i
SKRIPSI
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP
PENERIMAAN DIRI REMAJA PUTRI DI
SMP NEGERI 7 DENPASAR
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan
OLEH:
ANAK AGUNG ISTRI AGUNG PARAMITA UTAMI NIM. 1102105037
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KEDOKTERAN
ii
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Anak Agung Istri Agung Paramita Utami
NIM : 1102105037
Fakultas : Kedokteran Universitas Udayana Program Studi : Ilmu Keperawatan
menyatakan dengan sebenarnya bahwa tugas akhir yang saya tulis ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya aku sebagai tulisan atau pikiran sendiri. Apabila dikemudian hari dapat dibuktikan bahwa tugas akhir ini adalah hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.
Denpasar, Juni 2015 Yang membuat pernyataan
iii
LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP
PENERIMAAN DIRI REMAJA PUTRI DI
SMP NEGERI 7 DENPASAR
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan
OLEH:
ANAK AGUNG ISTRI AGUNG PARAMITA UTAMI NIM. 1102105037
TELAH MENDAPATKAN PERSETUJUAN UNTUK DIUJI
Pembimbing Utama
Nengah Runiari, S.Kp, M.Kep, Sp. Mat NIP. 19720219 199401 2 001
Pembimbing Pendamping
iv
HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP
PENERIMAAN DIRI REMAJA PUTRI DI
SMP NEGERI 7 DENPASAR
OLEH:
ANAK AGUNG ISTRI AGUNG PARAMITA UTAMI NIM. 1102105037
TELAH DIUJIKAN DI HADAPAN TIM PENGUJI PADA HARI : Senin NIP. 19530131 198003 1 004
KETUA
PSIK FK UNIVERSITAS UDAYA
v
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap Penerimaan Diri Remaja di SMP Negeri 7 Denpasar
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan skripsi ini. Ucapan terima kasih penulis berikan kepada:
1. Prof. Dr. dr. I Putu Astawa, SpOT (K). M.Kes. , sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana
2. Prof. dr. Ketut Tirtayasa, MS, AIF. , sebagai Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana
3. Nengah Runiari, S.Kp, M.Kep, Sp.Mat , sebagai pembimbing utama yang telah memberikan bantuan dan bimbingan sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini tepat waktu.
4. Ns. Indah Mei Rahajeng, S.Kep., sebagai pembimbing pendamping sekaligus pembimbing akademik yang telah memberikan bantuan dan bimbingan sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini tepat waktu.
vi
6. Ayah, ibu, dan kakak yang selalu mendorong untuk tetap bersemangat menyelesaikan skripsi ini
7. Sahabat semanggi, yang selalu ada dan memberikan bantuan disaat yang tepat 8. Seluruh keluarga Achillesextavortouz (PS Ilmu Keperawatan A Angkatan
2011) yang telah bersama berjuang dan saling mendukung
9. Keluarga besar, sahabat, dan orang terdekat yang selalu memberikan dukungan materi, psikologis dan emosional dalam penyusunan proposal ini
10. Seluruh pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat penulis tulis satu per satu
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih belum sempurna, oleh karena itu penulis membuka diri untuk menerima segala saran dan masukan yang membangun.
Akhirnya, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan.
Denpasar, 2015
vii ABSTRAK
Paramita Utami, Anak Agung Istri Agung. 2015. PengaruhPendidikan Kesehatan terhadap Penerimaan Diri Remaja di SMP Negeri 7 Denpasar.Skripsi, Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana Denpasar. Pembimbing (1) Nengah Runiari, S.Kp, Sp. Kep. Mat; (2) Ns. Indah Mei Rahajeng, S.kep.
Perkembangan fisik, sosial dan emosional yang terjadi pada remaja sering membuat remaja mengalami kebingungan dan kehilangan jati dirinya. Pada umumnya remaja akan mencoba melakukan berbagai hal untuk mendapatkan kepuasan terhadap perubahan yang dialami terutama perubahan fisik. Banyak remaja melakukan perilaku tidak sehat agar mendapatkan citra tubuh yang baik, meskipun hal tersebut dapat menimbulkan efek buruk terhadap kesehatannya. Timbulnya tindakan merugikan kesehatan tersebut diakibatkan kurangnya pengetahuan remaja mengenai perubahan fisik yang terjadi secara fisiologis pada masa pubertas. Oleh sebab itu, diperlukan pendidikan kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan remaja mengenai perubahan fisik sehingga remaja akan memiliki penerimaan diri yang baik. Penerimaan diri adalah kesadaran individu tetang kelebihan dan kekurangan akibat perubahan fisik dan hidup dengan hal tersebut. Penelitian ini merupakan pre-eksperimental designs (one-group pretest-posttest design) yang bertujuan untuk meneliti pengaruh pendidikan kesehatan terhadap penerimaan diri remaja di SMP Negeri 7 Denpasar. Sampel terdiri dari 20 siswa yang dipilih dengan teknik quota sampling dan akan diberikan pendidikan kesehatan dengan metode ceramah. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang akan diberikan sebelum dan setelah pendidikan kesehatan untuk menilai penerimaan diri siswa. Analisis statistik menggunakan uji wilcoxon dengan hasil yang diperoleh adalah 13 siswa mengalami peningkatan penerimaan diri dengan nilai p value = 0,00 atau α<0.05 yang berarti ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap penerimaan diri remaja. Kata kunci: pendidikan kesehatan, penerimaan diri, remaja
viii ABSTRACT
Paramita Utami, Anak Agung Istri Agung. 2015. The Effect of Health Education for Adolescents’ Self-Acceptance in SMP Negeri 7 Denpasar. Minithesis, Medical Faculty, Udayana University. Supervisors (1) NengahRuniari, S.Kp, Sp. Kep. Mat, (2) Ns. Indah Mei Rahajeng, S.kep.
Physical, social and emotional development that occur in adolescents often make teenagers experiencing confusion and loss of identity. In general, adolescents will try to do things to get satisfaction with their physical changes. Many teens do unhealthy behaviors in order to get a good body image, although it can cause adverse health effects. The unhealthty behaviours of adolescents due to lack of knowledge about the physical changes that occur physiologically during puberty. Therefore, health education is needed to increase knowledge of adolescents about the physical changes so that they will have a good self-acceptance. Self-acceptance is the individual perception of advantages and disadvantages due to physical changes and live with it. The This study is a pre-experimental designs (one-group pretest-posttest design) which aims to examine the effect of health education on adolescent self-acceptance in SMP Negeri 7 Denpasar. The sample consisted of 20 students selected by quota sampling technique who will be provided health education with lecture method. Data collected by using a questionnaire which provided before and after the health education to assess students' self acceptance. Statistical analysis using the Wilcoxon test results obtained were 13 students experiencing self-acceptance enhancement with p value = 0.00 or α <0.05 which means there is the effect of health education on adolescent self-acceptance.
ix DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL……….;... i
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ………... ii
LEMBAR PERSETUJUAN PROPOSAL………..…….. . iii
HALAMAN PENGESAHAN PROPOSAL………..…... iv
KATA PENGANTAR………..……….. v
ABSTRAK………....……….……... vii
DAFTAR ISI……….……... ix
DAFTAR TABEL……….…....…... xi
DAFTAR GAMBAR………...…. xii
DAFTAR LAMPIRAN………... xiii
DAFTAR SINGKATAN……….... xiv
BAB I PENDAHULUAN………... 1
2.3 Pendidikan Kesehatan………... 21
BAB III KERANGKA KONSEP………... 25
5.2 Pembahasan Hasil Peneltian.……… 46
x
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN………... 50
6.1 Jenis Penelitian………. 50 6.2 Kerangka Kerja……… 50
xi
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 1. Definisi Operasional Variabel Penelitian……...……...…….. 26 Tabel 2. Nilai Penerimaan Diri Pretest Siswa SMP Negeri 7 Denpasar...……... 43 Tabel 3. Nilai Penerimaan Diri Posttest Siswa SMP Negeri 7 Denpasar...…….. 43 Tabel 4. Perbedaan Penerimaan Diri Pretest dan Posttest Siswi SMP Negeri 7
Denpasar ……...……...…….. 43 Tabel 5. Data Hasil Analisis Perbedaan Penerimaan Diri Pretest dan Posttest
xii
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 1 Kerangka Konsep Penelitian………...…..……….... 25 Gambar 2 Rancangan Penelitian………...…..………... 28 Gambar 3 Kerangka Kerja Penelitian………...…..……….... 29 Gambar 4 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Siswa SMP Negeri 7
Denpasar ………...………. 42
Gambar 5 Nilai Penerimaan Diri Pretest Siswa SMP Negeri 7 Denpasar... 43 Gambar 6 Nilai Penerimaan Diri Posttest Siswa SMP Negeri 7 Denpasar...44 Gambar 7 Perbedaan Penerimaan Diri Pretest dan Posttest Siswa SMP Negeri
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian Lampiran 2 Penjelasan Penelitian
Lampiran 3 Surat Persetujuan Menjadi Responden Lampiran 4 Anggaran Dana Penelitian
Lampiran 5 Surat Pengantar Kuesioner
Lampiran 6 Kisi-kisi Kuesioner Penelitian Sebelum Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
Lampiran 7 Kisi-kisi Kuesioner Penelitian Setelah Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
Lampiran 8 Kuesioner Penelitian Sebelum Uji Validitas dan Uji Reliabilitas Lampiran 9 Kuesioner Penelitian Setelah Uji Validitas dan Uji Reliabilitas Lampiran 10 Pedoman Prosedur Penyuluhan
Lampiran 11 Satuan Acara Penyuluhan Lampiran 12 Tabel Hasil Pretest dan Postest Lampiran 13 Hasil Uji Validitas
xiv
DAFTAR SINGKATAN
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Remaja merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan manusia yang terjadi setelah masa anak-anak dan sebelum dewasa (WHO, 2014). Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai dengan berbagai perubahan baik fisik emosional yang kompleks, serta penyesuaian sosial yang penting untuk menjadi dewasa. (Hamilton, 1995).
2
Perkembangan fisik yang berlangsung cepat menyebabkan remaja menjadi cemas dan sangat memperhatikan citra tubuh (Santrock, 2007). Menurut Sarwono dalam Nisa & Uyun (2007) perubahan fisik akan mempengaruhi perkembangan jiwa remaja karena sering menimbulkan perasaan tidak puas. Perubahan komposisi yang terjadi pada masa pubertas pada masa pubertas didominasi oleh peningkatan lemak
tubuh. Hal ini menyebaban ketidakpuasan remaja putri pada tubuhnya terjadi karena
ketidaksesuaian bentuk tubuh yang diinginkan (Kusumajaya, 2008). Hal tersebut
juga didukung oleh Djiwandono (2006) yang menyatakan bahwa remaja putri akan menaruh perhatian besar terhadap bagaimana orang lain memandang mereka dan mulai berpikir mengenai penilaian orang lain terhadapnya
Selain penilaian orang lain, Hill dan Monks dalam Permatasari (2012) mengungkapkan bahwa remaja merupakan salah satu penilai terhadap tubuhnya sendiri. Sebagian besar remaja putri menginginkan tubuhnya lebih tinggi dan langsing. Apabila remaja mengerti bahwa tubuhnya memenuhi persyaratan ideal, maka hal itu akan berakibat positif terhadap penilaian dirinya (Kusumajaya, 2008).
Penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi (2012) mengemukakan bahwa cara-cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan tubuh ideal umumnya dilakukan dengan melakukan pengaturan pola makan, melakukan aktivitas fisik seperti olahraga dan mengonsumsi suplemen. Menurut Youth Behaviour Risk tahun 2009 dalam Utter, et al (2012) terdapat lebih dari 60% remaja melakukan latihan fisik untuk
3
remaja perempuan, terdapat data sebesar 57% remaja perempuan melakukan perilaku mengontrol berat badan yang tidak sehat seperti melewatkan waktu makan, berpuasa, menolak beberapa jenis makanan, menggunakan pil dan memuntahkan makanannya. Perilaku diet tidak sehat adalah munculnya penyimpangan perilaku makan dan. gangguan kesehatan yang lebih serius.
Praktek pembatasan diet ketat pada remaja akan meningkatkan risiko status gizi
buruk dan eating disorder berupa anorexia nervosa atau bulimia nervosa (Mahan &
Escott-Stump, 2008). Ratnawati & Sofiah (2012) menambahkan bahwa semakin
rendah tingkat citra tubuh pada remaja putrimaka semakin tinggi tingkat
kecenderungan anorexia nervosa.
Sejalan dengan penelitian lainnya, Siagian dalam Pramitya & Valentina (2013)
berpendapat bahwa pembatasan diet yang berlebihan akan mengakibatkan penurunan
zat besi dan asam folat sehingga mengakibatkan anemia. Sementara di lain sisi,
kebutuhan zat besi meningkat secara dramatis sebagai kompensasi peningkatan total
volume darah, peningkatan masa lemak tubuh, dan terjadinya menstruasi. Fenomena
tersebut menggambarkan bahwa citra tubuh sangat berpengaruh dalam gaya hidup
remaja akhir-akhir ini.
Ridha (2012) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa citra tubuh memiliki
hubungan yang erat dengan penerimaan diri dimana semakin tinggi citra tubuh maka
tingkat penerimaan diri akan semain tinggi. Cooper (2003) mendefinisikan
4
menerima kelebihan dan kelemahannya. Dariyo dalam Simanjuntak & Siregar (2011) menyatakan bahwa remaja yang mampu menerima dirinya baik kelebihan dan kekurangannya akan mempengaruhi pembentukan konsep dirinya. Apabila remaja mampu menerima kelebihan dan kekurangan tersebut maka dalam dirinya akan timbul konsep diri positif.
Konsep diri yang postitif akan mempengaruhi kemampuan individu untuk menyesuaikan diri dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Sebaliknya konsep diri yang negatif cenderung akan menghambat dalam menyesuaikan diri dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya (Rahmania & Ika, 2012). Pendapat yang sama juga diungkapkan Naqiyaningrum (2007) dimana penerimaan diri sangat penting dimiliki oleh individu karena individu yang menerima diri akan memiliki pandangan yang positif mengenai diri sehingga akan lebih mampu menghadapi permasalahan dalam kehidupan, tidak pesimis terhadap masalah yang dihadapi, dan tidak mudah putus asa. Hurlock (1974) menambahkan bahwa penerimaan diri akan berdampak pada kehidupan sosial seseorang dimana penerimaan diri yang positif akan membuat emosional seseorang stabil sehingga tidak mengganggu orang lain serta tetap toleran untukmembantu orang lain. Hal tersebut membuktikan bahwa penerimaan diri sangat penting dimiliki oleh remaja sehingga harus ditingkatkan.
5
tubuh ideal dengan cara yang tidak sehat dapat dihindari apabila remaja menerima
keadaan fisik yang berubah secara fisiologis dan menyikapinya secara positif (Astiti,
2014) mengungkapkan bahwa penerimaan diri dapat dipengaruhi oleh pendidikan kesehatan. Oleh sebab itu, sangat penting bagi remaja untuk mendapatkan pendidikan kesehatan mengenai perubahan fisik secara fisiologis pada masa pubertas sehingga mereka akan menerima perubahan itu dengan positif dan dapat menyikapinya dengan baik.
6
1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah penelitian adalah
sebagai berikut : “Apakah ada pengaruh pemberian pendidikan kesehatan terhadap
penerimaan diri remaja putri di SMP Negeri 7 Denpasar?”
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan terhadap penerimaan diri remaja
1.3.2 Tujuan Khusus
Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk:
a. Mengidentifikasi penerimaan diri remaja putri sebelum diberikan pendidikan kesehatan di SMP Negeri7 Denpasar
b. Mengidentifikasi penerimaan diri remaja putri setelah diberikan pendidikan kesehatan di SMP Negeri 7 Denpasar
c. Menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan terhadap penerimaan diri remaja putri di SMP Negeri 7 Denpasar
1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat Teoritis a. Bagi Keperawatan
7
b. Bagi peneliti selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan penelitian lebih lanjut tentang penerimaan diri remaja
1.4.2 Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi pihak sekolah, khususnya kepala sekolah dan kader KSPAN untuk meningkatkan promosi kesehatan mengenai kesehatan reproduksi remaja.
8 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Remaja
2.1.1 Definisi Remaja
Remaja merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan manusia yang terjadi setelah masa anak-anak dan sebelum dewasa (WHO, 2014). Menurut Monks (2002), remaja merupakan tahap perkembangan yang terjadi pada rentang usia 12–21 tahun dengan pembagian masa remaja awal (12-15 tahun), masa remaja pertengahan (15-18 tahun) dan masa remaja akhir (18-21 tahun).Santrock (2007) mendefinisikan remaja sebagai suatu periode yang unik dan disertai adanya perubahan fisik, kognitif dan sosial emosional. Piaget dalam Hurlock (2008) menambahkan bahwa secara psikologis masa remaja adalah usia dimana individu berbaur dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan dalam tingkatan yang sama.
Berdasarkan definisi di atas, yang dimaksud remaja dalam penelitian ini adalah periode pertumbuhan dan perkembangan dari masa anak-anak kemasa dewasa pada rentang 12 – 21 tahun dan disertai dengan perubahan fisik, kognitif dan sosial emosional.
2.1.2 Tahap Perkembangan Remaja
9
1. Perkembangan Fisik Remaja
Perkembangan fisik remaja diawali dengan pertambahan tinggi dan pertambahan berat badan. Monks (2006) berpendapat, percepatan penambahan panjang terjadi pada usia 11-13 tahun dengan puncak pertumbuhan pada usia 14 tahun dan pertumbuhan tersebut masih akan berlangsung hingga 16 sampai 18 tahun. Selain pertumbuhan tinggi, pertambahanan berat badan sekitar 8,3 kg pertahun umumnya terjadi saat usia 12,5 tahun. Komposisi tubuh juga akan mengalami perubahan, masa otot mengalami penurunan sebesar 11%, sedangkan jaringan lemak meningkat sebesar 11% Brown, et al (2005).
Karakteristik perkembangan remaja pada masa remaja ditandai dengan perubahan fisik primer dan seks sekunder. Perubahan fisik yang terjadi pada masa remaja merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Perubahan organ seks sekunder yang terjadi pada remaja putri adalah adanya perubahan ukuran dan bentuk payudara, menstruasi, pinggul membesar, tubuh mulai berbentuk, timbulnya bau badan dan jerawat serta tumbuhnya rambut halus di ketiak dan kemaluan (Sarwono, 2011). Remaja perempuan akan mengalami peningkatan jaringan di bawah kulit terutama pada daerah paha, pantat, lengan atas dan dada (Monks, Knoers, & Haditono, 2006)
10
2. Perkembangan psikologis, sosial dan emosional
Perubahan pada remaja tidak hanya terjadi pada fisiknya, namun terjadi pula pada psikologis, sosial dan emosional. Menurut (Monks, Knoers, & Haditono, 2006) masa remaja dibagi menjadi 3 tahap perkembangan yaitu:
a. Remaja Awal (12-15 tahun)
Pada tahap ini remaja masih belum memahami perubahan-perubahan dan dorongan yang terjadi pada dirinya. Remaja cenderung ingin bebas, ingin lebih dekat dengan teman sebaya dan lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya dan mulai berpikir abstrak.
b. Remaja Madya (15-18 tahun)
Pada tahap ini remaja cenderung mencintai dirinya sendiri dan lebih menyukai teman-teman yang mempunyai sifat yang sama dengan dirinya. Muncul juga rasa cinta yang mendalam dan keinginan untuk berkencan. Pada tahap ini remaja mengalami kebingungan dalam memilih tindakan yang harus diambil.
c. Remaja Akhir (18-21 tahun)
Tahap ini adalah masa perpindahan menuju periode dewasa yang ditandai dengan perubahan sifat mementingkan diri menjadi dapat menyeimbangkan diri sendiri dan orang lain serta terbentuk identitas yang sulit untuk diubah.
11
remaja cenderung mementingkan penilaian terhadap kondisi fisik sedangkan disisi lain remaja awal belum memahami perubahan fisiologis pada fisiknya
2.1.3 Tugas Perkembangan Remaja
Menurut Hurlock (2008) remaja memiliki 10 tugas perkembangan, yaitu: 1. Mampu menerima keadaan fisiknya
2. Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa
3. Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok berlainan jenis 4. Mencapai kemandirian emosional
5. Mencapai kemandirian ekonomi
6. Mengembangkan konsep dan ketrampilan intelektual yang sangat diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota masyarakat
7. Memahami nilai-nilai orang dewasa dan orang tua
8. Mengembangkan perilaku tanggung jawab sosial yang diperlukan untuk memasuki dunia dewasa
9. Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan
10. Memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan keluarga
12
2.2Penerimaan Diri
2.2.1 Definisi Penerimaan Diri
Penerimaan diri adalah suatu tingkat kemampuan dan keinginan individu untuk hidup dengan segala karakteristik dirinya. Individu yang dapat menerima dirinya diartikan sebagai individu yang tidak bermasalah dengan dirinya sendiri, yang tidak memiliki kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan (Hurlock, 2008).
Penerimaan diri adalah menilai diri dan keadaan secara objektif, dapat menerima kelebihan dan kelemahaannya. Sheerer juga mengatakan seseorang yang menerima dirinya adalah orang yang mempunyai keyakinan akan kemampuan untuk mengahadapi kehidupan, menganggap bahwa dirinya berharga, sederajat dengan orang lain, mampu bertanggung jawab terhadap perilakunya mampu menerima pujian secara objektif dan tidak menyalahkan diri sendiri. (Sheerer dalam Paramita 2012). Hal tersebut juga sejalan dengan definis yang dikemukakan Cooper (2003) yaitu penerimaan diri merupakan suatu tingkatan kesadaran individu tetang karakteristik pribadinya dan mempunyai kemauan untuk hidup dengan keadaan tersebut. Hal ini berarti individu memiliki pengetahuan tentang dirinya sendiri sehingga menerima kelebihan dan kelemahannya.
13
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penerimaan diri merupakan kesadaran individu tetang karakteristik fisiknya dan puas terhadap kelebihan dan kekurangannnya serta mempunyai kemauan untuk hidup dengan keadaan tersebut
2.2.2 Aspek Penerimaan Diri
Aspek penerimaan diri (Sheerer dalam Dina, 2010; Sheerer dalam Salwa dkk 2010) antara lain:
1. Perasaan sederajat
Individu menganggap dirinya berharga sebagai manusia yang sederajat dengan individu lain, sehingga individu tidak merasa sebagai individu yang istimewa atau menyimpang dari individu lain dan tidak memiliki perasaan rendah diri. Individu merasa mempunyai kelemahan dan kelebihan sama seperti individu lain
2. Percaya kemampuan diri
Individu yang percaya kemampuan diri akan mempunyai kemampuan untuk menghadapi kehidupan. Hal ini tampak dari sikap individu yang percaya diri, lebih suka mengembangkan sikap positif dan mengeliminasi sikap negatiif yang dimilikinya daripada ingin menjadi individu lain. Individu yang percaya kemampuan diri akan membuat individu puas menjadi diri sendiri
3. Bertanggung jawab
14
kritik dan menjadikan kritik sebagai suatu masukan yang berharga untuk mengembangkan diri.
4. Orientasi keluar diri
Individu yang memiliki penerimaan diri adalah individu yang mempunyai orientasi keluar diri yang tampak dari sikap individu yang telah mempunyai orientasi keluar diri dibandingkan dengan ke dalam diri, individu lebih suka memperhatikan dan toleran terhadap individu lain, tidak egois namun peduli terhadap individu lain. Hal tersebut membuat individu akan mendapatkan penerimaan sosial dari lingkungannya.
5. Berpendirian
Individu yang berpendirian tampak dari sikap individu yang lebih suka mengikuti standar sendiri dibandingkan dengan bersikap mengikuti standar individu lain untuk menghindari tekanan sosial. Individu yang mampu menerima diri akan mempunyai sikap dan kepercayaan diri dibandingkan dengan mengikuti konvensi dan standar dari individu lain serta mempunyai ide dan pengharapan sendiri.
6. Menyadari keterbatasan
15
7. Menerima sifat kemanusiaan
Individu menerima sifat kemanusiaan tampak dari sikap individu yang tidak menyangkal impuls dan emosi atau merasa bersalah karena mengekspresikan emosi negatif. Individu mengenali perasaan marah, takut, dan cemas tanpa mengangap emosi negatif sebagai sesuatu yang harus diingkari atau ditutupi.
2.2.3 Faktor-faktor yang berperan dalam penerimaan diri
Menurut Hurlock dalam Rizikiana & Retnaningsih (2009) serta Hurlock dalam Dina (2010), penerimaan diri individu dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
1. Adanya pemahaman tentang diri sendiri
Adanya pemahaman tentang diri dapat timbul dari kesempatan individu untuk mengenali kemampuan dan ketidakmampuan yang dimiliki. Semakin individu dapat memahami diri, maka semakin dapat individu tersebut menerima dirinya.
2. Adanya harapan realistis
Harapan yang relaistis akan timbul apabila individu menentukan sendiri harapan yang ingin dicapai dan disesuaikan dengan pemahaman mengenai kemampuan yang dimiliki, serta bukan diarahkan oleh individu lain dalam mencari suatu tujuan.
3. Tidak adanya hambatan di dalam lingkungan
16
menghalangi individu dalam mencapai harapan, maka harapan individu tersebut tentu akan sulit dicapai
4. Sikap anggota masyarakat yang menyenangkan
Tidak adanya prasangka dari masyarakat, adanya penghargaaan terhadap kemampuan sosial individu lain dan kesediaan individu untuk mengikuti kebiasaan lingkungan
5. Tidak adanya gangguan emosional yang berat
Tidak adanya gangguan emosional yang berat membuat individu dapat bekerja sebaik mungkin dan merasa bahagia
6. Pengaruh keberhasilan yang dialami secara kualitatif dan kuantitatif
Keberhasilan yang dialami akan menimbulkan penerimaan diri dan sebaliknya, kegagagalan yang dialami akan mengakibatkan penolakan pada indiividu
7. Identifikasi dengan individu yang memiliki penyesuaian diri yang baik
Mengidentifikasi diri dengan individu yang memiliki penyesuaian diri yang baik dapat membangun sikap-sikap yang positif terhadap diri sendiri dan bertingkah laku dengan baik yang bisa menimbulkan penilaian diri dan penerimaan diri yang baik
8. Adanya perspektif diri yang luas
17
9. Pola asuh di masa kecil yang baik
Anak yang diasuh secara demokratis akan cenderung berkembang sebagai individu yang dapat menghargai diri sendiri.
10. Konsep diri yang stabil
Individu yang tidak memiliki konsep diri stabil, maka kadang individu akan menyukai dirinya sendiri, individu akan sulit menunjukkan pada individu lain siapa diri yang sebenarnya, sebab individu ambivalen terhadap diri sendiri
Berdasarkan uraian di atas dapat dilihat bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi penerimaan diri individu yaitu adanya pemahaman tentang diri sendiri, adanya harapan yang realistis, tidak adanya hambatan di dalam lingkungan, sikap-sikap anggota masyarakat, gangguan emosional, pengaruh keberhasilan yang dialami, indentifikasi dengan individu yang memiliki penyesuaian diri yang baik, adanya perspektif diri yang luas, pola asuh di masa kecil yang baik serta konsep diri yang stabil
2.2.4 Dampak Penerimaan Diri
18
masalah yang dihadapi, dan tidak mudah putus asa. Hurlock dalam Utami (2013) membagi dampak penerimaan diri menjadi dua kategori:
1. Dalam penyesuaian diri
Orang yang memiliki penerimaan diri umumnya akan memiliki keyakinan diri (self confidence) dan harga diri (self esteem) yang baik. Selain itu mereka juga lebih dapat menerima kritik demi perkembangan dirinya. Penerimaan diri yang disertai dengan adanya rasa aman untuk mengembangkan diri ini memungkinkan seseorang untuk menilai dirinya secara lebih realistis sehingga dapat menggunakan potensinya secara efektif. Selain itu ia juga merasa puas dengan menjadi dirinya sendiri tanpa ada keinginan untuk menjadi orang lain.
2. Dalam penyesuaian sosial
19
2.2.5 Skala Pengukuran Penerimaan Diri
Skala pengukuran diri dalam bentuk kuesioner disusun sendiri oleh peneliti berdasarkan aspek-aspek penerimaan diri menurut Shereer dalam Dina (2010). Kuesioner disusun dengan 17 pernyataan dan dibagi menjadi 10 pernyataan favorable dan 7 pernyataan unfavorable. Kuesioner menggunakan skala Likert
dengan empat alternatif jawaban yaitu: Favorable dibagi menjadi 3 kategori yaitu: tinggi, sedang dan rendah. Pengkategorian skor akhir penerimaan diri menggunakan panduan dari Azwar (2011) dengan penjelasan sebagai berikut:
Rentang skor dari masing-masing pertanyaan ialah 1-4 sehingga, Skor maksimum ( ) item : 4
20
Skor akhir maksimum ( ) : 17 x 4 =68 Skor akhir minimum ( ) : 17 x 1 = 17 Jumlah item pertanyaan : ∑ = 17
Nilai mean ideal : ∑
Satuan standar deviasi :
Kategori penerimaan diri:
Rendah :
Sedang:
Tinggi :
21
Berdasarkan hasil penghitungan tersebut, maka diperoleh interpretasi penerimaan diri sebagai berikut:
Skor Kategorisasi
< 34 Rendah
34 ≤ X < 51 Sedang
X ≥ 51 Tinggi
2.3Pendidikan Kesehatan
2.3.1 Definisi Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan merupakan suatu bentuk tindakan mandiri keperawatan untuk membantu klien baik individu, kelompok atau keluarga, dan masyarakat (Suliha dkk, 2002). Menurut Notoatmodjo (2003) pendidikan kesehatan adalah proses untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan. PKKMRS dalam Wita (1992) menambahan pendidikan kesehatan merupakan proses belajar untuk mengembangkan pengertian dan sikap yang benar serta positif dari individu atau kelompok terhadap kesehatan agar yang bersangkutan menerapkan cara hidup sehat sebagai bagian dari cara hidup sehari-hari atas kesadarannya sendiri.
2.3.2 Metode Pendidikan Kesehatan
22
menjadi dua macam yaitu metode pendidikan individu dan metode pendidikan kelompok.
Pendidikan kesehatan yang bersifat individual digunakan untuk membina perilaku baru atau membina seseorang yang tertarik pada suatu perubahan perilaku. Notoatmojo menjabarkan bentuk metode pendidikan individu sebagai berikut:
1. Konseling dan penyuluhan
Metode ini akan membantu terjadinya kontak antara klien dengan petugas menjadi lebih sensitif dan mampu bertukar pikiran untuk menyelesaikan masalah
2. Wawancara
Wawancara antara petugas kesehatan dengan klien bertujuan untuk menggali informasi mengenai alasan klien tidak melakukan perubahan serta dilakukan pengkajian mengenai ketertarikan klien untuk melakukan perubahan
Pendidikan kesehatan yang bersifat kelompok harus mempertimbangkan besarnya sasaran pendidikan kesehatan. Notoatmojo secara garis besar membagi metode kelompok seperti berikut:
1. Kelompok Besar
23
a. Ceramah
Metode ceramah baik digunakan untuk sasaran yang berpendidikan tinggi maupun rendah. Ceramah akan berhasil apabila penceramah menguasai materi dan sasaran yang akan diberikan ceramah
b. Seminar
Metode seminar cocok diberikan pada kelompok besar dengan tingkat pendidikan menengah ke atas. Seminar adalah suatu penyajian dari seorang atau beberapa ahli mengenai sebuah topik yang dianggap penting bagi masyarakat.
2. Kelompok Kecil
Kelompok besar merupakan kelompok yang menerima pendidikan kesehatan dengan jumlah peserta kurang dari 15 orang. Metode yang baik digunakan pada kelompok ini adalah diskusi kelompok, curah pendapat, memainkan peran dan demonstrasi
2.3.3 Media Pendidikan Kesehatan
Menurut Notoatmojo 2007, media pendidikan kesehatan dibedakan menjadi tiga yaitu:
1. Media cetak
24
2. Media elektronik
Media elektronik sebagai sarana untuk menyapaikan pesan atau informasi kesehatan berbeda-beda jenisnya antara lain:
a. Televisi: penyampaian pesan atau informasi kesehatan melalui media televisi dapat berupa sandiwara, sinetron, forum diskusi atau tanya jawab seputar masalah kesehatan, pidato, dan lain sebagainya
b. Radio: penyampaian pesan atau informasi kesehatan dalam bentuk obrolan (tanya-jawab), sandirwara radio, ceramah dan lain sebagainya c. Slide: penyampaian pesan atau informasi kesehatan dalam bentuk slide
show
3. Media papan