• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENDAHULUAN Latar Belakang"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Industri kecil merupakan penyeimbang dalam struktur industrialisasi (produk dan pasar) secara menyeluruh karena menciptakan pembangunan yang lebih merata dan memberikan peningkatan nilai tambah terhadap komoditi yang diusahakan, dengan ketentuan dipenuhinya konsentrasi (fokus) kegiatan industri, pola produksi (serupa atau saling mengisi), memperhatian hubungan dan pertukaran informasi di antara sektor ekonomi. Industri kecil juga memiliki kemampuan berkembang cepat dan mempunyai daya saing kuat karena industri kecil dapat memanfaatkan sumberdaya alam yang dapat diperbaharui, padat karya, dan menerapkan teknologi produksi yang beragam (Hubeis, 1997:6-12).

Dalam pelaksanaannya, wirausaha industri kecil dan kerajinan rumah tangga tidak dapat bergerak sendiri dan bebas tanpa adanya bantuan dari pihak lain (stakeholders). Peran pemerintah secara konkrit maupun pemerintah dalam wadah instansi sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, sebagai pendorong gerak pembangunan dan perekonomian, seyogyanya industri kecil mendapat fokus perhatian dan pembinaan yang serius oleh pihak terkait.

Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) sebagai salah satu institusi pemerintah yang berperan dalam pengentasan pengangguran, kemiskinan dan perbaikan taraf hidup masyarakat melalui penyelenggaraan pendidikan nonformal dipandang perlu melakukan suatu terobosan baru yang menyentuh langsung kegiatan ekonomi masyarakat. Salah satunya adalah pembinaan berbagai industri kecil skala rumah tangga. Pelaksanaan kegiatan pendidikan dimaksud selama ini terkesan masih setengah hati dan hanya terbatas pada pelaksanaan pendidikan dan pelatihan saja tanpa ada kesinambungan dan ketuntasan program. Pamong Belajar sebagai ujung tombak institusi ini dinilai belum dapat memainkan perannya secara optimal, khususnya dalam membantu pengrajin industri kecil agar dapat menemukan solusi untuk mengatasi berbagai persoalan dalam kegiatan usaha.

Melalui pembinaan yang komprehensif dalam segala aspek untuk menghasilkan berbagai produk, seperti makanan ringan, furniture, garmen, cendera mata, dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya, maka produktvitas industri kecil dapat ditingkatkan. Model dan pendekatan dalam penyelenggaraan kegiatan yang ada selama ini seperti Kelompok Belajar Usaha (KBU), Kelompok Pemuda Produktif, Magang, dan berbagai kursus keterampilan lainnya perlu ditata ulang.

(2)

Pola-pola pendidikan yang dilaksanakan hendaklah dapat mengubah perilaku pengrajin industri kecil secara permanen sehingga mereka lebih partisipatif dan mandiri. Sebaiknya individu-individu pengrajin dapat membentuk kelompok-kelompok pengrajin, kemudian dapat pula diafiliasikan dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang terdekat dan link dengan dunia usaha. Dengan demikian prinsip-prinsip pembinaan yang sesungguhnya dapat diterapkan, yaitu terwujudnya kegiatan pendampingan, adanya kerjasama antar stakeholder, tumbuhnya partisipasi, dan kemandirian usaha oleh pelaku industri kecil.

Kegiatan pembinaan pengrajin industri kecil yang dilakukan oleh Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) sangat terkait dengan profesionalisme sumber daya manusia pada institusi ini. Profesionalisme juga berkaitan dengan kompetensi dan merupakan kata kunci bagi banyak lembaga untuk memilih dan mengevaluasi seseorang dikaitkan dengan tugas dan atau bidang keahliannya. Kesuksesan organisasi sekarang dan mendatang tergantung pada kompetensi kepemimpinan yang efektif dikombinasikan dengan kompetensi tenaga kerjanya. Identifikasi kompetensi akan memungkinkan organisasi memenuhi kepentingan masa datang yang vital.

Menurut Suparno (2001), kompetensi dibutuhkan seseorang agar dapat melaksanakan tugas secara efektif, efisien, dan sukses. Kompetensi diperoleh melalui pendidikan, pelatihan, penugasan/pengalaman, atau bakat bawaan dan dianggap melekat pada sebuah organisasi bila organisasi tersebut memiliki sebuah sistem untuk mengelola kompetensi para individunya sehingga organisasi tersebut dapat melaksanakan tugasnya dengan efektif dan sukses.

Dewasa ini tuntutan masyarakat yang semakin besar terhadap pemerintah agar memperluas kegiatan pembinaan ekonomi justeru belum diantisipasi dengan baik oleh Pamong Belajar. Kinerja Pamong Belajar dalam berbagai kegiatan pembinaan ekonomi masyarakat selalu dipertanyakan banyak pihak termasuk oleh mitra kerja di lembaga dan instansi terkait. Terkait dengan itu dibutuhkan suatu standar kompetensi yang jelas agar kinerja mereka dapat diandalkan dalam program pembinaan tersebut. Kompetensi dan kinerja seyogyanya sejalan dengan visi, misi, dan strategi insitusi dan dirumuskan mengacu kepada perubahan dan kebutuhan masyarakat. Keraguan berbagai pihak dan kelompok sasaran terhadap kompetensi Pamong Belajar yang berhubungan dengan pengembangan ekonomi masyarakat hendaklah ditepis dengan peningkatan pemahaman akan ilmu kewirausahaan dan penyesuaian tugas dengan latar belakang akademis dan

(3)

pengalaman yang relevan dengan dunia usaha. Untuk mendukung hal tersebut diperlukan pendidikan dan pelatihan kedinasan yang relevan, ketersediaan anggaran dan sarana prasarana yang cukup, lingkungan kerja yang kondusif, serta dukungan dari pihak terkait sangat diperlukan.

Sistem kompetensi memberikan bahasa dan konsep umum untuk mencapai proses kinerja yang terintegrasi sehingga perlu dinilai ketika melakukan penilaian kinerja Pamong Belajar untuk menentukan bentuk pelatihan dan pengembangan yang dibutuhkan. Pada gilirannya kinerja organisasi Sanggar Kegiatan Belajar yang optimal dapat dicapai sekaligus menjadi tolok ukur kemampuan Pamong Belajar dalam menyelesaikan pekerjaannya, serta dapat pula dipantau kecocokan kompetensi Pamong Belajar dengan persyaratan yang telah ditentukan organisasi Sanggar Kegiatan Belajar.

Kinerja fokus pada hasil atau hal-hal yang dapat dilakukan individu, bukan hanya pada kecerdasan akademik seseorang atau bukan hanya memandang sumberdaya manusia sebagai alat produksi, karena masing-masing individu memiliki tingkat kompetensi yang berbeda. Melalui identifikasi kompetensi setiap individu dapat dibedakan atas seseorang yang berkinerja baik atau tidak. Oleh karena itu kompetensi Pamong Belajar dalam pembinaan industri kecil perlu dinilai ketika menilai kinerja Pamong Belajar. Hal ini bertujuan untuk mengembangkan kompetensi yang sudah dimiliki tiap Pamong Belajar berdasarkan pendidikan dan pelatihan yang diperlukan. Pada akhirnya berdampak pada kinerja (job performance) Pamong Belajar yang optimal sebagai ujung tombak organisasi Sanggar Kegiatan Belajar.

Banyak ahli pendidikan merasa gusar dengan mutu pendidik dan tenaga kependidikan nonformal (PTK-PNF), kemudian memberikan beberapa rumusan untuk peningkatan kompetensinya. Misalnya, Mulyana (2007:7) mengusulkan suatu format akselerasi peningkatan kompetensi PTK-PNF yang dimulai dari kegiatan pendataan dan pemetaan PTK-PNF. Supriyono (2006:45) merancang desain diklat PTK-PNF berbasis desentralisasi dan lembaga. Tantra (2006:24) mengusulkan peningkatan kompetensi PTKPNF melalui kaji tindak terintegrasi berbasis kompetensi dan Sudijarto (2008:30) mengusulkan perlu adanya percepatan peningkatan kualifikasi pendidik pendidikan nonformal.

Berbagai rumusan yang ditawarkan tersebut tampaknya kurang cermat dalam menentukan titik awal pembenahan kompetensi PTKPNF, belum ada gambaran bentuk pembinaan dan koordinasi antar lembaga terkait. Rumusan-

(4)

rumusan di atas masih berkutat pada hal–hal yang berkaitan dengan proses administrasi umum dalam pelayanan pendidikan nonformal. Pendataan dan pemetaan PTK-PNF tampaknya menjadi lebih penting dari pada pendataan dan pemetaan calon sasaran dan kebutuhan belajar masyarakat itu sendiri. Disain diklat yang disusun juga belum berdasarkan kebutuhan masyarakat/kelompok sasaran, dan belum disesuaiakan dengan jenis jabatan PTKPNF, khususnya bagi Pamong Belajar. Juga belum ada pemikiran tentang jenis dan kualifikasi pendidikan yang urgen bagi jabatan PTKPNF tertentu untuk disesuaikan dengan kapasitas dan karakteristik lokal. Oleh karena itu itu perlu dipikirkan lagi cara membuat kaji tindak yang betul-betul akurat dan aplikatif dalam peningkatan kompetensi tertentu bagi jenis jabatan PTKPNF tertentu.

Dewasa ini dapat dikatakan belum ada kajian yang tepat dan sesuai untuk menilai kinerja Pamong Belajar, namun metoda penilaian secara umum dapat mengacu kepada proses penilaian secara input-proses-output (Ruky, 2006) dan proses penilaian kinerja berdasarkan kinerja masa lalu dan kinerja masa datang (Siagian, 2002). Berkaitan dengan hal tersebut, pada dasarnya pendekatan penilaian kinerja dewasa ini berevolusi dari pendekatan yang berpusat pada individu (individual approach centered) bergerak kearah pekerjaan (job centered), dan akhirnya berpusat pada sasaran (objective centered).

Penelitian yang terkait dengan kompetensi dan kinerja Pamong Belajar dalam pelayanan pendidikan nonformal melalui satuan pendidikan keterampilan usaha (life skills) masíh jarang dilakukan. Beberapa penelitian tentang Pamong Belajar pada umumnya masih berkisar pada penelitian kinerja secara umum atau baru pada aspek kompetensi manajemen, belum menyentuh penelitian yang berkaitan dengan pengembangan kompetensi teknis. Penelitian tersebut antara lain dilakukan oleh Sihombing (2004), Gutama (2004), dan Tantra (2006) yang menyimpulkan bahwa perbaikan mutu tenaga kependidikan non formal termasuk Pamong Belajar perlu segera dilakukan agar mereka siap menyongsong perubahan zaman dan tuntutan masyarakat.

Penelitian sebelumnya yang bertemakan kompetensi atau kinerja aparatur pemerintah dilakukan oleh Sudirah (2008) yang membuktikan bahwa pendidikan dan pelatihan merupakan faktor yang berpengaruh terbesar terhadap kompetensi Tutor pada Universitas Terbuka. Penelitian Marius (2007) juga membuktikan bahwa ada tiga faktor yang paling mempengaruhi kompetensi dan kinerja penyuluh pertanian yaitu pendidikan non formal, lingkungan eksternal penyuluh, dan motivasi

(5)

kerja penyuluh. Demikian juga dengan hasil penelitian Nuryanto (2008) yang menunjukkan bahwa faktor-faktor determinan yang berpengaruh terhadap rendahnya kompetensi penyuluh adalah rendahnya efektifitas pelatihan, rendahnya tingkat pengembangan diri, dan rendahnya motivasi intrinsik dan ekstrinsik penyuluh. Sedangkan faktor-faktor determinan pada kinerja penyuluh adalah kompetensi itu sendiri, kekosmopolitan, dan dukungan faktor eksternal.

Masalah Penelitian

Menurut Tambunan (2002:28-43), industri kecil sebagai bagian dari UKM punya peranan penting dalam serapan pekerja Indonesia dan mempunyai peran strategis bagi perkembangan ekonomi bangsa dan negara. Disadari atau tidak, pertumbuhan sektor industri kecil dapat membantu beban pemerintah dalam mengatasi masalah pengangguran, turut menunjang tercapainya pemerataan kesempatan kerja dan pendapatan.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Dinas Perdagangan Pemprov Sumbar (2003) dan Humas Pemprov Sumbar (2008), terdapat berbagai industri kecil dominan yang tersebar di berbagai Kabupaten dan Kota di Provinsi Sumatera Barat. Namun, tidak semua industri kecil dominan tersebut menghasilkan produk unggulan yang bernilai ekonomi tinggi atau berorientasi ekspor. Beberapa produk yang termasuk unggulan dan mempunyai prospek yang bagus untuk dikembangkan adalah bordir/ sulaman, kerajinan perak, aneka kerupuk terutama sanjai, biji cokelat, gula tebu, gula aren, minyak nilam, minyak tanak kelapa, ikan bilih, makanan spesifik (gelamai), sepatu, dan berbagai cendera mata dari rotan dan bambu.

Hal ini berarti bahwa Sanggar Kegiatan Belajar melalui Pamong Belajarnya ditantang untuk mengambil peran yang lebih besar dalam pembinaan berbagai industri kecil melalui berbagai satuan pendidikan keterampilan usaha. Sejak terjadinya krisis ekonomi pada tahun 1998, satuan pendidikan kecakapan hidup merupakan program favorit di Sanggar Kegiatan Belajar, namun program ini belum dilakukan secara serius dan belum ada road map kegiatan yang terencana, baik pada pemetaan kelompok sasaran dan penetapan bentuk program pembinaan usaha yang relevan dan sinergis dengan program di dinas dan instansi terkait.

Lemahnya peran Sanggar Kegiatan Belajar dalam pelayanan pendidikan non formal di sektor kewirausahaan khususnya industri kecil, ditengarai karena

(6)

tidak adanya pembaharuan atau perumusan kembali tupoksi organisasi dan ketenagaannya sesuai konteks otonomi daerah dan realitas di lapangan. Tupoksi SKB dewasa ini masih mengacu kepada tupoksi SK Mendikbud RI Nomor 023/O/1997 yang dikeluarkan pada era sentralisasi dan dianggap tidak relevan lagi dengan berbagai perubahan dan dinamika masyarakat. Berbagai peraturan dan perundang-undangan yang mengatur tugas pokok kelembagaan SKB dan Pamong Belajar kelihatan tidak saling sinkron, terlalu normatif, masih sebatas impian, dan tidak menggambarkan dengan jelas visi, misi, dan strategi lembaga.

SK Menkowasbangpan RI Nomor 25/KEP/MK.WASBANGPAN/6/1999 yang menjadi rujukan bagi Pamong Belajar dalam melaksanakan tugas sekaligus sebagai acuan terhadap penilaian kinerja dipandang tidak realistis lagi karena tidak mencerminkan tuntutan masyarakat dewasa ini dan tidak konsisten pula dengan tugas pokok kelembagaan Sanggar Kegiatan Belajar. Menurut SK tersebut Pamong Belajar diberi tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar, pengembangan model dan pembuatan percontohan serta penilaian dalam rangka pengendalian mutu dan dampak pelaksanaan program pendidikan nonformal. Tupoksi tersebut dipandang sangat berat untuk bisa direalisasikan oleh seorang Pamong Belajar yang tidak terbiasa dengan kegiatan penelitian, pengembangan program, dan pemodelan program pendidikan non formal, apalagi untuk bidang pendidikan kewirausahaan atau pengembagan ekonomi masyarakat. Akhirnya, secara operasional tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Pamong Belajar ditafsirkan sendiri-sendiri oleh Pamong Belajar dan pimpinan Sanggar Kegiatan Belajar sesuai kondisi dan kemampuan lembaga.

PP Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan juga menetapkan standar kompetensi tenaga kependidikan termasuk bagi Pamong Belajar, namun standar kompetensi menurut PP tersebut masih berlaku umum. Tantra (2007) mengatakan bahwa pendidikan non formal masih berada di belantara, oleh karenanya standar kompetensi pendidikan nonformal tidak sepenuhnya merujuk ke PP tersebut karena ada ukuran-ukuran dalam PP tersebut yang porsinya lebih cenderung ke pendidikan formal. Perumusan standar kompetensi pendidikan nonformal harus berhati-hati karena spektrum dalam pendidikan nonformal sangat beragam. Jenis kompetensi antara pendidikan nonformal dan pendidikan formal sangat berbeda. Dalam satuan pendidikan nonformal itu sendiri juga banyak jenis dan ragamnya.

(7)

Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Non Formal (BAN PNF) yang menetapkan standar kompetensi pendidik di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional, sebelum menetapkan standar kompetensi Pamong Belajar, lembaga ini perlu terlebih dahulu mendapatkan sumber referensi standarisasi dari hasil penelitian yang relevan dan komprehensif, termasuk juga dari beberapa sumber lain seperti Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Depnaker, masyarakat, dan dunia usaha. Dengan demikian, bentuk pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan standar kompetensi dan kinerja Pamong Belajar dapat diberikan, prosedur rekruitmennya juga dapat dirumuskan, kemudian penilaian kinerja dapat dilakukan secara akurat, sehingga berimplikasi kepada kejelasan pengembangan karir dan pelaksaan pemberian insentif atau remunerasi yang lebih adil. Pada gilirannya kinerja dan profesionalisme menjadi lebih baik dan bermuara pada terwujudnya kepuasan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan belajar.

Berdasarkan kondisi di atas dan hasil prapenelitian yang dilakukan di beberapa Sanggar Kegiatan Belajar, baik melalui wawancara nonformal dengan Pamong Belajar, pengrajin industri kecil binaannya, maupun dengan pihak terkait, diketahui adanya indikasi masalah-masalah yang terkait dengan kompetensi dan kinerja Pamong Belajar dan perlu pendalaman lebih lanjut dalam suatu penelitian. Berdasarkan indikasi masalah tersebut dan fenomena-fenomena yang dikemukakan sebelumnya dapat dirumuskan beberapa masalah penelitian, yaitu : (1) Bagaimana sebaran karakteristik individu, pendidikan dan pelatihan,

pengembangan diri, lingkungan, kompetensi, dan kinerja Pamong Belajar di Provinsi Sumatera Barat?

(2) Bagaimana sebaran profil usaha pengrajin industri kecil binaan Pamong Belajar dan persepsinya terhadap kompetensi dan kinerja Pamong Belajar di Provinsi Sumatera Barat?

(3) Faktor-faktor apa yang berhubungan dan dominan pengaruhnya terhadap kompetensi dan kinerja Pamong Belajar dalam pembinaan industri kecil? (4) Bagaimana strategi pengembangan kompetensi dan kinerja Pamong Belajar

(8)

Tujuan Penelitian

Berdasarkan kepada masalah penelitian yang perlu dijawab dan dijelaskan, maka tujuan penelitian ini adalah :

(1) Mendeskripsikan sebaran karakteristik individu, pendidikan dan pelatihan, pengembangan diri, lingkungan, kompetensi, dan kinerja Pamong Belajar, serta profil industri kecil binaan Pamong Belajar di Provinsi Sumatera Barat. (2) Mendeskripsikan sebaran profil usaha pengrajin industri kecil binaan Pamong

Belajar dan persepsinya terhadap kompetensi dan kinerja Pamong Belajar di Provinsi Sumatera Barat

(3) Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dan dominan berpengaruh pada kompetensi dan kinerja Pamong Belajar dalam pembinaan industri kecil. (4) Merumuskan strategi pengembangan kompetensi dan kinerja Pamong Belajar

dalam pembinaan industri kecil.

Manfaat Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan secara ilmiah dan secara praksis bagi pihak-pihak berikut ini:

(1) Kementerian Pendidikan Nasional (Direktorat PTK-PNF) dan Dinas Pendidikan pada Pemerintah Daerah, sebagai acuan dalam pengembangan kompetensi dan kinerja Pamong Belajar, khususnya untuk meningkatkan kompetensi dan kinerja Pamong Belajar dalam kegiatan pembinaan ekonomi masyarakat.

(2) Pendidik dan tenaga kependidikan non formal lain seperti Penilik, Tenaga Lapangan Dikmas (TLD), Fasilitator Desa Intensif (FDI), Penyuluh pada berbagai profesi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan berbagai Community Development Worker, sebagai acuan dalam peningkatan kompetensi masing-masing yang berhubungan dengan pembinaan ekonomi masyarakat khususnya industri kecil.

(3) Perguruan tinggi dan lembaga penelitian dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai tambahan khasanah keilmuan, khususnya di bidang peningkatan kompetensi sumber daya manusia dalam penyuluhan dan pembinaan ekonomi masyarakat, serta mendorong peneliti lain melakukan penelitian lanjutan yang relevan dan komprehensif.

(9)

Definisi Istilah

(1) Pendidikan nonformal (PNF) adalah proses belajar di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara berstruktur dan berjenjang yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan atau pelengkap pendidikan formal, meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pembinaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan/pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.

(2) Pendidik Pendidikan Nonformal adalah tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan di bidang pendidikan nonformal, dapat berkualifikasi sebagai Konselor, Pamong Belajar, Widyaiswara, Tutor, Instruktur, Fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya.

(3) Tenaga Kependidikan Nonformal adalah aparat pemerintah dan anggota masyarakat yang bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan nonformal.

(4) Sanggar Kegiatan Belajar adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendidikan di tingkat Kabupaten/ Kota yang bertugas menyelenggarakan program percontohan dan pengendalian mutu pendidikan non formal.

(5) Balai Pengembangan Kegiatan Belajar (BPKB) adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendidikan di tingkat Provinsi yang bertugas menyelenggarakan program percontohan dan pengendalian mutu pendidikan non formal.

(6) Pamong Belajar adalah Pegawai Negeri Sipil yang berstatus sebagai tenaga fungsional pada SKB dan BPKB yang mempunyai tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak untuk melaksanakan pendidikian nonformal, termasuk kegiatan pengembangan model, pembuatan percontohan, serta penilaian dalam rangka pengendalian mutu dan dampak pelaksanaan program pendidikan nonformal.

(7) Tutor, instruktur, atau fasilitator adalah sebutan lain bagi pendidik dalam lingkungan pendidikan nonformal yang tugasnya khusus memberikan pengajaran secara langsung kepada peserta didik / kelompok sasaran.

(10)

(8) Warga Belajar adalah sebutan bagi peserta didik dalam lingkup manajemen pendidikan nonformal dan informal.

(9) Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

(10) Pendidikan kecakapan hidup (life skills) adalah satuan pendidikan non formal yang memberikan kecakapan personal, kecakapan sosial, kecakapan intelektual, dan kecakapan vokasional untuk bekerja atau usaha mandiri.

(11) Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan yang digunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan. Terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan, yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala.

(12) Industri kecil adalah upaya bisnis yang ditujukan untuk memproduksi barang atau jasa dengan skala kecil, memiliki asset antara Rp. 50 juta s/d Rp 500 juta (tidak termasuk tanah dan bangunan), beromzet per tahun kurang dari Rp.300 juta s/d Rp. 2,5 milyar, milik warga negara Indonesia, berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha menengah atau usaha besar (UU No. 20 Tahun 2008 tentang UMKM).

(13) Kegiatan pembinaan pengrajin industri kecil adalah upaya-upaya peningkatan kapasitas, harkat, dan martabat para pengrajin industri kecil, dalam rangka melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan yaitu dengan cara meningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan mereka dalam pemanfaatan semua potensi sumber daya yang ada dalam usaha industri kecil, sehingga para pengrajin tersebut lebih mandiri, lebih mampu, dan lebih sejahteraan secara ekonomi dalam suasana keadilan sosial yang berkelanjutan.

Referensi

Dokumen terkait

Menjelaskan peranan Sugondo Kartoprojo dalam membangun sekolah Taman Siswa. Menjelaskan peranan Sugondo Kartoprojo dalam memperjuangkan hingga PascaRevolusi di Sumatera

Sehubungan dengan Pemilihan Langsung dengan Pascakualifikasi paket pekerjaan Pembangunan Pagar Kantor Camat Bambel pada Sekretariat Daerah Kabupaten Aceh Tenggara sumber dana APBK

Lebar sirkulasi yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda juga pada tingkat kecepatan aliran angin dalam sebuah permukiman. Semakin kecil lebar sirkulasi, semakin

Prosedur pengendalian dokumen yang tercakup didalam Quality Management System sangat diperlukan adanya aplikasi yang dapat memberikan kemudahan dalam mengelola dokumen

Hasil penelitian menunjukkan bahwa persistensi laba berbasis NIBE adalah kuat sebagai variabel pemoderasi dalam hubungan antara keagresifan laba dan biaya ekuitas..

Hipotesis Ketiga, Perbedaan hasil belajar akuntansi siswa yang memiliki kemampuan matematika tinggi antara siswa yang mengikuti strategi pembelajaran inquiri dengan yang

Wartawan yang melaporkan kejadian ini menjelaskan bahwa sebetulnya alasan dari kecurigaan polisi cukup sederhana: posisi duduk si perempuan yang menempati tempat

Sel balancin g adalah metode kompensasi sel dengan menyamakan nilai pada semua sel dalam sistem untuk memperpanjang masa pakai baterai secara keseluruhan. Dalam