KEMATANGAN DIGITAL
STUDI MENGENAI KAPASITAS DAN PERFORMA MEDIA SOSIAL NGO LINGKUNGAN HIDUP
KEMATANGAN DIGITAL
STUDI MENGENAI KAPASITAS
Indeks Kematangan Digital:
Studi Mengenai Kapasitas dan Performa Media Sosial NGO Lingkungan Hidup
Dipublikasikan pada Februari 2022 oleh Remotivi
Peneliti Surya Putra B.
Winona Amabel
Penasihat Penelitian Eriyanto
Muhamad Heychael
Editor Konten Muhamad Heychael Yovantra Arief
Editor Bahasa Aulia Nastiti
Tata Letak dan Desain Grafis Gendis Kendra Disa
Kecuali dinyatakan berbeda, seluruh isi laporan ini dilindungi dengan lisensi Creative Common Attribution 3.0
RINGKASAN EKSEKUTIF
Tentang Riset
Dampak dari krisis iklim saat ini telah terlihat di berbagai wilayah bumi, termasuk Indonesia. Bencana alam yang dialami Indonesia belakangan ini tidak dapat dilepaskan dari kegagalan pemerintah maupun sektor swasta dalam menciptakan iklim kebijakan dan model bisnis yang ramah lingkungan hidup (Mongabay, 2021). Mengacu pada kenyataan tersebut, inisiatif masyarakat sipil untuk mendorong kelestarian lingkungan hidup merupakan agenda yang semakin mendesak.
Inisiatif masyarakat sipil untuk mendorong kelestarian lingkungan hidup salah satunya dapat dilihat dari kerja-kerja yang dilakukan oleh Organisasi Non-Pemerintah, atau lebih familiar disebut Non- Governmental Organization (NGO). Saat ini, NGO yang bergerak pada sektor lingkungan hidup jumlahnya paling banyak dibanding sektor lainnya (SMERU, 2017). Meskipun demikian, masyarakat Indonesia saat ini belum melihat isu lingkungan hidup sebagai isu yang penting (Mongabay, 2019).
Di samping itu, kerja-kerja pengarusutamaan isu lingkungan harus menghadapi kenyataan bahwa kepemilikan media massa di indonesia tersentralisasi pada segelintir aktor bisnis-politik, yang juga memiliki konflik kepentingan pada sektor lingkungan hidup (The Conversation, 2017). Di tengah situasi yang demikian, media sosial menawarkan sebuah harapan karena ekosistemnya yang interaktif dan terdesentralisasi menawarkan cara yang ‘lebih murah’ dan efisien bagi elemen gerakan sosial untuk mengarusutamakan isu-isu yang
RINGKASAN EKSEKUTIF
02
mungkin diabaikan oleh media tradisional (Lovejoy, Waters, & Saxton, 2012). Maka dari itu, kami tertarik untuk memahami sejauh apa efektivitas NGO lingkungan di Indonesia dalam memanfaatkan media sosial sebagai alat advokasi. Demi tujuan tersebut, kami membangun Indeks Kematangan Digital NGO Lingkungan Hidup.
Indeks ini kami konstruksi dari dua aspek utama dari setiap NGO yang menjadi sampel kami. Pertama, kami melihat aspek Kapasitas Produksi Digital yang terdiri dari tiga dimensi: strategi, kultur, teknologi. Aspek kedua adalah Optimalisasi Penggunaan Media Sosial yang terdiri dari satu dimensi: performa media sosial.
Penilaian indeks menggunakan sistem skor skala 5 (1-5) pada setiap indikator. Kemudian skor akan dijumlahkan secara keseluruhan untuk mengkategorikan NGO ke dalam suatu tahap kematangan digital (stages of maturity) tertentu, yaitu tahap Emerging (Berkembang), Transitional (Transisi), Competitive (Kompetitif), dan Transformative (Transformatif).
Subjek penelitian yang menjadi sampel dalam indeks ini adalah sejumlah dua belas NGO yang berasal dari lima provinsi dengan skor terendah dalam Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) tahun 2019.
Skor terendah menandakan bahwa pengarusutamaan isu lingkungan hidup adalah hal yang paling mendesak untuk dilakukan di sejumlah daerah tersebut mengingat kondisi kualitas lingkungan hidupnya yang lebih buruk ketimbang daerah lain di Indonesia.
Skor Akhir Indeks Kematangan Digital
Tabel X.I. Skor Akhir Indeks Kematangan Digital
NO NAMA ORGANISASI
DIMENSI PENGUKURAN
INDEKS AKHIR STRATEGI KULTUR TEKNOLOGI
PERFORMA MEDIA SOSIAL
1 JAVLEC Indonesia 2,67 3,83 3,05 4,94 3,89
2 Walhi Lampung 2,67 2,50 3,33 4,52 3,51
3 Yayasan KEHATI 3,67 4,50 4,43 1,28 3,03
4 Yayasan RMI Bogor 3,20 4,50 4,00 1,60 2,98
5 Yayasan Konservasi
Way Seputih 3,60 4.17 4,71 1,14 2,95
6 Ciliwung Institute 2,87 4,67 3,76 1,52 2,87
7 Forest Watch Indonesia 3,40 4,17 3,48 1,50 2,81
8 WRI Indonesia 3,00 4,17 3,67 1,52 2,78
9 Rekonvasi Bhumi 2,67 3,67 2,86 2,20 2,72
10 Yayasan Kanopi
Indonesia 3,07 3,67 3,90 1,21 2,61
11 Walhi Yogyakarta 2,87 3,83 3,24 1,28 2,50
12 Sawit Watch 2,60 3,67 3,19 1,41 2,46
RATA-RATA 3,02 3,95 3,64 2,01 2,93
Keterangan warna: ⬤ = Fase Berkembang (1-2); ⬤ = Fase Transisi (2,01 - 3); ⬤ = Fase Kompetitif (3,01 - 4);
dan ⬤ = Fase Transformatif (4,01 - 5)
Sebagian besar organisasi masih berada dalam fase Transisi, yaitu fase kedua dalam tahap kematangan digital organisasi. Fase Transisi ini didapatkan dari gabungan aspek Kapasitas Produksi Digital (i.e., Strategi, Kultur, dan Teknologi) yang sudah memasuki fase Kompetitif, dengan nilai indeks untuk dimensi Performa Media Sosial yang sebagian besar masih berada di fase Berkembang.
Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata NGO yang menjadi subjek
RINGKASAN EKSEKUTIF
04
yang cukup untuk melakukan advokasi digital. Namun, dalam dimensi performa media sosial, mayoritas NGO masih mendapatkan nilai indeks yang jauh lebih rendah.
Fenomena tersebut bisa diartikan sebagai tidak selarasnya input yang ada dengan output yang dihasilkan. Hal ini kami duga disebabkan oleh beberapa hal, yaitu minimnya jumlah anggaran dan jumlah sumber daya manusia yang dialokasikan untuk kerja-kerja komunikasi digital, mengingat kedua indikator tersebut mendapatkan skor indeks yang rendah. Ini juga menunjukkan belum maksimalnya pemanfaatan kapasitas produksi yang dimiliki.
Artinya dengan kapasitas produksi yang cukup baik, prioritas NGO lingkungan hidup harus lebih diarahkan kepada peningkatan strategi pembuatan konten untuk meningkatkan performa media sosial.
Indeks Kematangan Digital:
Aspek Kapasitas Produksi Digital
Tabel X.II. Nilai Kapasitas Produksi Digital Organisasi
NO NAMA ORGANISASI STRATEGI KULTUR TEKNOLOGI RATA-RATA
1 Yayasan KEHATI 3,67 4,50 4,43 4,20
2 Yayasan Konservasi
Way Seputih 3,60 4,17 4,71 4,16
3 Yayasan RMI Bogor 3,20 4,50 4,00 3,90
4 Ciliwung Institute 2,87 4,67 3,76 3,77
5 Forest Watch Indonesia 3,40 4,17 3,48 3,68
6 WRI Indonesia 3,00 4,17 3,67 3,61
7 Yayasan Kanopi
Indonesia 3,07 3,67 3,90 3,55
8 Walhi Yogyakarta 2,87 3,83 3,24 3,31
9 JAVLEC Indonesia 2,67 3,83 3,05 3,18
10 Sawit Watch 2,60 3,67 3,19 3,15
11 Rekonvasi Bhumi 2,67 3,67 2,86 3,07
12 Walhi Lampung 2,67 2,50 3,33 2,83
RATA-RATA 3,02 3,95 3,64 3,54
Keterangan warna: ⬤ = Fase Berkembang (1-2); ⬤ = Fase Transisi (2,01 - 3); ⬤ = Fase Kompetitif (3,01 - 4);
dan ⬤ = Fase Transformatif (4,01 - 5)
Dengan sebagian besar organisasi berada pada fase Kompetitif dalam aspek kapasitas produksi digital ini, maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar NGO yang menjadi subjek penelitian telah menganggap digitalisasi sebagai hal yang penting. Hal ini terlihat dari tiga hal.
Pertama, telah mulai tercipta budaya yang mendorong pertumbuhan inovasi dan kolaborasi. Kedua, telah tersedia infrastruktur komunikasi yang dapat mendukung kebutuhan advokasi digital. Ketiga, adanya alokasi sumber daya manusia yang khusus menangani komunikasi digital, dan memiliki pengetahuan serta kemampuan yang mumpuni dalam memanfaatkan teknologi digital untuk advokasi.
RINGKASAN EKSEKUTIF
06
Indeks Kematangan Digital:
Aspek Optimalisasi Media Sosial
Tabel X.III. Nilai Performa Media Sosial
NO NAMA ORGANISASI
SKOR INDEKS PER PLATFORM SKOR INDEKS
TOTAL FACEBOOK TWITTER INSTAGRAM
1 JAVLEC Indonesia 4,87 5,00 4,94 4,94
2 Walhi Lampung 5,00 5,00 3,57 4,52
3 Rekonvasi Bhumi 2,97 1,00 2,64 2,20
4 Yayasan RMI Bogor 2,07 1,00 1,73 1,60
5 WRI Indonesia 1,35 1,64 1,58 1,52
6 Ciliwung Institute 1,61 1,00 1,93 1,52
7 Forest Watch Indonesia 1,40 1,80 1,29 1,50
8 Sawit Watch 1,00 1,08 2,14 1,41
9 Walhi Yogyakarta 1,24 1,00 1,61 1,28
10 Yayasan KEHATI 1,16 1,40 1,29 1,28
11 Yayasan Kanopi
Indonesia 1,00 1,00 1,64 1,21
12 Yayasan Konservasi
Way Seputih 1,00 1,00 1,41 1,14
RATA-RATA 2,06 1,83 2,15 2,01
Keterangan warna: ⬤ = Fase Berkembang (1-2); ⬤ = Fase Transisi (2,01 - 3); ⬤ = Fase Kompetitif (3,01 - 4);
dan ⬤ = Fase Transformatif (4,01 - 5)
Kami menemukan bahwa tingkat performa media sosial tiap NGO bervariasi. Jika dirata-rata secara keseluruhan, NGO lingkungan hidup yang menjadi subjek dalam penelitian ini hanya mendapatkan skor indeks 2.01. Artinya, secara rata-rata, NGO yang berpartisipasi dalam penelitian ini tergolong ke dalam fase Transisi pada dimensi performa media sosial.
Adapun platform media sosial yang tingkat performanya paling tinggi adalah Instagram, yang kedua adalah Facebook dan yang mendapatkan skor terendah adalah Twitter. Artinya, Instagram lebih digunakan
secara optimal oleh NGO lingkungan hidup yang berpartisipasi dalam penelitian ini dibanding Facebook dan Twitter.
Kemudian masalah yang ditemukan pada dimensi performa media sosial adalah tingginya jumlah followers media sosial justru tidak dibarengi dengan tingginya engagement. Terjadi ketimpangan antara jumlah followers media sosial yang tinggi di satu sisi dengan jumlah engagement yang diperoleh. Artinya dalam beberapa kasus, meskipun audiens media sosial besar secara kuantitas,hal yang ingin diadvokasikan justru kurang menjaring interaksi dari audiens yang ditargetkan.
01
Latar
BELAKANG
LATAR
BELAKANG
Dampak krisis iklim saat ini telah terlihat di berbagai wilayah bumi.
Dalam beberapa waktu terakhir, bencana lingkungan hidup terjadi di berbagai negara. Mulai dari Amerika Serikat yang mengalami kebakaran besar, hingga Jerman, Belanda, Belgia, dan Tiongkok yang mengalami banjir parah (Mongabay, 2021).
Indonesia pun mengalami hal serupa. Pada tahun 2021 sendiri, Indonesia mengalami sejumlah 1.805 bencana alam. Beberapa di antaranya adalah banjir, kebakaran hutan, cuaca ekstrem, gempa bumi, tanah longsor, dan lain sebagainya (Media Indonesia, 2021).
Bencana alam yang dialami Indonesia belakangan ini tidak dapat dilepaskan dari kegagalan pemerintah dalam menegakkan hukum serta menciptakan kebijakan yang ramah lingkungan hidup (Walhi, 2020). Bahkan menurut laporan dari berbagai lembaga, pemerintah dan dunia usaha di Indonesia dinilai belum memiliki inisiatif yang signifikan untuk menahan laju perubahan iklim (Mongabay, 2021).
Mengacu pada kenyataan tersebut, inisiatif masyarakat sipil untuk mendorong kelestarian lingkungan hidup merupakan agenda yang semakin mendesak.
Menurut pangkalan data Organisasi Non-Pemerintah (Ornop) Smeru Institute, saat ini NGO yang bergerak pada sektor lingkungan hidup di Indonesia jumlahnya paling banyak apabila dibandingkan dengan NGO yang bergerak pada sektor lainnya. Meskipun demikian, berdasarkan survey yang dilakukan oleh CSIS (2019), masyarakat indonesia saat ini belum melihat isu lingkungan hidup sebagai isu yang penting (Mongabay, 2019). Tingginya kuantitas NGO lingkungan hidup di Indonesia tidak berbanding lurus dengan tingginya kesadaran
LATAR BELAKANG
10
masyarakat akan isu lingkungan hidup. Artinya, pengarusutamaan isu lingkungan hidup merupakan tantangan yang saat ini mesti dijawab oleh NGO lingkungan hidup.
“
Tingginya kuantitas NGO lingkungan hidup di Indonesia tidak berbanding lurus dengan tingginya kesadaran masyarakat akan isu lingkungan hidup.”Sayangnya, kerja-kerja pengarusutamaan isu lingkungan harus menghadapi kenyataan bahwa kepemilikan media massa di indonesia tersentralisasi pada segelintir aktor bisnis-politik, yang juga memiliki konflik kepentingan pada sektor lingkungan hidup (The Conversation, 2017). Penelitian Remotivi tentang bagaimana media memberitakan Omnibus Law, misalnya, menemukan bahwa suara publik yang kontra terhadap kebijakan “anti-lingkungan hidup” tersebut terwakilkan secara minim di media massa (Remotivi, 2020). Di tengah situasi yang demikian, media sosial menawarkan sebuah harapan.
Ekosistem media sosial yang interaktif dan terdesentralisasi menawarkan cara yang ‘lebih murah’ dan efisien bagi elemen gerakan sosial untuk memobilisasi pendukung, mendorong interaksi dialogis dengan khalayak luas, dan menekankan perhatian pada isu-isu yang mungkin diabaikan oleh media tradisional (Bortree & Seltzer, 2009;
Lovejoy, Waters, & Saxton, 2012).
Dilatarbelakangi hal di atas, kami tertarik untuk memahami sejauh apa NGO lingkungan di Indonesia telah secara efektif memanfaatkan media sosial sebagai alat advokasi. Demi tujuan tersebut, kami membangun Indeks Kematangan Digital NGO Lingkungan Hidup.
Indeks ini akan berfungsi sebagai alat diagnosis maupun alat
pemantauan dan evaluasi mengenai praktik advokasi berbasis media sosial.
Alat ukur (assessment tool) yang kami bangun dalam indeks ini diharapkan akan membantu NGO lingkungan hidup serta elemen masyarakat sipil lainnya untuk mengevaluasi tingkat optimalisasi penggunaan media sosial dalam rangka advokasi dan menjangkau khalayak, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dalam kapasitas produksi organisasi dan performa media sosial, membantu menetapkan dan mengembangkan poin-poin perbaikan. Tentu saja riset ini juga diharapkan sebagai langkah awal bagi tujuan jangka panjang pengarusutamaan gagasan pro-lingkungan hidup, yaitu terwujudnya kelestarian ekologi.
02
Metodologi
PENELITIAN
METODOLOGI PENELITIAN
Subjek Penelitian
Dalam penelitian ini, kami memilih NGO lingkungan hidup yang berasal dari lima provinsi dengan skor terendah dalam Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) tahun 2019 sebagai subjek penelitian. Melalui IKLH kita dapat mengetahui seberapa jauh kondisi dan status kualitas lingkungan hidup suatu provinsi dari segi kualitas air, kualitas udara, dan tutupan lahan. Skor terendah menandakan bahwa pengarusutamaan isu lingkungan hidup adalah hal yang paling mendesak untuk dilakukan di sejumlah daerah tersebut mengingat kondisi kualitas lingkungan hidupnya yang lebih buruk ketimbang daerah lain di Indonesia. Provinsi-provinsi tersebut adalah Lampung, Jawa Barat, dan Banten yang mendapatkan predikat “Kurang Baik,”
serta DI Yogyakarta dan DKI Jakarta yang mendapatkan predikat
“Sangat Kurang Baik” dalam IKLH 2019. Total populasi NGO lingkungan hidup yang berdomisili di provinsi-provinsi tersebut menurut pangkalan data Ornop Smeru Institute (per 3 Agustus 2021) adalah sejumlah 143 NGO.
Selanjutnya kami melakukan seleksi untuk memilih NGO mana saja yang akan termasuk sebagai subjek penelitian. Kami membatasi minimal 3 NGO per provinsi yang akan terpilih sebagai subjek. Adapun kriteria penyeleksian yang kami lakukan adalah sebagai berikut:
• Fokus utama NGO adalah pada isu lingkungan hidup
• NGO bergerak dan/atau pernah melakukan kegiatan (kampanye, advokasi, dsb) di provinsi tersebut.
• NGO memiliki akun media sosial yang aktif digunakan. Adapun
METODOLOGI PENELITIAN
14
yang kami maksud sebagai akun media sosial yang aktif digunakan adalah ketika akun tersebut mengunggah konten dalam seminggu terakhir dan mengunggah konten sebanyak minimal empat kali dalam sebulan terakhir.
Berdasarkan kriteria tersebut, terpilih 12 NGO yang akan menjadi subjek dalam penelitian ini, dengan rincian yang dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Subjek Penelitian
PROVINSI NAMA ORGANISASI
Jawa Barat Yayasan Rimbawan Muda Indonesia Bogor (RMI) Sawit Watch
Forest Watch Indonesia (FWI)
D.I. Yogyakarta Java Learning Center Indonesia (JAVLEC Indonesia) Yayasan Kanopi Indonesia
Walhi Yogyakarta
DKI Jakarta World Resources Institute Indonesia (WRI Indonesia) Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) Ciliwung Institute
Lampung Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS) Walhi Lampung
Banten Rekonvasi Bhumi
Alat Ukur (Assessment Tool)
Kemudian kami membangun alat ukur (assessment tool) untuk menjalankan penelitian Indeks Kematangan Digital NGO Lingkungan Hidup. Kami ingin meneliti 2 aspek dalam alat ukur ini, yaitu aspek kapasitas produksi digital dan optimalisasi penggunaan media sosial.
Adapun aspek kapasitas produksi digital terdiri dari tiga dimensi yaitu strategi, kultur, dan teknologi, sedangkan aspek optimalisasi penggunaan media sosial terdiri dari satu dimensi yaitu performa media sosial. Keempat dimensi tersebut kemudian diturunkan ke dalam 43 indikator penilaian. Indikator-indikator tersebut berperan sebagai basis bagi perhitungan skor indeks. Rincian terkait alat ukur dan indikator indeks tertera pada bagian lampiran penelitian ini.
Tabel 2. Deskripsi Dimensi Indeks
ASPEK DIMENSI DESKRIPSI
Kapasitas Produksi Digital
Strategi Dimensi ini berfokus pada prioritas dan perencanaan NGO menuju transformasi digital dan optimalisasi advokasi berbasis media sosial
Kultur Dimensi ini berfokus pada lingkungan yang mendukung inovasi dan kolaborasi teknologi serta pengembangan media sosial
Teknologi Dimensi ini berfokus pada: (1) Infrastruktur komunikasi yang mendukung kebutuhan data dan teknologi digital;
(2) Pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan dalam bekerja dengan data dan teknologi digital.
Optimalisasi Penggunaan Media Sosial
Performa media sosial
Dimensi ini berfokus pada: (1) Frekuensi pengunaan media sosial oleh NGO dalam rangka advokasi/kampanye; (2) Jangkauan konten media sosial NGO
Keempat dimensi ini kami gunakan dalam penelitian dengan mengadaptasi alat ukur yang dikonstruksi oleh Zhang & Hobman (2019) sebagai indikator penilaian aspek kapasitas produksi untuk mengetahui input yang dimiliki oleh organisasi dalam kaitannya
METODOLOGI PENELITIAN
16
dengan pemanfaatan teknologi digital dan media sosial. Kemudian kami juga mengukur sejauh mana output yang dihasilkan oleh NGO lingkungan hidup dalam aspek optimalisasi penggunaan media sosial.
Pada dimensi strategi, kultur, dan teknologi, pengumpulan data dilakukan dengan meminta masing-masing NGO melakukan self- assessment, di mana kami meminta kepala divisi komunikasi atau jabatan sejenis untuk mengisi kuesioner yang telah kami buat untuk mereka isi secara mandiri.
Pada dimensi performa media sosial, kami memilih tiga platform media sosial sebagai objek penelitian, yaitu Facebook, Instagram, dan Twitter. Adapun alasan kami memilih Facebook, Instagram, dan Twitter adalah karena platform-platform tersebut masuk ke dalam lima peringkat teratas dalam survei popularitas media sosial yang dilakukan oleh We Are Social & Hootsuite (2020).
Lalu, kami menilai performa media sosial masing-masing NGO menggunakan rumus engagement rate yang digunakan oleh Popsters (2020) dalam Social Media Users Activity Global Report. Engagement rate sendiri sering dianggap sebagai salah satu alat ukur terpenting untuk menganalisis performa media sosial. Ia mengindikasikan seberapa jauh audiens terlibat, berinteraksi, dan memberikan perhatian terhadap suatu akun. Engagement rate juga dapat digunakan sebagai dasar untuk memetakan kebutuhan atau preferensi audiens berdasarkan jumlah interaksi (likes, comment, share, dll) mereka dengan konten-konten tertentu.
Meskipun banyaknya jumlah followers dan tingginya frekuensi unggahan merupakan indikator positif bagi sebuah akun media sosial, kegunaan-kegunaan di atas akan sulit didapatkan apabila kita hanya bersandar pada kedua hal tersebut sebagai alat ukur performa media sosial. Misalnya, seringkali akun dengan banyak followers memiliki
tingkat interaksi yang rendah pada kontennya. Ini menunjukkan kurangnya afinitas dan hubungan antara pengikut dan pengguna akun. Artinya, meskipun akun tersebut memiliki cakupan audiens yang luas, pesan yang dibawa tidak tersampaikan secara optimal.
Secara sederhana, engagement rate dihitung melalui jumlah keterlibatan/interaksi pada konten dibagi dengan jumlah audiens yang mengikuti akun. Adapun data-data yang dibutuhkan dalam perhitungan engagement rate meliputi jumlah likes, comment dan share pada Facebook, likes dan comment pada Instagram, serta likes dan retweet pada Twitter. Penjelasan lebih rinci terkait rumus dan perhitungan engagement rate dapat dilihat dalam instrumen penelitian yang tertera pada bagian lampiran penelitian ini.
Kami menggunakan bantuan alat analisis performa media sosial Keyhole untuk menggali data yang dibutuhkan pada Instagram dan Twitter. Sedangkan untuk menggali data yang dibutuhkan pada Facebook, kami melakukan pemantauan manual karena Keyhole tidak menyediakan fitur penggalian data di platform tersebut. Kami membatasi proses pengumpulan data selama enam bulan dalam rentang 1 Februari 2021-31 Juli 2021.
METODOLOGI PENELITIAN
18
Penilaian Indeks
Setelah proses koleksi data selesai, kami kemudian masuk ke dalam tahap penilaian indeks. Penilaian indeks dalam penelitian ini menggunakan sistem skor. Skor menggunakan skala 1-5 pada setiap indikator. Skor pada setiap indikator akan dijumlahkan secara keseluruhan untuk mengkategorikan NGO ke dalam suatu tahap kematangan digital (stages of maturity) tertentu. Skor akhir minimum yang dapat diperoleh adalah 1, sedangkan skor akhir maksimum yang dapat diperoleh adalah 5.
Tabel 3. Range skor stages of maturity
TOTAL SKOR STAGES OF MATURITY
1 - 2 Emerging (Berkembang)
2,01 - 3 Transitional (Transisi) 3,01 - 4 Competitive (Kompetitif) 4,01 - 5 Transformative (Transformatif)
Jumlah skor akhir akan tergantung kepada pembobotan masing- masing dimensi. Bobot masing-masing dimensi adalah sebagai berikut:
Strategi ... 20%
Kultur ... 20%
Teknologi ... 20%
Performa media sosial ... 40%
Perhitungan skor akhir indeks dijalankan melalui dua tahap. Tahap pertama adalah perhitungan skor indeks per dimensi. Setelah skor indeks per dimensi berhasil dihitung, tahap selanjutnya adalah perhitungan skor akhir indeks dengan cara menjumlahkan skor indeks per dimensi. Penjelasan lebih rinci terkait perhitungan skor indeks adalah sebagai berikut:
Tahap 1
Nilai indeks perdimensi = (Total Nilai Indikator/Jumlah Indikator) x Bobot
Tahap 2
Indeks akhir = Nilai indeks dimensi (NID) 1 + NID 2 + NID 3 + NID 4
Mengacu pada skor akhir indeks, tiap organisasi yang menjadi subjek penelitian ini kami masukkan dalam kategori kematangan digital tertentu. Kami mengadopsi kategori tahap kematangan digital yang digagas oleh Zhang, dkk (2019) untuk menentukan tahap kematangan digital pada penelitian ini. Kategori tahap kematangan digital serta definisinya dapat dilihat pada Tabel 4.
METODOLOGI PENELITIAN
20
Tabel 4. Definisi Tahap Kematangan Digital
DIMENSI EMERGING (BERKEMBANG)
TRANSITIONAL (TRANSISIONAL)
COMPETITIVE (KOMPETITIF)
TRANSFORMATIVE (TRANSFORMATIF)
Strategi NGO menem-
patkan proyek digitalisasi dalam prioritas yang rendah. Ia tidak memiliki rencana atau niat yang jelas untuk memanfaatkan digitalisasi dalam kerja-kerja advokasi.
NGO mulai mempertimbang- kan penerapan teknologi digital pada kerja-kerja advokasi yang mereka jalankan.
Namun belum ada rencana dan tin- dakan yang jelas untuk mengadopsi dan memanfaat- kan teknologi tersebut.
NGO telah men- ganggap digital- isasi sebagai hal yang penting. NGO telah mengem- bangkan dan me- nerapkan rencana strategis untuk mengadopsi dan memanfaatkan teknologi digital.
NGO menganggap proyek digitalisasi sebagai hal yang sangat penting serta menem- patkannya dalam prioritas yang tinggi. NGO memi- liki perencanaan yang jelas untuk menghadapi masa depan teknologi dimana peman- faatan teknologi digital merupakan kunci untuk pertumbuhan dan transformasi organisasi mas- yarakat sipil.
Kultur NGO memiliki
kultur teknologis yang konservatif sehingga inovasi teknologi dan ko- laborasi menjadi terhambat.
NGO memiliki kultur yang kon- servatif dimana inovasi teknologi dan kolaborasi tidak didorong secara aktif.
NGO telah memu- lai untuk mencip- takan kultur yang mendorong per- tumbuhan inovasi dan kolaborasi.
NGO memili- ki kultur yang mendorong pertumbuhan inovasi teknologi dan kolaborasi.
Teknologi Infrastruktur komunikasi yang dimiliki tidak dapat menunjang kebutuhan data dan teknolo- gis NGO dalam kerja-kerja ad- vokasi. NGO juga belum mengambil tindakan atau kebijakan untuk memperbaiki in- frastruktur komu- nikasi tersebut.
NGO juga masih menggunakan teknologi digital secara terbatas dan memiliki dukungan teknis yang buruk. NGO memiliki kekuran- gan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan untuk menggunakan teknologi digital dan mengelola data.
Infrastruktur komunikasi yang dimiliki hampir tidak dapat menunjang kebu- tuhan data dan teknologis. NGO telah mulai men- erapkan teknologi digital dalam rangka advokasi.
NGO memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang terbatas untuk menggunakan teknologi digital dan mengelola data
Infrastruktur komunikasi yang dimiliki telah cukup mendukung kebutuhan data dan teknologi digital. NGO juga telah menggu- nakan teknologi digital dengan dukungan teknis yang memuaskan.
NGO memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang baik untuk me- manfaatkan data dan teknologi digital.
Infrastruktur komunikasi yang dimiliki telah men- dukung penuh ke- butuhan data dan teknologi digital NGO dalam men- jalankan advokasi.
Teknologi digital telah dimanfaat- kan sepenuhnya dengan dukungan teknis yang kuat. Pegawai NGO memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang komprehensif untuk memanfaat- kan sepenuhnya data dan teknologi digital.
Performa media sosial
Frekuensi penggu- naan media sosial untuk kampanye lingkungan hidup masih sangat rendah. Konten yang diproduksi di media sosial belum bisa men- jangkau audiens secara luas.
Frekuensi peng- gunaan media sosial untuk kam- panye lingkungan hidup masih cukup rendah.
Konten yang diproduksi di me- dia sosial belum bisa menjangkau audiens secara luas, namun jang- kauannya lebih luas dibandingkan dengan NGO yang berada di tahap emerging.
Frekuensi peng- gunaan media sosial untuk kam- panye lingkungan hidup sudah cuk- up tinggi. Konten yang diproduksi di media sosial telah dapat men- jangkau audiens yang cukup luas.
Frekuensi penggu- naan media sosial untuk kampanye lingkungan hidup sangat tinggi.
Konten yang dipro- duksi di media sosial telah men- jangkau audiens secara luas.
METODOLOGI PENELITIAN
22
Keterbatasan Penelitian
Kami menyadari bahwa ada beberapa keterbatasan dalam penelitian ini. Dimana keterbatasan-keterbatasan tersebut merentang mulai dari metode koleksi data hingga pemilihan sampel. Yang pertama adalah perihal sampling atau pemilihan subjek penelitian. Berdasarkan pangkalan data Organisasi non pemerintah Smeru Institute (per Desember 2021), NGO yang bergerak pada sektor lingkungan hidup di Indonesia berjumlah 516 organisasi. Namun karena keterbatasan sumberdaya, kami memilih dua belas NGO dari lima provinsi sebagai subjek penelitian melalui indikator pemilihan sampel yang kami susun.
Artinya, penelitian ini tidak dapat disikapi sebagai representasi dari kondisi seluruh NGO lingkungan hidup di Indonesia mengingat total populasinya yang amat besar.
Yang kedua terkait dengan metode koleksi data pada dimensi Strategi, Kultur, dan Teknologi. Pengumpulan data dilakukan melalu self-assessment lewat pengisian kuesioner online secara mandiri olehkepada kepala divisi komunikasi NGO Lingkungan hidup. ami menyadari bahwa hasil self-assessment ini tak bisa dilepaskan dari bias subjektivitas responden sehingga berpotensi untuk mempengaruhi hasil data penelitian. Untuk meminimalisir pengaruh bias tersebut terhadap hasil akhir indeks, bobot kontribusi dari ketiga dimensi ini terhadap skor akhir indeks dibuat lebih kecil (masing- masing 20%) dibandingkan dimensi performa media sosial (40%) yang memiliki derajat objektivitas lebih tinggi secara metodologis.
Yang ketiga, terkait dengan jumlah partisipan pada survei dampak pesan yang diunggah oleh NGO lingkungan hidup terhadap kesadaran audiens. Jumlah partisipasi dari audiens masing-masing NGO sangat bervariasi sebagaimana yang dapat dilihat dalam Tabel 5 sub-bab monitoring performa media sosial. Terdapat sejumlah NGO yang memenuhi persyaratan metodologis untuk sampling, dan ada pula
beberapa NGO yang tidak memenuhi persyaratan tersebut. Kami menyadari bahwa dikarenakan jumlah partisipasi yang sangat bervariasi, data-data tersebut tidak dapat disikapi sebagai upaya untuk melakukan generalisasi. Namun kami melihat potensi bahwa data-data yang berhasil dikumpulkan dapat membantu kita untuk mendapatkan gambaran umum terkait dampak pesan yang diunggah oleh NGO di media sosial terhadap kesadaran audiensnya, sehingga data-data tersebut kami paparkan pada penelitian ini.
03
Temuan
PENELITIAN
TEMUAN
PENELITIAN
Kapasitas Produksi Digital
Grafik 1. Nilai Kapasitas Produksi Digital Organisasi Dimensi Strategi
Keterangan warna: ⬤ = Fase Berkembang (1-2); ⬤ = Fase Transisi (2,01 - 3); ⬤ = Fase Kompetitif (3,01 - 4);
dan ⬤ = Fase Transformatif (4,01 - 5)
TEMUAN PENELITIAN
26
Grafik 2. Nilai Kapasitas Produksi Digital Organisasi Dimensi Kultur
Keterangan warna: ⬤ = Fase Berkembang (1-2); ⬤ = Fase Transisi (2,01 - 3); ⬤ = Fase Kompetitif (3,01 - 4);
dan ⬤ = Fase Transformatif (4,01 - 5)
Grafik 3. Nilai Kapasitas Produksi Digital Organisasi Dimensi Teknologi
Keterangan warna: ⬤ = Fase Berkembang (1-2); ⬤ = Fase Transisi (2,01 - 3); ⬤ = Fase Kompetitif (3,01 - 4);
dan ⬤ = Fase Transformatif (4,01 - 5)
Keterangan warna: ⬤ = Fase Berkembang (1-2); ⬤ = Fase Transisi (2,01 - 3); ⬤ = Fase Kompetitif (3,01 - 4);
dan ⬤ = Fase Transformatif (4,01 - 5)
Kami juga melakukan kategorisasi untuk melihat posisi organisasi- organisasi di dalam empat fase, yaitu: (1) Fase Berkembang, (2) Fase Transisi, (3) Fase Kompetitif, dan (4) Fase Transformatif.
Seperti yang diperlihatkan melalui grafik-grafik di atas, dinilai dalam dimensi strategi, kultur, maupun teknologi, sudah tidak ada NGO yang berada dalam Fase Berkembang (ditunjukkan dengan tidak adanya penandaan dengan warna oranye). Hal ini berarti semua NGO setidaknya sudah mulai menempatkan prioritas pada advokasi secara digital, baik melalui perencanaan dan strategi, kultur untuk mendorong inovasi melalui digital, dan penyediaan infrastruktur oleh organisasi.
Grafik 4. Nilai Kapasitas Produksi Digital Organisasi Rata-rata Dimensi
TEMUAN PENELITIAN
28
Ketika nilai indeks dari ketiga dimensi ini digabungkan, maka rata- rata dari keseluruhan NGO yang menjadi subjek penelitian ini sudah masuk ke Fase Kompetitif (lihat Grafik 4, nilai rata-rata keseluruhan = 3,44). Sebagian besar organisasi juga sudah memasuki fase tersebut, kecuali Walhi Lampung (nilai rata-rata ketiga dimensi = 2,74) yang berada pada Fase Transisi, dan dua organisasi lainnya yang justru sudah berada pada Fase Transformatif, yaitu Yayasan KEHATI (nilai rata-rata ketiga dimensi = 4,07) dan YKWS (nilai rata-rata ketiga dimensi = 4,07).
Dengan sebagian besar organisasi berada pada Fase Kompetitif, maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar NGO yang menjadi subjek penelitian telah menganggap digitalisasi sebagai hal yang penting. Hal ini terlihat dari: (1) telah mulai terciptanya budaya yang mendorong pertumbuhan inovasi dan kolaborasi; (2) telah tersedianya infrastruktur komunikasi yang dapat mendukung kebutuhan advokasi digital; dan (3) adanya alokasi sumber daya manusia yang khusus menangani komunikasi digital, dan memiliki pengetahuan serta kemampuan yang mumpuni dalam memanfaatkan teknologi digital untuk advokasi.
“
Sebagian besar NGO yang menjadi subjek penelitian telah menganggap digitalisasi sebagai hal yang penting.”Satu poin yang patut digarisbawahi adalah data untuk pengukuran nilai indeks ketiga dimensi tersebut didapatkan dari hasil penilaian diri (self-assessment) oleh pegiat atau karyawan yang khusus menangani bagian sosial media dan advokasi digital. Maka dari itu, lebih jauh lagi kami akan membandingkan nilai indeks yang didapat dari ketiga dimensi ini, dengan dimensi keempat yaitu Dimensi Performa Media Sosial.
Eksplorasi Indikator Dimensi Strategi
Tabel 5. Indikator Dimensi Strategi
SUBDIMENSI STRATEGI DIGITALISASI
NO INDIKATOR RATA-
RATA 1 Organisasi memiliki perencanaan jelas terkait penggunaan
teknologi digital untuk keperluan advokasi. 4,00 2 Pemanfaatan teknologi digital merupakan bagian inti dari strategi
organisasi untuk meningkatkan kemampuan advokasi. 3,92 3 Organisasi senantiasa memanfaatkan perkembangan teknologi
digital untuk meningkatkan kinerja organisasi. 3,92 4 Persentase dari total belanja anggaran organisasi yang akan
dipakai untuk pemanfaatan teknologi digital. 1,67 5 Organisasi memiliki rencana jangka panjang untuk memanfaatkan
teknologi digital terbaru. 3,42
6
Organisasi memiliki rencana jangka panjang untuk merekrut pegawai yang memiliki kemampuan untuk mengoperasikan teknologi digital.
3,50
7 Organisasi memiliki rencana jangka panjang untuk meningkatkan
kemampuan pegawai dalam mengoperasikan teknologi digital. 3,92 8
Organisasi memiliki perencanaan yang jelas terkait frekuensi penggunaan media sosial untuk mengadvokasi atau kampanye isu- isu lingkungan hidup.
4,00
9 Organisasi memiliki perencanaan yang jelas terkait target audiens
yang ingin disasar dalam advokasi berbasis media sosial. 3,67 10 Organisasi memiliki perencanaan yang jelas terkait pemilihan jenis
konten yang ingin diunggah dalam platform media sosial. 3,92
TEMUAN PENELITIAN
30
SUBDIMENSI BESAR ORGANISASI
NO INDIKATOR RATA-
RATA 11 Jumlah pegawai dan relawan yang bekerja di sektor komunikasi
digital dalam organisasi.1 1,25
12 Jumlah pegawai yang bertugas untuk melakukan pengembangan
dan pemeliharaan website dalam organisasi.2 2,08 13 Jumlah pegawai yang bertugas untuk mengurus sosial media dalam
organisasi anda.3 2,67
14 Jumlah relawan yang bertugas untuk melakukan pengembangan dan pemeliharaan website dalam organisasi anda?4 1,50 15 Jumlah relawan yang bertugas untuk mengurus sosial media dalam
organisasi.5 1,92
RATA-RATA DIMENSI 3,02
Dengan rata-rata nilai indikator di dalam dimensi Strategi sebesar 3,02, maka kami melakukan klasifikasi indikator-indikator apa saja yang mendapatkan nilai rendah atau di bawah norma tersebut.
Seperti yang terlihat di Tabel 5 di atas, sejumlah lima dari total enam indikator yang memiliki nilai di bawah rata-rata merupakan indikator di subdimensi Besar Organisasi yang berhubungan dengan pengalokasian sumber daya manusia untuk menangani pekerjaan advokasi digital.
Secara lebih spesifiknya, nilai dari indikator-indikator tersebut berkisar pada 1,25 sampai 2,67. Nilai tersebut berada dalam kelompok jawaban kedua yang menunjukkan bahwa kebanyakan organisasi mengalokasikan satu orang pegawai untuk menangani pekerjaan
1 Nilai 1 = 1-5 orang, 2 = 6-10, 3 = 11-15, 4 = 16-20, 5 = >21
2 Nilai 1 = Tidak ada, 2 = 1 orang, 3 = 2-3 orang, 4 = 4-9 orang, 5 = >10 orang
3 Idem
4 Nilai 1 = Tidak ada, 2 = 1 orang, 3 = 2-3 orang, 4 = 4-9 orang, 5 = >10 orang
5 Idem
advokasi digital sesuai dengan spesifikasi-spesifikasi pada indikator seperti yang dijelaskan di Tabel 5 di atas.
Yang patut digarisbawahi dalam hal ini adalah, bahwa terdapat celah nilai yang cukup jauh antara indikator-indikator pengalokasian sumber daya manusia ini dibandingkan dengan nilai indikator- indikator lainnya dalam dimensi Strategi yang berkisar di angka 3 - 4.
Eksplorasi Indikator Dimensi Kultur
Tabel 6. Indikator Dimensi Kultur
NO INDIKATOR RATA-
RATA 1 Pegawai organisasi didorong untuk menggunakan dan
bereksperimen dengan teknologi digital terbaru. 3,92 2 Pegawai organisasi didorong untuk menggunakan data dalam
pengambilan keputusan. 4,50
3
Pegawai organisasi didorong untuk bertukar pengalaman dan berbagi wawasan terkait penggunaan teknologi digital dengan NGO lainnya.
4,17
4 Pegawai organisasi didorong untuk menggunakan dan
bereksperimen dengan platform media sosial terbaru. 3,83 5 Pegawai organisasi didorong untuk menggunakan data social media
analytics dalam rangka meninjau performa media sosial. 3,67 6
Pegawai organisasi didorong untuk bertukar pengalaman dan berbagi wawasan terkait penggunaan media sosial dengan NGO lainnya.
3,58
RATA-RATA DIMENSI 3,95
TEMUAN PENELITIAN
32
Berdasarkan tabel di atas, dimensi Kultur mendapatkan nilai rata-rata 3,95. Dua indikator yang mendapatkan nilai terendah adalah indikator 5 yang berhubungan dengan penggunaan data analitik media sosial dan indikator 6 terkait kolaborasi dengan organisasi lainnya dalam rangka penukaran pengalaman dan wawasan.
Dibandingkan dengan dimensi Strategi, pada dimensi Kultur ini tidak ada celah yang terlalu jauh antara indikator yang berada di paling bawah dibandingkan dengan indikator dengan nilai di atas rata-rata.
Selain itu, nilai di indikator nomor 5 dan 6 pun sudah termasuk tinggi, yaitu di atas 3 yang merupakan nilai tengah dari skala 1-5. Artinya, organisasi-organisasi ini sudah cukup merata dalam upayanya mendorong budaya inovasi teknologi dalam internal organisasi.
Eksplorasi Indikator Teknologi
Tabel 7. Indikator Dimensi Teknologi
SUBDIMENSI INFRASTRUKTUR KOMUNIKASI
NO INDIKATOR RATA-
RATA 1 Tersedia koneksi Wi-Fi yang memadai untuk menunjang pekerjaan
di kantor. 4,58
2 Organisasi menyediakan laptop/komputer yang memadai untuk
memproduksi konten audio visual. 4,08
3
Organisasi menyediakan perangkat keras (misal: laptop, ponsel, tablet, dsb) dengan kapasitas memori yang cukup untuk menyimpan data yang dibutuhkan.
3,83
4
Organisasi sudah memanfaatkan layanan komputasi awan (cloud computing) untuk meningkatkan kapasitas memori dalam menyimpan data (misal: Google Drive, Dropbox, Microsoft Office Live, dsb.)
3,67
5 Infrastruktur komunikasi saat ini sudah memenuhi kebutuhan kami dalam kaitannya dengan kegiatan advokasi yang sedang dijalankan. 3,42 6 Organisasi secara aktif berusaha untuk meningkatkan kapasitas
infrastruktur komunikasi. 4,00
SUBDIMENSI KAPABILITAS
NO INDIKATOR RATA-
RATA 7 Organisasi memiliki staf yang mampu melakukan pekerjaan yang
berkaitan dengan proses perekaman dan editing video. 3,42 8 Organisasi memiliki staf yang memiliki kemampuan strategis untuk
meningkatkan pengikut di media sosial. 3,25
9
Organisasi memiliki staf yang memiliki kemampuan strategis untuk membuat konten sosial media yang dapat menjangkau khalayak secara luas.
3,58
10
Organisasi memiliki staf yang memiliki kemampuan strategis untuk membuat konten media sosial yang dapat menciptakan interaksi dengan khalayak.
3,33
11 Organisasi memiliki staf yang mampu memanfaatkan social media
analytics untuk meninjau performa media sosial. 3,33 12 Organisasi memiliki staf yang mampu melakukan pekerjaan di
bidang fotografi. 3,58
13 Organisasi memiliki staf yang mampu melakukan pekerjaan di
bidang desain grafis. 4,17
14 Organisasi memiliki staf yang mampu mengunggah konten teks
melalui website. 4,25
15 Organisasi memiliki staf yang mampu mengunggah konten
audiovisual melalui website. 3,92
16 Organisasi memiliki staf yang mampu memanfaatkan search engine optimization (SEO) untuk meningkatkan keterbacaan website. 3,00 17 Organisasi memiliki staf yang mampu memanfaatkan perangkat
analytics untuk menganalisis performa website. 2,92 18 Organisasi memiliki staf yang mampu menjalankan promosi konten
antar-platform dalam media sosial dan laman website. 3,00 19 Organisasi memiliki staf yang mampu memanfaatkan petisi online
dalam rangka advokasi. 3,25
20
Organisasi memiliki staf yang memiliki kemampuan strategis untuk menyampaikan tuntutan kepada pengambil kebijakan lewat media sosial milik organisasi anda.
3,42
21 Organisasi memiliki staf yang mampu memproduksi dan menyajikan konten dengan tujuan advokasi lewat media sosial milik organisasi. 4,33
RATA-RATA 3,63
TEMUAN PENELITIAN
34
Seperti yang diperlihatkan pada tabel di atas, tiga indikator dengan nilai terendah di pada dimensi Teknologi berada di subdimensi Kapabilitas, yaitu ketersediaan staf yang memiliki wawasan dan kapabilitas dalam melakukan advokasi digital. Indikator-indikator tersebut adalah: (1) Indikator nomor 16 mengenai pemanfaatan SEO;
(2) Indikator nomor 17 mengenai pemanfaatan perangkat analitik; dan (3) Indikator nomor 18 mengenai promosi konten antar-platform.
Artinya, pengalokasian sumber daya manusia yang mengerti mengenai pemanfaatan perangkat analitik, SEO, dan konten cross-promotional ini termasuk menjadi yang kurang diperhatikan, meskipun nilainya tidak berbeda terlalu jauh dibandingkan dengan indikator-indikator lainnya.
Monitoring Performa Media Sosial
Kami menemukan bahwa tingkat performa media sosial tiap NGO bervariasi. Berdasarkan rumus perhitungan engagement rate yang digunakan oleh Popsters (2020), tiga NGO yang memiliki tingkat performa media sosial tertinggi secara berurutan adalah: (1) Java Learning Center (JAVLEC) dengan skor indeks total 4,94; (2) Walhi Lampung dengan skor 4,52; dan (3) dan Rekonvasi Bhumi dengan skor 2,20. Sedangkan NGO yang termasuk dalam peringkat tiga terbawah adalah KEHATI dengan skor indeks total 1,28, lalu Yayasan Kanopi Indonesia dengan skor 1,21, dan Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS) dengan skor 1,14. Jika dirata-rata secara keseluruhan, NGO lingkungan hidup yang menjadi subjek dalam penelitian ini hanya mendapatkan skor indeks 2,01. Artinya, secara keseluruhan NGO yang berpartisipasi dalam penelitian ini tergolong ke dalam fase Transisi.
Grafik 5. Skor Tingkat Penggunaan Facebook
Keterangan warna: ⬤ = Fase Berkembang (1-2); ⬤ = Fase Transisi (2,01 - 3); ⬤ = Fase Kompetitif (3,01 - 4);
TEMUAN PENELITIAN
36
Grafik 6. Skor Tingkat Penggunaan Twitter
Keterangan warna: ⬤ = Fase Berkembang (1-2); ⬤ = Fase Transisi (2,01 - 3); ⬤ = Fase Kompetitif (3,01 - 4);
dan ⬤ = Fase Transformatif (4,01 - 5)
Grafik 7. Skor Tingkat Penggunaan Instagram
Keterangan warna: ⬤ = Fase Berkembang (1-2); ⬤ = Fase Transisi (2,01 - 3); ⬤ = Fase Kompetitif (3,01 - 4);
dan ⬤ = Fase Transformatif (4,01 - 5)
Grafik 8. Skor Indeks Total Tingkat Penggunaan Media Sosial
Keterangan warna: ⬤ = Fase Berkembang (1-2); ⬤ = Fase Transisi (2,01 - 3); ⬤ = Fase Kompetitif (3,01 - 4);
dan ⬤ = Fase Transformatif (4,01 - 5)
Adapun platform media sosial yang tingkat performanya paling tinggi adalah Instagram dengan rata-rata skor indeks total sebesar 2,15, kemudian disusul oleh Facebook dengan skor rata-rata 2,06 dan Twitter dengan skor rata-rata terendah yaitu 1,83. Artinya, Instagram lebih digunakan secara optimal oleh NGO lingkungan hidup yang berpartisipasi dalam penelitian ini dibanding Facebook dan Twitter.
Hal ini tidak mengherankan mengingat sejumlah sebelas organisasi menyatakan bahwa mereka paling sering menggunakan Instagram untuk menyuarakan isu lingkungan hidup pada kuesioner yang kami bagikan. Hanya Ciliwung Institute yang menyatakan paling sering menggunakan Facebook untuk menyuarakan isu lingkungan hidup.
TEMUAN PENELITIAN
38
Dalam tingkat performa Facebook, ada tiga organisasi yang mendapatkan skor tertinggi yaitu Walhi Lampung, JAVLEC, dan Rekonvasi Bhumi. Meski termasuk dalam organisasi dengan skor tertinggi, Rekonvasi Bhumi hanya mendapatkan skor 2,97 yang artinya tergolong ke dalam fase Transisi. Lalu tiga organisasi yang memiliki skor terendah adalah Sawit Watch, Yayasan Kanopi Indonesia, dan YKWS. Bagi Yayasan Kanopi Indonesia dan Sawit Watch, mendapatkan skor terendah dalam tingkat penggunaan Facebook merupakan sebuah kewajaran mengingat kedua organisasi tersebut tidak memiliki Facebook page. Sedangkan YKWS mendapatkan skor terendah karena dalam rentang waktu 6 bulan (Februari-Juli 2021) tidak mengunggah satupun post di Facebook page.
Grafik 9. Skor Indeks Performa Facebook
Keterangan warna: ⬤ = Fase Berkembang (1-2); ⬤ = Fase Transisi (2,01 - 3); ⬤ = Fase Kompetitif (3,01 - 4);
dan ⬤ = Fase Transformatif (4,01 - 5)
Tabel 8. Variabel Tingkat Penggunaan Facebook
NAMA ORGANISASI AUDIENS
(FOLLOWERS) POST ENGAGEMENT
LIKES COMMENT
Walhi Lampung 2.898 7 31 4
JAVLEC Indonesia 330 17 7 1
Rekonvasi Bhumi 1.132 55 41 2
Yayasan RMI Bogor 1.088 83 32 2
Ciliwung Institute 4.395 36 31 3
Forest Watch Indonesia 4.173 80 38 1
WRI Indonesia 1.587 19 4 0
Walhi Yogyakarta 7.276 4 2 0
Yayasan KEHATI 16.045 76 61 2
Sawit Watch 0 0 0 0
Yayasan Kanopi Indonesia 0 0 0 0
Yayasan Konservasi Way
Seputih 527 0 0 0
RATA-RATA 3.288 31 21 1
Dalam tingkat performa Instagram, tiga organisasi yang mendapatkan skor tertinggi adalah JAVLEC, Walhi Lampung, dan Rekonvasi Bhumi.
Sedangkan tiga organisasi yang mendapatkan skor terendah yaitu YKWS, FWI, dan KEHATI. Adapun salah satu faktor yang menyebabkan JAVLEC dan Rekonvasi Bhumi termasuk kedalam peringkat tiga teratas dalam tingkat performa Instagram adalah karena jumlah followers yang jauh dibawah rata-rata, mengingat jumlah followers merupakan faktor pembagi dalam rumus perhitungan engagement rate. Sebaliknya, organisasi-organisasi dengan jumlah followers yang tergolong banyak seperti WRI dan KEHATI mendapatkan peringkat yang rendah. Hal ini disebabkan karena timpangnya jumlah followers dan engagement rate.
TEMUAN PENELITIAN
40
Keterangan warna: ⬤ = Fase Berkembang (1-2); ⬤ = Fase Transisi (2,01 - 3); ⬤ = Fase Kompetitif (3,01 - 4);
dan ⬤ = Fase Transformatif (4,01 - 5)
Tabel 9. Variabel Tingkat Penggunaan Instagram
NAMA ORGANISASI AUDIENS
(FOLLOWERS) POST ENGAGEMENT
LIKES COMMENT
JAVLEC Indonesia 461 17 106 0
Walhi Lampung 2.341 19 390 3
Rekonvasi Bhumi 152 62 52 1
Sawit Watch 1.409 25 137 1
Ciliwung Institute 1.501 20 96 1
Yayasan RMI Bogor 1.174 77 225 1
Yayasan Kanopi Indonesia 973 53 110 1
Walhi Yogyakarta 4.143 91 776 16
WRI Indonesia 15.161 43 1.280 30
Yayasan Konservasi Way
Seputih 1.367 78 130 15
Forest Watch Indonesia 8.061 66 505 7
Yayasan KEHATI 14.350 81 1.109 20
RATA-RATA 4.258 53 410 8
Grafik 10. Skor Indeks Performa Instagram
Dalam tingkat performa Twitter, tiga organisasi yang mendapatkan skor tertinggi adalah JAVLEC, Walhi Lampung, dan Forest Watch Indonesia (FWI). Meski menjadi salah satu organisasi dengan skor tertinggi, FWI hanya mendapatkan skor 1,80 yang artinya tergolong ke dalam fase terendah yaitu fase Berkembang. Sedangkan ada enam organisasi yang mendapatkan skor indeks terendah (1,00).
Ada berbagai faktor yang menyebabkan enam organisasi tersebut mendapatkan skor indeks terendah. Organisasi seperti RMI dan Rekonvasi Bhumi mendapatkan skor terendah karena tidak memiliki akun Twitter. Lalu Ciliwung Institute, Walhi Yogyakarta, dan Yayasan Kanopi Indonesia mendapatkan skor terendah karena dalam periode Februari-Juli 2021 tidak mengunggah satupun tweet. Sedangkan YKWS mendapatkan skor terendah karena tidak mendapatkan satupun likes atau retweet dalam periode tersebut.
Grafik 11. Skor Indeks Performa Twitter
Keterangan warna: ⬤ = Fase Berkembang (1-2); ⬤ = Fase Transisi (2,01 - 3); ⬤ = Fase Kompetitif (3,01 - 4);
dan ⬤ = Fase Transformatif (4,01 - 5)
TEMUAN PENELITIAN
42
Tabel 10. Variabel Tingkat Penggunaan Twitter
NAMA ORGANISASI AUDIENS
(FOLLOWERS) POST ENGAGEMENT
LIKES RETWEET
JAVLEC Indonesia 85 30 4 0
Walhi Lampung 2.186 6 8 0
Forest Watch Indonesia 4.665 212 82 17
WRI Indonesia 3.186 71 8 9
Yayasan KEHATI 8.673 25 9 2
Sawit Watch 6.543 144 7 4
Rekonvasi Bhumi 0 0 0 0
Yayasan RMI Bogor 0 0 0 0
Ciliwung Institute 3.401 0 0 0
Walhi Yogyakarta 4.171 0 0 0
Yayasan Kanopi Indonesia 70 0 0 0
Yasayan Konservasi Way
Seputih 47 7 0 0
RATA-RATA 2.752 41 10 3
Berkaca dari data di atas, yang membuat sejumlah NGO mendapatkan skor rendah adalah karena timpangnya jumlah engagement dengan jumlah followers atau post. Di satu sisi, jumlah followers atau post dari sejumlah NGO relatif tinggi. Namun, di sisi lain, jumlah engagement organisasi-organisasi tersebut relatif rendah. Hal ini terjadi pada KEHATI misalnya, yang mendapatkan skor relatif rendah atau tergolong ke dalam fase Berkembang pada tingkat performa ketiga platform. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari jumlah audiens KEHATI yang selalu berada di atas rata-rata pada tiap platform.
Kemudian kami mencoba untuk mengidentifikasi pola-pola yang ada di dalam post dengan atensi publik (engagement) tertinggi pada setiap platform. Post yang diambil sebagai sampel untuk mengidentifikasi hal tersebut adalah tiga post dengan engagement tertinggi dari masing-masing NGO pada setiap platform. Kami mengidentifikasi
pola-pola tersebut melalui kerangka teoritis yang disajikan dalam penelitian Guo & Saxton (2013).
Berdasarkan kerangka analisis tersebut, kami mengidentifikasi jenis konten dalam post dan bentuk praktik advokasi berbasis media sosial yang terkandung dalam sebuah post. Yang dimaksud dengan jenis konten adalah apakah sebuah post mengandung konten teks, konten visual (gambar/foto), atau konten audio-visual (video) (Guo &
Saxton, 2013). Lalu yang dimaksud dengan bentuk praktik advokasi berbasis media sosial adalah apakah sebuah post mengandung pesan yang dikategorikan sebagai “reaching out to people”, “keeping the flame alive”, atau “call to action” (Guo & Saxton, 2017). Penjelasan lebih lanjut mengenai kategori bentuk praktik advokasi berbasis media sosial dapat dilihat pada bagian lampiran.
Gambar 1. Post Facebook dengan Konten Video dan Pesan “reaching out to people”
TEMUAN PENELITIAN
44
Gambar 2. Post Instagram dengan Konten Carousel dan Pesan
“reaching out to people”
Gambar 3. Post Twitter dengan Konten Gambar/Foto dan Pesan
“reaching out to people"
Berdasarkan analisis kami, kebanyakan post dengan engagement tertinggi di Facebook adalah post yang berisi konten video dan mengandung bentuk pesan ”reaching out to people”. Sedangkan post dengan engagement tertinggi di Instagram pada umumnya adalah post berbentuk carousel, yaitu post yang berisi lebih dari 1 gambar dan/atau video, serta post yang mengandung bentuk pesan
”reaching out to people”. Lalu post dengan engagement tertinggi di Twitter sebagian besar adalah post yang berisi konten foto/gambar dan mengandung bentuk pesan “reaching out to people”. Data-data terkait dapat dilihat pada Grafik 1, Grafik 2, Grafik 3, Grafik 4, dan Tabel 5.
Grafik 12. Jenis Konten Post dengan Engagement Tertinggi di Facebook
Total sampel = 21 post
TEMUAN PENELITIAN
46
Grafik 13. Jenis Konten Post dengan Engagement Tertinggi di Instagram
Total sampel = 24 post
Grafik 14. Jenis Konten Post dengan Engagement Tertinggi di Twitter
Total sampel = 18 post
Grafik 15. Praktik Advokasi Berbasis Media Sosial Dalam Post Dengan Engagement Tertinggi di Facebook
Total sampel = 21 post
Grafik 16. Praktik Advokasi Berbasis Media Sosial Dalam Post Dengan Engagement Tertinggi di Instagram
Total sampel = 24 post
TEMUAN PENELITIAN
48
Grafik 17. Praktik Advokasi Berbasis Media Sosial Dalam Post Dengan Engagement Tertinggi di Twitter
Total sampel = 18 post