• Tidak ada hasil yang ditemukan

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM :KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM :KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori."

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

Faisal Ramdan Saepulloh, 2015

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

Nomor Daftar FPIPS : 4472/UN.40.2.6.1/PL/2015

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM

(KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat

untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Ilmu Pendidikan Agama Islam

Oleh

Faisal Ramdan Saepulloh

0908521

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG

(2)

Faisal Ramdan Saepulloh, 2015

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM”

(KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

Oleh

Faisal Ramdan Saepulloh

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

© Faisal Ramdan Saepulloh 2015

Universitas Pendidikan Indonesia

Februari 2015

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhya atau sebagian,

(3)

Faisal Ramdan Saepulloh, 2015

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

FAISAL RAMDAN SAEPULLOH 0908521

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM

(KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH PEMBIMBING : Pembimbing I,

Dr. H. Endis Firdaus, M,Ag. NIP : 19570303 198803 1 001

Pembimbing II,

Dr. Munawar Rahmat, M.Pd. NIP : 19580128 1986121 1 001

Mengetahui,

Ketua Program Studi Ilmu Pendidikan Agama Islam Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

Universitas Pendidikan Indonesia

(4)

Faisal Ramdan Saepulloh, 2015

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

Skripsi ini diuji pada :

Hari/Tanggal : Selasa, 24 Februari, 2015

Tempat : Gedung FPIPS UPI

Panitia ujian terdiri atas : 1. Ketua

:

Prof. Dr. Karim suryadi, M.Si. NIP : 19700814 199402 1 001 2. Sekretaris

:

Dr. H. Endis Firdaus, M,Ag. NIP : 19570303 198803 1 001 3. Penguji

:

3.1. Dr. H. Syahidin, M.Pd. NIP : 19570611 198703 1 001

3.2. Dr. H. Aceng Kosasih, M.Ag. NIP : 19650917 199001 1 001

(5)

Faisal Ramdan Saepulloh, 2015

(6)

Faisal Ramdan Saepulloh, 2015

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

DAFTAR ISI

ABSTRAK... i

KATA PENGANTAR... ii

UCAPAN TERIMAKSIH... iii

DAFTAR TRANSLITRASI... v

DAFTAR ISI... vi

BAB I………. PENDAHULUAN………... 1

A. Latar Belakang Masalah……… 1

B. Rumusan Masalah……….. 4

C. Tujuan Penelitian………... 4

D. Manfaat Penelitian………. 5

E. Sistematika Penulisan……… 5

BAB II……….... KAJIAN PUSTAKA... 7

A. PLURALISME... 7

1. Pengertian Pluralisme... 7

2. Sejarah Pluralisme... 10

3. Agama dan Pluralisme... 13

4. Pro Dan Kontra Pluralisme... 15

B. PENDIDIKAN ISLAM... 1. Pengertian Pendidikan Islam………... 16

2. Tujuan Pendidikan Islam……… 19

3. Nilai Pendidikan Islam………... 22

4. Sumber Pendidikan Islam………... 24

5. Pendidikan Pluralisme... 29

BAB III... METODE PENELITIAN... 32

(7)

Faisal Ramdan Saepulloh, 2015

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

B. Lokasi dan Subjek Penelitian……… 33

C. Desain Penelitian………... 34

D. Instumen Penelitian………... 35

E. Teknik Pengumpulan Data……… 35

F. Analisis Data……….. 37

G. Tahapan Penelitian……… 39

BAB IV... HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN... 42

A. Pengertian Pluralisme... 42

B. Sejarah Pluralisme di Indonesia... 44

C. Gus Dur dan Pluralisme... 46

D. Implikasi Pluralisme terhadap Pendidikan Islam... 55

BAB V... A. Kesimpulan... 58

B. Saran... 59

(8)

1

Faisal Ramdan Saepulloh, 2015

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

Menurut Baidhawy (2004, hal. 114), dalam kehidupan masyarakat

majemuk yang diperlukan adalah penghormatan atas berkembangnya budaya

masyarakat dengan segala bentuknya. Hal ini dikarenakan budaya menjadi salah

satu fakor perekat sosial demi tegaknya kehidupan yang harmonis bagi suatu

bangsa dan masyarakat dalam rangka membangun kehidupan yang lebih maju

di era globalisasi dan modernisasi. Budaya sebagai hasil karya masyarakat

merupakan eksistensi asasi dari manusia yang perlu dilestarikan keberadaannya,

karena dengan ini akan tercipta kesatuan dalam keaneka-ragaman.

Keberagaman pada hakikatnya merupakan realitas kehidupan itu sendiri,

yang tidak bisa dihindari dan ditolak. Karena keberagaman merupakan

sunnatullāh, maka keberadaanya harus diakui oleh setiap manusia. Sebagaimana disebutkan dalam Q.S al-Ḥujurāt [49]: 13

                     

Artinya : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.1

Ayat tersebut menunjukkan bahwa semua manusia adalah sama-sama

makhluk Tuhan, mereka memiliki keyakinan, tradisi dan budayanya sendiri,

1

Seluruh tulisan ayat Al-Qur`ān dan terjemahannya dalam sekripsi ini dikutip dari software al-Qurān in word yang disesuaikan dengan Al-Qurān dan Terjemahannya yang

(9)

2

Faisal Ramdan Saepulloh, 2015

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

mereka memiliki pandangan hidup yang bermacam-macam, serta hidup dalam

berbagai suku, bangsa, dan bahasa.

Wahid (1999, hal. 196) menjelaskan bahwa kemajemukan bangsa

Indonesia baik suku, ras, agama maupun perbedaan pandangan dan pendapat

dalam melihat realitas merupakan kekayaan dan kebangan tersendiri yang tidak

dimiliki bangsa lain. Namun dengan keragamaan akan perbedaan itu sering

membawa kepada disintegrasi bangsa, karena klaim kebenaran dari kelompok

satu kepada kelompok lain akan memicu perang ide dan ujung-ujung sampai

pada perang fisik. Untuk mengindari hal itu maka diperlukan kearifan, toleransi,

tenggang rasa, dan dialog antar masyarakat (jangan dilupakan kita sebagai

bangsa terlanjur heterogen dan pluralistik).

Menurut Husaini (2005, hal. 2), tantangan yang dihadapi dewasa ini

sebenarnya bukan dalam bidang ekonomi, politik, sosial dan budaya, tetapi

tantangan pemikiran. Sebab persoalan yang ditimbulkan oleh bidang-bidang

ekonomi, politik, sosial, dan budaya ternyata bersumber dari pemikiran. Di

antara tantangan pemikiran yang paling serius saat ini adalah di bidang

pemikiran keagamaan. Tantangan yang sudah lama disadari adalah tantangan

internal yang berupa fanatisme, taklid buta, bid’ah, khurafat, dan sebagainya.

Sedangkan tantangan eksternal yang sedang dihadapi saat ini adalah masuknya

paham liberalisme, sekulerisme, relativisme, pluralisme agama dan lain

sebagainya, kedalam wacana pemikiran keagamaan bangsa Indonesia.

Hidayat (2008, hal. 55) menjelaskan bahwa sebuah masyarakat heterogen

yang sedang tumbuh, seperti bangsa Indonesia, tentu sulit untuk

mengembangkan saling pengertian antar beraneka ragam unsur-unsur etnis, dan

budaya daerah. Kalaupun tidak terjadi salah pengertian mendasar atas

unsur-unsur itu, paling tidak tentu saling pengertian yang tercapai barulah bersifat

nominal belaka, dengan kata lain, suasana optimal yang dapat dicapai bukanlah

saling pengertian, melainkan sekedar mengurangi kesalah pahaman.

Meskipun demikian, harus diakui, bahwa pluralisme masih menghadapi

tatntangan yang serius, terutama pasca-fatwa MUI tentang pengharaman

(10)

3

Faisal Ramdan Saepulloh, 2015

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

hal. ix) menjelaskan bahwa fatwa semacam ini merupakan tantangan serius

dalam membangun harmoni dan kebersamaan. Karena seolah-olah ketika

berhubungan dengan kelompok lain yang berbeda, maka dianggap akan menjadi

bagian dari kelompok tersebut. Padahal, dialog dan perjumpaan justru dapat

menjadi kekuatan dan potensi, terutama dalam konteks kebangsaan.

Misrawi (dalam Gus Dur Santri Par Excellence, 2010, hal. x)

menambahkan bahwa pluralisme semakin mendapat tantangan, karena tindakan

intoleransi sepanjang tahun 2009 masih menjadi momok yang menakutkan.

Setidaknya menurut pemantauan Moderate Muslim Society, ada sekitar 59

tindakan intoleransi. Puncaknya adalah aksi terorisme yang membuktikan,

bahwa ekstremisme dengan mengatasnamakan paham keagamaan tertentu

masih mengemuka. Pelaku dan jaringannya berhasil ditangkap, bahkan

dibunuh, tetapi paham dan habitatnya masih terus berkembang.

Abdurrahman Wahid (Masdar, 1998, hal. 123) mencoba tidak hanya

menggunakan hasil pemikiran Islam tradisional namun lebih pada penggunaan

metodologi teori hukum (uṣul al-fiqh) dan kaidah-kaidah hukum (qawaid

fiqhiyah) serta pemikiran kesarjanaan Barat dalam kerangka pembuatan suatu

sintesis untuk melahirkan gagasan baru sebagai upaya menjawab

perubahan-perubahan aktual. Seperti ditegaskan Nurcholish Madjid suatu generasi tidak

bisa secara total memulai upaya pembaharuan dari nol, melainkan mesti

bersedia bertaqlid, yang berarti melakukan dan memanfaatkan proses akumulasi

pemikiran-pemikiran masa lalu. Namun, warisan-warisan masa lalu tidak

sekedar dihargai, tetapi sekaligus harus dihadapi secara kritis agar lahir

pemikiran-pemikiran kreatif. Tanpa adanya pengahargaan terhadap warisan

keilmuan klasik maka proses pemiskinan kultural akan terjadi.

Menurut Wahid (1993, hal. 133) suatu keharusan bagi umat Islam jika

dididik untuk mengenal dinamika sosial, kultural, politik, perokonomian, dan

dinamika edukasinya sendiri. Mereka harus dididik untuk bisa mendialogkan

kemaslahatan umat dan hak demokratisasinya serta diberi kesempatan dengan

menghilangkan kesan didekte. Abdurrahman Wahid mengatakan: bahwa sejarah

(11)

4

Faisal Ramdan Saepulloh, 2015

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

politik tapi justru melalui tasawuf, perdagangan, dan pengajaran. Jadi antar

tingkat kualitas pendidikan dan ukhuwwah Islāmiyyah dapat menjadi umpan

balik.

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian

dalam bentuk karya ilmiah atau skripsi dengan judul “Pluralisme menurut Tiga Tokoh NU dan Implikasinya terhadap Pendidikan Islam” (KH. Sofyan Yahya,

KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori).

Masih banyaknya masyarakat yang kurang memahami tentang pluralisme.

Maka, penulis ingin mengkaji lebih jauh tentang pluralisme yang berimplikasi

terhadap pengembangan pendidikan Islām.

Rumusan Masalah

Dalam penulisan karya ilmiah ini yang menjadi fokus kajian bagi penulis

mengenai pluralisme menurut tiga tokoh NU dan implikasinya terhadap

pendidikan Islam. Permasalahan yang hendak dijawab dalam penelitian ini

dapat diuraikan dalam beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana konsep pluralisme menurut tiga tokoh NU?

2. Bagaimana sejarah pluralisme di Indonesia menurut tiga tokoh NU?

3. Apa hubungan Gus Dur dan pluralisme menurut tiga tokoh NU?

4. Bagaimana implikasi pluralisme terhadap pendidikan Islam menurut tiga

tokoh NU?

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui pluralisme

menurut tiga tokoh NU dan implikasinya terhadap pendidikan Islām. Adapun

tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh penulis dalam penelitian ini antara lain:

1. Untuk mengetahui konsep pluralisme menurut tiga tokoh NU

2. Untuk mengetahui sejarah pluralisme di Indonesia menurut tiga tokoh NU

3. Untuk mengetahui hubungan Gus Dur dan pluralisme menurut tiga tokoh

NU

4. Untuk mengetahui implikasi ide pluralisme Gus Dur terhadap pendidikan

(12)

5

Faisal Ramdan Saepulloh, 2015

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

Manfaat Penelitian

Penulisan ini diharapkan dapat memberikan hal-hal yang bermanfaat

kepada:

1. Bagi pengembangaan pendidikan ide pluralisme, khususnya bagi

Universitas Pendidikan Indonesia Bandung untuk memperluas kajian

khazanah ilmu pendidikan.

2. Bagi para Dosen, penelitian ini diharapakan dapat menjadi motivasi untuk

berusaha mengimplementasikan Pendidikan Ide Pluralisme dalam rangka

menciptakan lulusan yang berkualitas dan memiliki kompetensi yang

sesuai dengan keilmuannya.

3. Bagi para mahasiswa diharapkan dapat menjadi tambahan khazanah

keilmuan yang mapan dan berkualitas.

4. Bagi penulis, semoga dapat mengasah diri dalam mengembangkan

wawasan teoritis tentang keilmuan dalam penulisan.

Sistematika Penulisan

Bab I menjelaskan tentang pendahuluan, yang di dalamnya memuat latar

balakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian,

metode penelitian, dan sistematika penulisan, agar bisa dijadikan pedoman

dalam melakukan kegiatan penelitian dan mengantarkan peneliti pada bab

berikutnya.

Bab II memaparkan tentang Kajian Pustaka, yang didalamnya akan

diutarakan tentang pengertian pluralisme, sejarah pluralisme, agama dan

pluralisme, dan pro kontra pluralisme, serta pengertian pendidikan Islām, tujuan

pendidikan Islām, nilai pendidikan Islām, sumber pendidikan Islām, pengertian

sumber pendidikan Islām, lembaga pendidikan Islām, dan lingkungan

pendidikan.

Bab III menjelaskan tentang metode penelitian. Pada penelitian ini penulis

menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik

(13)

6

Faisal Ramdan Saepulloh, 2015

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

untuk menganalisis data dengan cara reduksi data, display data, dan verifikasi

kemudian simpulan.

Bab IV pembahasan, pada bab ini mengutarakan hasil wawancara dengan

narasumber yang terdiri dari tiga Kiai NU yang membahas tentang ide

pluralisme Gus Dur dan Implikasinya terhadap Pendidikan Islām. Hal ini dimasukkan dalam bab ini, agar dapat dijadikan bekal bagi penulis untuk

melanjutkan penulisan karya ilmiah ini sehingga penulis dapat menyimpulkan

secara baik dan benar.

Bab V kesimpulan dan saran. Dalam bab terakhir, akan berisi tentang

penutup yang meliputi kesimpulan dan saran-saran ditujukan bagi para penulis

atau peneliti yang akan mengkaji masalah-masalah yang berkaitan dengan

(14)

32

Faisal Ramdan Saepulloh, 2015

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Metode Penelitian

Menyadur pendapat Subagyo (1991, hal. 2), Metode penelitian adalah

suatu cara atau jalan untuk memperoleh kembali pemecahan terhadap segala

permasalahan. Sedangkan menurut Suryabrata (2010, hal. 11), penelitian adalah

suatu proses, yaitu rangkaian langkah-langkah yang dilakukan secara terencana

dan sistematis guna mendapatkan pemecahan masalah atau mendapatkan

jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tertentu.

Menurut Leedy dan Ormrod (Sarosa, 2012, hal. 56), Metode penelitian

adalah cara yang akan ditempuh oleh peneliti untuk menjawab permasalah

penelitian atau rumusan masalah. pendekatan penelitian yang penulis gunakan

adalah pendekatan Kualitatif.

Pada penelitian ini penulis menggunakan metode pendekatan kualitatif.

Menyadur pendapat Sarosa (2012, hal. 7), pendekatan kualitatif adalah

penelitian yang memahami fenomena dalam seting dan konteks naturalnya

(bukan dalam laboratorium) dimana peneliti tidak berusaha untuk memanipulasi

fenomena yang diamati.

Menurut Sugiyono (2012, hal. 8) metode kualitatif disebut metode

penelitian naturalistic karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang

alamiah (natural setting), disebut juga metode etnography, karena pada

awalnya metode ini lebih banyak digunakan untuk penelitian bidang

antropologi budaya, disebut juga kualitatif, karena datanya bersifat kualitatif.

Sedangkan menurut Satori dan Komariah (2011, hal. 22), penelitian

kualitatif adalah penelitian yang menekankan pada quality atau hal yang

terpenting dari sifat sesuatu barang atau jasa. Adapun penelitian yang

digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif.

Saebani (2009, hal. 56) mengemukakan bahwa penelitian kualitatif

adalah jenis penelitian yang temuannya tidak diperoleh melalui prosedur

(15)

33

Faisal Ramdan Saepulloh, 2015

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

Untuk menyempurnakan penelitian ini, maka penulis juga menggunakan

metode penelitian Deskriftif. Menyadur pendapat Zuriah (2005, hal. 47),

penelitian deskriftif adalah penelitian yang diarahkan untuk membersihkan

gejala-gejala, fakta-fakta, atau kejadian-kejadian, secara sistematis dan akurat,

mengenai sifat-sifat populasi atau daerah tertentu.

Sedangkan menurut Suryabrata (2010, hal. 18), penelitian deskriftif adalah

untuk membuat pencandraan secara sistematis faktual, dan akurat, mengenai

fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. Strauss dan Corbin

(Sukmadinata, 2009, hal. 4) berpendapat bahwa penelitian deskriptif meliputi

tentang kehidupan, riwayat, dan perilaku seseorang, disamping juga tentang

peranan organisasi pergerakan sosial, atau hubungan timbal balik.

Menurut Suryabrata (2010, hal. 20), tujuan penelitian deskriptif diantaranya:

1. Untuk menginformasikan faktual yang mendetail yang mencandra keadaan

yang ada.

2. Untuk mengidentifikasi masalah-masalah atau untuk mendapatkan

justifikasi keadaan dan praktek-praktek yang sedang berlangsung.

3. Untuk membuat komprasi dan evaluasi.

4. Untuk mengetahui apa yang dikerjakan oleh orang-orang lain dalam

mengenai masalah-masalah atau situasi yang sama agar dapat belajar dari

mereka untuk kepentingan pembuat rencana dan pengambilan keputusan

dan masa depan.

Dengan menggunakan metode ini penulis mengharapkan hasil penelitiannya

bisa mengungkap rasa keingin tahuan yang penulis rasakan. Semoga mudah

dimengerti oleh pembaca karena bukan merupakan angka-angka melainkan

berisi informasi deskriptif yang berupa kata-kata serta gambar-gambar yang

membantu memperjelas, dan semoga bermanfaat bagi semua orang.

B. Lokasi dan Subjek Penelitian

Lokasi dalam penelitian ini berada di tiga tempat. Yang pertama, KH.

Sofyan Yahya bertempat di Pondok Pesantren Dārul Ma’ārif, Jalan Mahmud

(16)

34

Faisal Ramdan Saepulloh, 2015

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

Bandung Propinsi Jawa Barat. Yang kedua, KH. Thonthowi Musaddad,

bertempat di Jalan Ciledug, Nomor 107 Kabupaten Garut Propinsi Jawa Barat.

Yang ketiga, KH. Didi Hudaya Buchori, bertempat di Kota Tasikmalaya.

Dipilihnya 3 Tokoh NU dan lokasi ini berdasarkan pertimbangan-pertimbangan

diantaranya, menyesuaikan diri dengan domisili para Tokoh, penulis ingin

mengetahui Pluralisme menurut tiga tokoh tersebut, dan yang terakhir penulis

ingin meneliti implikasi pluralisme terhadap pendidikan Islam. Penelitian ini

diharapkan bisa bermanfaat bagi penulis, pembaca, dan kawan-kawan yang

ingin mengetahui lebih jauh tentang pluralisme.

Subjek dalam penelitian ini adalah tiga tokoh NU yang nama-namanya

telah tercantum.

C. Desain Penelitian

Setiap penelitian harus direncanakan dengan matang dan

sebaik-baiknya, untuk itu diperlukan suatu desain penelitian. Menurut Nasution (2009,

hal. 25), desain penelitian adalah rencana tentang cara mengumpulkan dan

menganalisis data agar dapat dilaksanakan secara ekonomis serta serasi dengan

tujuan penelitian itu.

Menurut Baxter dan Jack (Sarosa, 2012, hal. 115), desain penelitian

adalah sebagai pendekatan penelitian yang melakukan eksplorasi suatu

fenomena dalam konteksnya dengan menggunakan data dari berbagai sumber.

Menurut Nasution (2009, hal. 27), desain penelitian adalah bentuk

peneletian yang mendalam tentang suatu aspek lingkungan sosial termasuk

manusia di dalamnya.

Dalam desain penelitian Myers (Sarosa, 2012, hal. 118) menjelaskan

ada tiga aliran dalam desain penelitian, yaitu : Case study positivistic, sebagai

alat untuk menguji dan menyempurnakan hipotesis dalam suatu kasus nyata.

Case study interpretif, berusaha memahami suatu fenomena melalui

pemaknaan dari orang-orang yang terlibat didalamnya. Case study critical,

desain penelitian ini dilakukan refleksi terhadap praktik yang sedang terjadi,

(17)

35

Faisal Ramdan Saepulloh, 2015

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

Dengan melihat penjelasan dan berbagai macam desain penelitian yang

sudah dujelaskan, maka peneliti akan menggunakan desain penelitian case study

interpretif desain.

D. Instumen Penelitian

Sugiyono (2012, hal. 222) dalam penelitian kualitatif, yang menjadi

instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri. Peneliti kualitatif

sebagai Human Instrument, berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih

informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas

data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya.

Nasution (Sugiyono, 2012, hal. 225) menyatakan dalam penelitian kualitatif,

tidak ada pilihan lain daripada menjadikan manusia sebagai instrumen

penelitian utama. Alasannya ialah bahwa, segala sesuatunya belum mempunyai

bentuk yang pasti. Masalah, fokus penelitian, prosedur penelitian, hipotesis

yang digunakan, bahkan hasil yang diharapkan, itu semuanya tidak dapat

ditentukan secara pasti dan jelas sebelumnya. Segala sesuatu masih perlu

dikembangkan sepanjang penelitian itu. Dalam keadaan yang serba tidak pasti

dan tidak jelas itu, tidak ada pilihan lain dan hanya peneliti itu sendiri sebagai

alat satu-satunya yang dapat mencapainya.

E. Teknik Pengumpulan Data

Menurut Sukmadinata (2009, hal. 216), ada beberapa teknik

pengumpulan data, yaitu wawancara, angket observasi, dan studi dokumentasi.

Namun pada umumnya teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif

hanya berlaku tiga teknik. Teknik pengumpulan data yang akan digunakan

penulis adalah wawancara, studi dokumentasi, dan studi literatur.

1. Wawancara

Cara pengumpulan data yang pertama yang digunalan penulis

adalah wawancara. Menurut Sugiyono (2010, hal. 194) wawancara

digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin

(18)

36

Faisal Ramdan Saepulloh, 2015

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

wawancara dapat diperoleh inpormasi yang palid, karena wawancara

dilakukan dengancara bertemu langsung dan bertatapan muka untuk

langsung bertanya tentang masalah yang ingin diketahui.

Meminjam pendapat Nasution (2009, hal. 115), wawancara

adalah suatu bentuk komunikasi verbal, jadi semacam percakapan yang

bertujuan memperoleh informasi. Menyadur pendapat Kahn dan Cannell

(Sarosa, 2012, hal. 45), wawancara adalah sebagai diskusi antara dua orang

atau lebih dengan tujuan tertentu.

Sedangkan menurut Satori (2010, hal. 130), wawancara yaitu

suatu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan informasi yang digali

dari sumber data langsung melalui percakapan atau tanya jawab.

Sugiyono (2012, hal. 158) menjelaskan bahwa wawancara

terbagi dalam dua bagian, diantaranya sebagai berikut:

a.Wawancara terstruktur, digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila

penelitian atau pengumpulan data telah mengetahui dengan pasti tentang

informasi apa yang akan diperoleh.

b.Wawancara tidak terstruktur, yaitu wawancara yang bebas dimana peneliti

tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara

sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya.

2. Studi dokumentasi

Menyadur pendapat Satori (2010, hal. 149), studi dokumentasi yaitu

mengumpulkan dokumen dan data-data yang diperlukan dalam

permasalahan penelitian, lalu ditelaah secara intens, sehingga dapat

mendukung dan menambah kepercayaan dan pembuktian suatu kejadian.

Sedangkan menurut Sukmadinata (2009, hal. 222), studi dokumentasi

merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan

menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis maupun dokumen

elektronik. Dalam pengumpulan data menggunakan dokumentasi diartikan

sebagai catatan dalam buku maupun dokumtasi berbentuk gambar atau foto

(19)

37

Faisal Ramdan Saepulloh, 2015

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

tujuan dapat mempermudah dan akan lebih memperjelas pembaca karena

ada bukti berupa dokumentasi yang berbentuk foto, video, film, maupun

bentuk tulisan.

3. Studi Literatur

Studi literatur yaitu mempelajari buku-buku sumber untuk mendapatkan

data dan informasi teoritis yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.

Teknik ini selain digunakan untuk melengkapi serta memperkuat landasan

penulis dalam melakukan penelitian, juga untuk melengkapi hasil penelitian

yang penulis lakukan.

Menurut Sarwono (2006, hal. 47), tujuan utama melakukan studi

literatur antara lain:

a. Menemukan fariabel-variabel yang akan diteliti

b. Membedakan hal-hal yang sudah dilakukan dan menentukan hal-hal

yang perlu dilakukan

c. Melakukan sintesa dan memperoleh perspekif baru

d. Menentukan makna dan hubungan antar variabel

F. Analisis Data

Menyadur pendapat Sugiyono (2012, hal. 244), analisis data adalah

proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil

wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara

mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit,

melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan

yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga mudah difahami.

Menurut Emzir (2010, hal. 85), analisis data adalah proses sistematis

pencarian dan pengaturan transkripsi wawancara, catatan lapangan, dan

materi-materi lain yang telah anda untuk meningkatkan pemahaman anda sendiri

mengenai materi-materi tersebut dan untuk memungkinkan anda menyajikan

(20)

38

Faisal Ramdan Saepulloh, 2015

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

Menurut Moleong (2010, hal. 248), analisis data kualitatif adalah upaya

yang dilakukan dengan cara bekerja dengan data, mengorganisasikan data,

memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesisikannya,

mencari dan menemukan pola, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan

kepada orang lain.

Penelitian ini menggunakan model analisis Miles dan Huberman. Yaitu

sebagai berikut:

1. Reduksi Data

Dikarenakan data yang diperoleh dari lapangan cukup banyak,

karena semakin lama penelitian kelapangan, maka jumlah data akan semakin

banyak, kompleks dan rumit. Untuk itu diperlukan analisis data melalui

reduksi data.

Menurut Sugiyono (2012, hal. 247) Mereduksi data berarti

merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang

penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi

akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah penelitian

untuk mengumpulkan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.

2. Penyajian Data

Menurut Salim (2006, hal. 22), dalam penyajian data peneliti

mengembangkan sebuah deskripsi informasi tersusun untuk menarik

kesimpulan dan pengambilan tindakan. Display data atau penyajian data yang

lazim digunakan pada langkah ini adalah dalam bentuk teks naratif.

3. Ferifikasi

Menurut Miles dan Huberman (Sugiono, 2012, hal. 257),

kesimpulan awal yang dikemukakan hanya bersifat sementara, dan akan

berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada

tahap pengumpulan data berikutnya.

Dengan demikian menurut Sugiono (2012, hal. 257), kesimpulan

data penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang

(21)

39

Faisal Ramdan Saepulloh, 2015

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan

akan berkembang setelah penelitian dilapangan.

Skema Analisis Data

(Emzir, 2011, hal. 154)

G.Tahapan Penelitian 1.Tahap Persiapan

Tahap persiapan meliputi tahap penelitian tahap penelitian

pendahuluan dan tahap penyusunan proposal. Penelitian pendahulaun

dilakukan untuk meliputi permasalahan yang ada atau yang terjadi

dilapangan. Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan dan kajian terhadap

berbagai literature, peneliti tertarik dengan permasalahan yang berkaitan

dengan budaya Taḥlīlan, selanjutnya dikembangkan dan tidak lupa konsultasi

dengan dosen pembimbing untuk mematangkan pemahaman dan memperoleh

ijin penelitian. Pada tahap ini peneliti mempersiapan segala sesuatu yang

diperlukan sebelum peneliti terjun ke lapangan. Tujuannya agar peneliti

memperoleh gambaran yang lengkap dan jelas mengenai masalah atau.

Peristiwa yang akan diteliti. Pada tahap ini, peneliti memusatkan

masalah yang akan diteliti. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan yaitu:

a. Survey Pendahuluan Data

Collection

Data

Reduction

Conclusio n: Data

(22)

40

Faisal Ramdan Saepulloh, 2015

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

Survey pendahuluan dilakukan untuk mengetahui

permasalahan-permasalahan yang ada dan menarik untuk dijadikan sebagai fokus

penelitian yang selanjutnya disusun ke dalam proposal penelitian.

b. Menyusun Proposal Penelitian

Setelah melalui survey pendahuluan di lapangan, proposal

penelitian disusun dan kemudian diajukan kepada dewan skripsi dengan

terlebih dahulu dikonsultasikan kepada dosen pembimbing, yang telah

ditunjuk oleh ketua jurusan sehingga proposal disetujui setelah mengalami

perbaikan yang disarankan oleh pembimbing.

c. Menyiapkan Surat Izin Penelitian

Sebelum kegiatan penelitian dilapangan dilaksanakan, peneliti

menyiapkan dan melengkapi surat perizinan berupa:

1) SK pembimbing.

2) Surat pengantar dari fakultas/pra penelitian.

3) Surat permohonan izin penelitian dari Rektor UPI.

d. Tahap pelaksanaan

Pada tahap ini peneliti langsung terjun ke lapangan untuk

mengumpulkan data yang berhubungan dengan Ide Pluralisme Gus Dur.

Dalam hal ini peneliti membutuhkan waktu beberapa hari untuk

mengumpulkan data dari 3 Kiyai NU dibeberapa lokasi dengan cara

wawancara dan dokumentasi.

e. Tahap penyelesaian

Dalam tahap ini peneliti melakukan kegiatan Member-chek,

dilakukan untuk mengkonfirmasi seluruh data yang diperoleh. Menurut

Creswell (2010, hal. 287) member checking dapat dilakukan dengan

membawa kembali laporan akhir atau deskripsi-deskripsi spesifik ke

hadapan partisipan untuk mengecek apakah mereka merasa bahwa laporan

dan deskripsi tersebut sudah akurat. Dalam member chek mengharuskan

peneliti untuk melakukan pengecekan kembali kepada para partisipan dan

memberikan kesempatan pada mereka untuk berkomentar tentang hasil

(23)

41

Faisal Ramdan Saepulloh, 2015

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

peneliti menyusun hasil wawancara dan observasi secara tertulis kemudian

menyampaikannya kepada pihak yang bersangkutan untuk divalidasi.

Setelah diperiksa oleh responden atau pihak yang berkompeten, kemudian

(24)

60

Faisal Ramdan Saepulloh, 2015

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

DAFTAR PUSTAKA

...Al-Quran. (2011). Bandung: CV Dipenogoro.

Abdulloh, A. (1999). Studi Agama Normativitas atau Historisitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Abdurrahman dkk. (1993). 70 Tahun Agama dan Masyarakat. Yogyakarta: Sunan Kalijaga Press.

Achmadi, A. (2010). Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Ahmad, N. (2001). Pluralitas Agama Kerukunan dalam Keberagaman. Jakarta: Kompas.

Ali, M. D. (2000). Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Aly, H. N. (2008). Watak Pendidikan Islam. Jakarta: Friska Agung Insani.

Amstrong, K. (2002). Muhammad Sang Nabi. Surabaya: Risalah Gusti.

Baidhawy. (2004). Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural. Jakarta: Erlangga.

Basri, H. (2009). Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Creswell, J. (2010). Reseach Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed (Penerj. Achmad Fawaid). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Daradjat, Z. (2008). Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta: PT. Aksara .

Effendi, B. (2001). Masyarakat Agama dan Pluralisme Keagamaan. Yogyakarta: Galang Press .

Emzir. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif : Analisis Data. Jakarta: Rajawali.

Faisal, A. (1998). Islamiyyah Islam Lahiriyyah. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Fikri, M. N. (2012). Bapak Tionghoa Indonesia. Yogyakarta: LKiS.

Gus Dur Santri Par Excellence. (2010). Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara.

(25)

61

Faisal Ramdan Saepulloh, 2015

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

Husaini, A. (2005). Pluralisme Agama Haram. Jakarta: Perspektif.

Iskandar, M. (2010). Melanjutkan Pemikiran dan Perjuangan Gus Dur. Yogyakarta: LKiS.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2008). Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Komariah, D. S. (2011). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Kompilasi Perundangan Bidang Pendidikan. (2009). Yogyakarta: Pustaka Yustisia.

Kurniawan, S. H. (2012). Studi Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta: Al-Ruzz media.

La Sulo, T. (2005). Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Ma'arif, S. (2005). Pendidikan Pluralisme di Indonesia. Yogyakarta: Logung Pustaka.

Mahfud MD. (2010). Gus Dur (Islam, Politik, dan Kebangsaan). Yogyakarta: LKiS.

Masdar, U. (1998). Membaca Pemikiran Gus Dur dan Amin Rais tentang Demokrasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Moleong, L. J. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Refisi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Muhaimin. (2008). Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Mulyana, R. (2004). Mengartikulasi Pendidikan Nilai. Bandung : Alfabeta.

Nasution, S. (2009). Metode Reseach (Penelitian Ilmiah). Jakarta: Bumi Aksara.

Nata, A. (2010). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Prenada Media Grup.

Nizar, R. &. (2010). Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

Prisma Pemikiran Gus Dur. (2000). Yogyakarta: LKiS.

(26)

62

Faisal Ramdan Saepulloh, 2015

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

Rachman, B. M. (2001). Argumen Islam untuk Pluralisme. Jakarta: Grasindo.

Ridwan, N. K. (2002). Pluralisme Borjuis Kritik atas Nalar Pluralisme Cak Nur. Yogyakarta: Galang Press.

Saebani, A. &. (2009). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Salim, A. (2006). Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Sarosa, S. (2012). Penelitian Kualitatif Dasa-dasar. Jakarta: Indeks.

Sarwono, J. (2006). Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Satori, D. (2010). Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: CV. Pustaka.

Sauri, S. (2006). Pendidikan Berbahasa Santun. Bandung : PT. Genesindo.

Shihab, A. (1999). Islam Inklusif. Bandung: Mizan.

Shihab, Q. (1995). Membumikan al-Quran. Bandung: Mizan.

Subagyo, J. (1991). Metode Penelitian dalam Teori dan Praktek. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Sudiono, H. (2009). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Sugiono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sukmadinata, N. S. (2009). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Suryabrata, S. (2010). Metode Penelitian. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Suryana dkk. (1997). Ensiklopedi Islam. Bandung: Tiga Mutiara.

Suryana. (1996). Pendidikan Agama Islam (untuk Perguruan Tinggi). Bandung: Tiga Mulia.

Syafe'i, R. (2010). Ilmu Ushul Fiqh. Bandung: CV. Pustaka Setia.

(27)

63

Faisal Ramdan Saepulloh, 2015

PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)

Taufik, H. M. (2005). Pemikiran Fazlur Rahman, Moderenisasi dan Integrasi Intelektual Islam. Jakarta: Kreasi Cerdas Utama.

Thoha, A. M. (2005). Tren Pluralisme Agama, Tinjauan Kritis. Jakarta: Gema Insani Press.

Tuhan Tidak Perlu Dibela. (2011). Yogyakarta: LKiS.

Wahid, A. (1993). Islam di Tengah Pergulatan Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Wahid, A., dkk. (1995). Dialog Kritik dan Identitas Agama. Yogyakarta: Interfedei.

Widodo, D. (2010). Wajah DPR dan DPD, 2009 - 2014 : Latar Belakang Pendidikan Karier. Jakarta: Kompas.

Zahrah, M. (2011). Ushul Fiqh. Jakarta: PT. Pustaka Firdaus.

Referensi

Dokumen terkait