35
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini akan dijelaskan lebih terperinci tentang karakteristik responden, hasil uji deskriminasi aitem dan reliabilitas alat ukur, uji asumsi klasik, uji normalitas, uji hipotesis dan pembahasan hasil penelitian.
4.1. Deskripsi Responden Penelitian
Penelitian dilakukan di Kota Ambon dengan 154 karyawan dan 174 purna tugas PT PLN persero yang berada di 4 kecamatan berbeda (28 orang kecamatan Nusaniwe; 34 orang kecamatan Sirimau; 8 orang kecamatan Teluk Ambon; dan 20 orang kecamatan Teluk Ambon Baguala). Sedangkan, pengambilan sampel untuk karyawan menjelang pensiun ada 6 rayon kantor pelayanan (35 orang area Ambon; 13 orang area Ambon Kota; 14 orang area Baguala; 4 orang area Hitu; 8 orang area Nusaniwe; dan 2 orang area Tulehu) dengan total sampel berjumlah 168 orang. Namun, skala yang kembali kepada peneliti berjumlah 168 skala. Sisanya sebanyak 160 tidak kembali karena karyawan yang bersangkutan sibuk dengan urusan kantor dan memiliki tugas keluar kota, sedangkan beberapa purna tugas yang di datangi menurut data, ada yang sudah berpindah tempat tinggal, sudah meninggal, bahkan sakit, dan beberapa yang memang tidak memenuhi kriteria penulis sehingga tidak mengisi skala. Berikut daftar responden penelitian tersaji dalam Tabel 4.1.
36
Tabel 4.1.
Daftar Responden Purna Tugas dan Karyawan PT PLN Persero di Ambon
No Lokasi Tempat Tinggal dan Area Kerja
Jumlah Banyaknya + - 1 2 3 4 PURNA TUGAS Kecamatan Nusaniwe Kecamatan Sirimau Kecamatan Teluk Ambon
Kecamatan Teluk Ambon Baguala
62 75 9 28 28 34 8 20 34 42 1 8 Sub Total 174 90 84 5 6 7 8 9 10 KARYAWAN MENJELANG PURNA TUGAS K.P Area Ambon K.P Area Ambon Kota K.P Area Baguala K.P Area Hitu K.P Area Nusaniwe K.P Area Tulehu 81 16 17 15 17 8 35 13 14 4 8 4 46 3 3 11 9 4 Sub Total 154 78 76
Keterangan: + = Mengisi Skala; - = Tidak Mengisi Skala
Dari Tabel 4.1. terlihat bahwa purna tugas (84 orang) di Ambon lebih banyak yang tidak mengisi skala dibandingkan karyawan menjelang purna tugas PT PLN (76 orang).
4.2. Karakteristik Responden
4.2.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Status Kerja
Karakteristik Responden Purna Tugas dan Karyawan menjelang purna tugas PT PLN di Ambon disajikan pada Tabel 4.2 berikut ini:
37
Tabel 4.2
Presentase Responden Purna Tugas dan Karyawan Jelang Purna Tugas PT PLN Persero di Ambon Berdasarkan Status Kerja STATUS KERJA PURNA TUGAS 90 (53,6%) Usia (Tahun)
Masa Purna Tugas Frekuensi
56 1 tahun purna tugas 21 (23,3%) 57 2 tahun purna tugas 18 (20%) 58 3 tahun purna tugas 14 (15,5%) 59 4 tahun purna tugas 11 (12,2%) 60 5 tahun purna tugas 13 (14,4%) 62 7 tahun purna tugas 10 (11,1%) 65 10 tahun purna tugas 3 (3,3%)
Total 90 (100%)
STATUS KERJA
JELANG PURNA TUGAS 78 (46,4%) Usia
(Tahun)
Menjelang Purna Tugas Frekuensi
50 5 tahun menjelang purna tugas 18 (23,1%) 51 4 tahun menjelang purna tugas 23 (29,5%) 52 3 tahun menjelang purna tugas 15 (19,2%) 53 2 tahun menjelang purna tugas 12 (15,4%) 54 1 tahun menjelang purna tugas 10 (12,8%)
Total 78 (100%)
4.2.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Tempat Tinggal
Karakteristik Responden Purna Tugas PT PLN Persero di Ambon,
Berdasarkan tempat tinggal disajikan pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3
Presentase Responden Purna Tugas PT PLN Persero di Ambon Berdasarkan Tempat Tinggal
NO TEMPAT TINGGAL JUMLAH PRESENTASE
1 Kecamatan Nusaniwe 28 31,1%
2 Kecamatan Sirimau 34 37,8%
3 Kecamatan Teluk Ambon 8 8,9%
4 Kecamatan Teluk Ambon Baguala 20 22,2%
38
4.2.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Area Kantor Pelayanan
Karakteristik Responden Purna Tugas PT PLN Persero di Ambon, Berdasarkan tempat tinggal disajikan pada Tabel 4.4 berikut ini:
Tabel 4.4
Presentase Responden Karyawan PT PLN Persero di Ambon Berdasarkan Area Kantor Pelayanan
NO AREA KANTOR PELAYAN JUMLAH PRESENTASE
1 K.P Area Ambon 35 44,9%
2 K.P Area Ambon Kota 13 16,7%
3 K.P Area Baguala 14 18% 4 K.P Area Hitu 4 5,1% 5 K.P Area Nusaniwe 8 10,2% 6 K.P Area Tulehu 4 5,1% TOTAL 78 100% 4.3. Proses Penelitian
Tahap awal dalam penelitian ini adalah peneliti melakukan tryout skala Statisfaction With Life (SWLS), perilaku sehat dan dukungan sosial kepada total 55 karyawan dan purna tugas BUMN Ambon, untuk memeriksa aitem yang sudah ada agar dipahami sesuai keinginan penulis. Setelah tryout pada 1-13 Agustus 2018, dan hasilnya tidak ada aitem gugur pada skala Statisfaction With Life dengan reliabilitas 0,890; skala perilaku sehat reliabilitas 0,874 dengan 9 aitem yang gugur; dan 2 aitem gugur pada skala dukungan sosial dengan reliabilitas 0,757. Berbekal hasil tersebut penelitian dilanjutkan pada 90 purna tugas dan 78 karyawan PT PLN persero yang ada di Ambon dari tanggal 15 Agustus – 23 September 2018.
39
4.4. Validitas dan Reliabilitas Purna Tugas 4.4.1 Peubah Subjective Well-Being
Uji reliabilitas skala Subejective Well-Being menggunakan SPSS 16.0. Berdasarkan hasil perhitungan seleksi aitem pada proses uji coba didapatkan koefisien reabilitas sebesar 0,890 dengan 25 aitem dan jumlah subjek sebanyak 55 orang. Sesuai blue print maka penelitian pada 90 subjek dengan 25 aitem memiliki rentan validitas antara 0,375 sampai dengan 0,628 dengan reliabilitas 0,898, sehingga reliabilitas alat ukur Subjective Well-Being berada pada kategori dapat diandalkan.
4.4.2 Peubah Perilaku Sehat
Uji reliabilitas skala Perilaku Sehat menggunakan SPSS 16.0. Berdasarkan hasil perhitungan seleksi aitem pada proses uji coba didapatkan koefisien reabilitas sebesar 0,874 dengan 17 aitem dan jumlah subjek sebanyak 55 orang. Sesuai blue print maka penelitian pada 90 subjek dengan 26 aitem memiliki rentan validitas antara 0,441 sampai dengan 0,749 dengan reliabilitas 0,942, sehingga reliabilitas alat ukur perilaku sehat berada pada kategori dapat diandalkan.
4.4.3 Peubah Dukungan Sosial
Uji reliabilitas skala Dukungan Sosial menggunakan SPSS 16.0. Berdasarkan hasil perhitungan seleksi aitem pada proses uji coba didapatkan koefisien reabilitas sebesar 0,757 dengan 10 aitem dan jumlah subjek sebanyak 55 orang. Sesuai blue print maka penelitian pada 90 subjek dengan 12 aitem memiliki rentan validitas antara 0,443 sampai dengan 0,698 dengan reliabilitas 0,879 sehingga reliabilitas alat ukur dukungan sosial berada pada kategori dapat diandalkan.
40
4.5. Validitas dan Reliabilitas Jelang Purna Tugas 4.5.1 Peubah Subjective Well-Being
Uji reliabilitas skala Subjective Well-Being menggunakan SPSS 16.0. Berdasarkan hasil perhitungan seleksi aitem pada proses uji coba didapatkan koefisien reabilitas sebesar 0,890 dengan 25 aitem dan jumlah subjek sebanyak 55 orang. Sesuai blue print maka penelitian pada 78 subjek dengan 25 aitem memiliki rentan validitas antara 0,313 sampai dengan 0,759 dengan reliabilitas 0,904, sehingga reliabilitas alat ukur Subjective Well-Being berada pada kategori dapat diandalkan.
4.5.2 Peubah Perilaku Sehat
Uji reliabilitas skala Perilaku Sehat menggunakan SPSS 16.0. Berdasarkan hasil perhitungan seleksi aitem pada proses uji coba didapatkan koefisien reabilitas sebesar 0,874 dengan 17 aitem dan jumlah subjek sebanyak 55 orang. Sesuai blue print maka penelitian pada 78 subjek dengan 26 aitem memiliki rentan validitas antara 0,372 sampai dengan 0,761 dengan reliabilitas 0,915 sehingga reliabilitas alat ukur perilaku sehat berada pada kategori dapat diandalkan.
4.5.3 Peubah Dukungan Sosial
Uji reliabilitas skala Dukungan Sosial menggunakan SPSS 16.0. Berdasarkan hasil perhitungan seleksi aitem pada proses uji coba didapatkan koefisien reabilitas sebesar 0,757 dengan 10 aitem dan jumlah subjek sebanyak 55 orang. Sesuai blue print maka penelitian pada 78 subjek dengan 12 aitem memiliki rentan validitas antara 0,354 sampai dengan 0,744 dengan reliabilitas 0,859 sehingga reliabilitas alat ukur dukungan sosial berada pada kategori dapat diandalkan.
41
4.6. Identifikasi Skor
4.6.1 Skor Subjective Well-Being
Dalam mengukur kategori skor dan menentukan interval peubah Subjective Well-Being yang terdiri dari 25 aitem dengan skor empiris terendah 70 dan tertinggi 125, digunakan lima kategori yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah disajikan pada Tabel 4.5.
Tabel 4.5
Kategori Skor Subjective Well-Being (SWB) Lansia Purna Tugas & Jelang Purna Tugas
Kategori Interval Purna Tugas Jelang Purna Tugas
f % f % Sangat Tinggi 116 ≤ × ≤ 127 18 20 11 14,10 Tinggi 104 ≤ × ≤ 115 40 44.44 39 50 Sedang 92 ≤ × ≤ 103 29 32,22 22 28,20 Rendah 80 ≤ × ≤ 91 2 2,22 4 5,12 Sangat Rendah 68 ≤ × ≤ 79 1 1,11 2 2,56 Total 90 100 78 100 Rataan 106,40 104,69 SD 10,52 10,78 Minimal 70 70 Maksimal 125 125
Tabel 4.5 menunjukan bahwa skor rataan SWB purna tugas termasuk dalam kategori tinggi yaitu = 106,40 demikian juga halnya rataan jelang purna tugas =104,69.
4.6.2 Skor Perilaku Sehat
Dalam mengukur kategori skor dan menentukan interval peubah Perilaku Sehat yang terdiri dari 26 aitem dengan skor empiris terendah 73 dan tertinggi 130, digunakan lima kategori yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah pada Tabel 4.6.
42
Tabel 4.6
Kategori Skor Perilaku Sehat Lansia Purna Tugas & Jelang Purna Tugas
Kategori Interval Purna Tugas Jelang Purna Tugas
f % f % Sangat Tinggi 120 ≤ × ≤ 131 17 18,88 11 14,10 Tinggi 108 ≤ × ≤ 119 20 22,22 30 38,46 Sedang 96 ≤ × ≤ 107 24 26,66 21 26,92 Rendah 84 ≤ × ≤ 95 19 21,11 13 16,66 Sangat Rendah 72 ≤ × ≤ 83 10 11,11 3 3,84 Total 90 100 78 100 Rataan 104,32 106,65 SD 14,56 11,91 Minimal 73 78 Maksimal 130 130
Tabel 4.6. menunjukan bahwa skor rataan Perilaku Sehat lansia purna tugas maupun jelang purna tugas termasuk dalam kategori sedang dengan rataan masing-masing yaitu = 104,32 purna tugas dan rataan jelang purna tugas = 106,65.
4.6.3 Skor Dukungan Sosial
Dalam mengukur kategori skor dan menentukan interval peubah Dukungan Sosial yang terdiri dari 12 aitem dengan skor empiris terendah 35 dan tertinggi 60, digunakan lima kategori yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah disajikan dalam Tabel 4.7
Tabel 4.7
Kategori Skor Dukungan Sosial Lansia Purna Tugas & Jelang Purna Tugas
Kategori Interval Purna Tugas Jelang Purna Tugas
f % f % Sangat Tinggi 56 ≤ × ≤ 60 16 17,78 15 19,23 Tinggi 51 ≤ × ≤ 55 11 12,22 29 37,18 Sedang 46 ≤ × ≤ 50 23 25,56 23 29,48 Rendah 41 ≤ × ≤ 45 34 37,77 7 8,97 Sangat Rendah 36 ≤ × ≤ 40 6 6,66 4 5,13 Total 90 100 78 100 Rataan 47,94 50,72 SD 6,57 5,44 Minimal 35 36 Maksimal 60 60
43
Tabel 4.7 menunjukan bahwa skor rataan Dukungan Sosial lansia purna tugas = 47,94 termasuk dalam kategori sedang sebaliknya rerata jelang purna tugas = 50,72 termasuk kategori tinggi
4.7. Hasil Uji Asumsi Klasik 4.7.1 Uji Normalitas
Uji normalitas data dilakukan untuk melihat apakah suatu data berdistribusi normal atau tidak. Uji Normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov contoh tunggal. Syarat data penelitian dikatakan normal apabila p>0,05 disajikan pada Tabel 4.8.
Tabel 4.8
Uji Kolmogorov-Smirnov Contoh Tunggal Lansia Purna Tugas
Sisa Tak Terbakukan Purna Tugas Jelang Purna
Tugas
N 90 78
Parameter Normala Rerata 0,000 0,000
Simpangan Baku 8,153 6,811 Perbedaan Paling Ekstrim Absolut 0,068 0,098
Positif 0,056 0,098
Negatif 0,068 0,087
Kolmogorov-Smirnov Z 0,645 0,866
Asymp. Sig. (2-tailed) 0,800 0,442
a. Uji Sebaran adalah Normal
Berdasarkan Tabel 4.8 nampak bahwa nilai Kolmogrov-Smirnov Z peubah gayut purna tugas sebesar 0,645 dengan signifikansi 0,800 (p>0,05) sedangkan nilai Kolmogrov-Smirnov Z peubah gayut jelang purna tugas sebesar 0,866 dengan signifikansi 0,442 (p>0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal.
44
4.7.2 Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas dilakukan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar peubah tak gayut, sebab jika terjadi korelasi maka terdapat problem multikolinieritas. Pengujian akan dilakukan dengan melihat nilai toleransi (Tolerance) dan Variance Inflation Factor (VIF). Multikolinieritas terjadi jika nilai toleransi (tolerance ≥ 0,10) dan VIF ≤ 10 (Ghozali, 2009). Gambaran uji multikolinearitas peubah gayut lansia purna tugas disajikan dalam Tabel 4.9.
Tabel 4.9
Uji Multikolinieritas Lansia Purna Tugas Koefisiena Koefisien Tak Terbakukan Koefisien Terbakukan t sig Statistik Kolinieritas
Model B SE Beta Toleransi VIF
1 (Konstanta) PS DS 59,949 0,462 0,037 7,780 0,064 0,141 0,640 0,023 7,705 7,252 0,262 .000 .000 0,794 0,887 0,887 1,128 1,128
Keterangan : a = Peubah Gayut = Subjective Well-Being (SWB) ; SE = Kesalahan Baku Taksiran ; PS = Perilaku Sehat ; DS = Dukungan Sosial. Keterangan ini juga berlaku pada Tabel 4.10
Tabel 4.9 hasil uji multikolinearitas kedua peubah tak gayut pada lansia purna tugas memiliki toleransi 0,887>0,10 dan nilai VIF 1,128<10. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat masalah multikolinearitas dalam peubah yang digunakan. Sedangkan gambaran uji multikolinearitas peubah gayut jelang purna tugas disajikan dalam Tabel 4.10.
45
Tabel 4.10
Uji Multikolinieritas Karyawan Jelang Purna Tugas Koefisiena Koefisien Tak Terbakukan Koefisien Terbakukan t sig Statistik Kolinieritas
Model B SE Beta Toleransi VIF
1 (Konstanta) PS DS 37,915 0,711 0,178 9,460 0,067 0,146 0,785 0,090 4,008 10,618 -1,217 .000 .000 0,228 0,974 0,974 1,027 1,027
Tabel 4.10 hasil uji multikolinearitas kedua peubah tak gayut untuk karyawan jelang purna tugas memiliki toleransi 0,974>0,10 dan nilai VIF 1,027<10. Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat masalah multikolinearitas dalam peubah yang digunakan.
4.7.3 Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas digunakan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi terjadi ketidaksamaan ragam dari sisa suatu pengamatan ke pengamatan lain. Apabila ragam pengamatan sisa satu ke pengamatan yang lain tetap, maka terjadi masalah heteroskedastisitas yaitu homoskedastisitas. Dalam mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas, dapat dilihat dari diagram pencar (nilai prediksi gayut ZPRED dengan residual SRESID). Bila titik pada grafik diagram pencar menyebar secara acak di atas dan di bawah angka nol pada sumbu Y, maka dapat dikatakan terjadi masalah heteroskedastisitas.
Gambaran diagram pencar peubah gayut untuk purna tugas dalam Gambar 4.1
46
Peubah Tak Gayut : SWB
Regresi Sisa Terstudentisasi
Regresi Nilai Taksiran Terbakukan
Gambar 4.1. Diagram Pencar Purna Tugas
Berdasarkan Gambar 4.1 nampak bahwa titik-titik terpencar dengan tidak membentuk pola-pola tertentu di sekitar garis diagonal, namun titik-titik tersebut menyebar di atas dan di bawah angka 0 dari sumbu Y. Hal ini menunjukkan tidak terjadi heteroskedastisitas, sehingga model regresi dapat digunakan untuk memprediksi SWB purna tugas berdasarkan PS dan DS purna tugas.
Gambaran diagram pencar peubah gayut untuk karyawan jelang purna tugas dalam Gambar 4.2.
Peubah Tak Gayut : SWB
Regresi sisa Terstudentisasi
Regresi Nilai Taksiran Terbakukan
47
Berdasarkan Gambar 4.2 nampak bahwa titik-titik terpencar dengan tidak membentuk pola-pola tertentu di sekitar garis diagonal, namun titik-titik tersebut menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini menunjukkan tidak terjadi heteroskedastisitas, sehingga model regresi dapat digunakan untuk mempredikasi SWB karyawan jelang purna tugas berdasarkan PS dan DS karyawan.
4.7.4 Uji Linieritas
Uji linearitas dilakukan untuk menguji integritas hubungan linier antar peubah. Pengujian linearitas menggunakan SPSS.v 16.0 dan diketahui hasil analisis linearitas yang menggunakan Tabel Sidik Ragam.
Hasil uji linieritas SWB dengan PS lansia purna tugas disajikan pada Tabel 4.11
Tabel 4.11
Daftar Sidik Ragam Linearitas SWB dengan PS Lansia Purna Tugas
Db JK KT F hit Sig SWB* PS Antar Kelompok Dalam Kelompok (Gabungan) Linearitas Simpangan Linearitas (40) 1 39 49 (8165,900) 3936,468 4229,432 1691,700 3936,468 108,447 34,524 114,020 3,141 .000 .000 Total 89 9857,600
Keterangan : SWB = Subjective Well-Being; PS = Perilaku Sehat; JK = Jumlah Kuadrat;
Db = derajat bebas; KT = Kuadrat Tengah ; F hit = F hitung.
Keterangan ini juga berlaku untuk Tabel 4.14; 4.15; 4.16; 4.17 dan 4.18
Dari Tabel 4.11 dapat dilihat hasil nilai F linieritas sebesar 114,020 dengan signifikansi 0,000 (p<0,05) maka terdapat hubungan yang linier antara Subjective Well-Being dan Perilaku Sehat.
Hasil uji linieritas SWB dengan DS lansia purna tugas disajikan pada Tabel 4.12.
48
Tabel 4.12
Daftar Sidik Ragam Linearitas SWB dengan DS Lansia Purna Tugas
db JK KT F hit Sig SWB* DS Antar Kelompok Dalam Kelompok (Gabungan) Linearitas Simpangan Linearitas (23) 1 22 66 (2.232,611) 364,998 1.867,613 7.624,989 364,998 84,891 115,530 3,159 0,735 0.080 0.788 Total 89 9857,600
Dari Tabel 4.12 dapat dilihat nilai F linieritas sebesar 3,157 dengan signifikansi 0,080 (p>0,05) maka tidak terdapat hubungan yang linier antara Subjective Well-Being dan Dukungan Sosial.
Hasil uji linieritas SWB dengan PS jelang purna tugas disajikan pada Tabel 4.13
Tabel 4.13
Daftar Sidik Ragam Linearitas
SWB dengan PS Karyawan Jelang Purna Tugas
db JK KT F Sig SWB* PS Antar Kelompok Dalam Kelompok (Gabungan) Linearitas Simpangan Linearitas (33) 1 32 44 (7816,999) 5311,962 2505,037 1137,617 5311,962 78,282 25,855 205,453 3,028 0.000 0.000 Total 77 8954,615
Dari Tabel 4.13 dapat dilihat nilai F linearitas sebesar 205,453 dengan signifikasi 0,000 (p<0,05) maka terdapat hubungan linear antara Subjective Well-Being dan Perilaku Sehat.
Hasil uji linieritas SWB dengan DS jelang purna tugas disajikan pada Tabel 4.14.
49
Tabel 4.14
Daftar Sidik Ragam Linearitas
SWB dengan DS Karyawan Jelang Purna Tugas
db JK KT F Sig SWB* DS Antar Kelompok Dalam Kelompok (Gabungan) Linearitas Simpangan Linearitas (19) 1 18 58 (2200,870) 12,700 2188,170 6753,745 12,700 121,565 116,444 0,109 1,044 0.742 0.429 Total 77 8954,615
Dari Tabel 4.14 dapat dilihat dengan nilai F linearitas sebesar 0,109 dengan signifikansi 0,742 (p>0,05) maka Subjective Well-Being dan Dukungan Sosial tidak memiliki hubungan yang linier.
4.8. Uji Hipotesis
4.8.1 Uji Signifikan Simultan (Uji F)
Gambaran uji signifikan (Uji F) untuk peubah X1 (Perilaku Sehat)
dan X2 (Dukungan Sosial) terhadap Y (Subjective Well-Being) purna tugas
PT PLN persero di Kota Ambon disajikan dalam Tabel 4.15.
Tabel 4.15
Daftar Sidik Ragam Uji Signifikansi Regresi Berganda Nilai F Lansia Purna Tugas
Model Db JK KT F Sig. 1 Regresi 2 394,127 1970,563 28,977 0,000a Sisa 87 5916,473 68,005 Total 89 9857,600 a. Prediktor : (Konstanta), PS, DS b. Peubah Gayut : SWB
Berdasarkan Tabel 4.15 dapat disimpulkan bahwa secara simultan Perilaku Sehat dan Dukungan Sosial berpengaruh terhadap Subjective Well-Being purna tugas di Kota Ambon dengan Fhitung>Ftabel (28,977>3,10) dengan angka signifikan 0,000<0,05.
50
Gambaran uji signifikan (Uji F) untuk peubah X1 (Perilaku Sehat)
dan X2 (Dukungan Sosial) terhadap Y (Subjective Well-Being) karyawan
menjelang purna tugas PT PLN persero di Kota Ambon disajikan dalam Tabel 4.16
Tabel 4.16
Daftar Sidik Ragam Uji Signifikansi Regresi Berganda Nilai F Jelang Purna Tugas
Model db JK KT F Sig. 1 Regresi 2 5382,476 2691,238 56,505 0,000a Sisa 75 3572,139 47,629 Total 77 8954,615 a. Prediktor : (Konstanta), PS, DS b. Peubah Gayut : SWB
Berdasarkan Tabel 4.16 dapat disimpulkan bahwa secara simultan Perilaku Sehat dan Dukungan Sosial berpengaruh terhadap Subjective Well-Being karyawan jelang purna tugas di Ambon dengan Fhitung<Ftabel (56,505>3,12) dengan angka signifikan 0,000>0,05.
4.8.2 Uji Signifikansi Parsial (Uji t)
Hasil uji t Purna Tugas PT PLN persero di kota Ambon disajikan dalam Tabel 4.17
Tabel 4.17
Hasil Uji Signifikansi Koefisien Regresi Berganda Nilai t Purna Tugas
Model
Koefisien Tak Terbakukan Koefisien Terbakukan
B Kesalahan baku Beta t Sig.
1(Konstata) 59,949 7,780 7,705 0,000
PS 0,462 0,064 0,640 7,252 0,000
DS -0,037 0,141 -0.023 -0.262 0,794
a. Peubah gayut: SWB
Berdasarkan Tabel 4.17 PS dan DS menunjukan berpengaruh secara parsial terhadap SWB lansia purna tugas di Ambon. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai t hitung PS sebesar 7,252 dengan nilai signifikansi
51
0,000 (p<0,05) sedangkan, DS tidak berpengaruh parsial dengan SWB, dilihat dari nilai t hitung DS sebesar -0,262 dengan nilai signifikansi 0,794 (p>0,05).
Lebih lanjut berdasarkan Tabel 4.17 diatas maka dapat disusun persamaan regresi berganda sebagai berikut :
Y = 59,949 + 0,462X1
Interpretasi dari persamaan regresi berganda adalah sebagai berikut:
1. Konstanta sebesar 59,494 menyatakan bahwa jika pengubah tak gayut dalam hal ini (PS terhadap DS) dianggap konstan, maka nilai peubah SWB purna tugas di Ambon sebesar 59,494.
2. Koefisien regresi PS sebesar 0,462 dengan signifikansi 0,000 memberikan pemahaman bahwa setiap penambahan satu tingkatan PS terhadap SWB sebesar 0,462 satuan juga.
Hasil uji t Purna Tugas PT PLN persero di kota Ambon disajikan dalam Tabel 4.18
Tabel 4.18
Hasil Uji Signifikansi Koefisien Regresi Berganda Nilai t Jelang Purna Tugas
Model
Koefisien Tak Terbakukan Koefisien Terbakukan
B Kesalahan baku Beta t Sig.
1(Konstata) 37,915 9,460 4,008 0,000
PS 0,771 0,067 0,785 10,618 0,000
DS -0,178 0,146 -0.090 -1,217 0,228
a. Peubah gayut: SWB
Berdasarkan Tabel 4.18 PS dan DS menunjukan berpengaruh secara parsial terhadap SWB jelang purna tugas di Ambon. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai t hitung PS sebesar 10,618 dengan nilai signifikansi 0,000 (p<0,05) serta nilai t hitung DS sebesar -1,217 dengan nilai signifikansi 0,228 (p>0,05).
52
Lebih lanjut berdasarkan Tabel 4.18 diatas maka dapat disusun persamaan regresi linear sebagai berikut :
Y = 37,915 + 0,771X1
Interpretasi dari persamaan regresi adalah sebagai berikut:
1. Konstanta sebesar 37,915 menyatakan bahwa jika pengubah tak gayut dalam hal ini (PS terhadap DS) dianggap konstan, maka nilai peubah SWB purna tugas di Ambon sebesar 37,915.
2. Koefisien regresi PS sebesar 0,771 dengan signifikansi 0,000 memberikan pemahaman bahwa setiap penambahan satu tingkatan PS terhadap SWB sebesar 0,771 satuan juga.
4.8.3 Uji Koefisien Determinasi (R2)
Analisis koefisiensi determinasi (𝑅2) dilakukan untuk mengetahui seberapa besar sumbangan atau kontribusi Perilaku Sehat dan Dukungan Sosial terhadap Subjective Well-Being purna tugas.
Gambaran nilai koefisien determinasi (𝑅2) purna tugas dapat dilihat pada Tabel 4.19 dibawah ini;
Tabel 4.19
Hasil Koefisien Determinasi Ringkasan Model Purna Tugas
Model R R Kuadrat R Kuadrat
Terkorelasi Kesalahan Tafsiran 1 0,632 0,400 0,386 8,247 a. Prediktor : (Konstanta), PS, DS b. Peubah Gayut : SWB
Berdasarkan Tabel 4.19. diperoleh koefisien korelasi (R) sebesar 0,632, hal ini berarti ada hubungan antara Perilaku Sehat dan Dukungan Sosial terhadap Subjective Well-Being. Di samping itu, nilai koefisien determinasi (R2) adalah 0,400 yang berarti bahwa Perilaku Sehat dan Dukungan Sosial memberikan sumbangan sebesar 40% pada Subjective
53
Well-Being purna tugas di Ambon. Sedangkan sisanya sebesar 60% dipengaruhi oleh peubah lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Gambaran nilai koefisien determinasi (𝑅2) jelang purna tugas
dapat dilihat pada Tabel 4.20 dibawah ini;
Tabel 4.20
Hasil Koefisien Determinasi Ringkasan Model Jelang Purna Tugas
Model R R Kuadrat R Kuadrat
Terkorelasi Kesalahan Tafsiran 1 0,775 0,601 0,590 6,901 a. Prediktor : (Konstanta), PS, DS b. Peubah Gayut : SWB
Berdasarkan Tabel 4.20. diperoleh koefisien korelasi (R) sebesar 0,775, hal ini berarti ada hubungan antara Perilaku Sehat dan Dukungan Sosial terhadap Subjective Well-Being. Di samping itu, nilai koefisien determinasi (R2) adalah 0,601 yang berarti bahwa Perilaku Sehat dan
Dukungan Sosial memberikan sumbangan sebesar 60,1% pada Subjective Well-Being jelang purna tugas di Ambon. Sedangkan sisanya sebesar 39,9% dipengaruhi oleh peubah lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
4.8.4 Uji Korelasi
Uji korelasi digunakan untuk mengetahui hubungan antara peubah Subjective Well-Being dengan peubah tak gayut yaitu Perilaku Sehat dan Dukungan Sosial.
Gambaran uji signifikan (uji korelasi) PS dan DS terhadap SWB purna tugas di Kota Ambon disajikan dalam Tabel 4.21 berikut:
54
Tabel 4.21.
Hasil Uji Korelasi Simultan Lansia Purna Tugas di Kota Ambon SWB PS DS SWB Pearson Correlation 1 0,632** 0,192 Sig. (2-tailed) 0,000 0,069 N 90 90 90 PS Pearson Correlation 0,632** 1 0,337** Sig. (2-tailed) 0,000 0,001 N 90 90 90 DS Pearson Correlation 0,192 0,337** 1 Sig. (2-tailed) 0,069 0,001 N 90 90 90
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Berdasarkan Tabel 4.21. menunjukkan bahwa PS berhubungn positif dengan SWB purna tugas di Kota Ambon., Hal ini nampak dengan nilai SWB dengan PS sebesar 0,632.
Gambaran uji signifikan (uji korelasi) PS dan DS terhadap SWB karyawan jelang purna tugas di Kota Ambon disajikan dalam Tabel 2.22 berikut:
Tabel 4.22
Hasil Uji Korelasi Simultan Karyawan Jelang Purna Tugas di Kota Ambon SWB PS DS SWB Pearson Correlation 1 0,770** 0,038 Sig. (2-tailed) 0,000 0,743 N 78 78 78 PS Pearson Correlation 0,770** 1 0,163** Sig. (2-tailed) 0,000 0,155 N 78 78 78 DS Pearson Correlation 0,038 0,163** 1 Sig. (2-tailed) 0,743 0,155 N 78 78 78
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Berdasarkan Tabel 4.22 menunjukkan bahwa hanya PS berhubungan positif dengan SWB purna tugas di Kota Ambon. Hal ini
55
nampak dengan nilai SWB dengan PS sebesar 0,770 yang berarti terdapat hubungan positif antara PS dengan SWB.
4.9. Sumbangan Efektif
Sumbangan efektif digunakan untuk mengetahui seberapa besar sumbangan efektif dari masing-masing peubah tak gayut. Untuk mengetahui sumbangan masing-masing peubah tak gayut terhadap peubah gayut dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
SE (𝑋1)% = Nilai β × koefisien korelasi 𝑋1𝑌 × 100% SE (𝑋2)% = Nilai β × koefisien korelasi 𝑋2𝑌 × 100%
Nilai β yang digunakan dalam perhitungan adalah nilai yang sudah standardisasi untuk dapat membandingkan besarnya pengaruh dari peubah tak gayut terhadap peubah gayut.
Gambaran sumbangan efektif masing-masing dimensi PS dan DS terhadap SWB purna tugas disajikan dalam Tabel 4.23
Tabel 4.23
Sumbangan Efektif PS dan DS Terhadap SWB Purna Tugas
Peubah Sumbangan Efektif
Perilaku Sehat 40,44%
Dukungan Sosial -0,44%
Total 40%
Berdasarkan Tabel 4.23 menunjukan sumbangan efektif terbesar adalah Perilaku Sehat sebesar 40,44%.
56
Tabel 4.24
Aspek Sumbangan Efektif PS terhadap SWB Lansia Purna Tugas
Aspek Sumbangan Efektif
Perilaku Sehat Pencegahan Mengambil Resiko
17,96% 22%
Total 40%
Berdasarkan Tabel 4.24 menunjukan sumbangan efektif terbesar dari Perilaku Sehat adalah aspek Mengambil Resiko sebesar 22%.
Gambaran sumbangan efektif masing-masing dimensi PS terhadap SWB karyawan jelang purna tugas disajikan dalam Tabel 4.25
Tabel 4.25
Sumbangan Efektif PS dan DS Terhadap SWB Karyawan Jelang Purna Tugas
Aspek Sumbangan Efektif
Perilaku Sehat Dukungan Sosial
60,44% -0,34%
Total 60,1%
Berdasarkan Tabel 4.25 menunjukan sumbangan efektif terbesar adalah Perilaku Sehat sebesar 60,44%.
Tabel 4.26
Aspek Sumbangan Efektif PS Terhadap SWB Karyawan Jelang Purna Tugas
Peubah Sumbangan Efektif
Perilaku Sehat Pencegahan 44,74%
Mengambil Resiko 15,25%
57
Berdasarkan Tabel 4.26 menunjukan sumbangan efektif terbesar dari Perilaku Sehat adalah aspek Perilaku Sehat Pencegahan sebesar 44,74%.
4.10. Uji Beta t-test
Gambaran statistik deskriptif data Subjective Well-Being pada status kerja disajikan dalam Tabel 4.27
Tabel 4.27 Statistik Deskriptif
Data Subjective Well-Being pada Status Kerja
Statistik Grup
Status kerja N Rataan Simpangan Kesalahan Baku SWB 1 = Purna Tugas 2 = Menjelang purna Tugas 90 78 1,0640 1,0469 10,5242 10,7839 1,1093 1,2210
Gambaran hasil signifikansi Uji Perbedaan Data Subjective Well-Being disajikan dalam Tabel 4.28
Tabel 4.28
Hasil Signifikansi Uji Perbedaan Data Subjective Well-Being
Sampel Peubah Bebas Uji Levene Untuk Kesetaraan Ragam Uji t Untuk Kesetaraan Rataan F Sig. t db Sig. (2-tailed) SWB Diasumsikan Ragam Sama Diasumsikan Ragam Berbeda 0,005 0,944 1,037 1,035 166 161,424 0,301 0,302
Berdasarkan Tabel 4.28 terlihat bahwa hasil uji t contoh independen diperoleh nilai t=1,037 dengan signifikansi sebesar 0,301>0,05. Artinya tidak ada perbedaan signifikan Subjective Well-Being ditinjau dari status kerja.
58
4.11. Ringkasan Hasil Pengujian Hipotesis
Ringkasan Hasil Uji Hipotesis Karyawan Purna Tugas dan Jelang Purna Tugas dapat dilihat pada Tabel 4.29 berikut ini :
Tabel 4.29
Ringkasan Hasil Pengujian Hipotesis
Karyawan Purna Tugas Karyawan Jelang Purna Tugas
Y = 59,949 + 0,462 X1 Y = 37,915 + 0,771 X1 R = 0,632 R = 0,775 R2 = 0,400 R2 = 0,601 Sumbangan efektif Perilaku Sehat = 40,44% Sumbangan efektif Perilaku Sehat = 60,44%
Aspek Perilaku Sehat
Perilaku Sehat pencegahan = 17,96% Mengambil Resiko = 22%
Aspek Perilaku Sehat
Perilaku Sehat Pencegahan = 44,79% Mengambil Resiko = 15,25%
4.12. Pembahasan Hasil
Berdasarkan analisa data menunjukkan bahwa hanya Perilaku Sehat menjadi prediktor terhadap Subjective Well-Being (SWB) karyawan purna tugas maupun jelang purna tugas di Kota Ambon. Hasil penelitian sesuai dengan hasil Kustantya & Anwar (2013) bahwa menjalani Perilaku Sehat di masa tua menghasilkan hubungan yang signifikan dengan Subjective Well-Being (SWB). Sejalan dengan semakin menuanya dan lemahnya tubuh seiring dengan bertambahnya usia. Lebih lanjut menurut Maulina (2014) juga menyatakan bahwa Perilaku Sehat menjadi salah satu hal yang dapat membantu lansia untuk mencapai Subjective Well-Being (SWB).
59
Untuk itu menjadi penting mengetahui Perilaku Sehat yang baik, terutama pada karyawan BUMN PT PLN Persero, dengan kategorisasi yang sudah purna tugas dan jelang purna tugas. Berdasarkan hasil pengujian besarnya kontribusi Perilaku Sehat terhadap Subjective Well-Being adalah 40,44% pada karyawan purna tugas, dan 60,44% pada karyawan jelang purna tugas. Menurut Basar (2006) salah satu faktor yang berkontribusi terhadap Subjective Well-Being lansia adalah keinginan akan perilaku sehat yang muncul dari diri sendiri. Ditambahkan juga oleh Basar, bahwa lansia yang memiliki kecendrungan hidup sehat tinggi cenderung memiliki kepuasan hidup yang tinggi juga dan hal ini merupakan salah satu indikator dari tercapainya Subjective Well-Being (SWB) di hari tua.
Ada beberapa hal yang memungkinkan hal ini bisa terjadi, Kemungkinan pertama adalah sebagian besar karyawan purna tugas menganggap bahwa Perilaku Sehat merupakan hal penting dalam menjalani kehidupan di masa tua, sehingga Subjective Well-Being pada karyawan purna tugas maupun jelang purna tugas meningkat. Hal ini didukung dengan penelitian sebelumnya oleh Telaumbanua (2016) pada lansia di Kota Salatiga menunjukan Perilaku Sehat berpengaruh terhadap Subjective Well-Being seseorang. Kemungkinan kedua adalah pada saat akan memasuki masa purna tugas atau menjalani purna tugas, pencapaian akan Subjective Well-Being yang meningkat sejalan dengan kesadaran akan kesehatan di masa tua. Hal ini diperkuat dengan dimensi perilaku pencegahan dan pengambilan resiko yang dapat membuat purna tugas lebih memperhatikan setiap pola makan, aktivitas, serta olahraga sebagai bagian dari perilaku sehat. Senada dengan pernyataan Becker (dalam Notoatmodjo, 2014) menyatakan bahwa berperilaku sehat, secara langsung memelihara kesehatan, dan
60
terhindar dari penyakit menular dan tidak menular, serta membuat individu berpersaan tenang, senang, serta nyaman dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
Dari hasil analisis data juga didapatkan bahwa karyawan purna tugas memiliki kontribusi 17,96% pada dimensi perilaku sehat pencegahan dan pada dimensi mengambil resiko = 22%. Dimensi mengambil resiko 22% lebih besar terjadi pada karyawan purna tugas daripada jelang purna tugas dengan presentase 15,25%. Karyawan purna tugas baru menyadari pentingnya kesehatan ketika telah menjalani masa purna tugas, sehingga mulai mengurangi merokok, bahkan zat-zat berbahaya lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa karyawan purna tugas berperilaku sehat dengan berusaha meminimalisasi resiko sakit sehingga memungkinkan mereka dapat beraktivitas sesuai keinginan mereka tanpa keluhan sakit, sehingga mereka akan lebih menikmati kehidupannya. Dalam penelitian ini juga karyawan purna tugas masih aktif dalam reuni angkatan atau kegiatan yang terkait dengan kesehatan di lingkungan tempat tinggalnya maupun dengan lingkungan lama tempat bekerja. Purna tugas yang merasa mandiri dan dapat melakukan apa yang diinginkan, tidak cemas jika hanya sendirian di rumah karena ditinggal oleh anggota keluarga lain pada siang hari. Keyakinan akan diri sendiri yang sehat dan tidak sakit membuat purna tugas dapat menemukan kepuasan hidup yang merupakan salah satu faktor untuk mencapai Subjective Well-Being yang tinggi.
Sebaliknya pada karyawan jelang purna tugas, kontribusi dimensi perilaku sehat pencegahan = 44,74% dan dimensi mengambil resiko = 15,25%. Kebalikan dari purna tugas, perilaku sehat pencegahan lebih banyak 44,74% dilakukan pada karyawan jelang purna tugas. Beberapa
61
karyawan jelang purna sudah mulai mengurangi lembur di kantor, memilih untuk pulang kantor tepat waktu, memperhatikan jam olahraga, bahkan turut serta dalam kegiatan olahraga yang diadakan kantor atau program Masa Persiapan Pensiun (MPP). Contoh-contoh perilaku diatas dapat membantu memelihara kondisi dan kesehatan karyawan, sebelum karyawan jelang purna tugas tidak bekerja lagi. Perilaku pencegahan membuat individu merasa lebih siap secara pribadi untuk menyesuaikan diri dan kesehatannya agar jika sudah tidak bekerja lagi, mereka sudah terbiasa hidup dengan lebih sehat. Berbeda dengan presentase rendah = 17,96% pada karyawan purna tugas disebabkan oleh karyawan purna tugas merasa bahwa rasa sakit memang seharusnya dialami oleh tubuh yang menua, sehingga perilaku pencegahan menjadi rendah. Kemudian pencegahan atau cara mengatasi masih bersifat tradisional, yaitu jika sakit masih diobati dengan minuman herbal atau pengobatan tradisional jadi bagi purna tugas tidak menjadi masalah jika suatu waktu jatuh sakit. Hal ini sejalan dengan pandangan Hurlock (2001) menjelaskan perbedaan latar belakang subjek seperti halnya budaya dan sikap lingkungan sosialnya dapat mempengaruhi persepsi subjek terhadap penyakit serta akibat yang ditimbulkannya.
Perilaku sehat yang terpenuhi adalah dengan memperhatikan perilaku sehat pencegahan & mengambil resiko untuk menghindari hal-hal berbahaya bagi tubuh. Membiasakan diri melakukan perilaku sehat membuat individu memiliki kesehatan yang jauh lebih baik, daripada yang tidak terbiasa melakukan perilaku sehat. Dengan berperilaku sehat, maka lansia cenderung merasa lebih tenang, senang, nyaman, tidak sakit dan lebih bersemangat dalam melakukan aktivitas setiap harinya (Basar, 2006). Hal ini membantu perasaan-perasaan positif
62
yang hadir lebih banyak daripada perasaan negatif. Afektif yang senang, bahagia, bersemangat ini dapat membantu karyawan purna tugas merasa puas dengan hidup mereka. Kepuasan dan afek positif inilah membuat purna tugas dan karyawan jelang purna tugas memiliki tingkat Subjective Well-Being yang tinggi.
Berdasarkan keseluruhan hasil penelitian dapat dikatakan bahwa Perilaku Sehat terbukti menjadi prediktor Subjective Well-Being (SWB). Hal ini berarti bahwa setiap individu membutuhkan kesadaran berperilaku Sehat untuk mencapai Subjective Well-Being yang tinggi.