• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Bab I Pendahuluan

I.1 Latar Belakang

Industri garmen di Indonesia merupakan salah satu aspek yang berperan cukup penting bagi pertumbuhan ekonomi negara. Dewasa ini, industri garmen Indonesia terus merangkak naik, misalnya pada 2013 lalu total nilai ekspornya mencapai 7,72 milyar dollar AS atau sebesar 85 triliun Rupiah. Lalu dalam lima tahun terakhir, produk ekspor garmen Indonesia menunjukan tren positif sebesar 7,01%, dimana negara tujuan ekspor terbesar produk garmen Indonesia masih tertuju kepada Amerika Serikat yang mencapai 50,09%. Setelah AS, Jepang mencatatkan impor garmen dari Indonesia mencapai 8,88%. Selanjutnya disusul Jerman sekitar 6,87%, Korea Selatan sekitar 3,78% dan Inggris 3,76%. Ekspor garmen Indonesia ke AS tren pertumbuhannya sebesar 3,02 %. Pada periode Januari-Juli 2014, ekspor garmen Indonesia nilainya mencapai 4,65 milyar dollar AS, dengan nilai ekspornya ke AS mencapai 2,3 milyar dollar AS.

Industri garmen Indonesia juga tidak hanya berkembang dalam hal ekspor. Indonesia mengembangkan industri garmen dengan penyebaran dalam negeri. Kualitas sesungguhnya tidak kalah dengan kualitas asing yang selalu berusaha bersaing dengan produk dalam negeri di Indonesia. Pada tahun 2010, jumlah tenaga kerja yang dapat diserap oleh industri garmen di indonesia adalah sebesar 461.474 jiwa dan konsumsi domestik produk garmen pada tahun 2014 naik 50% dari tahun 2008, yang mana sebelumnya 1,2 juta ton menjadi 1,8 juta ton.

Salah satu industri garmen yang terus berkembang di Indonesia adalah Industri Rajut, dimana Kota Bandung merupakan salah satu kota yang banyak berpartisipasi dalam pengembangannya karena memiliki Sentra Rajut dengan jumlah unit usaha yang sangat

(2)

banyak yaitu sebanyak kurang lebih 293 unit usaha. Dengan Kapasitas Produksi seperti yang ada dalam tabel di bawah ini.

Tabel 1.1 Data Kapasitas Produksi Sentra Rajut Binong Jati Kota Bandung Tahun 2008-2011

Tahun Kapasitas produksi (lusin)

2008 1.123.200

2009 1.123.200

2010 1.123.200

2011 965.000

(Sumber : Dinas Koperasi UKM dan Perindag Kota Bandung)

Selain industri rajut, Kota Bandung juga menjadi tempat yang sangat cocok untuk mengembangkan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Mengingat UMKM merupakan sebuah unsur penting dalam menyokong perekonomian Indonesia, terutama dalam penyebaran produk-produk garmen agar dapat dikonsumsi baik oleh pihak asing maupun domestik yang dibuktikan dengan data dari Badan Pusat Statistik yang menyebutkan bahwa jumlah UMKM terus bertambah mencapai 55.2 juta pada tahun 2011 dan 56.5 juta pada tahun 2012. Semua usaha tersebut memberikan kontribusi dalam PDB sebesar 57,9% dan kontribusi penyerapan tenaga kerja 97,16% sementara usaha besar hanya menyerap tenaga kerja sebesar 2,84%.. Kota Bandung sendiri juga memiliki banyak sekali industri kreatif yang dijalankan oleh penduduk setempat, terutama dalam hal fashion, kota ini sering disebut “kota mode”. Bandung menjadi cukup istimewa karena memiliki banyak pengrajin dan sentra industri baik kuliner maupun pakaian jadi atau alas kaki seperti contohnya sentra industri sepatu Cibaduyut, sentra industri rajutan Binong Jati, sentra industri jeans Cihampelas dan sentra industri lainnya yang memiliki banyak unit usaha. Karena hal inilah wisatawan lokal maupun asing selain menikmati keindahan alam Kota Bandung juga dapat menyumbang dalam peningkatan ekonomi masyarakat Kota Bandung. Dapat dilihat perkembangan Kota

(3)

Bandung dalam menarik wisatawan domestik dan mancanegara dalam tabel di bawah ini.

Tabel 1.2 Data Kunjungan Wisatawan ke Kota Bandung Tahun 2009-2013

No. Jenis Wisatawan

Jumlah Per-Tahun

2009 2010 2011 2012 2013

1. Mancanegara 168.712 180.603 194.062 158.848 170.982 2. Domestik 2.928.157 3.024.666 3.882.010 3.354.857 3.726.447 Jumlah 3.096.869 3.205.269 4.076.072 3.513.705 3.897.429

(Sumber : BPS Kota Bandung)

Karimake adalah salah satu UMKM yang ada di Kota Bandung yang bergerak dalam industri pakaian rajut, tepatnya berada di Jalan Binong Jati, gang masjid No. 28, Kecamatan Batununggal. Karimake merupakan sebuah home industry pakaian rajut konvesional yang telah merambah ke pemasaran retail, dimana pemilik Karimake adalah beberapa pemuda yang berasal dari sentra industri rajut Binong Jati yang telah ada sejak tahun 1960. Berikut adalah jenis produk beserta rentang harga yang diproduksi oleh Home Industry Karimake :

Tabel 1.3 Daftar Jenis Produk Home Industry Karimake

No.

Jenis

Produk Harga

1 Sweater Rp35.000 – Rp50.000 2 Oblong Rp35.000 – Rp75.000 3 Cardigan Rp35.000 – Rp100.000 4 Rompi Rp35.000 – Rp50.000

(Sumber : Data keuangan Karimake )

Pemilik usaha home industry Karimake juga memiliki rencana untuk mengembangkan usahanya, alasan yang melatar belakangi pelaku usaha ini mengembangkan usahanya

(4)

adalah karena permintaan terus meningkat. Adanya pemasaran retail dan permintaan modifikasi produk dari konsumen membuat home industry karimake mampu menjangkau konsumen yang tadinya tidak terjangkau karena kuantitas barang yang dibeli berjumlah satuan. Dengan adanya konsumen yang membeli satuan, keuntungan per-produk dirasakan lebih besar dibanding pembelian dalam kuantitas besar. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan pendapatan pada Gambar 1.1.

Gambar I.1 Perkembangan Pendapatan Karimake Binong Jati (Sumber : Data Keuangan dari Karimake)

Dari Gambar I.1, diperoleh keterangan bahwa setiap tahunnya ada peningkatan pendapatan yang diperoleh pemilik usaha rajut Karimake Binong Jati. Pada tahun 2010 pendapatannya sebesar Rp 582.504.000,- dan pada tahun 2011 pendapatan meningkat menjadi sebesar Rp 611.629.200,- sehingga terjadi peningkatan pada 2010-2011 sebesar 5%. Pada tahun 2012 pendapatan masih meningkat menjadi sebesar Rp 672.792.100,- dan peningkatan itu sebesar 10% pada tahun 2011-2012. Dan terakhir pada tahun 2013, Karimake memperoleh pendapatan sebesar Rp 740.071.300,- sehingga untuk tahun 2012-2013 terjadi kenaikan sebesar 10%. Data tersebut membuktikan bahwa usaha ini memiliki potensi yang cukup baik dalam pengembangannya yang dimulai dari pembukaan cabang baru. Kebanyakan pemilik usaha rajut di Binong Jati bersepakat membuat Kelurahan Binong Jati menjadi tempat

- 100.000.000 200.000.000 300.000.000 400.000.000 500.000.000 600.000.000 700.000.000 800.000.000

2010 2011 2012 2013

Pendapatan

(5)

wisata rajut di Kota Bandung dengan membuat salah satunya gedung showroom khusus rajut diperuntukan bagi wisatawan dan warga Bandung yang ingin berbelanja pakaian rajut dan belajar merajut, maka pembukaan cabang dilakukan di kelurahan Binong Jati.

Akses gedung tersebut rencananya memanfaatkan sebuah gedung serba guna yang berada di Jl. Binong Jati No. 135 beserta lahan kosong dan persawahan dengan perkiraan luas sebesar 6.000 m2 lebih sehingga perlu adanya masukan rancangan bagaimana tata letak cabang baru nantinya di dalam showroom tersebut. Dengan sumbangan dari presiden yang semakin membuka kesempatan bagi pemilik usaha untuk mengembangkan usahanya.

(sumber:http://kmjurnalistik.info/sebagai-upaya-dukungan-pengembangan-industri- rajut-jokowi-sumbangkan-dana-250-juta-bagi-sentra-rajut-binongjati/)

Sentra industri rajut Binong Jati yang sekarang memliki 293 unit pelaku usaha dan 2.143 tenaga kerja dan dengan kapasitas produksi total 984.426 lusin per-tahun. Hal ini cukup mengkhawatirkan, karena terjadi penurunan pelaku unit usaha rajut di kawasan Binong Jati yang tadinya sempat mencapai angka 400 pelaku usaha pada tahun 2010, kini mulai berkurang menjadi 293 unit pelaku usaha dikarenakan adanya kenaikan harga bahan baku benang yang penyebabnya masih belum diketahui sehingga banyak sekali pengusaha rajutan di Binong Jati yang gulung tikar.

(sumber:http://www1.jabarprov.go.id/index.php/news/1460/2010/12/21/Terancam- Bangkrut-UMKM-Rajutan-Binong-Jati-Butuh-Bantuan).

Selain di kelurahan Binong Jati, Kota Bandung memiliki sentra industri rajut lainnya yang berada di Kecamatan Buah Batu, yaitu sentra rajut di kelurahan Margasari yang memiliki 13 unit pelaku usaha dan 103 tenaga kerja. Kedua sentra industri ini sama- sama memproduksi berbagai jenis pakaian rajut. Dari studi kelayakan yang dibuat ini dapat dilihat bagaimana prospek pemasarannya hingga perhitungan matematis mengenai modal awal dan proyeksi penerimaan, sehingga pemilik usaha rajut Karimake dapat mengetahui bagaimana prospek pengembangan usaha kedepannya.

Apakah pengembangan dengan membuka cabang baru di sebuah gedung wisata rajut

(6)

dapat mendatangkan income atau profit bagi pemilik usaha dan perluasan pasar dapat membuat industri rajut Binong Jati banyak dikenal, sehingga pengembangan usaha tersebut dapat dijalankan serta mampu bersaing dan bertahan menghadapi para kompetitornya. Juga keadaan toko yang saat ini terletak di tempat yang sulit untuk dijangkau sehingga perlu untuk penataan letak yang baik agar mudah menjangkau konsumen. Nantinya studi kelayakan pembukaan cabang baru dapat menjadi perbandingan dengan yang sudah ada sekarang atau menjadi pertimbangan dalam pembukaan cabang baru, yaitu di Kelurahan Binong Jati.

I.2 Perumusan Masalah

Prospek yang besar di usaha home industry Karimake, dan keberhasilan yang telah dicapai dilihat dari adanya peningkatan penjualan membuat pemilik usaha ingin mengembangkan usahanya. Tetapi, terlalu banyaknya persaingan dengan terdapatnya lebih dari 200 usaha yang sama, maka rumusan masalah yang dapat diangkat dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana pendirian cabang baru usaha home industry Karimake dilihat dari aspek pasar?

2. Bagaimana gambaran pendirian cabang baru usaha home industry Karimake dilihat dari aspek teknis?

3. Bagaimana gambaran pendirian cabang baru usaha home industry Karimake dilihat dari aspek finansial?

4. Bagaimana analisis sensitivitas dan analisis resiko pendirian cabang baru home industry Karimake?

I.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Mengkaji pendirian cabang baru usaha home industry Karimake dilihat dari aspek pasar.

2. Mengkaji pendirian cabang baru usaha home industry Karimake dilihat dari aspek teknis.

(7)

3. Mengkaji pendirian cabang baru usaha home industry Karimake dilihat dari aspek finansial.

4. Menganalisis analisis sensitivitas dan analisis resiko kelayakan pendirian cabang baru home industry Karimake.

I.4 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diperoleh dari hasil penelitian ini diantaranya adalah :

1. Membantu perusahaan untuk mendapatkan informasi kelayakan bisnis ditinjau dari aspek pasar, aspek teknis, dan aspek finansial.

2. Mengetahui keuntungan yang diperoleh dan mengetahui tingkat pengembalian investasi.

3. Mengetahui variabel-variabel yang mempengaruhi kelayakan bisnis serta risiko dari lingkungan sekitar terhadap keuntungan perusahaan, serta dapat merumuskan strategi bisnis yang dapat digunakan untuk pendirian cabang baru usaha rajut Karimake.

I.5 Batasan Masalah

Penelitian ini dilakukan di home industry Karimake yang berlokasi di Bandung Jalan Binong Jati, Gang Mesjid No. 28. Pemilihan home industry Karimake ini dikarenakan usaha ini merupakan salah satu industri rajut yang ada di Kota Bandung yang ingin dan memiliki peluang untuk mengembangkan usahanya. Penelitian ini berfokus pada aspek non finansial (aspek pasar dan pemasaran serta aspek teknis dan teknologi) dan aspek finansial. Kriteria kelayakan yang digunakan adalah NPV (Net Present Value), IRR (Internal Rate Return), PP (Payback Period), dan Analisis Sensitivitas (Switching Value). Dalam penelitian ini juga di tentukan batasan kriteria yang berpengaruh pada

penelitian sebagai berikut :

1. Periode penelitian dilakukan selama 1 tahun.

2. Gedung tempat lokasi toko/cabang baru diasumsikan sudah ada dan penelitian ini memberikan masukan rancangan cabang baru beserta akses jalannya.

(8)

3. Suku bunga, inflasi, pajak dan kondisi ekonomi lainnya dianggap stabil selama periode analisis.

4. Penelitian hanya terbatas pada permintaan konsumen di Kota Bandung.

I.6 Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan pengkajian, penulisan, pembahasan, dan penyusunan laporan tugas akhir ini, maka di buat sistematika penulisan sebagai berikut:

BAB I Pendahuluan

Berisi latar belakang, perumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, asumsi dan sistematika penulisan.

BAB II Tinjauan Pustaka

Berisi mengenai teori–teori yang meliputi teori dan metode yang digunakan dalam penelitian ini.

BAB III Metode Penelitian

Berisi mengenai tahapan–tahapan yang akan dilakukan dalam penelitian.

Metodologi merupakan suatu yang penting dan harus ditetapkan terlebih dahulu, sehingga penelitian dapat dilaksanakan dengan baik dan benar.

BAB IV Pengolahan dan Pengumpulan Data

Berisi tentang bentuk pengumpulan data yang dilanjutkan pengolahan data pada penelitian ini.

BAB V Analisis Data

Berisi tentang analisa data terhadap yang telah dilakuakan pada pengumpulan dan pengolahan data untuk memperjelas maksud pengerjaan laporan ini.

BAB VI Kesimpulan dan Saran

Bab ini berisi tentang kesimpulan yang merupakan jawaban dari perumusan masalah yang telah ditetapkan dan mengemukan saran-saran yang mungkin diperlukan.

Gambar

Tabel 1.1 Data Kapasitas Produksi Sentra Rajut Binong Jati Kota Bandung  Tahun 2008-2011
Tabel 1.2 Data Kunjungan Wisatawan ke Kota Bandung Tahun 2009-2013
Gambar I.1 Perkembangan Pendapatan Karimake Binong Jati   (Sumber : Data Keuangan dari Karimake)

Referensi

Dokumen terkait

Alasan mereka, larangan mendekati tempat shalat yang bersumber dari Rasulullah n bagi orang-orang yang mampu tapi tidak berqurban menunjukkan bahwa orang itu telah meninggalkan

mengembangkan aspek fisik, keseimbangan antara bermain aktif dan pasif, tidak berbahaya, memiliki nilai kebaikan, memiliki aturan dan tujuan yang jelas [14]. Jumlah

Sebagian dari mereka mungkin akan menyuarakan ketidak puasan dengan mengajukan keluhan (complain), tetapi tidak sedikit pula dari mereka yang memilih untuk diam. Namun ada hal yang

Santoso (2010) melakukan penelitian dengan menggunakan data tahun 1994–2008 meliputi pertumbuhan ekonomi, impor barang modal, ekspor, investasi, jumlah tenaga kerja,

Pada akhirnya manajemen mengubah nama Departemen CRM menjadi Departemen Non Dealer Sales (Dept NDS), dengan fungsi utamanya pemasaran produk-produk yang tidak melalui

Untuk itu guna mengantisipasi akan adanya kegagalan proses maka PT.XYZ menerapkan Quality management System ISO/TS 16949 dengan tools yang digunakan seperti FMEA (

Sebenarnya, yang dimaksud dengan foto udara pada tulisan ini adalah sebuah gambar yang dicetak pada media kertas (foto) yang dihasilkan dari hasil pemotretan dengan perekaman

Toolpath Strategy dari Favourites ini terdapat lima Toolpath strategy sebagai default yaitu, Constant Z Finishing, Offset Area Clear Model, Optimized Constant Z