1
Pendahuluan
1.1. Latar Belakang Permasalahan
Bahan baku menjadi salah satu aspek yang sangat penting bagi perusahaan-perusahaan manufaktur. Hal ini berkaitan dengan manajemen operasional yang memang menjadi fokus utama dalam perusahaan manufaktur. Perusahaan manufaktur memang dalam beberapa tahun ini telah menjadi fokus utama dikarenakan perkembangan perusahaan manufaktur yang cukup signifikan. Hal ini sesuai dengan pendapat yang disampaikan oleh Menteri Perindustrian (Menperin) MS.Hidayat meyakini, dimana dijelaskan bahwa pertumbuhan sector manufaktur nasional pada tahun 2015 bisa mencapai 7,5% jika kapasitas industri nasional dan pengamanan pasar dalam negeri diperkuat. Untuk merealisasikan target tersebut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengajukan tambahan anggaran tahun 2015 sebesar Rp2,16 triliun.
Melihat dari uraian di atas, pastinya efek dari pertumbuhan tersebut secara merata terasa pada seluruh industri manufaktur tanpa terkecuali, dimana dalam penelitian ini, industri yang akan menjadi fokus penelitian adalah industri furniture. Industri furniture saat ini merupakan industri padat karya, dengan 4 juta orang yang mengandalkan industri ini sebagai sumber penghasilan, berperan menyumbangkan penghasilan devisa dari ekspor sebesar US$ 1,779 miliar di tahun 2013. Jumlah tersebut 50% dari ekspor kayu dan produk dari kayu Indonesia. Karena industri ini lokal contentnya sangat tinggi, maka industri mebel dan kerajinan termasuk salah satu dari 10 prioritas produk ekspor yang bisa diandalkan untuk memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Dari bukti yang ditemukan di atas, maka pastinya industri furniture menjadi salah satu industri yang peminat pasarnya sangat tinggi, oleh karena itu, untuk dapat mengantisipasi permintaan pasar yang tinggi, perusahaan memerlukan strategi yang dapat mengontrol kegiatan produksi furniture, salah satunya adalah dengan penerapan manajemen produksi dan operasional yang baik. Menurut Assauri (2004:10) produksi dan operasi dalam arti luas sebagai suatu kegiatan yang mentransformasikan masukan (input) menjadi hasil keluaran (output) tercakup
semua kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa serta kegiatan lain yang mendukung atau menunjang usaha untuk menghasilkan produk tersebut. Dari uraian diatas, pastinya manajemen produksi dan operasi sangat berkaitan dengan kemampuan perusahaan dalam mengatur jumlah produksi maupun biaya produksi.
Salah satu bagian dari manajemen produksi adalah bahan baku. Bahan baku menjadi aspek penting dalam manajemen produksi, terutama mengenai pemesanan dan pengesetan bahan baku menjadi barang siap pakai. Apabila sebuah perusahaan memeiliki manajemen produksi yang baik, pastinya segala permasalahan mengenai pemesanan maupun pengesetan dapat diatur dengan baik. Namun, hal ini berkebalikan denga napa yang terjadi pada CV. Surya Teknik Mandiri.
CV. Surya Teknik Mandiri adalah salah satu perusahaan furniture yang beralamat di Jalan Raya Cilegon Km 2, no 39, Serang Banten, 42115. Kegiatan operasional yang berlangsung pada perusahaan ini meliputi pemesanan dan pengesetan bahan baku kayu menjadi furniture siap pakai, namun, saat ini CV. Surya Teknik Mandiri sedang di terpa masalah mengenai biaya penyimpanan dan pengesetan yang cenderung tinggi dikarenakan seluruh pemesanan bahan baku yang digunakan masih bersifat konvensional dan tidak menggunakan perhitungan yang sistematis sehingga membuat perusahaan mengalami kerugian terutama pada biaya penyimpanan dan pengesetan yang terlalu mahal akibat jumlah bahan baku yang sering mengalami kesalahan perhitungan. Hal ini dapat terlihat dari bukti sebagai berikut:
Gambar 1.1. Grafik Peningkatan Biaya Penyimpanan Bahan Baku Sumber: Data Sekunder, CV. Surya Teknik Mandiri
Dari grafik di atas, jelas terlihat bahwa memang saat ini biaya penyimpanan bahan baku terus mengalami peningkatan sedangkan hal ini tidak sesuai dengan ekspektasi dari CV. Surya Teknik Mandiri. Hal ini juga
mengindikasikan adanya kesalahan dalam melakukan pemesanan bahan baku yang dilakukan oleh CV. Surya Teknik Mandiri. Selain itu, permasalahan lain yang ditemukan adalah CV. Surya Teknik Mandiri saat ini belum mengetahui secara pasti perhitungan waktu untuk pembuatan satu produk furniture sehingga sering kali penyelesaian produk mengalami keterlambatan dan dapat dibuktikan dari jumlah keluhan yang semakin meningkat selama 3 bulan terakhir sebagai berikut:
Tabel 1.1. Jumlah Keluhan Distributor dan Pelanggan
Bulan Keluhan
Oktober 14
November 17
Desember 28
Sumber: Data sekunder, CV. Surya Teknik Mandiri
Dari beberapa bukti yang ada, cenderung menunjukkan permasalahan yang kuat pada pemesanan bahan baku. Salah satu metode yang tepat untuk mengatasi permasalahan mengenai bahan baku adalah Material Requirement Planning. Material Requirement Planning itu sendiri menurut Rangkuti (2007), MRP (Material Requirement Planning) adalah suatu system perencanaan dan penjadwalan kebutuhan material untuk produksi yang memerlukan beberapa tahapan proses (fase) atau dengan kata lain adalah suatu rencana produksi untuk sejumlah produk jadi yang diterjemahkan kebahan mentah atau komponen yang dibutuhkan dengan menggunakan waktu tenggang sehingga dapat ditentukan kapan dan berapa banyak yang dipesan untuk masing-masing komponen suatu produk yang akan dibuat.
Menurut penelitian terdahulu yang dijalankan oleh Hasan (2013), dijelaskan bahwa memang metode Material Requirement Planning merupakan metode yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan mengenai pemenuhan bahan baku, oleh karena itu, penelitian ini akan dilanjutkan dengan judul: “Penerapan Material Requirement Planning Sebagai Dasar Perhitungan Persediaan Bahan Baku Pada CV. Surya Teknik Mandiri”.
1.2. Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah dalam penelitian yang berjudul “Penerapan Material Requirement Planning Sebagai Dasar Perhitungan Persediaan Bahan Baku Pada CV. Surya Teknik Mandiri” ini adalah:
1. Teknik Material Requirement Planning mana yang paling optimal atas penyimpanan bahan baku dengan pendekatan EOQ atau Lot for Lot ? 2. Teknik Material Requirement Planning mana yang paling optimal atas
pengesetan (perakitan) bahan baku dengan pendekatan EOQ atau Lot for Lot?
3. Metode apakah yang paling tepat untuk diterapkan pada CV. Surya Teknik Mandiri untuk membuat produk tipe meja dan kursi pada tahun 2015?
1.3. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini akan dijalankan di CV. Surya Teknik Mandiri yang beralamat di Jalan Raya Cilegon Km 2, no 39, Serang, Banten, 42115. Penelitian ini akan dijalankan dari bulan September 2014 hingga Januari 2015 dan hanya membahas mengenai persediaan bahan baku untuk furniture tipe meja serta kursi dan tidak membahas hal-hal lain di luar penelitian. Objek dari penelitian ini adalah bahan baku untuk pembuatan produk tipe meja dan kursi.
1.4. Tujuan Penelitian
1. Untuk memberikan perhitungan Material Requirement Planning atas penyimpanan bahan baku dengan pendekatan EOQ pada CV. Surya Teknik Mandiri untuk membuat produk tipe meja dan kursi pada tahun 2015.
2. Untuk memberikan perhitungan Material Requirement Planning atas pengesetan bahan baku dengan pendekatan EOQ pada CV Surya Teknik Mandiri untuk membuat produk tipe meja dan kursi pada tahun 2015. 3. Untuk memberikan rekomendasi metode yang paling tepat untuk
diterapkan pada CV. Surya Teknik Mandiri untuk membuat produk tipe
1.5. State of The Art
Penelitian yang dapat dijadikan landasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 1.2. State of The Art
Peneliti, Tahun Judul Penelitian Pembahasan
Firmansyah Saleh dan Dian
Dharmayanti (2012)
Penerapan Material
Requirement Planning (MRP) Pada Sistem Informasi
Pesanan dan Inventory Control Pada CV ABC
Sistem informasi pengolahan data pesanan dan inventory control berbasis MRP dapat mempermudah pegawai untuk menghindari
kesalahan- kesalahan dalam pencatatan transaksi dan meningkatkan kinerja dan efisiensi waktu.
Dr. Ali Hasan (2013) A Study On Material
Requirement Planning System For Small Scale Industries
Penelitian ini menjelaskan penerapan MRP dalam sebuah perusahaan dapat membantu perusahaan dalam menyelesaikan
permasalahan menyangkut kebutuhan bahan baku untuk membuat sebuah produk. Dinesh E. D, Arun A.
P, Pranav. R (2014)
Material Requirement Planning for Automobile Service Plant
Penelitian ini menguraikan permasalahan perusahaan dalam mengatasi bahan baku yang sering mengalami permasalahan dalam penghitungan waktu pemesanan dan metode MRP berhasil
permasalahan. Suryanto, Agus 2013 Penerapan Metode Material
Requirement Planning Di PT. Bokormas Mojokerto
Penelitian ini menguraikan perusahaan dapat melakukan biaya persediaan karena persediaan bahan baku yang rendah, namun proses produksi tetap berjalan lancar tanpa terganggu. Luftu Sagbansua,
PhD
M. Nurettin Alabay, PhD
The information
technologies pose as one of the biggest enablers of the modern supply chain management (SCM). This study focuses on one of the vital use of information technologies in SCM context, namely Materials Requirement Planning (MRP).