PENGARUH VARIETAS DAN DOSIS KOMPOS YANG DIPERKAYA
Trichoderma harzianum TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL
TANAMAN CABAI MERAH (Capsicum annuum L.)
Christina Sepwanti1, Marai Rahmawati2, Elly Kesumawati31
Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh 2
Staff Pengajar Program Studi Agroteknologi Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh
ABSTRACT
A field experiment to evaluate the effect of variety and Trichoderma harzianum compost doses which riches on the growth and yield of red chilli was carried out at the Experimental Farm Agricultural Faculty Syiah Kuala University, from May 2013 through to January 2014. The experiment was arranged in a Randomized Block Factorial Design with two replications. The treatment one consisted of three variety i.e.: F-1 Paramas 201, Ferosa var CA. 237 and Kheng Aik, the treatment two consisted of four doses T. harzianum compost i.e.: control, 10 g per plant, 20 per plant and 30 g per plant. The result showed that the variety and T. harzianum compost doses increased growth and yield of red chilli, and the variety F-1 Paramas 201 was found to give the highest plant, long fruit, height per fruit, fruit number per plant and fruit weight per plant and dosage of 20 g per plant of T. harzianum compost was found to give the fruit number per plant, height per fruit and fruit weight per plant.
Key words : Capsicum annuum, red chilli, T. Harzianum, variety
1.
PENDAHULUAN
Cabai (Capsicum annuum L.) berasal dari Meksiko kemudian menyebar ke daerah Amerika Selatan dan Amerika Tengah serta ke Eropa. Cabai dikonsumsi dalam bentuk segar, kering atau olahan sebagai sayuran dan bumbu. Selain sebagai penyedap makanan, cabai juga banyak digunakan dalam industri farmasi. Cabai mengandung zat-zat gizi antara lain protein 1.0 g, lemak 0.3 g, karbohidrat 7.3 g, kalsium 29 mg, fosfor, besi, vitamin C 18 mg, vitamin B1 0.05 mg, dan senyawa alkaloid antara lain capsaicin (Rubatzky dan Yamaguchi, 1999).
Produksi cabai di Indonesia pada tahun 2008 sampai 2010 diperkirakan mencapai 1 311 juta ton (meningkat 26.14% dibandingkan tahun 2007). Daerah
sentra utama cabai keriting adalah
Bandung, Brebes, Rembang, Tuban,
Rejanglebong, Solok, Tanah Datar, Karo, Simalungun, Banyuasin dan Pagar Alam (Piay et al., 2010).
Hal yang sangat berpengaruh dalam proses budidaya cabai adalah penggunaan varietas. Varietas adalah suatu jenis atau
spesies tanaman yang memiliki karakteristik genotip tertentu seperti bentuk, pertumbuhan tanaman, daun, bunga dan biji yang dapat membedakan dengan jenis atau spesies tanaman lain dan apabila diperbanyak tidak mengalami perubahan (Rostini, 2011).
Terdapat tiga pengelompokan varietas cabai yaitu varietas hibrida, varietas unggul dan varietas lokal. Varietas hibrida merupakan kelompok tanaman cabai yang terbentuk dari individu-individu generasi pertama (F1) dari suatu kombinasi persilangan dan memiliki karakteristik potensi hasil lebih tinggi. Keunggulan cabai hibrida adalah tingkat produksinya tinggi, daya penyesuaiannya terhadap berbagai lingkungan tumbuh cukup luas, pertumbuhan tanaman seragam dan kualitas hasil sesuai keinginan konsumen. Contoh cabai varietas hibrida CTH 01, Kunthi 01, Sigma, Flash 03, Princess 06 dan Helix 036 (Rukmana, 1996).
Varietas unggul merupakan salah satu komponen teknologi yang penting untuk meningkatkan produksi dan pendapatan usaha tani cabai. Berbagai varietas unggul telah tersedia dan dapat
dipilih sesuai dengan kondisi wilayah dan keinginan pasar. Varietas cabai unggul memiliki banyak keunggulan dibandingkan varietas lain, seperti produksi tinggi, tahan hama dan penyakit, umur genjah dan tahan lama setelah dipanen. Potensi cabai varietas unggul dapat mencapai 25-30 ton ha-1. Varietas lokal adalah varietas yang dibudidayakan secara turun-temurun oleh petani serta menjadi milik masyarakat dan dikuasai negara (Rostini, 2011).
Salah satu hal untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah yaitu dengan penggunaan pupuk biologis tanah yaitu jamur T. harzianum. Penggunaan kompos T. harzianum merupakan alternatif dalam meningkatkan mikroba tanah yang akan mempercepat proses pengomposan, menjaga kesuburan tanah serta mikroba akan tetap hidup dan aktif di dalam kompos. Spesies T. harzianum disamping sebagai organisme pengurai juga berfungsi sebagai agen hayati dan stimulator pertumbuhan tanaman. T. harzianum memberikan pengaruh positif terhadap perakaran tanaman, pertumbuhan tanaman dan hasil produksi tanaman (Herlina dan Pramesti, 2004).
Tanaman pada tanah yang diberi T. harzianum mengalami peningkatan pertumbuhan yang dapat dilihat dari adanya peningkatan perkecambahan, pembungaan dan berat tanaman (Chang dan Baker, 1986). Penelitian Suwahyono (2003) menunjukkan bahwa T. harzianum mengeluarkan zat aktif semacam hormon auksin yang merangsang pembentukan akar lateral.
Penelitian Herlina dan Pramesti (2004) menunjukkan bahwa respon pertumbuhan tanaman cabai akibat pemberian T. harzianum dapat meningkatkan jumlah akar lateral, kandungan klorofil serta berat kering tanaman cabai. Pemberian T. harzianum 15 g kg-1 tanah dapat mengendalikan serangan Fusarium oxysporum f.sp capsici penyebab penyakit layu pada tanaman cabai merah (Vauzia dan Eldisa, 2005). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh varietas dan dosis kompos yang diperkaya T. harzianum serta interaksi kedua perlakuan terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah.
2.
BAHAN DAN METODELOGI
PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala, sejak Mei 2013 sampai dengan Januari 2014. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih cabai varietas hibrida (F-1 Paramas 201), varietas unggul (Ferosa var. CA 237) dan varietas lokal (Kheng Aik) masing-masing sebanyak 1 bungkus (10 g), tanah lempung berpasir (Lampiran 29) sebanyak 180 kg, sekam mentah 50 kg, pupuk kandang 180 kg, furadan 1 ons, pestisida Decis 2.5 EC, insektisida Pro, Fungisida Kuproxat dan kompos T. harzianum 0.98 kg diperoleh dari Dinas Perkebunan dan Kehutanan Ulee Kareng Banda Aceh.
Alat-alat yang digunakan meliputi pisau, ajir, gembor, jangka sorong, alat tulis, handsprayer, meteran, ayakan, tali plastik, timbangan analitik, polibag warna hitam untuk pembibitan ukuran 12 x 4.5 cm sebanyak 150 polibag dan polibag dengan ukuran volume 10 kg untuk penanaman sebanyak 72 polibag.
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 3 ulangan. Faktor jenis varietas cabai dengan 3 taraf yaitu: V1
= F-1 Paramas 201, V2 = Ferosa var. CA 237, V3 = Kheng Aik, Faktor dosis kompos yang diperkaya T. harzianum dengan 4 taraf yaitu: T0 = Tanpa Kompos, T1 = 10 g tanaman
-1
, T2 = 20 g per tanaman dan T3 = 30 g per tanaman. Faktor jenis varietas dan dosis kompos T. harzianum yang diuji memiliki 12 kombinasi perlakuan dan 3 ulangan. Secara keseluruhan menjadi 36 satuan percobaan. Setiap satuan percobaan terdapat 2 polibag tanaman.
Pembibitan dilakukan di dalam polibag berukuran 12 x 4,5 cm, tempat pembibitan diberi naungan atap plastik transparan dan atap menghadap ke timur. Media pembibitan terdiri dari campuran tanah halus + pupuk kandang + sekam perbandingan berdasarkan volume (1:1:1). Sebelum dibibitkan, benih direndam dalam air hangat (50 oC) selama tiga jam, untuk mempercepat perkecambahan dan
menghilangkan hama/penyakit yang terbawa benih. Benih yang tenggelam di dalam air yang akan digunakan untuk pembibitan, setelah itu benih ditiriskan dan dibungkus dengan kain yang basah dan pada hari ketiga benih yang sudah berkecambah ditanam dalam polibag pembibitan yang telah disiapkan. Setiap polibag pembibitan yang berisi tanah diberikan furadan 0.25 g agar benih tidak dimakan oleh semut. Setiap benih cabai dimasukkan ke dalam media sedalam 0.5 cm lalu ditutup dengan tanah yang halus. Setelah benih berkecambah (7-8 hari) naungan dibuka. Penyiraman dilakukan secukupnya tidak terlalu basah atau kering. Persemaian juga disiangi dengan cara mencabut gulma yang tumbuh. Bibit yang tampak terserang hama atau penyakit dibuang sampai bibit berumur 14 hari setelah semai.
Media penanaman dengan
menggunakan tanah lempung berpasir. Komposisi media tanam yang digunakan dalam penelitian ini adalah campuran media tanah + pupuk kandang + sekam (1:1:1). Media tanam dibersihkan dari rerumputan, kerikil dan sisa-sisa tanaman dengan menggunakan ayakan pasir. Pemberian kompos yang diperkaya T. harzianum dengan tanpa kompos, 10, 20 dan 30 g per tanaman untuk 72 polibag sesuai dengan perlakuan. Aplikasi T. Harzianum pada kompos dilakukan satu minggu sebelum tanam.
Pemindahan bibit ke polibag dilakukan setelah bibit berumur 21 hari setelah pembibitan atau memiliki 3-4 helai daun. Setiap polibag ditanam 1 bibit cabai sehingga terdapat 72 tanaman cabai. Penanaman dilakukan pada sore hari untuk menghindari bibit terkena matahari dan mampu beradaptasi dengan baik. Pemupukan NPK (16:16:16) dilakukan dengan konsentrasi 2 g L-1 air dengan dosis 100 ml per tanaman pada umur 15 HST, 200 ml per tanaman pada umur 30 HST dan 300 ml per tanaman pada umur 45 HST.
Pemeliharaan meliputi penyiraman dilakukan 2 kali dalam sehari yaitu pagi dan sore hari, apabila hujan tidak dilakukan penyiraman, penyulaman dilakukan untuk mengganti tanaman yang telah mati atau tidak tumbuh dengan baik. Penyulaman
dilakukan sebelum tanaman berumur 7 hari setelah tanam (HST). Bibit yang digunakan memiliki umur yang sama dengan tanaman yang sudah ditanam, pengajiran dilakukan dengan memasang bambu dengan panjang 120 cm. Jarak pemasangan ajir dengan tanaman 10 cm agar tidak terganggunya perakaran tanaman cabai merah. Pemasangan ajir dilakukan seminggu setelah penanaman agar tanaman cabai tidak roboh ketika tertiup angin dan pada saat berbuah lebat, perempelan yaitu membuang bagian-bagian tanaman cabai yang tidak bermanfaat seperti tunas air yang tumbuh pada ketiak daun atau dibawah titik percabangan dan bunga pertama yang muncul yang tumbuhnya diatas titik percabangan. Perempelan tunas dilakukan pada saat tanaman berumur 7-30 HST dan pengendalian Organisme
Pengganggu Tanaman (OPT),
membersihkan lahan dari gulma yang tumbuh di sekitar tanaman dengan mencabutnya.
Pengendalian hama digunakan Decis 2,5 EC pada umur 15 dan 22 HST dengan konsentrasi 2 ml L-1 air dan insektisida Pro 0,5 ml L-1 air pada umur 30 HST untuk mengendalikan hama thrips yang menyebabkan daun tanaman cabai menjadi keriting dan untuk mengendalikan busuk buah digunakan fungisida Kuproxat 0,5 ml L-1 air pada umur 60 dan 75 HST. Tanaman dipanen pertama kalinya pada umur 99 hari setelah tanam. Pemanenan dilakukan setiap 4 hari sekali sebanyak 5 kali panen. Kriteria buah yang siap dipanen ditandai dengan buahnya yang padat dan warna merah menyala, buah cabai siap dilakukan pemanenan pertama dan buah telah masak fisiologis jika 3/4 bagian buah telah berwarna merah.
Peubah yang diamati meliputi tinggi tanaman, diameter batang, panjang buah, diameter buah, jumlah buah per tanaman, berat per buah dan berat buah per tanaman. Hasil pengamatan dianalisis dengan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil pada taraf nyata 5%.
3.
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1.
Pengaruh
varietas
terhadap
pertumbuhan dan hasil tanaman
cabai merah
Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman umur 15, 30 dan 45 HST, panjang buah, berat per buah, jumlah buah per tanaman dan berat buah per tanaman, berpengaruh nyata terhadap diameter batang pada umur 15 dan 30 HST dapat dilihat pada Tabel 1.
Pertumbuhan dan hasil tanaman terbaik dijumpai pada perlakuan varietas F-1 Paramas 20F-1 karena varietas hibrida memiliki potensi pertumbuhan dan hasil secara maksimal, sehingga memberikan perbedaan yang jelas dengan perlakuan varietas lainnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Prajnanta (2004) bahwa varietas hibrida mempunyai sifat keunggulan dari varietas lokal. Keunggulan tersebut dapat tercermin pada sifat pembawanya yang dapat menghasilkan buah yang berproduksi tinggi, respon terhadap pemupukan dan resisten terhadap hama dan penyakit. Tabel 1. Pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah pada berbagai varietas
Parameter Varietas BNT 0,05 V1 V2 V3 Tinggi tanaman (cm) 15 HST 12,45 c 8,57 a 9,76 b 0,98 30 HST 23,11 b 15,71 a 15,64 a 3,58 45 HST 40,89 b 28,60 a 28,55 a 8,53 60 HST 47,50 36,89 39,16 - Diameter batang (cm) 15 HST 0,23 b 0,18 a 0,19 ab 0,02 30 HST 0,33 b 0,27 a 0,27 ab 0,02 45 HST 0,47 0,41 0,38 - 60 HST 0,60 0,55 0,55 -
Panjang cabai per buah (cm) 14,24 c 13,24 b 12,32 a 0,81
Diameter buah (cm) 0,88 0,80 0,84 -
Jumlah buah cabai per tanaman 32,96 b 30,96 b 25,08 a 2,55
Berat per buah (g) 5,25 b 4,90 b 4,26 a 0,49
Berat buah per tanaman 145,01 b 132,99 b 102,19 a 26,28
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama berbeda tidak nyata pada taraf peluang 5% (uji BNT 0,05). V1 : F-1 Paramas 201, V2 : Ferosa var. CA 237 ,V3 : Kheng Aik
Potensi varietas unggul pada saat di lapangan masih dipengaruhi oleh interaksi antara varietas dengan kondisi lingkungan pada saat penelitian. Bila pengelolaan lingkungan tumbuh tidak dilakukan dengan baik, potensi produksi yang tinggi dari varietas unggul tersebut tidak dapat tercapai (Adisarwanto, 2006).
Jenis varietas yang sesuai dengan keadaan lingkungan diharapkan tumbuh dengan baik dan memberikan hasil yang tinggi. Simatupang (1997) menyatakan bahwa tingginya produksi suatu varietas disebabkan oleh varietas tersebut mampu beradaptasi dengan lingkungan. Oleh karena itu, faktor lingkungan seperti iklim
dan tanah sangat berpengaruh terhadap produksi hasil tanaman. Pada perlakuan jenis varietas lokal pertumbuhan tanaman tidak maksimal, diduga karena varietas lokal kurang beradaptasi dan kurang sesuai dengan lingkungan tempat penelitian ini.
Pertumbuhan tanaman pada
perlakuan varietas lokal yang tidak maksimal juga dapat disebabkan karena tidak tahannya tanaman terhadap serangan penyakit. Tanaman yang terserang penyakit
Colletotrichum capsici biasanya menyerang
tanaman yang sudah dewasa, menyebabkan mati pucuk, pada daun dan batang yang terserang menyebabkan busuk kering. Buah yang terserang Colletotrichum capsici
menjadi busuk dengan warna seperti terekspos sinar matahari (terbakar) yang diikuti busuk basah berwarna hitam, jamur ini pada umumnya menyerang buah cabai
menjelang masak (buah berwarna
kemerahan) (Piay et al., 2010).
Harjadi (1991) menyatakan bahwa pada setiap varietas tanaman selalu terdapat perbedaan respon pada berbagai kondisi lingkungan tempat tumbuhnya. Hal ini memberikan pengaruh pada penampilan genotip dari setiap varietas terhadap lingkungan. Keadaan inilah yang membuat
perbedaan pertumbuhan dan produksi dari masing-masing varietas.
3.2.
Pengaruh dosis kompos yang
diperkaya T. harzianum terhadap
pertumbuhan dan hasil tanaman
cabai merah
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kompos yang diperkaya T. harzianum berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah buah per tanaman, berat per buah dan berat buah per tanaman dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah pada berbagai dosis kompos diperkaya T. harzianum
Parameter Dosis kompos yang diperkaya T. harzianum BNT 0,05 T0 T1 T2 T3 Tinggi tanaman 15 HST 9,83 10,24 10,18 10,81 - 30 HST 17,93 18,88 16,84 18,96 - 45 HST 33,05 34,59 28,25 34,82 - 60 HST 43,22 43,25 34,86 43,39 - Diameter batang 15 HST 0,20 0,21 0,19 0,20 - 30 HST 0,28 0,3 0,27 0,29 - 45 HST 0,40 0,42 0,39 0,44 - 60 HST 0,57 0,59 0,52 0,58 - Panjang buah 12,78 13,11 13,38 13,79 - Diameter buah 0,68 0,82 1,03 0,84 -
Jumlah buah per tanaman 22,39 a 26,27 b 35,05 c 34,94 c 2,20
Berat per buah 4,24 a 4,72 b 5,06 bc 5,21 c 0,42
Berat buah per tanaman 73,18 a 107,49 b 181,11 d 145,14 c 22,76 Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama berbeda tidak
nyata pada taraf peluang 5% (uji BNT 0,05) T0 : Kontrol
T1 : 10 g per tanaman T2 : 20 g per tanaman T3 : 30 g per tanaman Pemberian T. harzianum terbaik terdapat pada dosis 20 g per tanaman. Marianah (2013) menyatakan bahwa T. harzianum merupakan jamur tanah yang berperan dalam menguraikan bahan organik tanah, dimana bahan organik tanah ini mengandung beberapa komponen zat seperti N, P, S dan Mg dan unsur hara lain yang dibutuhkan tanaman dalam pertumbuhannya. T. harzianum berfungsi
untuk memecah bahan-bahan organik seperti N yang terdapat dalam senyawa kompeks, Nitrogen dimanfaatkan tanaman dalam merangsang pertumbuhan tanaman dan memberikan warna hijau pada daun.
Dari hasil penelitian bahwa tanaman
yang tidak diberi kompos yang diperkaya T. harzianum menghasilkan jumlah buah
per tanaman, berat per buah dan berat buah pertanaman cabai merah terendah. Hanafiah
(2005) menyatakan bahwa populasi yang tinggi dikarenakan adanya suplai makanan atau energi yang cukup ditambah temperatur yang sesuai, ketersediaan air yang cukup, dan kondisi ekologi lain yang mendukung bagi pertumbuhan dan hasil tanaman.
Kompos yang diperkaya oleh T. harzianum dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Poerwidodo (1993) menyatakan bahwa tanaman membutuhkan nitrogen, fosfor dan kalium dalam jumlah besar pada setiap tahap pertumbuhan tanaman khususnya pada saat pertumbuhan vegetatif seperti batang dan daun tanaman. T. harzianum juga mampu meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman terutama terhadap pertumbuhan akar yang lebih banyak (Howell, 2004 dalam Novandini, 2007).
Dosis kompos T. harzianum optimal pada 20 g per tanamansedangkan jika dosis ditingkatkan menjadi 30 g per tanaman menjadi menurun. Pemberian kompos dengan dosis terlalu tinggi atau berlebihan akan mengakibatkan ketidakseimbangan penyerapan unsur hara pada proses metabolisme tanaman karena jaringan tanaman membutuhkan kosentrasi unsur hara tertentu, jika kosentrasi ini melebihi kebutuhan tanaman maka akan menurunkan atau menekan pertumbuhan tanaman (Neliyati, 2005).
3.3. Pengaruh Interaksi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi yang nyata diantara kedua perlakuan tersebut terhadap semua parameter yang diamati. Hal ini berarti terdapat perbedaan respon tanaman cabai merah akibat perbedaan varietas tetapi tidak tergantung pada dosis kompos yang diperkaya T. Harzianum atau sebaliknya.
4.
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
Varietas berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 15, 30 dan 45 hari setelah tanam (HST), panjang buah, berat per buah, jumlah buah pertanaman dan berat buah per tanaman. Varietas berpengaruh nyata terhadap diameter batang tanaman pada umur 15
HST dan 30 HST. Pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah terbaik terdapat pada perlakuan varietas F-1 Paramas 201. Dosis kompos yang diperkaya T. harzianum berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah buah per tanaman, berat per buah dan berat buah per tanaman. Pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah terbaik terdapat pada perlakuan dosis kompos yang diperkaya T. harzianum 20 g per tanaman. Tidak terdapat interaksi yang nyata antara jenis varietas dengan dosis kompos yang diperkaya T. harzianum terhadap semua peubah yang diamati.
4.2.Saran
Petani dapat menggunakan kompos yang diperkaya T. harzianum dengan dosis 20 g per tanaman.
DAFTAR PUSTAKA
Adisarwanto, T. 2006. Budidaya Kedelai dengan Pemupukan yang Efektif dan Pengoptimalan Peran Bintil Akar. Penebar Swadaya, Jakarta, 107 hlm.
Chang, Y dan R. Baker. 1986. Increased growth of plants in the pvesence of the biological control agent Trichoderma harzianum. Plants DIS 70:145-148.
Hanafiah, K. A. 2005. Dasar-dasar Ilmu Tanah. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 360 hal.
Herlina, L. dan D. Pramesti. 2004. Penggunaan kompos aktif Trichoderma harzianum dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman cabai. Fakultas
Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.
Marianah, L. 2013. Analisa pemberian Trichoderma sp. terhadap pertumbuhan kedelai. Balai Pelatihan Pertanian Jambi. Neliyati. 2005. Pertumbuhan dan hasil
tanaman tomat pada beberapa dosis kompos sampah kota. Jurnal
Agronomi 10(2):93-97.
http://www.google.com. [27 Mei 2014].
Novandini, A. 2007. Eksudat akar sebagai Nutrisi Trichoderma harzianum
DT38 serta aplikasinya terhadap pertumbuhan tanaman tomat. Program Studi Biokimia, Fakultas MIPA. IPB. Bogor.
Piay, S. S., D. M. Yuwono., A. Tyasdjaja., K. B. Prayogo., F. R. P. Hantoro., A. S. Romdon. 2010. Budidaya dan pasca panen cabai merah (Capsicum annuum L.). Ungaran, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah, 68 hlm. Prajnanta, F. 2004. Pemeliharaan Tanaman
Budidaya Secara Intensif dan Kiat Sukses Beragribisnis. Penebar Swadaya. Jakarta. 163 hlm. Poerwidodo, M. 1993. Telaah Kesuburan
Tanah. Penerbit Angkasa, Bandung.
Rostini, N. 2011. 6 Jurus Bertanam Cabai Bebas Hama dan Penyakit.
AgroMedia Pustaka, Jakarta, 87 hlm.
Rubatzky, V dan M. Yamaguchi. 1999. Sayuran Dunia: Prinsip, Produksi, dan Gizi ed. Ke 2. Penerbit ITB, Bandung, 265 hlm.
Rukmana, R. 1996. Usaha Tani cabai Hibrida Sistem Mulsa Plastik. Kanisius. Yogyakarta, 82 hlm. Simatupang, S. 1997. Pengaruh pemupukan
boraks terhadap pertumbuhan dan mutu kubis. Jurnal Hortikultura 6 (5): 456-469.
Vauzia, M. C. dan R. Eldisa. 2005. Pengaruh Tricoderma harzianum terhadap serangan penyakit layu Fusarium oxysporum. Sp capsici pada tanaman cabai merah.
Jurusan Biologi FMIPA
Universitas Negeri Padang.