BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Objek penelitian yang akan dianalisis dalam penelitian ini yaitu seluruh

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Tinjauan Umum Objek Penelitian

Objek penelitian yang akan dianalisis dalam penelitian ini yaitu seluruh lembaga bimbingan belajar Primagama yang berada di Kota Bandung. Kemudian agar diperoleh gambaran karakteristik dari objek penelitian yang bersangkutan maka akan diuraikan mengenai kondisi Bimbingan Belajar Primagama secara umum.

Sejarah Singkat Bimbingan Belajar Primagama

Niat baik untuk membimbing pelajar kelas 3 SMTA yang ingin memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi yakni ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) telah mendorong Purdi E. Chandra mendirikan lembaga bimbingan belajar yang waktu itu lebih dikenal dengan lembaga bimbingan tes Primagama pada tanggal 10 Maret 1982. Niatan itu belakangan menjadi peluang untuk dikembangkan karena Yogyakarta berstatus kota pelajar. Peluang inilah yang lantas diolahnya, kemudian catatan bilangan ternyata menunjuk pada angka 32.000-an siswa bergabung dengan Primagama setiap tahunnya. Hal ini membuktikan pemikiran sederhana Purdi tidak meleset, pasar memang butuh Primagama. Purdi dan kawan-kawan memiliki keyakinan bahwa usaha bimbingan belajar akan terus berkembang karena pengguna jasa pendidikan memang memerlukannya. Kalau

(2)

masyarakat memang tidak butuh dan Primagama memaksakan diri untuk bergerak di bidang bimbingan belajar ini, maka tidak usah dilarang pun akan mati sendiri.

Keberadaan lembaga bimbingan belajar semakin kuat dengan hadirnya Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Salah satu hal yang ditekankan dalam UU Nomor 2 tahun 1989 adalah terkait dengan tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan, yakni bahwa pada dasarnya beban penyelenggaraan pendidikan tidak saja dipikul oleh pemerintah saja, tetapi juga pada keluarga dan masyarakat.

Pola kompetisi yang cukup ketat di Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) dimana rata-rata yang diterima hanya berkisar 14-17% dari jumlah peserta tes seleksi masuk PTN dan kemampuan Primagama untuk mengantar sukses para siswa bimbingannya, menjadikan dimanapun Primagama membuka cabang segera mendapat respon bagus dari masyarakat. Guna memberikan dasar hukum yang kuat dalam Primagama berkiprah di dunia pendidikan luar sekolah, maka pada tahun ke empat setelah berdiri dibentuklah Yayasan Primagama dengan akte notaris Daliso Rudianto, SH nomor 123 tahun 1985. Kemudian aspek hukum keberadaan Lembaga Pendidikan Primagama kian berakar kuat setelah mendapat ijin dari Depdikbud dengan SK No : 054/I 13/MS/Kpts/1999. Lembaga Pendidikan Primagama adalah pemegang Hak Cipta dari Bimbingan Belajar "LEMBAGA PENDIDIKAN PRIMAGAMA" berdasarkan UU No. 6 tahun 1982 tentang Hak Cipta jo. UU No. 7 tahun 1987 tentang Perubahan Atas UU No. 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta pada tanggal 3 Juli 1995 dan telah terdaftar di Direktorat Hak Cipta, Paten dan Merk dengan Nomor Pendaftaran 014127.

(3)

Dengan status yang jelas, maka Primagama sejak 1987 terus dikembangkan di kota-kota lain. Selama kurun waktu 1993 sampai tahun 1997 jumlah cabang telah bertambah menjadi 84 kantor cabang pembantu. Bila dirata-rata pertahunnya ada penambahan lima sampai enam kantor cabang baru. Kemudian pada tahun 1997/1998 ada penambahan secara spektakuler yakni penambahan sebanyak 69 kantor cabang pembantu. Total sampai Juli 2002 Primagama memiliki 189 kantor cabang mandiri dan 45 kantor cabang franchise yang tersebar di 83 kota di 27 propinsi Pesatnya perkembangan lembaga ini tidak terlepas dari: (1) kesungguhan pengelolanya; (2) kuatnya citra nama/merk Primagama sebagai sebuah lembaga bimbingan belajar; (3) kepercayaan yang tinggi oleh siswa, guru, sekolah pemerintah, pihak perusahaan dan masyarakat luas akan kualitas yang diberikan. Pertumbuhan omset Primagama rata-rata tiap tahun tidak pernah kurang dari 35% dibanding tahun sebelumnya. Sedang penguasaan pangsa pasar bimbingan belajar Primagama yang ada di 105 kota tersebut lebih dari 40% dari pasar riil, bahkan hampir di semua kota, posisi Primagama adalah sebagai pemimpin pasar atau market leader. Tidak hanya jumlah cabang yang bertambah tapi program bimbinganpun juga makin beragam.

Pada pertama kali lahir di tahun pelajaran 1982/1983 Primagama baru meluncurkan program bimbingan untuk siswa kelas 3 SMU dan privat. Perkembangan lembaga dan tuntutan masyarakat mendorong pengelola Primagama untuk membuka program bimbingan kelas enam SD dan kelas tiga SMP pada tahun 1985, disusul kemudian program bimbingan kelas satu dan dua SMU, satu dua SLTP dan lima SD pada tahun pelajaran 1992/1993, dan pada

(4)

tahun 2000 dibuka Program Khusus empat SD. Selain itu Primagama juga menyelenggarakan Bimbingan Belajar Singkat atau Paket.

4.1.2 Gambaran Responden

4.1.2.1 Gambaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 15 cabang Bimbingan Belajar Primagama yang terdapat di Bandung, responden yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 15 responden. Responden yang dimaksud adalah pengelola atau orang yang menjabat sebagai kepala cabang bimbingan belajar tersebut. Bimbingan Belajar Primagama yang terdapat di Bandung ini lebih banyak dikelola oleh laki-laki. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.1 dibawah ini:

Tabel 4.1

Penyebaran Responden berdasarkan jenis kelamin Jenis Kelamin Frekuensi Presentase

Laki-Laki 13 86,67

Perempuan 2 13,33

Jumlah 15 100

Data diolah dari hasil Angket

Jumlah responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 13 orang dan 2 orang berjenis kelamin perempuan. Hal ini menggambarkan bahwa pengelola atau kepala cabang bimbingan belajar kebanyakan adalah laki-laki yaitu 13 orang 86,67% dan kepala cabang perempuan hanya sebanyak 13,33%.

4.1.2.2 Gambaran Responden Berdasarkan Golongan Umur

Tingkat produktivitas seseorang berbeda-beda, ada yang memiliki produktivitas tinggi ada pula yang memiliki produktivitas rendah. Salah satu

(5)

faktor yang mempengaruhi produktivitas seseorang adalah usia. Berdasarkan tingkat usia yang dimiliki responden, secara keseluruhan dapat disajikan pada tabel 4.2:

Tabel 4.2

Penyebaran Responden Berdasarkan Golongan Umur Gol.Umur Frekuensi Presentase

< 30 3 20

30 - 35 8 53,33

36 - 40 3 20

> 40 1 6,67

Jumlah 15 100

Data diolah dari hasil angket

Berdasarkan umur responden sebanyak 20 % berada di golongan umur <30 tahun, 53,33 % berada di golongan umur 30-35 tahun, 20% berumur antara 36-40 tahun dan 6,67% berada di golongan umur > 40 tahun. Dimana berdasarkan hasil angket usia termuda yaitu 27 tahun hanya terdiri satu orang dan usia tertua 41 tahun terdiri satu orang. Responden yang terbanyak yaitu digolongan umur antara 30- 35 tahun sebanyak 8 orang. Responden yang paling sedikit yaitu digolongan umur > 40 tahun hanya sebanyak satu orang.

4.1.2.3 Gambaran Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan responden (kepala cabang bimbingan belajar) dapat dilihat dari tabel 4.3 dibawah ini:

Tabel 4.3

Data Tingkat Pendidikan Responden

Tingkat Pendidikan Frekuensi Presentase

Diploma (D3) 1 6,67

Sarjana (S1) 14 93,33

Jumlah 15 100

(6)

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa golongan tingkat pendidikan responden yang tertinggi dan paling banyak adalah sarjana (S1) yaitu sebanyak 14 orang atau sebesar 93,33%. Sedangkan yang terendah dan yang paling sedikit adalah tingkat pendidikan Diploma (D3) yaitu hanya satu orang atau sebesar 6,67%. Banyaknya pengelola yang berpendidikan sarjana (S1), menunjukan bahwa tingkat pendidikan para pengelola atau kepala cabang bimbingan belajar sudah bagus.

4.1.2.4 Gambaran Responden Berdasarkan Masa Waktu Mengelola Bimbingan Belajar

Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha, baik berupa usaha barang maupun usaha jasa adalah pengalaman atau masa waktu kepala cabang dalam menjalankan bimbingan belajar yang sedang dikelolanya. Berdasarkan hasil penelitian mengenai masa waktu mengelola bimbingan belajar dapat dilihat dari tabel 4.4 :

Tabel 4.4

Data Masa Waktu Responden Mengelola Bimbingan Belajar Masa Waktu Mengelola Frekuensi Presentase

1 Tahun 4 26,67 2 Tahun 2 13,33 3 Tahun 6 40 4 Tahun 2 13,33 > 4 Tahun 1 6,67 Jumlah 15 100

Data diolah dari hasil angket

Dari tabel 4.4 diatas menunjukan bahwa masa waktu responden mengelola bimbingan belajar paling lama yaitu lebih dari empat tahun dengan persentase 6,67% atau sebanyak satu orang kepala cabang bimbingan belajar, tepatnya

(7)

selama delapan tahun. Sedangkan masa waktu responden mengelola bimbingan belajar paling baru yaitu satu tahun, sebanyak empat orang kepala cabang bimbingan belajar atau sebesar 26,67%. Adapun masa waktu responden mengelola bimbingan belajar selama 3 tahun yaitu sebanyak enam orang kepala cabang bimbingan belajar yang menduduki presentase tertinggi yaitu sebesar 40%.

4.1.2.5 Gambaran Responden Berdasarkan Mata Pencaharian/ pekerjaan

Untuk melihat mata penceharian/ pekerjaan responden disamping mengelola bimbingan belajar, dapat dilihat pada tabel 4.5:

Tabel 4.5

Data Mata Pencaharian Responden/ Pekerjaan Pekerjaan Frekuensi Presentase

Wiraswasta 5 33,33

Pengajar Bimbingan belajar 10 66,67

Jumlah 15 100

Data diolah dari hasil angket

Dari tabel 4.5 diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar mata penceharian/pekerjaan responden selain mengelola bimbingan belajar yang paling banyak adalah sebagai pengajar/ tentor bimbingan belajar yaitu sebanyak 10 orang atau sebesar 66,67%. Selain sebagai pengajar bimbingan belajar para responden yang lain ada juga yang mempunyai mata penceharian/pekerjaan selain mengelola bimbingan belajar adalah berwiraswasta yaitu sebanyak lima orang atau sebesar 33,33%. Tidaklah heran mata penceharian/pekerjaan responden selain mengelola bimbingan belajar yang paling banyak adalah sebagai pengajar/ tentor bimbingan belajar karena hal tersebut yang paling mudah dikerjakan, sebab kebanyakan dari para kepala cabang bimbingan belajar tingkat pendidikannya sarjana dan tempat

(8)

bekerjanya sebagai pengajar pun masih ditempat yang sama dia bekerja sebagai kepala cabang bimbingan belajar.

4.1.3 Deskripsi Variabel Penelitian

4.1.3.1 Permintaan Jasa Bimbingan Belajar

Permintaan masyarakat dalam upaya memenuhi kebutuhannya sangatlah beraneka ragam baik permintaan terhadap barang maupun jasa. Permintaan yang penulis teliti pada penelitian ini yaitu sejumlah permintaan masyarakat terhadap jasa Bimbingan Belajar Primagama Se-Bandung Raya. Disini penulis mencoba untuk mengungkapkan masalah menurunnya permintaan masyarakat terhadap jasa Bimbingan Belajar Primagama Se-Bandung Raya yang ditandai dengan menurunnya jumlah siswa yang terdaftar dan belajar di Bimbingan Belajar Primagama Se-Bandung Raya. Sejalan dengan hal itu, penulis berusaha untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi permintaan jasa Bimbingan Belajar Primagama Se-Bandung Raya. Faktor-faktor yang akan di teliti antara lain mencakup; biaya bimbingan belajar, biaya promosi, lokasi, dan kualitas. Pada permintaan jasa bimbingan belajar berbeda dengan permintaan akan jasa pendidikan formal (sekolah). Pendidikan formal (sekolah) merupakan kebutuhan yang sangat dibutuhkan oleh semua orang didunia. Sedangkan jasa bimbingan belajar (pendidikan informal) tidak semua orang membutuhkannya. Sehingga permintaan akan jasa pendidikan formal (sekolah) akan lebih banyak dibanding dengan permintaan jasa bimbingan belajar. Besarnya permintaan jasa Bimbingan Belajar Primagama Se-Bandung Raya dapat dilihat dari jumlah siswa

(9)

yang terdaftar dan belajar di bimbingan belajar. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel 4.6 dibawah ini:

Tabel 4.6

Data Permintaan Jasa Bimbingan Belajar Primagama pada Tahun Ajaran 2007-2008

No Nama Cabang Jumlah Siswa

1 Batujajar 93 2 Padalarang 91 3 Cimahi 86 4 Antapani 164 5 Molis 311 6 Cibeureum 194 7 Kopo Margahayu 154 8 Kopo TKI 143 9 Belitung 392 10 Soreang 97 11 Pasir Kaliki 163 12 Baleendah 117 13 Ujung Berung 252 14 Martanegara 113 15 MTC 214

Sumber: Dari Hasil Angket.

Pada tabel 4.6 dapat terlihat bahwa Bimbingan Belajar Primagama Cabang Belitung yang merupakan Primagama pusat di Bandung adalah Cabang Bimbingan Belajar Primagama yang memiliki jumlah siswa terbanyak yaitu sebanyak 392 orang siswa. Sedangkan Bimbingan Belajar Primagama Cabang Cimahi mempunyai jumlah siswa yang paling sedikit yaitu sebanyak 86 orang siswa. Dari tabel diatas dapat dihitung rata-rata jumlah siswa bimbingan belajar sebagai berikut:

172

15

2584

=

=

− −

X

X

(10)

Rata-rata jumlah siswa Bimbingan Belajar Primagama adalah sebanyak 172 orang siswa. Klasifikasi Cabang Bimbingan Belajar Primagama yang diukur berdasarkan jumlah siswa dapat kita lihat pada tabel 4.7 berikut ini:

Tabel 4.7

Klasifikasi Jumlah Siswa Bimbingan Belajar Primagama Jumlah Siswa Kategori Frekuensi Persentase

(%)

86 - 188 Rendah 10 66,67

189 - 291 Sedang 3 20

292 - 394 Tinggi 2 13,33

Jumlah 15 100

Data diolah dari hasil angket

Dari data pada tabel 4.7 diperoleh bahwa hanya terdiri dari 2 Cabang Bimbingan Belajar Primagama yang memiliki tingkat jumlah siswanya yang termasuk pada kategori tinggi dengan persentase sebesar 13,33%. Tiga cabang bimbingan belajar diantaranya memiliki tingkat jumlah siswa yang termasuk pada kategori sedang dengan persentase sebesar 20%. Sedangkan sepuluh Cabang Bimbingan Belajar Primagama lainnya memiliki tingkat jumlah siswa yang termasuk pada kategori rendah dengan persentase sebesar 66,67%. Maka hal ini pula yang menunjukan bahwa permintaan jasa bimbingan belajar pertahunnya memang cukup rendah.

4.1.4.2 Harga Biaya Bimbingan Belajar

Konsumen sebagai orang yang melakukan permintaan jasa dan produsen yang menawarkan jasa, keduanya tidak terlepas dari masalah harga. Pada permintaan jasa Bimbingan Belajar Primagama yang dimaksud dengan biaya bimbingan belajar adalah besarnya biaya bimbingan belajar rata-rata berdasarkan jenis program bimbingan belajar yang ditawarkan oleh Bimbingan Belajar

(11)

Primagama satu tahun. Berikut disajikan pada table 4.8 mengenai biaya Bimbingan Belajar Primagama Se-Bandung Raya:

Tabel 4.8

Biaya Bimbingan Belajar

No Nama Cabang Biaya Rata-Rata Bimbingan Belajar (Rupiah) 1 Batujajar 1.541.666,67 2 Padalarang 2.017.500,00 3 Cimahi 1.690.000,00 4 Antapani 1.816.416,67 5 Molis 1.741.666,67 6 Cibeureum 2.080.000,00 7 Kopo Margahayu 1.783.333,33 8 Kopo TKI 1.483.333,33 9 Belitung 2.170.000,00 10 Soreang 1.783.333,33 11 Pasir Kaliki 1.995.833,33 12 Baleendah 1.858.333,33 13 Ujung Berung 2.058.333,33 14 Martanegara 2.125.000,00 15 MTC 1.790.000,00

Data diolah dari hasil angket

Dilihat dari rata-rata biaya bimbingan belajar tertinggi adalah pada Bimbingan Belajar Primagama Cabang Belitung yaitu sebesar Rp.2.170.000,00 dan terendah pada Bimbingan Belajar Primagama Cabang Kopo TKI yaitu sebesar Rp.1.483.333,33. Dari tabel 4.8 diatas dapat dihitung rata-rata biaya Bimbingan Belajar Primagama Se-Bandung Raya adalah sebesar Rp.1.862.316,67. Klasifikasi Cabang Bimbingan Belajar Primagama yang diukur berdasarkan harga biaya bimbingan belajar dapat kita lihat pada tabel 4.9 berikut ini:

(12)

Tabel 4.9

Klasifikasi Harga Biaya Bimbingan Belajar Harga Biaya Bimbel

(Rupiah)

Kategori Frekuensi Persentase (%)

1.483.339 – 1.712.222 Rendah 3 20

1.712.223 – 1.941.112 Sedang 6 40

1.941.112 – 2.170.002 Tinggi 6 40

Jumlah 15 100

Data diolah dari hasil angket

Dari data pada tabel 4.9 diperoleh bahwa terdapat 3 Cabang Bimbingan Belajar Primagama yang menetapkan harga biaya bimbingan belajar pada kategori rendah dengan persentase sebesar 20%. Enam Cabang Bimbingan Belajar Primagama diantaranya menetapkan harga biaya bimbingan belajar pada kategori sedang dengan persentase sebesar 40%. Dan enam Cabang Bimbingan Belajar Primagama lainnya menetapkan harga biaya bimbingan belajar pada kategori rendah dengan persentase sebesar 40%. Dengan demikian maka kita dapat menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok berkaitan dengan penetapan harga biaya bimbingan belajar pada masing-masing cabang.

4.1.3.3 Lokasi

Lokasi merupakan salah satu faktor non ekonomis yang ikut berpengaruh terhadap permintaan jasa bimbingan belajar. Lokasi adalah suatu tempat fisik

dimana pembeli dan penjual berkumpul untuk mempertukarkan barang dan jasa. Dari hasil penelitian lokasi yang paling baik ialah lokasi yang paling

strategis. Strategisnya sebuah lokasi bimbingan belajar pada penelitian ini dinilai dari aksesbilitas meliputi tersedianya jalur transportasi, jumlah jalur transportasi, dan jumlah sarana transportasi yang melintasi lokasi. Selain aksesbilitas dinilai pula dari lengkap tersedianya fasilitas umum diantaranya tersedianya telephon

(13)

umum, ATM, rumah makan, mini market, sekolah, pemukiman penduduk, dan tempat parkir. Kemudian yang terakhir dinilai dari sentralitas yaitu jauh atau dekatnya jarak lokasi bimbingan belajar dengan pusat keramaian yang merupakan pusat perekonomian daerah setempat. Berikut gambaran umum lokasi:

Tabel 4.10

Klasifikasi Rentang Skor Lokasi Bimbingan Belajar Primagama Rentang skor Kategori Frekuensi Persentase

< 41 Kurang Strategis 11 73,33

(41-50) Cukup Strategis 3 20

> 50 Sangat Strategis 1 6,67

Jumlah 15 100

Data diolah dari hasil angket

Dari data tabel 4.10 diatas menunjukan bahwa posisi lokasi Bimbingan Belajar Primagama umumnya menempati posisi yang kurang strategis dimana sebesar 73,33% atau 11 Cabang Bimbingan Belajar Primagama berada dilokasi yang kurang strategis. 20% atau hanya tiga cabang Bimbingan Belajar Primagama yang berada dilokasi yang cukup strategis, kemudian hanya satu cabang Bimbingan Belajar Primagama saja yang berada dilokasi yang sangat strategis atau sebesar 6,67% yaitu Bimbingan Belajar Primagama Cabang MTC.

4.1.3.4 Biaya Promosi

Promosi merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan permintaan jasa bimbingan belajar. Oleh karena itu untuk meningkatkan permintaan jasa bimbingan belajar, maka setiap lembaga bimbingan belajar harus meningkatkan anggaran untuk biaya promosi. Mengenai promosi ini semua Bimbingan Belajar Primagama Se-bandung Raya mempunyai anggaran biaya promosi yang berbeda-beda. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel 4.11 berikut ini:

(14)

Tabel 4.11 Biaya Promosi

No Nama Cabang Biaya promosi pertahun

(Rupiah) 1 Batujajar 13.827.000,00 2 Padalarang 14.560.000,00 3 Cimahi 11.468.000,00 4 Antapani 19.485.000,00 5 Molis 24.879.000,00 6 Cibeureum 23.846.000,00 7 Kopo Margahayu 18.190.000,00 8 Kopo TKI 15.062.000,00 9 Belitung 31.570.000,00 10 Soreang 12.285.000,00 11 Pasir Kaliki 19.250.000,00 12 Baleendah 15.825.000,00 13 Ujung Berung 24.125.000,00 14 Martanegara 13.572.000,00 15 MTC 21.385.000,00

Sumber: data diolah dari hasil angket

Dilihat dari biaya promosi pertahun tertinggi adalah pada Bimbingan Belajar Primagama Cabang Belitung yaitu sebesar Rp. 31.570.000,00 dan biaya promosi pertahun terendah pada Bimbingan Belajar Primagama Cabang Cimahi yaitu sebesar Rp.11.468.000,00. Dari tabel 4.11 dapat dihitung rata-rata biaya promosi pertahun Bimbingan Belajar Primagama Se-Bandung Raya adalah sebesar Rp.17.857.400,00. Klasifikasi cabang bimbingan belajar yang diukur berdasarkan biaya promosi belajar dapat kita lihat pada tabel 4.12 berikut ini:

Tabel 4.12

Klasifikasi Biaya Promosi Bimbingan Belajar Primagama Biaya Promosi

(Rupiah) Kategori Frekuensi

Persentase (%) 11.468.000 – 18.168.666 Rendah 7 46,67 18.168.667 – 24.869.333 Sedang 6 40 24.869.334 – 31.570.000 Tinggi 2 13,33 Jumlah 15 100

(15)

Dari data pada tabel 4.12 diperoleh bahwa terdapat tujuh Cabang Bimbingan Belajar Primagama telah mengeluarkan biaya promosi yang termasuk pada kategori rendah dengan persentase sebesar 46,67%. Enam Cabang Bimbingan Belajar Primagama diantaranya telah mengeluarkan biaya promosi yang termasuk pada kategori sedang dengan persentase sebesar 40%. Dan dua Cabang Bimbingan Belajar Primagama lainnya telah mengeluarkan biaya promosi yang termasuk pada kategori rendah dengan persentase sebesar 13,33%. Dengan demikian maka kita dapat menyimpulkan bahwa masih cukup banyak Cabang- cabang Bimbingan Belajar Primagama yang belum menyadari akan pentingnya menetapkan biaya promosi yang cukup tinggi dalam rangka meningkatkan permintaan jasa bimbingan belajar.

4.1.3.5 Kualitas Hasil Bimbingan Belajar

Konsumen sebagai pembeli pasti berharap untuk mendapatkan jasa yang yang mempunyai kualitas yang baik. Kualitas yang penulis maksud pada penelitian ini adalah Outcome quality (kualitas hasil) yaitu berdasarkan jumlah siswa Bimbingan Belajar Primagama yang lulus pada uji Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) pada tahun 2007. Berikut disajikan pada tabel 4.13 mengenai jumlah siswa yang lulus SPMB pada Bimbingan Belajar Primagama Se-Bandung Raya:

(16)

Tabel 4.13

Data Jumlah Siswa Bimbingan Belajar Primagama yang Lulus Ujian SPMB pada Tahun Ajaran 2007-2008

No Nama Cabang Kualitas

1 Batujajar 6 2 Padalarang 9 3 Cimahi 13 4 Antapani 23 5 Molis 36 6 Cibeureum 19 7 Kopo Margahayu 17 8 Kopo TKI 10 9 Belitung 52 10 Soreang 9 11 Pasir Kaliki 14 12 Baleendah 10 13 Ujung Berung 28 14 Martanegara 12 15 MTC 26

Sumber: Dari Hasil Angket.

Pada tabel 4.13 dapat terlihat bahwa Bimbingan Belajar Primagama Cabang Belitung yang merupakan Primagama pusat di Bandung adalah Cabang Bimbingan Belajar Primagama yang memiliki jumlah siswa yang lulus SPMB terbanyak yaitu sebanyak 52 orang siswa. Sedangkan Bimbingan Belajar Primagama Cabang Batujajar mempunyai jumlah siswa yang lulus SPMB paling sedikit yaitu sebanyak 6 orang siswa. Klasifikasi Cabang Bimbingan Belajar Primagama yang diukur berdasarkan jumlah siswa yang lulus SPMB dapat kita lihat pada tabel 4.14:

(17)

Tabel 4.14

Klasifikasi Kualitas Hasil Bimbingan Belajar Berdasarkan Jumlah Siswa yang Lulus SPMB Jumlah Siswa yang

Lulus SPMB Kategori Frekuensi Persentase

6 - 21 Rendah 10 66,67

22 – 37 Sedang 4 26,66

38 – 53 Tinggi 1 6,67

Jumlah 15 100

Data diolah dari hasil angket

Dari data pada tabel 4.14 diperoleh bahwa kualitas bimbingan belajar yang termasuk pada kategori rendah berdasarkan jumlah siswa yang lulus SPMB terdapat sepuluh Cabang Bimbingan Belajar Primagama dengan persentase sebesar 66,67%. Kualitas bimbingan belajar yang termasuk pada kategori sedang berdasarkan jumlah siswa yang lulus SPMB terdapat empat Cabang Bimbingan Belajar Primagama dengan persentase sebesar 26,66%. Dan hanya satu Cabang Bimbingan Belajar Primagama saja yang memiliki kualitas pada kategori tinggi berdasarkan jumlah siswa yang lulus SPMB.

4.1.4 ANALISIS DATA DAN PENGUJIAN HIPOTESIS

4.1.4.1 Hubungan antara Harga Biaya Bimbingan Belajar (X1) dengan Permintaan Jasa Bimbingan Belajar (Y)

Dalam hal ini dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:

Ho : Tidak terdapat hubungan antara harga biaya bimbingan belajar dengan permintaaan jasa Bimbingan Belajar Primagama Se-bandung Raya.

Hi : Terdapat hubungan antara harga biaya bimbingan belajar dengan permintaaan jasa bimbingan belajar Primagama Se-Bandung Raya.

(18)

Berikut ini adalah tabel 4.15 yang merupakan tabel hasil pengolahan data melalui bantuan SPSS:

Tabel 4.15

Nilai Nonparametrik Correlations Harga Biaya Bimbingan Belajar dengan Permintaan Jasa Bimbingan Belajar

Sumber: Hasil pengolahan data menggunakan SPSS. 13.0

Berdasarkan hasil pengolahan data ternyata diperoleh nilai Kendall-tau sebesar 0.249. Namun demikian, hasil korelasi tersebut belum bisa digunakan untuk menafsir keeratan hubungan antara harga biaya bimbingan belajar dengan permintaan jasa bimbingan belajar, karena harus dilakukan uji signifikansi antara kedua variabel tersebut yang dilakukan melalui:

Dengan melihat angka probabilitas, dengan ketentuan : Probabilitas > 0.05 maka Ho diterima

Probabilitas < 0.05 maka Ho ditolak

• Keputusan didapat dengan melihat angka probabilitas:

Oleh karena angka pada bagian SIG (2-Tailed) adalah 0.198 yang adalah >0.05 (nonsignifikan) maka Ho diterima.

Hal ini berarti tidak terdapat hubungan antara harga biaya bimbingan belajar dengan permintaan jasa bimbingan belajar. Hal tersebut memang sesuai dengan kenyataan yang terjadi pada permintaan jasa bimbingan belajar

1.000 .249 . .198 15 15 .249 1.000 .198 . 15 15 Correlation Coefficient Sig. (2-tailed) N Correlation Coefficient Sig. (2-tailed) N Biaya Bimbel Permintaan Jasa Kendall's tau_b

Biaya Bimbel Permintaan Jasa

(19)

Primagama Se-bandung Raya. Hal ini dapat diidentifikasi dari adanya penurunan jumlah siswa pada sebagian cabang-cabang bimbingan belajar Primagama. Kemudian cabang-cabang tersebut menurunkan harga biaya bimbingan belajar dengan harapan para konsumen akan lebih tertarik dan jumlah siswa pun akan naik. Tetapi perkiraan tersebut salah ternyata jumlah siswa bimbingan belajar tetap tidak mengalami peningkatan karena tidak disertai dengan peningkatan promosi dan faktor-faktor lainnya lainnya.

4.1.4.2 Hubungan antara Lokasi (X2) dengan Permintaan Jasa Bimbingan Belajar

Dalam hal ini dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:

Ho : Tidak terdapat hubungan antara lokasi dengan permintaaan jasa Bimbingan Belajar Primagama Se-Bandung Raya.

Hi : Terdapat hubungan antara lokasi dengan permintaaan jasa Bimbingan Belajar Primagama Se-Bandung Raya.

Berikut ini adalah tabel 4.16 yang merupakan tabel hasil pengolahan data melalui bantuan SPSS:

(20)

Tabel 4.16

Nilai Nonparametrik Correlations

Lokasi dengan Permintaan Jasa Bimbingan Belajar

Berdasarkan hasil pengolahan data ternyata diperoleh nilai Kendall-tau sebesar 0,541. Namun demikian, hasil korelasi tersebut belum bisa digunakan untuk menafsir keeratan hubungan antara lokasi dengan permintaan jasa bimbingan belajar, karena harus dilakukan uji signifikansi antara kedua variabel tersebut yang dilakukan melalui:

Dengan melihat angka probabilitas, dengan ketentuan : Probabilitas > 0.05 maka Ho diterima

Probabilitas < 0.05 maka Ho ditolak

• Keputusan didapat dengan melihat angka probabilitas:

Oleh karena angka pada bagian SIG (2-Tailed) adalah 0.005 yang adalah < 0.05. (signifikan) maka Ho ditolak.

Hal ini berarti penempatan lokasi bimbingan belajar memiliki hubungan yang positif dengan permintaan jasa bimbingan belajar. Dengan demikian ada hubungan antara dua variabel dan derajat korelasinya sedang/cukup yaitu sebesar 0,541. Berarti semakin strategis lokasi bimbingan belajar maka permintaan jasa bimbingan belajar akan semakin meningkat, demikian sebaliknya jika semakin

1.000 .541 . .005 15 15 .541 1.000 .005 . 15 15 Correlation Coefficient Sig. (2-tailed) N Correlation Coefficient Sig. (2-tailed) N Lokasi Permintaan Jasa Kendall's tau_b Lokasi Permintaan Jasa

Sumber: Hasil pengolahan data menggunakan SPSS. 13.0 . .

(21)

tidak strategis lokasi bimbingan belajar maka permintaan jasa bimbingan belajar akan semakin menurun.

4.1.4.3 Hubungan antara Biaya Promosi (X3) dengan Permintaan Jasa Bimbingan Belajar (Y)

Dalam hal ini dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:

Ho : Tidak terdapat hubungan antara biaya promosi dengan permintaaan jasa Bimbingan Belajar Primagama Se-Bandung Raya.

Hi : Terdapat hubungan antara biaya promosi dengan permintaaan jasa Bimbingan Belajar Primagama Se-Bandung Raya.

Berikut ini adalah tabel 4.17 yang merupakan tabel hasil pengolahan data melalui bantuan SPSS:

Tabel 4.17

Nilai Nonparametrik Correlations

Biaya Promosi dengan Permintaan Jasa Bimbingan Belajar

Berdasarkan hasil pengolahan data ternyata diperoleh nilai Kendall-tau sebesar 0,867. Namun demikian, hasil korelasi tersebut belum bisa digunakan untuk menafsir keeratan hubungan antara biaya promosi dengan permintaan jasa bimbingan belajar, karena harus dilakukan uji signifikansi antara kedua variabel

1.000 .867 . .000 15 15 .867 1.000 .000 . 15 15 Correlation Coefficient Sig. (2-tailed) N Correlation Coefficient Sig. (2-tailed) N Biaya Promosi Permintaan Jasa Kendall's tau_b Biaya Promosi Permintaan Jasa

(22)

tersebut yang dilakukan melalui:Dengan melihat angka probabilitas, dengan ketentuan :

Probabilitas > 0.05 maka Ho diterima Probabilitas < 0.05 maka Ho ditolak

• Keputusan didapat dengan melihat angka probabilitas:

Oleh karena angka pada bagian SIG (2-Tailed) adalah 0.00 yang adalah < 0.05. maka Ho ditolak.

Hal ini berarti biaya promosi memiliki hubungan yang positif dengan permintaan jasa bimbingan belajar. Dengan demikian ada hubungan antara dua variabel dan derajat korelasinya kuat yaitu sebesar 0,867. Berarti semakin besar biaya promosi maka permintaan jasa bimbingan belajar akan semakin meningkat, demikian sebaliknya jika semakin kecil biaya promosi maka permintaan jasa bimbingan belajar akan semakin menurun.

4.1.4.4 Hubungan Kualitas Hasil Bimbingan Belajar (X4) dengan Permintaan Jasa Bimbingan Belajar (Y)

Dalam hal ini dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:

Ho : Tidak terdapat hubungan antara kualitas hasil bimbingan belajar dengan permintaaan jasa Bimbingan Belajar Primagama Se-Bandung Raya.

Hi : Terdapat hubungan antara kualitas hasil bimbingan belajar dengan permintaaan jasa Bimbingan Belajar Primagama Se-Bandung Raya.

(23)

Berikut ini adalah tabel 4.18 yang merupakan tabel hasil pengolahan data melalui bantuan SPSS:

Tabel 4.18

Nilai Nonparametrik Correlations

Kualitas Hasil Bimbingan Belajar dengan Permintaan Jasa Bimbingan Belajar

Berdasarkan hasil pengolahan data ternyata diperoleh nilai Kendall-tau sebesar 0,779. Namun demikian, hasil korelasi tersebut belum bisa digunakan untuk menafsir keeratan hubungan antara kualitas hasil bimbingan belajar dengan permintaan jasa bimbingan belajar, karena harus dilakukan uji signifikansi antara kedua variabel tersebut yang dilakukan melalui:Dengan melihat angka probabilitas, dengan ketentuan :

Dengan melihat angka probabilitas, dengan ketentuan : Probabilitas > 0.05 maka Ho diterima

Probabilitas < 0.05 maka Ho ditolak

• Keputusan didapat dengan melihat angka probabilitas:

Oleh karena angka pada bagian SIG (2-Tailed) adalah 0.000 yang adalah < 0.05. maka Ho ditolak. 1.000 .779 . .000 15 15 .779 1.000 .000 . 15 15 Correlation Coefficient Sig. (2-tailed) N Correlation Coefficient Sig. (2-tailed) N Kualitas Permintaan Jasa Kendall's tau_b

Kualitas Permintaan Jasa

(24)

Hal ini berarti kualitas hasil bimbingan belajar memiliki hubungan yang positif dengan permintaan jasa bimbingan belajar. Dengan demikian ada hubungan antara dua variabel dan derajat korelasinya kuat/tinggi yaitu sebesar 0,779. Berarti semakin tinggi kualitas hasil bimbingan belajar maka permintaan jasa bimbingan belajar akan semakin meningkat, demikian sebaliknya jika semakin rendah kualitas hasil bimbingan belajar maka permintaan jasa bimbingan belajar akan semakin menurun.

4.1.4.5 Analisis Konkordansi Kendall X1, X2, X3, X4, dan Y

Analisis konkordansi Kendal digunakan untuk mengukur hubungan antara beberapa varaiabel. Dengan analisis ini kita dapat menentukan asosiasi antara beberapa variabel yang diukur dalam ranking atau yang diubah bentuknya menjadi ranking. Berdasarkan hasil perhitungan (terlampir) diketahui bahwa nilai koefisien konkordansi kendall sebesar 0,673 dengan nilai signifikansi χ2hitung

sebesar 47,11 > χ2tabel 23,68 (pada α=0.05, dan db=N-1=15-1=14). Dengan

demikian kita dapat menyimpulkan bahwa variabel harga biaya bimbingan belajar, lokasi, biaya promosi, kualitas, dan permintaan jasa memiliki hubungan yang signifikan.

4.2 Pembahasan 4.2.1 Hasil Penelitian

Berikut ini akan dijelaskan pembahasan atas analisa data dan pengujian yang telah dilakukan:

(25)

4.2.1.1 Hubungan antara Harga Biaya Bimbingan Belajar dengan Permintaan Jasa Bimbingan Belajar

Hasil pengujian secara empiris menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara harga biaya bimbingan belajar dengan permintaan jasa bimbingan belajar.

Hal ini memang sesuai dengan kenyataan yang terjadi dilapangan. Dilihat dari besarnya biaya bimbingan belajar, Bimbingan Belajar Primagama Cabang Belitung yang menetapkan harga biaya bimbingan belajar yang paling mahal justru yang memiliki jumlah siswa paling banyak. Sedangkan Bimbingan Belajar Primagama Cabang Cimahi yang menetapkan harga biaya bimbingan paling murah justru yang menempati posisi jumlah siswa paling sedikit. Dari hasil penelitian langsung di lapangan penulis mendapatkan informasi bahwa diturunkannya harga biaya bimbingan belajar dibawah rata-rata biaya bimbingan belajar bertujuan agar menarik minat konsumen. Tetapi usaha dengan menurunkan biaya bimbingan belajar tidak memberikan hasil yang diharapkan, bahkan laba menjadi semakin menurun dari tahun sebelumnya dan berdampak pada penurunan biaya promosi yang membuat semakin menurunnya permintaan jasa bimbingan belajar.

4.2.1.2 Hubungan antara Lokasi dengan Permintaan Jasa Bimbingan Belajar

Lokasi merupakan salah satu faktor non ekonomis yang ikut berpengaruh terhadap permintaan jasa bimbingan belajar karena lokasi adalah tempat

(26)

perusahaan beroperasi atau tempat perusahaan melakukan kegiatan untuk menghasilkan jasa yang mementingkan segi ekonominya.

Hasil pengujian secara empiris menunjukkan bahwa lokasi memiliki hubungan yang positif dengan permintaan jasa bimbingan belajar. Derajat korelasi antara kedua variabel ini sedang/cukup. Hal ini menunjukkan bahwa semakin strategis lokasi lembaga bimbingan belajar maka permintaan jasa bimbingan belajar akan semakin besar dan sebaliknya semakin tidak strategis lokasi maka permintaan jasa bimbingan belajar semakin rendah.

Hal itu dapat dilihat pada setiap lokasi bimbingan belajar yang penulis datangi, bila lokasi bimbingan belajar tersebut berada di daerah yang strategis akan lebih disenangi oleh konsumen (siswa). Hal ini dikarenakan dapat mempermudah para siswa dalam melakukan aktivitasnya selama kegiatan bimbingan belajar. Dalam penelitian ini penulis menetapkan bahwa lokasi yang dianggap strategis harus memenuhi beberapa unsur seperti berikut:

a) Aksesbilitas yaitu mengenai masalah sarana menuju ke lokasi bimbingan belajar, diantaranya:

- Tersedianya jalur transportasi.

- Jumlah jalur transportasi.

- Jumlah sarana transportasi yang melintasi lokasi.

b) Fasilitas yaitu berbagai macam fasilitas umum yang tersedia dilokasi bimbingan belajar dan dapat menjadi penunjang daya tarik konsumen (siswa), diantaranya:

(27)

- ATM

- Rumah makan (dan lain-lain sejenisnya)

- Minimarket/ toko serba ada (dan lain-lain sejenisnya)

- Sekolah

- Perumahan penduduk

- Tempat parkir

c) Sentralitas yaitu mengenai letak posisi lokasi bimbingan belajar dilihat dari dekat atau jauh dengan pusat kota/ pusat perekonomian daerah tersebut.

Keadaan ini menunjukkan adanya kesesuaian dengan hipotesis yang diajukan yaitu terdapat hubungan yang positif antara lokasi dengan permintaan jasa Bimbingan Belajar Se-Bandung Raya.

4.2.1.3 Hubungan antara Biaya Promosi dengan Permintaan Jasa Bimbingan Belajar

Biaya promosi merupakan bagian dari biaya pemasaran, yang dikeluarkan oleh perusahaan dengan tujuan untuk meningkatkan volume penjualannya. Peranan dorongan promosi ini adalah membujuk calon konsumen (calon siswa) agar menyetujui (yang akhirnya diharapkan membeli) program-program bimbingan belajar yang telah disusun pihak bimbingan belajar misalnya; program bimbingan belajar jenjang SD, jenjang SMP, dan jenjang SMU. Bersumber dari hasil angket usaha promosi pada bimbingan belajar yang telah dilakukan antara lain diantaranya melalui pemasangan spanduk, penyebaran brosur, kerjasama dengan pihak sekolah, mengadakan event, pemberian hadiah atau door prize,

(28)

serta penawaran iklan. Pada Bimbingan belajar Primagama promosi yang paling banyak digunakan adalah dalam bentuk penyebaran brosur.

Hasil pengujian secara empiris menunjukkan bahwa biaya promosi memiliki hubungan yang positif dengan permintaan jasa bimbingan belajar. Derajat korelasi antara kedua variabel ini kuat/tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar biaya promosi yang dikeluarkan oleh Bimbingan Belajar Primagama maka permintaan jasa Bimbingan Belajar Primagama di Kota Bandung akan semakin meningkat dan sebaliknya semakin kecil biaya promosi maka permintaan jasa bimbingan belajar semakin rendah. Sikap baik atau sikap positif dapat dilihat dari persepsi anggota yang baik mengenai manfaat menjadi Koperasi, pelayanan yang diberikan oleh Koperasi dan kelengkapan organisasi. Jika anggota memiliki sikap positif maka anggota tersebut akan berpartisipasi terhadap Koperasi. Terdapat tiga komponen sikap anggota yaitu:

Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Vincent Gaspersz (1999:18) ”Jika anggaran untuk iklan dari suatu produk yang ditawarkan meningkat/ menurun, maka kuantitas permintaan barang atau jasa X akan meningkat/menurun”.

Jadi jelaslah bahwa anggaran yang dikeluarkan oleh perusahaan sangat berpengaruh terhadap kuantitas jasa yang diminta oleh konsumen oleh karena itu, agar proses dalam promosi ini berjalan dengan lancar, maka pihak perusahaan/ pengelola (pada bimbingan belajar) harus menganggarkan biaya yang cukup untuk kegiatan promosi. Hal tersebut dikarenakan bila biaya promosi besar maka kesempatan untuk melakukan kegiatan promosi akan lebih banyak dan beragam.

(29)

Terlebih lagi biaya promosi memiliki nilai derajat kolerasi yang paling besar dengan permintaan jasa Bimbingan Belajar Primagama Se-Bandung Raya dibandingkan variabel lain, seperti biaya bimbingan belajar, lokasi, dan kualitas.

4.2.1.4 Hubungan antara Kualitas Hasil Bimbingan Belajar dengan Permintaan Jasa Bimbingan Belajar

Pada penelitian ini yang dimaksud dengan kualitas hasil bimbingan belajar adalah outcome quality (kualitas hasil), merupakan kualitas yang dinilai dari hasil service yang telah diberikan oleh lembaga bimbingan belajar dan harus sesuai dengan hasil yang diinginkan oleh konsumen/siswa. Jika harapan mereka terpenuhi hal ini dapat diartikan bahwa lembaga pendidikan tersebut mempunyai kualitas yang baik. Jadi pelayanan itu harus dirancang untuk memberikan hasil yang dapat dihargai oleh konsumen yaitu siswanya. Rata-rata tujuan dan hasil yang ingin diperoleh siswa dengan mengikuti bimbingan belajar adalah menjadi siswa yang pintar, dapat lulus ujian nasional, lulus diterima di sekolah atau perguruan tinggi yang diinginkan, dan dapat lulus ujian seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB). Untuk mempermudah penilaian kualitas hasil bimbingan belajar dapat dinilai melalui banyaknya jumlah siswa yang lulus ujian seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB).

Hasil pengujian secara empiris menunjukkan bahwa kualitas hasil bimbingan belajar berhubungan positif dengan permintaan jasa bimbingan belajar. Derajat korelasi antara kedua variabel ini kuat/tinggi. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi kualitas hasil bimbingan belajar maka akan semakin tinggi permintaan jasa bimbingan belajar dan sebaliknya semakin rendah

(30)

tingkat kualitas hasil bimbingan belajar maka semakin rendah pula tingkat permintaan jasa bimbingan belajar.

Hal ini sesuai dengan pendapat menurut Tedy Herlambang (2002;37) bahwa permintaan diantaranya dipengaruhi oleh; harga, harga barang lain, kualitas dan disain, pengeluaran iklan, distribusi produk, pendapatan konsumen, dan jumlah konsumen. Dari pernyataan tersebut terlihat jelas bahwa kualitas ikut berperan dalam tingkat permintaan jasa.

Hal ini sesuai dengan hasil pengamatan dilapangan bahwa bila bimbingan belajar memiliki kualitas hasil bimbingan belajar yang baik, maka para calon konsumen akan lebih tertarik untuk masuk menjadi peserta didik di bimbingan belajar. Hal tersebut dikarenakan para konsumen mempunyai penilaian bahwa dengan mengikuti bimbingan belajar tersebut dapat mewujudkan hasil yang ingin mereka capai sabagai peserta didik bimbingan belajar.

4.2.2 Implikasi Pendidikan

Bimbingan Belajar Primagama sebagai lembaga pendidikan berusaha untuk ikut berpartisipasi dalam rangka membangun sumber daya manusia (SDM) yang kreatif dan inovatif. Hal ini sesuai dengan fungsi pendidikan nasional, yaitu menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003 bahwa:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan serta membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

(31)

Pendidikan memegang peranan yang sangat penting bagi kemajuan suatu negara, karena dengan adanya pendidikan, maka dapat meningkatkan kreatifitas, keterampilan serta wawasan bagi seorang individu sehingga akan meningkatkan lapangan kerja yang dibutuhkan dipasar tenaga kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat melalui peningkatan pendapatan yang diperoleh. Hal ini terjadi karena semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka akan semakin tinggi pula pendapatan yang akan diperolehnya.

Di Indonesia pendidikan diatur dalamUndang-Undang No.2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menurut UU tersebut pendidikan adalah “Usaha sadar untuk mempersiapkan peserta didik melalui pengajaran, bimbingan dan/atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang”. Usaha pendidikan ini bisa terjadi didalam lingkungan sekolah ataupun didalam lingkungan masyarakat. Dengan kata lain pendidikan itu pun dapat diartikan sebagai interaksi individu dengan lingkungannya, baik secara formal disekolah ataupun diluar sekolah (non formal) menuju kearah kedewasaan. Menurut Uman suherman (2002:2) makna kedewasaan sebagai tujuan pendidikan berisikan:

1. Peningkatan kesadaran, pemahaman terhadap diri sendiri dan lingkungannya.

2. Pengembangan kemampuan dan kualitas diri sebagai insan pribadi, insan sosial dan insan Tuhan.

3. Peningkatan kemampuan dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah dalam kehidupannya.

(32)

Adapun implikasi terhadap variabel yang diteliti, dalam penelitian ini menunjukan bahwa responden (kepala cabang bimbingan belajar) sudah memiliki latar belakang pendidikan yang cukup tinggi, hampir seluruhnya berstatus sarjana. Walaupun demikian pemilik lembaga bimbingan belajar dapat mengadakan pelatihan menejerial untuk para Kepala Cabang bimbingan belajar agar dapat mengelola bimbingan belajar dengan lebih baik sehingga diharapkan pula dapat meningkatkan permintaan jasa bimbingan belajar. Selain dari pada itu agar bimbingan belajar lebih berkualitas, pihak pemilik dan pengelola perlu mengadakan pelatihan khusus tambahan atau seminar mengenai cara atau strategi pengajaran yang inovatif, kreatif, dan efektif kepada para pengajar bimbingan belajar. Sehingga diharapkan adanya peningkatan kemampuan pengajar dalam mengajar. Bila hal tersebut terealisasikan maka lembaga bimbingan belajar dapat menghasilkan siswa-siswi yang lebih cerdas, kreatif dan inovatif (SDM yang berkualitas) sesuai dengan fungsi pendidikan nasional.

(33)

Figur

Tabel 4.11  Biaya Promosi

Tabel 4.11

Biaya Promosi p.14

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :