Kami menemukan bahwa tingkat performa media sosial tiap NGO bervariasi. Berdasarkan rumus perhitungan engagement rate yang digunakan oleh Popsters (2020), tiga NGO yang memiliki tingkat performa media sosial tertinggi secara berurutan adalah: (1) Java Learning Center (JAVLEC) dengan skor indeks total 4,94; (2) Walhi Lampung dengan skor 4,52; dan (3) dan Rekonvasi Bhumi dengan skor 2,20. Sedangkan NGO yang termasuk dalam peringkat tiga terbawah adalah KEHATI dengan skor indeks total 1,28, lalu Yayasan Kanopi Indonesia dengan skor 1,21, dan Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS) dengan skor 1,14. Jika dirata-rata secara keseluruhan, NGO lingkungan hidup yang menjadi subjek dalam penelitian ini hanya mendapatkan skor indeks 2,01. Artinya, secara keseluruhan NGO yang berpartisipasi dalam penelitian ini tergolong ke dalam fase Transisi.
Grafik 5. Skor Tingkat Penggunaan Facebook
Keterangan warna: ⬤ = Fase Berkembang (1-2); ⬤ = Fase Transisi (2,01 - 3); ⬤ = Fase Kompetitif (3,01 - 4);
TEMUAN PENELITIAN
36
Grafik 6. Skor Tingkat Penggunaan Twitter
Keterangan warna: ⬤ = Fase Berkembang (1-2); ⬤ = Fase Transisi (2,01 - 3); ⬤ = Fase Kompetitif (3,01 - 4);
dan ⬤ = Fase Transformatif (4,01 - 5)
Grafik 7. Skor Tingkat Penggunaan Instagram
Keterangan warna: ⬤ = Fase Berkembang (1-2); ⬤ = Fase Transisi (2,01 - 3); ⬤ = Fase Kompetitif (3,01 - 4);
dan ⬤ = Fase Transformatif (4,01 - 5)
Grafik 8. Skor Indeks Total Tingkat Penggunaan Media Sosial
Keterangan warna: ⬤ = Fase Berkembang (1-2); ⬤ = Fase Transisi (2,01 - 3); ⬤ = Fase Kompetitif (3,01 - 4);
dan ⬤ = Fase Transformatif (4,01 - 5)
Adapun platform media sosial yang tingkat performanya paling tinggi adalah Instagram dengan rata-rata skor indeks total sebesar 2,15, kemudian disusul oleh Facebook dengan skor rata-rata 2,06 dan Twitter dengan skor rata-rata terendah yaitu 1,83. Artinya, Instagram lebih digunakan secara optimal oleh NGO lingkungan hidup yang berpartisipasi dalam penelitian ini dibanding Facebook dan Twitter.
Hal ini tidak mengherankan mengingat sejumlah sebelas organisasi menyatakan bahwa mereka paling sering menggunakan Instagram untuk menyuarakan isu lingkungan hidup pada kuesioner yang kami bagikan. Hanya Ciliwung Institute yang menyatakan paling sering menggunakan Facebook untuk menyuarakan isu lingkungan hidup.
TEMUAN PENELITIAN
38
Dalam tingkat performa Facebook, ada tiga organisasi yang mendapatkan skor tertinggi yaitu Walhi Lampung, JAVLEC, dan Rekonvasi Bhumi. Meski termasuk dalam organisasi dengan skor tertinggi, Rekonvasi Bhumi hanya mendapatkan skor 2,97 yang artinya tergolong ke dalam fase Transisi. Lalu tiga organisasi yang memiliki skor terendah adalah Sawit Watch, Yayasan Kanopi Indonesia, dan YKWS. Bagi Yayasan Kanopi Indonesia dan Sawit Watch, mendapatkan skor terendah dalam tingkat penggunaan Facebook merupakan sebuah kewajaran mengingat kedua organisasi tersebut tidak memiliki Facebook page. Sedangkan YKWS mendapatkan skor terendah karena dalam rentang waktu 6 bulan (Februari-Juli 2021) tidak mengunggah satupun post di Facebook page.
Grafik 9. Skor Indeks Performa Facebook
Keterangan warna: ⬤ = Fase Berkembang (1-2); ⬤ = Fase Transisi (2,01 - 3); ⬤ = Fase Kompetitif (3,01 - 4);
dan ⬤ = Fase Transformatif (4,01 - 5)
Tabel 8. Variabel Tingkat Penggunaan Facebook
NAMA ORGANISASI AUDIENS
(FOLLOWERS) POST ENGAGEMENT
LIKES COMMENT
Walhi Lampung 2.898 7 31 4
JAVLEC Indonesia 330 17 7 1
Rekonvasi Bhumi 1.132 55 41 2
Yayasan RMI Bogor 1.088 83 32 2
Ciliwung Institute 4.395 36 31 3
Forest Watch Indonesia 4.173 80 38 1
WRI Indonesia 1.587 19 4 0
Walhi Yogyakarta 7.276 4 2 0
Yayasan KEHATI 16.045 76 61 2
Sawit Watch 0 0 0 0
Yayasan Kanopi Indonesia 0 0 0 0
Yayasan Konservasi Way
Seputih 527 0 0 0
RATA-RATA 3.288 31 21 1
Dalam tingkat performa Instagram, tiga organisasi yang mendapatkan skor tertinggi adalah JAVLEC, Walhi Lampung, dan Rekonvasi Bhumi.
Sedangkan tiga organisasi yang mendapatkan skor terendah yaitu YKWS, FWI, dan KEHATI. Adapun salah satu faktor yang menyebabkan JAVLEC dan Rekonvasi Bhumi termasuk kedalam peringkat tiga teratas dalam tingkat performa Instagram adalah karena jumlah followers yang jauh dibawah rata-rata, mengingat jumlah followers merupakan faktor pembagi dalam rumus perhitungan engagement rate. Sebaliknya, organisasi-organisasi dengan jumlah followers yang tergolong banyak seperti WRI dan KEHATI mendapatkan peringkat yang rendah. Hal ini disebabkan karena timpangnya jumlah followers dan engagement rate.
TEMUAN PENELITIAN
40
Keterangan warna: ⬤ = Fase Berkembang (1-2); ⬤ = Fase Transisi (2,01 - 3); ⬤ = Fase Kompetitif (3,01 - 4);
dan ⬤ = Fase Transformatif (4,01 - 5)
Tabel 9. Variabel Tingkat Penggunaan Instagram
NAMA ORGANISASI AUDIENS
(FOLLOWERS) POST ENGAGEMENT
LIKES COMMENT
JAVLEC Indonesia 461 17 106 0
Walhi Lampung 2.341 19 390 3
Rekonvasi Bhumi 152 62 52 1
Sawit Watch 1.409 25 137 1
Ciliwung Institute 1.501 20 96 1
Yayasan RMI Bogor 1.174 77 225 1
Yayasan Kanopi Indonesia 973 53 110 1
Walhi Yogyakarta 4.143 91 776 16
WRI Indonesia 15.161 43 1.280 30
Yayasan Konservasi Way
Seputih 1.367 78 130 15
Forest Watch Indonesia 8.061 66 505 7
Yayasan KEHATI 14.350 81 1.109 20
RATA-RATA 4.258 53 410 8
Grafik 10. Skor Indeks Performa Instagram
Dalam tingkat performa Twitter, tiga organisasi yang mendapatkan skor tertinggi adalah JAVLEC, Walhi Lampung, dan Forest Watch Indonesia (FWI). Meski menjadi salah satu organisasi dengan skor tertinggi, FWI hanya mendapatkan skor 1,80 yang artinya tergolong ke dalam fase terendah yaitu fase Berkembang. Sedangkan ada enam organisasi yang mendapatkan skor indeks terendah (1,00).
Ada berbagai faktor yang menyebabkan enam organisasi tersebut mendapatkan skor indeks terendah. Organisasi seperti RMI dan Rekonvasi Bhumi mendapatkan skor terendah karena tidak memiliki akun Twitter. Lalu Ciliwung Institute, Walhi Yogyakarta, dan Yayasan Kanopi Indonesia mendapatkan skor terendah karena dalam periode Februari-Juli 2021 tidak mengunggah satupun tweet. Sedangkan YKWS mendapatkan skor terendah karena tidak mendapatkan satupun likes atau retweet dalam periode tersebut.
Grafik 11. Skor Indeks Performa Twitter
Keterangan warna: ⬤ = Fase Berkembang (1-2); ⬤ = Fase Transisi (2,01 - 3); ⬤ = Fase Kompetitif (3,01 - 4);
dan ⬤ = Fase Transformatif (4,01 - 5)
TEMUAN PENELITIAN
42
Tabel 10. Variabel Tingkat Penggunaan Twitter
NAMA ORGANISASI AUDIENS
(FOLLOWERS) POST ENGAGEMENT
LIKES RETWEET
JAVLEC Indonesia 85 30 4 0
Walhi Lampung 2.186 6 8 0
Forest Watch Indonesia 4.665 212 82 17
WRI Indonesia 3.186 71 8 9
Yayasan KEHATI 8.673 25 9 2
Sawit Watch 6.543 144 7 4
Rekonvasi Bhumi 0 0 0 0
Yayasan RMI Bogor 0 0 0 0
Ciliwung Institute 3.401 0 0 0
Walhi Yogyakarta 4.171 0 0 0
Yayasan Kanopi Indonesia 70 0 0 0
Yasayan Konservasi Way
Seputih 47 7 0 0
RATA-RATA 2.752 41 10 3
Berkaca dari data di atas, yang membuat sejumlah NGO mendapatkan skor rendah adalah karena timpangnya jumlah engagement dengan jumlah followers atau post. Di satu sisi, jumlah followers atau post dari sejumlah NGO relatif tinggi. Namun, di sisi lain, jumlah engagement organisasi-organisasi tersebut relatif rendah. Hal ini terjadi pada KEHATI misalnya, yang mendapatkan skor relatif rendah atau tergolong ke dalam fase Berkembang pada tingkat performa ketiga platform. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari jumlah audiens KEHATI yang selalu berada di atas rata-rata pada tiap platform.
Kemudian kami mencoba untuk mengidentifikasi pola-pola yang ada di dalam post dengan atensi publik (engagement) tertinggi pada setiap platform. Post yang diambil sebagai sampel untuk mengidentifikasi hal tersebut adalah tiga post dengan engagement tertinggi dari masing-masing NGO pada setiap platform. Kami mengidentifikasi
pola-pola tersebut melalui kerangka teoritis yang disajikan dalam penelitian Guo & Saxton (2013).
Berdasarkan kerangka analisis tersebut, kami mengidentifikasi jenis konten dalam post dan bentuk praktik advokasi berbasis media sosial yang terkandung dalam sebuah post. Yang dimaksud dengan jenis konten adalah apakah sebuah post mengandung konten teks, konten visual (gambar/foto), atau konten audio-visual (video) (Guo &
Saxton, 2013). Lalu yang dimaksud dengan bentuk praktik advokasi berbasis media sosial adalah apakah sebuah post mengandung pesan yang dikategorikan sebagai “reaching out to people”, “keeping the flame alive”, atau “call to action” (Guo & Saxton, 2017). Penjelasan lebih lanjut mengenai kategori bentuk praktik advokasi berbasis media sosial dapat dilihat pada bagian lampiran.
Gambar 1. Post Facebook dengan Konten Video dan Pesan “reaching out to people”
TEMUAN PENELITIAN
44
Gambar 2. Post Instagram dengan Konten Carousel dan Pesan
“reaching out to people”
Gambar 3. Post Twitter dengan Konten Gambar/Foto dan Pesan
“reaching out to people"
Berdasarkan analisis kami, kebanyakan post dengan engagement tertinggi di Facebook adalah post yang berisi konten video dan mengandung bentuk pesan ”reaching out to people”. Sedangkan post dengan engagement tertinggi di Instagram pada umumnya adalah post berbentuk carousel, yaitu post yang berisi lebih dari 1 gambar dan/atau video, serta post yang mengandung bentuk pesan
”reaching out to people”. Lalu post dengan engagement tertinggi di Twitter sebagian besar adalah post yang berisi konten foto/gambar dan mengandung bentuk pesan “reaching out to people”. Data-data terkait dapat dilihat pada Grafik 1, Grafik 2, Grafik 3, Grafik 4, dan Tabel 5.
Grafik 12. Jenis Konten Post dengan Engagement Tertinggi di Facebook
Total sampel = 21 post
TEMUAN PENELITIAN
46
Grafik 13. Jenis Konten Post dengan Engagement Tertinggi di Instagram
Total sampel = 24 post
Grafik 14. Jenis Konten Post dengan Engagement Tertinggi di Twitter
Total sampel = 18 post
Grafik 15. Praktik Advokasi Berbasis Media Sosial Dalam Post Dengan Engagement Tertinggi di Facebook
Total sampel = 21 post
Grafik 16. Praktik Advokasi Berbasis Media Sosial Dalam Post Dengan Engagement Tertinggi di Instagram
Total sampel = 24 post
TEMUAN PENELITIAN
48
Grafik 17. Praktik Advokasi Berbasis Media Sosial Dalam Post Dengan Engagement Tertinggi di Twitter
Total sampel = 18 post
Selain mengidentifikasi pola-pola yang ada di dalam post dengan engagement tertinggi, kami juga mengidentifikasi dampak pesan yang diunggah oleh NGO lingkungan hidup terhadap kesadaran audiensnya. Adapun kesadaran yang kami maksud disini adalah kesadaran lingkungan (environmental consciousness). Environmental consciousness sendiri adalah faktor psikologis spesifik yang terkait dengan kecenderungan individu untuk terlibat dalam perilaku pro-lingkungan (Zelezny dan Schultz, 2000). Sedangkan individu yang sadar secara ekologis atau pro-lingkungan adalah seseorang yang terlibat dalam berbagai perilaku pro-lingkungan serta memegang nilai-nilai dan sikap tertentu (Sanchez & Lafuete, 2010).
Untuk mengidentifikasi hal tersebut, kami menyebarkan kuesioner kepada audiens media sosial masing-masing NGO. Instrumen kuesioner yang kami bangun adalah hasil adopsi dari konsep environmental consciousness yang digagas oleh Sanchez & Lafuete (2010). Instrumen tersebut dapat dilihat pada bagian lampiran. Perlu dicatat bahwa skor kesadaran lingkungan yang kami laporkan dalam Tabel 11 merupakan hasil dari survei dampak pesan di konten media sosial NGO. Akan tetapi, skor ini tidak termasuk sebagai komponen yang membentuk indeks kematangan digital karena bervariasinya jumlah responden antar-NGO seperti yang telah dijelaskan di bagian keterbatasan penelitian.
TEMUAN PENELITIAN
50
Tabel 11. Skor Kesadaran Lingkungan (Environmental Consciousness) Audiens NGO 1 Forest Watch
Indonesia 3,90 3,94 4,12 4,06 21 Followers
2 JAVLEC Indonesia 4,17 4,05 4,40 4,25 5 Followers
3 Yayasan KEHATI 4,25 3,85 4,01 3,99 8 Followers
4 Rekonvasi Bhumi 4,00 4,54 4,61 4,52 9 Followers
Instagram 5 Yayasan RMI
Bogor 3,81 3,95 3,79 3,85 8 Followers
6 Sawit Watch 3,80 3,95 4,18 4,08 6 Followers
7 Walhi Lampung 4,06 4,20 4,49 4,31 8 Followers
Instagram 8 Walhi
Yogyakarta 4,10 4,00 3,80 3,91 5 Followers
9 WRI Indonesia 3,89 4,10 4,18 4,12 38 Followers
Instagram 10 Yayasan Kanopi
Indonesia 3,81 4,00 4,10 4,03 10 Followers
11 YKWS 3,61 3,62 3,79 3,71 10 Followers
Instagram 12 Ciliwung
Institute 4,00 4,00 4,15 4,09 13
Fans Facebook Page
RATA-RATA 3,95 4,02 4,14 4,08
Berdasarkan konsep yang dibangun oleh Sanchez & Lafuete (2010), kami membagi environmental consciousness ke dalam tiga dimensi, yaitu dimensi Afektif, Kognitif, dan Aktif. Dimensi Afektif mencoba untuk mengukur sejauh mana dukungan suatu individu terhadap gagasan pro-lingkungan tertentu dan bagaimana persepsi suatu individu terhadap ancaman yang dihadapi oleh lingkungan hidup
saat ini. Lalu, dimensi Kognitif mencoba untuk mengukur tingkat informasi dan pengetahuan individu tentang masalah lingkungan hidup. Kemudian, dimensi Aktif mencoba untuk mengukur sejauh mana keterlibatan individu dalam perilaku ramah lingkungan maupun aktivitas pro-lingkungan hidup.
Dari data yang berhasil kami gali, dapat dikatakan bahwa NGO lingkungan hidup secara rata-rata cukup berhasil dalam menanamkan kesadaran lingkungan terhadap audiensnya melalui advokasi/
kampanye yang dilakukan di media sosial. Dari skor maksimal 5, NGO lingkungan hidup secara rata-rata mendapatkan skor 4,08. Dua dari tiga dimensi juga mendapatkan skor di atas 4. Adapun dimensi yang dapat dikembangkan lagi adalah dimensi afektif, mengingat dimensi tersebut merupakan satu-satunya dimensi yang mendapatkan skor dibawah 4. Artinya, NGO lingkungan hidup dapat melakukan upaya-upaya kreatif dalam melakukan advokasi/kampanye di media sosial sehingga meningkatkan minat audiensnya untuk mendukung berbagai gagasan pro lingkungan hidup serta menanamkan kesadaran bahwa saat ini lingkungan hidup sedang menghadapi ancaman yang besar.
TEMUAN PENELITIAN
52