• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Sensus tahun 2010 menyebutkan terdapat 1,2% (atau ) dari total populasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Sensus tahun 2010 menyebutkan terdapat 1,2% (atau ) dari total populasi"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Angka-angka dalam sensus penduduk tahun 2010 memberikan gambaran mengenai perbandingan penduduk keturunan Tionghoa dengan populasi Indonesia. Sensus tahun 2010 menyebutkan terdapat 1,2% (atau 2.832.510) dari total populasi Indonesia (236.728.379) yang beretnis Tionghoa.1 Angka diatas cukup memberikan penaksiran, meskipun angka itu tidak bisa menggambarkan jumlah penduduk etnis Tionghoa yang sesungguhnya.

Beberapa penulis, seperti Jemma Purdey dalam Kekerasan Anti-Tionghoa di

Indonesia memperkirakan jumlah penduduk etnis Tionghoa bisa mencapai 2%. Hal

ini disebabkan karena banyak penduduk beretnis Tionghoa yang tidak mau mengakui dirinya sebagai etnis Tionghoa. Ia melanjutkan, kemungkinan ada dua alasan mengapa hal diatas bisa terjadi, pertama kenangan buruk akan peristiwa Mei 1998 yang menghantui dan menakuti mereka. Kedua, banyak penduduk beretnis Tionghoa yang sudah merasa dirinya tidak lain dengan penduduk lain yang beretnis Jawa, Batak, dsb.

Diantara penduduk yang diperkirakan mencapai 2% itu, beberapa pebisnis dan pengusaha memegang peranan yang cukup besar dalam ekonomi Indonesia. Pada masa Orde Baru, pembangunan ekonomi menjadi tujuan utama. Kekuasaan Presiden

                                                                                                                1

(2)

Soeharto memberikannya kesempatan untuk mengambil manfaat dari etnis minoritas ini.

Dalam periode Orde Baru, stabilitas politik diutamakan karena pembangunan ekonomi menjadi prioritas utama. Di saat yang bersamaan, etnis Tionghoa merupakan etnis minoritas yang secara kultural dan struktural masih rentan dan memerlukan perlindungan. Hal ini dimanfaatkan dengan baik oleh Orde Baru, dengan mencari kongsi-kongsi atau partner bisnis yang tidak terkecuali dari pebisnis Tionghoa yang sukses. Jemma Purdey melaporkan tidak sedikit di setiap tataran, penduduk etnis Tionghoa membayar dan menyetor sejumlah uang untuk mendapat jaminan atas hidup dan bisnis keluarga mereka.

Pembangunan ekonomi melaju sedemikian pesat. Kesuksesan pebisnis dan pengusaha beretnis Tionghoa memunculkan prasangka-prasangka yang dikaitkan dengan etnis tertentu. 13 dari 15 pembayar pajak tertinggi di Indonesia kala itu, beretnis Tionghoa, dimana dua sisanya adalah Bambang dan Tommy, yang merupakan putra Presiden Soeharto. Prasangka itu singkatnya menggeneralisasi bahwa etnis Tionghoa merupakan etnis yang menguasai banyak kapital serta dekat dengan korupsi dan nepotisme.

Sialnya, prasangka di atas tidak melihat bahwa pengusaha dan pebisnis Tionghoa yang menguasai banyak kapital seperti Lim Sioe Liong, pimpinan Group Salim, berjumlah luar biasa sedikit apabila dibandingkan dengan para pedagang kecil, pemilik toko kelontong, atau pemilik restoran yang bertebaran di penjuru jalan negara ini.

Prasangka ini menguatkan potensi konflik yang sebenarnya sudah ada sejak dulu. Prasangka tentang status dan peran ekonomi bahayanya dilekatkan pada satu etnis tertentu, yang jumlahnya hanya sekitar 2% dari jumlah populasi Indonesia ini.

(3)

Dengan demikian, pertentangannya tidak lagi pertentangan soal ekonomi atau kelas, tetapi pada etnis tertentu yang dilekatkan pada prasangka tertentu.

Etnis Tionghoa di Indonesia sudah mengalami berbagai bentuk kekerasan dalam periode sosial politik yang berbeda-beda. Tahun 1740 di Batavia, ribuan warga Tionghoa tewas. Peristiwa ini merupakan hasil dari arus masuk warga China ke Hindia Belanda. Artinya, peristiwa kekerasan pada etnis Tionghoa telah terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama, jauh lebih panjang dibandingkan sejarah negara ini.

Goenawan Mohamad (1998:33) pernah menulis dalam 'Sebuah Catatan Lain', tulisannya berbunyi: "Di Indonesia, rasialisme negara punya sejarah yang lebih panjang ketimbang sejarah republik. Bahkan lebih tua ketimbang entitas yang disebut "negara"'. Kekerasan Anti-Tionghoa memang sudah terjadi jauh sebelum Bung Karno membaca teks proklamasi pada tahun 1945.

Victor Purcell dari New York Times pernah melaporkan 600 warga Tionghoa di bantai di bantaran sungai daerah Tangerang pada tanggal 6 Juni 1946. Yang Send (Palang Merah) bahkan melaporkan tepatnya 653 penduduk Tionghoa yang dibantai oleh penduduk asli Indonesia karena menduduki tanah tersebut.

Awal periode Orde Baru, pemerintah mencoba menyelesaikan masalah ini dengan berbagai langkah. Penduduk Tionghoa diminta untuk merubah namanya menjadi nama yang terdengar Indonesia, tujuannya agar mengaburkan sekat antara Tionghoa dan pribumi, tetapi kenyataanya kebijakan ini justru makin memperjelas sekat-sekat itu. Sementara itu, penggunaan bahasa mandarin serta perayaan Imlek juga dilarang dalam periode Orde Baru. Dengan demikian, kebijakan tidak memberikan apa-apa selain memperlakukan penduduk etnis Tionghoa sebagai orang asing. Posisi mereka menjadi sulit, antara keinginan untuk mengklaim dan

(4)

mempertahankan warisan budaya mereka sebagai etnis Tionghoa dan berbaur dengan penduduk Indonesia Asli.

Presiden Soeharto kala itu juga menerapkan politik bahasa, dimana ia merubah sebutan Tionghoa menjadi Cina bagi penduduk keturunan Tionghoa. Dengan menggunakan istilah Cina, pelekatan prasangka 'orang asing' bagi penduduk Tionghoa kian kentara. Istilah 'Cina' sebelumnya digunakan untuk merujuk pada negara Republik Rakyat China, sementara kata 'Tionghoa' digunakan untuk menjadikannya salah satu bagian dari etnis di Indonesia. Sebutan 'Cina' justru menjustifikasi penduduk keturunan Tionghoa sebagai 'orang asing' dan melemahkan pijakan kulturalnya.

Pijakan struktural dan kultural etnis Tionghoa di Indonesia yang tidak kokoh memberikan mereka kerentanan terhadap kekerasan dan diskriminasi. Selama bertahun-tahun, mulai dari kolonialisme sampai bergulirnya orde baru, kekerasan dan diskriminasi struktural dan kultural dirasakan. Puncaknya, peristiwa paling mengerikan dan meninggalkan trauma mendalam bagi penduduk etnis Tionghoa, kerusuhan Mei 1998. Pertengahan bulan Mei tahun 1998, peristiwa kekerasan menghantam Jakarta, Solo, Medan, dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia. Berawal dari melonjaknya harga barang-barang pada awal tahun 1998, intensitas kekerasan meningkat dan berpuncak pada peristiwa Mei, dimana toko-toko dan properti milik warga keturunan Tionghoa dijarah dan dibakar.

Peristiwa itu meninggalkan luka yang mendalam. Tidak sedikit masyarakat keturunan Tionghoa yang melarikan diri ke luar negeri, dan tidak kembali hingga sekarang. Bahkan, belasan tahun setelah peristiwa itu berlalu, banyak kekhawatiran atas terulangnya peristiwa kekerasan yang masih tersisa. Peristiwa itu adalah puncak dari kekerasan yang dialami oleh etnis Tionghoa di Indonesia.

(5)

Pada bulan Juli 1998, sebagai respon dari kerusuhan dua bulan sebelumnya, Presiden Habibie membentuk Tim Gabungan sebagai alat untuk menghasilkan 'kebenaran'. Laporan final Tim Gabungan memberikan angka-angka jumlah perkosaan, dan jumlahnya pun cukup mencengangkan: 52 perkosaan, 14 perkosaan dengan penyiksaan, 10 kasus penyerangan seksual dan penyiksaan, dan 9 kasus pelecehan seksual. 2 Oleh karena Tim Gabungan merupakan bentukan negara atas instruksi Presiden, data-data diatas dianggap sebagai 'kebenaran nasional'.

Bergerak menuju periode paska Orde Baru, Indonesia menjelma menjadi negara yang penuh harapan akan demokrasi. Situasi memang sudah banyak berubah. Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie yang menggantikan Soeharto menandatangani Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1999 tentang Pelaksanaan Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia. Insstruksi itu kurang lebih ditujukan untuk menghentikan penggunaan surat ganti nama yang sangat diskriminatif itu.

Pada bagian pertama pasal nomor tiga, misalnya, terulis "Bagi warganegara Republik Indonesia yang telah memiliki Kartu Tanda Penduduk", atau Kartu Keluarga, atau Akte Kelahiran, pemenuhan kebutuhan untuk kepentingan tersebut cukup menggunakan Kartu Tanda Penduduk, atau Kartu Keluarga, atau Akte Kelahiran tersebut".3 Hal ini merupakan kemajuan dibandingkan periode sebelumnya dimana pengurusan bukti kewarganegaraan sangat birokratis dan rumit, terutama bagi etnis Tionghoa yang diminta menyertakan surat ganti nama.

Abdurrahman Wahid, atau yang biasa dipanggil Gus Dur, menggantikan Presiden B.J. Habibie di tahun yang sama. Salah satu kebijakan Gus Dur adalah membebaskan etnis Tionghoa untuk menjalankan adat istiadat dan mengekspresikan kebudayaanya.

                                                                                                               

2 Tim Gabungan, Laporan Final, 'Ringkasan Eksekutif'.

(6)

Tahun 2001, Presiden Abdurrahman Wahid digantikan oleh wakil Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada 9 April 2002, Presiden Megawati meresmikan tahun baru Imlek sebagai hari libur nasional terhitung mulai tahun 2003.

Berbicara tentang pemuda, tidak seperti periode Orde Baru yang represif pada istilah pemuda, kini secara politis pemuda diakui oleh negara. Periode Orbe Baru tidak menggunakan istilah pemuda, yang memiliki makna politis, tetapi menggunakan istilah ABG (anak baru gede) atau remaja, yang lebih berkesan apolitis. Menurut UU Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan, pemuda diartikan sebagai warga negara Indonesia yang berusia 16 tahun sampai 30 tahun.4

Apabila menggunakan pengertian 'pemuda' oleh UU diatas, anak-anak muda ini masih berusia di bawah 0 sampai 15 tahun ketika kerusuhan anti-Tionghoa terjadi pada tahun 1998. Dengan kata lain, mereka tumbuh dengan kesadaran politik paska Orde Baru dimana negara berusaha sekeras mungkin untuk menghilangkan sekat-sekat dan diskriminasi antar etnis.

Kembali berbicara soal kerusuhan Mei 1998 yang meneror negara ini. Laporan tim gabungan telah diterima sejak lama, dan 'kebenaran nasional' telah digenggam oleh negara. Namun, bahkan belasan tahun setelah jatuhnya rezim otoriter, tak satupun orang diadili atas data-data yang diperoleh tim gabungan diatas.

Oleh karena itu, posisi pemuda menjadi penting agar sebuah peristiwa tidak hilang ditelan waktu. Penelitian ini mencoba mengungkap konstruksi pemuda Tionghoa terhadap peristiwa kerusuhan Mei 1998, serta faktor-faktor apa saja yang melatarbelakanginya.

                                                                                                               

4  Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan, Bab 1, Pasal 1, hlm. 2.

(7)

1.2 Rumusan Masalah

Kerusuhan bulan Mei tahun 1998 yang terjadi di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Medan, Solo, dsb membuahkan teror bagi masyarakat Indonesia, terutama bagi penduduk etnis Tionghoa. Toko-toko kelontong milik penduduk Tionghoa dijarah dan dibakar, beberapa diantaranya tewas dalam kebakaran. Laporan tentang kekerasan seksual pada perempuan Tionghoa juga telah diterima.

Beberapa tim dan lembaga melakukan riset untuk mengumpulkan data-data peristiwa ini. Negara melalui Presiden B.J . Habibie membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk mengumpulkan data-data kekerasa. TGPF diberikan waktu 3 bulan untuk membuat laporan, sebuah waktu yang amat singkat, mengingat laporannya akan dianggap sebagai 'kebenaran nasional'. TGPF melaporkan sejumlah kasus perkosaan dan pelecehan seksual.

Lembaga lain seperti TRuK (Tim Relawan untuk Kemanusiaan) juga melakukan upaya untuk mencari fakta. Data TRuK memperkirakan 1.109 meninggal dalam kebakaran, 27 ditembak mati, 91 luka-luka. Angka-angka yang mencengangkan mengingat tak satupun orang yang diadili atas peristiwa ini.

Kekerasan pun sendiri merupakan sebuah konstruksi. Beberapa lembaga lain juga melakukan upaya, namun data-data diatas merupakan hasil konstruksi atas realita. Penelitian ini menelisik upaya lain yang dilakukan oleh pemuda etnis Tionghoa di Indonesia dalam menelanjangi data-data serta konstruksi atas realitas tersebut. Secara garis besar, penelitian ini akan berusaha mengungkapkan kedua hal dibawah ini:

1. Bagaimana pemuda etnis Tionghoa menkonstruksi peristiwa kerusuhan pada bulan Mei tahun 1998 di Jakarta?

(8)

2. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi konstruksi pemuda etnis Tionghoa atas peristiwa kerusuhan Mei 1998 di Jakarta?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan menggambarkan:

1. Konstruksi pemuda etnis Tionghoa atas peristiwa kerusuhan Mei tahun 1998 di Jakarta.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi konstruksi pemuda etnis Tionghoa atas peristiwa kerusuhan bulan Mei tahun 1998 di Jakarta.

1.4 Manfaat Penelitian

Harapannya, penelitian ini mampu memberi kontribusi pada kajian ilmu sosial, sosiologi pengetahuan, serta kajian-kajian pemuda, dan tetnis tionghoa dan multikulturalisme di Indonesia. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan gambaran bagaimana upaya-upaya pemuda dalam mmbongkar dan mencari alternatif sebuah peristiwa.

1.5 Kerangka Teori

1.5.1. Identitas & Prasangka

Ada beberapa cara dalam memandang identitas. Identitas bisa dilihat dalam kacamata esensialis, instrumentalis, dan konstruksionis. Ketiganya memiliki karakteristik yang berebeda-beda dana akan dijabarkan dalam diskusi dibawah ini.

Identitas dalam kacamata esensialis, atau sering juga disebut primordialis, memandang identitas dari persamaan-persamaannya. Identitas sebagai sesuatu yang

(9)

esensialis bersifat kaku dan tidak bisa ditukar. Obyek-obyek primordial seperti ciri biologis dan wilayah fisik menjadi penentu utama lahirnya identitas.

Berbeda dengan esensialis, kacamata instrumentalis memandang identitas sebagai elemen yang cair dan bisa berubah-ubah menyesuaikan dengan situasi sosio-kulturalnya. Dengan kata lain, setiap individu dapat disesuaikan dengan situasi setting sosialnya, dan tidak terpaku pada obyek-obyek primordial seperi ciri-ciri biologis.

Sementara yang terakhir, identitas bisa dipandang sebagai produk dari konstruksi sosial. Identitas merupakan produk masyarakat yang memberikan sistem pengetahuan tertentu pada identitas manusia. Konstruksi bisa dilahirkan dengan sendirinya oleh masyarakat, tetapi konstruksi identitas pun tidak bisa dipisahkan dari relasi kekuasaan yang mendorong terciptanya politik identitas.

Penelitian ini akan memahami identitas dari kacamata konstruksionis. Kacamata konstruksionis dirasa sejalan dengan teori Berger dan Luckman tentang konstruksi sosial yang juga digunakan dalam penelitian ini. Dengan memahami identitas sebagai produk konstruksi sosial akan memudahkan memahami prasangka dan potensi konflik antar etnis yang kerap terjadi di Indonesia.

Identitas, prasangka, dan diskriminasi merupakan satu mata rantai yang sulit dipisahkan. Politik identitas menghasilkan prasangka, dan prasangka melahirkan diskriminasi. Prasangka merupakan tindakan menyamaratakan satu kelompok tertentu ke dalam satu penilaian buruk. Penilaian buruk ini dipercaya dapat berujung pada diskriminasi.

1.5.2. Konstruksi Sosial atas Realitas

Peter L. Berger dan Thomas Luckman memaparkan sebuah teori tentang konstruksi sosial atas realitas. Berger dan Luckman memaparkan bahwa eksternalisasi

(10)

merupakan hal yang manusiawi. Dengan demikian, manusia selalu hidup berhubungan timbal balik dengan lingkup sosialnya.

Bahasa dan ilmu linguistik merupakan dasar dari pengetahuan. Melalui bahasa dan linguistik, pengalaman yang tadinya bersifat individu bisa diakses oleh individu lain yang tidak memiliki pengalaman yang sama dengan individu pertama. Apabila pengalaman itu memberikan pengaruh pada individu lain, maka pengalaman itu menjadi sumber pengetahuan baru.

Proses diatas disebut oleh Berger (1967) sebagai tiga proses dialektik, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Pengalaman yang diceritakan melalui bahasa dan ilmu linguistik disebut sebagai eksternalisasi. Pengalaman yang diceritakan itu kemudian menjadi sumber pengetahuan objektif baru, dan terakhir sumber pengetauan itu diserap/diinternalisasi sebagai tradisi dan diajarkan ke generasi berikutnya.

Produksi makna dan sumber pengetahuan itu berintergrasi dengan makna yang sebelumnya telah melekat dalam institusi. Dalam proses transmisi ke generasi berikutnya, perlu sebuah 'penjelasan' dan 'justifikasi' yang disebut oleh Berger sebagai legitimasi. Legitimasi tidak hanya soal nilai tetapi juga 'pengetahuan'. Dengan kata lain, proses legitimasi bukan cuma menjelaskan 'kenapa individu harus melakukan sesuatu?' tetapi juga 'siapa sebenarnya mereka?' dan 'mengapa demikian?'. Inilah yang disebut Berger sebagai masyarakat sebagai realitas obyektif.

Realitas sosial terinternalisasi melalui proses sosialisasi. Berger membagi sosialisasi menjadi sosialisasi primer dan sekunder. Sosialisasi primer dilakukan pada anak-anak dalam usia dini oleh orang-orang terdekatnya. Dalam tahap ini, anak-anak belajar untuk mengidentifikasi orang lain serta peran-perannya, sebelum mengidentifikasi dirinya sendiri. Dengan kata lain, individu tidak lahir sebagai

(11)

anggota masyarakat. Setiap individu menjadi anggota masyarakat melalui proses sosialisasi.

Dalam sosialisasi primer, dunia seorang individu merupakan hasil dari konstruksi sosial. Sosialisasi primer berhenti ketika individu sudah bisa memahami siapa 'diri' mereka sendiri serta siapa yang 'bukan'/ liyan. Ketika individu sudah memiliki kesadaran akan konsep 'diri', maka ia menjadi bagian dari anggota masyarakat.

'Kesadaran' memiliki beberapa pengertian. Kesadaran seringkali merujuk pada 'ketepatan', atau dengan kata lain seseorang yang sedang tertidur dapat dikatakan tidak sadar. Kesadaran juga kadang dipakai untuk menjelaskan perhatian seseorang pada peristiwa-peristiwa di sekitar mereka serta hubungannya dengan mereka. Sementara pengertian ketiga tentang kesadaran lebih merujuk pada artikulasi, atau maksud, tujuan, dan kesengajaan seseorang dalam melakukan tindakan (Giddens, 1984).

Sosialisasi sekunder merupakan sosialisasi menuju sektor objektif baru dalam masyarakat. Individu perlu menjadi anggota masyarakat sebelum menjalani sosialisasi sekunder. Oleh karena itu, dibutuhkan distribusi pengetahuan yang lebih lanjut. Apabila dalam sosialisasi primer, individu mencoba mengidentifikasi mengenai diri mereka sendiri, sosialisasi primer memberikan pengetahuan tentang peran yang lebih spesifik.

Sosialisasi merupakan proses transfer makna yang bertahap. Dengan demikian, ketrampilan serta pengetahuan individu menjadi hal yang penting. Sebagai contoh, individu yang dalam sosialisasi primer telah memahami dirinya sebagai laki-laki, kemudian mencoba memahami pembagian kerja masyarakat menurut gender/ jenis kelaminnya melalui sosialisasi sekunder. Pemaparan masyarakat sebagai realitas subyektif terjadi melalui proses demi proses internalisasi ini.

(12)

Segala proses institusionalisasi yang telah dijelaskan sebelumnya membutuhkan pemeliharaan. Giddens berargumen semakin artifisial sosialisasi sekunder, maka semakin rentan posisinya ketika berhadapan dengan realitas sosial, karena sosialisasi itu tidak mengakar dengan baik. Dengan demikian, percakapan sehari-hari memiliki fungsi yang penting guna memelihara tahap-tahap diatas.

1.5.3 Pemuda

Selama periode Orde Baru, istilah pemuda jarang digunakan. Hal ini disebabkan karena istilah pemuda lebih memiliki makna politis. Pemerintahan Orde Baru lebih sering menggunakan istilah 'anak baru gede' atau biasa disingkat ABG dan remaja. Kedua istilah tersebut lebih terkesan apolitis apabila dibandingkan dengan istilah pemuda.

Istilah pemuda memiliki beberapa definisi. Cara termudah untuk mendefinisikan pemuda adalah menggunakan usia. Menurut PBB, youth atau pemuda dikategorikan pada mereka yang berusia antara 15 sampai 24 tahun. Namun, kerancuan juga masih dapat dilihat apabila membandingkannya dengan konvensi hak anak PBB yang mendefinisikan anak-anak dalam rentang umur dibawah 18 tahun. Kerancuan juga dapat dilihat di definisi-definisi lainnya, misalnya definisi

adolescents antara 10-19 tahun, teenagers antara 13-19 tahun, young adults antara

20-24 tahun, dan young people antara 10-20-24 tahun. 5

Pendekatan lain dalam memandang pemuda lebih lentur dengan tidak menaruh banyak perhatian pada usia. Pemuda juga dipandang sebagai konstruksi sosial yang dibentuk. Misalnya, seseorang yang sudah berusia 40 tahun, tidak lagi termasuk sebagai pemuda apabila menggunakan definisi milik PBB, tetapi bisa saja                                                                                                                

5  Definisi youth, teenagers dan young adults: http://social.un.org/index/Youth/FAQ.aspx.  

(13)

menyatakan dirinya sebagai pemuda. Atau sebaliknya, seorang pemuda berusia 17 tahun yang sudah menikah dan memiliki tanggungan, mungkin tidak lagi menyatakan dirinya sebagai pemuda.

Indonesia memiliki definisinya sendiri tentang pemuda. Merujuk kepada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2009 tentang kepemudaan yang tertera pada bab 1 ayat 1, pemuda diartikan sebagai warga negara Indonesia yang berusia 16 tahun sampai 30 tahun.6

1.5.4 Etnisitas

Dalam studi mengenai identitas, dikenal istilah etnisitas. Etnisitas berbeda dengan ras. Ras merupakan kategori yang ditarik berdasarkan ciri biologis yang menekankan pada perbedaan secara biologis. Kategori ras mirip dengan kategori 'genus' pada hewan atau tumbuhan.

Berbeda dengan ras, etnisitas memiliki pengertian yang tidak sekedar menekankan pada ciri-ciri biologis seseorang. Etnisitas tumbuh dari rasa keterkaitan seseorang terhadap komunitas tertentu. Etnisitas seringkali digunakan untuk memberikan ciri atau identitas pada komunitasnya yang membedakannya dengan yang lain. Etnisitas memberikan sekat antara siapa yang menjadi bagian dari 'kita' dan siapa yang 'liyan'. Etnis adalah identifikasi diri pada kelompok atau komunitas tertentu dan didefinisikan secara kultural.

Etnisitas melahirkan kelompok etnis. Kelompok etnis memiliki suatu ikatan kolektif yang tercermin dalam warisan, ingatan, dan sejarah yang sama. Ada berbagai bentuk ikatan yang bida dilihat dalam satu kelompok etnis, misalnya sejarah masa lalu yang sama, bahasa yang sama, mitos yang sama, dan dalam kasus etnis Tionghoa:                                                                                                                

(14)

kampung halaman yang sama. Ciri-ciri tersebut membentuk satu ikatan yang kemudian menghasilkan nasionalisme atau solidaritas kelompok etnis.

Dengan pemaparan tentang kelompok etnis diatas. Kelompok etnis Tionghoa di Indonesia terbentuk oleh identifikasi warisan yang sama. Warisan-warisan seperti mitos, cerita, sejarah, bahasa, serta kampung halaman yang sama membentuk mereka ke dalam satu kelompok etnis.

Pada mulanya, mudah untuk mengidentifikasi sebuah kelompok etnis, Tionghoa misalnya. Namun, dalam berjalannya waktu, tidak sedikit penduduk Tionghoa yang menikah dengan penduduk asli Indonesia. Tidak sedikit pula yang sudah merasa menjadi bagian dari Republik Indonesia, karena sudah terlahir di Indonesia dan tidak mewarisi lagi cerita dan kampung halaman yang sama. Dengan demikian, lama-lama cukup sukar untuk mengidentifikasi kelompok etnis Tionghoa.

Tidak mudah untuk menghitung berapa jumlah penduduk Tionghoa di Indonesia. Sensus penduduk tahun 2010 mencatat populasi penduduk etnis Tionghoa di Indonesia sebesar 1,2%. Akan tetapi, beberapa penulis menganggap angka tersebut terlalu kecil. Hal ini disebabkan oleh karena banyak penduduk yang tidak menganggap dirinya sebagai Tionghoa. Alasannya, pertama karena trauma yang mendalam akan kerusuhan Mei 1998. Kedua sebagian merasa sudah menjadi bagian dari penduduk asli Indonesia. Ketiga, masih banyak penduduk Tionghoa di Indonesia yang melarikan diri pada kerusuhan Mei 1998, namun belum kembali ke tanah air.

Istilah Tionghoa sendiri juga lahir dari proses politis yang cukup panjang. Sosiolog Melly G. Tan menuliskan bahwa sekat identitas antara Tionghoa dan pribumi sudah dibentuk melalui politik bahas sejak era kolonial. Setidaknya hingga akhir abad 19, istilah Tjina atau Tjino bagi yang berbahasa Jawa, masih digunakan (2008: 1).

(15)

Awal abad ke 20, Republik Rakyat Cina merdeka. Kemerdekaan Republik Rakyat Cina ikut memberikan gelombang nasionalisme di kalangan perantau Cina, tak terkecuali di sekitar Hindia. Pada perkembangannya, muncul keinginan dari penduduk keturunan Cina di Indonesia untuk memberikan identitas lain yang membedakannya dengan gerakan Cina daratan. Oleh karena itu, munculah istilah Tionghoa yang berasal dari bahasa Hokkien. Istilah ini banyak digunakan dalam periode perang dunia kedua, termasuk pada penjajahan Jepang, dan awal pemerintahan Soekarno.

Memasuki periode Orde Baru, Presiden Soeharto kembali memakai istilah Cina untuk menggantikan istilah Tionghoa. Secara politis, hal ini memiliki makna yang cukup menyulitkan penduduk Tionghoa. Dengan menggunakan kembali istilah Cina, maka penduduk Tionghoa tidak seutuhnya dianggap sebagai etnis yang ada di Indonesia. Istilah Cina memberikan mereka identitas sebagai yang 'lain' dengan penduduk asli Indonesia.

Dalam periode ini, beberapa kebijakan pemerintahan Presiden Soeharto memiliki beberapa dampak yang signifikan bagi penduduk Tionghoa. Misalnya, kebijakan yang mengharuskan penduduk Tionghoa merubah nama mereka ke nama yang terdengar Indonesia. Penduduk Tionghoa juga tidak diperkenankan untuk menggunakan atribut Tionghoa, serta tidak diperbolehkan untuk mengekespresikan kebudayaan mereka, baik dalam bentuk bahasa maupun kesenian. Oleh karena itu, perayaan tahun baru Imlek pun juga tidak dilegalkan.

Setelah periode Orde Baru atau di awal-awal masa reformasi, beberapa perubahan terjadi. Salah satunya, diperbolehkannya kembali ekspresi budaya Tionghoa serta ditetapkannya tahun baru Imlek sebagai hari libur nasional. Periode reformasi juga kembali menggunakan istilah 'Tionghoa' yang sebelumnya

(16)

ditinggalkan. Pergantian ini cukup memberikan kontroversi di kalangan etnis Tionghoa. Generasi yang lebih tua lebih senang menggunakan istilah 'Tionghoa' dan sebaliknya generasi yang lebih muda telah terbiasa dengan istilah 'Cina'.

1.6 Kerangka Konseptual

Etnisitas dipandang tidak sekedar berdasarkan kesamaan ciri fisik. Etnisitas muncul dengan dasar-dasar keterikatan individu terhadap kelompok tertentu. Persamaan-persamaan nasib, tanah air, kampung halaman, bahasa, dan mitos yang sama memberikan seseorang identitas, dan itu pula yang membedakannya dengan kelompok yang lain.

Teori mengenai etnisitas akan digunakan untuk menggambarkan kelompok etnis Tionghoa di Indonesia. Kelompok etnis Tionghoa di Indonesia merupakan hasil dari migrasi penduduk dataran Cina ke seluruh penjuru dunia, tidak terkecuali Indonesia. Sebagai kelompok yang berangkat dari latarbelakang yang kurang lebih sama, mereka memiliki ikatan kolektif yang tercermin dalam warisan, ingatan, sejarah, mitos, serta kampung halaman yang sama. Persamaan-persamaan itu digunakan oleh suatu kelompok etnis untuk membedakannya dengan kelompok yang lain. Ikatan-ikatan diatas kemudian menghasilkan solidaritas kelompok etnis.

Mulai dari abad ke 11, ratusan ribu perantau bermigrasi dari dataran Cina menuju Nusantara. Ada yang masuk melalui Batavia, Pulau Sumatra, dan Pulau Kalimantan. Sejak saat itu, gelombang perantau tidak henti-hentinya mengalir ke Nusantara. Oleh karena itu, para perantau dari Cina daratan sudah lama sekali menginjakan kaki di negeri ini.

Sebelum lebih jauh masuk dalam konteks pemuda, penelitian ini akan bertolak dari diskusi tentang identitas dan prasangka. Seperti yang telah dipaparkan di bagian

(17)

sebelumnya, penelitian ini akan menggunakan kacamata konstruksionis dalam mengamati identitas. Kacamata konstruksionis memandang identitas sebagai produk konstruksi yang diciptakan oleh masyarakat.

Sebagai produk konstruksi, maka identitas tidak bisa dilepaskan dari politik atau kontestasi kekuasaan. Dalam konteks Indonesia, etnis Tionghoa mengalami politik identitas yang secara sistematis dikelola oleh pemerintah selama bertahun-tahun. Beberapa kebijakan publik mempertegas bagaimana pengetahuan atas identitas Tionghoa dirawat dengan baik di tengah masyarakat.

Bahwa benar penduduk Tiongkok telah bermigrasi ke Nusantara sejak abad ke-11. Selama berabad-abad, penduduk Tiongkok tersebut hidup berdampingan, baik dengan pribumi maupun bangsa Eropa ketika itu. Namun bagaimana konstruksi identitas diciptakan dan dikelola sebenarnya sudah dapat disaksikan pada periode Nusantara. Pemerintah kolonial menyekat penduduk Tionghoa dalam arena bisnis dan meletakannya dalam strata sosial yang berbeda dengan pribumi. Dengan demikian, terciptalah pengetahuan tertentu pada satu kelompok etnis.

Dalam mata rantai kekerasan etnis, konstruksi identitas menghasilkan prasangka dan stereotype. Dalam konteks masyarakat Tionghoa, prasangka dikelola dengan baik melalui kebijakan publik. Keputusan Presiden Nomor 14 tahun 1967 adalah salah satu contoh bagaimana kelompok Tionghoa dipandang berbeda dari warga asli Indonesia.

Beberapa pengusaha keturunan Tionghoa pernah dekat dengan keluarga Presiden Soeharto. Para pengusaha tersebut menerima beberapa proyek dan menjadi konglomerat. Melly G. Tan (2008) menulis kedekatan serta kelas ekonomi mereka memproduksi prasangka tertentu pada kelompok etnis Tionghoa.

Para pengusaha yang jumlahnya hanya segelintir dari jumlah populasi Tionghoa itu memproduksi pengetahuan tertentu pada kelompok etnis Tionghoa sebagai

(18)

kelompok etnis konglomerat. Sebagai akibatnya, kelompok etnis Tionghoa dipandang sebagai kelompok konglomerat yang elitis dan tidak bisa berbaur, padahal sudah tentu ada jutaan penduduk Tionghoa yang sudah lama hidup berdampingan dengan pribumi. Namun, beginilah cara prasangka bekerja, dan mata rantai selanjutnya adalah diskriminasi, yang berpuncak pada kekerasan di bulan Mei 1998.

Setelah mendiskusikan identitas dan etnisitas, peneliti akan mencoba masuk ke dalam subyek utama penelitian ini, yaitu pemuda. Kebanyakan kelompok usia saat ini sangat mungkin merupakan generasi ketiga, keempat, atau bahkan lebih, dari perantau asli dataran Cina yang pertama kali datang ke Nusantara. Beberapa pemuda etnis Tionghoa bahkan sudah tidak memahami dan menganut kebudayaan Tionghoa sekental generasi sebelumnya. Penelitian ini akan meletakan titik fokusnya pada kelompok usia tersebut, pemuda.

Ada berbagai definisi mengenai pemuda. Namun, cara termudah untuk memberikan tolak ukur siapa itu pemuda, adalah dengan menggunakan batasan usia. Salah satunya, PBB mendefinisikan youth sebagai seseorang yang berusia antara 15 sampai 24 tahun. Masih ada beberapa definisi lain mengenai pemuda, namun undang-undang di Indonesia sudah mengatur definisinya sendiri tentang pemuda. Undang-undang Republik Indonesia mengenai kepemudaan menjelaskan pemuda sebagai seseorang yang berusia di antara usia 16 sampai 30 tahun. Dengan kata lain, mereka yang saat ini dikategorikan sebagai pemuda, masih berusia 0-15 tahun ketika peristiwa itu terjadi belasan tahun yang lalu.

Peneliti pertama-tama akan menelisik mengenai konstruksi mereka akan sebuah peristiwa sejarah. Indonesia sudah memiliki klaim tentang apa yang dianggap sebagai 'kebenaran nasional' dalam peristiwa kerusuhan Mei tahun 1998. Menurut Berger dan Luckman, 'kebenaran' pun merupakan hasil sebuah konstruksi sosial. Oleh karena itu,

(19)

bagaimana konstruksi pemuda etnis Tionghoa atas 'kebenaran nasional' tersebut akan diteliti sebelum lebih jauh membicarakan dekonstruksi.

Konstruksi sosial dibentuk oleh proses sosialisasi. Dalam waktu 0-15 tahun, pemuda mengalami tiga proses dialektik, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Tiga proses dialektik ini mereproduksi makna dari generasi sebelumnya ke pemuda. Proses transmisi tersebut diamini dengan justifikasi massal tentang apa yang disebut 'kebenaran' atau 'realitas'.

1.7 Metode Penelitian 1.7.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk masuk ke dalam pengalaman pemuda etnis Tionghoa ketike meghadapi kerusuhan bulan Mei tahun 1998 di Jakarta. Setiap pemuda memiliki pengalamannya sendiri. Dari pengalaman-pengalaman tersebut, penelitian ini berusaha untuk menggali upaya-upaya untuk mendekonstruksi sebuah peristiwa sejarah.

Merujuk pada latar belakang dan rumusan masalah diatas, maka penelitian kualitatif akan dipakai untuk menjawab rumusan masalah. Untuk lebih jauh lagi menganalisa pengalaman-pengalaman pemuda dan kaitannya dengan upaya mendekonstruksi, penelitian fenomonologi akan digunakan dalam penelitian ini. Dalam pendekatan fenomonologi, peneliti berusaha untuk memahami makna sebuah peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap individu-individu.

Pada awalnya, peneliti akan mengumpulkan pengalaman-pengalaman pemuda etnis Tionghoa atas kerusuhan Mei 1998 melalui metode wawancara mendalam. Dari pengalaman-pengalaman tersebut, konstruksi pemuda atas 'kebenaran nasional' yang

(20)

dilegitimasi oleh pemerintah akan dicermati. Pada akhirnya, peneliti akan berusaha untuk menggali upaya-upaya mereka dalam melakukan dekonstruksi atau pembongkaran peristiwa tersebut.

Pengalaman dan peristiwa dihubungkan kaitan-kaitannya dengan individu dalam situasi tertentu. Pengalaman selalu melibatkan indera, namun seringkali penafsiran juga memegang peran yang dominan untuk memahami sebuah peristiwa. Realitas tidaklah bersifat obyektif, melainkan merupakan hasil dari konstruksi sosial. Oleh karena penelitian ini berusaha menggali pengalaman dan penafsiran atas sebuah peristiwa masa lalu, maka fenomonologi dipakai sebagai pendekatan penelitian ini. Dengan pendekatan ini, penelitian ini dirasa mampu untuk menggali pengalaman seseorang, konstruksinya atas peristiwa, serta upaya-upayanya dalam melakukan dekonstruksi sebuah peristiwa.

1.7.2 Lokasi Penelitian

Mengacu pada latar belakang penelitian dimana serangkaian peristiwa penting terjadi di Jakarta pada bulan Mei 1998, penelitian ini akan dilaksanakan di kota Jakarta. Jakarta merupakan ibukota negara Indonesia yang juga merupakan pusat perekonomian dan pemerintahan republik ini.

Jakarta juga memiliki cerita panjang mengenai kekerasan berlatarbelakang etnis. Pada tahun 1740, ribuan penduduk Tionghoa terbunuh dalam peristiwa yang terjadi di Batavia. Setahun setelah republik ini merdeka, Jakarta sekali lagi menjadi tempat pembantaian 653 penduduk Tionghoa oleh penduduk asli di Tanggerang. Puncak dari semua itu terjadi di tahun 1998, ketika kerusuhan pecah di kota itu.

Diawali oleh krisis finansial di Asia Tenggara, banyak aksi keprihatinan yang digagas oleh mahasiswa-mahasiswa perguruan tinggi bermuculan di Jakarta. Di

(21)

Jakarta pula, mahasiswa melancarkan aksi menentang kenaikan tarif bahan bakar minyak dan menuntut mundurnya Presiden Soeharto. Aksi-aksi ini berujung pada tewasnya empat orang mahasiswa Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998.

Keesokan harinya, suasana Jakarta cukup mencekam. Massa bergerak dan menyebar ke beberapa penjuru Jakarta. Warga keturunan Tionghoa pun menjadi sasaran. Toko-toko milik warga keturunan Tionghoa dijarah, dirampok, bahkan dibakar.

Oleh karena posisinya yang strategis secara ekonomi, budaya, dan politis, ketegangan sangat terasa ketika kerusuhan itu terjadi belasan tahun silam. Peristiwa ini meninggalkan beragam kisah yang terekam oleh jutaan penduduknya, tidak terkecuali anak-anak yang kini telah menjadi pemuda.

1.7.3 Jenis & Sumber Data

Penelitian ini akan menggunakan dua macam data, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer didapatkan dengan mewawancarai langsung pemuda-pemuda etnis Tionghoa seputar pengalaman personal mereka, serta konstruksi mereka atas peristiwa kerusuhan Mei tahun 1998 di Jakarta.

Sementara itu, untuk melengkapi konteks sejarah, ekonomi, politik, serta budaya peristiwa kerusuhan Mei 1998, penelitian ini juga akan menggunakan data sekunder yang dikumpulkan dari berbagai literatur, kliping, dan dokumentasi audio/video. Data sekunder tersebut juga berfungsi untuk melengkapi konteks 'ke-Tionghoa-an' yang sudah memiliki sejarah yang sangat panjang.

(22)

Penelitian ini akan mengumpulkan data dari informan-informan. Untuk menjawab rumusan masalah, maka penelitian ini akan menghimpun data dari informan-informan yang dipilih menggunakan metode purposive sampling. Dengan demikian, kriteria-kriteria sudah ditentukan dalam rancangan penelitian. Informan yang dipilih dianggap kredibel untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian.

Peneliti memilih 7 orang pemuda sebagai informan kunci. Tujuh orang ini dipilih untuk mewakili masing-masing setting sosial sebagaimana yang akan diteliti. Peniliti sebenarnya telah mewawancarai lebih dari 7 orang informan, namun dalam proses penulisannya, peneliti memilih tujuh informan ini karena dianggap menarik dan mampu mewakili rumusan masalah yang telah dipaparkan di bagian sebelumnya.

Informan dalam penelitian ini antara lain: a. Pemuda etnis Tionghoa

b. Generasi etnis Tionghoa yang lebih tua c. Aktivis 1998

d. Pembuat Film e. Sosiolog f. Wartawan

1.7.5 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan merupakan cara-cara yang dilakukan oleh peneliti dalam mengumpulkan data untuk kemudian diolah dan dianalisa. Dalam penelitian kualitatif, data dapat dikumpulkan melalui beberapa cara, antara lain wawancara, observasi, diskusi, maupun dokumentasi seperti teks, foto, video, dsb. Penelitian ini akan

(23)

menggunakan teknik pengumpulan data wawancara mendalam (in depth interview) dan observasi.

1. Wawancara Mendalam

Wawancara mendalam merupakan salah satu cara mengumpulkan data dalam penelitian kualitatif. Wawancara sendiri tidaklah sekedar bertatapan satu sama lain dan saling bertanya dan menjawab. Wawancara dalam penelitian kualitatif lebih dari itu. Teknik ini digunakan dengan tujuan menyelami lebih dalam mengenai pengalaman pribadi yang unik, konstruksi, serta tafsir anak-anak muda keturunan Tionghoa atas pengalaman mereka sendiri.

Jenis wawancara tidak terstruktur akan digunakan dalam penelitian ini. Wawancara tidak terstruktur biasa digunakan dalam studi-studi etnografi. Wawancara jenis ini tidak memiliki pertanyaan-pertanyaan yang direncanakan, melainkan berjalan melalui cerita-cerita dari subjek. Wawancara tidak terstruktur dirasa efektif untuk memahami konteks-konteks yang telah disebutkan sebelumnya. Selain itu, wawancara tidak terstruktur juga mampu membuat suasana wawancara menjadi tidak kaku, sehingga informan bisa menceritakan secara lebih bebas.

2. Observasi

Selain menggunakan wawancara, penelitian ini juga menggunakan observasi dalam mengumpulkan data. Observasi dalam penelitian ini bertujuan untuk memahami kehidupan informan saat ini sesuai dengan konteksnya. Penelitian ini direncanakan untuk ikut dan menelaah proses internalisasi dan sosialisasi informan oleh lingkungan

(24)

sosialnya. Pemahaman ini akan bermanfaat untuk memahami implikasinya pada pemahaman dan tafsir informan akan pengalamannya sendiri. Dengan kata lain, pemahaman akan keluarga dan lingkungan sosial informan juga penting untuk dikumpulkan. Oleh karena itu, observasi juga akan digunakan dalam penelitian ini.

1.7.6 Tahap-Tahap Penelitian

a) Pra Lapangan

Pada tahap ini, peneliti berusaha untuk menemukan dan merumuskan masalah. Peneliti juga menentukan fokus dari penelitian. Dalam tahap ini, upaya-upaya yang dilakukan oleh peneliti, antara lain:

1. Mempersiapkan rancangan penelitian. 2. Mengurus perizinan.

3. Mengobservasi lapangan.

4. Mencari referensi mengenai kondisi lapangan. 5. Mencari dan memilih informan.

6. Menyiapkan perlengkapan penelitian.

b) Pekerjaan Lapangan

Setelah mempersiapkan penelitian, tahap selanjutnya adalah penelitian lapangan. Pada tahap ini peneliti akan turun ke lapangan untuk mengumpulkan data menggunakan metode yang telah dipilih sebelumnya. Dengan menggunakan metode yang telah dipilih sebelumnya, diharapkan data tersebut mampu diolah untuk menjawab rumusan masalah penelitian

(25)

c) Tahap Analisis Data

Setelah data terkumpul dari berbagai sumber, tahap selanjutnya adalah melakukan analisis data. Data-data yang telah terkumpul melalui pada tahap sebelumnya kemudian dianalisa menggunakan kerangka teori untuk menjawab rumusan masalah.

1.8 Proses Penelitian

Penelitian ini pada awalnya bertujuan untuk menelisik ingatan teman-teman peneliti yang saat peristiwa Mei 1998 masih berusia dibawah 10 tahun, atau kira-kira seusia dengan peneliti.

Pengalaman personal peneliti menjadi motivasi utama mengapa tema ini dipilih menjadi fokus utama penelitian. Pada peristiwa Mei 1998, peneliti masih berusia 7 tahun. Sama seperti pemuda-pemuda yang menjadi informan, peneliti memiliki satu dua ingatan yang tersebar tentang peristiwa ini.

Di hari kerusuhan Mei 1998, peneliti dibawa oleh orangtua ke sebuah hotel di Jakarta Pusat. Hotel ini dipilih karena dimiliki oleh salah satu konglomerat yang dekat dengan keluarga Presiden saat itu. Selama beberapa hari, peneliti menginap disana dengan asumsi hotel tersebut dijaga ketat oleh aparat keamanan. Asumsi ini terbukti betul karena selama beberapa hari hotel tersebut dijaga dan tak mengalami kejadian apapun.

Beberapa hari paska pengunduran diri Soeharto, peneliti diajak oleh kakek untuk pergi berkeliling di Jakarta. Menggunakan mobil, peneliti berkeliling untuk melihat gedung-gedung yang dilempari batu dan gedung yang terbakar. Memori ini, walaupun sudah berlalu belasan tahun, namun terus melekat dalam kepala.

(26)

Peneliti merasa ingatan-ingatan personal semacam ini memiliki peran yang cukup besar untuk mengonstruksikan suatu pengetahuan. Akan tetapi, peneliti memahami ada bagian di luar diri peneliti yang juga memiliki dampak yang besar, yaitu setting sosial. Tempat tinggal, teman bermain, keluarga, serta media juga tidak bisa disisihkan dari kontestasi terciptanya konstruksi sosial.

Peneliti bersama keluarga sejak kecil tinggal di lingkungan pluralis. Meskipun dibesarkan di keluarga yang masih kental adat Tionghoa-nya, namun peneliti sejak kecil berteman dengan anak-anak di sekitar rumah yang berasal dari aneka ragam latar belakang etnis dan kelas. Orangtua peneliti pun cukup terbuka dan tak pernah menghalangi peneliti untuk berteman dengan siapapun.

Pengalaman-pengalaman seperti ini pun dirasakan oleh peneliti cukup memberikan dampak padanya dalam bersikap dan bergaul. Oleh karena itu, setting sosial menjadi faktor penting untuk diikutsertakan dalam diskusi ini. Persinggungan antara pengalaman personal yang subyektif dengan masyarakat yang obyektif menjadi menarik untuk memahami bagaimana pemuda mengkonstruksikan peristiwa serta identitasnya sendiri. Poin-poin diataslah yang memotivasi peneliti untuk memilih topik ini sebagai fokus utama penelitian.

Referensi

Dokumen terkait

Seperti yang dilakukan pada perencanaan dengan flip-flop RS, maka peta masukan dapat diisikan baik dari tabel masukan maupun langsung dari peta keadaan

Meskipun Injil mengandung banyak tema Yahudi konservatif, bentuk akhir dari teks Matius menunjukkan bahwa itu adalah penulis dapat digambarkan dengan

salina akibat pemberian variasi dosis pakan tepung kepala udang Vannamei dan dilanjutkan dengan uji Duncan untuk mengetahui dosis perlakuan yang menghasilkan rerata

PT Moda Global Maritim memiliki karyawan yang terdiri dari berbagai macam latar belakang budaya yang berbeda-beda di masing-masing individu, yang menjadi nilai dan harus

UNAIR NEWS – Sebagai perwujudan Tri Dharma Perguruan Tinggi, para mahasiswa program studi Profesi Pendidikan Ners, Fakultas Keperawatan, Universitas Airlangga melakukan

Pola spasial indikator pembangunan berkelanjutan dapat diketahui dengan cara menghitung nilai autokorelasi spasial indikator pembangunan berkelanjutan antar daerah, dan

Kenaikan yang berasal dari revaluasi aset tetap diakui pada penghasilan komprehensif lain dan terakumulasi dalam ekuitas pada bagian surplus revaluasi aset tetap, kecuali

Berdasarkan hasil uji disintegrasi dan uji disolusi dalam penelitian ini, dapat diketahui bahwa waktu hancur (desintegrasi) yang singkat tidak menjamin laju