• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi Kota Ternate

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi Kota Ternate"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Pada September 2017, Kota Ternate mengalami deflasi sebesar

0,51 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar

131,86. Sedangkan Nasional mengalami inflasi sebesar 0,13

persen dengan indeks harga konsumen sebesar 130,08. Dari 82

kota IHK, 50 kota mengalami inflasi dan sisanya mengalami

deflasi, dimana inflasi tertinggi terjadi di Kota Tual sebesar 1,59

persen, Kota Manokwari sebesar 1,09 persen, dan Kota Medan

sebesar 1,08 persen.

Inflasi tahun kalender Kota Ternate sebesar 1,22 persen dan

inflasi year on year Kota Ternate sebesar 1,60 persen.

Sedangkan inflasi tahun kalender dan inflasi year on year

Nasional yaitu masing-masing sebesar 2,66 persen dan 3,72

persen.

Pada September 2017, Kota Ternate mengalami inflasi di

empat kelompok pengeluaran, deflasi di dua kelompok

pengeluaran dan stagnan di satu kelompok lainnya. Adapun

inflasi di empat kelompok pengeluaran tersebut yaitu

kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau

sebesar 0,20 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan

bahan bakar sebesar 0,04 persen; kelompok sandang sebesar

0,45 persen; serta kelompok kesehatan sebesar 0,02 persen.

Sedangkan deflasi di dua kelompok pengeluaran adalah

kelompok bahan makanan sebesar 2,62 persen; kelompok

transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,30 persen.

Adapun satu kelompok pengeluaran yang stagnan adalah

kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga.

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI MALUKU UTARA

Perkembangan

Indeks Harga Konsumen/Inflasi

Kota Ternate

September

2017,

Kota Ternate

mengalami

Deflasi

sebesar

0,51 persen

(2)

1. Pendahuluan

Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi yang sering digunakan untuk

mengukur tingkat perubahan harga (inflasi/deflasi) di tingkat konsumen, khususnya di daerah perkotaan.

Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket komoditas yang dikonsumsi

oleh rumah tangga. Tingkat inflasi diukur dari persentase perubahan IHK dan diumumkan ke publik setiap

awal bulan (hari kerja pertama) oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara.

Mulai Januari 2014, pengukuran inflasi menggunakan IHK tahun dasar 2012 = 100. Ada beberapa

perubahan yang mendasar dalam penghitungan IHK baru (2012 = 100) dibandingkan IHK lama (2007 = 100),

khususnya mengenai cakupan kota, paket komoditas, dan diagram timbang. Perubahan tersebut

didasarkan pada Survei Biaya Hidup (SBH) 2012 yang dilaksanakan oleh BPS, yang merupakan salah satu

bahan dasar utama dalam penghitungan IHK. Hasil SBH 2012 sekaligus mencerminkan adanya perubahan

pola konsumsi masyarakat dibandingkan dengan hasil SBH sebelumnya.

Berdasarkan hasil pemantauan BPS Provinsi Maluku Utara, pada pasar tradisional dan pasar modern

di Kota Ternate, bulan September 2017 mengalami deflasi 0,51 persen, atau terjadi penurunan Indeks

Harga Konsumen (IHK) dari 132,53 pada Agustus 2017, menjadi 131,86 pada September 2017. Beberapa

komoditas yang mengalami penurunan harga pada September 2017 antara lain: malalugis/sorihi,

selar/tude, kembung/gembung, tomat sayur, bayam, kangkung, kol putih/kubis, apel, bawang merah,

bawang putih, cabai rawit, dan tarif angkutan udara.

Gambar 1.

Inflasi Kota Ternate Menurut Kelompok Pengeluaran (2012 = 100),

Agustus 2017 – September 2017

-1,51 -8,15 0,27 0,71 0,10 0,00 1,18 -0,56 -0,51 -2,62 0,20 0,04 0,45 0,02 0,00 -0,30 -10,00 -8,00 -6,00 -4,00 -2,00 0,00 2,00 Umum Bahan Makanan

Makanan Jadi Perumahan Sandang Kesehatan Pendidikan Transpor Agustus September

(3)

Tabel 1.

IHK dan Inflasi Kota Ternate Bulan September 2017, Inflasi Tahun Kalender, dan

Inflasi Year on Year menurut Kelompok Pengeluaran (2012 = 100)

Kelompok Pengeluaran IHK Juli 2017 IHK Agustus 2017 IHK September 2017 Inflasi September 20171) Inflasi Tahun Kalender 2) Inflasi Year on Year 3) UMUM 134,56 132,53 131,86 -0,51 1,22 1,60 1 Bahan Makanan 134,51 123,55 120,31 -2,62 -3,81 -2,94

2 Makanan Jadi, Minuman, Rokok &

Tembakau 142,17 142,56 142,84 0,20 6,15 7,26

3 Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan Bakar 131,58 132,51 132,56 0,04 2,67 2,38

4 Sandang 149,47 149,62 150,30 0,45 1,14 1,61

5 Kesehatan 131,30 131,30 131,32 0,02 0,72 2,39

6 Pendidikan, Rekreasi & Olahraga 129,16 130,68 130,68 0,00 1,29 1,48

7 Transpor, Komunikasi & Jasa Keuangan 132,11 131,37 130,98 -0,30 0,11 0,46 1) Persentase perubahan IHK bulan September 2017 terhadap IHK bulan sebelumnya.

2) Persentase perubahan IHK bulan September 2017 terhadap IHK bulan Desember 2016 3) Persentase perubahan IHK bulan September 2017 terhadap IHK bulan September 2016

Tabel 2.

Sumbangan/Andil Kelompok Pengeluaran terhadap Inflasi Kota Ternate,

Bulan September 2017 (2012 = 100)

Kelompok Pengeluaran September

2017

UMUM -0,51

1 Bahan Makanan -0,54

2 Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau 0,03

3 Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan Bakar 0,01

4 Sandang 0,03

5 Kesehatan 0,00

6 Pendidikan, Rekreasi & Olahraga 0,00

7 Transportasi, Komunikasi & Jasa Keuangan -0,04

Pada September 2017, kelompok pengeluaran memberikan andil/sumbangan inflasi masing-masing

sebagai berikut: kelompok bahan makanan -0,54 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan

tembakau 0,03 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,01 persen; kelompok

sandang 0,03 persen; kelompok kesehatan 0,00 persen; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,00

persen; serta kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan -0,04 persen.

(4)

Gambar 2.

Perkembangan Inflasi Kota Ternate dan Nasional September 2016 – September 2017

2. IHK dan Inflasi Menurut Kelompok Pengeluaran

2.1 Bahan Makanan

Kelompok bahan makanan pada September 2017 mengalami deflasi 2,62 persen atau terjadi

penurunan indeks dari 123,55 pada Agustus 2017, menjadi 120,31 pada September 2017. Kelompok ini

memberikan sumbangan/andil inflasi sebesar -0,54 persen pada keseluruhan inflasi September 2017.

Dari 11 subkelompok dalam kelompok bahan makanan, empat subkelompok mengalami inflasi, dan

enam subkelompok mengalami deflasi dan satu subkelompok mengalami stagnan. Subkelompok yang

mengalami deflasi tertinggi adalah sayur-sayuran sebesar 12,04 persen; ikan diawetkan sebesar 6,33

persen; dan bumbu-bumbuan sebesar 6,29 persen.

Komoditas yang dominan mempengaruhi terjadinya deflasi pada kelompok ini adalah

malalugis/sorihi, selar/tude, kembung/gembung, tomat

sayur, bayam, kangkung, kol putih/kubis, apel,

bawang merah, bawang putih, dan cabai rawit.

Sep-16 Okt-16 Nov-16 Des-16 Jan-17 Feb-17 Mar-17 Apr-17 Mei-17 Jun-17 Jul-17 Aug-17 Sep-17 Ternate 0,01 -0,21 0,26 0,32 0,63 0,03 -0,31 0,36 0,20 1,55 0,80 -1,51 -0,51 Nasional 0,23 0,14 0,47 0,42 0,97 0,24 -0,01 0,08 0,40 0,69 0,22 -0,07 0,13 -2,00 -1,50 -1,00 -0,50 0,00 0,50 1,00 1,50 2,00

(5)

Tabel 3.

IHK dan Inflasi Kota Ternate menurut Subkelompok pada Kelompok Bahan Makanan,

September 2017 (2012 = 100)

Kelompok / Subkelompok IHK Inflasi

Tahun Kalender Year on Year (%) (%) (%) Umum 131,86 -0,51 1,22 1,60 I. Bahan Makanan 120,31 -2,62 -3,81 -2,94

a. Padi-padian, umbi- umbian, dan Hasilnya 119,97 0,13 0,69 0,36

b. Daging dan hasil-hasilnya 138,51 1,09 -2,98 -1,72

c. Ikan Segar 117,46 0,14 -9,19 -8,41

d. Ikan Diawetkan 103,97 -6,33 -6,74 -14,02

e. Telur, Susu, dan hasil-hasilnya 128,38 -0,41 -2,29 -2,48

f. Sayur-sayuran 103,04 -12,04 -1,77 0,60

g. Kacang-kacangan 117,61 -2,06 -0,01 0,09

h. Buah-buahan 155,56 -4,34 1,55 0,99

i. Bumbu-bumbuan 125,38 -6,29 -8,20 -3,43

j. Lemak dan Minyak 106,60 0,12 -1,15 3,03

k. Bahan Makanan lainnya 136,90 0,00 2,55 3,91

2.2 Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau

Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau pada September 2017 mengalami inflasi

0,20 persen atau terjadi kenaikan indeks 142,56 pada Agustus 2017, menjadi 142,84 pada September 2017.

Kelompok ini pada September 2017 memberikan sumbangan/andil inflasi sebesar 0,03 persen pada inflasi

keseluruhan.

Berdasarkan subkelompoknya, perubahan indeks masing-masing subkelompok yaitu makanan jadi

sebesar 0,01 persen; minuman yang tidak beralkohol sebesar -0,11 persen; serta tembakau dan minuman

beralkohol sebesar 0,49 persen.

Komoditas yang dominan memberikan pengaruh inflasi pada kelompok ini adalah roti tawar,

minuman ringan, rokok putih dan rokok kretek filter.

(6)

Tabel 4.

IHK dan Inflasi Kota Ternate menurut Subkelompok

pada Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau,

September 2017 (2012 = 100)

Kelompok / Subkelompok IHK Inflasi

Tahun

Kalender Year on

Year (%)

(%) (%)

Umum 131,86 -0,51 1,22 1,60

II. Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau 142,84 0,20 6,15 7,26

a. Makanan Jadi 136,82 0,01 6,15 7,75

b. Minuman yang Tidak Beralkohol 121,18 -0,11 2,07 1,24

c. Tembakau dan Minuman Beralkohol, 160,60 0,49 7,72 9,15

2.3 Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar

Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar pada September 2017 mengalami inflasi

0,04 persen atau terjadi kenaikan indeks 132,51 pada Agustus 2017, menjadi 132,56 pada September 2017. Kelompok ini memberikan sumbangan inflasi 0,01 persen pada inflasi keseluruhan.

Berdasarkan subkelompoknya, perubahan indeks masing-masing subkelompok yaitu : biaya tempat tinggal sebesar 0,06 persen; bahan bakar, penerangan, air sebesar 0,00 persen; perlengkapan rumah tangga sebesar 0,00 persen; serta penyelenggaraan rumah tangga sebesar -0,17 persen.

Komoditas yang dominan memberikan pengaruh inflasi pada kelompok ini adalah semen dan sabun cair/cuci piring.

Tabel 5.

IHK dan Inflasi Kota Ternate menurut Subkelompok

pada Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar,

September 2017 (2012 = 100)

Kelompok / Subkelompok IHK Inflasi

Tahun

Kalender Year on

Year (%)

(%) (%)

Umum 131,86 -0,51 1,22 1,60

III. Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan Bakar 132,56 0,04 2,67 2,38

a. Biaya Tempat Tinggal 130,30 0,06 0,35 0,00

b. Bahan Bakar, Penerangan, dan Air 144,42 0,00 18,36 18,84

c. Perlengkapan Rumah Tangga 133,63 0,00 -0,02 -0,36

(7)

2.4 Sandang

Kelompok sandang pada September 2017 mengalami inflasi sebesar 0,45 persen atau mengalami

kenaikan indeks dari 149,62 pada Agustus 2017 menjadi 150,30 pada September 2017. Kelompok ini pada

September 2017 memberikan sumbangan/andil inflasi sebesar 0,03 persen pada inflasi keseluruhan.

Berdasarkan subkelompoknya, perubahan masing-masing subkelompok yaitu : sandang laki-laki

sebesar 0,88 persen; sandang wanita sebesar 0,09 persen; sandang anak-anak sebesar 0,00 persen; serta

barang pribadi dan sandang lainnya sebesar 1,04 persen.

Komoditas yang dominan memberikan pengaruh inflasi pada kelompok ini adalah celana panjang

jeans pria, kemeja pendek batik pria, daster wanita, emas perhiasan dan tas tangan wanita.

Tabel 6.

IHK dan Inflasi Kota Ternate menurut Subkelompok pada Kelompok Sandang,

September 2017 (2012 = 100)

Kelompok / Subkelompok IHK Inflasi

Tahun Kalender Year on Year (%) (%) (%) Umum 131,86 -0,51 1,22 1,60 IV. Sandang 150,30 0,45 1,14 1,61 a. Sandang Laki-laki 149,67 0,88 0,90 0,88 b. Sandang Wanita 153,02 0,09 0,19 -0,35 c. Sandang Anak-anak 159,48 0,00 1,73 3,94

d. Barang Pribadi dan Sandang Lain 130,76 1,04 2,24 2,19

2.5 Kesehatan

Kelompok kesehatan pada September 2017 mengalami inflasi sebesar 0,02 persen atau mengalami

kenaikan indeks dari 131,30 pada Agustus 2017 menjadi 131,32 pada September 2017. Kelompok ini

memberikan sumbangan/andil inflasi sebesar 0,00 persen pada inflasi keseluruhan.

Berdasarkan subkelompoknya, perubahan masing-masing subkelompok yaitu : jasa kesehatan

sebesar 0,00 persen; obat-obatan sebesar 0,00 persen; jasa perawatan jasmani sebesar 0,00 persen; serta

perawatan jasmani dan kosmetik sebesar 0,03 persen.

Komoditas yang dominan memberikan pengaruh inflasi pada kelompok ini adalah parfum dan sabun

wajah.

(8)

Tabel 7.

IHK dan Inflasi Kota Ternate menurut Subkelompok pada Kelompok Kesehatan,

September 2017 (2012 = 100)

Kelompok / Subkelompok IHK Inflasi

Tahun Kalender Year on Year (%) (%) (%) Umum 131,86 -0,51 1,22 1,60 V. Kesehatan 131,32 0,02 0,72 2,39 a. Jasa Kesehatan 109,86 0,00 0,00 0,00 b. Obat-obatan 129,60 0,00 2,92 2,78

c. Jasa Perawatan Jasmani 167,74 0,00 0,00 0,00

d. Perawatan Jasmani dan Kosmetik 134,25 0,03 0,21 3,92

2.6 Pendidikan, Rekreasi, dan Olahraga

Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga pada September mengalami stagnan dengan indeks

yang sama seperti bulan Agustus 2017 yaitu sebesar 130,68 pada September 2017. Kelompok ini memberikan sumbangan/andil inflasi sebesar 0,00 persen pada inflasi keseluruhan.

Berdasarkan subkelompoknya, perubahan masing-masing subkelompok yaitu : jasa pendidikan sebesar 0,00 persen; kursus-kursus/pelatihan sebesar 0,00 persen; perlengkapan/peralatan pendidikan 0,00 persen; rekreasi 0,00 persen; serta olahraga sebesar 0,00 persen.

Tabel 8.

IHK dan Inflasi Kota Ternate menurut Subkelompok

pada Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga,

September 2017 (2012 = 100)

Kelompok / Subkelompok IHK Inflasi

Tahun

Kalender Year on

Year (%)

(%) (%)

Umum 131,86 -0,51 1,22 1,60

VI. Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga 130,68 0,00 1,29 1,48

a. Jasa Pendidikan 137,86 0,00 2,29 2,31

b. Kursus-kursus / Pelatihan 114,65 0,00 0,00 1,60

c. Perlengkapan / Peralatan Pendidikan 102,43 0,00 0,46 0,14

d. Rekreasi 126,61 0,00 -0,40 -0,05

(9)

2.7 Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan

Kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan pada September 2017 mengalami deflasi

sebesar 0,30 persen atau terjadi penurunan indeks dari 131,37 pada Agustus 2017, menjadi 130,98 pada September 2017. Kelompok ini pada September 2017 memberikan sumbangan inflasi sebesar -0,04 persen pada inflasi keseluruhan.

Berdasarkan subkelompoknya, perubahan indeks masing-masing subkelompok yaitu transpor sebesar -0,42 persen; komunikasi dan pengiriman sebesar 0,00 persen; sarana dan penunjang transpor sebesar 0,00 persen; serta jasa keuangan sebesar 0,00 persen.

Komoditas yang dominan memberikan pengaruh deflasi pada kelompok ini adalah tarif angkutan udara.

Tabel 9.

IHK dan Inflasi Kota Ternate menurut Subkelompok

pada Kelompok Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan,

September 2017 (2012 = 100)

Kelompok / Subkelompok IHK

Inflasi Tahun

Kalender Year on

Year (%)

(%) (%)

Umum 131,86 -0,51 1,22 1,60

VII. Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan 130,98 -0,30 0,11 0,46

a. Transpor 147,93 -0,42 -1,05 -0,54

b. Komunikasi dan Pengiriman 96,64 0,00 2,76 2,76

c. Sarana dan Penunjang Transpor 140,75 0,00 6,22 5,58

d. Jasa Keuangan 123,96 0,00 0,09 0,09

3. Perbandingan Antar Kota di Indonesia

Pada bulan September 2017 inflasi terjadi di 50 kota dimana inflasi tertinggi terjadi di Kota Tual

sebesar 1,59 persen, Kota Manokwari sebesar 1,09 persen, dan Kota Medan sebesar 1,08 persen.

Sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Depok dan Kota Mamuju masing-masing sebesar 0,01 persen.

Sementara itu kota yang mengalami deflasi tertinggi adalah Kota Manado sebesar 1,04 persen, Kota

Tanjung Pandan sebesar 0,87 persen, dan Kota Singaraja sebesar 0,78 persen. Sedangkan deflasi terendah

terjadi di Kota Tembilahan sebesar 0,01 persen.

Menurut inflasi tahun kalender, 81 kota mengalami inflasi, dimana inflasi tertinggi terjadi di Kota

Tual sebesar 9,63 persen, Kota Watampone sebesar 5,37 persen dan Kota Bulukumba sebesar 4,66 persen.

(10)

Menurut inflasi year on year, semua kota mengalami inflasi, dimana inflasi tertinggi terjadi di Kota

Tual sebesar 12,01 persen, Kota Cilegon sebesar 5,95 persen, dan Kota Bulukumba sebesar 5,65 persen.

Sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Merauke sebesar 0,57 persen, Kota Bukit Tinggi sebesar 1,13

persen, dan Kota Sorong sebesar 1,24 persen.

3.1 Perbandingan Antar Kota di Pulau Sulawesi, Maluku dan Papua

Kota-kota IHK di wilayah Pulau Sulawesi, Maluku dan Papua yang berjumlah 18 kota, pada September 2017 tercatat 12 kota mengalami deflasi, sedangkan sisanya mengalami inflasi. Deflasi

tertinggi terjadi di Kota Manado sebesar 1,04 persen, Kota Kendari sebesar 0,76 persen, Kota Jayapura

sebesar 0,64 persen dan Kota Merauke sebesar 0,64 persen.

Tabel 10.

Perbandingan IHK dan Inflasi September 2017

Kota-Kota di Pulau Sulawesi, Maluku dan Papua dengan Nasional (2012 = 100)

KOTA September 2017 Tahun Kalender Year on Year KOTA September 2017 Tahun Kalender Year on Year IHK Inflasi (%) (%) (%) IHK Inflasi (%) (%) (%) 1 TUAL 153,62 1,59 9,63 12,01 11 PALU 132,06 -0,13 3,91 4,61 2 MANOKWARI 124,67 1,09 1,90 3,21 12 WATAMPONE 126,73 -0,14 5,37 5,54 3 BAU-BAU 132,65 0,14 2,93 2,37 13 AMBON 127,74 -0,23 1,50 3,07 4 PARE-PARE 125,44 0,10 2,74 4,08 14 TERNATE 131,86 -0,51 1,22 1,60 5 GORONTALO 126,32 0,10 3,73 4,41 15 MERAUKE 131,51 -0,64 -0,46 0,57 6 MAMUJU 129,55 0,01 3,21 4,53 16 JAYAPURA 129,04 -0,64 0,30 1,73 7 PALOPO 127,48 -0,04 2,99 3,63 17 KENDARI 125,89 -0,76 3,46 3,49 8 BULUKUMBA 136,31 -0,06 4,66 5,65 18 MANADO 128,26 -1,04 2,09 3,42 9 MAKASSAR 130,61 -0,08 3,30 4,07 NASIONAL 130,08 0,13 2,66 3,72 10 SORONG 128,93 -0,12 1,65 1,24

(11)

Tabel 11.

Inflasi September 2017, 82 Kota di Indonesia,

Tertinggi – Terendah

(2012 = 100)

No Kota Inflasi (%) No Kota Inflasi (%) No Kota Inflasi (%)

1 TUAL 1,59 29 PANGKAL PINANG 0,15 57 SURAKARTA -0,06

2 MANOKWARI 1,09 30 BAU-BAU 0,14 58 BULUKUMBA -0,06

3 MEDAN 1,08 31 PADANG 0,13 59 MAKASSAR -0,08

4 SIBOLGA 0,93 32 YOGYAKARTA 0,13 60 PALEMBANG -0,09

5 SINGKAWANG 0,71 33 TEGAL 0,12 61 SORONG -0,12

6 BANDA ACEH 0,62 34 MADIUN 0,12 62 PALU -0,13

7 BOGOR 0,59 35 CILEGON 0,12 63 CIREBON -0,14

8 MAUMERE 0,59 36 BANDUNG 0,11 64 WATAMPONE -0,14

9 PEMATANG SIANTAR 0,55 37 PROBOLINGGO 0,11 65 SAMARINDA -0,17

10 BATAM 0,53 38 BANJARMASIN 0,11 66 AMBON -0,23

11 PADANGSIDIMPUAN 0,40 39 METRO 0,10 67 PALANGKARAYA -0,24

12 MEULABOH 0,37 40 KUDUS 0,10 68 TARAKAN -0,24

13 SEMARANG 0,34 41 PARE-PARE 0,10 69 BUNGO -0,28

14 TANJUNG PINANG 0,33 42 GORONTALO 0,10 70 SAMPIT -0,28

15 KUPANG 0,33 43 JEMBER 0,06 71 DENPASAR -0,33

16 TANGERANG 0,32 44 DUMAI 0,05 72 JAMBI -0,34

17 BUKITTINGGI 0,31 45 DKI JAKARTA 0,05 73 LUBUKLINGGAU -0,45

18 KEDIRI 0,31 46 MALANG 0,05 74 TERNATE -0,51

19 PEKANBARU 0,30 47 SERANG 0,04 75 BIMA -0,57

20 BEKASI 0,26 48 SUMENEP 0,03 76 TANJUNG -0,62

21 SURABAYA 0,26 49 DEPOK 0,01 77 MERAUKE -0,64

22 BANDAR LAMPUNG 0,25 50 MAMUJU 0,01 78 JAYAPURA -0,64

23 CILACAP 0,25 51 TEMBILAHAN -0,01 79 KENDARI -0,76

24 TASIKMALAYA 0,24 52 SUKABUMI -0,02 80 SINGARAJA -0,78

25 PONTIANAK 0,24 53 BANYUWANGI -0,02 81 TANJUNG PANDAN -0,87

26 MATARAM 0,20 54 BENGKULU -0,04 82 MANADO -1,04

27 BALIKPAPAN 0,20 55 PALOPO -0,04

(12)

Tabel 12.

Inflasi Tahun Kalender, 82 Kota di Indonesia,

Tertinggi – Terendah

(2012 = 100)

No Kota Inflasi (%) No Kota Inflasi (%) No Kota Inflasi (%)

1 TUAL 9,63 29 MALANG 2,94 57 PADANGSIDIMPUAN 2,11

2 WATAMPONE 5,37 30 BAU-BAU 2,93 58 MANADO 2,09

3 BULUKUMBA 4,66 31 BUNGO 2,92 59 DENPASAR 2,06

4 SINGKAWANG 4,54 32 DKI JAKARTA 2,91 60 MANOKWARI 1,90

5 CILEGON 4,39 33 YOGYAKARTA 2,90 61 TANJUNG PANDAN 1,87

6 SERANG 4,27 34 PEKANBARU 2,89 62 SURAKARTA 1,82

7 MADIUN 4,04 35 KEDIRI 2,88 63 BIMA 1,82

8 PONTIANAK 3,96 36 PURWOKERTO 2,82 64 MEDAN 1,79

9 PALU 3,91 37 SEMARANG 2,79 65 PALEMBANG 1,78

10 GORONTALO 3,73 38 BENGKULU 2,79 66 METRO 1,77

11 DUMAI 3,57 39 PALANGKARAYA 2,78 67 SORONG 1,65

12 CIREBON 3,53 40 PARE-PARE 2,74 68 MAUMERE 1,61

13 KENDARI 3,46 41 JEMBER 2,67 69 AMBON 1,50

14 BOGOR 3,46 42 BATAM 2,54 70 BALIKPAPAN 1,47

15 BANJARMASIN 3,41 43 MATARAM 2,52 71 PANGKAL PINANG 1,26

16 DEPOK 3,39 44 TANJUNG PINANG 2,50 72 SIBOLGA 1,25

17 CILACAP 3,37 45 BEKASI 2,49 73 TERNATE 1,22

18 TASIKMALAYA 3,30 46 TARAKAN 2,47 74 TANJUNG 1,14

19 MAKASSAR 3,30 47 LUBUKLINGGAU 2,41 75 SINGARAJA 0,81

20 KUDUS 3,29 48 TANGERANG 2,37 76 LHOKSEUMAWE 0,75

21 BANDA ACEH 3,28 49 PROBOLINGGO 2,37 77 PADANG 0,71

22 SURABAYA 3,24 50 MEULABOH 2,34 78 KUPANG 0,37

23 SUKABUMI 3,23 51 SUMENEP 2,34 79 JAYAPURA 0,30

24 SAMARINDA 3,23 52 BANDUNG 2,34 80 BUKITTINGGI 0,26

25 MAMUJU 3,21 53 BANDAR LAMPUNG 2,33 81 JAMBI 0,26

26 TEMBILAHAN 3,13 54 SAMPIT 2,23 82 MERAUKE -0,46

27 TEGAL 3,02 55 PEMATANG

SIANTAR 2,14

(13)

Tabel 13.

Inflasi Year on Year, 82 Kota di Indonesia,

Tertinggi – Terendah

(2012 = 100)

No Kota Inflasi

(%) No Kota Inflasi (%) No Kota

Inflasi (%)

1 TUAL 12,01 29 CIREBON 4,00 57 MANADO 3,42

2 CILEGON 5,95 30 SURABAYA 3,98 58 SUMENEP 3,37

3 BULUKUMBA 5,65 31 DEPOK 3,98 59 LUBUKLINGGAU 3,32

4 WATAMPONE 5,54 32 PALANGKARAYA 3,94 60 KUPANG 3,30

5 PEKANBARU 5,22 33 SIBOLGA 3,91 61 TANJUNG PINANG 3,29

6 SINGKAWANG 5,03 34 MATARAM 3,90 62 MANOKWARI 3,21

7 DUMAI 4,99 35 BATAM 3,86 63 MEULABOH 3,15

8 MADIUN 4,97 36 MEDAN 3,85 64 AMBON 3,07

9 SERANG 4,91 37 TANJUNG PANDAN 3,83 65 PROBOLINGGO 3,02

10 BOGOR 4,87 38 TEMBILAHAN 3,82 66 PALEMBANG 2,96

11 PONTIANAK 4,63 39 MALANG 3,80 67 TANJUNG 2,94

12 PALU 4,61 40 KEDIRI 3,71 68 DENPASAR 2,86

13 MAUMERE 4,57 41 TANGERANG 3,70 69 BALIKPAPAN 2,79

14 MAMUJU 4,53 42 DKI JAKARTA 3,69 70 BANYUWANGI 2,68

15 KUDUS 4,48 43 JEMBER 3,67 71 SURAKARTA 2,64

16 GORONTALO 4,41 44 BANDUNG 3,67 72 METRO 2,55

17 SAMARINDA 4,31 45 YOGYAKARTA 3,64 73 PADANG 2,49

18 PEMATANG SIANTAR 4,16 46 PALOPO 3,63 74 BAU-BAU 2,37

19 SUKABUMI 4,15 47 SEMARANG 3,62 75 JAMBI 2,32

20 BANDA ACEH 4,14 48 TARAKAN 3,61 76 SINGARAJA 1,91

21 TASIKMALAYA 4,13 49 SAMPIT 3,59 77 BIMA 1,81

22 BANJARMASIN 4,10 50 LHOKSEUMAWE 3,59 78 JAYAPURA 1,73

23 BANDAR LAMPUNG 4,09 51 BENGKULU 3,54 79 TERNATE 1,60

24 PARE-PARE 4,08 52 TEGAL 3,51 80 SORONG 1,24

25 MAKASSAR 4,07 53 BEKASI 3,50 81 BUKITTINGGI 1,13

26 CILACAP 4,06 54 KENDARI 3,49 82 MERAUKE 0,57

27 BUNGO 4,03 55 PANGKAL PINANG 3,46

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan pada Game Edukasi Siaga Bencana Gempa Bumi terdapat video animasi yang berisikan tentang tindakan yang harus dilakukan ketika pra bencana gempa bumi, saat

terwujudnya kemampuan Pengolahan Hasil Pertanian dan Perkebunan di dalam negeri, melalui integrasi antara Klaster Industri Pengolahan Hasil Pertanian antara Klaster Industri

Pada bab ini akan menganalisis bagaimana kebijakan kerjasama militer bisa dipakai sebagai sarana untuk mengakomodasikan kepentingan nasional, terutama kepentingan strategis

Merupakan suatu kondisi Polis ini bahwa tidak menjamin setiap harta benda yang dalam lingkup secara langsung atau tidak langsung dijamin oleh asuransi lain (baik Polis

Uterus tidak akan pernah kembali seperti keadaan sebelum hamil, tetapi terjadi penurunan ukuran, dari berat 1000 gr setelah melahirkan, menjadi 500 gr pada akhir minggu I

TUJUAN (T) Mewujudkan Pengembangan & Promosi Inovasi dalam Bidang AN (TDIAN1) Mewujudkan Pengembangan Inovasi dalam Bidang Tata Pemerintahan (TPITP1) Mewujudkan

Desain Perangkat Lunak (Lanjutan) Struktur Navigasi adalah alur dari suatu program yang merupakan rancangan hubungan (rantai kerja) dari beberapa area yang berbeda

Kepekaan terhadap makhluk hidup dan lingkungannya merupakan sikap ilmiah khusus yang sangat diperlukan oleh orang yang belajar biologi maupun pendidik biologi untuk menempa