Faisal Ramdan Saepulloh, 2015
PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
Nomor Daftar FPIPS : 4472/UN.40.2.6.1/PL/2015
PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM
(KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat
untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Ilmu Pendidikan Agama Islam
Oleh
Faisal Ramdan Saepulloh
0908521
PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG
Faisal Ramdan Saepulloh, 2015
PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
“PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM”
(KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
Oleh
Faisal Ramdan Saepulloh
Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
© Faisal Ramdan Saepulloh 2015
Universitas Pendidikan Indonesia
Februari 2015
Hak Cipta dilindungi undang-undang.
Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhya atau sebagian,
Faisal Ramdan Saepulloh, 2015
PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
FAISAL RAMDAN SAEPULLOH 0908521
PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM
(KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH PEMBIMBING : Pembimbing I,
Dr. H. Endis Firdaus, M,Ag. NIP : 19570303 198803 1 001
Pembimbing II,
Dr. Munawar Rahmat, M.Pd. NIP : 19580128 1986121 1 001
Mengetahui,
Ketua Program Studi Ilmu Pendidikan Agama Islam Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Universitas Pendidikan Indonesia
Faisal Ramdan Saepulloh, 2015
PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
Skripsi ini diuji pada :
Hari/Tanggal : Selasa, 24 Februari, 2015
Tempat : Gedung FPIPS UPI
Panitia ujian terdiri atas : 1. Ketua
:
Prof. Dr. Karim suryadi, M.Si. NIP : 19700814 199402 1 001 2. Sekretaris
:
Dr. H. Endis Firdaus, M,Ag. NIP : 19570303 198803 1 001 3. Penguji
:
3.1. Dr. H. Syahidin, M.Pd. NIP : 19570611 198703 1 001
3.2. Dr. H. Aceng Kosasih, M.Ag. NIP : 19650917 199001 1 001
Faisal Ramdan Saepulloh, 2015
Faisal Ramdan Saepulloh, 2015
PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
DAFTAR ISI
ABSTRAK... i
KATA PENGANTAR... ii
UCAPAN TERIMAKSIH... iii
DAFTAR TRANSLITRASI... v
DAFTAR ISI... vi
BAB I………. PENDAHULUAN………... 1
A. Latar Belakang Masalah……… 1
B. Rumusan Masalah……….. 4
C. Tujuan Penelitian………... 4
D. Manfaat Penelitian………. 5
E. Sistematika Penulisan……… 5
BAB II……….... KAJIAN PUSTAKA... 7
A. PLURALISME... 7
1. Pengertian Pluralisme... 7
2. Sejarah Pluralisme... 10
3. Agama dan Pluralisme... 13
4. Pro Dan Kontra Pluralisme... 15
B. PENDIDIKAN ISLAM... 1. Pengertian Pendidikan Islam………... 16
2. Tujuan Pendidikan Islam……… 19
3. Nilai Pendidikan Islam………... 22
4. Sumber Pendidikan Islam………... 24
5. Pendidikan Pluralisme... 29
BAB III... METODE PENELITIAN... 32
Faisal Ramdan Saepulloh, 2015
PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
B. Lokasi dan Subjek Penelitian……… 33
C. Desain Penelitian………... 34
D. Instumen Penelitian………... 35
E. Teknik Pengumpulan Data……… 35
F. Analisis Data……….. 37
G. Tahapan Penelitian……… 39
BAB IV... HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN... 42
A. Pengertian Pluralisme... 42
B. Sejarah Pluralisme di Indonesia... 44
C. Gus Dur dan Pluralisme... 46
D. Implikasi Pluralisme terhadap Pendidikan Islam... 55
BAB V... A. Kesimpulan... 58
B. Saran... 59
1
Faisal Ramdan Saepulloh, 2015
PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
Menurut Baidhawy (2004, hal. 114), dalam kehidupan masyarakat
majemuk yang diperlukan adalah penghormatan atas berkembangnya budaya
masyarakat dengan segala bentuknya. Hal ini dikarenakan budaya menjadi salah
satu fakor perekat sosial demi tegaknya kehidupan yang harmonis bagi suatu
bangsa dan masyarakat dalam rangka membangun kehidupan yang lebih maju
di era globalisasi dan modernisasi. Budaya sebagai hasil karya masyarakat
merupakan eksistensi asasi dari manusia yang perlu dilestarikan keberadaannya,
karena dengan ini akan tercipta kesatuan dalam keaneka-ragaman.
Keberagaman pada hakikatnya merupakan realitas kehidupan itu sendiri,
yang tidak bisa dihindari dan ditolak. Karena keberagaman merupakan
sunnatullāh, maka keberadaanya harus diakui oleh setiap manusia. Sebagaimana disebutkan dalam Q.S al-Ḥujurāt [49]: 13
Artinya : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.1
Ayat tersebut menunjukkan bahwa semua manusia adalah sama-sama
makhluk Tuhan, mereka memiliki keyakinan, tradisi dan budayanya sendiri,
1
Seluruh tulisan ayat Al-Qur`ān dan terjemahannya dalam sekripsi ini dikutip dari software al-Qurān in word yang disesuaikan dengan Al-Qurān dan Terjemahannya yang
2
Faisal Ramdan Saepulloh, 2015
PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
mereka memiliki pandangan hidup yang bermacam-macam, serta hidup dalam
berbagai suku, bangsa, dan bahasa.
Wahid (1999, hal. 196) menjelaskan bahwa kemajemukan bangsa
Indonesia baik suku, ras, agama maupun perbedaan pandangan dan pendapat
dalam melihat realitas merupakan kekayaan dan kebangan tersendiri yang tidak
dimiliki bangsa lain. Namun dengan keragamaan akan perbedaan itu sering
membawa kepada disintegrasi bangsa, karena klaim kebenaran dari kelompok
satu kepada kelompok lain akan memicu perang ide dan ujung-ujung sampai
pada perang fisik. Untuk mengindari hal itu maka diperlukan kearifan, toleransi,
tenggang rasa, dan dialog antar masyarakat (jangan dilupakan kita sebagai
bangsa terlanjur heterogen dan pluralistik).
Menurut Husaini (2005, hal. 2), tantangan yang dihadapi dewasa ini
sebenarnya bukan dalam bidang ekonomi, politik, sosial dan budaya, tetapi
tantangan pemikiran. Sebab persoalan yang ditimbulkan oleh bidang-bidang
ekonomi, politik, sosial, dan budaya ternyata bersumber dari pemikiran. Di
antara tantangan pemikiran yang paling serius saat ini adalah di bidang
pemikiran keagamaan. Tantangan yang sudah lama disadari adalah tantangan
internal yang berupa fanatisme, taklid buta, bid’ah, khurafat, dan sebagainya.
Sedangkan tantangan eksternal yang sedang dihadapi saat ini adalah masuknya
paham liberalisme, sekulerisme, relativisme, pluralisme agama dan lain
sebagainya, kedalam wacana pemikiran keagamaan bangsa Indonesia.
Hidayat (2008, hal. 55) menjelaskan bahwa sebuah masyarakat heterogen
yang sedang tumbuh, seperti bangsa Indonesia, tentu sulit untuk
mengembangkan saling pengertian antar beraneka ragam unsur-unsur etnis, dan
budaya daerah. Kalaupun tidak terjadi salah pengertian mendasar atas
unsur-unsur itu, paling tidak tentu saling pengertian yang tercapai barulah bersifat
nominal belaka, dengan kata lain, suasana optimal yang dapat dicapai bukanlah
saling pengertian, melainkan sekedar mengurangi kesalah pahaman.
Meskipun demikian, harus diakui, bahwa pluralisme masih menghadapi
tatntangan yang serius, terutama pasca-fatwa MUI tentang pengharaman
3
Faisal Ramdan Saepulloh, 2015
PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
hal. ix) menjelaskan bahwa fatwa semacam ini merupakan tantangan serius
dalam membangun harmoni dan kebersamaan. Karena seolah-olah ketika
berhubungan dengan kelompok lain yang berbeda, maka dianggap akan menjadi
bagian dari kelompok tersebut. Padahal, dialog dan perjumpaan justru dapat
menjadi kekuatan dan potensi, terutama dalam konteks kebangsaan.
Misrawi (dalam Gus Dur Santri Par Excellence, 2010, hal. x)
menambahkan bahwa pluralisme semakin mendapat tantangan, karena tindakan
intoleransi sepanjang tahun 2009 masih menjadi momok yang menakutkan.
Setidaknya menurut pemantauan Moderate Muslim Society, ada sekitar 59
tindakan intoleransi. Puncaknya adalah aksi terorisme yang membuktikan,
bahwa ekstremisme dengan mengatasnamakan paham keagamaan tertentu
masih mengemuka. Pelaku dan jaringannya berhasil ditangkap, bahkan
dibunuh, tetapi paham dan habitatnya masih terus berkembang.
Abdurrahman Wahid (Masdar, 1998, hal. 123) mencoba tidak hanya
menggunakan hasil pemikiran Islam tradisional namun lebih pada penggunaan
metodologi teori hukum (uṣul al-fiqh) dan kaidah-kaidah hukum (qawaid
fiqhiyah) serta pemikiran kesarjanaan Barat dalam kerangka pembuatan suatu
sintesis untuk melahirkan gagasan baru sebagai upaya menjawab
perubahan-perubahan aktual. Seperti ditegaskan Nurcholish Madjid suatu generasi tidak
bisa secara total memulai upaya pembaharuan dari nol, melainkan mesti
bersedia bertaqlid, yang berarti melakukan dan memanfaatkan proses akumulasi
pemikiran-pemikiran masa lalu. Namun, warisan-warisan masa lalu tidak
sekedar dihargai, tetapi sekaligus harus dihadapi secara kritis agar lahir
pemikiran-pemikiran kreatif. Tanpa adanya pengahargaan terhadap warisan
keilmuan klasik maka proses pemiskinan kultural akan terjadi.
Menurut Wahid (1993, hal. 133) suatu keharusan bagi umat Islam jika
dididik untuk mengenal dinamika sosial, kultural, politik, perokonomian, dan
dinamika edukasinya sendiri. Mereka harus dididik untuk bisa mendialogkan
kemaslahatan umat dan hak demokratisasinya serta diberi kesempatan dengan
menghilangkan kesan didekte. Abdurrahman Wahid mengatakan: bahwa sejarah
4
Faisal Ramdan Saepulloh, 2015
PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
politik tapi justru melalui tasawuf, perdagangan, dan pengajaran. Jadi antar
tingkat kualitas pendidikan dan ukhuwwah Islāmiyyah dapat menjadi umpan
balik.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian
dalam bentuk karya ilmiah atau skripsi dengan judul “Pluralisme menurut Tiga Tokoh NU dan Implikasinya terhadap Pendidikan Islam” (KH. Sofyan Yahya,
KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori).
Masih banyaknya masyarakat yang kurang memahami tentang pluralisme.
Maka, penulis ingin mengkaji lebih jauh tentang pluralisme yang berimplikasi
terhadap pengembangan pendidikan Islām.
Rumusan Masalah
Dalam penulisan karya ilmiah ini yang menjadi fokus kajian bagi penulis
mengenai pluralisme menurut tiga tokoh NU dan implikasinya terhadap
pendidikan Islam. Permasalahan yang hendak dijawab dalam penelitian ini
dapat diuraikan dalam beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana konsep pluralisme menurut tiga tokoh NU?
2. Bagaimana sejarah pluralisme di Indonesia menurut tiga tokoh NU?
3. Apa hubungan Gus Dur dan pluralisme menurut tiga tokoh NU?
4. Bagaimana implikasi pluralisme terhadap pendidikan Islam menurut tiga
tokoh NU?
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui pluralisme
menurut tiga tokoh NU dan implikasinya terhadap pendidikan Islām. Adapun
tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh penulis dalam penelitian ini antara lain:
1. Untuk mengetahui konsep pluralisme menurut tiga tokoh NU
2. Untuk mengetahui sejarah pluralisme di Indonesia menurut tiga tokoh NU
3. Untuk mengetahui hubungan Gus Dur dan pluralisme menurut tiga tokoh
NU
4. Untuk mengetahui implikasi ide pluralisme Gus Dur terhadap pendidikan
5
Faisal Ramdan Saepulloh, 2015
PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
Manfaat Penelitian
Penulisan ini diharapkan dapat memberikan hal-hal yang bermanfaat
kepada:
1. Bagi pengembangaan pendidikan ide pluralisme, khususnya bagi
Universitas Pendidikan Indonesia Bandung untuk memperluas kajian
khazanah ilmu pendidikan.
2. Bagi para Dosen, penelitian ini diharapakan dapat menjadi motivasi untuk
berusaha mengimplementasikan Pendidikan Ide Pluralisme dalam rangka
menciptakan lulusan yang berkualitas dan memiliki kompetensi yang
sesuai dengan keilmuannya.
3. Bagi para mahasiswa diharapkan dapat menjadi tambahan khazanah
keilmuan yang mapan dan berkualitas.
4. Bagi penulis, semoga dapat mengasah diri dalam mengembangkan
wawasan teoritis tentang keilmuan dalam penulisan.
Sistematika Penulisan
Bab I menjelaskan tentang pendahuluan, yang di dalamnya memuat latar
balakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian,
metode penelitian, dan sistematika penulisan, agar bisa dijadikan pedoman
dalam melakukan kegiatan penelitian dan mengantarkan peneliti pada bab
berikutnya.
Bab II memaparkan tentang Kajian Pustaka, yang didalamnya akan
diutarakan tentang pengertian pluralisme, sejarah pluralisme, agama dan
pluralisme, dan pro kontra pluralisme, serta pengertian pendidikan Islām, tujuan
pendidikan Islām, nilai pendidikan Islām, sumber pendidikan Islām, pengertian
sumber pendidikan Islām, lembaga pendidikan Islām, dan lingkungan
pendidikan.
Bab III menjelaskan tentang metode penelitian. Pada penelitian ini penulis
menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik
6
Faisal Ramdan Saepulloh, 2015
PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
untuk menganalisis data dengan cara reduksi data, display data, dan verifikasi
kemudian simpulan.
Bab IV pembahasan, pada bab ini mengutarakan hasil wawancara dengan
narasumber yang terdiri dari tiga Kiai NU yang membahas tentang ide
pluralisme Gus Dur dan Implikasinya terhadap Pendidikan Islām. Hal ini dimasukkan dalam bab ini, agar dapat dijadikan bekal bagi penulis untuk
melanjutkan penulisan karya ilmiah ini sehingga penulis dapat menyimpulkan
secara baik dan benar.
Bab V kesimpulan dan saran. Dalam bab terakhir, akan berisi tentang
penutup yang meliputi kesimpulan dan saran-saran ditujukan bagi para penulis
atau peneliti yang akan mengkaji masalah-masalah yang berkaitan dengan
32
Faisal Ramdan Saepulloh, 2015
PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
BAB III
METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Metode Penelitian
Menyadur pendapat Subagyo (1991, hal. 2), Metode penelitian adalah
suatu cara atau jalan untuk memperoleh kembali pemecahan terhadap segala
permasalahan. Sedangkan menurut Suryabrata (2010, hal. 11), penelitian adalah
suatu proses, yaitu rangkaian langkah-langkah yang dilakukan secara terencana
dan sistematis guna mendapatkan pemecahan masalah atau mendapatkan
jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tertentu.
Menurut Leedy dan Ormrod (Sarosa, 2012, hal. 56), Metode penelitian
adalah cara yang akan ditempuh oleh peneliti untuk menjawab permasalah
penelitian atau rumusan masalah. pendekatan penelitian yang penulis gunakan
adalah pendekatan Kualitatif.
Pada penelitian ini penulis menggunakan metode pendekatan kualitatif.
Menyadur pendapat Sarosa (2012, hal. 7), pendekatan kualitatif adalah
penelitian yang memahami fenomena dalam seting dan konteks naturalnya
(bukan dalam laboratorium) dimana peneliti tidak berusaha untuk memanipulasi
fenomena yang diamati.
Menurut Sugiyono (2012, hal. 8) metode kualitatif disebut metode
penelitian naturalistic karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang
alamiah (natural setting), disebut juga metode etnography, karena pada
awalnya metode ini lebih banyak digunakan untuk penelitian bidang
antropologi budaya, disebut juga kualitatif, karena datanya bersifat kualitatif.
Sedangkan menurut Satori dan Komariah (2011, hal. 22), penelitian
kualitatif adalah penelitian yang menekankan pada quality atau hal yang
terpenting dari sifat sesuatu barang atau jasa. Adapun penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif.
Saebani (2009, hal. 56) mengemukakan bahwa penelitian kualitatif
adalah jenis penelitian yang temuannya tidak diperoleh melalui prosedur
33
Faisal Ramdan Saepulloh, 2015
PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
Untuk menyempurnakan penelitian ini, maka penulis juga menggunakan
metode penelitian Deskriftif. Menyadur pendapat Zuriah (2005, hal. 47),
penelitian deskriftif adalah penelitian yang diarahkan untuk membersihkan
gejala-gejala, fakta-fakta, atau kejadian-kejadian, secara sistematis dan akurat,
mengenai sifat-sifat populasi atau daerah tertentu.
Sedangkan menurut Suryabrata (2010, hal. 18), penelitian deskriftif adalah
untuk membuat pencandraan secara sistematis faktual, dan akurat, mengenai
fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. Strauss dan Corbin
(Sukmadinata, 2009, hal. 4) berpendapat bahwa penelitian deskriptif meliputi
tentang kehidupan, riwayat, dan perilaku seseorang, disamping juga tentang
peranan organisasi pergerakan sosial, atau hubungan timbal balik.
Menurut Suryabrata (2010, hal. 20), tujuan penelitian deskriptif diantaranya:
1. Untuk menginformasikan faktual yang mendetail yang mencandra keadaan
yang ada.
2. Untuk mengidentifikasi masalah-masalah atau untuk mendapatkan
justifikasi keadaan dan praktek-praktek yang sedang berlangsung.
3. Untuk membuat komprasi dan evaluasi.
4. Untuk mengetahui apa yang dikerjakan oleh orang-orang lain dalam
mengenai masalah-masalah atau situasi yang sama agar dapat belajar dari
mereka untuk kepentingan pembuat rencana dan pengambilan keputusan
dan masa depan.
Dengan menggunakan metode ini penulis mengharapkan hasil penelitiannya
bisa mengungkap rasa keingin tahuan yang penulis rasakan. Semoga mudah
dimengerti oleh pembaca karena bukan merupakan angka-angka melainkan
berisi informasi deskriptif yang berupa kata-kata serta gambar-gambar yang
membantu memperjelas, dan semoga bermanfaat bagi semua orang.
B. Lokasi dan Subjek Penelitian
Lokasi dalam penelitian ini berada di tiga tempat. Yang pertama, KH.
Sofyan Yahya bertempat di Pondok Pesantren Dārul Ma’ārif, Jalan Mahmud
34
Faisal Ramdan Saepulloh, 2015
PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
Bandung Propinsi Jawa Barat. Yang kedua, KH. Thonthowi Musaddad,
bertempat di Jalan Ciledug, Nomor 107 Kabupaten Garut Propinsi Jawa Barat.
Yang ketiga, KH. Didi Hudaya Buchori, bertempat di Kota Tasikmalaya.
Dipilihnya 3 Tokoh NU dan lokasi ini berdasarkan pertimbangan-pertimbangan
diantaranya, menyesuaikan diri dengan domisili para Tokoh, penulis ingin
mengetahui Pluralisme menurut tiga tokoh tersebut, dan yang terakhir penulis
ingin meneliti implikasi pluralisme terhadap pendidikan Islam. Penelitian ini
diharapkan bisa bermanfaat bagi penulis, pembaca, dan kawan-kawan yang
ingin mengetahui lebih jauh tentang pluralisme.
Subjek dalam penelitian ini adalah tiga tokoh NU yang nama-namanya
telah tercantum.
C. Desain Penelitian
Setiap penelitian harus direncanakan dengan matang dan
sebaik-baiknya, untuk itu diperlukan suatu desain penelitian. Menurut Nasution (2009,
hal. 25), desain penelitian adalah rencana tentang cara mengumpulkan dan
menganalisis data agar dapat dilaksanakan secara ekonomis serta serasi dengan
tujuan penelitian itu.
Menurut Baxter dan Jack (Sarosa, 2012, hal. 115), desain penelitian
adalah sebagai pendekatan penelitian yang melakukan eksplorasi suatu
fenomena dalam konteksnya dengan menggunakan data dari berbagai sumber.
Menurut Nasution (2009, hal. 27), desain penelitian adalah bentuk
peneletian yang mendalam tentang suatu aspek lingkungan sosial termasuk
manusia di dalamnya.
Dalam desain penelitian Myers (Sarosa, 2012, hal. 118) menjelaskan
ada tiga aliran dalam desain penelitian, yaitu : Case study positivistic, sebagai
alat untuk menguji dan menyempurnakan hipotesis dalam suatu kasus nyata.
Case study interpretif, berusaha memahami suatu fenomena melalui
pemaknaan dari orang-orang yang terlibat didalamnya. Case study critical,
desain penelitian ini dilakukan refleksi terhadap praktik yang sedang terjadi,
35
Faisal Ramdan Saepulloh, 2015
PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
Dengan melihat penjelasan dan berbagai macam desain penelitian yang
sudah dujelaskan, maka peneliti akan menggunakan desain penelitian case study
interpretif desain.
D. Instumen Penelitian
Sugiyono (2012, hal. 222) dalam penelitian kualitatif, yang menjadi
instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri. Peneliti kualitatif
sebagai Human Instrument, berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih
informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas
data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya.
Nasution (Sugiyono, 2012, hal. 225) menyatakan dalam penelitian kualitatif,
tidak ada pilihan lain daripada menjadikan manusia sebagai instrumen
penelitian utama. Alasannya ialah bahwa, segala sesuatunya belum mempunyai
bentuk yang pasti. Masalah, fokus penelitian, prosedur penelitian, hipotesis
yang digunakan, bahkan hasil yang diharapkan, itu semuanya tidak dapat
ditentukan secara pasti dan jelas sebelumnya. Segala sesuatu masih perlu
dikembangkan sepanjang penelitian itu. Dalam keadaan yang serba tidak pasti
dan tidak jelas itu, tidak ada pilihan lain dan hanya peneliti itu sendiri sebagai
alat satu-satunya yang dapat mencapainya.
E. Teknik Pengumpulan Data
Menurut Sukmadinata (2009, hal. 216), ada beberapa teknik
pengumpulan data, yaitu wawancara, angket observasi, dan studi dokumentasi.
Namun pada umumnya teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif
hanya berlaku tiga teknik. Teknik pengumpulan data yang akan digunakan
penulis adalah wawancara, studi dokumentasi, dan studi literatur.
1. Wawancara
Cara pengumpulan data yang pertama yang digunalan penulis
adalah wawancara. Menurut Sugiyono (2010, hal. 194) wawancara
digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin
36
Faisal Ramdan Saepulloh, 2015
PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
wawancara dapat diperoleh inpormasi yang palid, karena wawancara
dilakukan dengancara bertemu langsung dan bertatapan muka untuk
langsung bertanya tentang masalah yang ingin diketahui.
Meminjam pendapat Nasution (2009, hal. 115), wawancara
adalah suatu bentuk komunikasi verbal, jadi semacam percakapan yang
bertujuan memperoleh informasi. Menyadur pendapat Kahn dan Cannell
(Sarosa, 2012, hal. 45), wawancara adalah sebagai diskusi antara dua orang
atau lebih dengan tujuan tertentu.
Sedangkan menurut Satori (2010, hal. 130), wawancara yaitu
suatu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan informasi yang digali
dari sumber data langsung melalui percakapan atau tanya jawab.
Sugiyono (2012, hal. 158) menjelaskan bahwa wawancara
terbagi dalam dua bagian, diantaranya sebagai berikut:
a.Wawancara terstruktur, digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila
penelitian atau pengumpulan data telah mengetahui dengan pasti tentang
informasi apa yang akan diperoleh.
b.Wawancara tidak terstruktur, yaitu wawancara yang bebas dimana peneliti
tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara
sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya.
2. Studi dokumentasi
Menyadur pendapat Satori (2010, hal. 149), studi dokumentasi yaitu
mengumpulkan dokumen dan data-data yang diperlukan dalam
permasalahan penelitian, lalu ditelaah secara intens, sehingga dapat
mendukung dan menambah kepercayaan dan pembuktian suatu kejadian.
Sedangkan menurut Sukmadinata (2009, hal. 222), studi dokumentasi
merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan
menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis maupun dokumen
elektronik. Dalam pengumpulan data menggunakan dokumentasi diartikan
sebagai catatan dalam buku maupun dokumtasi berbentuk gambar atau foto
37
Faisal Ramdan Saepulloh, 2015
PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
tujuan dapat mempermudah dan akan lebih memperjelas pembaca karena
ada bukti berupa dokumentasi yang berbentuk foto, video, film, maupun
bentuk tulisan.
3. Studi Literatur
Studi literatur yaitu mempelajari buku-buku sumber untuk mendapatkan
data dan informasi teoritis yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.
Teknik ini selain digunakan untuk melengkapi serta memperkuat landasan
penulis dalam melakukan penelitian, juga untuk melengkapi hasil penelitian
yang penulis lakukan.
Menurut Sarwono (2006, hal. 47), tujuan utama melakukan studi
literatur antara lain:
a. Menemukan fariabel-variabel yang akan diteliti
b. Membedakan hal-hal yang sudah dilakukan dan menentukan hal-hal
yang perlu dilakukan
c. Melakukan sintesa dan memperoleh perspekif baru
d. Menentukan makna dan hubungan antar variabel
F. Analisis Data
Menyadur pendapat Sugiyono (2012, hal. 244), analisis data adalah
proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil
wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara
mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit,
melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan
yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga mudah difahami.
Menurut Emzir (2010, hal. 85), analisis data adalah proses sistematis
pencarian dan pengaturan transkripsi wawancara, catatan lapangan, dan
materi-materi lain yang telah anda untuk meningkatkan pemahaman anda sendiri
mengenai materi-materi tersebut dan untuk memungkinkan anda menyajikan
38
Faisal Ramdan Saepulloh, 2015
PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
Menurut Moleong (2010, hal. 248), analisis data kualitatif adalah upaya
yang dilakukan dengan cara bekerja dengan data, mengorganisasikan data,
memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesisikannya,
mencari dan menemukan pola, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan
kepada orang lain.
Penelitian ini menggunakan model analisis Miles dan Huberman. Yaitu
sebagai berikut:
1. Reduksi Data
Dikarenakan data yang diperoleh dari lapangan cukup banyak,
karena semakin lama penelitian kelapangan, maka jumlah data akan semakin
banyak, kompleks dan rumit. Untuk itu diperlukan analisis data melalui
reduksi data.
Menurut Sugiyono (2012, hal. 247) Mereduksi data berarti
merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang
penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi
akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah penelitian
untuk mengumpulkan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.
2. Penyajian Data
Menurut Salim (2006, hal. 22), dalam penyajian data peneliti
mengembangkan sebuah deskripsi informasi tersusun untuk menarik
kesimpulan dan pengambilan tindakan. Display data atau penyajian data yang
lazim digunakan pada langkah ini adalah dalam bentuk teks naratif.
3. Ferifikasi
Menurut Miles dan Huberman (Sugiono, 2012, hal. 257),
kesimpulan awal yang dikemukakan hanya bersifat sementara, dan akan
berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada
tahap pengumpulan data berikutnya.
Dengan demikian menurut Sugiono (2012, hal. 257), kesimpulan
data penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang
39
Faisal Ramdan Saepulloh, 2015
PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan
akan berkembang setelah penelitian dilapangan.
Skema Analisis Data
(Emzir, 2011, hal. 154)
G.Tahapan Penelitian 1.Tahap Persiapan
Tahap persiapan meliputi tahap penelitian tahap penelitian
pendahuluan dan tahap penyusunan proposal. Penelitian pendahulaun
dilakukan untuk meliputi permasalahan yang ada atau yang terjadi
dilapangan. Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan dan kajian terhadap
berbagai literature, peneliti tertarik dengan permasalahan yang berkaitan
dengan budaya Taḥlīlan, selanjutnya dikembangkan dan tidak lupa konsultasi
dengan dosen pembimbing untuk mematangkan pemahaman dan memperoleh
ijin penelitian. Pada tahap ini peneliti mempersiapan segala sesuatu yang
diperlukan sebelum peneliti terjun ke lapangan. Tujuannya agar peneliti
memperoleh gambaran yang lengkap dan jelas mengenai masalah atau.
Peristiwa yang akan diteliti. Pada tahap ini, peneliti memusatkan
masalah yang akan diteliti. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan yaitu:
a. Survey Pendahuluan Data
Collection
Data
Reduction
Conclusio n: Data
40
Faisal Ramdan Saepulloh, 2015
PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
Survey pendahuluan dilakukan untuk mengetahui
permasalahan-permasalahan yang ada dan menarik untuk dijadikan sebagai fokus
penelitian yang selanjutnya disusun ke dalam proposal penelitian.
b. Menyusun Proposal Penelitian
Setelah melalui survey pendahuluan di lapangan, proposal
penelitian disusun dan kemudian diajukan kepada dewan skripsi dengan
terlebih dahulu dikonsultasikan kepada dosen pembimbing, yang telah
ditunjuk oleh ketua jurusan sehingga proposal disetujui setelah mengalami
perbaikan yang disarankan oleh pembimbing.
c. Menyiapkan Surat Izin Penelitian
Sebelum kegiatan penelitian dilapangan dilaksanakan, peneliti
menyiapkan dan melengkapi surat perizinan berupa:
1) SK pembimbing.
2) Surat pengantar dari fakultas/pra penelitian.
3) Surat permohonan izin penelitian dari Rektor UPI.
d. Tahap pelaksanaan
Pada tahap ini peneliti langsung terjun ke lapangan untuk
mengumpulkan data yang berhubungan dengan Ide Pluralisme Gus Dur.
Dalam hal ini peneliti membutuhkan waktu beberapa hari untuk
mengumpulkan data dari 3 Kiyai NU dibeberapa lokasi dengan cara
wawancara dan dokumentasi.
e. Tahap penyelesaian
Dalam tahap ini peneliti melakukan kegiatan Member-chek,
dilakukan untuk mengkonfirmasi seluruh data yang diperoleh. Menurut
Creswell (2010, hal. 287) member checking dapat dilakukan dengan
membawa kembali laporan akhir atau deskripsi-deskripsi spesifik ke
hadapan partisipan untuk mengecek apakah mereka merasa bahwa laporan
dan deskripsi tersebut sudah akurat. Dalam member chek mengharuskan
peneliti untuk melakukan pengecekan kembali kepada para partisipan dan
memberikan kesempatan pada mereka untuk berkomentar tentang hasil
41
Faisal Ramdan Saepulloh, 2015
PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
peneliti menyusun hasil wawancara dan observasi secara tertulis kemudian
menyampaikannya kepada pihak yang bersangkutan untuk divalidasi.
Setelah diperiksa oleh responden atau pihak yang berkompeten, kemudian
60
Faisal Ramdan Saepulloh, 2015
PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
DAFTAR PUSTAKA
...Al-Quran. (2011). Bandung: CV Dipenogoro.
Abdulloh, A. (1999). Studi Agama Normativitas atau Historisitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Abdurrahman dkk. (1993). 70 Tahun Agama dan Masyarakat. Yogyakarta: Sunan Kalijaga Press.
Achmadi, A. (2010). Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Ahmad, N. (2001). Pluralitas Agama Kerukunan dalam Keberagaman. Jakarta: Kompas.
Ali, M. D. (2000). Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Aly, H. N. (2008). Watak Pendidikan Islam. Jakarta: Friska Agung Insani.
Amstrong, K. (2002). Muhammad Sang Nabi. Surabaya: Risalah Gusti.
Baidhawy. (2004). Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural. Jakarta: Erlangga.
Basri, H. (2009). Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Creswell, J. (2010). Reseach Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed (Penerj. Achmad Fawaid). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Daradjat, Z. (2008). Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta: PT. Aksara .
Effendi, B. (2001). Masyarakat Agama dan Pluralisme Keagamaan. Yogyakarta: Galang Press .
Emzir. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif : Analisis Data. Jakarta: Rajawali.
Faisal, A. (1998). Islamiyyah Islam Lahiriyyah. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Fikri, M. N. (2012). Bapak Tionghoa Indonesia. Yogyakarta: LKiS.
Gus Dur Santri Par Excellence. (2010). Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara.
61
Faisal Ramdan Saepulloh, 2015
PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
Husaini, A. (2005). Pluralisme Agama Haram. Jakarta: Perspektif.
Iskandar, M. (2010). Melanjutkan Pemikiran dan Perjuangan Gus Dur. Yogyakarta: LKiS.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2008). Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Komariah, D. S. (2011). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Kompilasi Perundangan Bidang Pendidikan. (2009). Yogyakarta: Pustaka Yustisia.
Kurniawan, S. H. (2012). Studi Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta: Al-Ruzz media.
La Sulo, T. (2005). Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Ma'arif, S. (2005). Pendidikan Pluralisme di Indonesia. Yogyakarta: Logung Pustaka.
Mahfud MD. (2010). Gus Dur (Islam, Politik, dan Kebangsaan). Yogyakarta: LKiS.
Masdar, U. (1998). Membaca Pemikiran Gus Dur dan Amin Rais tentang Demokrasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Moleong, L. J. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Refisi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Muhaimin. (2008). Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Mulyana, R. (2004). Mengartikulasi Pendidikan Nilai. Bandung : Alfabeta.
Nasution, S. (2009). Metode Reseach (Penelitian Ilmiah). Jakarta: Bumi Aksara.
Nata, A. (2010). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Prenada Media Grup.
Nizar, R. &. (2010). Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
Prisma Pemikiran Gus Dur. (2000). Yogyakarta: LKiS.
62
Faisal Ramdan Saepulloh, 2015
PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
Rachman, B. M. (2001). Argumen Islam untuk Pluralisme. Jakarta: Grasindo.
Ridwan, N. K. (2002). Pluralisme Borjuis Kritik atas Nalar Pluralisme Cak Nur. Yogyakarta: Galang Press.
Saebani, A. &. (2009). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Salim, A. (2006). Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Sarosa, S. (2012). Penelitian Kualitatif Dasa-dasar. Jakarta: Indeks.
Sarwono, J. (2006). Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Satori, D. (2010). Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: CV. Pustaka.
Sauri, S. (2006). Pendidikan Berbahasa Santun. Bandung : PT. Genesindo.
Shihab, A. (1999). Islam Inklusif. Bandung: Mizan.
Shihab, Q. (1995). Membumikan al-Quran. Bandung: Mizan.
Subagyo, J. (1991). Metode Penelitian dalam Teori dan Praktek. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Sudiono, H. (2009). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Sugiono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sukmadinata, N. S. (2009). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Suryabrata, S. (2010). Metode Penelitian. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Suryana dkk. (1997). Ensiklopedi Islam. Bandung: Tiga Mutiara.
Suryana. (1996). Pendidikan Agama Islam (untuk Perguruan Tinggi). Bandung: Tiga Mulia.
Syafe'i, R. (2010). Ilmu Ushul Fiqh. Bandung: CV. Pustaka Setia.
63
Faisal Ramdan Saepulloh, 2015
PLURALISME MENURUT TIGA TOKOH NU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM (KH. Sofyan Yahya, KH. Thonthowi Musaddad, dan KH. Didi Hudaya Buchori)
Taufik, H. M. (2005). Pemikiran Fazlur Rahman, Moderenisasi dan Integrasi Intelektual Islam. Jakarta: Kreasi Cerdas Utama.
Thoha, A. M. (2005). Tren Pluralisme Agama, Tinjauan Kritis. Jakarta: Gema Insani Press.
Tuhan Tidak Perlu Dibela. (2011). Yogyakarta: LKiS.
Wahid, A. (1993). Islam di Tengah Pergulatan Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Wahid, A., dkk. (1995). Dialog Kritik dan Identitas Agama. Yogyakarta: Interfedei.
Widodo, D. (2010). Wajah DPR dan DPD, 2009 - 2014 : Latar Belakang Pendidikan Karier. Jakarta: Kompas.
Zahrah, M. (2011). Ushul Fiqh. Jakarta: PT. Pustaka Firdaus.