Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE
TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Departemen Pendidikan Sejarah
Oleh
Nuris Tyanti 1002974
DEPARTEMEN PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE
TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Oleh
NURIS TYANTI
Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar
Sarjana Pendidikan pada Departemen Pendidikan Sejarah
Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
© Nuris Tyanti 2015 Universitas Pendidikan Indonesia
Agustus 2015
Hak Cipta dlindungi undang-undang.
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
ABSTRAK
Skripsi ini berjudul “Dampak Sinhala Only Act Solomon Bandaranaike Terhadap Etnis Tamil di Ceylon (1956-1972)”. Hal yang melatarbelakangi penelitian ini adalah ketertarikan peneliti terhadap sebuah kebijakan yang diambil oleh Perdana Menteri keempat Ceylon yaitu Solomon Bandaranaike. Kebijakan Solomon Bandaranaike dengan tema Sinhala Buddha yang disahkannya di Ceylon adalah sebuah kebijakan yang memberikan dampak luar biasa terhadap kehidupan sosial, budaya, ekonomi dan bahkan politik di negara tersebut. Terutama terhadap perubahan sosial budaya masyarakat dari kelompok minoritas Ceylon yang merasa sangat dirugikan oleh kebijakan dari Perdana Menteri keempat Ceylon tersebut. Masalah utama yang diangkat dalam skripsi ini adalah “Mengapa Solomon Bandaranaike Menerapkan ’Sinhala Only Act’ di Ceylon?”. Masalah utama tersebut kemudian disusun ke dalam tiga pertanyaan penelitian, yaitu (1) Bagaimana kondisi sosial budaya, dan politik masyarakat Ceylon pada tahun 1956-1972? (2) Bagaimana penerapan Sinhala Only Act oleh Solomon Bandaranaike terhadap perubahan kehidupan etnis Tamil di Ceylon pada tahun 1956-1972? (3) Bagaimana dampak Sinhala Only Act dari Solomon Bandaranaike terhadap perubahan kehidupan etnis Tamil di Ceylon pada tahun 1956-1972? Berdasarkan hasil penelitian, penerapan kebijakan bertema Sinhala Buddha oleh Perdana Menteri Solomon Bandaranaike yang dikenal dengan nama Sinhala Only Act merupakan sebuah kebijakan yang disahkan pada bulan Juni 1956, yakni menjadikan bahasa Sinhala sebagai bahasa nasional yang digunakan untuk seluruh kegiatan administratif di Ceylon. Sebelum disahkannya Sinhala Only Act oleh Perdana Menteri Solomon Bandaranaike, bahasa nasional yang digunakan adalah bahasa Inggris sebagai bahasa pemersatu dan bahasa penunjang kegiatan administratif negara. Akan tetapi, setelah Sinhala Only Act diterapkan, kelompok etnis Tamil mengalami kesulitan dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari, mulai dari kegiatan perdagangan, pendidikan, dan bahkan pemerintahan, mereka diharuskan untuk menggunakan bahasa Sinhala yang merupakan bahasa dari etnis mayoritas Ceylon yang tidak pernah mereka pelajari sebelumnya. Diterapkannya Sinhala Only Act bukan hanya dipandang sebagai bentuk diskriminasi terhadap etnis Tamil, yang menjadikan kelompok etnis Tamil kesulitan dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari, melainkan juga menimbulkan adanya disintegrasi antar etnis Sinhala yang mendapatkan dukungan dari pemerintah dengan etnis Tamil yang menginginkan keadilan dari pemerintah Ceylon.
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
ABSTRACT
This research entitled "The Impact of Sinhala Only Act Solomon Bandaranaike to the Tamil Ethnic in Ceylon (1956-1972)". The background of this study is the interest of researcher towards a policy adopted by the fourth Prime Minister of Ceylon namely Solomon Bandaranaike. The policy of Solomon Bandaranaike with the theme of the Buddhist Sinhala that was legalized in Ceylon is a policy that gives a extraordinary impact on the social, cultural, economic and even politics in the country. Mainly to changes in social culture of society from Ceylon minority who feel disadvantaged by the policy from the fourth Prime Minister of Ceylon. The main problem raised in this paper is "Why Solomon Bandaranaike applying the 'Sinhala Only Act' in Ceylon?" The main problem is then organized into three research questions: (1) How does the social cultural conditions, political and Ceylon community in the year of 1956 to 1972? (2) How is the implementation of Sinhala Only Act by Solomon Bandaranaike to change the lives of Tamil ethnic in Ceylon in the year of 1956 to 1972? (3) What is the impact Sinhala Only Act of Solomon Bandaranaike to change the lives of Tamil ethnic in Ceylon in the year of 1956 to 1972? Based on the research results, the implementation of the policy with the theme of Sinhala Buddhist by Prime Minister of Solomon Bandaranaike known as the Sinhala Only Act was a policy that was legalized on June 1956, which made Sinhala as the national language which is used for all administrative activities in Ceylon. Before the legalized of Sinhala Only Act by Prime Minister of Solomon Bandaranaike, the national language is English as a unifying language and the support language of the state administration activities. However, after the Sinhala Only Act applied, Tamil ethnic have difficulty in doing daily activities, begin from trading activities, education, and governments, they were required to use Sinhala which is the language of the majority ethnic Ceylon they never learned previously. The implementation of Sinhala Only Act is not only seen as a form of discrimination to Tamil ethnic, who make Tamil ethnic difficulty in doing daily activities, but also give rise to the disintegration of ethnic Sinhala are getting support from the government and the Tamil ethnic who want justice from the government of Ceylon.
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
KATA PENGANTAR ... i
UCAPAN TERIMA KASIH ... ii
ABSTRAK ... iv
ABSTRACT ... v
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 5
1.3 Tujuan Penelitian ... 5
1.4 Manfaat Penelitian ... 6
1.5 Penjelasan Judul ... 7
1.6 Struktur Organisasi Skripsi ... 8
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.1 Buku-buku yang Membahas Mengenai Sinhala Only Act ... 10
2.2 Buku-buku yang Membahas Mengenai Mengenai Perdana Menteri Solomon Bandaranaike .. ... 12
2.3 Buku-buku yang Membahas Mengenai Dampak Diberlakukannya Sinhala Only Act oleh Solomon Bandaranaike ... 15
2.4 Buku-buku yang Membahas Mengenai Kondisi Georgafis, Sosial, Budaya, Politik dan Ekonomi Masyarakat Ceylon ... 16
2.5 Penelitian dalam Bentuk Artikel Jurnal ... 19
2.6 Teori Kepemimpinan dan Teori Konflik ... 20
2.6.1. Teori Kepemimpinan ... 21
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ... 29
3.1.1 Metode Penelitian ... 29
3.1.2 Teknik Penelitian ... 30
3.2 Tahap – tahap Penelitian ... 31
3.2.1. Penentuan dan Pengajuan Tema Penelitian ... 31
3.2.2 Penyusunan Rancangan Penelitian ... 32
3.2.3 Bimbingan ... 33
3.3 Pelaksanaan Penelitian ... 33
3.3.1 Heuristik ... 34
3.3.2 Kritik Sumber ... 36
3.3.2.1 Kritik Internal ... 37
3.3.2.2 Kritik Eksternal ... 38
3.3.3 Interpretasi ... 41
3.3.4 Historiografi ... 42
BAB IV DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972) 4.1 Kondisi Geografis, Demografis dan Kondisi Fisik Ceylon ... .... 46
4.2 Kondisi Sosial, Budaya, Ekonomi, dan Politik Masyarakat Ceylon Pada Periode Tahun 1956-1972 ... 49
4.2.1 Kehidupan Religi Masyarakat Ceylon Pada Periode Tahun 1956-1972 ... 50
4.2.2 Bahasa yang Digunakan Masyarakat Ceylon Pada Periode Tahun 1956-1959 ... 52
4.2.3 Pendidikan Masyarakat Ceylon Pada Periode Tahun 1960-1972 ... 55
4.2.4 Kondisi Ekonomi di Ceylon Pada Tahun 1956-1972 ... 60
4.2.5 Kondisi Politik di Ceylon Pada Tahun 1956-1972 ... 61
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
4.4 Dampak Sinhala Only Act Terhadap Kehidupan Sosial Budaya,
Ekonomi dan Politik Kelompok Etnis Tamil Di Ceylon Pada Tahun
1956-1972 ... 83
4.4.1 Dampak Sinhala Only Act Terhadap Kehidupan Sosial Budaya
Kelompok Etnis Tamil di Ceylon Pada Tahun 1956-1972 ... 84
4.4.2 Dampak Sinhala Only Act Terhadap Kehidupan Ekonomi
Kelompok Etnis Tamil di Ceylon Pada Tahun 1956-1972 ... 90
4.4.3 Dampak Sinhala Only Act Terhadap Kehidupan Politik Kelompok
Etnis Tamil di Ceylon Pada Tahun 1956-1972 ... 92
4.5 Implikasi Antara Masyarakat Multikultural Ceylon dengan Masyarakat
Multikultural di Indonesia ... 96
BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI
5.1 Simpulan ... 98
5.2 Rekomendasi ... 101
DAFTAR PUSTAKA ... 103
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pada tahun 1796 sampai dengan tahun 1948 Ceylon merupakan negara
jajahan Bangsa Inggris. Pada saat pemerintah kolonial Inggris berkuasa di Ceylon,
pemerintah Inggris memasukkan orang-orang Tamil dari India Selatan ke Ceylon
untuk bekerja diperkebunan teh, kopi, dan karet. Bagi pemerintah Inggris, kelompok
etnis Tamil lebih tangguh untuk bekerja di perkebunan tropis sertagajinya murah jika
dibandingkan dengan penduduk mayoritas yang mendiami tanah Ceylon (Haraprasad,
1994, hlm.15). Seperti yang dipaparkan oleh James Jupp bahwa,
Indian Tamil estate workers were the largest proletarian force in the island and Indian Tamils were also very important among Colombo harbour and municipal workers. The voting qualifications of Indian Tamils had always been a controversional point: the estate workers, as British subjects, were allowed to vote and controlled six seats and 75,000 votes through the Ceylon Indian Congress (Jupp, 1978, hlm.6).
Sejalan dengan pemaparan James Jupp, pada masa pemerintahan kolonial
Inggris di Ceylon, etnis Tamil memiliki pengaruh yang cukup besar di Ceylon baik di
bidang politik maupun perekonomian, terutama pada sektor industri teh. Mereka
termasuk orang-orang yang tekun bekerja, sehingga mereka ditempatkan di atas etnis
mayoritas dalam berbagai unsur kehidupan di Ceylon. Sebagai pegawai pemerintah,
mereka juga diberikan porsi yang lebih banyak dibandingkan dengan kelompok
mayoritas Ceylon yakni etnis Sinhala. Loyalitas dan keuletannya, menyebabkan etnis
Tamil mendominasi jajaran birokrasi dalam pemerintahan di Ceylon. Hal ini
menimbulkan kecemburuan dan kebencian kelompok etnis Sinhala kepada etnis
Tamil yang dianggap telah diberikan keutamaan dalam aspek perekonomian dan
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Pada tanggal 4 Februari 1948, Ceylon memperoleh kemerdekaannya pada saat
Bangsa Inggris mengosongkan basis militernya dari Ceylon, sejak saat itu negara
Ceylon mulai menjalankan pemerintahannya. Tidak lama setelah kemerdekaan,
kelompok mayoritas Ceylon yakni etnis Sinhala menginginkan agar pemerintah
membuat suatu kebijakan baru dengan mengganti kebijakan kolonial yang dianggap
diskriminatif terhadap kelompok etnis Sinhala, terutama sebuah kebijakan untuk
menggantikan penggunaan bahasa Inggris dengan bahasa lokal sebagai bahasa resmi
negara (Richards & Wilbert, 1980, hlm.1).
Sebelum tahun 1956, bahasa Inggris masih digunakan sebagai bahasa resmi
baik dalam tatanan pemerintahan, pendidikan, dan pekerjaan baik dalam bidang
perdagangan maupun industri di Ceylon. Namun pada awal tahun 1956 sebelum
diadakannya pemilihan parlemen, pemimpin Mahajana Eksath Peramuna yang juga
merupakan salah satu bagian dari Etnis Sinhala yakni Solomon Bandaranaike,
mencalonkan diri untuk posisi Perdana Menteri dan mengambil tema Sinhala Buddha
sebagai dasar kampanyenya (Anggraeni, 1999, hlm.43). Solomon Bandaranaike
dalam kampanyenya berjanji untuk menjadikan Bahasa Sinhala menjadi bahasa resmi
Ceylon, melalui dukungan dari tokoh-tokoh Buddha dan kelompok mayoritas
Sinhala, Solomon Bandaranaike memenangkan pemilihan dan dinobatkan sebagai
Perdana Menteri keempat di Ceylon (Peebles, 2006, hlm.13). Tujuan para tokoh
Sinhala dan kelompok mayoritas Sinhala ialah untuk menjadikan kelompoknya
memiliki peranan yang penting dalam berbagai unsur kehidupan masyarakat di
Ceylon menggantikan posisi Etnis Tamil. Meskipun mereka adalah etnis mayoritas di
Ceylon, mereka beranggapan sudah cukup lama menjadi nomor dua, sehingga mereka
memerlukan sosok pemimpin yang dianggap dapat membawa mereka pada
kemakmuran dan kesejahteraan terutama bagi kelompoknya. Mereka akan
mendukung pemimpin yang menjanjikan porsi besar bagi kepentingan Etnis Sinhala
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Solomon Bandaranaike sebagai pemimpin baru Ceylon memberikan suatu
pernyataan terkait menata kembali struktur pemerintahan negara Ceylon dengan cara
merealisasikan janji yang ia ucapkan kepada masyarakat Ceylon pada saat kampanye,
yakni membuat sebuah kebijakan dengan tema Sinhala-Buddha. Kebijakan tersebut
dikenal dengan nama Sinhala Only Act. Kelompok Etnis Tamil yang merupakan
kelompok minoritas di Ceylon, merasa bahwa kebijakan yang ditetapkan oleh
Perdana Menteri Solomon Bandaranaike telah membuat mereka mendapatkan porsi
yang kecil dalam mendapatkan hak-haknya sebagai bagian dari masyarakat Ceylon,
baik dalam hal pendidikan, pekerjaan, maupun dalam sektor pemerintahan. Berkaitan
dengan hal itu, artikel Britannica.com mengungkapkan bahwa,
Sinhala Only Bill, (1956), act passed by the government of Ceylon (now Sri Lanka) making Sinhalese the official language of the country. The bill was the first step taken by the new government of S.W.R.D. Bandaranaike to realize one of the main campaign promises that had brought about his landslide victory in the 1956 general election. Violently opposed by the Tamil-speaking minority in Ceylon, the passage of the bill was followed by rioting (Article, Arasaratnam, dalam. www.britannica.com/EBchecked/topic/546059/Sinhala-Only-Bill diakses pada tanggal 27 Juli 2014).
Disahkannya Sinhala Only Act oleh Perdana Menteri Solomon Bandaranaike
dengan menjadikan bahasa Sinhala sebagai bahasa resmi negara, secara tidak
langsung memaksa kelompok etnis Tamil untuk menggunakan bahasa Sinhala
sebagai bahasa yang harus mereka gunakan untuk melakukan aktivitas sehari-hari
mereka di Ceylon. Dewi Anggraeni mengungkapkan bahwa, kebijakan Sinhala Only
Act dari Solomon Bandaranaike tersebut telah merubah seluruh aspek kehidupan
kelompok etnis Tamil di Ceylon. Kelompok etnis Tamil semakin tidak senang atas
kebijakan yang diskriminatif tersebut, mereka berusaha untuk menuntut hak-hak
mereka sebagai bagian dari masyarakat Ceylon, yakni dengan melakukan aksi protes
kepada pemerintah Ceylon (Anggraeni, 1999, hlm.44). Mereka yang berbeda bahasa
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
kebijakan bagi rakyatnya. Terutama dampak dari adanya ‘Sinhala Only Act’ yang
dirasa telah mengesampingkan etnis selain Sinhala yang ada di Ceylon, baik itu
dampak dari segi sosial, budaya, ekonomi, serta dalam hal pemerintahan.
Berdasarkan fakta-fakta yang telah dipaparkan sebelumnya, maka penulis
tertarik untuk mengkaji lebih jauh mengenai Sinhala Only Act yang diambil oleh
Solomon Bandaranaike serta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat Ceylon,
terutama kelompok Etnis Tamil. Ketertarikan penulis dengan skripsi ini adalah :
Pertama, belum ada yang membahas tentang Sinhala Only Act sebagai kebijakan
yang diambil oleh Solomon Bandaranaike dan pengaruhnya terhadap kehidupan Etnis
Tamil di Ceylon, terutama dalam bentuk skripsi di Departemen Pendidikan Sejarah
UPI. Hal ini membuat penulis merasa perlu untuk meneliti dan menjadikannya
sebagai karya ilmiah penulis. Kedua, penulis ingin mengetahui latar belakang
kehidupan Solomon Bandaranaike yang mempengaruhi kebijakan dan
kepemimpinannya di Ceylon. Ketiga, sukses besarnya Solomon Bandaranaike dalam
mengusahakan kemajuan bagi Ceylon dengan tema Sinhala Buddha melalui Sinhala
Only Act ternyata tidak menjadi jaminan bagi Solomon untuk dapat melanggengkan
kekuasaanya. Bahkan di tahun 1959, Solomon Bandaranaike secara tiba-tiba harus
mengakhiri masa jabatannya sebagai Perdana Menteri Ceylon karena ia dibunuh oleh
salah seorang pendeta Buddha dari kelompok etnis mayoritas yang didukungnya.
Keempat, penulis ingin mengetahui dampak dari penerapan Sinhala only Act terhadap
kehidupan kelompok etnis Tamil yang merupakan kelompok etnis minoritas di
Ceylon.
Berdasarkan pemaparan yang telah dijelaskan di atas, penulis merasa tertarik
dan menjadikannya sebagai ide dasar dari penulisan skripsi ini. Maka dari itu, penulis
mencoba untuk melakukan penelitian dan menulis sebuah karya ilmiah dengan judul:
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
1.2. Rumusan Masalah
Berkaitan dengan latar belakang permasalahan di atas, adapun rumusan
masalah penelitiannya adalah “Mengapa Solomon Bandaranaike Menerapkan
’Sinhala Only Act’ di Ceylon?”. Dari rumusan masalah tersebut, kemudian dijabarkan
lagi kedalam pertanyaan-pertanyaan penelitian, antara lain sebagai berikut:
1. Bagaimana kondisi sosial budaya, ekonomi dan politik masyarakat Ceylon
pada tahun 1956-1972?
2. Bagaimana penerapan ‘Sinhala Only Act’ oleh Solomon Bandaranaike
terhadap kehidupan etnis Tamil di Ceylon pada tahun 1956-1972?
3. Bagaimana dampak ‘Sinhala Only Act’ dari Solomon Bandaranaike terhadap
perubahan kehidupan sosial budaya, ekonomi dan politik kelompok etnis
Tamil di Ceylon pada tahun 1956-1972?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pokok pikiran di atas, adapun tujuan yang hendak dicapai dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mendeskripsikan mengenai kondisi sosial budaya, ekonomi dan politik
masyarakat Ceylon pada saat, dan setelah pemerintahan Solomon
Bandaranaike yakni pada periode waktu 1956-1972.
2. Menganalisis kebijakan ‘Sinhala Only Act’ yang diterapkan oleh Solomon
Bandaranaike terhadap kehidupan Etnis Tamil di Ceylon pada periode tahun
1956-1972.
3. Menggambarkan dampak dari ‘Sinhala Only Act’ yang ditetapkan oleh
Solomon Bandaranaike terhadap perubahan kehidupan sosial budaya,
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
1.4. Manfaat Penelitian
Dengan mengkaji pembahasan mengenai “Dampak Sinhala Only Act Solomon
Bandaranaike Terhadap Etnis Tamil Di Ceylon (1956-1972)” ini diharapkan dapat
memberikan manfaat baik bagi penulis, maupun orang lain yang membacanya.
Adapun manfaat penelitian ini secara umum adalah sebagai berikut:
1. Bagi penulis, penelitian ini dapat memperoleh suatu pengalaman yang sangat
berharga dalam mengembangkan pengetahuan/informasi terkait salah satu
kawasan di Asia Selatan yakni Ceylon (Sri Lanka), serta sebagai bekal dalam
proses pembelajaran sejarah.
2. Bagi siswa, penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk membantu
meningkatkan pemahaman historis siswa khususnya terkait dengan sejarah di
kawasan Asia Selatan. Selain itu penelitian ini juga diharapkan mampu untuk
memotivasi belajar siswa dan memberikan pandangan bahwa belajar sejarah
itu menyenangkan, tidak hanya terpaku pada angka tanggal atau sesuatu yang
bersifat faktual lainnya, tetapi dengan belajar sejarah siswa juga dapat
memetik hikmah dari peristiwa sejarah itu sendiri, terutama karena di dalam
sejarah berkaitan dengan aspek kehidupan manusia baik itu sosial budaya,
politik dan juga ekonomi.
3. Bagi pendidik, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan yang luas
terkait materi mengenai sejarah di kawasan Asia Selatan, khususnya Ceylon
(Sri Lanka).
4. Bagi sekolah, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya materi ajar tentang
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
5. Bagi Universitas Pendidikan Indonesia, khususnya Departemen Pendidikan
Sejarah, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap
pengembangan penelitian sejarah mengenai kehidupan dan kebijakan politik
di Ceylon (Sri Lanka) pasca kemerdekaan, khususnya pada masa
pemerintahan Solomon Bandaranaike.
1.5. Penjelasan Judul 1. Sinhala Only Act
Sinhala Only Act merupakan nama dari kebijakan yang diterapkan oleh
Perdana Menteri keempat Ceylon yakni Solomon Bandaranaike. Kebijakan ini lebih
diprioritaskan untuk kepentingan etnis Sinhala di Ceylon. Sinhala Only Act
diberlakukan pada tahun 1956 oleh Solomon Bandaranaike. Melalui Sinhala Only Act
Solomon Bandaranaike menata kembali pemerintahan, menetapkan agama Buddha
sebagai agama resmi dan bahasa Sinhala menjadi satu-satunya bahasa resmi di
Ceylon (Peebles, 2006, hlm.15).
2. Ceylon
Ceylon merupakan negara jajahan Inggris yang merdeka tahun 1948. Inggris
memberikan status dominan kepada Ceylon pada tanggal 4 Februari 1948, serta
menyerahkan seluruh kontrolnya atas Ceylon. Sejak saat itu Ceylon memegang penuh
pemerintahannya dan menjadi anggota persemakmuran Inggris (the British
Commonwealth). Ceylon merupakan negara yang multikultural dengan
bermacam-macam etniknya antara lain Sinhala, Ceylon Tamils, Ceylon Moors, Malays, serta
etnik lainnya yang tinggal atau menetap di Ceylon dan menjadi warga Ceylon (Blaze,
1961, hlm.17). Pada tahun 1972 Ceylon berganti nama menjadi Sri Lanka dengan
bentuk negara Republik.
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Penulis tidak menggunakan nama negara Sri Lanka dalam skripsi ini, sebab
Sri Lanka merupakan negara jajahan Inggris yang merdeka pada tahun 1948 dengan
nama Ceylon, yang pada tahun 1972 baru berganti nama menjadi Sri Lanka. Kurun
waktu yang diambil dalam skripsi ini yaitu periode tahun 1956-1972. Periode ini
merupakan masa pada saat, dan setelah Solomon Bandaranaike berkuasa sebagai
Perdana Menteri di Ceylon. Saat Solomon Bandaranaike berkuasa, ia memberlakukan
‘Sinhala Only Act’ pada tanggal 14 Juni 1956. Sejak diberlakukannya kebijakan
tersebut, telah menimbulkan adanya perubahan yang memunculkan sentimen etnis,
dan berujung pada adanya gerakan separatis dari kelompok etnis Tamil. Walaupun
Solomon Bandaranaike telah meninggal dunia pada tahun 1959, dampak dari
‘Sinhala Only Act’ masih dirasakan oleh masyarakat Ceylon pada tahun-tahun berikutnya. Hingga saat Ceylon berganti nama menjadi Sri Lanka dengan bentuk
negara republik pada tahun 1972, dampak dari Sinhala Only Act masih tetap
dirasakan oleh masyarakatnya.
1.6. Struktur Organisasi Bab I Latar Belakang
Dalam Bab I ini memuat latar belakang penelitian, perumusan masalah yang
di dalamnya terdapat sejumlah pertanyaan yang ada dalam permasalahan, tujuan, dan
manfaat penelitian. Dalam latar belakang ini akan lebih digambarkan mengenai
kesenjangan atau permasalahan dari topik yang akan dikaji.
Bab II Kajian Pustaka
Kajian Pustaka memberikan informasi sumber penelitian yang terdiri dari
beberapa Studi Pustaka melalui buku-buku, jurnal, koran, artikel maupun sumber dari
internet. Selain itu di dalam kajian pustaka juga akan diungkapkan mengenai
konsep-konsep yang ada di dalam tulisan, serta teori-teori apa saja yang berhubungan dan
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Bab III Metode Penelitian
Berisi mengenai rincian metode penelitian yang digunakan dalam melakukan
penelitian, terutama dalam penelitian ini adalah metode historis.
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
Pada bab ini, akan diulas mengenai penjabaran dari pertanyaan-pertanyaan
yang telah dirumuskan oleh peneliti. Di dalam pembahasan ini juga kemudian
dituangkan pula hasil analisis penulis secara menyeluruh yang menggambarkan
tentang bahasan penelitian penulis hingga menjadi suatu bentuk tulisan yang utuh
dalam bentuk skripsi.
Bab V Simpulan dan Rekomendasi
Bab terakhir ini dikhususkan mengenai simpulan dan rekomendasi. Pada Bab
ini peneliti melakukan suatu penarikan intisari dari bahasan yang menjadi pokok
penelitian, serta mengutarakan pendapat peneliti dalam menyimpulkan hasil
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
BAB III
METODE PENELITIAN
Pada bab III ini penulis menguraikan mengenai metodologi penelitian
yang digunakan untuk mengkaji pokok atau tema skripsi penulis. Metodologi
penelitian merupakan prosedur, cara atau teknik yang menuntun penulis,
mengarahkan dan penyusunan penelitian dalam suatu bidang ilmu (Sjamsuddin,
2007, hlm.13), dalam bahasan ini adalah bidang ilmu sejarah. Metode yang
digunakan oleh penulis ialah metode historis, sesuai dengan skripsi yang dikaji
yakni dengan judul “Dampak Sinhala Only Act Solomon Bandaranaike Terhadap
Etnis Tamil di Ceylon (1956-1972)”.
3.1 Metode dan Teknik Penelitian 3.1.1 Metode Penelitian
Untuk mengkaji pembahasan ini, penulis menggunakan metode penelitian
sejarah atau metode historis yaitu metode penelitian untuk memperoleh gambaran
rekonstruksi imajinatif mengenai peristiwa sejarah pada masa lampau secara kritis
dan analitis berdasarkan bukti-bukti dan data peninggalan masa lampau yang
disebut sumber sejarah (Ismaun, 2005, hlm.34). Gilbert J. Garraghan dalam
Abdurachman (2007, hlm.43-44) mengungkapkan bahwa metode sejarah adalah
seperangkat aturan dan prinsip sistematis untuk mengumpulkan sumber-sumber
sejarah secara efektif, menilainya secara kritis dan mengajukan sintesis dari
hasil-hasil yang dicapai dalam bentuk tertulis. Sedangkan menurut Gottschalk (1986,
hlm.32) metode historis adalah proses menguji dan menganalisis secara kritis
rekaman peninggalan masa lampau. Termasuk di dalamnya metode dalam
menggali, memberikan penilaian, mengartikan dan menafsirkan fakta-fakta masa
lampau untuk kemudian dianalisis dan ditarik sebuah kesimpulan dari peritiwa
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Skripsi ini menggunakan metode sejarah atau metode historis karena
permasalahan yang diangkat dan yang dikaji adalah permasalahan sejarah.
Penggunaan metode ini sangat penting dalam menggambarkan kejadian masa
lampau sebagai cerminan pembelajaran masa kini. Metodologi dalam penelitian
sejarah memiliki tahapan-tahapan dalam prosesnya. Menurut Kuntowijoyo (2003,
hlm.89) tahapan dalam melakukan penelitian sejarah itu ada lima tahapan, yaitu:
pemilihan topik, pengumpulan sumber, verifikasi, menginterpretasi dan penulisan.
Sedangkan, mengacu pada pendapatnya Sjamsuddin (2007, hlm.86-170)
mengungkapkan bahwa terdapat empat tahap metode sejarah, antara lain adalah
sebagai berikut:
1) Heuristik
2) Kritik
3) Interpretasi
4) Historiografi
Penulis memasukkan langkah-langkah di atas dalam melakukan penelitian
sejarah dengan menggunakan metode historis. Langkah-langkahnya yaitu memilih
judul atau menentukan topik yang sesuai, mengusut semua bukti-bukti yang
relevan dengan topik, dan membuat catatan yang ditemukan ketika penelitian
sedang berlangsung ke dalam langkah heuristik (pencarian sumber). Langkah
selanjutnya penulis melakukan mengkritik semua sumber yang telah ditemukan
dan berhasil dikumpulkan. Selanjutnya, langkah interpretasi atau memberikan
pendapat atau pandangan secara teoritis. Terakhir dari langkah ini yang juga tidak
dapat dipisahkan dari kegiatan interpretasi adalah historiografi, yakni menyusun
hasil penelitian ke dalam suatu pola yang sistematis, dan menyajikan serta
mengkomunikasikannya kedalam sebuah bentuk tulisan yang telah disesuaikan
dengan pedoman penulisan karya ilmiah, kususnya UPI. Sehingga menjadi suatu
bentuk tulisan hasil karya ilmiah yang utuh.
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan teknik studi literatur
sebagai suatu teknik yang digunakan untuk memperoleh data yang bersifat teoritis
dengan cara mempelajari buku, jurnal, artikel, dan sumber-sumber lainnya yang
relevan dengan masalah yang dibahas hingga memperoleh data yang dibutuhkan
dalam penulisan skripsi ini. Teknik ini dilakukan oleh penulis dengan mengkaji
berbagai sumber yang relevan dengan topik yang diteliti, sehingga dapat
membantu dalam menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan penelitian
yang dirumuskan.
3.2. Tahap – tahap Penelitian
Berdasarkan penjelasan mengenai metode dan teknik penelitian yang
digunakan, penulis mencoba untuk memaparkan tahapan-tahapan yang dilakukan
dalam melaksanakan penelitian, hingga skripsi ini menjadi karya tulis ilmiah yang
sesuai dengan ketentuan keilmuan yang berlaku. Tahap-tahap yang dilakukan dari
mulai tahap persiapan penelitian yang terdiri dari penentuan dan pengajuan tema
atau judul penelitian, penyusunan perencanaan penelitian dan bimbingan; tahap
selanjutnya yakni tahap pelaksanaan penelitian.
3.2.1. Penentuan dan Pengajuan Tema Penelitian
Tahap ini merupakan langkah awal dalam memulai penelitian. Dalam
langkah awal yang dilakukan oleh penulis sebelum melakukan penelitian lebih
lanjut adalah memilih topik kajian penelitian, dengan ketertarikan atau minat
penulis terhadap tema atau topik penelitian yaitu mengenai orang-orang yang
berpengaruh di negara-negara Asia Selatan, yang salah satunya adalah keluarga
Bandaranaike di Sri Lanka. Kemudian, penulis mencoba mencari sumber-sumber
bacaan tentang keluarga Bandaranaike dan Sri Lanka ini, baik sumber dari media
cetak maupun dari internet. Penulis kemudian menentukan tema penelitian
mengenai kebijakan dari keluarga Bandaraniake hingga menghasilkan tiga
penguasa di Sri Lanka, mulai dari suami, istri dan anak mereka yang memerintah
di Sri Lanka dengan kurun waktu yang cukup lama. Penulis kemudian
melanjutkan dengan mengajukan judul penelitian kepada Tim Pertimbangan
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia pada bulan
Januari 2014. Judul pertama yang penulis ajukan adalah “Politik Dinasti
Bandaranaike di Sri Lanka (1956-2005)”. Setelah mendapatkan persetujuan,
penulis diperkenankan untuk menyusun rancangan penelitian dalam bentuk
proposal.
3.2.2.Penyusunan Rencana Penelitian
Sebelum penulis membut sebuah rencana penelitian, penulis melakukan
berbagai hal untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang tema kajian
dengan membaca literatur-literatur yang relevan. Rancangan penelitian pada
dasarnya memuat tentang:
Rancangan penelitian yang sudah disusun dalam bentuk proposal
kemudian diserahkan kepada TPPS Departemen Pendidikan Sejarah pada tanggal
6 Januari 2014 agar dipertimbangkan untuk seminar proposal. Selanjutnya,
proposal tersebut diseminarkan pada tanggal 24 Januari 2014 di Lab Jurusan
Pendidikan Sejarah. Seminar tersebut dihadiri oleh ketua Jurusan Pendidikan
Sejarah yakni Prof. Dr. H. Dadang Supardan M.Pd, oleh kedua calon pembimbing
yaitu Dra. Yani Kusmarni M.Pd dan Moch. Eryk Kamsori, serta dosen lainya
seperti Dr. Agus Mulyana, M. Hum, Drs. H. Ayi Budi Santosa M.Si, Wawan
Dermawan S.Pd, M.Hum, Drs. Syarif Moeis, Dra. Murdiyah Winarti M.Hum, dan
Dr. Encep Supriatna.
Dalam seminar ini penulis mendapat beberapa masukan dari berbagai
pihak terutama dari Dra. Yani Kusmarni M.Pd dan Moch. Eryk Kamsori S.Pd
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
yang harus diperbaiki, dan latar belakang yang harus direvisi, serta masalah harus
lebih mengerucut dan tidak terlalu meluas. Sehingga judul skripsi penulis yang
telah direvisi adalah “Dampak Sinhala Only Act Solomon Bandaranaike Terhadap
Etnis Tamil di Ceylon (1956-1972)”. Surat seminar dan surat keputusan Nomor
03/TPPS/JPS/PEM/2014, selanjutnya menentukan pembimbing skripsi penulis,
yaitu Ibu Dra. Yani Kusmarni M.Pd sebagai pembimbing I dan Bapak Moch.
Eryk Kamsori S.Pd sebagai pembimbing II.
3.2.3.Bimbingan
Sesuai dengan keputusan dalam seminar proposal, penulis dibimbing
oleh Ibu Dra. Yani Kusmarni M.Pd sebagai pembimbing I dan Bapak Moch. Eryk
Kamsori S.Pd sebagai pembimbing II. Pada bagian ini penulis melakukan
konsultasi dan mendapatkan masukan mengenai apa saja yang harus diperbaiki
terkait draft sementara skripsi karena masih bisa dirubah dengan maksud
memperbaiki kesalahan yang ada pada skripsi. Konsultasi dilakukan kepada
pembimbing I dan pembimbing II dengan tujuan untuk mendapatkan hasil
penulisan skripsi yang baik dan benar. Dalam setiap pertemuan membahas satu
bab yang diajukan, dan bimbingan satu bab biasanya tidak cukup dalam satu kali
bimbingan.
Jadwal bimbingan atau konsultasi kepada dosen pembimbing I dan dosen
pembimbing II biasanya bersifat kondisional, yang artinya bimbingan atau
konsultasi disesuaikan dengan keadaan sesuai dengan persetujuan antara penulis
dengan pembimbing I dan pembimbing II. Hal ini dilakukan untuk membahas
per-bab yang telah dikerjakan oleh penulis, biasanya antara pembimbing I dan
pembimbing II memiliki kebijakannya masing-masing dalam setiap bimbingan.
Proses bimbingan ini sangat membantu penulis dalam melakukan penelitian dan
menyusun skripsi ini. Proses bimbingan diperlukan dalam penelitian dan
penyusunan skripsi sebagai sarana untuk berkonsultasi, berdiskusi, dan
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
permasalahan yang dihadapi oleh penulis. Setiap hasil bimbingan dicatat dalam
lembar frekuensi bimbingan.
3.3. Pelaksanaan Penelitian
Pada tahap ini penulis melaksanakan penelitiannya, yang merupakan pokok penting dari sebuah penelitian. Langkah-langkah yang ditempuh dalam
mengkaji permasalahan yang diteliti di dalam skripsi sesuai dengan metode yang
digunakan yaitu metode historis. Sjamsuddin (2007) mengemukakan
langkah-langkah metode historis yakni mencakup heuristik, kritik, interpretasi, dan
historiografi. Hal ini sejalan dengan pernyataan Ismaun (1971, hlm.17) bahwa
prosedur kerja sejarawan untuk menuliskan kisah masa lampau berdasarkan
bukti-bukti yang ditinggalkan oleh masa lampau itu, terdiri atas langkah langkah
sebagai berikut: (1) Mencari jekak masa lampau; (2) Meneliti dari
jejak-jejak itu secara kritik; (3) Berdasarkan informasi yang diperoleh dari jejak-jejak-jejak-jejak
itu berusaha membayangkan bagaimana gambaran masa lampau; dan (4)
menyampaikan hasil-hasil rekonstruksi imajinatif dari masa lampau itu sehingga
sesuai dengan jejak-jejaknya maupun dengan imajinasi ilmiah.
Adapun langkah-langkah dalam metode penelitian historis ini penulis
uraikan sebagai berikut:
3.3.1.Pengumpulan Sumber (Heuristik)
Pada tahap ini penulis melakukan pencarian sumber yang relevan dengan
masalah yang diangkat dalam penelitan. Adapun sumber yang ditemukan oleh
penulis adalah sumber literatur. Teknik studi literatur ini dilakukan untuk
mengumpulkan sumber-sumber tulis yang relevan untuk dijadikan sumber.
Heuristik merupakan kegiatan pencarian sumber-sumber untuk mendapatkan
data-data, materi atau evidensi sejarah adalah kegiatan yang banyak menyita waktu,
tenaga, pikiran, dan juga perasaan (Sjamsuddin, 2007, hlm.86).
Dilain hal, demi memenuhi sumber literatur, diantaranya penulis banyak
mengunjungi:
a. Perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia, di perpustakaan ini
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
People and its Homes. Selain buku karya Ray Blaze, penulis juga mencari
buku-buku literatur lain seperti buku Sosiologi Suatu Pengantar dari
Soerjono Soekanto, buku Ensiklopedia, buku Ilmu Politik, dan
buku-buku lainnya yang sejenis sebagai bahan literatur untuk penulis gunakan di
bab II skripsi.
b. Mengunjungi festival buku atau bazaar buku yang diadakan di gedung
Landmark Jl. Braga. Penulis mendapatkan buku Teori Sosiologi Moderrn
karya G Ritzer dan Goodman. Serta buku karya L. Millburn yang berjudul
Keadilan & Perdamaian, edisi revisi.
c. Penulis juga mengunjungi toko buku seperti Gramedia dan Palasari
Bandung, di sana penulis mendapatkan buku Auman Terakhir Macan
Tamil: Perang Sipil Sri Lanka 1976-2009 karya Yokki Rakaryan, dan
buku Mengenal 192 Negara di Dunia yang diterbitkan oleh Buku Kita.
d. Selanjutnya penulis mengunjungi Perpustakaan Konferensi Asia Afrika
(KAA). Perpustakaan ini menyimpan banyak buku-buku sejarah, sosial,
ekonomi, dll. Penulis mendatangi perpustakaan ini dan mendapat beberapa
buku diantaranya: Pertama adalah buku karya Peter R & Wilbert
Gooneratne yang berjudul Basic Needs, Poverty and Government Policies
in Sri Lanka yng diterbitkan oleh International Labour Office. Kedua
adalah buku berjudul Dependent Capitalism in Crisi: The Sri Lanka
Economy, 1948-1980 yang ditulis oleh Satchi Ponnambalam. Ketiga, buku
lain yang didapat ialah buku karya Nissanka yang berjudul The Foreign
Policy Of Sri Lanka dan diterbitkan oleh The Departement of Information
The Government of Sri Lanka. Keempat adalah sebuah buku berjudul Sri
Lanka Third World Democracy dari Jamers Jupp, serta masih ada
beberapa buku lagi yang tidak mungkin penulis sebutkan semuanya.
e. Tempat lain yang penulis kunjungi adalah Perpustakaan Batu Api di
Jatinangor. Di sana penulis menemukan dua buah artikel yang dimuat
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
yang membahas tentang Sri Lanka, salah satunya adalah artikel karya
Dewi Anggraeni.
f. Kunjungan lainnya yang penulis lakukan adalah ke Perpustakaan CSIS
(Center for Strategic and International Studies) di Jakarta. Di
Perpustakaan CSIS ini penulis banyak sekali menemukan buku literatur
yang berhubungan dengan tema yang diangkat dalam skripsi ini, yang
kemudian penulis jadikan sebagai buku-buku sumber. Buku-buku itu
antara lain adalah buku Ethnic Unrest in Modern Sri Lanka: An Account of
Tamil-Sinhalese Race Relations karya Haraprasad C. Selanjutnya adalah
buku karya Patrick Peebles yang berjudul The History of Sri Lanka,
selanjutnya buku berjudul 9th Parliament Of Sri Lanka yang merupakan
terbitan Associated Newspapers of Ceylon, serta masih banyak lagi
buku-buku literatur lainnya yang penulis temukan di CSIS tetapi tidak mungkin
penulis sebutkan satu persatu.
g. Penulis juga melakukan browsing internet untuk mendapatkan jurnal dan
juga artikel yang tersedia secara online, baik untuk sekedar dibaca maupun
Jurnal dengan format PDF yang bisa di download. Penelusuran melalui
internet ini dilakukan untuk mendapatkan tambahan informasi selain dari
sumber-sumber yang telah didapatkan dari media cetak.
Semua sumber literatur yang penulis peroleh lebih banyak yang berbahasa
Inggris, dan hanya beberapa saja yang berbahasa Indonesia. Buku, jurnal, dan
artikel yang berbahasa Inggris, terlebih dahulu diterjemahkan kedalam bahasa
Indonesia agar penulis lebih mudah dalam memahami isinya. Setelah
sumber-sumber tersebut diterjemahkan, penulis mengkaji banding antara satu sumber-sumber
dengan sumber lainnya, sehingga diperoleh pemahaman yang lebih jelas.
Pemahaman terhadap sumber-sumber akan membantu dalam mengkaji
permasalahan dalam skripsi ini, sehingga diperoleh data yang optimal dan
menghasilkan suatu karya ilmiah yang baik dan benar.
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Setelah sumber penelitian didapat yaitu sumber tertulis, langkah
berikutnya yang dilakukan oleh penulis ialah melakukan kritik sumber. Dengan
sumber-sumber yang telah didapatkan, penulis tidak boleh langsung menerima
informasi data yang diperoleh dengan begitu saja sebelum dilakukan kriktik
terhadap sumber-sumber sejarah tersebut. Sjamsuddin (2007, hlm.131)
menjelaskan bahwa fungsi kritik sumber bagi sejarawan erat kaitannya dengan
tujuan sejarawan itu dalam mencari kebenaran. Dalam tahap ini seringkali
sejarawan dihadapkan untuk membedakan apa yang benar dan apa yang salah,
kemungkinan dan keraguan. Kritik sumber dibagi menjadi dua, yaitu kritik
internal dan kritik eksternal.
3.3.2.1.Kritik Internal
Pada tahap melakukan kritik inernal, peneliti melakukan perbandingan
antara isi sumber tertulis yang satu dengan sumber tertulis lainnya yang memiliki
isi bahasan serupa. Kritik ini dilakukan bertujuan untuk mempertanyakan
kredibilitas dan realibilitas terhadap isi sumber atau teks. Pada proses kritik
internal peneliti melakukannya dengan cara cross check dengan membandingkan
data dan fakta yang terdapat pada sumber-sumber yang telah dikategorikan baik
dalam sumber skripsi, jurnal, buku, maupun sumber lainnya yang penulis gunakan
sebagai sumber. Sebagai contoh peneliti melakukan perbandingan isi dari buku
karya Haraprasad Chattopadhyaya yang diterbitkan pada tahun 1994 dengan judul
Ethnic Unrest in Modern Sri Lanka: An Account of Tamil-Sinhalese Race
Relations, dan buku karya James Jupp yang berjudul Sri Lanka Third World
Democracy yang diterbitkan tahun 1978.
Buku dari Haraprasad Chattopadhyaya merupakan salah satu buku yang
menceritakan tentang kerusuhan antara dua etnis besar di Ceylon, yakni Tamil dan
Sinhala. Fokus kajiannya adalah konflik etnis di Ceylon pasca kemerdekaan.
Sedangkan buku karya James Jupp berisi tentang sejarah Ceylon sebelum dan
setelah kemerdekaan. Menurut buku ini, etnis Tamil merupakan etnis yang
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
juga menjelaskan terjadinya pergolakan-pergolakan internal yang kemudian
berkembang menjadi konflik meluas yang melibatkan negara luar, seperti India.
Secara garis besar, buku karya James Jupp ini berisi tentang gambaran keadaan
politik di Ceylon pra dan pasca kemerdekaan. Penulis dari kedua buku tersebut
sepakat bahwa terjadinya pertentangan atau konflik etnis besar di Ceylon pada
tahun 1958 merupakan salah satu dampak dari adanya kebijakan yang diambil
oleh Perdana Menteri keempat Ceylon pada tahun 1956.
Menurut pandangan penulis, data dan informasi faktual yang terdapat di
beberapa buku di atas bisa dijadikan sebagai penguat bukti bahwa sebuah
kebijakan yang diambil oleh Solomon Bandaranaike sebagai langkah awalnya
dalam jabatan Perdana Menteri keempat Ceylon yakni kebijakan Sinhala Only
Act, sebuah kebijakan yang tidak hanya dapat menjadikan Solomon Bandaranaike
sukses memenangkan kursi Perdana Menteri, melainkan juga menjadi salah satu
faktor yang dapat berakibat fatal dalam kehidupan masyarakat Ceylon.
3.3.2.2.Kritik Eksternal
Kritik eksternal merupakan cara melakukan pengujian terhadap
aspek-aspek luar dari sumber sejarah. Sama halnya dengan apa yang diungkapkan oleh
Sjamsuddin (2007, hlm.132) bahwa,
Kritik eksternal ialah suatu penelitian atas asal-usul dari sumber, suatu pemeriksaan atas catatan atau peninggalan itu sendiri untuk mendapatkan semua informasi yang mungkin, dan untuk mengetahui apakah pada suatu waktu sejak asal mulanya sumber itu telah diubah oleh orang-orang tertentu atau tidak.
Kritik eksternal untuk menilai dan menguji kelayakan sumber-sumber
yang dijadikan bahan penunjang penulisan skripsi dari aspek luarnya. Kritik
eksternal dilakukan untuk meminimalisir subjektivitas dari sumber-sumber yang
didapat. Penulis menyadari bahwa kekurangan dari skripsi penulis ini adalah tidak
digunakannya sumber primer yang berupa dokumen-dokumen asli mengenai tema
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
terdahulu. Hal itu karena, untuk mendapatkan sumber primer tersebut penulis
merasa sangat kesulitan. Sehingga sumber-sumber yang peneliti temukan dan
gunakan untuk menunjang skripsi penulis ini ialah sumber-sumber sekunder yang
berkaitan dengan “Dampak Sinhala Only Act Solomon Bandaranaike Terhadap
Etnis Tamil di Ceylon Tahun 1956-1972”.
Penulis menggunakan kritik eskternal yaitu dengan mengklasifikasikannya
dari aspek latar belakang penulis buku tersebut, seperti apakah penulis buku
tersebut seorang sejarawan, ahli antropologi, atau seorang yang ahli dibidang
lainnya. Selanjutnya peneliti melakukan kritik tehadap tahun terbit buku, penerbit
dan tempat dimana buku itu diterbitkan. Hal tersebut dilakukan untuk melihat
kredibelitas dari buku yang dijadikan sumber dalam penulisan skripsi ini. Selain
itu, tahun terbit dimana semakin kekinian angka tahunnya semakin baik isi dalam
bukunya, sebab setiap saat terjadi perubahan dan perbaikan. Selanjutnya adalah
penerbit dan kota terbit, tingkat kepopuleran dari penerbit oleh penulis juga
merupakan salah satu aspek yang diperhitungkan, apakah penerbit buku tersebut
berkompeten, sehingga tingkat kepercayaan kepada isi buku tersebut semakin
tinggi.
Dalam kritik ekternal ini penulis akan membandingkan buku dengan
melihat dan meneliti pengarang, penerbit dan tahun terbit dari buku tersebut.
Buku yang penulis kaji adalah buku Sri Lanka Problems of Governance yang
telah diedit oleh K.M de Silva, dan buku Sri Lanka Third World Democracy karya
James Jupp. Untuk buku yang pertama adalah buku yang diedit oleh K.M de
Silva. K.M de Silva adalah seorang sejarawan dan penulis. Ia mendapatkan gelar
Ph.D. dari University of London (1959-1961). Pada bulan September 1991 ia
dianugerahi D. Litt. oleh University of London sebagai pengakuan atas
kontribusinya terhadap studi sejarah, ia juga merupakan seorang dosen sejarah di
Universitas Ceylon sampai tahun 1995. Selain itu, de Silva juga merupakan
seorang Direktur Eksekutif Pusat Internasional untuk Studi Etnis (ICES), di
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
buku yang telah dibuat oleh de Silva, termasuk banyak buku tentang sejarah
Ceylon (Sri Lanka). Sedangkan penerbit dari buku Sri Lanka Problems of
Governance adalah Konark Publishers merupakan salah satu percetakan dan
penerbitan terkenal yang ada di New Delhi India.
Selanjutnya adalah buku Sri Lanka Third World Democracy karya
James Jupp. James Jupp adalah seorang ilmuwan politik Inggris - Australia dan
penulis. Ia juga adalah Direktur Pusat Imigrasi dan Multikultural Studi di Sekolah
Penelitian Ilmu Sosial di Universitas Nasional Australia dan mengajar sebagai
dosen Ilmu Politik di University of Melbourne, University of York di Inggris,
University of Waterloo di Canada dan University of Canberra. Ia diberikan gelar
Doctorate of Philosophy yang diberikan oleh University of London pada tahun
1975, berkat karya tulisnya yang menyoroti perkembangan politik dari Sri Lanka,
dan diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul Sri Lanka: Third World
Democracy pada tahun 1978. Sedangkan penerbit dari buku Sri Lanka: Third
World Democracy adalah Frank Cass and Company Limited Publishers, yaitu
salah satu penerbit yang telah banyak menerbitkan buku-buku dan jurnal. Menurut
pandangan penulis, buku-buku tersebut sangat tepat digunakan untuk dijadikan
sebagai referensi penulis terutama dalam kaitannya dengan tema penulisan skripsi
ini, karena mereka bukanlah orang sembarangan yang menulis mengenai cerita
sejarah dengan tidak berdasarkan pada fakta.
Selain melakukan kritik ekternal terhadap pengarang/penulis dan penerbit
buku, penulis juga melakukan kritik eksternal terhadap tahun terbit untuk melihat
apakah buku tersebut terbitan sejaman atau buku-buku yang telah mengalami
revisi (edisi revisi). Dalam hal ini, penulis melakukan kritik terhadap buku karya
James Jupp yang menulis buku berjudul Sri Lanka Third World Democracy
dengan tahun terbit 1978, buku karya James Jupp ini diterbitkan di England oleh
penerbit Frank Cass and Company Limited. Serta penulis juga melakukan kritik
eksternal terhadap buku dari Ray Blaze yang berjudul Ceylon Its People and its
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
di Colombo. Buku karya James Jupp ini secara garis besar menjelaskan tentang
keadaan politik di Ceylon (Sri Lanka) sebelum dan setelah kemerdekaan. Jika
dilihat dari tahun terbitnya yakni 1978, penulis berasumsi bahwa tahun terbit buku
karya James Jupp ini termasuk tahun terbit yang kekinian karena bahasan di
dalam buku adalah keadaan politik di Ceylon (Sri Lanka) sebelum tahun 1947 dan
sesudah tahun 1947, yakni sampai tahun 1980an. Begitu juga halnya dengan buku
Ceylon Its People and its Homes karya Ray Blaze yang jika dilihat dari angka
tahun terbitnya yakni 1961 adalah tahun yang termasuk kekinian bila melihat isi
buku yang secara garis besar menceritakan tentang kondisi sosial budaya dan
perekonomian masyarakat Ceylon secara umum sebelum kemerdekaan Ceylon,
tepatnya yakni pada saat Ceylon masih dipegang oleh kekuasaan politik lokal
raja-raja (kelompok etnis Sinhala di pantai Barat dan Selatan Ceylon, dan
kelompok etnis Tamil di pantai Utara dan Timur Ceylon), serta pada saat Ceylon
dikuasai oleh pemerintahan kolonial barat.
Kedua buku di atas oleh penulis digunakan sebagai salah satu sumber
untuk penulisan skripsi penulis, tentunya setelah melalui tahapan kritik baik
eksternal maupun internal. Masih banyak lagi sumber literatur dari
penelitian-penelitian terdahulu yang tidak dijelaskan satu persatu mengenai kritik
eksternalnya. Dimana tahap dari kritik eksternal ini meliputi pertanyaan seputar
siapa pengarang/penulis buku sumber yang digunakan? Tahun berapa diterbitkan?
Dimana buku itu diterbitkan? (Sjamsuddin, 2007, hlm.143). Setelah melakukan
kritik sumber, tahap selanjutnya yang dilakukan oleh peneliti ialah melakukan
interpretasi.
3.3.3.Interpretasi
Pada tahap interpretasi atau penafsiran ini, merupakan tahap pemberian
tafsiran terhadap fakta-fakta yang telah didapatkan oleh peneliti sehingga
menghasilkan sebuah temuan yang kemudian dituliskan dengan utuh. Dalam
melakukan interpretasi, peneliti melakukan penafsiran sintetis yaitu dengan
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
satu kategori penyebab tunggal yang cukup untuk menjelaskan semua fase serta
periode dalam perkembangan sejarah (Barnes dalam Sjamsuddin, 2007, hlm.170).
Penulis memberikan penafsiran terhadap fakta-fakta sejarah yang diperoleh
melalui kritik eksternal dan juga kritik internal. Kemudian fakta-fakta tersebut
dirangkai dan dihubungkan satu sama lain sehingga menjadi suatu kesatuan
peristiwa-peristiwa lain yang melingkupinya (Ismaun, 2005, hlm.25).
Untuk mengkaji dan memahami suatu peristiwa yang terjadi di masa
lampau, pendekatan merupakan salah satu hal yang penting dalam proses
penelitian. Pendekatan yang dilakukan penulis dalam penelitian ini adalah
pendekatan interdisipliner yaitu pendekatan dengan menggunakan bantuan dari
disiplin ilmu-ilmu sosial dalam analisisnya, seperti untuk membantu menganalisa
tenaga-tenaga dari dunia fisik geografis, faktor dalam lingkungan budaya manusia
seperti sistem ekonomi dan sosial (Sjamsuddin, 2007, hlm.167). Hal ini bertujuan
agar dapat mengungkap suatu peristiwa sejarah secara utuh dan menyeluruh
dengan menggunakan berbagai disiplin ilmu sosial maka permasalahan akan
dilihat dari berbagai dimensi, sehingga permasalahan tersebut baik keluasan
maupun kedalamannya akan semakin jelas (Sjamsuddin, 2007, hlm.267).
Pada saat melakukan interpretasi, penulis menggunakan pendekatan
interdisipliner yang dimaksudkan untuk mempertajam analisis dalam penulisan
skripsi ini. Berhubungan dengan pendekatan interdisipliner, penulis menggunakan
ilmu bantu sosial-politik. Ilmu politik yang peneliti gunakan dalam kaitannya
dengan penulisan skripsi ini adalah untuk menjelaskan mengenai kehidupan
politik, sifat dan karakter para pemimpin Ceylon, serta sistem politik yang ada di
Ceylon pada kurun waktu 1956-1972. Adapun ilmu sosiologi yang merupakan
ilmu tentang sifat, perilaku, perkembangan masyarakat, struktur sosial, proses
sosial dan perubahan yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat. Dalam hal ini
tentu saja berkaitan dengan kehidupan masyarakat Ceylon sebelum Solomon
Bandaranaike berkuasa dan memberlakukan kebijakan Sinhala Only Act, saat
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
wafatnya Solomon Bandaranaike. Hal tersebut tentu saja untuk melihat dinamika
sosial yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat Ceylon pada tahun 1956-1972.
Peneliti juga menggunakan salah satu teori ilmu sosiologi yakni teori konflik dari
Ralf Dahrendorf. Teori tersebut digunakan oleh peneliti untuk menjelaskan aspek
sosial budaya dalam kehidupan masyarakat Ceylon, serta untuk menjelaskan
gesekan-gesekan kepentingan dan atau pertentangan yang terjadi di dalam
masyarakat Ceylon periode tahun 1956 sampai dengan tahun 1972 akibat dari
adanya kebijakan yang disahkan oleh Solomon Bandaranaike yakni Sinhala Only
Act.
3.3.4. Historiografi
Tahap terakhir dalam metode historis ini adalah historiografi atau
penulisan sejarah setelah sebelumnya melakukan langkah awal berupa heuristik
atau pengumpulan sumber-sumber sejarah, lalu melakukan kritik (kritik eksternal
dan kritik internal), dilanjutkan dengan memberikan interpretasi atau penafsiran.
Historiografi merupakan cara penulisan, pemaparan, atau pelaporan hasil
penelitian sejarah yang telah dilakukan (Abdurahman, 2007, hlm.76).
Historiografi menurut Ismaun berarti pelukisan peristiwa sejarah, gambaran
sejarah tentang peristiwa yang terjadi pada waktu yang telah lalu. Dalam tahap
historiografi ini, peneliti menceritakan hal-hal yang didapat disertai dengan
penafsiran-penafsirannya, sehingga hasil dari historiografi berupa rekonstruksi
dari suatu peristiwa sejarah (Ismaun, 2005, hlm. 28).
Dapat diartikan bahwa historiografi adalah penulisan sejarah hasil
penelitian yang dilakukan oleh seorang sejarawan setelah sumber-sumber sejarah
selesai diberikan sebuah analisis, serta diinterpretasikan dan dituangkan ke dalam
bentuk tulisan. Peneliti menyajikan hasil analisis dan interpretasi atau
penafsirannya terhadap topik pembahasan ke dalam bentuk penulisan sejarah atau
historiografi. Penulisan tersebut disusun secara kronologis hingga alur peristiwa
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
dengan sistematika penulisan skripsi yang dimuat dalam buku Pedoman Karya
Ilmiah Universitas Pendidikan Indonesia tahun 2014.
Hasil penelitian akan disusun ke dalam sebuah laporan dengan sistematika
yang terdiri dari lima bab yaitu Pendahuluan, Kajian Pustaka, Metodologi
Penelitian, Pembahasan, dan terakhir Kesimpulan. Pembagian ini bertujuan untuk
memudahkan dalam memahami penulisan skripsi. Adapun struktur organisasi
skripsi ini yang terbagi ke dalam lima bab dijelaskan sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan
Menjelaskan tentang latar belakang masalah penelitian, yang di dalamnya
memuat penjelasan mengapa masalah yang diteliti muncul dan penting untuk
diteliti (alasan atau ketertarikan penulis) memilih permasalahan tersebut untuk
diangkat sebagai tema penelitian. Pada bab ini terdapat perumusan masalah (yang
di dalamnya terdapat sejumlah pertanyaan yang ada dalam permasalahan, disusun
dalam beberapa bentuk pertanyaan yang mewakili fokus isi dalam penelitian atau
penulisan karya ilmiah ini); tujuan penelitian (untuk melihat tujuan penulisan
secara umum untuk pembaca dan khusunya untuk penulis sendiri yang memang
penelitian ini dilakukan dengan seobjektif mungkin); dan manfaat penelitian.
Dalam latar belakang ini akan lebih digambarkan mengenai kesenjangan atau
permasalahan dari topik yang akan dikaji.
Bab II Kajian Pustaka
Memaparkan berbagai sumber literatur yang penulis anggap memiliki
keterkaitan dan relevan dalam masalah atau tema yang dikaji. Kajian Pustaka
memberikan informasi sumber penelitian yang terdiri dari beberapa Studi Pustaka
melalui buku-buku, jurnal, koran, artikel maupun sumber dari internet. Serta
memberikan kejelasan tentang buku, jurnal, koran, artikel serta hasil searching
dari internet yang berhubungan dengan tema penelitian sebagai sumber
pendukung. Selain itu di dalam kajian pustaka juga akan diungkapkan mengenai
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
berhubungan dan digunakan oleh penulis, dan juga tentang penelitian terdahulu
yang berkaitan dengan tema yang dikaji dalam skripsi.
Bab III Metodologi Penelitian
Metodologi penelitian berisi mengenai rincian metode penelitian yang
digunakan dalam melakukan penelitian, terutama dalam penelitian ini adalah
metode historis. Di dalamnya terdapat uraian tentang langkah-langkah yang
digunakan oleh penulis dimulai dari bagimana penulis melakukan pencarian
data/sumber-sumber yang berkenaan dengan fokus penelitian (heuristik), sampai
pada penuangan hasil temuan penelitian ke dalam bentuk tulisan yang tersusun
secara sistematis dan melalui tahapan metodologi yang ilmiah (historiografi).
Bab IV Dampak Sinhala Only Act Solomon Bandaranaike Terhadap Etnis Tamil di Ceylon Tahun 1956-1972
Pada bab ini, akan diulas mengenai penjabaran dari pertanyaan-pertanyaan
yang telah dirumuskan oleh penulis. Data yang telah dikritik, kemudian
diinterpretasi, selanjutnya disajikan dalam bentuk uraian secara lengkap / dibahas
secara lengkap mengenai “Dampak Sinhala Only Act Solomon Bandaranaike
Terhadap Etnis Tamil Di Sri Lanka (1956-1972)”. Pada tahap ini penulis akan
mengungkapkan hasil temuan dengan gaya bahasanya untuk menyajikan hasil
penelitian hingga menjadi satu-kesatuan yang utuh. Di dalam pembahasan ini juga
kemudian dituangkan pula hasil analisis penulis secara menyeluruh dengan
bahasanya sendiri.
Bab V Simpulan dan Rekomendasi
Sebagai bab terakhir yakni menjelaskan simpulan yang merupakan
jawaban dan analisis terhadap masalah-masalah secara keseluruhan yang
merupakan hasil dari penelitian. Bab ini peneliti melakukan suatu penarikan
intisari dari bahasan yang menjadi pokok penelitian, serta pendapat peneliti dalam
menyimpulkan hasil penelitian yang sebelumnya dijabarkan di dalam Bab IV.
Nuris Tyanti, 2015
DAMPAK SINHALA ONLY ACT SOLOMON BANDARANAIKE TERHADAP ETNIS TAMIL DI CEYLON (1956-1972)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
penelitian yang telah dilakukan sebagai bahan masukan agar penelitian yang akan
datang dapat lebih baik lagi.
Selain kelima bab tersebut, dalam skripsi ini terdapat pula beberapa
tambahan seperti kata pengantar, abstrak, daftar pustaka, serta lampiran-lampiran
termasuk identitas penulis. Setelah dilakukan koreksi dan perbaikan yang
diperoleh penulis dari hasil bimbingan atau konsultasi dengan dosen pembimbing
skripsi, semua bagian tersebut termuat ke dalam bentuk laporan yang utuh, yang
kemudian disebut sebagai skripsi dengan judul “Dampak Sinhala Only Act