• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS FORMALDEHIDA PADA POPOK BAYI (DISPOSABLE DIAPERS) DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL - Repositori Universitas Andalas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ANALISIS FORMALDEHIDA PADA POPOK BAYI (DISPOSABLE DIAPERS) DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL - Repositori Universitas Andalas"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

I. PENDAHULUAN

Seiring kemajuan zaman jenis-jenis perlengkapan bayi saat ini makin berkembang dan mudah didapatkan. Salah satunya adalah popok bayi. Sekarang telah tersedia popok sekali pakai atau disposable diapers yang lebih praktis penggunaannya. Disposable diapers telah mulai digunakan sejak bayi baru lahir, pemakaiannya kemudian berkurang seiring bertambahnya umur bayi (Environment Agency, 2004).

Disposable diapers menjadi pilihan utama bagi ibu-ibu dalam memilih popok bayi.

Disposable diapers dapat memudahkan ibu dalam menjaga kebersihan dan kenyamanan bayi

terutama di waktu bayi tidur dan bepergian sehingga tidak memerlukan waktu yang lama dan efisien serta mudah dibawa. Selain itu, disposable diapers bisa didapat dimanasaja dan kapan saja terutama di kota-kota besar. Ditambah lagi dengan banyaknya iklan saat ini yang menawarkan kelebihan dari disposable diapersdengan harga yang relatif murah menyebabkan disposable diapers mudah sekali diterima sebagai alternatif dari celana biasa dalam menyerap

buangan air seni bayi (Murtini, 2012).

Disposable diapers merupakan produk sekali pakai yang digunakan untuk menyerap

urin dan menampung feses bayi. Disamping penggunaannya yang praktis, diketahui adanya kemungkinan bahaya dari penggunaan disposable diaper yaitu adanya kandungan zat kimia yang dapat membahayakan bayi, salah satunya adalah formaldehida (Anonim, 2008). Formaldehida digunakan sebagai anti wet agent dan untuk menekan kontaminasi mikroorganisme (Anonim, 2010).

(2)

Farmakope Indonesia edisi IV formalin merupakan larutan formaldehida lebih kurang 38,5% (Depkes RI, 1995).

Formaldehida dapat menyebabkan terjadinya dermatitis kontak alergika (radang kulit akibat kontak dengan bahan yang merangsang reaksi alergi pada kulit) pada kulit yang sensitif. Uap formaldehida dapat mengiritasi kulit, mata, hidung, saluran pernafasan (Health and Safety Executive, 1981).

Bahaya jangka pendek formaldehida akan menimbulkan perubahan warna pada kulit, seperti kulit menjadi merah, dan ada rasa terbakar, sedangkan bahaya jangka panjang dapat menyebabkan kulit terasa panas, mati rasa, gatal-gatal serta memerah, kerusakan pada jari tangan, pengerasan kulit dan kepekaan pada kulit, dan terjadi radang kulit (Judarwanto, 2006).

Sampai saat ini belum ditemukan jurnal nasional maupun internasional yang menginformasikan tentang kadar formaldehida pada disposable diapers dan belum ditemukan pula acuan yang mengatur tentang ambang batas kadar formaldehida pada disposable diapers. Namun acuan yang paling mendekati adalah berdasarkan SNI 7617:2010 tentang “Persyaratan zat warna azo dan kadar formaldehida pada kain untuk pakaian bayi dan anak”.Batas aman

kadar formaldehida yang diperbolehkan pada kain untuk pakaian bayi dan anak adalah 75 ppm untuk anak usia diatas 36 bulan (Badan Standar Nasional, 2010a).

Referensi

Dokumen terkait

Screening before cancer development may be con- sidered for patients with a higher risk of the disease either due to a known genetic syndrome or a family history of pancreatic

b) Jika nilai investasi Mudharabah hilang setelah dimulainya usaha tanpa adanya kelalaian atau kesalahan pengelola dana, maka kerugian tersebut diperhitungkan

Kebudayaan Indonesia walau beranekaragam, namun pada dasarnya terbentuk dan dipengaruhi oleh kebudayaan besar lainnya seperti kebudayaan Tionghoa, kebudayaan India

Kepada peserta "magang" Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (Yayasan Damandiri) berkerja sama dengan LIPM membantu sebagian biaya magang antara lain berupa biaya transport

Karena itu dalam penulisan ini berisi informasi nilai ahir siswa khususnya siswa kelas 2 yang akan naik ke kelas 3 yang dapat dilihat dengan melihat melalui nama siswa, melihat

Mulai pada tahun 1927, yaitu 40 tahun setelah meletusnya Gunung Krakatau, muncul gunung api baru yang dikenal dengan nama Anak Krakatau dari tempat bekas letusan.. Saat

Pengujian ini dilakukan untuk melihat konsumsi bahan bakar yang digunakan pada kondisi diam (putaran stasioner) dan membandingkan karakteristik kendaraan bermotor tanpa

Setelah kanak-kanak tersebut melihat patung tersebut, mereka meniru aksi-aksi yang dilakukan oleh orang yang mereka tonton dalam video (Ramlah Jantan & Mahani