• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH JENIS BAMBU DAN POLIMER TERHADAP ADHESIVITAS ANTARMUKA POLIMER/BAMBU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH JENIS BAMBU DAN POLIMER TERHADAP ADHESIVITAS ANTARMUKA POLIMER/BAMBU"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH JENIS BAMBU DAN POLIMER TERHADAP ADHESIVITAS ANTARMUKA

POLIMER/BAMBU

Prima Putra Jaya, Lizda Johar Mawarani, ST. MT

JURUSAN TEKNIK FISIKA-FTI

ITS-SURABAYA

Abstrak

Dalam pembuatan komposit polimer/bambu, adhesivitas atau interaksi antarmuka sangat menentukan

sifat komposit yang dihasilkan. Oleh karena itu interaksi antarmuka ini perlu dipelajari. Dalam tugas akhir ini

telah dipelajari interaksi antarmuka antara poliester dan epoksi dengan bambu apus dan bambu jawa dengan

kadar air yang bervariasi, yakni 0%, 0,02%, 0,04%. Interaksi antarmuka yang diteliti diwakili oleh wetability

dan tegangan lekatnya. Dari hasil pengujian yang dilakukan menunjukkan bahwa jenis bambu sangat

berpengaruh terhadap adhesivitas antarmukanya. Bambu apus memiliki adhesivitas antarmuka yang lebih kuat

dengan polimer apabila dibandingkan dengan bambu jawa. Poliester berinteraksi paling baik dengan bambu

apus yang berkadar air 0,02%. Sedangkan epoksi berinteraksi paling baik dengan bambu apus yang berkadar

air 0,04%. Adhesivitas antarmuka paling baik ditunjukkan oleh antarmuka epoksi dengan bambu apus yang

berkadar air 0,04%, yaitu memiliki derajat kebasahan 12˚ dan tegangan lekat 1,121 MPa.

Kata kunci : polimer, bambu, wetability, tegangan lekat

I. PENDAHULUAN

Seiring dengan kemajuan teknologi, semakin

banyak bahan komposit yang dapat dijumpai dalam

kehidupan

sehari-hari.

Pengembangan

bahan

komposit

terus

dilakukan

untuk

menjawab

kebutuhan akan bahan-bahan dengan sifat-sifat

yang diinginkan. Dalam pengembangan tersebut,

interaksi antarmuka antara matriks dengan penguat

atau serat merupakan hal yang penting, karena

menentukan sifat dari bahan komposit yang

dihasilkan.

Bambu merupakan tumbuhan yang banyak

tumbuh di Indonesia, mudah didapat dan murah

harganya. Jenis bambu di Indonesia sendiri juga

bermacam-macam. Selain itu bambu sendiri

merupakan bahan komposit yang sangat kuat bila

dipakai untuk serat.

Seperti halnya bambu,polimer juga memiliki

karakteristik

yang

sangat

mungkin

untuk

dikembangkan menjadi matriks untuk bahan

komposit. Sifat polimer yang mudah dibentuk dan

mudah

didapat

memudahkan

kita

untuk

mengembangkan bahan tersebut. Sebagaimana hal

yang telah disampaikan di atas, maka perlu

diadakannya penelitian tentang bahan komposit

dengan bambu sebagai serat dan polimer sebagai

matriksnya. Hal yang perlu diteliti yaitu bagaimana

interaksi antarmuka antara keduanya, dengan kata

lain yaitu adhesivitas antarmuka keduanya. Tujuan

penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh

jenis bambu dan polimer terhadap adhesivitas

antarmuka bambu-polimer.

Agar penelitian ini

memiliki ruang bahasan yang jelas, pembahasan dibatasi pada beberapa hal berikut:



Adhesivitas diwakili oleh derajat kebasahan

serta tegangan lekat.



Bambu yang digunakan adalah bambu apus/tali

dan bambu jawa/wulung.



Polimer

yang

digunakan

yaitu

polimer

polyester dan epoxy.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Polimer

Polimer adalah salah satu bahan rekayasa

bukan logam (non-metallic material) yang penting.

Saat ini bahan polimer telah banyak digunakan

sebagai bahan substitusi untuk logam terutama

karena sifat-sifatnya yang ringan, tahan korosi dan

kimia, dan murah, khususnya untuk

aplikasi-aplikasi pada temperature rendah. Hal lain yang

banyak menjadi pertimbangan adalah daya hantar

listrik dan panas yang rendah, kemampuan untuk

meredam

kebisingan,

warna

dan

tingkat

transparansi yang bervariasi, kesesuaian desain dan

manufaktur.

Istilah

polimer

digunakan

untuk

menggambarkan bentuk molekul raksasa atau rantai

yang sangat panjang yang terdiri atas unit-unit

terkecil yang berulangulang atau mer atau meros

sebagai blok-blok penyusunnya. Molekul-molekul

(tunggal) penyusun polimer dikenal dengan istilah

monomer.

(2)

Resin merupakan bahan pembuat polimer

yang belum dapat diolah menjadi bahan akhir.

Untuk menjadikan resin sebagai polimer maka

diperlukan komponen yang bernama katalis atau

hardener. Untuk tiap resin yang berbeda, maka

katalisnya juga berbeda-beda pula.

Resin epoksi adalah plastik termoseting yang

secara kimia mempunyai daya tahan. Epoksi ini

tahan lama, lemas dan liat, dapat dibuat lapisan

pelindung yang baik. Bahan ini terutama dipakai

untuk cat dasar, pelapis dan pernis, serta sebagai

bahan pinggiran kaleng, drum, pipa tangki, dan

mobil-mobil tangki. Sebagai bahan perekat epoksi

ini sangat menonjol.

Resin poliester sering digunakan dalam

pemakaian dalam industri perkapalan. Resin

poliester bertipe unsaturated resin. Resin poliester

unsaturated merupakan thermoset, bisa dalam

bentuk cair atau fase padat ketika resin ini dalam

kondisi yang baik. Poliester unsaturated berbeda

bentuk

dengan

poliester

saturated

sepert

TeryleneTM yang tidak bisa dalam kondisi seperti

unsaturated. Bisaanya resin poliester unsaturated

disebut sebagai ‘resin poliester’.

2.2 Bambu

Bambu adalah jenis tumbuhan

rumput-rumputan berkayu yang memiliki batang berongga

dan beruas-ruas. Diperkirakan terdapat seribu

spesies bambu saat ini. Bambu adalah tanaman

berkayu yang paling cepat tumbuh di dunia. Pada

jenis bambu tertentu dan kondisi lingkungan

tertentu, pertumbuhan bambu dapat mencapai satu

meter per jam.

Tabel 1 Sifat mekanik bambu

Uji Mekanik

Gaya Mekanik

Modulus Young

18 GPa

Tensile Strength

150 MPa

Compressive

Strength

39 MPa

Bending Strength

76 MPa

Density

300-400 kg/m

3

Sumber : Nicky Subianto, 2009

2.3

Pembasahan (Wetting)

Pembasahan (wetting) adalah kemampuan

suatu cairan untuk berkontak dengan suatu

permukaan padatan.

Derajat pembasahan tergantung dari besarnya

contact angle yang terbentuk antara interfase cairan

dan uap dengan interfase padat dan cair.

Tabe 2. Derajat kebasahan

Sumber : Anonim, 2009

2.4

Tegangan Lekat

Istilah tegangan lekat biasa kita jumpai pada

bidang studi teknik sipil, dimana istilah tegangan

lekat digunakan untuk menggambarkan gaya yang

harus diberikan kepada serat untuk dapat lepas dari

matriknya. Dalam bidang sipil, serat tersebut

biasanya berupa baja tulangan dan matriksnya

berupa beton. Pada penelitian ini kita umpamakan

serat bambu sebagai baja tulangan dan polimer

sebagai matriksnya.

Dasar utama teori panjang penyaluran adalah

dengan memperhitungkan suatu baja tulangan yang

ditanam di dalam masa beton. Sebuah gaya F

diberikan pada baja tulangan tersebut. Gaya ini

selanjutnya akan ditahan antara baja tulangan

dengan beton di sekelilingnya. Tegangan lekat

bekerja sepanjang baja tulangan yang tertanam di

dalam massa beton, sehingga total gaya yang harus

dilawan sebelum batang baja tercabut keluar dari

masa beton adalah sebanding dengan luas selimut

baja tulangan yang tertanam dikalikan dengan kuat

lekat antara beton dengan baja tulangan.

F = L

d

. π . d .

σ

s

Dengan mendistribusikan nilai :

F = σ

b

. A

maka didapat persamaan :

A . σ

b

= Ld . π . d . σ

s

dimana:

F

= beban (N)

A

= luas baja tulangan (1 cm

2

)

σ

s

= tegangan lekat permukaan (Mpa)

d

= diameter baja tulangan (mm)

Ld

= panjang penyaluran (mm)

σ

b

= kuat lekat/tegangan lekat (Mpa)

Contact Angle (˚) Degree of Wetting Strength of S/L Interaction L/L Interaction θ = 0 perfect

wetting strong weak 0 < θ < 90 high wettability strong strong weak weak 90 < θ < 180 low

wettability weak strong

θ = 180

perfectly non

(3)

III. METODOLOGI

Dalam penelitian ini memiliki diagram alir

seperti berikut:

Peralatan yang digunakan adalah gelas ukur,

wadah, pisau, penggaris, spidol, cetakan, pengaduk,

timbangan digital, busur. Bahan yang dibutuhkan

yaitu bambu apus, jawa, poliester, epoksi, dan air.

3.1 Sintesa Resin

Untuk sintesa bahan dilakukan yaitu dengan

mencampur resin dan katalis hingga didapatkan

kondisi yang terbaik. Untuk poliester digunakan

2%, 5%, 10%, 20%, dan 30% katalis. Sedangkan

untuk epoksi digunakan perbandingan antara resin

dan katalis 1:1 dan 2:1.

3.2 Pembuatan Spesimen

Gambar 1 Spesimen

dimana:

A = luas permukaan yang dilekatkan, 1 cm

2

d = diameter bambu, 2 cm.

l

= panjang bambu, 7 cm.

t

= tinggi polimer, 15 cm.

3.3 Pengujian

A.

Kemampubasahan

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui

derajat kebasahan yaitu dengan cara mengukur

seberapa besar sudut yang dibuat antara tetesan

polimer dengan media bambu. Pada pengujian ini

kita dapat mengetahui seberapa besar pembasahan

yang terjadi.

Gambar 2 Pengujian kemampubasahan

B. Uji tegangan lekat

Pengujian daya lekat dilakukan untuk

mengetahui tegangan lekat antar muka antara

bambu dan polimer. Pengujian ini menggunakan

alat yang bernama universal testing machine

(UTM). Dari alat tersebut nantinya dapat diketahui

berapa daya lekat antara bambu dan polimer.

Gambar pengujian spesimen dapat dilihat pada

gambar di bawah ini.

Gambar 3 Uji tegangan lekat

Fs di atas adalah gaya yang diberikan oleh

UTM kepada spesimen. Satuan pengukuran disini

adalah gaya yang diberikan per satuan luas lekatan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

.

4.1 Sintesa Resin

Untuk poliester digunakan perbandingan

persen volume dan didapatkan hasil seperti berikut:

Tabel 3. Sintesa resin

Resin

(%)

Katalis

(%)

Hasil

98

2

Sangat baik

95

5

Terdapat retakan

90

10

Banyak terdapat

retakan

80

20

Sangat buruk

70

30

Sangat buruk

(4)

Sedangkan

untuk

epoksi

digunakan

perbandingan volume resin dan katalis 2:1

4.2

Kemampubasahan

Untuk

menguji

kemampubasahan

dari

polimer poliester dan epoksi, di sini terdapat

masing-masing 5 tetes untuk 1 jenis spesimen. Dari

hasil tersebut kemudian dirata-rata.

Tabel 4. Uji wetability

Apabila dijadikan dalam bentuk grafik

hubungan

antara

kadar

air

dan

derajat

kemampubasahan, akan didapat grafik seperti pada

gambar 4 dan 5.

50 48 32 52 48 36 0 10 20 30 40 50 60 0 0,01 0,02 0,03 0,04 0,05

Kadar Air Bambu (%)

D e ra ja t K e b a s a h a n ( D e ra ja t) Apus Jawa

Gambar 4. Pengaruh kadar air bambu terhadap

derajat kemampubasahan dengan

polimer poliester.

Secara keseluruhan derajat paling besar

terdapat pada kadar air 0%. Tetapi hal tersebut tidak

menjadikan poliester cocok apabila permukaannya

basah karena pada hasil uji tegangan lekat, hasil

terbaik didapat pada bambu dengan kadar air

0,02%. Hal yang menyebabkan mengapa bambu

dengan kadar air 0,04% memiliki derajat paling

kecil karena poliester tersebut menyatu dengan air

dan terjadi penyebaran.

20 18 12 22 20 14 0 5 10 15 20 25 0 0,01 0,02 0,03 0,04 0,05

Kadar Air Bambu (%)

D e ra ja t K e b a s a h a n ( D e ra ja t) Apus Jawa

Gambar 5.

Pengaruh kadar air bambu terhadap

derajat kemampubasahan dengan

polimer epoksi.

Secara keseluruhan derajat paling kecil

terdapat pada kadar air 0,04%. Hal ini menunjukkan

bahwa epoksi sangat cocok apabila dipadukan

dengan air.

4.3.

Tegangan Lekat

Uji tarik ini digunakan untuk mencari daya

lekat antara polimer dan bambu. Alat yang

digunakan untuk uji tarik yaitu universal testing

machine (UTM) dengan kekuatan maksimal yang

dapat diukur yaitu 500 kgf. Hasil pengujian yang

diperoleh seperti yang terdapat pada tabel 5.

Tabel 5. Hasil uji tegangan lekat (Mpa)

Apabila ditampilkan dalam gambar hubungan

antara kadar air bambu dengan tegangan lekatnya,

maka diperoleh gambar 6 dan7. Dimana gambar 6

menggunakan polimer poliester sedangkan gambar

7 menggunakan polimer epoksi.

0.384 0.551 0 0.217 0.267 0.038 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0 0.01 0.02 0.03 0.04 0.05

Kadar Air Bambu (%)

T e g a n g a n L e k a t (M P a ) Apus Jawa

Gambar 6. Pengaruh kadar air bambu terhadap

tegangan lekat dengan polimer

poliester.

Dari gambar 6 dapat dilihat bahwa daya lekat

bambu apus dengan poliester dengan kadar air

0,02% memiliki daya lekat yang paling kuat, yaitu

0,551 MPa. Dan hasil yang paling buruk adalah

daya lekat antara bambu apus dan poliester dengan

kadar air 0,04%. Untuk keseluruhan hasil, dapat

dilihat bahwa daya lekat antara bambu dan

poliester, hasil paling bagus yaitu pada kadar air

0,02%.

Bambu Apus Jawa

Polimer 0% 0,02% 0,04% 0% 0,02% 0,04%

Poliester 50o 48o 32o 52o 48o 36o

Epoksi 20o 18o 12o 22o 20o 14o

Bambu Apus Jawa

Polimer 0% 0,02% 0,04% 0% 0,02% 0,04%

Poliester 0,384 0,551 0 0,218 0,267 0,038

(5)

0.671 0.843 1.121 0.388 0.546 0.671 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 0 0.01 0.02 0.03 0.04 0.05

Kadar Air Bambu (%)

T e g a n g a n L e k a t (M P a ) Apus Jawa

Gambar 7. Pengaruh kadar air bambu terhadap

tegangan lekat dengan polimer epoksi.

Pada gambar 7 dapat dilihat bahwa epoksi

memiliki hubungan berbanding lurus dengan kadar

air, baik untuk bambu apus maupun bambu jawa.

Semakin banyak kadar air yang terkandung maka

semakin besar pula tegangan lekatnya. Hasil terbaik

diperoleh oleh bambu apus dengan kadar air 0,04%,

yaitu 1,121 MPa.

Pada gambar 6 dan 7 memperlihatkan bahwa

tegangan lekat bambu apus dengan polimer selalu

lebih besar kecuali untuk hasil bambu apus dengan

poliester, ini dikarenakan serat antara kedua bambu

berbeda. Serat yang dimilki oleh bambu apus lebih

halus dan lebih padat apabila dibandingkan dengan

bambu jawa sehingga gaya tarik antar serat lebih

kuat.

Dari hasil pengujian tegangan lekat antara

bambu dan polimer, ada beberapa spesimen yang

menunjukkan terkelupasnya serat bambu akibat

lekatan dengan polimer, contohnya bambu apus

0,04% dengan epoksi. Hal ini menunjukkan

sebenarnya tegangan lekat antara epoksi dengan

bambu apus kadar air 0,04% bisa lebih besar dari

1,121 Mpa.

V. KESIMPULAN

Berdasarkan analisa data hasil penelitian yang

telah dilakukan, maka dapat diambil beberapa

kesimpulan, yaitu :



Dibanding dengan bambu jawa, bambu

apus memiliki adhesivitas antarmuka yang

lebih kuat dengan polimer.



Poliester berinteraksi paling baik dengan

bambu

yang

berkadar

air

0,02%.

Sedangkan epoksi berinteraksi paling baik

dengan bambu yang berkadar air 0,04%.



Adhesivitas

antarmuka

paling

baik

ditunjukkan oleh antarmuka epoksi dengan

bambu apus yang berkadar air 0,04%, yaitu

dengan

derajat

kebasahan

12

o

,

dan

tegangan lekat 1,121 MPa.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, _, Guide of Composite,

www.google.com

Anonim,

2009,

“Contact

Angle”,

www.

wikipedia.org/wiki/Wetting

,

Minggu, 7 Juni 2009

Anonim,

2009,

“Wetting”,

www.

wikipedia.org/wiki/Wetting

,

Minggu, 7 Juni 2009

Arfian, Muhammad, “Tinjauan Tagangan Lakat

Baja Tulangan Ulir Dengan Berbagai

Variasi Diameter dan Panjang Penyaluran

pada Beton Normal”, ITB, 2009.

Bintari, Ricky, 2009 ”Pengaruh Ukuran dan Jumlah

Serat

Terhadap

Pengaruh

Komposit

Polimer/Bambu Sebagai Bahan Alternatif

Wind Turbin”, ITS,.

Manik,

Parlindung.

2002.

”Bambu

Sebagai

Alternatif Bahan Komposit Pembuatan

Kulit

Kapal”,

Surabaya:Fakultas

Teknologi Kelautan ITS.

Saptono, Rahmat, 2008.”Perkembangan Bahan

Polimer”, Universitas Indonesia.

Subianto, Nicky, 2009. ”Analisa Kekuatan Tarik

Komposit Serat Bambu yang Dibuat

dengan Metode Manufaktur Hand Lay

Up”, ITB.

Van Vlack, Lawrence,H, 2001,”Elemen-elemen

Ilmu

Rekayasa

Material”.

Jakarta.Erlangga.

BIODATA PENULIS

Nama : Prima Putra Jaya

TTL

: Surabaya, 11 April 1987

Alamat : Trosobo, SDA

Riwayat Pendidikan:

SD

: Sidodadi 2

SMP

: SMPN 1 Taman

SMA

: SMAN 1 Krian

PT : Teknik Fisika-ITS

Gambar

Tabel 1 Sifat mekanik bambu  Uji Mekanik  Gaya Mekanik  Modulus Young   18 GPa  Tensile Strength  150 MPa  Compressive
Gambar 1 Spesimen  dimana:
Tabel 4. Uji wetability
Gambar 7.  Pengaruh  kadar  air  bambu  terhadap  tegangan lekat dengan polimer epoksi

Referensi

Dokumen terkait

Namun pembuatan metil ester dari minyak hasil samping industri pengalengan ikan dilakukan melalui reaksi transesterifikasi karena memiliki kandungan asam lemak bebas kecil yaitu 1,45

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 100 responden yang merupakan wisatawan yang mengunjungi daerah tujuan wisata halal Pulau Lombok.. Data diambil

Untuk perizinan, kami melakukan perjanjian kepada pihak Titan untuk bisa masuk kedalam venue pada jam 8 pagi dan selesai pada jam 3 sore, sedangkan untuk di Binus, kami

Penulis mengharapkan partisipasi aktif peneliti berikutnya untuk meneliti faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kepatuhan wajib pajak orang pribadi yang antara lain variabel

PANGAN | BIDANG KEHEWANAN DAN PERIKANAN | SEKSI PENGAWASAN MUTU KOMODITAS KEHEWANAN DAN PERIKANAN 150 PENGAWAS TELEKOMUNIKASI S-1/D-IV TEKNIK INFORMATIKA / S-1

Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (6) dan Pasal 44 ayat (3) huruf a telah dilakukan, KEK belum dapat juga beroperasi, Dewan Nasional

Penelitian ini termasuk dari bagian penelitian berparadigma rasionalistik yang identik dengan menggunakan pendekatan filsafat sosial dan politik. Metode penelitian