BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Kasus
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (price dan wilson, 2006)
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan, baik yang bersifat total maupun sebagian. (helmi, 2012)
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai sesuai jenis dan luasnya. Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan tulang rawan yang umumnya yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa. (lukman dan ningsih, nurna, 2009 ; 25 )
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya ( Bruner& Suddart, 2013 )
Fraktur tulang adalah patah pada tulang. Istilah yang digunakan untuk menjelaskan berbagai jenis fraktur tulangantara lain fraktur inkomplet, fraktur simple, dan fraktur compound. (Elizabet J. Crowin, Phd, MSN, CNP, 2008)
B. Etiologi Kasus
Menurut Sjamsuhidajat 2008, adalah
1. Trauma langsung
Berarti benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur di tempat itu. Misal benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radius dan ulna.
2. Trauma tidak langsung
Bila mana titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan
C. Tanda dan gejala
Menurut Mansjoer, Arif (2014) tanda dan gejala fraktur sebagai berikut:
1. Deformitas (perubahan struktur dan bentuk) disebabkan oleh ketergantungan fungsional otot pada kesetabilan otot.
2. Bengkak atau penumpukan cairan/darah karena kerusakan pembuluh darah, berasal dari proses vasodilatasi, eksudasi plasma dan adanya peningkatan leukosit pada jaringan di sekitar tulang.
3. Spasme otot karena tingkat kecacatan, kekuatan otot yang sering disebabkan karena tulang menekan otot.
4. Nyeri karena kerusakan jaringan dan perubahan struktur yang meningkat karena penekanan sisi-sisi fraktur dan pergerakan bagian fraktur.
6. Hilangnya atau berkurangnya fungsi normal karena ketidakstabilan tulang, nyeri atau spasme otot.
7. Pergerakan abnorrmal.
8. Krepitasi, sering terjadi karena pergerakan bagian fraktur sehingga menyebabkan kerusakan jaringan sekitarnya.
D. Anatomi Fisiologi
Gambar 2.1 Tulang Cruris
(Gambar : Struktur Anatomi Tulang Cruris)
memungkinkan terjadinya gerakan, menyimpan kalsium serta mineral lain di dalam matriks tulang yang dapat dimobilisasi bila terjadi difesiensi, dan tempat berlangsungnya hematopoiesis (produksi sel darah merah) di dalam sum-sum tulang. Rangka manusia memiliki 206 tulang byang tersusun atas garam-garam anorganik (terutama kalsium serta fosfat), yang terbenam di dalam kerangka serabut kolagen.(Jeniver P.Kowlak, Wiliam Welsh, Brenna Mayer, 2003)
Menurut Drs. H. Syaifuddin, AMK 2010 susunan tulang secara garis besar meliputi :
1. Tulang panjang.
Di tengahnya terdapat diafise dan kedua ujungnya disebut epifise. Ujung tulang dilapisi oleh tulang rawan yang memudahkan gerakan. Sendi rawan ini disebut kartilago artikulasio (rawan sendi). Permukaan luar tulang dibungkus oleh selaput tulang yang disebut periosteum yang sifatnya menyerupai jaringan ikat. Jika tulang dibelah secara memanjang, pada bagian diefise terdapat lubang yang meneyerupai pipa, dinding bagian dalam pipa dilapisi olehsubstansi yang padat atau rapat, dan bagian ujung tulang substansia makin tipis. Pada bagian epifise tulang ini terdapat banyak lubang kecil yang menyerupai bunga karang yang disebut spongeosa. Pada lubang bagian dalam diafise terdapat ruang yang disebut kavum medula yang berisi sumsum tulang kuning (medula osseum palva) dan pada lubang substansia spongeosa terdapat sumsum merah (medula osseum rubra) permukaan dalam substansia kompakta diliputioleh selaput tipis yang disebut endosteum.
Teriri dari dua lapisan yaitu substansi kompakta tubula eksterna (lapisan luar) dan substansia kompakta tubula interna (lapisan dalam). Diantara kedua lapisan ini terdapat substansia spongosa. Substansi kompakta dan spongosa termasuk jaringan penunjang, jaringan antar-sel (substansia interselularis) banyak mengandung kalisum (zat kapur), fosfat, kalsium karbonat, dan rangkaian organisasi sehingga sifatnya keras sekali. Pada anak-anak, zat-zat organis lebih banayak terdapat dalam tulang daripada orang tua sehingga tulangnya lebih lentur (bingkas). Dalam substansia kompakta terdapat saluran yang dikelilingi beberapa lapisan yang disebut lamella havers (keping tulang yang membentuk saluran), di bawah periosteum dan di sekitar endosteum terdapat lapisan tulang.
Fungsi tulang secara umum Menurut Drs. H. Syaifuddin, AMK 2010 :
1. Formasi kerangka: tulang membentuk rangka tubuh untuk menentukan bentuk dan ukuran tubuh. Tulang-tulang menyokong struktur tubuh yang lain.
2. formasi sendi: tulang-tualng membentuk persendian yang bergerak atau yang tidak bergerak bergantung pada kebutuhan fungsional. sendi yang bergerak menghasilkan bermacam-macam pergerakan.
3. perlekatan otot : Tulang- tulang menyediakan permukaan untuk tempat melekatnya otot, tendon, dan ligamentum.
5. menyokong berat badan : Memelihara sikap tegak tubuh manusia dan menahan gaya tarikan dan gaya tekanan yang terjadi pada tulang sehingga dapat menjadi kaku dan lentur.
6. Proteksi : tulang membentuk rongga yang mengandung dan melindungi struktur-struktur yang halus seperti otak, medula spinalis, jantung, paru, alat-alat dalam perut dan panggul.
7. Hemopoiesis : Sumsum tulang tempat pembentukan sel darah.
8. Fungsi imunologi : Limfosit “B” dan makrofag-makrofag dibentuk dalam
sistem retikuloendotel sumsum tulang. Limfosit B diubah dalam sel-sel plasma membentuk antibodi guna kekebalan kimiawi, sedangkan makrofag merupakan fagositotik.
9. Penyimpanan kalsium : Tulang mengandung 97% kalsium yang terdapat dalam tubuh baik dalam bentuk anorganik maupun garam-garam terutama kalsium fosfat. Sebagian besar fosfor disimpan dalam tulang dan kalsium dilepas dalam darah bila dibutuhkan.
Fungsi tulang secara khusus :
1. Sinus-sinus paranasalis dapat menimbulkan nada khusus pada suara.
3. Tulang-tulang kecil telinga dalam mengonduksi gelombang suara untuk fungsi pendengaran.
4. panggul wanita dikhususkan untuk memudahkan proses kelahiran bayi.
E. Patofisiologi
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu sendiri, dan jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi apakah itu lengkap atau tidak lengkap. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan pada fraktur tidak lengkap tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang. Klasifikasi Fraktur terbagi atas :
1. Sudut patah
2. Fraktur multipel pada satu tulang
Fraktur segmental adalah dua fraktur berdekatan pada satu tulang yang menyebabkan terpisahnya segmen sentral dari suplai darahnya. Fraktur semacam ini sulit ditangani. Biasanya satu ujung yang tidak mempunyai pembuluh darah menjadi sulit untuk menyembuh, dan keadaan ini mungkin memerlukan pengobatan secara bedah. Comminuted fracture adalah serpihan-serpihan atau terputusnya keutuhan jaringan dimana terdapat lebih dari dua fragmen tulang..
3. Fraktur Impaksi
4. Fraktur Patologik
Terjadi pada daerah-daerah tulang yang telah menjadi lemaholeh karena tumor atau proses patologik lainnya. Tulang seringkali menunjukan penurunan densitas. Penyebab sering dari fraktur-fraktur semacam ini adalah tumor baik primer atau tumor metastasis.
5. Fraktur beban lainnya
Fraktur beban terjadi pada orang-orang yang baru saja menambah tingkat aktivitas mereka baru diterima untuk berlatih dalam angkat bersenjataatau orang-orang yang akan memulai layihan lari. Pada saat awitan gejala timbul, radiogram mungkin tidak menunjukan adanya fraktur. Tetapi, biasanya setelah 2 minggu, timbul garis-garis radio-opak linear tegak lurus terhadap sumbu panjang tulang. Fraktur semacam ini akan sembuh dengan baik jika tulang itu di imobilisasi selama beberapa minggu. Tetapi jika terdiagnosisi, tulang-tulang itu dapat bergesr dari tempat asalnya dan tidak menyembuh dengan seharusnya. Jadi setiap pasien yang mengalami nyeri berat stelah meningkatkan aktivitas kerja tubuh, mungkin mengalami fraktur. Penderita semacam ini harus dianjurkan untuk memakai alat proteksi seperti tongkat, bidai, gips yang tepat. Setelah 2 minggu, harus dilakukan pemeriksaan raddiografi.
6. Fraktur grenstick
Fraktur-fraktur ini akan segera sembuh dan segera mengalami re-modeling ke bentuk dan fungsi normal
7. Fraktur avulsi
Fraktur avulsi memisahkan suatu fragmen tulang pada tempat insersi tendon ataupun ligamen. Biasanya tidak ada pengobatan yang spesifik yang diperlukan. Namun, bila di duga akan terjadi ketidakstabilan sendi atau hal-hal lain yang menyebabkan kecacatan, maka perlu dilakukan pembedahan untuk membuang atau meletakan kembali fragmen tulang tersebut.
8. Fraktur sendi
Catatan khusus harus dibuat untuk fraktur yang melibatkan sendi, terutama apabila geometri sendi terganggu secara bermakna. Jika tidak ditangani secara tepat, cedera semacam ini dapat menyebabkan osteoartritis pasca trauma yang progresif pada sendi yang cedera tersebut.
Tahapan penyembuhan tulang terdiri atas 5 yaitu : (Lukman dan, Nurna, 2009 ; 8)
1) Tahap inflamasi
Tahap inflamasi berlangsung dan akan hilang dengan berkurangnya pembengkakan dan nyeri.
2) Tahap poliferasi sel
Kira-kira 5 hari hematoma akan mengalami organisasi, terbentuknya benang-benang fibrin dalam jendalan darah, membentuk jaringan untuk revaskularisasi, dan invasi vibroblas dan osteoblas.
Hari ke 10 hingga sebelum minggu ke 7. Aktivitas osteoblas-osteoclas muncul, hingga terbentuk kalus.
4) Tahap penulangan kalus (osifikasi)
Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam dua sampai tiga minggu patah tulang. Mulai proses penulangan endokondral.
5) Tahap menjadi tulang dewasa (remodeling)
Tahap akhir perbaikan patah tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan reorgenasi tulang baru kesusunan struktural ssebelumnya.
Deskripsi Fraktur Angulasi dan oposisi dua istilah yang sering sering dipakai untuk menjelaskan fraktur tulang panjang. Derajat dan arah angulasi dari posisi normal suatu tulang panjang dapat menunjukan derajat keparahan fraktur dan tipe penatalaksanaan yang harus diberikan. Angulasi dijelaskan dengan memperkirakan derajat deviasi vragmen distal dari sumbu longitudinal normal, menunjukan arah apeks dari sudut tersebut. Oposisi menunjukan tingkat pergeseran fraktur dari permukaan asalnya dan dipakai untuk menjelaskan seberapakah proporsi satu fragmen tulang yang patah menyentuh permukaan fragmen tulang lainnya.
Fraktur terbuka dan tertutupTertutup (simple fracture) dan terbuka (compound fracture) adalah istilah yang sering dipakai untuk menjelaskan fraktur. Fraktur tertutup ada lah fraktur dimana kulit tidak ditembus oleh fragmen tulang, sehingga tempat fraktur tidak tercemar oleh lingkungan.
apakah terjadi kontaminasi oleh lingkungan pada tempat terjadinya fraktur tersebut. Fragmen fraktur dapat menembus kulit pada saat terjadi cidera, terkontaminasi, kemudian hampir kembali pada posisi semula. Pada keadaan semacam ini maka oprasi untuk irigasi dan debridementdan pemberian antibiotika secara intravena mungkin diperlukan untuk mencegah terjadinya osteomielitis. Pada umumnya oprasi irigasi dan debridement pada fraktur terbuka dilakukan dalam waktu 6 jam setelah terjadinya cedera untuk mengurangi kemungkinan infeksi.
Patah tulang biasanya terjadi karena benturan tubuh, jatuh atau trauma. Baik itu karena trauma langsung misalnya: tulang kaki terbentur bemper mobil, atau tidak langsung misalnya: seseorang yang jatuh dengan telapak tangan menyangga. Juga bisa karena trauma akibat tarikan otot misalnya: patah tulang patela dan olekranon, karena otot trisep dan bisep mendadak berkontraksi. (Doenges, 2000:629)
tulang baru mengalami remodeling untuk membentuk tulang sejati Carpenito (2000:50)
Insufisiensi pembuluh darah atau penekanan serabut saraf yang berkaitan dengan pembengkakan yg tidak ditangani dapat menurunkan asupan darah ke ekstremitas dan mengakibatkan kerusakan saraf perifer. Bila tidak terkontrol pembengkakan dapat mengakibatkan peningkatan tekanan jaringan, oklusi darah total dapat berakibat anoksia jaringanyg mengakibatkan rusaknya serabut saraf maupun jaringan otot. Komplikasi ini dinamakan sindrom kompartemen (Brunner & suddarth, 2002: 2387).
F. Pathwys
. Pathways
Gambar 2.2 Pathway
(Sumber : Sylvia Anderson Price, Ph. D., R.N. (1995))
Patologis, Osteoporosis
G. Penatalaksanaan Umum
Penatalaksanaan menurut Muttaqin (2008)
1. Penatalaksanaan Konservatif
a) Proteksi adalah proteksi fraktur terutama untuk mencegah trauma lebih lanjut dengan cara memberikan sling (mitela) pada anggota gerak atas atau tongkat pada anggota gerak bawah.
b) Imobilisasi dengan bidai eksterna. Imobilisasi pada fraktur dengan bidai eksterna hannya memberikan imobilisasi. Biasanya menggunakan gips atau macam-macam bidai dari plastik atau metal.
c) Reduksi tertutup dengan menggunakan manipulasi dan imobilisasi eksterna dengan menggunakan gips. Reduksi tertutup yang diartikan manipulasi dilakukan dengan pembiusan umum dan lokal.
d) Reduksi tertutup dengan traksi kontinu dan kounter traksi. Tindakan ini mempunyai tujuan utama , yaitu beberapa reduksi yang bertahap dan imobilisasi.
2. Penatalaksanaan pembedahan
Penatalaksanaan ini sangatlah penting diketahui oleh perawat, jika ada keputusan klien diindikasikan untuk menjalani pembedahan, perawat mulai berperan dalam asuhan keperawatan tersebut.
1) Open Reduction and Internal Fixation (ORIF) atau reduksi terbuka dengan fiksasi internal.Orif akan mengimobilisasi fraktur dengan melakukan pembedahan untuk memasukan paku, scrup atau pen ke dalam tempat fraktur untuk mengfiksasi bagian tulang pada fraktur secara bersamaan. Fiksasi internal sering digunakan untuk merawat fraktur pada tulang pinggul yang sering terjadi pada orang tua.
2) Open ReductionTerbuka dengan fiksasi eksternal. Tindakan ini merupakan pilihan bagi sebagian besar fraktur. Fiksasi eksternal dapat menggunakan konselosascrew atau dengan metilmetaklirat (akrilik gigi) atau fiksasi eksterna dengan jenis-jenis lain seperti gips.
8. Penatalaksanaan keperawatan / Fokus Intervensi
Penulis merujuk pada Nanda pada edisi ke 5 dan 6 untuk penerapan diagnosa lengkap NOC dan NIC
a. Diagnosa : Kerusakan Integritas Jaringan
NOC :
1. Pembentukan bekas luka 2. Eritema di kulit sekitarnya 3. Lebam di kulit sekitarnya 4. Peningkatan suhu kulit
NIC :
2. Perawatan tirah baring 3. Perawatan luka
4. Pengajaran perawatan luka 5. Kontrol infeksi
6. Monitor TTV
7. Terapi latihan mobilitas ( pergerakan sendi ) 8. Pengaturan posisi
9. penguranga perdarah luka
b. Diagnosa : Hambatan mobilitas fisik
NOC :
1. Keseimbangan
2. Koordinasi
3. Gerakan Otot
4. Gerakan sendi
NIC :
5. manajemen nyeri 6. Pengaturan Posisi 7. Manajemen pengobatan
c. Diagnosa : Konstipasi
NOC :
1. Toleransi terhadap makan
2. Nafsu makan
3. Frekuensi BAB
4. Bising Usus
NIC :
1. Monitor Cairan 2. Manajaemen nutrisi 3. Terapi latih ambulasi
4. Terapi latihan ( Mobilitas )Pergerakan sendi 5. Manajemen nyeri
6. Terapi relaksasi
d. Diagnosa : Ansietas
NOC :
1. Tidak dapat beristirahat
2. Distres
3. Perasaan Gelisah
4. Wajah Tegang
5. Rasa Cemas yang disampaikan secara lisan
NIC :
1. Bimbingan Antisipasif 2. Peningkatan Koping 3. Terapi relaksasi 4. Dukungan Emosional