ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

111  Download (0)

Teks penuh

(1)

PENGARUH KETIMPANGAN PENDAPATAN, PENDAPATAN

PER KAPITA, PENGELUARAN PEMERINTAH DI BIDANG

KESEHATAN TERHADAP SEKTOR KESEHATAN DI

INDONESIA TAHUN 2005-2013

DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN

PERSYARATAN

DALAM MEMPEROLEH GELAR SARJANA EKONOMI

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI

PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN

DIAJUKAN OLEH

USWATUN HASANAH

NIM : 041211131017

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS AIRLANGGA

SURABAYA

2016

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kepada Alah S.W.T. karena berkat limpahan Rahman, Taufiq dan Hidayah-Nya yang tiada henti penulis sampai saat ini masih diberikan kenikmatan yang tiada ternilai sehingga penulis dapat menyelesaikanskripsi yang berjudul “Pengaruh Ketimpangan Pendapatan, Pendapatan Per Kapita, Pengeluaran Pemerintah Di Bidang Kesehatan terhadap Sektor Kesehatan di Indonesia tahun 2005-2013”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Departemen Ilmu Ekonnomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga. Tak lupa penulis juga ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis dari awal kuliah sampai dengan pengerjaan skripsi ini, antara lain:

1. Orang tua tercinta, Sudarman dan Sundari, yang senantiasa memberikan doa restu, dukungan dan fasilitas serta menjadi motivasi terbesar penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

2. H. Ahmadi. selaku dosen pembimbing penulis skripsi ini. Terimakasih atas waktu, bimbingan, nasehat dan doanya mulai dari awal pembuatan praproposal hingga skripsi ini dapat terselesaikan.

3. Prof. Dr. Hj. Dian Agustia, SE.,M.Si.,Ak. Selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga

4. Dr. Muryani, M.Si.,MEMD. selaku Ketua Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga

(7)

5. Rossanto Dwi Handoyo, SE.,M.Si.,Ph.D. Selaku Sekertaris Departemen Universitas Airlangga.

6. Ni Made Sukartini, SE.,M.Si.,MIDEC. Selaku Ketua Program Studi S1 Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga

7. Seluruh Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis , terutama Dosen di Departemen Ilmu Ekonomi Program Studi Ekonomi Pembangunan atas Ilmu Pengetahuan yang sudah diberikan kepada penulis

8. Kakak penulis, Agus Mulyono, Rahmawati, dan Abdul Halim terimakasih atas doa dan dukungan yang diberikan kepada penulis

9. Ponakan penulis, Java Azka Farras Halim yang selalu memberikan motivasi kepada penulis dan selalu membuat keceriaan dirumah.

10. Muhammad Dzikrillah, my partner in my life. Terima kasih atas support dan doanya selama ini.

11. Sahabat penulis, Para Calon Menantu Idaman Puput Meyliya Sari, Hidayanti, Ainun Sekar, dan Lucy yang selalu yang selalu setia menemani penulis dari awal kuliah. Terimakasih atas doa dan dukungan kalian selama penulisan skripsi ini

12. Sahabat penulis, Ruri teman seperjuangan dr bangku sekolah SMA yang setia menemani saat galau skripsi. Terimakasih atas doa dan motivasi yang selalu berikan saat mengerjakan skripsi

13. Sahabat penulis, Mami Tiara, Mami Etty dan Ifana terimakasih yang selalu memberikan doa dan dukungan kalian selama penulisan skripsi ini.

(8)

14. Sahabat penulis, Nanda, Sasti, Preh, Rahman, dan Jefry terimakasih atas doa dan motivasi yang selalu berikan saat mengerjakan skripsi

15. Para temen kerja, Sari, Azizah, Ulfa, dll yang selalu menemani saat kerja dan selalu memberikan keceriaan. Terimakasih atas doa dan dukunngan yang selalu kalian berikan.

16. Teman-teman angkatan 2012 yang tidak bisa disebutkan satu persatu 17. Mbak Winda dan Mas Tomo selaku staff Administrasi Departemen Ilmu

Ekonomi. Terimakasih atas Perhatian san keramahan pelayanannya. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak memiliki kekurangan. Penulis hanya dapat mengucapkan maaf apabila terdapat kesalahan yang disengaja. Penulis mengharapkan kritik dan saran demi penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat untuk menambah wawasan para pembaca.

(9)

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS AIRLANGGA

ABSTRAK

SKRIPSI SARJANA EKONOMI

NAMA : USWATUN HASANAH

NIM : 041211131017

TAHUN PENYUSUNAN : 2016

JUDUL : PENGARUH KETIMPANGAN PENDAPATAN, PENDAPATAN PER KAPITA, DAN PENGELUARAN PEMERINTAH DI BIDANG KESEHATAN TERHADAP SEKTOR KESEHATAN DI INDONESIA TAHUN 2005-2013

ISI : Sumber daya manusia merupakan salah satu modal penting dalam pembangunan suatu bangsa. Salah satu aspek penting yang mempengaruhi sumber daya manusia adalah tingkat kesehatan masyarakat., dimana status kesehatan memiliki peran penting. Sektor kesehatan seseorang merupakan hasil interaksi berbagai faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal terdiri dari faktor fisik dan psikis, sedangkan faktor eksternal terdiri dari faktor ekonomi, pendidikan, lingkungan dan budaya.

Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh ketimpangan pendapatan yang diukur dengan Gini Rasio terhadap status kesehatan yang diukur dengan Angka Harapan Hidup menurut provinsi di Indonesia tahun 2005-2013. Pada penelitian ini menggunakan persamaan regresi data panel dengan pendekatan Random Effect Model. Hasil penelitian ini adalah ketimpangan pendapatan, pendapatan per kapita, dan pengeluaran Pemerintah di bidang kesehatan berpengaruh secara simultan terhadap sektor kesehatan di Indonesia tahun 2005-2013 dan secara parsial, ketimpangan pendapatan, pendapatan per kapita, dan pengeluaran Pemerintah di bidang kesehatan berpengaruh terhadap sektor kesehatan di Indonesia tahun 2005-2013.

KATA KUNCI : sektor kesehatan, ketimpangan pendapatan, pendapatan per kapita, pengeluaran Pemerintah di bidang kesehatan.

(10)

DEPARTEMENT OF NATIONAL EDUCATION

FACULTY OF ECONOMICS AND BUSINESS AIRLANGGA UNIVERSITY ABSTRACT

BACHELOR THESIS

NAME : USWATUN HASANAH

NIM : 041211131017

ACADEMIC YEAR : 2016

THEME : IMPACT OF INEQUALITY INCOME, INCOME PER CAPITA, GOVERMENT EXPENDITURE IN THE HEALTH SECTOR OF HEALTH SECTOR IN INDONESIA FROM 2005 TO 2013.

CONTAIN : Human resource is one of capital importance in the development of a nation. One of the important aspects that affect human resources are a public health level, where health sector has an important role. The status of one's health is the result of the interaction of various factors, namely internal and external factors. Internal factors consist of physical and psychological factors, while external factors consist of economic factors, education, environment and culture.

This research aims to examine and analyze the effect of income inequality as measured by the Gini Ratio against the health sector as measured by life expectancy in Indonesia in 2005-2013. On the research of regression equation using data panels with Random Effects Model approach. The results of this research is the inequality of income, per capita income, and Government expenditure in the health effect simultaneously against health sector in Indonesia in 2005-2013 and is partial, inequality of income, per capita income, and Government expenditure in the health sector impact health sector in Indonesia in 2005-2013.

KEYWORDS : Health sector, income inequality, income per capita, Government expenditure in health sector

(11)

DAFTAR ISI

LEMBAR SIAP DIUJIKAN ... i

LEMBAR PERSETUJUAN... ii

PERNYATAAN ORISINALITAS SKRIPSI ... iii

KATA PENGANTAR ... v

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv BAB 1 PENDAHULUAN ... 1 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Rumusan Masalah ... 7 1.3. Tujuan Penelitian ... 8 1.4. Manfaat Penelitian ... 8 1.5. Sistematika Skripsi... 8

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 10

2.1. Landasan Teori ... 10

2.1.1. Definisi Kesehatan ... 10

2.1.2. Teori Indeks Pembangunan Manusia ... 10

2.1.1.1. Definisi Indeks Pembangunan Manusia ... 11

2.1.1.2. Definisi Angka Harapan Hidup ... 13

2.1.1.3 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan ... 14

2.1.3. Teori Distribusi Pendapatan ... 16

2.1.3.1. Definisi Distribusi Pendapatan ... 16

2.1.3.2. Ukuran Ketimpangan Pendapatan ... 17

2.1.3.3. Kurva Lorenz ... 17

2.1.3.4. Koefisien Gini ... 18 2.1.3.5. Hubungan Ketimpangan Pendapatan terhadap Sektor Kesehatan 18

(12)

2.1.4. Pendapatan Per Kapita ... 20

2.1.4.1. Hubungan Pendapatan Per Kapita terhadap Sektor Kesehatan 23 2.1.5. Teori Pengeluaran Pemerintah ... 24

2.1.5.1. . Pengeluaran Pemerintah Secara Makro ... 25

2.1.5.2. Model Pembangunan tentang Pengembangan Pengeluaran Pemerintah ... 27

2.1.5.3. Teori Musgrave dan Rostow ... 27

2.1.5.4. Pengeluaran Pemerintah di bidang Kesehatan dan Pendidikan 28 2.1.5.5. Hubungan Pengeluaran Pemerintah di Bidang Kesehatan terhadap Sektor Kesehatan ... 29

2.2. Penelitian Terdahulu ... 31

2.3. Hipotesis dan Model Analisis ... 34

2.3.1. Hipotesis ... 34

2.3.2. Model Analisis ... 34

2.4. Kerangka Berpikir ... 35

BAB 3 METODE PENELITIAN... 37

3.1. Pendekatan Penelitian ... 37

3.2. Identifikasi Variabel ... 37

3.3. Definisi Operasional ... 38

3.4. Jenis dan Sumber Data ... 39

3.5. Prosedur Pengumpulan Data ... 40

3.6. Teknik Analisis ... 40

3.6.1. Metode Regresi Data Panel ... 41

3.6.2. Pengolahan Data Panel ... 43

3.6.2.1. Penentuan Model Panel : F Restricted ... 44

3.6.2.2. Penentuan Model Panel : Lagrange Multiplier ... 45

3.6.2.3. Penentuan Model Panel : Hausman Test ... 45

3.6.3. Pengujian Statisitik ... 46

3.6.3.1. Uji t-statistik ... 46

3.6.3.2. Uji F-statistik ... 47

(13)

3.6.4. Pengujian Asumsi Klasik ... 48

3.6.4.1. Uji Multikolinearitas ... 48

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN... 49

4.1. Gambaran Umum Subjek dan Objek Penelitian ... 49

4.1.1.Perkembangan Kesehatan di Indonesia ... 49

4.1.2. Perkembangan Ketimpangan Pendapatan di Indonesia ... 51

4.1.3. Perkembangan Pendapatan Per Kapita di Indonesia ... 54

4.1.4. Perkembangan Pengeluaran Pemerintah di Bidang Kesehatan ... 55

4.2. Deskripsi Hasil Penelitian ... 57

4.3. Analisis Model dan Pembuktian Hipotesis ... 58

4.3.1. Pemilihan Model Analisis dalam Estimasi Metode Data Panel ... 58

4.4. Pembuktian Hipotesis ... 60

4.5. Pembahasan ... 61

4.5.1. Identifikasi Hasil Estimasi Regresi Data Panel ... 61

4.5.2. Uji F Statistik ... 62

4.5.3. Uji T Statistik ... 62

4.5.4. Pengaruh Kerimpangan Pendapatan terhadap Sektor Kesehatan di Indonesia ... 63

4.5.5. Pengaruh Pendapatan Per Kapita terhadap Sektor Kesehatan di Indonesia ... 65

4.5.6. Pengaruh Pengeluaran Pemerintah di Bidang Kesehatan terhadap Sektor Kesehatan di Indonesia ... 67

4.5.7. Koefisien Determnasi (R2) ... 68

4.5.7. Uji Multikolinearitas ... 69

4.6. Keterbatasan Penelitian ... 70

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN ... 71

5.1. Simpulan ... 71

5.2. Saran ... 71

DAFTAR PUSTAKA ... xvi

(14)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Tabel Angka Harapan Hidup Menurut Jenis Kelamin di Indonesia tahun

2010-2013 ...2

Tabel 1.2 Tabel Indeks Gini Indonesia tahun 2005-2013 ... ..4

Tabel 2.1 Nilai Maksimum dan Minimum Komponen Indeks Pembangunan Manusia ... ... 13

Tabel 4.1 Rata-rata Angka Harapan Hidup Tertinggi dan Terendah di Indonesia tahun 2005-2013...50

Tabel 4.2 Rata-rata Indek Gini Tertinggi dan Terendah di Indonesia tahun 2005-2013...52

Tabel 4.3 Hasil Uji F- Restricted ... 58

Tabel 4.4 Hasil Uji Lagrange Multiplier ... 59

Tabel 4.5 Uji Hausman ... 59

Tabel 4.6 Hasil Estimasi Random Effect Model ... 60

Tabel 4.7 Hasil Uji F Statistik ... 62

Tabel 4.8 Hasil Uji T Statistik... 63

Tabel 4.9 Nilai R - Square... 69

(15)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Bagan Derajat Kesehatan ... 15

Gambar 2.2 Kurva U Terbalik ... 16

Gambar 2.3 Kurva Lorenz... 17

Gambar 2.4 Kerangka Konseptual ... 36

Gambar 4.1 Perkembangan PDB Per Kapita di Indonesia Tahun 2005-2013 ... 55

Gambar 4.2 Total Anggaran Pemerintah Daerah Sektor Kesehatan Atas Dasar Harga Konstan 2000 di Indonesia Tahun 2004-2013 (Rupiah) ... 56

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Hasil regresi dengan menggunakan Pooled Least Square (PLS) Lampiran 2: Hasil regresi dengan menggunakan Fixed Effect Model (FEM) Lampiran 3: Hasil regresi dengan menggunakan Random Effect Model (REM) Lampiran 4: Hasil Uji Hausman

Lampiran 5: Hasil Uji Multikolinearitas

Lampiran 6 : Tabel yang akan diuji Kesehatan (Health), Ketimpangan Pendapatan (Gini Rasio), Pendapatan Perkapita dan Pengeluaran Pemerintah di Bidang Kesehatan di 33 Provinsi di Indonesia tahun 2005 hingga 2013

Lampiran 7: Tabel Rata-Rata Tingkat Harapan Hidup di 33 Provinsi Indonesia Tahun 2005 hingga 2013 (Dalam Tahun)

Lampiran 8: Tabel Rata-Rata Indeks Gini di 33 Provinsi Indonesia Tahun 2005 hingga 2013

Lampiran 9 : Tabel Rata-Rata Pendapatan Per Kapita di 33 Provinsi Indonesia Tahun 2005 hingga 2013 (Dalam ribu rupiah)

Lampiran 10 : Tabel Rata-Rata Pengeluaran Pemerintah di Bidang Kesehatan di 33 Provinsi Indonesia Tahun 2005 hingga 2013 (Dalam Ribu Rupiah) Lampiran 11 : Hasil Uji Lagrange Multiplier

(17)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu modal penting dalam pembangunan suatu bangsa, sehingga mutu dari sumber daya manusia perlu mendapatkan perhatian khusus. Salah satu aspek penting yang mempengaruhi sumber daya manusia adalah sektor kesehatan (Pradono & Suliystyowati, 2013). Aspek pembangunan manusia ini dapat dilihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Indeks Pembangunan Manusia ini merupakan salah satu alternatif pengukuran pembangunan selain menggunakan Gross Domestic Bruto. Nilai IPM suatu negara atau wilayah menunjukkan seberapa jauh negara atau wilayah itu telah mencapai sasaran yang ditentukan yaitu angka harapan hidup, pendidikan dasar bagi semua lapisan masyarakat (tanpa kecuali), dan tingkat pengeluaran dan konsumsi yang telah mencapai standar hidup yang layak (Mantra, 2003:111).

Tingkat kesehatan dalam Indeks Pembangunan Manusia dalam hal ini diukur dengan angka harapan hidup. Angka harapan hidup pada suatu usia adalah sebagai rata-rata jumlah umur atau tahun kehidupan yang masih dijalani seseorang dan telah berhasil mencapai umur tertentu dengan tepat dalam situasi mortlitas yang berlaku dilingkungan masyarakatnya (Mantra, 2003:111). Angka harapan hidup dapat diukur menurut jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan yang merupakan indikator dari Indeks Pembangunan Gender. Indeks pembangunan gender memiliki tiga indikator yaitu indikator panjang umur dan sehat, indikator pengetahuan , dan indikator kehidupan yang layak pada laki-laki dan perempuan (UNDP, 2010).

(18)

Tabel 1.1

Angka Harapan Hidup Indonesia Menurut Jenis Kelamin di Indonesia Tahun 2010-2013

TAHUN ANGKA HARAPAN HIDUP

LAKI-LAKI PEREMPUAN

2010 67.89 71.83

2011 68.09 72.02

2012 68.29 72.22

2013 68.49 72.41

Sumber : Badan Pusat Statistiki, BPS

Berdasarkan Tabel 1.1 dapat dilihat bahwa angka harapan hidup menurut jenis kelamin di Indonesia pada tahun 2010 - 2014 menunjukkan bahwa Indonesia berada dalam kondisi yang mengalami tren positif setiap tahunnya. Angka harapan hidup laki-laki pada tahun 2010 hingga 2014 mengalami peningkatan. Pada tahun 2010 angka harapan hidup laki-laki di Indonesia sebesar 67,89 tahun kemudian meningkat pada tahun 2011 sebesar 68,09 tahun. Pada tahun 2012 dan 2013 angka harapan hidup laki-laki di Indonesia sebesar 68,29 dan 68,49 tahun. Kemudian angka harapan hidup perempuan di Indonesia menunjukkan lebih panjang dibandingkan dengan angka harapan hidup laki-laki di Indonesia. Angka harapan hidup perempuan di Indonesia pada tahun 2010 sebesar 71.83 tahun dan pada tahun 2011 meningkat kembali sebesar 72.02 tahun. Pada tahun 2012 angka harapan hidup perempuan di Indonesia meningkat sebesar 72,22 tahun dan pada tahun 2013 angka harapan hidup perempuan di Indonesia sebesar 72,41 tahun. Berdasarkan hasil uraian tabel diatas maka dapat disimpulkan bahwa terjadi kesenjangan pada angka harapan hidup menurut jenis kelamin di Indonesia. Hal ini pemerintah perlu melakukan upaya peningkatan pada sektor kesehatan secara lebih merata agar tidak

(19)

terjadi ketimpangan dalam angka harapan hidup menurut jenis kelamin di Indonesia.

Pendapatan perkapita, distribusi pendapatan dan ketimpangan pendapatan merupakan determinan ekonomi dari kesehatan. Ketimpangan pendapatan menunjukkan perbedaan antara desil terkaya dan termiskin di masyarakat yang dipengaruhi oleh struktural ekonomi dan kondisi sosial di masyarakat. Menurut penelitian Elnaz dan Javad (2014) Ketimpangan pendapatan dan kesehatan memiliki hubungan satu sama lain, dimana ketika terjadi penurunan ketimpangan pendapatan akan menyebabkan peningkatan pendapatan untuk individu atau rumah tangga, sehingga mampu meningkatkan kesehatan masyarakat yang memberikan konteks yang penting untuk pembangunan ekonomi di suatu negara. (Elnaz dan Javad, 2014).

Menurut Todaro dan Smith (2000), Distribusi pendapatan dibedakan menjadi dua ukuran pokok yaitu; distribusi ukuran adalah besar atau kecilnya bagian pendapatan yang diterima masing-masing orang dan distribusi fungsional atau distribusi kepemilikan faktor-faktor produksi. Berdasarkan dua definisi maka dapat ditarik kesimpulan bahwa distribusi pendapatan mencerminkan ketimpangan atau meratanya hasil pembangunan suatu daerah atau negara baik yang diterima masing-masing orang ataupun dari kepemilikan faktor-faktor produksi dikalangan penduduknya. Beberapa cara untuk mengukur ketimpangan pendapatan antara lain; Distribusi Ukuran, Kurva Lorenz, Koefisien Gini (Gini Coefficient), dan Distribusi Fungsional. Pada penelitian ini untuk mengukur ketimpangan pendapatan di Indonesia menggunakan Koefisien Gini (Gini Coefficient). Pada penelitian ini

(20)

ketimpangan pendapatan diukur dengan Indeks Gini di Indonesia selama periode 2005 hingga 2013.

Tabel 1.2

Indeks Gini di Indonesia Tahun 2005-2013

Tahun Indeks Gini

2005 0.363 2007 0.364 2008 0.35 2009 0.37 2010 0.38 2011 0.41 2012 0.41 2013 0.413

Sumber : Badan Pusat Statistik, BPS

Berdasarkan tabel 1.2 menunjukkan bahwa ketimpangan pendapatan di Indonesia pada tahun 2005 hingga 2013 mengalami peningkatan sebesar 0,05. Pada tahun 2005 nilai Indeks Gini di Indonesia sebesar 0,363 dan meningkat pada tahun 2007 sebesar 0,364. Pada tahun 2008 nilai Indeks Gini di Indonesia meningkat sebesar 0,35 dan pada tahun 2009 meningkat sebesar 0,37. Nilai Indeks Gini meningkat kembali pada tahun 2010 dan 2011 sebesar 0,38 dan 0,41. Pada tahun 2012 hingga 2013 nilai Indeks Gini di Indonesia kembali meningkat sebesar 0,41 dan 0,413. Berdasarkan uraian diatas bahwa Indeks Gini di Indonesia dari tahun 2005 hingga 2013 mengalami peningkatan yang artinya, indeks gini di Indonesia memasuki ketimpangan sedang. Patut mendapatkan perhatian yang lebih dari pemerintah Indonesia. Apabila kondisi ini terjadi terus – menerus dikhawatirkan akan terjadi kecemburuan sosial antara penduduk menengah kebawah dengan menengah keatas karena semakin melebarnya jarak pendapatan antar penduduk. (Emilia dan Imelia, 2006: 50; Rosyidi, 2000:132). Jika kondisi ketimpangan

(21)

pendapatan di Indonesia terus meningkat maka akan menyebabkan penurunan pada sektor kesehatan di Indonesia.

Pendapatan masyarakat sebagai indikator ekonomi yang memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi selain sebagai penunjang pertumbuhan ekonomi, pendapatan juga diindikasikan sebagai penunjang peningkatan kesehatan masyarakat. Peningkatan pendapatan per kapita masyarakat ditujukan dengan kenaikan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita. Meningkatnya pendapatan masyarakat juga dapat meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, karena dengan semakin meningkatnya pendapatan biasanya juga diikuti dengan peningkatan daya beli dan konsumsi, termasuk konsumsi terhadap makanan yang bergizi serta peningkatan kemampuan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih berkualitas (Erythryna,2002:20). Meningkatnya kesehatan, masyarakat dapat terhindar dari resiko morbiditas dan akan memiliki harapan hidup yang lebih panjang.

Seiring dengan meningkatnya kegiatan pemerintah, maka tentunya diperlukan dana yang besar sebagai bentuk pengeluaran dari segala kegiatan pemerintah. Pengeluaran pemerintah dapat digunakan sebagai cerminan kebijakan yang di ambil oleh pemerintah dalam suatu wilayah. Kebijakan pemerintah dalam tiap pembelian barang dan jasa guna pelaksanaan suatu program mencerminkan besarnya biaya yang akan dikeluarkan pemerintah untuk melaksanakan program tersebut. Pengeluaran pemerintah digunakan untuk membiayai sektor-sekotr publik yang penting, diantara kesemua sektor publik saat ini yang menjadi prioritas

(22)

pemerintah dalam mencapai pembangunan kualitas sumber daya manusia dalam kaitannya yang tercermin dari indeks pembangunan manusia adalah investasi pada sektor pendidikan dan sektor kesehatan selain pendapatan (Usmaliadanti, 2011).

Pemerintah sebagai pelaksana pembangunan membutuhkan manusia yang berkualitas sebagai modal dasar bagi pembangunan. Manusia dalam peranannya merupakan subjek dan objek pembangunan yang berarti manusia selain sebagai pelaku dari pembangunan juga merupakan sasaran pembangunan. Hal ini berarti dibutuhkan berbagai sarana dan prasarana untuk mendorong peran manusia dalam pembangunan. Oleh karena itu, dibutuhkan pengeluaran pemerintah di bidang kesehatan yang cukup tinggi untuk meningkatkan sektor kesehatan dengan membuat program – progam kesehatan, dan meningkatkan pelayanan kesehatan untuk masyarakat.

Adapun penelitian yang dilakukan oleh Pajouyan dan Vaezi (2009) yang bertujuan menganalisis hubungan ketimpangan pendapatan dan kesehatan untuk 30 provinsi di Iran selama 1982-2006 dengan menggunakan data panel dan fixed effect metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesehatan masyarakat di Iran dipengaruhi oleh ketimpangan pendapatan dan memiliki hubungan negatif antara keduanya. Menurut hasil penelitian Chrisdyastuti (2010) menunjukkan bahwa pendapatan per kapita di Jawa Timur tahun 2000-2007 berhubungan positif dan signifikan terhadap angka harapan hidup kemudian tingkat pendidikan juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap angka harapan hidup.

Kesehatan merupakan salah satu indikator utama dalam kesejahteraan sosial. Pandangan kesehatan saat ini menjadi lebih luas dengan difokuskan pada

(23)

faktor-faktor penentu non medis kesehatan sedangkan faktor medis secara langsung dapat mempengaruhi satu sama lain dengan status kesehatan. Hal ini berarti bahwa determinan kesehatan sosial seperti, pendapatan, tingkat pendidikan, dan nutrisi juga memiliki peran utama dalam kesehatan. Pada penelitian ini memasukan faktor – faktor ekonomi seperti, ketimpangan pendapatan, pendapatan perkapita, dan pengeluaran pemerintah di bidang kesehatan yang dianggap dapat mempengaruhi kesehatan di Indonesia. Penelitian ini mengkaji dan memberikan relevansi sebuah kebijakan pada sektor kesehatan di Indonesia serta variabel-variabel yang mempegaruhinya.

Berdasarkan uraian sebelumnya, akan dilakukan penelitian mengenai kesehatan di Indonesia tahun penelitian 2005-2013 dengan mengacu penelitian yang dilakukan oleh Elnaz dan Javad (2014) dengan judul “Pengaruh Ketimpangan Pendapatan, Pendapatan Per Kapita, Pengeluaran Pemerintah

di Bidang Kesehatan terhadap Sektor Kesehatan di Indonesia tahun 2005 hingga 2013“

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah pengaruh ketimpangan pendapatan, tingkat pendapatan per kapita, dan pengeluaran pemerintah di bidang kesehatan secara simultan terhadap sektor kesehatan di Indonesia tahun 2005-2013?

(24)

2. Apakah pengaruh ketimpangan pendapatan, tingkat pendapatan per kapita, dan pengeluaran pemerintah di bidang kesehatan secara parsial terhadap sektor kesehatan di Indonesia tahun 2005-2013?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Menguji dan menganalisis pengaruh ketimpangan pendapatan, tingkat pendapatan per kapita, dan pengeluaran pemerintah di bidang kesehatan secara simultan terhadap sektor kesehatan di Indonesia tahun 2005-2013. 2. Menguji dan menganalisis pengaruh ketimpangan pendapatan, tingkat

pendapatan per kapita, dan pengeluaran pemerintah di bidang kesehatan secara parsial terhadap sektor kesehatan di Indonesia tahun 2005-2013. 1.4 Manfaat Penelitian

1. Menambah wawasan peneliti tentang pengaruh ketimpangan pendapatan, pendapatan perkapita, dan pengeluaran pemerintah di bidang kesehatan terhadap sektor kesehatan

2. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan acuan dan pertimbangan bagi para pengambil kebijakan dalam merumuskan suatu kebijakan yang berkaitan dengan peningkatan sektor kesehatan di Indonesia.

3. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi untuk pengetahuan serta dapat dikembangkan untuk penelitian lebih lanjut

1.5 SISTEMATIKA SKRIPSI

Penelitian ini dilakukan beberapa tahapan yang dianggap perlu. Metode dan prosedur pelaksanaannya adalah sebagai berikut :

(25)

BAB 1. PENDAHULUAN

Bab ini berisi tentang uraian latar belakang, rumusan masalah, tujuan, manfaat penelitian, dan sistemika penulisan.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini berisi tentang uraian dari teori yang digunakan dan

memberikan pemahaman singkat melalui penjelasan umum yang berkaitan dengan penelitian ini.

BAB 3. METODE PENELITIAN

Bab ini akan menjelaskan metode dan langkah-langkah yang

digunakan dalam penelitian, untuk melihat pengaruh status kesehatan terhadap ketimpangan pendapatan, pendapatan perkapita, dan pengeluaran pemerintah di bidang kesehatan.

BAB 4. PEMBAHASAN

Bab ini berisi tentang pembahasan dan analisis dari data yang sudah

diolah sesuai dengan metodelogi penelitian.

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisikan kesimpulan logis berdasarkan analisis data,

temuan, dan fakta yang diperoleh dari pembahasan. Dan menjadi dasar untuk memberikan saran yang ditujukan untuk pihak – pihak yang terkait dengan penelitian ini.

(26)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori 2.1.1 Definisi Kesehatan

Kesehatan merupakan salah satu faktor penting dalam sumber daya manusia, yang merupakan modal penting dalam pembangunan suatu bangsa. Kualitas sumber daya manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti tingkat pendidikan, gaya hidup, lingkungan, dan kesehatan. Kesehatan merupakan kebutuhan yang mendasar untuk pembangunan manusia agar setiap individu dapat melakukan aktivitasnya secara produktif dengan kata lain kesehatan adalah salah satu faktor utama yang mempengaruhi produktivitas individu (Elnaz dan Javad, 2014).

Kesehatan adalah bagian dari modal manusia agar dia bisa bekerja dan berfikir secara produktif. Stephen Covey (1990) dalam bukunya yang berjudul Seven Habits of Highly Effective People, mengatakan bahwa kesehatan adalah bagian dari kehidupan yang harus selalu dijaga dan ditingkatkan kualitasnya sebagai pendukung manusia yang efektif. Oleh sebab itu, perbaikan gizi dan kesehatan sangat penting untuk meningkatkan produktivitas kerja. Investasi yang dilaksanakan untuk perbaikan gizi dan kesehatan dapat dipandang sebagai salah satu aspek modal manusia (Simanjuntak, 1998:83).

2.1.2 Teori Indeks Pembangunan Manusia

Aspek pembangunan manusia ini dapat dilihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Indeks Pembangunan Manusia ini merupakan salah satu alternatif

(27)

pengukuran pembangunan selain menggunakan Gross Domestic Bruto. Nilai IPM suatu negara atau wilayah menunjukkan seberapa jauh negara atau wilayah itu telah mencapai sasaran yang ditentukan yaitu angka harapan hidup, pendidikan dasar bagi semua lapisan masyarakat (tanpa kecuali), dan tingkat pengeluaran dan konsumsi yang telah mencapai standar hidup yang layak. Tingkat pendidikan dan kesehatan individu penduduk merupakan faktor dominan yang perlu mendapat prioritas utama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. Tingkat pendidikan dan kesehatan penduduk yang tinggi menentukan kemampuan untuk menyerap dan mengelola sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baik dalam kaitannya dengan teknologi sampai kelembagaan yang penting dalam upaya meningkatkan tingkat kesejahteraan penduduk itu sendiri yang semuanya bermuara pada aktivitas perekonomian yang maju (United National Development Programe, 2004).

2.1.2.1 Definisi Indeks Pembangunan Manusia

Indeks pembangunan manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) adalah indikator untuk mengukur kualitas (derajat perkembangan manusia) dari hasil pembangunan ekonomi. Human Development Index diperkenalkan pertama kali oleh UNDP pada tahun 1990. IPM menggunakan ukuran sosial ekonomi yang lebih komprehensif daripada GNP dan memungkinkan untuk membandingkan negara dengan cara yang berbeda (United National Development Programe, 2004). Penghitungan IPM sebagai indikator pembangunan manusia memiliki tujuan penting, diantaranya:

1. Membangun indikator yang mengukur dimensi dasar pembangunan manusia dan perluasan kebebasan memilih.

(28)

2. Memanfaatkan sejumlah indikator untuk menjaga ukuran tersebut sederhana.

3. Membentuk satu indeks komposit dari pada menggunakan sejumlah indeks dasar.

4. Menciptakan suatu ukuran yang mencakup aspek sosial dan ekonomi. Menurut United National Development Programe (2004) dalam indeks pembangunan manusia terdapat tiga komposisi indikator yang digunakan untuk mengukur besar indeks pembangunan manusia suatu negara, yaitu:

1. Tingkat kesehatan diukur harapan hidup saat lahir (tingkat kematian bayi). 2. Tingkat pendidikan diukur dengan jumlah penduduk yang melek huruf atau

tingkat pendidikan yang telah dicapai atau lamanya pendidikan seorang penduduk.

3. Standar kehidupan diukur dengan tingkat pengeluaran perkapita per tahun Rumus umum yang digunakan untuk menghitung Indeks Pembangunan Manusia adalah sebagai berikut ;

IPM= 1/3 (Indeks X1 + Indeks X2 + Indeks X3)...(2.1)

Di mana :

X1 = Indeks Harapan Hidup

X2 = Indeks Pendidikan

X3 = Indeks Standart Hidup Layak

Masing-masing komponen tersebut terlebih dahulu dihitung indeksnya sehingga bernilai antara 0 (terburuk) dan 1 (terbaik).

(29)

Tabel 2.1

Nilai Maksimum dan Minimum Komponen Indeks Pembangunan Manusia

Indikator Komponen IPM Nilai Minimum Nilai Maksimum Angka Harapan Hidup (e0) 25,0 85,0

Angka Melek Huruf (Lit) 0 100

Rata-rata Lama Sekolah

(MYS) 0 15

Purchasing Power Parity

(PPP) 360 737.72

Sumber: BPS, BAPPENAS, UNDP, 2004

Berdasarkan tabel 2.1 menurut United National Development Programe (2004) bahwa terdapat nilai maksimum dan minimum komponen Indeks Pembangunan Manusia dari keempat indikator terdiri dari, angka harapa hidup, angka melek huruf, rata-rata lama sekolah, dan purchasing power parity. Indikator angka harapan hidup memiliki nilai minimum sebesar 25 tahun dan nilai maksimum sebesar 85 tahun. Indikator angka melek huruf memiliki nilai minimum sebesar 0 dan nilai maksimum sebesar 100 dan selanjutnya indikator rata-rata lama sekolah memiliki nilai minimum sebesar 0 dan nilai maksimum sebesar 15. Indikator purchasing power parity memiliki nilai minimum sebesar 360 dan nilai maksimum sebesar 737.72.

2.1.2.2 Definisi Angka Harapan Hidup

Menurut BPS, definisi angka harapan hidup (AHH) adalah: “perkiraan rata-rata lamanya hidup dari lahir yang mungkin akan dicapai oleh sekelompok orang” (BPS, 2008). Angka harapan hidup merupakan salah satu indikator yang dapat

(30)

menunjukkan pembangunan sosial ekonomi masyarakat selain angka kematian bayi (Infant Mortality Rate). Menurut Badan Pusat Statistik (BPS, 2008) menjelaskan “bila pembangunan sosial ekonomi semakin baik, maka kecenderungannya AHH akan semakin tinggi, atau sebaliknya bila AHH lebih rendah mengindikasikan terjadinya degradasi pada beberapa sektor pembangunan sosial ekonomi suatu wilayah”. Selain itu, angka harapan hidup merupakan salah satu indikator yamg digunakan untuk menghitung Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Meningkatnya umur harapan hidup ini secara tidak langsung memberikan gambaran tentang adanya peningkatan kualitas hidup dan derajat kesehatan masyarakat (BPS, 2008). 2.1.2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan

Kemampuan seseorang dalam memproduksi suatu status kesehatan akan mempengaruhi jumlah dan jenis pemeliharaan kesehatan yang akan dibelinya (Ananta dan Sirait, 1993:107). Kemampuan seseorang alam memproduksi suatu status kesehatan menurut Ananta dan Sirait (1993:107) dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:

1. Terjadinya perubahan dalam gaya hidup.

Adanya modernisasi menyebabkan terjadinya perubahan jenis makanan, dari sayuran dan padi-padian berpindah mengkonsumsi daging dan makanan yang diawetkan selain itu, modernisasi biasanya juga disertai dengan peningkatan stress seseorang. Perubahan makanan dan peningkatan stres dapat menyebabkan menurunnya kemampuan produksi kesehatan seseorang yang pada akhirnya mendorong peningkatan harga untuk mencapai suatu tingkat status kesehatan tertentu.

(31)

Pembangunan ekonomi ditandai dengan terjadinya transisi perekonomian dari pekerjaan di sektor pertanian ke sektor jasa atau industri yang biasanya kurang menggunakan ‘gerak badan”. Akibatnya, transisi perekonomian cenderung menurunkan kemampuan produksi kesehatan seseorang yang cenderung lebih mudah sakit.

3. Terjadinya industrialisasi dan peningkatan penduduk.

Industrialisasi dengan peningkatan penduduk di perkotaan menyebabkan kerusakan lingkungan dan polusi yang berdampak negatif pada kemampuan produksi kesehatan seseorang. Selain itu, sarana transportasi yang makin hebat juga merupakan suatu sarana mobilitas penyakit menular yang menghebat.

Selain itu, (BPS, 2008) menyimpulkan “faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari tingkat mortalitas dan morbiditas penduduk yang dipengaruhi oleh empat faktor yaitu faktor-faktor lingkungan (45%), perilaku kesehatan (30%), pelayanan kesehatan (20%), dan keturunan (5%)”. Jika digambarkan dalam sebuah bagan, maka akan terlihat seperti pada gambar berikut:

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2008 Gambar 2.1.

Bagan Derajat Kesehatan Derajat Kesehatan Pelayanan Kesehatan 20% Perilaku Kesehatan 30% Faktor Lingkungan 45% Keturunan 5%

(32)

2.1.3 Teori Distribusi Pendapatan

Teori distribusi pendapatan hipotesis U terbalik (interved U curve) tentang ketimpangan : Menurut Teori Kuznets dalam (Kuncoro, 1997:126) menjelaskan bagaimana distribusi pendapatan berubah dalam masa pembangunan. Kuznets membuat hipotesis adanya kurva U terbalik (inverted U curve) bahwa mula-mula ketika pembangunan dimulai, distribusi pendapatan akan semakin tidak merata, namun setelah mencapai suatu tingkat pembangunan tertentu, distribusi pendapatan semakin merata

Sumber : Todaro, (2005:240) Gambar 2.2

Kurva U – Terbalik (Interved U curve) 2.1.3.1 Definisi Distribusi Pendapatan

Distribusi pendapatan nasional adalah mencerminkan merata atau timpangnya pembagian hasil pembangunan suatu negara di kalangan penduduknya (Dumairy, 1999). Distribusi pendapatan dibedakan menjadi dua ukuran pokok yaitu; distribusi ukuran adalah besar atau kecilnya bagian pendapatan yang diterima masing-masing orang dan distribusi fungsional atau distribusi kepemilikan faktor-faktor produksi (Todaro, 2005:221). Dua definisi diatas maka dapat ditarik

(33)

kesimpulan bahwa distribusi pendapatan mencerminkan ketimpangan atau meratanya hasil pembangunan suatu daerah atau negara baik yang diterima masing-masing orang ataupun dari kepemilikan faktor-faktor produksi dikalangan penduduknya. Mengukur ketimpangan distribusi pendapatan atau mengetahui apakah distribusi pendapatan timpang atau tidak, dapat digunakan kategorisasi dalam kurva Lorenz atau menggunakan koefisien Gini.

2.1.3.2 Ukuran Ketimpangan Distribusi Pendapatan

2.1.3.3 Kurva Lorenz

Metode lain yang biasanya dipakai untuk menganalisis statistik pendapatan perorangan adalah dengan menggunakan Kurva Lorenz (Lorenz Curve). Jumlah penerimaan pendapatan dinyatakan pada sumbu horizontal, tidak dalam arti absolut melainkan dalam persentase kumulatif. Garis diagonal dalam Kurva Lorenz melambangkan pemerataan sempurna (perfect equality) dalam distribusi antar kelompok pendapatan masing-masing persentase kelompok penerima pendapatan menerima persentase pendapatan total yang sama besarnya (Todaro, 2000:183).

Sumber: Todaro, 2005:224 Gambar 2.3

(34)

Berdasarkan gambar 2.3 merupakan kurva lorenz yang menggambarkan bahwa pemerataan pada distribusi pendapatan. Penjelasan pada kurva lorenz adalah 40% kelompok terbawah menerima 40% dari pendapatan total, sedangkan 5% kelompok teratas hanya menerima 5% dari pendapatan total. (Todaro,2005:224) 2.1.3.4 Koefisien Gini

Koefisien gini adalah ukuran ketidakmerataan atau ketimpangan pendapatan yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan sempurna). Pada prakteknya, angka ketimpangan untuk negara - negara yang ketimpangan pendapatan di kalangan penduduknya dikenal tinggi berkisar antara 0,50 hingga 0,70. Negara - negara yang distribusi pendapatannya dikenal rendah berkisar antara 0,20 hingga 0,35 (Todaro, 2000:188)

Alat ukur yang sering digunakan untuk mengukur derajat ketimpangan adalah dengan menghitung rasio yang terletak diantara garis diagonal dari Kurva Lorenz dibagi dengan luas separuh segi empat dimana kurva Lorenz itu berada. Gambar 2.3 menjelaskan rasio Koefisien Gini adalah rasio daerah A yang diarsir dibagi dengan luas segitiga BCD. Rasio ini dikenal dengan Koefisien Gini (Gini Coefficient) yang diambil dari nama ahli statistik Italia yang bernama C. Gini yang merumuskan pertama kali pada tahun 1912 (Todaro, 2000:187).

2.1.3.5 Hubungan Ketimpangan Pendapatan terhadap Sektor Kesehatan

Pendapatan per kapita merupakan salah satu indikator kesejahteraan sosial dan peningkatan pendapatan saja tidak akan meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi, kecuali distribusi pendapatan dilakukan dengan baik. Indikator ketimpangan pendapatan merupakan salah satu indikator yang paling penting dari

(35)

distribusi pendapatan. Ketimpangan pendapatan adalah aspek negatif dari distribusi pendapatan, yang berarti bahwa indikator ketimpangan pendapatan menunjukkan pendapatan yang tidak tepat distribusinya pada masyarakat (Raghfar, 2007).

Menurut Bank Dunia dalam Tambunan (2003), kemiskinan relatif adalah perhitungan kemiskinan yang didasarkan pada proporsi distribusi pendapatan dalam suatu negara. Menyusun ukuran kemiskinan relatif yang sekaligus digunakan untuk mengukur distribusi pendapatan yaitu dengan membagi penduduk menjadi tiga kelompok yaitu; kelompok 40% penduduk berpendapatan rendah, 40% penduduk berpendapatan menengah dan 20% penduduk berpendapatan tinggi. Menurut Todaro (2005) bahwa kemiskinan relatif adalah suatu ukuran mengenai kesenjangan distribusi pendapatan, biasanya dapat didefinisikan di dalam kaitannya tentang tingkat rata-rata dari distribusi pendapatan. Definisi ketimpangan pendapatan adalah perbedaan distribusi pendapatan secara nasional, regional, sektoral, dan antar golongan masyarakat selama waktu tertentu. Hal ini dapat disimpulkan bahwa ketimpangan pendapatan dapat diartikan sebagai kemiskinan relatif dimana perbedaan distribusi pendapatan pada golongan masyarakat.

Menurut Lincolin (1999) menjelaskan bahwa intervensi dari pemerintah untuk memperbaiki kesehatan juga merupakan salah suatu alat kebijakan penting untuk mengurangi kemiskinan. Salah satu faktor yang mendasari kebijakan ini adalah perbaiki kesehatan golongan miskin untuk meningkatkan produktifitas, kesehatan yang lebih baik akan meningkatkan daya kerja. Menurut Elnaz dan Javad (2014) mengemukakan bahwa, untuk meningkatkan kesehatan tidak hanya mengandalkan sistem perawatan primer saja, tetap fokus pada kondisi ketimpangan

(36)

pendapatan, seperti pemerataan distribusi pendapatan akan menyebabkan peningkatan taraf hidup penduduk secara besar melalui peningkatan kesehatan, gizi dan pendidikan yang akan menghasilkan peningkatan dalam efisiensi dalam poduksi dan meningkatan motivasi mereka untuk berpartisipasi dalam program ekonomi dan sosial di masyarakat. Oleh karena itu, ketimpangan pendapatan miliki hubungan terhadap status kesehatan.

2.1.4 Pendapatan Per Kapita

Pendapatan per kapita menurut Rosyidi (2001:630) merupakan “Pendapatan nasional dibagi dengan jumlah penduduk, atau pendapatan rata-rata setiap orang penduduk”. Pendapatan per kapita setiap wilayah dapat dilihat dari besarnya nilai PDRB per kapita di wilayah tersebut. Menurut Biro Pusat Statistik (2008), definisi Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita adalah gambaran dari rata-rata pendapatan yang diterima oleh setiap penduduk selama satu tahun di suatu wilayah/daerah, dan bisa digunakan sebagai salah satu indikator tingkat kemakmuran. Perhitungan PDRB per kapita dilakukan dengan cara membagi jumlah PDRB dengan jumlah penduduk. Besaran ini dipengaruhi oleh jumlah penduduk, dalam arti bahwa semakin tinggi jumlah penduduk akan semakin kecil besaran PDRB per kapita wilayah tersebut. Berikut ini adalah formula perhitungannya:

𝐏𝐃𝐑𝐁 𝐏𝐞𝐫𝐤𝐚𝐩𝐢𝐭𝐚 =𝐉𝐔𝐌𝐋𝐀𝐇 𝐏𝐄𝐍𝐃𝐔𝐃𝐔𝐊𝐏𝐃𝐑𝐁

Ada dua bentuk penyajian dalam perhitungan PDRB per kapita, yaitu berdasarkan harga berlaku dan berdasarkan harga konstan. Perhitungan berdasarkan

(37)

harga berlaku, yaitu penyajian PDRB per kapita yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada tahun berjalan. Sedangkan perhitungan PDRB per kapita berdasarkan harga konstan, yaitu penyajian PDRB per kapita yang dihitung menggunakan harga pada satu tahun tertentu (disebut tahun dasar) dan unsur kenaikan harga telah dihilangkan dalam perhitungannya (BPS,2008).

PDRB per kapita adalah salah satu indikator penting untuk mengetahui tingkat pencapaian pembangunan di suatu daerah dalam periode tertentu, selain itu PDRB per kapita dinilai dapat membantu suatu daerah mengejar pertumbuhan sebagai sasaran utama kegiatan ekonomi dan strategi terbaik untuk pembangunan (Sant’Ana, 2008). Semakin tinggi PDRB per kapita suatu wilayah maka semakin baik tingkat perekonomian wilayahnya yang juga mencerminkan semakin baiknya kesejahteraan penduduknya.

Penggunaan pendapatan per kapita sebagai indikator pembangunan menurut Sukirno (2006:11) dilandasi oleh dua tujuan, yaitu:

1. Menunjukkan secara kasar tingkat kelajuan atau kecepatan pembangunan yang dicapai pada suatu tahun tertentu.

2. Membandingkan tingkat kemakmuran yang dicapai suatu negara.

Negara sedang berkembang memiliki taraf hidup yang relatif rendah dibandingkan dengan negara maju. Standar hidup yang rendah tersebut dimanifestasikan secara kuantitatif dalam bentuk jumlah pendapatan uang yang sangat sedikit (kemiskinan), perumahan yang kurang layak, kesehatan yang buruk, bekal pendidikan yang minim atau bahkan tidak sama sekali, angka kematian bayi

(38)

yang tinggi, harapan hidup yang relatif sangat singkat dan peluang mendapatkan pekerjaan yang rendah (Todaro dan Smith, 2004:56).

Perubahan pendapatan per kapita penduduk di negara sedang berkembang yang relatif rendah dapat mempengaruhi kesejahteraan penduduk hingga pada akhirnya berdampak pada perubahan angka harapan hidup. Hal ini dapat dilihat pada kelompok penduduk miskin. Salah satu cara untuk mengetahui parahnya tingkat kemiskinan di suatu wilayah atau negara adalah dengan melihat tingkat pendapatan minimum yang cukup di wilayah atau negara tersebut untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik minimum setiap orang berupa kecukupan makanan, pakaian serta perumahan sehingga dapat menjamin kelangsungan hidupnya (konsep kemiskinan absolute/absolute poverty) (Todaro, 2000:59). Tingkat pendapatan yang rendah maka, tingkat kesejahteraan ekonomi kelompok penduduk miskin juga rendah karena memiliki keterbatasan daya beli dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik minimumnya.

Di samping itu, penduduk miskin juga tidak dapat memanfaatkan sarana pengobatan modern secara maksimal. Hal ini disebabkan karena penduduk miskin hanya dapat menggunakan pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan pokok berupa konsumsi makanan saja. Apabila penduduk miskin terjangkit penyakit, mereka hanya berobat sekedarnya saja atau mengabaikannya karena tidak mampu menjangkau biaya pengobatan secara medis yang terlampau tinggi sehingga tingkat kematian juga semakin tinggi dan angka harapan hidup penduduk menurun karena ketidakmampuan penduduk dalam mempertahankan hidupnya. Oleh karena itu, peningkatan pendapatan masyarakat terutama kelompok penduduk miskin sangat

(39)

penting. Ananta dan Sirait (1993:106) menyimpulkan bahwa orang yang semakin tinggi pendapatannya akan meningkatkan kesehatan dengan meningkatkan pelayaan kesehatan yang bermutu rendah ke tinggi, pelayanan yang cepat dan nyaman.

2.1.4.1 Hubungan Pendapatan Perkapita terhadap Sektor Kesehatan

Pendapatan per kapita adalah salah satu indikator penting untuk mengetahui tingkat pencapaian pembangunan di suatu daerah dalam periode tertentu, selain itu pendapatan perkapita dinilai dapat membantu suatu daerah mengejar pertumbuhan sebagai sasaran utama kegiatan ekonomi dan strategi terbaik untuk pembangunan (Sant’Ana, 2008). Semakin tinggi pendapatan per kapita suatu wilayah maka semakin baik tingkat perekonomian wilayahnya yang juga mecerminkan semakin baiknya kesejahteraan penduduknya. Jika pendapatan per kapita meningkat maka daya beli masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari juga meningkat khususnya dalam memperbaiki gizi dan nutrisi yang lebih sehat dan baik, oleh karena itu, kesehatan pada masyarakat akan meningkat sehingga sektor kesehatan di Indonesia juga akan meningkat.

Menurut Ananta dan Sirait (1993:106) bahwa orang yang makin tinggi pendapatannya cenderung mengubah permintaan terhadap pemeliharaan kesehatan, yaitu dari yang bermutu rendah ke yang bermutu tinggi. Mutu yang tinggi ini diukur dengan harga yang lebih mahal, artinya tempat perawatannya nyaman, waktu pelayanannya cepat, dan fasilitasnya lengkap. Hal ini didukung dari hasil penelitian Elnaz dan Javad (2014) bahwa pendapatan per kapita berpengaruh positif terhadap

(40)

status kesehatan. Jika pendapatan per kapita yang meningkat maka status kesehatan juga meningkat dan tingkat harapan hidup juga meningkat. Menurut penelitian Ananta (2013) bahwa PDRB per kapita berpengaruh secara positif terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Lampung. Peningkatan PDRB per kapita akan langsung dirasakan masyarakat manfaatnya untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Saat sedang sakit bisa langsung berobat ke dokter ataupun rumah sakit serta dapat meningkatkan perawatan kesehatan yang bermutu rendah ke tinggi.

2.1.5 Teori Pengeluaran Pemerintah

Pengeluaran pemerintah merupakan salah satu bentuk intervensi atau campur tangan pemerintah dalam menyediakan barang dan jasa yang tidak dapat disediakan oleh pihak swasta serta menjamin distribusi kekayaan yang adil. Pengeluaran pemerintah pada dasarnya untuk mendukung kelancaran tugas umum pemerintahan dan kegiatan operasional pemerintahan. Pengeluaran pemerintah mencerminkan kebijakan pemerintah. Apabila pemerintah telah menetapkan kebijakan untuk membeli barang dan jasa, pengeluaran pemerintah mencerminkan biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam melaksanakan kebijakan tersebut (Mangkoesoebroto, 2008:169). Secara umum fungsi pengeluaran pemerintah terbagi atas:

1. Fungsi alokasi yaitu menyediakan barang dan jasa publik

2. Fungsi distribusi yaitu untuk distribusi kekayaan contoh : BLT, jamkesmas dan beasiswa bidikmisi

3. Fungsi stabilisasi yaitu bertujuan untuk menstabilkan kondisi dalam negeri contoh : subsidi BBM dan raskin.

(41)

2.1.5.1 Pengeluaran Pemerintah Secara Makro

Menurut Teori Keynes Persamaan keseimbangan pendapatan nasional menurut Keynes adalah Y= C+I+G+Nx. Dimana (Y) merupakan pendapatan nasional, (C) merupakan pengeluaran konsumsi, (G) adalah Pengeluaran pemerintah dan (Nx) adalah net ekspor dimana impor dikurangi ekspor. Dengan membandingkan nilai (G) terhadap (Y) serta mengamati dari waktu ke waktu dapat diketahui seberapa besar kontribusi pengeluaran pemerintah dalam pembentukan pendapatan nasional. Menurut Keynes, untuk menghindari timbulnya stagnasi dalam perekonomian, pemerintah berupaya untuk meningkatkan jumlah pengeluaran pemerintah (G) dengan tingkat yang lebih tinggi dari pendapatan nasional, sehingga dapat mengimbangi kecenderungan mengkonsumsi (C) dalam perekonomian. Dengan ini, dapat dianalisis seberapa penting peranan pemerintah dalam perekonomian nasional.

Pemerintah dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, melakukan kegiatan-kegiatan yang kongkrit berupa penggunaan barang-barang dan jasa atau sumber ekonomi (Boediono, 1995:50). Pengeluaran pemerintah atas barang dan jasa dapat digolongkan menjadi dua, yang pertama yaitu pengeluaran pemerintah atau konsumsi pemerintah yang lebih dikenal dengan pengeluaran rutin, dan yang kedua adalah investasi pemerintah atau pengeluaran pembangunan (Sukirno, 2000:38). Pengeluaran rutin yaitu pembelian barang dan jasa yang akan dikonsumsi, seperti membayar gaji pegawai negeri sipil (PNS), membeli alat-alat kantor dan bensin untuk kedaraan pemerintahan sedangkan pengeluaran pembangunan meliputi pengeluaran untuk membangun sarana dan prasana publik seperti rumah sakit,

(42)

sekolah, jalan raya dan sebagainya. Pengeluaran rutin tidak hanya digunakan untuk pembiayaan aparatur pemerintah tetapi juga untuk mendanai pengeluaran subsidi kepada daerah, membantu pemerintah daerah, membiayai kegiatan operasional pemerintah dan pelaksanaan program-program pemerintah yang dilakukan di daerah. Pengeluaran pemerintah untuk pembangunan merupakan pengeluaran yang ditujukan untuk membiayai proyek di setiap sektor yang terdiri dari sektor industri, pertanian dan kehutanan, tenaga kerja, transportasi, pertambangan dan energi, pendidikan, kebudayaan nasional, kepercayaan terhadap Tuhan YME, pemuda dan olahraga, kependudukan dan keluarga sejahtera, kesehatan, kesejahteraan sosial, peranan wanita, anak dan remaja, hukum dan sektor lainnya (Sukirno, 2000:38)

Pemerintah Indonesia biasanya merencanakan pengeluaran jauh lebih dulu dalam daftar anggaran yang dikeluarkan setiap tahunnya yang disebut Anggaran Perencanaan Belanja Negara (APBN). Terdapat tiga instrumen alokasi anggaran pemerintah yaitu (1) subsidi langsung atatu subsidi individu yang ditargetkan pada rumah tangga berpendapatan rendah, (2) subsidi harga, subsidi komoditi yang digunakan oleh rumah tangga terutama untuk kebutuhan pokok, dan (3) pengeluaran langsung pemerintah terhadap pelayanan publik dan infrastruktur terutama dalam kesejahteraan, kesehatan, dan pendidikan (Tambunan, 2000:45). Dalam berbagai sektor pengeluaran langsung pemerintah terhadap pelayanan publik, yang sangat dibutuhkan dalam pembentukan modal manusia sebagai investasi yang akan menghasilkan keuntungan di masa yang akan datang adalah pengeluaran pemerintah dalam sektor pendidikan dan kesehatan.

(43)

2.1.5.2 Model Pembangunan tentang Perkembangan Pengeluaran Pemerintah

Model ini dikembangkan Rostow dan Musgrave yang menghubungkan perkembangan pengeluaran pemerintah dengan tahap pembangunan ekonomi yang dibedakan atas (Mangkoesoebroto, 2008:170):

1. Tahap awal pembangunan ekonomi dimana pengeluaran pemerintah besar karena pada tahap ini pemerintah harus menyediakan prasarana seperti pendidikan, kesehatan dan transportasi

2. Tahap menengah pembangunan ekonomi investasi pemerintah tetap diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi namun investasi swasta juga semakin membesar

3. Tahap ekonomi lanjut pengeluaran pemerintah beralih dari meyediakan prasarana menjadi pengeluaran – pengeluaran untuk aktivitas sosial seperti program jaminan hari tua dan program pelayanan kesehatan masyarakat 2.1.5.3 Teori Musgrave dan Rostow

Model ini diperkenalkan dan dikembangkan oleh Rostow dan Musgrave yang menghubungkan perkembangan pengeluaran pemerintah dengan tahap-tahap pembangunan ekonomi yang dibedakan antara tahap awal, tahap menengah, dan tahap lanjut. Pada tahap awal terjadinya perkembangan ekonomi, presentase investasi pemerintah terhadap total investasi besar karena pemerintah harus menyediakan fasilitas dan pelayanan seperti pendidikan, kesehatan, transportasi. Pada tahap menengah terjadinya pembangunan ekonomi, investasi pemerintah masih diperlukan untuk untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi agar dapat semakin meningkat, tetapi pada tahap ini peranan investasi swasta juga semakin

(44)

besar. Sebenarnya peranan pemerintah juga tidak kalah besar dengan peranan swasta. Semakin besarnya peranan swasta juga banyak menimbulkan kegagalan pasar yang terjadi. Pada tingkat ekonomi selanjutnya, Rostow mengatakan bahwa aktivitas pemerintah beralih dari penyediaan prasarana ke pengeluaran-pengeluaran untuk aktivitas sosial seperti kesejahteraan hari tua, program pelayanan kesehatan masyarakat (Mangkoesoebroto, 1993:170).

2.1.5.4 Pengeluaran Pemerintah di Bidang Pendidikan dan Kesehatan

Menurut Mahmudi (2007) dalam Widodo, Waridin dan Joanna (2011), pelayanan publik adalah segala kegiatan pelayanan yang diselenggarakan oleh penyelenggara pelayanan publik sebagai upaya pemenuhan kebutuhan publik dan pelaksanaan kententuan peraturan perundang-undangan. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan penyelenggara pelayanan publik adalah instansi pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Pelayanan kebutuhan dasar yang harus diberikan oleh pemerintah meliputi kesehatan dan pendidikan dasar yaitu:

1. Kesehatan

Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar penduduk, oleh karena itu kesehatan adalah hak bagi setiap warga penduduk yang dilindungi Undang -Undang Dasar. Perbaikan pelayanan kesehatan pada dasarnya merupakan suatu investasi sumber daya manusia untuk mencapai penduduk yang sejahtera (welfare society). Tingkat kesehatan penduduk sangat berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan penduduk, karena tingkat kesehatan memiliki keterkaitan yang erat dengan kemiskinan. Sementara itu, kemiskinan terkait dengan tingkat kesejahteraan. Oleh karena kesehatan

(45)

merupakan faktor utama kesejahteraan penduduk yang hendak diwujudkan pemerintah, maka kesehatan harus menjadi perhatian utama pemerintah sebagai penyelenggara pelayanan publik.

2. Pendidikan Dasar

Sama halnya dengan kesehatan, pendidikan merupakan suatu bentuk investasi sumber daya manusia. Tingkat pendidikan juga berpengaruh terhadap kemiskinan karena pendidikan merupakan salah satu komponen utama dalam lingkaran setan kemiskinan. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah melalui perbaikan kualitas pendidikan. Pelayanan pendidikan penduduk yang paling elementer adalah pendidikan dasar, yang oleh pemerintah diterjemahkan dalam program Wajib Belajar Sembilan Tahun. Pemerintah hendak menjamin bahwa semua anak dapat bersekolah, sehingga diperlukan alokasi anggaran pendidikan yang besar.

2.1.5.5 Hubungan Pengeluaran Pemerintah di Bidang Kesehatan terhadap

Sektor Kesehatan

Pemerintah sebagai pemegang peran penting dalam setiap hajat hidup masyarakat Indonesia perlu melakukan kajian yang mendalam dalam setiap kebijakannya agar setiap output yang dihasilkan dan diharapkan dapat tepat sasaran dan memberikan pengaruh nyata terhadap masyarakat. Kebijakan yang tidak tepat sasaran melalui kebijakan alokasi dana tiap sektor yang menyangkut kebutuhan masyarakat luas yang seharusnya perlu diberikan porsi lebih dalam alokasi anggaran pemerintah, kebijakan pemerintah menyangkut sektor pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial. Sektor-sektor tersebutlah masyarakat dapat

(46)

merasakan secara langsung dampak dari kebijakan pemerintah, khususnya pada sektor kesehatan. Menurut Tambunan (2000:45) bahwa terdapat tiga instrumen alokasi anggaran pemerintah yaitu ; subsidi langsung atau subsidi individu, subsidi harga dan pengeluaran langsung pemerintah terhadap pelayanan publik dan infrastruktur terutama dalam kesejahteraan, kesehatan dan pendidikan. Jika pengeluaran pemerintah pada sektor kesehatan meningkat maka status kesehatan masyarakat akan juga semakin meningkat dimana program-program yang dibuat pemerintah semakin banyak dan fasilitas kesehatan masyarakat semakin baik dan tepat sasaran. Meningkatnya kesehatan masyarakat akan dapat meningkatkan harapan hidup yang lebih panjang.

Selain itu menurut Rostow bahwa pemerintah melakukan pembangunan dengan tiga tahap yaitu Pada tahap awal terjadinya perkembangan ekonomi, presentase investasi pemerintah terhadap total investasi besar karena pemerintah harus menyediakan fasilitas dan pelayanan seperti pendidikan, kesehatan, transportasi. Pada tahap menengah terjadinya pembangunan ekonomi, investasi pemerintah masih diperlukan untuk untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi agar dapat semakin meningkat, tetapi pada tahap ini peranan investasi swasta juga semakin besar. Pada tingkat ekonomi selanjutnya, Rostow mengatakan bahwa aktivitas pemerintah beralih dari penyediaan prasarana ke pengeluaran-pengeluaran untuk aktivitas sosial seperti kesejahteraan hari tua, program pelayanan kesehatan masyarakat (Mangkoesoebroto, 1993:170).

Menurut penelitian Ranis dkk (2000), bahwa pembangunan manusia yang diwakili oleh angka harapan hidup secara signifikan dipengaruhi belanja

(47)

pemerintah untuk pelayanan bidang sosial (pendidikan dan kesehatan). Menurut Ananta (2013) bahwa pengeluaran pemerintah di bidang kesehatan berpengaruh positif terhadap pembangunan manusia. Guna untuk meningkatkan pembangunan manusia, pemerintah perlu melakukan peningkatan pada anggaran khususnya pada sektor kesehatan. Realisasi anggaran yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk sektor kesehatan akan meningkatkan kesehatan dan produktifitas individu. Realisasi dana itu dialokasikan salah satunya untuk meningkatkan dan memperbanyak fasilitas kesehatan bagi masyarakat, seperti Puskesmas, Puskesmas Rawat Inap dan Puskesmas Keliling.

2.2 Penelitian Terdahulu

Studi empiris telah banyak dilakukan mengenai kesehatan, ketimpangan pendapatan, pendapatan perkapita, belanja pemerintah bidang kesehatan.Berikut ini adalah beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan topik tersebut.

1. Erick Messias (2003) melakukan penelitian dengan judul “Income Inequality, Illiteracy Rate, and Life Expectancy in Brazil”. Penelitian ini menggunakan model regresi linear sederhana dan berganda, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara ketimpangan pendapatan dan angka harapan hidup pada 27 negara bagian di Brazil serta mengukur pengaruh tingkat buta huruf dalam hubungan tersebut. Data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain GDP per capita dari tahun 1998, angka harapan hidup, tingkat buta huruf dan koefisien Gini dari tahun 2000. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa kesenjangan pendapatan yang ditunjukkan oleh koefisien Gini dan tingkat buta huruf berhubungan secara

(48)

negatif dengan angka harapan hidup, sedangkan GDP per capita berhubungan secara positif dengan angka harapan hidup di Brazil. Selain itu, masuknya tingkat buta huruf ke dalam model regresi menggeser pengaruh dari ketimpangan pendapatan terhadap angka harapan hidup. 2. Ananta (2013), dalam penelitiannya yang berjudul “Determinant of Human

Development in Lampung Province”. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bukti empiris tentang pengaruh GDP per kapita, pengeluaran pemerintah di bidang pendidikan, pengeluaran pemerintah di bidang kesehatan, dan pengaruh semua faktor penentu ini bersama-sama pada Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Lampung. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian seperti data panel dari 10 kabupaten / kota Provinsi Lampung dari periode 2006 sampai 2010. Alat analisis yang digunakan adalah metode regresi berganda dari Square (OLS) Pendekatan Ordinary Least ke Effect Model Fixed. Hasil penelitian menunjukkan bahwa GDP per kapita, fungsi pendidikan pengeluaran pemerintah, fungsi kesehatan pengeluaran pemerintah memiliki dampak positif dan signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Lampung.

3. Chrisdyastuti (2010), dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh Pendapatan Per Kapita, Akses Air Bersih, dan Tingkat Pendidikan terhadap Angka Harapan Hidup di Jawa Timur Tahun 2002-2007. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pendapatan per kapita, akses air bersih, dan tingkat pendidikan terhadap angka harapan hidup di Propinsi Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif dengan model

(49)

regresi data panel berdasarkan data time series mulai tahun 2002 hingga tahun 2007 serta data cross section 37 kabupaten/kota di Jawa Timur. Hasil pengujian penelitian ini adalah (1) pendapatan per kapita yang ditunjukkan oleh PDRB per kapita berdasarkan harga konstan 2000 berhubungan positif dan signifikan terhadap angka harapan hidup, (2) akses air bersih yang ditunjukkan oleh jumlah rumah tangga yang menggunakan air bersih untuk minum/masak berhubungan positif dan signifikan terhadap angka harapan hidup, (3) tingkat pendidikan yang ditunjukkan oleh jumlah penduduk umur 15 tahun ke atas yang tamat SLTA/Aliyah berhubungan positif dan signifikan terhadap angka harapan hidup.

4. Elnaz dan Javad (2014), dalam penelitiannya yang berjudul Effect of Income Inequality on Health Status in a Selection of Middle and Low Income Countries bertujuan untuk menganalisis bagaimana hubungan antara status kesehatan masyarakat dan ketimpangan pendapatan pada 65 negara yang berpenghasilan rendah dan menengah dua dekade terakhir. Penelitian ini menggunakan regresi data panel dengan metode Fixed Effect Model. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini ketimpangan pendapatan, PDB perkapita, pengeluaran pemerintah di bidang kesehatan dan pengeluaran pemerintah di bidang pendidikan. Hasil dari penelitian ini yaitu (1) ketimpangan pendapatan yang diukur dengan Indeks Gini berpengaruh negatif terhadap Status Kesehatan, (2) PDB perkapita berpengaruh signifikan positif terhadap status kesehatan dan (3) pengeluaran di bidang

(50)

kesehatan dan pendidikan berpengaruh positif terhadap status kesehatan di 65 negara yang memilik penghasilan menengah dan rendah.

2.3 Hipotesis dan Analisis

2.3.1 Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban sementara atas masalah yang telah dirumuskan, oleh karena itu masih memerlukan pengujian untuk membuktikan kebenarannya. Beberapa hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah :

1. Ketimpangan pendapatan, pendapatan per kapita, dan pengeluaran pemerintah di bidang kesehatan berpengaruh secara simultan terhadap sektor kesehatan di Indonesia tahun 2005-2013.

2. Ketimpangan pendapatan, pendapatan per kapita, dan pengeluaran pemerintah di bidang kesehatan berpengaruh secara parsial terhadap sektor kesehatan di Indonesia tahun 2005-2013. 2.3.2 Model Analisis

Bedasarkan hipotesis di atas, dalam penelitian ini digunakan analisis regresi linier berganda pada data panel untuk menjelaskan hubungan antara variabel dependen dan independen. Adapun model tersebut adalah sebagai berikut:

𝑙𝑛𝐻𝑖𝑡 = α + 𝛽1𝐺𝐼1𝑖𝑡 + 𝛽2ln 𝑃𝐷𝑅𝐵𝐾𝐴𝑃2𝑖𝑡+ 𝛽3ln 𝑃𝐾𝐸𝑆3𝑖𝑡 + 𝜀𝑖𝑡

(51)

𝐻𝑖𝑡 = Angka Harapan Hidup di provinsi i pada periode t

𝐺𝐼1𝑖𝑡 = Gini Rasio di provinsi i pada periode t

𝑃𝐷𝑅𝐵𝐾𝐴𝑃2𝑖𝑡 = PDRB per kapita di provinsi i pada periode t

𝑃𝐾𝐸𝑆3𝑖𝑡 = Pengeluaran pemerintah dalam sektor kesehatan di provinsi i pada periode t

a = intersep konstanta regresi

β = tingkat elastisitas konstribusi variabel independen terhadap variabel dependen

𝑒 = eror term

𝑖 = indikasi data cross section 𝑡 = indikasi data time series 2.4 Kerangka Berpikir

Berdasarkan latar belakang, teori, dan penelitian sebelumnya, penelitian ini difokuskan pada pengaruh ketimpangan pendapatan terhadap status kesehatan. Faktor yang diterapkan dalam penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Elnaz dan Javad (2014). Faktor ekonomi yang mempengaruhi kesehatan terbagi menjadi tiga yaitu ketimpangan pendapatan, pendapatan perkapita, dan pengeluaran pemerintah di bidang kesehatan. Variabel ketimpangan pendapatan dalam penelitian ini diukur dengan Gini rasio. Gini rasio adalah ukuran pemerataan pendapatan yang di hitung berdasarkan kelas pendapatan yang digunakan untuk mengetauhi bagaimana pengaruhnya terhadap kesehatan. Selanjutnya pendapatan per kapita dalam

(52)

penelitian ini diukur dengan PDRB per kapita yang diperoleh dengan PDRB harga konstan dengan jumlah penduduk yang tinggal di suatu wilayah dan dinyatakan dalam satuan juta rupiah. Jika pendapatan perkapita meningkat maka meningkatkan pula daya beli masyarakat akan kebutuhan-kebutuhan fisik dan jasa pemeliharaan kesehatan yang lebih berkualitas maka sektor kesehatan akan meningkat. Variabel terakhir adalah pengeluaran pemerintah di sektor kesehatan merupakan besarnya pengeluaran pemerintah di bidang kesehatan pada lingkup provinsi yang ditunjukkan dalam anggaran pengeluaran belanja daerah (APBD) sektor kesehatan. Meningkatnya pengeluaran pemerintah di bidang kesehatan akan meningkatkan pula sector kesehatan pada masyarakat dimana pelayanan dan jasa yang telah diberikan oleh pemerintah semakin alokatif dan efektif. Ketiga faktor tersebut jika dihubungkan nantinya dapat menghasilkan kesimpulan faktor apa saja yang berpengaruh secara simultan dan parsial yang mempengaruhi sektor kesehatan di Indonesi Gambar 2.4 Kerangka Konseptual SEKTOR KESEHATAN Ketimpangan Pendapatan

Pendapatan per kapita

Pengeluaran Pemerintah di Bidang Kesehatan

Figur

Gambar 2.3 menjelaskan rasio Koefisien Gini adalah rasio daerah A yang diarsir  dibagi  dengan luas segitiga  BCD

Gambar 2.3

menjelaskan rasio Koefisien Gini adalah rasio daerah A yang diarsir dibagi dengan luas segitiga BCD p.34
Tabel 4.3  Hasil Uji F Restrictied

Tabel 4.3

Hasil Uji F Restrictied p.74
Tabel 4.6  Hasil Estimasi REM  R-Square  Within :0,7250  Between: 0,2169  Overall  : 0,2420  Numb

Tabel 4.6

Hasil Estimasi REM R-Square Within :0,7250 Between: 0,2169 Overall : 0,2420 Numb p.76
Tabel 4.8  Uji t- Statistik

Tabel 4.8

Uji t- Statistik p.79
Tabel 4.9  Nilai R-square  R-square  Nilai  Within  0.7250  Between  0,2169  Overall  0,2420

Tabel 4.9

Nilai R-square R-square Nilai Within 0.7250 Between 0,2169 Overall 0,2420 p.85

Referensi

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di