• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN AKHIR HIBAH PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BOPTN ITS 2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN AKHIR HIBAH PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BOPTN ITS 2015"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

i

LAPORAN AKHIR

HIBAH PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

BOPTN ITS 2015

PELATIHAN DASAR KETRAMPILAN MERAJUT UNTUK DEKORASI INTERIOR

Tim Pengabdi:

Ketua: Dr. Ima Defiana., ST., MT. (Arsitektur / FTSP/ITS) Anggota:

1. Dr.Ir.Murni Rachmawati, MT (Arsitektur/FTSP/ITS) 2. Dr. Arina Hayati, ST, MT (Arsitektur / FTSP/ITS) 3. Nur Endah Nuffida, ST, MT (Arsitektur / FTSP/ITS)

4. Wahyu Setyawan, ST, MT (Arsitektur / FTSP/ITS) 5. Collinthia Erwindi, ST., MT (Asitektur/FTSP/ITS)

Sesuai Surat Perjanjian Pelaksanaan Pengabdian Masyarakat Dana BOPTNNo:020728.140/IT2.11/PN.08/2015

LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

(2)

i

HALAMAN PENGESAHAN

PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT DANA BOPTN 2015

1. Judul : Pelatihan Dasar Ketrampilan Merajut untuk Ornamen Interior

2. Ketua

a. Nama : Dr. Ima Defiana ST, MT b. Jenis Kelamin : Perempuan

c. NIP : 197005191997032001 d. Jabatan Funsional : Dosen tetap

e. Pangkat/Golongan : Lektor/ Golongan IIID f. Jabatan Struktural : ---

g. Bidang Keahlian : Arsitektur dan Disain Berkelanjutan h. Fakultas/Jurusan : FTSP/Arsitektur

i. Perguruan Tinggi : Kampus ITS Surabaya j. Tim :

No Nama Lengkap NIP Fakultas/

Jurusan

Instansi 1 Dr. Ir. Murni Rachmawati, MT 196206081987012001 FTSP/Ars ITS 2 Dr. Arina Hayati ST, MT 197907051008122002 FTSP/Ars ITS 3 Nurendah Nuffida ST, MT 197610122003122001 FTSP/Ars ITS 4 Wahyu Setyawan ST, MT 197212261997021001 FTSP/Ars ITS 5 Collinthia Erwindi ST, MT 198109242008122001 FTSP/Ars ITS

3. Dana dan Waktu :

a. Jangka waktu program yang diusulkan : 6 bulan b. Biaya total yang diusulkan : 25 juta c. Biaya yang disetujui tahun 2015 : 16 juta

Surabaya, 10 Nopember 2015 Menyetujui

Ketua Jurusan Arsitektur FTSP-ITS Ketua Tim Pengabdi

Ir. IGN Antaryama Ph.D. Dr. Ima Defiana ST, MT NIP. 19680425 199210 001 NIP.19700519 199703 2 001

Mengetahui

Ketua Lembaga Penelitian ITS

Prof. Dr. Ir.Adi Soeprijanto, MT NIP.196404051990021001

(3)

RINGKASAN

Gelombang ekonomi kreatif atau sering disebut industri kreatif berkembang dengan pesat pada dekade terakhir ini. Berkembangnya ekonomi kreatif memiliki rentang modal kerja rendah hingga modal tinggi, termasuk di Indonesia. Ekonomi kreatif dipandang sebagai salah satu upaya untuk menciptakan lapangan kerja baru di Indonesia. Oleh karena itu pemerintah Indonesia memiliki Dewan Ekonomi Kreatif sebagai payung untuk mewadahi para pelaku ekonomi kreatif.

Pelaku ekonomi kreatif memiliki beragam latar belakang pendidikan baik yang berpendidikan tinggi, rendah atau bahkan putus sekolah. Pada pelaku ekonomi kreatif berskala modal kecil biasa disebut dengan usaha kecil mandiri (UKM). Saat ini pemerintah mendorong usaha ekonomi kreatif yang tergabung dalam usaha kecil mandiri (UKM).

Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pelatihan keterampilan merajut kepada kelompok masyarakat yang memiliki ketekunan dan berminat pada pengembangan ekonomi kreatif mandiri. Sasaran utamanya adalah ibu rumah tangga dengan skala ekonomi rendah dan tidak menutup kemungkinan remaja putus sekolah agar memiliki ketrampilan. Ketrampilan ini diharapkan dapat membantu kemandirian ekonomi. Pelatihan dasar ketrampilan merajut yang diberikan adalah hasil rajutan untuk berbagai aksesoris dan benda yang berfungsi sebagai dekorasi interior. Aksesoris dekorasi interior tersebut antara lain taplak meja, runner untuk meja ruang tamu, penutup wadah tisu dan sebagainya.

Kata Kunci: Ketrampilan merajut, dekorasi interior, rumah produksi

(4)

DAFTAR ISI

RINGKASAN ... ii

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang (deskripsi tentang masyarakat/industri sasaran dan ... 1

1.2. Perumusan Konsep dan Strategi Kegiatan... 2

1.3. Tujuan, Manfaat, dan Dampak Kegiatan yang Diharapkan ... 2

1.4. Target Luaran ... 2

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 3

2.1. Pembangunan Berkelanjutan ... 3

2.2. Rumah Produktif ... 3

2.3. Keterampilan Merajut sebagai Penunjang Kemandirian Ekonomi Wanita ... 3

BAB III. STRATEGI, RENCANA KEGIATAN, DAN KEBERLANJUTAN ... 6

3.1. Strategi ... 6

3.2. Rencana Kegiatan ... 7

3.3. Keberlanjutan... Error! Bookmark not defined. BAB 4. ORGANISASI TIM , JADWAL, DAN ANGGARAN BIAYA Error! Bookmark not defined. 4.1. Organisasi Tim Peneliti ... Error! Bookmark not defined. 4.2. Jadwal ... Error! Bookmark not defined. 4.3. Anggaran Biaya ... Error! Bookmark not defined. DAFTAR PUSTAKA ... 11

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 14 Lampiran 1. Aliran Kas ... Error! Bookmark not defined. Lampiran 3. Biodata Ketua dan Anggota Tim Pengusul .. Error! Bookmark not defined.

(5)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Berbagai benang lokal yang beredar di pasaran (Sumber: Fanpage Facebook Benang Rajut QII)... 4 Gambar 2. Berbagai macam benang impor (Sumber: http://www.mayacrafts.asia/)... 5 Gambar 3. Berbagai peralatan merajut (http://www.mayacrafts.asia/) ... 5 Gambar 4. Berbagai contoh pola rajutan untuk dekorasi interior (Sumber:

www.ravelry.com) ... 6 Gambar 5. Contoh teknik merajut (Sumber: http://learntocrochet.lionbrand.com ) ... 6

(6)

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang (deskripsi tentang masyarakat/industri sasaran dan permasalahan yang mereka hadapi)

Pada dekade terakhir ini industri kreatif berbasis rumah produksi berkembang dengan pesat. Berkembangnya ekonomi kreatif memiliki rentang modal kerja rendah hingga modal tinggi, termasuk di Indonesia. Ekonomi kreatif dipandang sebagai salah satu upaya untuk menciptakan lapangan kerja baru di Indonesia. Oleh karena itu pemerintah Indonesia memiliki Dewan Ekonomi Kreatif sebagai payung untuk mewadahi para pelaku ekonomi kreatif.

Pelaku ekonomi kreatif memiliki beragam latar belakang pendidikan baik yang berpendidikan tinggi, rendah atau bahkan putus sekolah. Pada pelaku ekonomi kreatif berskala modal kecil biasa disebut dengan usaha kecil mandiri (UKM). Saat ini pemerintah mendorong usaha ekonomi kreatif yang tergabung dalam usaha kecil mandiri (UKM).

Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pelatihan keterampilan merajut kepada kelompok masyarakat yang memiliki ketekunan dan berminat pada pengembangan ekonomi kreatif mandiri. Sasaran utamanya adalah ibu rumah tangga dengan skala ekonomi rendah dan tidak menutup kemungkinan remaja putus sekolah agar memiliki ketrampilan. Ketrampilan ini diharapkan dapat membantu kemandirian ekonomi. Pelatihan dasar ketrampilan merajut yang diberikan adalah hasil rajutan untuk berbagai aksesoris dan benda yang berfungsi sebagai dekorasi interior. Aksesoris dekorasi interior tersebut antara lain taplak meja, runner untuk meja ruang tamu, penutup wadah tisu dan sebagainya.

Target pengabdian masyarakat ini adalah memberdayakan ibu-ibu rumah tangga yang berpenghasilan renda dan atau remaja putus sekolah agar memiliki sebuah keterampilan yang bisa mereka kembangannya menjadi industri rumah. Saat ini keterampilan merajut sangat berkembang pesat dan menjadi salah satu usaha yang menjanjikan terutama bagi industry rumah. Di Indonesia terdapat beberapa industry rumah yang menghasilkan barang-barang kerajinan bermutu tinggi dengan harga yang bersaing. Sebagai contoh adalah Industri Rumah Dowa di Yogyakarta dan Kaboki di Pasuruan yang

(7)

telah berkembang pesat dan barang kerajinan rajutannya telah menembus pasar impor. Pengabdian masyarakat ini akan memberikan pelatihan dasar keterampilan merajut bagi para peserta baik ibu-ibu rumah tangga ataupun remaja yang berdomisili di Surabaya. Dari hasil pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan ketertarikan mereka terhadap seni merajut terutama untuk dekorasi interior dan dikemudian hari dapat dikembangkan menjadi usaha industry rumah yang mandiri ataupun berkelompok.

1.2. Perumusan Konsep dan Strategi Kegiatan

Konsep yang diusulkan melalui pengabdian masyarakat ini adalah peletakan dasar ekonomi kreatif untuk masyarakat ekonomi rendah dan mendorong kemandirian ekonomi, khususnya untuk para wanita, ibu rumah tangga yang berpenghasilan rendah maupun para kelompok putus sekolah.

Strategi Kegiatan

Strategi yang dilakukan untuk mencapai tujuan dan sasaran dari usulan pengabdian masyarakat adalah memberikan pelatihan dasar teknik merajut, pengenalan bahan dan alat, pengenalan pola atau motif serta memberikan contoh ornamen interior. Ornamen interior diberikan dengan teknik sederhana dan dapat menghasilkan barang jadi dalam waktu pengerjaan yang tidak lama.

1.3. Tujuan, Manfaat, dan Dampak Kegiatan yang Diharapkan

Tujuan dari program pengabdian kepada masyarakat adalah terwujudnya kegiatan yang mampu memberikan solusi terhadap permasalahan keterbatasan ekonomi pada golongan masyarakat ekonomi rendah. Dengan adanya program ini dapat mensosialisasikan peluang ekonomi kreatif dengan memberikan pelatihan-pelatihan tingkat dasar sebagai landasan ketrampilan merajut untuk dekorasi interior.

Manfaat peletakan dasar ekonomi kreatif ini adalah untuk masyarakat ekonomi rendah yang dapat mendorong kemandirian ekonomi.

1.4. Target Luaran

Target luaran dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang diusulkan adalah modul pelatihan dasar ketrampilan merajut.

(8)

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pembangunan Berkelanjutan

Pembangunan berkelanjutan dapat dimengerti sebagai pembangunan yang meliputi berbagai aspek diantaranya adalah aspek ekonomi, aspek sosial, aspek lingkungan dan aspek budaya untuk kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kebutuhan masa depan (Prawiro 2011). Salah satu aspek penting saat ini adalah pembangunan ekonomi dan pembangunan lingkungan. Dalam pembangunan ekonomi, para wanita termasuk ibu rumahtangga dapat turut serta berperan di dalamnya.

Peran serta wanita dalam pembangunan ekonomi dapat dimulai dari rumah tinggalnya. Pembangunan ekonomi yang dapat diakses dari rumah tinggal seringkali dijumpai pada rumah tangga yang berpenghasilan rendah. Oleh karena itu melibatkan wanita dalam menunjang pembangunan ekonomi dari rumah amatlah penting (Cahyadini and Defiana 2013).

2.2. Rumah Produktif

Rumah merupakan salah satu kebutuhan mendasar bagi manusia untuk tempat berlindung dan memberikan rasa aman kepada penghuninya. Rumah juga dapat memberikan identitas bagi penghuninya (Turner, 1972). Dalam kaitannya dengan program pengabdian masyarakat yang diusulkan, rumah menjadi identitas penghuninya sebagai rumah usaha atau rumah produktif. Rumah produktif ini oleh kelompok ini diusulkan sebagai rumah produktif kreatif. Diusulkan demikian sebab terkait dengan bagaimana penghuninya menghasilkan keberagaman produk kreatif yang terkait dengan ornamen, asesoris atau dekoratif yang berbasis pada hasil rajutan. Dengan adanya peningkatan ekonomi oleh penghuninya diharapakan rumah tinggal dapat berkembang dan berkelanjutan.

2.3. Keterampilan Merajut sebagai Penunjang Kemandirian Ekonomi Wanita

Merajut saat ini menjadi salah satu trend keterampilan yang digemari baik oleh ibu-ibu rumah tangga ataupun para remaja. Tidak hanya karena keterampilan merajut merupakan salah satu cara untuk mengisi waktu luang tetapi dengan merajut dapat memberikan berbagai pengaruh positif terutama sebagai peluang menjadi industry rumah

(9)

dan sebagai suatu terapi. Menurut Vercillo (2014), dengan merajut dapat meredakan sampai menyembuhkan beberapa gejala antara lain depresi, sakit fisik, insomnia, kegelisahan, ataupun saat berduka. Vercillo (2015) juga menambahkan bahwa dengan menekuni kegiatan merajut dapat memberikan waktu santai dan merasa rileks ketika memulai merajut. Sehingga para penekun rajutan dapat merasa lebih tenang dan meninggalkan sementara segala ketakutan dan kegelisahan yang mereka hadapi di kesehariannya. Merajut tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, namun dengan merajut dapat menciptakan suatu grup komunitas keterampilan merajut yang didalamnya tidak hanya sebagai tepat untuk belajar dan berbagi pengalaman teknik merajut tetapi juga bisa menjadi suatu komunitas sosial yang memperhatikan kepada sesame.

Bahan dan teknik dalam keterampilan merajut saat ini sangat mudah didapatkan baik di dunia maya ataupun di pasaran sekeliling kita. Berbagai bahan dasar rajutan terutama benang rajut telah dikembangkan dengan berbagai jenis dan warna. Benang lokal tidak kalah saing dengan benang impor dengan harga lebih terjangkau dan mudah didapatkan (Gambar 1 dan Gambar 2).

Gambar 1. Berbagai benang lokal yang beredar di pasaran (Sumber: Fanpage Facebook Benang Rajut QII)

(10)

Gambar 2. Berbagai macam benang impor (Sumber: http://www.mayacrafts.asia/) Peralatan merajut juga sangat mudah didapatkan baik membeli di pasaran ataupun di dunia maya. Baik ukuran dan harga bervariasi namun masih dapat dijangkau oleh masyarakat menengah ke bawah (Gambar 3).

Gambar 3. Berbagai peralatan merajut (http://www.mayacrafts.asia/)

Sedangkan teknik dan pola merajut saat ini sangat mudah didapatkan di dunia maya tanpa harus membeli buku keterampilan merajut yang tergolong masih cukup mahal. Teknik dasar dapat dipelajari dengan mudah sesuai dengan panduan-panduan yang disediakan secara gratis secara online baik dalam tulisan/2 dimensi (http://learntocrochet.lionbrand.com/, http://gosyo.shop.multilingualcart.com/free1.php,

https://www.ravelry.com/, dan lain sebagainya) ataupun tutorial video di youtube. Namun berbagai tutorial dan pola yang dapat di akses gratis sebagian besar masih dalam berbahasa Inggris yang dibutuhkan untuk diterjemahkan dalam bahasa Indonesia (Gambar 4). Untuk itu dalam hibah ini akan juga menyediakan panduan berbagai macam tutorial dan pola rajutan dekorasi interior yang sudah dibahasa Indonesiakan.

(11)

Gambar 4. Berbagai contoh pola rajutan untuk dekorasi interior (Sumber:

www.ravelry.com)

Gambar 5. Contoh teknik merajut (Sumber: http://learntocrochet.lionbrand.com )

BAB III. STRATEGI, RENCANA KEGIATAN, DAN

KEBERLANJUTAN

3.1. Strategi

Strategi Hibah Pengabdian kepada Masyarakat ini adalah dengan memberikan pelatihan dasar kepada target yang dituju yaitu ibu-ibu rumah tangga berpengasilan rendah dan remaja putus sekolah. Terdapat dua sesi pelatihan yang akan ditujukan pada dua grup pelatihan yang terpisah. Satu grup terdiri dari 5 – 8 peserta dan setiap peserta akan diberikan training kit (berupa jarum rajut dan benang serta modul panduan). Setiap grup akan mengikuti dua kali pertemuan dimana pertemuan pertama adalah pelatihan dasar teknik-teknik tusukan rajutan dan membaca pola, dan pertemuan kedua sudah masuk pada latihan dalam bentuk praktik pola-pola sederhana untuk dekorasi interior. Pada saat acara

(12)

penutup akan diadakan pertemuan diskusi grup untuk mendapatkan saran dan masukan serta keberlanjutan dari pelatihan merajut. Pada akhirnya dapat disusun sebuah model panduan teknik merajut yang bisa digunakan sebagai pegangan para peserta di kemudian harinya.

Dalam pelaksanaan pelatihan merajut, akan dibantu oleh dua orang pelatih yang sudah cukup memahami cara dan pola-pola dalam merajut. Dalam satu pertemuan disamping dua tentor yang akan memimpin pelatihan, para anggota hibah juga berperan aktif dalam melangsungkan acara pelatihan.

3.2. Rencana Kegiatan

Rencana kegiatan terdiri beberapa tahapan yaitu antara lain:

1. Persiapan membuat modul ajar pelatihan, mencari tuntor pelatihan dan mencari target peserta pelatihan.

2. Menyiapkan tempat dan kerjasama dengan pihak lain untuk acara pelatihan. 3. Menyelenggarakan pelatihan pertama untuk dua grup.

4. Menyusun laporan kemajuan

5. Menyelenggarakan pelatihan kedua untuk dua grup

6. Mengadakan diskusi grup untuk mendapatkan input dan saran dari peserta pelatihan.

7. Menyiapkan modul ajar pelatihan akhir yang kemudian dapat digunakan oleh peserta pelatihan kedepannya.

8. Menyusun laporan kahir.

3.3. Capaian

Usulan program pengabdian masyarakat tidak berhenti sebatas pemberian pelatihan dasar dan pengetahuan bahan, tetapi dilanjutkan dengan beberapa pelatihan dengan modul-modul lanjutan. Modul-modul-modul berikutnya adalah pengembangan disain, modul-modul pengelolaan barang jadi dan kemasannya serta modul pemasaran produk

3.1 Pelaksanaan pengabdian

(13)

berfungsi sebagai penghias sandaran kursi. Contoh ini dibuat dengan pola sederhana dan warna yang menarik.

Gambar 6. Tablerunner

Gambar 7. Sandaran kursi

Selain membuat tablerunner juga membuat elemen interior yang lain yaitu hiasan meja, seperti yang ditunjukkan gambar berikut ini. Hiasan meja tersebut dapat berbentuk tanaman kaktus yang ditanam di dalam pot.

(14)

Gambar 8. Penghias meja sebagai elemen interior

Gambar 9. Contoh produk rajutan hasil pelatih

(15)

Gambar 10. TimAbmas diterima oleh pengurus YPAC

Gambar 11. Proses registrasi peserta pelatihan tahap 1

(16)

Gambar 13. Suasana pelatihan dasar merajut tahap 1

Gambar 14. Tim Abmas memberikan panduan untuk pelatihan dasar merajut

Gambar 15. Contoh modul dasar dari table runner dengan menggunakan warna kontras

(17)

Gambar 17. Suasana pelatihan dan diskusi merajut tingkat dasar tahap 2

Gambar 18. Benang untuk pelatihan merajut tingkat dasar tahap 2

DAFTAR PUSTAKA

Cahyadini, S. and I. Defiana (2013). Studi Ruang Rumah Produksi Perempuan Kepala Keluarga di Kampung Kota. Penelitian Dosen Muda, LPPM, ITS.

Prawiro, U. (2011). Memperkenalkan Konsep Perencanaan Pembangunan Berkelanjutan Bandung, Itenas.

Vercillo, K. (2014). "Crochet Benefits: 5 Health Symptoms You Can Cure With the Craft." Retrieved 19 Maret, 2015, from http://www.rodalenews.com/crochet-benefits. Vercillo, K. (2015). "6 Reasons Why Knitting and Crochet Group Therapy Works."

Retrieved 19 Maret, 2015, from http://blog.lionbrand.com/2015/01/21/6-reasons-why-knitting-and-crochet-group-therapy-works/.

Linda Permann, Crochet Adorned, Potter Craft, United States, 2009.

(18)

Susan Brittain, Crochet Patterns for Dummies, Wiley Publishing, Inc., Indianapolis, Indiana, 2007

(19)

LAMPIRAN-LAMPIRAN

MODUL I

Pengenalan Bahan dan Alat

Gambar 1. . Berbagai benang lokal yang beredar di pasaran (Sumber: Fanpage Facebook Benang Rajut QII)

Pelajaran pertama ini akan membicarakan tentang peralatan yang perlu anda persiapkan untuk dapat mengikuti pelajaran online crochet ini. Peralatan yang dibutuhkan adalah sbb:

(20)

Hakpen untuk crochet ujungnya ada kaitannya.Gunakan ukuran hakpen sesuai dengan ketebalan benang yang digunakan. Yang pasti tidak akan bisa menggunakan hakpen yang ukuran hook nya lebih kecil dari ketebalan benang, tapi bisa menggunakan hakpen yang ukurannya lebih besar dari ketebalan benang asal tidak terlalu kebesaran.

Hakpen pun terbuat dari macam2 bahan, di gambar di atas, hakpen paling atas adalah favorit saya, ujungnya dari besi, tapi pegangannya dari karet. Hakpen yang tengah terdiri dari besi semua, menurut saya ini suka bikin sakit jari dan bikin kapalan:D Sementara gambar hakpen yang paling bawah terdiri dari plastik semua.Untuk pemula sebaiknya

menggunakan hakpen ukuran 3 atau 4 mm. Pastinya, untuk merajut butuh benang. Disarankan untuk pemula belajar menggunakan benang tipe Ashley atau Ramsesa dari www.dbest-craft.com , cocok dengan hakpen ukuran 3 atau 4 mm dan tidak terlalu tipis maupun terlalu tebal.

Siapkan gunting. Tidak perlu gunting khusus, gunting apapun bisa asal masih tajam untuk menggunting benang. Siapkan meteran dan atau penggaris. Siapkan juga jarum untuk menjahit. Ada macam2 jenis jarum, dari besi maupun plastik, pilihlah yang ukurannya sesuai dengan ketebalan benang yang anda gunakan.

http://belajarcaramerajut.com/crochet-1-persiapan-peralatan-merajut-crochet.html

2 cara memegang stick crochet

(21)

Cara pertama sering disebut dengan cara seperti memegang pisau, dimana ibu jari berada di bawah, jari telunjuk berada di atas stick. Banyak orang senang menggunakan cara ini karena tidak perlu terlalu banyak memutar pergelangan tangan.

Ini adalah cara favorit saya, yaitu memegang stick seperti layaknya memegang pencil, memang dengan cara ini memerlukan pergerakan pergelangan tangan lebih banyak.

Gambar 5. Contoh teknik merajut (Sumber: http://learntocrochet.lionbrand.com )

Gambar 6. Berbagai macam benang impor (Sumber: http://www.mayacrafts.asia/) Peralatan merajut juga sangat mudah didapatkan baik membeli di pasaran ataupun di dunia maya. Baik ukuran dan harga bervariasi namun masih dapat dijangkau oleh masyarakat menengah ke bawah (Gambar 7).

(22)

Gambar 7. Berbagai peralatan merajut (http://www.mayacrafts.asia/)

MODUL 2

PANDUAN MERAJUT (CROCHET)

Merajut adalah sebuah keterampilan tangan yang mudah dipelajari. Hanya dengan mengandalkan seutas benang dan sebatang jarum kait (Hook), kita bisa membuat berbagai jenis produk rajutan. Mulai dari benda yang kecil (misal: aksesoris, boneka, syal) sampai yang besar (misal: selimut/bed cover).

CARA MEMEGANG HOOK (JARUM RAJUT) & BENANG

Kedua tangan saling bekerja sama saat merajut. Tangan yang dominan (yang kita pakai untuk menulis) yang memegang dan menggerakkan hook. Sedangkan tangan yang lain memegang dan mengatur tensi benang.

Ada 2 (dua) cara memegang hook: a) tangan di atas hook, atau b) tangan di bawah hook, (lihat gambar di bawah ini). Anda dapat memilih cara yang dirasa paling nyaman. Satu hal yang pasti adalah kepala hook harus menghadap kita.

a) Tangan di atas hook b) Tangan di bawah hook

Cara memegang benang :

1. Posisikan benang di bawah tangan. Selipkan ujung benang di antara jari kelingking dan jari manis.

(23)

sehingga tusuk rajutnya longgar/tidak rapi).

3. Arahkan di bawah jari manis-jari tengah, kemudian naik ke jari telunjuk (melalui antara jari tengah dan jari telunjuk). Lihat gambar di bawah ini:

Saat merajut, perhatikan kekencangan benang. Jika dirasa tidak kencang maka harus disesuaikan lagi menurut langkah-langkah di atas.

Jika sudah nyaman memegang hook dan benang, maka Anda sudah siap untuk mulai merajut.

MEMULAI RAJUTAN

1. Merajut dimulai dengan membuat simpul hidup (slipknot), yaitu: Buatlah loop dekat ujung benang.

2. Masukkan hook melalui tengah loop, tarik benang melalui loop dan tarik ekor benang untuk mengencangkan simpul. Simpul yang baik adalah yang tidak terlalu kencang ataupun terlalu longgar. Hook harus mudah memasuki loop dan tidak mudah jatuh.

(24)

tusuk ch (chain/rantai) yaitu : dengan posisi seperti gambar no 2 di atas, kait benang aktif (yang terhubung dengan gulungan benang), lalu tarik melalui loop. Lakukan

berulang kali sesuai panjang yang

diinginkan. Ch atau rantai yang bagus

adalah yang berukuran sama dan

mudah dimasuki kepala hook.

TUSUK-TUSUK DASAR RAJUTAN

Tusuk-tusuk dasar tersebut adalah :

1. Slip stitch (SL) : Tusuk yang paling datar. Digunakan untuk join yaitu menyatukan suatu ujung dengan ujung yang lain, memindahkan posisi hook tanpa memotong benang, sebagai jahit sum, atau merapikan pinggiran rajutan. Caranya : masukkan hook ke rantai/tusuk ke-1 dari hook. Kait benang dan tarik melewati rantai/V loop & loop (lilitan) pada hook.

2. Single crochet (SC) : Bentuknya pendek dan padat. Caranya : Masukkan hook ke rantai/V-loop ke-2 dari hook. Kait dan tarik benang sehingga ada 2 loop di hook. Lalu kait dan tarik benang sekali lagi, melewati 2 loop di hook, sehingga hanya ada 1 loop di hook (gambar no. 4 di bawah).

(25)

3. Half double crochet (HDC) : Tusuk ini sedikit lebih besar dan tinggi daripada sc. Caranya : Kait benang terlebih dulu, lalu masukkan hook pada rantai/V-loop ke-3 dari hook. Kait benang dan tarik melewati rantai (sehingga ada 3 loop di hook). Kait benang dan tarik melewati ketiga loop di hook.

4 Double crochet (DC) : Salah satu tusuk yang sering dipakai, baik itu tersendiri atau dikombinasikan dengan tusuk lain sehingga membentuk suatu pola dan tekstur tertentu. Tusuk dc lebih tinggi daripada hdc. Caranya: Kait benang terlebih dulu, lalu masukkan hook pada rantai ke-4 dari hook. Kait dan tarik benang melewati rantai (ada 3 loop di hook). Kait benang dan tarik melewati 2 loop di hook [2X].

(26)

Dari tusuk-tusuk dasar di atas, kita bisa membuat puluhan jenis tusuk rajut. Berikut adalah simbolnya:

Simbol-simbol tersebut perlu dihafalkan agar mudah untuk memahami pola-pola yang berbentuk diagram.

MENGAKHIRI RAJUTAN

Bila rajutan telah selesai dibuat, kita harus mengakhirinya. Ujung benang harus dimatikan dengan membuat simpul. Caranya yaitu dengan menambahkan 1 (satu) buah

(27)

rantai (ch) di akhir rajutan. Tarik ujung benang dan kencangkan. Selipkan ujung ke dalam jahitan. Misalnya seperti gambar di bawah ini :

DAFTAR PUSTAKA

Linda Permann, Crochet Adorned, Potter Craft, United States, 2009.

Putri Kirana, 3 Hari Terampil Merajut, Jakarta : Demedia, 2009

Susan Brittain, Crochet Patterns for Dummies, Wiley Publishing, Inc., Indianapolis, Indiana, 2007

(28)

MODUL 3 DISAIN DAN KOMPOSISI

1. Warna

Teori Brewster adalah teori yang menyederhanakan warna yang ada di alam menjadi 4 kelompok warna. Keempat kelompok warna tersebut, yaitu: warna primer, sekunder, tersier, dan warna netral. Teori ini pertama kali dikemukakan pada tahun 1831.

Kelompok warna ini sering disusun dalam lingkaran warna brewster. Lingkaran warna brewster mampu menjelaskan teori kontras warna (komplementer), split komplementer, triad, dan tetrad. https://id.wikipedia.org/wiki/Teori_Brewster

Gambar 1. Lingkaran warna

Pembagian warna

Warna primer

Merupakan warna dasar yang tidak merupakan campuran dari warna-warna lain. Warna yang termasuk dalam golongan warna primer adalah merah, biru, dan kuning.

Warna sekunder

Merupakan hasil pencampuran warna-warna primer dengan proporsi 1:1. Misalnya warna jingga merupakan hasil campuran warna merah dengan kuning, hijau adalah campuran biru dan kuning, dan ungu adalah campuran merah dan biru.

(29)

Warna tersier

Merupakan campuran salah satu warna primer dengan salah satu warna sekunder. Misalnya warna jingga kekuningan didapat dari pencampuran warna kuning dan jingga. Warna coklat merupakan campuran dari ketiga warna merah, kuning dan biru.

Warna netral

Warna netral merupakan hasil campuran ketiga warna dasar dalam proporsi 1:1:1. Warna ini sering muncul sebagai penyeimbang warna-warna kontras di alam. Biasanya hasil campuran yang tepat akan menuju hitam.

Hubungan antar warna

Kontras komplementer

Adalah dua warna yang saling berseberangan (memiliki sudut 180°) di lingkaran warna. Dua warna dengan posisi kontras komplementer menghasilkan hubungan kontras paling kuat. Misalnya jingga dengan biru.

Kontras split komplemen

Adalah dua warna yang saling agak berseberangan (memiliki sudut mendekati 180°). Misalnya Jingga memiliki hubungan split komplemen dengan hijau kebiruan.

Kontras triad komplementer

Adalah tiga warna di lingkaran warna yang membentuk segitiga sama kaki dengan sudut 60°.

Kontras tetrad komplementer

Disebut juga dengan double komplementer. Adalah empat warna yang membentuk bangun segi empat (dengan sudut 90°).

(30)
(31)

Gambar

Gambar 1. Berbagai benang lokal yang beredar di pasaran (Sumber: Fanpage Facebook  Benang Rajut QII)
Gambar 3. Berbagai peralatan merajut (http://www.mayacrafts.asia/)
Gambar 5. Contoh teknik merajut (Sumber: http://learntocrochet.lionbrand.com )
Gambar 6. Tablerunner
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pengambilan sampel daun sakit hawar daun bakteri dilakukan pada pertanaman padi di daerah-daerah sentra produksi padi di Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur.. Lokasi

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh variasi konsentrasi crosslinker glutaraldehid terhadap parameter-parameter dalam kecepatan release asam

Akan tetapi, hal tersebut sulit untuk dilaksanakan karena dana yang telah terkumpul menjadi satu di Regional Manager nantinya langsung diolah dan dibelanjakan untuk program

Adversity Quotient (AQ) menginformasikan pada individu mengenai kemampuannya dalam menghadapi keadaan sulit (adversity) dan kemampuan untuk mengatasinya, meramalkan individu yang

Pengujian dilakukan dengan mengukur nilai beda daya (ΔP), kemudian nilai beda daya tersebut dimasukkan ke dalam persamaan nilai regresi dari sensor serat optik pada gambar

Sehingga dapat disimpulkan bahwa Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan (PROPER) yang dilakukan oleh pemerintah khususnya mentrian Lingkungan Hidup

Meskipun tahapan telah dilalui, namun temuan penelitian menunjukkan bahwa Inovasi SIM perpanjangan melalui SIM BOOKING di Satlantas Polres Kudus mengalami keluasan cakupan

1) Bagian akademik memiliki pedoman pemilaian capaian pembelajaran dan mata kuliah yang komprehensif dengan instrumen yang handala dan dikelola dengan teknologi