Jurnal Manajemen Pelayanan Hotel Akademi Komunitas Manajemen Perhotelan Indonesia (Mekarini, halaman 84-91) Vol 4, No 2 Edisi Desember 2020
84
DINAMIKA TEKS MELUKAT SEBAGAI BENTUK
WISATA RELIGIUS MASYARAKAT BALI
Ni Wayan Mekarini
Universitas Triatma Mulya, Bali
[email protected]
Abstrak
Jika masyarakat Barat selalu merencanakan liburan (traveling) setiap tahun maka bepergian untuk kepentingan bersenang-senang sangat minim dilakukan oleh masyarakat Bali. Berwisata for pleasure umumnya digantikan dengan berwisata religius seraya mengungkapkan bakti, dalam bentuk matirta yatra, maajar-ajar, dan melukat. Kegiatan matirta yatra dan meajar-ajar cenderung dipahami sebagai bepergian untuk melaksanakan persembahyangan, akan tetapi, kegiatan melukat memiliki makna yang lebih dalam yakni kunjungan untuk kepentingan membersihkan diri terlebih dahulu baru bisa dilanjutkan dengan persembahyangan. Penelitian didorong oleh pertanyaan menggelitik; apakah orang yang melukat identik dengan orang penuh dosa, sakit-sakitan, atau menderita tekanan jiwa sehingga mesti dibersihkan dengan air suci? Penelitian dilaksanakan di desa Sangeh Badung dengan pengumpulan data melalui wawancara dan selanjutnya dianalisa secara deskriptif. Penelitian menghasilkan tiga simpulan: (a) Terdapat dua pemahaman terkait melukat, yakni melukat dimaknai sebagai ritual yang wajib membutuhkan sederet sajen dan kehadiran pendeta/pemangku atas permintaan dalam waktu tertentu, dan melukat yang bernuansa berwisata dengan sajen seadanya dan ketersediaan pemangku setiap saat; (b) Tahapan melukat harus mengikuti petunjuk setempat. Biasanya sajen dihaturkan terlebih dahulu lalu diteruskan dengan mandi di pancuran. Penggunaan pakaian diwajibkan menggunakan pakaian adat Bali karena melukat dijiwai keyakinan agama Hindu. (c) Peserta melukat sebagai wisata religius dapat diikuti oleh setiap orang tanpa batasan umur sepanjang memerhatikan kesopanan dan arahan pengelola. Guyuran air yang sejuk berdampak pada kesegaran tubuh dan ketenangan jiwa sehingga merasa bugar, perkataan terkontrol, danberlaku santun.
Kata kunci: melukat, ritual, membersihkan diri, ketenangan batin, perilaku santun
Abstract
It seems that traveling is a regular agenda for western people to release their stress from working. But for Balinese, only a few is thinking about vacation. However, traveling for pleasure is generally replaced by religious tours while offering devotional prayers, in the form of matirta yatra, meajar-ajar, and melukat. The activities of matirta yatra and meajar-ajar tend to be understood as traveling to carry out prayers. However, the activity of melukat has a deeper meaning, namely visits to clean oneself first and then followed by praying. This research is motivated by the intriguing question whether melukat is conducted for those who feel unlucky, painful, or suffer from mental pressure? The research was held in Sangeh Badung regency and data collected by in-deepth interview and analyzed descriptively. The research found out three conclusions: (a) There are two understandings related to melukat, namely melukat which is defined as a ritual which requires a series of offerings and the presence of priests/stakeholders upon request for a certain time, and melukat which has the nuances of traveling in free time, bring simple offering, and priest is there all day; (b) The melukat steps must follow local instructions. Usually, the offering is served first then followed by bathing in the shower. The use of clothing is required to wear Balinese traditional clothes because melukat is derived from Hindu beliefs. (c) Participants in melukat as religious tourism can be followed by everyone without age restrictions as long as following local
85 management. Participants believe that a cool splash of water has an impact on the freshness of the body and peace of mind so that people can fell calm, control their speech, and behave politely.
Keywords: melukat, rituals, self-cleaning, peace of mind, polite behavior
PENDAHULUAN
Dunia mengakui pulau Bali unik dan menarik. Bali didukung oleh masyarakatnya yang bersatu dalam kegiatan sosial keagamaan dari waktu ke waktu. Aktivitas sosial dalam frekuensi tinggi tersebut memungkinkan kegiatan tersebut berangsur-angsur menjadi tradisi yang dijunjung tinggi dan hanya dapat ditemukan di sini. Bali sebagai lokus kehidupan yang unik penuh cerita (Triguna, 2011: ix). Kekuatan Bali ada pada dua sisi, yakni lingkungan alam dan budaya. Alam menawan dan ombak bergulung surga para peselancar dapat ditemukan dengan mudah. Belum lagi, konsep hidup manusia Bali dalam hubungan vertikal dan horizontal menarik perhatian dunia. Oleh sebab itu, Bali menjadi salah satu ikon kebanggaan Indonesia yang telah mendatangkan banyak wisatawan dan devisa bagi Indonesia.
Jika dicermati tampak masyarakat Bali memiliki identitas yang jelas yaitu budaya ekspresif yang termanifestasi secara konfiguratif yang mencakup nilai-nilai dasar. Nilai dasar yang dominan meliputi nilai religius, nilai estetika, nilai solidaritas, nilai harmonis, dan nilai keseimbangan. Nilai yang dijunjung tersebut terakumulasi dalam bentuk kearifan lokal (Geriya, 2000 dalam Suwardani, 2019). Budaya Bali cenderung bersifat dinamis sebagai pola kehidupan yang humanis-religius di mana masyarakat meyakini adanya oposisi biner yang komplementer dalam konsep rwa-bhineda, yang ditentukan oleh ruang (desa), waktu (kala), dan kondisi real di lapangan (patra). Konsep biner diwadahi ruang, waktu dan tempat menjadikan kebudayaan Bali bersifat felksibel dan selektif dalam menerima dan mengadopsi pengaruh budaya luar. Jadi, dinamika budaya tidak dipandang
sebagai suatu degradasi melainkan selektif sesuai dengan batas ruang, waktu dan tempat di lapangan.
Peran masyarakat sebagai subjek bagi kemajuan wilayahnya (Kemenparekraf, 2020). Kenyamanan tercipta bagi pendatang apabila masyarakat berperilaku terbuka. Hal itu sejalan dengan kehidupan masyarakat Bali yang ramah di tengah kehidupan adat yang kental. Banyak pengamat yang mengakui hal itu di mana keberagaman menjadi keunikan. Pola dan norma hidup yang telah diwariskan leluhur dipegang teguh di tengahzaman yang selalu berlari menuju kebaruan yang lebih mutakhir. Di sini, perwujudan Bali sebagai lokus kehidupan yang unik penuh cerita bersumber dari nilai tradisi dibalut kemajuan teknologi informasi. Secara sukarela masyarakat berbagi cerita dan pengalaman dengan wisatawan. Sebaliknya, pengunjung yang lihai dapat menghimpun cerita tersebut mendeskripsikan dengan style yang elegan menjadi sumber informasi akurat dan mendatangkan penghasilan. Ada take and give ‘memberi dan menerima’ yang terjalin demi menopang perekonomian masyarakat Bali hingga mampu bertumbuh dan bergulir lebih laju dari daerah lain.
Berbeda dengan masyarakat Barat yang selalu mengagendakan kegiatan liburan keluarga secara berkala, bepergian untuk kepentingan bersenang-senang sangat minim dilakukan oleh masyarakat Bali bahkan bisa dikatakan tidak termasuk dalam rencana jangka panjang. Berwisata for pleasure umumnya digantikan dengan berwisata religius yakni bepergian untuk mengungkapkan sembah bakti, dalam bentuk matirta yatra, maajar-ajar dan melukat. Tirta yatra berasal dari kata ‘tirta’ yang berarti air suci dan ‘yatra’
Jurnal Manajemen Pelayanan Hotel Akademi Komunitas Manajemen Perhotelan Indonesia (Mekarini, halaman 84-91) Vol 4, No 2 Edisi Desember 2020
86 berarti ‘perjalanan, kunjungan’.
Meajar-ajar dimaknai sebagai kunjungan ke tempat suci secara bersama berikut para pitra. Kunjungan ini juga disebut
nyegara gunung ‘laut dan gunung’ dan
dilakukan setelah upacara pitra yadnya selesai dilaksanakan. Akan tetapi, kegiatan melukat memiliki makna yang lebih dalam yakni kunjungan untuk kepentingan membersihkan diri dan dilanjutkan dengan persembahyangan. Ada pertanyaan menggelitik sehubungan dengan aktivitas melukat: Apakah orang yang melukat identik dengan orang penuh dosa, sakit-sakitan, atau hidup di dunia yang kotor? Atau penderita penyakit kronis yang mesti dibersihkan dengan air yang disucikan? Bagaimana melukat dapat memberikan rasa bersih secara batiniah? Penelitian bertujuan menjawab tiga permasalahan yakni: (a) bagaimana masyarakat Bali memahami tradisi melukat?; (b) tahap-tahapan
melukat yang umum?; dan (c)
bagaimana dampak dan harapan peserta melukat?.
Ardika menjelaskan bahwa masyarakat Bali berada di persimpangan jalan. Ada kecenderungan mengadopsi kebudayaan modern (yang mungkin dinilai lebih praktis dibandingkan dengan budaya lokal), sementara di sisi lain, menggiatkan desa adat (desa pakraman). Dengan kata lain, orang Bali diperhadapkan pada fenomena paradoks, yakni berdiri pada pijakan yang berbeda. Kaki kanan terikat pada kekuatan tradisi, sedangkan kaki kiri menganut sistem nilai dari luar (nilai-nilai modern). Sentuhan budaya luar ini
menyebabkan terjadinya
ketidakseimbangan, sehingga masyarakat Bali kehilangan orientasi (disorientasi) dan dislokasi hampir pada setiap aspek kehidupan (Ardika dalam Suardani, 2019)
Situasi di persimpangan tersebut merupakan dampak dari ikon destinasi wisata internasional, di mana kontak budaya terjadi di Bali yakni bertemunya
nilai-nilai baru dengan nilai-nilai lama. Kedua jenis nilai bisa saling mendominasi dan membawa dampak pada tataran surface structure dan deep structure. Pada tataran permukaan (surface structure) mencakup sikap dan pola-pola perilaku, sedangkan pada tataran bawah (deep structure) mencakup pada perubahan sistem nilai, pandangan hidup, filsafat, dan keyakinan. Hal itu mencerminkan bahwa perubahan tataran nilai pada masyarakat Bali tidak terelakkan.
Apadurai (dalam Ritzr 2007:598) menggambarkan, bahwa perubahan nilai terjadi karena pengaruh (1) perpindahan orang (ethnoscape), (2) media informasi (mediascape),(3) teknologi yang dibawa atau yang dapat dilihat (technoscape), (4) terjadinya aliran kepemilikan modal (financesscape), dan (5) ideologi (ideoscapes) baik yang dibawa, diinformasikan, maupun yang dapat diadopsi. Kondisi ini membawa konsekuensi yang sangat mendasar bagi kehidupan dan upaya mempertahankan kemurnian adat istiadat dan nilai-nilai budaya lokal Bali.
Dalam teori pragmatik (Yule, 1996 dalam Pertiwi, 2015) mencetuskan empat definisi pragmatik, masing-masing: (a) bidang yang mengkaji makna dari sisi pembicara; (b) bidang yang mengkaji makna konteks; (c) bidang yang mengkaji makna yang melebihi makna ujaran yang dikomunikasikan atau terkomunikasi; dan (d) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat. Jika definisi pragmatik tersebut diulas lebih jauh, maka diketahui adanya beberapa makna yang berbeda sesuai sudut pandang. Makna yang dimaksud oleh pembicara bisa saja tidak jelas dalam pilihan kata-kata apa yang disampaikan atau makna yang dimaksud tidak cukup terwakili oleh ujaran yang dinyatakan. Jika terdapat perbedaan makna yang tersampaikan dengan makna yang dimaksud pembicara maka pembicara
87 bisa meralat atau mengulang
pernyataannya. Di sini akan terciptalah pernyataan yang lebih spesifik yang mendekati maksud asli pembicara. Bagi mitra wicara itu menjadi bahan pertanyaan untuk meminta klarifikasi. Kajian makna sesuai konteks tampak lebih terikat dengan situasi yang melatarinya. Makna yang dimaksud diikat oleh konteks dan jika dilepaskan dari konteksnya maka pemahaman yang dimunculkan sangat berbeda. Makna ini akan sulit dipahami oleh orang yang tidak terlibat dalam sebuah konteks di mana ujaran itu disampaikan. Bidang yang mengkaji makna yang melebihi makna ujaran yang dikomunikasikan atau terkomunikasi mengacu pada maksud turunan dari ujaran. Misalnya pertanyaan ‘Besok masuk kerja?’ bukan hanya sekadar ingin tahu rutinitas di hari kerja tetapi dapat menyembunyikan maksud agar pulang lebih cepat dan membantu pekerjaan tertentu yang diemban penanya. Jadi, ujaran tersebut mengemban tujuan lain yang terselubung yang diharapkan mitra wicara memahaminya atau peka meskipun tanpa diucapkan. Bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat merujuk pada penggunaan istilah dan kode tertentu yang dibagi khusus diantara anggota komunitas. Pemakaian istilah yang khusus menjadikan non-anggota kesulitan memahami ekspresi tertentu dan mengetahui maksud yang sebenarnya. Jadi, untuk dapat memasuki kelompok terbatas itu hanya dapat dilakukan dengan mempelajari dan menguasai ekspresi yang berlaku diantara anggota. Terkait dengan teks melukat definisi bidang yang mengkaji makna dari sisi pembicara tampak relevan. Butir-butir informasi yang disampaikan oleh pembicara disertai kepercayaan akan kebenaran informasinya menggiring mitra wicara melakukan atau merasakan kepercayaan yang sama. Dengan kaitan emosi yang sama
baik pembicara maupun mitra wicara diharapkan memiliki keseragaman pemahaman tentang hal yang dibicarakan.
Jika ditinjau dari aspek linguistik, teks merupakan suatu bentuk yang holistis di mana teks dan konteks tidak dapat dipisahkan. Palmer (2001:3) mencontohkan kalimat berikut.
1) That cloud means thunder DEF N PRED N
‘Bahwa mendung berarti gemuruh’ 2) A red light means stop.
PART N PRED ADJ
‘Lampu merah berarti berhenti’ Kata means ‘makna’ dapat merujuk pada dua jenis makna yakni makna alami dan makna konvensional. Makna alami menunjukkan sesuatu yang sedang terjadi atau sesuatu yang akan terjadi, sedangkan makna konvensional merujuk pada makna yang dipahami oleh masyarakat umum. Kalimat 1 memberikan suatu informasi namun bukan sebuah sistem komunikasi, sedangkan kalimat 2 menunjukkan sistem komunikasi yang telah disepakati bahwa merah berarti berhenti. Untuk pemahaman teks dapat dilihat pada kalimat di bawah ini.
3) Sudah hampir pukul 12 PUNCTUAL KET NUM ‘Sudah hampir jam 12’
Kalimat (3) dapat bermakna ekspresi untuk mengusir pengunjung di asrama atau menginformasikan waktunya untuk istirahat makan siang bagi karyawan perusahaan. Jadi, makna teks diikat oleh konteks di mana teks tersebut ditemukan.
Halliday (2004) sebagai pencetus pemahaman sistemik linguistik fungsional mengungkapkan empat konsep dasar, yaitu: (a) bahasa sebagai sistem; (b) bahasa sebagai sistem aturan; (c) bahasa sebagai fenomena
Jurnal Manajemen Pelayanan Hotel Akademi Komunitas Manajemen Perhotelan Indonesia (Mekarini, halaman 84-91) Vol 4, No 2 Edisi Desember 2020
88 sosial; dan (d) bahasa memiliki fungsi.
Penelusuran empat konsep tersebut berhasil mengungkap teks hingga lapisan terdalam berupa ideologi yang melatari kelahiran teks tersebut. Secara umum, teks terbagi atas bentuk teks kecil dan teks dalam arti sesungguhnya (Sutjaja, 2011). Teks kecil dapat berupa satu kata atau bahkan suatu tanda tetapi telah memiliki arti yang padu. Teks dalam arti sesungguhnya mengaitkan tataran ekstralinguistisdan tataran linguistik yang menekankan pada klausa yang memiliki makna kamus dan peran, baik dalam kategori tata bahasa sebagai Subjek-Predikat-Komplemen maupun kategori makna sebagai proses, partisipan, dan struktur modus.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang mengangkat kegiatan melukat ‘mandi suci’ ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang fokus pada keterangan di lapangan. Oleh karena itu, jenis data yang dijaring berupa data ujaran atau informasi yang berkaitan dengan permasalahan. Penjaringan data dilakukan oleh peneliti dengan segala upaya mengumpulkan informasi yang dibutuhkan untuk memetakan makna dan harapan pengunjung serta menggali informasi pihak yang sebaiknya melakukan kegiatan melukat. Dengan demikian, sumber data yang digunakan merupakan data primer dan keterangan dikumpulkan dari sumber langsung demi memperoleh deskripsi yang akurat. Informan yang dijadikan sumber data adalah pengunjung yang melukat, jro mangku dan pemuka desa setempat yang dipilih secara bola salju. Jadi, data dikumpulkan melalui pengamatan, tanya jawab, dan wawancara mendalam. Persyaratan informan dijabarkan sebagai berikut.
(1)
Direkomendasikan masyarakat;(2)
Sehat dan tidak mengalami cacat alat ucap-dengar;(3)
Bersedia menjadi informan;(4)
Memiliki pengetahuan cukup terkait topik.Penelitian dilaksanakan selama enam bulan terhitung mulai Januari 2020 hingga Juli 2020. Pengambilan data awal dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan pengabdian masyarakat di desa Sangeh Badung. Peneliti melengkapi diri dengan alat penelitian untuk menunjang terbentuknya pemahaman (verstehen). HASIL DAN PEMBAHASAN
Teks melukat sangat identik dengan ritual mandi. Pada awalnya
melukat dimaknai sebagai ritual
dipermandikan dengan air suci oleh pemuka agama. Air suci yang telah digenapi mantram dipercikkan ke bagian kepala dan diminum terlebih dahulu kemudian sisanya diguyurkan mulai dari ubun-ubun terus diusapkan ke seluruh badan hingga kaki. Melukat semacam ini juga dapat menggunakan air kelapa gading dilengkapi sajen lainnya sesuai arahan sang pendeta. Saat terbaik melukat adalah hari kelahiran, purnama, ketika menghadapi masalah dan merasa risau yang berkelanjutan. Melukat sebagai ritual ini membutuhkan kesediaan waktu pendeta atau pemangku ‘pemuka agama’ seraya menyiapkan berbagai banten yang wajib menyertai acara melukat tersebut.
Belakangan, melukat tidak lagi memiliki makna yang demikian sakral.
Melukat lebih dimaknai sebagai
kegiatan berwisata mandi di mata air dilanjutkan persembahyangan. Banten sajen yang dipersiapkan juga sangat fleksibel bahkan dapat dibeli di tempat. Tidak dibutuhkan janji khusus dengan pemangku karena di tempat penglukatan, jro mangku pemuka agama setempat selalu siap melayani para pemedek yang hadir setiap saat. Lokasi melukat yang paling populer di Bali adalah Pura Tirta Empul yang berlokasi di Tampak Siring, Gianyar. Tempat melukat ini bersebelahan dengan istana presiden Tampak Siring,
89 sekitar 45 menit perjalanan ke arah
timur laut dari kota Denpasar. Di sini, pengunjung dapat melukat secara bergiliran tanpa pandang ras, bangsa maupun latar belakang. Tidak heran banyak wisatawan manca negara mengikuti acara melukat di tempat ini demi pengalaman yang unik. Semua datang untuk pengalaman mandi dengan posisi badan terendam sebatas pinggang dilanjutkan menikmati kesegaran air pancuran yang mengalir deras. Setiap pancuran memiliki makna tersendiri dalam artian dilengkapi fungsi tirta (air suci) yang dialirinya, misalnya tirta penglukatan, tirta pebersihan, tirta
kamandalu, tirta amerta, dan
sebagainya. Artinya, aliran air pancuran memainkan fungsi tersendiri bagi tubuh yang melukat. Tirta Empul dilengkapi fasilitas penunjang, seperti ruang bilas, penitipan barang, penyewaan handuk dan kain panjang, selendang, dan stan makanan dan minuman. Bahkan bila pengunjung tidak sempat membawa alat sembahyang maka canang, kewangen, dupa hingga pejati dapat diperoleh sebelum pintu masuk. Keamanan pengunjung juga diperhatikan, setidaknya pengunjung yang melakukan persembahyangan seusai mandi suci tidak terganggu oleh wisatawan yang lalu lalang. Mata air di area jaba tengah pura menjadi sumber air pancuran dan diyakini akan terus mengaliri permandian sepanjang tahun. Secara ekonomis, lokasi ini menyumbang pendapatan yang relatif tinggi dari berbagai sarana yang disediakan bagi pengunjung yang melukat.
Tahapan melukat harus mengikuti petunjuk petugas setempat. Secara
umum melukat diwajibkan
menggunakan pakaian adat Bali atau setidaknya pakaian yang sopan dengan melilitkan selendang di pinggang. Perihal penetapan pakaian mengingat
melukat merupakan ritual adat Hindu
Bali sehingga pakaian dan sajen disesuaikan dengan kebiasaan masyarakat Bali. Bercermin dari
keberhasilan pura Tirta Empul sebagai lokasi melukat maka bermunculan spot melukat di berbagai daerah yang memiliki sumber air alami yang mengalir sepanjang tahun. Demikianlah, melukat berubah dari ritual menjadi kegiatan wisata yang religius dan dapat dilakukan di berbagai lokasi. Contoh lokasi melukat yang banyak dikunjungi masyarakat adalah Sebatu, Sudamala, Selukat, Campuhan dan lain-lain yang semuanya memanfaatkan pancuran alami. Salah satu lokasi melukat di kabupaten Badung yang mulai ramai dikunjungi adalah Taman Mumbul yang berada dalam satu kawasan dengan objek wisata Alas Pala atau Sangeh Monkey Forest yang ditempuh dalam 30 menit perjalanan dari Denpasar. Sebelumnya Taman Mumbul hanya dikenal dengan telaga yang luas namun kurang terawat. Pada tahun 2017 renovasi dilaksanakan dengan menata telaga, membangun spot melukat dan wantilan sebagai tempat istirahat setelah melukat. Mata air tempat melukat dinamakan Penglukatan
Pancoran Solas ‘sebelas pancuran’.
Berbeda dengan pancuran di Pura Tirta Empul yang dilengkapi nama tirta yang mengaliri setiap pancuran, penglukatan solas dilengkapi dengan nama dewa-dewi yang memberkati tirta yang mengalir di setiap pancuran. Terdapat sebelas dewa yang memberkati tirta
penglukatan masing-masing: Dewi
Gangga, Dewi Saraswati, Dewa Iswara, Dewa Maheswara, Dewa Brahma, Dewa Rudra, Dewa Mahadewa, Dewa Sangkara, Dewa Wisnu, Dewa Sambu dan Dewa Siwa. Fasilitas kamar mandi, ruang ganti, loker, penyewaan kain dan selendang juga tersedia. Pengunjung diarahkan untuk meletakkan sajen dan sembahyang terlebih dahulu lalu mandi di pancuran. Prosesi melukat dimulai kanan ke kiri atau mulai dengan memohon berkah Dewi Gangga dan berakhir setelah memperoleh berkat dari Dewa Siwa.
Sebagai spot wisata religius, Taman Mumbul juga menata telaga
Jurnal Manajemen Pelayanan Hotel Akademi Komunitas Manajemen Perhotelan Indonesia (Mekarini, halaman 84-91) Vol 4, No 2 Edisi Desember 2020
90 menjadi kolam luas dilengkapi ribuan
ikan gurami, ikan emas, lele, dan jenis ikan lainnya. Mitos kolam berpenghuni tetap dilestarikan agar ikan yang ditebar tidak diganggu oleh orang usil. Diyakini bahwa apabila ada orang yang menangkap ikan atau mengganggu ikan di kolam tersebut dipastikan mendapat musibah, seperti mendapat kecelakaan hingga tidak bisa tidur untuk beberapa malam. Kondisi sulit tidur akan kembali normal jika sudah menyatakan diri bersalah dan membawa sajen guru
piduka ‘permohonan maaf’. Biasanya
yang bersangkutan diwajibkan berjanji tidak mengulangi keisengan serupa. Versi lain menyebutkan ikan-ikan itu tidak boleh dipancing karena dipandang sebagai milik dewata penghuni telaga. Masyarakat percaya bahwa barang siapa yang memancing atau mengambil ikan di telaga itu akan mengembalikannya lagi dengan segera. Diyakini bahwa ikan yang diambil akan membawa masalah bagi pelaku sehingga harus segera dikembalikan ke telaga Taman Mumbul. Ada juga cerita bahwa air yang mengalir dan kerap dikonsumsi oleh penduduk setempat mengandung khasiat awet muda. Konon, kedua mitos tersebut telah terbukti nyata.
Pada masa lalu, melukat diidentikkan sebagai cara keluar dari perasaan berdosa, kotor, deraan sakit dan penyakit. Kini melukatmerupakan kegiatan berwisata. Peserta melukat bukanlah orang yang sedang sedih, tertimpa masalah atau sejenisnya melainkan berwisata sambil mandi dan sembahyang. Kunjungan ke pancuran cenderung dimaksudkan memperoleh ketenangan, badan segar, pikiran tenang, sehingga tidak emosional dan tidak mudah naik pitam. Kesegaran tubuh tentu tercapai karena guyuran air pancuran yang dingin dan menyejukkan. Tubuh yang segar diharapkan memberi ketenangan pikiran, santun dalam berucap dan bertindak sesuai norma. Terkait memenuhi harapan pemedek
‘pengunjung’ mendapat ketenangan, maka pada masa pandemi penglukatan pancoran solas membuka air buangan sehingga tersisa setinggi tumit. Hal itu dilakukan sebagai pembersihan lokasi dilanjutkan dengan penyemprotan disinfektan sebagai upaya memutus penularan covid19. Setelah ditutup selama 4 bulan, lokasi penglukatan kembali dibuka pada masa kenormalan baru dengan memperhatikan protokol kesehatan. Untuk menjaga jarak, melukat dianjurkan per keluarga. Jika satu keluarga telah naik maka keluarga berikutnya baru diijinkan memasuki telaga penglukatan. Sebelum pandemi, pemedek berasal dari berbagai daerah yang jauh, seperti Ubud, Jimbaran, Singaraja, Kerambitan, hingga turis mancanegara, namun kini jumlah pemedek menurun drastis. Pengelola bahkan memperhatikan keamanan pemedek dengan menyediakan lahan parkir yang luas, bak cuci tangan dan sabun, serta pengaturan melukat berjarak. Akan tetapi, jumlah pengunjung tergolong sepi sebagaimana spot lain di seluruh Bali terdampak pandemi. Sebagai gantinya, penurunan kunjungan dimaknai sebagai introspeksi demi layanan lebih baik melalui mengikuti pelatihan dan pendampingan desa wisata, membersihkan sarana prasarana serta menata efisiensi operasional.
PENUTUP
Kegiatan berwisata religius dalam bentuk melukat bagi masyarakat Bali kian digemari sebagai kunjungan ke tempat suci bersama keluarga dan kolega untuk mendapatkan kebugaran tubuh dan ketenangan jiwa. Sensasi yang diperoleh bukan saja pengalaman mandi di pancuran berair deras tetapi juga berendam setinggi pinggang di air mengalir. Air pancuran yang diberkati para dewa diyakini memberi fungsi yang nyata bagi kebersihan diri dan kesegaran batin. Melukat kini menjadi kegiatan yang dapat dilaksanakan setiap saat tanpa membutuhkan sajen
91 yang besar tetapi berdampak besar bagi
kebugaran setiap peserta.
Penelitian ini meneropong melukat dari tinjauan kualitatif dan diharapkan peneliti selanjutnya mengalisis permasalahan sejenis dari sudut pandang kuantitatif atau bahkan mengembangkan topiknya. Hal itu menjadi penting sebab dalam masa kenormalan baru terjadi banyak masalah yang mendera seperti kehilangan pekerjaan, minimnya pendapatan, ditambah teknologi digital yang memaksa masuk ke setiap keluarga. Tentu perubahan itu mendatangkan banyak tekanan yang setidaknya dapat diminimalisir dengan berwisata religius bersamakeluarga. DAFTAR PUSTAKA
Bonvillain, N. 2003. Language, Culture and Communication: The Meaning of Messages. New Jersey: Pearson Education Inc.
Halliday, M.A.K. 2004. An Introduction to Functional Grammar. London: Edward Arnold.
Kovecses, Z. 2006. Language, Mind and Culture. New York: Oxford University Press, Inc.
Kress, G. 1985. Ideological Structure in Discourse. Dalam Dijk, T,. ed. Dimension of Discourse. Volume 2. Amsterdam: Academic Press.
Larson, M. 2010. Meaning-Based Translation. New York: University Press of America Inc.
Levinson, S. 1987. Pragmatics. Cambridge: Cambridge University Press.
Mekarini, NW. 2014. Inviting and Rejecting Rain Texts by Balinese Migrant Community in Sumbawa: Systemic Functional Analysis. IJMER Vol. 5 issue 6 (1) 2016. Nesta. 1998. Masyarakat Bali dalam
Kebalian yang Tersamarkan.
Makalah. Denpasar: Dirjen Kebudayaan RI.
Palmer, G. 1996. Toward a Theory of
Cultural Linguistics. Austin:
University of Texas Press.
Pertiwi, Desak Putu Eka. 2015. Iklan Komersial pada Media Elektronik: Gaya Bahasa, Makna, dan Ideoligi (Disertasi). Denpasar: Program Doktor Linguistis Universitas Udayana.
Picard, Michel. 2006. Bali: Pariwisata Budaya dan Budaya Pariwisata. Volume 05, Nomor 02, Oktober 2015. Ritzr, George. 2007. Modern
Sociological Theory. California: McGrawHill Education.
Sedyawati, Edi. 2007. Keindonesian dalam Budaya. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
Sutjaja, I. G. M. 1988. Semantic Interpretation of the Nominal Group in Structure in Bahasa Indonesia (disertasi). Sydney: Department of Lingusitics University of Sydney. Suwardani, NP. 2015. Pewarisan
Nilai-nilai Kearifan Lokal untuk Memproteksi Masyarakat Bali dari Dampak Negatif Globalisasi. Jurnal Kajian Bali Volume 05, Nomor 02, Oktober 2015.
Suwardani, NP. 2019. Culture Tourism and Tourism Culture. Hlm. 247-264. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Tim Kemenparekraf. 2020. Pemberdayaan dan Pendampingan Desa Wisata 2020 (materi sosialisasi ToT). Jakarta.
Triguna, Ida Bagus Gde Yudha. 2011. Mengapa Bali Unik?. Jakarta: Pustaka Jurnal Keluarga.
Weck, Wolfgang. 1976. Heilkunde und Volkstum auf Bali. Jakarta: PT Intermasa.
Wolf, Martin. 2007. Globalisasi Jalan Menuju Kesejahteraan. Alih Bahasa: Samsudin Berlian. Dari, “Why Globalization Works”. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.