• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah"

Copied!
81
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pembangunan Ekonomi merupakan suatu proses untuk peningkatkan pendapatan suatu negara. Pembangunan ekonomi tidak terlepas dengan dengan pertumbuhan ekonomi, karena pembangunan ekonomi akan mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi dan sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancar proses pembangunan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. (https://id.wikipedia.org/wiki/Pembangunan_ekonomi)

Perbankan Syariah di Indonesia sudah hadir sejak tahun 1992 ditandai dengan hadirnya Bank Muamalat Indonesia. Setelah terjadinya krisis moneter pada tahun 1998 Bank Syariah Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan, ditandai dengan adanya laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahwa terdapat 14 Bank Umum Syariah (BUS), 20 Unit Usaha Syariah (UUS) dan 164 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) sampai tahun 2019. Indonesia merupakan negara dengan populasi muslim terbanyak mencapai 87%. Dengan begitu diharapkan dengan adanya Perbankan Syariah serta didukung dengan presentase jumlah masyarakat yang beragama Islam cukup banyak, Diharapkan Perbankan Syariah dapat berpengaruh signifikan dengan Pertumbuhan dan Pembangunan Ekonomi di Indonesia. (Cermati.Com)

Sektor keuangan memegang peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara, yaitu sebagai penggerak pertumbuhan sektor riil. Tujuan pendirian perbankan syariah bukan hanya untuk keuntungan perusahaan tetapi juga berorientasi untuk menciptakan kesejahteraan di masyarakat dan akhirnya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara.

Perkembangan perbankan syariah disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan perbankan syariah antara lain CAR, NPF, BOPO, DPK, Inflasi, PDB dan Suku Bunga. Selain dari pada itu Pembiayaan Merupakan aktivitas Bank Syariah dalam menyalurkan dana kepada pihak lain selain Bank dengan menggunakan prinsip syariah.

(2)

Pembiayaan dalam Perbankan Syariah terdapat beberapa jenis Pembiayaan diantaranya yaitu pembiayaan menurut tujuannya dan pembiayaan berdasarkan jangka waktu yang telah ditentukan.

Pertumbuhan ekonomi suatu negara sangat berkaitan erat dengan perkembangan perbankan yang terjadi pada negara terssebut. Indonesia merupakan penduduk dengan populasi muslim yang cukup banyak. Maka dengan adanya perbankan Syariah diharapkan akan berpengaruh terhadap pertumbuhan perekonomian. Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia seperti yang sudah diulas diatas, yaitu dipengaruhi oleh beberapa faktor internal dan juga faktor eksternal. Kemudian pembiayaan juga menjadi sebuah tolak ukur perkembangan suatu Bank. Apabila Pembiayaan yang disalurkan kepada masyarakat cukup tinggi maka Bank akan meraih kentungan yang tinggi juga, hal ini nantinya kan berdampak pada perkembangan dari Bank yang bersangkutan.

Penyaluran dana Bank Syariah melalui pembiayaan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor internal yang dapat dilihat dari masing-masing perbankan syariah. Faktor internal yang mempengaruhi pembiayaan perbankan syariah yaitu Dana Pihak Ketiga (DPK) Capital Adequacy Ratio (CAR), dan Non Performing Financing (NPF) (Fitria, 2017).

Berikut adalah data pembiayaan bagi hasil pada Bank Umum Syariah Indonesia Periode 2013-2020. Pada tahun 2013 pembiayaan bagi hasil sebesar Rp. 2.037, pada tahun 2014 pembiayaan bagi hasil sebesar Rp. 2.850, pada tahun 2015 pembiayaan bagi hasil sebesar Rp. 625, pada tahun 2016 pembiayaan bagi hasil sebesar Rp. 694, pada tahun 2017 pembiayaan bagi hasil sebesar Rp.767, pada tahun 2018 pembiayaan bagi hasil sebesar Rp.826, pada tahun 2019 pembiayaan bagi hasil sebesar Rp.

Rp2,037 Rp1,850 Rp625 Rp694 Rp767 Rp826 Rp975 Rp1,118 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Grafik Pembiayaan Bagi Hasil

(3)

975, pada tahun 2014 pembiayaan bagi hasil sebesar Rp.1.118. Dari data tersebut terlihat bahwa pembiayaan bagi hasil pada Bank Umum Syariah mengalami penurunan yang cukup signifikan pada tahun 2015 kemudian dilanjuti dengan tahun-tahun berikutnya yang cenderung memiliki nilai yang dominan tidak mengalami kenaikan. Hal ini terjadi seperti yang sudah dijelaskan tadi, bahwa bertambah dan berkurangnya suatu pembiayaan di sebabkan oleh beberapa faktor.

Berikut adalah Data Dana Pihak Ketiga, Non Performing Financing dan fee Based Income pada Bank Umum Syariah Indonesia dari tahun 2013 hingga tahun 2020. Variabel bebas atau X1 yang terdiri dari tiga Variabel yang dipilih oleh peneliti merupakan salah satu faktor penghambat tersalurkannya pembiayaan bagi hasil pada Bank Umum Syariah.

TAHUN DPK NPF FBI 2013 Rp 1.985.053 Rp 57.121 Rp 33.950 2014 Rp 2.185.901 Rp 90.121 Rp 37.229 2015 Rp 1.988.350 Rp 94.558 Rp 54.001 2016 Rp 2.212.262 Rp 101.362 Rp 88.766 2017 Rp 2.678.142 Rp 103.003 Rp 48.905 2018 Rp 2.923.223 Rp 99.034 Rp 55.430 2019 Rp 3.180.759 Rp 86.972 Rp 52.989 2020 Rp 3.586.825 Rp 93.130 Rp 33.791

Menurut penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya oleh Destina (2016) dengan judul Dana Pihak Ketiga berpengaruh terhadap penyaluran pembiayaan dengan hasil DPK berpengaruh positif signifikan terhadap pembiayaan. Kemudian Penelitian dilakukan oleh Khairunnisa (2015) dengan pendekatan Dana Pihak Ketiga berpengaruh terhadap penyaluran pembiayaan dan memiliki hasil DPK memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pembiayaan.

Kemudian penelitian lain menyebutkan bahwa Non Performing Financing (NPF) tidak memiliki pengaruh terhadap pembiayaan mudharabah dimana NPF yang semakin naik tidak membawa perubahan pada sisi pembiayaan, diikuti oleh penelitian di Bank Muamalat mengatakan bahwa CAR, NPF dan ROA tidak berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan.

Namun penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian berikutnya yang menunjukan bahwa dana pihak ketiga dan NPF secara simultan memiliki pengaruh terhadap pembiayaan bagi hasil. Semakin besar nilai

(4)

NPF kepercayaan masyarakat akan semakin kecil pada bank untuk menyimpan dananya, dimana penurunan maupun kenaikan dana akan mempengaruhi penyaluran pembiayaan.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas serta hasil penelitian terdahulu, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “ANALISIS PENGARUH DANA PIHAK KETIGA (DPK, RISIKO DAN FEE BASED INCOME (FBI) TERHADAP PEMBIAYAAN BAGI HASIL PADA BANK UMUM SYARIAH PERIODE 2013-2020.”

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, penulis mengidentifikasikan beberapa masalah yang akan dijadikan sebagai bahan penelitian selanjutnya, diantaranya :

1. Kurangnya Kecukupan Sumber dana Pada Dana Pihak Ketiga yang dimiliki Bank Umum Syariah Terhadap Pembiayaan Bagi Hasil. 2. Tingginya tingkat resiko pembiayaan bermasalah atau Non

Performing Financing (NPF) diduga terjadi pada Bank Umum Syariah terlalu fokus pada pembiayaan sektor riil.

3. Meningkatnya pendapatan berbasis biaya atau Fee Based Income diduga akan mampu meningkatkan pembiayaan bagi hasil pada Bank Umum Syariah.

4. Kurangnya Kecukupan Sumber Dana Pihak Ketiga, Tingginya tingkat Resiko dan Meningkatnya Fee Based Income pada Bank Umum Syariah.

1.3 Pembatasan dan Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diuraikan diatas, maka dengan ini peneliti merumuskan pembatasan masalah dalam penelitian ini, antara lain :

1. Bagaimana Dana Pihak Ketiga Berpengaruh terhadap pembiayaan bagi hasil pada Bank Umum Syariah Periode 2013-2020.

2. Bagaimana Tingkat Risiko Berpengaruh terhadap pembiayaan bagi hasil pada Bank Umum Syariah Periode 2013-2020.

3. Bagaimana Fee Based Income berpengaruh pada pembiayaan bagi hasil pada Bank Muamalat Indonesia.

(5)

4. Bagaimana Dana Pihak Ketiga, Risiko dan Fee Based Income Berpengaruh terhadap pembiayaan bagi hasil pada Bank Umum Syariah Periode 2013-2020.

Adapun batasan masalah dalam penelitian ini, antara lain : 1. Hanya dalam ruang lingkup Bank Umum Syariah.

2. Sampel Laporan Bulanan Statistik Bank Umum Syariah Dari Periode Tahun 2013 Sampai Dengan Tahun 2020

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan pada perumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk:

1. Untuk mengetahui pengaruh Dana Pihak Ketiga Terhadap Pembiayaan Bagi Hasil pada Bank Umum Syariah.

2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh tingkat risiko terhadap Pembiayaan Bagi Hasil pada Bank Umum Syariah.

3. Untuk mengetahui Pengaruh Meningkatnya Fee Based Income pada Pembiayaan Pembiayaan Bagi Hasil pada Bank Umum Syariah.

4. Untuk Mengetahui pengaruh Dana Pihak Ketiga, Resiko dan Fee Based Income terhadap Pembiayaan Bagi Hasil pada Bank Umum Syariah.

1.5 Manfaat Penelitian

Berdasarkan pada perumusan masalah di atas, maka penelitian ini terutama bertujuan untuk :

1. Bagi Penulis

Dengan hasil penelitian ini diharapkan penulis dapat menambah pengetahuan tentang topik yang diteliti serta menambah wawasan tentang perbankan terutama tentang dana pihak ketiga dan Risiko Terhadap Pembiayaan Mudharabah dan Musyarakah.

2. Bagi Nasabah

Peneliti berharap hasil dari penelitian ini dapat bermanfaat bagi calon nasabah/nasabah bank untuk memperoleh informasi maupun masukan dalam menentukan pemakaian jasa bank dengan

(6)

memperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kondisi kelangsungan bank syariah tersebut.

3. Bagi Perbankan Syariah

Diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi maupun sumbangan pemikiran yang bermanfaat sebagai acuan dalam menjelaskan fungsi perbankan sebagai lembaga intermediasi dan memberikan gambaran mengenai penyaluran pembiayaan Perbankan Syariah serta faktor-faktor yang mendukung atau menghambat penyaluran pembiayaan perbankan.

4. Bagi Akademisi

Penelitian ini dapat menambah informasi bagi sumbangan pemikiran dan bahan rujukan bagi penelitian selanjutnya serta dapat pula dijadikan literatur untuk mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai kebijakan.

1.6 Sistematika Penulisan BAB I Pendahuluan

Pada bab ini berisikan materi berupa latar belakang, identifikasi masalah, pembatasan masalah, tujuan, hingga manfaat penelitian. Begitulah urutan dari isi pendahuluan yang mana merupakan isi dari sistematika penulisan.

BAB II Kajian Pustaka

Pada bab ini berisikan gambaran teori dari setiap variable yang dibahas dalam penelitian. Serta menyuguhkan beberapa penelitian yang relevan dengan sasaran penelitian penulis, hingga ulasan berdasarkan asumsi hipotensis penelitian.

BAB III Metedelogi Penelitian

Pada bab ini berisikan penjelasan variabel penelitian, metode pengumpulan data, waktu dan tempat penelitian, dan prosedur analisis data.

(7)

BAB IV Hasil dan Pembahasan.

Pada bab ini berisikan analisis dari hasil pengolahan data dan pembahasan mengenai hubungan Dana Pihak Keetiga dan Risiko terhadap Pembiayaan Mudharabah dan Musyarakah pada Bank Muamalat Indonesia Periode 2013-2020.

BAB V Penutup

Pada bab ini bersikan beberapa kesimpulan dari hasil penelitian serta saran yang disampaikan kepada pihak lembaga yang terkait dan bagi

(8)

7

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Landasan Teori 2.1.1 Bank Syariah

2.1.1.1 Pengertian Bank Syariah

Bank adalah suatu forum keuangan yang berperan dalam perekonomian dalam suatu negara. Semakin berkembang industri perbankan maka semakin baik juga pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Bank sebagai forum keuangan berfungsi untuk menghimpun dan menyalurkan dana kepada warga dalam rangka pemerataan, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional kearah peningkatan kesejahteraan rakyat. Menurut Undang-Undang RI Nomor 10 Tahun 1998 tanggal 10 November 1998 tentang perbankan, yang dimaksud dengan bank yaitu badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, dan menyalurkan kepada warga dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka mempertinggi taraf hidup rakyat banyak. (Kasmir, 2009)

Bank Syariah merupakan bank yang sistem perbankannya menganut prinsip-prinsip Islam. Bank syariah adalah bank yang diharapkan oleh umat islam. Selanjutnya para ahli memberikan pendapatnya mengenaipengertian bank syariah dibawah ini: (Ismail, Perbankan Syariah , 2013 )

a. Menurut Sudarsono, Bank Syariah merupakan lembaga keuangan suatu negara yang memberikan kredit dan jasa-jasa lainnya di dalam lalu lintas pembayaran dan juga peredaran uang yang beroprasi dengan memakai prinsip-prinsip syariah atau Islam. b. Menurut Perwataatmadja, Bank Syariah adalah bank yang

beroprasi berdasarkan prinsip-prinsip syariah (Islam) dan tata caranya didasarkan pada ketentuan Al-qur’an dan Hadist.

c. Menurut Schaik, Bank Syariah ialah suatu bentuk dari bank modern yang didasarkan pada hukum Islam, yang dikembangkan pada abad pertengahan Islam yang menggunakan konsep bagi resiko, sebagai (sistem utama dan meniadakan keuangan yang

(9)

didasarkan pada kepastian dan keuantungan yang telah ditentukan sebelumnya. (Ismail, Perbankan Syariah , 2013 )

Dengan Demikian pada penelitian kali ini menggunakan Data Bank Umum Syariah yang terdapat di Otoritas Jasa Keuangan. Adapun yang termasuk kedalam Bank Umum Syariah terdapat 14 Bank diantaranya yaitu, PT. Bank Aceh Syariah, PT. BPD Nusa Tenggara Barat Syariah, PT. Bank Muamalat Indonesia, PT. Bank Victoria Syariah, PT. Bank BRI Syariah, PT. Bank Jabar Banten Syariah, PT. Bank BNI Syariah, PT. Bank Syariah Mandiri, PT. Bank Mega Syariah, PT. Bank Panin Dubai Syariah, PT. Bank Syariah Bukopin, PT. Bank BCA Syariah, PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah, PT. Maybank Syariah Indonesia.

2.1.1.2 Prinsip Bank Syariah

Kegiatan usaha Bank Syariah harus berdasarkan kepada prinsip syariah berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunah, sehingga bank tidak bergantung pada bunga melaikan bagi hasil. Dalam Keuangan Syariah peraturan seperti gharar meysir (aktivitas seperti berjudi), juga harus dipenuhi objek dan seluruh proses investasi harus halal, dan penerapan konsep bunga mulai dari proses investasi yang dilakukan selama eksekusi harus dilakukan dan harus dipastikan kegiatannya. Yusdani (2005;5) Bank Syariah menganut prinsip-prinsip sebagai berikut :

1. Prinsip Keadilan

Prinsip ini diwujudkan dalam penerapan imbalan berdasarkan bagi hasil dan tingkat keuntungan yang disepakati bersama antara bank dan nasabah.

2. Prinsip Kesederajatan

Bank Syariah menempatkan status nasabah penyimpan dana, pengguna dana dan bank pada kedudukan yang sama dan sederajat. Hal ini tercermin dalam hak, kewajiban, resiko dan manfaat nasabah penyimpan dana, nasabah pengguna dana maupun bank.

(10)

3. Prinsip Ketentraman

Produk bank syariah sesuai dengan prinsip dan kaidah syariah. Antara lain tidak ada penerapan riba dan zakat pada harta.

2.1.1.3 Fungsi dan Peran Bank Syariah

Fungsi Bank Syariah memiliki fungsi yang sedikit berbeda dengan Bank Konvensional. Fungsi dan Peran Bank Syariah antara lain membuka AAOIFI (Accounting and Auditing Organizationfor Islamic Financial Institution) Sudarsono (2012;45) mengeluarkan standar akuntansi sebagai berikut :

1. Manajer investasi, Bank Syariah dapat mengelola dana nasabah untuk berinvestasi di Bank.

2. Investor, sebagai investor Bank Syariah penyaluran dananya melalui kegiatan investasi berdasarkan prinsip bagi hasil, jual beli atau sewa guna usaha.

3. Penyedia jasa keuangandan arus pembayaran, Bank Syariah dapat melakukan kegiatan atau layanan perbankan seperti biasa.

4. terselenggaranya kegiatan sosial yang bersifat inheren dengan keuangan syariah, berfungsi sebagai pengelola dana sosial, menghimpun dan menyaluran dana zakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2.1.1.4 Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional 1. Akad dan Aspek Legalitas

Dalam bank syariah, akad yang dilakukan memiliki konsekuensi duniawi dan ukhrawi karena akad yang dilakukan menggunakan hukum Islam. Seringkali nasabah berani melanggar kesepakatan/perjanjian yang telah dilakukan bila hukum itu hanya berdasarkan hukum positif belaka, tapi tidak demikian bila perjanjian tersebut memiliki pertanggungjawaban hingga yaumil qinamah. (Rahman, 1990)

(11)

2. Lembaga Penyelesai Sengketa

Berbeda menggunakan perbankan konvensional, bila dalam perbankan syariah masih ada disparitas atau perselisihan antara bank dan nasabahnya, kedua belah pihak tidak menyelesaikannya di pengadilan negri, namun menyelesaikannya sesuai tata cara dan aturan syariah. Lembaga yang mengatur hukum materi dan atau sesuai dengan prinsip Islam yang ada di Indonesia dikenal dengan Badan Arbitrase Muamalah Indonesia atau BAMUI yang didirikan bersama dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia dan Majelis Ulama Indonesia. (Antonio, 2001)

3. Struktur Organisasi

Bank syariah mempunyai struktur yang sama dengan yang dimiliki oleh bank konvensional, misalnya dalam hal komisaris dan direksi, akan tetapi unsur yang sangat berbanding terbalik antara bank syariah dan bank konvensional yaitu adanya Dewan Pengawas Syariah yang memiliki tugas sebagai badan yang mengawasi operasional bank dan produk-produknya agar sesuai dengan aturan-aturan syariah yang berlaku. (Antonio, 2001)

4. Perbandingan Antara Bank Syariah dan Bank Konvensional

Tabel 2.1

BANK ISLAM BANK KONVENSIONAL

1. Melakukan Investasi yang

Halal saja. 2. Berdasarkan prinsip bagi

hasil, jual beli atau sewa. 3. Profit dan Falah oriented. 4. Hubungan dengan

nasabah dalam

bentukkemitraan. 5. Penghimpunan dana

1. Investasi yang halal dan haram. 2. Memakai perangkat

bunga. 3. Profit oriented.

4.Hubungan dengan nasabah dalam bentuk debitor-debitor. 5.Tidak terdapat dewan

(12)

harus sesuai dengan fatwa Dewan Pengawas Syariah

Sejenis.

2.1.2 Dana Pihak Ketiga

Bank memiliki kewajiban untuk melayani masyarakat dan bertindak sebagai perantara bagi keuangan masyarakat. Maka dari itu, bank harus selalu ada di tengah masyarakat agar lalu lintas uang dari masyarakat yang kelebihan dana dapat ditampung dan disalurkan kembali kepada masyarakat. Kepercayaan masyarakat terhadap keberadaan bank dan kepercayaan masyarakat bahwa bank mampu menyelesaikan permasalahan keuangan dengan cara yang terbaik adalah suatu keadaan yang diharapkan oleh semua bank. Untuk itu, bank senantiasa berupaya memberikan pelayanan (service) yang memuaskan masyarakat (Dendawijaya, 2009:49).

Menurut Saputra (2014) dana pihak ketiga (DPK) adalah sejumlah uang yang dihasilkan oleh bank dan berasal dari pihak luar yang menyimpan uang tersebut. Dengan kata lain, uang yang dipegang oleh pihak bank bukan milik bank itu sendiri tetapi disimpan oleh pihak ketiga. Bank hanya sebagai lembaga yang memobilisasi kemudian akan diberikan kembali kepada masyarakat dalam bentuk pinjaman.

Menurut Dendawijaya (2009) dana masyarakat merupakan sumber dana terbesar dan terpercaya yang dikelola oleh bank (bisa mencapai 80%-90% dari seluruh dana yang dikelola oleh bank). Dana Publik terdiri atas beberapa jenis yaitu:

2.1.2.1 Giro (Demand Depoositi)

Giro merupakan simpanan pihak ketiga dalam bank yang penarikannya bisa dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, dan surat perintah pembayaran lainnya atau menggunakan cara pemindahbukuan. Menurut Siamat (1993:100) sifat asal dana ini dapat dikategorikan mudah berubah-ubah, karena pemegang rekening giro dapat menarik dananya setiap saat tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu kepada bank.

(13)

Jenis simpanan ini. Akad wadiah yad alamanah merupakan akad titipan yang dilakukan dengan kondisi penerima titipan (dalam hal ini bank) tidak wajib mengganti jika terjadi kerusakan. Biasanya,akad ini diterapkan bank pada titipan murni, seperti safe deposit box. Dalam hal ini, bank hanya bertanggung jawab atas kondisi barang (uang) yang dititipkan. Adapun wadiah yad al-dhamanah adalah titipanyang dilakukan dengankondisi penerima titipan bertanggung jawab atas nilai (bukan fisik) dari uang yang dititipkan. Bank syariah menggunakan akad wadiah yad al-dhamanah untuk rekening giro. Sedangkan giro berdasarkan prinsipmudarabah, bank syariah akanmengalokasin dana kepada pemilik dana sesuai dengannisbah yang telah disepakati bersama dan nisbah yang ditentukan dalam akad pembukaan rekening. Dalam pengelolaan dana tersebut, bank syariah tidak bertanggung jawab atas kerugian yang bukan diakibatkan oleh kelalaian nasabah.

Giro wadiah adalah giro yang dibuat atas dasar wadiah, yakni simpanan murni yang dapat diambil sewaktu-waktu jika pemiliknya menghendaki. Dalam konsep wadiah yad al-dhamanah, penerima titipan dapat menggunakan atau memanfaatkan dana atau barang yang telah dititipkan. Artinya wadiah yad al-dhamanah memiliki makna hukum yang sama dengan qard, yaitu nasabah bertindak sebagai pihak peminjam dan bank bertindak sebagai pihak yang dipinjam. Oleh karena itu, pemilik dana dan bank tidak boleh saling menjanjikan ganti rugi atas penggunaan dana atau barang titipan tersebut. Dalam hal giro, bank syariah menerapkan prinsip wadiah yad al-dhamanah, yaitu nasabah bertindak sebagai wali amanat dan memberikan hak kepada bank syariah untuk menggunakan dana atau barang titipan tanpa kewajiban bagi hasil dari dana yang dikelola, sedangkan bank syariah bertindak selaku pihak yang dititipi yang disertai hak untuk mengelola dana titipandengan tanpa mempunyai kewajiban memberikan bagi hasil dari keuntungan pengelolaan dana tersebut. Namun, jika tidak diperlukan sebelumnya, bank syariah dapat memberikan insentif berupa bonus. Sebagaimana dapat

(14)

dilihat dari penjelasan diatas, beberapa aturan umum giro wadiah adalah sebagai berikut :

1) Dana wadiah adalah dana yang dapat digunakan bank untuk kegiatan komersial dengan ketentuan bank harus menjamin pelunasan nominal dana wadiah tersebut.

2) Bank bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian penyaluran dana, dan pemilik dana tidak menjanjikan ganti rugi atau menanggung kerugian. Bank diperbolehkan memberikan bonus kepada pemilik dana sebagai insentif untuk menarik danadari masyarakat tetapi mereka tidak dapat mencapai kesepakatan sebelumnya.

3) Pemilik dana wadiah dapat menarik sebagian atau seluruh dananya sewaktu-waktu(on call).

Seperti ang disebutkan di atas, bank dapat memberikan bonus untuk setoran dana wadiah. Penawaran bonus adalah kekuatan bank dan tidak dapat disepakati sebelumnya.

Rekening giro mudarabah adalah giro yang dilaksanakan sesuai dengan akad mudarabah. Dalam hal ini, bank syariah bertindak sebagai mudarib (pengelola dana), dan nasabah bertindaksebagai shahib al-maal (pemilik dana). Sebagai mudarib, Bank syariah dapat menjalankan berbagai bisnis yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum Syariah dan mengembangkan bisnis tersebut, termasuk menandatangani kontrak akad mudharabah dengan pihak lain. Bank syariah sebagai mudarib memiliki ciri-ciri sebagai seorang wali amanah (trustee), yaitu harus berhati-hati atau bijaksana serta memiliki itikad yang baik dan bertanggung jawab atas segala kesalahan atau kelalaiannya. Selain itu, bank umum syariah juga bertindak sebagaiagen dari usaha komersial pemilik dana yang diharapkan dapat memperoleh keuntungan sebesar-besarnya tanpa melanggar berbagai aturan syariah. Bagi hasil giro mudarabah dilakukan berdasarkan saldo rata-rata harian yang dihitung dalam pembukuan setiap akhir bulan dan awal bulan berikutnya.

(15)

2.1.2.2 Deposito (Time Deposit)

Deposito atau simpanan berjangka adalah simpanan pihak ketiga di bank yang penarikannya hanya dapat dilakukan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan. Menurut Siamat (1993:102) berpendapat dari sudut biaya modal, dana bank yang dihasilkan dalam bentuk deposito yakni dana yang relatif mahal jika dibandingkan dengan sumber dana lainnya. Keunggulan dari sumber dana ini adalah dapat digolongkan sebagai sumber danasemi permanen, karena penarikannyadapat diperkirakan dengan berdasarkan tanggal jatuh temponya sehinggatingkat volatilitasdapat diprediksi.

Deposito pada bank konvensional menerima jaminan pembayaran kembali atas simpanan pokok dan pendapatan (bunga) yang telah ditentukan sebelumnya. Pada bank dengan sistem bebas bunga, deposito dirubah dengan simpanan yang menerima bagi hasil bank. Oleh karena itu, bank syariah menyebutnya rekening investasi atau invesment deposit. Akun ini memiliki tanggal jatuh tempo yang berbeda-beda. Menurut Mahmud Mohammad Babily bahwa “Bank syariah menggunakan akad mudharabahuntuk deposito”. (Antonio, 2001)

Seperti dalam tabungan, dalam hal ini nasabah (deposan) bertindak sebagai shahib al-maal dan bank selaku mudarib. Penerapan mudarabahterhadap deposito dikarenakan kesesuaian yang antara keduanya. Dengan adanya ketentuan tenggang waktu antara penyetoran dan penarikan agar dana itu bisa dkelola kembali oleh pihak bank. Sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh pihak pemilik dana, terdapat dua bentuk tabungan mudarabah, yaitu:

1) MudharabahMutlaqah 2) MudharabahMuqayyadah

2.1.2.3 Tabungan (Saving Depposit)

Tabungan adalah simpanan pihak ketiga pada bank yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu. Tabungan di bank konvensional biasanya memperoleh

(16)

hasil pasti (fixed return). Sedangkan Pada bank syariah, tabungan juga mempunyai sifat yang sama, kecuali penabung tidak memperoleh hasil yang pasti. Para ulama juga membolehkan penabung mendapatkan hasil yang berfluktuasi sesuai dengan hasil yang diperoleh oleh bank, dan setuju untuk berbagi risiko dengan bank. Hal ini berdasarkan pendapat Hasan Abdullah al-Amin, “bank syariah menggunakan dua akad tabungan, yakni wadiah dan mudharabah”. (Antonio, 2001) Tabungan untuk pelaksanaan akad wadiah mengikuti prinsip wadiah yad al-dhamanah. Dalam hal ini brarti bahwa tabunganini tidak memiliki keuntungan karena merupakan simpanan dan dapat ditarik sewaktu-waktu dengan menggunakan buku tabungan atau media lainnya seperti ATM. Namun jika bank ingin memberikan bonus/hadiah, itu tidak akan dilarang. Tabungan yang menerapkan akad mudarabah mengikuti ketentuan-ketentuan yang berdasarkan dengan akad mudarabah. Keuntungan dari dana yang digunakan harus dibagi antara shahib al-maal (nasabah dalam hal ini) dan mudarib (bank dalam hal ini). Karena adanya tenggang waktu antara penyediaan dana dan pembagian keuntungan, maka diperlukan waktu yang cukup untuk investasi melalui perputran dana.

Tabungan wadiah ialah tabungan yang dijalankan sesuai dengan akad wadiah, yaitu titipan murni yang harus dijaga dan dikembangkan setiap saat sesuai dengan kehendak pemiliknya. Berkaitan dengan produk tabungan wadiah, bank syariah menggunakan akad wadiah yad al-dhamanah. Nasabah bertindak sebagai penitip yang memberikan hak kepada pihak bank syariah untuk menggunakan uang atau barang titipannya, sedangkan bank syariah bertindaksebagai pihak dititipi dana atau barang tersebut. Sebagai konsekuensinya, bank bertanggung jawab terhadap keutuhan harta titipan tersebut. Sebagai konsekuensinya, bank bertanggung jawab terhadap keutuhan harta titipan tersebut serta mengembalikannya kapan saja pemiliknya menghendaki. namun di sisi lain, bank juga berhak atas keuntungan dari hasil penggunaan dana atau barang tersebut. Mengingat akad wadiah

(17)

yad al-dhamanah ini mempunyai hukum yang sama dengan qardh, maka nasabah penitip dan bank tidak diperbolehkan saling menjanjikan untuk menghasilkan keuntungan harta tersebut. Namun demikian, bank diperbolehkan memberikan bonus kepada pemilik harta titipan selama tidak disyaratkan di muka, yang bersifat sukarela. Dengan demikian sesuai dengan pembahasan di atas, dapat disimpulkan beberapa ketentuan umum tabungan wadiah sebagai berikut:

1) Tabungan wadiah adalah tabungan yang bersifat titipan murni yang harus dijaga dan kembalikan setiap saat (on call) sesuai dengan kehendak pemilik dana.

2) Keuntungan atau kerugian dari penyaluran dana atau pemanfaatan barang merupakan tanggung jawab bank, sedangkan nasabah penitip tidak dijanjikan imbalan dan tidak menanggungkerugian.

3) Bank memungkinkan memberikan bonus kepada pemilik dana sebagai sebuah insentif selama tidak diperjanjikan dalam akadpembukaan rekening.

Tabungan mudarabah merupakan tabungan yang dijalankan berdasarkan akad mudarabah. Mudarabah memiliki dua bentuk, yakni mudharabah mutlaqah dan mudharabah muqayyadah, yang perbedaan paling menonjol di antara keduanya yaitu terletak pada persyaratan yang telah ditentukan oleh pemilik yang bertindak selaku mudarib (pengelola dana), sedangkan nasabah bertindak sebagai shahib al-maal (pemilik dana). Bank syariah memiliki kepastian, termasuk melakukan akad mudarabah dengan pihak lain. Bank syariah juga mempunyai sifat sebagai seorang wali amanah, yang berarti bank syariah harus berhati-hati dan bertindak bijaksana serta beriktikad baik dan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang timbul akibat kesalahan atau kelalaiannya. Dari hasil pengelolaan dana mudarabah, bank syariah kemudian akan membagihasilkan kepada pemilik dana sesuai dengan nisbah yang telah disepakati dan di ikut sertakan dalam akad pembukaan rekening. Dalam mengelola dana tersebut, bank tidak memiliki tangung jawab terhadap kerugian

(18)

yang bukan disebabkan oleh kelalaiannya. Namun, apabila yang terjadi merupakan salah urus, bank bertanggung jawab penuh terhadap kerugian tersebut.

Dalam mengelola dana mudarabah, bank menutup biaya operasional tabungan dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya. Selain itu, bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah penabung tanpa persetujuan nasabah tersebut. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, saat menghitung bagi hasil, pajak penghasilan atau tabungan mudarabah langsung dimasukan ke dalam rekening tabungan mudarabah.

Bentuk Dana Pihak Ketiga (DPK) secara keseluruhan adalah giro wadiah, tabungan mudarabah dan deposito mudarabah. Sesuai dengan Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 01/DSN-MUI/IV/2000 Tanggal 01 April 2000, giro yang sahkan secara hukum syariah yakni giro yang sesuai dengan ketentua mudarabah dan wadiah. Kemudian dalam prakteknya, bank syariah di Indonesia menggunakan giro wadiah yaitu simpanan nasabah yang penarikannya dapat dilakukan sewaktu-waktu. dan tidak ada imbalan yang diperlukan, kecuali hadiah (bonus) yang diberikan secara sukarela oleh pihak perbankan syariah.

Berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional No.02/DSN-MUI/IV/2000 tanggal 01 April 2000 tabungan yang disahkan secara hukum islam yaitu tabungan yang berdasarkan pada ketentuan-ketentuan mudarabah dan wadiah. Dalam prakteknya bank syariah di Indonesia menggunakan tabungan mudarabah, yaitu dana nasabah dikembalikan sesuai dengan proporsi yang disepakati dalam akad pembukaan rekening dan di investasikan pada bank syariah. Sesuai Fatwa Dewan Syariah Nasional No.03/DSN-MUI/IV/2000 tanggal 01 April 2000 deposito yang disahkan secara hukum syariah yaitu deposito yang sesuai ketentuan mudarabah. Dalam prakteknya bank syariah di Indonesia menerapkan deposito mudarabah yaitu dana nasabah diinvestasikan pada bank syariah, dan mereka menerima

(19)

pengembalian sesuai dengan proporsi yang disepakati pada saat pembukaan rekening.

2.1.3 Risiko

2.1.3.1 Pengertian Risiko

Menurut Bank Indonesia risiko merupakan potensi kerugian yang diakibatkan oleh terjadinya peristiwa tertentu. Risiko perbankan merupakan suatu insiden potensial yang dapat diharapkan maupun yang tidak diharapkan, yang akan berdampak negatif terhadap pendapatan dan permodalan bank. Risiko memiliki sifat yang dinamis meskipun dalam hal apapun dengan kekuatan dan dampak yang berbeda, dan sangat bergantung pada kategori resiko lainnya.

Keberhasilan dalam mengelola risiko dapat dicapai dengan menguasai risiko itu sendiri dan sebagaimana diri untuk mengelolanya. Menurut konsep risiko, resiko itu memiliki sifat dinamis dan bagaimana persiapan diri sendiri untuk mengelola resiko tersebut. berdasarkan pemahaman tentang risiko, maka resiko itu memiliki karakter bergerak maju yang menandakan bahwa risiko ini akan muncul setiap saat. yaitu terdapat resiko yang sebelum, selama dan setelah pengambilan keputusan. Misalnya, dalam hal pengambilan keputusan untuk menyetujui atau tidak menyetujui pembiayaan yang diusulkan oleh calon nasabah, setiap keputusan baik disetujui atau tidak disetujui, yang artinya bahwa proposal pembiayaan tersebut mempunyai risiko tersendiri terhadap setiap keputusan. Namun jika menolak untuk mengajukan proposal, lembaga keuangan kehilangan calon nasabah dan jika menyetujui proposal yang diajukan oleh calon nasabah keamanan lembaga keuangan tidak terjamin hingga akhir periode pembayaran, namun tidak menutup kemungkinan lembaga keuangan akan menghadapi risiko bahwa nasabah yang dibiayai bukanlah nasabah yang dapat diberikan tanggung jawab penuh untuk bekerjasama secara profesional karena tidak jujur dan tidak dapat dipercaya. (Marthoon, 2004)

(20)

2.1.3.2 Jenis-Jenis Risiko

Lembaga keuangan syariah yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah. Sumber dana yang didapat harus sesuai dengan prinsip-prinsip hukum syariah dan alokasi investasi ditujukan untuk pengembangan ekonomi dan sosial masyarakat. Zamir Iqbal dan Abbas Mirakhor membagi risiko yang dihadapi bank syariah dibagi menjadi empat kategori. (Zamil & Abbas, 2008 ) yang pertama yaitu, risiko keuangan (financial) yang berdampak langsung pada aset bank. Risiko keuangan ini terdiri dari tiga bagian yaitu risiko kredit, risiko pasar, dan risiko investasi equitas (terutama pembiayaan non bank). Kedua, risiko usaha terkait dengan persaingan bank dan prospek keberhasilan bank ipasar yang selalu berubah. Risiko operasional meliputi resiko pengembalian dan risiko penarikan. Ketiga, risiko modal yaitu risiko dari pengelolaan sumber daya keuangan diantaranya meliputi manajemen kas, manajemen ekuitas, manajemen likuiditas jangka pendek dan manajemen aset liabilitas (MAL). Keempat, yaitu risiko pemerintah yang terdiri dari risiko operasional, risiko transparansi, risiko syariah, dan risiko reputasi.

a. Risiko Pembiayaan

Secara umum istilah risiko kredit dan risiko pembiayaan adalah sama. Karena keduanya adalah jenis produk dengan sistem yang sama. Perbedaan terletak pada sistem bunga pada bank konvensional, dan bagi hasil pada bank syariah.

Mengacu pada modul sertifikasi manajemen risiko tingkat pertama untuk menjelaskan bahwa risiko kredit adalah risiko yang diakibatkan oleh kegagalan debitur/atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban pembayaran kembali kreditnya pada bank. (Indonesia, 2015) Dalam aktivitas pengkreditan, baik kredit komersil maupun kredit konsumer, karena sifat debitur, seperti kegagalan usaha dan sebab lainnya, terdapat beberapa kemungkinan debitur gagal memenuhi kewajibannya kepada bank. ada beberapa kemungkinan bahwa debitur tidak dapat memenuhi kewajiban kepada bank karena berbagai macam alasan, seperti

(21)

kegagalan bisnis, karena karakter debitur yang tidak mempunyai masud baik untuk memenuhi tanggung jawabnya kepada bank, atau memang ada kesalahan dari pihak bank dalam proses persetujuan kredit. Definisi antara risiko kredit dengan risiko pembiayaan tidak jauh berbeda. Risiko pembiayaan merupakan risiko akibat kegagalan nasabah atau pihak lain dalam memenuhi kewajibannya kepada bank sesuai perjanjian yang disepakati. Salah satu yang merupakan kelompok risiko pembiayaan yaitu risiko yang timbul akibat terkonsentrasinya penyediaan dana kepada satu pihak atau kelompok pihak industri, sektor dan area geografis tertentu yang berpotensi menimbulkan kerugian cukup besar dan dapat mengancam kelangsungan usaha bank.

Risiko pembiayaan bisa saja bersumber dari berbagai aktivitas bisnis bank. Pada sebagian besar bank, pemberian pembiayaan adalah sumber risiko pembiayaan yang besar. Selain pembiayaan, bank menghadapi risiko kredit dari berbagai instrumen keuangan seperti surat berharga, akseptasi, transaksi antar bank, transaksi pembiayaan perdagangan, transaki nilai tukar dan derivatif, serta kewajiban komitmen dan kontingensi.

Berdasarkan basle committee pada Juli 1992 pada prinsipnya pengelolaan risiko kredit mencakup beberapa hal penting, (Sumar'in, 2012) pertama, seorang pimpinan harus memiliki kemampuan dalam melihat kemungkinan risiko kredit yang muncul dan disesuaikan dengan kemampuan modal perbankan. Pada tatanan operasional, semua produk dan aktivitas harus dihitung sesuai dengan kemungkinan risiko yang akan muncul. Kedua, segala aktivitas perbankan harus berjalan sesuai dengan prosedur. Kebijakan prosedur pembiayaan biasanya membutuhkkan analisis potensi dan masalah dari sebuah proyek yang akan diberikan bantuan modal. Kebijakan prosedur pembiayaan harus mempunyai masalah batasan jumlah peminjaman yang bisa diberikan dan yang tidak bisa diberikan dalam proses kredit. Batasan jumlah peminjaman harus diperhitungkan atas kemungkinan perilaku moral hazard oleh peminjam ketika diberikan dalam jumlah kredit yang besar. Ketiga,

(22)

perbankan diharuskan menjalankan prosedur administrasi kredit, pengukuran dan proses pengawasan. Kelengkapan sistem informasi contohnya seperti cepatnya prosedur pembiayaan sangat penting sebagai penunjang. Keempat, bank harus mengasuransikan kredit yang diberikan sebagai upaya untuk mengelola resiko. Manajemen risiko kredit tidak bisa dipungkiri juga bergantung pada corporate governance (CG). Kelima, pengawasan harus dilakukan dalam upaya untuk menjaga efektifitas kinerja perbankan.

b. Risiko Pasar

Risiko pasar diartikan sebagai risiko kerugian pada posisi neraca dan pencatatan tagihan serta kewajiban di luar neraca yang timbul diakibatkann dalam pergerakan harga pasar. Variabel pasar antara lain yaitusuku bunga, nilai tukar, risiko komoditas dan risiko ekuitas. (Rustam, 2013) Risiko pasar juga dapat berupa perubahan nilai dari aset yang bisa diperdagangkan atau disewakan. Risiko pasar akan menimbulkan akibat pergerakan harga pasar, biasayanya berupa naik turunnya posisi rupiah terhadap valuta asing, harga saham dan sukuk, dan harga-harga komoditas terhadap nilai ekonomi riil dari aset yang dimiliki bank Islam. Apapun asetnya, bank Islam akan menghadapi risiko ini sehingga, ketika aset yang dimiliki bank Islam tidak dipegang hingga jatuh tempo, namun hanya dipegang hingga periode waktu tertentu. Agar terkena dampak risiko pasar, bank Islam tidak harus terlibat dalam aktivitas transaksi aktif. Dalam posisi pasif sekalipun, bank bisa saja terkena dampaknya seperti pada risiko nilai tukar mata uang.

c. Risiko Likuiditas

Risiko likuiditas merupakan risiko yang disebabkan bank tidak mampu menyanggupi kewajiban yang telah jatuh tempo, risiko ini akan muncul manakala bank tidak mampu menyanggupi kebutuhan dana (cash flow) dengan cepat dan dengan biaya yang sesuai, baik untuk memenuhi kebutuhan transaksi

(23)

sehari-hari meskipun hanya untuk memenuhi kebutuhan dana yang mendesak.

Islamic Financial Service Board (IFSB) mendefinisikan risiko likuiditas merupakan potensi kerugian yang dapat dialami oleh bank syariah atas ketidakmampuannya untuk memenuhi liabilitasnya yang telah jatuh tempo atau ketidakmampuan bank syariah dalam mendanai peningkatan asetnya dengan biaya relatif murah dan tanpa adanya kerugian. Sementara BI melalui PBI No. 13/23/PBI/2011 mendefinisikan bahwa risiko likuiditas merupakan risiko akibat ketidakmampuan bank memenuhi liabilitas yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas/atau aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan, tanpa mengganggu aktivitas dan keuangan bank. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa likuiditas bagi institusi perbankan lebih kompleks jika dibandingkan dengan lembaga keuangan lainnya. Likuiditas bagi bank yaitu terdapat dua hal, yakni kemampuan bank syariah dalam memenuhi liabilitas yang jatuh tempo dan kemampuan bank dyariah dalam mendapatkan dana baru dengan biaya relatif murah. Liabilitas bank yang jatuh tempo merupakan jumlah dana simpanan (giro, tabungan, dan deposito) yang bisa ditarik kembali oleh nasabah. Sementara itu dana baru yang dimaksud merupakan akses atau sumber dana yang dapat diperoleh oleh bank Islam ketika bank syariah membutuhkan dana cepat, untuk mendanai aset atau untuk memenuhi liabilitas jangka pendek yang akan jatuh tempo.

d. Risiko Operasional

Kesepakatan Basel II mendefinisikan risiko operasional adalah risiko dari kerugian atau ketidakmampuan dan kegagalan dari proses internal, manusia, dan sistem yang gagal atau dari peristiwa internal. (Indroes, 2006) Risiko juga lebih dekat dengan kesalahan manusia (human error), adanya ketidakcukupan dan atau tidak berfungsinya proses internal, kegagalan sistem, atau adanya problem eksternal yang mempengaruhi operasional bank. Tidak ada perbedaan yang cukup signifikan antara bank

(24)

syariah dan bank konvensional menganai risiko operasional. Risiko operasional bisa menimbulkan kerugian keuangan secara langsung atau secara tidak langsung, serta kerugian yang berpotensi yaitu berupa kesempatan yang hilang untuk memeroleh keuntungan. Selain itu, risiko operasional juga dapat menyebabkan kerugian yang tidak dapat atau sulit dihitung secara kuantitatif, contohnya seperti nama baik atau reputasi bank, yang akan berdampak terhadap kerugian terkait dengan reputasi pada akhirnya dapat berakibat pada kerugian finansial. Sebagai contoh reputasi bank yang terganggu akan mengakibatkan para nasabah deposan atau debitur memindahkan aktivitas perbankan mereka kepada bank lain.

e. Risiko Hukum

Risiko hukum yaitu risiko yang bisa terjadi karena disebabkan oleh adanya kelemahan aspek yuridis. (Karim, 2007) 30 Kelemahan aspek yuridis diantaranya disebabkan oleh adanya tuntutan hukum, ketiadaan peraturan perundang-undangan yang mendukung atau lemahnya perikatan seperti tidak terpenuhinya syarat sahnya kontrak. Tidak ada beberapa perbedaan yang cukup signifikan antara bank syariah dan bank konvensional yang berhubungan dengan risiko hukum.

f. Risiko Reputasi

Risiko reputasi merupakan risiko kerusakan potensial yang diakibatkan oleh opini negatif publik terhadap kegiatan bank sehingga bank mengalami penurunan jumlah nasabah atau menimbulkan biaya besar karena gugatan pengadilan atau penurunan pendapatan. (Ghazali, 2007) Dalam Peraturan Bank Indonesia No. 13/23/PBI/2011 dikatakan bahwa risiko reputasi yaitu risiko akibat menurunnya tingkat kepercayaan stakeholder yang berasal dari pendangan buruk terhadap bank.

(25)

g. Risiko Strategik

Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 13/23/PBI/2011 mendefinisikan bahwa Risiko Strategik merupakan risiko yang diakibatkan atas ketidaktepatan dalam pengambilan keputusan dan/atau pelaksanaan suatu keputusan strategik serta kegagalan dalam mempersiapkan perubahan lingkungan atas bisnis. Kurangnya persiapan bank terhadap perubahan eksternal juga bagian dari risiko strategik. Akibat dari keputusan yang tidak tepat ini menyebabkan bank harus mengeluarkan biaya yang besar dan gagalagar bisa mencapai target bisnisnya. Dalam hal ini tidak ada perbedaan yang cukup signifikan antara bank syariah dan bank konvensional dalam resiko strategik ini. .

h. Risiko Kepatuhan

Peraturan Bank Indonesia (PBI) nomor 13/23/PBI/2011 mendefinisikan bahwa risiko kepatuhan yaitu sebagai risiko yang disebabkan karena bank tidak mematuhi dan/atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan dan ketentuan yang berlaku, serta prinsip-prinsip syariah. Tidak ada perbedaan yang cukup besar antara bank syariah dan bank konvensional terkait risiko ini, selain hanya dalam masalah prinsip syariah yang melekat pada bank syariah. Risiko kepatuhan identik pada peraturan perundang-undangan dan ketentuan lain yang berlaku. Diantaranya yaitu ketentuan kewajiban pemenuhan modal minimum sesuai dengan profil risiko, batas maksimum pemberian kredit (BMPK), kualitas aktiva produktif (KAP), penerapanGood Corporate Governance (GCG) dan ketentuan lainnya.

i. Risiko Kepatuhan Syariah

Menurut Islamic Financial Service Board (IFSB), risiko kepatuhan syariah didefinisikan sebagai risiko yang muncul disebabkan karena ketidakpatuhan bank syariah terhadap aturan dan prinsip syariah yang telah ditentukan oleh DPS atau lembaga sejenis yang dimana bank Islam beroperasi. Kepatuhan

(26)

syariah merupakan bagian dari pelaksanaan framework manajamen risiko, dan menerapkan budaya kepatuhan dalam rangka mengelola risiko perbankan Islam. Kepatuhan syariah (shariah compliance) juga mempunyai standar internasional yang disusun dan ditetapkan oleh Islamic Financial Service Board (IFSB) dimana kepatuhan syariah merupakan bagian dari tata kelola lembaga (corporate governance). Kepatuhan syariah merupakan manifestasi pemenuhan seluruh prinsip syariah dalam lembaga yang memiliki wujud karakteristik, integritas dan kredibilitas di bank syariah. Dimana bahwa budaya kepatuhan tersebut amerupakan nilai, perilaku dan tindakan untuk mendukung terciptanya kepatuhan bank syariah terhadap seluruh ketentuan Bank Indonesia.

j. Risiko Benchmark

Bank syariah tidak mempunyai hubungan dengan suku bunga, hal ini dikarenakan bahwa bank syariah tidak akan menghadapi risiko pasar yang muncul diakibatkan karena perubahan suku bunga. Tetapi meskipun demikian perubahan suku bunga di pasar, menimbulkan beberapa risiko di dalam pendapatan lembaga keuangan syariah. Lembaga keuangan syariah menggunakan benchmark rate. Khususnya dalam akad Murabahah, dimana mark up ditentukan dengan menambahkan premi risiko pada benchmark rate.

k. Risiko Penarikan Dana

Perbedaan tingkat return pada tabungan atau investasi menimbulkan ketidakpastian tentang nilai sebenarnya (real value) dari jenis simpanan tersebut. Perlindungan aset untuk meminimalisir risiko kerugian akibat rendahnya tingkat return, mungkin menjadi faktor penting dalam keputusan penarikan dana para nasabah/deposan.

(27)

l. Risiko Fidusia

Rendahnya tingkat return bank dibandingkan dengan tingkat return yang berlaku di pasar, juga akan memiliki skibst munculnya risiko fidusia (fiduciary risk), yakni ketika deposan atau investor menafsirkan kecilnya tingkat return tersebut sebagai pelanggaran kontrak investasi atau kesalahan manajemen dana oleh bank. Risiko fidusia dapat dipicu oleh pelanggaran kontrak oleh pihak bank. Misalnya tidak dapat menjalankan kontrak dengan penuh kepatuhan pada ketentuan syariah

2.1.5.3 Tujuan Risiko

Tujuan risiko menurut Veithzal Rivai yakni sebagi berikut:

a) Tujuan yang ingin dicapai terkait hal-hal sebelum terjadinya peril antara lain:

1. Hal-hal yang bersifat ekonomis, contohnya upaya untuk menanggulangi kemungkinan kerugian dengan menggunakan cara yang paling ekonomis, yang dilakukan dengan memulai analisis keuangan.

2. Hal-hal yang bersifat non ekonomis, misalnya seperti upaya untuk menanggulangi kecemasan sebab adanya kemungkinan atas terjadinya peril tertentu dapat menimbulkan kecemasan dan ketakutan yang sangat tinggi.

3. Tindakan penanggulangan risiko yang dilakukan pihak ketiga atau pihak luar perusahaan, contohnya memakai atau memasang alat-alat keselamatan kerja tertentu yang ada di tempat kerja pada waktu bekerja, mengasuransikan aktiva yang digunakan sebagai agunan.

b) Tujuan setelah terjadinya peril, Tujuan yang ingin dicapai terkait hal-hal setelah terjadinya peril dapat berupa:

(28)

2. Mencari solusi agar operasi perusahaan dapat berlanjut setelah perusahaan terkena peril

3. Mengusahakan agar pendapatan perusahaan tetap mengalir walaupun tidak sepenuhnya

4. Mengupayakan agar tetap berlanjutnya peninngkatan usaha bagi perusahaan yang sedang melakukan pengembangan usaha

5. Mencari upaya agar tetap dapat melakukan tanggung jawab sosial dari perusahaan.

Selain itu, secara umum tujuan manajemen risiko diantaranya adalah :

1. Memberikan atau memfasilitasi informasi tentang risiko kepada pihak regulator

2. Memastikan agar bank tidak mengalami kerugian yang bersifat unacceptable.

3. Meminimalisir kerugian dari berbagai risiko kerugian yang bersifat uncontrolled

4. Mengukur eksposur dan pemusatan risiko 5. Mengalokasikan modal dalam membatasi risiko

2.1.4 Fee Based Income

2.1.4.1 Pengertian Fee Based Income

Menurut (Kasmir, 2012), fee based income merupakan keuntungan yang didapatkan dari transaksi yang diberikan dalam jasa-jasa bank lainnya. Menurut (Dewi, 2005) menyatakan ahwa kegiatan-kegiatan jasa juga dapat menghasilkan keuntungan bagi pihak bank, keuntungan dari transaksi dalam jasa-jasa bank ini disebut fee based.

Istilah fee based income menurut perbankan syariah yaitu ujrah (upah). Ujrah berkaitan dengan keuntungan dari jasa-jasa perbankan yang dapat digunakan oleh masyarakat (nasabah) untuk memperlancar dan mengefisiensikan aktifitas ekonomi masyarakat. Hal itu juga dapat dijelaskan dengan adanya ketentuan-ketentuan yang besangkutan dengan fee based income

(29)

menurut peraturan Bank Indonesia. Berikut ini merupakan peraturan mengenai fee based incame yang terdapat dalam DSN-MUI: Fatwa Dewan Syariah Nasional–Majelis Ulama Indonesia: 44/DSN-MUI/VII/2004 tentang penbiayaan multi jasa.

Dari pengertian tersebut bisa disimpulkan bahwa kegiatan perbankan selain menghimpun dana dan menyalurkan dana yaitu memberikan pelayanan atau penjualan produk jasa-jasa terhadap masyarakat. Jasa-jasa yang diberikan guna untuk mendukung kelancaran kegiatan menghimpun dan menyalurkan dana, baik yang berkaitan lansung dengan kegiatan simpanan dan kredit maupun secara tidak lansung, dimana bank akan menghasilkan fee based income dari hasil memberikan jasa bank tersebut.

2.1.4.2 Sumber-Sumber Fee Based Income

Menurut (Kasmir, 2012), mengenai jenis jasa-jasa yang menghasilkan fee based income diantaranya yaitu :

a) Jasa Pengiriman Uang (Transfer)

Transfer adalah jasa pengiriman uang atau pemindahan uang melalui bank baik pengiriman uang dalam kota, luar kota atau ke luar negeri. Lama pengiriman dan besarnya biaya kirim akan tergantung dari sarana yang digunakan.

b) Jasa Kliring (Clearing)

Kliring merupakan penagihan warkat bank yang berasal dari dalam kota melalui lembaga kliring. Definisi lainnya kliring adalah jasa penyelesaian utang piutang antar bank dengan cara saling menyerahkan warkat-warkat yang dikliringkan di lembaga kliring. Warkat-warkat yang dapat dikliringkan atau diselesaikan di lembaga kliring merupakan warkar-warkat yang berasal dari dalam kota seperti: Cek, Bilyet,Giro, Surat Bukti Penerimaan Transfer dari luar kota, Lalu Lintas Giral (LLG).

c) Jasa Inkaso (Collection)

Inkaso merupakan warkat-warkat bank yang berasal dari luar kota atau luar negeri. Warkat-warkat yang bisa diinkasokan atau ditagihkan yakni warkat-warkat yang berasal dari luar kota atau

(30)

luar negeri seperti: Cek, Bilyet Giro, Wesel, Dividen, Kupon, dan surat berharga lainnya.

d) Jasa Penyimpanan Dokumen (Safe Deposit Box)

Safe Deposit Box adalah jasa-jasa persewaan kotak untuk menyimpan dokumen atau surat-surat berharga. Jasa ini biasanya dikenal dengan nama safe loket. Safe Deposit Box berbentuk kotak dengan ukuran tertentu dan disewakan kepada nasabah yang membutuhkan untuk menyimpan dokumen-dokumen atau benda-benda berharga miliknya. Pembukuan Safe Deposit Box dilakukan dengan dua buah anak kunci, dimana satu dipegang bank dan satu lagi dipegang oleh nasabah.

e) Jasa Kartu Kredit (Bank Card)

Bank card adalah “Uang Plastik” yang dikeluarkan oleh oleh bank. Kegunaannya yaitu sebagai alat pembayaran ditempat-tempat tertentu misalnya seperti supermarket, pasar swalayan, hotel, restoran, tempat hiburan dan tempat lainnya. Jenis Bank Card terdiri dari dua yaitu Card Credit dan Card Debit.

f) Jasa Valuta Asing (Bank Notes)

adalah uang kartal asing yang dikeluarkan dan diterbitkan oleh bank di luar negeri. Bank notes dikenal juga dengan istilah “devisa tunai” yang memiliki sifat-sifat seperti uang tunai. Tidak semua bank notes yang diperjualbelikan, hal ini tergantung peraturan devisa di negara asal bank notes diterbitkan.

g) Jasa Cek Wisata (Travellers Cheque)

Travellers Cheque merupakan cek wisata atau cek perjalanan yang biasanya diperuntukan kepada mereka yang hendak bepergian atau sering dibawa oleh wisatawan.

h) Jasa Letter Of Credit (L/C)

L/C adalah suatu pernyataan dari bank atas permintaan nasabah (biasanya importir) biasanya untuk menyediakan dan membayar sejumlah uang tertentu untuk kepentingan pihak ketiga (penerima L/C atau eksportir). L/C juga sering disebut dengan kredit berdokumen atau documentary credit. Pembukuan L/C oleh importir dilakukan nasabah melalui bank yang disebut opening

(31)

bank atau issuing bank, sedangkan bank eksportir merupakan bank pembayar terhadap barang yang diperdagangkan.

i) Jasa Bank Garansi

Bank Garansi adalah jaminan pembayaran yang diberikan oleh bank kepada suatu pihak, baik perorangan, perusahaan atau badan/lembaga lainnya dalam bentuk surat jaminan. Pemberian jaminan dimaksudkan untuk bank menjamin agar memenuhi (membayar) kewajiban-kewajiban dari pihak yang dijaminkan kepada pihak yang menerima jaminan, namun jika yang dijamin kemudian hari ternyata tidak memenuhi kewajiban kepada pihak lain sesuai dengan yang diperjanjikan atau cedera janji.

j) Jasa-jasa di Pasar Modal

Di dalam pasar modal pihak perbankan mempunyai peranan yang sangat besar dengan tujuan memajukan perkembangan pasar modal. Perbankan mendukung setiap kegiatan yang ada demi kelancaran transaksi pasar modal di bursa efek.

k) Jasa Penyetoran Dana

adalah Jasa diutamakan untuk membantu nasabahnya dalam mengumpulkan setoran atau pembayaran lewat bank. Setoran atau pembayaran yang biasa diterima oleh bank antara lain: pembayaran listrik, telepon, pajak, uang kuliah, rekening air, setoran ONH, dan setoran lainnya.

l) Jasa Pembayaran Dana

Dalam hal ini biasanya bank dapat pula memberikan pelayanan berupa jasa pembayaran seperti: membayar gaji, pensiun, bonus, hadiah, dividen, dan pembayaran lainnya.

2.1.5 Pembiayaan

2.1.5.1 Pengertian Pembiayaan Bank Syariah

Bank bertindak sebagai lembaga intermediasi keuangan selain untuk melakukan kegiatan penghimpunan dana dari masyarakat, ia juga akan menyalurkan dana tersebut kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau pembiayaan. Istilah kredit sering kali dipakai dalam perbankan konvensiaonal yang berbasis pada bunga (Interest based), namun dalam perbankan syariah

(32)

lebih dikenal dengan istilah pembiayaan (Financing) yang berbasis pada keuntungan rilll yang dikehendaki (Margin) maupun bagi hasil (Profit sharing).

Pembiayaan adalah kegiatan bank syariah dalam menyalurkan dana kepada pihak lain selian bank sesuai dengan prinsip syariah. penyaluran dana dalam bentuk pembiayaan yang didasarkan pada kepercayaan yang diberikan oleh pemilik dana kepada penerima dana. Penerima pembiayaan akan mendapatkan kepercayaan dari pemberi dana, sehingga penerima memiliki tanggung jawab untuk mengembalikan pembiayaan yang telah diterimanya sesuai dengan jangka waktu yang telah diperjanjikan dalam akad pembiayaan. (Ismail, Perbankan Syariah, 2011)

Menurut Undang-Undang Perbankan Pasal 1 angka 12, Pembiayaan berdasarkan prinsip syariah merupakan penyedia uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan kesepakatan antara bank dan pihak lain yang telah dipercaya untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil. Pada perbankan syariah, pembiayaan syariah yang diberikan kepada pihak pengguna dan sesuai dengan prinsip syariah dan aturan yang digunakan yaitu hukum islam.

2.1.2.2 Sistem Pembiayaan Berdasarkan Prinsip Syariah Praktek pembiayaan diperbankan syariah memiliki sebuah subsystem yang harus diikuti ketentuannya yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan yaitu harus berpedoman pada prinsip-prinsip syariah yaitu prinsip mudharabah, prinsip musyarakah, prinsip murabahah dan prinsip ijarah.

Sistem pembiayaan berdasarkan prinsip syariah menurut sudut pandang yuridis diantaranya adalah:

1. Pembiayaan bagi hasil harus sesuai dengan prinsip mudharabah dan prinsip musyarakah. Bagi hasil merupakan akad kerja sama antara bank sebagai pemilik modal dan nasabah sebagai pengelola modal untuk mendapatkan

(33)

keuntungan dan membagi keuntungan berdasarkan nisbah yang telah disepakati.

2. Pembiayaan jual beli berlandaskan prinsip murabahah, prinsip istishna dan prinsip as-salam.Sistem jual beli barangpada umumnya untuk pembiayaan barang produktif, contohnya pemberian barang pesanan.

3. Pembiayaan sewa-menyewa berdasarkan prinsip ijarah (sewa murni) dan ijarah al-muntahia bit-tamlik (sewa beli atau sewa dengan hak opsi). Sistem sewa merupakan akad pemindahan hak penggunaan atau pemanfaat atas barang atau jasa dengan melalui pembayaran sewa kepada pemilik.

2.1.5.3 Produk Pembiayaan Bank Syariah

Menurut sifat penggunaannya, pembiayaan dapat dibagai menjadi dua, diantaranya yaitu: (Antonio, 2001)

a. Pembiayaan produktif

Pembiayaan produktif merupakan pembiayaan yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam arti luas, yakni untuk menambah usaha, baik usaha produksi, perdagangan, maupun investasi. Menurut keperluannya, pembiayaan produktif dapat dibagi menjadi:

1) Pembiayaan modal kerja

Pembiayaan modal kerja merupakan pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan (1) peningkatan produksi, baik secara kuantitatif, yakni jumlah hasil produksi, maupun secara kualitatif, yaitu peningkatan kualitas atau mutu hasil produksi; dan (2) untuk keperluan perdagangan atau peningkatan utility of place dari suatu barang.

Bank konvensional memberikan kredit modal kerja tersebut, dengan cara memberikan pinjaman sejumlah uang yang dibutuhkan dengan memberikan dana untuk seluruh kebutuhan yang merupakan gabungan dari komponen-komponen modal kerja tersebut, baik untuk keperluan produksi

(34)

ataupun perdagangan untuk jangka waktu tertentu, dengan imbalan berupa bunga.

Bank syari’ah dapat membantu memenuhi seluruh kebutuhan modal kerja tersebut, bukan dengan meminjamkan uang, tetapi dengan menjalin hubungan partnership dengan nasabah, yang dimana bank bertindak sebagai penyandang dana (shahibul maal), sedangkan nasabah sebagai pengusaha (mudharib). Skema pembiayaan ini disebut dengan mudharabah (trust financing). Fasilitas ini dapat diberikan untuk jangka waktu tertentu, sedangkan bagi hasil dibagi secara periodik dengan nisbah yang disepakati. Setelah jatuh tempo, nasabah mengembalikan jumlah dana tersebut beserta porsi bagi hasil (yang belum dibagikan) yang menjadi bagian bank.

Pembiayaan modal kerja merupakan salah satu atau kombinasi dari beberapa pembiayaan berikut ini:

a) pembiayaan likuiditas (cash financing) di bank syari’ah dikenal dengan bentuk qardh timbal balik

b) pembiayaan piutang (receivable financing) di bank syari’ah dikenal dengan bentuk al-qardh dan hiwalah;

c) pembiayaan persediaan (inventory financing) di bank syari’ah dikenal dengan bentuk bai’ murabahah, bai’ al-Istishna, dan bai’ as Salam

d) pembiayaan modal kerja untuk perdagangan umum skema yang tepat di bank syari’ah adalah mudharabah.

e) pembiayaan modal kerja untuk perdagangan berdasarkan pesanan skema yang tepat di bank syari’ah adalah wakalah, almusyarakah, mudharabah, ataupun al-murabahah dengan mengadopsi mekanisme L/C pada bank konvesional.

2) Pembiayaan investasi

Pembiayaan investasi diperuntukan kepada para nasabah untuk keperluan investasi, yaitu keperluan penambahan modal guna mengadakan rehabilitasi, perluasan usaha, ataupun pendirian proyek baru.

(35)

Ciri-ciri pembiayaan investasi adalah:

a) Bertujuan Untuk pengadaan barang-barang modal.

b) Mempunyai perencanaan alokasi dana yang matang dan terarah.

c) Memiliki jangka waktu menengah dan panjang.

Bank syari’ah untuk pembiayaan investasi ini menggunakan skema musyarakah mutanaqishah. Dalam hal ini bank memberikan pembiayaan dengan prinsip penyertaan, dan secara bertahap bank melepaskan penyertaannya, dan pemilik perusahaan akan mengambil alih kembali, baik dengan menggunakan surplus cash flow yang tercipta maupun dengan menambah modal, baik yang berasal dari setoran pemegang saham yang ada ataupun dengan mengundang pemegang saham baru.

Skema lain yang dapat digunakan oleh bank syari’ah yaitu al ijarah al muntahia bittamlik, yakni menyewakan barang modal dengan pilihan diakhiri dengan pemilikan. Sumber perusahaan untuk pembayaran sewa ini merupakan pengurangan nilai aktiva yang tidak berwujud atas barang modal yang bersangkutan, surplus, dan sumber-sumber lain yang dapat diper-oleh perusahaan. (Antonio, 2001)

b. Pembiayaan konsumtif

Pembiayaan konsumtif merupakan pembiayaan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, yang akan habis diguna-kan untuk dipakai memenuhi kebutuhan. untuk pemenuhan barang tertentu yang dapat disertai dengan bukti kepemilikan yang sah, misalnya rumah dan kendaraan bermotor, yang kemudian menjadi barang jaminan utama (main collateral). Sedangkan untuk pemenuhan kebutuhan jasa, bank meminta jaminan berupa barang lain yang dapat diikat sebagai collateral. Sumber pembayaran kembali atas pembiayaan tersebut berasal dari sumber pendapatan lain, dan bukan dari eksploitasi barang yang dibiayai dari fasilitas ini. Bank syariah dapat menyediakan

(36)

pembiayaan komersil untuk pemenuhan kebutuhan barang konsumsi dengan menggunakan skema: (Antonio, 2001)

1) Al bai’ bi tsaman ajil (salah satu bentuk murabahah) atau jual-beli dengan angsuran.

2) Al ijarah al muntahia bit tamlik atau sewa beli.

3) Al musyarakah mutanaqhishah atau descreasing participation, di mana secara bertahap bank menurunkan jumlah partisipasinya.

4) Ar Rahn untuk memenuhi kebutuhan jasa.

2.1.6 Pembiayaan Mudharabah

2.1.6.1 Pengertian Pembiayaan Mudharabah

Mudharabah memiliki makna yang berasal dari kata dharb, berarti memukul atau berjalan. Definisi memukul atau berjalan ini lebih tepatnya yaitu sebuah proses seseorang memukulkan kakinya untuk menjalankan usaha. Sedangkan secara istilah, mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak di mana pihak pertama pemilik dana (Shahibul Maal) menyediakan seluruh dana, sedangkan pihak kedua pengelola dana (Mudharib) bertindak selaku pengelola, dan keuntungan usaha dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan tetapi kerugian finansial hanya ditanggung oleh pengelola dana. (Suwikayo, 2010)

Menurut Umer Chapra, seorang pakar ekonomi dari Pakistan mengartikan mudharabah merupakan sebuah bentuk kemitraan di mana salah satu mitra disebut shahibul maal atau rubbul maal (penyedia dana) yang menyediakan sejumlah modal tertentu dan bertindak sebagai mitra pasif (mitra tidur), sedangkan mitra yang lain disebut mudharib yang menyediakan keahlian usaha dan manajemen untuk menjalankan venture, perdagangan, industri atau jasa dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan. (Nurhasanah, 2015)

Mudharabah adalah akad perjanjian antara dua pihak atau lebih untuk melakukan kerja sama usaha. Pihak pertama sebagai penyedia modal sebanyak 100% yang disebut dengan Shahibul

(37)

Maal dan pihak kedua sebagai pengelola usaha yang disebut sebagai Mudharib. Ismail (2015)

Mudharabah merupakan akad antar pihak pemilik modal (shahibul maal) dengan pengelola (mudharib) untuk mendapatkan pendapatan atau keuntungan. Pendapatan atau keuntungan tersebut dibagi sesuai dengan nisbah yang telah disepakati di awal pada saat akad perjanjian. Naf'an (2014)

2.1.6.2 Dasar Hukum Pembiayaan Mudharabah a) Al-Qur’an

Surat Al-Muzzammil ayat 20, yaitu:

َي َنو ُرَخاَء َو ض ا يِف َن وُب ِر لآ َف ن ِم َن وُغَت بَي ِض ر ض ِل َِ اْلل ...

Artinya: "Dan dari orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah SWT". (Q.S Al-Muzzammil : 20)

Surat Al-Jumu'ah ayat 10, yaitu:

َف ِأ َذ ُقا ِض َي ِت َصاأ َل ُةو َفا لآ ا ىِفو ُرِثَت ن ر ِض َو با َت ُغ ِمأو ن َف ض ِل ِالل

Artinya: "Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah SWT". (Q.S Al-Jumu'ah : 10)

b) As-Sunnah

HR. Ibnu Majah No.2280 dalam kitab At-Tijarah, yaitu:

َع ن َص ا ِل ب ح ُص ن َح ي ب َع ن ِهيبا َلاَق َق َلا َر ُس و ُل ِالل َص َل ى ُُاْلل َع َل ي ِه َو َس َش مل َل ث ِف ي ِه َن َا ل َب َر َك ه َا ل َب ي ُع ِا َا ىل َج ل َو ُملا َراق َض ة َو َا خ َل َا ط ل ُب ر ثل اب ِع ي ِر ِل ل َب ي ِت ِ لا ل ل َب ي ِع

Artinya: Dari Shalih bin Shuhaib R.A. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tiga hal yang didalamnya terdapat keberkatan: jual beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual".

c) Ijma

Imam Zailai telah menyatakan bahwa para sahabat telah berkonsensus terhadap legitimasi pengolahan harta yatim secara mudharabah. Qiyas merupakan dalil lain yang membolehkan

(38)

mudharabah dengan mengqiyaskannya (analogi) kepada transaksi musaqat, yaitu bagi hasil yang umum dilakukan dalam bidang perkebunan. Dalam hal ini, pemilik kebun bekerja sama dengan orang lain dengan pekerjaan menyiram, memelihara dan merawat isi perkebunan. Dalam perjanjian ini, sang perawat (penyiram) mendapatkan bagi hasil tertentu sesuai dengan kesepakatan di depan dari out put perkebunan (pertanian). Dalam mudharabah, pemilik dana (shahibul maal) dianalogikan dengan pemilik kebun, sedangkan pemeliharaan kebun dianalogikan dengan pengusaha (entrepreneur).

2.1.6.3 Skema Pembiayaan Mudharabah Gambar 2.1

Sumber : Buku Perbankan Syariah dari Teori ke Praktik Oleh Syafii Antonio

Sesuai dengan skema di atas, dapat dijelaskan mekanisme yang dilakukan dalam transaksi mudharabah adalah sebagai berikut:

a) Jumlah modal yang diserahkan kepada nasabah sebagai pengelola modal harus diserahkan secara tunai, dapat berupa uang atau barang yang dinyataka nilainya dalam satuan uang. Apabila modal diserahkan secara berproses, harus jelas tahapannya dan disepakati bersama.

Gambar

Grafik Pembiayaan Bagi Hasil
Gambar 2.2  Gambar Kerangka Fikir
Gambar 2.2  Kerangka Penelitian
Tabel 4.1  DPK  2013  2014  2015  2016  2017  2018  2019  2020  Jan  148.731  177.930  164.291  173.230  205.783  239.318  257.606  286.485  Feb  150.795  178.154  163.159  173.834  208.429  239.258  257.052  291.069  Mar  156.964  180.945  165.034  174.77
+7

Referensi

Dokumen terkait

mengajarkan pengolahan lahan berupa pembuatan bedengan dan penggunaan pupuk kompos, kemudian dilanjutkan dengan cara penyemaian, selanjutnya menerangkan waktu pemberian

Home service yang di berikan orang dewasa/orang tua kepada anak memang lah perlu tapi kita sebagai orang dewasa/orang tua berikan lah home service sesuai dengan perkembangannya

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah integritas laporan keuangan yang diproksikan dengan konservatisme yang diukur menggunakan accrual measure, sedangkan

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini terdiri atas analisis laboratorium yang terdiri dari analisis kimia dan pengamatan petrografi batubara serta.. pengolahan dan

NO OUTPUT TARGET DAN CAPAIAN S.D TH 2012 MASALAH PENCAIAKAN OUTPUT STRATEGI PEMECAHAN MASALAH (PUSAT) STRATEGI PEMECAHAN MASALAH (DAERAH) 1 Dukungan APBD Propinsi

-Makalah Induktif : makalah yang didasarkan pada data empiris yang bersifat obyektif yang didapatkan dari lapangan yang relevan dengan pembahasan3. -Makalah campuran : makalah

Ketinggian maksimal bangunan permukiman di kawasan ini yaitu 2 lantai (12 meter) dan dapat dimanfaatkan sebagi homestay. Tujuannya adalah untuk mendukung kegiatan parawisata

Memiliki makna simbolik atau makna filosofis yang diharapkan dapat membantu melestarikan nilai budaya serta kesadaran masyarakat untuk mencintai dan melestarikan budaya