2 TINJAUAN PUSTAKA. serta pengetahuan yang berkaitan dengan peran pemuda serta faktor-faktor yang

Teks penuh

(1)

Tinjauan pustaka adalah proses sintesis hasil penelitian, kajian, regulasi, serta pengetahuan yang berkaitan dengan peran pemuda serta faktor- faktor yang diduga menentukan peran itu yaitu kebijakan publik, kewirausahaan, modal sosial, dan kepemilikan sumberdaya. Dengan adanya tinjauan pustaka maka akan ada pemahaman yang lebih komprehensif tentang aspek yang diteliti yang berguna dalam pengembangan metode penelitian serta pembahasan hasil penelitian. Bab Tinjauan Pustaka ini terdiri dari lima sub-bab, masing- masing tentang aspek (1) definisi dan peran pemuda, (2) kebijakan publik, khususnya yang berkaitan dengan peran pemuda, (3) kewirausahaan, (4) pengaruh dan kekuatan kapital sosial, serta (5) kepemilikan sumberdaya yang memungkinkan pemuda dapat berperan.

Pemuda, sebagai bagian dari masyarakat, bisa berperan optimal jika bisa berperan serta dalam meningkatkan kapasitasnya dimana kesejahteraannya menjadi lebih baik berdasarkan aset yang ada, yaitu sumberdaya manusia, sosial, fisik, dan lingkungan. Dalam hal ini pemuda harus bisa meningkatkan kemampuannya dan secara kreatif mengkombinasikan sumberdaya dari luar dengan sumberdaya yang ada di sekitarnya untuk membangun visi bersama. Dalam pengembangan kapasitas agar pemuda lebih berperan secara optimal perlu adanya agen perubahan. Dalam hal ini agen perubahan adalah fasilitator dan pendidik. Proses serta fasilitasi tugas dalam suatu masyarakat perlu diperhatikan. Pemuda diharapkan mampu mengenali dan memecahkan masalah secara kolektif. Beberapa hal yang perlu diperhatikan menurut Flora dan Luther (2000) adalah sebagai berikut: (1) meningkatkan peran serta anggota masyarakat secara inklusif

(2)

(kebijakan publik), (2) meningkatkan basis kepemimpinan (kapital sosial), (3) memperkuat kemampuan individual (kewirausahaan), (4) pemahaman visi secara bersama (kapital sosial), (5) agenda masyarakat yang strategis dalam menghadapi perubahan (kewirausahaan), (6) kemajuan yang konsisten dan terukur menuju tujuan (kewirausahaan), (7) organisasi masyarakat dan lembaga yang efektif (kapital sosial), dan (8) pemanfaatan sumberdaya yang lebih baik oleh masyarakat (sumberdaya).

2.1 Definisi dan Peranan Pemuda

Peran atau peranan bisa diartikan sebagai tindakan atau kegiatan atau fungsi yang diberikan atau diharapkan dari seseorang atau kelompok. Peran juga bisa diartikan sebagai kegiatan yang biasa dilakukan oleh seseorang dalam lingkungan sosial tertentu (The Free Dictionary 2006).

Strieter dan Blalock (2006) mengungkapkan, supaya seseorang bisa menjalankan perannya secara lebih baik maka perlu melakukan kolaborasi. Kolaborasi adalah upaya organisasi atau manusia mencapai tujuan bersama yang tidak dapat dicapai secara efisien melalui upaya individu. Pemuda harus diyakinkan bahwa mereka masing- masing memiliki hak untuk berperan, oleh karena itu pemuda dalam kelompok yang sama harus memiliki visi yang sama dan mengembangkan rasa kepemilikan bersama.

Dengan berperan serta, seseorang bisa ikut mengambil keputusan yang mempengaruhi kehidupan seseorang dan masyarakat di sekitarnya. Ini adalah hak warga negara yang sangat fundamendal (mendasar) dan biasanya digunakan sebagai variabel untuk mengukur apakah ada demokrasi dalam suatu kelompok masyarakat (Howard et al. 2002).

(3)

Bentuk peran serta pemuda berbeda menurut lingkungan tempat tinggal dan antar kelas sosial. Misalnya, pemuda kelas atas dan menengah di Filipina berperan dalam protes kebijakan pemerintah melalui demonstrasi damai dengan cara saling tukar informasi melalui telekomunikasi modern. Sementara pemuda miskin di pedesaan menyampaikan informasi dari mulut ke mulut. Secara umum sulit untuk meningkatkan peran kelompok berusia 15 – 24 tahun yang tidak memiliki akses ke pendidikan, informasi, dan teknologi. Juga sulit meningkatkan peran pemuda jika ada prasangka buruk di kalangan generasi tua. Meningkatkan peran pemuda juga sulit dalam sistem pemerintahan otokratik dan gaya manajemen tradisional jika mereka tidak diberikan kebebasan untuk mengemukakan pendapat (Tayo 2002).

Kementerian Pemuda dan Olahraga (Menpora 2005) menetapkan usia pemuda adalah 18-35 tahun. Sanit (1985) diacu dalam Rohmad (1998) memandang pemuda sebagai masa yang sentral. Ia memandang pemuda dari teori lingkaran hidup (life cycle theory) yang membagi suatu generasi menjadi lima masa, yakni (1) anak-anak; (2) remaja; (3) pemuda; (4) dewasa; dan (5) tua. Pemuda dapat berperan seperti orang dewasa dan mungkin juga dapat berperan seperti seorang remaja. Pemuda adalah kehidupan pada masa transisi, tetapi penting untuk memastikan bahwa pemuda mengembangkan kompetensi dan kapabilitas mereka selama masa transisi ini (McCabe dan Garry 2002). Generasi tua berpendapat bahwa generasi muda umumnya: (1) kurang komitmen, (2) memuaskan diri sendiri, (3) tidak disiplin, (4) tidak tertarik dengan perencanaan jangka panjang, (5) temperamental, (6) tidak berpengalaman, dan (7) hanya ingin bersenang-senang. Sedangkan pendapat generasi muda terhadap generasi tua

(4)

adalah: (1) terlalu banyak meminta, (2) tidak memberikan wilayah pribadinya, (3) kokoh pada prinsip yang dimilikinya, (4) tidak memahami tentang realita saat ini, (5) tidak terlalu tertarik akan aspek-aspek emosi atau perasaan, (6) tidak rela memberi kesempatan kepada yang lain, dan (7) membosankan (Iyer 2002).

Selanjutnya Rohmad (1998) menyimpulkan bahwa secara garis besar, pengertian pemuda adalah: (1) memiliki identitas ego yang stabil; (2) dapat berpikir secara sistematis; (3) memiliki minat tertentu; (4) mampu menyesuaikan diri dengan nilai, norma dan harapan masyarakat; (5) perkembangan moralnya mencapai tahap konvensional; (6) terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan di daerahnya; dan (7) secara umum diakui keberadaan dan eksistensinya dalam program pembangunan masyarakat. Selain itu, pemuda dicirikan dengan kebiasaannya yang aktif dalam kegiatan kemasyarakatan yang merupakan manifestasi dari sifat yang energik, original, spontan dan ideal.

Timbulnya peran adalah apabila ada harapan, baik dari pemegang peran maupun dari lingkungan yang memberi peran kepadanya (Pareek dan Udai 1985 diacu dalam Rohmad 1998). Peran adalah sekumpulan fungsi yang dilakukan oleh seseorang sebagai tanggapan terhadap harapan dari para anggota dalam sistem sosial yang bersangkutan dan harapan sendiri dari jabatan (posisi) yang ia duduki dalam sistem sosial itu. Dengan demikian peran adalah perilaku yang diharapkan sesuai dengan fungsi atau kedudukannya (Rohmad 1998).

Pada awalnya teori peran hanya berfungsi sebagai sistem yang memberikan gambaran-gambaran alternatif tentang gejala sosial yang dikaji oleh para pakar sosial yang bersifat teori. Pada dekade terakhir ini, sosiologi dan psikologi sosial menunjukkan beberapa perubahan pandangan yang mendorong

(5)

munculnya teori-teori tersebut. Seiring dengan munculnya minat pada model-model struktur sosial, maka teori peran juga turut berkembang, teori pengambilan hati (ingratitation theory) pertama kali diajukan oleh Jones (1990 diacu dalam Rohmad 1998). Teori ini untuk mempelajari strategi interpersonal yang digunakan individu untuk memberikan kesan positif bagi orang lain, teori ini menggunakan strategi dan taktik dengan memberi imbalan (insentif) agar orang berperilaku seperti yang diharapkan.

Teori lainnya adalah teori cermin (looking glasses theory) yang dikembangkan oleh Dewey, Mead dan Goffman (1929, 1934 dan 1959 diacu dalam Rohmad 1998). Inti teori cermin adalah individu dan lingkungan merupakan satu kesatuan yang harmonis. Bagaikan seseorang bercermin di depan kaca, maka ia tampak seperti apa yang dilihatnya di dalam kaca. Berdasarkan hal tersebut, kedirian pemuda dapat terlihat dari respon atau tanggapan yang diterima dari lingkungannya.

Pareek dan Udai (1985 diacu dalam Rohmad 1998) menyatakan bahwa peran tidak dapat ditentukan tanpa harapan- harapan dari para pengirim peran. Pengirim peran adalah orang-orang penting di dalam sistem terlibatnya pemegang peran. Setiap peran mempunyai sistem, terdiri dari pemegang peran dan mereka yang mempunyai hubungan langsung dengan pemegang peran dan sejumlah harapan dari peran itu.

Para pengirim peran bukan hanya keluarga, tetapi juga masyarakat, maka tidak cukup hanya berbekal sosialisasi di dalam keluarga saja. Tendensi pemuda meleburkan diri pada kelompok pemuda dalam semua masyarakat sebenarnya adalah berakar pada kenyataan tersebut. Partisipasi dalam keluarga belum cukup

(6)

untuk pengembangan kematangan sosial dan pembentukan identitas diri secara penuh. Dengan kata lain, peran yang dipelajari dalam keluarga kurang membentuk dasar yang cukup untuk pengembangan identitas dan partisipasi pemuda dalam bermasyarakat. Di masyarakat, kelo mpok pemuda mencari kerangka untuk pengembangan dan kristalisasi dari identitasnya untuk mencapai otonomi pribadi dan untuk transisinya yang efektif ke dalam dunia dewasa (Rogers dan Dorothy 1977 diacu dalam Rohmad 1998).

2.2 Pemuda dan Kebijakan Publik

Menurut Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), kebijakan (policy) diartikan sebagai pedoman untuk bertindak. Pedoman itu bisa sangat sederhana atau kompleks, bersifat umum atau khusus, luas atau sempit, kabur atau jelas, longgar atau terperinci, bersifat kualitatif atau kuantitatif, publik atau privat. Kebijakan juga bisa merupakan suatu deklarasi mengenai dasar pedoman bertindak, suatu arah tindakan tertentu, suatu program mengenai aktivitas-aktivitas tertentu atau suatu rencana (Wahab 2004). Anderson (1979) merumuskan kebijakan sebagai tindakan yang sengaja dilakukan oleh seseorang atau sejumlah aktor (pejabat, kelompok, instansi pemerintah) berkenaan dengan adanya masalah atau persoalan tertentu yang dihadapi.

Dye (1978) diacu dalam Islamy (2004) mendefinisikan kebijakan publik sebagai segala sesuatu yang dipilih atau tidak dipilih oleh pemerintah untuk dilakukan. Jika pemerintah memilih untuk melakukan sesuatu, maka harus ada tujuannya dan kebijakan tersebut harus meliputi semua tindakan, bukan semata-mata merupakan pernyataan keinginan pemerintah atau pejabat pemerintah saja. Di samping itu, sesuatu yang tidak dilaksanakan pemerintah termasuk kebijakan

(7)

publik juga. Hal ini karena pilihan untuk tidak melakukan sesuatu oleh pemerintah juga akan berpengaruh atau memiliki dampak yang sama besarnya dengan sesuatu yang dilakukan oleh pemerintah.

Kebijakan publik yang ideal ada dua, yaitu: (1) Kewirausahaan bukan merupakan sumberdaya, tetapi merupakan generasi yang mempunyai ide yang produktif secara sosial, kewirausahaan merupakan generasi ide dan bukan eksistensi sumberdaya yang menentukan kemakmuran; (2) Proses memahami kewirausahaan menetukan alokasi sumberdaya. Esensinya adalah bahwa alokasi sumberdaya merupakan dampak dari aktivitas wirausaha. Kebijakan publik bisa mempengaruhi hal ini dalam berbagai cara. Kebijakan publik yang bersifat regulasi bisa merusak kewirausahaan masyarakat (Kirzner dan Sautet 2006).

Penyusunan kebijakan publik yang baik harus didasarkan pada prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik. Keterbukaan (transparansi) atas berbagai proses pengambilan keputusan akan mendorong partisipasi masyarakat dan membuat para penyusun kebijakan publik menjadi bertanggung jawab (accountable) kepada semua pihak yang berkepentingan (stakeholders) denga n proses maupun kegiatan dalam sektor publik. Transparansi adalah sebuah kondisi minimum bagi partisipasi masyarakat dan merupakan awal dari terwujudnya akuntabilitas. Prinsip partisipatif menunjukan bahwa masyarakat yang akan memperoleh manfaat dari suatu kebijakan publik harus turut serta di dalam proses pengambilan keputusan. Dengan kata lain, masyarakat menikmati faedah kebijakan publik tersebut bukan semata-mata dari hasil (produk) kebijakan tersebut tetapi dari keikutsertaan dalam prosesnya. Prinsip partisipatif dalam penyusunan kebijakan publik membantu terselenggaranya proses perumusan

(8)

kebijakan yang tepat sesuai dengan kebutuhan, dan memudahkan penentuan prioritas (transparansi). Prinsip akuntabilitas publik menuntut kapasitas para aparat publik untuk dapat membuktikan bahwa setiap tindakan yang mereka ambil ditujukan untuk kepentingan publik, dapat dipertanggungjawabkan kepada stakeholders dengan indikator kinerja dan target yang jelas.

Adalah penting untuk meningkatkan kesadaran di kalangan pengambil keputusan politik tentang kebutuhan mendesak, yaitu partisipasi yang lebih luas spektrumnya dan secara menyeluruh terutama interaksi dan komunikasi antar generasi (Busch 2002). Upaya mempersiapkan, membangun dan memberdayakan pemuda agar mampu berperan serta sebagai pelaku-pelaku aktif dalam pembangunan Bangsa Indonesia, dihadapkan pada berbagai permasalahan dan tantangan: (1) Ketahanan budaya dan kepribadian nasional di kalangan pemuda yang semakin luntur, yang disebabkan cepatnya perkembangan dan kemajuan teknologi komunikasi, akibat dari derasnya arus informasi global yang berdampak pada penetrasi budaya asing. Hal tersebut mempengaruhi pola pikir, sikap, serta perilaku pemuda, ini dapat dilihat dari kurang berkembangnya kemandirian, kreativitas serta produktivitas di kalangan pemuda, sehingga pemuda kurang dapat berpartisipasi dalam proses pembangunan karakter bangsa; (2) Permasalahan yang tidak kalah pentingnya adalah era globalisasi yang terjadi di berbagai aspek kehidupan ternyata sangat mempengaruhi daya saing pemuda, sehingga pemuda baik langsung maupun tidak langsung dituntut untuk mempunyai keterampilan baik bersifat keterampilan praktis maupun keterampilan yang menggunakan teknologi tinggi untuk mampu bersaing dalam menciptakan lapangan kerja dan mengembangkan jenis pekerjaan yang sedang dijalaninya (Depdiknas 2004).

(9)

Selanjutnya, tantangan yang dihadapi adalah: (1) Derasnya arus mobilisasi pemuda baik yang berpendidikan maupun yang putus sekolah dari desa ke kota dan dari lapangan pekerjaan di bidang pertanian, perikanan dan kelautan yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menghasilkan, kepada pekerjaan/jasa yang dapat menghasilkan dalam jangka pendek, sehingga terjadi penumpukan pemuda pada satu jenis pekerjaan tertentu yang berada di perkotaan. Hal ini dapat dilihat dari bertambahnya jumlah orang yang melakukan arus balik ke kota-kota besar setelah hari besar/libur; (2) Munculnya gerakan demokratisasi yang dapat memunculkan masalah- masalah baru di bidang kepemudaan. Ini dapat dilihat dengan menj amurnya LSM yang banyak melibatkan pemuda. Disertai dengan laju globalisasi, akan memberikan dampak pada persoalan identitas dan integritas bangsa serta pembentukan moral dan agama yang kuat di kalangan pemuda dan juga kepedulian terhadap lingkungan; (3) Belum terumuskannya kebijakan pembangunan di bidang kepemudaan secara serasi, menyeluruh, terintegrasi dan terkoordinasi antara kebijakan di tingkat nasional dengan kebijakan di tingkat daerah (Depdiknas 2004).

Dengan adanya permasalahan tersebut, maka tantangan pembangunan bidang pemuda ke depan dapat memunculkan masalah-masalah baru di bidang kepemudaan, terlebih lagi bila disertai laju globalisasi, maka akan memberikan dampak pada persoalan identitas dan integritas bangsa di kalangan pemuda. Menurut Gakunzi (2005) ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, yaitu: (1) Desentralisasi adalah salah satu cara untuk memperbesar, memperdalam, dan mengkonsolidasi demokrasi secara umum dan demokrasi lokal secara khusus; dan

(10)

(2) Representasi politik kaum minoritas yang merupakan cara untuk me ndorong partisipasi.

Pemerintah juga harus mendukung proyek skala kecil dan pengembangan kewiraswastaan. Demikian juga pemerintah perlu memperhatikan pengangguran di kalangan pemuda. Kebijakan ketenagakerjaan harus jelas mengarah menuju kesempatan kerja kepada pemuda (NSC 2006).

2.3 Kewirausahaan Pemuda

Kewirausahaan atau entrepreneurship adalah kemampuan seseorang untuk untuk mengenali produk baru, menemukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya serta mengatur permodalan operasinya. Dalam hal ini seorang wirausaha juga mampu mengorganisir dan berani mengambil resiko dari suatu kegiatan bisnis atau usaha yang dijalankannya (Depdiknas 2003 dan Merriam Webster 2001).

Kewirausahaan merupakan kemampuan manusia untuk mengatasi ketidakpastian, karena setiap tindakan yang diputuskan selalu menghadapi ketidakpastian, maka setiap tindakan memiliki sifat kewirausahaan dalam skala kecil maupun besar. Bagi mereka yang ingin melakukan interaksi sosial baik secara sukarela maupun berdasarkan klasifikasi pekerjaan akan menghadapi berbagai hal lebih sulit yang terkait dengan kewirausahaan, yaitu menemukan dan memperkirakan nilai subyektif dari orang lain (Herbener 1992).

Meningkatkan kewirausahaan bisa merupakan alat kebijakan yang signifikan untuk pertumbuhan ekonomi regional maupun dalam hal menciptakan lapangan kerja. Kebijakan pembangunan ekonomi, khususnya, telah bergeser ke

(11)

arah peningkatan pertumbuhan ekonomi lokal melalui kewirausahaan dan bukan berpijak pada investasi yang datang dari luar daerah (Campbell dan Rogers 2007). Kewirusahaan sangat penting dalam mendorong dinamika ekonomi moderen dan penciptaan kerja. Pembuat kebijakan perlu mengetahui bagaimana perusahaan baru memulai usaha nya dan kelembagaan keuangan seperti apa yang diperlukan untuk mendorong kewirausahaan. Data time series antar negara menunjukkan terdapat korelasi antara kewirausahaan dengan kualitas peraturan, akses terhadap modal, dan adanya informalitas (Klapper 2006).

Untuk melakukan wirausaha, pemuda perlu dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Kebutuhan fasilitas tergantung dari keterampilan pemuda, jenis usaha yang dilakukan, serta ketersediaan dana. Hasil studi Brasier et al. (2006) di Pennsylvania, misalnya, menunjukkan keterampilan komputer sangat penting dan signifikan dalam melakukan tugas manajamen usaha tani. Karena itu perlu ditingkatkan dan dikembangkan kemampuan komputer untuk keberhasilan usaha tani dan pembangunan pedesaan pada masa yang akan datang.

Pembukaan lapangan kerja baru melalui kewirausahaan dipandang perlu untuk dapat meningkatkan daya dukung pertumbuhan ekonomi. Departemen KUMKM (2005) mentargetkan pembukaan usaha baru. Untuk periode 2005-2009 diupayakan penumbuhan usaha baru berskala mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebanyak 6 juta unit termasuk pengembangan koperasi. Dalam hal ini pemuda juga merupakan kelompok sasaran. Para tamatan sekolah kejuruan akan diberi beasiswa untuk melanjutkan ke program diploma atau sarjana agar memiliki keahlian yang lebih memadai.

(12)

Jiwa kewirausahaan harus ditumbuhkan sejak usia dini. Di Eropa, khususnya di Norwegia, jiwa wirausaha sudah ditanamkan sejak usia sekolah. Anak-anak harus diberi pengarahan agar sadar bahwa wirausaha merupakan pilihan mata pencaharian pada masa depan. Disamping itu anak-anak sekolah perlu diberi dorongan agar lebih percaya diri dan kreatif tentang setiap keputusan yang mereka ambil. Sedangkan cara terbaik untuk belajar kewirausahaan adalah melalui pengalaman dan praktek langsung. Misalnya, di sekolah para murid diberi kesempatan praktek untuk menjalankan bisnis skala mini (Europe Union 2006).

Departemen Pendidikan Nasional melalui Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (PLSP), misalnya, memberi kesempatan kepada para pemuda untuk mengikuti kecakapan hidup terhadap pemuda yang bersedia berusaha mandiri. Proram ini dirasa lebih bermanfaat untuk mendorong kewirausahaan pemuda dalam menghadapi tantangan kemajuan jaman dimana tuntutan hidup semakin tinggi sementara di pihak lain kesempatan kerja semakin sempit (Kompas 2004). Program semacam ini dipraktekkan di Jawa Timur pada tahun 2005, yaitu dengan memberi pelatihan wirausaha dari Forum Pemuda Jawa Timur bagi para siswa SMA dan SMK se-Jawa Timur. Pelatihan ini bertujuan menanamkan jiwa wirausaha sejak dini sehinga setelah lulus sekolah diharapkan bisa bekerja secara mandiri dan tidak tergantung kepada kesempatan kerja yang diberikan oleh orang lain (Jawa Pos 2005).

Silalahi (2005) menyatakan dari seluruh lulusan perguruan tinggi yang memperoleh pekerjaan sebanyak 82% bekerja pada instansi pemerintah atau swasta. Hanya 18% dari kelompok yang bekerja tersebut bekerja secara mandiri atau sebagai wirausaha. Dalam hal ini pemerintah diharapkan membuat kebijakan

(13)

yang mendorong pemuda agar lebih berminat bekerja secara mandiri seperti halnya yang dilakukan negara- negara maju karena kewirausahaan berperan menyumbang kemajuan ekonomi suatu bangsa.

2.4 Kapital Sosial Pemuda

Kapital sosial merupakan sumberdaya yang tersedia di dalam dan melalui perorangan atau jaringan bisnis. Sumberdaya tersebut bisa berupa informasi, ide, pimpinan, kesempatan bisnis, kekuatan dan pengaruh, dukungan emosional, kemauan baik, kepercayaan, dan kerjasama. Kapital sosial tumbuh dari interaksi kita dengan orang lain dan bisa disebut sinergi sosial. Dalam hal ini kapital sosial bisa berkontribusi terhadap produktivitas bisnis ataupun kesuksesan perorangan. Untuk bisnis, kegiatan sosial bisa meningkatkan pangsa pasar, menarik minat investasi, memperbaiki citra perusahaan, memperbaiki efisiensi, dan meningkatkan moral pegawai. Bagi perorangan, kapital sosial bisa meningkatkan kesempatan kerja, pendapatan, kesehatan, kebahagiaan dan semua kualitas hidup (Baker 2000).

Van Staveren (2003) memberikan definisi kapital sosial dalam berbagai sudut pandang. Dari dimensi fungsionalis, kapital sosial merupakan tindakan kolektif, dari sudut pandang sosiologi merupakan kohesi sosial, secara ekonomi adalah kesejahteraan atau pertumbuhan ekonomi. Kapital sosial merupakan komitmen terhadap nilai sosial yang bisa diekspresikan secara kuantitaif dan kualitatif.

Kapital sosial terkait dengan nilai-nilai tertentu melalui jaringan kerja atau network melalui berbagai persamaan, misalnya pekerjaan, tempat tinggal, agama, atau suku. Kapital sosial mampu menjembatani antar individu yang berbeda

(14)

dengan norma yang bersifat timbal balik (Dekker dan Uslaner 2001 diacu dalam Aribowo 2007). Walaupun demikian, dengan perkembangan jaman terjadi perubahan, misalnya ikatan antar kelompok dalam hal gotong royong atau tolong-menolong semakin pudar. Kapital sosial bisa ditumbuhkan kembali tetapi memerlukan waktu yang lama dan terus menerus.

Masyarakat Ao’ gading di Tana Toraja misalnya, kapital sosial yang mereka miliki untuk membangun daerahnya dengan alam sekitar yang sejuk mereka berusaha menarik wisatawan. Kapital sosial yang mereka miliki diharapkan mendukung kegiatan mereka, yaitu kebersamaan, kepedulian, keikhlasan, dan kerelawanan (Fina dan Jemang 2006). Walaupun demikian mereka juga harus bersiap-siap bahwa adat yang mereka miliki bisa berubah dengan berjalannya waktu. Mereka tetap harus mempertahankan daya tarik wisata walaupun terjadi perubahan kapital sosial.

Generasi muda (suatu kelompok) tertentu harus menghormati kelompok yang lain. Alasannya adalah karena pemuda berasal dari latar belakang yang berbeda, hal ini harus merupakan kontribusi untuk membangun suatu masyarakat. Pemuda patut mengembangkan kesetiakawanan melampaui batas-batas lingkungannya karena nilai- nilai yang berasal dari cinta kasih dan kesetiakawanan dapat menyela matkan pemuda di tengah konflik sosial politik yang begitu banyak. Keragaman di antara pemuda mena mbahkan kekayaan terhadap semua proses, meskipun sulit mencapai konsensus (Benjumea 2002).

Sayogyo (1985) menggambarkan melalui dua alternatif masyarakat sebagai sistem sosial, pertama; masyarakat dipandang sebagai jaring- jaring sejumlah relasi dan hubungan sosial, yang mana di dalamnya terdapat suatu pola

(15)

yang unsur-unsurnya mantap. Alternatif kedua; masyarakat sebaga i susunan sejumlah posisi sosial yang berhubungan dan saling mengisi. Posisi sosial ini dapat menggambarkan titik-titik pusat atau pertemuan sejumlah relasi dan hubungan sosial yang berpusat, sehingga menempatkan individu- individu pada kedudukan tertentu.

Seseorang dapat memperoleh kedudukan tertentu di masyarakat melalui tiga cara: pertama, secara otomatis; yakni dimana seseorang memperoleh kedudukan tanpa suatu usaha tertentu. Kedudukan ini sering juga disebut ascribed-status. Kedudukan ini biasanya di dapat melalui pengakuan masyarakat, misalnya karena umur, jenis kelamin dan sebagainya. Kedua, seseorang memperoleh kedudukan di masyarakat melalui suatu usaha atau setidak-tidaknya karena seseorang tersebut menentukan pilihannya, misalnya seorang dokter, guru, pengacara, pengusaha dan sebagainya. Kedudukan ini sering disebut achieved-status. Ketiga, seseorang mendapatkan kedudukan di masyarakat dengan cara diberikan oleh suatu golongan atau kelompok masyarakat, dan kedudukan ini biasanya disebut assigned-status. Perbedaan assigned-status ini dengan cara yang pertama (ascribed-status) terletak pada performance role-nya, dimana seseorang tersebut ternyata dapat berperilaku melebihi harapan dari masyarakat yang mengirim peran, sehingga ia diberi kedudukan yang lebih tinggi, misalnya seorang ulama, kiai dan sebagainya (Sayogyo 1985, Taneko 1984).

Secara sosiologis, kedudukan pemuda berada pada posisi sub-ordinat atau di bawah kedudukan orang dewasa. Dengan kata lain, kedudukan pemuda bila ditinjau dari cara yang pertama (ascribed-status) berada di antara kedudukan anak dan remaja, dan berada di bawah kedudukan orang dewasa dan orang tua. Maka,

(16)

pemuda merupakan seseorang yang berada pada periode transisi yang diharapkan aktif mempersiapkan diri, membekali diri dengan berbagai ilmu dan keterampilan sehingga nantinya pemuda tersebut dapat menjadi warga dan pemimpin di tengah-tengah masyarakat (Rohmad 1998).

2.5 Kepemilikan Sumberdaya

Sumberdaya di masyarakat bisa diklasifikasikan sebagai sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia. Untuk kegiatan investasi diperlukan sumberdaya finansial. Manusia harus bisa menggunakan sumberdaya yang dimiliki agar bisa memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya. Pembangunan harus berkelanjutan dengan cara menggunakan sumberdaya alam tanpa melampaui batas-batas kapasitas yang ada. Secara sosial politik, pembangunan berkelanjutan akan terancam jika agenda pembangunan berkelanjutan kalah oleh agenda lainnya. Pembelajaran pembangunan berkelanjutan sangat penting bagi pemuda sebagai bagian dari masyarakat. Dalam hal ini ada tiga aspek pembelajaran, yaitu secara individual, secara sosial, dan penyadaran (Moeliono 2006).

Ketersediaan dana pendanaan, yang merupakan sumberdaya finansial, yang tidak stabil dapat merendahkan peran serta pemuda. Kondisi kekurangan dana ini harus dihindari jika tujuan partisipasi adalah untuk mendorong keterlibatan pemuda dalam kegiatan berbasis masyarakat serta dalam hal menumbuhkan rasa memiliki atas sesuatu (Golombek 2002). Pengalaman Youth Serice America (YSA), yaitu pusat sumberdaya dan wadah pemersatu dari lebih 200 organisasi yang bekerja meningkatkan secara kualitas dan kuantitas kesempatan pemuda Amerika untuk pekerjaan voluntir secara lokal, nasional dan internasional, menunjukkan beberapa masalah yang diha dapi pemuda, yaitu

(17)

kekurangan aktivitas yang sesuai dengan perhatian dan kesukaan kaum muda dan kekurangan dukungan finansial (McCabe dan Garry 2002).

Hodgson (1995) mengemukakan lima syarat yang harus dicapai agar pemuda dapat secara sungguh-sungguh diberdayakan, yaitu: (1) Akses ke kelompok yang memiliki kekuasaan, (2) Akses ke informasi yang relevan, (3) Memiliki alternatif dalam menentukan pilihan, (4) Dukungan dari orang yang independen dan dipercaya, dan (5) Bisa menyampaikan pandangan dan keluhan jika mendapat kesulitan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :