamaannya selama di farmasi.

Sukses selalu bagi kita semua.

9. Teman-teman Kamadhis Satya Dharma dan Vidyasena Vihara Vidyaloka yang

selalu menyemangati penulis disaat penulis menemui hambatan atau masalah.

Semoga selalu berbahagia.

10.Teman-Teman KKN Tempel XXXVIII dan seluruh warga Dusun Tempel.

Sukses selalu bagi kita semua.

11.Segenap pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan yang tidak

dapat disebutkan satu persatu.

Akhir kata penulis menyadari penyusunan skripsi ini masih jauh dari

sempurna mengingat keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki.

Oleh karena itu, saran dan kritik yang bersifat membangun sangat diperlukan oleh

penulis demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat memberikan

sumbangsih yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

(9)

ix

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini

tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan

dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 21 Desember 2009

Penulis,

(10)

x

SINTESIS TERSIER BUTIL EUGENOL DARI EUGENOL DENGAN TERSIER BUTIL KLORIDA MENGGUNAKAN KATALIS ALUMINIUM

KLORIDA DENGAN VARIASI LAMA PEMANASAN

INTISARI

Penambahan gugus yang meruah didekat gugus hidroksi dapat meningkatkan aktivitas antioksidan. Sintesis tersier-butil eugenol dari eugenol dengan tersier-butil klorida menggunakan katalis aluminium klorida (AlCl3) bertujuan meningkatkan aktivitas antioksidan dari eugenol. Variasi lama pemanasan dilakukan agar didapatkan lama pemanasan yang optimal selama proses sintesis sehingga jumlah hasil sintesis yang dihasilkan paling banyak.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni. Sintesis dilakukan berdasarkan reaksi alkilasi Friedel-Crafts, yaitu mereaksikan eugenol dengan tersier-butil klorida mengunakan katalis AlCl3 pada pemanasan 60oC dan dilakukan variasi lama pemanasan 3, 5, dan 7 jam. Hasil sintesis diuji organoleptis dan kromatografi lapis tipis (KLT). Uji KLT dilakukan dengan lempeng silika gel 60 GF254, dengan fase gerak toluena : etil asetat (93:7) dan dideteksi dengan sinar UV 254 nm. Senyawa hasil sintesis dianalisis dengan kromatografi gas – spektroskopi massa (GC-MS).

Hasil KLT menunjukkan adanya bercak senyawa baru pada hasil sintesis dengan pemanasan selama 3 jam dan mempunyai nilai Rf 0,82, sedangkan pada

hasil sintesis dengan pemanasan 5 jam dan 7 jam, tidak didapatkan bercak senyawa baru. Hasil GC-MS menunjukkan terbentuk tersier-butil eugenol pada hasil sintesis pemanasan selama 3 jam. Pada pemanasan selama 5 jam dan 7 jam tidak dihasilkan tersier-butil eugenol.

(11)

xi ABSTRACT

Addition of large group near the hidroxy group can increased antioxidant activity. Synthesis of tertiary-butyl eugenol from eugenol with tertiary-butyl chloride using aluminium chloride catalyst (AlCl3) aims to increased the antioxidant activity from eugenol. Heating variation done to get the optimum heating time during the t-butil eugenol synthesis process and so that amount of material target increased too.

This experiment is an experimental method. The synthesis is based on the reaction of Friedel-Crafts alkylation, which eugenol react with t-butil chloride using AlCl3 as catalyst. Temperatur of this reaction is 60oC for increased the rate of reaction. The heating was varied to 3, 5, and 7 hours. The results obtained and then tested organoleptis and thin-layer chromatography (KLT). KLT test performed with plates silica gel 60 GF254, with the motion phase toluene: etilasetat (93:7) and detected by UV254 nm light. To strengthen the KLT test result, test compounds synthesis gas chromatography-mass spectroscopy (GC-MS)

KLT results indicate a new compound spots on the synthesis of 3 hours heating with Rf value is 0.82, whereas the synthesis of 5 hours and 7 hours is not

new compounds available spots. GC-MS results show tertiary-butyl eugenol formed in the synthesis with 3 hours heating. Five hours heating and 7 hours heating did not formed.

(12)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING...iii

HALAMAN PENGESAHAN...iv

HALAMAN PERSEMBAHAN...v

HALAMAN PERSETUJUAN...vi

PRAKATA...vii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA...ix

INTISARI...x

ABSTRACT...xi

DAFTAR ISI...xii

DAFTAR TABEL...xv

DAFTAR GAMBAR...xvi

DAFTAR LAMPIRAN...xvii

BAB I. PENGANTAR...1

A. Latar Belakang...1

1. Permasalahan...3

2. Keaslian Penelitian...3

3. Manfaat Penelitian...3

B. Tujuan Penelitian...4

BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA...5

(13)

xiii

A. Jenis dan Rancangan Penelitian...19

B. Variabel dan Definisi Operasional...19

C. Bahan Penelitian...20

D. Alat Penelitian...20

E. Tata Cara Penelitian...20

1. Sintesis t-butil klorida dari t-butil alkohol dengan asam klorida...20

2. Sintesis t-butil eugenol dengan katalis aluminium klorida...21

a. Sintesis t-butil eugenol dengan pemanasan 3 jam...21

b. Sintesis t-butil eugenol dengan pemanasan 5 jam...21

(14)

xiv

3. Analisis hasil...22

a. Uji organoleptis...22

b. Kromatografi lapis tipis (KLT)...22

c. Elusidasi struktur dengan Spektrometri Massa...22

d. Perhitungan jumlah senyawa hasil sintesis...23

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN...24

A. Sintesis t-butil klorida dari t-butil alkohol dengan asam klorida...24

B. Sintesis tersier-butil eugenol dengan katalis aluminium klorida...26

C. Analisis hasil...28

1. Uji organoleptis...28

2. Kromatografi lapis tipis...29

3. Kromatografi Gas – Spektroskopi Massa...32

D. Variasi Pemanasan...36

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN...40

A. Kesimpulan...40

B. Saran...40

DAFTAR PUSTAKA...41

LAMPIRAN...44

(15)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel I. Hasil pemeriksaan organoleptis senyawa hasil sintesis dan starting

material...28

Tabel II. Nilai Rf Kromatografi Lapis Tipis Senyawa Hasil Sintesis Dengan Fase

(16)

xvi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Struktur Eugenol...6

Gambar 2. Diagram keadaan energi...7

Gambar 3. Mekanisme AlCl3 dalam membentuk karbokation...9

Gambar 4. Struktur dietil eter...11

Gambar 5. Prinsip Reaksi Friedel-Craft...12

Gambar 6. Penembakan elektron pada spektrometri massa...15

Gambar 7. Posisi orto-para dari gugus hidroksi eugenol...18

Gambar 8. Reaksi tahap pertama pembentukan t-butil klorida...24

Gambar 9. Reaksi tahap kedua pembentukan t-butil klorida...25

Gambar 10.Reaksi penetralan asam klorida...25

Gambar 11. Kromatogram kromatografi gas tersier-butil klorida...26

Gambar 12. Mekanisme reaksi AlCl3 dan t-butil klorida...27

Gambar 13. Mekanisme reaksi pembentukan t-butil eugenol...27

Gambar 14. Hasil elusi senyawa hasil sintesis...30

Gambar 15. Kromatogram kromatografi gas senyawa hasil sintesis...33

Gambar 16. Spektrum massa senyawa hasil sintesis pada waktu retensi 12,292 menit...34

Gambar 17. Interaksi t-butil eugenol dengan AlCl3...35

(17)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Perhitungan bahan...44

Lampiran 2. Data penimbangan AlCl3...45

Lampiran 3. Gambar hasil elusi senyawa hasil sintesis...46

Lampiran 4. Perhitungan nilai Rf ...47

Lampiran 5. Kromatogram Hasil Kromatografi Gas...48

Lampiran 6. Spektra Massa Hasil Spektroskopi Massa...49

Lampiran 7. Kromatogram Kromatografi Gas t-Butil Klorida...50

Lampiran 8. Spektrum Massa t-Butil Klorida...51

(18)

1 BAB I PENGANTAR

A. Latar Belakang

Saat ini, terdapat berbagai jenis penyakit yang timbul karena terjadi proses

oksidasi radikal bebas di dalam tubuh. Radikal bebas sangat reaktif karena

memiliki elektron yang tidak berpasangan dan mempunyai kemampuan untuk

menimbulkan kerusakan, termasuk peroksidasi lipid, lesi Deoxyribo Nucleic Acid

(DNA), dan fragmentasi protein dalam sel. Akumulasi dari kerusakan

makromolekuler intraseluler merupakan penyebab proses penuaan dini, kanker,

stroke, dan lainnya (Fulder, 2004).

Oleh karena itu diperlukan suatu senyawa yang dapat menghentikan proses

oksidasi radikal bebas di dalam tubuh. Salah satu senyawa yang mempunyai

kemampuan untuk menangkap radikal bebas adalah senyawa antioksidan, yakni

dengan cara mendonorkan radikal hidrogennya untuk melengkapi elektron yang

dimiliki suatu radikal bebas. Hal ini dapat menghambat terjadinya reaksi berantai

dari pembentukan radikal bebas yang menimbulkan kerusakan pada sel normal.

Eugenol merupakan salah satu senyawa antioksidan yang diketahui telah

menunjukkan aktivitas antioksidan pada uji empiris terhadap reaksi oksidasi asam

lemak. Beberapa uji empiris yang dilakukan adalah uji Thiobarbituric Acid

(TBA), pemucatan β-karoten, Tiosianat dan bilangan peroksida (Tahir et al.,

(19)

2

antioksidan karena dapat mendonorkan atom hidrogen untuk menetralkan radikal

bebas yang berbahaya dalam tubuh.

Pada penelitian ini, eugenol dimodifikasi menjadi t-butil eugenol untuk

meningkatkan aktivitas antioksidannya. Penambahan gugus t-butil pada posisi

orto gugus hidroksi fenolik bertujuan untuk meningkatkan aktivitas antioksidan

eugenol. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa penambahan gugus

meruah didekat gugus hidroksi dapat meningkatkan aktivitas antioksidan (Ogata

et al., 2000). Oleh karena itu, sintesis t-butil eugenol dilakukan dengan

menambahkan gugus yang meruah pada posisi orto gugus hidroksi eugenol.

Proses sintesis t-butil eugenol dilakukan berdasarkan reaksi alkilasi Friedel

Craft, yakni dengan cara mereaksikan eugenol dan t-butil klorida dengan

menggunakan katalis asam Lewis, yang pada penelitian ini menggunakan

aluminium klorida. Reaksi alkilasi Friedel-Crafts dipengaruhi oleh penggunaan

katalis, suhu, dan lama pengadukan. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian

pada variasi lama pemanasan.

Pemanasan dilakukan dengan tujuan agar reaksi berjalan lebih cepat dan

didapatkan jumlah senyawa hasil sintesis yang lebih besar. Oleh karena itu perlu

dilakukan variasi pemanasan sehingga dihasilkan t-butil eugenol yang optimal.

Hal ini disebabkan adanya energi yang diberikan dari pemanasan akan

meningkatkan pergerakan molekul eugenol dan t-butil klorida, sehingga kontak

atau tumbukan antara eugenol dan t-butil klorida akan semakin besar dan

(20)

3

1. Permasalahan

Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, masalah yang muncul

dapat dirumuskan sebagai berikut:

a) Apakah t-butil eugenol dapat dihasilkan dari reaksi antara t-butil klorida

dengan eugenol menggunakan katalis aluminium klorida?

b) Apakah variasi lama pemanasan dapat mempengaruhi jumlah hasil sintesis t

-butil eugenol yang dihasilkan?

2. Keaslian Penelitian

Sejauh pengamatan penulis, penelitian tentang sintesis t-butil eugenol dari

eugenol dan t-butil klorida menggunakan katalis aluminium klorida dengan variasi

lama pemanasan belum pernah dilakukan.

3. Manfaat Penelitian

Secara teoritis, penelitian ini bermanfaat untuk menambah faedah bagi

perkembangan ilmu kefarmasian tentang sintesis t-butil eugenol dari eugenol dan

t-butil klorida menggunakan katalis aluminium klorida.

Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan data

mengenai sintesis t-butil eugenol dan pengaruh lama pemanasan terhadap jumlah

(21)

4

B. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mensintesis t-butil eugenol dari t-butil klorida dengan eugenol menggunakan

katalis aluminium klorida

2. Mengetahui pengaruh variasi lama pemanasan terhadap jumlah hasil sintesis t

(22)

5 BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

A. Antioksidan

Antioksidan adalah senyawa yang mampu menghambat proses

autooksidasi pada semua bahan yang mengandung lipida. Proses autooksidasi ini

salah satunya dapat disebabkan oleh radikal bebas. Radikal bebas di dalam tubuh

menjadi berbahaya mengingat sebagian besar komponen tubuh kita tersusun dari

lipid (Nawar, 1985). Antioksidan menghambat pembentukkan radikal bebas

dengan bertindak sebagai donor radikal H terhadap radikal bebas sehingga

radikal bebas berubah menjadi bentuk yang lebih stabil. Beberapa kriteria

senyawa antioksidan di antaranya adalah memiliki kelarutan yang tinggi dalam

lipida, efektif dalam jumlah relatif sedikit, toksisitas rendah, dan radikal yang

terbentuk harus lebih stabil daripada radikal bebasnya (Puspita-Nienaber dkk.,

1997).

Sumber-sumber antioksidan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

1. Antioksidan sintetik

Antioksidan yang diperoleh dari hasil sintesis reaksi kimia, contohnya

tokoferol dan Butylated hydroxytoluene (BHT), Butylated hydroxyanisole (BHA),

propil galat.

2. Antioksidan alami

Antioksidan hasil ekstraksi bahan alami, contohnya golongan flavonoid,

(23)

6

B. Eugenol

Eugenol merupakan cairan tidak berwarna atau berwarna kuning-pucat,

dapat larut dalam alkohol, eter dan kloroform, memiliki berat molekul 161,20 dan

titik didih 255oC (Anonim, 1989). Senyawa ini termasuk turunan guaiakol yang

mendapat tambahan rantai alil dan dikenal dengan nama IUPAC 2-metoksi-4-(2’

-propenil) fenol. Eugenol sedikit larut dalam air namun mudah larut pada pelarut

organik (Anonim, 1986). Hal ini memenuhi salah satu kriteria antioksidan, dimana

eugenol dapat larut ke dalam lipid, sehingga dapat bekerja efektif dalam

menangkal radikal bebas.

Gambar 1. Struktur Eugenol

Eugenol merupakan salah satu senyawa alami yang telah diketahui

mempunyai aktivitas sebagai antioksidan. Eugenol secara struktural merupakan

jenis senyawa yang memiliki kemampuan untuk menangkap radikal bebas,

sehingga dapat memutus rantai reaksi radikal, sehingga pada akhirnya terbentuk

senyawa yang lebih stabil daripada radikal bebasnya. Eugenol memiliki struktur

cincin aromatis dan memiliki gugus hidroksi fenolik. Gugus hidroksi (-OH)

fenolik pada eugenol merupakan gugus yang berperan sebagai penangkap radikal

bebas dalam mekanisme antioksidan. Hal ini didasarkan pada senyawa fenolik

lain seperti kurkumin yang juga mempunyai aktivitas antioksidan dikarenakan

(24)

7

Kkal/mol daripada nilai BDEs C-H metilen 116,07 Kkal/mol, sehingga atom H

dari gugus –OH fenolik lebih mudah diabstraksi daripada abstraksi atom H dari

C-H metilen (Sun et al., 2002).

Usaha untuk meningkatkan aktivitas antioksidan eugenol dilakukan

dengan cara memodifikasi struktur eugenol. Penambahan gugus yang meruah

pada posisi orto gugus hidroksi fenolik dapat meningkatkan aktivitas antioksidan

(Ogata et al., 2000). Modifikasi dilakukan dengan menambahkan suatu gugus

yang meruah yaitu t-butil pada posisi orto gugus hidroksi fenolik eugenol.

C. Katalis Aluminium Klorida

Katalis adalah suatu zat yang mempercepat suatu laju reaksi, namun ia

sendiri, secara kimiawi, tidak berubah pada akhir reaksi. Menambahkan katalis

memberikan perubahan yang berarti pada energi aktivasi. Katalis menyediakan

satu rute alternatif bagi reaksi. Rute alternatif ini memiliki energi aktivasi yang

rendah. Diagram dibawah ini merupakan gambaran keadaan energi:

(25)

8

Energi aktivasi didefinisikan sebagai energi yang harus dilampaui agar

reaksi kimia dapat terjadi atau bisa juga diartikan sebagai energi minimum yang

dibutuhkan agar reaksi kimia tertentu dapat terjadi. Biasanya dilambangkan

sebagai Ea, dengan satuan kilo joule per mol. Terkadang suatu reaksi kimia

membutuhkan energi aktivasi yang sangat besar, maka dari itu dibutuhkan suatu

katalis agar reaksi dapat berlangsung dengan pasokan energi yang lebih rendah

(Anonim, 2004).

Aluminium klorida (AlCl3) berupa serbuk putih pada kondisi masih murni,

memiliki bau yang kuat seperti asam klorida (HCl), higroskopis dan larut dalam

pelarut organik, seperti etanol dan eter. Memiliki berat molekul 133,34 (Anonim,

1989).

Aluminium klorida (AlCl3) adalah garam logam anhidrat yang merupakan

asam Lewis. Asam Lewis adalah zat yang dapat menerima sepasang elektron

(akseptor elektron). Pada reaksi alkilasi Friedel-Crafts, asam lewis yang umum

digunakan sebagai katalis adalah AlCl3 (Fessenden dan Fessenden, 1986).

Keuntungan AlCl3 digunakan dalam reaksi Friedel-Crafts adalah sifatnya sebagai

akseptor elektron akan mudah menerima elektron dari ion klorida pada senyawa

alkil klorida, menghasilkan karbokation alkil. Pembentukan karbokation inilah

yang akan mempercepat reaksi alkilasi Friedel-Crafts, karena muatan positif dari

karbokation akan diserang oleh muatan negatif pada cincin benzen yang akan

(26)

9

Gambar 3. Mekanisme AlCl3 dalam membentuk karbokation

Selain itu, yang menjadi alasan AlCl3 sering digunakan sebagai katalis

dalam reaksi Friedel-Crafts karena AlCl3 memiliki kelarutan yang baik hampir

pada setiap pelarut pada umumnya seperti air, etanol dan eter, serta bahannya

relatif mudah didapatkan.

D. Tersier-Butil Klorida

Tersier-butil klorida memiliki nama kimia 2-kloro-2-metilpropana

berbentuk cairan dengan berat molekul 92,57, berat jenis 0,847, dan titik didih

51,0oC. Tersier-butil klorida larut dalam air, alkohol, dan eter (Anonim, 1989).

Tersier-butil klorida merupakan senyawa alkil halida. Dalam reaksi kimia,

struktur bagian alkil dari suatu alkil halida yang berperanan. Oleh karena itu perlu

dibedakan empat tipe alkil halida, yakni: metil, primer, sekunder, dan tersier. Tipe

alkil halida ini akan mempengaruhi kestabilan karbokation yang terbentuk, karena

karbokation tidak stabil dan dengan cepat bereaksi lebih lanjut. Dalam suatu

karbokation, karbon yang bermuatan positif adalah suatu pusat elektropositif.

Rapatan elektron dari ikatan-ikatan sigma digeser ke arah karbon positif. Geseran

rapatan ini menciptakan muatan positif parsial (sebagian) pada atom-atom yang

berdekatan. Muatan parsial positif ini mempolarisasi ikatan-ikatan sigma

berikutnya. Dengan cara ini muatan positif karbokation agak disebar, dan

(27)

10

atom dan elektron daripada sebuah atom hidrogen. Semakin banyak gugus alkil

terikat pada atom karbon bermuatan positif, berarti makin banyak atom yang

dapat membantu membagi muatan positif itu dan membantu menstabilkan

karbokation (Fessenden dan Fessenden, 1986). Keuntungan menggunakan t-butil

klorida adalah akan didapatkan karbokation yang lebih stabil dibandingkan tipe

metil, primer, dan sekunder.

E. Pelarut

Dalam reaksi organik, pengaruh dari pelarut yang digunakan merupakan

hal yang penting. Pelarut dalam reaksi organik dapat dibagi menjadi tiga, yakni:

a. Protik

Merupakan pelarut yang berfungsi sebagai pendonor proton, gugus -̶OH

ataupun -NH-, dan termasuk turunan alkohol, amina, asam karboksilat, dan

air. Senyawa ini memiliki momen dipol dan kapasitas ikatan hidrogen yang

besar.

b. Dipolar aprotik

Pelarut ini memiliki momen dipol dan sifat pendonor yang besar. Contohnya

adalah dimetil sulfoksida, alkil sianida, amida sekunder dan keton.

c. Non-polar aprotik

Pelarut ini memiliki momen dipol yang kecil, tidak memiliki proton asam

ataupun sifat donor maupun akseptor. Pelarut ini juga memiliki gaya

intermolekuler yang lemah. Contohnya adalah senyawa hidrokarbon,

(28)

11

Dalam sintesis ini digunakan pelarut non polar aprotik, yaitu dietil eter.

Dietil eter memiliki momen dipol yang kecil karena bentuknya yang simetris.

Gambar 4. Struktur dietil eter

Dietil eter memiliki bobot molekul 74,12 g/mol, titik didih 34,4oC, dan berat jenis

0,714. Berwujud cairan tidak berwarna (bening), memiliki bau yang khas, mudah

menguap dan mudah terbakar (Anonim, 2008).

Pemilihan dietil eter sebagai pelarut dalam sintesis t-butil eugenol ini

disebabkan semua starting material dalam sintesis ini, yaitu t-butil klorida, AlCl3

dan eugenol, memiliki kelarutan yang baik dalam dietil eter. Selain itu, dietil eter

sebagai pelarut non polar aprotik tidak memiliki proton asam, tidak bersifat donor

maupun akseptor, sehingga dalam reaksi sintesis ini tidak akan mempengaruhi

reaksi yang terjadi (inert).

F. Reaksi Alkilasi Friedel-Crafts

Reaksi alkilasi atau penambahan suatu gugus alkil ke dalam cincin benzen

dapat dilakukan berdasarkan reaksi alkilasi Friedel-Crafts dengan menggunakan

katalis asam Lewis seperti AlCl3. Alkilasi Friedel-Crafts merupakan substitusi

dengan suatu gugus alkil pada cincin benzen yang akan mengaktifkan cincin

sehingga substitusi kedua juga dapat terjadi. Maka biasanya digunakan senyawa

(29)

12

Gambar 5. Prinsip Reaksi Friedel-Crafts

Karakteristik utama pada seluruh gugus pengaktivasi seperti gugus alkil

adalah kemampuannya memberikan elektron-elektron pada cincin benzen, yang

membuat cincin benzen menjadi semakin kaya elektron dan dengan cepat mampu

menstabilkan karbokation, sehingga menurunkan energi aktivasi dari reaksi

(McMurry, 2008). Adanya gugus hidroksi pada eugenol yang bersifat sebagai

aktifator dan pengarah orto-para maka gugus t-butil akan masuk pada posisi orto

dari gugus hidroksi. Posisi para dari gugus hidroksi tidak dapat dimasuki gugus

t-butil karena sudah diduduki gugus propenil.

G. Uji Organoleptis

Uji organoleptis merupakan uji pendahuluan bertujuan untuk mengetahui

sifat fisik dari senyawa hasil sintesis, meliputi bentuk, warna, bau dan rasa. Untuk

beberapa hal dilengkapi dengan sifat kimia atau fisika, dimaksudkan untuk

dijadikan petunjuk dalam pengelolaan, peracikan, dan penggunaan. Uji ini

dilakukan dengan membandingkan senyawa hasil sintesis dengan starting

material yang digunakan. Uji ini merupakan uji paling sederhana, dapat dilakukan

tanpa bantuan alat.

Dari hasil pemeriksaan organoleptis dapat untuk mengetahui telah

terbentuknya senyawa baru. Jika senyawa hasil sintesis berbeda dengan senyawa

(30)

13

pemeriksaan organoletis tidak cukup kuat dijadikan syarat baku, namun secara

tidak langsung dapat membantu dalam penilaian pendahuluan terhadap zat yang

bersangkutan (Anonim, 1995).

H. Kromatografi Lapis Tipis

Kromatografi Lapis Tipis (KLT) digunakan untuk menguji kemurnian

secara kualitatif dari campuran suatu senyawa, untuk pembuktian ada tidaknya

komponen yang dicari atau kemurnian komponen tersebut. Caranya dengan

membandingkan senyawa hasil sintesis dengan senyawa standar. Senyawa yang

murni akan memberikan bercak tunggal pada berbagai fase gerak dengan berbagai

tingkat kepolaran dan mempunyai harga Rf yang sama dengan senyawa

standarnya (Gasparic, 1978).

Teknik ini dilakukan dengan lempeng kaca yang dilapisi dengan fase

diam. Senyawa analit ditotolkan pada dasar lempeng fase diam dan dielusi dengan

fase gerak yang bergerak naik karena gaya kapilaritas (Bresnick, 2004).

Fase diam dibuat dari penjerap yang khusus digunakan untuk KLT.

Penjerap yang umum dipakai ialah silika gel, aluminium oksida, kieselguhr,

selulosa, dan lain-lain. Untuk analisis tebal penjerap 0,1 - 0,3 mm. Fase gerak

adalah medium angkut yang terdiri atas satu atau beberapa pelarut. Fase ini

bergerak dalam fase diam karena adanya gaya kapiler. Sistem pelarut

multi-komponen harus berupa campuran sesederhana mungkin terdiri atas maksimum

tiga komponen dan masing-masing harus murni. Campuran pelarut hanya boleh

(31)

14

berubah oleh penyerapan atau penguapan, komponen-komponen campuran pelarut

mungkin bereaksi satu sama lain (Stahl,1985).

Identifikasi dari komponen yang dianalisis memiliki prinsip bahwa setiap

komponen memiliki kondisi dan karakteristik pada kromatogram yang disebut

sebagai harga Rf . Karakteristik tersebut dapat berupa variasi dari harga Rf ,

ketajaman fluoresensi warna, dan lain-lain. Variasi harga Rf dibandingkan antara

senyawa yang dicari dengan standarnya (Gasparic, 1978).

I. Kromatografi Gas

Kromatografi gas merupakan instrument analitis yang memberikan

informasi baik kualitatif maupun kuantitatif mengenai komponen suatu sampel.

Sampel akan mengalami proses pemisahan dalam kolom, kemudian dideteksi dan

direkam sebagai pita elusi (Day and Underwood, 1996).

Data kromatografi gas biasanya terdiri atas waktu retensi berbagai

komponen campuran. Waktu retensi diukur mulai dari titik penyuntikan sampai

titik maksimum puncak dan sangat khas untuk senyawa tertentu pada kondisi

tertentu (kolom, suhu, gas pembawa, laju aliran). Adanya komponen tertentu

dapat diidentifikasi dengan cara spiking apabila tersedia senyawa murninya.

Senyawa murni ditambahkan kedalam cuplikan yang diduga mengandung

senyawa yang diinginkan dan dikromatografi. Jika puncak yang sesuai diperkuat

secara simetris pada dua sistem fase diam yang berlainan dan kepolarannya

(32)

15

J. Spektrometri Massa

Spektrometri massa merupakan suatu teknik yang digunakan dalam

penentuan berat molekul suatu senyawa. Untuk mendapatkan informasi yang

mungkin mengenai struktur suatu senyawa dapat dilakukan dengan mengukur

bobot molekul dari fragmen-fragmen ketika molekul mengalami pemecahan

(McMurry, 2008).

Dalam spektrometri massa, molekul-molekul organik ditembak dengan

elektron berenergi tinggi. Penembakan elektron pada suatu molekul menyebabkan

pelepasan elektronnya dan terbentuk ion melekul. Energi yang dibutuhkan untuk

penembakan dapat divariasikan, namun umumnya digunakan 70 eV. Pemecahan

molekul dengan elektron berkekuatan 7-15 eV tidak menghasilkan

pecahan-pecahan molekul yang dapat diidentifikasi, sedangkan dengan elektron diatas 70

eV akan dihasilkan fragmen yang sulit diidentifikasi, karena massa relatif

pecahannya sangat kecil. Ion molekuler merupakan suatu radikal kation, suatu

spesies yang kehilangan satu elektronnya sehingga bermuatan positif parsial

(Bruice, 1998).

Gambar 6. Penembakan elektron pada spektrometri massa

Ion-ion molekuler pecah menjadi fragmen kecil yang bersifat tidak stabil,

baik yang berbentuk radikal bebas maupun ion-ion lain. Fragmen yang bermuatan

(33)

16

baik yang tidak bermuatan atau radikal tidak dapat dideteksi dalam spektrometri

massa (Sastrohamidjojo, 2001).

Metode kromatografi gas – spektrometri massa (GC-MS) memberikan

keuntungan saat keduanya digunakan secara bersamaan. Proses pemisahan

dilakukan oleh kromatografi gas, sedangkan proses fragmentasi dilakukan oleh

spektrometri massa. Selain itu, metode ini juga dapat digunakan untuk hampir

semua jenis analit, memiliki batas deteksi yang rendah, dan memberikan

informasi penting tentang spektra massa dari suatu senyawa organik (Dean, 1995).

K. Image J

Image J (dari NIH free image analysis) merupakan suatu perangkat lunak

yang sudah mulai digunakan untuk banyak bidang, salah satunya adalah bidang

analisis kesehatan. Pada analisis, biasanya Image J diaplikasikan pada gambar

yang akan dianalisis. Image J digunakan untuk mendapatkan spektra kuantitatif

pada gambar yang akan kita analisis, sehingga dapat memberikan data berupa

perhitungan Area Under Curve (AUC) dari wilayah yang ingin diukur

(Wankhede, 2004).

Perhitungan data ini dilakukan berdasarkan intensitas warna pada wilayah

yang disoroti, dimana semakin tajam warna yang diukur, maka AUC akan

semakin besar. Sedangkan apabila wilayah yang disoroti memiliki warna pudar,

maka harga AUC akan kecil. Oleh karena itu pada Image J, gambar yang akan

dianalisis perlu diatur sedemikian rupa sehingga dapat dianalisis, bisa dengan

(34)

17

L. Landasan Teori

Eugenol telah diketahui mempunyai aktivitas sebagai antioksidan dengan

gugus hidroksi fenolik pada eugenol yang berperan sebagai penangkap radikal

bebas dalam mekanisme antioksidan. Modifikasi dengan penambahan gugus

t-butil pada eugenol akan meningkatkan aktivitas antioksidannya. Penambahan

gugus ini dilakukan dengan reaksi alkilasi Friedel-Crafts dengan katalis asam

lewis.

Reaksi alkilasi Friedel-Crafts adalah reaksi penambahan gugus alkil ke

dalam cincin benzen dengan menggunakan katalis asam Lewis. Prinsip

penambahan gugus alkil pada reaksi Friedel-Crafts adalah gugus alkil yang akan

ditambahkan memiliki karbokation pada salah satu atom C, yang kemudian akan

diserang oleh cincin benzen yang bermuatan negatif. Reaksi ini bergantung pada

penggunaan katalis, suhu pemanasan dan lama pemanasan. Reaksi alkilasi yang

dilakukan adalah reaksi penambahan gugus t-butil ke dalam cincin benzen dari

senyawa eugenol, dengan menggunakan katalis AlCl3. Karbokation pada atom C

tersier dari gugus t-butil akan diserang oleh muatan negatif dari ikatan rangkap

cincin benzen pada senyawa eugenol, sehingga gugus t-butil akan masuk pada

posisi orto dari gugus hidroksi eugenol.

Adanya gugus hidroksi pada eugenol yang bersifat sebagai aktifator dan

pengarah orto-para maka gugus t-butil akan masuk pada posisi orto dari gugus

hidroksi. Posisi para dari gugus hidroksi tidak dapat dimasuki gugus t-butil karena

sudah diduduki gugus propenil, sedangkan salah satu posisi orto dari eugenol

(35)

18

Gambar 7. Posisi orto-para dari gugus hidroksi eugenol

Salah satu batas dari reaksi Friedel-Crafts adalah pemanasan, dimana

pemanasan akan berpengaruh pada jumlah hasil sintesis yang didapatkan.

Semakin lama pemanasan akan meningkatkan jumlah hasil sintesis yang

didapatkan, karena pengaruh pemberian lama pemanasan pada suatu reaksi kimia

akan meningkatkan intensitas tumbukan antara starting material. Berdasarkan

teori tumbukan dari kinetika kimia, laju reaksi akan berbanding lurus dengan

banyaknya tumbukan molekul per detik atau berbanding lurus dengan frekuensi

tumbukan molekul. Hal ini berarti intensitas tumbukan antara starting material

akan meningkatkan kecepatan reaksi dan pembentukan senyawa target, sehingga

semakin panjang lama pemanasan akan menghasilkan senyawa target yang

banyak.

M. Hipotesis

a) Tersier-butil eugenol dapat dihasilkan dari reaksi alkilasi t-butil klorida

dengan eugenol menggunakan katalis aluminium klorida.

b) Lama pemanasan yang menghasilkan jumlah senyawa hasil sintesis yang

(36)

19 BAB III

METODE PENELITIAN

B. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini termasuk dalam penelitian eksperimental karena ada

perlakuan terhadap subjek uji, yaitu eugenol.

C. Variabel dan Definisi Operasional 2. Variabel Penelitian

a. Variabel bebas pada penelitian ini adalah lama pemanasan 3 jam, 5 jam

dan 7 jam.

b. Variabel tergantung pada penelitian ini adalah hasil sintesis t-butil eugenol

karena merupakan obyek yang kehadirannya akibat reaksi antara eugenol

dengan t- butil klorida.

c. Variabel pengganggu terkendali pada penelitian ini adalah suhu percobaan

dan kondisi peralatan.

3. Definisi operasional

a. Bahan awal adalah bahan yang digunakan untuk menghasilkan senyawa

dalam sintesis. Bahan awal yang digunakan dalam penelitian ini adalah

(37)

20

b. Katalis adalah suatu senyawa atau bahan yang digunakan dalam sintesis

untuk meningkatkan laju reaksi kimia dan mengoptimalkan hasil sintesis.

Dalam penelitian ini digunakan katalis aluminium klorida.

c. Molekul target adalah senyawa akhir yang diinginkan terbentuk dalam

sintesis. Molekul target dalam penelitian ini adalah t-butil eugenol.

D. Bahan Penelitian

Eugenol (p.a., Sigma), t-butil alkohol (p.a., Merck), alumunium klorida

anhidrat (p.a., Merck), aquadest, etil asetat (p.a., Merck), toluene (p.a., Merck),

dan Silika gel 60 GF254 (Merck), asam klorida (p.a., Merck), natrium klorida, dan

natrium bikarbonat.

E. Alat Penelitian

Alat yang digunakan meliputi alat-alat gelas, perangkat alat refluks,

perangkat kromatografi lapis tipis, stirer, pemanas elektrik (Heidolph MR2002),

timbangan elektrik (Mextler PM 100), mikropipet (Socorex Swiss), termometer,

thermopan (electrothermal 9100), kromatografi gas-spektrometer massa

(Shimadzu QP 2010S), dan lampu UV254 nm.

F. Tata Cara Penelitian

1. Sintesis t-butil klorida dari t-butil alkohol dengan asam klorida

Tersier-butil alkohol 15 ml dicampurkan dengan asam klorida (HCl) 40 ml

(38)

21

menit. Kemudian dimasukkan ke corong pisah dan diambil fase atasnya. Cuci

dengan 6 ml larutan natrium klorida jenuh, 6 ml larutan natrium bikarbonat,

dan 6 ml larutan natrium klorida jenuh, secara berturut-turut dan diambil

lapisan atasnya.

2. Sintesis t-butil eugenol dengan katalis aluminium klorida d. Sintesis t-butil eugenol dengan pemanasan 3 jam

Aluminium klorida (AlCl3) 4,3336 g dilarutkan dalam dietil eter 100 ml

dalam labu alas bulat. Kemudian ditambahkan t-butil klorida sebanyak 3,6

ml ke dalam labu alas bulat. Campuran dibiarkan semalam. Eugenol 1 ml

ditambahkan pada campuran diatas dan dipanaskan pada suhu 600C selama

3 jam.

e. Sintesis t-butil eugenol dengan pemanasan 5 jam

Aluminium klorida (AlCl3) 4,3336 g dilarutkan dalam dietil eter 100 ml

dalam labu alas bulat. Kemudian ditambahkan t-butil klorida sebanyak 3,6

ml ke dalam labu alas bulat. Campuran dibiarkan semalam. Eugenol 1 ml

ditambahkan pada campuran diatas dan dipanaskan pada suhu 600C selama

5 jam.

f. Sintesis t-butil eugenol dengan pemanasan 7 jam

Aluminium klorida (AlCl3) 4,3336 g dilarutkan dalam dietil eter 100 ml

dalam labu alas bulat. Kemudian ditambahkan t-butil klorida sebanyak 3,6

ml ke dalam labu alas bulat. Campuran dibiarkan semalam. Eugenol 1 ml

ditambahkan pada campuran diatas dan dipanaskan pada suhu 600C selama

(39)

22

2. Analisis hasil a. Uji organoleptis

Senyawa hasil sintesis diamati warna, bau dan bentuk dan dibandingkan

dengan eugenol. Adanya perbedaan sifat fisis senyawa hasil sintesis

dengan eugenol menunjukkan telah terbentuknya senyawa baru yang

berbeda dengan starting material eugenol.

b. Kromatografi lapis tipis (KLT)

Eugenol 1 ml diencerkan dengan dietil eter 100 ml digunakan sebagai

baku pembanding. Baku pembanding dan ketiga senyawa hasil sintesis

sebanyak 15 l ditotolkan pada lempeng silika gel 60 GF254 dengan

mikropipet, kemudian dielusi dengan fase gerak toluena : etilasetat (93:7)

dengan jarak elusi 15 cm dan dideteksi dengan sinar UV254 nm. Amati

bercak yang terdapat pada lempeng KLT. Bandingkan harga Rf senyawa

hasil sintesis dengan harga Rf eugenol. Jika harga Rf senyawa hasil

sintesis berbeda dengan harga Rf eugenol, maka didapatkan senyawa baru

yang berbeda dengan eugenol.

c. Elusidasi struktur dengan Spektrometri Massa

Senyawa hasil sintesis diidentifikasi strukturnya dengan

menggunakan kromatografi gas-spektroskopi massa. Masing-masing

spektrum yang dihasilkan dapat digunakan untuk menyimpulkan struktur

senyawa hasil sintesis.

Senyawa hasil sintesis dimasukkan ke dalam kamar pengion pada

(40)

23

terfragmentasi. Fragmen-fragmen tersebut melewati lempeng pemercepat

ion dan didorong menuju tabung analisator, dimana partikel-partikel akan

dibelokkan ke dalam medan magnet dan menimbulkan arus pada kolektor

yang sebanding dengan kelimpahan relatif setiap fragmennya. Kelimpahan

relatif setiap fragmen akan dicatat dan menghasilkan data spektrum massa.

Dari data spektrum yang dihasilkan tersebut, dilakukan interpretasi

sehingga dapat diperoleh informasi mengenai struktur senyawa hasil

sintesis.

d. Perhitungan jumlah senyawa hasil sintesis

Perhitungan jumlah senyawa hasil sintesis dilakukan dengan menggunakan

pengukuran ImageJ. Hasil foto elusi KLT senyawa hasil sintesis dipilih

salah satu yang menunjukkan bercak paling baik. Kemudian kontras dan

cahaya pada menu program ImageJ diatur hingga pada display

menunjukkan bercak tunggal yang batasnya jelas berbeda dengan latarnya.

Setelah itu gunakan rectangular selections untuk memetak wilayah bercak

yang akan dihitung dan pada kotak itu diberi nomor 1. Kemudian kotak

digeser ke bercak yang sejajar, kemudian diberi nomor 2, begitu pula pada

bercak nomor 3. Pada saat menandai kotak nomor 3, akan otomatis muncul

plots dari bercak yang disoroti tadi. Setelah itu, menu wand (tracing) tool

digunakan untuk mengetahui AUC dari bercak yang disoroti. Arahkan

wand (tracing) tool ke wilayah dibawah plot bercak, maka seketika akan

(41)

24 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Sintesis tersier-butil klorida

Tersier-butil klorida merupakan starting material pada reaksi sintesis t

-butil eugenol. Pada penelitian ini t-butil klorida disintesis dari t-butil alkohol dan

asam klorida (HCl). Sintesis t-butil klorida berdasarkan reaksi substitusi,

nukleofilik, unimolekular (SN1). Mekanisme reaksinya memiliki dua tahap. Pada

tahap pertama HCl terionisasi menjadi ion H+ dan Cl-. Ion H+ memprotonasi

gugus hidroksi pada t-butil alkohol membentuk gugus pergi yang lebih baik, yaitu

gugus -OH2. Setelah itu akan terjadi pemutusan ikatan pada t-butil alkohol yang

terprotonasi menjadi karbokation t-butil dan H2O.

Gambar 8. Reaksi tahap pertama pembentukan t-butil klorida

Pada tahap kedua, terjadi reaksi antara karbokation t-butil dengan ion Cl

-membentuk t-butil klorida. Tahap kedua ini berlangsung cepat karena energi

aktivasi yang dibutuhkan untuk reaksi antara karbokation t-butil dan ion Cl- kecil.

(42)

25

Gambar 9. Reaksi tahap kedua pembentukan t-butil klorida

Reaksi antara t-butil alkohol dan HCl menghasilkan produk dengan dua

fase. Fase yang diambil adalah fase atas yang merupakan t-butil klorida,

sedangkan fase bawah merupakan campuran air dan HCl yang tersisa. Fase atas

dicuci dengan larutan natrium klorida (NaCl) jenuh dan larutan natrium

bikarbonat (NaHCO3) jenuh. Fungsi pencucian dengan larutan NaCl jenuh adalah

untuk menarik air yang masih berada dalam produk t-butil klorida yang

dihasilkan. Sedangkan fungsi pencucian dengan larutan NaHCO3 jenuh adalah

untuk menetralkan HCl yang tersisa pada produk t-butil klorida, dengan reaksi :

Gambar 10. Reaksi penetralan asam klorida

Tersier-butil klorida yang dihasilkan diuji kemurniannya dengan

kromatografi gas. Dari kromatogram yang didapatkan menunjukkan t-butil yang

dihasilkan murni, sehingga dapat digunakan sebagai starting material pada

sintesis t-butil eugenol.

(43)

26

Gambar 11. Kromatogram kromatografi gas tersier-butil klorida

B. Sintesis tersier-butil eugenol dengan katalis aluminium klorida Sintesis senyawa t-butil eugenol berdasarkan pada reaksi alkilasi

Friedel-Crafts yang dilakukan dengan cara mereaksikan eugenol dengan t-butil klorida

menggunakan katalis AlCl3 anhidrat. Hal ini dikarenakan AlCl3 anhidrat lebih

mudah larut dalam pelarut dietil eter. Selain itu, apabila AlCl3 yang digunakan

AlCl3 hidrat, maka t-butil klorida dapat bereaksi dengan air sehingga menjadi

t-butanol dan asam klorida.

Sebelum direaksikan dengan eugenol, t-butil klorida dicampur dengan

AlCl3 anhidrat dan didiamkan selama semalam. Hal ini dilakukan untuk

memastikan seluruh t-butil klorida terbentuk menjadi karbokation tersier. Setelah

(44)

27

ditambahkan eugenol untuk menghasilkan t-butil eugenol. Reaksi t-butil klorida

dengan AlCl3 adalah:

Gambar 12. Mekanisme reaksi AlCl3 dan t-butil klorida

(45)

28

Gugus hidroksi pada eugenol bersifat sebagai aktifator dan pengarah

orto-para. Hal ini menyebabkan pada reaksi diatas, gugus t-butil akan masuk pada

posisi orto dari gugus hidroksi. Posisi para dari gugus hidroksi tidak dapat

dimasuki gugus t-butil karena sudah diduduki gugus metoksi dan gugus propenil.

Sifat utama gugus pengaktivasi, seperti gugus hidroksi pada eugenol,

adalah kemampuannya memberikan elektron-elektron pada cincin benzen

eugenol, sehingga membuat cincin benzen menjadi semakin kaya elektron. Cincin

benzen yang kaya elektron ini ketika bertemu dengan gugus t-butil, yang

merupakan karbokation, akan dapat bereaksi.

C. Analisis hasil 1. Uji organoleptis

Analisis senyawa hasil sintesis yang pertama dilakukan adalah pengujian

secara organoleptis untuk mengetahui sifat fisik dari senyawa hasil sintesis,

meliputi bentuk, warna, dan bau. Adanya perbedaan sifat fisis senyawa hasil

sintesis dengan starting material-nya menunjukkan telah terbentuknya senyawa

baru yang berbeda. Tabel I berikut menunjukkan hasil pemeriksaan organoleptis

senyawa hasil sintesis dengan starting material-nya sebagai pembanding.

(46)

29

Dari hasil pemeriksaan organoleptis diatas, maka dapat disimpulkan

senyawa hasil sintesis sudah berbeda dengan bahan awal, yaitu eugenol dan t-butil

klorida. Hal ini dapat dilihat dari bentuk, bau, dan warna dari senyawa hasil

sintesis yang berbeda dengan eugenol dan t-butil klorida.

2. Kromatografi lapis tipis

Kromatografi lapis tipis (KLT) dapat digunakan untuk mengetahui apakah

terbentuk senyawa hasil sintesis ataupun untuk mengetahui kemurnian senyawa

hasil sintesis. Dalam sistem KLT ini, digunakan fase diam silika gel GF 254 dan

fase gerak toluen : etil asetat (93:7) dan sebagai pembanding digunakan baku

eugenol, dengan jarak pengelusian 15 cm. Hasil bercak pengelusian kemudian

diamati dibawah sinar UV 254.

Silika gel GF 254 yang digunakan mengandung CaSO4 (gips) yang

mengandung indikator yang dapat berflouroresensi pada panjang gelombang 254

nm. Dengan indikator fluororesensi ini, akan menyebabkan bercak senyawa

mudah terdeteksi dengan adanya peredaman pada bercak dengan latar belakang

berfluororesensi hijau terang. Peredaman ini terjadi karena senyawa hasil sintesis

dan eugenol memiliki ikatan rangkap terkonjugasi atau gugus kromofor sehingga

pada waktu disinari dengan sinar UV 254 nm, sinar UV ini akan diabsorbsi oleh

gugus kromofor dari kedua senyawa tersebut. Sebagai akibatnya, sinar yang

mengena senyawa hasil sintesis dan eugenol tidak dapat mencapai indikator

fluororesensi dan tidak ada cahaya yang dipancarkan pada bercak tersebut dan

(47)

30

Pemilihan fase gerak toluen : etil asetat (93:7) didasarkan pada hasil

orientasi pengelusian eugenol. Orientasi fase gerak menggunakan 3 jenis

komposisi fase gerak, yaitu toluen : etil asetat (93:7), toluen, dan hexan : etil

asetat (90:10). Dari ketiga fase gerak yang diuji, fase gerak toluen : etil asetat

yang memberikan pemisahan yang paling baik, sehingga dalam penelitian ini

digunakan fase gerak toluen : etil asetat (93:7).

Dari hasil percobaan didapatkan hasil elusi sebagai berikut:

Gambar 14. Hasil elusi senyawa hasil sintesis

Fase gerak toluen : etil asetat (93:7) bersifat lebih non polar dibandingkan

fase diam silika gel GF 254, sehingga senyawa yang bersifat non polar akan lebih

(48)

31

bersifat lebih non polar daripada eugenol, karena memiliki tambahan gugus

t-butil, sehingga diprediksikan akan terbentuk bercak diatas bercak eugenol baku.

Tabel II. Nilai Rf Kromatografi Lapis Tipis Senyawa Hasil Sintesis Dengan Fase Gerak Toluena : Etil Asetat (93:7)

Senyawa Nilai Rf

Eugenol standar Bercak A = 0,61 Hasil sintesis dengan katalis

AlCl3 dengan pemanasan selama 3 jam

Bercak B = 0,61

Bercak E = 0,82

Hasil sintesis dengan katalis AlCl3 dengan pemanasan selama 5 jam

Bercak C = 0,61

Hasil sintesis dengan katalis AlCl3 dengan pemanasan selama 7 jam

Bercak D = 0,61

Dapat dilihat pada hasil elusi, pada hasil sintesis dengan pemanasan

selama 3 jam, terdapat 2 bercak. Bercak yang pertama adalah bercak yang sejajar

dengan baku eugenol, dengan nilai Rf 0,61. Hal ini menunjukkan bahwa pada

senyawa hasil sintesis dengan pemanasan selama 3 jam masih terdapat eugenol.

Bercak kedua adalah bercak baru dengan Rf 0,82. Hal ini menunjukkan pada

lama pemanasan 3 jam terbentuk senyawa baru yang bersifat lebih non polar

dibandingkan eugenol, karena Rf dari bercak ini lebih besar daripada Rf

eugenol standar, sehingga lebih terbawa oleh fase gerak yang bersifat non polar

dan terelusi lebih tinggi dibandingkan eugenol. Tersier-butil eugenol merupakan

senyawa yang lebih non polar dibandingkan eugenol, karena pada t-butil eugenol

(49)

32

Berdasarkan hal itu, maka diasumsikan bahwa bercak dengan nilai Rf 0,82

adalah bercak dari senyawa hasil sintesis.

Pada hasil sintesis dengan pemanasan 5 jam dan 7 jam hanya

menunjukkan masing-masing satu bercak, yakni bercak dengan nilai Rf 0,61,

yang menunjukkan bahwa hasil sintesis yang didapatkan masih eugenol dan tidak

terbentuk t-butil eugenol. Sementara itu, bercak yang tidak terelusi merupakan

senyawa lain yang dapat berupa sisa starting material ataupun senyawa hasil

reaksi samping dari sintesis t-butil eugenol yang tidak terelusi dengan fase gerak

toluen : etil asetat (93:7). Namun, untuk mengetahui apa senyawa tersebut tidak

dapat digunakan analisis dengan KLT. Sehingga diperlukan analisis lebih lanjut

dengan kromatografi gas-spektroskopi massa.

4. Kromatografi Gas – Spektroskopi Massa

Untuk memperkuat hasil analisis dengan KLT, maka digunakan

kromatografi gas bersama dengan spektroskopi massa (GC-MS) untuk mengetahui

komponen dalam senyawa hasil sintesis. Senyawa hasil sintesis yang dianalisis

dengan GC-MS adalah senyawa hasil sintesis dengan lama pemanasan selama 3

jam, karena pada hasil elusi dengan kromatografi lapis tipis hasil sintesis dengan

lama pemanasan selama 3 jam menunjukkan bercak baru.

Pada GC-MS, proses pemisahan dilakukan oleh kromatografi gas,

sedangkan proses fragmentasi dilakukan oleh spektrometri massa. Metode ini

dapat digunakan untuk memberikan informasi penting tentang spektrum massa

(50)

33

komponen senyawa hasil sintesis yang masih bercampur dengan senyawa lain,

maka senyawa lain ini dapat dipisahkan. Pemisahan ini bertujuan untuk

mendapatkan hasil yang baik pada pengelusidasian senyawa hasil sintesis dengan

spektroskopi massa. Dengan demikian, diharapkan spektrum yang dihasilkan pada

spektroskopi massa adalah benar-benar murni berasal dari senyawa hasil sintesis.

Pengujian senyawa hasil sintesis dengan GC dilakukan dilaboratorium

MIPA Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Dari uji tersebut diperoleh data

kromatogram GC yang diperlihatkan pada gambar 11. Dari gambar kromatogram

dapat dilihat bahwa senyawa hasil sintesis yang diuji menghasilkan 33 puncak.

Hal ini menunjukkan bahwa senyawa hasil sintesis belum murni.

Gambar 15. Kromatogram kromatografi gas senyawa hasil sintesis Setelah terjadi pemisahan komponen senyawa hasil sintesis dengan

(51)

34

dengan spektroskopi massa. Spektrum massa yang dihasilkan dari spektrometer

massa dapat digunakan untuk menentukan bobot molekul senyawa hasil sintesis

dan untuk penyelidikan kerangka molekul senyawa hasil sintesis melalui

interpretasi fragmen-fragmennya.

Pada spektroskopi massa senyawa hasil sintesis, molekul senyawa hasil

sintesis ditembak dengan elektron berenergi tinggi sehingga salah satu elektron

valensinya akan lepas dan pecah menjadi fragmen-fragmen dengan m/z lebih

kecil, baik berupa radikal bebas, fragmen netral, maupun ion-ion.

Gambar 16. Spektrum massa senyawa hasil sintesis pada waktu retensi 12,292 menit

Keterangan:

A = Peak dengan m/z = 41 menunjukkan fragmen [C3H5]+ B = Peak dengan m/z = 57 menunjukkan fragmen [C4H9]+

C = Peak dengan m/z = 355 menunjukkan fragmen [C14H19O2AlCl3]+

Dari hasil elusidasi ini, diketahui bahwa pada senyawa hasil sintesis telah

terbentuk t-butil eugenol. Bobot molekul t-butil eugenol adalah 220, namun pada

gambar spektrum diatas tidak ada yang menunjukkan peak dengan rasio m/z =

220. Peak C pada gambar spektrum diatas terdapat peak dengan rasio m/z = 355

yang merupakan peak dari t-butil eugenol tapi masih dalam bentuk mengikat

katalis, yaitu AlCl3, sehingga rasio m/z yang terukur adalah bobot molekul t-butil

(52)

35

Interaksi antara t-butil eugenol dengan AlCl3 dapat terjadi dikarenakan

AlCl3 merupakan akseptor elektron sedangkan gugus OH pada t-butil eugenol

merupakan pendonor elektron, sehingga dapat terjadi interaksi antara keduanya.

AlCl3 yang memiliki orbital kosong akan menerima elektron dari pasangan

elektron bebas yang ada pada atom O dari gugus hidroksi t-butil eugenol, dengan

interaksi pada gambar 14 dibawah ini.

Gambar 17. Interaksi t-butil eugenol dengan AlCl3

(53)

36

Pada gambar 12 diatas, peak A dengan m/z = 41, merupakan fragmen yang

mengalami pemutusan setelah ditembak dengan elektron berenergi tinggi

membentuk ion propenil dan peak B dengan m/z = 57 merupakan fragmen

[C4H9]+ yaitu radikal t-butil yang mengalami pemutusan dari posisi orto dari

gugus hidroksi eugenol setelah ditembak dengan elektron berenergi tinggi.

Kelemahan dari analisis dengan kromatografi gas-spektroskopi massa pada

metode penelitian ini adalah tidak dapat memastikan senyawa yang terbentuk

adalah t-butil eugenol, karena pada kromatogram kromatografi gas, terdapat 33

peak yang berarti terdapat 33 jenis senyawa dalam senyawa hasil sintesis.

Sehingga tidak dapat dipastikan peak mana yang merupakan t-butil eugenol. Oleh

karena itu, diperlukan suatu metode analisis kualitatif lain terhadap senyawa hasil

sintesis. Analisis kualitatif yang dapat dilakukan adalah KLT preparatif dengan

mengambil bercak senyawa hasil sintesis pada hasil elusi KLT, kemudian

dilakukan analisis dengan spektroskopi inframerah (IR) untuk mengetahui gugus

fungsional yang terdapat dalam senyawa hasil sintesis, atau dapat juga dengan

spektroskopi resonansi magnetik inti (NMR) yang dapat memberikan informasi

struktural mengenai atom-atom hidrogen dalam suatu molekul organik.

D. Variasi Pemanasan

Salah satu batasan dari reaksi Friedel-Crafts adalah pemanasan, dimana

pemanasan akan berpengaruh pada jumlah hasil sintesis yang didapatkan. Pada

umumnya pada suatu reaksi sintesis, semakin lama pemanasan akan

(54)

37

lama pemanasan pada suatu reaksi kimia berpengaruh pada kecepatan reaksi dan

kecepatan terbentuknya senyawa target. Adanya energi dari pemanasan akan

meningkatkan pergerakan molekul t-butil klorida dan eugenol, sehingga kontak

atau tumbukan antar keduanya akan semakin besar dan mempercepat reaksi

pembentukan t-butil eugenol.

Variasi lama pemanasan ini bertujuan untuk melihat pada lama pemanasan

mana yang dapat menghasilkan t-butil eugenol dalam jumlah terbanyak. Lama

pemanasan divariasi 3 jam, 5 jam, dan 7 jam. Pemilihan waktu ini berdasarkan

hasil orientasi, dimana pada umumnya reaksi sintesis berlangsung 3 jam,

kemudian divariasikan dengan interval 2 jam, untuk melihat perbedaan antara

ketiga hasil sintesis apabila lama pemanasan divariasikan.

Dari bercak hasil uji KLT yang didapatkan, dapat dilakukan perhitungan

jumlah senyawa hasil sintesis dengan menggunakan Image J. Perhitungan

dilakukan pada senyawa hasil sintesis dengan pemanasan 3 jam dengan

didapatkan nilai area under curve (AUC) 39589, sedangkan pada lama pemanasan

5 jam dan 7 jam, tidak didapatkan bercak t-butil eugenol, sehingga tidak dapat

dihitung jumlahnya dengan Image J.

Hal ini menunjukkan variasi lama pemanasan mempengaruhi reaksi

pembentukan dan jumlah hasil sintesis t-butil eugenol yang dihasilkan. Semakin

lama pemberian pemanasan pada reaksi sintesis tidak diiringi dengan

pembentukan t-butil eugenol yang semakin banyak. Senyawa baru hasil sintesis

yang semula terbentuk pada lama pemanasan selama 3 jam, dengan diberi

(55)

38

tidak terbentuk. Hal ini menunjukkan senyawa hasil sintesis pada lama pemanasan

5 jam dan 7 jam mengalami dekomposisi senyawa.

Dekomposisi adalah proses peruraian suatu senyawa kimia sebagai akibat

dari pengaruh lingkungan pada jangka waktu tertentu. Terjadinya dekomposisi

senyawa kimia dapat disebabkan dari pH lingkungan, suhu, kelembaban, akibat

hidrolisis, ataupun solvolisis dari senyawa organik. Hal ini umum terjadi dan

gugus-gugus fungsional tertentu memudahkan terjadinya reaksi tersebut

(Parrot,1970).

Berdasarkan faktor-faktor penyebab dekomposisi diatas, hidrolisis dan

solvolisis bukan merupakan penyebab dekomposisi senyawa hasil sintesis pada

penelitian ini. Hal ini dikarenakan pada sintesis t-butil eugenol, tidak

menggunakan starting material berupa air sehingga tidak terdapat kemungkinan

terjadi hidrolisis. Sedangkan kemungkinan terjadi solvolisis juga tidak mungkin

terjadi karena pada sintesis ini digunakan pelarut dietil eter yang merupakan

pelarut non polar aprotik yang tidak memiliki proton asam, tidak bersifat donor

maupun akseptor, sehingga dalam reaksi sintesis ini tidak akan mempengaruhi

reaksi yang terjadi (inert). Kondisi pH lingkungan dan kelembaban lingkungan

pada penelitian ini tidak diperhatikan oleh peneliti, namun tidak berpengaruh pada

reaksi sintesis.

Faktor yang mungkin menjadi penyebab dekomposisi senyawa baru hasil

sintesis adalah suhu percobaan. Suhu percobaan yang digunakan adalah 60oC.

Dari 3 hasil sintesis, yaitu hasil sintesis dengan lama pemanasan selama 3 jam, 5

(56)

39

pemanasannya. Pada hasil sintesis dengan lama pemanasan selama 3 jam

terbentuk senyawa baru, sedangkan pada hasil sintesis dengan lama pemanasan

selama 5 jam dan 7 jam mengalami dekomposisi senyawa. Dari data ini terlihat

bahwa semakin lama pemaparan suhu pemanasan, senyawa baru hasil sintesis

akan terdekomposisi. Hal ini disebabkan semakin panjang lama pemanasan,

energi di dalam reaksi akan meningkat sehingga menyebabkan ketidakstabilan

senyawa baru hasil sintesis dan mengalami dekomposisi.

Berdasarkan hasil penelitian ini, lama pemanasan 3 jam merupakan lama

pemanasan yang paling baik dibandingkan dengan lama pemanasan 5 jam dan 7

(57)

40 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan uji organoleptis, kromatografi lapis tipis, kemudian yang

ditegaskan dengan spektroskopi massa, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Tersier-butil eugenol dapat dihasilkan dari reaksi alkilasi t-butil klorida

dengan eugenol menggunakan katalis aluminium klorida.

2. Lama pemanasan yang menghasilkan jumlah senyawa hasil sintesis yang

paling banyak bukan lama pemanasan selama 7 jam, karena pada lama

pemanasan 3 jam diperoleh t-butil eugenol, sedangkan pada lama pemanasan 5

dan 7 jam tidak diperoleh t-butil eugenol.

B. Saran

Dalam penelitian lebih lanjut mengenai sintesis t-butil eugenol dari t-butil

klorida dengan eugenol, perlu dilakukan:

1. Pemurnian senyawa hasil sintesis.

2. Analisis kualitatif dan kuantitatif terhadap t-butil eugenol dengan metode

lainnya.

(58)

41 Royal Society of Chemistry, Cambridge, UK

Anonim, 2004, Efek Dari Katalis, www.chem-is-try.org, diakses pada tanggal 18 November 2009

Anonim, 2008, Safety Data Sheet Diethyl Ether, www.lindchem.com, diakses pada tanggal 18 November 2009

Ardyansyah, 2007, Antioksidan dan Peranannya Bagi Kesehatan, http://www.iptek.com, diakses pada tanggal 10 April 2008

Bresnick, M.D, 2004, Intisari Kimia Organik, 96-99, 101-107, Penerbit Hipokrates, Jakarta

Bruice, P.Y., 1998, Organic Chemistry, 2nd edition, 953, 955, 960, Prentice Hall, New Jersey

Day, Jr., R.A. and Underwood, A.L., Analisis Kimia Kuantitatif, diterjemahkan oleh Pudjaatmaka, A. H., Edisi IV, 519, Penerbit Erlangga, Jakarta

Dean, J.A., 1995, Analytical Chemistry Handbook, 13, 26, McGraw-Hill, Inc., New York

Fessenden dan Fessenden, 1986, Kimia Organik, diterjemahkan oleh Pudjaatmaka, A.H., Jilid 1, Edisi III, 31, 186-188, Erlangga, Jakarta

Fessenden dan Fessenden, 1986, Kimia Organik, diterjemahkan oleh Pudjaatmaka, A.H., Jilid 2, Edisi III, 171, Erlangga, Jakarta

Gambar

Gambar 1. Struktur Eugenol
Gambar 2. Diagram keadaan energi
Gambar 3. Mekanisme AlCl3 dalam membentuk karbokation
Gambar 5. Prinsip Reaksi Friedel-Crafts
+7

Referensi

Dokumen terkait