• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS AKHIR PERTUMBUHAN STEK TANAMAN LADA PADA BERBAGAI MEDIA SECARA HIDROPONIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TUGAS AKHIR PERTUMBUHAN STEK TANAMAN LADA PADA BERBAGAI MEDIA SECARA HIDROPONIK"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

i

TUGAS AKHIR

PERTUMBUHAN STEK TANAMAN LADA PADA BERBAGAI

MEDIA SECARA HIDROPONIK

OLEH

SITI FATIMAH PARIDE

1422040221

JURUSAN BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKEP

(2)
(3)
(4)

iv

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat dan taufik-Nya yang telah dilimpahkan sehingga penyusunan Laporan Tugas Akhir yang berjudul Pertumbuhan Stek Tanaman Lada Pada Berbagai Media Secara Hidroponik, penulis dapat menyelesaikan dengan baik.

Suatu hal yang lazim terjadi dalam diri setiap manusia, bahwa suatu pekerjaan yang baru akan banyak mengalami hambatan dalam melakukan atau menyelesaikan pekerjaan tersebut. Namun berkat ketabahan dan kesabaran akan kewajiban sebagai mahasiswa disamping adanya bimbingan serta petunjuk-petunjuk dari berbagai pihak akhirnya laporan tugas akhir ini bisa diselesaikan, dengan segala kerendahan hati yang tulus penulis menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya, khususnya kepada :

1. Kedua orang tua penulis, Ayahanda Muhammad Farid dan Ibunda Fatmawati yang telah membesarkan, mendoakan dan memberikan motivasi kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan laporan ini. 2. Dr. Ir. Darmawan, MP selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Pangkep 3. Dr. Junaedi, SP., M.Si selaku Ketua Jurusan Budidaya Tanaman

perkebunan

4. Dr. Syahruni Thamrin, SP., M.Si selaku pembimbing pertama dan Junyah Leli Isnaini, SP., MP selaku pembimbing kedua yang rela dan ikhlas mengorbankan waktunya dalam memberikan bimbingan serta petunjuk kepada penulis.

5. Sulkifli, S.Pi, M.Si selaku Pembantu Direktur Bidang Kemahasiswaan beserta Wahyuni, SE, Wahida, SE, Irawan, S.Pi, M.Si, Ahmad Daud, S.T.,

(5)

v

M.Si selaku staff Bidang Kemahasiswaan Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.

6. Dr. Ireng Darwati selaku pembimbing di BALITRO.

7. Sarwenda, S.P. dan Wawan Lukman selaku pembimbing lapangan. 8. Dosen dan segenap staf teknisi Jurusan Budidaya Tanaman Perkebunan. 9. Seluruh rekan–rekan mahasiswa yang tidak sempat penulis sebut satu persatu. Akhirnya dengan segala kerendahan hati penulis senantiasa mendoakan kepada Allah SWT, semoga bantuan dan kasih sayang dari semua pihak mendapat imbalan yang setimpal dari-Nya.Amin….

Pangkep, 2017

(6)

vi RINGKASAN

SITI FATIMAH. 1422040221. Pertumbuhan Stek Tanaman Lada Pada Berbagai Media Secara Hidroponik. Di bimbing oleh Syahruni Thamrin dan Junyah Leli Isnaini.

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui respon pertumbuhan stek pucuk lada pada media hidroponik. Percobaan ini terdiri dari beberapa tahapan, yaitu (1) Penyiapan media hidroponik menggunakan larutan nutrisi hidroponik (2) Penanaman stek pucuk pada media hidroponik. Parameter yang di amati adalah jumlah tunas, jumlah daun, jumlah akar, tinggi akar, tinggi tunas, diameter tunas.

Percobaan ini menggunakan sistem hidroponik wick dimana sumbu dimanfaatkan sebagai media untuk menyalurkan larutan nutrisi ke akar tanaman, akar tanaman tidak dicelupkan langsung ke dalam air melainkan dengan perantara bahan yang mudah menyerap air misalnya sumbu, adapun media tanam yang digunakan yaitu arang sekam. Perlakuan hidroponik ini terdiri dari 4 (empat) taraf yaitu M0 = Nutrisi hidroponik, M1 = Nutrisi hidroponik + Air kelapa, M2 = Nutrisi

Hidroponik + Bawang putih, dan M3 = Nutrisi hidroponik + Air kelapa +Bawang

putih.Terdapat empat perlakuan dan tiga ulangan, tiap perlakuan berjumlah 16 tanaman sehingga jumlah keseluruhan adalah 192 tanaman. Tanaman yang dijadikan sampel dalam tiap perlakuan hanya enam tanaman yang dipilih yang mempunyai pertumbuhan yang baik (sudah bertunas dan berdaun). Keenam tanaman sampel diamati dengan waktu yang berbeda (tiga tanaman pada pengamatan pertama = umur 1 bst dan 3 tanaman pada pengamatan kedua = umur 2 bst). Data hasil pengamatan, diolah menggunakan statistik sederhana yaitu menghitung perbedaan rata-rata pertumbuhan benih tanaman lada pada setiap perlakuan.

Hasil dilapangan terlihat bahwa pada perlakuan pemberian nutrisi hidroponik + air kelapa + bawang putih (M3) menunjukkan hasil pertumbuhan

jumlah tunas yang banyak yaitu 1,3, pada perlakuan pemberian nutrisi hidroponik (M0) menunjukkan hasil pertambahan jumlah daun yang banyak yaitu 2, 1 helai,

pada perlakuan pemberian nutrisi hidroponik + air kelapa (M1) menunjukkan hasil

pertambahan jumlah akar yang paling banyak yaitu 10, 2, pada perlakuan pemberian nutrisi hidroponik (M0) menunjukkan hasil pertumbuhan panjang akar

yang paling banyak yaitu 7 cm, pada perlakuan pemberian nutrisi hidroponik (M0)

menunjukkan hasil pertambahan panjang tunas yang paling banyak yaitu 3,9 cm, pada perlakuan pemberian nutrisi hidroponik (M0) menunjukkan hasil pertambahan

(7)

vii

DAFTAR ISI

Hal

HALAMAN JUDUL.. ... i

HALAMAN PENGESAHAN.. ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RINGKASAN ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Tujuan dan Kegunaan ... 3

C. Hipotesis ... 3

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Sistematika Tanaman Lada ... 4

B. Morfologi Tanaman Lada ... 4

C. Syarat Tumbuh Tanaman Lada ... 9

D. Perbanyakan Tanaman Lada ... 9

1. Generatif ... 9

2. Vegetatif... 10

3. Media Hidroponik ... 11

4. Zat Perangsang Tumbuh ... 13

III. BAHAN DAN METODE A. Waktu dan Tempat ... 15

B. Bahan dan Alat ... 15

C. Metode Percobaan ... 15

D. Pelaksanaan Percobaan ... 16

1. Persiapan Media Hidroponik ... 16

2. Penanaman Stek dan Bawang Putih ... 17

(8)

viii

E. Parameter Pengamatan ... 17

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil ... 19 1. Jumlah Tunas ... 19 2. Jumlah Daun ... 20 3. Jumlah Akar ... 20 4. Tinggi Akar ... 21 5. Tinggi Tunas ... 22 6. Diameter Tunas ... 23 B. Pembahasan ... 24

V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 26

B. Saran ... 26

DAFTAR PUSTAKA ... 27

LAMPIRAN ... 28

(9)

ix

DAFTAR GAMBAR

No Halaman

1. Rata-rata pertambahan jumlah tunas ... 19

2. Rata-rata pertambahan jumlah daun ... 20

3. Rata-rata pertambahan jumlah akar ... 21

4. Rata-rata pertambahan tinggi akar ... 22

5. Rata-rata pertambahan tinggi tunas ... 23

6. Rata-rata pertambahan diameter tunas ... 24

7. Persiapan media hudroponik ... 33

(10)

x

DAFTAR LAMPIRAN

No Halaman

1. Denah percobaan sistem hidroponik wick ... 29

2a. Rata-rata pertambahan jumlah tunas ... 30

2b. Rata-rata pertambahan jumlah daun ... 30

3a. Rata-rata pertambahan jumlah akar ... 31

3b. Rata-rata pertambahan tinggi akar ... 31

4a. Rata-rata pertambahan tinggi tunas ... 32

(11)

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lada (piper nigrum L) merupakan tanaman penting di Indonesia karena hasil komoditas ini menjadi salah satu sumber devisa. Lada merupakan komoditas ekspor yang pada tahun 2000 telah mencapai 68. 727 ton dan bernilai 221 juta US$. Ekspor lada menempati urutan keenam setelah tanaman karet, kelapa sawit, kopi, kakao, dan kelapa. Namun demikian produktivitas lada di Indonesia masih rendah dibanding dengan India dan Malaysia (Setiyono et al., 2004).

Menurut Gunaratne, pada tahun 2015 permintaan lada dunia mencapai 328.000 metric ton (MT) per tahun. Sementara produksi dunia hanya masih di bawah 300.000 MT per tahun. Hal tersebut memicu harga lada hitam pada tahun 2013 mengalami kenaikan harga yaitu dari 6 dolar AS naik menjadi 9 dolar AS per kilogram. Kondisi itu, terjadi karena hampir semua negara penghasil lada mengalami penurunan produksi akibat berbagai faktor. Terutama, faktor alam seperti kekeringan dan serangan hama.

Mengingat prospek yang sangat bagus pada tanaman ini maka produksi lada perlu dikembangkan dengan upaya budidaya yang baik. Ini memungkinkan petani lada untuk meningkatkan pendapatan dan pada akhirnya mendukung pendapatan devisa negara. Kenyataan yang terjadi, petani melakukan budidaya tanaman lada dengan sangat sederhana, yaitu hanya menggunakan tanah dan pupuk kandang. Keberhasilan dalam mengusahakan benih lada panjat ditentukan oleh banyak faktor, salah satunya adalah penyiapan media tanam untuk pembenihan.

Tingkat ketersediaan bibit yang sehat dalam jumlah banyak merupakan kunci bagi keberhasilan produksi lada. Karena itu perlu dilakukan upaya

(12)

2

pembenihan yang menunjang pembentukan akar yang sehat. Caranya adalah dengan penggunaan media tanam yang baik bagi akar dalam arti suatu media yang mampu menyediakan unsur hara dan mendukung perkembangan akar (Setiyono et al., 2004).

Kegiatan intesifikasi tanaman lada meliputi pula penyediaan bibit yang baik dimana dewasa ini petani lebih dianjurkan untuk menggunakan bibit hasil perbanyakan secara vegetatif, diantaranya dengan menggunakan bahan stek. Perbanyakan tanaman dengan cara stek menguntungkan sebab tanaman yang dihasilkan memiliki sifat-sifat yang sama dengan induknya dan kemampuan berproduksi merata (Rukmana. Dadang, 2014).

Pada umumnya, bahan tanam yang digunakan untuk perbanyakan vegetatif yaitu bahan tanam yang berasal dari pohon induk yang umur fisiologisnya 7 - 8 bulan dan sulur yang digunakan yaitu sulur yang tidak terlalu tua dan muda (pucuk). Pada saat pengambilan bahan tanam, stek yang muda akan dibuang karena stek ini dianggap tidak dapat bertahan lama di persemaian sehingga kurang baik digunakan sebagai bahan tanam. Namun sangat di sayangkan apabila stek tersebut dibuang begitu saja karena ada banyak bahan tanam yang tidak terpakai.

Berdasarkan dari uraian diatas agar stek pucuk dapat bertahan lama di persemaian maka dilakukan percobaan pada stek pucuk dengan menggunakan teknik perbanyakan secara hidroponik dengan memanfaatkan larutan air kelapa,bawang putih dan nutrisi hidoponik A dan B.

(13)

3 B. Tujuan dan kegunaan

Tujuan percobaan ini untuk mengetahui respon pertumbuhan stek pucuk lada pada media hidroponik.

Kegunaan percobaan ini diharapkan dapat menambah wawasan, pengetahuan dan keterampilan mahasiswa. Serta untuk memanfaatkan stek pucuk lada agar dapat bertahan lama di persemaian sehingga dapat dijadikan benih yang siap ditanam di lahan.

C. Hipotesis

Terdapat satu media larutan nutrisi hidoponik yang memberikan hasil tertinggi pada pertumbuhan stek pucuk lada.

(14)

4

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Sistematika Tanaman Lada

Klasifikasi tanaman lada (Ditjenbun, 2013) Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta Sub Divisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledoneae Ordo : Piperales

Famili : Piperaceae Genus : Piper L

Spesies : Piper nigrum Linn.

B. Morfologi Tanaman Lada 1. Akar

Tanaman lada mempunyai 2 jenis akar, yakni :

a. Akar yang terdapat di atas tanah. Akar yang terdapat di atas tanah juga akar lekat atau akar panjat. Akar lekat ini berguna untuk melekat dan memanjat pada akarnya. Sehingga tanaman bisa tumbuh ke atas. Akar-akar lekat ini hanya tumbuh pada buku batang orthotrop, sedangkan pada cabang-cabang buah tidak akan tumbuh akar lekat.

b. Akar yang terdapat di dalam tanah. Akar yang terdapat di dalam tanah disebut akar utama. Akar-akar ini selain tumbuh pada bukunya yang merupakan perpanjangan dari akar lekat, juga tumbuh pada bekas-bekas potongan batang. Akar utama tumbuh pada pangkal batang, sehingga pada suatu batang bisa terdapat 10-20 akar utama. Pada akar utama itu akan tumbuh akar samping dengan bulu akar yang banyak sekali. Bulu akar tersebut bisa

(15)

5

berkembang di permukaan tanah dan berguna untuk menyerap unsur hara yang diperlukan. Apabila keadaan tanah memungkinkan, maka akar itubakan dapat menembus tanah sedalam 12 m. Sedangkan panjangnya akar bisa mencapai 2-4 m. Tetapi pada umumnya sistem perakaran lada cukup dangkal, hanya mencapai kedalaman antara 30-60 cm saja (Tjitrosoepomo, 2004). 2. Batang

Batang tanaman lada biasa disebut stolon, yaitu batang poko yang tumbuh ke atas dan dari batang akan tumbuh cabang-cabang orthotrop dan cabang-cabang plagiotrop. Batang lada berbentuk agak pipih dan beruas-ruas dengan panjang setiap ruas 7-12 cm. Di setiap buku antara ruas keluar akar lekat untuk melekatkan diri di tajar. Tanaman yang masih relatif muda atau berumur sekitar satu tahun, memilki batang yang panjangnya sekitar 1,5 meter dengan jumlah ruas selitar 20 buah (Tjitrosoepomo, 2004).

3. Cabang

Cabang tanaman lada terdiri atas 4 jenis yaitu cabang orthotrop, cabang plagiotrop, cabang gantung, dan cabang tanah.

a. Cabang Orthotrop

Kedudukan cabang orthotrop sama dengan batang primer karena sama-sama memanjat ke atas dan memilki akar lekat untuk melekatkan diri di tajar, sehingga sering dinamakan cabang panjat. Di setiap buku muncul sehelai daun yang menghadap cabang plagiotrop dan akar-akar lekat.

b. Cabang Plagiotrop

Cabang plagiotrop adalah cabang atau ranting yang muncul, baik dari batang utama maupun dari cabang orthotrop dengan jumlah sangat banyak. Cabang plagiotrop ini berukuran relatif pendek, agak kecil, dan tidak dilengkapi dengan

(16)

6

akar di buku-bukunya, sehingga tidak melekat di tajar seperti halnya batang utama dan cabang orthotrop. Cabang plagiotrop ini selalu tumbuh menyamping atau bersifat lateral dan dari cabang ini masih bisa muncul beberapa ranting. Cabang-cabang plagiotrop merupakan bagian tanaman yang akan mengeluarkan malai bunga yang bisa menjadi buah, sehingga sering disebut dengan cabang buah atau cabang produktif. Malai bunga akan muncul di setiap buku ruasnya dan berhadap-hadapan dengan sehelai daun yang tumbuh menjelang pembungaan.

c. Cabang Gantung

Cabang gantung sebenarnya sama dengan cabang orthotrop, yaitu tumbuh ke atas, tetapi akar lekatnya tidak mendapat tempat untuk melekatkan diri di tajar, sehingga posisinya menggantung. Karenanya, cabang ini oleh petani lada lebih dikenal dengan sebutan sulur gantung.

d. Cabang Tanah

Cabang tanah sama dengan cabang gantung atau sulur gantung, tetapi cabang tanah merambat di permukaan tanah, sehingga biassa dinamakan sulur tanah (Tjitrosoepomo, 2004).

4. Daun

Daun tanaman lada merupakan daun tunggal dengan tekstur kenyal, panjang 12-18 cm, dan lebar sekitar 3 cm dengan tangkai sepanjang 4 cm. Permukaan daun bagian atas berwarna hijau tua mengkilat dan bagian bawah berwarna hijau pucat tidak mengkilat. Daun lada agak unik karena bentuknya berbeda-beda, tergantung dari mana daun tersebut tumbuh. Daun yang keluar di bagian atas bentuknya panjang, sedangkan daun yang tumbuh di bagian bawah cenderung membulat. Penampilan daun yang muncul dari cabang-cabang orthotrop lebih

(17)

7

simetris dengan warna hijau lebih gelap dibandingkan dengan daun dari cabang plagiotrop yang asimetris dan berwarna terang (Rismunandar, 2007).

Daun di cabang orthotrop muncul di buku-buku dan berhadapan dengan tumbuhnya kuncup cabang. Sementara itu, di cabang plagiotrop, daun muncul berhadapan dengan malai bunga. Kuncup daun di cabang ini terbungkus oleh kelopak atau semacam sisik yang kan tanggal saaat daun berkembang (Rismunandar, 2007)..

5. Bunga

Umumnya bunga lada muncul pada awal musim hujan, yakni sekitar bulan desember hingga januari, dan merupakan mbunga majemuk yang tumbuh mengelilingi malai bunga. Setiap malai bunga terdiri dari 100-150 bunga yang kelak akan menjadi buah. Malai bunga hanya keluar dari cabang plagiotrop, persisnya di buku-buku yang berhadapan dengan daun. Bunga lada tergolong bunga lengkap yang terdiri dari tajuk, mahkota bunga, putik, dan benang sari (Sutarno dan Agus Andoko, 2005).

Malai bunga yang muncul lebih dulu pada musim pembungaan berasal dari pucuk-pucuk cabang produksi, kemudian diikuti bagian bawahya. Jika seluruh cabang produksi sudah penuh dengan malai, malai-malai tersebut akan mengarah ke bawah atau menjuntai.

Tajuk bunga lada berwarna hijau dan melekat di malai. Setelah terjadi pembuahan, tajuk berfungsi sebagai dasar atau tempat dudukan buah karena buahlada tidak bertangkai. Mahkota bunga lada berwarna kuning kehijauan yang akan layu dan kering setelah terjadi pembuahan. Putik adalah alat kelamin betina bunga yang stelah dibuahi tepung sari (alat kelamin jantan) akan menjadi buah (Sutarno dan Agus Andoko, 2005)..

(18)

8

Penyerbukan bunga lada termasuk unik, yaitu bersifat autogami, penyerbukan terjadi dengan sendirinya tanpa bantuan serangga atau angin sebagaimana umumnya tanaman. Hal ini terjadi karena aspek geotropis positif dari malai, yaitu sebuk sari bunga dari pangkal malai matang terlebih dahulu, sehingga dengan sendirinya menyerbuki bunga-bunga di bawahnya. Keberhasilan proses penyerbukan bunga lada juga dipengaruhi oleh curah hujan karena dalam proses tersebut kelembapan udara harus relatif tinggi. Kelembapan udara relatif tinggi ini bisa tercipta oleh hujan. Meskipun demikian, guyuran hujan yang terus-menerus di luar kebutuhan kelembapan yang dibutuhkan tanaman meyebabkan malai bunga menjadi rontok (Sutarno dan Agus Andoko, 2005).

6. Buah dan Biji

Buah lada merupakan produk utama dari budidaya tanaman ini. Buah lada berbentuk bulat dengan biji yang keras dan berkulit lunak. Saat masih muda, kulit buah lada berwarna hijau tua, kemudian berangsur-angsur menguning dan berwarna merah cerah jika sudah saatnya dipetik. Buah lada terbentuk sekitar bulan februari dan akan matang atau siap panen sekitar bulan oktober (Rismunandar, 2007)..

Buah lada terdiri dari biji yang berkulit keras dengan diameter 3-4 mm dan dilindungi oleh daging buah yang tebalnya sekitar 2 cm. Pengolahan akhir yang diinginkan. Jika akan diperdagangkan sebagai lada hitam, buah lada tua yang masih utuh cukup di jemur sampai kering dan berwarna hitam. Sementara itu, jika ingin diperdagangkan sebagai lada putih, buah lada perlu dikupas dan biji-bijinya dikeringkan sampai berwarna putih (Sutarno dan Agus Andoko, 2005).

(19)

9 C. Syarat Tumbuh Tanaman Lada 1. Tanah

Tanaman lada dapat tumbuh pada ragam tanah yang cukup luas seperti

Andisol, Vertisol, Alfisol, Oxisol dan Entisol asal memiliki tingkat kesuburan dan

drainase yang baik. Tanah terbaik adalah tanah yang bertekstur ringan dengan keadaan fisik dan kimia tanah yang subur. Tanah tanaman lada dapat tumbuh sangat baik.

2. Iklim

Tanaman lada tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian 350 - 900 Mdpl, curah hujan yang dikehendaki antara 2000 – 3000 mm/tahun dengan rata-rata 2300 mm/tahun. Suhu udara 23 - 34°C, dengan kelembapan udara 50% – 90%. D. Perbanyakan Tanaman Lada

Lada adalah tanaman tahunan yang dapat bertahan hidup ± 15 tahun. Dimana perbanyakan tanamannya dapat dilakukan secara generatif dan vegetatif

1. Generatif

Perbanyakan secara generatif adalah perbanyakan tanaman lada dengan menggunakan biji yang dilakukan untuk keperluan penelitian dan apabila dalam keadaan terpaksa yaitu bila bibit tidak tersedia, karena tanaman lada akan berbuah setelah berumur 7 tahun setelah disemaikan, dan relatif cepat berkurang daya tumbuhnya serta semaian beraneka ragam bentuk dan sifatnya. (Sumber :

(20)

10 2. Vegetatif

Perbanyakan secara vegetatif adalah perbanyakan tanaman lada dengan menggunakan stek batang atau sulur panjat, perbanyakan ini merupakan metode yang direkomendasikan karena lebih efisien dalam penggunaan bahan tanam, serta menghasilkan benih yang baik dan seragam.

a. Stek satu ruas

Diambil dari cabang yang melekat pada tiang panjat, sulurnya setengah mengayu, serta bebas dari serangan hama dan penyakit. Stek ini diperbanyak dengan cara memotong-motong sulur panjat menjadi stek satu ruas berdaun tunggal, stek ini harus disemaikan terlebih dahulu, selama dalam persemaian stek harus disungkup selama 3-4 minggu, kemudian di pindahkan ke polybag dengan menggunakan media padat yaitu tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1. Setelah benih sudah berumur 5 – 6 bulan tanaman sudah siap untuk ditanam ke lahan (Sumber : Balitro Bogor 2013).

b. Stek tujuh ruas

Diambil dari cabang yang melekat pada tiang panjat, sulurnya setengah mengayu, serta bebas dari serangan hama dan penyakit. Stek ini dapat ditanam langsung ke lahan tanpa harus melalui tahap persemaian yang cukup lama, stek tujuh ruas cukup didederkan selama 2 – 3 hari sebelum ditanam di lahan (Sumber

: Balitro Bogor 2013).

c. Stek pucuk

Stek pucuk merupakan stek yang terdapat pada cabang panjat yang masih muda (pucuk), bagian yang diambil adalah ruas pertama sampai ruas ketiga, serta bebas dari serangan hama dan penyakit. Stek ini jarang digunakan karena tidak dapat bertahan lama di persemaian dan dianggap masih terlalu muda untuk

(21)

11

dijadikan bahan tanam, namun hal tersebut dapat diatasi dengan melakukan perbanyakan secara hidroponik yaitu dengan menggunakan larutan nutrisi hidroponik.

3. Media Hidroponik

Media ada dua macam yaitu media organik dan anorganik. Media organik berupa pakis, sekam bakar, debog pisang, cocopeat dan sebagainya. Sedangkan yang bersifat anorganik meliputi pecahan batu bata, kerikil, gabus dan sebagainya. Media yang biasa digunakan adalah sekam bakar (Setyaningsih 2009).

Dalam sistem hidroponik media tanam yang digunakan tidak berfungsi sebagai tanah. Media tanam hanya berfungsi untuk menopang tanaman dan menjaga kelembapan tanaman. Oleh karena itu, media tanaman yang digunakan harus berasal dari bahan yang steril. Pemberian pupuk dilakukan dengan melarutkan pupuk dengan konsentrasi tertentu yang kemudian disiramkan ke dalam tanaman hidroponik (Dwi 2008).

Hidroponik dengan media diartikan metode budidaya tanaman dimana akar tanaman tumbuh pada media tanaman selain tanah yang dialiri larutan nutrisi sehingga memungkinkan tanaman memperoleh air, nutrisi dan oksigen secara cukup. Media yang digunakan sebaiknya memenuhi beberapa kriteria tertentu supaya tanaman dapat tumbuh dengan optimal. Beberpa diantaranya sebaiknya bersifat porus, mudah meloloskan air, dll (Marsoem, 2002).

Nutrisi hidroponik mengandung semua unsur hara yang dibutuhkan tanaman hidroponik yang berupa hara makro (N, P, K, Mg, Ca, S) maupun mikro (Fe, Mn, Zn, B, Cu, Mo) yang berfungsi untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Unsur hara nitrogen memiliki kegunaan bagi tanaman yaitu : membuat daun lebih banyak mengandung butir hijau daun (clorophyl), mempercepat pertumbuhan tanaman,

(22)

12

menambah kandungan protein tanaman serta dapat digunakan bagi semua jenis tanaman, baik tanaman pangan, hortikultura, tanaman perkebunan, usaha peternakan dan usaha perikanan (Sutedjo, 2008).

Lindawati et al., (2000), nitrogen diperlukan untuk memproduksi protein, lemak, dan berbagai senyawa organik lainnya. Nitrogen penting dalam pembentukan hijau daun yang berguna dalam proses fotosintesis, fotosintat yang dihasilkan akan dirombak kembali melalui proses respirasi dan menghasilkan energi yang diperlukan sel tanaman untuk melakukan aktifitas pembelahan dan pembesaran sel yang menyebabkan daun dapat mencapai panjang dan lebar maksimal. Adanya pertumbuhan tunas yang baik diduga karena nitrogen berpengaruh terhadap laju pertumbuhan tanaman dalam pembentukan senyawa yang aktif pada metabolisme tanaman (Gardner et al. dalam Rachman et al, 1994). Kondisi ini dapat meningkatkan jumlah dan ukuran sel serta sebagai hasil akhir dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (jumlah dan panjang tunas).

Adapun fungsi dari P (fosfor) pada tanaman adalah mempercepat pertumbuhan akar tanaman, mepercepat serta memperkuat pertumbuhan tanaman muda menjadi tanaman dewasa pada umumnya. Kekurangan P pada tanaman dapat mengakibatkan berbagai hambatan metabolism, diantaranya dalam proses sintesis protein yang dapat menyebabkan terjadinya akumulasi karbohidrat dan ikatan nitrogen. Gejala lain yang ditimbulkan adalah nekrosis (kematian jaringan) pada helai dan tangkai daun serta diikuti melemahnya akar dan batang tanaman (Saribun, 2008).

Kebutuhan tanaman akan kalium cukup tinggi dan pengaruhnya banyak hubungannya dengan pertumbuhan tanaman yang tahan dan sehat. Kalium berperan dalam meningkatkan resistensi terhadap penyakit tertentu dan

(23)

13

meningkatkan pertumbuhan perakaran. Secara umum kalium berfungsi menjaga keseimbangan baik pada nitrogen maupun pada fosfor (Damanik et al., 2001).

Unsur hara sulfur yang lebih dikenal dengan nama belerang diserap tanaman dalam bentuk ion sulfat (SO4). Zat ini merupakan bagian dari protein yang

terdapat dalam bentuk cystein, methionin, thiamine. Sulfur berfungsi dalam pembentukan butir hijau daun sehingga daun menjadi lebih hijau, menambah kandungan protein dan vitamin, membantu dalam pembentukan tunas-tunas muda (Damanik et al., 2001)..

Fungsi penting Mg yaitu sebagai aktivator yang berperan dalam transportasi energi beberapa enzim di dalam tanaman. Unsur ini sangat dominan keberadaannya di daun, terutama untuk ketersediaan klorofil, jadi kecukupan Mg sangat diperlukan untuk memperlancar proses fotosintesis. Sedangkan fungsi unsur kalsium bagi tanaman adalah sebagai pembentuk enzim. Fungsi utama Kalsium (Ca) ialah berperan dalam proses pembelahan dan perpanjangan sel, dan mengatur distribusi hasil fotosintesis.

Unsur hara mikro dibutuhkan oleh semua tanaman, meskipun kebutuhan tanaman sedikit tetapi kekahatan unsur ini dapat menghambat pertumbuhan atau mengurangi hasil sebagaimana hara makro.

4. Air Kelapa

Air kelapa merupakan salah satu produk tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesuburan dan pertumbuhan tanaman. Menurut Dwijoseputro (1994) dalam Fatimah (2008) air kelapa mengandung sitokinin, fosfor, dan kinetin yang berfungsi mempergiat pertumbuhan tunas dan akar. Selama ini air kelapa banyak digunakan di laboratorium sebagai nutrisi tamabahan di dalam media

(24)

14

kultur jaringan. Hormon alami yang dikandung air kelapa yaitu auksin dan sitokinin sebagai pendukung pembelahan sel embrio kelapa (Fatimah, 2008).

Air kelapa yang baik adalah air kelapa muda yang daging buahnya berwarna putih, belum keras (Haryadi dan Pamenang, 1983 dalam Surachman, 2011). Sitokinin dan auksin mempunyai peranan penting untuk mendorong terjadinya pembelahan sel dalam pembentukan tunas pucuk dan akar. Namun demikian, peranan sitokinin dalam pembelahan sel tergantung pada adanya fitohormon lain terutama auksin.

5. Bawang putih (Allium sativum L)

Bawang putih mempunyai potensi sebagai insektisida alami (Hasnah dan Usamah Hanif, 2010). Kemampuan bawang putih untuk membunuh hama, serangga, bakteri, fungi, maupun mikroorganisme lainnya disebabkan karena pada bawang putih terdapat zat Allicin yang terdapat pada umbi bawang putih yang memiliki aktivitas mikroba yang bervariasi. Allicin dalam bentuk yang murnii mempunyai : 1) Daya antibakteri dengan spectrum yang luas pada bakteri E.coli ; 2) Daya aktivitas antifungi pada Candida abligans; 3) Daya antivirus (IrmuditaAri Ramadanti, 2008)

(25)

15

III. BAHAN DAN METODE A. Waktu dan Tempat

Percobaan ini mulai dilaksanakan pada bulan Februari sampai April 2015, dan bertempat di Kebun Percobaan Sukamulya Sukabumi, Jawa Barat.

B. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu : 1. Arang sekam

2. Sumbu kompor 3. Stek pucuk lada 4. Plastik sungkup 5. Tali rafia

6. Bambu

7. Nutrisi hidroponik A dan B 8. Air kelapa muda

9. Air

10. Fungisida 11. Bawang putih

Alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu : 1. Bak (24 buah)

2. Ember 3. Tray semai 4. Timba

5. Gelas ukur

6. Cutter / gunting stek 7. Ph Meter

C. Metode Percobaan

Percobaan ini menggunakan sistem hidroponik wick di mana sumbu dimanfaatkan sebagai media untuk menyalurkan larutan nutrisi ke akar tanaman, akar tanaman tidak dicelupkan langsung ke dalam air melainkan dengan perantara bahan yang mudah menyerap air misalnya sumbu, adapun media tanam yang digunakan yaitu arang sekam. Perlakuan hidroponik ini terdiri dari 4 (empat) taraf yaitu M0 = Nutrisi hidroponik, M1 = Nutrisi hidroponik + Air kelapa, M2 = Nutrisi

(26)

16

Hidroponik + Bawang putih, dan M3 = Nutrisi hidroponik + Air kelapa +Bawang

putih. Terdapat empat perlakuan dan tiga ulangan, tiap perlakuan berjumlah 16 tanaman sehingga jumlah keseluruhan adalah 192 tanaman. Tanaman yang dijadikan sampel dalam tiap perlakuan hanya enam tanaman yang dipilih yang mempunyai pertumbuhan yang baik (sudah bertunas dan berdaun). Keenam tanaman sampel diamati dengan waktu yang berbeda (tiga tanaman pada pengamatan pertama = umur 1 bst dan 3 tanaman pada pengamatan kedua = umur 2 bst).

Data hasil pengamatan, diolah menggunakan statistik sederhana yaitu menghitung perbedaan rata-rata pertumbuhan benih tanaman lada pada setiap perlakuan.

D. Pelaksanaan Percobaan 1. Persiapan Media Hidroponik

Terlebih dahulu dilakukan persiapan tray semai. Sumbu kompor dimasukkan ke dalam lubang tray semai, panjang sumbu disesuaikan dengan ukuran tinggi bak, tray semai kemudian diisi dengan media padat berupa arang sekam. Setelah itu disiapkan air, air tersebut akan dicampur dengan larutan nutrisi hidroponik A dan larutan nutrisi hidroponik B. Kemudian larutan nutrisi hidroponik A (50 ml) dan B (50 ml) dicampur di dalam gelas ukur, kemudian dilarutkan ke dalam bak yang berisi 60 liter air dan diaduk hingga rata, kemudian dituang ke dalam bak yang berukuran 50 x 30 x 15 cm sebanyak 5 liter untuk perlakuan yang tanpa air kelapa yaitu M0 dan M2 (2 perlakuan x 3 ulangan), Untuk perlakuan yang

menggunakan tambahan air kelapa (M1 dan M3), bak diisi dengan 4 liter larutan

tadi lalu ditambahkan air kelapa sebanyak 1 liter. Setelah itu tray semai diletakkan diatas bak yang telah di isi media hidroponik.

(27)

17 2. Penanaman Stek dan Bawang Putih

Sebelum stek pucuk ditanam pada media, terlebih dahulu dilakukan penanaman bawang putih pada bak yang menggunakan perlakuan bawang putih, bawang putih tersebut ditanam sebanyak ½ dari jumlah lubang tray semai. Setelah itu dilanjutkan dengan penanaman stek pucuk pada seluruh tray semai. Kemudian disungkup menggunakan plastik sungkup.

3. Pemeliharaan

Pemeliharaan yang dilakukan adalah; 1) penyiraman dilakukan cukup dengan menepuk-nepuk plastik sungkup tiap pagi dan sore hari, 2) penyiangan dapat dilakukan pada saat tanaman berumur 1 bulan dan dilakukannya pengamatan pertama, penyiangan dilakukan apabila ada gulma yang tumbuh pada tray semai dan sekitar bak.

E. Parameter Pengamatan

Pengamatan dilakukan dengan menggunakan tiga sampel tanaman dalam satu perlakuan. Parameter pengamatan dilakukan 2 bulan, pengamatan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 1 bulan dan pengamatan kedua dilakukan pada saat tanaman berumur 2 bulan.

1. Jumlah Tunas

Jumlah tunas tanaman dihitung setiap 1 bulan sekali dengan menghitung pertambahan jumlah daun pada benih.

(28)

18 2. Jumlah Daun

Jumlah daun yang tumbuh dihitung setiap 1 bulan sekali dengan menghitung pertambahan jumlah daun pada benih.

3. Jumlah Akar

Jumlah akar yang tumbuh dihitung setiap 1 bulan sekali dengan menghitung pertambahan jumlah akar pada benih.

4. Tinggi Akar

Tinggi akar tanaman diukur setiap satu bulan sekali dengan menggunakan mistar.

5. Tinggi Tunas

Tinggi tunas tanaman diukur setiap satu bulan sekali dengan menggunakan mistar.

6. Diameter Tunas

Pertambahan diameter tunas diukur pada pengamatan terakhir yaitu bulan kedua, dengan menggunakan jangka sorong digital.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian yang dilakukan oleh Supriyatno (2007) dengan judul “Pengaruh Disiplin kerja, Lingkungan Kerja dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan”. Memperoleh hasil

Nur Ramadhan Wisata Surabaya dalam melakukan perencanaannya menggunakan segmenting, targeting dan positioning pemasaran.Tujuan dari Nur Ramadhan Wisata Surabaya

Soetarto yang juga menentang Reorganisasi melakukan aksi protes dalam sebuah parade militer di mana Sutarto bersama pasukan Panembahan Senopati bersenjata lengkap

Berdasarkan hasil analisis data serta pembahasan yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat peningkatan rata-rata hasil belajar peserta

4.1 Analisa Transaksi Paket Data Mengumpulkan informasi client berdasarkan aktifitas yang dilakukannya menggunakan teknologi web dapat dilakukan dengan memanfaatkan

Marketing plan yang telah ditetapkan menjadi acuan dalam perhitungan bonus yang akan diberikan oleh KK Indonesia kepada member yang telah mencapai target tertentu berdasarkan usaha

Untuk menghindari kegagalan yang terjadi pada miringoplasti baik pada teknik medial maupun lateral maka dilakukan teknik lain yaitu teknik mediolateral, dengan

Ada berbagai macam cara yang dapat dilakukan, di antaranya kertas sigaret yang ditempelkan di atas perforasi setelah tepinya dilukai dengan asam trikloroasetat